Kumpulan Cerita Silat

07/04/2008

Pendekar Gelandangan (07)

Filed under: Pendekar Gelandangan — ceritasilat @ 10:57 pm

Pendekar Gelandangan (07)
Bab 07. Orang Yang Nekad
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Bintang73 dan Donnios)

Malam itu amat terang.

Betapapun indahnya suasana malam, dalam pandangan orang yang sedang suram, keadaan tersebut tetap terasa menyuramkan.

Angin musim gugur menghembus kencang, seorang nyonya penjual gula-gula dengan kepala dibungkus kain hijau dan baju menutupi tengkuknya sedang menjajakan dagangannya di lorong itu.

Di mulut lorong sana terdapat pula seorang peminta-minta buta yang sedang duduk di sudut tembok sambil menggigil kedinginan.

A-kit berjalan menghampiri perempuan itu, lalu sambil berhenti tegurnya: “Apa yang kau jajakan?”

“Gula-gula kacang kaperi, gula-gula kaperi yang manis lagi wangi, dua puluh lima rence uang tembaga untuk satu katinya”, jawab perempuan itu.

“Ehmmm, tidak mahal!”

“Kau ingin membeli berapa kati?”

“Seratus kati!”

“Tapi aku hanya membawa paling banyak belasan kati!”

“Kalau ditambah kau, maka jumlahnya akan mencapai seratus kati, akan ku beli gula-gula itu berikut kau juga!”

Dengan ketakutan perempuan itu menyusut mundur ke belakang, kemudian sambil tertawa paksa katanya: “Aku hanya menjual gula-gula kacang kaperi, orangnya tidak ikut dijual!”

“Tapi aku bersikeras akan membelinya”

Sambil berkata tiba-tiba ia turun tangan mencengkeram orang itu sambil menyingkap gaunnya.

“Tolong…..tolong……ada penyamun, ada orang hendak menggagahi diriku……”, jerit perempuan itu dengan panik.

Tapi teriakan tersebut tidak dibiarkan berlangsung lebih lanjut, sebab dagunya tahu-tahu sudah dijepit orang sekeras-kerasnya.

“Hmmmmm…….! Kalau kau seorang perempuan kenapa bisa tumbuh jenggot…..?”, tegur A-kit dengan ketus.

Betul juga perkataan itu, meski dagunya bersih tapi masih ada bekas-bekas jenggot yang tidak merata.

“Aku lihat kau pasti adalah seorang gila, semua orang gila sudah sepantasnya kalau digebuk sampai mampus”, kata A-kit lebih jauh.

Sekuat tenaga orang itu menggelengkan kepalanya, lalu berkata dengan suara tergagap: “Aku….aku bukan orang gila….aku tidak gila!”

“Kalau kau tidak gila, kenapa menjajakan gula-gula kacang kaperi di tempat semacam ini, daerah disekitar lorong ini hanya ada manusia-manusia miskin yang untuk makanpun susah, siapa yang akan membeli gula-gula mahal seperti itu?”

Mula-mula orang itu tertegun, kemudian dari balik matanya memancarkan sinar ngeri dan ketakutan.

“Seandainya kau tidak ingin ku gebuk sampai mampus, lebih baik mengaku saja secara terus terang, siapa yang suruh kau datang kemari?”

Belum sempat orang itu buka suaranya, peminta-minta buta yang semula berjongkok di ujung tembok sambil menggigil kedinginan itu mendadak melompat bangun lalu kabur mengambil langkah seribu dari situ.

…..Orang-orang miskin disekitar lorong itupun saking miskinnya tak mampu mengisi perut sendiri, kalau bukan tiada penyakit, tak nanti ada peminta-minta yang mendatangi tempat itu.

A-kit segera tertawa dingin, kembali tanyanya: “Kini rekanmu telah melarikan diri, kalau kau masih juga tak mau mengaku secara terus terang, bila sampai digebuk mampus di tempat ini seperti seekor anjing liar, mungkin orang yang membereskan jenazahmu pun tak ada………”

Akhirnya orang itu tak berani untuk tidak berbicara terus terang, jawabnya ketakutan: “Aku….aku diutus oleh Tiok-yap-cing!”

“Siapakah Tiok-yap-cing itu?”

“Dia adalah kunsu dari toa-tauke, salah seorang diantara dua orang paling tenar di hadapan toa tauke”

“Yang seorang lagi siapa?”

“Dia adalah Thi-hau. Ilmu silatnya jauh lebih hebat berkali-kali lipat daripada Thi-tau si kepala baja, bersama Tiok-yap-cing merupakan sepasang pembantu yang paling utama dari toa-tauke, siapapun tak ada yang berani mengusik mereka”

“Tahukah kau, kini dia berada di mana?”

“Konon ia sedang menjalankan tugas di luar kota, mungkin setengah bulan lagi baru akan kembali ke sini”

“Bagaimana dengan si Kepala Baja?”

“Dia mempunyai tiga orang gundik, gundiknya yang nomor tiga paling disayang olehnya, lagi pula ia selalu suka berjudi bersamanya, maka seringkali mereka berada di tempat tersebut”

“Di mana rumahmu?”, tanya A-kit lagi.

Mendengar pertanyaan tersebut, orang itu menjadi sangat terkejut segera tanyanya: “Toaya, kenapa kau menanyakan alamat rumahku? Mau apa kau?”

“Apa yang kutanyakan kepadamu lebih baik jawab sejujurnya, sebab hanya orang mati yang tak punya alamat rumah!”

Dengan muka masam terpaksa ia mengakui: “Hamba tinggal di gang Ci-ma-kang”

“Siapa saja yang berada di rumahmu?”

“Ada biniku, anakku termasuk pelayan semuanya berjumlah enam orang!”

“Kalau begitu mulai sekarang akan berubah menjadi delapan orang!”

“Kenapa?”, tanya orang itu tidak mengerti.

“Sebab aku akan mengundangkan dua orang tamu untuk berdiam selama dua hari di rumahmu, bila kau berani membocorkan rahasia tersebut, maka aku jamin anggota keluargamu pada waktu itu akan berubah menjadi tinggal seorang”

Setelah berhenti sejenak, tambahnya dengan dingin: “Hanya tinggal pelayanmu itu!”

Malam telah menjelang tiba.

Cahaya lampu menyinari batok kepala Thi-tau (kepala baja) Toa-kang yang gundul. Sedemikian mengkilapnya kepala itu seakan-akan sebuah bola yang baru diangkat dari gentong minyak.

Semakin mengkilap batok kepalanya, menandakan semakin gembira hatinya pada waktu itu.

Tamu yang berdatangan pada malam ini luar biasa banyaknya, orang yang ikut berjudipun luar biasa melimpah ruahnya, kecuali sang bandar tidak terhitung, maka ia bersama gundiknya nomor tiga ini paling sedikit berhasil menggaet keuntungan sebesar seribu tahil perak lebih.

Kartu yang berada di tangannya sekarang adalah ‘dua empat’ berarti berjumlah enam, sekalipun tidak terlalu bagus juga tidak terlalu jelek, kartu yang lain berada dalam genggaman gundiknya yang nomor tiga.

Sam-ih-thay (gundik ke tiga) telah melepaskan kerah bajunya, sehingga kelihatan kulit lehernya yang putih mulus, dengan sepasang tangannya yang halus dan lentik, ia memegang selembar kartunya, kemudian sambil mengerling sekejap ke arahnya, ia bertanya: “Bagaimana?”

“Apa yang kau butuhkan?”, tanya si kepala baja Toa-kang.

“Emas enam perak lima si bangku kecil!”

Kontan saja si kepala baja Toa-kang merasakan semangatnya berkobar, ia segera membentak keras: “Emas enam perak lima si bangku kecil yang amat bagus!”

“Ploook………!, lembaran kartu ’empat enam’ nya telah dibanting keras-keras ke atas meja.

Berserilah wajah Sam-ih-thay, sambil tertawa cekikikan, katanya: “Memang itulah yang kebutuhan, monyet jantan!”

Ternyata kartu yang berada di tangannya adalah ‘kosong tiga’.

“Haaah…… haaaaahhhh…… haaahhhhhh…….. yang kuinginkan juga kau si monyet betina”, sambung si kepala baja sambil tertawa tergelak, “kita memang sepasang sejoli yang ideal!”

‘Kosong tiga’ dijodohkan ’empat enam’ berarti sepasang raja monyet, berarti pula Ci-cun-po, angka paling tinggi.

“Ci-cun-po, makan semua!”, teriak si kepala baja Toa-kang dengan suara lantang.

Sepasang lengannya segera di rentangkan siap menyapu seluruh uang yang berada di atas meja.

“Tunggu sebentar!”, tiba-tiba seseorang berseru dengan suara ketus.

Rumah perjudian milik Sam-ih-thay selalu terbuka untuk umum, barang siapa merasa memiliki uang untuk dipertaruhkan, dia dipersilahkan ikut masuk ke gedung tersebut, maka manusia dari pelbagai lapisan masyarakat dapat di temui di sana.

Thi-tau si kepala baja Toa-kang bukan seorang manusia yang takut urusan, selamanya belum pernah pula ada orang yang berani menerbitkan keonaran di situ.

Akan tetapi orang yang mengucapkan kata-kata tersebut bukan saja tampak asing sekali, diapun bukan mirip seorang yang datang untuk berjudi, sebab pakaiannya terlalu kotor dan penuh tambalan, siapapun tak ada yang tahu secara bagaimana ia bisa masuk ke situ.

Kontan saja Thi-tau si kepala baja Toa-kang melototkan sepasang matanya bulat-bulat, kemudian menegur: “Barusan, apakah kau yang sedang melepaskan kentut?”

Walaupun tampang muka orang itu sederhana saja, namun sikapnya amat dingin dan tenang. Jawabnya dengan suara hambar: “Aku tidak melepaskan kentut, aku sedang mengucapkan kata-kata yang adil dan Kong-too!”

“Kau bilang aku tak boleh makan uang itu? Dengan dasar apa aku tak boleh memakannya?”

“Dengan dasar apa pula kau hendak makan semua uang tersebut?”

“Dengan dasar sepasang raja monyet ini!”

“Sayang sekali setelah kartu cadangan itu berada di tanganmu, sebutannya bukan si raja monyet lagi”

“Lalu disebut apa?”, tanya si kepala baja Toa-kang sambil menahan hawa amarahnya.

“Namanya Ti-pat-kay, si raja babi yang sudah dicukur kelimis batok kepalanya, hayo bayar ganti rugi!”

Paras muka si kepala baja Toa-kang kontan saja berubah hebat.

Paras muka setiap orang juga ikut berubah, semua orang dapat melihat bahwa tujuan dari kedatangan orang itu adalah mencari gara-gara.

Siapakah yang mempunyai nyali sebesar ini? Siapakah yang begitu berani mencari gara-gara dengan Thi-tau Toako?

Serentak semua begundalnya melompat bangun sambil membentak dengan penuh kegusaran:

“Kau bajingan cilik, telur busuk kecil, siapa namamu? Datang dari mana……?”

“Aku bernama A-kit, A-kit yang tak berguna!”

Seketika itu juga semua suara yang memenuhi ruangan berhenti serentak, tentu saja saudara-saudara yang berada di kota pernah mendengar nama dari ‘A-kit’.

Tiba-tiba Thi-tau Toa-kang tertawa dingin, lalu ejeknya: “Heehhh…. heeehhhh…. heeehhhh…. bagus, bagus sekali, tak kusangka kau si bajingan cilik betul-betul bernyali dan berani mengantarkan diri sendiri!”

“Aku hanya ingin menyaksikan saja”

“Menyaksikan apa?”

“Menyaksikan apakah betul kalau kepalamu lebih keras daripada baja murni!”

Si kepala baja Toa-kang segera tertawa terbahak-bahak.

“Haahhh….. haaahh…. haaahhhh bagus, akan kusuruh sepasang matamu menjadi melek lebar!”, katanya.

Selembar batu marmer besar yang digunakan sebagai alas meja segera disodorkan ke hadapannya, ternyata meja yang beratnya paling sedikit ada tujuh-delapan puluh kati itu seakan-akan selembar kertas tipis saja dalam genggamannya.

Batu itu ada banyak macam jenisnya, batu marmer bukan saja merupakan jenis batu yang termahal, marmer merupakan juga batu yang paling keras, akan tetapi ia menumbuk batu marmer itu dengan batok kepalanya…..

“Praaaak…..!”. Batu marmer yang tebalnya melebihi kue keranjang itu ternyata hancur menjadi berkeping-keping setelah kena di terjang batok kepalanya itu.

Seolah sebuah bola yang baru diambil dari genangan minyak tanah, batok kepala itu kelihatan begitu licin dan mengkilap.

“Bagus…..!”, semua begundal dan anak buahnya bertepuk tangan sambil bersorak sorai.

Menanti suara sorak-sorai itu sudah mulai mereda, pelan-pelan A-kit baru berkata:

“Bagus….bagus….bagus macam Ti-pat-kay si siluman babi!”

Waktu itu si kepala baja Toa-kang sedang berbangga hati karena di sorak dan dipuji oleh segenap orang yang berada dalam ruangan itu. Betapa geramnya dia setelah mendengar kata-kata hinaan itu, paras mukanya kontan berubah hebat.

“Kau bilang apa?”, jeritnya dengan geram.

“Aku bilang kau persis seperti Ti-pat-kay, sebab kecuali babi, siapapun tak akan berbuat sebodoh kau, menggunakan batok kepala sendiri untuk diadu dengan batu keras”

“Lalu apa yang musti ku tumbuk? Menumbuk dirimu?”, teriak Thi-tau Toa-kang sambil tertawa seram.

“Tepat sekali!”

Baru saja A-kit menyelesaikan kata-katanya, seperti harimau lapar yang menerkam mangsanya Thi-tau sudah mencengkeram bahunya, lalu diangkat ke udara seperti mengangkat meja beralas batu marmer tadi.

Thi-tau bukan saja kepalanya hebat, tangannya juga hebat, beberapa macam gerakan tubuhnya itu bukan saja dilakukan dengan kecepatan luar biasa, ketepatannya juga mengagumkan, dia tahu yang akan ditumbuk olehnya sekarang bukan meja, melainkan seorang manusia hidup yang mempunyai tangan dan kaki.

Oleh sebab itu begitu turun tangan dia lantas mencengkeram jalan darah Cian-keng-hiat di atas bahu A-kit, agar orang itu tak mampu berkutik, kemudian baru menumbuk dengan kepalanya.

Tak seorang manusiapun sanggup menahan terjangan dari batok kepala bajanya, agaknya A-kit yang tak berguna segera akan berubah menjadi A-kit yang tak bernyawa.

Sekali lagi semua begundal dan anak buahnya bersorak sambil memuji tiada hentinya.

Tapi sorak-sorai mereka kali ini terhenti dengan segera, sebab A-kit sama sekali tidak remuk tertumbuk, sebaliknya batok kepala Thi-tau Toa-kang yang lebih keras dari baja itu telah dihajar sampai hancur, hancur dalam sekali pukulan.

Perduli siapapun orangnya, bila jalan darah Cian-keng-hiat pada bahunya sudah dicengkeram, maka sepasang tangannya tak mungkin bisa digunakan lagi, sungguh tak disangka sepasang tangan A-kit ternyata masih bisa bergerak dengan leluasa.

Batok kepala Thi-tau Toa-kang yang sebenarnya tak mempan dipukul dengan martil seberat ribuan katipun, kali ini harus menyerah oleh sebuah pukulan telapak tangan yang sangat pelan.

Jeritan ngeri yang menyayatkan hati serta rontaan telah berhenti, seluruh ruangan seakan-akan tercekam dalam suasana yang tegang dan menyesakkan napas.

Tanpa bergerak sedikitpun jua A-kit tetap berdiri di tempat semula, sepasang biji matanya yang coklat sama sekali tanpa perasaan, seolah-olah seperti sebuah jurang yang tiada tara dalamnya.

Setiap orang sedang memperhatikannya, setiap orang menggembol senjata di tubuhnya, akan tetapi tak seorang manusiapun yang berani bergerak dari tempat semula.

A-kit yang tak berguna ternyata telah mendatangkan suatu perasaan ngeri dan seram yang mendirikan bulu roma bagi semua orang yang tiap hari kerjanya bergelimpangan di ujung golok dan percikan darah manusia ini.

Sesungguhnya siapakah orang itu?

Setelah membunuh orang, mengapa sikapnya masih setenang itu?

Berapa banyak manusia yang pernah dibunuhnya di masa lalu?

Apa pula yang sedang dipikirkan dalam hatinya?

Ternyata tak seorangpun yang tahu bahwa batinnya waktu itu sedang menjerit: “Lagi-lagi aku membunuh orang, mengapa aku harus membunuh orang lagi……?”

Angin musim gugur mengibarkan kertas penutup jendela.

Akhirnya A-kit mendongakkan kepalanya, ia baru merasa kalau seorang perempuan sedang berdiri dihadapannya.

Dia adalah seorang perempuan yang sangat cantik, seorang perempuan cantik yang membawa daya pikat serta daya pesona yang membawa daya pikat serta daya pesona yang cukup menggetarkan perasaan siapapun.

Ia tahu, perempuan itu pastilah gundik nomor tiga dari Thi-tau Toa-kang.

Begitu dekat ia berdiri dihadapannya, begitu lama ia menatap wajahnya di balik sorot matanya yang jelis terlintas suatu perasaan yang aneh sekali, perasaan itu bukan kesedihan, bukan pula perasaan benci dan dendam, tapi lebih mendekati rasa kaget, tercengang dan bimbang.

Secara diam-diam semua orang yang berada dalam ruangan itu telah mengundurkan diri dan kabur terbirit-birit. Kini tinggal dia seorang yang belum angkat kaki dari sana.

“Aku telah membunuh laki-lakimu!”, kata A-kit kemudian dengan suara dingin dan kaku.

“Aku tahu! Sekalipun kau tidak membunuhnya, cepat atau lambat pada suatu ketika dia pasti akan mati pula di tangan orang lain!”

Suara perempuan itu amat datar, tenang bahkan mendekati keketusan, kembali katanya: “Manusia macam dia, semenjak dilahirkan sudah ditakdirkan sebagai seorang pemburu nyawa manusia!”

“Mungkin saja aku akan membunuh pula dirimu, sebetulnya sejak tadi kau harus pergi dari sini”, kata A-kit pula.

“Tidak, bukan aku yang harus pergi tapi kaulah yang musti angkat kaki dengan segera dari sini”

A-kit tertawa dingin.

Tapi Sam-ih-thay berkata lagi: “Setelah kau bunuh si kepala baja, toa-tauke tak akan melepaskan dirimu dengan begitu saja”

“Aku memang sedang menunggu dirinya”, sela A-kit dengan cepat.

Sam-ih-thay kembali menatap wajahnya tajam-tajam, mimik wajahnya berubah makin aneh dan makin istimewa, tiba-tiba katanya: “Aku kenal denganmu, dahulu aku pasti sudah pernah berjumpa denganmu!”

“Kau pasti telah salah melihat orang”

“Tidak, aku tak bakal salah melihat”

Dengan nada yang meyakinkan, perempuan itu berkata lebih jauh: “Aku adalah seorang pelacur, sejak berusia empat belas tahun sudah mulai menjadi pelacur, entah berapa ratus ribu lelaki yang pernah kujumpai, tapi tidak banyak laki-laki macam kau yang pernah kujumpai!”

Tiba-tiba sorot mata A-kit-pun memancarkan suatu pergolakan emosi yang aneh sekali, pelan-pelan ia memutar tubuhnya dan berjalan keluar dari ruangan itu.

Memandang bayangan punggungnya, tiba-tiba mencorong sinar terang dari balik mata Sam-ih-thay, teriaknya keras-keras: “Aku sudah teringat, aku sudah teringat, kau adalah…….”

Perkataan itu tak sempat diselesaikan.

Sebab A-kit secepat kilat telah memutar badan, menyumbat bibirnya dan memeluk pinggangnya erat-erat.

Ia tak ingin membunuh perempuan ini, tapi mulutnya harus segera disumbat.

Ia tidak mengijinkan siapapun mengetahui rahasia pribadinya.

Cahaya lampu dalam kamar tidur amat lembut dan sejuk.

Ia melemparkan tubuhnya ke atas pembaringan dan dia (perempuan) berbaring sambil menatap ke arahnya, sepasang matanya telah berkaca-kaca, lalu ujarnya dengan sedih: “Mengapa kau berubah menjadi begini? Mengapa begitu banyak perubahan yang kau alami?”

“Sebab setiap orang pasti sedang berubah!”, jawab A-kit.

“Tapi perubahan apapun yang kau alami, aku masih dapat mengenali dirimu!”

Sambil menahan air mata yang bercucuran, kembali katanya: “Tahukah kau bahwa satu-satunya pria yang benar-benar kucintai sepanjang hidupku hanya dirimu……,yaa, kau pasti tidak akan tahu, sebab aku tak lebih hanya salah seorang di antara sekian banyak perempuan yang kau kenali, apalagi aku tak lebih cuma seorang pelacur yang rendah martabat dan akhlaknya”

Lama sekali A-kit termenung, mendadak suaranya berubah menjadi halus dan lembut: “Akupun masih ingat denganmu, kau bernama Kim Lan-hoa!”

Kim Lan-hoa memandangnya dengan pesona, tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu, sambil memeluk ke dalam pangkuannya, ia berseru: “Ooooh….aku puas, aku puas! Asal kau masih teringat selalu akan diriku, sekalipun harus mati akupun akan mati dengan mata meram”

“Tapi aku justru berharap agar orang lain dapat melupakan diriku!”

Perempuan itu memeluk tubuhnya semakin kencang, seperti anak sungai air matanya jatuh bercucuran.

“Aku tahu, aku pasti akan menuruti perkataanmu, rahasiamu tak akan kukatakan kepada siapapun, sekalipun harus mati, rahasiamu tak akan kukatakan kepada orang lain”

Sepanjang hidupnya, toa-tauke mempunyai tiga macam benda yang merupakan kebanggaannya, salah satu di antaranya adalah sebuah pembaringan terbesar di dunia ini.

Bukan paling besar saja, pembaringan itupun paling istimewa dan paling megah, kemanapun kau pergi, jangan harap bisa ditemui pembaringan kedua kecuali itu.

Ini bukan mengibul.

Sekarang masih tengah hari, toa-tauke masih berbaring di atas pembaringan, sembilan orang gundiknya yang paling disayangi menemaninya di atas pembaringan.

Pelan-pelan seorang dayang munculkan diri dalam ruangan, lalu dengan napas agak tersengal ia berbisik: “Kata Hoa-sianseng, dia ada urusan penting yang harus disampaikan kepada loya!”

Toa-tauke ingin duduk, tapi akhirnya berbaring lagi.

“Suruh dia masuk!”, katanya kemudian.

Tapi gundik-gundinya segera memprotes.

“Tapi keadaan kami setengah bugil, mana boleh kau suruh pria lain masuk kemari!”

Toa-tauke tersenyum.

“Kalau cuma pria ini sih tak menjadi soal!”

“Kenapa?”, ada yang bertanya.

“Sebab bagiku dia jauh lebih berguna daripada kalian bersembilan digabungkan menjadi satu!”

Sekalipun semalaman bergadang, wajah Tiok Yap-cing masih tampak cerah dan bersinar, seakan-akan sama sekali tidak lelah.

Toa-tauke seringkali memuji akan kehebatan tenaga serta semangatnya, ibaratnya sebuah mesin tenun, asal toa-tauke minta berjalan, dia tak akan berhenti.

Ia berdiri di depan pembaringan toa-tauke dengan kepala tertunduk, sinar matanya tidak liar, meski ada sembilan orang perempuan cantik setengah bugil berada dihadapannya, namun baginya perempuan-perempuan itu seakan-akan patung-patung arca yang sama sekali tiada harganya.

Terhadap soal ini, toa-tauke pun merasa puas sekali. Ia mempersilahkan Tiok Yap-cing untuk duduk, kemudian baru bertanya: “Kau bilang ada urusan penting hendak disampaikan kepadaku, urusan penting apakah itu?”

Sekalipun baru saja duduk Tiok Yap-cing segera bangkit kembali sambil menundukkan kepalanya.

“A-kit telah menemukan mata-mata yang kusiapkan disekitar sana, ia telah kabur bersama Biau-cu kakak beradik”

Dengan kepala yang tertunduk lebih rendah ia melanjutkan: “Akulah yang teledor, akulah yang gegabah, aku sudah menilai terlampau rendah A-kit yang tak berguna itu, silahkan toa-tauke menjatuhkan hukuman berat atas keteledoranku ini!”

Mula-mula ia menjelaskan dulu duduknya persoalan dengan kata-kata paling singkat dan sederhana, kemudian segera mengakui akan kesalahan sendiri serta mohon dijatuhi hukuman, beginilah cara kerjanya yang selalu disiplin, ia tak pernah menutupi kesalahan sendiri, lebih-lebih tak pernah menghindari segala pertanggungan jawabnya.

Toa-tauke paling suka dengan sikapnya yang bertanggung-jawab serta jujur itu, maka walaupun keningnya berkerut, ucapannya sedikitpun tidak keras.

“Setiap orang pasti pernah berbuat salah, duduklah lebih dahulu sebelum berbicara lebih jauh!”

“Baik!”

Setelah ia duduk, toa-tauke baru bertanya lagi: “Peristiwa ini kapan terjadinya?”

“Kemarin malam sekitar jam sebelas sampai jam dua belas!”

“Hingga kini apakah kau masih belum berhasil menemukan mereka?”

“Jejak A-kit sudah berhasil kami ketahui, tapi Biau-cu kakak beradik seakan-akan lenyap dengan begitu saja, sampai sekarang jejaknya belum kita temukan”

“A-kit berada dimana?”

“Selalu berada dalam kamarnya Sam-ih-thay dari Toa-kang!”

Paras muka toa-tauke berubah membesi, katanya cepat: “Kau maksudkan si kepala baja telah……….”

“Ya!”

“Kapan ia ke situ?”

“Tak lama setelah lewat tengah malam!”

Paras muka toa-tauke berubah semakin tak sedap dipandang, katanya kemudian: “Dalam setengah jam saja ia berhasil menyembunyikan Biau-cu heng-te dua orang manusia hidup secara begitu rahasia, mengapa kalian dengan waktu semalaman suntuk masih juga tidak berhasil menemukannya?”

Tiok Yap-cing kembali bangkit berdiri sambil menundukkan kepalanya.

“Tidak terlalu banyak tempat yang bisa digunakan sebagai tempat persembunyian kedua orang bersaudara itu di kota ini, aku telah mengirim orang untuk memeriksa setiap pelosok tempat yang kemungkinan besar bisa digunakan sebagai tempat persembunyian, tapi tak seorangpun yang berhasil menemukan kedua orang itu!”

Toa-tauke segera tertawa dingin tiada hentinya.

“Heeeehhh……. heeeehhhh……… heeeeehh….. sungguh tak kusangka kalianpun tak mampu untuk menandingi si A-kit yang tak berguna”

Tiok Yap-cing tak berani bersuara.

Kali ini toa-tauke pun tidak mempersilahkan kepadanya untuk duduk kembali. Lewat lama sekali pelan-pelan ia baru bertanya:

“Benarkah si kepala baja mampus di tangannya?”

“Menurut cerita orang yang menyaksikan sendiri jalannya peristiwa itu, hanya dalam sekali pukulan saja batok kepala si kepala baja yang kuat dan keras itu telah hancur berkeping-keping”

Sekali lagi paras muka toa-tauke berubah hebat.

“Berhasil kalian mengetahui ilmu silat aliran manakah yang dipergunakannya?”

“Tidak!”

Kemudian tambahnya lagi:

“Justru karena tak ada orang yang mengetahui asal usul ilmu silatnya, hal ini semakin membuktikan bahwa orang itu pasti mempunyai asal usul yang besar sekali!”

“Belakangan ini adakah seorang jago lihay dalam dunia persilatan yang tiba-tiba melenyapkan dirinya?”

“Tentang soal ini akupun telah mengadakan penyelidikan, di antara sekian banyak jago persilatan, hanya Tay-to (Pembegal ulung) Tio Tok-heng, Thian-sat-seng (Bintang langit pembunuh) Cian Gong serta Yan Cap-sa yang tiba-tiba lenyap dari peredaran dunia!”

Kembali toa-tauke mengernyitkan alis matanya, sudah barang tentu ia pernah mendengar juga nama-nama dari ketiga orang itu.

Sementara ia masih merenung, Tiok Yap-cing telah berkata lagi: “Akan tetapi bila kita bandingkan perawakan, tampang wajah serta usia mereka bertiga, ternyata tak sedikitpun yang mirip dengan tampang wajah serta perawakan A-kit”

Kontan saja toa-tauke tertawa dingin.

“Heeeehhhh………. heeeehhh……. heeeehhhh….. masa orang itu datang dari langit? Atau tumbuh dari tanah?”

Tiba-tiba ia mengepal sepasang tinjunya dan dihantamkan keras-keras di atas meja kecil di ujung pembaringan, lalu katanya dengan suara menyeramkan: “Perduli dari manapun asalnya, tangkap dulu orang itu, baru berbicara kemudian, sebab bila orang sudah mati, maka ia tak perlu diketahui asal usulnya lagi”

“Benar!”

“Perduli dengan cara apapun, perduli berapa besar biaya yang harus dikeluarkan, aku menginginkan selembar jiwanya itu!”

“Baik!”

Perintah dari toa-tauke biasanya akan segera dilaksanakan tanpa membantah, akan tetapi kali ini Tiok Yap-cing tidak beranjak, ia tetap berdiri di tempat semula.

Gejala semacam ini belum pernah ia perlihatkan sebelumnya. Dengan gusar toa-tauke lantas menegur: “Apakah kau masih ada perkataan lain yang hendak diucapkan?”

Tiok Yap-cing masih agak ragu-ragu, tapi akhirnya sambil memberanikan diri katanya: “Meskipun dia hanya seorang diri, meskipun tidak sulit bila kita menginginkan jiwanya, tapi korban di pihak kita pasti akan parah sekali, aku rasa cara ini sedikit kurang berharga!”

“Lantas menurut maksudmu!”

“Orang itu ibaratnya sebilah golok yang telah diloloskan dari sarungnya, tergantung di tangan siapakah golok tersebut tergenggam”.

“Ooh….maksudmu kau minta aku membeli golok tersebut untuk kepentingan kita?”

“Ia bersedia menjual nyawa untuk Biau-cu bersaudara, manusia macam itu karena dia merasa pernah berhutang budi kepada mereka, sebaliknya jika toa-tauke pun bersedia memberi sedikit kebaikan kepadanya, siapa tahu kalau diapun bersedia menjual nyawanya untuk toa-tauke?”

Toa-tauke termenung dan berpikir sesaat lamanya, pelan-pelan paras mukanya berubah menjadi lebih lembut dan kalem, katanya kemudian: “Menurutmu, sanggupkah kita membelinya?”

“Setiap orang mempunyai harga yang berbeda-beda, paling sedikit kita harus pergi mencobanya lebih dahulu!”

“Pergi mencobanya?”

“Ya, aku ingin pergi ke sana sendiri untuk melihat keadaan!”, sahut Tiok Yap-cing sambil membungkukkan badan memberi hormat.

“Kau toh sudah tahu bahwa dia adalah sebilah golok yang telah lolos dari sarungnya, siapa tahu hanya sedikit terbentur saja darahmu akan bercucuran? Apa gunanya kau musti menyerempet bahaya?”

“Sekujur badanku dari atas sampai bawah adalah menjadi milik toa-tauke, apa artinya beberapa tetes darah bagiku?”

Tiba-tiba toa-tauke melompat turun dari pembaringannya dan menggenggam erat-erat tangannya.

“Aku tidak berputra dan kaulah putraku, kau harus berhati-hati dalam tugas ini!”, katanya.

Tiok Yap-cing menundukkan kepalanya seakan-akan air mata bercucuran dari kelopak matanya, jangankan dia, orang yang berada di sekeliling sanapun ikut terharu oleh adegan tersebut.

Menunggu ia telah mengundurkan diri, toa-tauke baru menghembuskan napas panjang-panjang, kepada para gundiknya ia berkata: “Sekarang tentunya kalian sudah mengetahui bukan, bagiku dia jauh lebih berharga daripada kalian bersembilan digabungkan menjadi satu?”

Seorang perempuan yang bertahi lalat di ujung bibirnya, tiba-tiba menyela dengan genit: “Aku hanya sempat mengetahui satu hal”

“Hal yang mana?”

“Sesungguhnya dia jauh lebih pandai menjilat pantat daripada kami bersembilan digabungkan menjadi satu!”

Mendengar ucapan tersebut, toa-tauke tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhhh………haaahhhh……haaaahhhhh……bagus sekali perkataanmu itu, bagus sekali perkataanmu itu!”

Mendadak ia menghentikan gelak tertawanya, perempuan itu ditatapnya lekat-lekat, kemudian bertanya: “Seandainya kusuruh kau lakukan suatu pekerjaan, bersediakah kau untuk melaksanakannya?’

Menggunakan kesempatan itu perempuan tadi mulai merayu dan menjeratnya seperti seekor ular.

“Pekerjaan apa yang harus kulakukan?”, bisiknya lirih.

“Sejak malam ini, aku minta kau menemaninya tidur!”, kata toa-tauke dengan dingin.

A-kit masih tidur.

Ia terlalu lelah, ia membutuhkan tidur yang nyenyak, sebab banyak pekerjaan yang sedang menanti untuk dia kerjakan, dan tenaga badannya harus dipulihkan kembali secepatnya.

Ketika ia mendusin dari tidurnya, Kim Lan-hoa masih berbaring disisinya, dengan mata terpentang lebar, ia sedang mengawasi ke arahnya, mengawasi dengan tatapan mata yang lembut dan penuh perasaan cinta.

A-kit kembali memejamkan matanya.

“Adakah seseorang yang datang kemari semalaman kemarin?”, ia bertanya.

“Tidak ada!”

A-kit merasakan seluruh otot badannya mengendor, tapi perasaannya justru makin mengencang.

Ia tahu sesaat menjelang tibanya badai angin dan hujan yang deras, biasanya suasana ketika itu paling sepi dan sumpek, seperti juga sesaat menjelang tibanya fajar, biasanya merupakan waktu yang paling gelap.

Perubahan apakah yang kemudian bakal terjadi? Akibat apa yang pada akhirnya bakal dijumpai?

Ia sama sekali tidak tahu!

Ia cuma tahu bahwa persoalan itu telah membelenggu dirinya, ia tak mungkin dapat lepas tangan lagi.

Ya, andaikata dia lepas tangan, maka Lo Biau-cu, si Boneka dan Kim Lan-hoa segera akan mati mengenaskan.

Yang paling penting adalah dia juga tahu bahwa dalam kota masih terdapat banyak manusia macam mereka, menantikan bantuannya di tepi liang api neraka yang membara.

Dari luar ruangan tiba-tiba terdengar suara langkah manusia.

Langkah manusia itu sangat berat, seakan-akan sengaja dibuat agar kedengaran orang, kemudian A-kit pun mendengar ada orang sedang berbatuk ringan.

Ia menunggu orang itu masuk ke dalam, lama sekali ia menanti, tapi suasana di luar sana justru sebaliknya, malah menjadi hening dan tak kedengaran sedikitpun suara.

Paras muka Kim Lan-hoa pucat pias bagaikan kertas, dia tak bisa menebak manusia macam apakah di luar sana, tapi bila ditinjau dari keberaniannya untuk menghadapi seseorang yang mampu menghancurkan kepala si kepala baja dalam sekali pukulan, dapat diketahui bahwa orang itu pasti bukan manusia sembarangan.

A-kit menepuk-nepuk bahunya lalu pelan-pelan bangkit berdiri dan mengenakan pakaian.

Ia telah merasakan bahwa orang yang sedang menunggunya di luar itu pasti seseorang yang paling susah dihadapi.

Jenazah si kepala baja telah diangkut pergi, akan tetapi kartu ‘ci-cun-po’ terakhir yang dipegangnya masih tertinggal di meja.

Tiok Yap-cing duduk di tepi meja itu sambil membelai kartu-kartu tersebut dengan jari tangannya, kemudian sambil tersenyum ia berkata: “Konon kesempatan seseorang untuk mendapatkan kartu semacam ini hanya seper-sepuluh laksa bagian, atau maksudnya sekalipun kau bertaruh Pay-kiu selama lima puluh tahun dan tiap hari bertaruh terus menerus, kesempatan untuk peroleh kartu semacam inipun paling banter tak akan melebihi tiga puluh kali”

Ia bukan bergumam seorang diri, ia tahu A-kit telah berjalan keluar dan sedang mengawasinya dengan tenang.

Sambil tersenyum ia berpaling, lalu ujarnya lagi.

“Oleh karena itu barang siapa berhasil mendapatkan kartu semacam ini, nasibnya pasti mujur sekali!”

“Sayang orang yang mendapatkan kartu tersebut semalam mempunyai nasib yang kurang mujur!”, sambung A-kit.

Tiok Yap-cing menghela napas panjang.

“Apa yang telah kau ucapkan sesungguhnya merupakan kata-kata yang ingin kukatakan pula, perubahan nasib seseorang dapat terjadi dalam sekejap mata, siapakah yang mampu menjaga terus nasib mujurnya sendiri?”

Ia mendongakkan kepalanya menatap wajah A-kit, kemudian pelan-pelan berkata lagi: “Oleh karena itu jika seseorang telah memperoleh kesempatan, dia harus baik-baik menggunakan kesempatan tersebut dan jangan membuangnya dengan begitu saja!”

“Apa lagi yang ingin kau katakan?”, kata A-kit kemudian tenang.

“Kesempatan baik untuk saudara, kini telah datang!”

“Kesempatan macam apakah itu?”

“Apa yang dicari seorang manusia setelah berjuang dan bergumul dengan nasib sepanjang hidupnya? Aku rasa yang dicari tak lebih hanya nama serta kedudukan”

Ia tersenyum, setelah berhenti sejenak, sambungnya: “Kini saudara telah menemukan kesempatan semacam itu, hal ini sungguh merupakan suatu kejadian yang patut diberi selamat dan patut digirangkan……..!”

A-kit menatapnya tajam-tajam, seakan-akan paku yang memantek di atas dinding tembok, tiba-tiba tegurnya: “Kaukah yang bernama Tiok Yap-cing?”

Tiok Yap-cing masih saja tersenyum.

“Aku she Yap bernama Yap Cing-tiok, tapi orang lain lebih suka memanggilku sebagai Tiok Yap-cing!”

Ia masih juga tersenyum, malah senyuman tersebut kelihatan aneh sekali.

“Apakah toa-tauke yang suruh kau datang kemari?”, kembali A-kit menegur pelan.

Tiok Yap-cing mengaku.

“Kalau begitu akupun ingin memberitahukan satu persoalan kepadamu!”, ujar A-kit lebih jauh.

“Persoalan apakah itu?”

“Kadangkala perjuangan seseorang melawan kehidupan bukan lantaran ingin mendapatkan nama serta kedudukan!”

“Kecuali kedua macam itu, apa pula yang bisa dicari manusia?”

“Kehidupan bebas!”

“Kehidupan bebas?”, ulang Tiok Yap-cing.

Ia benar-benar tidak mengerti makna dari dua patah kata tersebut, kembali ia bertanya: “Sesungguhnya apa yang kau harapkan?”

“Aku menginginkan setiap orang dapat melewatkan penghidupannya menurut pikiran dan selera masing-masing secara bebas dan leluasa!”

Ia tahu Tiok Yap-cing lebih-lebih tak akan memahami makna dari perkataannya itu, maka ia menjelaskan lagi: “Meskipun ada sementara orang lebih suka menjual diri, tapi ada pula sementara orang yang lebih suka hidup miskin dan menderita daripada menurunkan moral hidupnya sendiri, karena bagi anggapan mereka selama dirinya masih bisa hidup dengan hati tentram, sekalipun sedikit menderita juga tidak menjadi soal!”

“Benarkah di dunia yang lebar ini terdapat manusia semacam itu?”

“Banyak sahabatku adalah manusia semacam ini, masih ada pula banyak orang lain yang begini juga, sayang kalian justru tidak memperbolehkan mereka melewatkan penghidupan menurut selera serta keinginan mereka sendiri, maka……”

“Maka kenapa?”, tukas Tiok Yap-cing.

“Maka bila kalian menginginkan aku pergi dari sini, hanya ada satu syarat yang harus dipenuhi!”

“Apa syaratmu itu?”

“Asal kalian melepaskan orang-orang itu, maka akupun akan melepaskan kalian, asal toa-tauke menyanggupi sendiri permintaanku ini dan berjanji tak akan memaksa siapapun untuk melakukan pekerjaan apapun yang tidak diinginkan, akupun segera angkat kaki dari sini!”

“Apakah kau bersikeras menginginkan toa-tauke menyanggupi sendiri permintaanmu itu?”

“Ya!”

“Sepuluh laksa tahil perak tak dapat merubah jalan pikiranmu itu?”

“Tidak dapat!”

Tiok Yap-cing mempertimbangkan sebentar usul itu, kemudian pelan-pelan ia bertanya: “Jadi kau benar-benar ingin bertemu dengan toa-tauke?”

A-kit manggut-manggut tanda membenarkan.

“Hari ini juga aku ingin bertemu dengannya!”

Tiok Yap-cing menatapnya sekejap kemudian bertanya: “Kau ingin bertemu dengannya dimana?”

“Terserah dimanapun dia menghendaki!”

“Bagaimana kalau di gedungnya Han toa-nay-nay?”

“Di sanapun boleh juga!”

“Bagaimana kalau pertemuan itu diselenggarakan pada saat malam, malam nanti…..?”

“Baik!”

Tiok Yap-cing segera bangkit berdiri dan siap meninggalkan tempat itu, tapi sebelum beranjak, tiba-tiba dengan sekulum senyuman menghiasi ujung bibirnya, ia bertanya:

“Oya, aku belum sempat menanyakan namamu…….dapatkah kau memberitahukannya?”

“Aku bernama A-kit……”

Setelah berhenti sejenak, ia menambahkan lagi: “A-kit yang tak berguna!”

Memang hingga bayangan punggung Tiok Yap-cing lenyap dari pandangan mata, A-kit kembali menundukkan kepalanya memandang kartu ‘ci-cun-po’ tersebut sambil termenung…..

Lama sekali ia termenung dengan mulut membungkam, ia sedang mengingat kembali perkataan dari Tiok Yap-cing itu serta mencoba untuk mengupasnya satu demi satu.

……..Kesempatan baik telah datang, kesempatan semacam ini harus baik-baik dipergunakan dan tak boleh dilepaskan dengan begitu saja……..tapi kesempatan macam apakah yang telah mereka berikan kepadanya itu…….?

Ia tidak berpikir lebih lanjut.

Ya, ia tidak meneruskan kembali pemikirannya karena secara tiba-tiba teringat olehnya akan suatu peristiwa yang mengerikan.

Menanti ia menyerbu masuk ke dalam kamar, Kim Lan-hoa telah lenyap tak berbekas.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: