Kumpulan Cerita Silat

03/04/2008

Pendekar Gelandangan (03)

Filed under: Gu Long, Pendekar Gelandangan — ceritasilat @ 10:54 pm

Pendekar Gelandangan (03)
Bab 03. Ko-jin yang menakutkan
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Bintang73 dan Donnios)

Seorang gadis cantik yang telanjang bulat, berbaring di sisimu bahkan menghembuskan napasnya yang harum di sisi telingamu.

Pemandangan semacam ini pasti amat menarik, pasti amat hangat dan bikin hati orang berdebar.

Bila dikatakan Yan Cap-sa sedikitpun tidak tertarik, ucapan itu pasti bohong dan tak bisa dipercaya.

Bukan orang lain saja yang tak percaya, mungkin dia sendiripun tidak percaya.

Sekalipun dia tahu dengan pasti kalau perempuan itu sangat berbahaya, sedemikian bahayanya seperti sebuah gunung berapi yang setiap saat bisa meletus.

Sekalipun ia dapat tak bernapas, tidak mengendusi bau harum yang tersiar dari tubuhnya, tapi ia tak dapat membuat jantungnya tidak berdebar.

Ya, bukan berdebar saja bahkan debaran jantungnya sudah mencapai ke taraf yang paling top.

Seandainya sejak semula dia tahu kalau bakal terjadi peristiwa semacam ini, ia benar-benar akan menolak untuk menaiki kereta itu.

Tapi sekarang ia sudah duduk di dalamnya.

Bukan hanya dengusan napas saja di sisi telinganya bahkan ada juga bisikan yang begitu lembut begitu merayu: “Mengapa tidak kau pandang tubuhku? Kau takut?”

Sepasang mata Yan Cap-sa telah terbuka, ia sudah memandang ke arahnya, terutama bagian tubuhnya yang terlarang.

Si Ko-jin tertawa lebar, katanya dengan wajah berseri: “Rupanya kau masih dapat disebut seorang laki-laki sejati, seorang laki-laki yang masih punya nyali”

“Sayang meskipun sudah kulihat selama tiga hari tiga malam, akupun tak dapat melihatnya”, kata Yan Cap-sa sambil tertawa getir.

“Tidak dapat melihat apa?”

“Tidak dapat kulihat sebetulnya kau ini manusia sungguhan atau bukan?”

“Seharusnya dapat kau lihat!”, kata Si Ko-jin.

Sambil membusungkan payudaranya yang montok berisi dan meluruskan sepasang pahanya yang putih, perempuan itu melanjutkan: “Seandainya aku bukan manusia, menurut tanggapanmu aku lebih mirip sebagai apa?”

Asal mempunyai sepasang mata yang dapat melihat, siapapun seharusnya mengetahui bahwa dia bukan saja adalah seorang manusia, seorang perempuan hidup, diapun merupakan seorang perempuan di antara perempuan, setiap inci setiap bagian tubuhnya betul-betul adalah tubuh seorang perempuan.

“Kau sangat mirip dengan seorang perempuan, tapi apa….yang kau kerjakan sedikitpun tidak mirip!”, kata Yan Cap-sa.

“Kau tentu tidak habis mengerti kenapa kulakukan perbuatan semacam in?”

“Seandainya aku dapat memahaminya, maka aku sendiripun bukan seorang manusia!”

“Kau menganggap dirimu terlalu jelek!” tanya Si Ko-jin kemudian.

“Tidak, aku tidak terhitung terlalu jelek”

“Kau sudah tua”

“Tidak terhitung tua!”

“Kau mempunyai cacat bawaan?”

“Tidak ada!”

“Pernahkah ada perempuan yang menyukaimu?”

“Ada beberapa orang”

“Lantas apa yang kau herankan?”

“Seandainya kau adalah perempuan lain, bukan saja aku tak akan keheranan bahkan akupun tak akan sungkan-sungkan seperti sekarang, sayang kau…….?”, tiba-tiba Yan Cap-sa berhenti berbicara.

“Aku kenapa?”

“Kau telah mempunyai suami!”

“Cepat atau lambat, seorang perempuan pasti akan menikah, setelah menikah pasti mempunyai suami!”

Sepintas lalu, ucapan tersebut seperti perkataan yang tak berguna, tapi kenyataannya bukan.

Karena selanjutnya ia masih mempunyai suatu perkataan yang cukup hebat, begini katanya:

“Kalau yang dikawininya bukan seorang manusia, apakah ia terhitung mempunyai suami?”

Pertanyaan itu cukup hebat, tapi selanjutnya ada yang lebih hebat lagi: “Semisalnya yang dikawini seorang perempuan adalah seekor babi, seekor anjing atau sebuah balok kayu, apakah ia dapat dianggap telah mempunyai suami?”

Yan Cap-sa sungguh tak tahu bagaimana musti menjawab pertanyaan itu, terpaksa ia balik bertanya: “Apakah Hee-ho Seng adalah seekor babi?”

“Bukan!”

“Sebuah balok kayu?”

“Juga bukan!”

“Kalau begitu dia adalah seekor anjing?”

Si Ko-jin menghela napas panjang.

“Aaaai….seandainya dia adalah seekor anjing, aku malah merasa agak bahagia”

“Kenapa?”

“Sebab paling sedikit anjing masih mengetahui maksud manusia, dia masih mempunyai sedikit perikemanusiaan”

Sambil menggigit bibir, ia seperti menahan kesedihan dan penderitaan, katanya lagi dengan kesal: “Hee-ho Seng lebih malas dari seekor babi, lebih tak mengenal kehangatan daripada sebuah balok kayu, dan lebih pandai menggigit orang daripada seekor anjing. Tapi justru dia masih berlagak sok hebat, sok luar biasa. Tiga tahun sudah aku kawin dengannya, tapi setiap hari aku hanya ingin minggat dari rumah”

“Kenapa kau tidak minggat saja?”

“Karena aku belum pernah mendapatkan kesempatan, biasanya ia tak pernah meninggalkan aku walau hanya selangkahpun”

Yan Cap-sa sedang mencari, mencari botol berisi arak yang belum habis diminum itu, dia ingin menggunakan botol arak tersebut untuk menyumbat mulut sendiri.

Karena sekarang ia benar-benar tak tahu apa yang musti diucapkan.

Botol arak itu tepat berada dihadapannya, dengan cepat ia berhasil menemukannya, tapi ia tak dapat menggunakan botol arak tersebut untuk menyumbat mulut sendiri.

Karena pada saat bersamaan, mulutnya telah disumbat oleh suatu benda lain, suatu benda yang empuk, lembut dan berbau harum.

Kebanyakan pria jika mulutnya disumbat dengan benda tersebut, biasanya akan memberikan suatu reaksi yang wajar, suatu reaksi yang hampir seragam.

Ya, itulah reaksi seperti yang dilakukan seorang bayi, menghisap dan menghisap………..

Tapi lain reaksi yang diberikan Yan Cap-sa, ia tidak menunjukkan reaksi seperti pada umumnya.

Ketika benda yang empuk, lembut dan harum itu menyumbat mulutnya, ia memperlihatkan reaksi seperti secara tiba-tiba ada seekor ular beracun menerobos masuk ke dalam mulutnya, seekor ular yang benar-benar sangat beracun.

Reaksi semacam ini tidak terlalu umum dan lagi bisa bikin orang tak senang hati.

Hampir meledak kemarahan Si Ko-jin saking mendongkolnya, sambil mencibirkan bibirnya ia mendesis: “Aku ada racunnya?”

“Tidak ada tampaknya!”

“Dan kau ada?”

“Mungkin juga tak ada!”

“Lantas apa yang kau takuti?”

“Aku cuma mengetahui akan satu persoalan”

“Persoalan apakah itu?”

“Aku hanya ingin tahu sesungguhnya kau ingin aku berbuat apa?”

“Kau anggap aku bersikap demikian kepadamu karena aku ingin menyuruh kau melakukan suatu pekerjaan?”

Yan Cap-sa tidak menjawab, dia cuma tertawa.

Kalau tertawa tentu berarti mengakui atau membenarkannya.

Si Ko-jin sangat marah, ia benar-benar marah sekali, kalau marahnya sudah berlangsung setengah harian, apalagi yang hendak dia lanjutkan?

Sayang bila seseorang sedang marah, maka dia sama sekali tak ada artinya, maka pada akhirnya dia berbicara juga dengan sejujurnya.

Ia berkata begini: “Padahal kali ini bukan untuk pertama kalinya aku minggat dari rumah, aku sudah mencoba minggat sebanyak tujuh kali”

“Oya?!”

“Kau tebak sudah berapa kali aku kena di tangkap kembali?”

“Tujuh kali!”

Si Ko-jin menghela napas panjang, katanya: “Hee-ho Seng sesungguhnya tidak mempunyai kepandaian apa-apa, tapi dia justru mempunyai suatu kepandaian khusus yang luar biasa!”

“Oya?!”

“Kemanapun aku berusaha melarikan diri, ia selalu mempunyaa kepandaian untuk menangkapku kembali”

“Ehmmmm…..kepandaian semacam ini tentu luar biasa sekali!”, kata Yan Cap-sa sambil tertawa.

“Oleh sebab itulah cepat atau lambat dia pasti akan berhasil menemukan diriku kembali. Untunglah kali ini keadaannya jauh berbeda!”

“Bagaimana bedanya?”

“Kali ini di kala ia berhasil menangkap kembali diriku, maka aku sudah menjadi orangmu”

Ia tidak memberi kesempatan kepada Yan Cap-sa untuk menyangkal kenyataan tersebut, segera ujarnya kembali: “Atau paling sedikit dia tentu akan beranggapan bahwa aku sudah menjadi orangmu!”

Yan Cap-sa tak dapat tertawa, iapun tak dapat menyangkal atau memberi bantahan.

Barang siapa menyaksikan keadaan mereka sekarang, maka tak mungkin akan terlintas pikiran kedua dalam benaknya.

Terdengar Si Ko-jin berkata lebih jauh: “Dia masih mempunyai suatu kepandaian yang lain, yakni ia sangat pandai menaruh perasaan cemburu”

Setiap pria seringkali memang ketempelan penyakit semacam ini, penyakit cemburu.

“Oleh karena itu, seandainya ia dapat menyaksikan keadaan kita sekarang, maka dengan segala daya upaya dia pasti akan berusaha untuk membinasakan dirimu”

Yan Cap-sa tak dapat berbuat lain, kecuali membenarkan pendapatnya.

Kembali Si Ko-jin berkata: “Seandainya orang lain hendak membinasakan dirimu, bahkan dengan segala daya upaya ingin melenyapkan jiwamu, apa yang musti kau lakukan?”

Sebelum Yan Cap-sa menjawab, ia telah mewakilinya untuk memberikan jawaban: “Tentu saja terpaksa kaupun harus membinasakan pula orang itu”

Yan Cap-sa menghela napas panjang, sekarang ia dapat memahami maksud dan tujuan perempuan itu.

Dengan lembut Si Ko-jin berkata lagi: “Akan tetapi kaupun tak usah menghela napas, karena kau sama sekali tak bakal rugi, ada banyak orang pria yang bersedia membunuh orang karena ingin mendapatkan perempuan macam aku”

“Aku percaya pasti terhadap banyak orang lelaki yang dapat berbuat demikian, tetapi aku………”

“Kaupun sama saja!”

“Darimana kau bisa tahu kalau akupun sama saja?”

“Karena setelah sampai pada saatnya, kau pada hakekatnya tak mempunyai pilihan lain”

Pelan-pelan dia mendongakkan jidat orang dan katanya kembali:

“Setelah sampai pada waktunya nanti, bila kau tidak membinasakan dirinya maka dialah yang akan membinasakan dirimu, maka dari itu lebih baik kita sekarang…..”

Ia tidak melanjutkan perkataan tersebut, bukan lantaran ada semacam benda lunak yang menyumbat mulutnya, justru mulutnya telah dipergunakan untuk menyumbat bibir orang.

Kali ini Yan Cap-sa tidak lagi menganggapnya sebagai ular berbisa, tampaknya kali ini pikirannya sudah terbuka.

Sayang, pada saat itulah tiba-tiba si kusir kereta memperdengarkan desisan kaget.

Dengan terkejut ia berpaling, lewat daun jendela ia dapat menyaksikan sebuah roda kereta yang ditumpanginya telah menggelinding lewat dari sisinya dan jatuh di tempat kejauhan.

Roda tersebut betul-betul adalah roda keretanya………

Pada saat ia menyaksikan roda itu melaju lewat disampingnya, kereta mereka telah menerjang ke tepi jalan dan terjungkir balik.

Dengan terjungkirnya sang kereta maka jendelapun berubah ada di atas.

Seseorang sedang mengawasi mereka dari atas, pandangan itu dingin, ya, meski wajahnya ganteng tapi memiliki sepasang mata yang penuh dengan perasaan dendam.

Si Ko-jin menghela napas panjang.

“Coba lihatlah,” demikian ia berkata, “bukankah ia benar-benar punya kepandaian?”

“Betul!”, Yan Cap-sa cuma bisa tertawa getir.

Hee-ho Seng adalah keturunan dari keluarga persilatan.

Pada umumnya keturunan dari ketua persilatan tentu memiliki pendidikan yang tinggi, mereka jarang mengucapkan kata-kata kasar, sekalipun hendak “mengenyahkan” orang, biasanya mereka selalu menggunakan istilah “dipersilahkan”.

Tapi sampai dimanapun disiplin dan sopannya orang itu, kesabaran ada batas-batasnya, demikian pula dengan keadaan Hee-ho Seng pada saat ini.

Sampai sekarang dia masih belum melontarkan makiannya, kejadian ini sudah terhitung suatu kejadian yang tak mudah.

Ia cuma memaki dengan sepatah kata saja: “Perempuan rendah, gelinding keluarlah dari situ!”

Si Ko-jin memang seorang perempuan yang penurut, ia tidak membangkang ataupun membantah, ketika ia diminta keluar serta merta diapun keluar.

Tubuhnya masih dalam keadaan telanjang bulat, secuwil kainpun tidak melekat di tubuhnya.

Dengan gelisah kembali Hee-ho Seng berteriak: “Jangan keluar!”

Si Ko-jin segera menghela napas panjang.

“Aaaai…bukankah kau tahu, selamanya aku selalu menuruti perkataanmu?” demikian ia mengeluh, “tadi kau suruh aku keluar dan akupun menurut, tapi sekarang kau melarangku keluar, apa yang harus kulakukan sekarang……..?

Sepucat kertas paras muka Hee-ho Seng saking marahnya, sambil menuding ke arah Yan Cap-sa katanya:

“Kau…….kau…….kau……..”

Sesungguhnya ia memang tak berbakat untuk bicara, apalagi berada dalam keadaan gelisah dan marah, sepatah katapun tak sanggup diutarakan keluar.

“Rupa-rupanya dia hendak suruh kau menggelinding keluar?”, kata Si Ko-jin tiba-tiba.

“Aaaah, tidak mungkin”

“Tidak mungkin?”

“Ya, tentu saja! Sebab aku bukan perempuan memalukan, kenapa aku musti menggelinding keluar?”

Yan Cap-sa berhenti sebentar, lalu sambil tertawa, katanya lagi:

“Aku tahu Hee-ho Kongcu adalah seorang pemuda yang berpendidikan, andaikata ia akan minta aku keluar, maka dengan sikap yang sopan dan penuh rasa sungkan dia akan menggunakan istilah silahkan untuk mengundangku keluar”

Paras muka Hee-ho Seng kembali dari merah padam berubah menjadi pucat pias, sambil menggenggam sepasang kepalannya kencang-kencang ia berseru: “Silahkan, silahkan, silahkan………”

Secara beruntun dia mengucapkan kata ‘silahkan’ sebanyak tujuh delapan belas kali, malah ketika kata-katanya belum selesai, Yan Cap-sa telah berada dihadapannya.

Kembali Yan Cap-sa tertawa.

“Sesungguhnya mau apa kau undangku keluar?”, katanya.

“Aku persilahkan kau pergi mampus!”

Di depan jalan raya berhenti sebuah kereta, di atas pintu keretanya tertera simbol dari keluarga Hee-ho.

Si bocah dan sang kusir masih duduk di kursi bagian depan, mereka sedang mengawasi Yan Cap-sa dengan mata melotot.

Sang kusir adalah seorang kakek kurus kecil berambut putih, sudah puluhan tahun pengalaman kerjanya sebagai kusir kereta kuda. Jangan dilihat tubuhnya yang ceking, kegesitan maupun kecakapannya dalam berkusir tak kalah dengan pemuda manapun.

Gerak-gerik si bocah enteng dan lincah, sudah barang tentu dia pernah berlatih silat.

Tapi sayang mereka tak sanggup membantu Hee-ho Seng, sebab itu orang yang harus dihadapi Yan Cap-sa tak lebih hanya Hee-ho Seng seorang.

Dalam hal ini, Yan Cap-sa merasa amat berlega hati.

Meskipun Hee-ho Seng bukan lawan yang empuk, lebih-lebih pedang seribu ularnya adalah sejenis senjata yang mengerikan.

Tapi cukup mengandalkan dia dengan sebilah pedangnya, Yan Cap-sa masih belum pikirkan persoalan itu di dalam hati.

Ia hanya merasa bahwa kejadian tersebut ada sedikit kurang beres.

Meskipun ia tidak pernah menaruh kesan baik terhadap manusia yang bernama Hee-hong in, tapi lantaran seorang perempuan ia harus membunuh suaminya.

Sayang ia tak punya waktu untuk mempertimbangkan lebih jauh.

Pedang seribu ular dari Hee-ho Seng dengan membawa kilatan cahaya tajam bagaikan munculnya beribu ekor ular beracun telah menyerbu ke arahnya.

Sesungguhnya dengan menggunakan jurus serangan yang manapun dari Toh-mia-cap-sa-kiamnya, ia sanggup untuk mematahkan ancaman tersebut.

Tapi pada detik yang terakhir, tiba-tiba timbul suatu ingatan aneh dalam benaknya.

Kalau Cho Ping boleh menggunakan si burung gagak untuk mencoba jurus pedangnya, kenapa ia tak boleh menggunakan kesempatan ini untuk mencoba daya kekuatan dari jurus pedangnya Sam-sauya?

Di kala ingatan tersebut mulai menjalar dalam benaknya, seenteng hembusan angin sejuk, atau secerah sinar matahari di pagi hari, pedangnya telah menyambar ke depan.

Jurus serangan yang dipergunakan tak lain adalah jurus pedang dari Sam-sauya.

Ia tidak begitu hapal dengan jurus serangan itu, bahkan ketika menggunakannya ia sama sekali tidak merasakan daya kehebatan dari gerakan tersebut.

Tapi sedetik kemudian, ia dapat membuktikan kedahsyatannya.

Serangan maut ular beracun dari Hee-ho Seng secara tiba-tiba hancur punah oleh hembusan angin sejuk itu seperti angin sejuk yang menggoyangkan pohon liu, bagaikan salju yang mencair oleh teriknya panas matahari. Ancaman itu lenyap dengan begitu saja.

Malah Hee-ho Seng terlempar sejauh tujuh delapan kaki ke tengah udara, lalu jauh terbanting di atas atap kereta kudanya sendiri.

Yan Cap-sa sendiri agak kaget dengan kehebatan itu.

Buru-buru si kusir tua membangunkan Hee-ho Seng, sementara si bocah membelalakkan matanya sedang memandang ke arahnya dengan pandangan kaget.

Si Ko-jin sedang menghela napas, tersenyum sambil menghela napas, tentu saja menghela napas cuma pura-pura, sedang tersenyum adalah sesungguhnya….

Manis betul senyuman yang menghiasi bibirnya, semanis madu sesejuk angin semilir di musim panas…….

“Tak kusangka ilmu pedangmu jauh lebih tinggi dari apa yang kubayangkan semula”, dia berkata.

“Ya, aku sendiripun tak menyangka”, Yan Cap-sa menimpali sambil menghela napas dan tertawa.

Helaan napasnya bukan berpura-pura senyumannya lebih tampak kegetirannya daripada manisnya………

Ia cukup menyadari, andaikata jurus manapun dari Toh-mia-cap-sa-kiam yang dipergunakan, tak nanti akan menghasilkan kedahsyatan seperti sekarang ini.

Seandainya tiada petunjuk dari Buyung Ciu-ti, mana mungkin ia akan tahan menghadapi serangan tersebut?

Kini, sekalipun ia sanggup mengalahkan Sam-sauya, apa pula nikmatnya kemenangan semua itu?

Yan Cap-sa mulai merasakan kegetiran dalam hatinya, pergelangan tangannya segera diputar dan pedangnya disarungkan kembali.

Pada hakekatnya ia tidak memperhatikan Hee-ho Seng lagi, ia sudah tak menaruh hati lagi kepada orang ini.

Sungguh tak disangka olehnya ketika kepalanya didongakkan, Hee-ho Seng telah berdiri kembali dihadapannya, ia sedang memandang dengan tatapan dingin.

Yan Cap-sa menghela napas panjang.

“Apa lagi yang kau inginkan?”, ia bertanya.

“Silahkan!”

“Oh, kau masih ingin mempersilahkan aku untuk mati?”

Kali ini Hee-ho Seng masih dapat mengendalikan perasaannya, dengan dingin ia berkata:

“Jurus pedang yang barusan kau gunakan betul-betul suatu ilmu pedang yang tiada tandingannya di kolong langit”

Yan Cap-sa tak dapat menyangkal akan kebenaran dari ucapan tersebut.

Bukan saja perkataan itu adalah perkataan yang sesungguhnya, itupun merupakan perkataan yang penuh rasa kagum, namun bagi pendengarannya justru terasa tak tenteram.

Sebab jurus pedang itu bukan jurus ilmu pedangnya.

Kembali Hee-ho Seng berkata: “Adapun kedatanganku kali ini adalah ingin merasakan kembali kelihaian dari ilmu pedangmu itu!”

“Kau ingin menjajal lagi jurus pedangku yang barusan ini?”

“Benar!”

Yan Cap-sa tertawa.

Tentu saja bukan tertawa yang sesungguhnya, pun bukan tertawa dingin, lebih-lebih bukan tertawa getir. Tertawa semacam ini tak lebih hanya untuk menutupi saja keadaan yang sesungguhnya.

Menutup perasaan serta jalan pikirannya pada waktu itu.

Apabila bocah keparat ini berani mencoba sekali lagi kehebatan dari jurus pedang itu, apabila bukan gila sudah pasti ia telah mempunyai pegangan.

Agaknya ia tidak mirip orang yang sedang edan.

Mungkinkah ia telah berhasil menemukan jurus tandingan dari serangan itu? Bahkan ia merasa begitu yakin untuk menang?

Perasaan dan pikiran Yan Cap-sa mulai tergerak.

Ia betul-betul ingin melihat dengan cara apakah manusia di dunia ini dapat memecahkan kehebatan dari jurus pedangnya itu.

Hee-ho Seng masih menantikan jawabannya.

Dengan perasaan apa boleh buat, terpaksa Yan Cap-sa hanya bisa mengucapkan sepatah kata:

“Silahkan!”

Begitu ucapan tersebut diutarakan, Hee-ho Seng telah turun tangan, pedang seribu ularnya telah berubah menjadi ular-ular perak yang menari dan beterbangan memenuhi angkasa……

Serangan ini tampaknya seperti sebuah serangan tipuan.

Yan Cap-sa mengetahuinya, cuma ia tak ambil perduli.

Jurus serangan tipuan atau jurus serangan sesungguhnya dari pihak lawan, serangan dari Sam-sauya itu masih mampu untuk menghadapinya.

Kali ini ia pergunakan jurus itu jauh lebih matang dan lancar.

Di saat pedangnya mulai bergerak melakukan perubahan, “Craaat….” Ular-ular perak musuh yang beterbangan di angkasa telah bergabung membentuk kembali sebilah pedang.

Cahaya pedang berkilauan memenuhi angkasa sebuah tusukan kilat telah meluncur masuk.

Tusukan itu sangat sederhana, bukan saja sederhana, bahkan gerakannya begitu bodoh dan bebal, dan arah yang ditusuk ternyata tak lain adalah titik kelemahan dari jurus pedang Sam-sauya.

Yan Cap-sa bena-benar merasa terperanjat.

Ternyata jurus pemecahan yang dipergunakan Hee-ho Seng saat ini bukan lain adalah jurus pedang yang telah ia praktekkan dihadapan Buyung Ciu-ti tadi.

Bahkan Buyung Ciu-ti sendiripun mengakui bahwa gerakan jurus ini merupakan satu-satunya jurus pemecahan yang sanggup mematahkan serangan dari Sam-sauya.

Sekarang, ia telah menggunakan jurus serangannya untuk mematahkan serangan dari Sam-sauya.

Hee-ho Seng telah menggunakan jurus pemecahan hasil ciptaannya sendiri untuk membunuh dirinya.

Kini serangan telah dilancarkan, sekalipun hendak dirubahpun tak mungkin bisa dirubah lagi, mungkinkah ia harus tewas di ujung pedang dari jurus serangan hasil ciptaannya sendiri?

Ternyata ia tidak mati!

Dengan amat jelasnya dia mengetahui bahwa dibalik jurus serangan yang dipergunakan terdapat setitik kelemahan, dengan amat jelasnya dia tahu tusukan lawan mengarah justru mengarah titik kelemahannya itu.

Tapi setelah tusukan lawan masuk ke dalam lingkaran serangannya, tiba-tiba gerakan pedangnya kembali melakukan suatu perubahan yang sama sekali tak terduga.

Perubahan tersebut bukan saja tak pernah disangka olehnya, bahkan perubahan tersebut tak mungkin bisa ia ciptakan sendiri.

Perubahan itu pada dasarnya memang sudah terkandung di dalam gerakan jurus tersebut.

Ibaratnya air terjun dari bukit yang tinggi, ketika mengalir ke bawah, maka celah-celah kosong yang kau lihat dengan jelas, ketika tanganmu kau luncurkan ke dalamnya, dengan cepat air telah menutupi celah-celah kosong tadi.

“Triiiing……!” suau dentingan nyaring bergema memecahkan kesunyian.

Pedang seribu ular telah patah, patah menjadi beribu-ribu batang kecil. Hee-ho Seng sendiri ikut terpental pula ke tengah udara, terpental sangat jauh sekali.

Kali ini bahkan si kusir tuapun ikut memandang ke arahnya dengan pandangan terperanjat, sedemikian terkejutnya sampai ia lupa untuk merawat keadaan Hee-ho Seng.

Kali ini, Si Ko-jin bukan cuma tertawa belaka malah ia mulai bersorak sambil bertepuk tangan.

Akan tetapi perasaan Yan Cap-sa kali ini justru makin tenggelam, seakan-akan tenggelam ke dasar gudang es yang paling dingin.

Sekarang ia baru mengerti, titik kelemahan yang tertampak dalam gerakan serangan dari Sam-sauya, pada hakekatnya bukan titik kelemahan yang bisa ditunggangi.

Sekarang ia baru mengerti, di dunia ini hakekatnya tak seorang manusiapun sanggup mematahkan serangan tersebut.

Ya, seorang manusiapun tak ada.

Bila kau ingin mematahkan serangan itu, berarti kau sudah bosan hidup dan pergi hanya untuk menghantar jiwa sendiri, bila Cho Ping berani kesitu, diapun pasti akan mampus.

Apabila serangan itu bisa dipatahkan, dialah yang berhak mendapat segala pujian dan kebanggaan, sebaliknya bila tak mungkin untuk mematahkannya, maka dialah yang seharusnya tewas.

Hee-ho Seng yang tergeletak di tanah masih belum bangkit berdiri, noda darah masih mengotori ujung bibirnya.

Si kusir tua dan si bocah telah tertegun seperti patung saking kaget dan takutnya.

Tapi kuda penghela kereta masih tetap berdiri tegap, barang siapapun yang menjumpai kuda tersebut, mereka akan segera tahu bahwa kuda itu adalah kuda jempolan yang sudah terlatih lama.

Dia ingin sekali merampas kuda itu.

Ia lebih gelisah lagi karena harus cepat-cepat menuju perkampungan Sin-kiam-san-ceng, sekalipun pergi hanya untuk menghantar nyawanya, dia harus ke sana.

Ia tak ingin membiarkan Cho Ping menghantar nyawanya mewakili dia.

Sebab bagaimanapun juga dia adalah seorang jago persilatan.

Orang persilatan selalu mempunyai cara berpikir yang bertolak belakang dengan keadaan pada umumnya.

Pada saat itulah tiba-tiba ia mendengar ada orang sedang mendehem pelan.

Seorang gelandangan yang berpakaian dekil penuh lubang, bau dan kotor, sambil berbatuk-batuk tiada hentinya ke luar dari balik hutan yang sepi.

Tadi siapapun diantara mereka tak pernah menyaksikan orang ini.

Tadi, agaknya dalam hutan tiada orang semacam ini, tapi sekarang dengan pasti dan nyata orang itu berjalan ke luar dari balik hutan. Langkah tubuhnya sangat lambat, batuknya makin lama semakin keras dan menghebat.

Pertarungan sengit yang barusan berlangsung, sinar pedang yang berkilauan di angkasa dan mendebarkan hati itu, seakan-akan tak pernah dilihat olehnya.

Bahkan terhadap orang-orang yang berada di sekitarnya, diapun seolah-olah tak melihat.

Gadis cantik yang bugil, paling sedikit ada separuh bagian tubuhnya yang putih dan montok menongol keluar dari balik jendela kereta.

Tapi dia, seperti tak pernah melihatnya.

Jago pedang yang luar biasa dahsyatnya, dengan sebilah pedang berhawa pembunuhan…….

Diapun tidak melihatnya.

Dalam pandangan orang itu seakan-akan hanya terdapat seorang saja…. ia seperti hanya melihat kehadiran si kusir tua yang kecil lagi ceking itu…….

Si kusir tua itu sedang ketakutan setengah mati, sekujur tubuhnya menyusut menjadi satu, bahkan kelihatan sedang gemetar keras.

Gelandangan itu masih berbatuk tiada hentinya, ia berjalan lambat sekali….tiba-tiba ia berhenti, berhenti tepat di hadapan kereta kuda itu…..

Kusir tua itu lebih terkejut lagi, ia memandang ke arah gelandangan tadi dengan pandangan terkejut.

Gelandangan itu sudah berhenti berbatuk-batuk, tiba-tiba sapanya ke arah si kusir tua itu sambil tertawa: “Baik, bukan?”

“Baik? Apanya yang baik? Baik apanya?”

“Aku maksudkan apakah kau baik?”

“Bagian manaku yang baik?”

“Segala-galanya di tubuhmu semuanya baik!”

Kusir tua itu tertawa getir tapi sebelum ia buka suara, gelandangan itu sudah berkata lagi:

“Tadi seandainya kau sendiri yang terjunkan diri, sekarang orang itu sudah mati”

Belum lagi kata-katanya habis diucapkan, ia sudah mulai berbatuk-batuk lagi, bahkan pelan-pelan pergi meninggalkan tempat itu.

Dengan wajah penuh rasa terkejut, kusir tua itu memandang ke arahnya tanpa berkedip.

Setiap orang semuanya sedang memandang ke arahnya dengan pandangan terperanjat, seakan-akan mereka tidak mengerti apa maksud dari ucapannya itu.

Yan Cap-sa sendiri seperti setengah mengerti setengah tidak, sesungguhnya dia ingin menyusul orang itu serta menanyakan lebih jelas lagi.

Sayang gelandangan itu sudah pergi entah kemana, bayangan tubuhnya telah lenyap tak berbekas.

Sekalipun langkah kakinya sangat lambat, tapi dalam sekejap mata itulah bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas, bahkan suara batuknya sudah tak kedengaran lagi.

Waktu itu, Si Ko-jin sedang bergumam seorang diri: “Aneh, aneh…sungguh aneh sekali! Kenapa raut wajah gelandangan itu seperti ku kenal?”

Si kusir tua sedang bergumam pula: “Heran…heran…sesungguhnya apa yang sedang dimaksudkan oleh orang itu?”

Sementara itu Yan Cap-sa telah tiba dihadapannya, ia lantas berkata: “Apa yang dia katakan, mungkin tak akan dipahami orang lain, akan tetapi aku faham!”

“Oya?!”

“Bukan aku saja yang faham, kau sendiripun faham!”

Kusir tua itu segera menutup mulutnya sekali lagi ia mengawasi orang dihadapannya dengan pandangan kaget bercampur tercengang.

Pelan-pelan Yan Cap-sa berkata lagi: “Pada dua puluh tahun berselang, jago paling tangguh dalam lembah Ang-im-kok bukanlah Hee-ho Tiong-san, cengcu yang sekarang ini?”

“Kalau bukan lo-cengcu, lantas siapa lagi?”, kata kusir tua itu segera membantah.

“Orang itu adalah adik kandungnya yang bernama Hee-ho Hui-san!”

“Akan tetapi………….”

“Akan tetapi pada dua puluh tahun berselang secara tiba-tiba Hee-ho Hui-san telah lenyap tak berbekas, bahkan kinipun tak ada yang mengetahui jejaknya, bukankah begitu?”, tukas Yan Cap-sa.

Kusir tua itu menghela napas panjang.

“Aaaaai…aku kuatir kalau dia orang tua sudah lama meninggal dunia”, bisiknya lirih.

“Semua orang persilatan mengira dia mati, tetapi sesungguhnya aku telah mengetahuinya bahwa dia sesungguhnya belum mati”

“Darimana kau bisa tahu?”

“Karena aku mengetahui jejak dan kabar beritanya!”

“Oya?! Lantas dia orang tua berada dimana?”

“Di sini”, jawab Yan Cap-sa tegas.

Kemudian sambil menatap kusir tua itu tajam-tajam. Sepatah demi sepatah kata ia berkata lagi:

“Kau adalah Hee-ho Hui-san!”

Senja telah lama menjelang tiba, angin yang berhembus kian lama kian terasa dingin.

Tubuh kusir kereta tua yang menyusut bagaikan kura-kura, kini telah berdiri tegak, sorot matanya yang sayu dan ketuaan tiba-tiba memancarkan sinar terang.

Sinar terang itu hanya akan dijumpai di balik sorot mata seorang jagoan yang betul-betul berilmu tinggi.

“Jauh pada dua puluh tahun berselang, kau sudah pandai menggunakan Toh-mia-cap-sa-kiam”, kata Yan Cap-sa berkata.

Kemudian setelah berhenti sebentar, ia memberikan penjelasannya lebih lanjut:

“Pertarunganmu melawan ayahku di puncak bukit Hoa-san pada dua puluh tahun berselang, meski tak diketahui orang lain, tapi aku mengetahuinya”

Kusir tua itu mengepal sepasang tangannya kencang-kencang.

Kembali Yan Cap-sa berkata: “Dalam pertarungan itu, kau menderita kekalahan total ditangan ayahku, sebab itu selama dua puluh tahun terakhir ini kau pasti sudah amat mendalami ilmu Toh-mia-cap-sa-kiam tersebut, sebab kau selalu ingin mencari kesempatan untuk membalas dendam!”

Tiba-tiba kusir tua itu menghela napas panjang.

“Aaaaai….sayang ia mati terlampau awal”, keluhnya.

Yan Cap-sa berkata lagi: “Justru karena kau amat mendalami ilmu Toh-mia-cap-sa-kiam tersebut, maka kau baru tahu kalau disamping ke tiga belas jurus serangan itu sesungguhnya masih terdapat jurus yang ke empat belas, dan sebab itu pula kau dapat berpikir untuk menggunakan jurus itu untuk mematahkan seranganku tadi”

Ia menghela napas panjang, terusnya: “Sebab kecuali kau, di dunia ini mungkin tak ada orang kedua yang mampu berbuat demikian”

Ternyata kusir tua itu tidak menyangkal.

“Kemanapun Si Ko-jin melarikan diri, ia tak pernah lolos dari cengkeraman Hee-ho Seng, tentu saja hal inipun disebabkan karena ada kau”, kata Yan Cap-sa lebih lanjut.

“Oya?!”

“Kepandaian melacaki jejak orang dari Hwe-gan-sin-eng (Elang Sakti dari kawah berapi) Hee-ho Hui-san adalah nomor satu di dunia, sejak dua puluh tahun berselang sudah jarang ada orang di dunia ini yang mampu menandingi kepandaianmu itu”

“Rupa-rupanya persoalan tentang diriku yang kau ketahui tidak terlalu sedikit!”, sindir si kusir tua dengan suara ewa.

“Ya, memang tidak sedikit!”

Tiba-tiba mencorong sinar mata setajam sembilu dari mata kusir tua itu, katanya: “Apakah kaupun tahu kenapa aku lenyap secara tiba-tiba? Kenapa setelah lenyap tak berbekas aku rela menurunkan derajatku menjadi seorang budak dan menjadi kusir keretanya Hee-ho Seng?”

“Tentang persoalan itu, aku rasa tak perlu tahu!”, jawab Yan Cap-sa dengan suara ewa.

Persoalan-persoalan semacam itu memang tak perlu ia ketahui, sebab urusan itu merupakan rahasia pribadi orang lain, tapi bukan berarti rahasia pribadi orang lain tidak diketahui olehnya.

Pertikaian antara sesama saudara, cinta gelap antara sang enso dengan sang ipar, karena kurang berhati-hati menyebabkan sekali salah melangkah mengakibatkan selama hidup harus menanggung sesal.

Sesungguhnya tragedi semacam itu sudah seringkali terjadi dalam suatu keluarga yang besar, bukan berarti hanya dalam keluarga Hee-ho saja kejadian semacam itu dapat terjadi.

Cuma saja lantaran mereka mempunyai nama yang cemerlang serta kedudukan yang mulia, maka semua tragedi serta kejadian yang memalukan yang telah terjadi berhasil dirahasiakan serapat-rapatnya.

Lenyapnya Hee-ho Hui-san dimasa lampau mungkinkah karena ia mempunyai hubungan cinta gelap dengan ensonya sendiri?

Setelah lenyap tak berbekas, diam-diam ia telah kembali lagi, bahkan rela menjadi budak, menjadi kusir kudanya Hee-ho Seng, apa sebenarnya yang ia tuju?

Mungkinkah Hee-ho Seng adalah anak hasil hubungan gelapnya dengan sang enso?

Tentang persoalan-persoalan yang bersangkutan dengan rahasia orang, Yan Cap-sa tak ingin membuat dugaan-dugaan.

Sebab hal itu merupakan rahasia pribadi orang lain, ia tak perlu untuk mengetahuinya.

Kusir tua itu sedang memandang ke arahnya, memandangnya dengan menggunakan sepasang matanya yang tidak sayu lagi.

Yan Cap-sa tidak berusaha untuk menghindari pandangan mata lawan.

Apabila seseorang merasa tak pernah melakukan kesalahan yang bertentangan dengan batinnya, ia tak perlu menghindari tatapan mata semacam itu.

Tba-tiba si kusir tua itu mengajukan satu pertanyaan yang aneh sekali.

“Sekarang kau memakai nama marga apa?”

“Yan, yan dari kata yan-cu atau walet!”

“Jadi kau adalah Yan Cap-sa?”

“Betul!”

“Kau sungguh-sungguh adalah putranya Ho-loji?”

“Betul!”

Beberapa patah kata ini bukan saja ditanyakan secara aneh, ditanyakan secara membingungkan, ternyata jawaban yang diperolehpun sama-sama membingungkannya.

Sesungguhnya pertanyaan itu adalah suatu pertanyaan yang sama sekali tiada artinya.

Pertanyaan semacam itu sesungguhnya tak perlu harus di jawab, tapi Yan Cap-sa mau tak mau harus menjawabnya.

Sebab ia tahu pertanyaan tersebut bukan sama sekali tak ada artinya, bahkan ucapan selanjutnya dari kusir tua itu lebih-lebih tak mungkin kalau tak berarti.

Ia berkata begini: “Kalau toh kau adalah putranya bapakmu, seharusnya aku bunuh dirimu!”

Yan Cap-sa tidak membuka suara.

Ia cukup memahami perasaan dari orang tua ini. Bagi pandangan setiap umat persilatan, suatu kekalahan adalah penghinaan dan malu, dendam sakit hati seperti ini tak mungkin bisa terlupakan untuk selama-lamanya.

Dendam sakit hati semacam ini harus dituntut balas.

“Sebetulnya tadi aku ingin menggunakan jurus pedangmu sendiri untuk membunuhmu!” kusir tua itu berkata.

Ia menghela napas panjang, terusnya: “Sayang cara Hee-ho Seng melancarkan serangannya terlampau lemah, dan lagi perubahan jurus pedangmu terlalu mengerikan”

“Sesungguhnya tidak terlampau lemah serangannya itu, cuma ia sudah kehilangan rasa percayanya pada diri sendiri!”

Kusir tua itu membungkam.

Kembali Yan Cap-sa berkata: “Justru serangan itu belum begitu hafal bagiku, maka seandainya kau yang melancarkan serangan tadi, kemungkinan besar aku sudah tewas di ujung pedangmu”

Kusir tua itu mengakui, pandangan manusia gelandangan tadi memang terlalu tepat.

Tapi….siapakah dia?

Tidak sedikit tokoh-tokoh persilatan aneh yang berkeliaran dalam dunia persilatan, kalau orang lain tak ingin memperlihatkan identitas sendiri, apa gunanya kau mencari orang itu serta menanyakan asal-usulnya?

“Sekarang……..”, kata Yan Cap-sa.

“Sekarang sudah jauh berbeda!”, kusir tua itu menambahkan.

“Di mana letak perbedaannya?”

“Sekarang kau sudah menaruh kepercayaan penuh atas kehebatan dari jurus pedang itu, maka akupun tak sanggup untuk mematahkannya”

“Atau paling sedikit kau boleh mencobanya dulu?”

“Tidak perlu!”

“Tidak perlu?”

“Kalau toh banyak persoalan yang tak perlu kau ketahui, kenapa ada banyak persoalan yang tak perlu kucoba?”

Ia tidak memberi kesempatan bagi Yan Cap-sa untuk melanjutkan kata-katanya, kembali ia menambahkan: “Dua puluh tahun berselang, aku kalah di ujung pedang ayahmu, dan dua puluh tahun kemudian Hee-ho Seng kembali kalah di ujung pedangmu, apa gunanya bagiku untuk mencobanya kembali?”

Meskipun perkataan itu diucapkan dengan suara yang datar dan tawar, tapi siapapun dapat menangkap bahwa di balik perkataannya itu sebetulnya terkandung rasa sedih yang luar biasa.

Yan Cap-sa dapat memahami perasaannya.

Yang menjadikan ia berduka mungkin bukan pertarungan pada dua puluh tahun berselang, tapi justru kekalahan pada hari ini.

Pada akhirnya ia merasakan bahwa kemampuan putranya ternyata masih belum mampu menandingi kehebatan putra musuhnya.

Kekalahan ini baru merupakan suatu kekalahan total, kekalahan mutlak, dan kekalahan semacam ini tak mungkin bisa di tolong lagi, sekalipun putra musuhnya dibunuh, apa gunanya?

Pelan-pelan kusir tua itu berkata: “Hari ini keluarga Hee-ho sudah betul-betul menderita kalah, orang dari keluarga Hee-ho kami boleh kau bawa pergi sesuka hatimu!”

Ia sudah bersiap-siap untuk menyerahkan Si Ko-jin kepada Yan Cap-sa.

Rupanya ia sudah tidak menginginkan menantu semacam itu lagi.

“Aku sama sekali tak ingin membawa pergi siapapun juga!”, kata Yan Cap-sa tegas.

“Kau benar-benar tidak ingin?”

Yan Cap-sa menggelengkan kepalanya.

“Tapi aku sangat menginginkan………….”

“Sekalipun kau menginginkan batok kepalaku sekarang juga akan kupersembahkan untukmu!”, tukas si kusir tua itu dengan mata mencorong sinar tajam.

Yan Cap-sa tertawa.

“Tidak! Aku tidak menginginkan batok kepalamu, aku hanya ingin meminjam seekor kuda, seekor kuda yang dapat berlari cepat!”

Kuda itu betul-betul seekor kuda bagus yang dapat berlari cepat.

Yan Cap-sa membedal kudanya secepat-cepatnya.

Terhadap kuda bagus yang sanggup berlari cepat ini, tiada rasa sayang barang sedikitpun yang tercermin di atas wajahnya.

Terhadap kesehatan tubuh sendiripun ia tidak menaruh perhatian, apalagi terhadap kesehatan seekor kuda?

Terhadap pertarungan yang bakal berlangsung ia sama sekali tidak mempunyai pegangan apa-apa, diapun tak punya harapan, sebab dia tahu, tiada seorang manusiapun sanggup mematahkan serangan dari Sam-sauya.

Ya, sudah pasti tak ada!

Ia hanya berharap bisa tiba di telaga Liok-sui-ou sebelum kedatangan Cho Ping di situ.

Telaga Liok-sui-ou terletak di bawah bukit Cui-im-hong.

Perkampungan Sin-kiam-san-ceng terletak di bawah bukit di tepi telaga. Bangunannya kuno, tapi kokoh dan besar.

Di pantai seberang telaga merupakan sebuah dusun kecil yang sebagian besar penduduknya berasal dari marga Cia. Seringkali orang-orang yang akan menuju ke perkampuangan Sin-kiam-san-ceng selalu akan berhubungan dulu dengan Cia-ciangkwe yang berdiam di sana.

Seperti juga dusun-dusun lain, rumah makan milik Cia ciangkwe ini bernama Sin-hoa-ceng.

Dusun itu bernama dusun Sin-hoa-ceng.

Di kala Yan Cap-sa tiba di dusun Sin-hoa-ceng yang kecil, kuda itu telah rubuh kepayahan.

Untung orangnya masih tetap segar dan tak ikut roboh.

Ia segera menyerbu masuk ke dalam rumah makan, dia ingin bertanya kepada Cia ciangkwe apakah Cho Ping telah tiba di perkampungan Sin-kiam-san-ceng.

Tapi ia tak perlu bertanya lagi.

Sebab ketika ia menyerbu masuk ke dalam, ia segera melihat jawabannya.

Ya, jawabannya yang hidup dan segar.

Advertisements

1 Comment »

  1. ah.,ni mah crita ampir sama percis,ama filmx Andy louw”TH3 Du3L” na

    Comment by B0!M — 17/07/2009 @ 3:10 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: