Kumpulan Cerita Silat

08/04/2008

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 11

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 10:47 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 11
Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Sementara itu terdengar suara orang memanggil tanpa henti-hentinya, “Hamaya, engkau ada di mana ?” Kiranya mereka masih belum tahu kalau Hui-ang-kin sudah ditolong keempat penunggang kuda tadi, maka mereka masih terus mencarinya.

Kepala suku Tahsan, Pahla, dari jauh sudah melihat Nyo Hun-cong, akan tetapi tidak dapat mendekat karena terhalang oleh serdadu Boan.

Kala itu, pertempuran di padang rumput berlangsung dalam keadaan gaduh.

Dalam pada itu Hun-cong melihat di tengah pasukan Boan berkibar bendera pengenal Nilan Ciangkun, pikirnya, “Eh, kiranya orang ini juga sudah datang!”

Baru dia berpikir, mendadak pundaknya terkena bacokan lagi.

Lekas Nyo Hun-cong balik menyerang, telapak tangannya telah membikin roboh beberapa orang, pedang pendeknya terus melindungi tubuhnya.

Pertempuran yang gaduh makin memuncak, suara pertempuran makin hebat, suara jeritan ngeri saling bunuh membunuh pun semakin mengerikan.

Sekonyong-konyong kedudukan tentara Boan menjadi kacau, berpuluh-puluh ribu serdadunya mendadak mundur dengan cepat seperti arus air.

Dalam keadaan demikian walaupun Nyo Hun-cong memiliki kepandaian yang luar biasa, tapi berada di tengah-tengah lautan manusia, tak dapat ia menahan banjirnya arus manusia itu, terpasksa iapun ikut terbawa mundur.

Saat itu para serdadu Boan hanya ingat lekas melarikan diri, mereka sudah tak peduli lagi bahwa diantara pasukan pasukannya sendiri masih tersembunyi seorang musuh.

Serdadu-serdadu yang mundur serupa datangnya ombak yang beruntun mendampar, malahan tidak ada seorangpun yang mencoba mengurung atau hendak menghantam Nyo Hun-cong.

Dalam pertempuran yang gaduh itu, kuda Nyo Hun-cong telah roboh binasa terkena panah, sekuatnya ia melompat bangun, dengan lengannya yang kuat ia dapat menyambar beberapa serdadu musuh, tetapi dia masih tidak mampu keluar dari kepungan, masih terus terbawa arus pasukan yang sedang mundur karena kalah itu, tubuhnya tak terasa harus ikut berlari tanpa bisa menguasai diri lagi.

Dalam keadaan begitu, tiba-tiba di antara pasukan Boan muncul seorang yang berteriak kepada kawan-kawannya, “Bala bantuan kita selekasnya akan datang, dilarang mundur, yang melanggar akan dihukum mati!”

Akan tetapi seketika mana bisa berhenti, ada beberapa serdadu yang bermaksud berhenti, namum mereka jadi tergencet dan terbawa lari lagi oleh datangnya pasukan yang mundur dari depan.

Nyo Hun-cong mengeluh bakal celaka dan terpaksa berlari, tiba-tiba ia melihat bendera tanda kebesaran Nilan Ciangkun berkibar di samping sana.

Tertampak Nilan Siu-kiat yang naik seekor kuda bagus dikawal dengan rapat sedang membentak dan berteriak-teriak.

Dalam keadaan sedemikian ributnya, sudah tentu orang tidak mengerti apa yang diteriakkannya.

Tiba-tiba Nilan Siu-kiat dapat melihat wajah Nyo Hun-cong juga, ia terkejut. Kudanya segera dibelokkan dan menerjang kearah Hun-cong, beberapa serdadu segera rubuh diterjangnya, Waktu tangannya diayunkan maka beberapa anak panah bagaikan kilat sudah menyambar ke muka Hun-cong.

Hun-cong yang terdesak diantara rombongan orang yang berjubel-jubel itu tidak bisa berkelit, ia coba mengegos sebisanya tetapi tidak urung bahunya sudah terkena satu anak panah.

Nyo Hun-cong masih bisa menenangkan pikiran dan mengumpulkan tenaganya, kedua tangannya segera meraih dua orang serdadu Boan terdekat terus dilemparkan ke arah Nilan Siu-kiat.

Keruan kuda Bilan Siu-kiat terperanjat dan membedal menerjang ke samping, pengawal Nilan Siu-kiat berduyung-duyung mengikut panglimanya, tetapi Nyo Hun-cong sendiri tetap terbawa mundur oleh arus masukan yang kalah.

Sebentar saja bendera tanda kebesaran pun makin mendekat dan tinggal berjarak dua tiga puluh depa.

Lewat sebentar pula, Hun-cong merasakan bahunya pegal kaku, ia berpikir, “Apakah tadi terkena panah beracun ?”

Dalam keadaan yang ribut ia sempat merogoh sakunya dan mengeluarkan sebutir ‘Pik-ling-tab’, pil itu pun segera di telannya. Meskipun begitu ia masih merasa dadanya mual dan kedua kakinya pun mulai lemas.

Pada saat itu, jika umpama ia lengah sedikit saja pasti akan mati terinjak-injak oleh pasukan yang sedang mendesak mundur itu.

“Aku tidak boleh mati, saudara-saudara dari bangksa Kazak belum aku temukan, Aku tidak boleh mati!” begitu teriaknya dalam hati.

Tekadnya itu seperti mendatangkan satu kekuatan besar pada dirinya, ia segera berlari lebih kencang lagi.

Pasukan yang mundur itu muai tersebar, mulai terpencar menjadi kelompok-kelompok yang berusaha melarikan diri, arus manusia yang menekan segera terasa berkurang.

Hun-cong mengambil kesempatan itu untuk melepaskan diri, ia terus berlari menuju ke tempat yang tidak banyak orangnya, ia lari dan lari terus. Ia tak tahu sudah berlari berapa lama, tiba-tiba ia melihat di depan ada satu bidang tanah cekung, didalamnya seoerti ada suara orang dan kuda. “Apakah ada juga pasukan yang bersembunyi disini ?, demikian pikirnya.

Tetapi kala itu Nyo Hun-cong sudah tidak dapat lagi nerpikir lebih banyak lagi, ia meloncat kedalamnya, dan ketika ia hendak melompat naik ke atas bukit diatasnya, sekonyong-konyong kedua kakinya menjadi lemas, tulang-tulang seperti hendak retak, baru saja ia melompat beberapa tindak ia sudah terjatuh lagi.

Namun Nyo Hun-cong masih belum pingsan, ia masih mengerti itu adalah karena terlalu banayk menggunakan tenaga , maka badannya tak tahan, ditambah pula terluka oleh panah beracun, oto dagingnya menjadi kaku, ia merangkak naik ke tengah beberapa batu cadas yang mengelilinginya dan duduk bersila, ia telan lagi sebutir Pk ling-tan.

Pik Ling-tan ini berguna sekali untuk luka dalam dan juga bisa menghilangkan racun, hanya kalau habis menelan harus duduk tenang.

Tadi Nyo Hun-cong berlari dengan kencang, sebenarnya sangat berbahaya, beruntung dia punya tenaga dalam cukup tinggi, dengan memaksakan diri ia menahan serangan racun sehingga tidak sampai menyebar, maka tidak begitu berbahaya baginya.

Kini setelah semangat dan tenaganya habis, tentu tidak boleh bergerak semaunya lagi.

Setelah Nyo Hun-cong duduk, dengan pedang pendeknya, ia mengiris bahunya yang terluka, ia menekan dan memijit dengan jarinya, segera darah hitam kental mengalir keluar, setelah mengalir kira-kira secangkir baru menyusul keluar darah merah.

“Jahat sekali!” kata Hun-cong dalam hati sambil membungkus lukanya dengan sobekan bajunya.

Saat ini darah yang terkena racun sudah keluar, tetapi tenaga dan semangatnya belum pulih, Hun-cong bersemedhi sebentar, ia mencoba menyembuhkan diri dengan Khi-kang.

“Tolonglah aku, Thian ! Janganlah ada orang uyang datang!.” Doanya dalam hati.

Dengan tenang Nyo Hun-cong duduk mengumpulkan tenaga dan melancarkan aliran darah, terhadap urusan disekitarnya seakan-akan tidak mau tahu dan juga tidak mau melihat.

Entah sudah beberapa lama, ia merasa tenaganya sudah pulih, dan perutnya panas, ia mengerti sidah tidak berbahaya lagi barulah kemudian ia berdiri.

Ia memandang sekelilingnya, keadaan sudah jauh malam, angin meniup silir semilir, di sekitar lembah gunung terasa sunyi senyap, satu bayangan orangpun tidak ada, kedua pihak pasukan masing-masing entah sudah berada dimana.

Nyo Hun-cong coba menggerakkan otot tulangnya, ia merasa selain tenaga kurang sedikit lain-lainnya sudah pulih seperti biasa.

Tiba-tiba ia teringat tadi waktu ia melompat ke dalam cekungan tanah, seperti ada suara orang dan kuda. Entah apakah masih berada dalam cekungan tanah ? Kawan atau lawan , ini perlu di lihat terlebih jelas.

Maka ia lantas mencabut pedangnya, dan melompat naik keatas bukit sana, ia melihat lembah di bawah, rumput-rumput alang-alang panjangnya melebihi tinggi orang dewasa, diantara tumpukan rumput sana ada sebuah kereta yang tampaknya sudah rusak.

Nyo Hun-cong coba mendengarkan, ia tengkurap ke tanah, tiba-tiba a mendengar suara orang yang sudah pernah dikenalnya.

“Jangan kau coba-coba mendekati aku!” terdengar suara bentakan.

Ketika dipertegas lagi, Nyo Hun-cong menjadi terperanjat sekali, bukankah ini suara Nilan Ming-hui ?

Lekas Hun-cong melompat keluar. Ia melihat disamping kereta rusak itu ada dua orang laki-laki yang berbadan tegap sedang menggertak seorang wanita muda yang ada di atas kereta.

Pikir Hun-cong, ” Ilmu silat Nilai Ming-hui pun tidak terlau rendah, mengapa ia bisa diancam oleh orang, apakah seperti aku, karena ia terluka ?

Ia menjadi sangsi, terdengar pula sesorang diantara mereka telah berteriak lagi, “Kau nona kecil, sungguh tidak tahu kebaikan dan keburukan, kau sudah menjadi tawanan kami, kau harus menuruti kemauanku, kami tidak hendak membunuhmu dan juga tidak ingin memukulmu, mengapa kau masih berteriak-teriak ?”

“Hmmm, siapa berani coba-coba mendekatiku segera akan kuberi sekali tusukan, ” demikian Nilam Ming-hui mengancam. “Kamu jangan kira aku tidka dapat bergerak, jika kamu benari mendekat, lihat saja kalau aku tak membunuh kamu!”

Tetapi kedua orang itu telah bergelak tertawa.

“Sungguh tidak nyana, seorang nona kecil seperti kau ini berani omong begitu besar,” kata mereka.

Saat itulah Nyo Hun-cong melompat keluar dengan tiba-tiba.

Semula kedua orang itu agak kaget, tetapi mereka segera maju untuk mencegat Hun-cong.

“Siapa kau ?” bentak mereka berbareng.

Nyo Hun-cong lihat mereka berdua ini berdandan seperti suku bangsa Uigor dan badan mereka masih belepotan darah.

“Kalian dari kelompok suku mana ? Kenalkah pada Hui-ang-kin ?” Hun-cong balas bertanya.

Kedua orang itu agak terperanjat demi melihat cara berpakaian Nyo Hun-cong.

“Apakah kau pengikut Hui-ang-kin ?” tanya mereka lagi dan dijawab Hun-cong dengan mengangguk-angguk.

“Kami adalah dari suku Kedar, aku tahu Hui-ang-kin telah menjadi Beng-cu dari daerah selatan, Cuma tempo hari kelompok kami belum ikut berkumpul disana.” Tutur orang yang menjadi pimpinannya itu.

“Kalau kalian semua adalah pejuang dari daerah selatan, maka kita adalah kawan sendiri, lepaskanlah nona ini!” kata Nyo Hun-cong.

Sementara itu Nilan Ming-hui telah mengenali siapakah pemuda yang sedang berbicara membela dirinya ini.

Segera ia berseru kepada Nyo Hun-cong dalam bahasa Han.

“Nyo-taihiap! Usirlah kedua orang ini,” katanya.

Sudah tentu kedua orang itu tidak mengerti apa yang dikatakannya itu, mereka lantas bertanya kepada Nyo Hun-cong.

“Bagaimana ? Apakah kau kenal dia ? Kau adalah kawan dari panglima Boan ?” tegur mereka.

Tetapi Nyo Hun-cong geleng-geleng kepala.

“Aku adalah kawan Hui-ang-kin, juga sahabat nona ini, kalian jangan menahan dia!” sahutnya.

Orang yang menjadi kepala tadi tiba-tiba tertawa menyindir.

“Kau menakut-nakuti aku dengan nama Hui-ang-kin ? Hmm, kau mengerti aturan atau tidak ?” katanya. “Ia adalah tawanan kami, sekalipun Hui-ang-kin yang datang sendiripun ia tidak bisa menyuruh kami melepaskan dia.. Hmm, adaknya kau juga telah suka padanya bukan ? Terus terang aku jufa menginginkan dia menjadi istriku, sedang saudara ini menginginkan kereta dan senjatanya, kau datang belakangan, maka tiada bagimu!”

Nyo Hun-cong terkejut mendengarnya.

Tiba-tiba dia teringat bahwa rakyat gembala di padang rumput, dulu sering karena berebut tanah menggembala dan sumber air lantas saling bertempur, menurut peraturan pada suku bangsa itu, apabila ada lawan yang tertawan maka ia dipaksa membudak pada yang menang, siapa yang menankap tawanan itu terserah pada keputusannya.

Belakangan setelah tentara Boan-jing datang, persatuan diantara suku-suku bangsa agak bertambah erat, soal saling bunuh sudah jauh berkurang, tetapi hanya soal tawanan masih belum ada pembatalan yang jelas.

Kini kedua orang ini mengemukakan peraturan yang sudah turun temurun ini, sesaat Nyo Hun-cong berbalik menjadi bingung dan tidak bisa menjawab.

“Nyo Hun-cong, mengapa kau tidak bantu aku mengusir mereka ?” teriak Nilam Ming-hui, “Apakah kau hendak memperdayai aku bersama mereka ?”

“Ada aku disini, mereka tidak dapat mencelakaimu, kau tidak usah takut!” seru Hun-cong.

Tetapi belum habis perkataannya, kedua orang itu sudah hendak menubruk ke atas kereta.

Dengan cepat Nyo Hun-cong mengulurkan kedua tangannya dengan enteng dia tarik mereka turun kembali.

“Apa maumu ?” bentak kedua orang itu dengan gusar dan berbareng membacok dengan goloknya.

Nyo Hun-cong kembali mengulurkan tangannya dan menjepit dengan kedua jarinya segera sisi belakang golok sudah terjepit, orang itu dengan sekuat tenaga hendak menarik senjatanya, tetapi tetap saja tidak berhasil.

“Nanti dulu, ” kata Hun-cong, “Sebaiknya kalian memandang diriku dan melepaskan dia, akan kuberi kalian masing-masing sepuluh ekor kuda.”

“Kau ini siapa, mengapa haru melihat mukamu ?” bentak orang yang satunya lagi.

“Aku datang dari sebelah utara, namaku Nyo Hun-cong, apakah kamu tidak pernah mendengarnya ?” kata Nyo Hun-cong dengan tersenyum.

Nyo Hun-cong mengira setelah mereka mendengar namanya, sedikitnya akan memberi muka kepadanya, tetapi tidak diduga, setelah kedua orang itu agak terperanjat, mereka bahkan terus bergelak tertawa.

“Kau betul-betul adalah Nyo Hun-cong ?” tanya yang seorang, “Nyo Hun-cong telah membatu orang Kazak bertempur selama beberapa tahun, lebih-lebih dia harus tahu aturan, jika soal benar dan salahpun tidak bisa membedakan, buat apalagi kami berperang ?”

“Kau telah menyaru sebagai orang yang bernama Nyo Hun-cong ?” bentak seorang yang lain lagi, “Nyo Hun-cong mana bisa datang kesini seorang diri ? Aku melihat kau begitu rapat dengan puteri panglima Boan ini, bahasa yang dipakai entah bahasa Han atau Boan-ciu, terang kau adalah sahabat lamanya. Hmm, kau tentu adalah mata-mata musuh!”

Nyo Hun-cong menjadi gusar dan gugup, ia mengerti peraturan tentang tawanan di padang rumput memang buruk sekali, sejak lama Nyo Hun-cong sudah berpikir hendak mencari jalan membantu mereka menghilangkan kebiasaan jelek itu, akan tetapi sesuatu kebiasaan umumnya tidka gampang dirombak begitu saja dalam waktu singkat, lagipula ia sedang disibukkan dengan perlawanan pada tentara Boan, maka hingga kini ia masih belum sempat mengemukakannya, kini bila hendak menerangkan pada kedua orang ini, seketikapun kiranya takkan bisa bikin mereka mengerti.

Selagi Nyo Hun-cong tertegun tiba-tiba mereka meronta melepaskan tangannya terus menubruk pula ke arah Nilan Ming-hui.

Dalam keadaan tidak terduga itu, Nyo Hun-cong terpaksa mengambil dua potong kerikil dan lantas ditimpukkan.

Keruan kedua orang itu mengeluarkan suara jeritan, “Aduhh!”, mereka sudah tertimpuk kena siku kakinya tempat Hiat-to atau jalan darah, mereka terus berlutut tanpa bisa berkutik lagi.

Dan selagi Nyo Hun-cong hendak maju, tiba-tiba terdengar dua suara jeritan ngeri, kedua orang tegap itu sudah bergelimpangan ditanah, darahnya muncrat membasahi tanah.

Ternyata waktu Nilan Ming-hui melihat kedua orang ini menubruk maju, dan Nyo Hun-cong ternyata tidak mencegah, ia menjadi gusar sekali, maka dengan cepat ia timpukkan dua buah pisau miliknya.

Kedua orang itu telah tertutuk hiat-tonya oleh Nyo Hun-cong sudah tentu tidak dapat berkelit lagi, maka semua tertusuk tepat pada ulu hatinya oleh pisau terbang itu.

Kejadian itu berlangsung seceat kilat, karenanya Nyo Hun-cong menjadi tercengang sejenak, tetapi ia segera mendekati si gadis.

“Ming-hui, mengapa kau begitu ringan tangan ?” demikian tegurnya.

Tetapi Nilan Ming-hui sudah menangis tersedu-sedu.

“Kiranya hatimu adalah begitu, orang lain hendak merampas aku untuk dinodai, kau bukannya membela tetapi malah menyalahkan aku!” teriaknya.

Hati Nyo Hun-cong menjadi lemah oleh tangis dan ratapan Ming-hui. Pikirnya, dia menjaga diri, aku memangg tak bisa menyalahkan dia.

Maka dia lantas naik ke atas kereta, ia mengusap air mata si nona dengan lengan bajunya.

Ia lihat rambut Ming-hui kusut bertebaran dan mukanya penuh kotoran darah.

“Apakah kau terluka ?” tanyanya.

Saat itu Nilan Ming-hui seperti telah bertemu dengan sanak keluarganya, tiba-tiba ia menjatuhkan dirinya ke bahu Nyo Hun-cong sambil menangis tersedu.

“Ya, aku terluka, pundakku panas kaku rasanya, lekas kau periksa apakah sudah terkena senjata rahasia beracun ?” sahutnya kemudian.

Dalam keadaan begitu Nyo Hun-cong tidak bisa tinggal diam, ia lantas mengusap kerign noda darah di muka si gadis.

“Kau telah membunuh orang sampai terciprat begitu banyak darah.” Sahutnya.

“Ya, aku kan harus menyelamatkan jiwaku, kalau aku tidak membunuh, tentu aku lah yang dibunuh. Mengapa kau masih belum memeriksa lukaku, aku telah terkena senjata rahasia perempuan setan itu,” kata Nilam Ming-hui menerangkan.

Hati Nyo Hun-cong saat itu ruwet sekali. Ia ragu-ragu. Ia mengerti orang yang dibunuh Nilan Ming-hui pasti adalah pejuang-pejuang dari rakyat gembala, apakah ini bukan berarti gadis ini adalah musuhnya ?

Tetapi ia pernah menolong jiwanya, lagi pula orang yang ada di hadapannya sekarang ini adalah gadis yang harus dikasihani. Namun bila ia berpikir pula, dalam keadaan perang yang gaduh seperti ini, susah menanggung bahwa orang tidak akan membunuh, karenanya ia hanya bisa menghela nafas panjang.

“Apakah kau datang bertempur membantu ayahmu ?” tanyanya kemudian.

“Maukah kau merawat aku lebih dulu ? Kau sedikitpun tidak sayang padaku, sebentar kalau racun menjalar aku tentu bisa mampus,” sahut Ming-hui.

Nyo Hun-cong menurut, segera ia memeriksa lukanya, tetapi dia tidak melihat ada darah, ia menggunakan pedang pendeknya untuk merobek sedikit baju di pundak orang, maka terlihat pundaknya sudah hitam bengkak.

“Haaa, ternyata betul kau telah terkena jarum beracun!” serunya kaget.

Ia lekas keluarkan dua butir pil Pik-ling-tan dan menyuruh Ming-hui lekas menelan.

“Dapatkah kau menahan sakit ?” ia bertanya lagi.

“Apa?” tanya Nilan Ming-hui dengan tidak mengerti.

“Jarum beracun ini harus diambil dengan batu semberani, tetapi disini tidak ada benda itu, maka kalau hendak mengobati harus dicabut dahulu,” kata Nyo Hun-cong.

“Kau boleh mencabutnya, aku sanggup menahan sakit.” Sahut Nilan Ming-hui.

Maka dengan tangan kirinya, Hun-cong menahan pundak orang. Karena jaraknya terlalu dekat, segera tercium bau wangi yang merangsang hidung, tenpat dimana tangannya memegang adalah daging yang empuk menarik, ini adalah untuk pertama kalinya Nyo Hun-cong dekat dengan perempuan. Keruan hatinya tergoncang, ia lekas membelah sedikit kulit dagingnya, setelah menemukan jarum beracun itu, ia jepit dengan jarinya lantas di cabut, beruntun ia memcabut tiga jarum perak, ia memijit pula darah yang beracun supaya keluar dan membungkus lukanya dengan sobekan baju.

“Kau boleh tidur duluan, ” ujar Hun-cong kemudian. Tetapi ia menjadi terkejut demi menegasi ketiga jarum itu.

Senjata rahasia beracun yang kecil sekali ini kalau bukan orang yang lwe-kangnya sudah sempurna betul tidak mungkin bisa menggunakannya, sebenarnya siapakah gerangan penyerangnya itu ?

Selagi ia hendak bertanya, tiba-tiba Nilan Ming-hui sudah bicara sendiri.

“Sebenarnya aku mengikuti ayah pindah bersama pasukannya, dan bermaksud kembali ke kota Ili, tetpai di tengan jalan, kami lihat ada tanda api,” begitu ia menerangkan, “Ayahku membawa tentaranya lantas memburu kesini, karenanya aku juga harus ikut kemari. Tak terduga begitu sampai disini, segera mengalami pertempuran yang gaduh itu, aku bertemu empat orang penunggang kuda, aku berhasil membunuh dua diantara mereka, tetapi diantara mereka terdaat seorang perempuan, ia telah menggerakkan tangannya sekali dan aku lantas terluka olehnya.”

Mendengar penuturan ini, air muka Nyo Hun-cong tiba-tiba berubah.

“Hui-ang-kin!” serunya tiba-tiba.

“Hui-ang-kin ?” tanpa tertahan Nilan Ming-hui pun ikut berteriak.

“Kau kenal dia ?” tanyanya lagi. “Toako, balaskanlah dendamku ini.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: