Kumpulan Cerita Silat

05/04/2008

Pendekar Gelandangan (05)

Filed under: Gu Long, Pendekar Gelandangan — ceritasilat @ 10:55 pm

Pendekar Gelandangan (05)
Bab 05. Suka Duka Seorang Gelandangan
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Bintang73 dan Donnios)

Musim gugur telah lewat, musim dinginpun menjelang tiba.

Angin dingin serasa sayatan pisau menyambar datang dari empat penjuru…….

Alam memang kejam. Gelandangan menderita.

Menyongsong datangnya hembusan angin dingin, A-kit membenahi pakaiannya yang tipis dan keluar dari lorong keluarga Han.

Ia tak tahu kemana harus pergi.

Bayangkan saja, dengan sisa uang sebesar dua puluh tiga biji uang tembaga, kemana ia mesti melanjutkan hidupnya?

Tapi, bagaimanapun juga ia harus tinggalkan tempat itu.

Ia harus meninggalkan orang-orang yang pernah melepaskan budi dan kebaikan kepadanya itu.

Ia tidak melelehkan air mata.

Buat gelandangan, tiada artinya air mata, yang ada hanya darah, dan kini darahnya hampir saja membeku.

Di antara sekian banyak manusia yang tinggal di lorong keluarga Han, Han toa-nay-nay atau Nyonya besar Han adalah orang yang paling tersohor. Han toa-nay-nay berdiam di loteng keluarga Han.

Han-keh-lo atau loteng keluarga Han adalah sebuah rumah pelacuran yang paling termasyhur.

Ketika untuk pertama kalinya ia bertemu dengan Han-toa-nay-nay, kejadian ini berlangsung di atas sebuah pembaringan yang dingin, lembab dan kotor.

Di atas papan pembaringan yang dingin dan atos itu penuh dengan noda bekas muntahan yang tercecer kemana-mana. Bukan saja kotor, bau lagi.

Keadaannya pada waktu itu tidak jauh lebih baik daripada pembaringan tersebut.

Ia sudah lima hari mabuk berat, sewaktu sadar tenggorokannya terasa kering dan pecah-pecah, kepalanya pusing seperti mau meledak.

Han toa-nay-nay sedang bertolak pinggang dan berdiri di depan pembaringan sambil mengawasinya.

Perempuan itu mempunyai perawakan setinggi tujuh depa, pinggangnya sangat lebar dan kasar seperti sebuah gentong, diantara jari-jari tangannya yang gemuk, pendek dan kasar itu penuh dihiasi cincin-cincin zamrud dan berlian yang mahal harganya.

Kulit wajahnya yang gemuk dan kencang itu membuat orang sukar menilai usianya yang sesungguhnya, sebab ia kelihatan jauh lebih muda, bahkan di kala hatinya sedang senang, kadangkala sekulum senyuman nakal yang seringkali bisa dijumpai dalam pancaran mata anak-anak, akan dijumpai pula dari balik namanya.

Tapi, sekarang tatapan matanya itu tiada senyuman, apalagi senyuman nakal dari seorang anak-anak.

Dengan sekuat tenaga A-kit menggosok-gosok matanya dan berusaha dipentangkan selebar mungkin. Dia ingin melihat dengan lebih jelas lagi, apakah orang yang berdiri dihadapannya seorang pria ataukah seorang perempuan…………..

Perempuan dengan perawakan semacam ini memang tidak sering dijumpai dalam masyarakat, apalagi dengan ukurannya yang serba istimewa itu.

A-kit meronta dan ingin bangun duduk, tapi persendian tulangnya bagaikan ditusuk-tusuk oleh beribu-ribu batang jarum tajam, akibatnya sakitnya bukan kepalang.

Ia menghela napas panjang dan bergumam: “Aaaai….selama dua hari ini aku pasti sudah mabuk, seperti seekor kucing mabuk!”

“Bukan mirip kucing mabuk, kau lebih mendekati seperti anjing yang mampus!”, kata Han toa-nay-nay.

Lalu setelah menatapnya dengan pandangan dingin, ia menambahkan: “Kau sudah mabuk selama lima hari!”

Sekuat tenaga A-kit menekan batok kepalanya, ia berusaha keras mengingat kembali dai benaknya, perbuatan apa saja yang telah dilakukan selama hari ini?

Tapi dengan cepat ia melepaskan niat tersebut. Ingatannya sekarang hanya kosong melompong, sebuah nol besar, bahkan lebih mirip dengan selembar kertas yang putih bersih, tiada sesuatu apapun yang tersisa.

“Kau datang dari luar daerah?”, tanya Han toa-nay-nay kemudian.

A-kit mengangguk.

Benar, ia datang dari luar daerah, suatu daerah yang jauh sekali letaknya, demikian jauhnya tempat itu, sehingga hampir saja tidak teringat lagi olehnya.

“Kau punya uang?”, kembali Han toa-nay-nay bertanya.

Kali ini A-kit menggelengkan kepalanya.

Tentang hal ini dia masih teringat jelas, sekeping uang perak terakhir yang dimilikinya telah ia gunakan untuk membeli arak.

Tapi dimanakah ia minum sampai mabuk? Jawaban tersebut sudah dilupakan sama sekali.

“Akupun tahu kalau kau tidak punya”, kata Han toa-nay-nay, “sebab kami telah menggeledah sekujur badanmu, kau hakekatnya lebih rudin daripada seekor anjing mampus”

A-kit memejamkan matanya, dia masih ingin tidur.

Pengaruh alkohol yang telah menyusup ke dalam tulang belakangnya membuat segenap tenaga dan kekuatannya punah, dia hanya ingin tahu.

“Masih adakah persoalan yang hendak kau tanyakan kepadaku?”

“Hanya ada sepatah kata”, jawab Han toa-nay-nay dengan cepat.

“Katakan dengan cepat, aku sedang mendengarkan!”

“Buat seseorang yang tak mempunyai uang, dengan apakah ia hendak membayar rekeningnya?”

“Membayar rekening?”

“Ya, selama lima hari belakangan ini, kau sudah berhutang tujuh puluh sembilan tahil perak rekening arak!”

A-kit menarik napas panjang.

“Bukan suatu jumlah yang terlalu besar!”, katanya.

“Ya, memang tidak terlalu besar, cuma sekarang setahil perakpun tidak kau miliki”

Kemudian dengan suara yang dingin ia melanjutkan: “Bagi orang yang menunggak rekening, seringkali ada dua cara yang bisa kami lakukan?”

A-kit tidak member komentar, dia hanya mendengarkan dengan seksama…..

Han toa-nay-nay berkata lebih lanjut: “Kau ingin dipatahkan sebuah pahamu? Ataukah dipatahkan tiga biji tulang igamu?”

“Terserah!”

“Kau tidak ambil perduli?”

“Aku cuma ingin cepat-cepat dipukul, kemudian seusainya aku hendak segera tinggalkan tempat ini!”

Han toa-nay-nay melongo, sinar matanya dipenuhi dengan perasaan ingin tahu.

Pemuda yang dihadapinya ini memang aneh sekali, siapakah orang ini sesungguhnya? Kenapa ia bisa bersikap begitu acuh, begitu masa bodoh terhadap keadaan?

Mungkinkah dalam hatinya terdapat sebuah simpul mati yang tak dapat dilepaskan? Atau mungkinkah ia mempunyai kisah sedih yang tak terlupakan?

Tak tahan lagi Han toa-nay-nay berkata: “Kau begitu terburu-buru hendak pergi, kemana kau hendak pergi?”

“Aku tidak tahu!”

“Aaaah….masa kau tidak tahu ke mana hendak pergi?”

“Kemana aku sampai, disanalah yang aku tuju!”

Sekal lagi Han toa-nay-nay perhatikan wajahnya lama sekali, tiba-tiba katanya: “Kau masih muda, dan lagi punya tenaga, kenapa tak mau bekerja untuk membayar hutang?”

Sorot matanya jauh lebih lembut dan halus, katanya lebih jauh: “Kebetulan di tempat kami masih ada sebuah lowongan pekerjaan, setengah tahil perak sehari, apakah kau bersedia untuk melakukannya?”

“Terserah!”

“Apakah tidak kau tanyakan tempat apakah ini? Dan pekerjaan apa yang harus kau lakukan?”

“Aku tak ambil perduli, pokoknya ada pekerjaan kulakukan!”

Han toa-nay-nay tertawa terkekeh-kekeh, ditepuknya bahu anak muda itu keras-keras lalu katanya:

“Sekarang pergilah dulu ke dapur untuk mencari air panas dan bersihkan seluruh badanmu, keadaanmu kini mirip sekali dengan seekor anjing mampus, baunya lebih busuk daripada seekor ikan mampus”

Secercah senyuman tampak memancar dari balik sinar matanya.

“Barang siapa yang ingin bekerja di sini, sekalipun dia bukan manusia, paling sedikit harus berdandan mirip dengan manusia!”, demikian katanya.

Dalam dapur penuh diliputi bau harum nasi dan kuah daging, ketika angin dingin berhembus lewat dari sana, terasalah angin tersebut jauh lebih hangat dan nyaman.

Petugas yang bekerja di dapur adalah sepasang suami-isteri. Yang laki-laki adalah seorang manusia tinggi besar yang bisu, sebaliknya yang perempuan kurus kecil, tapi galaknya seperti sebuah gurdi tajam.

Kecuali suami-isteri berdua, di dalam dapur masih terdapat lima orang manusia.

Ke lima orang itu adalah perempuan-perempuan berbaju kusut dengan rambut yang kacau balau tak tersisir, selain bedak dan gincu yang masih tertinggal di wajahnya, yang tampak hanya suatu keletihan yang memuakkan.

Usia mereka rata-rata di antara dua puluh sampai tiga puluh tahunan. Perempuan yang paling tua mempunyai sepasang payudara yang besar, montok dan menongol keluar. Tentu saja disamping sepasang mata yang jalang dan penuh nafsu birahi.

Akhirnya A-kit baru tahu bahwa perempuan itu adalah ‘toa-ci’nya nona-nona sekalian, para tamu lebih suka memanggilnya sebagai ‘toa-siu’ atau si gajah bengkak.

Sedang nona yang berusia paling muda masih kelihatan seperti seorang kanak-kanak, pinggangnya amat ramping dengan dada yang datar, tapi dia pula yang paling laris dagangannya.

Entahlah, mungkin para lelaki memang memiliki watak buas dan liar dari seekor binatang, waktu suka daun muda, atau birahi untuk melalap gadis yang masih tampak seperti kanak-kanak?

Ketika mereka saksikan A-kit berjalan masuk, dengan sinar mata tercengang, heran dan kaget, nona-nona itu alihkan perhatian mereka semua, untung Han toa-nay-nay segera menyusul masuk.

Dengan suara lantang, Han toa-nay-nay segera berkata: “Ada banyak pekerjaan yang hanya bisa dikerjakan oleh kaum pria, padahal pria-pria di sini kalau bukan seperti balok kayu, dia tentulah pelayan penerima tamu, untunglah sekarang aku berhasil menemukan seseorang yang lebih mirip dengan manusia”

Ditepuknya bahu pemuda itu keras-keras kemudian terusnya: “Beritahu kepada anjing-anjing betina ini, siapa namamu?”

“Aku bernama A-kit!”

“Kau tak punya nama marga?”

“Aku bernama A-kit!”

Han toa-nay-nay mengetuk kepalanya keras-keras lalu tertawa tergelak.

“Haaaaahhhh…..haaahhhhh…..haaaaahhhhh……meskipun bocah ini mempunyai nama marga, tapi dia mempunyai suatu kebaikan…….”

Perempuan itu tertawa riang: “Ia tidak terlalu banyak mulut!”

Mulut adalah anggota tubuh yang digunakan untuk makan, minum dan bukan untuk dipakai banyak berbicara.

Selamanya A-kit tidak banyak berbicara.

Dengan mulut membungkam seribu bahasa ia menuang air panas, lantas berjongkok dan membersihkan wajahnya.

Tiba-tiba muncul sebuah kaki yang menginjak embernya, sehingga airnya tertumpah semua.

Kaki itu gemuk sekali dan mengenakan sebuah sepatu bersulamkan bunga merah yang sangat indah.

A-kit bangkit berdiri dan memperhatikan wajah bulat gemuk dari perempuan itu.

Ia mendengar suara tertawa cekikikan dari para nona sekalian, tapi suara tersebut seakan-akan berasal dari tempat yang sangat jauh.

Diapun mendengar si gajah bengkak sedang berteriak keras: “Kau telah membasuhkan kakiku, hayo cepat diseka sampai kering!”

Sepatah-katapun tidak diucapkan A-kit”

Dengan mulut membungkam, ia segera berjongkok dan menyeka kaki yang gemuk itu sampai kering.

Si gajah bengkak segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaaaahhh…haaahhhh…haahhhh….kau memang seorang anak yang baik, entar malam jika di kamarku tak ada tamu, kau boleh diam-diam menyelinap ke sana, jangan kuatir……..gratis untukmu!”

“Aku tidak berani!”, kata A-kit.

“Masa nyali sekecil inipun tidak kau miliki?”

“Aku seorang lelaki yang tak berguna, aku membutuhkan pekerjaan ini untuk mencari uang dan membayar hutang!”

Maka semenjak itulah A-kit telah mendapat sebuah julukan baru, semua orang memanggilnya ‘A-kit yang tak berguna’, tapi ia sendiri tidak memperdulikannya.

Setiap senja menjelang tiba, para gadispun sibuk bertukar pakaian yang paling indah dan mendandani diri sendiri secantik dan semenarik mungkin.

“A-kit yang tak berguna, ambilkan air teh untuk tamu!”

“A-kit yang tak berguna, pergilah ke jalanan dan belikan beberapa kati arak!”

Bila tengah malam sudah lewat, ia baru bisa bersembunyi di pojok dapur untuk melepaskan lelahnya.

Dalam keadaan demikian, si bisu tentu akan menyodorkan semangkuk besar nasi putih dengan daging Ang-sio-bak yang besar, lalu menyaksikan ia bersantap dan memperhatikannya dengan pandangan simpati bercampur kasihan…….

Tapi A-kit tak pernah memperdulikannya.

Ada sementara orang selamanya tak suka menerima pandangan kasihan atau simpati dari orang lain dan A-kit adalah manusia macam begini.

Sebab bukan saja ia tidak bernyali, diapun tak berguna.

Hingga pada suatu hari, ketika ada dua orang laki-laki bersenjata yang ingin makan-minum secara gratis, semua orang baru mengetahui bahwa dia sesungguhnya mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki orang lain.

Ia tidak takut sakit.

Ketika laki-laki bersenjata itu ingin pergi tanpa membayar setelah makan minum, tiba-tiba jalan pergi mereka telah dihadang oleh A-kit yang tak berguna.

Tentu saja laki-laki itu tertawa dingin sambil mengejek: “Hmm, rupanya kau ingin mampus?”

“Aku tidak ingin mampus, akupun tak ingin mati kelaparan. Bila kalian pergi sebelum membayar, sama pula artinya dengan memecahkan mangkuk nasiku…..”, demikian A-kit berkata.

Baru saja beberapa patah kata itu selesai diucapkan, dua buah bacokan telah bersarang di tubuhnya.

Tapi ia sama sekali tak bergerak, berkerut keningpun tidak. Ia cuma berdiri tegap sambil menerima tujuh delapan buah bacokan golok tersebut.

Menyaksikan hal tersebut, laki-laki itu memandangnya dengan terkejut, lalu tanpa mengucap sepatah katapun merogoh sakunya dan melunasi rekeningnya.

Ketika semua orang memandang ke arahnya dengan terkejut dan berusaha untuk membimbingnya, tanpa mengucap sepatah-katapun ia berlalu, kembali ke kamarnya dan merebahkan diri di atas pembaringan yang dingin dan keras itu, sambil membiarkan peluh dingin membasahi tubuhnya dan menahan rasa sakit di tubuhnya.

Ia tidak ingin orang lain menganggapnya sebagai pahlawan, diapun tak ingin membiarkan orang lain menyaksikan penderitaannya.

Tapi pintu kamarnya tiba-tiba didorong orang, menyusul kemudian sesosok bayangan manusia menyelinap masuk ke dalam, setelah menutup pintu kembali, dengan sinar mata kasihan dan sayang ditatapnya pemuda itu lekat-lekat.

Ia mempunyai sepasang mata yang besar, di samping sepasang tangan yang ramping, panjang dan halus.

Ia bernama Siau-li, para langganannya lebih suka menyebut ‘siluman kecil’ kepadanya.

Ketika itu ia sedang menyeka keringat di tubuhnya dengan tangannya yang kecil.

“Mengapa kau harus berbuat demikian”, bisik Siau-li dengan nada penuh perhatian.

“Sebab pekerjaan ini sudah seharusnya kulakukan, aku membutuhkan pekerjaan semacam ini”, jawabnya singkat.

“Tapi kau masih terlalu muda, banyak pekerjaan lain yang dapat kau lakukan”, jelas perempuan itu amat simpatik dan sangat menaruh perhatian atas keselamatannya.

Tapi tak sekejap matapun A-kit memperhatikan wajahnya, dengan dingin ia berkata: “Kaupun mempunyai pekerjaan yang harus kau lakukan, kenapa tidak segera kau lakukan?”

Siau-li tidak menyerah sampai di situ saja, ia mendesak lebih lanjut: “Aku tahu, dalam hati kecilmu tentu terdapat banyak persoalan yang menyedihkan hatimu”

“Tidak!. Aku tidak punya”

“Dahulu pasti ada seorang perempuan yang pernah melukai hatimu, bukankah begitu?”

“Rupanya kau sedang bertemu dengan setan di siang hari bolong!”

“Jika tiada sesuatu yang kau sedihkan, mengapa saat ini kau dapat berubah menjadi begini?”

“Sebab aku malas, dan lagi seorang setan arak!”

“Apakah kaupun seorang laki-laki yang gemar bermain perempuan?”, tanya Siau-li.

A-kit tidak menyangkal atau mengaku. Ia enggan memberi jawaban untuk perempuan tersebut.

Kembali Siau-li berkata: “Aku tahu sudah lama, lama sekali kau tak pernah menyentuh tubuh perempuan, aku tahu……”

Tiba-tiba suaranya berubah menjadi begitu lembut, begitu halus dan aneh sekali kedengarannya. Tiba-tiba ia menarik tangan pemuda itu dan dirabakan ke bawah perut di antara belahan pahanya…….

Ternyata di balik selembar kain bajunya yang tipis, perempuan itu tidak mengenakan apa-apa lagi.

A-kit dapat merasakan pancaran hawa panas yang dihasilkan dari selangkangannya……

Memandang goresan luka golok yang masih berlepotan darah, tiba-tiba sorot mata perempuan itu bertambah tajam dan bercahaya.

“Aku tahu luka yang kau derita tidak enteng, tapi asal kau bersedia melayani kebutuhan birahiku….aku jamin rasa sakit yang kau rasakan sekarang segera akan tersapu lenyap tak berbekas”

Sambil berkata, perempuan itu menarik tangan A-kit dan dibawanya menelusuri seluruh bagian tubuhnya yang telanjang.

Di atas dadanya yang datar, ternyata ia memiliki sepasang payudara yang kecil tapi keras dan kenyal.

Payudara itu amat nyaman sewaktu diraba, apalagi untuk meremasnya…..andaikata A-kit seorang pria yang normal, rangsangan tersebut pasti akan berakibat fatal bagi sang nona.

Mustahil seorang laki-laki tidak melalap mangsa yang berada dihadapannya dalam posisi siap bertempur.

**** Ada bagian yang hilang *******

A-kit tidak menjawab, ia pejamkan matanya rapat-rapat.

Tiba-tiba ia merasakan bahwa perempuan gemuk yang setengah tua ini menunjukkan pula luapan birahi seperti apa yang baru saja dijumpai di wajah Siau-li.

Ia tak tega memandangnya lebih jauh.

“Mari, minumlah secawan, aku tahu ulat arakmu pasti sudah mengkilik-kilik tenggorokanmu, sehingga menimbulkan rasa gatal yang sukar ditahan lagi.”

Sambil tertawa terkekeh ia membuka penutup guci arak dan menyodorkan ke depan mulutnya.

“Hari ini kau telah bantu aku melakukan pekerjaan, aku harus baik-baik memerseni dirimu”

A-kit tidak bergerak, diapun tidak memberikan reaksi apa-apa.

Han toa-nay-nay segera mengerutkan dahinya.

“Apakah kau benar-benar adalah seorang lelaki yang tak berguna?”, demikian ia menegur.

“Ya, aku memang laki-laki yang tak berguna”.

Ketika A-kit membuka kembali matanya, Han toa-nay-nay sudah pergi, sebelum meninggalkan tempat itu, ia sempat meninggalkan sekeping uang perak di atas pembaringannya.

“Uang ini sepantasnya kau dapatkan, barang siapa bersedia menerima tujuh-delapan buah bacokan, ia tak boleh menerimanya dengan sia-sia belaka”

Bagaimanapun juga, dia sudah bukan seorang nona cilik lagi.

“Apa yang barusan kau alami, tentunya tak akan kau ingat selalu bukan……?”, demikian katanya.

Ketika A-kit mendengar suara langkah kakinya sudah berada di luar pintu, ia mulai muntah-muntah.

Peristiwa semacam ini tak akan terlupakan untuk selamanya.

Ketika ia berhenti muntah, dengan tertatih-tatih ia bangkit berdiri dan keluar dari kamarnya.

Uang perak yang diperoleh dari Han toa-nay-nay itu diletakkan dalam kuali nasi milik si bisu.

Meskipun angin dingin berhembus kencang, ia tinggalkan lorong keluarga Han.

Ia tahu tak mungkin baginya untuk berdiam lebih lanjut di tempat semacam itu.

Fajar telah menyingsing.

Warung teh sudah penuh oleh tamu-tamu yang hendak sarapan. Mereka terdiri dari pelbagai masyarakat yang berdiam di sekitar tempat itu.

A-kit sedang memegang cawan air teh panas-panas dengan kedua belah tangan, sebentar-sebentar diteguknya teh itu dengan penuh kenikmatan.

Di warung itu selain menjual air teh, dijual pula bakpao dan kueh cah-kwe, tapi ia hanya bisa minum air teh.

Dia hanya memiliki dua puluh tiga biji mata uang tembaga. Ia berharap bisa memperoleh pekerjaan tetap.

Ia ingin melanjutkan hidupnya. Belakangan ini ia baru tahu, bahwa untuk melanjutkan hidup bukanlah suatu pekerjaan yang gampang.

Penderitaan dalam berjuang untuk hidup tak pernah dibayangkan olehnya sebelum ia lakukan sendiri sekarang. Kini ia mulai sadar bahwa untuk menjual kejujuran dan tenaganya, seseorang harus mempunyai jalan. Tapi, ia tidak mempunyai jalan.

Tukang batu mempunyai grupnya sendiri, tukang kayu mempunyai perkumpulannya sendiri, bahkan tukang pikul dan kuli kasarpun mempunyai organisasi. Bila seseorang bukan termasuk di dalam perkumpulannya, maka jangan harap dia bisa memperoleh pekerjaan.

Sudah dua hari ia menderita kelaparan.

Pada hari yang ketiga, uang sebesar tujuh biji mata uang tembaga untuk minum air tehpun sudah tidak dimiliki lagi. Dia hanya bisa berdiri di luar warung sambil makan angin.

Ia sudah hampir roboh ketika seseorang menepuk bahunya sambil bertanya: “Pekerjaan memikul kotoran manusia sanggup kau lakukan tidak? Sehari dengan upah lima pence?”

A-kit cuma bisa memandang orang itu dengan terbelalak, ia tak mampu berbicara lagi, karena tenggorokannya terasa seperti di sumbat dengan suatu benda.

Ia hanya bisa mengangguk, mengangguk tiada hentinya.

Hingga lama, lama sekali, ia baru dapat mengutarakan rasa terima kasih yang dialaminya ketika itu.

Rasa terima kasihnya waktu itu adalah luapan perasaan yang murni dan bersungguh-sungguh.

Sebab yang diberikan orang itu kepadanya bukan hanya tugas untuk memikul kotoran manusia melainkan suatu kesempatan untuk melanjutkan hidup.

Akhirnya ia dapat juga melanjutkan hidupnya.

Dan orang yang telah memberi kesempatan kepadanya itu bernama Lo Biau-cu.

Lo Biau-cu benar-benar berasal dari wilayah Biau.

Ia mempunyai perawakan tubuh yang tinggi besar, kekar, bertampang jelek tapi bertubuh kekar penuh berotot. Sewaktu tertawa terlihat dua baris giginya yang putih dan kuat.

Telinga kirinya kelewat panjang, diatasnya malah terlihat bekas yang menunjukkan bahwa dulunya ia memakai giwang.

Ia sedang memperhatikan A-kit dengan seksama.

Ketika waktu istirahat tengah hari, tiba-tiba ia bertanya: “Sudah berapa hari kau menderita kelaparan?”

“Apakah kau mengetahui bahwa aku sedang kelaparan?”, A-kit balik bertanya.

“Hari ini hampir saja kau jatuh tak sadarkan diri sebanyak tiga kali…..!”

A-kit menundukkan kepalanya, memandang kaki sendiri yang masih berlepotan kotoran manusia.

“Pekerjaan semacam ini adalah pekerjaan yang sangat berat, aku kuatir kau tak sanggup bertahan lebih jauh”

“Lantas mengapa kau datang mencari diriku?”

“Sebab keadaanku waktu pertama kali datang kemari tak jauh berbeda dengan keadaanmu tadi. Jangankan pekerjaan lain, pekerjaan untuk memikul kotoranpun tidak berhasil kudapatkan”

Dari dalam sakunya dia mengeluarkan sebuah bungkusan kertas, Dari dalam bungkusan itu dikeluarkan dua buah kueh dan sebatang asinan wortel.

Ia membagi separuh dari bekalnya itu untuk A-kit.

A-kit menerima pemberian itu tanpa sungkan-sungkan dan segera melahapnya, bahkan kata ‘terima kasih’ pun lupa diucapkan.

Lo Biau-cu hanya memandang ke arah pemuda itu dengan sekulum senyuman menghiasi bibirnya, tiba-tiba ia bertanya:

“Malam ini kau hendak tidur di mana?”

“Aku tidak tahu”

“Aku mempunyai rumah, rumahku besar sekali, kenapa kau tidak tidur di rumahku saja?”

“Kalau kau suruh aku ke sana, aku akan ikut ke sana!”

Rumah besar dari Lo Biau-cu memang tidak terhitung kecil, atau paling sedikit lebih besar sedikit daripada sangkar burung dara.

Ketika mereka pulang ke rumah, seorang nyonya tua yang rambutnya telah beruban, sedang menanak nasi di dapur.

“Dia adalah ibuku, ahli sekali dalam memasak hidangan-hidangan yang lezat”, kata Lo Biau-cu memperkenalkan.

A-kit melirik sekejap ke arah batang sayur dan bubur kasar yang berada dalam kuali, kemudian katanya:

“Ehmmmm….. sudah ku cium bau harumnya semenjak tadi”

Tertawalah nenek itu, ia mengambilkan semangkuk besar bubur baginya.

Tanpa sungkan-sungkan A-kit menerimanya dan langsung dimakan. Diapun tidak mengucapkan kata ‘terima kasih’.

Paras muka Lo Biau-cu menunjukkan perasaan puas, katanya kemudian: “Dia bernama A-kit. Dia adalah seorang pemuda yang baik!”

“Jika tidak kuketahui akan hal itu, memangnya kubiarkan ia bersantap di sini?”, jawab nenek itu sambil mengetuk mangkuk putranya.

“Malam ini bolehkah ia tidur bersama-sama dengan kita?”, Lo Biau-cu kembali bertanya.

Sambil memicingkan matanya, nenek itu melirik sekejap ke arah A-kit, lalu katanya: “Bersediakah kau untuk tidur seranjang dengan putraku? Apakah kau tidak takut merasa bau badannya?”

“Dia tidak bau!”

“Kau adalah bangsa Han, bangsa Han seringkali menganggap kami orang-orang Biau adalah manusia yang paling bau!”

“Aku adalah bangsa Han, aku lebih bau daripadanya!”, A-kit berbantah.

Nenek itu segera tertawa tergelak, diketuknya kepala pemuda itu dengan sendok kayu, seperti pula sedang mengetuk kepala putranya.

Setelah tergelak sekian lama, ia berkata lebih jauh: “Cepat makan, mumpung masih panas! Setelah kenyang, cepat naik ke pembaringan untuk beristirahat, dengan demikian besok baru punya tenaga untuk bekerja lagi”

A-kit sedang bersantap, bahkan bersantap dengan gerakan paling cepat.

Kembali nenek itu berkata: “Cuma, sebelum naik ke pembaringan nanti, kau mesti melakukan suatu pekerjaan lebih dulu!”

“Apa yang harus kulakukan?”, tanya A-kit.

“Cuci bersih dulu kakimu sebelum naik ke pembaringan, kalau tidak si Boneka pasti marah!”

“Siapa si Boneka itu?”

“Dia adalah putriku, adik perempuannya!”

“Tapi seharusnya ia adalah seorang tuan putri, sebab sejak dilahirkan ia lebih pantas menjadi seorang tuan putri”

Di ruang belakang berjajar tiga buah pembaringan, diantaranya yang paling bersih dan empuk tentu saja milik si tuan putri.

A-kit ingin sekali menjumpai tuan putri itu.

Tapi ia merasa terlalu lelah, setelah menghabiskan bubur sayur, sepasang kelopak matanya terasa berat sekali bagaikan diberi beban sebesar beribu-ribu kati.

Sekalipun tidur berdesakan dengan seorang laki-laki semacam Lo Biau-cu bukan sesuatu yang menyenangkan, tapi dengan cepatnya ia sudah tertidur lelap.

Di tengah malam ia pernah terbangun satu kali, dalam remang-remangnya cuaca ia seakan-akan menyaksikan seorang gadis yang berambut panjang sedang duduk termangu di muka jendela. Akan tetapi ketika diperhatikan untuk kedua kalinya, ia sudah menyembunyikan tubuhnya di balik selimut.

Keesokan harinya ketika mereka makan berangkat bekerja, gadis itu masih tidur, bahkan separuh badannya bersembunyi di balik selimut, seolah-olah ia sedang menghindari suatu malapetaka yang menakutkan.

A-kit hanya menyaksikan rambutnya yang panjang dan hitam terurai di atas bantal.

Fajar belum menyingsing, kabut tebal masih menyelimuti permukaan tanah.

Mereka berjalan melawan hembusan angin yang serasa menusuk tulang.

Tiba-tiba Lo Biau-cu bertanya: “Kau telah berjumpa dengan si Boneka?”

A-kit gelengkan kepalanya.

Dia hanya menyaksikan rambutnya yang hitam dan panjang.

“Ia bekerja di rumah gedung seorang hartawan kaya, sebelum larut malam tak mungkin bisa pulang”, Lo Biau-cu menerangkan.

Lalu sambil tersenyum katanya lagi: “Ya, maklumlah! Orang kaya biasanya memang tidur sampai larut malam……”

“Aku mengerti!”

“Cepat atau lambat kau harus berjumpa dengannya”, kata Lo Biau-cu lebih jauh.

Dengan pancaran sinar bangga dan kagum, ia meneruskan: “Asal kalian telah bertemu, kau pasti menyukainya, sebab kami selalu bangga atas prestasinya”

A-kit dapat merasakan kebanggaan orang, ia percaya gadis itu pastilah seorang tuan putri yang patut disayangi.

Di waktu beristirahat tengah hari, di kala ia sedang menikmati bakpao pemberian si nenek, tiba-tiba muncul tiga orang laki-laki menghampirinya. Walaupun baju mereka compang-camping, topinya dikenakan miring ke bawah sehingga menutupi sebagian wajahnya, sebilah pisau kecil terselip di pinggang mereka.

Waktu itu mulut luka bekas bacokan di tubuhnya belum merapat, bahkan kadangkala masih terasa sakit.

Salah seorang di antara ketiga orang itu, seorang laki-laki dengan sepasang matanya yang berbentuk segi tiga, memperhatikan wajahnya dengan seksama, kemudian sambil mengulurkan tangannya ia berseru: “Bawa kemari!”

“Apanya yang bawa kemari?”, tanya A-kit keheranan.

“Meskipun kau baru datang, seharusnya kau memahami peraturan di tempat ini!”

“Peraturan apa?”, tanya A-kit tidak habis mengerti.

“Upah kerja yang kau dapatkan harus dibagi menjadi tiga bagian, dan sekarang akan kutarik untuk sebulan lebih dulu”

“Aku cuma mempunyai tiga biji mata uang tembaga!”

Laki-laki bermata segi tiga itu segera tertawa dingin.

“Heeehhh…heeehh….heeeehhh….cuma tiga biji mata uang tembaga? Nyatanya kau bisa menikmati bakpao putih!”

Sebuah pukulan yang keras dan telak menjatuhkan bakpao dalam genggaman A-kit.

Bakpao tersebut menggelinding di tanah dan terjatuh di atas kotoran.

Dengan mulut membungkam, A-kit memungutnya kembali dan mengelupas kulit bagian luarnya.

Dia harus makan bakpao tersebut, sebab dengan perut kosong tak mungkin punya tenaga untuk bekerja.

Menyaksikan perbuatan A-kit, laki-laki bermata segi tiga itu segera tertawa tergelak.

“Haaahhhh….haaahhh…haaaahhh…bakpao berselai kotoran, entah bagaimana rasanya?”

A-kit tidak menjawab.

“Huuuuh……makanan semacam itupun kau lahap, sesungguhnya kau ini manusia atau anjing!”, damprat laki-laki bermata segitiga.

“Terserah kepadamu, apa yang kau katakan itulah aku”

Kemudian sambil mengigit bakpaonya, A-kit berkata lebih lanjut: “Aku hanya mempunyai tiga biji mata uang tembaga, kalau kau menghendaki, nah ambillah!”

“Kau tahu siapakah aku?”, bentak laki-laki itu.

A-kit gelengkan kepalanya.

“Kau pernah dengar nama si kusir kereta?”, kembali laki-laki itu membentak.

Sekali lagi A-kit gelengkan kepalanya.

Orang itu berkata lebih jauh: “Si kusir kereta adalah anak buah Thi tau toako kami. Thi tau toako adalah saudara cilik dari toa tauke!”

Kemudian sambil menunjuk ke hidung sendiri katanya lagi: “Dan aku adalah saudara kecil dari si kusir kereta. Kau anggap aku sudi menerima tiga biji mata uang tembagamu yang bau itu?”

“Kalau kau tidak sudi, biarlah untukku saja”, ujar A-kit.

Laki-laki bermata segitiga itu tertawa tergelak, tiba-tiba ia menendang ke selangkangan pemuda tersebut.

A-kit menjerit kesakitan, saking mulasnya dia sampai terbungkuk-bungkuk……

“Hmm…….! Kalau bajingan ini tidak diberi sedikit pelajaran, dia tentu tak akan tahu tebalnya bumi dan tingginya langit!”, omel laki-laki itu dengan geramnya.

Ketiga orang itu sudah bersiap sedia turun tangan. Tiba-tiba muncul seseorang yang segera menghadang di hadapan mereka. Orang itu mempunyai perawakan yang satu kali lipat lebih besar daripada tubuh mereka.

Laki-laki bermata segi tiga itu mundur setengah langkah, lalu teriaknya dengan lantang: “Lo Biau-cu, lebih baik kau tak usah turut campur dalam urusan kami!”

“Dalam hal ini bukan terhitung campur tangan urusan orang lain lagi”, teriak Lo Biau-cu.

Sambil menarik tangan A-kit, ia menambahkan: “Sebab orang ini adalah saudaraku!”

Laki-laki bermata segi tiga itu melirik sekejap ke arah tangannya yang kasar dan besar itu, kemudian sambil tertawa katanya:

“Kalau dia memang saudaramu, apakah dapat kau jamin bahwa upah kerjanya akan disetor tiga bagian kepada kami?”

“Dia pasti akan melunasinya!”, Lo Biau-cu berjanji.

Senja itu ketika mereka membawa tubuh yang penat lagi bau pulang ke rumah, A-kit masih basah oleh keringat dingin, tendangan itu tidak enteng baginya.

Lo Biau-cu memperhatikan sekejap wajahnya, kemudian tiba-tiba bertanya: “Jika orang lain memukul dirimu, apakah kau selalu tidak membalas pukulan tersebut?”

A-kit termenung agak lama, lama sekali dia baru berkata: “Sebelum sampai di sini, aku pernah bekerja di suatu rumah pelacuran, orang-orang di sana telah menghadiahkan sebuah julukan untukku”

“Apakah julukan itu?”

“Mereka selalu memanggilku sebagai A-kit yang tak berguna”

Suasana dalam dapur kering dan hangat.

Ketika mereka baru sampai di pintu depan, suara teriakan gembira dari si nenek sudah kedengaran.

“Hari ini tuan putri kita akan makan di rumah, kita semua bakal ada daging untuk bersantap!”

Seperti seorang anak kecil, sambil tertawa katanya lebih lanjut: “Setiap orang akan mendapat sepotong daging secara adil, sepotong daging yang besar lagi lezat!”

Suara tertawa dari si nenek selalu mendatangkan rasa hangat dan gembira di dalam hati kecil A-kit, tapi terkecuali untuk hari ini, sebab akhirnya ia telah berjumpa dengan si Tuan Putri.

Dapur yang sempit telah ditaruh kursi yang banyak, sewaktu bersantap mereka harus duduk berdesak-desakan, tapi ada sebuah kursi yang masih dalam keadaan kosong.

Kursi itu khusus disediakan untuk tuan putri mereka, dan sekarang ia sudah duduk di kursi itu, tepat berhadapan muka dengan A-kit.

Dia mempunyai sepasang mata yang besar dan jeli, sepasang tangan yang ramping dan putih halus, rambutnya yang hitam dan panjang disanggul di atas kepala, dengan sikapnya yang agung tapi lembut, ia memang tampak seperti seorang tuan putri sungguhan.

Seandainya baru pertama kali ini A-kit berjumpa dengannya, seperti juga orang-orang lain, dia pasti akan menghormatinya bahkan menyayangi dirinya pula.

Sayang perjumpaannya sekarang bukanlah perjumpaan yang pertama kalinya.

Pertama kali ia bertemu dengan nona ini di dapurnya Han toa-nay-nay, yakni di sisi si gajah bengkak. Waktu itu dia duduk sambil mengangkat tinggi-tinggi sepasang kakinya, sehingga sepasang kakinya yang kecil mungil terlihat jelas.

Waktu itu A-kit tidak memperhatikannya walau sekejap, tapi secara diam-diam ia selalu memperhatikan dirinya.

Kemudian ia baru tahu bahwa nona itu adalah orang termuda dan teramai dagangannya di antara anak buah Han toa-nay-nay lainnya.

Di sana ia bernama ‘Siau-li’, tapi orang lain lebih suka menyebutnya sebagai siluman kecil.

Untuk kedua kalinya mereka berjumpa di dalam kamar di kala ia terkena tujuh-delapan bacokan golok.

Sampai kini ia belum melupakan liukan tubuhnya yang telanjang di balik selembar kain tipis yang mengerudungi badannya.

Waktu itu dia harus menggunakan tenaga dan pikiran yang paling besar untuk mengendalikan diri, bahkan sewaktu mengutarakan kata: “Enyah!”

Sesungguhnya dia mengira pertemuan di antara mereka sudah berakhir pada malam itu, sungguh tak disangka kini mereka harus berjumpa kembali…………….

Cuma saja, siluman kecil yang jalang dan genit itu kini sudah berubah menjadi si boneka yang agung bagaikan tuan putri, bahkan merupakan satu-satunya tumpuan harapan dari mereka sekeluarga.

Mereka semua adalah sahabat-sahabatnya. Ia diberi makan, diberi tempat tinggal bahkan menganggap dirinya sebagai saudara sendiri.

A-kit menundukkan kepalanya. Sungguh amat sakit hatinya saat ini, sedemikian sakitnya sehingga bagaikan disayat-sayat dengan pisau tajam.

Sementara itu si nenek telah menarik tangannya sambil berkata dengan wajah berseri: “Hayo cepat kemarilah dan jumpai tuan putri kita!”

Terpaksa A-kit beranjak dan menghampiri nona itu, kemudian agak gelagapan katanya: “Baik-baikkah kau?”

Nona itu memandang sekejap ke arahnya, wajahnya tanpa emosi, seakan-akan belum pernah dijumpainya manusia yang bernama A-kit itu, dia hanya berkata dengan tawar: “Duduklah, mari kita makan daging!”

A-kit kembali duduk di tempatnya, seakan-akan ia mendengar suaranya sedang berkata: “Terima kasih tuan putri!”

Lo Biau-cu yang mendengar perkataan itu segera tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…..haaahhh…haahhh….kau tak usah memanggil tuan putri kepadanya, seperti juga kami semua, harus memanggilnya sebagai si boneka!”

Ia memilihkan sepotong daging asin yang paling besar dan paling tebal untuk A-kit, kemudian katanya:

“Hayo cepat, makan daging, setelah kenyang kita harus tidur sebaik-baiknya!”

Malam itu A-kit tak dapat tidur.

Malam sudah semakin larut. Lo Biau-cu yang tidur di sisinya sudah mendengkur. Si Boneka yang berada di ranjang lain rupanya juga sudah tertidur nyenyak.

Tapi A-kit harus berbaring dengan mata terpentang lebar, peluh dingin mengucur ke luar tiada hentinya.

Hal ini bukan saja dikarenakan hatinya secara lamat-lamat terasa sakit, luka-luka bekas bacokan di tubuhnyapun ikut terasa sakit, bahkan sakitnya bukan kepalang.

Memikul kotoran manusia bukan suatu pekerjaan yang ringan, dan selama ini mulut luka bekas bacokan golok itu tak pernah merapat.

Akan tetapi ia tak pernah memperhatikannya. Ia seakan-akan acuh terhadap luka-luka di tubuhnya.

Kadangkala sewaktu dia harus memikul kotoran manusia yang berat, seringkali mulut luka di bahunya terasa merekah dan pecah, tapi ia selalu busungkan dadanya sambil mengertak gigi rapat-rapat. Ia tak ambil perduli terhadap siksaan badaniah yang dideritanya.

Sayang bagaimanapun jua, tubuhnya bukan terdiri tulang besi otot kawat. Sore tadi ia telah menemukan bahwa beberapa buah mulut lukanya mulai membusuk dan menyiarkan bau yang memuakkan.

Setelah berbaring di atas pembaringan, ia mulai merasakan sekujur badannya menggigil kedinginan, peluh dingin mengucur keluar tiada hentinya, kemudian secara tiba-tiba badannya menjadi panas bagaikan digarang di atas api. Dari setiap mulut lukanya seolah-olah muncul bara api yang membakar dengan hebatnya.

Ia masih berusaha dengan sekuat tenaga untuk mengendalikan diri, berusaha menahan penderitaan, akan tetapi sekujur tubuhnya sudah mulai mengejang keras, ia merasa tubuhnya seakan-akan terjatuh ke bawah, terjatuh ke dalam jurang yang gelap dan tidak nampak dasarnya.

Di antara sadar tak sadar, ia seakan-akan mendengar jeritan kaget dari sahabatnya, tapi ia sudah tidak mendengar lagi.

Dari kejauhan diapun seakan-akan mendengar orang sedang memanggil namanya, suara itu begitu lembut dan halus, tapi berasal dari tempat yang amat jauh………

Akan tetapi ia dapat mendengarnya dengan jelas.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: