Kumpulan Cerita Silat

04/04/2008

Seri Maling Romantis: Rahasia Ciok Kwan Im (04): Pembantu Yang Misterius

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 10:45 pm

Seri Maling Romantis
Rahasia Ciok Kwan Im (04): Pembantu Yang Misterius
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Gumaha)

“Kenapa tidak kau undang mereka kemari ikut makan dan minum?”

“Mereka sudah pulang”

“Biar apa kau keburu buru suruh mereka pulang, aku dan Coh Liu hiang cukup tahu dan suka humor, kami pasti akan beri kesempatan kepadamu untuk bercengkerama dengan mereka”

“kini tiada waktu lagi, sejak kini kita mulai perjalanan menuju ke padang pasir nan luas, selanjutnya kereta ini takkan berhenti selewat dua kali minuman teh, dan lagi setiap kali hanya boleh berhenti tiga kali aku percaya mengandal tenaga dan kekuatan kita, sedapat mungkin sudah harus dapat kendalikan diri untuk tidak berak dan kencing.”

Oh Thi-hoa angkat pundak, tanyanya: “Masakah turun kereta untuk jalan kakipun tak boleh?”

“Sekali-kali tidak boleh!”

“Kenapa?”

“Memang kita belum tahu apakah pihak musuh sudah menyebar mata-matanya diberbagai tempat untuk menyelidiki dan mencari tahu jejak dan gerak-gerik kita, oleh karena itu kita harus berjaga-jaga untuk hal ini.”

“Kukira itu tidak perlu,” sela Oh Thi-hoa.

“Jikalau kita ingin berhasil segala kemungkinan, harus kita perhitungkan secara matang, jikalau musuh berani, mengganggu Coh Liu-hiang, pastilah dia bukan sembarang orang.”

“Memangnya kita ini orang sembarangan?”

“Sudah kukatakan orang-orang yang tumbuh dan hidup di padang pasir, mereka sudah digembleng sedemikian rupa sampai lebih kuat bertahan dari unta, lebih cerdik dari rase, lebih buas dari serigala, sebaliknya di dalam padang pasir itu kita selemah seekor kelinci yang tidak tahu seluk-beluk di sana.”

“Kau terlalu mengunggulkan kebolehan musuh, memangnya kami begitu tidak becus.”

“Karena aku tidak mau mampus di padang pasir, elang memakan daging busukan, serigala gegares tulang belulang, sekarang aku masih hidup dan ingin hidup foya-foya.”

“Tapi aku berpendapat…”

“Aku tidak ingin tahu pendapatmu, cuma ingin tahu kalau toh kalian ingin aku kemari apakah segala sesuatunya dalam perjalanan ini kalian suka mendengar petunjukku?”

Selama ini Coh Liu-hiang tinggal diam mendengarkan percakapan mereka, baru sekarang ia menyahut tersenyum: “Kau bisa keluar dari padang pasir dengan tetap hidup membawa kekayaan itu, apa yang kau katakan tentunya masuk akal dan boleh dipercaya, selalu aku mau menerima dan tunduk kepada omongan yang masuk akal.”

“Bagaimana dirimu?” tanya Ki Ping-yan melotot kepada Oh Thi-hoa.

Oh Thi-hoa geleng-geleng sambil menghela napas, ujarnya: “Aku hanya bisa bilang tidak seharusnya aku paksa kau kemari, kalau kau sudah di sini apa pula yang dapat kulakukan.”

“Bagus!” ujar Ki Ping-yan, tiba-tiba ia turunkan semua arak dan sayuran dari atas meja sekali tekan, lembaran meja itu tiba-tiba bergerak terbalik ternyata muka sebelahnya bergambar sebuah peta yang jelas sekali dengan tulisan-tulisan petunjuk.

Dengan sumpit dibasahi arak Ki Ping-yan menggambar sebuah garis lempang, katanya: “Seharusnya kita tidak boleh menempuh jalan ini untuk keluar perbatasan, soalnya kau tidak kenal jalan, tapi kebacut sudah berada di sini maka terpaksa kita harus menyelusuri jalan ini.”

“Apakah disini letak Hongho?” tanya Coh Liu-hiang.

“Ya, disini letak hulu Hongho, kita boleh menyelusuri sungai terus sampai di Ginjwan, aku tahu pengaruh Ca-Bok-hap dulu, belum meluas sampai selatan Linsan, maka di sepanjang jalan ini kita tak perlu mengharap memperoleh sumber dari mereka, namun harus berjaga-jaga terhadap mata kuping mereka.”

Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa mendengarkan dengan penuh perhatian.

“Oleh karena itu,” Ki Ping-yan melanjutkan. “Besok setelah kita tiba di Lo-liong-wan “teluk naga tua” kalian harus menitipkan kuda di sana, di sana aku punya langganan, kau tak usah kuatir.”

“Kudaku itu aku harus membawanya”, kata Coh Liu-hiang.

“Tidak boleh!” kata Ki Ping-yan tegas dan tandas.

“Mengapa?”

“Bukan saja kuda itu terlalu menyolok mata, juga bisa mendatangkan banyak kesulitan, apalagi milik mereka, kalau kita bawa kuda itu, itu berarti membawa pertanda yang gampang dikenali, sekali-kali kita tidak bole menempuh bahaya sebodoh ini!”

Setelah dipikir-pikir, akhirnya Coh Liu-hiang bungkam.

“Kau harus tahu, sekarang bukan saja pihak lawan secara diam-diam sedang menunggu dengan segala persiapannya, malah mereka sudah mendapat keuntungan secara situasi alam dan bumi adat istiadat, bahwasanya kita tidak punya persyaratan dalam hal ini, jikalau ingin menang kita hanya main sergap secara di luar dugaan, oleh karena itu sebelum kita menemukan jejaknya, jejak kita sekali-kali jangan sampai konangan oleh mereka. Jikalau mereka pinjam keuntungan persyaratan tadi, kita akan mati konyol tanpa liang kubur.”

Lama Coh Liu-hiang menepekur, katanya menghela napas: “Memang tidak sebanyak itu yang pernah kupikirkan, aku…”

“Kau harus ingat,” kata Ki Ping-yan sepatah demi sepatah, “Musuh tahu karena ditempat mana saja tak berhasil membunuh kau, maka kau dipancingnya ke padang pasir, kalau dia memancingmu kemari, tentulah karena dia yakin dan punya pegangan membunuhmu di padang pasir, inilah suatu perjuangan hidup yang paling besar rumit dan sulit selama hidupmu, mana boleh kau tidak lebih banyak berpikir?”

Coh Liu-hiang menyengir kecut, ujarnya: “Tapi ada kalanya sesuatu tidak boleh dipikir terlalu banyak dan luas.”

Ki Ping-yan menenggak seteguk arak, katanya: “Baik! Sekarang persoalan apapun tak perlu kita pikirkan, tidurlah lebih dulu, meski tak bisa tidur harus dipaksa untuk tidur, karena sejak sekarang kita jangan membuang tenaga.”
Balai-balai itu cukup besar, ketiganya sudah rebah dan tidur.

Tangan Oh Thi-hoa masih pegangi sebuah cangkir, tiba-tiba berkata dengan tertawa: “Bagaimanapun, sekarang terhitung kami bisa tidur bersama pula, seperti puluhan tahun yang lalu…! Kehidupan manis dan indah masa lalu.”

“Hari-hari itu belum tentu indah, waktu itu kita minum arak kecut, rebah di atas rerumputan yang dingin, sekarang kita justru tidak di atas ranjang yang empuk dan hangat.”

Oh Thi-hoa menghela napas, ujarnya menggeleng: “Kehidupan masa silam selamanya merupakan kenangan manis, sayang soal demikian selamanya kau takkan mengerti, karena kau kurang romantis, terlalu jujur dan suka menghadapi kenyataan terlalu kasar, kau hanya tahu…” tiba-tiba ia gerakan mulutnya, karena ia dapati Ki Ping-yan sudah mendengkur.

Hari kedua menjelang magrib, mereka tiba di Lo-liong-wan.
Di dalam sebuah perkampungan petani milik Ki Ping-yan, Coh Liu-hiang bertiga turun dari kereta, mendadak hatinya merasa berat berpisah dengan kuda hitam ini, tanpa sadar ia menggumam dengan tertawa getir: “Mungkin aku memang sudah tua hatiku semakin lembek, kuda itupun meringkik sedih.”

Coh Liu-hiang mengelus punggungnya yang datar dan bidang, katanya tertawa: “Apa kau pun berat berpisah dengan aku? Kuatir setelah berpisah hari ini, selamanya takkan berjumpa lagi?”

Oh Thi-hoa sebaliknya seperti amat bersemangat, bersama Ki Ping-yan mereka sedang periksa kereta dan unta, setiap benda harus diperiksa dengan teliti, tanya ini tanya itu.

Sekarang dia sudah tahu laki-laki kekar tinggi bisu tuli itu bernama Ciok Tho “unta batu”, tapi sungguh ia tidak habis berpikir, kulit daging manusia bagaimana bisa berubah begitu rupa.

Kini dia pun sudah tahu anak muda yang pegang kendali itu bernama Siau-Phoa, Siau-phoa sebetulnya bukan anak muda lagi, sedikitnya sudah berusia tiga puluhan tahun cuma pembawaan mukanya mungil seperti raut muka orok kecil sebelum bicara mukanya sudah tertawa, setelah bicara masih tertawa juga, sehingga setiap orang yang menghadapinya tak bisa marah meski hatinya mendongkol.

Semakin dipandang Oh Thi-hoa merasa orang ini amat menarik, tak tahan ia menghampiri dan tanya: “Siau-phoa, tahun ini apa usiamu sudah tiga lima?”

“Bicara terus terang, satu bulan lagi, usiaku sudah genap empat puluh tiga.”

“Hah, empat puluh tiga, sungguh luar biasa… laki-laki usia empat puluhan tahun, kau msih suka dipanggil Siau-phoa (phoa sikecil), emangnya kau begitu senang?”

“Umpama aku sudah berusia delapan puluh, orang tetap memanggilku Siau-phoa, tapi ini bukan soal yang harus ditonjolkan, malah boleh dikata suatu yang memalukan!”

“Ki Ping-yan mau membawamu, kau tentu mempunyai sesuatu kepintaran yang luar biasa, coba kau punya kebolehan apa? Pertunjukkan kepadaku mau tidak?”

Siao-phoa unjuk tawa berseri, sahutnya: “Kebolehanku justru aku tidak bisa apa-apa, apapun aku tidak mengerti. Seseorang setelah mencapai usia empat puluhan, namun apapun tidak bisa dan diketahui, kukira suatu hal yang sulit dilakukan orang lain, coba pikir, benar tidak?”

Oh Thi-hoa terkial-kial serunya: “Kau bisa bicara demikian, ini menunjukkan bahwa kepintaranmu tentu luar biasa.”

Lama kelamaan, lebih jelas ia mengetahui bukan saja Siau-Phoa ini setiap kali bertemu dengan orang bisa bicara dan berkelakar bertemu setan menggunakan bahasa setan, malah dia memiliki suatu kepandaian istimewa.

Bahasa daerah dari dua pinggiran sungai besar, dari Hokkian sampai ke Kwiciu dari Tibet sampai ke Sinkiang bahasa dari suku bangsa dan daerah dapat diucapkan dengan lancar dan logat yang mirip sekali, seolah-olah dia memang penduduk asli dari daerah-daerah itu, hubungan apapun dan persoalan apapun terhadap orang lain itu, boleh pasrahkan kepadanya dengan lega hati, seumpama dia bekerja dengan pejamkan mata, tanggung takkan bisa dirugikan.

Sebaliknya Ciok Tho meski bisu dan tuli tak bisa bicara dengan manusia, tapi dia bisa bercakap-cakap dengan binatang peliharaannya, seolah-olah dia menguasai sesuatu bahasa rahasia yang luar biasa untuk hubungan antara pikiran dan raganya dengan binatang-binatang itu.

Apapun yang sedang dipikirkan dalam benak keledai, kuda atau unta, dia bisa tahu dengan baik, apa yang hatinya ingin supaya binatang itu lakukan, ternyata binatang itu menurut berbuat seperti petunjuknya.

Kadang kala Oh Thi-hoa berpikir-pikir dan tak habis mengerti entah dengan cara apa Ki Ping-yan berhasil menemukan kedua orang ini, sungguh tidak bisa tidak ia harus memuji dalam hati.

Kereta berjalan terus siang malam tak hentinya. Siau-phoa dan Ciok Tho seolah-olah tidak pernah tidur, tapi beberapa hari kemudian semangat Siau-phoa masih segar bergairah, mukanya selalu berseri tawa riang dan gembira, sementara Ciok Tho pun tak pernah menundukkan kepala.

Berkata Oh Thi-hoa: “Apakah kedua orang itu boleh tak usah tidur?”

“Ada sementara orang, apapun yang sedang dia lakukan, dia boleh bekerja sambil tidur.”

“Waktu pegang kendali menjalankan kereta juga bisa tidur?”

“Kuda sudah tahu jalan, kenapa kusirnya tidak boleh tidur?”

Oh Thi-hoa berpikir-pikir, ujarnya: “Benar. Waktu kendalikan kereta ia tetap duduk tapi Ciok Tho bukan saja tidak pernah duduk, malah berdiri tegakpun dia tidak pernah, memangnya sambil berjalan diapun bisa tidur?”

“Ya, memang begitulah kejadiannya.” sahut Ki Ping-yan tawar.

Oh Thi-hoa terloroh-loroh, serunya: “Kau anggap aku ini bocah umur tiga tahun?”

Ki Ping-yan menarik muka dan tunduk kepala, mulutnya terkancing rapat.

Coh Liu-hiang malah menyela tertawa: “Memang ia tak menipu kau, memang ada orang yang bisa tidur sambil berjalan, karena kedua kakinya bergerak, tapi semangatnya sudah lepas dan pikiranpun kosong, mirip benar dengan orang tidur.”

“Suatu kebolehan lain yang tidak kecil artinya.” ujar Oh Thi-hoa tertawa.

“Kebolehannya itu bukan pembawaan sejak dilahirkan, tapi merupakan hasil tumpuan dan gemblengan yang luar biasa, seorang bila dia digusur dengan cambuk, tanpa berhenti berjalan satu tahun lamanya, asal pejamkan mata cambuk pasti melecut badannya, lama kelamaan seumpama dia berjalan diatas salju dengan kaki telanjang, diapun bisa tidur dengan nyenyak.”

“Apakah Ciok Tho dulu pernah mengalami penderitaan begitu rupa?”

“Em! berat suara Ki Ping-yan.

“Tapi kenapa orang lain menyuruhnya terus berjalan, sampai setahun lamanya?”

Sesaat kemudian baru Ki Ping-yan berkata: “Pernahkah kau melihat keledai yang menarik gilingan?”

“Pernah”

“Nah, dia pernah dipandang sebagai keledai untuk menarik gilingan, cuma sudah tentu keadaannya jauh lebih sengsara dari keledai, keledai punya waktu-waktu tertentu untuk istirahat, kakinya justru tak pernah berhenti, dia menarik gilingan setahun penuh.

Bergidik Oh Thi-hoa dibuatnya, katanya naik pitam: “Siapa orang itu? Kenapa begitu kejam? Kenapa pula menyiksanya sedemikian rupa?”

Ki Ping-yan geleng-geleng kepala, tak bersuara lagi.

Terpaksa Oh Thi-hoa tenggak arak sebanyak banyaknya, sungguh hatinya kurang percaya. “Mana mungkin seseorang bisa tidur diwaktu berjalan?” akhirnya dia berkeputusan hendak membuktikan diri.

Seumpama kereta ini merupakan kereta paling nyaman, segar dan mewah di seluruh kolong langit, tapi setiap hari harus dikurung didalamnya, tidak bisa bergerak tidak boleh keluar lama kelamaan Oh Thi-hoa merasa sebal dan gerah, hampir saja ia menjadi gila karenanya. Memangnya dia ingin mengerjakan sesuatu pekerjaan. Maka dia mendekam d pinggir jendela kereta, dengan mata terpentang lebih dia awasi Ciok Tho, ingin dia melihat bagaimana dia tertidur dikala kakinya melangkah.

Biji mata Ciok-Tho yang berwarna kelabu itu, selalu terbelalak lebar, dengan kosong memandang jauh ke depan, seolah-olah dapat melihat suatu pemandangan indah, yang tak mungkin terlihat oleh orang lain.

Dengan seksama Oh Thi-hoa selalu memperhatikan dirinya, sendiri kemudian, mendadak ia tertawa gelak-gelak katanta :

“Keparat benar Jago Mampus kau ini, ternyata menipuku lagi.”

Heran Ki Ping-yan dibuatnya tanyanya mengerut alis : “menipu apa kau?”

“Matanya selalu terbuka dan tidak pernah terpejam, mana bisa dia tertidur?”

“Dia tidur tanpa pejamkan mata.” sahut Ki Ping-yan.

“Memangnya kenapa pula?”

Karena dia memangnya seorang buta. Buta? Oh thi-hoa berjingkrak bangun.

Maksudmu bukan saja dia bisu dan tuli, matanya pun buta?”

Ki Ping-yan bungkam, selamanya tak pernah dia memberi keterangan kedua kalinya.

“Tak heran kedua biji matanya itu kelihatan begitu aneh, tapi… seorang buta kenapa bisa berjalan seperti dia? Sungguh aku lebih tidak mengerti.”

“bicaramu semakin membingungkan, seperti dongeng belaka, memangnya dia itu seekor binatang?”

“Ada kalanya memang dia boleh dianggap seekor binatang, karena dia sendiripun menganggap bahwa dia itu seekor binatang buas malah dia beranggapan berkumpul sama binatang buas, jauh lebih gampang dan aman daripada dengan manusia”

“kalau begitu, kenapa dia mau bekerja bagi kau?”

Mulut Ki Ping-yan terkancing lagi, Oh Thi-hoa melihat bukan saja orang tidak sudi menjawab pertanyaan ini, orangpun tidak mau memperbincangkan persoalan ini. Siapa tahu sesaat kemudian, dengan kalem sepatah demi sepatah Ki Ping-yan malah bilang : “Itulah karena aku pernah menolong jiwanya.”

Kini Oh Thi-hoa yang berdiam diri, katanya menghela napas kemudian : “Jadi kenapa kau suka membawa seorang yang buta tuli dan bisu itu untuk menempuh bahaya di padang pasir?”

Karena bila di padang pasir, dia jauh lebih berguna dari sepuluh orang yang tidak buta, tidak tuli dan tidak bisu.

Padang pasir. akhirnya mereka tiba di padang pasir.

Itulah sebuah kota kecil di pinggiran padang pasir, berdiri didekat pintu sebuah penginapan satu-satunya yang terdapat di kota kecil itu menyawang jauh ke depan sana, ke padang pasir nan luas tak berujung pangkal.

Dalam kota kecil itu hanya terdapat beberapa keluarga saja, mereka hidup dengan penuh penderitaan ditengah badai pasir yang tak kenal kasihan itu. Barang mustika satu-satunya kolektif mereka hanyalah sebuah perigi yang birisi air yang tidak boleh dikatakan jernih.

Dengan harga yang sepuluh lipat lebih mahal dari harga arak. Ki Ping-yan membeli puluhan kantong air itu, lalu dengan harga yang jauh lebih murah dari daging babi dia jual beberapa ekor kuda yang sudah kelihatan itu kepada penghuni kota kecil itu, lalu menyulut api membakar petak kereta itu, itulah barang-barang kesayangannya dia tak bisa membawanya, terpaksa dibakar saja.

Dia paling pantang segala miliknya yang paling dia sukai terjatuh ke tangan orang lain.

Tak tahan bertanya Coh Lui-hiang : “aku tahu kenapa kau bakar kereta besar ini. Tapi tak mengerti kenapa kuda-kuda itu kau jual? Seumpama kau ini seorang kikir, memangnya kau ingin menambah beberapa keping uang perak sebagai ongkos jalan?”

“Jikalau kita bawa kuda-kuda ini ke padang pasir, dalam jangka tiga hari, mereka sudah akan mampus keletihan.”

“Kenapa tidak kau lepas mereka saja? Kuda tahu jalan dan bisa pulang, mungkin dia bisa tiba dirumah.”

“Mereka pasti takkan bisa pulang.”

“Kenapa?”

“Sepanjang jalan ini, bukan hanya saja banyak begal, kuda yang malang melintang sepanjang tahun tidak sedikit jumlah manusia yang kelaparan, jikalau aku melepas mereka pulang, seumpama mereka tidak tertangkap oleh kawanan begal kuda, mereka bahkan menjadi santapan perut orang-orang kelaparan itu.

“Kau anggap penghuni kota kecil ini bakal memeliharanya baik-baik?”

“Ya, mereka penduduk genah, suka menghemat dan berhati baik, terhadap kuda peliharaan pasti menyayanginya, aku yakin kuda-kuda itu akan dipelihara dengan baik,” baru sekarang ujung mulutnya menyungging senyuman katanya pula:

“Dengan demikian, kalau mereka menjual kuda-kuda itu, tentu harga yang lebih tinggi, maka orang itu sekali-kali takkan membunuh kuda itu untuk dimakan.”

“Kalau demikian kenapa tidak kau berikan saja kuda itu kepada mereka?”

“manusia biasanya terlalu sayang dan eman terhadap sesuatu barang yang dibelinya jikalau barang sumbangan atau pemberian orang sedikit banyak tentu dipandangnya sepele dan kurang berharga.”

Lama Oh Thi-hoa menepekur, katanya kemudian dengan menarik napas: “Kat nyana kau bisa berpikir begitu cermat bagi kuda-kuda itu, agaknya belakangan ini kau sudah sedikit berubah.”

“Kau kira itu maksudku sendiri?”

“Bukan maksudmu, memangnya maksud siapa?”

Pertanyaan ini tidak perlu dijawab oleh Ki Ping-yan, karena saat itu dia sudah melihat raut muka Ciok Tho yang dingin kaku, buruk seperti diukir dari batu batu keramik.

Raut muka yang seperti diukir dari batu batu keramik ini, tatkala itu sedang menampilkan perasaan sedih, seolah-olah sedang sedih karena harus meninggalkan teman baiknya, sementara ringkik kuda-kuda itupun terdengar sumbang dan lemah seperti helaan napasnya.

Kini Coh Liu-hiang, Oh Thi-hoa dan Ki Ping-yang sudah berdandan, samaran mereka mirip benar dengan pedagang pelancongan yang hendak menempuh perjalanan jauh ditengah lautan pasir nan luas ini.

Ciok Tho sebaliknya berdandan seperti orang Mongol, selembar kain putih yang lebar dan panjang dia ikat di atas kepalanya, tujuannya bukan untuk menutupi batok kepalanya dari terik matahari, tujuannya adalah untuk menutupi selembar mukanya.

Mengenai Siau-phoa? Dia boleh sembarangan suka mengenakan pakaian apa saja, meski kau campurkan dia dengan segala macam bangsa, kehadirannya tidak akan menyolok mata.

Disaat hari hampir mendekati magrib mereka berangkat memasuki lautan pasir.
Tatkala itu, walau sang surya sudah terbenam, hawa panas sedang mengepul naik dipermukaan padang pasir, maka panasnya luar biasa, ingin rasanya mencopoti pakaian yang melekat dibadan.

Tapi tak menjelang lama suhu panas itu dengan capat sudah menghilang, disusul hawa dingin yang menusuk tulang menerpa muka terasa pedas dan perih seperti diiris dengan pisau.

Ingin rasanya Oh Thi-hoa menyembunyikan badannya di bawah perut unta, duduk di punggung unta, rasanya seperti naik perahu yang diombang-ambingkan ditengah samudera raya. Coh Liu-hiang, Ki Ping-yan dan Siau-phoa pun duduk d ipunggung unta, melihat gaya duduk Oh Thi-hoa diatas unta, hampir saja mereka terpingkal-pingkal. Memang siapapun yang duduk di atas punggung unta takkan enak dan sedap dipandang mata.

Hanya Ciok Tho yang mengikuti langkah unta-unta itu selangkah demi selangkah berjalan tak kenal lelah, perduli di padang pasir, di tanah datar, di padang rumput atau ditengah rawa-rawa, dingin atau panas……….segala perubahan seolah tiada pengaruh apa-apa bagi manusia cacat yang satu ini.

Jikalau dulu, pasti Oh Thi-hoa sudah mengajukan pertanyaan : “Kenapa kaupun tidak duduk diatas unta?”

Kini dia tak perlu mengajukan pertanyaannya, dia tahu Ciok Tho takkan sudi duduk di punggung kuda, unta atau keledai, karena dia pandang mereka sebagai teman baiknya.

Malam semakin larut, hawa dingin semakin merangsang dan menjapunggung unta, untung tak lama kemudian Ki Ping-yan berhasil menemukan sebuah tempat untuk berlindung dari hembusan angin badai. Mereka mendirikan kemah di belakang gundukan bukit pasir, membuat api unggun dari kotoran binatang.

Ciok Tho jejer unta-unta itu menjadi semacam bundaran, punuk unta untuk menutupi cahaya api.

Diatas api unggun dimasak sewajan sayur, mereka duduk mengelilingi api, minum arak, mencium hawa yang berbau campuran merica, lombok dan berambang dimasak campur daging sapi dan kambing.

Baru sekarang Oh Thi-hoa merasa lebih nyaman dan segar.

Sebaliknya Ciok Tho, tetap duduk dikejauhan sana, di bawah penerangan bintang-bintang yang kelap kelip di padang pasir ini, bukan saja raut mukanya lebih dingin kaku, lebih buruk, malah terunjuk pula mimik dan sikap yang aneh.

Pada tempat yang semakin kosong dan luas, diwaktu yang sunyi dan lebih tenang, sikap dan mimiknya ini jauh lebih jelas dan menyolok, kini dia duduk menyendiri ditengah padang pasir yang tak berujung pangkal, ditengah kegelapan malam yang dingin pula, kelihatannya dia seperti seorang raja yang terusir dari negeri dan rakyatnya, dia sedang mengecap kesunyian, penderitaan dan penghinaan yang kelewat batas dengan diam-diam.

Sampaipun Coh Liu-hiang, tak terasa diapun mulai tertarik akan petualangan masa lalu dari manusia misterius yang sudah mengalami akibatnya dulu, namun sukar dia berhasil menyelami isi hatinya dan jalan pikiran orang yang misterius ini.

Tapi tak pernah Coh Liu-hiang menanyakan kepada Ki Ping-yan. Dia tahu Ki Ping-yan takkan mau menjelaskan atau memang dia sendiripun mungkin tidak tahu.

Setelah larut malam, mereka masing-masing menyelinap masuk ke dalam kemah untuk tidur. Ciok Tho cukup membungkus badannya dengan selimut tebal, tidur disamping unta, celentang menghadap langit dimana bintang-bintang bercokol di cakrawala.

Coh Liu-hiang pun tidak tahu apakah orang sudah tidur belum, namun ia maklum orang lebih suka tidur di pinggir unta, matipun dia tidak mau tidur disamping orang lain. Sudah tentu Oh Thi-hoa pun ada perhatian akan hal ini, tidak seperti Coh Liu-hiang, dia tidak bisa menyimpan didalam hatinya. Setelah ditahan-tahan setengah harian akhirnya ia tak kuat menahan sabar, tanyanya: “Kenapa dia tidak masuk kemari tidur bersama kita?”

“Karena dia tidak pandang sama derajat dengan kita.”

Oh Thi-hoa berjingkarak bangun serunya marah :” Dia pandang rendah kita?”

“Siapapun dia pandang rendah.”

“Terhadap kaupun dia memandang rendah?” tanya Oh Thi-hoa melengak.

Ki Ping-yan tertawa tawar, ujarnya :” Ya, sampai akupun tidak terpandang sebelah matanya.”

“Dia pandang rendah dirimu, kenapa mau bekerja demi kau?”

“Bila kau melakukan sesuatu hal untuk orang lain, tidak mesti harus memandangnya, benar tidak?” tanya Ki Ping-yan, “Sekarang dia bekerja demi aku, karena dia merasa hutang budi terhadapku, bila dia merasa hutangnya lunas, meski aku turut berlutut minta bantuannya dia takkan sudi tinggal bersama kami.”

Kembali Oh Thi-hoa menjublek di tempatnya, lekas ia tuang sebuah cawan besar penuh arak terus ditengaknya, dia ingin lekas bisa tidur, tapi bolak-balik selalu matanya terbayang akan raut muka buruk yang bermimik aneh itu. Siapakah sebenarnya orang ini? Siapa pula yang membuatnya begitu rupa? Sudah tentu dia tak mendapat jawaban, tanpa sadar mulutnya menggumam. “Tempat setan seperti ini, sulit juga hidup dalam hari-hari seperti ini.”

Ki Ping-yan yang seperti sudah pulas, saat itu tiba-tiba menyeletuk dingin :” Sekarang kau sudah merasa sedih dan sengsara ya? Hari-hari yang betul-betul penuh derita belum lagi mulai lho!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: