Kumpulan Cerita Silat

06/04/2008

Seri Maling Romantis: Rahasia Ciok Kwan Im (06): Para Perampok Ganas

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 10:49 pm

Seri Maling Romantis
Rahasia Ciok Kwan Im (06): Para Perampok Ganas
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Gumaha)

Hari kedua, Ki Ping-yan membagi rata sisa air yang ada menjadi lima bagian, katanya tawar: “Inilah sisa air yang terakhir, kita boleh sekarang meminumnya sampai habis, juga boleh disimpan untuk diminum perlahan-lahan. Yang terang sisa air ini paling lama hanya bisa bertahan selama dua tiga hari.”

Mengawasi kantong yang kosong itu, berkata Oh Thi hoa: “Itulah air tinggalanmu sendiri, aku tak mau minum. Putar badan lekas ia hendak tinggal pergi.

Coh Liu-hiang menariknya, katanya tertawa: “Jangan kau main purian dengan Ping-yan, kau bisa tertipu bila marah-marah kepadanya.”

Tiba-tiba Oh Thi hoa pun tertawa lebar, ujarnya: “Hal apa yang kubuat marah sama dia, kemarin malam, aku sudah dengar nanti sore dia sudah akan bisa mendapatkan air, cuma aku sendiripun masih punya sepoci arak, kenapa aku harus minum airnya yang hitam berlumpur itu?”

Tak terasa Ki Ping-yan ikut tertawa, mengawasi ketiga sahabat karib yang sama terpingkal-pingkal sambil bergandengan lengan ini, seketika bangkit semangat Siau-phoa, lenyap rasa takutnya. Ikut bersama tiga orang-orang gagah seperti mereka ini, apa pula yang perlu ditakuti? Cuma raut muka Ciok Tho yang semakin lama semakin guram, kaku, orang satu yang punya mata ini, seolah-olah sudah melihat malapetaka yang tak terlihat oleh orang lain bakal menimpa mereka.

Ki Ping-yan hanya mengulap sebelah tangannya, Ciok Tho segera menghentikan barisan ini, unta-unta sama mendekam rebah, lekas Oh Thi hoa lompat turun dari punggung unta, langsung lari mencari Ki Ping yan, tanyanya: “Kau yang menyuruh Ciok Tho menghentikan barisan, benar tidak?”

“Memangnya kenapa?” balas tanya Ki Ping yan.

Oh Thi hoa heran, tanyanya: “Asal kau mengulap tangan, dia lantas tahu akan maksudmu?”

“Ya, begitulah!” Ki ping-yan mengiakan.

Semakin keras suara Oh Thi-hoa: “Tapi kau katakan dia seorang bisu, tuli dan buta, darimana dia bisa melihat tanda ulapan tanganmu?”

Ki Ping-yan tertawa tawar, katanya, “sudah tentu aku punya caraku sendiri sehingga dia bisa menangkap maksudku.”

“Kau punya setan apa? Kenapa tidak mau kau jelaskan?”

“Apa benar kau sendiri tidak mengetahui?”

“Hanya sundel bolong saja yang bisa melihatnya.”

Ki Ping-yan berputar kearah Coh Liu-hiang, tanyanya: “Bagaimana kau?” berkata
Coh Liu-hiang pelan-pelan: “Kau gunakan sebuah krikil untuk menyampaikan perintahmu, jikalau kau ingin barisan berhenti, maka kau timpuk pundak kiri Ciok Tho, jikalau ingin barisan berangkat, kau timpuk pundak kanannya.” lalu sambil tersenyum ia berpaling kearah Oh Thi hoa, katanya: “Cara ini kukira bukan hanya sundel bolong saja yang bisa melihatnya, benar tidak?”

Oh Thi hoa angkat kedua tangannya datar ke depan, katanya tertawa kecut: “Kau bukan sundel bolong, baru sekarang aku menyadari bahwa diriku ternyata tidak lebih pandai dari sundel bolong itu.”

Tempat itu merupakan salah satu bagian dari padang rumput yang ditaburi pasir-pasir kuning juga, tiada bedanya dengan tempat-tempat lain ditengah gurun pasir ini, cuma ada sesuatu yang menyolok mata, adalah ditempat itu terdapat sepucuk pohon. Pohon yang tumbuh di pinggir sebuah batu cadas yang sudah mengering juga, pohon itupun sudah layu dan kering.

Setengah harian Oh Thi hoa celingukan kian kemari, tanyanya tak tahan: “Di sini ada air?”

“Em!” sahut Ki Ping-yan manggut-manggut.

Kata Oh Thi hoa sambil mengelus batok kepalanya: “Dimana airnya, kenapa tidak kulihat? Apakah otakku ini sudah tak mampu untuk bekerja, matakupun sudah lamur?” lalu ia pegang lengan Coh Liu-hiang, tanyanya: “Bicaralah terus terang kau sudah melihatnya belum?”

Coh Liu-hiang ragu-ragu, katanya: “Konon didalam gurun pasir terdapat sumber air yang tersembunyi, di dasar pasir yang cukup dalam.”

“Tidak salah kau…” Ki Ping-yan urung bicara. Matanya memandang Oh Thi-hoa ingin bicara, apa yang dia hendak ucapkan tentunya bukan omongan yang enak didengar kuping, tapi belum lagi kata-katanya selesai, Oh Thi-hoa sudah angkat kedua tangannya pula, tukasnya: “Tak usah kau katakan bicara kuakui aku tidak tahu apa-apa?” lalu ia mengelus batok kepalanya pula, sambungnya: “Bukan semula aku cukup pintar? kenapa begitu bergaul sama kalian, aku lantas jadi pikun, memangnya aku ketularan penyakit linglung orang lain?”

Tak tertahan Siau-phoa tertawa geli, timbrungnya: “Jikalau benar-benar Oh-ya ketularan penyakit linglung, tentulah aku yang menulari kau.”

Ki Ping-yan menarik muka, jengeknya: “Mana mungkin kau menulari dia, dia malah jauh lebih goblok dari kau.” belum habis ucapannya tak tertahan diapun tertawa keras.
Tapi tak lama mereka tertawa-tawa sudah satu jam mereka membuang waktu jerih payah mengeduk pasir mencari sumber air, siapa tahu setitik airpun tidak mereka ketemukan. Ki Ping-yan menjublek duduk lemas di tempatnya seperti patung batu.

Oh Thi-hoa menyeka keringat di atas kepalanya, seperti hendak mengucapkan kata-kata lelucon yang menggelikan, serta melihat keadaan Ki Ping-yan, seketika terpikir juga olehnya mara bahaya yang segera akan menimpa mereka. Mana mulutnya bisa berkelakar lagi. Mana bisa ia tertawa.

Sedapat mungkin Coh Liu-hiang bikin suaranya datar dan wajar, katanya :
“Coba kau pikir lebih seksama, adakah salah pilih tempat?”

Ki Ping-yan melompat bangun, teriaknya : “Kau tidak percaya kepadaku?”

Coh Liu-hiang tahu saat ini hatinya tentu berpuluh lipat lebih pedih dari orang lain, tak diduga ia melanjutkan kata-katanya, Ki Ping-yan sebaliknya seperti mendadak luluh dan lemas, badannya menggelendot di batang pohon yang kering itu.

Siau-phoa tertawa dibuat-buat, katanya : “Sumber air di bawah pasir, ada kalanya bisa juga menjadi kering, adakalanya pula nyasar ke jurusan lain, anggap saja yang berkuasa sedang main-main dengan kita, siapapun takkan bisa menentukan nasib sendiri.”

“Aku tahu.” ujar Coh Liu-hiang maklum.

Berkata Ki Ping-yan sambil mengawasi Coh Liu-hiang : “Jangan kau salahkan aku, aku… ”

“Aku dapat merasakan perasaanmu, kalau aku jadi kau, bukan saja bisa marah-marah kepadamu, mungkin sumbarku lebih besar.”

“Benar!” tukas Oh Thi-hoa riang : “Diwaktu seseorang sedih hati, kalau tidak marah-marah kepada teman sendiri, kepada siapa dia harus marah? Jikalau teman baik itu tidak mau memahami perasaannya, siapa yang mau memberikan pengertian ini?”

Menghadapi ketiga orang ini, Siau-phoa merasa seakan-akan tenggorokannya tersumbat sesuatu, katanya hambar serak : “Siaujin memberanikan diri turut bicara…, siapapun bila bisa berkenalan dengan Coh-ya, dan Oh-ya berdua dialah seorang yang paling bahagia dan mendapat rejeki dalam dunia ini.”

Tetapi pada saat itulah, dari kejauhan terdengar derap kaki kuda yang dilarikan kencang.

Oh Thi-hoa terperanjat, sigap sekali reaksinya secara reflek dia bergerak hendak memapak kesana. Lekas Coh Liu-hiang menarik pundaknya, katanya kereng : “Pada saat seperti ini ditempat ini pula, jangan sekali-kali kita gegabah sembarangan bertindak, tenangkan dulu hatimu menunggu perubahan apa yang akan terjadi Di sana, Ki Ping-yan, siau-phoa dan Ciok Tho sedang repot menarik unta-unta itu masuk ke dalam galian, karena mencari sumber air tadi, maka galian pasir yang mereka kerjakan cukup lebar dan dalam. Di depan galian ini terdapat batu cadas itu yang menutupi pandangan dari arah yang berlawanan sana, di gurun pasir nan luas tak berujung pangkal ini, sungguh tiada tempat lain yang lebih daripada galian ini untuk menyembunyikan diri.

Baru saja Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa menyembunyikan diri, lantas dilihatnya beberapa ekor kuda gagah yang sedang berlari kencang bagai terbang, lambat laun bayangan mereka semakin jelas ditengah pasir-pasir kuning yang berterbangan ditengah angkasa.

Beberapa ekor kuda itu berlari kencang ke arah mereka, orang-orang yang bercokol di punggung kuda mendekam rata di punggung kuda, seolah-olah sedang lari dari sesuatu yang menakutkan sedang mengejar mereka.

Tapi selepas mata memandang ke gurun pasir nan luas dan datar ini, matahari sudah mulai doyong ke arah barat, memancarkan cahaya kuning yang cemerlang, kecuali beberapa ekor kuda itu, di belakang mereka tak terlihat bayangan manusia atau kuda yang mengejar datang.

“Apakah yang terjadi?” teriak Oh Thi-hoa tertahan. “kenapa mereka lari menyingkir seperti dikejar setan?”

Rona muka Ki Ping-yang membeku kaku amat menakutkan, katanya serak :
“Dalam gurun pasir sering terjadi peristiwa yang seram dan menakutkan serba misterius lagi, asal urusan tidak menyangkut kami berlima, lebih baik kita anggap mata sendiri buta, anggap kau tidak pernah melihatnya.”

Tapi kuda-kuda itu berlari langsung menuju ke arah mereka.

“Jikalau menyangkut ke diri kita bagaimana?” tanya Oh Thi-hoa.

Belum lagi Ki Ping-yan buka suara, kuda-kuda itu sudah kehabisan tenaga dan sama-sama terjungkal roboh, orang-orang yang duduk dipunggungnya seketika berguling-guling, namun cepat sekali mereka sudah berlompatan bangun.

Seluruhnya ada lima ekor kuda, tapi hanya ada empat orang, ke empat orang ini sama berseragam sebagai Busu dari Tionggoan, pakaian ketat bergaman golok pendek, dari gerak-gerik mereka kelihatan kepandaian mereka tentu tidak lemah.

Selama hidup Oh Thi-hoa boleh belum pernah dia melihat orang yang begitu mengenaskan serba runyam lagi. Ke empat orang seluruh kepala dan badan sama berlepotan pasir dan debu, sama-sama melototkan mata mengawasi teman-teman sendiri dengan napas ngos-ngosan, tampak betapa takut dan jeri hati mereka yang membayang pada raut muka mereka, penulis yang paling pintar menggoyangkan penapun takkan bisa melukiskan keadaan mereka saat itu.

Mengawasi tingkah laku dan keadaan ke empat orang ini, hati Oh Thi-hoa dan lain-lain menjadi tegang. Bahwasanya sesuatu apakah yang begitu menakutkan pernah dilihat oleh ke empat orang ini? Kenapa kelihatan begitu ketakutan?
Sekonyong-konyong terdengar lolong panjang dan jeritan yang menyakitkan hati, tahu-tahu ke empat orang itu sama mencabut golok terus ditarikan saling bacok membacok seperti orang gila yang kesurupan setan! Masing-masing orang keluarkan seluruh kepandaian permainan goloknya, sampaipun setaker tenaga merekapun sudah diboyong keluar.

Tapi mereka seperti sedang latihan, hakekatnya di hadapan mereka seperti tiada orang. Yang dibabat, dibacok golok-golok itu hanyalah pasri kuning yang beterbangan membumbung ke angkasa. mereka sudah tumplek seluruh kekuatannya, ternyata bertempur melawan debu dan pasir yang kosong, sudah tentu musuhnya itu selamanya takkan kena dibacoknya roboh.

Tak tertahan Oh Thi-hoa bersuara pula, “Apakah orang-orang itu melihat setan?”

Ki Ping-yan membenamkan mukanya, tak sepatah katapun keluar dari mulutnya.
Siau Phoa bergidik, katanya gemetar, “Konon di gurun pasir terdapat iblis jahat yang tak kelihatan bentuknya, suka makan jantung dan empedu manusia, mungkin mereka… mereka…”

“Jangan cerewet!” sentak Ki Ping-yan.

Siau Phoa kontan tutup mulut, badan semakin gemetar, gigipun beradu keras.
Dengan pandangan mohon pendapat, Oh Thi-hoa melirik kepada Coh Liu-hiang. Coh Liu-hiang sebaliknya sedang arahkan pandangannya kepada Ciok Tho.

Orang yang sudah buta dan tuli ini, saat itu badannya sedang melingkar seperti ular, sedang gemetar tak hentinya, memangnya kenapa pula dia?

Oh Thi-hoa merasa tapak tangannya berkeringat dingin, tak terasa keringat dingin membasahi seluruh badan, gurun pasir nan luas tak kenal kasihan ini, ternyata benar-benar sering terjadi banyak peristiwa-peristiwa yang begini seram menakutkan.

Waktu ia berpaling kesana, dua orang yang sudah roboh terkapar, dua orang yang lainpun sudah hampir kehabisan tenaga, suara nafasnya yang memburu keras seperti kerbau hampir disembeleh. Tapi asal sisa tenaga terakhir masih ada, mereka takkan berhenti, tarian golok mereka semakin kencang.

Sekonyong-konyong Ki Ping-yan bersuara dengan suara dalam, “Itulah Peng-keng to-hoat.”

“Akupun sudah melihatnya, orang dari keluarga Peng mana mungkin bisa menjadi begitu rupa?”

Setelah mengamati dengan seksama, Oh Thi-hoa ikut teriak tertahan, “Tidak salah! Itulah Ngo hou-om-bun to tulen! Malah dinilai dari permainan ilmu golok dan lwekang ke empat orang ini pastilah mereka terdiri dari murid-murid pandai yang punya nama dan tingkatan tinggi dalam keluarga Peng itu.”

“Ngo-hou-toan-bun-to biasanya tidak diajarkan kepada orang luar,” ujar Ki Ping yan prihatin. “Ke empat orang ini kebanyakan adalah putra atau keponakan Peng Hou, empat bersaudara dari Peng-bun-hoat-hou (tujuh harimau dari perguruan Peng). Laki-laki berewok itu mungkin adalah Peng It-hou.”

“Apakah Peng-bun-chit-hoa sekarang sudah mewarisi Pian-kiok milik Peng-hun?” tanya Coh Liu-hiang.

“Ya!” Ki Ping-yang mengiakan sambil manggut-manggut.

“Kalau demikian, tentu mereka kemari melindungi sesuatu.”

“Tentu begitulah,” timbrung Siau-phoa. “Hanya orang-orang kalangan Piau-kiok yang sedang melakukan tugasnya saja tidak menunggang unta di padang pasir.
Terdengar lolong jeritan seperti harimau kelaparan sebelum ajal, satu orang kembali terjungkal terguling-guling.

Mendadak Oh Thi-hoa bangkit, serunya keras, “Peng Hun si tua itu orangnya tidak jelek, tak bisa aku menonton putranya mati konyol seperti orang edan, aku hendak menolongnya.”

“Cara bagaimana kau hendak menolong dia?” tukas Ki Ping-yan. “Kau mampu menolong mereka?”

Oh Thi-hoa sudah siap melompat dan kulit daging badannya sudah mengejang tegang itu, seketika menjadi kendor. Sesaat melongo, belum lagi bersuara pula, orang ke empat itu sudah kejungkal juga.

Berkata Coh Liu-hiang dengan suara dalam tenggorokan, “Kalau ke empat orang ini hanya roboh karena kehabisan tenaga, tentu jiwanya belum ajal. Cuma mungkin…”

“Peduli mereka bakal mati atau tidak, paling tidak kita sekarang harus menengoknya kesana.”

“Sekarang belum boleh ke sana,” Ki Ping yan tidak setuju.

“Kenapa?” teriak Oh Thi-hoa, matanya bersungut, tanyanya, “Memangnya keempat orang itupun pura-pura?”

Sudah tentu keempat orang ini takkan bisa bermain sandiwara, karena keadaan seperti itu siapapun takkan bisa melakukan dengan pura-pura.

Kali ini Oh Thi-hoa sudah memperhitungkan dengan masak, hatinya punya keyakinan dan punya pegangan, cuma ingin dia menunggu reaksi dan jawaban Ki Ping yan.

“Tentunya ke empat orang ini takkan jadi begini bila tanpa sebab, benar tidak?”

“Sudah tentu ada orang yang mencelakai mereka!” ujar Oh Thi-hoa.

“Orang mencelakai mereka tentunya dengan suatu sebab, ya tidak?”

“Besar kemungkinan hendak merebut barang yang mereka lindungi.”

“Kalau demikian, sekarang mereka sudah roboh semua, masakah orang-orang itu tidak akan datang mengambil buruannya itu? Jikalau sekarang satu diantara kita keluar, bukankah bakal menjadi musuh dan sasaran empuk mereka?”

“Tapi selepas pandang matamu, bayangan setanpun kau tidak melihatnya, memangnya orang-orang itu betul-betul bisa menghilang?”

Belum habis ucapan Oh Thi-hoa, tiba-tiba ia merasa sebuah bayangan hitam melayang di atas kepalanya. Disusul angin kencang menderu, seekor elang besar terbang mendatangi dengan cepat sekali, berputar sekali di atas sekeliling kuda dan orang-orang yang roboh itu, tiba-tiba sayapnya kuncup. Elang itu menukik turun bagai meteor jatuh, dari punggung sebuah kuda ia mematuk sebuah kotak, waktu pentang sayap terbang lagi, hanya sebentar saja kedua sayapnya itu mengebas di angkasa. Bayangannya sudah semakin jauh dan menghilang di kejauhan sana.

Cepat sekali kedatangan elang ini, perginya pun mendadak, belum lagi Oh Thi-hoa menginsafi apa yang terjadi, elang itu sudah terbang tak kelihatan lagi bayangannya.

“Suatu rencana yang amat sempurna,” puji Coh Liu-hiang, “cara kerja yang cepat, cekatan dan lihay pula. Tanpa menggunakan tenaga seorangpun, sebuah kotak barang kawalan Peng-bun-chit-houw dengan gampang mereka rebut dan digondol pergi oleh seekor burung elang.”

“Kau kira barang mestika yang berada di dalam peti itu?” tanya Oh Thi-hoa.

“Kalau bukan mestika, memangnya kau kira daging babi?” Coh Liu-hiang tertawa.
“Kalau daging babi sih rada logis, kalau tidak umpama elang tadi utusan orang-orang itu, memangnya dia bisa tahu kalau dalam peti itu berisi barang-barang mestika?”

Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala, ujarnya, “Sudah tentu di atas peti itu sudah diberi tanda khusus supaya elang itu mengenalinya. Sudah tentu elang itupun sudah mendapat latihan yang amat baik. Masakah kau tidak bisa pikirkan hal ini?”

“Agaknya penyakit pikunku memang bertambah berat.”

“Orang-orang itu sudah berhasil dengan tujuannya,” timbrung Ki Ping-yan tiba-tiba, “tentu takkan datang lagi. Kau ingin lihat keadaan mereka, sekarang boleh kau kesana.”

Tiga diantara empat orang itu sudah meninggal, hanya laki-laki berewok yang roboh terakhir, dadanya masih bergerak turun naik, namun denyut jantungnyapun sudah amat lembah, sembarang waktu bisa berhenti mendadak.

Oh Thi-hoa cekal mulutnya sampai terbuka, setengah botol sisa araknya dia tuang masuk ke dalam mulutnya, jantung orang yang sudah hampir berhenti, baru mulai bekerja dan berdetak rada keras.

Lekas Oh Thi-hoa bertanya, “Apakah kau Peng Ti hou? Sebetulnya kejadian apa yang telah kalian alami?”

Pelan-pelan orang itu membuka kelopak mata, tampak oleh Oh Thi-hoa mata orang masih menyorotkan rasa ketakutan, sebaliknya Coh Liu-hiang mendapatkan, kelopak mata orang secara aneh dan luar biasa sudah membesar satu kali lipat dari biasanya.

Lama kelamaan nafas orang mulai keras dan memburu pula, sekuat tenaga meronta, agaknya hendak berdiri, namun jari tangannya saja ia tak kuasa bergerak, seluruh badannya sudah lemah lunglai, tak punya sedikitpun tenaga.

Oh Thi-hoa menyeka keringat di atas jidatnya, tanyanya keras, “Katakan, kau masih bisa bicara tidak?”

Kalamenjing orang itu turun naik, akhirnya dari bibirnya yang sudah pecah kekeringan itu, tercetus suara yang lirih, suara yang tidak mirip dikeluarkan dari mulut manusia. Itulah suara teriakan kosong dan hambar, gemboran lirih yang putus asa. “Iblis jahat… setan iblis! Ribuan ratusan iblis… bunuh!”

Keringat Oh Thi-hoa bercucuran, tanyanya pula lebih keras, “Mana ada iblis jahat? Iblis jahat dimana?”

Biji mata orang ini melotot lempang ke arah depan, katanya dengan suara serak, “Jangan harap kau bisa merebutnya! Kau… kau…” tiba-tiba ia meronta dan melompat dari pelukan Oh Thi-hoa, terus menerjang ke depan, tapi hanya dua langkah, kembali terangsur jatuh, selamanya takkan bergerak lagi.

Arak Oh Thi-hoa membangkitkan sisa tenaganya yang masih terpendam dalam badannya. Kini sisa tenaga yang bangkit itupun sudah habis dipakainya.
Siau-phoa meloso lemas di atas tanah, katanya gemetar, “Dia sudah melihat iblis yang tak kelihatan itu, disinilah tempatnya. Lari… tidak lekas kita melarikan diri, mungkin bisa terlambat.”

Oh Thi-hoa tahu mulut orang hanya mengoceh belaka, namun tak urung bergidik bulu kuduknya waktu ia melihat muka Ciok Tho yang buruk seperti batu-batu keramik itu, ternyata kinipun dihiasi butir-butir keringat segede kacang.

Di sana Ki Ping-yan sedang berjongkok memeriksa salah satu mayat, lama juga dia telah memeriksa. Baru sekarang pelan-pelan ia berdiri, namun lama juga dia tidak bisa buka suara.

“Kau sudah menemukan sebab musabab kematian mereka?” tanya Coh Liu-hiang.
Berkata Ki Ping-yan pelan-pelan, “Kehabisan tenaga, lapar dan dahaga, agaknya terkena pula semacam racun yang amat aneh. Kadar racun itu agak mirip ganja, tidak membahayakan jiwa, tapi cukup membuat pikiran orang gila seperti kerasukan setan.”

“Orang yang mencelakai mereka, mungkin pula orang yang hendak mencelakai kita. Cara yang digunakan sama, dibuatnya dulu mereka kehabisan air, seorang yang lekas mati kekeringan sering timbul bayangan khayal dalam pandangannya. Tapi sebelum mereka tiba di sini, mereka sudah terkena semacam racun, maka khayal yang terbayang dalam pandangan mereka seperti ada ribuan dan ratusan iblis jahat sedang mengepung dan menyerang mereka, maka mereka lari terbirit-birit. Setelah tidak bisa melarikan diri, kemudian melawan mati-matian sampai titik tenaga terakhir merekapun habis baru berhenti.”

“Kita… kalau kita selalu tak punya air minum, apakah juga bisa berubah seperti mereka?” tanya Oh Thi-hoa terbelalak.

Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan tidak menjawab pertanyaan ini. Oh Thi-hoa pandang mereka bergantian, lalu mengawasi mayat di tanah, akhirnya iapun tak bicara lagi. Selepas mata memandang pasir kuning melulu. Tak berujung pangkal, takkan habis-habis dicapai. Tiada air, tiada kehidupan, juga tiada harapan.
Siang hari yang membara itu akhirnya sudah silam.

Mereka angkut mayat-mayat kuda dan manusia ke dalam galian besar itu, dengan pasir pula mereka dipendam begitu saja. Lalu mereka duduk di atas batu cadas, menghabiskan waktu sambil menunggu munculnya sinar bintang.

Tiada yang bicara, mereka sama segan menggerakkan mulut.

“Sekarang apa yang harus kita lakukan? Kemana mencari air?” pertanyaan ini selalu bergolak dalam relung hati Oh Thi-hoa, namun ia dalam hati tak diutarakan karena ia tahu umpama dia utarakan isi hatinya, belum tentu ia mendapat jawaban.

Lapar dan dahaga, letih… berbagai macam perasaan yang bisa mengetuk hati, sekaligus merangsang datang mengikuti datangnya tabir malam.

Siau-phoa ingin makan ransum kering, tapi disampuk jatuh oleh Ki Ping-yan. “Jangan makan, setelah makan kau akan lebih dahaga dan tak tahan lagi.”
Oh Thi-hoa mengelus dada, mendadak tertawa, katanya, “Tadi waktu aku memboyong Peng-It-hou, terasa olehku bagian pundaknya menonjol keluar sesuatu yang bundar dan keras, bentuknya seperti telur ayam. Coba katakan, aneh tidak?” ucapannya ini sebetulnya cuma mengada-ada saja, dia sendiri tahu kata-katanya ini terlalu iseng.

Ki Ping-yan mendadak bergegas bangkit, langsung ia menghampiri Ciok Tho dan duduk di sebelahnya, kedua tangan mereka saling genggam dengan erat, duduk berhadapan, siapapun tak bergerak.

Di tengah tabir malam yang semakin gelap ini, kelihatan rona muka Ciok Tho semakin seram menakutkan.

“Coba lihat, apa yang sedang mereka lakukan?” tercetus pertanyaan dari mulut Oh Thi-hoa yang suka usil ini.

“Mereka sedang bercakap-cakap,” sahut Coh Liu-hiang.

“Bicara?” Oh Thi-hoa menegas heran.

“Kalau ingin bicara dengan seorang yang buta, tuli dan bisu, sudah tentu harus menggunakan cara yang aneh, mungkin mereka sedang menulis sesuatu dengan gerak cepat di tengah tapak tangan masing-masing, untuk tukar pikiran masing-masing!”

“Betapapun memang otak malingmu itu lebih cerdik, agaknya apa saja sudah kau ketahui ya!”

“Aku hanya ingin tahu apa yang sedang mereka perbincangkan sekarang,” ujar Coh Liu-hang tertawa getir.

Tampak akhirnya Ki Ping-yan berdiri dan jalan kembali. Sikapnya lebih prihatin, ia duduk di pinggir Coh Liu-hiang, lama juga dia menunggu, baru berkata tiba-tiba, “Orang yang hendak mencelakai kita adalah orang yang dulu mencelakai Ciok Tho sampai dia cacat begitu rupa.”

Tersirap darah Oh Thi-hoa. Coh Liu-hiang malah berkata, “Hal ini semalam sudah pernah kupikirkan.”

“Siapakah dia sebenarnya?” tanya Oh Thi-hoa.

Ki Ping-yan menghela nafas, ujarnya, “Ciok Tho pun tak mau menyebut nama orang itu.”

“Menurut apa yang kuketahui, bukan saja ilmu silat orang ini amat tinggi, malah dia pun punya ratusan anak buah yang setia dan berani mati demi kepentingannya.”

“Ilmu silatnya tinggi, aku tidak takut. Anak buahnya banyak akupun tak takut. Tapi tipu muslihatnya yang sembunyi-sembunyi ini, sungguh membuat aku tak tahan lagi.” Mendadak Oh Thi-hoa berjingkrak bangun, teriaknya, “Sekarang bukan saja cara apa pula yang hendak dia gunakan untuk menghadapi aku, aku tidak tahu, malah tidak tahu orang macam apa pula dia sebenarnya, jikalau jiwaku sampai melayang secara sia-sia, sungguh penasaran sekali!”

Ki Ping-yan menjengek dingin, “Jikalau kau kuat tahan diri dan bertindak melihat gelagat, mungkin jiwamu takkan mati.”

Dengan lesu Oh Thi-hoa mendeprok duduk kepala di dekapnya, katanya, “Agaknya akupun bisa gila, jangan kalian pedulikan aku.”

Hening sejenak, tiba-tiba Ki Ping-yan berkata dengan suara berat, “Kesulitan yang kita hadapi sekarang bukan air, adalah orang itu! Ada Ciok Tho dan aku berada di sini, air itu pasti akan bisa kita temukan, tapi orang itu…” Sampai di sini ia menghela nafas, sambungnya, “Kalau orang itu sudah mengincar kita, pasti takkan lepas tangan, situasi sekarang adalah kalau bukan kita yang bunuh dia, kitalah yang akan dibunuh.”

Coh Liu-memberikan saran, “Apa kita sementara tak bisa menyingkir dulu, setelah menemukan Hek-tin-cu baru kita luruk dia.”

“Tiada orang yang bisa menyingkir dari pandangan matanya, sebelum persoalan ini kita selesaikan berhadapan dengan dia, segala urusan lain jangan harap kau bisa selesaikan lebih dulu, kemungkinan Hek-tin cu lah yang mengutus orang ini menghadapi kau.”

Coh Liu-hiang menarik nafas, sesaat ia termenung, katanya tertawa, “Kalau begitu mari kita adu jiwa sama dia, kukira tidak perlu kita gentar menghadapinya. Betapapun lihay musuh kita, kita sudah sering menghadapinya, benar tidak?”

Oh Thi-hoa angkat kepala sambil bertepuk tangan, serunya, “Nah, baru mirip kata-kata yang harus diucapkan oleh Maling Kampiun, selama dua hari ini boleh dikata baru pertama kali ini aku benar-benar mendengar ucapan seorang manusia tulen.”

“Cuma, bagaimana harus…” berkerut alis Ki Ping-yan, Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa pun bungkam. Ketiganya duduk tak bergerak namun seperti tiga batang golok yang sudah keluar dari serangkanya, seluruh badan diliputi mara bahaya, sembarang waktu kuasa menghabisi jiwa seseorang. Dalam keadaan seperti ini, seseorang yang berotak cerdik, lebih baik jangan mengganggu usik mereka.

Ada orang datang.

Dua puluhan bayangan orang, serempak merubung maju dari berbagai penjuru, langkah mereka seenteng kucing, beranjak di atas pasir sedikitpun tak mengeluarkan suara.

Tapi gerak-gerik mereka tidak bisa mengelabui mata Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan. Lekas sekali tiga orang ini sudah saling tukar pandangan, tanpa bersuara mereka masing-masing sudah berketetapan, “Tenang mengatasi aksi, lihat situasi dan bergerak menurut gelagat dan perubahannya.”

Meski tak bicara, ketiga orang ini dulu entah pernah mengalami perjuangan berapa banyaknya, berdampingan di medan laga, gerak gerik mereka seolah-olah mempunyai semacam tata tertib yang ketat satu sama lain dan tak mungkin bisa diselami orang lain. Maka mereka sama menundukkan kepala, seperti orang lelah dan ngantuk.

Lekas sekali kedua puluhan orang itu sudah mengepung mereka di tengah-tengah lingkaran, namun mereka tetap berdiam diri seolah-olah tidak tahu dan merasakan kedatangan mereka. Sudah tentu kedua puluhan orang ini menjadi was-was dan heran sendiri.

Orang-orang ini semuanya mengenakan pakaian ketat warna hitam, kepalanya digubat handuk hitam pula, gerak-gerik mereka rata-rata cekatan dan tangkas, lincah lagi jelas semuanya merupakan musuh-musuh berbahaya. Dalam jarak tertentu mereka berhenti dan menunggu lama, akhirnya satu sama lain menggerakkan tanda memberi isyarat.

Maka berkatalah seseorang diantara mereka dengan suara kereng, “Jikalau kalian cukup cerdik, lebih baik duduk saja jangan bergerak. Tanganpun jangan terangkat. Aku tidak ingin menggertak kalian, tapi asal jari-jari kalian bergerak, jiwa kalian akan kita habisi,” kata-katanya diucapkan begitu kalem, seperti tidak ingin menakuti orang lain. Tapi justru itulah cara yang lihay, kawanan Kangouw pasti maklum hanya dengan cara begitulah baru bisa benar-benar menggertak orang.

Sudah tentu Ki Ping-yan, Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa tidak bergerak, Ciok Tho lebih tak bisa bergerak lagi, cuma Siau-phoa yang benar-benar menjadi ketakutan sampai tak bisa bergerak.

Dalam kegelapan malam samar-samar kelihatan tangan masing-masing orang ini sama membawa sesuatu benda yang mengeluarkan sinar mengkilap hitam, sudah tentu benda-benda itu adalah bumbung-bumbung alat senjata rahasia yang mematikan itu.

Orang yang bicara melangkah lebar ke depan, katanya pula, “Baik sekali, kalian memang tahu diri, sekarang serahkan barang itu!”

Baru sekarang Coh Liu-hiang angkat kepala, katanya tersendat, “Barang-barang kita semua berada di punggung unta, silahkan tuan-tuan mengambilnya sendiri.”
Orang itu tertawa dingin, “Jangan pura-pura pikun, tentunya kau sudah tahu barang apa yang kami inginkan?”

“Aku… sungguh aku tidak tahu.”

“Masih berani pura-pura bodoh,” damprat orang itu, tahu-tahu tapak tangannya melayang menampar ke muka Coh Liu-hiang. Mengikuti gerakan tangan orang, Coh Liu-hiang roboh ke belakang, tapi orang yang memukulnya itu malah melongo dan terkesima. Terang tapak tangannya seperti mengenai muka orang, tapi seperti memukul tempat kosong pula, jelas muka orang kena digamparnya, tapi tapak tangan sendiri seperti tidak pernah menyentuh sesuatu sehingga tenaganya amblas begitu saja.

Melihat sikap kaget orang, sungguh geli dan dongkol pula hati Oh Thi-hoa. “Kau kira bisa mengenai Coh Liu-hiang? Jika kau benar-benar memukulnya sampai rubuh, jiwamu tentu sudah melayang.”

Laki-laki hitam ini agaknya juga tahu gelagat ganjil, cepat ia merubah sikap. Katanya rada sabar, “Tugas penting dari rombongan kita, asal barang itu kita dapatkan berarti kita sudah menunaikan tugas dengan baik. Kita segera berlalu, sekali-kali takkan mengganggu seujung rambut kalian.” Tiba-tiba ia terloroh tawa, sambungnya, “Coba lihat, jikalau kami ingin membunuh kalian, bukankah sejak tadi kita sudah turun tangan.”

Coh Liu-hiang tahu omongan orang bukan gertakan belaka, tentunya tugas mereka terpecah, mereka hanya bertugas menghadapi Peng-bun-chit-hou, sebelum mendapat perintah pasti takkan berani mencelakai orang lain. Jelas sudah bahwa diri mereka terang sementara takkan menghadapi bahaya, maka legalah hatinya.

Setelah menunggu sesaat lamanya, melihat tidak mendapat reaksi, laki-laki baju hitam itu berkata, “Asal kalian serahkan barang itu, bukan saja aku sudah berjanji takkan mengganggu usik kalian, tidak mengambil barang milik kalian lainnya, malah… bolehlah kita berikan sekantong air kepada kalian.” Waktu mengutarakan kata-katanya ini, agaknya dia sudah berkeputusan dalam hati, ini bukan gertak atau ancaman, tapi menyerah secara tidak disadari pancingan belaka. Terang barang yang mereka incar itu tentu teramat penting artinya. Jikalau mereka tidak bisa mendapatkan barang itu, terang mereka bakal mendapat hukuman yang setimpal bila pulang nanti.

Arti daripada air dalam situasi seperti ini sungguh amat besar sekali. Coh Liu-hiang, Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa jikalau mereka tahu dimana barang itu berada, mungkin mereka benar-benar mau menukar dengan air mereka. Cuma sayang mereka benar-benar tidak tahu apa-apa.

Oh Thi-hoa menghela nafas, tanyanya, “Sebenarnya barang apa yang kalian inginkan? Asal kau katakan pasti kuserahkan kepadamu sekarang. Barang mestika betapapun banyaknya yang kau inginkan untuk menukar sekantong air dengan senang hati akan kuberikan kepadamu.”

Laki-laki baju hitam melotot, tanyanya menegas, “Kau benar-benar tidak tahu?”

“Siapa tahu barang setan apa itu, dialah kurcaci,” sahut Oh Thi-hoa.

Diam-diam Coh Liu-hiang geli, batinnya, “Dalam keadaan seperti ini, bocah ini tak lupa memaki orang juga.”

Laki-laki baju hitam belum menyadari bahwa orang anggap dirinya kurcaci, seketika ia menarik muka, katanya, “Masakah kalian belum menggeledah dan mendapatkan barang itu dari mayat-mayat itu?”

“Aduh. Tidak percaya lagi.” Oh Thi-hoa berkeluh kesah. “Umpama kita ini benar-benar bedebah, sekali-kali kita takkan mencuri barang milik orang yang sudah ajal.” Kembali kata-katanya memaki dengan kata-kata yang cukup sopan.
Baru sekarang laki-laki hitam seperti menyadari kata-kata orang berarti sedang memaki dirinya, “Bedebah,” keruan ia naik pitam. Dampratnya, “Kau masih tidak mau mengaku, baik, hayo kawan-kawan geledah mereka!”

Seluruh badan Oh Thi-hoa sudah mengejang keras, hampir saja ia sudah mengumbar adat. Lekas Coh Liu-hiang menangkisnya, katanya tawar, “Biar mereka menggeledah, toh mereka takkan mendapatkan apa-apa.”

Tatkala itu dari kegelapan kembali menerobos maju beberapa bayangan berseragam hitam, dengan cekatan seluruh badan mereka sudah digeledah. Oh Thi-hoa menahan amarah yang hampir meledak, sungguh ia tidak habis mengerti, kenapa Coh Liu-hiang harus menahan sabar.

Ki Ping-yan justru tahu maksud temannya, pikirnya, “Coh Liu-hiang mulai kumat lagi penyakit lamanya, agaknya iapun mulai ketarik kalau belum melihatnya sendiri, dengan bukti-buktinya yang nyata, mana dia mau lepas tangan begini saja.”

Peduli dimana, terhadap siapapun, jikalau tidak terpaksa Coh Liu-hiang pasti takkan mau sembarangan turun tangan. Memang dia bukan seorang yang suka berkelahi.

Setelah menggeledah orang-orangnya kembali laki-laki seragam hitam itu menggeledah unta, sudah tentu mereka tak berhasil menemukan barang yang mereka cari. Salah satu di antaranya tiba-tiba berpikir, kataya, “Bukan mustahil barang itu masih berada di atas badan Peng-keh-chit-hou!”

Maka kembali mereka gali mayat-mayat yang sudah terpendam di bawah pasir itu, dengan golok mereka telanjangi pakaian mayat-mayat itu. Oh Thi-hoa kertak gigi, lekas ia berpaling muka tak tega melihat kelakuan mereka.

Terdengar seseorang berkata pula, “Di atas badan merekapun tiada.”

Laki-laki pemimpin itu mulai gelisah, katanya membanting kaki, “Tidak mungkin tiada. Cari lagi lebih teliti, kalau tidak ketemu, bagaimana tanggung jawab tugas kita terhadap beliau?”

Sorot mata laki-laki baju hitam itu kini sudah memancarkan rasa takut dan gelisah, setelah mencari ubek-ubekan tetap tidak berhasil, keruan mereka semakin ribut dan sibuk, gugup lagi. Hampir boleh dikata mereka sudah lupa mengawasi Coh Liu-hiang beramai.

Berkilat biji mata Ki Ping-yan, tiba-tiba ia berkata kalem, “Barang apakah yang sebenarnya kalian cari? Kalau dikatakan, mungkin kami bisa bantu kalian mencarinya.”

Karena sudah gugup dan gelisah, seperti sudah kehilangan kontrol dan kepercayaan kepada diri sendiri, tanpa banyak pikir laki-laki baju hitam itu menjawab, “Ki-loh-ci-sing.”

“Apa itu Ki-loh-ci-sing?” tanya Oh Thi-hoa keheranan. Ki-loh-ci-sing maksudnya bintang di surga.

“Akupun kurang jelas,” sahut laki-laki baju hitam. “Aku hanya tahu diantara barang-barang kawalan mahal dari Peng-keh-chit-hou, diantaranya ada benda mestika yang tak ternilai harganya bernama Ki-loh-ci-sing.”
Oh Thi-hoa menghela nafas dengan kecewa, katanya, “Kukira sih barang mestika apa sampai diributkan, ternyata tidak lebih hanya sebutir benda mestika.” Memang mestika betapapun tinggi nilainya, tak terhitung apa dalam pandangan mereka.

Berkata laki-laki baju hitam lebih lanjut, “Kita kemari lantaran perintah. Menurut rencana dengan gampang kita pasti berhasil memperoleh seperti mestika itu, tak nyana Ki-loh-ci-sing yang menjadi sasaran utama justru tak berada di dalam peti itu…” saking gelisah, tanpa sadar mulutnya mengoceh sendiri.

Tiba-tiba Ki Ping-yan berkata, “Jikalau aku tahu dimana Ki-loh-ci-sing itu berada, apa kalian sudi menukar dengan air?”

Sungguh kaget, gugup dan kegirangan pula laki-laki baju hitam, teriaknya, “Tentu!”

“Kalian betul-betul punya air?” tanya Ki Ping-yan menegas.

“Sudah tentu punya!”

“Dimana? Keluarkan dulu supaya kulihat.”

Berubah air muka laki-laki baju hitam, katanya kasar, “Kau tidak percaya kepadaku?”

Ki Ping-yan berpikir sebentar, katanya, “Baik, sekali ini aku biar percaya kepadamu. Ki-loh-ci-sing boleh kuserahkan dulu kepadamu, tapi air…”

Laki-laki baju hitam girang, tukasnya, “Asal Ki-loh-ci-sing kau serahkan, soal air tidak menjadi soal.”

Dari samping Oh Thi-hoa sedang menonton dan mendengarkan dengan perasaan heran. Sungguh ia tidak habis mengerti kenapa Ki Ping-yan mau percaya begitu saja akan omongan orang, lebih tak mengerti kenapa Ki Ping yang mau mengeluarkan Ki-loh-ci-sing, hakekatnya dimana Ki-loh-ci-sing belum diketahui.
Tampak Ki Ping-yan sudah berpaling kemari, roman mukanya menunjukkan keyakinan, demikian pula roman muka Coh Liu-hiang sembari tersenyum, sedikitpun tidak kelihatan gugup.

Tak tahan Oh Thi-hoa memapak maju, katanya berbisik, “Kau benar tahu dimana Ki-loh-ci-sing itu berada?”

Berkata Ki Ping-yan pelan-pelan, “Tadi waktu kau memayang Peng It-hou, katamu kau rasakan bagian pundaknya seperti menonjol bundar keras, benar tidak?”

Oh Thi-hoa keheranan, sahutnya, “Tapi…”

Belum sempat dia bicara lebih lanjut, Ki Ping-yan sudah menghampiri ke samping Peng It-hou. Pakaian orang ini sudah ditelanjangi. Badan yang sudah telanjang bulat ini, dimana ada Ki-loh-ci-sing segala. Tapi Ki Ping-yan segera jongkok, dengan ujung jarinya ia menggores sekali diikuti daging pundaknya Peng It-hou, tabir malam sangat gelap, di bawah penerangan bintang kelap-kelip, tahu-tahu terlihat dari pundak orang memancarkan cahaya kemilauan terang benderang.

Disusul sebutir jamrud sebesar telur burung dara yang memancarkan cahaya kemilau cemerlang menggelinding keluar dari kulit daging di pundak Peng It-hou, jatuh di tapak tangan Ki Ping-yan.

Ternyata Ki-loh-ci-sing yang dimaksud terjahit oleh Peng It-hou di kulit daging pundaknya.
Semua orang sama melongo dan tertegun melihat kejadian yang tak terduga ini.
Di atas cakrawala memang tak dapat tak terhitung banyaknya bintang-bintang, tapi pancaran Ki-loh-ci-sing di atas bumi ini, sungguh membuat sinar bintang-bintang di langit menjadi guram dan kelelap dibuatnya. Ki Ping-yan sendiripun tak terasa terkesima, katanya, “Kim-kong-ciok yang amat bagus, tak heran sedemikian banyak jiwa manusia yang siap berkorban demi kau.”

Seperti serigala kelaparan laki-laki baju hitam itu segera menubruk maju, sekali raih ia rebut Ki-loh-ci-sing di tangan Ki Ping-yan. Ki Ping-yan diam saja seperti orang linglung berdiri menjublek di tempatnya, dengan mendelong ia awasi benda mestika itu direbut orang lain dari tangannya. Agaknya laki-laki baju hitam itupun tak mengira urusan dapat dicapainya demikian gampang dan tak terduga, sungguh senang bukan main sampai mulut serasa sulit dibuka.
Sungguh heran, jengkel pula hati Oh Thi-hoa, untung sebelum dia mengumbar adatnya terdengar Ki Ping-yan sudah bicara, “Ki-loh-ci-sing sudah kuberikan kepadamu, mana airnya?’

Laki-laki baju hitam terloroh kesenangan, serunya, “Tuan-tuan besar ini keluar menunaikan tugas, mana membawa air sebanyak itu? Kau ingin air, tidak bisa kau cari sendiri? Tuan-tuan besar hari ini tidak menggorok lehermu, sudah terhitung sungkan terhadap kalian, tahu!”

Sembari tertawa tangan dia ulapkan, segera ia pimpin anak buahnya tinggal pergi dengan masih terkial-kial. Sungguh hampir meledak perut Oh Thi-hoa. Dia sudah siap bergerak melabrak orang-orang itu, tapi keburu ditarik oleh Coh Liu-hiang. Ingin mengejar, sudah dirintangi pula oleh Ki Ping-yan. Sungguh dia tak habis paham, kenapa kedua teman baiknya ini kini menjadi sedemikian pengecut dan penakut? Mengawasi orang-orang itu pergi begitu saja, sedikitpun Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan tidak menunjukkan kemarahan sama sekali.

Sungguh Oh Thi-hoa tak tahan lagi, jengeknya dingin dengan keras, “Menggelikan, sungguh menggelikan! Maling kampiun yang bernama besar, ternyata menjadi pengecut dan bernyali kecil seperti tikus. Sungguh menggelikan Ki Ping-yan yang biasanya mengagulkan kepintarannya, hari ini dengan mentah-mentah sudi ditipu orang lain.”

“Siapa yang ditipu orang?” tanya Ki Ping-yan.

“Kau begitu pintar, tahu bila Ki-loh-ci-sing tersembunyi di dalam badan Peng It-hou kenapa kau tidak tahu bahwa para keparat itu terang takkan memberi air kepadamu!”

Ki Ping-yan tertawa tawar, ujarnya, “Sejak pertama mereka datang, aku sudah melihat bahwasanya mereka tiada yang membawa kantong air.”

“Kalau kau sudah tahu mereka tidak punya air, kenapa kau berikan Ki-loh-ci-sing kepada mereka? Kau sedang kentut apa?”

Tanpa hiraukan ocehan orang, Ki Ping-yan berkata kepada Coh Liu-hiang, “Orang yang kelana di gurun pasir, ada dua barang tidak boleh kekurangan, pertama adalah air, kedua adalah unta. Tanpa kedua barang-barang ini, jiwa sukar terlindungi, benar tidak?”

Coh Liu-hiang selalu unjuk senyuman, sahutnya, “Tidak salah!”

“Tapi bukan saja orang-orang itu tiada yang membawa air, malah meluruk kemari berjalan kaki, itu pertanda bahwa tempat tinggal mereka sementara ini, tentu tidak jauh dari sini, benar tidak?”

“Benar!” sahut Coh Liu-hiang pendek.

“Setelah mereka memperoleh barang yang dicarinya, tentu tak sempat memperdulikan kami pula, yang terpikir hanya lekas-lekas pulang memperoleh jasa dan persen, ya toh?”

Kali ini tanpa menunggu Coh Liu-hiang buka suara, Oh Thi-hoa sudah menanggapi sambil tepuk tangan, “Benar, asal kita kuntit mereka, langsung kita bisa meluruk ke sarangnya. Daripada kita menunggu iblis durjana itu mencari perkara kepada kita, lebih baik kita labrak dia dulu… benar tidak?”

“Benar,” sahut Coh Liu-hiang tersenyum. “Itu dinamakan menindak orang lebih dulu!”

Seketika Oh Thi-hoa berjingkrak bangun, teriaknya, “Kalau begitu, apa pula yang harus kita tunggu di sini?”

Berkata Ki Ping-yan pelan-pelan, “Di tengah gurun pasir dilarang menguntit buruanmu terlalu dekat, yang terang mereka toh takkan bisa melarikan diri,” lalu ia menengadah mendengarkan deru angin, tersenyum lebar dan berkata, “Kalau kau sudah tak sabar lagi, sekarang boleh mulai berangkat.”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: