Kumpulan Cerita Silat

08/04/2008

Seri Maling Romantis: Rahasia Ciok Kwan Im (08): Pamer Kepandaian

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 11:19 pm

Seri Maling Romantis
Rahasia Ciok Kwan Im (08): Pamer Kepandaian
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Gumaha)

Walau Oh Thi-hoa sudah melempar dua busu yang berpakaian lengkap itu ke dalam air, serta menghajar tiga orang lain sampai mata biru hidung keluar kecap, tapi hatinya masih merasa penasaran. Dia merasa kali ini Coh Liu-hiang terlalu tidak setia kawan. Seorang diri dia makan minum di sini, orang lain sebaliknya harus berjuang mengadu nasib, kuatir bagi keselamatannya lagi. Setelah beberapa cangkir arak masuk ke dalam perutnya, terhitung terlampias rasa dongkolnya, terutama dihadapi gadis cantik rupawan yang meladeni dirinya minum arak ini, begitu elok dan mungil sehingga dia merasa terlalu kasar bila mengumbar marah di sini.

Sekarang Coh Liu-hiang sudah tahu, orang-orang macam apa saja yang duduk berkerumun makan minum di sini, kelima orang ini adalah tokoh-tokoh yang cukup tenar dan dijunjung tinggi tingkatnya di kalangan kang ouw.
(more…)

Advertisements

Pendekar Gelandangan (08)

Filed under: Gu Long, Pendekar Gelandangan — ceritasilat @ 10:53 pm

Pendekar Gelandangan (08)
Bab 08. Siapakah A-kit?
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Bintang73 dan Donnios)

Toa-tauke duduk di atas kursinya yang besar dan lebar dengan amat santai, memandang Tiok Yap-cing yang berdiri dihadapannya, tiba-tiba timbul perasaan salah dan minta maaf dalam hati kecilnya.

Sudah enam tahun ia bekerja baginya, pekerjaannya selalu paling beres dan sengsara dari siapapun, tapi kenikmatan hidup yang berhasil dicicipinya justru jauh lebih sedikit dari orang lain.
(more…)

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 11

Filed under: Liang Yu Sheng, Pahlawan Padang Rumput — ceritasilat @ 10:47 pm

Pahlawan Padang Rumput: Bagian 11
Oleh Liang Yu Sheng

(Terima Kasih kepada Mel)

Sementara itu terdengar suara orang memanggil tanpa henti-hentinya, “Hamaya, engkau ada di mana ?” Kiranya mereka masih belum tahu kalau Hui-ang-kin sudah ditolong keempat penunggang kuda tadi, maka mereka masih terus mencarinya.

Kepala suku Tahsan, Pahla, dari jauh sudah melihat Nyo Hun-cong, akan tetapi tidak dapat mendekat karena terhalang oleh serdadu Boan.
(more…)

Create a free website or blog at WordPress.com.