Kumpulan Cerita Silat

06/04/2008

Pendekar Gelandangan (06)

Filed under: Gu Long, Pendekar Gelandangan — ceritasilat @ 10:56 pm

Pendekar Gelandangan (06)
Bab 06. Pantang Menyerah
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Bintang73 dan Donnios)

Seorang pemuda yang tiada masa depan, seorang gelandangan yang air matanya telah mengering, ibarat selembar daun yang terhembus angin, seperti pula ganggang di air, tiada tumpuan harapan, tiada pula masa depan………………..

Dalam keadaan demikian, mungkinkah ada orang dikejauhan yang rindu kepadanya, memperhatikan keadaannya?

Kalau ia memang mendengar panggilan orang itu, mengapa ia masih belum juga kembali, kembali ke sisi orang itu?

Sesungguhnya kesedihan dan penderitaan apakah yang terkandung dalam hatinya, sehingga rahasia tersebut enggan diutarakan kepada orang lain?

Sang surya telah memancarkan sinar keemas-emasan ke empat penjuru. Hari ini udara cerah.

A-kit tidak selalu berada dalam keadaan pingsan, ia sudah sadar beberapa kali, setiap kali tersadar kembali, ia selalu merasa seakan-akan ada seseorang sedang duduk di sisinya sambil menyeka keringat yang membasahi jidatnya.

Ia tak pernah melihat jelas wajah orang itu, sebab sesaat kemudian ia kembali jatuh tak sadarkan diri.

Menanti ia dapat melihat jelas raut wajah orang itu, sinar matahari kebetulan sedang mencorong masuk lewat daun jendela dan menyinari rambutnya yang hitam dan mulus.

Ia mempunyai sepasang mata yang sayu, sorot mata penuh perasaan sedih dan kuatir.

A-kit memejamkan kembali sepasang matanya.

Tapi pada saat itulah ia mendengar nona itu berkata: “Aku tahu kau tidak memandang harga diriku. Kau memandang hina aku si perempuan rendah, tapi aku tak akan menyalahkan dirimu”

Ucapan tersebut diucapkan dengan tenang dan mantap, sebab nona itupun sedang berusaha untuk mengendalikan perasaannya.

“Akupun tahu, dalam hatimu pasti terdapat banyak penderitaan dan kedukaan yang tak dapat diutarakan keluar, akan tetapi kau tak perlu menyiksa diri secara begini kejam”

Suasana dalam ruangan itu hening, tidak terdengar suara orang lain, tentu saja Lo Biau-cu sudah berangkat bekerja.

Tak mungkin bagi rekannya itu untuk meninggalkan pekerjaan apapun yang tersedia, sebab ia tahu hanya dengan bekerja baru ada nasi untuk makan.

Tiba-tiba A-kit mementangkan matanya lebar-lebar dan mendelik ke arahnya, kemudian dengan ketus katanya: “Seharusnya kaupun tahu, bahwa aku tak mungkin mampus!”

“Seandainya kau ingin mampus, sekarang kau pasti sudah mampus beberapa kali!”, sahut si boneka.

“Lantas mengapa kau tidak pergi untuk melakukan pekerjaanmu?”

“Aku sudah tak akan pergi lagi!”

Suaranya begitu tenang, begitu datar, sedikitpun tanpa emosi.

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya dengan hambar: “Sejak kini, aku tak akan kembali lagi ke tempat seperti itu!”

“Kenapa?”, tanya A-kit tak tahan.

Tiba-tiba si Boneka tertawa dingin.

“Apakah kau mengira sejak lahir aku sudah menyukai pekerjaan semacam itu?”

A-kit menatap tajam wajahnya, seolah-olah berusaha menembusi hatinya, lalu tanyanya lagi: “Sejak kapan kau memutuskan untuk tidak ke sana lagi?”

“Hari ini!”

A-kit menutup mulutnya, ia merasa hatinya mulai sakit lagi.

……Tiada seorang manusiapun yang semenjak dilahirkan sudah menyukai pekerjaan semacam itu, tapi setiap orang harus hidup, setiap orang harus bersantap.

……Dia adalah satu-satunya tumpuan harapan dari ibu dan kakaknya, ia harus mencarikan daging untuk ibu dan kakaknya.

……Ia tak boleh membuat kecewa ibu dan kakaknya.

……Mungkinkah kejalangan dan kecabulannya disebabkan suatu penderitaan dalam hati yang tak terlampiaskan keluar? Maka dengan sekuat tenaga ia berusaha menyiksa diri, merendahkan derajat sendiri?

……Tapi sekarang ia telah bertekat untuk tidak melanjutkan pekerjaannya, sebab ia tak ingin dipandang hina oleh orang lain.

Andaikata A-kit masih mempunyai air mata, mungkin pada saat ini telah bercucuran, sayang ia tak lebih hanya seorang gelandangan.

Gelandangan itu tanpa perasaan, diapun tak punya air mata.

Oleh sebab itu dia harus pergi meninggalkan tempat itu, sekalipun harus merangkak, dia harus merangkak ke luar dari situ.

Sebab ia sudah mengetahui perasaan nona itu, ia tak dapat menerimanya tapi diapun tak ingin melukai perasaannya.

Bukan saja orang telah memberi kesempatan hidup kepadanya, merekapun telah memberi kasih sayang dan kehangatan yang belum pernah di alaminya selama ini. Ia tak dapat menyedihkan hati mereka.

Si Boneka menatap tajam wajahnya, seakan-akan ia telah menebak suara hatinya. Tiba-tiba katanya: “Bukankah kau ingin pergi lagi?”

A-kit tidak menjawab, ia meronta dan berusaha bangun, kemudian dengan sekuat tenaga melangkah keluar dari ruangan itu.

Si Boneka tidak menghalanginya. Dia tahu meskipun tubuh orang itu bukan terdiri dari tulang besi otot kawat, tapi ia memiliki jiwa dan tekad yang lebih keras dari baja.

Jangankan menghalangi, berdiripun tidak, cuma air mata tampak membasahi pipinya.

A-kit sama sekali tidak berpaling.

Kekuatan tubuhnya tak mungkin bisa membawanya pergi jauh, mulut luka di tubuhnya lamat-lamat mulai terasa sakit.

Tapi bagaimanapun juga ia harus pergi, sekalipun selangkah kemudian ia bakal terjerumus ke dalam selokan, sekalipun dia bakal mampus dan membusuk seperti tikus, ia tak ambil perduli.

Siapa tahu, belum sempat dia berjalan keluar dari pintu, si nenek sambil membawa keranjang sayur telah pulang ke rumah, sorot matanya yang penuh kasih sayang itu dengan sinar mata yang membawa nada menegur menatapnya tajam-tajam, kemudian tegurnya:

“Kau tidak boleh bangun, aku telah belikan sedikit kuah daging yang akan membantu menyehatkan tubuhmu dengan cepat. Setelah minum kuah daging badanmu baru akan bertenaga kembali. Hayo, cepat kembali ke dalam rumah dan berbaring!”

A-kit memejamkan matanya rapat-rapat.

……Betulkah gelandangan tiada perasaan?

……Benarkah gelandangan tiada air mata?

Tiba-tiba ia menggunakan segenap sisa tenaga yang dimilikinya untuk menerjang lewat dari sisi si nenek dan menyerbu keluar pintu.

Banyak persoalan sulit rasanya untuk dijelaskan, lantas apa gunanya mesti dijelaskan?

Lorong sempit itu gelap, lembab dan kotor. Sinar matahari tak dapat menyorot masuk ke situ.

Sambil mengertak gigi menahan sakit yang kian menjadi, ia menerobos maju ke depan.

Tiba-tiba dari lorong sana ia saksikan seseorang sedang menerjang masuk pula ke dalam lorong dengan langkah sempoyongan.

Sekujur badan orang itu berlepotan darah, pakaian yang koyak-koyak telah berubah pula menjadi merah karena noda darah, bahkan tulang wajahnya kelihatan seperti remuk.

“Lo Biau-cu!”

A-kit menjerit kaget dan menerjang maju ke muka.

Lo Biau-cu menerjang pula ke mari, kedua orang itu saling berpelukan.

“Lukamu belum sembuh, mau apa ke luar rumah?”, tegur Lo Biau-cu dengan segera.

Meskipun luka yang di deritanya sangat parah, tapi ia tak ambil perduli, ia lebih menguatirkan keadaan dari sahabatnya.

“Aku……..aku…….”, A-kit tak dapat melanjutkan kembali kata-katanya. Ia harus mengertak gigi menahan golakan emosinya.

“Apakah kau ingin meninggalkan tempat ini?”, tanya Lo Biau-cu.

Sekuat tenaga dipeluknya tubuh sahabatnya itu lalu menjawab: “Aku tak akan pergi sekalipun dibunuh, aku tak akan pergi!”

Dengan lima buah bacokan golok dan empat biji tulang iga terhajar patah, andaikata bukan seorang laki-laki sejati, siapakah yang mampu mempertahankan diri?

Si nenek memperhatikan keadaan putranya yang mengenaskan itu dengan air mata bercucuran.

Lo Biau-cu masih juga tertawa, malah katanya dengan suara keras:

“Apa artinya luka-luka sekecil ini? Paling banter besok pagipun akan sembuh dengan sendirinya!”

“Mengapa kau bisa terluka separah ini?”, tanya si nenek dengan penuh rasa kuatir.

“Aku terpeleset, karena tergesa-gesa dan kurang berhati-hati, aku terjatuh dari atas loteng!”

Sekalipun seorang nenek yang tak akan mengenali huruf sebesar gajahpun tak akan percaya kalau luka macam begitu adalah luka-luka akibat terpeleset dan terjatuh dari loteng.

Sekalipun memang benar terjatuh dari loteng yang tingginya mencapai tujuh delapan kaki, tak nanti luka yang dideritanya bakal separah sekarang ini.

Tapi, si nenek ini jauh berbeda dengan nenek lainnya.

Iapun mengetahui bahwa luka tersebut bukan luka akibat terjatuh dari loteng, diapun jauh lebih menguatirkan keselamatan putranya daripada orang lain.

Akan tetapi ia tidak mendesak lebih jauh, hanya pesannya dengan air mata bercucuran: “Jika akan menuruni anak tangga, lain kali kau harus lebih berhati-hati, jangan sampai terpeleset lagi!”

Kemudian dengan wajah penuh kesedihan ia berlalu dari sana, masuk ke dapur untuk memasak kuah dagingnya.

Ya, itulah pekerjaan yang harus dilakukan kaum wanita. Ia cukup memahami bahwa kaum pria selamanya paling benci kalau pekerjaan yang dilakukan dicampuri pula oleh kaum wanita.

Sekalipun perempuan itu adalah ibu kandungnya sendiri.

Dengan termangu A-kit mengawasi bayangan punggungnya yang tinggi besar, meskipun tiada air mata lagi yang bercucuran, paling sedikit sepasang matanya masih memerah.

……Betapa agungnya seorang ibu, betapa agungnya perempuan itu, sebab justru karena di dunia ini masih terdapat perempuan semacam ini, maka umat manusia masih bisa melanjutkan hidupnya.

Menunggu sampai perempuan itu sudah masuk ke dalam dapur, A-kit baru berpaling dan menatap tajam wajah Lo Biau-cu.

“Siapa yang melukai dirimu?”

“Siapa yang melukai diriku?”, Lo Biau-cu ikut tertawa, “siapa yang berani melukaiku?”

“Aku tahu kalau kau tidak bersedia memberitahukan kepadaku, apakah kau ingin menyaksikan aku pergi menanyai mereka sendiri?”

Senyuman yang menghiasi wajah Lo Biau-cu segera membeku, dengan wajah serius katanya: “Sekalipun aku telah dilukai orang, tapi soal ini adalah urusan pribadiku sendiri, tak perlu kau mencampurinya”

“Ya, sebab dia takut kau pergi menerima gebuk lagi dari mereka”, sambung si Boneka yang selama ini hanya berdiri di bawah jendela jauh di dalam ruangan sana.

“Aku………..”, A-kit tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Kembali si Boneka tertawa dingin sambil menukas: “Heeeehhh……..heeeehh…….heeeehhh……..padahal diapun tak usah merisaukan soal ini, sekalipun dia harus menerima gebuk lantaran dirimu, kaupun tak nanti akan membantunya untuk melampiaskan rasa mengkal ini”

Setelah berhenti sejenak, tambahnya lagi dengan suara dingin: “Karena saudara A-kit yang tak berguna ini selamanya paling tak suka berkelahi”

Terjelos rasanya perasaan A-kit, ia menundukkan kepalanya rendah-rendah. Sekarang tentu saja ia telah paham mengapa rekannya digebuk orang hingga menjadi begitu rupa, ia belum lupa dengan manusia-manusia bengis bermata segi tiga itu.

Diapun bukannya tidak tahu, meskipun ucapan dari si boneka bernada tajam bagaikan jarum, namun air mata telah mengembang dalam kelopak matanya……..

Akan tetapi ia tak dapat melampiaskan rasa mendongkol itu buat sahabatnya, ia tak dapat pergi berkelahi, diapun tidak berani.

Ia membenci diri sendiri, bencinya setengah mati.

Pada saat itulah, tiba-tiba ia mendengar seseorang berkata dengan dingin: “Dia bukannya tak suka berkelahi, dia takut digebuk!”

Itulah suara dari si manusia bermata segi tiga.

Yang datang bukan cuma dia seorang, dua pemuda yang menyelinapkan sebilah pisau di pinggangnya menemani kedatangan orang itu. Yang seorang berwajah panjang dengan kaki yang panjang pula, sambil bertolak pinggang ia berdiri di belakang mereka berdua, pakaiannya amat bagus dan perlente.

Sambil mengacungkan jempolnya, laki-laki bermata segi tiga itu menuding orang di belakangnya itu sambil memperkenalkan: “Dia adalah lo-toa kami yang bernama ‘si kusir kereta’ sekalipun nama itu digadaikan ke rumah pegadaian juga laku beberapa ratus tahil perak”

Seluruh kulit tubuh Lo Biau-cu mengejang keras, teriaknya dengan suara parau: “Mau apa kalian datang kemari?”

“Jangan kuatir!”, jawab laki-laki bermata segi tiga itu sambil tertawa seram, “setelah puas menggebuk, kami tak akan datang untuk mencari gara-gara lagi denganmu”

Ia berjalan menghampiri A-kit kemudian menepuk-nepuk bahunya sambil mengejek: “Bocah keparat inipun bukan manusia sembarangan, rasanya toaya sekalian juga enggan untuk mencari gara-gara dengannya”

“Lantas siapa yang kalian cari?”, teriak Lo Biau-cu.

“Heeehhh….heeehhh…..heeehhh…siapa lagi? Tentu saja mencari adik perempuanmu!”

Tiba-tiba ia memutar tubuhnya dan menatap si Boneka tajam-tajam, sinar buas memancar keluar dari sepasang mata segitiganya yang menyeramkan itu.

“Hayo kita berangkat, siau-moay-cu!”

Paras muka si Boneka berubah hebat.

“Kaa…….kalian…….kalian hendak membawaku pergi kemana?”, bisiknya dengan suara gemetar.

Laki-laki bermata segitiga itu tertawa dingin.

“Heeeeehhh…..heeeehh….heeeeehh……kemana kita harus pergi, kesitulah kita pergi. Lebih baik kau tak usah berlagak pilon di hadapan kami……..mengerti!”

Si Boneka mundur terus selangkah demi selangkah dengan ketakutan.

“Apakah beristirahat seharipun tak boleh?”, keluhnya.

“Kau adalah orang yang paling laris di antara orang-orangnya Han toa-nay-nay, sehari tidak bekerja, berapa tahil perak kita bakal rugi? Kalau tak ada uang untuk kita, dengan apa kita musti makan?”

“Tapi Han toa-nay-nay telah mengabulkan permintaanku, dia……………..”

“Anggap saja apa yang telah ia katakan sebagai kentut anjing yang paling bau, andaikata tak ada kami bersaudara, sampai hari inipun dia tak lebih cuma seorang pelacur, pelacur tua yang sehari menjadi pelacur, sehari pula harus menjajakan tubuhnya………………”

Si boneka tak ingin laki-laki itu melanjutkan kata-kata kotornya, dengan suara keras ia menukas:

“Kumohon kepada kalian lepaskanlah diriku selama dua hari ini, mereka semua telah terluka, tidak enteng luka yang mereka derita………kumohon kepada kalian, bermurahlah hati, lepaskanlah aku selama dua hari ini………….”

“Mereka? Siapakah mereka?”, jengek laki-laki bermata segi tiga itu, “sekalipun yang seorang adalah kakakmu, yang seorang lagi itu manusia macam apa?”

Dua orang laki-laki yang membawa pisau belati itu segera maju bersama sambil berkata pula:

“Kami kenal dengan bajingan cilik ini. Ia pernah bekerja sebagai pelayan di gedungnya Han toa-nay-nay, sudah pasti dia punya hubungan gelap dengan pelacur kecil itu”

“Bagus, bagus sekali!”, kata laki-laki bermata segi tiga itu.

Tiba-tiba sambil memutar tubuhnya, ia menampar wajah A-kit keras-keras, kemudian makinya:

“Sungguh tak kusangka kau pelacur kecil masih mempunyai simpanan gendak macam bajingan cilik ini……………..Hmmm, bila kau tak mau ikut kami pergi, pertama-tama dialah yang akan kami bereskan dulu”

Sambil mengancam, ia menggerakkan kakinya lagi untuk menendang selangkangan A-kit.

Tapi si Boneka sudah keburu menubruk ke muka, menubruk ke atas tubuh A-kit, teriaknya setengah menjerit: “Sampai matipun aku tak akan pergi bersama kalian, lebih baik kalian bunuhlah aku lebih dulu”

“Pelacur busuk, kau benar-benar pingin mampus?”, hardik laki-laki bermata segi tiga itu.

Kali ini sebelumnya ia sempat mengangkat kakinya, Lo Biau-cu telah menarik bahunya sambil membentak.

“Kau mengatakan dia sebagai apa?”

“Pelacur busuk, tahu dengan Pelacur busuk?”

Apapun tidak diucapkan lagi oleh Lo Biau-cu, kepalannya yang lebih besar dari mangkuk itu langsung ditonjokkan ke wajah laki-laki bermata segi tiga itu.

Sekalipun laki-laki itu kena dijotos keras-keras, akan tetapi dia sendiripun harus menerima dua buah tendangan keras dari dua orang di sampingnya, begitu keras tendangan itu membuatnya kesakitan dan berguling di atas tanah dengan keringat dingin bercucuran.

Pada saat itulah si nenek menerjang keluar dari dapur dengan membawa sebilah pisau dapur, jeritnya: “Kalian kawanan bajingan, aku lo-tay-po akan beradu jiwa dengan kalian semua!”

Pisau itu langsung dibacokkan ke atas tengkuk dari laki-laki bermata segi tiga itu.

Tentu saja bacokan tersebut tidak mengenai sasarannya.

Tahu-tahu pisau dapur itu sudah dirampas oleh laki-laki bermata segi tiga, kemudian sekali mengayunkan tangannya, dengan gaya bantingan yang manis, ia banting tubuh nenek itu keras-keras ke atas tanah.

Si Boneka segera menerjang ke depan ibunya dan memeluk erat-erat nenek itu sambil menangis tersedu-sedu.

Nenek reyot yang sepanjang hidupnya harus menderita dan sengsara hidupnya ini mana sanggup menerima bantingan yang sangat keras itu……..

“Hmmm, dia sendiri yang kepingin mampus….”, kata laki-laki itu.

Kata ‘mampus’ baru saja diucapkan keluar, sambil berpekik keras, bagaikan harimau terluka dengan sempoyongan Lo Biau-cu menerkam ke depan.

Sekalipun sekujur badannya telah babak belur penuh dengan luka, bahkan tenaga untuk berdiripun tak ada, akan tetapi ia masih nekad untuk beradu jiwa.

Ia memang bersiap-siap untuk beradu jiwa dengan kawanan bajingan itu.

“Kau juga kepingin mampus?”, bentak laki-laki bermata segi tiga itu dengan suara mengerikan.

Dalam genggamannya masih memegang pisau dapur yang baru saja berhasil dirampasnya itu, asal ada pisau maka ia dapat membunuh orang.

Manusia semacam laki-laki itu tak pernah takut untuk membunuh orang, pisaunya langsung diayunkan ke depan untuk menusuk dada Lo Biau-cu.

Sepasang mata Lo Biau-cu telah memerah darah, hakekatnya ia tak ingin menghindari tusukan tersebut, iapun tak dapat menghindarinya, akan tetapi tusukan itu justru mengenai sasaran yang kosong.

Baru saja ujung pisau itu akan menusuk ke dadanya, Lo Biau-cu telah terdorong pergi dari situ.

A-kitlah yang mendorongnya.

Padahal A-kit sendiri tak sanggup berdiri tegap, akan tetapi ternyata ia berdiri juga, malah tepat berdiri di hadapan laki-laki bermata segi tiga itu.

“Kaa…..kalian terlalu menyiksa orang, kalian terlalu menyiksa orang……”, katanya kepada laki-laki itu.

Suaranya amat parau, mungkin lantaran terpengaruh oleh emosi, ia tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya.

Laki-laki bermata segi tiga itu tertawa dingin.

“Heeehhhh….heeeehhhh…heehhh…apa yang kau inginkan? O, atau mungkin ingin membalas dendam kepada kami?”

“Aku….aku…..”

“Pokoknya kalau mau memang jantan dan bernyali, ambillah pisau dapur ini dan gunakanlah untuk membunuh aku”, tantang laki-laki bermata segi tiga itu.

Ternyata ia benar-benar mengangsurkan pisau dapur itu ke hadapannya, malah katanya kembali: “Asal kau punya keberanian untuk membunuh orang, aku akan takluk kepadamu! Aku akan menganggapmu sebagai seorang laki-laki sejati”

A-kit tidak menyambut pisau dapur itu.

Tangannya masih gemetar keras, sekujur tubuhnya ikut gemetar, bahkan gemetar tiada hentinya.

Laki-laki bermata segi tiga itu tertawa tergelak, ia cengkeram rambut si Boneka lalu menyeret perempuan itu, bentaknya: “Hayo jalan!”

Si Boneka tidak ikut pergi.

Tiba-tiba tangannya dicekal oleh sebuah tangan lain, sebuah tangan yang kuat dan bertenaga. Ia merasa tulang belakangnya hampir saja tergenggam remuk.

Ternyata tangan yang menggenggam tangannya itu adalah tangan dari A-kit, A-kit yang tak berguna.

Laki-laki bermata segi tiga itu mendongakkan kepalanya, lalu dengan terkejut menatapnya lekat-lekat.

“Kau….kau berani melawan aku?”, teriaknya.

“Aku tidak berani, aku adalah manusia tak becus, aku tak berani membunuh orang, akupun tak ingin membunuh orang”

Pelan-pelan ia mengendorkan genggamannya.

“Kalau begitu akulah yang akan membunuhmu!”, teriak laki-laki bermata segi tiga itu dengan segera.

Dengan mempergunakan pisau dapur itu, ia tusuk tenggorokan A-kit dengan kecepatan bagai kilat.

A-kit sama sekali tak bergerak, diapun tidak bermaksud untuk menghindarkan diri, cuma lengannya dikebaskan pelan ke depan, lalu kepalannya menyodok ke muka.

Sebetulnya laki-laki bermata segi tiga itu turun tangan lebih dahulu, akan tetapi sebelum tusukan tersebut berhasil menembusi tenggorokan lawan, kepalan A-kit telah bersarang lebih dulu di atas dagunya.

Tiba-tiba saja seluruh tubuhnya terangkat dan melayang ke udara.

“Blaaang….!” Punggungnya menghancurkan daun jendela dan mencelat ke luar dari ruangan kemudian…”Duuukkk!” setelah menumbuk lagi di atas dinding rendah, tubuhnya baru terhenti.

Sekujur tubuhnya telah berubah menjadi lemas bagaikan segumpal lumpur yang tiba-tiba tercerai berai, selamanya ia tak sanggup untuk bangkit kembali.

Setiap orang tertegun, setiap orang memandang ke arah A-kit dengan sinar mata terkejut.

A-kit sama sekali tidak memandang ke arah mereka, sepasang matanya terasa kosong melompong sama sekali tanpa perasaan, sama sekali tanpa emosi, seakan-akan perbuatannya itu justru menambah penderitaan dan siksaan dalam batinnya.

Si kusir kereta yng selama ini hanya bertolak pinggang di muka rumah, tiba-tiba melompat ke atas sambil membentak: “Bereskan dia!”

Kata-kata itu merupakan kata sandi dari para berandal kota yang artinya lawan mereka harus dibunuh sampai mati.

Dua orang berandal muda yang membawa pisau belati itu ragu-ragu sejenak, akhirnya mereka cabut ke luar pisau belatinya.

Kedua bilah pisau belati itu pernah menusuk tujuh-delapan kali di tubuh A-kit, dan sekarang pada saat yang bersamaan digunakan untuk menusuk bagian mematikan di bawah ketiak lawan.

Sayang, tusukan mereka kali ini mengenai sasaran kosong.

Tanpa diketahui sebab musababnya, tiba-tiba saja kedua orang berandal muda yang kekar dan berotot itu roboh ke atas tanah dan tertelungkup dengan keadaan yang lemas bagaikan segumpal tanah berlumpur.

Sebab ketika A-kit merentangkan sepasang tangannya, tenggorokan mereka berdua telah terbabat telak. Ketika mereka roboh ke tanah, kesempatan menjeritpun tak ada.

Paras muka si kusir kereta berubah hebat, selangkah demi selangkah ia mundur terus ke belakang.

A-kit sama sekali tidak memandang ke arahnya walau cuma sekejap matapun, hanya katanya dengan hambar: “Berhenti!”

Kali ini si kusir kereta sangat penurut, ia seakan-akan berubah menjadi seorang anak yang penurut, ketika di minta untuk berhenti, ia betul-betul berhenti.

“Sesungguhnya aku sudah tak ingin membunuh orang lagi, mengapa kalian memaksaku untuk berbuat lagi?”, kata A-kit dengan suara mengeluh.

Kemudian ia menundukkan kepalanya dan memandang sepasang tangannya dengan wajah sedih dan penuh penderitaan.

Ya, ia sangat sedih dan menderita, sebab sepasang tangannya kembali telah berlepotan darah, darah manusia!.

Tiba-tiba si kusir kereta membusungkan dadanya lalu berteriak dengan suara lantang: “Sekalipun kau membunuh pula diriku, jangan harap kau sendiri dapat meloloskan diri!”

“Aku tak akan pergi!”, jawab A-kit

Kemudian dengan mimik wajah lebih sedih dan menderita, sepatah demi sepatah ia melanjutkan: “Sebab aku sudah tiada jalan lain untuk pergi!”

Ketika kusir kereta itu menyaksikan musuhnya menundukkan kepala dan lengah, ia segera bertindak cepat. Kesempatan sebaik ini tak akan disia-siakan dengan begitu saja. Tiba-tiba ia turun tangan, sebilah pisau terbang disambitkan ke arah dada A-kit.

Tapi pisau terbang itu secara tiba-tiba terbang kembali lagi, bahkan menancap di atas bahu kanannya, tepat menembusi tulang persendian dan memotong urat syarafnya.

Dengan begitu, maka tangan itupun praktis menjadi lumpuh untuk selamanya, tak mungkin lagi dipakai untuk membunuh orang.

“Aku tak akan membunuhmu, karena aku berharap kau bisa pulang dalam keadaan hidup”, kata A-kit pelan, “beritahu kepada Thi-tau toako kalian, beritahu juga kepada toa-tauke kalian, akulah pembunuhnya. Bila mereka ingin membalas dendam, datang saja mencariku. Jangan menyeret mereka yang tak berdosa dan tak tahu urusan”

Peluh dingin telah membasahi seluruh tubuh si kusir kereta, sambil mengertak gigi menahan sakit, katanya: “Bajingan cilik, anggap saja kau memang hebat!”

Setelah melompat keluar dari pintu ruangan, tiba-tiba ia berpaling sambil teriaknya kembali: “Jika kau memang betul-betul hebat, sebutkan namamu!”

“Aku bernama A-kit, A-kit yang tak berguna!”

Malam sudah semakin larut, cahaya lampu yang redup menyinari ruangan sempit di balik lorong yang apek.

Sinar redup yang kemerah-merahan itu menyinari mayat si nenek di atas pembaringan, menyinari pula wajah si Boneka dan Lo Biau-cu yang pucat pias bagaikan mayat.

Inilah ibu mereka, ibu kandung yang dengan susah payah memelihara mereka serta membesarkan mereka hingga menjadi dewasa, tapi apakah balasan mereka?

A-kit berdiri jauh di sudut ruangan, di tempat yang remang-remang sambil menundukkan kepalanya, ia seakan-akan tidak berani berhadapan muka dengan mereka.

Sebab, sebetulnya nenek itu tak perlu mati konyol, asal ia berani menghadapi kenyataan, maka perempuan tua yang baik hati itu tak akan mati secara mengenaskan.

Tiba-tiba Lo Biau-cu berpaling ke arahnya, kemudian katanya: “Pergilah kau!”

Kulit wajahnya telah mengejang lantaran sedih dan tersiksa, kembali katanya:

“Kau telah membalaskan dendam buat ibu kami, sebetulnya kami berterima kasih kepadamu, tetapi…….tetapi saat ini kamipun tak sanggup untuk menahan dirimu lagi”

A-kit tidak bergerak, diapun tidak berkata apa-apa.

Ia dapat memahami maksud hati Lo Biau-cu. Ia diminta pergi karena mereka tak ingin menyulitkan dirinya lagi.

Tapi, bagaimanapun juga ia tak akan pergi.

Tiba-tiba Lo Biau-cu berteriak keras: “Sekalipun kami pernah melepaskan budi kepadamu, budi itu telah kau balas. Sekarang mengapa kau tidak juga pergi meninggalkan tempat ini?”

“Benarkah kau mengharap kepergianku? Baiklah, hanya ada satu cara untuk memaksaku pergi dari sini”

“Bagaimana caranya?”

“Bunuhlah aku, kemudian gotong mayatku meninggalkan tempat ini!”

Lo Biau-cu menatapnya tajam-tajam, tiba-tiba airmatanya jatuh bercucuran membasahi pipinya, dengan suara keras ia berseru:

“Aku tahu kau mempunyai ilmu silat yang tinggi, kau anggap masih mampu untuk menghadapi mereka, tapi tahukah engkau manusia-manusia macam apakah mereka itu?”

“Aku tidak tahu!”

“Bukan saja mereka punya uang, merekapun mempunyai kekuasaan, tukang pukul yang dipelihara toa tauke nya paling sedikit mencapai tiga sampai lima ratus orang, diantaranya yang paling lihay adalah manusia yang bernama Thi-tau (si kepala baja), Thi-jiu (si tangan baja) dan Thi-hau (si harimau baja). Konon mereka semua dulunya adalah perompak-perompak ulung yang membunuh orang tak berkedip di samudra bebas, kemudian karena dicari terus oleh petugas negara, akhirnya mereka berganti nama dan menyembunyikan diri di sini”

Setelah berhenti sejenak, kembali teriaknya: “Sekalipun ilmu silat yang kau miliki terhitung lumayan juga, akan tetapi setelah kau jumpai ketiga orang itu, maka hanya kematian yang bakal kau temui!”

“Pada hakekatnya aku memang tiada jalan lain kecuali tetap berdiam di sini!”

Ia menundukkan kepalanya rendah-rendah, bayangan hitam tampak menyelimuti seluruh wajahnya.

Sekalipun Lo Biau-cu tidak menyaksikan sendiri perubahan mimik wajahnya, akan tetapi ia dapat mendengar kepedihan serta kebulatan tekadnya dari ucapan tersebut.

Kepedihan terhitung pula sejenis kekuatan, semacam kekuatan yang dapat mendorong seseorang untuk melakukan banyak perbuatan yang tak berani ia lakukan diwaktu-waktu biasa.

Akhirnya Lo Biau-cu menghela napas panjang.

“Baiklah, jika kau memang ingin mampus, marilah kita mampus bersama-sama…”, katanya.

“Bagus, bagus sekali!”, terdengar seseorang menanggapi dari luar pintu dengan suara dingin dan mengerikan.

“Blaaang……!” pintu dapur yang begitu tebal dan kuat itu mendadak di hantam sehingga muncul sebuah lubang yang besar.

Sebuah kepalan tangan menjulur masuk ke dalam pintu, tapi dengan cepatnya di tarik kembali.

Menyusul kemudian…….”Blaaaaang….” di atas dinding rumah yang berada di sisi pintu muncul pula sebuah lubang besar.

Keras dan dahsyat memang pukulan kepalan orang itu!.

Pelan-pelan A-kit berjalan ke luar dari tempat kegelapan dan maju ke muka untuk membuka pintu.

Di luar pintu berdiri sekelompok manusia, seorang laki-laki berperawakan tinggi besar dan berpakaian perlente sedang menggosok-gosok kepalan tangan kanannya dengan tangan kiri.

Ketika A-kit muncul membukakan pintu, dengan sinar mata tajam ditatapnya orang itu lekat-lekat, kemudian tegurnya: “Engkaukah yang bernama A-kit yang tak berguna?”

“Ya, akulah orangnya!”

“Aku bernama Thi-kun (kepalan baja) A-yong!”

“Terserah apapun namamu, bagiku adalah sama saja”

“Hmm! Sekalipun nama itu sama, namun kepalanku tidak sama!”, jengek Kepalan Baja A-yong dengan ketus.

“Oooh….benarkah begitu?”

“Hmm! Konon orang bilang kau lelaki yang hebat, jika berani kau sambut sebuah kepalanku, maka akupun akan menganggapmu sebagai laki-laki yang hebat pula”

“Silahkan!”

Paras muka Lo Biau-cu berubah hebat. Si Boneka menggenggam tangannya erat-erat. Tangan mereka berdua telah berubah menjadi sedingin es.

Mereka semua telah melihat bahwa A-kit tak ingin hidup lagi, kalau tidak mengapa ia begitu berani untuk menyambut pukulan baja yang sanggup menjebolkan dinding rumah itu?

Akan tetapi, bagaimanapun jua hanya sebuah jalan kematian yang mereka miliki, mati sekarang juga boleh, mati belakang juga sama saja, apa pula bedanya suatu kematian?

Tiba-tiba Lo Biau-cu menerjang ke depan kemudian teriaknya setengah menjerit: “Kalau kau berani, hayo pukul aku lebih dulu!”

“Kenapa tidak berani?”, ejek A-yong, si Kepalan Baja itu sambil tertawa sinis.

Begitu ia berkata akan memukul, kepalannya langsung disodok ke muka menghantam raut wajah Lo Biau-cu.

Setiap orang dapat mendengar suara remuknya tulang belulang, cuma yang remuk bukan tulang wajah Lo Biau-cu. Yang remuk adalah tulang kepalan dari si Kepalan Baja A-yong.

A-kit turun tangan secara tiba-tiba, kepalan tersebut tepat menghajar di atas kepalan lawan, setelah itu sambil putar tubuhnya, sebuah kepalan lain mampir pula di atas perutnya.

Si Kepalan Baja A-yong kesakitan setengah mati bagaikan udang yang dimasukkan ke dalam air mendidih, tubuhnya langsung melingkar dan bergulingan di atas tanah.

Pelan-pelan A-kit mengalihkan kembali perhatiannya ke arah kawanan manusia di belakangnya.

Manusia-manusia itu datang dengan membawa senjata lengkap, akan tetapi tak seorangpun di antara mereka yang berani berkutik.

“Beritahu kepada toa-tauke kalian, apabila ingin merenggut nyawaku, lebih baik carilah pembantu-pembantu yang lumayan, sebab manusia-manusia semacam itu masih belum pantas untuk dihadapkan kepadaku!”, kata A-kit.

Daun-daun di kebun belakang telah memerah, bunga sakura mekar bagaikan emas yang berkilauan.

Sambil bergendong tangan, toa-tauke sedang menikmati bunga sakura sambil gumamnya:

“Menunggu kepiting-kepiting besar dari telaga Yang-teng-ou di kirim sampai kemari, siapa tahu waktunya bersamaan dengan mekarnya bunga-bunga sakura ini”

Ia menghembuskan napas panjang, lalu gumamnya lagi: “Oooh…….betapa indahnya waktu itu, betapa indahnya saat seperti itu…..”

Sekelompok manusia berdiri di belakangnya, seorang laki-laki setengah umur yang mengenakan baju berwarna hijau dengan potongan seperti seorang siucay yang gagal dalam ujian berdiri sangat dekat dengannya, sementara Kepalan Baja A-yong dengan tangan yang dibalut dengan kain berdiri paling jauh……..

Baik mereka yang berdiri sangat dekat, maupun mereka yang berdiri paling jauh, di saat toa-tauke sedang menikmati bunga, tak seorang manusiapun berani membuka suara.

Toa-tauke membungkukkan badannya seperti mau mencium harumnya bunga, tiba-tiba tangannya berkelebat dan menjepit seekor ulat terbang dengan kedua jari tangannya, setelah itu pelan-pelan tanyanya: “Menurut kalian, siapa nama orang itu?”

Manusia berbaju hijau itu memandang ke arah Kepalan Baja A-yong.

Serta merta Kepalan Baja A-yong menjawab: “Ia bernama A-kit, A-kit yang tak berguna!”

“A-kit? A-kit yang tak berguna?”

Dengan mempergunakan kedua buah jari tangannya ia menjepit ulat terbang itu sampai mati kemudian sambil memutar badannya, ia menatap A-yong tajam-tajam, katanya lagi dengan suara dingin: “Ia bernama A-kit yang tak berguna dan kau bernama Kepalan Baja A-yong…..?”

“Benar!”

“Kepalanmu yang lebih keras atau kepalannya yang lebih keras?”, tanya toa-tauke lagi.

Kepalan Baja A-yong menundukkan kepalanya memandang kepalan sendiri yang dibalut kain, terpaksa ia harus mengakuinya: “Kepalannya lebih keras daripada kepalanku!”

“Kau yang lebih berani? Atau dia?”

“Dia lebih pemberani!”

“Kau yang tak berguna atau dia?”

“Aku yang tak berguna!”

Toa-tauke menghela napas panjang.

“Aaaai….jadi kalau begitu, aku rasa semestinya namamu tidak cocok memakai nama sekarang”

“Benar!”

“Kalau memang begitu, mengapa tidak kau rubah namamu menjadi Si Sampah yang Tak Berguna A-kau (si anjing)?”

Paras muka Kepalan Baja A-yong yang pucat pias seperti mayat, kini mulai mengejang keras.

Manusia berbaju hijau yang selama ini hanya berdiri membungkam di sisi gelanggang, tiba-tiba maju sambil memberi hormat, lalu katanya: “Ia telah berusaha dengan sepenuh tenaga”

Sekali lagi toa-tauke menghela napas panjang, sambil mengulapkan tangannya ia berkata: “Lebih baik suruh dia enyah saja dari sini!”

“Baik!”

“Beri juga sedikit uang untuk merawat lukanya, setelah luka itu sembuh baru datang menjumpai diriku lagi”

Dengan suara lantang manusia berbaju hijau itu segera berteriak: “Toa tauke suruh kau mengambil seribu tahil perak di kasir, kenapa tidak cepat-cepat kau ucapkan terima kasih?”

Kepalan Baja A-yong segera maju dan menyembah berulang kali.

Toa-tauke kembali menghela napas panjang, sambil memandang ke arah manusia berbaju hijau itu dengan senyuman getir di kulum, katanya: “Begitu membuka suara lantas mengeluarkan seribu tahil perak, kau benar-benar seorang yang royal!”

“Sayang seribu kali sayang, yang kuroyalkan bukan harta milikku sendiri…..”, sambung manusia berbaju hijau itu sambil tertawa.

Toa-tauke tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…….haaaahhhh…….haaahhhhh……ada suatu kebaikan paling besar yang kau miliki, yakni kau suka berbicara terus terang!”

Menunggu gelak tertawanya telah berhenti, manusia berbaju hijau itu baru berbisik: “Aku masih ada beberapa perkataan jujur hendak kusampaikan kepadamu……..”

Toa-tauke segera mengulapkan tangannya seraya berseru: “Kalian mundur semua!”

Dengan cepat semua orang mengundurkan diri dari situ.

Suasana dalam halaman belakang kembali menjadi hening.

Matahari sore telah terbenam dan meninggalkan bayangan tubuh toa-tauke yang amat panjang di permukaan tanah.

Ia sedang menikmati bayangan tubuh sendiri.

Sungguhpun tubuhnya gemuk lagi pendek, akan tetapi ia lebih suka menikmati bayangan tubuhnya yang kurus dan jangkung itu.

Sebaliknya manusia berbaju hijau itu kurus lagi jangkung, tapi ketika ia membungkukkan badannya, toa-tauke tak usah lagi memandangnya sambil mendongakkan kepalanya.

Sekalipun ia sudah membungkukkan badannya, namun suara bisikannya masih tetap amat rendah:

“A-kit yang tak berguna itu sesungguhnya bukan seorang manusia yang tak berguna”

Toa-tauke hanya mendengarkan dengan seksama.

Setiap kali orang ini sedang berbicara, toa-tauke selalu akan mendengarkannya dengan seksama.

“Kepalan Baja A-yong berasal dari perguruan Khong-tong, meskipun belakangan ini pihak Khong-tong kekurangan manusia berbakat, tapi ilmu silat mereka yang tunggal tetap merupakan kepandaian yang hebat”

“Ehmmm……..ilmu silat aliran Khong-tong memang tidak termasuk kepandaian jelek”

“Di antara murid-murid partai Khong-tong, A-yong selalu merupakan jagoan yang paling keras. Sebelum diusir dari perguruannya ia pernah membereskan empat orang hwesio dari partai Siau-lim dan dua jago pedang dari partai Bu-tong”

“Tentang kejadian-kejadian tersebut aku sudah tahu, kalau tidak mengapa aku musti membuang uang sebesar delapan ratus tahil perak sebulan untuk menggajinya?”

“Akan tetapi A-kit yang tak berguna dapat memusnahkan dirinya dalam sekali gebrakan. Dari sini dapat diketahui bahwa A-kit sesungguhnya bukan seorang manusia sembarangan!”

Toa-tauke tertawa dingin tiada hentinya.

“Yang lebih mengherankan lagi, ternyata tak seorang manusiapun yang mengetahui asal usulnya walaupun sudah dilakukan penyelidikan terhadap wilayah seluas beberapa ratus li di sekitar sini”

“Jadi kau telah mengadakan penyelidikan yang seksama?”

“Aku telah mengirimkan enam puluh tiga orang untuk melakukan penyelidikan. Mereka semua merupakan manusia-manusia yang paling tajam pendengarannya di tempat ini. Kini sudah tiga puluh satu orang yang telah kembali, namun mereka tidak berhasil mendapatkan berita apa-apa”

Sebetulnya toa-tauke sedang berjalan ke muka dengan langkah yang pelan, tiba-tiba ia berpaling sambil berhenti, lalu tegurnya: “Sebenarnya apa yang ingin kau katakan?”

“Selama orang ini berada di sini, cepat atau lambat dia pasti akan merupakan bibit bencana buat kita”

“Kalau begitu kau cepat-cepat kirim orang untuk membekuk manusia tersebut!”

“Tapi, siapa yang akan kita utus?”

“Thi-tau………! Si Kepala Baja”

“Ilmu Yau-tau-kuan-teng (minyak kepala menggapai puncak) dari Toa Kang memang jarang ada orang yang bisa menandinginya”

“Ya, dengan mata kepalaku sendiri kusaksikan ia menumbuk sebatang pohon hingga tumbang”, kata Toa-tauke.

“Sayang sekali A-kit bukan sebatang pohon!”

“Kepandaian gwakangnya juga termasuk hebat sekali!”

“Tapi jika dibandingkan ilmu kepalan baja dari A-yong, paling banter cuma lebih lihay sedikit”

“Jadi menurut pendapatmu, diapun tak akan mampu menghadapi A-kit yang tak berguna itu?”

“Bukannya tak mampu, cuma aku tidak terlampau yakin akan kemenangannya”, jawab manusia berbaju hijau itu.

Kemudian setelah berhenti sejenak, pelan-pelan sambungnya: “Aku masih ingat pesan dari toa-tauke, apabila tidak merasa yakin akan suatu pekerjaan, lebih baik janganlah kau lakukan!”

Sambil tersenyum toa-tauke manggut-manggut, agaknya ia merasa puas sekali dengan ucapan tersebut.

Ia senang kalau orang lain mengingat selalu perkataannya, lebih baik lagi kalau setiap patah katanya dapat teringat dengan jelas.

“Setelah kupikir pulang pergi, akhirnya aku berkesimpulan bahwa hanya satu orang dari pihak kami yang sanggup menghadapinya”, kata manusia berbaju hijau itu kemudian.

“Kau maksudkan Thi-hau, si Macan Baja?”

Manusia berbaju hijau itu manggut-manggut.

“Tentu saja toa-tauke juga mengetahui asal-usulnya, orang ini cerdik dan cekatan, dalam pertarungan-pertarungan biasa jarang sekali ia perlihatkan ilmu silatnya yang sebetulnya, padahal ilmu silat yang dimilikinya beberapa kali lipat lebih tinggi dari kepandaian Toa Kang maupun A-yong…….!”

“Sampai kapan dia baru akan tiba kembali di sini?”

“Tugas yang ia laksanakan kali ini tidak terlampau sulit. Menurut pendapatku, paling cepat harus menunggu belasan hari lagi”

Paras muka Toa-tauke segera berubah membesi, katanya: “Apakah sekarang kita sudah tak punya aksi lain untuk menghadapi A-kit yang tak berguna ini?”

“Tentu saja ada!”

Setelah tersenyum, laki-laki berbaju hijau itu menambahkan: “Hanya ada satu cara yang bisa kita lakukan untuk menghadapi dirinya”

“Cara yang bagaimanakah itu?”

“Mengulur waktu!”

Kemudian tambahnya lebih jauh: “Kita mempunyai ilmu silat, kitapun mempunyai uang, sebaliknya bagi mereka soal makanpun masih merupakan persoalan, apalagi setiap saat mereka harus waspada menghadapi kita. Di waktu malam mereka tentu tak dapat tidur nyenyak, maka jika kita mengulur waktu tiga sampai lima hari lagi, tanpa kita turun tanganpun, mereka bakal konyol dengan sendirinya”

Toa-tauke tertawa tergelak, ditepuknya bahu orang itu keras-keras, kemudian pujinya: “Bocah muda, kau betul-betul hebat, tak heran kalau orang lain memanggilmu sebagai Tiok-yap-cing”

Tiok-yap-cing juga merupakan nama dari sejenis arak keras, jarang sekali ada orang yang bisa minum arak tersebut tanpa jatuh mabuk.

Tiok-yap-cing juga merupakan nama dari sejenis ular beracun, racunnya jahat sekali dan tiada tandingannya di kolong langit.

Tiba-tiba Toa-tauke bertanya: “Sekalipun kita tidak pergi mencarinya, bagaimana seandainya dia yang datang mencari kita?”

“Bila seseorang hendak mencari orang lain untuk beradu jiwa, mungkinkah dia akan membawa seorang laki-laki dungu yang sedang terluka parah serta seorang lonte busuk yang hanya bisa menjajakan tubuhnya?”

“Tidak mungkin”

“Maka dari itu, apabila dia akan keluar untuk mencari kita, berarti orang Biau itu pasti akan ditinggalkan dengan begitu saja”

“Tapi dia toh bisa menyembunyikan mereka?”

“Semua orang dalam kota adalah orang-orang kita, lagi pula aku telah memasang mata-mata di sekitar rumahnya, dapatkah ia membawa mereka pergi menyembunyikan diri?”

“Heeeehh…..heeehhhh……heeehhhhh……kecuali mereka dapat seperti cacing-cacing yang bisa menerobos masuk ke dalam tanah”, kata Toa-tauke sambil tertawa dingin.

“Kali ini A-kit bersedia mengadu jiwa lantaran dia memikirkan nasib kedua orang bersaudara itu, andaikata mereka berdua sampai terjatuh di tangan kita, bukankah A-kit secara otomatis akan berada pula dalam cengkeraman toa-tauke?”

Mendengar perkataan itu, toa-tauke segera mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak.

“Haaaahhhh………..haaaahhhh…..haaahhhhh……bagus, bagus sekali, kalau begitu mari kita minum arak menikmati bunga di sini sambil menunggu mereka datang menghantar kematiannya”

Tiok-yap-cing tersenyum.

“Aku jamin tak sampai tiga hari, mereka pasti sudah tiba di sini”

Senja telah menjelang tiba.

Baru saja si Boneka mengambil semangkuk kuah daging, air matanya setitik demi setitik telah jatuh berlinang.

Kuah daging tak akan membuat orang mengucurkan air mata, yang membuat air matanya berlinang adalah orang yang membeli daging itu serta memasak kuah tersebut. Kini kuah dagingnya masih utuh, tapi orangnya sudah dikubur dalam tanah.

Siapakah yang akan tega makan kuah daging tersebut? Tetapi dia harus menyuruh mereka makan kuah daging itu, sebab mereka membutuhkan tenaga, orang yang lapar tak mungkin punya tenaga.

Setelah membesut air matanya, ia membawa dua mangkuk kuah daging dan dua biji bakpao kering itu keluar dari dalam dapur.

A-kit masih tetap duduk di sudut ruangan, di tempat yang remang-remang.

Ia menghampirinya dan meletakkan semangkuk kuah daging dan sebiji bakpao di atas meja tepat dihadapannya. A-kit belum juga berkutik, iapun tidak berkata apa-apa.

Kemudian si Boneka dengan membawa sisa semangkuk kuah daging dan sebiji bakpao itu meletakkan di hadapan kakaknya.

“Mumpung kuah daging ini masih panas, cepatlah kalian makan!”, katanya lirih.

“Bagaimana dengan kau?”, tanya Lo Biau-cu.

“Aku……..aku tidak lapar!”

Benarkah ia tidak lapar?

Bila seseorang sudah dua hari semalam tidak makan apa-apa, mungkinkah ia tidak merasa lapar?

Ia tidak lapar karena itulah sisa makanan terakhir yang mereka miliki, justru karena mereka lebih membutuhkan kekuatan daripada dirinya sendiri.

Lo Biau-cu mendongakkan kepalanya memandang gadis itu, kemudian sambil menahan linangan air matanya, ia berbisik:

“Perutku agak kurang beres, tak akan muat untuk makan sebanyak ini, mari kita makan seorang setengah”

“Apakah tak boleh kalau aku tidak makan?”, tanya si Boneka sambil menahan linangan air matanya.

“Tidak! Tidak boleh!”

Baru saja Lo Biau-cu akan membagi bakpao itu menjadi dua bagian, tiba-tiba A-kit bangkit berdiri lalu berkata: “Kuah daging ini untuk si Boneka!”

“Tidak boleh, itu bagianmu!”, teriak Lo Biau-cu segera dengan suara lantang.

Tapi A-kit tidak ambil perduli, ia berlalu dari ruangan itu dengan langkah lebar.

Si Boneka segera maju sambil menarik tangannya.

“Heeey….kau hendak pergi ke mana?”

“Keluar rumah untuk makan!”, jawab A-kit.

“Di rumah masih ada makanan, mengapa kau harus makan di tempat luar…….?”

“Ya, karena aku tak ingin makan bakpao!”

Boneka menatapnya tajam-tajam.

“Kalau tak ingin makan bakpao, lantas ingin makan apa? Bukankah ingin makan kepalan baja?”

A-kit membungkam dalam seribu bahasa.

Akhirnya air mata si Boneka jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya, dengan lembut ia berkata:

“Aku dapat memahami maksud hatimu, bila waktu terus menerus di ulur seperti ini, maka akhirnya kita akan lebih menderita. Aku saja tidak tahan apalagi kau, akan tetapi………..!”

Seperti hujan gerimis air matanya jatuh bercucuran, dengan pedih katanya lagi:

“Akan tetapi kau harus tahu, semua orang di kota ini adalah orang mereka, buat apa kau musti pergi menghantar kematianmu?”

“Sekalipun harus menghantar kematian, hal itu jauh lebih baik daripada menunggu kematian di sini!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: