Kumpulan Cerita Silat

04/04/2008

Pendekar Gelandangan (04)

Filed under: Gu Long, Pendekar Gelandangan — ceritasilat @ 10:54 pm

Pendekar Gelandangan (04)
Bab 04. Perkampungan Pedang Sakti
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Bintang73 dan Donnios)

Rumah makan Sin-hoa-ceng yang kecil hanya melayani dua orang.

Ketika Yan Cap-sa menyerbu ke dalam, ia segera menyaksikan Cho Ping duduk di sudut ruangan.

Ternyata Cho Ping sudah tiba lebih duluan.

Ternyata Cho Ping masih hidup segar bugar.

Mungkinkah ia telah berjumpa dengan Sam-sauya?

Kini terbukti ia masih hidup, jangan-jangan Sam-sauya telah tewas di ujung pedangnya?

Yan Cap-sa tidak percaya, tapi mau tak mau dia harus mempercayainya.

Cho Ping bukanlah seorang manusia yang penyabar, begitu tiba, ia pasti langsung akan menyerbu ke dalam perkampungan Sin-kiam-san-ceng.

Tak nanti dia akan menunggu di sana dengan begitu tenangnya.

Barang siapa dapat menyerbu ke dalam perkampungan Sin-kiam-san-ceng, dan ia masih sanggup ke luar dalam keadaan hidup, maka hanya ada satu alasan saja sebagai jawabannya.

Orang itu pasti sudah berhasil mengalahkan manusia yang paling berbahaya, manusia paling menakutkan dari perkampungan Sin-kiam-san-ceng.

Sungguhkah Cho Ping telah mengalahkan Sam-sauya?

Dengan jurus serangan apakah ia berhasil mematahkan serangan maut dari Sam-sauya?

Yan Cap-sa ingin sekali menanyakan persoalan ini, namun ia tidak bertanya apa-apa.

Sebab walaupun Cho Ping masih hidup, ia sudah mabuk hebat.

Ya, sedemikian mabuknya dia, sehingga kesadarannya boleh dibilang sudah punah.

Untung dalam rumah makan itu masih terdapat orang lain yang tidak mabuk, ia sedang memandang ke arahnya sambil gelengkan kepalanya dan menghela napas.

“Tampaknya saudara ini bukan seorang peminum ahli, baru setengah kati arak ia sudah mabuk”

Bukan seorang peminum arak, kenapa sekarang bisa mabuk oleh arak?

Mungkinkah mabuk digunakan untuk menutupi kehambaran setelah suatu kemenangan yang tak berarti? Ataukah dia hendak menggunakan arak untuk memperbesar keberaniannya sebelum bertempur, tapi ia mabuk lebih duluan?

Yan Cap-sa tak dapat menahan sabarnya untuk bertanya: “Kaukah yang bernama Cia ciangkwe?”

Orang yang sedang menggelengkan kepalanya sambil menghela napas itu segera manggut-manggutkan kepalanya.

“Tahukah kau, apakah saudara ini telah berjumpa dengan Sam-sauya dari keluarga Cia?”, kembali Yan Cap-sa bertanya.

Cia ciangkwe masih juga menggeleng.

“Tidak, aku tidak tahu”

“Apakah ia sudah mendatangi perkampungan Sin-kiam-san-ceng?”

“Aku tidak tahu”

“Sam sauya, kini berada di mana?”

“Aku tidak tahu!”” Lantas apa yang kau ketahui?”, kata Yan Cap-sa kemudian dengan suara yang dingin.

Cia ciangkwe tertawa lebar.

“Aku hanya tahu saudara adalah Yan Cap-sa, aku hanya tahu kalau saudara hendak berkunjung ke perkampungan Sin-kiam-san-ceng!”

Yan Cap-sa ikut tertawa sesudah mendengar perkataan itu.

Persoalan yang seharusnya ia ketahui ternyata tidak diketahui olehnya, sebaliknya persoalan yang seharusnya tidak diketahui olehnya, dia malahan seperti mengetahui semuanya.

“Dapatkah kau bawa aku ke sana?”, kembali Yan Cap-sa bertanya.

“Dapat!”

Air telaga Liok-sui-ou hijau kebiru-biruan.

Sayang waktu itu musim gugur telah tiba, sepanjang telaga tidak nampak lagi pohon liu yang berjajar, yang ada cuma sebuah perahu cepat.

“Perahu ini telah kami sediakan khusus untuk menyambut kedatanganmu, aku telah menyiapkannya sejak tiga hari berselang”

Setelah naik ke atas perahu, dalam perahu bukan saja ada arak dan sayur, di situpun ada sebuah khim, seperangkat alat permainan catur, sebuah jilid kitab dan sebuah batu cadas yang keras dan berkilat.

“Benda apakah ini?”, tanya Yan Cap-sa kemudian.

“Batu pengasah pedang!”, jawab Cia ciangkwe sambil tertawa.

Kemudian sambil tersenyum ia menjelaskan lebih jauh: “Sudah terlampau banyak orang yang kujumpai sebelum mereka mendatangi perkampungan Sin-kiam-san-ceng, dan setiap orang yang sudah naik ke atas perahu ini, biasanya perbuatan yang mereka lakukan selalu tidak sama!”

Yan Cap-sa tidak memberi komentar, ia hanya mendengarkan dengan saksama.

“Ada sementara orang, begitu naik ke perahu ia lantas minum arak sepuas-puasnya”

“Minum arak dapat memperbesar keberanian orang!”, Yan Cap-sa menimpali dari samping.

Ia memenuhi cawan dengan arak lalu meneguknya sampai habis, setelah itu katanya lagi: “Cuma setiap orang yang minum arak bukan berarti untuk memperbesar keberanian saja!”

Cia cingkwe segera menyatakan setuju dengan pandangan itu. Katanya dengan tersenyum: “Ya, benar! Ada sementara orang minum arak hanya dikarenakan ia gemar minum arak”

Yan Cap-sa kembali menghabiskan tiga cawan arak.

“Ada pula sementara orang yang gemar memetik khim, atau membaca buku, bahkan ada pula yang gemar main catur seorang diri”, kata Cia ciangkwe lagi.

Pekerjaan-pekerjaan semacam itu memang bisa mengendorkan ketegangan yang mencekam perasaan seseorang. Dengan bermain khim atau membaca buku tau bermain catur, ketenangan serta kemantapan hatinya dapat terpelihara dengan baik.

Kata Cia ciangkwe lebih jauh: “Tapi sebagian besar orang-orang yang naik ke perahu ini, mereka lebih suka mengasah pedangnya”

Cia ciangkwe memandang sekejap pedang yang dibawa Yan Cap-sa, lalu katanya: “Batu pengasah pedang ini adalah sebuah batu pengasah yang baik sekali kwalitetnya”

Yan Cap-sa segera tertawa.

“Selamanya pedangku tak pernah di asah dengan batu pengasah pedang….”, katanya.

“Kalau tidak diasah dengan batu pengasah pedang, lantas kau asah pedangmu dengan apa?”

“Dengan tengkuk manusia, terutama tengkuk musuh-musuhku!”

Ombak menggulung-gulung menuju ke tepi telaga, sinar matahari senja membiaskan cahayanya ke seluruh jagat.

Bukit Cui-im-hong yang berada di kejauhan tampak indah menawan bagaikan berada dalam lukisan belaka.

Suasana dalam ruang perahu itu amat hening, karena Cia ciangkwe telah menutup mulut.

Ia tak ingin membiarkan tengkuknya dibuat pengasah pedang orang, tapi sepasang matanya masih tak tahan untuk melirik sekejap pedang tersebut, pedang dengan tiga belas butir mutiara menghiasi di atasnya.

Pedang itu bukan sebilah pedang mestika, tapi merupakan sebilah pedang kenamaan, bahkan amat termasyhur.

Yan Cap-sa yang sedang memandang keindahan alam di luar jendela seakan-akan teringat kembali akan suatu rahasia dalam hatinya.

Entah berapa lama sudah lewat dalam keheningan, tiba-tiba ia berpaling sambil bertanya: “Tentu saja kau pernah berjumpa dengan Sam sauya, bukan?”

Cia ciangkwe tak dapat menyangkal.

“Pedang macam apakah yang biasanya dipergunakan?”, tanya Yan Cap-sa lebih lanjut.

Ia pernah menyaksikan Sam sauya turun tangan, tapi ia tidak melihat jelas pedang yang dipergunakan sebab gerakan tangan Sam sauya terlampau cepat, maka dia tak tahan untuk mengajukan pertanyaan ini.

“Aku tak tahu!”

Tapi rupanya dugaan kali ini meleset.

Cia ciangkwe tampak termenung sebentar, pelan-pelan berkata: “Tahukah kau tentang peristiwa adu pedang di bukit Hoa-san yang diselenggarakan tempo hari?”

Tentu saja Yan Cap-sa tahu.

“Pedang itulah yang telah dipergunakan Sam-sauya”, kata Cia ciangkwe lebih lanjut.

“Thian-he-tit-it-kiam?”

Pelan-pelan Cia-ciangkwe mengangguk lalu menghela napas.

“Ya, hanya pedang itu merupakan pedang mestika yang benar-benar tiada tandingannya di kolong langit”

“Perkataanmu memang benar!”, Yan Cap-sa mengakui.

“Ada banyak sekali orang yang menumpang perahu ini, tak lain hanya ingin menyaksikan pedang tersebut”

“Apakah setiap kali kau yang bertanggung jawab untuk menghantar mereka ke seberang?”

“Biasanya memang selalu demikian, sewaktu berangkat seringkali kutemani mereka minum arak atau bermain catur”

“Sewaktu kembalinya?”

Cia ciangkwe tertawa.

“Sewaktu kembali, seringkali aku harus pulang seorang diri”, katanya.

“Kenapa?”

“Karena begitu mereka menginjakkan kakinya dalam perkampungan Sin-kiam-san-ceng, biasanya jarang sekali dapat pulang dalam keadaan selamat!”

Jawaban dari Cia ciangkwe ini cukup tawar dan menggidikkan hati.

Matahari semakin tenggelam di balik bukit, senjapun semakin kelam.

Gunung nan hijau di tempat kejauhan kain lama kian terlelap di balik kegelapan yang makin mencekam, seakan-akan sebuah lukisan yang warnanya mulai luntur.

Suasna dalam ruang perahu lebih hening lagi, karena Yan Cap-sa-pun membungkam dalam seribu bahasa.

Kepergiannya kali ini mungkinkah bisa kembali lagi dalam keadaan hidup? Tiba-tiba ia teringat akan banyak urusan, banyak persoalan yang sesungguhnya tak pantas dibayangkan pada saat seperti ini.

Ia teringat kembali akan masa kecilnya dulu, terbayang kembali sobat-sobatnya di kala remaja, lalu teringat pula akan orang-orang yang tewas di ujung pedangnya.

Di antara sekian banyak orang, adakah beberapa di antaranya yang sebetulnya tak pantas mati?

Ia teringat kembali akan perempuan pertama yang menemaninya tidur, waktu itu ia masih seorang anak-anak, sebaliknya perempuan itu sudah sangat berpengalaman.

Baginya, persoalan itu bukanlah suatu pengalaman yang menarik hati, tapi sekarang apa mau dikata justru ia teringat kembali akan peristiwa itu.

Bahkan ia teringat juga akan Si Ko-jin.

Sekarang, mungkinkah dia telah ikut Hee-ho Seng pulang ke rumahnya? Apakah Hee-ho Seng masih bersedia menerimanya lagi?

Sesungguhnya persoalan semacam ini tak perlu ia pikirkan, tidak seharusnya dia bayangkan, dan sebetulnya diapun tak berharap untuk memikirkannya.

Tapi sekarang ia telah memikirkan semuanya itu, semakin dipikir bahkan pikirannya semakin kalut.

Pada saat pikirannya lebih kalut, mendadak ia menyaksikan seseorang berdiri di tepi telaga Liok-sui-ou, di bawah senja yang kelabu.

Pada umumnya bila pikiran seseorang sedang kalut dan bingung, seringkali tidak gampang baginya untuk melihat orang lain, apa lagi urusan yang lain.

Tapi di kala pikiran Yan Cap-sa mencapai titik kekalutannya, justru ia telah melihat orang itu.

Orang itu tidak mempunyai potongan yang istimewa. Orang itu adalah seorang laki-laki setengah umur, mungkin lebih tua sedikit dari setengah umur sebab rambutnya banyak yang mulai beruban, sorot matanya memancarkan pula keletihan dan ketuaan.

Pakaiannya amat sederhana, seperangkat baju berwarna hijau dengan sepatu kain dan kaos putih.

Ketika Yan Cap-sa memandang ke arahnya seperti pula ia sedang memandang senja yang kelabu itu, perasaannya akan timbul suatu ketenangan, suatu keindahan dan suatu kenyamanan yang enak dan segar, tiada rasa kaget atau ngeri atau takut yang tersirap dalam benaknya.

Cia ciangkwe telah menyaksikan pula kehadiran orang itu, Cuma ia menunjukkan rasa kaget, tercengang bahkan sedikit rasa ngeri dan takut.

“Siapakah orang ini?”, tak tahan Yan Cap-sa bertanya.

Cia ciangkwe tidak menjawab, sebaliknya malah balik bertanya: “Masa kau tidak tahu, siapakah cengcu generasi yang lalu dari perkampungan Sin-kiam-san-ceng?”

“Kau maksudkan Cia Ong-sun?”, Yan Cap-sa menegaskan.

Cia ciangkwe manggut-manggut.

“Nah, orang yang akan kau jumpai sekarang tak lain adalah Cia lo-cengcu, Cia Ong-sun!”

Cia Ong-sun bukan seorang jago persilatan yang tersohor namanya atau seorang pendekar yang disegani setiap orang dalam dunia persilatan.

Ia menjadi tersohor di dunia karena dia adalah cengcu dari perkampungan Sin-kiam-san-ceng.

Yan Cap-sa mengetahui hal ini, tapi tak disangka olehnya kalau Cia cengcu yang dikenal namanya oleh setiap orang itu tak lebih hanya seorang manusia yang begitu sederhana, begitu bersahaja dan lembut.

Sepintas lalu meski usianya tidak terlampau tua, tapi kehidupannya telah mencapai senja yang kelam, seperti juga ketenangan dan kekelaman yang mencekam suasana ketika itu, seakan-akan tiada suatu kejadian di dunia ini yang dapat menggerakkan lagi hatinya.

Tangannya kering tapi hangat dan lembut.

Sekarang ia sedang menggenggam tangan Yan Cap-sa sambil tertawa.

“Tak usah kau perkenalkan dirimu, aku sudah tahu siapakah kau”, demikian ia berkata.

“Tapi cianpwe, kau……”

“Jangan sebut aku sebagai cianpwe”, tukas Cia Ong-sun, “setiap orang yang telah sampai di sini, dia adalah tamu agungku”.

Yan Cap-sa tidak mendebat, diapun tidak sungkan-sungkan lagi.

Digenggam oleh tangan seperti itu, tiba-tiba saja timbul perasaan hangat dalam hatinya. Tapi tangan yang lain masih erat-erat menggenggam pedangnya.

“Rumahku terletak tak jauh di depan sana”, kata Cia Ong-sun, “kita boleh pelan-pelan menuju ke sana”

Kemudian sambil tersenyum katanya lagi: “Bisa berjalan-jalan bersama manusia macam kau dalam suasana seperti ini sungguh merupakan suatu peristiwa yang amat menggembirakan……!”

Meskipun matahari senja telah lenyap dari pandangan, daun-daunan hijau di atas bukit masih kelihatan begitu anggun dan menarik.

Harum bunga dari tempat kejauhan tersiar di sela hembusan angin malam, membuat suasana bertambah nyaman.

Di antara sela-sela pepohonan yang lebat, terbentang sebuah jalan kecil beralas batu.

Tiba-tiba timbul suatu perasaan tenang, perasaan nyaman yang sudah banyak tahun tak pernah dirasakan lagi.

Dalam keadaan demikian, tiba-tiba saja ia teringat akan sebuah syair:

Mendaki ke bukit dingin, jalan berliku-liku
Awan putih menyelimuti angkasa, tiada sanak keluarga
Duduk dalam kereta, berhenti di tepi hutan, menikmati indahnya malam
Bunga dan dedaunan, hanya bersemi di bulan ke dua

Cia Ong-sun berjalan sangat lambat. Baginya walaupun kehidupan sudah makin menipis, tapi ia tidak gelisah, diapun tidak cemas.

Perkampungan Sin-kiam-san-ceng yang berdiri kokoh di tempat kejauhan, mulai tampak secara lamat-lamat.

Tiba-tiba Cia Ong-sun berkata: “Bangunan ini adalah tinggalan dari nenek moyang kami yang membangunnya pada dua ratus tahun berselang, hingga kini corak bangunannya masih belum mengalami perubahan, walau hanya sedikitpun”

Suaranya mendadak berubah menjadi parau dan penuh kedukaan, lanjutnya: “Tapi manusia-manusia yang berada di sini telah berubah semua, bahkan sangat banyak perubahannya”

Yan Cap-sa mendengarkan dengan tenang. Ia dapat menangkap perasaan dari orang tua ini, meskipun perasaannya agak tersentuh namun bukan berarti ia berduka.

Karena ia sudah dapat memandang segala sesuatunya dengan lebih luas dan bebas.

Setiap manusia memang harus mengalami perubahan, kenapa perubahan tersebut harus disedihkan?

Kembali Cia Ong-sun berkata: “Orang yang membangun perkampungan ini tak lain adalah nenek moyang angkatan pertama kami, mungkin kau mengetahui tentang dirinya, bukan?”

Tentu saja Yan Cap-sa mengetahuinya.

Dua ratus tahun berselang, semua pendekar kenamaan dalam kolong langit telah berkumpul di bukit Hoa-san, membicarakan soal ilmu silat dan memperbincangkan soal ilmu pedang. Kejadian tersebut sungguh merupakan suatu peristiwa yang mengesankan.

Kalau seseorang dapat memperoleh pujian serta sanjungan dari segenap pendekar kenamaan di dunia dalam waktu seperti itu, maka orang itu pastilah seorang manusia yang agung dan luar biasa.

Cia Ong-sun berkata lebih jauh:
“Sejak dia orang tua meninggal dunia, turun temurun berlangsung beberapa generasi di tempat ini, sekalipun tak seorang di antara mereka yang mampu menandingi dia orang tua, tapi setiap kepala keluarga Cia yang memerintah di sini pasti telah melakukan suatu sejarah yang cemerlang dan suatu peristiwa yang menggemparkan seluruh dunia”.

Ia tertawa dan berganti napas, kemudian melanjutkan:

“Hanya aku seorang yang tak becus, hanya aku seorang yang tidak menciptakan kejadian apa-apa, aku tak lebih cuma seorang manusia biasa, seorang yang sesungguhnya tak pantas menjadi keturunan dari keluarga Cia…….”

Tertawanya begitu tenang, begitu lembut dan hangat, katanya lebih lanjut: “Oleh karena aku tahu bahwa aku hanya seorang manusia biasa yang tak becus, maka aku malah bisa menikmati kehidupan yang sederhana dan aman tenteram”

Yan Cap-sa hanya mendengarkan, tanpa memberi komentar apa-apa.

“Aku mempunyai dua orang putri dan tiga orang putra”, Cia Ong-sun menambahkan, “putriku yang sulung kawin dengan seorang pemuda yang berbakat, sayang ia terlalu sombong, maka mereka mati terlalu cepat”.

Yan Cap-sa pernah mendengar cerita itu.

Toa-siocia dari keluarga Cia kawin dengan seorang jago pedang muda belia yang hebat dan pemberani.

Mereka memang mati terlampau awal, mati di tengah malam perkawinannya, terbunuh dalam kamar pengantin mereka yang indah dan penuh kehangatan itu.

“Putriku yang kedua juga mati terlampau awal, ia mati karena murung dan sedih, sebab orang yang dicintainya ternyata adalah kacung bukuku sendiri, karena ia tak berani berterus terang, kamipun tidak tahu sebab itu kujodohkan dia dengan orang lain, tapi sebelum perkawinan itu tiba, ia sudah mati secara mengenaskan”.

Ia menghela napas panjang, tambahnya: “Padahal jika ia mau berterus terang dan mengungkapkan isi hatinya, kami tidak akan menolak, kacung bukuku adalah seorang anak yang baik”.

Untuk pertama kalinya ia menghela napas panjang, cuma helaan napas itu tidak terlalu banyak mengandung nada sedih, justru lebih banyak perasaan masa bodohnya.

Sebagai seorang manusia, kenapa ia harus sedih atas kejadian yang sudah lewat?

“Putra sulungku adalah seorang laki-laki yang lemah pikiran, semenjak kecil ia sudah bego dan tak bisa apa-apa, putraku yang nomor dua karena ingin membalaskan dendam bagi kematian cicik dan cihunya, ia sendiripun akhirnya tewas di bukit Im-san.”

Sekalipun ia tewas, namun kelompok setan dari bukit Im-san yang telah mencelakai jiwa Toa-siocia dari keluarga Cia, tak seorangpun yang berhasil lolos dalam keadaan hidup.

“Inilah ketidak beruntungan dari keluarga kami,” kata Cia Ong-sun, “tapi aku tak pernah murung atau menyalahkan orang lain”.

Suaranya masih tetap tenang dan datar: “Setiap manusia mempunyai takdirnya masing-masing, beruntungkah dia? Atau sialkah dia? Siapapun tak dapat menyalahkan siapa. Kalau ia tidak murung karena menerima rejeki, kenapa harus murung di kala ketimpa sial? Ya, selama banyak tahun ini pikiran dan caraku berpandangan memang jauh lebih terbuka!”

Seseorang yang telah mengalami banyak musibah, banyak kesialan dan tragedi, ternyata masih dapat mempertahankan ketenangan dan kehalusan budinya, dari sini dapat diketahui bahwa dia memang seorang manusia yang luar biasa.

Yan Cap-sa merasa sangat kagum, ia betul-betul kagum sekali.

“Setelah jalan pikiranku lebih terbuka,” kata Cia Ong-sun lagi, “aku dapat menarik kesimpulan bahwa kesialan dan musibah yang selama ini menimpa diriku, kemungkinan besar adalah hukum karma yang harus kami jalankan karena napsu membunuh dari nenek moyang kami di masa lalu……….”

Tapi mengapa ia harus memberitahukan semua persoalan itu kepada orang lain? Sesungguhnya persoalan ini adalah urusan pribadi dari keluarga mereka sendiri, persoalan yang tidak sepatutnya diketahui orang lain.

…Ia memberitahukan segala sesuatunya itu kepadaku, mungkinkah lantaran ia telah menganggap diriku sebagai seorang manusia yang hampir mendekati ajalnya?

…Hanya orang mati saja yang selamanya tak akan membocorkan rahasia tersebut.

Yan Cap-sa telah berpikir sampai ke situ, tapi ia tak ambil perduli.

Karena jalan pikirannya telah terbuka pula, bagaimana pandangan orang lain kepadanya, ia tak akan ambil perduli.

Kembali Cia Ong-sun berkata: “Tentu saja kau tahu bukan, kalau aku masih mempunyai seorang putra, ia bernama Cia Siau-hong?”

“Aku tahu!”

“Dia memang seorang bocah yang amat cerdik, dialah roh kehidupan dari keluarga Cia, kekuatan dari kami!”

“Aku tahu, di kala masih mudanya dulu, ia pernah mengalahkan jago pedang yang paling termasyhur waktu itu, Hoa Sau-kun!”

“Ilmu pedang yang dimiliki Hoa Sau-kun tidak setinggi apa yang digembar-gemborkan orang, lagi pula ia terlampau sombong. Pada hakekatnya ia tak pandang sebelah matapun terhadap seorang bocah yang berusia belasan tahun”

Pelan-pelan ia melanjutkan:

“Bila seseorang ingin belajar pedang, dia harus berlatih dengan hati yang bersih dan perasaan yang tulus, keangkuhan atau sombong, jangan sekali-kali sampai menempel di dalam tubuhnya, karena kesombongan paling mudah menciptakan keteledoran dan setiap keteledoran yang bagaimanapun kecilnya bisa mengakibatkan melayangnya selembar nyawa”.

Yan Cap-sa tak dapat menahan diri lagi, ia menghela napas panjang.

“Hanya cukup mengandalkan hal ini, tidak bisa disangkal lagi bahwa dia seorang jago pedang yang tiada tandingannya di dunia dewasa ini…..!”

Tiba-tiba Cia Ong-sun menghela napas lagi.

“Sayang hal inipun merupakan ketidak beruntungan baginya”

“Kenapa”

“Justru karena ia tak pernah memandang rendah siapapun juga, maka setiap kali berhadapan dengan musuh, ia selalu akan menggunakan segenap kekuatan tubuhnya”

Meskipun ia tidak melanjutkan perkataannya lebih jauh, Yan Cap-sa telah memahami maksudnya.

Bila setiap kali menghadapi musuh, seseorang selalu menggunakan segenap kekuatan yang dimilikinya, maka setiap kali juga pasti ada orang yang menjadi korban di ujung pedangnya.

Semenjak dulu ia memang sudah tahu bahwa di bawa pedang Sam-sauya tak pernah ada orang yang lolos dalam keadaan hidup.

Untuk kesekian kalinya, Cia Ong-sun menghela napas.

“Kesalahan terbesar yang pernah dilakukan selama hidupnya adalah napsu membunuhnya yang terlampau besar!”

“Tapi hal ini bukan merupakan kesalahannya!”

“Bukan? Ya, memang bukan!”

“Mungkin ia memang tak berhasrat membunuh orang, ia membunuh orang karena ia tak punya pilihan lain kecuali berbuat demikian”

Memang sudah menjadi rahasia umum bahwa: ‘Bila kau tidak membunuhku, maka akulah yang akan membunuhmu’.

Yan Cap-sa ikut menghela napas pula.

“Aaaai……. bila seseorang sudah berada dalam dunia persilatan, kadangkala banyak sekali urusan yang harus dilakukan tanpa sekehendak hatinya sendiri, termasuk dalam hal membunuh orang!”

Cia Ong-sun menatapnya lama, lama sekali, kemudian pelan-pelan berkata pula:

“Sungguh tak kusangka, kalau kau dapat memahami perasaannya!”

“Tentu saja, sebab akupun seringkali membunuh orang!”

“Apakah kaupun sangat ngin membinasakannya?”

“Benar!”

“Kau sangat jujur!”

“Untuk menjadi seorang pembunuh manuia, dia harus seorang yang jujur, karena orang yang tidak jujur seringkali harus mati di ujung pedang orang lain”

…..Siapa yang ingin belajar pedang, dia harus jujur dan berhati lurus, sebab itulah dasar pertama yang harus dimilikinya.

Cia Ong-sun memandangnya tajam-tajam, tiba-tiba dibalik sorot matanya itu tercermin suatu sikap yang aneh sekali, lalu katanya:

“Baik, kalau begitu ikutlah aku!”

“Terima kasih banyak!”

Terima kasih banyak! Sesungguhnya ucapan itu hanya sepatah dua patah kata yang biasa dan sederhana.

Akan tetapi dalam keadaan dan saat seperti ini, ternyata ia masih juga mengucapkan kata-kata itu, maka suasanapun ikut berubah menjadi sangat aneh.

Mengapa ia harus mengucapkan terima kasih? Lantaran orang tua itu dapat memahami perasaannya? Atau karena orang tua itu bersedia membawanya untuk menghantar kematiannya?

Padahal ia memang datang untuk menghantar kematiannya.

Malam yang gelap sudah menjelang tiba, cahaya lampu mulai bermunculan dalam gedung perkampungan Sin-kiam-san-ceng dan mengusir kegelapan dari sekeliling tempat itu.

Mereka telah masuk ke dalam sebuah ruangan di sisi ruang tengah yang lebar.

Cahaya lampu dalam ruang tengah terang benderang, sebaliknya sinar lampu dalam ruangan itu redup dan berwarna kelabu.

Setiap benda yang di sana diselubungi dengan kain hitam yang berwarna gelap, ini semua menambah seram dan suramnya suasana di situ.

Mengapa Cia Ong-sun tidak menyambut kedatangan tamu agungnya di ruang tengah yang luas dan terang benderang? Mengapa ia mengajak tamunya memasuki ruangan sempit yang suram?

Yan Cap-sa tidak bertanya, ia merasa tidak ada keharusan baginya untuk bertanya.

Cia Ong-sun telah menyingkap secarik kain hitam yang menutupi sebuah benda, ternyata benda itu adalah sebuah papan nama, sebuah papan nama dengan huruf emas berkilauan: “THIAN-HE-TIT-IT-KIAM”

“Sejak dulu sampai sekarang, belum pernah ada orang persilatan yang pernah mendapat penghargaan setinggi ini”, kata Cia Ong-sun, “anak keturunan dari keluarga Cia selalu menyimpan benda ini dengan hormat dan sayang, namun kamipun merasa sedikit malu”

“Merasa malu?”

“Ya, karena semenjak dia orang tua pulang ke alam baka, anak keturunan keluarga Cia tak seorangpun yang pantas untuk menerima ke lima huruf emas itu lagi”

“Sekalipun demikian, sekarang secara terbuka orang-orang persilatan telah mengakui bahwa hanya satu orang yang pantas menerima ke lima huruf emas itu!”

Ya, memang satu orang saja yang pantas menerima penghargaan setinggi itu…….

Tentu saja orang itu tak lain adalah Sam-sauya dari keluarga Cia.

“Justru karena itulah pedang yang pernah dipergunakan dia orang tua sewaktu berada di bukit Hoa-san dulu, kini telah diwariskan pula kepadanya”, kata Cia Ong-sun.

Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan pula:

“Pedang itu sudah banyak tahun tak pernah digunakan lagi, baru sekarang kuwariskan kepadanya”

Yan Cap-sa dapat memahami akan hal itu.

Kecuali ‘dia’, siapa lagi yang pantas menggunakan pedang itu?

“Inginkah kau menyaksikan pedang itu?”, tiba-tiba Cia Ong-sun bertanya lagi.

“Ingin, tentu saja sangat ingin!”

Di balik kain hitam yang menutupi sebuah tonjolon, terlihat sebuah rak yang terbuat dari kayu.

Di atas rak kayu terlentang sebilah pedang.

Sarung pedang itu berwarna hitam pekat, sekalipun sudah lama dan kuno, tapi masih tetap utuh dan sempurna.

Kain kuning di ujung gagang pedang telah luntur warnanya, tapi gagang pedang yang dilapisi perak masih memancarkan sinar yang berkilauan.

Dengan tenangnya Cia Ong-sun berdiri di depan pedang itu, seperti seseorang yang sedang berdiri di hadapan patung pemujaannya.

Perasaan Yan Cap-sa ketika itu sama pula dengan perasaan Cia Ong-sun, bahkan ia lebih bersujud dan menaruh rasa kagum, karena ia tahu, di dunia dewasa ini hanya pedang ini yang sanggup membinasakan dirinya.

Tiba-tiba Cia Ong-sun berkata: “Pedang ini bukan pedang tajam yang ditempa seorang ahli pandai besi, pedang inipun bukan sebilah pedang antik”

“Tapi pedang ini adalah sebilah pedang kenamaan yang tiada tandingannya di kolong langit”, Yan Cap-sa menyambung dengan cepat.

Cia Ong-sun mengakuinya.

“Ya, memang pedang itu tiada tandingannya di kolong langit”

“Cuma yang ingin kujumpai sesungguhnya bukanlah pedang ini”

“Aku tahu!”

“Yang ingin kujumpai adalah pemilik pedang ini, maksudku pemiliknya yang sekarang”

“Saat ini ia sudah berada di hadapanmu!”

Di hadapan Yan Cap-sa adalah rak kayu tempat pedang.

Di belakang rak kayu itu masih terdapat sebuah benda yang ditutup dengan kain hitam yang lebar, benda itu empat persegi dan panjang sekali.

Tiba-tiba suatu perasaan bergidik yang sukar dilukiskan dengan kata-kata muncul dari dasar hatinya, dari dasar hati langsung menyerang ke dalam otaknya.

Pada saat itulah ia meneruskan suatu firasat jelek yang tak enak sekali…………..

Dia ingin bertanya, tapi tak berani mengajukan pertanyaan tersebut.

Bahkan ia tak berani mempercayainya, diapun tak ingin mempercayainya, ia cuma berharap agar perasaan tersebut hanya suatu kekeliruan yang besar……..

Sayang dugaannya itu tidak salah.

Ketika kain hitam itu disingkap, maka terlihatlah sebuah peti mati.

Peti mati itu masih baru, diatasnya seakan-akan terukir delapan atau sembilan huruf.

Tapi Yan Cap-sa hanya sempat menangkap tiga huruf saja, ketika huruf itu adalah: CIA SIAU HONG

…..Walaupun sinar lampu yang memancar dalam ruang tengah masih terang benderang, tapi bagaimanapun terang benderangnya sinar lampu, tak mungkin bisa menerangi lagi hati Yan Cap-sa.

Sebab sinar cemerlang di dalam hatinya, kini sudah lenyap tak berbekas. Cahaya pedang yang cemerlang telah lenyap tak berbekas…… satu-satunya pedang yang sanggup membinasakan dirinya.

“Siau Hong sudah mati selama tujuh belas hari”

Sudah barang tentu ia tak mungkin mati di ujung pedang Cho Ping, sebab tak ada orang yang sanggup mengalahkan dia.

Ya, memang tak seorang manusiapun yang sanggup mengalahkannya. Satu-satunya yang bisa mengalahkan dia hanya takdir!.

Setiap orang tentu mempunyai takdirnya masing-masing, mungkin karena nasibnya terlampau cemerlang dan ternama, maka takdir menentukan usianya yang pendek.

Meskipun kematiannya sangat tiba-tiba, namun ia pergi perasaan tenang.

Sekalipun kelopak mata kakek itu berkaca-kaca oleh air mata, namun suaranya sangat tenang.

“Aku tidak terlampau berduka hati, sebab ia memang sudah cukup hidup di dunia ini, kehidupannya sudah amat bernilai, ia memang boleh mati dengan perasaan yang tenang”

Tiba-tiba ia bertanya kepada Yan Cap-sa: “Kau lebih suka hidup selamanya dengan tenang dan statis? Ataukah hidup seperti dia, tapi hanya dalam tiga tahun?”

Yan Cap-sa tidak menjawab, ia tak perlu memberikan jawabannya………..kau suka menjadi meteor di angkasa? Ataukah menjadi lilin yang redup?

…..Meskipun sinar dari meteor cemerlang, tapi waktunya sangat pendek, sebaliknya meskipun sinar lilin itu redup, tapi berlangsung dalam jangka waktu yang lama.

Namun kendatipun ia hanya berlangsung dalam waktu singkat, dapatkah berjuta-juta batang lilin menandingi kecemerlangan serta keindahan dari cahayanya?

Walaupun cahaya dalam ruang tengah terang benderang, tapi Yan Cap-sa lebih suka berjalan di tengah kegelapan.

Kegelapan yang mencekam di padang yang luas tak bertepian.

Tiba-tiba Yan Cap-sa berkata: “Tadi kau memberitahukan segala sesuatunya kepadaku, ternyata bukan lantaran kau telah menganggapku seseorang yang sudah mendekati pada ajalnya”

Tentu saja bukan!

Sam-sauya telah mati, kenapa ia bisa mati?

Tiba-tiba Yan Cap-sa berpaling lagi, kepada Cia Ong-sun ia berkata: “Mengapa kau memberitahukan semua persoalan itu kepadaku?”

“Karena aku tahu kau datang untuk mengantar kematianmu!”, jawab Cia Ong-sun hambar.

“Kau tahu?”, tanya Yan Cap-sa

“Tentu saja aku tahu, akupun bisa melihat betapa kagum dan hormatnya sikapmu terhadap Cia Siau-hong, kaupun telah menyadari bahwa tiada harapan bagimu untuk mengalahkan dia”, kata Cia Ong-sun.

“Tapi mengantarkan kematian sendiri bukanlah suatu pekerjaan yang pantas di hormati!”

“Benar!”

Ia tertawa, tertawa dengan amat sedihnya:

“Tapi paling sedikit aku menghormati dirimu, sebab aku tak akan memiliki keberanian seperti ini, aku tak lebih cuma seorang manusia biasa, lagipula aku sudah tua…..”

Suaranya makin lama semakin rendah, semakin lama semakin berat dan berakhir dengan suatu helaan napas panjang.

Hembusan angin di musim gugur persis seperti helaan napasnya yang berat dan hampa itu.

Pada waktu itulah dari balik kegelapan tiba-tiba menyelinap ke luar sesosok bayangan manusia, sesosok manusia dengan sebilah pedang!.

Ya, sesosok bayangan manusia dengan sebilah pedang.

Gerakan manusianya lebih gesit daripada seekor burung elang, gerakan pedangnya lebih cepat dari pada sambaran petir.

Ketika orang itu munculkan diri di belakang punggung Cia Ong-sun, ujung pedangnya langsung menusuk ke punggungnya.

Yan Cap-sa ikut menyaksikan peristiwa tersebut, tapi ia sudah tidak sempat lagi untuk melancarkan serangan guna melindungi keselamatan orang tua itu.

Cia Ong-sun sendiri seolah-olah tidak merasakan sama sekali akan datangnya tusukan itu, ia cuma menghela napas sambil membungkukkan badannya mengambil selembar daun kering.

Gerakannya itu lambat, lambat sekali.

Tindakannya mengambil daun kering itu seakan-akan hanya suatu gerakan spontan yang timbul karena sentuhan perasaan.

Seolah-olah lembaran hidupnya tak jauh berbeda dengan daun kering itu, selembar daun yang telah rontok dan mengering.

Tapi justeru dengan gerakannya itu, secara kebetulan sekali ia berhasil meloloskan diri dari sambaran pedang yang datangnya secepat sambaran kilat itu.

Pada detik itu pula, tusukan pedang yang jelas sudah hampir mengenai punggungnya, tahu-tahu telah menusuk di tempat yang kosong.

Padahal selisih waktu antara yang pertama dengan yang kedua hakekatnya cuma beberapa detik.

Rupanya penyergap itu telah mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya, di kala serangan itu gagal dan tidak mengenai sasarannya, tak sempat lagi baginya untuk menarik kembali gerakannya, seluruh tubuh dan kekuatannya segera tergulung ke depan, dan tusukan pedangnya kini berbalik mengancam tubuh Yan Cap-sa yang berada dihadapannya.

Sekalipun tusukan tersebut hanya mengandung sisa tenaga daripada serangannya yang pertama, akan tetapi masih mengandung cukup kekuatan untuk merenggut nyawa seseorang.

Dalam keadaan begini, mau tak mau Yan Cap-sa harus melakukan serangan balasan.

Pedangnya segera di loloskan dari sarungnya dan cahaya pedangpun berkilauan membelah angkasa.

Orang itu segera berjumpalitan di tengah udara, dan melompat mundur sejauh tujuh depa lebih, mukanya yang hijau membesi masih membawa tanda-tanda mabuk!

“Cho Ping!”

Tak kuasa lagi Yan Cap-sa menjerit kaget, diantara jeritannya ada tiga bagian mengandung rasa kaget dan tercengang, tapi tujuan bagian yang selebihnya adalah perasaan sayang dan kecewa.

Cho Ping memandang pula ke arahnya, diapun melotot dengan sinar mata kaget, tercengang bercampur ketakutan, dia seperti ingin mengucapkan sesuatu, namun tak sepotong perkataanpun yang sanggup diutarakan keluar.

Tiba-tiba darah kental meleleh keluar dari atas tenggorokannya, pelan-pelan tubuhnya ikut terkulai pula ke atas tanah.

Angin dingin di musim gugur itu masih berhembus lewat.

Pelan-pelan Cia Ong-sun memungut kembali selembar daun kering dan diperhatikan dengan tenang, seolah-olah ia masih belum merasakan peristiwa yang baru saja terjadi.

Aaaai, meskipun usia daun sangat pendek, namun tahun depan dia masih akan tumbuh kembali.

Tapi, bagaimana dengan manusia?

Pelan-pelan Cia Ong-sun membungkukkan badannya kembali dan meletakkan daun kering tadi ke tempatnya semula.

Sepanjang peristiwa itu terjadi, Yan Cap-sa memperhatikan terus gerak-geriknya, rasa kagum dan hormat tanpa terasa memancar keluar dari balik sorot matanya.

Hingga sekarang ia baru menyadari bahwa kakek yang sederhana ini hakekatnya adalah seorang tokoh persilatan yang benar-benar memiliki ilmu silat yang amat tinggi.

Taraf kepandaiannya boleh dibilang sudah mencapai puncak kesempurnaan yang tiada taranya. Ia telah berhasil membaurkan kepandaiannya dengan alam semesta di sekelilingnya.

Oleh karena itulah tak seorang manusiapun dapat mengetahui rahasia tersebut.

……Di saat musim dingin tiba, kau tak akan menyaksikan kekuatannya, tapi tanpa kau sadari, kekuatan tersebut dapat membuat air berubah menjadi beku, membuat manusia mati karena kedinginan.

“Aku tak lebih cuma seorang manusia biasa…………..”

‘Kebiasaannya’ ini jelas berhasil dilatih dari suatu keadaan yang tidak biasa.

Berapa orangkah di dunia ini yang sanggup merubah dirinya menjadi sebiasa dan sesederhana itu?

Walaupun sekarang ia berhasil menyaksikan banyak persoalan, tapi tidak sepotong perkataanpun diucapkan, ia sudah lama mulai belajar membungkam dan menahan diri.

Cia Ong-sun juga tidak banyak berbicara, dia hanya mengucapkan sepatah kata dengan nada datar:

“Malam semakin kelam, kau harus segera pergi!”

“Ya, aku harus ‘pergi’!”

Maka diapun pergi.

Malam semakin kelam, pelan-pelan Cia Ong-sun menembusi halaman yang gelap dan menuju ke sebuah loteng kecil di halaman belakang sana.

Cahaya lentera di atas loteng itu amat redup, seorang perempuan tua yang berwajah sayu duduk seorang diri di tepi meja, rupanya ia sedang menantikan sesuatu.

Siapakah yang sedang ia nantikan?

Ketika Cia Ong-sun bertemu dengannya, pancaran sinar matanya segera menunjukkan perasaan sayang dan kasihan. Barang siapapun juga yang menyaksikan tatapan tersebut, mereka pasti akan mengetahui bagaimanakah perasaan kedua orang itu sekarang.

Mereka adalah sepasang suami isteri yang sudah banyak tahun hidup bersama banyak suka duka dan kesulitan yang telah mereka rasakan selama ini.

Tiba-tiba perempuan itu bertanya: “Apakah A-kit belum pulang?”

Dengan mulut membungkam Cia Ong-sun gelengkan kepalanya.

Dari balik tatapan matanya yang tua dan sayu, air mata mulai mengembang, tapi suaranya begitu tegas dan mempunyai rasa percaya pada diri sendiri yang tebal.

“Aku tahu, cepat atau lambat, dia pasti akan pulang, bukankah begitu?”, kata perempuan itu lagi.

“Benar!”, Cia Ong-sun mengangguk.

Seseorang apabila sudah mempunyai setitik harapan, maka nyawapun akan terasa lebih berharga.

Ia tentu berharap bisa hidup di dunia ini untuk selama-lamanya.

Malam sudah amat kelam.

Di tengah permukaan telaga yang diliputi kegelapan, hanya ada setitik cahaya yang menyinari sekelilingnya.

Cahaya itu berasal dari balik jendela sebuah perahu. Cia ciangkwe sedang duduk di tepi jendela sambil minum arak seorang diri.

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Yan Cap-sa naik ke dalam perahu, duduk dihadapannya dan memenuhi cawan dengan arak.

Ketika Cia-ciangkwe menjumpai kedatangannya, sekulum senyum segera menghiasi bibirnya.

Perahu telah berlayar meninggalkan pantai, pelan-pelan menembusi kegelapan malam dan berlayar dengan tenang di atas permukaan air telaga yang jernih.

“Kau tahu kalau aku bakal kemari?”

Cia ciangkwe tertawa.

“Kalau tidak begitu, kenapa aku harus menantikan dirimu?”, sahutnya dengan cepat.

Yan Cap-sa segera menengadahkan kepalanya dan menatap wajahnya tajam-tajam.

“Apalagi yang kau ketahui?”

“Aku masih tahu bahwa arak ini wangi dan lezat sekali. Tak ada salahnya jika kita minum agak banyakan”

Yan Cap-sa segera tertawa.

“Masuk di akal, benar juga perkataanmu itu!”

Perahu itu sudah berada di tengah telaga.

Agaknya Cia ciangkwe sudah dipengaruhi pula oleh alkohol, tiba-tiba ia bertanya: “Sudah kau saksikan pedang itu?”

Yan Cap-sa mengangguk.

“Asal pedang tersebut masih ada, perkampungan Sin-kiam-san-ceng selamanya masih tetap utuh!”, Cia ciangkwe menambahkan.

Sesudah menghela napas panjang, pelan-pelan terusnya: “Meskipun orangnya sudah tiada, tapi pedangnya tetap utuh sepanjang masa!”

Dalam genggaman Yan Cap-sa terdapat pula sebilah pedang.

Ia sedang memperhatikan pedang dalam genggamannya itu dengan seksama, tiba-tiba ia bangkit dan beranjak dari sana, langsung menuju ke ujung perahu.

Suasana kegelapan menyelimuti seluruh permukaan telaga.

Tiba-tiba ia cabut keluar pedangnya, setelah mengukir huruf ‘Sip’ atau sepuluh di ujung perahu, tiba-tiba pedang yang sudah dua puluh tahun mengikutinya dan sudah membunuh orang yang tak terhitung banyaknya itu, dilemparkan ke tengah telaga.

“Plung”, percikan butiran air berhamburan kemana-mana, tapi sejenak kemudian permukaan telaga telah pulih kembali dalam ketenangan.

Pedang itu sudah tenggelam ke dasar telaga dan lenyap tak berbekas.

Dengan terkejut Cia ciangkwe menatap tajam wajah pemuda itu, lalu tak tahan lagi ia bertanya:

“Mengapa kau tidak mau lagi pedangmu itu?”

“Mungkin suatu waktu aku akan membutuhkannya kembali, dan waktu itu aku akan balik lagi kemari untuk mendapatkannya”

“Maka kau mengukir huruf sepuluh di ujung perahu itu sebagai tanda?”

“Ya, inilah yang dinamakan mengukir perahu memohon pedang!”

Cia ciangkwe gelengkan kepala sambil menghela napas.

“Tahukah kau bahwa tindakanmu itu adalah suatu perbuatan yang bodoh sekali?”, katanya.

“Aku tahu!”

“Kalau memang tahu, kenapa kau harus berbuat demikian?”

Yan Cap-sa tertawa.

“Sebab secara tiba-tiba aku merasa bahwa dalam kehidupan seseorang, sedikit banyak harus melakukan beberapa buah pekerjaan yang bodoh, apalagi………..”

Sekulum senyuman penuh arti menghiasi ujung bibirnya.

“Ada banyak persoalan seringkali sukar dikatakan apakah tindakan itu bodoh atau pintar, kenapa aku tidak pula berbuat demikian?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: