Kumpulan Cerita Silat

03/04/2008

Seri Maling Romantis: Rahasia Ciok Kwan Im (03): Tiga Sekawan Berkumpul Lagi

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 10:45 pm

Seri Maling Romantis
Rahasia Ciok Kwan Im (03): Tiga Sekawan Berkumpul Lagi
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Gumaha)

“Si-kong-ke Ayam jantan mati.”

“Maksudmu Ki Ping-yan? Kau tahu dimana ia berada?”

“Dia berada di Lan-ciu.”

“Dia? memangnya dia amat hapal dan sudah menjadi lurah di padang pasir?”

“Ketahuilah dia sudah kaya raya, kekayaannya itu dia keduk dari padang pasir. Setelah dia berpisah dengan kau, langsung dia menuju ke padang pasir, dan dalam lima tahun dia sudah menjadi pedagang yang paling pintar dan cerdik, dia sekarang seorang hartawan besar.”

“Sebaliknya kau tetap laki-laki yang paling rudin yang serba miskin!” Olok Coh Liu-hiang.

“Maka itulah pernah kukatakan, laki-laki yang gagal dalam permainan bidang perempuan, dia akan lebih sukses dalam usahanya.”

Coh Liu Hiang terloroh-loroh godanya: “Memangnya kau sendiri kira, kau seorang ahli dalam bidang perempuan?”

Lan-ciu, merupakan kota besar yang termasyhur, ramai, makmur dan pusat perdagangan yang terletak di persimpangan jalan, pusat dari segala kekayaan alam, pusat perdagangan, pusat berkumpulnya orang-orang kaya yang suka berpetualang.

Di tempat seperti ini, kekayaan bukan apa-apa dalam pandangan manusia, tapi bila kau benar-benar memiliki kekayaan yang berlimpah, masyarakat tetap akan bersikap hormat dan tunduk kepadamu.

Ki Ping-yang adalah salah satu dari sekian banyak hartawan yang menimbulkan hormat dan disegani, itu pertanda hartawan seperti dia ini, dimanapun sukar dicari keduanya.

Sebetulnya dia tidak punya usaha dagang yang menentu, setiap usaha dagang apapun asal mendatangkan keuntungan uang, ia pasti sukar menanamkan modal dan kaki atau tangannya, berbagai perdagangan didalam kota Lan cui kalau uang yang berputar sepuluh prosen keuntungannya, satu persen adalah miliknya.

Orang yang begini luas pergaulan dagangnya orangnya yang dihormati dan disegani, siapa pula yang tidak mengenalnya? Oleh karena itu, dengan gampang
Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa menemukan tempat tinggalnya.

Seorang laki-laki menyambut tamu berbadan tegap kekar membawa mereka memasuki pekarangan yang lebat ditumbuhi pepohonan dan pemuda berbaju putih bersih mengantar mereka memasuki sebuah pendopo yang luas dan terpanjang mewah dan megah, dan setiap orang yang mereka temui bersikap hormat dan sopan santun, walaupun mereka mengenakan pakaian seorang penyambut tamu.

Ruang tamu yang besar terbuka ini dilembari kerai-kerai bambu, sehingga terik matahari di musim kemarau ini, teraling di luar angin lalu menghembus deras sehingga kerai bergoyang, selintas pandangan didalam kerai seolah-olah ada burung walet sedang terbang bebas diangkasa.

Oh Thi-hoa menghela napas ujarnya: “Beginilah pamor seorang hartawan, umpama kacung-kacung itu sama memandang rendah kami, mimik muka mereka masih hormat dan sopan. Jago Mampus kita itu seperti ditakdirkan lahir untuk kaya, sedikitpun tidak memperlihatkan sikap kasar sebagai tuan tanah atau keluarga penindas.”

Sorot mata Co- Liu-hiang mengawasi bayangan kembang di atas jendela, kupingnya mendengar suara air gemerisik, tangannya menumpang secangkir air teh bening wangi merangsang hidung, katanya tiba-tiba:

“Menurut hematku ini amat sulit.”

“Soal apa amat sulit?” tanya Oh Thi-hoa.

“Memangnya kau belum paham karakternya, ingin menariknya keluar dari tempat semewah ini ke padang pasir yang terik dan sering terbit badai itu, kukira siapapun takkan mampu dan sudi.”

“Tepat! Memang dia seorang laki-laki sejati, laki-laki yang keras kepala dan berhati baja selamanya tak pernah minta bantuan orang lain, selamanyapun tiada maksud ingin membantu kesulitan orang lain, tapi kau jangan lupa, betapapun dia adalah teman karib kita.”

Coh Liu-hiang tersenyum: “Bagaimanapun teman takkan lebih baik daripada diri sendiri.”

“Jangan masgul, aku pasti punya akal untuk menyeretnya ikut kami, kalau terpaksa biar kita bakar saja rumah mewah ini, coba lihat dia mau pergi tidak?’

Baru saja kata-katanya habis, terdengar seorang batuk-batuk di luar kerai.
Dua gadis berpakaian serba putih berparas elok dengan rambut tersanggul tinggi, pelan-pelan melangkah masuk sambil memikul sebuah usungan kursi empuk, seseorang rebah semendeh di atas kursi empuk ini, mulutnya terpentang lebar, serunya tertawa lebar:

“Coh Liu-hiang, Oh Hong cu, tak nyana kalian setan arak ini, kiranya kalian belum lupa kepadaku.” Meskipun tertawa lebar dengan sikap gembira, namun kedua biji matanya tetap dingin tajam laksana burung elang yang buas.

Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa lekas menyongsong maju dengan tertawa besar pula.

Kata Oh Thi-hoa: “Gengsimu semakin besar, berapa sih harga kebesaranmu ini, melihat kawan lama, masih enak-enak rebah tak mau berdiri.”

Ki Ping Yan tertawa-tawa, sambutnya : “Jikalau kau bisa membuatku berdiri, seluruh milikku kuhadiahkan kepadamu.”

Oh Thi-hoa tertegun, matanya mendelong mengawasi kedua kakinya yang tertutup selimut kain beludru, teriaknya : “Kakimu?”

Ki Ping-yan menghela napas, ujarnya : “Kedua kakiku ini sudah tak berguna lag.”
Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa seketika menjublek.

Tak tahan akhirnya Oh Thi-hoa menjerit keras : “Sebetulnya kapan hal ini terjadi? Keparat siapa yang melakukan Biar kupukul hancur kedua kaki keparat itu!”

“Kalau kau ingin bantu aku menuntut balas agaknya harus bikin kau kecewa saja.” ujar Ki Ping-yan.

Oh Thi-hoa gusar, serunya: “Jikalau aku dan Coh Liu-hiang tidak mampu menuntaskan balas sakit hatimu, dalam dunia ini mungkin tiada orang lain yang mampu menebus sakit hatimu.”

“Memang tiada orang yang bisa menuntut balas bagi sakit hatiku.”

Ki Ping-yang menegaskan.

“Kenapa?” suaran Oh Thi-hoa menjerit.

Ki Ping-yan geleng-gelengkan kepala ujarnya :

“Yang bikin kedua kakiku ini lumpuh, sebenarnya bukan manusia, tapi padang pasir! Matahari yang patut mampus dan angin yang harus mati ditengah padang pasir… ”

ia tertawa getir lalu melanjutkan: “Selama lima tahun penuh kau mengembara dan keluntang-lantung ditengah samudra padang pasir, bagaimana aku melewatkan kehidupan lima tahun dipadang-padang pasir mungkin tiada orang yang bisa membayangkan. Suatu ketika secara hidup-hidup aku terpendam di bawah tumpukan pasir dua hari kemudian baru aku tertolong oleh rombongan unta yang kebetulan lewat.
Padang pasir yang harus mampus itu memang memberikan berkah harta benda yang takkan habis kumakan selama hidup, namun mendapatkan penyakit rematik di seluruh badanku, sekarang sudah mending, tinggal kedua kakiku ini yang lumpuh dan tak mampu bergerak lagi”.

Oh thi-hoa melongo pula, ujarnya:

“Ki Ping-yan, Ki Ping-yan! kukira kau ini manusia besi bertulang baja, selama ini kukira tiada sesuatu dalam dunia ini yang bisa membuatmu cidera atau luka-luka, siapa tahu…” tiba-tiba ia sepak mencelat sebuah kursi disampingnya, suaranya gemuruh:

“Padang pasir yang patut mampus, kenapa dalam dunia ini terdapat tempat-tempat setan seperti itu? Kenapa pula kita diharuskan meluruk kesana?’

Ki Ping-yan menjerit kaget dan kuatir, tanyanya: “Kalianpun hendak pergi ke padang pasir?”

Dengan rasa berat Coh Liu-hiang menganggukkan kepala, “benar.” Sahutnya.

“Dengarlah nasehatku, selama hidup ini jangan kalian pergi ke padang pasir, kau boleh percaya kepadaku, tempat itu tidak patut didatangi oleh seorang manusia yang berotak jernih dan sadar.”

Coh Liu-hinag tersenyum kecewa, ujarnya: “Siapa bilang sekarang aku ini orang yang berpikiran jernih?”

Ki Ping-yang kaget katanya. memangnya ada persoalan apa dalam dunia ini yang bisa bikin Maling Kampiun pusing kepala?”

Kembali Oh Thi-hoa menyela bicara : “Sebetulnya kami hendak ajak kau ikut serta, dari para pelancong yang pulang dari padang pasir, kami mendengar pengalamanmu menjadi kaya. Kami kira kau sudah menundukkan padang pasir, siapa tahu….sekarang kau….”

Mendadak Ki Ping-yan pegang kedua kakinya yang terbungkus di bawah selimutnya, serunya serak: “Tapi kini kedua kakiku ini, aku hanya mendelong awasi teman-teman baikku pergi…pergi…” Orang yang biasanya bersikap dingin tenang ini, ternyata terharu dan terbawa emosi, seperti hendak meronta bangun, tapi kedua kakinya tak mampu bergerak seperti kayu, rasa sakit merangsang ulu hati lagi, akhirnya ia meloso jatuh dari kursi empuknya.

Lekas Oh Thi-hoa memayangnya, melihat keadaan temannya yang harus dikasihani ini hampir saja Oh Thi-hoa mengucurkan air mata saking kasihan, tapi mulutnya tertawa lebar serunya:

“Kaupun tak perlu bersedih, tanpa kau, aku dan ulat busuk tetap bisa bikin padang pasir porak poranda. Tunggulah saja kabar baik di sini sekaligus kami akan lampiaskan penasaranmu.”

Matanya sudah berkaca-kaca. Setelah mengucek matanya kembali ia berkata tertawa besar “Jikalau kau sangka tanpa kau ikut, kami berarti mengantar kematian, tentulah otakmu ini perlu disikat dan diperbaiki lagi. Aku dan ulat busuk bukan nona besar yang lemah takut dihembus angin besar.”

Dengan kedua tapak tangan Ki Ping-yan dekat mukanya. Seluruh badan bergetar menahan emosi dan gejolak hatinya.

Coh Liu-hiang menyela: “Tapi kalau kau tidak lekas sediakan arak seumpama aku menggendongmu pergi kau akan ku seret pergi ke padang pasir pula.”

Pelan-pelan Ki Ping-yan kembali tenang. Iapun tertawa besar, serunya: “Sudah sekian lama Coh Liu-hiang dan Oh Thi-hoa datang kemari kenapa tidak lekas kusiapkan arak bagus dan hidangan lezat, memang aku pantas mampus….”

Piring, mangkok dan cangkir serta perabotan-perabotan antik yang berisi hidangan lezat memenuhi meja besar, cangkir arak terbuat dari batu pualam hijau, berisi arak warna merah jambrud, dalam pandangan seorang penggemar arak, merupakan suatu perjamuan yang paling mewah dalam dunia ini, apalagi yang melayani mereka makan minum adalah dua gadis cantik rupawan yang bisa membuat laki-laki ngiler dan terpesona.

Tapi kali ini Coh Liu-hiang tidak perlihatkan sikap biasanya untuk menikmati hidangan dihadapannya, menikmati kecantikan kedua pelayan ini, karena sikap mesra kedua gadis rupawan ini adalah sedemikian keluar batas terhadap Ki Ping yan, umpama seorang anakpun bisa merasakan keganjilan ini. Memang diapun sedang menikmati arak bagus temannya ini, tapi ia cukup sadar, jangan sekali-kali kau bikin teman lamanya ini merasa jelus.

Demikian juga Oh Thi-hoa, dia melirikpun tidak kepada mereka, yang dia ingat hanya gegares sekenyang dan sepuas hatinya, memang kebanyakan orang bilamana hati sedang risau dan kusut, sering mereka lampiaskan gejolak hatinya dengan makan minum sebanyak banyaknya.

Bukan saja dia mengisi perut sendiri secangkir demi secangkir, diapun cekoki kepada Ki Ping-yan, dia berpendapat asal seseorang masih bisa minum makan dan minum, seumpama kaki sudah buntung, juga tidak menjadi soal.

Sekonyong-konyong Oh Thi-hoa bergelak tertawa, serunya: “Ki Ping yan legakan saja hatimu kau pasti takkan mati seseorang yang masih bisa minum begini banyak, paling cepat masih bisa hidup tiga puluh tahun”

Ki Ping yan tersenyum, sahutnya: “Arak kau bukan diminum dengan kaki, benar tidak?”

“Benar! Seumpama kedua kakimu sudah rusak anggota badanmu yang lain masih segar bugar baru sekarang aku bisa berlega hati.”

Tiba-tiba Ki Ping yan menarik napas panjang, katanya pula: “Tapi aku rada kuatir.”

“Apa pula yang masih kau kuatirkan?”

“Begini saja kalian hendak pergi ke padang pasir?”

“Setelah perutku kenyang! Segera kami berangkat!”

“Kalian hendak pergi ke padang pasir, aku berani tanggung kalian takkan kuat menahan hidup sepuluh hari.”

Coh Liu-hiang tersenyum, timbrungnya: “Berapa lama orang lain bisa hidup disana, berapa lama pula kami harus hidup, kecuali semua manusia dipadang pasir sudah mampus seluruhnya kalau tidak, kitapun tetap akan bertahan hidup.”

“Itu berlainan, manusia yang hidup ditengah padang pasir, mereka sudah digembleng sekeras baja, sedemikian keras dan kuat pertahanan mereka sampai kalianpun takkan pernah bisa membayangkan, sebaliknya kalian…”

Oh Thi-hoa marah, semprotnya: “Memangnya kau kira aku dan Coh Liu-hiang tidak ungkulan dibanding mereka?”

“Kepandaian silat kalian dan kecerdikan otak sudah tentu jauh lebih unggul dari orang lain, tapi hati kalian, tulang dan anggota badan kalian, sudah lama terendam oleh arak, permainan perempuan, dan menjadi lemas oleh kehidupan yang foya-foya. Jadi kehidupan di padang pasir jauh sekali tidak mencocoki selera dan kondisi kalian.”

Coh Liu-hiang tersenyum pula, katanya: “Kau kira kami hidup foya-foya dan serba kesenangan?”

“Paling tidak sepuluh kali lebih senang dari kehidupan manusia ditengah padang pasir, karena kuatir air dalam badan mereka terkuras dan menguap, mereka boleh seharian tidak bicara, tidak bergerak, apa kalian mampu? Dikala perut mereka lapar, mereka bisa tangkap kadal dan dibakar, gegares kadal sebagai ganti paha ayam, apa kalian sudi? Bila mulut dahaga, mereka menggali pasir sampai beberapa tombak dalamnya hanya dengan kedua tangan saja, tujuannya hanya sekedar menghisap air di bawah pasir, dengan mengandal setitik air itu, mereka kuasa bertahan hidup tiga hari lagi, apakah kalian bisa minum kencing unta, apa kalian mau? Cukup asal kalian mengendus baunya yang sedap saja perut kalian pasti berontak dan muntah-muntah, dan sekali kalian muntah, elmaut sudah menunggu, ajal kalian akan semakin cepat.”

Ki Ping-yan menghela napas, katanya pula: “Manusia ditengah padang pasir, apa saja yang mereka lakukan demi bertahan hidup, bukan saja kalian takkan mampu melakukan, malah berpikirpun tentu takkan berani.”

Oh Thi-hoa tertawa getir, katanya: “Memang paling tidak aku takkan berani minum kencing, apalagi kencing unta!”

“Disaat perlu kalau kau tidak berani minum, jiwamu akan mampus, sebaliknya mereka berani minum, maka mereka kuat bertahan hidup, oleh karena itu, mereka jauh lebih kuat dari kalian, ini persoalan tentang hidup, jauh bedanya dengan kepandaian ilmu silat dan tiada hubungan kepintaran otak lagi.”

Sekian lama Coh Liu-hiang menepekur lalu katanya sepatah demi sepatah: “Ada kalanya menghadapi sesuatau urusan, meski kau tahu bakal mati, tapi kau tetap akan melaksanakan juga.”

“Sudah tentu akupun tahu” ujar Ki-Ping yan menghela napas “Bila Coh Liu-hiang berketetapan hendak melaksanakan suatu urusan, siapapun takkan bisa menghalanginya, tapi kalau kalian berkukuh hendak pergi, janganlah pergi demikian saja.”

“Bagaimana kita harus berangkat?”

“Kalian harus mempersiapkan banyak perbekalan.”

“Apa saja yang harus kami persiapkan?”

“Paling sedikit kalian harus membawa lima ekor unta, air yang banyak, makanan dan banyak pula barang-barang keperluan lainnya.Kelihatannya memang tak berguna, tiba saatnya semua itu adalah barang-barang yang amat berguna dan besar manfaatnya, disamping harus mencari seorang tukang yang ahli dalam memelihara binatang tunggangan.”

“Barang-barang itu.” katanya lebih lanjut dengan tertawa: “Sudah tidak perlu kalian sendiri berjerih payah, besok sore sebelum magrib aku akan siapkan seluruhnya dengan lengkap dan sempurna.”

Coh Liu-hiang tertawa ujarnya: “Tapi tujuan kami kesana bukan hendak melancong atau ingin hidup foya-foya, jangan kau bikin kita hidup kemewahan di sana. Soal binatang tunggangan aku bisa mempersiapkan sendiri dua ekor kuda, beberapa kantong air dan ransum, kukira sudah berkecukupan. Jikalau kau bisa siapkan beberapa arak untuk si gila she Oh ini sudah tentu lebih baik!”

Ki Ping-yan menghela napas, gumannya: “Coh Liu-hiang, Coh Liu-hiang! Tak nyana watak kerbaumu tak berubah selama sepuluh tahun ini!”

Oh-Thi hoa bercokol di atas kudanya, kuda ini merupakan tunggangan yang terpilih diantara ribuan kuda yang lain, tapi tindak tanduknya seperti jeri mendekati kuda tunggangan Coh Liu-hiang, kuda hitam milik Hek-tin-cu itu, meski Oh-Thi hoa sudah melecut dan mengepraknya sampai jengkel, kuda itu tetap tak berani lari berendeng.

Terpaksa Oh-Thi hoa hanya mengintil di belakang Coh Liu-hiang, karena kurang senang mulutnya terus mengoceh dan menggerundel.

Sebaliknya sikap Coh Liu-hiang biasa saja, sedikitpun ia tidak memperhatikan sesuatu gejala, cuma sejak berpisah dengan Ki-Ping yan sampai sekarang dia tak pernah buka suara.

“Coh Liu-hiang!” seru Oh-Thi hoa tak tahan, “Tahukah kau, sekarang aku mulai curiga apakah kau begitu setia kawan seperti yang pernah kubayangkan dulu.”

“O? Kenapa?”

“Kedua kaki Jago Mampus putus, ternyata sedikitpun kau tidak memperlihatkan prihatin dan simpatik atas kesengsaraannya, aku tahu kau dulu bukan orang macam begituan.”

Sesaat Coh-Liu hiang berdiam diri, tiba-tiba ia berpaling dan tertawa, katanya: “Berapa lama kau kenal baik dengan Ki-Ping yan?”

“Walau tidak selama kau, sedikitnya ada sepuluh tahun!”

“Pernahkah kau dengar dia suka omong begitu panjang lebar?”

Tanpa pikir Oh-Thi hoa segera menjawab: “Sudah tentu tidak! Siapapun tahu kalau ingin Jago Mampus bicara jauh lebih sukar untuk mengundangnya makan minum.”

“Pernahkah kau dulu melihat sikap sedih dan emosinya seperti itu?”

“Kemarin waktu aku lihat dia jatuh dari atas kursi hampir saja ingin aku menangis sepuas-puasku, tapi kau… matamu berkedip pun tidak, kau malah masih tertawa geli.”

“Sudah belasan tahun kau mengenalnya, masakah kau belum tahu akan wataknya, jikalau kedua kakinya itu benar-benar putus, masakah dia suka omong sedemikian panjang lebar, dipengaruhi emosinya lagi?”

Oh-Thi hoa tertegun, mendadak ia berjingkrak dengan berteriak keras: “Apakah maksud ucapanmu ini?”

“Kau belum paham apa maksudku?”

“Apakah kau maksudkan, bahwa apa yang dia lakukan itu hanyalah pura-pura untuk dipertontonkan kepada kita?”

“Pernahkah kau perhatikan kedua nona jelita yang melayani kita itu?”

“Maksudmu Ing-yan dan Poan-ping kedua gadis ayu itu?”

“Benar, pernahkah kau perhatikan sikap dan tindak-tanduk mereka terhadap Ki Ping-yan?”

Oh Thi-hoa bergelak tertawa, serunya: “Apa kau merasa jelus? Perempuan dikolong langit ini, kan tidak semua baik terhadap Coh Liu-hiang, ada kalanya ada satu dua orang yang pandang sepele kepada Coh Liu-hiang.”

“Kau lihat sikap mesra mereka terhadap Ki Ping-yan, apakah sikap terhadap seorang laki-laki yang sudah cacat badannya? Pernahkah kau perhatikan kerlingan mata mereka, serta sorot mata mereka bila mengawasi Ki Ping-yan?”

Tiba-tiba lenyap tawa Oh Thi-hoa, mulutnya melongo.

Berkata Coh Liu-hiang lebih lanjut: “Kaupun seorang yang cukup berpengalaman menghadapi perempuan, tentunya kaupun bukan seorang picak.”

“Benar!” gumam Oh Thi-hoa mendelong. “Seorang laki-laki bila tidak bisa memuaskan perempuan, tiada perempuan yang bersikap seperti itu terhadapnya, apalagi seorang laki-laki cacat, selamanya takkan bisa membuat puas orang lain…” mendadak ia menjerit keras: “Kenapa waktu itu kau tidak katakan kepadaku?”

“Kalau toh dia tidak mau pergi, buat apa aku harus memaksanya?”

“Jago Mampus yang pantas mati, bukan saja menipuku, malah membuat hatiku ikut pilu dan kasihan, berani dia gunakan akal liciknya ini terhadap kawan karib yang sudah dikenalnya belasan tahun.”

“Terhadap kita, dia tidak perlu dicela.”

“Kau masih memujinya?”

“Dia bicara panjang lebar, itu pertanda bahwa sanubarinya terketuk, pertanda dia masih pandang kita sebagai temannya, kalau tidak bisa saja dia menolak terus-terang “tidak mau ikut”, memangnya kita bisa menelikung dia serta menggusurnya pergi, benar tidak?”

Melotot mata Oh Thi-hoa, serunya: “Begitu tercela sikapnya terhadapmu, sedikitpun kau tidak marah?”

“Kalau kau ingin berkenalan dengan seorang teman, kau harus paham dan menyelami wataknya, jikalau dia punya kekurangan, kau harus memaafkan dia, waktu aku mengenalnya dulu, aku sudah tahu memang begitulah wataknya, buat apa aku harus marah….”

Coh Liu-hiang terloroh-loroh, katanya lebih lanjut: “Apalagi bisa membuat seorang teman baik, aku sudah amat puas.”

Oh Thi-hoa gusar, serunya: “Tapi aku tidak sebaik dan sesabar kau, memberi maaf apalagi, aku…”

“Memangnya kau sendiri kira sudah setia kawan? Beberapa teman baik kumpul bersama, tapi kau tega tinggal pergi begitu saja tanpa pamit, minggat sampai tujuh delapan tahun, memangnya orang lain tidak marah kepada kau?”

“Tapi aku… aku tidak seperti dia…”

“Benar! Kau tidak seperti dia, dikala teman menghadapi kesulitan kau takkan mundur, tapi kaupun punya kekurangan sendiri, seperti pula Ki Ping-yan mempunyai kebaikannya sendiri.”

Oh Thi-hoa mengelus hidung, tanpa bicara lagi. Betapapun tak malu dia menjadi kawan dekat Coh Liu-hiang, penyakit Coh Liu-hiang yang suka mengelus hidung, dia bisa mempelajarinya begitu mirip dan persis.

Menjelang lohor, mereka menemukan suatu tempat untuk istirahat, ingin Coh Liu-hiang membuat suatu rencana untuk mempermudah perjalanan ini, siapa tahu waktu ia berpaling, ternyata Oh Thi-hoa sudah menghilang.

Terpaksa Coh Liu-hiang hanya menyengir tawa getir, terpaksa dia harus menunggu.
Seumpama hatinya gelisah dan gugup, apa pula gunanya, perangai Oh Thi-hoa yang melebihi bara panasnya, lebih liar dari kuda binal, lebih dogol dan bandel dari keledai, memangnya dia belum bisa memahaminya selama ini.

Sudah tentu cepat sekali ia sudah dapat meraba kemana tujuan Oh Thi-hoa. Terbukti dia pulang tidak sendirian.

Tampak di belakangnya kuda pilihannya itu, mengintil pula seekor kuda lain, seorang diri dia menarik dua tali kekang, kuda di sebelah belakangnya ternyata dinaiki dua orang. kedua orang ini bukan lain adalah Ing-yan dan Poan-ping.
Rambut sanggul mereka yang mengkilap sudah buyar terhembus angin, kulit mukanya yang halus jelita diliputi rasa kaget, ketakutan jari-jari tangan mereka yang halus mungil diikat kencang oleh Oh Thi-hoa.

Selama itu Coh Liu-hiang tetap menunggu di luar pintu kedai kecil sambil memandang ke tempat jauh, tapi setelah melihat bayangan mereka mendatangi segera ia kembali masuk ke dalam kedai, duduk membelakangi pintu di luar.
Setelah kudanya tiba di depan pintu baru Oh Thi-hoa lompat turun lalu iapun tarik tali kekang kuda di belakangnya, pelan-pelan satu persatu ia tolong kedua gadis di punggung kuda itu melompat turun.

Kuda mereka kuda jempolan, perbawa Oh Thi-hoa sedemikian gagah dan kereng, ditambah dia menggusur dua nona jelita yang terikat kedua tangannya lagi. Semua orang di pinggir jalan sama melotot matanya mengawasi mereka, jikalau mereka tidak gentar menghadapi sikap Oh Thi-hoa yang garang itu, mungkin mereka sudah merubung maju.

Tapi Coh Liu-hiang sebaliknya tidak berpaling muka, bahwasanya melirikpun dia tidak memandang kepada Oh Thi-hoa.

Dengan langkah gemulai Oh Thi-hoa datang menghampiri, katanya tawar : “Aku kembali!”

“Ehm!” Coh Liu-hiang bersuara dalam mulut.

“Akupun bawa dua orang tamu kemari.” Oh Thi-hoa menambahkan.

Coh Liu-hiang berdiri, menarik dua kursi dengan senyum manis ia persilahkan kedua gadis yang ketakutan itu duduk, lalu ia menarik muka pula dan duduk kembali ditempatnya tanpa hiraukan Oh Thi-hoa.
O
h Thi-hoa minta sepoci arak, dia tuang dan tenggak sendiri, mulutnya mengerundal : “aku tahu kau tidak senang, tapi Ki Ping-yan memang keterlaluan terhadap teman, jikalau aku tidak bongkar permainan sandiwaranya ini, mungkin seumur hidupku takkan bisa tidur nyenyak.”

Akhirnya Coh Liu-hiang menghela napas, katanya : “Tapi kenapa kau menghadapi mereka? Kaum wanita tiada sangkut pautnya dengan persoalan ini!”

Hanya cara ini yang bisa kukalukan! kata Oh Thi-hoa sejujurnya.

Disaat kau pergi, apakah Ki Ping-yan sedang tidur siang? tanya Coh Liu-hiang.

“Aku tahu penyakit lamanya itu takkan bisa berubah, maka kuperhitungkan tepat pada waktunya aku meluruk kesana, ternyata benar dia sedang tidur, coba kau pikir, asal kuundang kedua nona ini kemari dalam jangka satu jam, dia pasti sudah menyusul tiba.”

Saking senang ia bergelak tawa serunya pula : “Seperti juga diriku karena orang membawa Soh Yong-yong melancong, tidak segan-segan kau hendak mengejarnya ke padang pasir. Bicara terus terang, cara yang kugunakan ini aku menelat perbuatan Hek-tio-cu.”

“Tapi cara ini betapapun terlalu rendah dan memalukan.”

“Menghadapi orang seperti dia itu, kalau tidak menggunakan cara yang rendah seperti ini kau mampu menghadapinya?” Oh Thi-hoa berdiri, lalu pelan-pelan menjura kepada kedua nona jelita yang pentang kedua matanya lebar-lebar, katanya tertawa : “Kali ini meski bikin susah kedua nona, tapi dari kejadian hari ini dapatlah membuktikan rasa cintanya terhadap nona berdua, sedikit banyak kalian mendapat hasil juga”

Ong yan membuka mulut tertawa lebar, katanya : “Kalau demikian kami berdua malah harus berterima kasih kepada Kongcu.”

“Memang kalian harus berterima kasih kepadaku, kalau tidak jangan mengharap seumur hidup kalian melihat sikap Ki Ping-yan yang gelisah dan gugup lantaran kalian berdua…” tak tertahan dia terloroh-loroh geli.

Tak urung Coh Liu-hiang ikut tertawa pula, ujarnya : “Bicara soal tebalnya muka, mungkin aku tidak akan ungkulan dibanding kau.”

Poan Ping cekikikan, katanya : “Kalau demikian, mohon Kongcu suka membuka belenggu kedua tangan kami, jikalau kami tidak meladeni Kongcu berdua makan minum, mana kami bisa perhatikan betapa besar rasa terima kasih kepada Kongcu.”

Tapi satu jam telah berselang, dua jam telah berlalu, bayangan Ki Ping-yan belum juga kunjung tiba setelah hari menjelang tengah malam, Ki Ping-yan masih belum menyusul datang, lambat laun Poan ping dan Ing-yan sudah tak bisa tertawa pula.

Poan-ping berkata hampir menangis : “Mungkin rekan kongcu melesat, mungkin dia tidak begitu prihatin akan diri kami seperti yang Kongcu bayangkan.”

Oh Thi-hoa pun mulai gundah, namun mulutnya masih tertawa lebar katanya : “Tak usah kuatir, dia pasti datang.”

“Kalau dia tidak datang?” tanya In-yan, Oh Thi-hoa tertegun. lekas ia berpaling kepada Coh Liu-hiang.

“Sudah tentu ini urusanku kau kira kau gelisah dan gugup? Sudah kuperhitungkan dengan tepat, dia pasti akan datang…”

“Kalau dia mau datang, sejak tadi tentu sudah berada di sini…” sela Poan-ping.

Oh Thi-hoa tak bisa tertawa pula katanya tergagap-gagap : “Mungkin… mungkin dia kesasar ke lain tempat.”

“Dia sendiri yang mengantar kami berangkat, masakan dia tidak tahu jalan di daerah ini?

“Memangnya?” “Kecuali dia tidak menduga bila kaulah yang melakukan gara-gara ini.”

“Aku sengaja meninggalkan beberapa tanda yang mencolok, seumpama orang lain tidak kenal tanda khasku itu, tapi Ki Ping-yang usia lima tahun, mungkin dia sudah bisa membedakannya.”

Berkerut alis Coh Liu-hiang, katanya : “Kalau demikian, kenapa sampai sekarang dia tidak kunjung datang?”

Poan-ping menyela pula : “Jikalau dia benar-benar tidak kemari, apa yang Kongcu hendak lakukan terhadap kami?”

“Ini…” Oh Thi-hoa menyengir kecut. “Ini… aku…”

Berputar biji mata Ing-yang, tiba-tiba ia tertawa cekikikan katanya : “Dia tak datang tak menjadi soal, biar kami berdua ikut Kongcu saja.

Oh Thi-hoa menjingkrak seperti disengat kala, teriaknya : “itu tidak mungkin!”

“Kongcu anggap kami jelek dan tidak setimpal?” desak Ing-yan.

“Aku… bukan begitu maksudku, cuma tapi…”

“Memangnya apa maksud Kongcu sebenarnya?” desak Ing-yan pula.

Timbrung Poan-ping : “kongcu menggusur kami kemari tidak sudi bawa kami sekalian! kami… apakah selanjutnya kami bisa berhadapan muka dengan orang lain?” suaranya semakin pilu matapun merah berkaca-kaca.

Sembarang waktu air mata dapat bercucuran.

“Nona-nona baik, kumohon kalian sekali-kali jangan merengek dan menangis. Setiap kali melihat anak perempuan nangis hatiku jadi bingung dan tak bisa berketetapan !”

Kata Poan-ping dengan mata merah : “Lalu kenapa Kongcu tidak mau terima kami?”

Kembali Oh Thi-hoa melompat sambil berteriak : “Maksudmu cuma supaya Jago Mampus itu kehilangan orangnya, sekali-kali tiada maksudku hendak merebut bininya, aku… walau aku amat suka kepada kalian tapi…”

Seketika berseri tawa muka Ing-yan, katanya nyaring: “Jikalau Kongcu suka kepada kami, kami berjanji akan ikut setia kepada Kongcu.”

Poan-ping ikut menyela bicara: “Kalau toh dia tidak perhatikan kami berdua kenapa kami harus ikut dia?”

Saking gugup Oh Thi-hoa menggosok-gosok kedua tapak tangannya. Coh Liu-hiang sebaliknya duduk ongkang-ongkang di tempatnya, dengan tersenyum geli ia habiskan araknya. Oh Thi-hoa menerjang maju merebut cawan araknya, suaranya menggembor gusar: “Coh Liu-hiang masih tidak lekas kau bantu mencari akal?”

“Sejak tadi sudah kukatakan, urusanmu sendiri apalagi dua gadis cantik rupawan seperti mereka janji setia hendak ikut kau, aku harus memberi selamat dan ikut senang bagi rejekimu yang besar, sekaligus mendapat dua bini.”

Oh Thi-hoa berteriak aneh, dampratnya: “Coh Liu-hiang kau ulat busuk ini, perduli apa yang sedang kau pikirkan dalam benakmu, jika tidak temani aku antar mereka pulang, biar aku adu jiwa dengan kau!”

Sepanjang jalan, tak henti-hentinya Poan-ping dan Ing-yan cekikikan geli.

Berkata Ing-yan: “Kalau kami harus diantar pulang, kenapa pula semula kami direbut dan digusur pergi secara kekerasan?”

Poan-ping ikut tertawa, katanya: “Kalau aku tidak kasihan melihat sikap gugup dan gelisahmu ini, bagaimanapun juga aku tidak mau pulang.”

Menghadapi raut muka Oh Thi-hoa yang bersungut-sungut ini, tak terasa Coh Liu-hiang terkial-kial geli, katanya: “Oh Thi-hoa kuharap selanjutnya kau tahu diri perempuan dalam dunia ini, tidak semuanya sama seperti Ko Ah-nam gampang dihadapi, kau merasa Ko-Ah nam enak dihadapi lantaran kau menyukainya.”

“Benar,” ujar Oh Thi-hoa getir: “selanjutnya aku tak berani bilang aku pandai menghadapi perempuan, sekarang ingin rasanya aku berlutut di hadapan Ko Ah-nam, mencium kakinya yang bau.”

Coh Liu-hiang terbahak-bahak, “Kau bisa paham akan pengertian ini, terhitung kau masih bisa ditolong.”

“Kalau kau begitu pintar, tentu kau tahu kenapa Ki Ping-yan tidak menyusul kemari?” tanya Oh Thi-hoa sambil mendekap mulut.

“Jikalau dia sudah memperhitungkan kau pasti akan mengantar mereka pulang, buat apa dia susah menyusul sejauh ini?”

Oh Thi-hoa tidak bicara, sesaat kemudian ia berkata pelan: “Jikalau dia berpikir demikian tentu dia salah! Tiada manusia bodoh sebanyak itu dalam dunia ini, cuma ada kalanya sementara orang tidak mau melakukan sesuatu urusan yang memperlihatkan kecerdikan otaknya.”

“Disitulah letaknya kenapa Ki Ping-yan bisa menjadi kaya raya dalam waktu yang begitu singkat, dan sebab kenapa kau selamanya takkan punya uang, lantaran setiap orang suka bilang kenapa kau ini mungil dan jenaka.”

“Ternyata apa aku ini mungil jenaka? Baru hari ini aku tahu…” gelak tawanya mendadak berhenti, karena dilihatnya jauh di depan sana mendatangi sebuah barisan, ada kereta, ada kuda, agaknya masih terdapat tujuh delapan ekor unta.

Tatkala itu sudah tengah malam, sepanjang jalan ini boleh dikata bayangan setanpun tak kelihatan, kenapa rombongan besar manusia dan binatang ini melakukan perjalanan ditengah malam buta rata?

Bertaut alis Oh Thi-hoa, dalam tubuhnya mengalir darah yang suka turut campur urusan orang lain, setiap menghadapi kejadian ganjil, jikalau kau melarang dia pergi melihatnya biar jelas, boleh dikata jauh lebih menderita daripada kau gorok lehernya.

Kata Coh Liu-hiang tertawa sambil mengawasinya: “Apa pula yang tengah kau pikir dalam benakmu?”

Alis berkerut, tangan meraba dagu, mengumam mulut Oh Thi-hoa: “Tengah malam buta rata, menggiring kereta dan binatang kuda dan unta sedemikian banyaknya, sudah tentu bertujuan mengelabui mata kuping orang lain, menurut hematku, jikalau orang-orang itu bukan brandal, tentu kawanan perampok.”

“Apa kau ingin hitam mencaplok hitam?”

Oh Thi-hoa tertawa senang. “Kau lho yang mengusulkan.” segera dia keprak kuda terus memapak ke depan.

Tampak rombongan yang berbaris panjang ini terdapat kereta, kuda dan unta, tapi hanya terdapat dua orang saja, seorang adalah kusir kereta yang duduk bercokol di tempatnya, seorang lagi adalah laki-laki kekar yang berkulit hitam. Laki-laki ini mencekal seutas cambuk panjang setombak lebih, mengenakan kaos yang terbuat dari kulit kambing, nampak jelas otot-otot dan daging badannya yang kekar sekeras baja.

Laki-laki hitam ini berjalan di barisan paling belakang, meski hanya satu orang, kuda dan unta dapat ia kendalikan dengan baik dan rapi, satu demi satu berbaris memanjang menelusuri jalan menuju ke depan, tiada seekor kuda yang binal, tiada seekor untapun yang meninggalkan barisan, seolah-olah mereka ini pasukan besar yang sudah dapat gemblengan dalam latihan berat.

Bentuk kereta besar itupun amat ganjil, empat persegi, mirip benar dengan sebuah peti mati, pintu jendela tertutup rapat, entah apa yang berada didalamnya.

Semakin dipandang dan ditegasi Oh Thi-hoa semakin merasa aneh dan janggal, bukan saja tidak mirip rombongan brandal atau perampok dan begal, tidak mirip pedagang, atau suatu perusahaan ekspedisi segala.

Tak tertahan ia lecut kudanya menghampiri laki-laki kekar yang bertubuh keras seperti menara itu, sapanya tertawa lebar: “Saudara tengah malam buta rata tergesa-gesa menempuh perjalanan, masakah tidak letih?”

Laki-laki besar kekar itu cuma melirik kepadanya tanpa bersuara.
Baru sekarang Oh Thi-hoa melihat jelas raut muka orang seperti kulit jeruk yang dikeringkan, kulit dagingnya lekak-lekuk tiada sesentipun kulit mukanya yang bersih dan mengkilap.

Mengawasi sepasang matanya bersinar guram remang-remang hampir putih hitam biji matanya susah dibedakan siapapun takkan pernah membayangkan dalam dunia ini ada manusia yang memiliki sepasang mata begini rupa.

Biji matanya melotot kepada Oh Thi-hoa, namun seolah-olah tidak melihat Oh Thi-hoa, dulu jelas sorot matanya mengandung hawa ganjil namun seperti kosong melompong dan hampa.

Ditengah malam buta rata, bertemu dan berhadapan dengan manusia seperti ini, sungguh bukan suatu kejadian yang menarik, ingin ketawapun Oh Thi-hoa tak kuasa mengeluarkan suaranya.

Dasar wataknya memang kukuh, namblek, kalau orang tidak hiraukan dirinya, semakin getol dia mengganggu orang, ingin dia bertanya biar jelas, lekas kudanya ia putar balik mengejar ke depan, katanya keras: “Hanya orang yang ada setannya, tidak mau menjawab pertanyaan orang, saudara apakah ada setan dalam hatimu?”

Kali ini melototpun tidak laki-laki ini kepadanya, hakekatnya orang tidak perdulikan dirinya.

Oh Thi-hoa tertawa dingin, jengeknya: “Sementara orang boleh kau tak usah hiraukan mereka, meski dia marah, apa boleh buat orang toh tak dapat berbuat apa-apa terhadap kau, tapi aku ini bukan orang macam begituan, jikalau aku sampai marah…”

Dari dalam kereta tiba-tiba menongol keluar sebuah kepala manusia, katanya sambil tertawa tawar: “Kau tidak perlu marah, hakekatnya dia tidak mendengar ocehanmu, dia seorang tuli.”

Hampir saja Oh Thi-hoa terjungkal roboh dari atas tunggangannya, teriaknya keras: “Ki Ping-yan, kaukah itu! Kau Jago Mampus ini, sebetulnya permainan apa yang sedang kau lakukan?”

Orang yang berada di dalam kereta ternyata adalah Ki Ping-yan.

Dari dalam kereta itu ulurkan sebuah tangannya memberi ulapan tangan sebagai isyarat, barisan segera berhenti, lalu ia buka pintu kereta, pelan-pelan melangkah turun.

Hampir gila Oh Thi hoa saking marahnya, dampratnya menggembor: “Bukankah kedua kakimu sudah buntung? Sekarang kenapa bisa berjalan?”

Seolah-olah Ki Pin-yang tidak pernah mendengar ocehannya, langsung dia memapak ke arah Coh Liu-hiang yang kebetulan sedang mendatangi. Coh Liu-hiang lekas lompat turun dan memapak maju pula.

Mereka berpandangan sambil tertawa lebar, kata Ki Ping-yan: “Aku sudah datang.”

“Bagus sekali!”

“Karena aku harus mempersiapkan diri dalam perjalanan keluar perbatasan, sehingga aku datang terlambat.”

Sekilas Coh Liu-hiang pandang barisan ini, katanya tersenyum: “Terlalu banyak persiapanmu.”

“Kebanyakan lebih mending daripada kekurangan.”

“Pengalamanmu jelas lebih luas daripadaku, aku dengar petunjukmu.”

“Kereta itu boleh untuk istirahat, besok pagi saja boleh kau periksa segala keperluan kita ini ya.”

“Baik.” Coh Liu-hiang tidak banyak komentar.

Keduanya tak pernah menyinggung soal kaki putus, tidak bicarakan Ing-yan dan Poan-ping seolah-olah peristiwa hakekatnya tidak pernah terjadi.

Saking gusar dan menahan amarahnya Oh Thi-hoa sampai memburu napasnya, raut mukanya membesi hijau, tak tahan ia memburu maju.

Ki Ping-yan menyambutnya dengan tawa tawar, katanya: “Di atas kereta ada arak, jikalau kau belum mabuk, mari silahkan minum beberapa cangkir lagi!”

Sekian lama Oh Thi-hoa melotot mengawasinya, akhirnya ia bergelak tertawa, serunya:
“Bagus! Meski kau buat aku tertipu mentah-mentah, tapi aku tidak boleh bersikap kasar terhadap teman baik, kami boleh terhitung seri, mari naik, kuhaturkan tiga cangkir kepada kau!”

Setelah berada di atas kereta, baru Oh Thi-hoa mengerti, kenapa Ki Ping-yan membuat petak kereta ini mirip dengan peti mati, karena dengan bentuk seperti ini, ruangan kereta ini menjadi lebar dan nyaman. Boleh dikata bukan kereta tapi sebuah petak rumah yang berjalan.

Dalam kereta terdapat beberapa balai besar yang empuk, beberapa kain beludru tebal sebuah meja, setiap benda yang berada di sini agaknya sudah diatur sedemikian rupa setelah dipertimbangkan dengan masak, meski banyak jumlah barang, kelihatannya tidak saling berdesakan.

“Mana araknya?” baru saja Oh Thi-hoa hendak bertanya.

Ki Ping-yan sudah ulur tangan menekan sesuatu di bawah balai-balai, dari kolong balai-balai mendadak meluncur keluar sebuah laci terdapat enam gelas perak yang mengkilap dan sepuluh botol persegi yang terbuat dari perak pula.

Kata Ping-yan: “Di sini terdapat sepuluh macam arak, dari Motai, Toabin, Bu-yap ceng sampaipun arak susu kambing dari luar perbatasanpun ada, kelihatannya botol ini tidak begitu besar, namun isinya tiga kati duabelas tahil. Kau ingin minum apa? katakan!.”

Oh Thi-hoa sudah terbelalak mengawasi laci itu. lama baru dia berkata menghela napas: “Sekali rekan berbagai macam arak sudah diantar keluar seolah-olah sebuah khayalan indah bagi seorang setan pemabuk, tak heran manusia siapa saja ingin punya harta kaya memang banyak manfaatnya.”

Tiga orang sudah menghabiskan tiga botol arak Oh Thi-hoa tak tahan lagi katanya :
“Kini kalau ada udang besar dari Kangpak cakar merak dan pupu menjangan dari Kim-hoa untuk teman arak, tempat ini boleh dikata menyerupai sorga, cuma sayang… ”

Belum habis ia bicara dari kolong selimut tebal itu mencelat keluar pula laci yang lain, dimana bukan saja terdapat udang besar dari Kang-pak, cakar merak dan pupu menjangan dari Kim-hoa, malah ada ikan rendam arak dari Hikian angsa panggang ulat laut dari Hayling, daging tulang dari bagi tapak biruang dari Tiang pek san dan lain-lain pendek kata setiap makanan yang paling lezat untuk teman sudah lengkap tersedia didalam laci ini.

Kontan Thi-hoa berjingkrak girang teriaknya : “E, eh, apa kau sekarang sudah pandai main sulapan!”

“Manusia hidup sedapat mungkin harus menikmati segala kesenangan terutama orang yang punya dosa dan banyak membuat kesukaran orang lain, pernah suatu ketika, aku kelaparan sampai rasanya aku kupas kulit dagingku sendiri untuk isi perut, oleh karena itu, sekarang dimanapun aku berada, lebih dulu aku tumpuk berbagai macam makanan, sampaipun kolong ranjang, tempat tidurku ada arak ada daging.

Ingin rasanya Oh Thia-hoa tertawa mendengar omongan lucu ini, tapi setelah ia pikir kan secara seksama, bukan saja tak bisa tertawa, malah ingin rasanya ia menangis. Katanya yang datar dan tawar ini, bahwasanya mengandung penderitaan pahit getir, dikala manusia ketakutan menghadapi kelaparan perutnya, maka boleh kau bayangkan betapa besar derita dan kesengsaraan yang pernah dialaminya.

Lama Oh Thi Hoa melongo, bergegas dia tenggak habis tiga cangkir arak, lalu ia katanya menghela napas dengan menengadah: “Mungkin memang tidak pantas aku paksa kau kemari.”

Ki ping-yan berkata dingin: “Kau tidak paksa aku, jikalau aku benar-benar tak sudi datang, siapapun jangan harap bisa paksa aku kemari.”

Oh Thi-hoa tertawa kecut, tiba-tiba ia bertanya: “Bagaimana dengan kedua nona jelita itu?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: