Kumpulan Cerita Silat

05/04/2008

Seri Maling Romantis: Rahasia Ciok Kwan Im (05): Terjebak

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 10:48 pm

Seri Maling Romantis
Rahasia Ciok Kwan Im (05): Terjebak
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Gumaha)

Dimulai sejak Oh Thi-hoa berani terjun ke dalam sungai di belakang rumahnya untuk berenang, ia sudah menyukai matahari, sejak itupula setiap hari cerah, matahari menyinarkan cahayanya yang gemilang, tak tahan lagi dia pasti mencopot pakaian, menjemur diri dipasir. Yang-ci-kiang di puncak Ai-ho-lau, di puncak Ceng-shia diatas budur, ditempat teduh di puncak Hoa-san, ditempat yang paling tinggi di Thaysan, dia pernah melihat bermacam-macam matahari. Ada yang terik dan panas seperti bara, laksana laki-laki kebakaran jenggot, ada pula yang halus lembut laksana pemuda perlente yang romantis, ada yang remang-remang gelap seperti pandangan si kakek yang sudah lamur, dan ada pula yang cemerlang menakjubkan seperti seraut muka gadis jelita.

Berani mati, selama hidup belum pernah dia lihat dan menghadapi terik matahari seperti ini. Meskipun matahari yang satu ini pula, tapi matahari ditengah padang pasir ini, mendadak berubah menjadi sedemikian kejam, ganas luar biasa, seolah-olah seluruh padang pasir ini hendak dibakarnya sampai menyala oleh teriknya itu.

Sedemikian panas terik matahari ini sampai Oh Thia-hoa tiada selera minum arak, hatinya pepat dan mengharap sang surya lekas terbenam keperaduannya, seorang pemabokan bila sampai tiada selera minum arak lagi, tentu dia sudah amat menderita serasa ingin mati saja.

Tiada angin, sedikitpun tak terasa adanya angin berlalu, tiada suara yang paling lirihpun ditengah terik mentari ini, seluruh jiwa kehidupan ditengah padang pasir ini, semuanya sudah terbenam dalam keadaan teler-teler hampir mati.

Sungguh tak tahan lagi, ingin rasanya Oh Thi-hoa melompat ke punggung unta dan mencak-mencak seperti orang kesetanan… pada saat itulah, entah dari mana datangnya, sayup-sayup ia mendengar suara rintihan. Rintihan yang amat lemah, tapi ditengah padan pasir yang tenang sunyi seperti tiada kehidupan ini, kedengarannya begitu jelas seperti seseorang berbisik di pinggir telinganya.

Tanpa berjanji, Coh Liu-hiang, Ki Ping-yan dan Oh Thi-hoa serempak menegakkan punggung duduk pasang kuping.

“Kalian mendengar suara itu?” tanya Oh Thi-hoa melebarkan matanya.

“Em!” Coh Liu-hiang mengiakan dengan suara dalam tenggorokan.

“Menurut pendengaranmu, suara apa itu?” tanya Oh Thi-hoa yang suka cerewet.

“Disekirar sini ada orang.” sahut Coh Liu-hiang.

“Tidak salah! Ada orang, tapi orang yang sudah dekat ajalnya.”

“Dari mana kau tahu?” jengek Ki Ping-yan dingin.

Oh Thi-hoa menyeringai, ujarnya: “Walau aku tidak suka membunuh orang, tapi suara rintihan orang meregang jiwa melayang ajal, sudah sering kudengar, menurut hematku, kalau orang itu bukan hampir mati kekeringan oleh terik matahari tentu melayang ajal karena dahaga.”

Pada saat itu pula, terdengar suara erangan lain kumandang, Oh Thi-hoa sudah tau suara rintihan ini datang dari belakang gundukan pasir tinggi di sebelah kiri sana. Kontan Oh Thi-hoa lompat turun dari punggung ontanya, serunya: “Di sana orangnya, lekas kita tengok kesana.”

“Seseorang yang melayang ajal, apanya sih yang enak kau tonton?” tukas Ki Ping-yan dingin.

“Apanya yang bisa ditonton?” teriak Oh Thi-hoa. “Kau tahu ada orang hampir mati, memangnya kau cuma melihat saja tanpa sudi menolongnya?”

“Sejak mula sudah kuberi tahu, kepada kau, di atas padang pasir ini, setiap hari kau bisa bertemu dengan sepuluh manusia yang meronta-ronta menjelang ajal, jikalau kau ingin menolong orang, jangan kau lakukan pekerjaan lain.”

Oh Thi-hoa berjingkrak, serunya: “Kau… memangnya kau tidak mau menolong orang yang hampir mati?”

“Memangnya kedatangan kita kemari hanya untuk menolong orang hampir mati?”

“Begitu kejam hatimu!”

“Ditempat setan seperti ini, hanya orang yang berhati baja saja yang bisa tetap bertahan hidup, bilamanapun kau hampir mampus, jelas takkan ada orang yang mau menolong kau, karena bila ada orang sudi membagi air kepadamu dia sendiri bakal mati karena dahaga.”

Coh Liu-hiang tersenyum, timbrungnya: “Tapi bukankah air kita sekarang cukup berlebihan?”

“Terdapat sejenis manusia lain di dalam padang pasir ini jikalau kau menolong dia disaat tenaganya pulih badan menjadi segar kembali, malah mungkin dia membunuhmu, lalu merampas ramsum dan binatang tungganganmu tinggal lari!”

“Mengandalkan kekuatan kami bertiga, manusia mana dalam dunia ini yang mampu membunuh kami?”

“Benar!” sela Oh Thi-hoa memberi dukungan.

“Siapa bisa membunuh kita?” lalu ia melotot kepada Ki Ping yan, sambungnya: “Agaknya bukan saja hatimu semakin kejam dan telengas, malah nyalimu justru semakin kecil, seorang bila mempunyai uang terlalu banyak, mungkin bisa berubah seperti keadaanmu sekarang.”

Membeku roman muka Ki Ping-yan, ia tak banyak bicara lagi.

“Peduli kau sudi tak pergi menolong orang, aku pasti akan kesana melihatnya.”

Coh Liu-hiang tersenyum, “Kalau mau pergi mari kita bersama-sama.”
Sudah tentu kata-katanya itu ia tujukan kepada Ki Ping-yan, sesaat lamanya Ki Ping-yan diam saja, akhirnya dia menghela napas, maka barisan segera membelok ke arah kiri.

Gundukan bukit pasir di sebelah kiri sana tidak luas dan tinggi, begitu mereka tiba di pengkolan bukit pasir sebelah sana, dari kejauhan mereka melihat dua orang, begitu melihat kedua orang ini, hati Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa serasa hampir membeku dingin.

Kedua orang ini sudah tidak mirip seperti manusia umumnya, tapi mirip dua bongkah kerat daging kambing yang dipanggang di atas api unggun, dengan telanjang bulat kedua orang disalip di atas pasir pergelangan kedua kakinya yang telanjang bulat, jidat dan lehernya masing-masing terikat kencang oleh kulit sapi, kulit kerbau umumnya basah, tapi setelah dijemur matahari dan menjadi kering, maka libatan ikatannya menjadi semakin kencang dan erat, melesak masuk ke dalam kulit daging.

Seluruh kulit badan mereka hampir sudah gosong karena terik matahari, bibirpun sudah retak, kelopak matanya setengah terpejam, biji matanya sudah kering, seperti dua buah lubang yang tak terukur dalamnya.

Baru sekarang Oh Thi-hoa benar-benar maklum dan mengerti cara bagaimana kedua biji mata Ciok Tho itupun menjadi buta. Mata Ciok Tho mirip pula dengan kedua biji mata kedua orang ini, picak karena dijemur terik matahari secara hidup-hidup.

Meski Ciok Tho tidak bisa melihat, tak dapat mendengar, tapi begitu ia berada ditempat itu sekujur badannya mendadak gemetar keras, seolah-olah dia punya indera istimewa yang aneh, bisa merasakan gejala yang tidak wajar di sekelilingnya serta bencana yang bakal menimpa mereka.

Tali kulit kerbau diputus, dengan selimut tebal Coh Liu-hiang membungkus badan kedua orang ini, lalu dengan handuk yang dibasahi air dimasukan ke dalam mulut supaya mereka pelan-pelan menghisapnya.

Lama kelamaan, baru kedua orang ini bisa bergerak dengan gemetar, suara rintihannyapun semakin keras.

“Air… Air…” mereka bisa mengeluarkan suara, tak henti-hentinya menjerit mengeluh dan minta tolong.

Coh Liu-hiang tahu bila sekarang mereka lantas diberi air secukupnya, mereka bisa segera mati.

Oh Thi-hoa menghela napas, katanya: “Sahabat jangan kau kuatir, disini air cukup banyak, berapa kau ingin minum boleh sesuka hatimu.”

Orang yang hampir mati itu dengan melongo hampa membuka mata, mulutnya tetap merintih: “Air… Air…”

Oh Thi-hoa tertawa katanya: “Kau tidak lega hati?” lalu ia berdiri menepuk kantong kambing di punggung onta katanya pula: “Coba lihat, disinilah airnya.”

Ki Ping-yan mendadak menghardik dengan bengis: “Siapa yang menyalib kalian disini?” “Dosa apa yang pernah kalian lakukan”

Orang yang hampir mati ini menggeleng-geleng kepala sekeras-kerasnya, sahutnya tergagap: “Tidak, tidak… perampok.”

“Perampok?” seru Oh Thi-hoa. “Dimana?”

Orang hampir mati ini meronta-ronta angkat sebelah tangannya menunjuk ke satu arah yang jauh sana, lalu sekuatnya pula menjambak rambut sendiri, raut mukanya kembali bergetar dan berkerut-kerut kejang, badanpun gemetar semakin keras.

Berkata Ki Ping-yan dengan bengis: “Menurut apa yang kutahu, disekitar sini tiada jejak kawanan perampok, apa kalian membual ya?”

Kedua orang kembali geleng kepala, agaknya kedua biji mata hampir berlinang air mata.

Berkata Oh Thi-hoa keras: “Mereka sudah dalam keadaan begini mengenaskan, buat apa kau hendak kempes mereka? Memangnya kenapa umpama mereka membual, badan mereka tidak mengenakan selembar benangpun, masakah bisa mencelakai kami?”

Kembali Ki Ping-yan bungkam tidak melayaninya. Soalnya ucapan Oh Thi-hoa memang kenyataan kedua orang ini bukan saja telanjang bulat dengan badan kering dan kusut masai, bertangan kosong lagi tanpa bawa senjata, seumpama mereka tidak terluka, tiada sesuatu tanda-tanda yang menunjukkan gejala yang mencurigakan, mau tak mau Ki Ping-yan merasa lega hati juga.

Kata Oh Thi-hoa berpaling ke arah Coh Liu-hiang: “Kini boleh memberi air lebih banyak sedikit bukan?”

Coh Liu-hiang masih termenung sebentar akhirnya manggut-manggut sahutnya: “Tetapi sedikit saja.” sembari bicara ia melangkah ke arah kantong air, tapi belum lenyap suaranya, kedua manusia yang kempas-kempis hampir mampus itu, mendadak selincah kelinci mencelat bangun.

Kedua tangan mereka yang semula meremas-remas rambut di atas kepalanya itu mendadak pula diayunkan secepat kilat, dari jari-jari tangan, mereka berbareng melesat puluhan bintik-bintik hitam luncurannya tak kalah dari sambaran kilat. Jelas sekali itulah senjata rahasia yang mirip disemprot keluar dari sebuah bumbung yang diberi alat rahasia semacam pegas. Jadi senjata rahasia itu bisa mereka sembunyikan di dalam rambutnya yang awut-awutan itu.

Begitu kedua tangan mereka terayun, Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yan serempak melejit tinggi seenteng asap segesit burung walet, meski mereka menghadapi sergapan mendadak di luar dugaan, namun reaksi dan gerakan mereka sungguh teramat cepat, jarang ada senjata rahasia yang mampu melukai mereka.
Siapa nyana senjata rahasia itu justru tidak mengarah mereka, yang diincar justru kantong-kantong air itu, maka terdengar “Bles, bles, bles.” beruntun puluhan kali, puluhan lobang yang memancurkan air serempak menyembur keluar dari kantong air kulit kambing itu.

Belum lagi semua orang insaf apa yang telah terjadi, kedua orang yang hampir mampus tadi, tiba-tiba melejit bagaikan terbang melarikan diri.

Meledak amarah Oh Thi-hoa, bentaknya murka: “Kunyuk sialan! Lari kemana kau?” dengan gerakan yang hampir lebih cepat dari Coh Liu-hiang, ia mendahului menubruk kearah dua orang itu.

Belum lagi mereka lari sejauh sepuluh tombak, tahu-tahu terasa segulung angin kencang merangsang lehernya, mereka hendak putar badan melawan, tapi belum sempat berpaling, badannya tiba-tiba sudah tersungkur ke depan. Bahwasanya siapa yang turun tangan dan cara bagaimana mereka dirobohkan tidak melihat jelas. Tahu-tahu Oh Thi-hoa sudah duduk seperti mencongklang kuda di atas punggung salah seorang itu, kedua tangan bergerak pergi datang menampar muka orang, dampratnya: “Ku tolong kau, kau malah hendak mencelakai aku? Kenapa? Kenapa?”

Orang ini tidak menjawab, karena selamanya tak mampu membuka mulut lagi, waktu Oh Thi-hoa merenggutnya dari atas tanah, lehernya teklok lemas seperti batang padi yang putus menjadi dua.

Seorang lagi juga rebah di atas tanah, Coh Liu-hiang tidak bergerak menghajarnya, cuma berdiri di depannya dengan tenang dia awasi orang, sepatah pertanyaanpun tidak ia ajukan. Diwaktu mendengar tulang leher temannya putus, badan orang itu tiba-tiba melingkar seperti trenggiling, mulutnya malah menggembor seperti orang gila.

“Bunuhlah aku! Tidak menjadi soal yang terang kalianpun takkan bisa hidup lebih lama lagi, biar kutunggu kalian diambang pintu neraka, saat itu akan kubuat perhitungan dengan kalian.”

Berkedip pun tidak mata Coh Liu-hiang, katanya kalem: “Aku takkan bunuh kau, asal kau bicara terus terang, siapa yang suruh kau kemari?”

Mendadak orang ini terloroh-loroh menggila seperti orang kesetanan, serunya, “Kau ingin tahu siapa yang suruh aku kemari? Memangnya kau masih ingin mencari dia?”

“Memangnya aku hendak mencari dia, masa kau merasa amat menggelikan?”
Meleleh air mata orang ini karena terpingkel-pingkel, katanya dengan napas ngos-ngosan: “Sudah tentu amat menggelikan, siapapun dia bila bukan seorang gila, takkan mau mencari dia, kecuali orang itu sudah bosan hidup.”

Oh Thi-hoa sudah memburu kemari, serunya hampir menggembor: “Apakah putra Ca Bok-hap yang suruh kau kemari?”

“Ca Bok hap?” orang itu tertawa besar, Ca Bok-hap itu barang apa, menggosok sepatu beliaupun tidak setimpal.”

Berkerut alis Coh Liu-hiang, tanyanya: “Bukan Ca Bok-hap, memangnya siapa?”

“Kau tak usah kuatir, disaat jiwamu menjelang ajal, dengan sendirinya akan bertemu dengan beliau… aku boleh bertaruh dengan kau jiwamu takkan hidup lebih lima hari lagi.”

Damprat Oh Thi-hoa gusar: “Biar aku bertaruh dengan kau, jikalau kau tidak mau bicara terus terang, lima jam pun kau tidak akan bisa hidup lagi.

Ternyata orang itu tertawa pula, katanya: “Bahwasanya aku memang tidak ingin hidup lima jam lagi.”

Sudah tentu Oh Thi-hoa melengak dibuatnya, tanyanya: “Kau tidak takut mati?”

“Kenapa aku harus takut mati?” jawab orang itu terloroh-loroh.

“Bisa mati demi beliau, boleh dikata hatiku teramat girang, lebih senang dari mendapat rejeki nomplok.” suara tawanya mendadak menjadi lemah, sebaliknya sorot matanya memancarkan cahaya yang aneh.

“Celaka!” seru Coh Liu-hiang kaget. Dalam mulut orang ini mengemut obat beracun untuk bunuh diri.”

Benar juga waktu Oh Thi-hoa merenggut badan orang, segera ia dapatkan napas orang sudah berhenti.

Lama sekali bari Oh Thi-hoa melempar badan orang, katanya berputar kepada Coh Liu-hiang: “Pernah kau melihat manusia yang tidak takut mati seperti ini?”

“Belum pernah!” sahut Coh Liu-hiang pendek.

“Aku tahu banyak orang gila ketangkap oleh musuh, mereka bisa bunuh diri dengan menelan obat beracun tapi mereka mencari jalan pendek lantaran terpaksa, sebaliknya orang ini mati dengan riang dan gembira lihat mulutnya mengulum senyum lagi.”

Coh Liu-hiang hanya menghela napas tanpa bicara lagi, sekilas otaknya terbayang akan Bu Hoa yang menelan obat beracun pula dihadapannya, teringat akan Bu Hoa, tak tahu lagi ia menghela napas rawan.

Oh Thi-hoa menghela napas juga, ujarnya: “Kurasa otak orang ini rada kurang normal kalau tidak…” mendadak ia memandang Ki Ping-yan, tangan mengelus hidung dan tak melanjutkan kata-katanya lagi.

Selama ini Ki Ping-yang tertunduk mengawasi mayat dihadapannya bahwasanya melirikpun tidak kepadanya. Lama juga Oh-Thi hoa menahan sabar dan menunggu-nunggu, akhirnya mengguman sendiri: “Senjata rahasia mereka tersembunyi di dalam rambutnya, hal ini baru sekarang dapat kupikirkan, tapi kenyataan mereka sudah dijemur sampai kering kerontang sampai badan gosong terbakar bagaimana mungkin bisa punya kekuatan untuk bergerak?”

Roman muka Ki Ping-yan tidak menunjukkan perobahan mimik apa-apa, perlahan-lahan ia berjongkok begitu merah rambut salah satu mayat terus disentak ke atas, tangannya tahu-tahu mencekal sebuah rambut palsu yang dilapisi selembar kulit tipis dan halus, aneh benar seketika terlihatlah seraut muka dengan kulit halus dan putih bersih.

Lama juga mata Oh-Thi hoa melotot, lalu katanya sambil tertawa getir: “Ternyata mereka menggunakan ilmu rias dan rambut palsu segala malah keahliannya tidak lebih asor dari Maling kampiun, dalam padang pasir terdapat seorang berbakat begini, sungguh mimpipun tak terduga.” kata-katanya ini dia tujukan kepada Ki Ping-yan, tapi belum habis ia bicara Ki Ping-yan sudah tinggal pergi.

Terpaksa Oh Thi-hoa ikut pergi, tampak puluhan kantong-kantong kambing berisi air ini sama berlobang dan memancurkan air di dalamnya, namun air di dalam kantong itu belum mengalir habis.

Sementara itu Ki Ping-yang dan Siau-phoa bekerja sama menanggalkan semua kantong-kantong air itu, diletakkan di atas pasir, bagian yang berlobang menghadap ke atas, masing-masing masih berisi setengah kantong air.

Oh Thi-hoa girang, katanya: “Kedua orang itu sia-sia saja mengantar jiwa, tujuannya hendak mencelakai kami tidak berhasil, air toh masih banyak untuk bekal perjalanan!”

Ki Ping-yan tidak banyak komentar, satu persatu kantong-kantong yang berlobang itu dia tuang airnya sampai habis.

Tersirap darah On Thi-hoa, jeritnya: “E, apa yang kau lakukan?”

Ki Ping-yan tetap tidak bicara.

Lekas Coh Liu-hiang menghampiri, katanya dengan nada berat: “Senjata rahasia itu beracun, racun sudah bercampur dalam air, sudah tentu air ini tak boleh diminu.”

Oh Thi-hoa terhuyung-huyung tiga langkah hampir saja ia terjengkang jatuh.

“Aku sudah menemukan bumbung rahasia mereka untuk menyambitkan jarum-jarum berbisa itu,” Coh Liu-hiang menerangkan, “Betapa hebat dan sempurna buatannya, ternyata lebih unggul dari Kiu-thian-cap-te. Thian-mo-sin ciam yang menggetarkan Bulim puluhan tahun yang lalu. Sungguh tak pernah terpikir olehku, tokoh macam apakah yang mampu membuat senjata rahasia seperti ini dalam kalangan Kang-ouw?” dimana jari-jarinya terbuka masing-masing terdapat sebuah bumbung besi warna hitam mengkilap.

Hanya sekilas Ki Ping-yan melihat bumbung besi itu, katanya tawar: “Tunggulah setelah malam tiba baru kita bicara, sekarang perlu kita mengejar waktu melanjutkan perjalanan.” tetap ia tidak pernah melirik kepada Oh Thi-hoa.

Akhirnya tak tahan Oh Thi-hoa dibuatnya, serunya sambil berjingkrak: “Memang gara-garaku yang suka usil, suka ikut campur urusan orang lain, mataku buta, kau… kau, kenapa tidak kau maki aku, tidak kau hajar aku? Tidak sudi bicara lagi? Maki dan hajarlah diriku, hatiku tentu jauh lebih enak dan tentram.

Benar juga Ki Ping-yan berpaling kepala pelan-pelan, dengan tenang ia pandang muka orang, katanya kalem: “Kau ingin supaya aku mencacimu?”

“Tidak kau caci aku, kau keparat! Telur busuk!”

Sikap Ki Ping-yan tetap tak berubah, pelan-pelan ia mencemplak naik ke punggung unta, katanya tawar: “Kenapa aku harus caci kau? Menolong orang toh perbuatan bajik, apalagi yang picak matanya toh bukan kau saja, yang tertipu juga bukan kau pula.”

Baru sekarang Oh Thi-hoa menjublek dan melongo, lama ia tak buka mulut.

Coh Liu-hiang menghampiri dari belakang, katanya tersenyum sambil menepuk pundaknya “Jago mampus kiranya tidak sebrutal yang pernah kau bayangkan dulu, ya tidak?”

Malam itu, seperti pula Ciok Tho, Oh Thi-hoa duduk seorang diri di bawah sinar bintang yang kelap-kelip ditengah cakrawala, duduk di atas pasir yang masih panas dan mengeluarkan hawa membara, lambat laun ia duduk di tengah kabut yang dingin dan tak berujung pangkal luasnya.

Hembusan angin tidak lagi membawa bau lombok, merica, berambang dan daging kambing. Karena yang mereka miliki sekarang tidak lebih hanya sebuah kantong air kecil yang selalu tidak pernah berkisar dari badan Ki Ping-yan itu. Tiada air, tentu tiada masakan hangat, tiada hidangan, tak sempat makan minum bersuka-ria, tiada jiwa kehidupan.

Tidak jauh di sana Ciok-Tho duduk seorang diri pula, sejak mengalami peristiwa ini meskipun dia tak melihat, tak mendengar sendiri, namun tindak tanduk dan sikapnya jelas mulai berubah. Badannya yang tegap laksana tonggak itu, seolah-olah berubah mulai loyo dan patah semangat, raut mukanya yang seperti terukir dari batu-batu kramik itu, kinipun mulai menampilkan rasa ketakutan dan mulai tidak tentram.

Tapi Oh Thi-hoa belum sempat memperhatikan perubahannya ini. Oh Thi-hoa sedang repot menyalahkan diri sendiri, marah kepada diri sendiri.

Di dalam kemah terpasang sebuah pelita, sinar pelita guram seperti cahaya bintang di langit, di bawah penerangan sinar pelita, yang memang remang-remang lembut ini, persoalan yang sedang dirundingkan dan dibicarakan oleh Coh Liu-hiang dan Ki Ping-yan justru membawa suasana yang kurang tentram dan tak membawa kelembutan.

Bumbung jarum yang hitam mengkilap itu di bawah pancaran sinar pelita yang guram ini kelihatan lebih seram jahat dan dingin.

Kata Coh Liu-hiang sambil mengawasi bumbung jarum ini: “Sungguh salah satu senjata rahasia yang paling menakutkan diantara sekian banyak senjata rahasia yang pernah kuhadapi selama hidup ini. Kupikir dalam dunia ini hanya tiga orang yang mampu membuat alat senjata rahasia seperti ini.”

“Siapa saja ketiga orang itu?” tanya Ki Ping-yan.

“Orang pertama adalah Ciang-bun-jin keluarga Tong di Siok-tiong. Kedua adalah Cu losiansing dari Kou-ki-theng di Kanglam, tapi jelas kedua orang ini sudah pasti takkan datang kepadang pasir ini.”

“Benar… masih satu lagi?”

Coh Liu-hiang tersenyum dulu, katanya: “Seorang lagi adalah aku sendiri, sudah tentu alat senjata rahasia ini juga bukan ciptaanku.”

Tak terunjuk rasa geli dalam sorot mata Ki Ping-yan, katanya tandas: “Walau kau hanya tahu tiga orang saja, tapi aku berpendapat tentu masih ada orang ke empat, cuma siapa orang ini, kau dan aku masih belum tahu.”

Sesaat Coh Liu-hiang menepekur, katanya kemudian menarik napas, “Dapat membuat alat rahasia semacam ini sih tidak perlu ditakuti, yang ditakuti justru dia dapat membuat semua anak buahnya begitu setia dan rela mati demi kepentingannya.”

“Kau kira si ‘dia’ pasti bukan lawanmu Hek-tin-cu itu?”

“Terang bukan Hek-tin-cu tidak sedemikian kuat, diapun tak sedemikian kejam dan buas.”

“Menurut hematmu, orang macam apakah si dia itu?”

“Kukira dia seorang sahabat dari kalangan hitam di Tionggoan yang teramat lihay dan sudah menanam akar di sini, atau mungkin pula seorang gembong perampok di padang pasir, tujuannya bukan melulu terhadap Maling kampiun saja, juga belum mengincar Ki Ping-yan tidak lebih dia hanya pandang kami sebagai pelindung kambing gemuk yang sedang dia incar, dari kita mereka pingin memperoleh harta dan uang.”

“Ya!” Ki Ping-yan setuju akan pendapat ini.

“Dia sudah perhitungkan kita pasti akan lewat dari sini, maka sebelumnya sudah mengatur perangkap hendak menjebak kita, atau mungkin mereka memang hendak mengincar jiwa kami, tapi waktu kedua orang itu melihat bahwa kita bukan seperti kaum pedagang umumnya, kuatir sekali kerja tak berhasil terpaksa mereka melihat gelagat merubah haluan bukan kita yang diincar senjata rahasia mereka berobah sasaran mengarah kantong-kantong air kita.” setelah tertawa getir, ia melanjutkan: “Dia hendak tunggu setelah kita kehabisan air dan dahaga setengah mati, baru akan turun tangan, waktu itu tenaga untuk melawan saja tiada, bukankah tinggal pasrah nasib membiarkan mereka menggorok leher kita?”

Ki Ping-yan menyambung dengan prihatin: “Mungkin dia tidak ingin segera menghabisi jiwa kami, bahwasanya dia ingin supaya kami menderita pelan-pelan kehabisan tenaga meregang jiwa.”

Berkerut alis Coh Liu-hiang, tanyanya: “Kenapa berpikir demikian kau?”

Tiba-tiba ia hentikan mulutnya, karena tiba-tiba ia mendapati sorot mata Ki Ping-yan yang dingin membeku keras itu, kini seperti mengandung perasaan takut dan tidak tentram. Ini benar-benar belum pernah dialami oleh Ki Ping-yan selama ini, sesuatu yang membuat orang seperti Ki Ping-yan takut dan kurang tentram, tentulah urusan amat gawat dan menggetarkan sukma.

Segera Coh Liu-hiang juga merasa kurang tentram, tanyanya coba-coba memancing: “Apa kau sudah dapat menerka siapa si ‘dia’ itu sebenarnya?”

Agaknya Ki Ping-yan ingin mengatakan apa-apa, sekilas matanya melirik keluar kemah dimana Ciok Tho sedang duduk diam, kata-kata yang sudah tiba di ujung mulut ketika ia telan kembali, mendadak ia unjuk tawa dan berkata: “Perduli siapa orang itu, jikalau ia hendak membuat kami mati karena dahaga, tindakannya itu terang keliru.”

Coh Liu-hiang tidak bertanya lebih lanjut, katanya tertawa: “Ada kau disini, selamanya aku tidak perlu takut bakal mati dahaga disampingmu.”

Ki Ping-yan tertawa, ujarnya: “Aku tahu kira-kira seratus li jauhnya, ada sebuah sumber air yang amat tersembunyi, besok sebelum matahari terbenam, kita pasti sudah bisa tiba ditempat itu, tadi tidak kukatakan, karena aku ingin supaya Oh Thi-hoa kebingungan dan gugup setengah mati, lalu dengan tersenyum senang ia rebahkan diri, sebentar saja seperti sudah lelap dalam tidurnya.

Sebaliknya dengan diam-diam Coh Liu-hiang menyelinap keluar dari kemah, duduk di pinggir Oh Thi-hoa bukan ingin bicara dengan Oh Thi hoa, cuma ingin duduk rada dekat sekaligus untuk mengawasi dan menyelidiki tindak tanduk Ciok Tho, orang serba misterius ini. Lapat-lapat ia sudah merasakan di dalam dada Ciok Tho yang sekeras batu cadas itu tersembunyi suatu rahasia, rahasia yang menakutkan sepuluh kali lipat lebih seram dari jarum beracun yang seketika menamatkan jiwa manusia.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: