Kumpulan Cerita Silat

08/04/2008

Pendekar Gelandangan (08)

Filed under: Gu Long, Pendekar Gelandangan — ceritasilat @ 10:53 pm

Pendekar Gelandangan (08)
Bab 08. Siapakah A-kit?
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Bintang73 dan Donnios)

Toa-tauke duduk di atas kursinya yang besar dan lebar dengan amat santai, memandang Tiok Yap-cing yang berdiri dihadapannya, tiba-tiba timbul perasaan salah dan minta maaf dalam hati kecilnya.

Sudah enam tahun ia bekerja baginya, pekerjaannya selalu paling beres dan sengsara dari siapapun, tapi kenikmatan hidup yang berhasil dicicipinya justru jauh lebih sedikit dari orang lain.

Sekarang bukan saja semalam suntuk ia bergadang, setitik air dan sebutir nasipun belum masuk ke dalam perutnya, namun ia masih mampu melakukan tugasnya untuk toa-tauke tanpa menunjukkan sikap lelah atau mengantuk barang sedikitpun jua, seakan-akan asal toa-tauke suka dengan pekerjaannya, hal ini sudah merupakan suatu kebanggaan serta kepuasan baginya…….

………Pada jaman sekarang, makin sedikit memang menjumpai manusia yang bekerja begitu giat dan tekun serta begitu setia kepada majikannya.

Toa-tauke menghela napas di hati kecilnya, lama kemudian ia baru bertanya dengan suara lirih:
“Kau telah berjumpa dengan A-kit?”

Tiok Yap-cing manggut-manggut.

“Orang itu benar-benar adalah sebilah golok yang telah diloloskan dari sarungnya, bahkan sebilah golok cepat”.

“Kau berhasil membelinya untuk kita?”

“Sekarang belum berhasil!”

“Apakah lantaran harga yang dimintanya terlampau tinggi!”

“Aku telah membawa sepuluh laksa tahil perak untuknya, tapi setelah kujumpainya, aku segera tahu bahwa sepuluh kali lipat uang yang kubawapun tak ada gunanya”

“Kenapa?”

“Sewaktu aku ke sana, di atas meja masih bertumpukan uang-uang perak, bukan saja ia tidak menyentuh uang-uang tersebut, bahkan memandang sekejappun tidak”

Untuk mencegah toa-tauke tidak mengerti, kembali ia menambahkan: “Sebenarnya ia sudah sedemikian miskinnya sehingga uang untuk membeli makananpun tak punya, tapi dalam keadaan demikian toh ia masih tidak memandang sekejappun ke arah uang perak sebanyak itu. Dari sini dapat diketahui bahwa yang diinginkan olehnya bukanlah benda-benda tersebut!”

“Lantas apa yang dia inginkan?”, tanya toa-tauke ingin tahu.

“Dia hanya mempunyai satu permintaan, ia minta agar kita membiarkan setiap orang melakukan penghidupannya sesuai dengan selera serta keinginan masing-masing”

“Apa maksud perkataannya itu?”

“Maksudnya ia minta agar kita lepas tangan dan menghentikan semua kegiatan dagang yang sedang kita lakukan sekarang ini”

Paras muka toa-tauke segera berubah membesi.

Tiok Yap-cing kembali berkata: “Selain daripada itu diapun berharap bisa berjumpa muka dengan toa-tauke, ia minta toa-tauke menyanggupi sendiri syarat yang dimintanya itu!’

“Bagaimana jawabanmu?”

“Aku telah membuatkan perjanjian untuk toa-tauke malam nanti kita bertemu dengannya di gedung Han toa-nay-nay!”

Hawa amarah segera terpancar ke luar dari balik sorot matanya, dengan dingin ia menegur: “Semenjak kapan kau telah berhak mengambilkan keputusan bagiku?”

“Tak seorangpun yang berhak mengambil keputusan bagi toa-tauke!”, jawab Tiok Yap-cing cepat-cepat sambil menundukkan kepalanya.

“Dan kau?”

“Aku tidak lebih hanya mewakili toa-tauke untuk membuatkan sebuah tali jeratan agar ia menghantarkan tengkuknya sendiri ke dalam lubang jeratan tersebut”
Toa-tauke membenarkan kembali gaya duduknya di kursi, wajahnya tampak jauh lebih lembut dan tenang.

“Sewaktu aku bercakap-cakap dengannya di luar, tiba-tiba kutemukan suatu kejadian aneh!”, kata Tiok Yap-cing lebih jauh.

“Kejadian apakah itu?”

“Kutemukan gundik ke tiga dari Thiat-tau sedang mengintip keluar ruangan dari celah-celah pintu, lagi pula ia selalu mengawasinya dengan wajah yang tegang dan penuh perasaan kuatir”

“Thiat-tau mendapatkan perempuan itu dari mana?”, tanya toa-tauke sambil menggenggam kencang-kencang sepasang kepalannya.

“Perempuan itu bernama Kim Lan-hoa, dulu adalah seorang pelacur kenamaan di sekitar Hwee-yang, banyak sekali jago persilatan kenamaan yang menjadi tamu kehormatan dalam ranjangnya!”

Mencorong sinar tajam dari balik mata toa-tauke, katanya dengan segera: “Maksudmu dahulu dia pasti kenal dengan A-kit yang tak berguna itu….”

“Bukan cuma kenal, mereka pasti mempunyai hubungan yang akrab sekali! Hubungan istimewa!”

“Oleh sebab itu dia pasti mengetahui tentang asal usul A-kit?”

“Ya, pasti!”

Toa-tauke kembali menatapnya tajam-tajam.

“Sekarang tentunya ia sudah tidak berada di tempat A-kit sana, bukan?”, tanyanya.

“Ya, sekarang ia tidak berada di sana!”

Toa-tauke menghembuskan napas penuh kepuasan.

“Lalu dia berada di mana?”, tanyanya lagi.

“Di luar bersama Biau-cu kakak beradik!”

Sinar mata toa-tauke semakin bersinar tajam pekiknya: “Darimana kau berhasil menemukan mereka?”

“Setiap pelosok kota yang mungkin bisa mereka gunakan sebagai tempat persembunyian telah kugeledah semua”, kata Tiok Yap-cing, “tapi jejak kedua orang itu tetap lenyap tak berbekas……”

“Maka kaupun mulai mencari dari tempat yang paling tak mungkin?”, sambung toa-tauke sambil mengerdipkan matanya.

Dari balik sorot mata Tiok Yap-cing segera memancarkan keluar rasa kagum dan memuji yang sangat tebal, katanya: “Apa yang dapat kupikirkan, tentu saja telah berada pula dalam perhitungan toa-tauke!”

“Di…manakah kau berhasil menemukan mereka berdua?”

“Salah satu diantara dua orang yang kukirim sebagai mata-mata itu bernama Toa-gou, meskipun ia sangat cekatan dan pintar, sayang nyalinya sangat kecil, lagipula dia adalah seorang lelaki yang amat menyayangi keluarganya, hampir sebagian besar uang yang berhasil diperolehnya selalu dibawa pulang untuk dipakai oleh seluruh keluarganya!”

“Maka kaupun lantas berpendapat, besar kemungkinan A-kit telah mempergunakan titik kelemahannya itu untuk menindas Toa-gou agar ia mau menerima Biau-cu kakak-beradik untuk bersembunyi dalam rumahnya?”

“Aku hanya berpendapat bahwa dua orang manusia hidup yang begitu besar tak mungkin bakal lenyap tak berbekas seperti uap yang membuyar di angkasa!”

Toa-tauke segera tertawa.

“Sesungguhnya tindakan yang diambil A-kit cukup pintar, sayang dia tak mengira kalau di tempatku sinipun masih terdapat seseorang yang jauh lebih pintar daripadanya!”

Sikap Tiok Yap-cing semakin merendah dan menghormat, sambil menundukkan kepalanya lebih rendah, ia berkata: “Aku dapat berhasil karena selamanya tak berani kulupakan setiap nasehat serta petunjuk yang toa-tauke berikan kepadaku tiap-tiap harinya!”

Gelak tertawa toa-tauke semakin gembira, katanya lagi: “Sekarang asal kita dapat mengetahui asal usulnya dari mulut Kim Lan-hoa, kemudian mempergunakan Biau-cu kakak beradik sebagai umpan, maka masakan ia tidak akan mengantarkan tengkuk sendiri masuk ke dalam tali jeratan?”

“Aku hanya kuatir kalau Kim Lan-hoa tak bersedia mengaku terus terang…..!”, kata Tiok Yap-cing mengemukakan kekuatirannya.

“Bukankah dia seorang pelacur?”, tanya toa-tauke.

“Benar!”

“Pernahkah kau jumpai seorang pelacur yang benar-benar setia kepada cintanya terhadap seorang pria?”

“Tidak pernah!”

“Pernahkah kau jumpai seorang pelacur yang benar-benar tak mau uang dan tak mau nyawanya lagi?”

“Tidak pernah!”

Toa-tauke segera tertawa terbahak-bahak.

“Dan aku sendiripun tidak pernah!”, sambungnya.

Seprei itu putih bagaikan salju, bahkan membawa bau harum bunga anggrek yang sedap…..

A-kit merobek kain tersebut dan dibuatnya menjadi kain pembalut untuk membalut luka-luka bacokan di tubuhnya.

Dia tahu toa-tauke tak akan menerima syarat yang diajukan itu, diapun tahu malam nanti pasti akan terjadi suatu pertempuran yang amat sengit.

Akan tetapi dia tidak ambil perduli.

Namun, mau tak mau ia harus memikirkan kembali keselamatan Kim Lan-hoa.

……..Aku pasti akan menuruti perkataanmu, sekalipun harus mati, rahasiamu tak akan kuberitahukan kepada siapapun.

Meskipun bekas air mata yang ditinggalkan di atas wajahnya telah mengering, tapi suaranya seakan-akan masih berkumandang dari sisi telinganya.

Dapatkah dipercaya kata-katanya itu?

Seseorang apabila dirinya sendiripun dapat diperjual-belikan, siapakah yang akan percaya bahwa dia rela mati daripada menjual orang lain…….?

A-kit mengikat kencang-kencang robekan kain itu di atas dadanya.

Dalam hatinyapun muncul simpul mati, beribu-ribu macam simpul mati yang sukar dibebaskan, sebagai ia bukan datang dari langit, tentu saja diapun mempunyai masa silamnya yang kelabu.

Dalam waktu-waktu yang sudah lewat itu dia pernah bersedih hati, ia pernah bergembira, tentu saja diapun mempunyai perempuan.

Ia tidak pernah percaya kepada perempuan macam apapun.

Dalam pandangannya perempuan tidak lebih hanya semacam perhiasan, semacam alat pemuas dikala kau membutuhkan mereka, mereka akan bersikap seperti seekor kucing, dengan jinak-jinak merpati masuk ke dalam pelukannya……..

Tapi di kala ia merasa jemu, mereka akan dicampakkan dengan begitu saja bagaikan sampah.

Terhadap masalah ini tak pernah merahasiakan, diapun tak pernah menyesal, sebab ia selalu beranggapan bahwa ia memang telah ditakdirkan untuk merasakan kenikmatannya seorang perempuan.

Bila ada perempuan mencintainya, mencintainya setengah mati, bahkan saking cintanya sampai rela mati dalam pelukannya, maka ia selalu beranggapan bahwa perempuan semacam ini memang pantas hidup sengsara.

Oleh sebab itu, apabila sekarang Kim Lan-hoa menghianati dirinya, dia akan menganggap hal tersebut sebagai kesialan buat dirinya.

Iapun sama sekali tidak ambil perduli.

Karena ia telah bersiap sedia untuk beradu jiwa.

Seorang manusia dengan selembar nyawa, entah manusia macam apapun itu, entah nyawa apakah itu, asal ia sendiri telah bersiap sedia untuk beradu jiwa, maka apa lagi yang mesti diperdulikan.

……….Tapi benarkah ia sungguh-sungguh tak ambil perduli?

………..Benarkah dalam hatinya terdapat suatu keluhan yang tak dapat diutarakan kepada orang lain?

……….Benarkah ia pernah menderita suatu luka yang selamanya tak dapat disembuhkan kembali?

Siapa yang tahu?

Bahkan dia sendiripun telah lupa……paling sedikit dengan hati yang bersungguh-sungguh dia berharap dapat melupakan kesemuanya itu……..

Ya, kalau dia sendiripun telah melupakan kesemuanya itu, siapa lagi yang mengetahuinya?

Di atas meja terdapat sesuatu mutiara dan sebilah pisau.

Di samping meja duduk tiga orang….. Toa-tauke, Tiok Yap-cing dan Kim Lan-hoa.

Toa-tauke tidak berbicara apa-apa.

Bilamana tidak perlu, ia tak pernah bersuara………jika ada orang telah mewakilinya untuk berbicara, buat apa dia musti buka suara sendiri.

Orang yang buka suara lebih dahulu tentu saja Tiok Yap-cing.

Suara pembicaraannya selalu lembut dan halus.

“Untaian mutiara tersebut merupakan mutiara yang paling bagus, bila dikenakan oleh seorang perempuan cantik, tentu saja akan kelihatan bertambah cantik, sekalipun dikenakan oleh seorang perempuan tidak cantik, banyak juga laki-laki yang akan merasa bahwa secara tiba-tiba ia berubah menjadi amat cantik”

“Aku tahu!”, kata Kim Lan-hoa.

“Kau adalah seorang perempuan yang amat cantik, tapi setiap perempuan tentu akan tiba pula saatnya menjadi tua!”

“Aku tahu!”

“Bagaimanapun cantiknya seorang perempuan di kala usianya sudah tua, dia pasti akan berubah menjadi tidak cantik lagi!”

“Aku tahu!”

“Setiap perempuan selalu membutuhkan laki-laki, tapi setelah tiba pada saat itu, kau akan merasakan bahwa mutiara selamanya jauh lebih penting dan berharga daripada seorang laki-laki”

“Aku tahu!”

Pelan-pelan Tiok Yap-cing membelai mata pisau yang tajam, kemudian katanya lagi: “Benda ini adalah sebilah pisau, sebilah pisau yang dapat dipakai membunuh orang”

“Aku tahu!”

“Bagaimanapun cantiknya seorang perempuan, apabila pisau itu sampai menembus ulu hatinya, maka mutiara tak berguna lagi baginya, laki-lakipun tak berguna pula baginya”

“Aku tahu!”, kembali Kim Lan-hoa menjawab.

“Jika kau disuruh memilih, maka kau lebih suka ditusuk oleh pisau ini atau lebih suka mengenakan mutiara tersebut?”

“Mutiara!”

Tiok Yap-cing menatapnya lekat-lekat, lama, lama sekali, pelan-pelan ia baru bertanya lagi:

“Tahukah kau A-kit yang tak berguna itu She apa? Dan bernama siapa? Ia datang darimana?”

“Aku tidak tahu!”

Tiok Yap-cing tertawa.

Pada saat ia mulai tertawa, pisau di tangannya ikut menyambar ke depan dan menyobek telinga kiri Kim Lan-hoa.

Sambaran tersebut bukan cuma gertak sambal belaka, ia tahu hanya kenyataan yang disertai dengan cucuran darah baru benar-benar dapat menimbulkan rasa ngeri dan takut bagi perempuan itu.

Betul juga badan Kim Lan-hoa menyusut ke belakang karena ngeri dan takut.

Ia telah menyaksikan darahnya yang merah, diapun menyaksikan pula separuh bagian telinganya yang rontok bersama cucuran darah tersebut.

Akan tetapi ia tidak merasa sakit, perasaan ngeri dan seram yang mencekam perasaannya waktu itu hampir saja membuat dia lupa akan arti kata dari sakit.

Paras muka Tiok Yap-cing masih tenang tanpa emosi, katanya dengan suara hambar: “Kalau cuma telinga hilang separuh, cacat tersebut masih dapat ditutup oleh rambut, tapi bila hidung yang terpapas separuh, wah! Jelek sudah wajahmu waktu itu!”

“Baik, aku akan berbicara…..”, tiba-tiba Kim Lan-hoa berteriak keras-keras.

Tiok Yap-cing segera tersenyum dan menurunkan kembali pisau tajamnya dari wajah perempuan itu, ujarnya: “Asal kau bersedia berbicara terus terang, untaian mutiara itu akan menjadi milikmu!”

“Padahal sekalipun tidak kujelaskan, seharusnya kalian juga tahu siapakah dia!”

“Oya? Lantas siapakah dia?”

“Dia adalah raja akhirat yang menghendaki nyawa kalian!”

Sebelum ucapan tersebut diutarakan habis, tubuhnya telah menerjang ke arah meja, dengan sepasang tangannya ia menggenggam pisau di meja itu, kemudian di tusukan ke dada sendiri.

Paras muka toa-tauke berubah hebat, sambil menjambak rambutnya, ia membentak keras-keras:

“Kau tidak lebih cuma seorang pelacur busuk, kenapa kau musti mati lantaran seorang pria?”

Wajah Kim Lan-hoa telah berubah menjadi pucat pias bagaikan mayat, darah kental masih meleleh menodai ujung bibirnya, meski begitu dia masih hidup, ia masih sempat mengutarakan suara hatinya: “Karena hanya dialah seorang pria sejati, kalian tak lebih cuma segerombolan anak jadah yang lebih rendah martabatnya daripada seekor anjing budukan atau seekor babi. Aku bisa mati deminya, aku…..aku sudah merasa gembira sekali”

Dalam ruangan tak kedengaran suara, sedikit suarapun tidak ada.

Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba toa-tauke bertanya: “Janji yang kau buat dengannya apakah berlangsung malam nanti?”

“Benar!”, jawab Tiok Yap-cing.

“Kalau begitu, sekarang juga kau harus menyusul ke sana dan aturlah segala persiapan di sekitar tempat itu”

“Toa-tauke benar-benar hendak ke situ?”

Toa-tauke manggut-manggut.

“Ya, aku ingin bertemu dengannya!”, ia menyahut.

Kemudian ia menjelaskan lebih jauh.

“Karena aku benar-benar tidak menyangka kalau dalam dunia ini masih terdapat seorang pria yang dapat membuat seorang pelacur mengorbankan selembar jiwanya dengan rela demi menutup rahasianya. Aku ingin tahu sesungguhnya keistimewaan apakah yang dimiliki orang itu?”

Tiok Yap-cing menutup mulutnya rapat-rapat.

Ia tahu semua keputusan yang telah diambil oleh toa-tauke selamanya tak dapat dirubah oleh siapapun jua.

Tapi toa-tauke justru bertanya lagi kepadanya: “Bagaimana pendapatmu?”

Tiok Yap-cing tidak segera menjawab.

Masalah tersebut mempunyai sangkut paut yang amat besar dengan situasi di sekelilingnya, ia tidak boleh teledor atau melakukan kesalahan walau sekecil apapun, dia harus menganalisa serta mempertimbangkannya kembali sebelum mengambil keputusan.

“Menurut pendapatmu, berbahayakah keadaanku waktu itu?, toa-tauke kembali bertanya.

Tiok Yap-cing termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, kemudian pelan-pelan ia menjawab: “Selama Biau-cu kakak beradik masih berada dalam cengkeraman kita, mungkin saja ia tak berani bertindak secara gegabah”

“Soal itu akupun telah memikirkannya!”

“Tapi bila seseorang sanggup menyuruh seorang pelacur mampus baginya, mungkin saja perbuatan macam apapun sanggup pula dilakukan olehnya!”

“Misalnya perbuatan apa?”, tanya toa-tauke.

“Ada sekelompok manusia, walaupun di hari-hari biasa selalu setia kawan dan berjiwa kesatria, akan tetapi setelah tiba pada saat yang dibutuhkan, seringkali ia tak segan-segan untuk mengorbankan temannya bagi keberhasilan dari tujuannya”

“Kapankah saat yang dibutuhkan itu akan tiba?”

“Di saat ia memutuskan untuk melakukan suatu usaha besar!”

Toa-tauke tidak bertanya lebih jauh.

Tentu saja ia dapat memahami maksud dari Tiok Yap-cing, barang siapa sanggup membinasakan dia, maka kejadian tersebut pasti akan merupakan suatu peristiwa besar yang akan menggetarkan seluruh dunia persilatan.

“Sebelum malam hari menjelang tiba nanti, aku pasti akan membawa seluruh jago terbaik kita untuk berkumpul di gedungnya Han toa-nay-nay. Jago terbaik kita masih dapat digunakan paling sedikit masih ada tiga puluh orang”

“Belum cukupkah jago-jago sebanyak itu untuk melindungi keselamatan jiwaku?”, kata toa-tauke.

“Mungkin lebih dari cukup, mungkin juga belum cukup, selama hal ini masih ada kemungkinan membahayakan jiwamu, aku tak akan berani untuk melakukannya!”

“Asal mereka semua menghadang di hadapanku, paling sedikit aku kan bisa mengundurkan diri dari sana!”

“Tapi tujuan sasarannya hanya toa-tauke seorang, asal kami sedikit teledor, maka kemungkinan besar dia akan segera turun tangan, serangannya itu mungkin tak bisa ditahan oleh siapapun”

Ia menghela napas panjang, kemudian terusnya: “Andaikata Thi-hou (Harimau baja) berada di sini, tentu keadaannya sama sekali berbeda”

“Jadi maksudmu, aku tak boleh ke sana?”

“Seandainya toa-tauke bersikeras ingin menjumpainya, tentu saja kau boleh pergi ke situ, cuma………”

“Cuma kenapa?”

“Kita toh tidak musti membiarkan ia berjumpa dengan toa-tauke!”

Tiok Yap-cing tidak menjelaskan lebih jauh, dia tahu toa-tauke segera akan memahami maksudnya.

Barang siapa dapat menangkap macam toa-tauke tersebut, jelas hal itu bukan dilakukan secara untung-untungan, ia harus mempunyai kepandaian serta kecerdasan yang melebihi orang lain.

Betul juga, ternyata toa-tauke tidak membuatnya menjadi kecewa, demikian ia berkata: “Oleh karena ia belum pernah bertemu denganku, maka kita boleh sembarangan mencari seseorang untuk menyaru sebagai diriku guna menjumpainya, sedang aku dengan menyaru sebagai pengikutnyapun sama saja masih dapat bertemu dengannya”

“Ya, seandainya dia hendak turun tangan, sebagai sasarannya pasti orang itu, sedang toa-tauke sendiri dapat mengundurkan diri dari situ dengan selamat”

“Bagus, suatu ide yang sangat bagus!”, puji toa-tauke sambil tersenyum.

“Tidak bagus, sedikitpun tidak bagus!”, tiba-tiba seseorang berseru dari luar pintu.

Tempat itu merupakan kamar baca dari toa-tauke, juga merupakan tempat paling rahasia yang biasanya dipergunakan sebagai tempat perundingan rahasia dengan pembantu-pembantu setianya.

Tanpa seijin toa-tauke, siapapun tidak berani menerjang masuk ke pintu luar.

Tapi orang itu telah berada di luar pintu.

Maksud hati toa-tauke selamanya tak pernah dibantah oleh siapapun, jika toa-tauke sudah mengatakan ‘baik’, maka hal itu pasti baik, selamanya tak ada orang yang berani berdebat.

Tapi orang itu terkecuali.

Selama berada di hadapan toa-tauke, hanya orang ini yang berani melakukan perbuatan yang tidak berani dilakukan orang lain, hanya dia pula yang berani mengucapkan kata-kata yang tak berani diucapkan orang lain……….

Sebab pekerjaan yang dapat ia lakukan bagi toa-tauke tak mungkin bisa dilakukan pula oleh orang lain.

Begitu mendengar suaranya, dengan wajah berseri Toa-tauke segera berteriak: “Thi-hou telah pulang!”

Semangkuk besar mie daging sapi yang masih panas dan mengepulkan asap baru saja dihidangkan, kuahnya kental dan diatasnya ditambah dengan dua butir telur serta dua batang tulang bay-kut, tampaknya nikmat sekali rasanya.

Tapi A-kit tidak tahu bagaimanakah perasaan hatinya pada waktu itu……..?

Sudah lama tak pernah ia nikmati makanan selezat ini, baginya hidangan semacam itu sudah merupakan suatu kenikmatan, diapun ingin sekali mengajak teman-temannya untuk merasakan pula kenikmatan tersebut.

Ia ingin sekali pergi ke rumah Toa-gou untuk menjumpai Biau-cu dan si Boneka.

Akan tetapi ia tak berani menyerempet bahaya.

Ketika meninggalkan rumah perjudian milik Thi-tau (si kepala baja), di atas meja masih bertumpuk uang perak hasil taruhan semalam.

Dia hanya membawa pergi setahil perak yang terkecil.

Dia harus makan sedikit untuk mengembalikan tenaga dalam tubuhnya, dan dia harus memaksakan diri untuk menghabiskan semangkuk mie itu.

Warung penjual mie itu kecil, berada di lorong sempit dan sangat gelap.

A-kit duduk di sebuah sudut ruangan yang paling gelap sambil menundukkan kepalanya, pelan-pelan makan mie.

Ia tak ingin melihat orang lain, diapun tak ingin orang lain melihatnya.

Dia hanya ingin menghabiskan semangkuk mie tersebut dengan tenang, tetapi ia belum menghabiskan mie itu.

Pada saat dia mulai melahap telur yang kedua, tiba-tiba dari atas atap rumah yang terbuat dari papan-papan kayu lama itu berhamburan segenggam debu yang segera mengotori mangkuk berisi mie itu.

Menyusul kemudian……”Kreteeek” atap rumah terbuka sebuah lubang besar dan seseorang melayang turun ke bawah, sambil mendekam di belakang tubuhnya ia berbisik lirih: “Jangan bergerak, jangan bersuara, kalau tidak kuhabisi segera selembar nyawamu!”

A-kit tidak bergerak pun tidak berbicara apa-apa.

Satu-satunya pelayan yang berada dalam warung mie itu berdiri dengan kaki lemas saking takutnya, sebab ia telah menyaksikan sebilah golok yang memancarkan sinar tajam dalam genggaman orang itu, diapun menyaksikan pula sepasang mata bagaikan binatang buas yang liar dan menggidikkan hati.

Ya, mata itu seperti mata binatang buas yang sedang diburu-buru oleh pemburu dan terpojok tak sanggup kabur lagi, sebab di balik sinar matanya yang liar terselip juga rasa ketakutan ngeri serta hawa pembunuhan yang menggidikkan hati.

“Kau duduk, pelan-pelan duduk!”, perintah orang itu lagi kepada pelayan warung mie tersebut, “berlagaklah seakan-akan tak pernah menyaksikan sesuatu apapun”

Pelayan segera duduk di atas sebuah bangku bobrok dan tak berani berkutik, sekujur badannya hampir lemas karena ketakutan.

Orang itu lagi-lagi memberi perintah kepada A-kit: “Lanjutkan makan mie mu itu, makan sampai habis!”

A-kit melanjutkan kembali daharnya melahap mie sapi di hadapannya……

Bakpao yang telah terjatuh ke dalam tinjapun dia makan, apalagi dalam mangkuk mie hanya kejatuhan abu, sudah barang tentu ia lebih-lebih tak ambil perduli.

Ia dapat merasakan ketegangan serta kengerian yang mencekam orang di belakangnya itu, entah apa yang sedang ditakuti orang itu? Tapi dia tak ingin tahu.

Setelah menyaksikan laki-laki tinggi besar itu, sebagian besar orang yang berlalu lalang di atas jalan raya segera membungkukkan badannya sambil menundukkan kepalanya rendah-rendah.

Dengusan napas orang yang bersembunyi di belakang A-kit bertambah memburu, bahkan sekujur badannya seakan-akan ikut gemetar tiada hentinya……

……Laki-laki tinggi besar inikah yang sedang ia takuti?

……Siapakah laki-laki kekar itu? Kenapa begitu banyak orang yang jeri kepadanya?

A-kit kembali menundukkan kepalanya sambil mulai makan mie.

Di saat ia sedang menundukkan kepalanya itu, seakan-akan dilihatnya laki-laki kekar itu melirik sekejap ke dalam warung mie, sinar matanya terasa begitu tajam bagaikan sambaran petir.

Untung dia hanya melirik sekejap, kemudian dengan langkah lebar berlalu dari sana.

Pada waktu itulah A-kit baru melihat bahwa di pinggangnya tergantung seutas tali, pada ujung tali itu terikatlah enam orang manusia.

Pakaian yang dikenakan ke enam orang itu sangat perlente dan mewah, bahkan ikat pinggang, topi, sepatu dan kaus kakipun merupakan benda-benda mewah yang mahal harganya.

Akan tetapi raut wajah ke enam orang itu sudah babak belur, ada yang matanya bengkak, hidungnya berdarah, bahkan ada pula tangan dan kakinya patah, namun orang-orang itu bagaikan anjing jinak dengan tenangnya mengikuti helaan tali laki-laki tersebut ke manapun ia pergi.

Menanti ke enam orang itu sudah berlalu, orang yang bersembunyi di belakang A-kit baru menghembuskan napas lega, genggamannya pada gagang golok ikut mengendor.

Tiba-tiba A-kit bertanya: “Apakah orang-orang itu adalah sahabatmu?”

“Tutup mulut!”, dengan marah orang itu malah membentak.

“A-kit tidak membungkam, sebaliknya malahan berkata lagi: “Kalau kau memang berhasil melarikan diri, kenapa tidak kau tolong pula rekan-rekanmu itu?”

Belum habis ucapan tersebut diutarakan, mata golok telah ditempelkan di atas tengkuknya, menyusul kemudian dengan marah orang itu mengancam: “Jika kau berani bersuara lagi, segera kucabut selembar jiwamu!”

Belum lagi ucapannya itu selesai diucapkan, kembali ada seseorang menyambung dengan suara dingin: “Sekalipun kau tidak bersuara, aku tetap menginginkan selembar jiwamu itu!”

Laki-laki tinggi besar yang tampak dengan jelas telah keluar dari pintu warung, tiba-tiba telah berjalan kembali, dan secara tiba-tiba ia telah berdiri di hadapan A-kit.

Sepasang matanya memancarkan serentetan sinar yang lebih tajam dari petir, tulang jidatnya tinggi menonjol keluar, hidungnya mancung seperti elang dan mulutnya sangat lebar.

Sambil menundukkan kepalanya A-kit masih melanjutkan santapannya untuk melahap mie itu.

Tiba-tiba orang yang bersembunyi di belakangnya itu menempelkan goloknya di tengkuk orang, lalu ancamnya: “Jika kau berani turun tangan, akan kubunuh orang ini lebih dahulu!”

“Kalau orang itu kau bunuh, maka aku tak akan membunuh dirimu”, jawab laki-laki tersebut tenang.

Kemudian dengan suara yang lebih berat dan seram ia menambahkan: “Paling sedikit akan kusuruh kau hidup tiga tahun lebih lama, agar kau merasakan tiga tahun siksaan hidup”

A-kit masih saja menundukkan kepalanya sambil makan mie.

Mendadak orang yang bersembunyi di belakangnya itu melompat ke muka, goloknya secepat sambaran kilat langsung dibacokkan ke atas batok kepala laki-laki kekar itu.

Laki-laki tersebut sama sekali tidak bergerak, kepalanya juga tidak bergerak, tangannya hanya dijulurkan ke muka dan tahu-tahu pergelangan tangan orang itu sudah tergenggam.

“Kreeekkk…..!”, tulang pergelangan tangan orang itu segera remuk dan…….

“Traaang…….!”, golok dalam genggamannya terjatuh ke tanah, menyusul kemudian orang itu ikut berlutut ke tanah.

Di tatapnya kemudian orang itu dengan dingin, lalu laki-laki tadi berkata dengan dingin: “Mau ikut aku tidak?”

Saking sakitnya air matapun ikut bercucuran membasahi wajah orang itu, ia menganggukkan kepalanya berulang kali.

“Aku mau ikut! Aku mau ikut!”

Laki-laki itu tertawa dingin, sebelum menyeretnya keluar dari warung, tiba-tiba ia berpaling dan melotot kepada A-kit.

A-kit masih menundukkan kepalanya sambil makan mie.

Tiba-tiba laki-laki itu tertawa dingin sambil mendesis: “Saudara, pandai benar kau menahan diri!”

A-kit sama sekali tidak mendongakkan kepalanya, dia hanya berkata: “Aku lapar sekali, aku hanya ingin makan mie!”

Kembali laki-laki itu melotot ke arahnya sekian lama, akhirnya berpaling kepada pelayan warung tersebut sambil berkata:

“Masukkan ongkos mie itu ke dalam rekeningku!”

“Baik!”, jawab sang pelayan cepat sekali.

“Terima kasih!”, A-kit mendesis.

“Tidak usah!”

Pada ujung tali telah bertambah lagi dengan seorang manusia, tujuh orang diikat menjadi satu dengan seutas tali, keadaan mereka mirip sekali dengan segerombolan anjing yang dituntun oleh seorang manusia.

Akhirnya A-kit menghabiskan semangkuk mie daging itu.

Setelah kenyang ia baru bangkit berdiri dan berjalan ke hadapan pelayan warung itu seraya bertanya: “Siapakah orang itu?”

Rupanya rasa kaget di hati pelayan itu belum hilang, ia balik bertanya dengan suara gemetar:

“Orang yang mana?”

“Orang yang barusan membayarkan rekening mie-ku!”

Pelayan tersebut segera celingukan ke sana kemari, kemudian sambil merendahkan suaranya, ia berbisik:

“Dia adalah seorang manusia yang paling susah dilayani!”

“Siapa namanya?”

“Thi-hou, si Harimau Baja, badannya lebih keras dari baja dan sikapnya lebih garang daripada seekor harimau!”

A-kit tertawa getir, dibalik tertawanya itu terseliplah nada mengejek yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

“Orang yang dapat menuntun tujuh ekor serigala bagaikan menuntun anjing, tentu saja ia akan lebih garang daripada seekor harimau!”

Tiba-tiba suara pelayan itu semakin di rendahkan bisiknya lagi: “Kau kenal dengan dia?”

“Tidak, aku tidak kenal!”

Senyuman di ujung bibirnya berubah semakin aneh, pelan-pelan lanjutnya lebih jauh: “Tapi aku tahu, bahwa dengan cepat kami akan segera berkenalan!”

“Thi-hou telah pulang!”

Sekarang ia berdiri di hadapan Toa-tauke, meskipun pinggangnya ditekuk dalam-dalam namun sikapnya menunjukkan kesombongan serta rasa hormatnya yang tak mungkin dibuat-buat.

Ia sombong karena dia telah menyelesaikan suatu pekerjaan besar bagi orang yang dihormatinya.

“Kau telah kembali jauh lebih awal daripada apa yang kami bayangkan semula!”, demikian toa-tauke berkata.

“Ya, karena gerombolan serigala itu sesungguhnya bukan serigala, melainkan hanya anjing-anjing budukan!”, jawab Harimau Baja.

Toa-tauke segera tersenyum.

“Selama berada di hadapanmu, sekalipun mereka benar-benar seekor serigala juga akan berubah menjadi seekor anjing!”

Thi-hou ikut tertawa, ia bukan seorang manusia munafik, ia suka mendengarkan pujian orang lain, terlebih pujian dari toa-tauke nya yang paling dihormati.

“Dimanakah gerombolan anjing-anjing itu sekarang?”, kembali toa-tauke bertanya.

“Enam ekor anjing mati sudah kuberikan kepada serigala, sedang tujuh ekor anjing hidup telah kubawa pulang!”

“Seekorpun tidak ada yang terlepas?”

“Sebenarnya di tengah jalan tadi ada seekor diantaranya yang hampir saja lolos, aku tidak menyangka kalau dalam celananya masih tersembunyi sebilah golok”

“Dimanakah golok itu sekarang?”

“Sekarang golok itu sudah kutusukkan ke dalam lubang pantatnya”

Toa-tauke terbahak-bahak setelah mendengar perkataan itu. Ia paling suka dengan cara kerja Thi-hou, karena cara kerjanya beraneka ragam, semua tindakan yang dilakukan Thi-hou selalu paling langsung, paling sederhana dan paling manjur.

“Siapa yang hendak kau temui tadi?”, tiba-tiba Thi-hou bertanya.

“Dia bernama A-kit!”

“A-kit?”

“Aku tahu nama tersebut pasti belum pernah kau dengar, sebab hakekatnya itu bukan nama aslinya, dan lagi ia paling suka kalau orang lain menganggapnya sebagai seorang manusia yang tak berguna”

“Padahal ia berguna sekali?”

“Bukan saja berguna, bahkan mungkin saja sangat ternama, sebab seringkali ada sementara orang yang tak ingin orang lain menyebut nama aslinya lantaran nama tersebut terlampau ternama dalam dunia persilatan”

Thi-hou dapat memahami maksud ucapan tersebut, karena ia sendiripun demikian, ia sudah puluhan tahun menyembunyikan nama aslinya.

“Sebenarnya kami telah berjanji akan berjumpa muka malam nanti, tapi Siau-yap kuatir aku ketimpa musibah!”, kata toa-tauke lagi.

Thi-hou segera tertawa dingin.

“Heeeehhhh….. heehhhh….. heeeehhhhh…. nyali Siau-yap selamanya memang lebih kecil daripada selembar daun”

“Kau tak dapat menyalahkan dia, bila seorang bisa melakukan pekerjaan dengan teliti dan berhati-hati, tak akan ia jumpai hal-hal yang kurang menyenangkan hati”

Tiok Yap-cing selama ini hanya sebagai seorang pendengar setia, ia hanya tersenyum belaka. Menunggu Thi-hou sudah tidak bersuara lagi, ia baru berkata: “Pada waktu itu mau tak mau aku harus bertindak lebih berhati-hati, sebab Hou-toako belum pulang kemari”

“Bagaimana sekarang?”, Thi-hou bertanya.

“Sekarang tentu saja berbeda!”

Ia masih saja tertawa, tapi suara tertawanya membuat orang yang mendengarkan menjadi tak enak badan, katanya lagi: “Sekarang apabila toa-tauke ingin bertemu dengan seseorang, asal Hou-toako mau turun tangan, dengan segera orang itu berhasil ditangkapnya!”

“Kau kira aku tidak sanggup?”, seru Thi-hou dengan mata mendelik.

“Kalau Hou-toako sendiripun tak sanggup, lantas siapakah manusia di dunia ini yang sanggup melakukannya?”

Sepasang kepalan Thi-hou telah menggenggam kencang.

“Kau sudah lelah!”, tiba-tiba toa-tauke berkata.

Kepada Tiok Yap-cing kembali ujarnya: “Kini Thi-hou telah pulang, tak ada salahnya kalau kau pulang dulu dan tidurlah barang dua jam!”

“Baik”

“Seandainya di atas pembaringanmu ada orang sedang menunggumu untuk menemani kau tidur, kaupun tak usah kaget, lebih-lebih lagi tak usah sungkan-sungkan”

“Baik!”

“Tidak terbatas siapapun orang itu!”

“Baik!”

Tiok Yap-cing segera mengundurkan diri, ia tidak bertanya siapakah orang itu, diapun tidak menanyakan yang lain. Setiap ucapan toa-tauke selamanya ia hanya menuruti tanpa membantah, iapun tak pernah banyak bertanya.

Hingga Tiok Yap-cing keluar dari pintu ruangan, Thi-hou masih mendelik ke arahnya, sepasang kepalannya masih tergenggam kencang-kencang sehingga otot-otot hijaunya pada menonjol ke luar, biji matanya ikut berputar dengan liar.

Sebagian besar orang yang kebetulan menyaksikan biji matanya berkeliaran liar, biasanya mereka akan menyingkir jauh-jauh, bahkan semakin jauh semakin baik.

Toa-tauke mengawasi biji matanya yang berkeliaran itu tajam-tajam, tiba-tiba ia bertanya: “Sudah berapa lama kau mengikuti aku?”

“Lima tahun!”

“Belum, belum lima tahun. Yang tepat adalah empat tahun sembilan bulan dua puluh empat hari”

Biji mata Thi-hou tidak jelalatan lagi, sinar kagum dan hormat segera memancar keluar dari balik matanya, ia tak menyangka kalau toa-tauke dapat mengingat-ingat segala persoalan kecil itu sedemikian jelasnya, biasanya orang yang memiliki daya ingatan yang bagus, selalu akan mendatangkan perasaan kagum dan hormat bagi orang lain.

Toa-tauke kembali bertanya: “Tahukah kau sudah berapa lama Siau-yap mengikuti diriku?”

“Ia jauh lebih lama daripadaku”

“Benar, ia sudah enam tahun mengikuti aku, tepatnya enam tahun tiga bulan tiga belas hari!”

Thi-hou tidak berani bersuara.

Kembali Toa-tauke bertanya:

“Selama kau mengikuti diriku, sudah empat puluh tujuh laksa uang perak yang kau hamburkan dan tujuh puluh sembilan orang perempuan yang kau cicipi, tapi dia?”

Thi-hou tidak tahu.

“Aku telah memberitahu kepada kasir, bahwa berapapun yang kalian berdua gunakan, aku akan melayani terus, tapi dalam enam tahun ini seluruhnya dia hanya menggunakan uang sebesar tiga ribu tahil perak”

Thi-hou si harimau baja berusaha menekan sabar, tapi akhirnya meledak juga kesabarannya itu, dia berseru:

“Maklumlah tauke, ada orang yang pandai menghamburkan uang, tapi ada pula yang tidak mampu………?”

“Diapun tidak mempunyai perempuan!”, kembali toa-tauke berkata.

Thi-hou kembali bersabar agak lama, toh akhirnya ia tak tahan juga, kembali serunya:

“Siapa tahu kalau hal ini disebabkan dia pada hakekatnya bukan seorang pria jantan?”

“Akan tetapi pekerjaan yang ia lakukan bagiku tidak bisa dikatakan lebih sedikit dari apa yang telah kau kerjakan untukku!”

Thi-hou tak mau mengakuinya, tapi diapun tak berani menyangkal.

Kembali toa-tauke berkata: “Pekerjaan yang ia lakukan bagiku bukan termasuk pekerjaan yang dapat mengangkat nama atau mempopulerkan nama baiknya, dia tak suka uang dan tak mau main perempuan pula, coba pikirlah apa yang ia tuju selama ini…….?”

Thi-hou lebih-lebih tak berani membuka suara.

“Kecuali nama, kekayaan dan perempuan, masih ada perbuatan apa lagi di dunia ini yang bisa menggerakkan perasaan seorang pria?”, tanya toa-tauke lebih lanjut.

Thi-hou mengetahuinya, tapi ia tak berani mengutarakannya keluar.

“Itulah kekuasaan!”, akhirnya toa-tauke mengucapkannya sendiri.

Apabila seorang pria telah berhasil memegang tampuk kekuasaan, apapun yang diinginkan dapat segera diperoleh, apa lagi yang merisaukan hatinya?

“Apapun tidak ia inginkan”, kata toa-tauke lagi, “siapa tahu karena dia hanya mengincar kedudukanku ini!”

Mencorong sinar tajam dari balik mata Thi-hou, katanya: “Asal toa-tauke mengucapkan sepatah kata, setiap saat aku dapat membekuk batang leher keparat itu!”

“Kau yakin sanggup membekuk batang lehernya?”

“Aku……..”

“Aku tahu akan kepandaian silatmu, akupun tahu banyak orang kenamaan yang pernah keok di tanganmu selama ini!”, kata toa-tauke.

Thi-hou tidak menyangkal, iapun tidak menunjukkan perasaan puasnya.

“Selama enam tahun ini, belum pernah kuutus Siau-yap untuk turut serta dalam suatu gerakan atau suatu operasi, karena aku sendiripun selalu menganggap bahwa ia adalah seorang manusia yang tidak memiliki kepandaian silat!”, ucap toa-tauke menyengir.

“Pada dasarnya ia memang tidak memiliki kepandaian apa-apa”

“Keliru……! Keliru……..! Kau keliru, akupun keliru!”

“Oya?”, si macan baja kurang percaya.

“Ya, hingga hari ini aku baru tahu bahwa diapun seorang jago silat kelas satu!”

“Jago silat macam apakah dia itu?”, tidak tahan Thi-hou bertanya, “Toa-tauke pernah menyaksikan ia mempergunakan goloknya?”

“Ya, hari ini aku baru menyaksikan sendiri, kepandaiannya mempergunakan golok jauh lebih bagus dari kepandaian golok manapun yang pernah kujumpai selama ini!”

……Mata golok baru saja berkelebat, separuh telinga Kim Lan-hoa telah tersayat kutung menjadi dua.

“Bukan cuma cepat saja gerakan goloknya, lagi pula sangat tepat dan mantap, tapi hingga kini dia selalu menyembunyikan kepandaian lihaynya itu, mungkin saja hingga kini dia masih menganggap aku tidak mengetahuinya”

Sesudah tersenyum, kembali ujarnya: “Tapi diapun keliru besar, sekalipun aku tak pernah makan daging babi, paling tidak aku toh pernah menyaksikan babi yang sedang berjalan”

Senyumannya masih begitu tenang, begitu santai, seolah-olah tak pernah terjadi sesuatu apapun.

Thi-hou mulai gusar, agak kesal ia setelah mendengar kata-kata tersebut, katanya kemudian: “Aku bukannya tak pernah bertemu dengan orang yang pandai mempergunakan golok!”

“Aku tahu jago-jago lihay yang berasal dari Ngo-hou-toan-bun-to (Golok sakti panca harimau pemutus nyawa), Ban Sin-to, Jit Ciau-to dan Tay-heng-kuay-to, semuanya pernah keok di tanganmu, paling tidak jumlahnya telah mencapai dua sampai tiga puluh orang lebih”

“Ya, termasuk Hui-long-to (Golok serigala terbang) Kang Tiong yang ku bekuk hari ini, jumlahnya persis mencapai tiga puluh orang”

“Akupun tahu bahwa kau pasti masih sanggup untuk melenyapkan dari muka bumi!”

“Setiap waktu setiap saat aku sanggup melaksanakan tugas ini!”

“Tapi sekarang masih belum perlu!”

“Mengapa?”

“Sebab aku tahu paling tidak hingga kini ia masih belum berniat untuk menghianati diriku”

“Bila harus menunggu sampai toa-tauke mengetahui hal ini, aku kuatir waktu itu keadaan sudah terlalu lambat!”

“Tidak, tidak mungkin terlalu terlambat!”

“Kenapa?”

“Sebab diapun seorang pria, bagaimanapun macam pria tersebut, biasanya ia tak akan sanggup menyimpan rahasia hatinya, apabila berada di hadapan perempuan yang disukainya”

Di atas meja kecil terletak sebuah pot bunga, dalam pot ada beberapa kuntum bunga, dipetiknya sekuntum lalu diciumnya sebentar, kemudian katanya kembali:

“Jika perempuan itu cukup pintar, dan lagi seringkali berada di sisi pembaringannya, maka sekalipun tidak ia katakan, perempuan itupun akan mengetahuinya juga”

“Masa ada perempuan yang disukainya?”

“Tentu saja ada!”

“Siapa?”

“Ki-ling!”

Toa-tauke tahu bahwa Thi-hou pasti tidak kenal siapakah Ki-ling tersebut, maka ia menjelaskan lebih jauh:

“Ki-ling adalah perempuan yang mempunyai tahi lalat pada ujung bibirnya dan kubawa pulang dari Chin-hui-ho itu”

Thi-hou memang bukan termasuk orang bodoh, ia segera paham:

“Oh, dan dia pula perempuan yang sedang menantinya tidur pada malam nanti di atas pembaringannya!”

Toa-tauke tersenyum, ia tahu dia telah membuat Thi-hou memahami dua persoalan.

……Toa-tauke adalah seorang manusia yang tidak gampang dihadapi, ia tak akan mengijinkan orang lain membohonginya.

……Orang yang benar-benar dipercayai toa-tauke dan betul-betul menjadi orang kepercayaannya hanya Thi-hou seorang.

Ia tahu hanya mengandalkan dua hal tersebut sudah cukup untuk memperoleh imbalan berupa kesetiaan Thi-hou terhadapnya.

Sambil tersenyum ia memejamkan matanya, diam-diam Thi-hou telah mengundurkan diri, ia percaya si harimau baja ini pasti mempunyai akal bagus untuk menghadapi A-kit.

Selain itu diapun tahu bahwa Thi-hou pasti pergi menjumpai Thi-jiu (tangan baja) A-yong untuk menanyakan cara apa yang telah dipergunakan A-kit.

Di kala mengerjakan tugas lain, meskipun orang ini seringkali menunjukkan sikap serta cara kerja yang gegabah dan sembrono, akan tetapi bila bertemu dengan musuh yang tangguh dan lihai, maka ia akan berubah jauh lebih cerdik, jauh lebih cekatan dari siapapun jua.

Sejak angkat nama pada sepuluh tahun berselang, jarang sekali korbannya bisa lolos dalam keadaan selamat.

Walaupun toa-tauke sedang memejamkan matanya, seakan-akan ia menyaksikan A-kit roboh terkapar di ujung pedang Thi-hou dan sedang bermandikan darah kental sendiri.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: