Kumpulan Cerita Silat

07/04/2008

Seri Maling Romantis: Rahasia Ciok Kwan Im (07): Awal Masalah

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 11:16 pm

Seri Maling Romantis
Rahasia Ciok Kwan Im (07): Awal Masalah
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Gumaha)

Dari tempat mereka sekarang kira-kira memakan waktu setengah jam perjalanan ke arah tenggara, terdapat beberapa petak rumah yang dibangun dari kayu, disini dulu merupakan perkampungan kecil, salah satu pos di luar tapal batas untuk mengawasi gerak-gerik musuh dan pengamatan perubahan cuaca. Sekarang berubah menjadi sarang berkumpul kawanan perampok yang berkuasa di gurun pasir.

Rumah kayu itu sudah reyot dan keropos, beberapa jendela di antaranya terpentang lebar. Sejak tadi pelita sudah dipasang di dalam rumah, tentunya di dalam rumah selalu dihuni dan ditunggu orang.

Coh Liu-hiang bertiga berhenti di belakang tiga pucuk pohon berjarak sepuluh tombak di luar jendela, dilihatnya rombongan orang banyak itu sambil tertawa-tawa berbondong-bondong masuk ke dalam rumah kayu. Tapi begitu berada di dalam rumah, suara tawa dan senda gurau mereka seketika silap dan berhenti.
Dari jendela yang terbuka itu, jelas kelihatan sikap mereka amat hormat dan jeri, semuanya tundukkan kepala dan berdiri tegak tak berani bergeming, jangan kata bicara, nafaspun ditahan-tahan.

Oh Thi-hoa berkata senang, “Dari keadaan mereka itu, jelas pemimpin mereka memang berada di dalam rumah ini.”

Ki Ping yan mengiakan dengan manggut-manggut.

“Mari sekarang juga kita terjang ke dalam, ingin aku melihat macam apa sebenarnya iblis durjana itu?”

“Tunggu lagi sebentar,” sela Ki Ping-yan.

“Apa lagi yang harus ditunggu?” desak Oh Thi-hoa.

“Keadaan kelihatan rada ganjil.”

“Kau sendiri yang mengusulkan, kenapa sekarang kau merasa rada ganjil?”

“Setelah melihat rumah kayu itu baru aku melihat adanya keganjilan… coba kau pikir, dengan kekuasaan si iblis yang besar, memangnya dia sudi tinggal di tempat yang jorok dan keropos seperti itu?”

Baru saja Oh Thi-hoa melengak dan belum bersuara, dari dalam rumah kayu tiba-tiba berkumandang irama musik yang mengalun halus, serasa menyedot semangat dan mencabut sukma, sehingga pendengarnya menjadi lemas dan seperti hendak melayang jiwanya.

Begitu irama musik itu mengalun, para laki-laki baju hitam yang berdiri tegak itu kelihatan badannya melingkar dan bergetar, seolah-olah mereka ingin menari-nari menurut alunan lagu nan merdu menyedot sukma ini. Tapi sekonyong-konyong mereka serempak roboh saling tindih. Nada lagi yang menyedot sukma itu masih terus mengalun, cuma lama kelamaan suaranya datar dan rendah. Orang-orang yang roboh itu tiada satupun yang bangkit berdiri.

Mendengar irama musik ini, seketika Oh Thi-hoa rasakan mukanya panas dan jantung berdebar keras, namun kejut dan aneh pula ia melihat adegan-adegan yang seram itu, katanya sember, “Apa pula yang terjadi?”

Membeku dingin muka Ki Ping yan, mulutnya terbungkam kencang. Roman muka justru tiba-tiba berubah hebat, teriaknya tertahan, “Celaka!” belum hilang suaranya, badannya bagaikan burung walet sudah melesat ke arah rumah kayu itu.

Sudah tentu Oh Thi-hoa tidak mau membuang waktu, sigap sekali ia pun memburu maju dengan kencang. Coh Liu-hiang masih melongok-longok di jendela, Oh Thi-hoa langsung tendang daun pintu terus menerjang masuk seraya membentak keras, “Jangan harap kau…!”

Hanya tiga patah kata yang terucapkan, tiba-tiba mulutnya terpentang lebar tak kuasa meneruskan kata-katanya. Ternyata rumah kayu seluas ini tak kelihatan bayangan seorangpun.

Kalau mau dikatakan sesungguhnya, rumah kayu ini sudah tak dihuni oleh seorang manusia yang masih hidup segar bugar. Dua puluhan laki-laki yang masuk kemari tadi kini sudah menggeletak malang melintang saling tindih di atas tanah, tiada satupun yang ketinggalan hidup.

Badan mereka sama melingkar, seolah-olah ular yang saling belit membelit, namun roman muka mereka sama menunjukkan cahaya cemerlang yang aneh, bukan saja mereka mampus tanpa menunjukkan sesuatu derita, malah seperti suka rela dan senang hati menemui ajalnya.

Lama sekali Oh Thi-hoa terlongong, baru ia menarik nafas panjang, katanya, “Sungguh gila… orang-orang inipun sudah gila.”

Coh Liu-hiang membanting kaki, katanya, “Seharusnya sejak tadi sudah kupikirkan bahwa mereka akan sama bunuh diri.”

Rumah kayu yang sudah bobrok ini, boleh dikata tiada isi apa-apa, tapi tengah-tengah rumah sana berdiri sebuah berhala pemujaan yang amat besar, ditengah-tengah berhala terdapat sebuah patung Buddha, sehingga menambah seram dan serba aneh keadaan rumah ini.

Hembusan angin lalu membuat Oh Thi-hoa bergidik seram dan sadar dari lamunannya. Serunya tak mengerti, “Kenapa mereka suka bunuh diri?”

Kata Coh Liu-hiang menghela nafas, “Gembong iblis itu tentu sudah tahu bahwa jejak mereka sudah dikuntit oleh kita, kuatir kita mengudak tiba sampai di sini, terpaksa ia bunuh mereka semua.”

“Kalau toh mereka didesak orang untuk bunuh diri, kenapa pula mereka menghadapi kematian ini dengan riang hati?”

Terpancar rasa jeri dalam sorot mata Coh Liu-hiang, mulut menggumam, “Dalam hal ini tentu ada latar belakangnya yang amat misterius, musik kematian yang menyedot sukma itu mungkin…” belum habis kata-katanya, tiba-tiba terdengar Siau-phoa menjerit-jerit di luar rumah. “Ciok Tho menjadi gila… gila Ciok Tho kumat…” jeritnya mengandung rasa ketakutan yang tak terperikan.

Di tengah gurun pasir yang tak kenal kasihan di dalam rumah kayu yang menyendiri dan bobrok ini, sekonyong-konyong mendengar jerit dan tangis yang begini mengerikan, sungguh bikin bulu roma berdiri seram.

Oh Thi-hoa berjingkat kaget, tanpa berjanji bersama Coh Liu-hiang, Ki Ping yan melesat keluar hampir bersamaan. Tampak raut muka Siau-phoa berkerut-kerut seperti meringkel, keringat membasahi seluruh kepala, mulutnya masih menjerit keras-keras, “Ciok Tho gila.”

Kontan Ki Ping-yan ayun tapak tangan menggamparnya, bentaknya bengis, “Kau sendiri jangan menggila, katakan apa yang terjadi.”

Karena gamparan ini, Siau-phoa melongo sesaat lamanya, lambat laun baru kembali ketenangan hatinya, katanya dengan suara bergetar, “Setelah kalian masuk ke dalam rumah, tak tahan lagi akupun ingin kemari melihat-lihat. Tapi Ciok Tho seorang diri kutinggal di sana, hatiku jadi rada kurang tenteram. Lekas kutarik dia supaya ikut.”

“Apa benar kau kuatir meninggalkan dia sendirian? Kukira kau mengajak dia untuk membesarkan nyalimu.”

Tertunduk kepala Siau-phoa, katanya lebih lanjut dengan suara tersendat, “Siapa tahu… setiba di depan rumah ini Ciok Tho seolah-olah melihat setan, putar badan terus lari sipat kuping. Sungguh betapa rasa takutnya waktu itu, meski aku tidak melihat apa-apa, tapi aku sendiripun teramat kaget dan tak tertahan lantas berkaok-kaok sekeras suaraku.”

Orang yang punya mata tidak melihat apa-apa, memangnya orang yang buta matanya melihat sesuatu yang menakutkan? Tapi Coh Liu-hiang bertiga sudah tak sempat pikirkan hal ini lebih lanjut, belum selesai keterangan Siao-phoa, serempak mereka sudah berlari kencang mengundak ke arah mana tadi Ciok Tho melarikan diri.

Angin menderu kencang, pasir berterbangan. Tabir malam di gurun pasir sudah mulai memperlihatkan kekuatannya yang begitu menakutkan.

Akhirnya mereka melihat bayangan Ciok Tho, yang sedang lari lintang pukang, seorang yang tak bisa mendengar, terpaksa harus berlari jatuh bangun dengan setaker tenaganya di gurun pasir yang tak kenal kasihan. Di tengah malam gelap yang pekat ini, betapa takkan menyedihkan dan memilukan keadaan seperti ini.

Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan berbareng melesat ke depan, keduanya berbareng mengempit badan orang, tapi Ciok Tho seperti binatang buas yang terluka meronta dengan kekuatan yang besar luar biasa, terus lari pula ke depan dengan lebih kencang.

Tenaganya yang begitu besar dan kuat seperti orang gila benar-benar, sampaipun Coh Liu-hiang tak kuasa menahannya.

Sementara itu Oh Thi-hoa pun sudah mengundak tiba dari belakang. Langsung ia menubruk maju seperti harimau menubruk mangsanya, ia sekap pinggang orang terus diajak berguling-guling di tanah berpasir. Lekas Ki Ping yan memburu maju pula dan mendekap sebelah pundaknya. Semula Ciok Tho masih hendak meronta, serta merta Ki Ping yan dengan kencang menggenggam tangannya, baru lambat laun ia mulai tenang, tapi nafasnya masih ngos-ngosan.

“Lekas kau tanya dia,” usul Oh Thi-hoa dengan memburu. “Sebetulnya apa yang dia ketemukan.”

Di bawah sinar bintang, tampak raut muka Ciok Tho yang buruk dan kaku itu penuh dibasahi butiran keringat, diikuti ketegangan dan kekuatiran. Jangankan Siau-phoa jadi ketakutan melihat raut mukanya ini, sampai pun Oh Thi-hoa pun bergidik dan dingin hatinya.

Berselang cukup lama baru Ki Ping yan angkat kepala, katanya, “Sudah kutanya dia, tapi apapun dia tidak mau menjelaskan.”

Pandangan mata Coh Liu-hiang menatap ke tempat gelap nan jauh sana, katanya pelan-pelan, “Bukan mustahil dia memiliki indera ke enam yang amat peka, terasa olehnya bahwa iblis yang mencelakai dirinya itu berada di dalam rumah kayu itu.”

“Tapi dalam rumah kayu hakikatnya tiada ketinggalan orang hidup… boleh dikata tiada sesuatu benda apapun dalam rumah itu, seumpama iblis itu menyembunyikan diri juga tak mungkin lagi.”

Berkata Coh Liu-hiang sepatah demi sepatah, “Apa benar rumah itu tiada sesuatu apapun?”

“Kecuali meja kursi yang sudah reyot, tinggal patung pemujaan itu.”

“Sudahkah kau jelas patung apa yang berada di tempat pemujaan itu?”

“Kalau tidak salah seperti sebuah patung Kwan Im posat yang terbuat dari batu…” sekonyong-konyong suaranya seperti membeku, badannya seolah-olah kena lecutan cambuk bergetar keras. Lalu seperti kerasukan setan, tiba-tiba ia putar badan berlari sekencang-kencangnya kembali ke rumah kayu itu.

Keadaan dalam rumah kayu telah berubah. Angin menghembus kayu gorden yang menutupi ruang pemujaan itu. Tapi ruang pemujaan ini kosong melompong. Patung batu yang berdiri di sana tadi kini sudah lenyap tak keruan paran.

Keringat segede kacang bercucuran di atas kepala Oh Thi-hoa, lama sekali dia menjublek di tempatnya, baru didapatinya di atas meja ketambahan sebuah wajan besi. Wajan yang masih panas mengepulkan asap dan bebauan sedap, bau daging rebus yang enak rasanya.

Di bawah wajan terselip selembar kertas yang ada tulisannya berbunyi: “Tuan-tuan datang dari tempat ribuan li jauhnya, seharusnya aku sendiri harus menyambut dengan sebuah meja perjamuan besar. Sayang anak buahku bodoh dan tak becus bekerja, bikin malu dan menusuk perasaan belaka. Maka akan aku siapkan sewajan daging rebus sekedar sebagai pernyataan maksud baikku. Untung menghilangkan rasa lelah dan kelaparan serta dahaga, harap tuan-tuan tidak menampik maksud baik kami! Hormat, Orang dalam pemujaan”

Orang dalam ruang pemujaan? Siapa pula orang di dalam pemujaan?

Oh Thi-hoa berpaling, maka dilihatnya Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan sama sedang menatap kertas yang berada di tangannya, agaknya mereka pun melongo dan tertegun.

Sesaat lamanya, baru Ki Ping-yan bersuara dengan tertawa getir, “Jejak kami bertiga, toh konangan juga oleh si dia!”

“Tapi siapakah orang dalam ruang pemujaan ini? Bayangannya saja toh tidak kita lihat.”

Dengan nanar Coh Liu-hiang memandang ke arah ruang perjamuan yang sudah kosong itu, katanya sepatah demi sepatah, “Itulah Ciok-koan im.”

Berjikat merinding bulu kuduk Oh Thi hoa, serunya, “Ciok koan im? Maksudmu adalah perempuan yang diakui umum sebagai orang yang paling cantik, paling galak dan tak mengenal kasihan, tapi ilmu silatnya amat tinggi dan sudah diakui kawanan Kangouw pada masa lalu itu?”

Coh Liu-hiang tertawa getir, “Kecuali dia, siapa pula yang mampu membuat alat rahasia yang begitu lihay dan baik? Siapa pula yang punya kepandaian ilmu rias yang begitu hebat? Siapa pula yang kuasa mengatur tipu daya yang begitu sempurna dan seksama?”

Ki Ping yan menyambung dengan suara kalem, “Kecuali dia, siapa pula yang bisa mengheningkan cipta atau semedi merubah diri seperti patung-patung tulen, sehingga dengan mudah mengelabui pandangan mata kita?”

Oh Thi-hoa melongo dan menjublek, meski ia belum pernah melihat Ciok-koan-im, tapi berbagai dongeng dan cerita yang sering tersiar di kalangan Kangouw mengenai manusia yang satu ini, boleh dikata dapat membuat setiap orang yang mendengar merasa bergidik seram dan dingin dari kepala sampai ke kaki.
Bau asap mengepul dari wajan semakin tebal, daging yang sudah matang dan dilapisi kuah berminyak kelihatan begitu sedap dan lezat, inilah hidangan yang sedang mereka harapkan selama ini.

Mendadak Oh Thi-hoa bergelak tawa, katanya, “Katanya yang tersiar di kalangan Kangouw memang tidak keliru, Ciok-koan-im memang siluman tukang mencelakai jiwa orang. Apapun tiada yang dia tinggal di sini, kecuali wajan dan daging rebus ini, supaya kita hanya melihatin saja, dengan mengalirkan air liur tanpa berani menyentuhnya.”

Tiba-tiba seekor anjing menerobos masuk ke dalam rumah, langsung lompat naik ke atas meja, kepala dijulurkan lidah menjilat seperti sedang mencicipi, lalu mulut terpentang menggigit sekerat daging bertulang.

Maki Oh Thi-hoa dengan tertawa, “Anjing ini sudah gila lantaran kelaparan? Memangnya dia tidak takut keracunan?” segera ia menghampiri dan menjinjing anjing itu lalu diturunkan ke atas tanah, tapi dengan lahap dan tergesa-gesa anjing itu sudah melalap sekerat daging bertulang itu ke dalam perutnya. Oh Thi hoa, Coh Liu-hiang, Ki Ping yan, tiga orang enam biji mata dengan mendelong mengawasi reaksi perubahan anjing ini. Tapi setelah ditunggu-tunggu setengah jam, Ki Ping yan membalik mata anjing untuk diperiksa, lalu memeriksa lidahnya lagi, katanya perlahan, “Masakan dalam wajan ini tak beracun.”

Dengan keras Oh Thi-hoa menggebrak meja, teriaknya, “Siluman jahat itu sudah perhitungkan kita takkan berani makan daging rebus itu, malah antar seekor anjing untuk membuat jengkel. Dia kira kita sudi memakan daging rebus sisa dari anjingnya ini.”

“Daging yang sudah dimakan anjing, masakah orang tidak boleh memakannya?” kata Ki Ping-yan tawar. Matanya mengawasi Coh Liu-hiang, Coh Liu-hiang tidak memberi komentar.

Oh Thi-hoa sudah jinjing wajan itu terus dilempar keluar jendela, mulut masih berkaok-kaok, “Kita tidak boleh makan makanan sisa anjing, seumpama harus mati kelaparan, jangan kita bikin malu diri.”

Ki Ping yan menghela nafas, jengeknya, “Jikalau aku bisa pulang dengan selamat, di dalam rumah akan kudirikan sebuah tugu peringatan untuk mengingat budi keluhuranmu ini, dimana akan ku ukir, ‘Kelaparan sampai mati urusan kecil, bikin malu muka orang urusan besar!’”

Oh Thi-hoa bergelak tertawa, serunya, “Jikalau aku bisa pulang dengan jiwa masih hidup akan ku… akan ku…” ingin dia mencari kata-kata yang setimpal untuk balas mengolok Ki Ping yan, dalam waktu dekat mulutnya justru tak kuasa mengeluarkan kata-katanya.

“Watak manusia berangasan seperti anjingmu ini, mungkin takkan bisa pulang dengan hidup segar,” jengek Ki Ping yan pula.

“Itupun belum…” belum lagi Oh Thi-hoa berkata lebih lanjut, tiba-tiba terdengar jeritan mengerikan di luar rumah, tiga orang serempak melesat keluar, tampak Siau-phoa yang tadi menjagai Ciok Tho kini sudah terguling-guling di atas tanah.

Wajan yang berisi daging itu berada di sisinya, ujung mulutnya masih berlepotan kuah berminyak, roman mukanya pun putih halus dan jenaka itu, kini sudah merah abu-abu dan berkerut-kerut mengejang, mulutnya mendesis dan megap-megap, ingin berteriak keras, namun yang terdengar hanya suara lirih, “Daging beracun…”

Ternyata di luar rumah ia mendengar percakapan di dalam yang mengatakan daging dalam wajan ini tak beracun, maka sisa kuah yang tidak tertumpah di dalam wajan ia hirup seluruhnya.

Lekas Coh Liu-hiang memburu ke samping badannya, baru saja ingin memeriksa keadaannya, badan Siau-phoa sudah kelejetan dan mengejang, sebentar saja jiwanya tahu-tahu sudah melayang gara-gara minum sisa kuah daging dalam wajan itu.

Di tengah gurun pasir yang luas ini, jiwa manusia ternyata sedemikian rendah dan tak berharga sama sekali.

Pelan-pelan Coh Liu-hiang katupkan kelopak matanya, katanya prihatin, “Racun yang hebat, keras benar kadar racunnya sampai tak sempat ditolong lagi.”

“Orang lihay benar,” ujar Ki Ping yan. “Dia sembunyikan kapsul beracun itu di mulut anjing, begitu anjing menjilat kuah kapsul beracun itu lantas jatuh ke dalam wajan karena masih panas cepat sekali kapsul itu lantas mencair dan kuah yang semula tidak beracun menjadi mengandung racun yang begitu jahat.”

Tersirap darah Oh Thi-hoa, “Apakah anjing itupun sudah dilatihnya sedemikian rupa?”

Ki Ping -yang manggut-manggut sebagai jawaban.
Coh Liu-hiang tertawa, ujarnya, “Agaknya berkat watak anjing Oh Thi-hoa tadi sehingga aku dan kau tidak kena tertipu oleh Ciok-koan im.”

Membayangkan tipu muslihat berantai yang berhubungan satu sama lain secara licik dan licin ini, boleh dikata jiwa mereka tadi sudah diambang kematian… tak terasa tapak tangan mereka berkeringat dingin.

Hari kedua, air tetap tak mereka dapatkan.

Mereka tak mau membiarkan sisa air didalam badan mereka terjemur kering oleh terik matahari, maka setelah sang surya terbenam, baru mereka bergerak lagi.

Giok Tho, laki-laki misterius dan harus dikasihani ini, kini sudah memperoleh kembali tenaga dan keberaniannya yang tak terhingga sebaliknya Oh Thi-hoa bertiga sudah semakin loyo dan lemas. Betapapun tinggi kepandaian seseorang didalam dunia ini, masa kuasa memerangi kekuatan kebesaran alam semesta.

Sang surya sudah terbenam, sering Ciok Tho Mendekam di atas pasir, menggunakan hidungnya mengendus dan membaui pasir, seperti srigala yang mengejar jejak mangsanya merangkak di atas pasir, Oh thi-hoa menjilat bibirnya yang sudah kering dan pecah, tanyanya tak sabar, “apa yang sedang dia lakukan?”

“Dia sedang mencari sumber air di bawah tanah.”

“Apa dia bisa mengendus dengan hidungnya?”

“Kalau ada air, tentu ada suhunya, suhu panas tertentu itu dapat terendus oleh hidung yang berpengalaman.”

Oh Thi-hoa masih ingin bicara, tapi orang sudah tak perdulikan dia lagi. Karena ditempat seperti ini dalam keadaan seperti ini pula bicara mengeluarkan tenaga dan membuang-buang energi, mengeringkan ludah lagi, disaat-saat seperti ini, kedua macam keperluan ini hampir senilai dan semahal jiwa mereka.

Setelah malam mendatang, tiba-tiba seperti kumat gilanya Ciok Tho menggali pasir dengan kedua tangannya. “ada Air!” seketika Oh Thi-hoa berjingkrak kegirangan.

Serempak mereka lompat turun dari punggung unta, menggunakan segala alat apa saja yang mereka ketemukan, beramai-ramai mereka menggali pasir sekuat tanag, tapi dengan susah payah mereka bekerja satu jam lamanya, akhirnya tetap kecewa, tiada air.

Oh Thi-hoa menyengir sedih, “Hidungnya itu mungkin sudah tak berguna lagi.”

Ki Ping-yan membenamkan mukanya tak menanggapinya. Cuma Ciok Tho masih belum putus asa, dia tetap mengeruk dan menggali. Mendadak ia mencelat bangun mencomot segenggam pasir diangsurkan kepada Ki Ping-yang.

Ki Ping-yan jejalkan pasir itu ke dalam mulut, seketika mukanya berseri girang.
Pasir ini terasa hangat. Beramai-ramai mereka masukkan pasir ke dalam mulutnya, sekuatnya menghisap air yang terkandung didalam pasir. Air, memang terlalu minim, tapi bagi seseorang yang sudah dekat ajal karena dahaga sudah cukup untuk merenggut pulang jiwanya dari cengkeraman elmaut. mereka mengeduk lebih giat, lebih keras dan mati-matian, menghisap sekeras kerasnya.

Malam itu mereka lelap dalam impian didalam galian pasir yang bersuhu hangat ini, saking bernapsu menghisap air tadi, lidah Oh Thi-hoa terasa linu kemeng, tak tertahan ia mengumpat caci, “Boleh dikata seluruh tenaga untuk menghisap sudah kukerahkan, namun belum bisa kulihat setetes air yang berhasil keperas dari pasir setan yang keparat ini, menghisap dengan cara begini terus apakah tidak bikin lidah putus dan leher kejang?”

“Didalam gurun pasir, bila setiap hari kau dapatkan pasir hangat seperti ini, sudah terhitung kau beruntung, meski amat minim air dalam pasir ini, tanpa dia kau takkan bisa hidup”

Memang tidak salah ucapannya, hari ketiga jangan kata air, pasir hangat seperti itupun tak berhasil mereka temukan, tenaga untuk berjalan pun sudah tiada, untunglah hari ke empat, Ciok Tho berhasil menemukan lagi. Pasir di sini lebih banyak mengandung air.

Berkata Ki Ping-yan menerangkan, “Ciok Tho menyelusuri jalur-lajur urat air bawah tanah baru berhasil menemukan yang ini, dilihat keadaan tempat ini, tak jauh dari sini tentu kita bisa menemukan sumber iar yang lebih besar.”

Dengan badan lebih segar, mereka kerahkan tenaga dan menghimpun semangat bergerak maju lebih lanjut. Sekonyong-koyong dikejauhan sana mereka melihat pemandangan serba hijau, seperti permadani terbentang luas kehijauan itulah oase, tanah subur yang banyak air dan tetumbuhan yang hidup subur di gurun pasir.

Dengan sekuat tenaganya Oh Thi-hoa kucek-kucek matanya, katanya, “Apakah mata ku sudah lamur?”

“Semoga ini bukan pandangan didalam khayalan kita.” Coh Liu-hiang tertawa getir.

Setelah dekat, terdengar diantara pepohonan yang menghijau subur ditengah-tengah oase sana, kumandang gelak tawa orang-orang yang riang gembira. Tapi bagi seseorang yang baru saja lolos dari cengkeraman mara bahaya ditengah gurun pasir yang tak kenal kasihan ini, gelak tawa riang gembira itu kedengaran amat menusuk dan seram menakutkan.

Oh Thi-hoa dilliputi ketegangan pula katanya: “apa disinikah sarang rahasia Ciok-koan im? Kecuali siluman jatah itu, siapa pula yang masih bisa begitu riang gembira ditengah gurun pasir yang tengah sengsara ini?”

Ditunggu-tunggu tak terdapat reaksi teman-temannya, lalu ia menyambung perkataan sendiri: “apalagi dua hari ini, dia tidak mencari kesulitan kita, bukan mustahil dia sudah memperhitungkan kita akan bisa menemukan tempat ini?”

Sekian lama Coh Liu-hiang tidak berkutik, tiba-tiba ia bangkit berdiri katanya, “Kalian tunggu aku di sini biar kuperiksa keadaan di sana.”

Oh Thi-hoa ikut berdiri serunya, “Aku ikut.”

“Aai, ginkangmu lebih tinggi dari maling kampiun?” olok Ki Ping-yang.

Oh Thi-hoa meloso duduk pula, mulutnya terkancing.

Bukan saja oase ini amat indah, ternyata cukup luas pula, ditengah gurun pasir yang serba buruk ini, mendadak muncul tempat seindah ini boleh dikata seperti dalam dongeng saja.

Ditangah rimbunnya dedaunan, sering terdengar tawa cekikikan medru bagai kelintingan.

Apa benar ini alam khayal didalam dongengan itu? atau alam iblis? dan yang tersembunyi didalam rumpun dedaunan itu, apakah bukan siluman perempuan yang suka memincut dan akhirnya memakan orang-orang pelancongan yang kesasar jalan?
Setelah menarik napas dengan hati-hati Coh Liu-hiang meluncur kesana walau ginkangnya sekarang jauh berkurang dari keadaan biasa, tapi tak perlu disangsikan masih termasuk tingkat tinggi jarang ditemukan tandingannya.

Dengan ringan seperti burung ia hinggap di puncak pohon. Dari sela-sela dedaunan yang rimbun ini, seketika ia melihat suatu pemandangan yang bisa bikin hati kebat-kebit, membuat orang linglung dan sukar dipercaya.

Disana terdapat dua empang besar kecil yang berair bening menghijau. Di sini empang yang rada besar ditempat yang rada jauh sana terdapat tiga bangunan kemah yang indah dan mewah, di depan kemah berdiri tegak beberapa Busu yang bersenjata tombak mengkilap berpakaian serba berkilauan pula. Sementara empang kecil itu dipagari beberapa lembaran kain sari sehingga keadaan di sini tertutup dan teraling tak kelihatan seorang gadis jelita berambut panjang sedang mandi di dalam empang.

Berat dan hampir berhenti napas Coh Liu-hiang. Dalam keadaan seperti ini, malah tiada seleranya menikmati kecantikan seorang gadis, tapi gadis telanjang dengan lekak-lekuk badannya yang berisi montok basah dengan hiasan butiran-butiran air dipaparkan di depan mata, mau tidak mau matanya jadi melotot dan tergerak hatinya.

Begitu indah tubuh semampai yang halus putih itu, di bawah pancaran sinar sang surya yang mulai terbenam di ufuk barat, mirip benar sebentuk patung dewi yang sempurna tiada cacatnya, butiran air yang berkilauan kekuningan, berderet di atas jidatnya yang bidang terus mengalir turun ke tengah dua bukit menonjol yang putih menyusul suara tawanya semerdu kicauan burung senyaring kelintingan, tak ubahnya laksana ratusan kuntum kembang mekar bersama.

Masih ada tiga empat gadis lainnya pula yang bersanggul berdiri berjajar di pinggir empang, ada yang membawa handuk, ada yang membawa kain sari panjang, ada pula yang membawa alat-alat mandi, mereka sama cekikikan riang gembira, mereka bersenda gurau saling mendulang air dicipratkan ke muka teman temannya.

Coh Liu-hiang yang baru saja keluar dari siksaan derita kekeringan di tengah padang pasir, perut kelaparan, mulut kekeringan badan terlalu letih, lolos dari mara bahaya lagi, mendadak terhadap adegan atau tontonan yang begini mengasyikkan, sungguh sukar dia percaya atas pandangannya sendiri bahwa dirinya sudah berada di kahyangan di sorga. Dalam keadaan seperti ini Coh Liu-hiang lupa akan tugasnya, lupa apa yang harus dia lakukan, lupa bahwa teman-temannya masih menunggu kabar di gurun pasir sana.

Semula raut muka gadis mandi itu tertuju ke arah sana, kini kerlingan matanya tiba tertuju ke arah tempat persembunyian Coh Liu-hiang, insaf bahwa jejaknya sudah diketahui oleh orang. Gadis lain bila ketahuan ada orang apalagi laki-laki dewasa sedang mengintip dirinya sedang mandi, tentu menjerit dan lekas-lekas berusaha mengenakan pakaian, tapi gadis ini mengerling, lambat-lambat dia malah berdiri dan tegak laksana sekuntum kembang teratai yang baru saja mekar dan menongol dari permukaan air.

Muka Coh Liu-hiang serasa panas malah, sekilas ia melihat kesempurnaan seluruh badan si gadis yang semampai dan montok itu, lekas sekali orang sudah sembunyi dalam libatan kain sarinya yang panjang. Lalu memutar badan ke arah Coh Liu-hiang, katanya kalem: “Orang yang mengintip itu memangnya kau belum puas?” suaranya memang merdu dan halus mengalun, seperti kicauan burung kenari, cuma logat bicaranya kedengaran rada kaku dan sember, seperti gadis gunung yang baru saja belajar bahasa kota.

Diam-diam Coh Liu-hiang menghela napas dengan tertawa getir, dia lompat turun dari pucuk pohon, selama hidupnya, boleh dikata belum pernah dia mengalami keadaan serunyam seperti hari ini. Sungguh ia tidak suka kalau dirinya disangka dan dimaki sebagai pemuda pemogoran yang mata keranjang, lebih baik tak ia harapkan di dalam keadaan seperti ini dia harus menemui dan berhadapan dengan gadis jelita bagai bidadari ini. Tapi dia tak mungkin lari terpaksa ia keluar dengan mengeraskan kepala.

Dari atas ke bawah gadis ini mengamat-amati dirinya, sorot matanya yang semula ditandai kobaran api dalam hatinya, lambat laun seperti berubah menjadi tenang, katanya melompat kepada Coh Liu-hiang “Tidak kecil ya, nyalimu, tidak kau melarikan diri.”

Coh Liu-hiang unjuk tawa getir, sahutnya,” meskipun cayhe tidak sengaja, tapi aku harus menyatakan penyesalan yang luar biasa, jikalau mau lari, masakah tidak memalukan?”

Berkilat kerlingan mata si gadis, katanya: “Jadi kau mengakui salah dan kemari mau terima hukuman?”

“Ya begitulah ” Coh Liu-hiang mengiakan. Terunjuk senyuman geli pada sorot mata si gadis, katanya pelan-pelan,” Kau berani mengakui kesalahan, memang tidak malu kau jadi laki-laki sejati, tapi tahukan kau dosa apa yang telah kau perbuat?”

Coh Liu-hiang menghela nafas, katanya “seharusnya nonapun harus menutup sebelah sini dengan kain panjang itu.”

Melotot lagi mata si gadis, semprotnya “kau mengintip aku mandi, memang masih menyalahkan diriku?”

“Cayhe kemari tanpa sengaja, mana aku tahu bahwa di tempat ini ada gadis jelita sedang mandi?”

“Kalau kau tahu?”

“Kalau aku tahu di sini ada seorang gadis secantik nona sedang mandi di sini, tahu pula bila sebelah sini tidak tertutup dengan kain panjang”

“Memangnya kau tidak akan datang kemari?” tukas si gadis.

Coh Liu-hiang tertawa sahutnya: “seumpama kedua kaki ini putus, meski merambat akupun akan kemari dengan merangkak.”

Jawaban ini seketika membuat si gadis menjublek. Laki-laki keparat, mana ada laki-laki yang punya muka begini tebal, tidak tahan malu dan punya nyali besar? Sungguh mimpipun tak pernah terpikir olehnya ada laki-laki yang berani bicara begitu dihadapannya.

Hatinya memang dongkol, tapi ia tak kuasa mengumbar amarahnya, ingin tertawa, tapi ia tahan-tahan. Sebaliknya gadis-gadis disampingnya tertawa cekikikan geli sambil mendekap mulut. Setelah tertawa baru mereka sadar tidak pantas mereka tertawa. Serempak mereka menarik muka, dan melotot marah, dampratnya: “Laki-laki yang bernyali besar, berani kau bicara begituan terhadap Tuan Putri?”

“Tuan putri” panggilan ini sungguh membuat Coh Liu-hiang menjura, katanya: “Sebetulnya Cayhe tak perlu berkata demikian, tapi sebagai laki-laki sejati apalagi selama hidup aku tidak pernah berbohong!”

“Tak nyana diantara bangsa Han kalian ada juga laki-laki yang berani bicara sejujurnya, aku pernah dengar, ditempat kalian itu orang yang punya nyali bicara terus terang malah sering dipandang rendah dan hina oleh orang lain.”

Diam-diam Coh Liu-hiang menarik napas, sudah tentu diapun tahu bahwa banyak manusia dalam dunia ini yang sering bermuka-muka dan bermulut manis, yang suka bohong dan mengelabui orang dengan lidahnya yang lihai, memang jarang ada orang yang suka menghargai orang yang mau bicara jujur dan terus terang, mereka memang sering dipandang sebagai Siau-jin ‘orang kecil’. Tapi Coh Liu-hiang hanya tertawa tawar, katanya: “Jadi ditempat tuan putri ini, paling suka menghargai orang yang suka bicara jujur dan terus terang?”

“Ya, begitulah!” sahut tuan putri.

“Kalau demikian seharusnya tuan putri memaafkan kesalahanku yang tak disengaja ini.”

Lama tuan putri ini menatap Coh Liu-hiang, tiba-tiba terkulum senyum mekar di wajahnya yang cantik rupawan ini, katanya, “Mungkin bukan saja aku menjatuhi hukuman kepadamu, malah kupandang kau sebagai tamu agung, tapi ini harus kulihat dulu, kecuali keberanianmu tadi, apakah kau memiliki suatu kepandaian yang lainnya?” lalu dengan jari tangannya yang halus dan bening ia membetulkan letak rambutnya, katanya sambil berputar badan,” Tadi karena kau tidak melarikan diri, sekarang bolehlah kau mengikut padaku?”

Didalam perkemahan yang indah dan megah ini, tak henti-hentinya terdengar irama musik dan gelak tawa yang riang gembira. Para busu yang berjaga di luar kemah justru melotot seperti mata elang mengawasi Coh Liu-hiang.
Saat mana tuan putri yang cantik molek ini sudah langsung beranjak ke dalam kemah dan sedang melambaikan tangan padanya.

Dengan tersenyum Coh Liu-hiang menepuk pundak kedua busu yang garang ini, dengan langkah lenggang kangkung ia beranjak masuk. Sejak tadi dalam hati diam-diam ia sudah persiapkan diri, betapapun bahaya yang menunggu dirinya didalam kemah ini dia tidak akan kaget dibuatnya, didalam gurun pasir yang kejam dan serba seram ini terhadap apapun yang bakal dihadapinya, dia sudah mempersiapkan diri untuk menerima segala akibat yang paling buruk.

Tapi didalam kemah ini, sedikitpun ia tidak mendapatkan tanda-tanda sesuatu yang melambangkan keganasan dan mara bahaya, bahwasanya didalam kemah ini boleh dikata sebagai tempat yang paling aman dan tak mengenal mara bahaya di seluruh dunia.

Di luar kemah terbentang tanah rerumputan yang menghijau elok dan empuk, didalam kemah sebaliknya justru dilapisi permadani yang puluhan kali lebih empuk dan puluhan kali lebih elok dari sesuatu yang empuk dan elok. Di atas permadani berjajar beberapa meja pendek, di atas meja ini bertumpuk berbagai macam buah-buah, arak dan sayur mayur yang serba lezat dan nikmat, beberapa orang yang mengenakan pakaian serba mewah perlente sedang riang gembira mengelilingi meja-meja pendek itu, makan dan minum sepuas-puasnya.

Yang kelihatan paling riang adalah seorang laki-laki jubah merah yang mengenakan topi kebesaran berkilauan, bermuka lebar cambang bauk lagi, dia duduk di atas kursi pendek yang tepat berada ditengah-tengah, tangan kiri memegang cangkir emas, sementara tangan kanan sedang memeluk pinggang seorang gadis cantik, serunya dengan tertawa riang,” Silahkan kalian lihat, Pipop kongcu ‘tuan putri pipop’ setelah mandi, bukankah lebih cantik molek?” sorot matanya berputar dan beralih kearah Coh Liu-hiang, katanya pula dengan tertawa,” Tapi putriku yang baik, siapa pula tamu yang kau bawa kemari ini? Kuingat disekitar sini sejauh ratusan li, tiada seorang laki-laki yang lebih tampan seperti dia?”

Pipop kongcu unjuk tawa manis, selincah burung walet ia menghampiri ayahnya dan duduk disampingnya dengan membungkukkan badan, dia berbisik-bisik dipinggir telinga ayahnya. Mendengar entah apa yang dikatakan putrinya, laki-laki jubah merah itu manggut-manggut, sorot matanya tetap berputar-putar mengawasi Coh Liu-hiang, memang roman mukanya mengulum senyum mekar, tapi sorot matanya mengandung wibawa besar yang menundukkan hati orang lain.

Dengan tersenyum Coh Liu-hiang balas menatap orang, hatinya ikut riang, terasa olehnya arak di sini cukup wangi, sayur mayurnya lezat, gadis-gadis disinipun sama elok dan mungil, orang jubah merah ini kelihatannya pasti bukan orang jahat.

Sekonyong-konyong empat batang tombak gantolan tanpa suara menusuk datang dari belakang punggungnya. empat batang tombak gantol, dua di atas dan dua di bawah, masing-masing panjangnya dua tombak, bagi busu yang bersenjata tombak gantolan umumnya berkepandaian rendah, tapi bertenaga raksasa, tusukan tombak gantolan ini laksana ular beracun menerjang keluar dari sarangnya.

Seorang yang tiga hari tak pernah berkenalan dengan sebutir nasi dan minum setetes air, ingin berkelit dari bokongan keji dan telengas seperti ini boleh dikata tak mungkin terjadi, tragedi mengenaskan dengan banjir darah agaknya bakal terjadi, tapi orang-orang yang duduk berjajar makan minum itu, satupun tak ada yang melirik ke arah sini. Seolah-olah perduli kejadian apapun, takkan bikin hati mereka tertarik.

Hanya biji mata tuan putri Pipop saja terbelalak lebar, dengan jelas ia melihat keempat ujung tombak gantolan itu hampir sudah mengenai punggung Coh Liu-hiang, sedikitpun Coh Liu-hiang tidak memberikan reaksi apa-apa, serta merta sorot matanya mengunjuk rasa ngeri, gugup dan menyesal, tubuh yang semampai itupun bergegas hendak bangkit dan terhuyung.

“Creng,” terdengar benturan senjata keras yang nyaring berkumandang menusuk telinga. Coh Liu-hiang tetap berdiri di tempatnya tanpa bergeming, juga tidak berpaling, tapi entah apa yang terjadi, ke empat ujung tombak gantolan itu, tahu-tahu sudah terkempit di bawah ketiaknya. Ke empat busu itu sampai terperosok ke depan dan saling bertumbuk, saking kuat getarannya, tangan mereka tak bisa terangkat lagi.

Lima orang yang duduk makan minum di pinggir meja itu baru sekarang bersama angkat kepala mengawasi Coh Liu-hiang, sorot mata mereka menunjukkan rasa keheranan. Sementara laki-laki jubah merah itu sudah bertepuk tangan dan memuji, “Kepandaian bagus. Memang hebat kepandaianmu! Putriku memang tidak salah pandang.”

Berkata Coh Liu-hiang dengan tawar, “Tapi Cayhe justru salah lihat orang, sungguh Cayhe tidak menduga bahwa tuan seorang yang pandai membokong orang lain.”

Laki-laki jubah merah itu terbahak-bahak, serunya, “Jangan kau salahkan aku, kejadian itu tiada sangkut pautnya dengan aku,” lalu ditariknya tangan tuan putri Pipop, sambungnya dengan tertawa, “Putriku inilah yang ingin mencoba kau, katanya asal kau bisa terhindar dari sergapan ini, kau adalah tamu agungnya.”

Pipop kongcu tersenyum manis, selanya, “Bagaimanapun juga, kau sudah berhasil meluputkan diri, itu terhitung kau sebagai tamu agungku, seorang tamu tidak pantas marah kepada tuan rumah bukan?”

Coh Liu-hiang menghela napas, katanya tertawa, “Memang Cayhe tidak patut marah.”

Seorang laki-laki yang duduk di sebelah kiri berwajah pucat, berbaju hijau dan berhidung melengkung seperti paruh burung, tiba-tiba berkata dengan menjengek dingin, “Saudara hebat benar kepandaianmu. entah tokoh sakti darimana kau?”

Coh Liu-hiang mengelus hidung, sahutnya tertawa, “Cayhe Lau Hiang, tidak lebih hanya seorang keroco tak bernama.”

“O…….” Laki-laki baju hijau bersuara lesu, badannya kembali rebah, melirikpun tidak kepada Coh Liu-hiang. Memang nama ‘Lau Hiang’ biasa dan tabu, dia merasa tak perlu dirinya ikat hubungan atau berkenalan dengan orang yang tak bernama.

Tapi sejak tadi Pipop kongcu selalu mengawasi Coh Liu-hiang, kembali ia unjuk tawa manis dan berkata, “Kalau kau sudah diterima sebagai tamu agung disini, kenapa tidak mau duduk?”

“Kalau Cayhe berdiri, nyaliku rada besar,” ujar Coh Liu-hiang tertawa.

Pipop kongcu cekikikan, katanya, “Jikalau tadi kau merasa kaget, bagaimana kalau sekarang kuberi sekedar hiburan?” lalu dia bersimpuh, seorang gadis sudah mengangsurkan sebuah rebab kepadanya, terus diletakkan di atas kedua pahanya, dimana jari-jarinya bergerak halus gemulai. Seketika mengalun irama harpa nan merdu mengasyikkan, seperti dewi kahyangan sedang menari, laksana mutiara berdering di atas piring pualam. Seluas alam semesta di sekeliling oase ini tak terdengar suara apapun kecuali petikan lagu-lagu yang kumandang dari senar-senar rebab.

Sejak dinasti Tong, tak sedikit jumlah tokoh ahli seni musik yang suka menggunakan rebab lurus berdiri, kalau dipetik senarnya harus dipeluk didepan dada, lain justru cara Pipop kongcu ini memainkan rebabnya, orang justru merebahkan rebabnya di atas kedua lututnya, semula Coh Liu-hiang tidak mengharap bisa mendengarkan petikan lagu-lagu dari rebab yang mengasyikkan ini. Saking asyiknya hampir saja dia kehilangan semangat, lupa lapar, lupa dahaga dan penat, lupa segalanya. Setelah irama rebab berhenti, dia masih terlongong tanpa bergerak.

“Bagaimana?” tanya Pipop kongcu tertawa lebar.

Coh Liu-hiang tersentak sadar oleh pertanyaan ini, katanya menghela napas, “Tak nyana di tanah gersang nan jauh ini, aku masih sempat mendengar suguhan yang luar biasa.”

“Kenapa harus dibuat heran?” ujar laki-laki jubah merah, “Seni rebab memang berasal dari sini, terus diajarkan ke tanah bangsa Han kalian.”

“O….?” Coh Liu-hiang bersuara dalam mulut.

Tanya laki-laki jubah merah, “Pernahkah dengar nama Soh-ci-po!”

Coh Liu-hiang mendadak maju selangkah dan berdiri tegak, katanya dengan hati bergetar, “Apakah tuan ini Kui-je-ci-ong?”

Bersinar tajam mata laki-laki jubah merah, serunya sambil mengelus cambang bauknya,” Akhirnya kau tahu juga siapa aku, sungguh aku nyana hari ini seni rebab yang asli kebentur kepada seorang ahli, mari, mari, mari biar ku suguh tiga cangkir kepadamu.”

Sekonyong-konyong terdengar seseorang berkaok-kaok di luar: “Ulat busuk! Dimana kau?” disusul suara bentakan dan caci maki yang riuh rendah, disusul suara jeritan kesakitan dan suara sesuatu yang tercebur ke dalam air. Coh Liu-hiang tahu pasti ada orang yang dibuang masuk ke dalam air oleh Oh Thi-hoa.

Laki-laki baju hijau bermuka pucat penyakitan itu mendadak bangkit, katanya mengerut alis, “Siapa bernyali besar berani bertingkah di sini, biar kulihat.”

“Sungguh maaf, itulah temanku,” lekas Coh Liu-hiang berkata.

Dari atas ke bawah dan sebaliknya laki-laki baju hijau ini mengamati dirinya sekian lamanya, akhirnya pelan-pelan orang itu duduk kembali di tempatnya.

Kui-ji-ong tertawa pula katanya, “Keledai bagus takkan tercampur dengan kuda jelek, temanmu itu tentunya seorang seniman pula, silahkan mereka masuk saja!”

Sebaliknya Pipop kongcu tertawa sambil mendekap mulut, katanya, “Kelak kau harus beritahu padaku, kenapa orang lain panggil kau ulat busuk?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: