Kumpulan Cerita Silat

03/04/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (21)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:59 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (21)
Oleh Gu Long

Sambil mengusap air mata mendadak Po-giok berteriak dan menuding Hwe-mo-sin. kau ingin tahu kenapa dan karena apa Toa-ko difitnah, boleh kau tanya padanya!”

Dengan sendirinya pandangan orang banyak juga tertuju ke arah Hwe-mo-sin.

Thi-wah berjingkrak gusar, teriaknya, “Hah, jadi kera merah ini yang memfitnah Toa-ko? Lekas katakan! Lekas katakan!”

Thi-wah tidak peduli apakah Hwe-mo-sin akan mengamuk dan meledakkan dinamit. Tapi orang banyak jadi ketakutan karena menganggap Thi-wah kurang ajar terhadap orang yang sewaktu-waktu dapat mencomot jiwa mereka dengan ledakan dinamit.

Di luar dugaan Hwe-mo-sin tidak marah juga tidak berbuat apa-apa. Sikapnya wajar dan tenang katanya dengan tersenyum, “Betul! Supaya Po-giok tunduk dan patuh terhadapku, sengaja aku atur siasat untuk menyesatkan hidupnya di kang-ouw. Untuk itu terpaksa aku pakai akal adu domba, biar kaum persilatan salah paham kepadanya, Yang penting dia mau bekerja untukku, peduli dia membenci, memakiku juga tidak jadi soal.”

Pengakuan Hwe-mo-sin laksana gelegar guntur yang mengejutkan seluruh hadirin, banyak yang berdiri melongo dan tertegun

“Kau…Apa saja yang telah kau lakukan?” tanya Thi-wah.

“Tidak banyak yang kulakukan,” ucap Hwe-mo-sin kalem, “aku hanya suruh orang menyamar bini Au-yang-thian-kiau, mencekok dia dengan arak obat, karena mabuk esoknya dia tidak bisa bertanding dengan Au-yang-thian-kiau…”

Hadirin mulai tidak tenang.

Lebih lanjut Hwe-mo-sin berkata, “Seorang kusuruh pura-pura terluka dan minta tolong padanya. Untuk mengobati orang itu ia harus menguras tenaga, dengan sendirinya dia batal berduel dengan Bwe-Kiam. Maksudku supaya orang banyak menghina dan memandang rendah dia.”

Makin banyak hadirin merasa kurang enak hatinya, tidak sedikit pula yang memperlihatkan rasa menyesal pada air mukanya. Orang-orang itu adalah mereka yang tempo hari paling gencar menuduh dan paling bernafsu mengumpat Po-giok.

Pucat dan menyesal terbayang di muka Thian-to Bwe-Kiam, mulutnya bergumam, “Kiranya begitu duduknya perkara.”

“Bukan hanya itu saja,” Hwe-mo-sin berkata pula, “aku juga suruh orang menyaru persis Pui-Po-giok, mengirim surat untuk Bwe-Kiam dan menyatakan bahwa dirinya akan mengundurkan diri dari kalangan persilatan. Maksudku supaya orang mengira dia lari ketakutan.”

Gemetar sekujur badan Bok Put-kut, “Jadi surat itu memang palsu … memang palsu … ” lalu ia menoleh ke arah Ciok-Put-wi, tertampak air muka Ciok-Put-wi juga berubah pucat.

Gemeretuk gigi Thi-wah menahan geram, “Bangsat keparat! Binatang rendah! …” demikian umpatnya dengan sengit.

Ciok-Put-wi melotot penuh kebencian ke arah Hwe-Mo-sin, diam-diam ia menggeser ke belakang Thi-wah katanya dengan nada tertekan, “Binatang itu membuat Toa-ko mu celaka, kenapa kamu berkaok-kaok saja di sini?”

Thi-wah berjingkrak gusar, “Kamu monyet merah ini, jadi kamu yang membuat Toa-ko celaka. Biar aku adu jiwa denganmu.”

Sambil bicara tangannya menyibak orang banyak di depannya terus menerjang ke arah Hwe-mo-sin. Penonton yang ada di depannya menjadi morat-marit dan jatuh saling tindih.

Begitu Thi-wah lompat ke atas panggung, mendadak Po-giok membentak, “Berhenti!”

Perintah Pui-giok amat manjur. Orang lain tidak ada yang bisa mengekang dan mengendalikan Thi-wah, namun terhadap Po-giok ia amat menurut. Sambil mundur ke pinggir panggung, mulut Thi-wah mengomel, “Toa-ko, kenapa engkau melarangku?”

“Apa kau ingin mencelakai aku?” desak Po-giok.

Thi-wah gelagapan, “Siau … Siau-te mana berani mencelakai Toa-ko, ini … ”

“Dia belum selesai bicara, berarti fitnah terhadap diriku belum terbongkar. Kalau kau labrak dia, kan berarti mencelakai aku?” Po-giok merandek Sejenak lalu melanjutkan, “Jangan gegabah. Kalau dia memberi tanda dan dinamit meledak, bagaimana akibatnya? Bukan hanya aku yang celaka orang banyak juga ikut jadi korban.”

Thi-wah tepekur, badan basah oleh keringat yang mengucur, mulut bergumam, “Thi-wah memang tidak berani, tapi … tapi Ciok-si-siok menyuruh. Thi-wah pikir kalau Ciok-si-siok yang suruh tentu tidak salah lagi. Siapa tahu … siapa tahu…”

Orang banyak tahu bahwa Ciok-Put-wi seorang pendiam, kukuh, tidak senang urusan, adil dan bijaksana. Sungguh tak nyana bahwa diam-diam ia menghasut Thi-wah untuk bertindak dalam suasana yang keruh ini. Di samping kaget, hadirin banyak yang heran dan gusar.

Keringat juga bercucuran di muka Ciok-Put-wi.

Diam-diam orang ini menggeremet mundur hendak menyelinap ke belakang orang banyak. Tapi penonton sudah jengkel bukan memberi jalan malah mendorong ke depan dan menghimpitnya di tengah sehingga tidak leluasa bergerak.

Penonton pasti tidak akan membantu Hwe-mo-sin, namun jiwa raga sendiri jelas lebih penting dari segala persoalan apa pun. Banyak orang menyaksikan sudah beberapa kali Ciok-put-wi menghasut dan melakukan perbuatan yang mengundang bahaya bagi keselamatan orang banyak, adalah logis kalau mereka marah padanya. Hanya Bok Put-kut saja yang masih memperhatikan dia, hiburnya, “Lo-si, sabarlah … ”

Pandangan Po-giok menembus kerumunan orang banyak, dengan melotot ia mengawasi Ciok-Put-wi. Mendadak ia berseru lantang, “Thi-wah, tahukah kamu kenapa Ciok-si-siok menyuruhmu bertindak demikian?”

“Entah!” sahut Thi-wah sambil menggeleng, “aku tidak tahu.”

Dengan suara serak Bok Put-kut berkata, “Apa pun yang pernah kau lakukan, kita tetap masih sayang terhadapmu. Demikianlah Ciok-si-siok mu, demi mendengar orang tega mencelakai dirimu, wajar kalau dia marah dan bertindak salah.”

Berlinang air mata Po-giok, katanya terharu, “Maksud baik Toa-siok kuterima dengan baik. Kebijaksanaan Toa-siok membuatku terharu. tapi … tapi Toa-siok tidak mengerti.”

“Soal apa aku tidak mengerti?” tanya Bok Pot-kut.

“Ciok-si-siok berbuat demikian karena ingin membunuhku.”

Bok Put-kut tertegun, lalu berpaling ke arah Ciok-Put-wi.

“Binatang! Kamu kentut apa ….. ” Ciok-Put-wi berjingkrak gusar, “Untuk apa aku mencelakaimu?”

Senyum pahit dan pedih, menghias ujung bibir Po-giok, katanya tandas, “Karena kau takut Hwe-mo-sin membongkar rahasiamu. Maka aku harus dibunuh dan Hwe-mo-sin juga harus disumbat mulutnya.”

“Kentut busuk!” Ciok-Put-wi mencak-mencak seperti kebakaran jenggot, “siapa percaya obrolanmu!”

“Rahasiamu sudah di tanganku ….” dingin suara Pui-Po-giok.

Ciok-Put-wi berteriak serak, “Betul! Aku memang ingin membunuhmu! Karena kamu membunuh Kong-sun-ji-ko Kim Put-wi, Se-bun-lo-liok, Nyo-Put-loh … mereka yang berbudi dan kasih terhadapmu telah kau bunuh.”

Sebelum orang lain sempat menimbrung, ia berteriak lagi sambil angkat kedua tinjunya, “He, anak murid Siau-lim, Bu-tong, Go-bi, Khong-tong, Hwai-lam dan Tiam-jong-pai. Saudara seperguruan dibunuh binatang cilik ini, sebagai musuh perguruan kalian wajib mengganyangnya.”

Akhir-akhir ini nama besar murid-murid Jit-toa-bun-pai (ketujuh perguruan besar) sudah tidak jaya seperti dulu, namun mereka masih disegani di kang-ouw. Murid-murid ketujuh perguruan besar itu tersebar luas di setiap pelosok dunia.

Dari sekian banyak penonton yang hadir di puncak Thai-san sedikitnya ada tiga atau empat puluh persen adalah murid Jit-toa-bun-pai atau sedikit banyak punya hubungan erat. Sejak kecil mereka sudah dididik dan digembleng secara tradisional, ada yang sudah lulus dan meninggalkan perguruan dan berkelana kang-ouw. Namun nama baik wibawa dan aturan perguruan masih mereka junjung tinggi.

Hasutan Ciok-Put-wi memang berhasil menggugah loyalitas mereka terhadap perguruan, Kewajiban berjuang demi membela perguruan sejak lama sudah terbenam dalam sanubari mereka, kalau tadi mereka hanya menonton dan apatis terhadap kejadian di depan mata. Kini mereka mengepal tinju, bisik-bisik dan berjingkrak. Sayang terlalu banyak orang bicara, berbeda-beda pula reaksinya atas hasutan itu, sehingga keadaan menjadi kacau-balau

Ciok-Put-wi amat licik dan licin, diam-diam ia pasang kuping dan mata, melihat reaksi orang banyak, hatinya senang bukan main.

Po-giok tidak mau memberi kesempatan lagi bentaknya, “Kalian jangan terhasut oleh obrolannya. Pembunuh para paman itu sebetulnya orang lain. Bukan aku yang melakukan.”

Penonton yang takut ancaman dinamit tadi mulai bangkit keberaniannya. Seorang bertanya, “Kalau bukan kamu, memangnya siapa pembunuhnya?”

“Pembunuh itu memang pandai menyembunyikan identitasnya, tapi aku pernah mendengar suaranya. Aku merasa kenal suaranya, namun waktu itu aku sukar mengingat siapa dia.”

Seorang penonton yang lain berteriak juga, “kau bilang kenal suaranya. Kenapa tidak tahu siapa dia?”

“Biasanya orang ini jarang bicara. Kalau bicara hanya tiga-lima patah kata saja. Maka mudah mengelabui orang.”

Mendengar penjelasan Po-giok, tidak sedikit orang yang dapat menebak siapa gerangan orang yang dimaksud.

Tapi ada pula orang yang bertanya, “Siapa? Siapa orang itu?”

Lantang suara Po-giok, “Itulah dia Ciok-Put-wi!”

Walau tidak sedikit yang sudah menduga-duga sebelumnya, tapi lebih banyak yang terkejut dan melongo. Sorot mata orang banyak tertuju ke arah Ciok-Put-wi, sorot mata yang penuh selidik dan curiga.

“Ya, mungkin benar,” seorang berbisik, “tadi dia juga masih menghasut orang, mungkin takut membongkar kedoknya.”

Orang yang sedang emosi paling mudah percaya hasutan dan berubah tujuan semula. Siapa pun yang bicara, secara membabi buta orang banyak akan mendukungnya.

Merah padam muka Bok-Put-kut, bentaknya dengan mendelik, “Po-ji, sudah gila kamu? Berani menuduh tidak semena-mena?”

“Kejadian ini nyata dan gamblang, di hadapan sekian banyak orang gagah, Po-ji tidak berani membual. Sudah aku pertimbangkan baru berani bicara.”

Kaget lagi gusar, Bok Put-kut menoleh ke arah Ciok-Put-wi. Ciok-Put-wi yang tadi amat emosi kini kelihatan tenang dan tabah.

“Lo-si,” desis Bok Put-kut, “Ken … kenapa kamu tidak membela diri? Apa kamu tidak bisa membantah?”

“Tuduhannya tidak semena-mena dan tanpa dasar, anggaplah anjing gila menggigit orang. Kalau aku bantah bukankah aku juga mirip anjing gila?”

Ini bukan bantahan, tapi lebih manjur dari bantahan, Penonton yang tadi menduga-duga dan menaruh curiga, kini bertepuk tangan malah.

“Po-ji,” seru Bok Put-kut, “kau berani bicara demikian, apa kau punya bukti?”

“Nih, bukti ada di sini,” sahut Po-ji sambil menuding Hwe-mo-sin.

Hadirin menjadi gempar, ada yang membentak, “Itu buktinya? Bukti apa itu?”

Hadirin tadi sudah pecah nyalinya karena takut kena ledakan dinamit, kini mereka termakan oleh hasutan Ciok-Put-wi dan berani bersuara, Hwe-mo-sin naik pitam, bentaknya, “Betul, buktinya. Secara diam-diam Ciok-Put-wi telah aku sogok dan aku perintah melakukan semua kejahatan itu.”

Sungguh kejut orang banyak tidak kepalang.

Dada Bok Put-kut seperti ditusuk sembilu, wajah pucat pias, katanya gemetar, “Apa betul? … Betulkah demikian?”

“Setelah aku bongkar rahasia ini, murid-murid Jit-toa-bun-pai akan menuntut balas. Betapa besar risikonya, masa aku membual?”

Bok Put-kut mengeluh sedih, tubuh menjadi lemas dan roboh hampir semaput. Untung orang-orang di sebelahnya memapahnya. Dalam sekejap ini keadaan menjadi kacau lagi.

“Ciok-Put-wi!” hardik Pui-Po-giok lantang “apa kamu masih mungkir? Lekas mengaku saja!”

Waktu mendengar ucapan Hwe-mo-sin tadi, air muka Ciok-Put-wi agak berubah. Mendadak ia mendongak lalu terloroh-loroh.

“kau … kau masih bisa tertawa?” Bok-Put-kut mendesis geram.

“Obrolan itu hanya untuk menipu anak kecil ternyata Toa-ko juga percaya. Kenapa Siau-te tidak boleh tertawa? Hahaha, kenapa tidak tertawa!”

“Urusan sudah berkembang sejauh ini, mau tidak mau … aku harus percaya.”

“Selama ini aku mendampingi Toa-ko, umpama berpisah juga hanya sebentar saja. Mungkinkah dalam waktu beberapa kejap aku bisa disogok orang?”

“Ya …” Bok Put-kut menghela napas panjang sambil mengentak kaki. Pikiran kacau dan tidak tahu pihak mana harus dipercaya.

Ciok-Put-wi berkata pula, “Andai kata Ciok-Put-wi benar disogok orang, toh harus di nilai siapa penyogok itu. pantaskah Ciok-Put-wi disogok kaum keroco yang berhati kejam itu? Betulkah Ciok-Put-wi mau diperalat dan menjual jiwa baginya?”

Bok-Put-kut tergagap, “Ini … ai, Lo-si, selanjutnya kamu akan menjadi orang baik atau orang jahat, aku sendiri tidak tahu … tapi aku tahu kamu bukan orang bodoh. Terus terang aku tidak percaya orang macam dirimu mau dibeli orang.”

“Soalnya kan sudah gamblang, memangnya kalian tidak bisa membedakan dengan jelas!” Ciok-Put-wi mendapat angin. “Dua orang ini berkomplot hendak menjebak dan menjatuhkan martabatku. Jangan kalian tertipu oleh mereka.”

“Betul! Jangan kita tertipu!” hadirin menjadi panas.

“Kalau orang sejahat ini dibiarkan hidup, bukan saja mengancam jiwa orang banyak, juga bikin malu kaum Bu-lim …. Hai, murid-murid Jit-toa-bun-pai, apa kalian bisa menerima perbuatan-nya?”

“Tidak! Jangan diberi ampun!” hadirin berteriak-teriak.

Hwe-mo-sin tidak menduga bahwa urusan berkembang seburuk ini, betapapun tabah hatinya, menghadapi massa yang sudah marah keder juga hatinya, Namun ia masih berusaha menguasai keadaan dengan gertakannya, “Dinamit! Dinamit! He … hei, apa kalian ingin mampus!”

Ciok-Put-wi bergelak tawa, serunya, “Kalau kamu bisa menggunakan dinamit. kenapa tunggu sampai sekarang?”

“kau …. ” Hwe-mo-sin berjingkrak gusar. “kau tidak percaya?”

“Dinamit memang ada,” teriak Ciok-Put-wi, “tapi kalau dinamit itu meledak, jiwamu juga ikut melayang. Ayolah kawan-kawan, ganyang dia!”

“Serbu … ganyang!” massa mulai bergerak lagi.

Seolah-olah mereka berlomba, takut ketinggalan. Sayang jumlah mereka amat banyak, tak teratur dan tanpa komando. Sasaran terlalu kecil untuk orang sebanyak itu, masing-masing ingin dahulu mendahului, maka terjadilah saling dorong, saling tarik dan saling pukul. Yang berhasil menyerbu ke atas panggung hanya beberapa orang saja, yang roboh dan jatuh saling tindih justru lebih banyak.

Di tengah keributan itulah, mendadak orang banyak merasa diterjang segulung tenaga dahsyat dari belakang. Betapa hebat tenaga yang menerjang ini, orang banyak tak kuasa membendungnya.

Karena dorongan dahsyat ini, orang-orang yang bergumul dan berjubel itu tersibak minggir ke kanan kiri. Di samping kaget dan gusar mereka juga penasaran, semua berpaling ke belakang.

Tertampak tujuh atau delapan orang muncul di jalan yang tersibak dari kerumunan orang banyak. Warna pakaian orang-orang ini beraneka ragam, bahannya juga berbeda-beda, ada yang sederhana tapi ada yang perlente dari sutera dan katun halus. Meski bahan pakaian berbeda, namun model dan cara mereka berdandan ternyata mirip satu dengan yang lain.

Semua mengenakan jubah panjang yang menyentuh tanah dan menutup kaki. Memakai topi rumput tinggi mirip sangkar burung sehingga sebagian besar wajah mereka tertutup.

Tujuh atau delapan orang terbagi dua baris setiap dua orang berjalan sejajar, yang di belakang memegang pundak orang yang di depan. Pundak, tidak bergerak, kaki juga tidak kelihatan terangkat, jubah melambai-lambai, dengan enteng barisan ini maju ke depan. Kalau ada orang menghalang, dua orang terdepan menggerakkan sebelah tangan, maka penghalang itu kontan mencelat ke pinggir.

Massa yang mengamuk menjadi kaget dan kesima, melihat lwe-kang yang hebat.

Sebagai jago silat, mereka maklum dengan tangan memegang pundak, orang yang di belakang menyalurkan tenaga pada orang di depan demikian seterusnya. Jadi tenaga delapan orang berpusat di tubuh dua orang yang paling depan, maka betapa dahsyat kekuatannya dapatlah dibayangkan.

Dari gerak tubuh dan langkah mereka menandakan bahwa gin-kang orang-orang ini sudah mencapai taraf yang paling tinggi. Diam-diam Kong-sun Ang, Ban Cu-liang, Bwe-Kiam, Ciang-Jio-bin dan Poa-Ce-sia serta jago-jago lainnya sama membatin bahwa lwe-kang dan gin-kang setinggi orang ini jelas tidak di bawah mereka.

Secara tidak langsung pertemuan besar di Thai-san merupakan reuni tokoh-tokoh Bu-lim yang paling top masa kini, orang-orang gagah yang punya nama dan kedudukan boleh dikata sudah tumplek di sini. Lalu dari manakah kedelapan orang ini?

Umpama salah satu di antara kedelapan orang ini saja yang muncul, dengan bekal kepandaian yang hebat itu, orang sudah heran dibuatnya. Apalagi sekaligus muncul delapan orang, sudah tentu orang banyak kaget dibuatnya.

Tabir malam hampir terusir dengan datangnya fajar.

Hadirin melongo, heran dan takjub. Semua bertanya-tanya, “Siapakah orang-orang ini? Untuk muncul pada saat genting ini?”

Sebetulnya delapan orang ini sudah berada di tengah orang banyak, namun tiada orang memperhatikan mereka, apalagi orang banyak lebih tertarik pertarungan di panggung, maka tiada orang peduli akan kehadirannya.

Orang-orang ini tampil pada saat gawat, sukar diduga pihak mana yang akan dibela, Sukar diramalkan perubahan apa akan terjadi setelah mereka muncul. Hwe-mo-sin dan Pui-Po-giok menunggu dengan menahan napas, menunggu tamu-tamu misterius ini beraksi membuka kedok sendiri.

Lekas sekali mereka mendekati panggung, kedelapan orang melangkah bersama, sekali melesat ke atas panggung, langkah kaki dan gerak tubuh sama beraksi.

Dengan sendirinya orang-orang yang berjubel di atas panggung juga menyingkir memberi jalan. Sehingga mereka berhadapan langsung dengan Hwe-mo-sin dan Pui-Po-giok.

Jantung Hwe-mo-sin. berdebar-debar, lututnya goyah, diam-diam ia menarik tangan ke dalam lengan baju, siap bertindak bila perlu.

Kalau delapan orang ini cari perkara padanya, dengan bekal kepandaian yang dimiliki, dalam sepuluh jurus tentu dirinya kalah dan tertawan hidup, daripada tertawan kan lebih baik turun tangan lebih dulu. Hwe-mo-sin menunggu dengan tegang, bila delapan orang ini maju lagi dua langkah, ia siap menyambitkan mercon kembang api yang disimpan dalam lengan bajunya.

Tanpa berkedip Ciok-Put-wi juga mengawasi tamu-tamu misterius ini. Syukur mereka bertindak pada Hwe-mo-sin, berarti harapannya akan terkabul.

Di luar dugaan, setelah berada di atas panggung, delapan orang itu lantas berhenti, tidak menunjuk sikap memusuhi Hwe-mo-sin. Jelalatan mata Ciok-Put-wi, mendadak ia angkat tangan seraya berteriak, “Ayolah tunggu apa lagi? Memangnya menunggu delapan orang komplotannya ini menolong mereka … Jangan buang waktu. Serbu! Terjang!”

Orang banyak bimbang, kuatir dan ragu-ragu namun pelan-pelan mereka bergerak. Begitu dua-tiga orang jadi pelopor, orang banyak serempak bergerak.

Pada saat itulah kedelapan orang itu membentak bersama, “Murid-murid tujuh perguruan dilarang bergerak!”

Betapa tangguh lwe-kang kedelapan orang ini, maka suara mereka mirip guntur yang menggelegar, pekak telinga seluruh hadirin, keributan pun berhenti seketika.

Ciok-Put-wi berjingkrak gusar, bentaknya, “Kalian orang apa, berani memerintah murid-muridperguruan besar?”

Orang yang berada di depan barisan bertanya, “Apa kau tahu siapa kami bertujuh?”

Suara orang ini memang tidak sekeras paduan suara ketujuh orang, namun nada suaranya punya wibawa yang menciutkan nyali orang.

Bergetar hati Ciok-Put-wi, sekilas ia berdiri tertegun, timbul firasat tidak enak. Setelah mundur ke tengah kerumunan orang banyak, ia balas bertanya, “Memang aku ingin tahu siapa kau ?”

Orang itu mendongak sambil bergelak tawa, “kau ingin tahu siapa aku? Bagus? …”

Mendadak tawanya terputus. perlahan ia menanggalkan topi yang menutup mukanya, lain membuangnya ke bawah, bentaknya lantang, “Nah, lihat siapa aku!”

Di bawah sinar obor yang mulai guram dan cahaya fajar yang makin benderang, tampak rambut uban orang ini digelung tinggi dengan tusuk kundai batu jade, alisnya tegak dan kereng, hidungnya besar dan merah, jenggot putih berjuntai panjang menyentuh dada, bola matanya memancarkan cahaya terang pandangannya membuat hati orang.

Gemetar tubuh Ciok-Put-wi, air muka juga menjadi pucat pias, katanya gelagapan, “Kira … Kiranya engkau orang tua …”

Hadirin ada yang kenal orang tua ini, mendadak seorang berteriak kaget, “Hah, Thi-jan To-tiang … Ternyata Thi-jan To-tiang.”

Banyak hadirin bertekuk-lutut dan menyembah, “Tecu menyampaikan sembah hormat kepada Ciang-bun Su-co.”

To-jin ini adalah Ciang-bun-jin Bu-tong-pai, terkenal sebagai jago pedang nomor satu di Bu-lim.

Setelah suasana reda, perhatian hadirin tertuju pada ketujuh orang yang lain. Kalau salah seorang pemimpin barisan itu adalah Bu-tong Ciang-bun maka dapat dibayangkan orang seperjalanan dengan dia tentu punya kedudukan yang luar biasa.

Sorot mata Ciok-Put-wi yang panik menatap seorang di sampIng-Thi-jan To-tiang, katanya gelagapan, “Apa .,. apakah engkau orang tua adalah … adalah …. ”

perlahan orang itu menurunkan topi, katanya dengan nada berat, “Ya, aku Bu-siang!”

Tampang orang ini jelek, tulang pipinya menonjol namun perawakannya kekar berwibawa, sikapnya kereng namun kelihatan welas asih.

Hadirin lebih terkejut, banyak yang menjerit kaget, “Ciang-bun-jin Siau-lim juga datang …. ”

Maka puluhan orang bertekuk lutut pula. Demikian pula Bok Put-kut tersipu-sipu menjatuhkan diri, serunya, “Tecu menyampaikan sembah hormat kepada Ciang-bun Tai-su.”

Kedua lutut Ciok-Put-wi mulai goyah, tubuh lemas dan berkeringat dingin, kini pandangannya tertuju kepada orang ketiga.

Sebelum ditanya orang ini sudah menanggalkan topinya dan dibanting di tanah, bentaknya, “Binatang! Masih kenal diriku?!”

Belum habis orang ini bicara, Ciok-Put-wi sudah menyembah, “Tecu tidak tahu engkau orang tua yang berbudi juga datang, Tecu … Tecu …”

Mendadak orang keempat bergelak tawa, “Bukan dia saja yang datang, aku juga ikut datang!”

Kini tujuh orang sudah menanggalkan topi bersusun tinggi itu. Mereka adalah Ciang-bun-jin ke tujuh perguruan besar yang amat disegani Bu-lim. Bahwa tujuh Ciang-bun-jin sekaligus datang bersama, sudah tentu merupakan peristiwa yang luar biasa.

Maklum walau kungfu ketujuh Ciang-bun-jin itu belum tentu lebih unggul di banding Kong-sun Ang, Ling-Peng-hi dan lain-lain, namun tujuh perguruan besar masih punya kekuatan, wibawa dan tetap disegani, betapa tinggi dan agung kedudukan ketujuh Ciang-bun-jin, dari sekian banyak hadirin tiada seorang pun bisa menandinginya.

Selepas mata memandang, tampak hampir separo orang-ang gagah yang hadir di puncak Thai-san itu sama berlutut. Ting-lo-hu-jin, It-bok Tai-su dan para juri yang lain sudah merubung maju dengan sikap hormat, wajah mereka tampak cerah, lega dan gembira.

Seluruhnya ada 8 orang-yang datang menggunakan topi tinggi menutup muka, kini masih ada satu belum menanggalkan topinya, siapakah dia? Sorot mata orang banyak sering melirik ke arah orang terakhir ini, dalam hati sama bertanya-tanya.

Orang kedelapan ini, berdiri tenang sambil menggendong lengan, topi juga tidak mau diturunkan.

Thi-jan To-tiang mengangkat kedua tangan membentak lantang, “Murid-murid kita tidak perlu banyak adat ….”

Ratusan orang mengiakan bersama, suaranya sungguh menggetarkan.

Pandangan Thi-jan To-tiang berputar, bentaknya pula lebih nyaring, “Murid Siau-lim, Go-bi, Kun-lun, Tiam-jong, Khong-tong dan Hwai-yang silakan berdiri. Memangnya kalian ingin berlutut sampai mati?”

Ribuan orang mengiakan bersama pula, suaranya lebih keras laksana guntur menggelegar. Namun banyak di antara mereka yang membatin, “Agama To mengutamakan sabar dan welas asih, kenapa Bu-tong Ciang-bun ini justru kasar dan pemarah?”

Memang banyak orang tidak tahu bahwa sebelum Thi-jan To-tiang menjadi murid Bu-tong asalnya bernama Thio-cin-seng, seorang pentolan begal yang suka mengganas di Tai-heng-san, suaranya kasar dan lantang, tabiatnya berangasan, meski sudah ada umur namun wataknya tidak bisa berubah. Setelah tua ia sadar dan bertobat, kejahatan memang tidak pernah dilakukan lagi, tapi tabiatnya yang berangasan itu sering terpancing bila menghadapi masalah pelik.

Orang banyak sudah berdiri, demikian pula Bok-Put-kut dan Ciok-put-wi juga berdiri.

Mendadak Thi-jan To-tiang membentak pula, “Ciok-Put-wi, siapa suruh kau berdiri. Ayo berlutut!”

Ciok-Put-wi bukan murid Bu-tong, namun berhadapan dengan Thi-jan To-tiang yang berangasan ini, rasa takut dan hormatnya seperti menghadapi guru sendiri. Belum hilang bentakan Thi-jan To-tiang ia sudah bertekuk lutut lagi.

Bu-siang Tai-su dari Siau-lim berkata dengan nada serius, “Thi-jan To-tiang menyuruh orang banyak berdiri dan hanya menyuruhmu tetap berlutut bukankah dalam hatimu merasa penasaran?”

“Tecu tidak berani,” Ciok-Put-wi menunduk kepala.

“kau tahu, sebab apa?” kata Bu-siang Tai-su.

“Tecu tidak tahu” sahut Ciok-Put-wi.

“Kamu tidak tahu?” damprat Thi-jan To-tiang, “di hadapan Bu-siang Tai-su kamu berani membual?”

“Tecu betul betul tidak tahu…” sahut Ciok-Put-wi gemetar.

Mendadak Thi-jan To-tiang lompat turun ke bawah panggung dan menerjang ke arah Ciok-Put-wi.

Orang banyak menyingkir memberi jalan, Thi-jan To-tiang rengut baju Ciok-Put-wi serta menyeretnya ke atas panggung.

Berubah air muka Ciok-Put-wi, tapi ia tidak berani melawan, diam saja diseret ke atas. Hadirin lebih kaget dan curiga, semua menebak-nebak dalam hati.

“Kalau Ciok-Put-wi tidak melanggar aturan perguruan, mana mungkin Thi-jan To-tiang bertindak sekasar itu! Pelanggaran apa yang telah ia lakukan? Apakah ada intrik di balik kematian Kim-Put-wi? Tapi … umpama betul demikian, Thi-jan To-tiang berada jauh ribuan li, demikian juga Bu-siang Tai-su, dari mana mereka tahu rahasia ini?

Thi-jan To-tiang cengkeram kuduk Ciok-Put-wi, bentaknya gusar, “Tujuh tahun gurumu mendidik dan menggemblengmu, syukur kamu berhasil diangkat menjadi seorang tokoh silat yang dapat berdiri di kalangan kang-ouw, namun kau berani melakukan perbuatan terkutuk seperti itu, apa kamu tidak merasa berdosa?”

Ciok-Put-wi menjawab sambil menunduk, “Tecu berbuat … Tecu melanggar dosa apa? Tecu betul-betul tidak tahu, harap …”

“Tutup mulutmu!” bentak Thi-jan To-tiang beringas, “dosamu tidak terampunkan, sepantasnya kamu menyesal dan bertobat, mengaku salah dan minta ampun, Hm, ternyata kamu masih mungkin”

“Jadi engkau orang tua juga percaya fitnah orang lain atas diri Tecu, apakah … apakah para Su-pek dan Su-siok tidak percaya kepada Tecu dan malah percaya orang lain?” demikian bantah Ciok-Put-wi.

Suaranya mengandung makna penasaran, sorot matanya juga tampak gugup dan kuatir, dengan pandangan mohon belas kasihan dan menuntut keadilan satu per satu ia tatap wajah ketujuh Ciang-bun-jin itu.

Tapi ketujuh tokoh Bu-lim ini sedikit pun tidak terpengaruh oleh pandangannya, sikap mereka tetap dingin dan kereng. Tujuh pasang mata mereka justru terasa lebih tajam daripada ujung pisau.

Gemetar suara Ciok-Put-wi, “Bwe-Su-pek … Ong-Su-siok … selama ini kalian paling sayang pada Tecu, kini Tecu difitnah orang, apakah kalian tidak sudi membelaku?”

Membesi hijau wajah Ji-gi Lo-jin Bwe Au-thiam, Ciang-bun-jin Khong-tong-pai ini membungkam sambil mengelus jenggot. Ban-hong-sin-eng Ong-Tham-Kang dari Hwai-yang malah mendengus hina sambil melengos, melirik pun rasanya tidak sudi.

Sambil berlutut Ciok-Put-wi merangkak ke depan gurunya, It-bing-tin-kiu-ciu Thi Sin-liong, dengan kedua tangan ia memeluk kakinya, ratapnya dengan pilu, “Suhu engkau orang tua apakah tidak bisa bicara? Selama tujuh tahun Tecu tidak pernah berpisah barang sekejap pun dengan suhu, apakah engkau orang tua tidak tahu bagaimana martabat Tecu … Biasanya meski Tecu bersikap kaku dingin, tapi … tapi betapapun aku tidak mungkin mencelakai jiwa orang, engkau tentu percaya … ”

Thi Sin-liong tertunduk mengawasinya, sikap dan air mukanya amat gusar, namun juga merasa duka dan haru, merasa sayang dan tidak tega, akhirnya ia menghela napas panjang, katanya, “Betul, selama tujuh tahun kamu pandai membawa diri, bukan hanya aku, termasuk ibu gurumu juga memujimu pendiam, baik dan … siapa tahu …”

Mendadak ia angkat sebelah kakinya, Put-wi ditendangnya mencelat, katanya pula dengan suara serak, “Hari ini terbukalah kedokmu ter … ternyata kau pandai bicara dan pandai berdebat, manusia yang suka bermuka-muka, …. tujuh…. tujuh tahun lamanya kau tipu kami suami istri!”

Ciok-Put-wi menjatuhkan diri di tanah, dengan kedua tinjunya ia memukul bumi dan meratap sedih, “O, Tuhan, kenapa kau buat nasibku seperti Put-wi, Put-ti dan lain-lain dibunuh oleh bangsat itu! Kini aku harus menghadapi fitnah dan penasaran betapa tersiksa hatiku … O, Tuhan, betapa tega hatiku mencelakai para saudara yang tumbuh bersama sejak kecil, bukankah mereka saudara kandungku sendiri?”

Mendadak Bu-siang Tai-su berkata kereng, “Kapan aku dan Suhu serta para Su-siok mu mengatakan kau bunuh mereka? kau sendiri bilang demikian karena melakukan sesuatu yang tidak bisa disembunyikan lagi.”

Bergetar tubuh Ciok-Put-wi, sesaat ia melengong, kepalanya sedikit terangkat. Sorot mata Bu-siang Tai-su yang tajam penuh selidik tengah menatapnya.

Lekas ia menunduk lagi, katanya, “Dosa yang ditimpakan kepadaku tanpa dasar tiada bukti, bahwa engkau orang tua juga bilang demikian, sungguh Tecu amat penasaran.”

“Betul,” ucap Bu-siang Tai-su, “kasus ini tiada bukti tanpa saksi, kalau kamu tidak mengaku siapa pun tidak dapat menuduh dan menjatuhkan vonis terhadapmu.”

“Memangnya mereka sengaja mengada-ada, memfitnah dan menjatuhkan martabatku, sudah tentu mereka tidak punya bukti,” demikian bantah Ciok-Put-wi.

“Binatang!” hardik Thi-jan To-tiang, “kau kira perbuatanmu cukup rapi dan tiada kesalahan sedikit pun?”

Agak berubah air muka Ciok-Put-wi namun ia masih berani membantah, “Hakikatnya Tecu …”

“Agaknya sebelum kedokmu ditelanjangi belum mau menyerah, baiklah! Coba kau lihat siapa dia… ” mendadak tangannya menuding ke arah orang kedelapan itu, lalu katanya pula dengan gelak tertawa, “coba kau lihat siapa dia!”

Orang kedelapan yang misterius itu mulai bergerak, perlahan ia angkat tangan menurunkan topinya. Dia ternyata Kong-sun-Put-ti adanya.

Walau Ciok-Put-wi amat kaget dan takut waktu melihat ketujuh Ciang-bun-jin mendadak menampilkan diri, hatinya masih tabah dan bandel. Kini demi melihat Kong-sun Put-ti, sikapnya seperti melihat setan, tubuh yang sudah setengah berdiri seperti kena kemplang di kepalanya, seketika ia jatuh lemas dan berlutut lagi, teriaknya dengan kaget dan serak, “Engkau … belum mati!”

“Betul, aku belum mati,” dingin suara Kong-sun Put-ti, “tenaga pukulan Lo-ngo itu mana mungkin dapat menewaskan diriku?”

Ciok-Put-wi berkata. “Tapi dia melukaimu bukan dengan tenaga pukulan melainkan dengan…” saking kaget ia tidak sadar telah kelepasan omong.

Kong-sun Put-ti bergelak tawa, “Betul, Lo-ngo bukan melukai aku dengan tenaga pukulan, tapi memakai senjata rahasia beracun yang amat jahat. Lalu dari mana kau tahu kejadian ini, apa kau saksikan kejadian itu?”

Hanya dalam sekejap sekujur badan Ciok-Put-wi basah kuyup oleh keringat, rasa penasaran, sedih dan gusar yang tadi menghias wajahnya kini berubah menjadi rasa ngeri, takut dan pucat, suaranya juga gemetar, “Aku … aku hanya menduga saja…”

Bengis suara Kong-sun Put-ti, “Urusan sudah sejauh ini, kau masih tidak mengaku?”

“kau jebak orang dan membuat dosa, apa yang harus kukatakan?” demikian bantah Ciok-Put-wi.

Kong-sun Put-ti menyeringai. “Baik, biar aku jelaskan padamu. Sejak Lo-jit. Lo-ji dan Lo-liok terbunuh. aku lantas mengenakan Kim-si-be-kak di tubuhku, senjata rahasia yang ditimpuk Lo-ngo itu memang jahat dan berbisa, tapi hanya menembus baju luarku saja, sedikit pun tidak melukai kulit badanku.”

Tanpa sadar Ciok-Put-wi berkata, “Tapi aku juga …” mendadak ia mendekap mulut dengan tubuh gemetar dan muka pucat.

Kong-sun Put-ti terloroh-loroh, “Lo-si, kamu kelepasan omong lagi. Waktu aku melesat keluar jendela kau sudah mendekam di bawah jendela kau tambahi pukulan pula di tubuhku. Bahwa aku tidak terluka oleh senjata rahasia berbisa itu, pukulanmu hanya menimbulkan lecet saja di tubuhku, kalau kau ingin membunuhku dengan tenaga pukulan, kukira kau perlu latihan sepuluh tahun lagi!”

“Tapi …” Ciok-Put-wi tergagap, “kenapa …”

“Aku tahu watak Lo-ngo,” tukas Kong-sun Put-ti. “dia seorang tamak, namun bernyali kecil dan rendah diri, untuk melakukan perbuatan keji, apalagi berbuat kejam terhadap para saudara sendiri, aku yakin dia tidak berani kalau tiada seseorang yang mendukung dan menjadi dalang di belakang layar. Untuk menyelidiki orang di belakang layar ini, walau aku terluka oleh senjata rahasia berbisa itu, tapi aku bersandiwara, pura -pura terluka parah!”

Sampai di sini ia menghela napas panjang lalu melanjutkan, “Terus terang aku tidak menduga orang yang mendekam di bawah jendela dan membokongku dengan pukulan tangan itu adalah dirimu. Mungkin kamu masih ingat, aku pernah bilang di antara kami bertujuh saudara, pikiranmu paling mendalam, juga paling sukar dilayani … kalau orang lain, aku berani membongkar kedoknya saat itu juga, tapi bagimu aku tidak berani bertindak gegabah.”

Bahwasanya kasus ini merupakan permusuhan mereka bertujuh, tapi dalam saat seperti ini? kalau persoalan ini tidak diselesaikan secara tuntas, akibatnya bisa menimbulkan situasi genting seluruh Bu-lim, maka hadirin mengikuti perkembangan kasus ini dengan menahan napas, tiada yang turut campur sepatah kata pun.

Lebih lanjut Kong-sun Put-ti berkata, “Aku maklum bila saat itu aku mengadakan reaksi hanya akan mengundang kekejianmu, aku tahu posisiku dengan Toa-ko waktu itu sudah terjepit, sementara entah berapa banyak begundalmu di sekeliling kami, umpama aku mendapat bantuan orang-orang Bu-lim, dalam keadaan seperti itu mungkin juga bukan tandinganmu, apalagi belum tentu ada orang mau membantu dan percaya padaku.”

Sejenak ia berhenti, lalu meneruskan, “Dalam hati sudah aku duga suatu ketika Lo-ngo pasti akan kau bunuh juga untuk menutup rahasia, untuk itu terpaksa kamu membiarkan Toa-ko hidup, supaya orang lain tidak curiga terhadapmu. Bahwa jiwa Toa-ko tidak berbahaya, maka aku bersandiwara dan pura-pura terluka parah lalu melarikan diri.

Pucat seperti kapur wajah Ciok-Put-wi, tubuhnya lemas lunglai, kini ia tak tahan lagi untuk berbicara, “Apakah … jenazah itu juga … juga kau … kau yang …. ”

“Betul,” kata Kong-sun Put-ti kalem, “dengan jenazah itu aku mengelabuimu.”

Bok Put-kut yang berlutut di bawah panggung mendengarkan dengan air mata bercucuran, dengan suara gemetar mendadak ia menyeletuk, “Jenazah? …Jenazah apa?”

“Setelah aku melarikan diri,” Kong-sun Put-ti menjelaskan lebih lanjut, “sudah aku perhitungkan jeritanku pasti mengejutkan Toa-ko maka Ciok-Put-wi tidak akan segera mengejar keluar. Waktu itu orang banyak berkumpul di Ban-tiok-San-ceng, ada yang jahat ada juga orang baik, aku pilih seorang yang paling jahat dan banyak dosanya, aku pancing dia keluar, lalu kututuk hiat-to nya. aku tukar pakaian dengan dia, lalu aku sambitkan senjata rahasia beracun di punggungnya…”

Tak tahan Bok Put-kut bertanya pula, “Tapi wajah dan perawakannya kan tidak sama dengan dirimu.”

“Sebetulnya aku akan melukai atau merusak wajahnya lalu aku gosok dengan lumpur di luar dugaan senjata rahasia beracun itu kelewat jahat, setelah terkena senjata rahasia, kaki tangan dan kelima indranya mendadak membengkak, kulit badannya juga berubah hitam legam, darah hitam meleleh dari tujuh lubang indranya, bentuk wajah dan tubuhnya berubah, maka aku tidak perlu merusak wajahnya lagi.”

“Sungguh lihai … sungguh kejam,” demikian desis Bok Put-kut geram, “Ciok-Put-wi, wahai Ciok-Put-wi, tega betul kamu berbuat sekejam itu!”

“Baru selesai aku mengatur rencanaku, mendadak aku dengar langkah orang,” demikian tutur Kong-sun Put-ti lebih jauh, “untuk menyingkir sudah tidak keburu lagi, terpaksa aku mendekam di tempat gelap. Aku lihat yang datang adalah Ciok-Put-wi”

Setelah menghela napas, ia melanjutkan, “Waktu itu aku masih belum yakin bahwa dia lah biang keladi seluruh kejahatan ini, maka aku menahan napas dan ingin membuktikan sendiri. Tapi setelah … setelah ia lihat jenazah itu, wajahnya memang memperlihatkan rasa senang, malah .. malah dengan sengit ia menusuk lagi dua kali pada jenazah itu.”

Sampai di sini nada suaranya mulai haru dan serak, “Waktu itu aku sudah yakin seratus persen, namun susah aku tebak kenapa dia begitu benci terhadapku. Tampak pedangnya berubah hitam setelah menusuk jenazah yang keracunan itu. Waktu itu keadaan sepi dan tiada orang lain, segera ia bungkus jenazah dan pedang itu dengan jubah luarnya, lalu diangkat pergi secara diam-diam, entah dibuang ke kali atau dipendam di mana. Dan aku …. ai malam itu juga langsung aku pulang ke Bu-tong. Sungguh di luar dugaan, para Su-pek dan Su-siok kebetulan berkumpul di sana…”

Setelah menghela napas Bu-siang Tai-su menimbrung, “Sudah cukup, kejadian selanjutnya tidak perlu kau katakan lagi. Mungkin perbuatan jahat keparat ini sudah kelewat takaran, maka Tuhan mengatur kita yang sudah sekian tahun tak keluar rumah ini berkumpul di Bu-tong …. ”

Thi Sin-liong membentak. “Binatang! Apa pula yang ingin kau katakan?”

Tak nyana mendadak Ciok-Put-wi melompat berdiri lalu melompat dan terbahak-bahak, serunya, “Bagus, bagus! Dahulu Pek Sam-khong pernah bilang, di antara kita beberapa muridnya ini, bicara tentang cerdik pandai tiada yang lebih unggul dari Kong-sun Put-ti, secara diam-diam aku tidak terima, sampai sekarang aku baru takluk lahir-batin… Aku yakin rencanaku amat rapi, aku bekerja dengan cermat, hari ini baru aku sadari, aku terjungkal di tangan rase kecil ini.”

“Binatang!” Thi Sim-liong menghardik gusar, “kedokmu sudah terbongkar, tidak lekas berlutut minta ampun? Masih berani kurang ajar?”

Ciok-Put-wi masih terbahak-bahak, serunya, “Ya, urusan sudah selarut ini, apa gunanya aku berlutut minta ampun segala? Memangnya kalian mau mengampuni aku? Betul, akulah yang membunuh mereka kalian mau apa, silakan saja.”

Thi Sim-liong mengerang murka, dengan sengit ia hendak menubruk maju, tapi Bu-siang Tai-su menahannya, Ji-gi Lo-jin juga memeluk tubuhnya. Dengan serak Thi Sin-liong berteriak. “Kenapa kalian melarang aku membunuhnya?”

perlahan Ji-gi Lo-jin berkata, “Di tempat dan keadaan seperti itu, memangnya kita takut ia melarikan diri? Apa salahnya kita kompres dulu keterangannya, apa alasannya melakukan kejahatan itu, baru nanti kita jatuhkan hukuman padanya.

Ciok-Put-wi membentak, “Aku sudah mengakui segala perbuatanku, apa pula yang ingin kau tanya padaku?”

“Aku sudah menyelami jiwamu,” demikian kata Ji-gi Lo-jin kalem, “kalau hanya harta benda pasti tak mungkin meluluhkan imanmu. Lalu lantaran apa kamu melakukan kejahatan?”

Dalam keadaan segenting ini, orang tua ini masih bicara dengan kalem, sabar dan lembut, seolah-olah tiada urusan apa pun di dunia ini dapat membuatnya gugup.

Sesaat lamanya Ciok-Put-wi berdiri diam, mendadak ia tertawa keras, “Pertanyaan bagus … pertanyaan tepat … Akhirnya ada juga orang di dunia ini percaya bahwa aku Ciok-Put-wi bukan manusia yang gampang diperas dan diancam dengan cara apa pun.”

Thi Sin-liong berteriak, “Lalu karena apa kamu berbuat jahat? .. Katakan, lekas katakan!”

Mendadak Ciok-Put-wi berhenti tertawa, perlahan ia putar badan ke arah timur, menghadap sang surya yang baru terbit di ufuk timur dan berdiri termangu-mangu. Bentakan dan caci-maki orang lain seperti tidak di dengarnya lagi.

Melihat sikap dan keadaannya, orang banyak melengong.

Seperti orang mengigau ia berkata perlahan, “Toa-ko … Toa-ci, tugas yang harus kulakukan sudah kulakukan, hanya sayang tidak bisa aku selesaikan secara tuntas. Tugas yang belum aku laksanakan, musuh yang belum kubunuh terpaksa aku serahkan kepada kalian untuk membunuhnya. Di alam baka Siau-te akan menjadi setan dan secara diam-diam akan aku bantu kalian.”

Nada suaranya mengandung makna dendam dan benci. Orang banyak kaget lagi ngeri.

“Siapa Toa-ko dan Toa-ci mu itu?” bentak Thi Sin-liong, “siapa pula musuhmu? Kamu adalah anak yatim-piatu. dari mana datangnya dendam kesumat? Apa … apa tujuanmu sebenarnya?”

Menyala sorot mata Ciok-Put-wi, perlahan ia menyapu pandang wajah hadirin. Setiap orang yang dipandangnya seperti dirayapi ular di tubuhnya, semua merasa ngeri dan merinding.

Mendadak Ciok-Put-wi bergelak tawa pula, katanya mirip orang gila, “Siapakah musuhku? Apakah tujuanku? Sampai mati tidak akan aku jelaskan … akan kubuat kalian menduga-duga dan saling curiga. Bila tiba saatnya pedang Toa-ko atau Toa-ci ku menusuk dada kalian baru kalian akan mengerti, tapi saat itu … hahaha, kalian sadar pun sudah terlambat.”

Berubah air muka semua hadirin, tidak sedikit yang membentak, “Siapa Toa-ko mu .. ”

“Siapa Toa-ko ku? …” Ciok-Put-wi terloroh-loroh sampai menungging, “mungkin kau ! Juga mungkin dia! Mungkin kalian yang ada di atas lui-tai, silakan tebak sendiri! Bila kalian saling curiga, Toa-ko ku lebih mudah turun tangan, lebih banyak kesempatan, mungkinkah kalian tidak akan mencurigai orang .. haha … haha … ”

Gelak tawa yang menggila mendadak putus dan berhenti. Sambil menjerit Ciok-Put-wi roboh terjengkang, sejenak ia kelejetan, kaki tangan dan kelima indranya mendadak membengkak lalu darah mengucur keluar mengotori panggung.

Ciok-Put-wi bunuh diri dengan menelan racun jahat, cukup lama setelah jiwanya melayang hadirin masih merasa merinding, gelak tawanya seperti masih bergema di puncak gunung yang sepi berkumandang pula kutukannya ….

Cuaca terang benderang, namun suasana masih terasa dilingkupi firasat jelek. Cukup lama tiada orang bergerak, tiada orang bicara.

Dalam suasana hening itu, yang bergerak lebih dulu ternyata Thi-Sim-liong, guru Ciok-Put-wi yang mendidiknya menjadi pesilat. perlahan ia hampiri jenazah Ciok-Put-wi.

Langkahnya terseret seperti kakinya diganduli benda ribuan kali. Setiba di depan jenazah Ciok-Put-wi, mendadak ia mencabut pedang di punggungnya.

“Sret”, pedang panjang itu mengeluarkan suara nyaring, tapi hadirin masih diam.

Thi-Sim-liong menuding pedang ke langit, kepala juga mendongak sesaat lamanya seperti sedang berdoa. Lalu sepatah demi sepatah ia berkata, “Ciang-bun Thi Sin-liong, murid generasi ketujuh menyampaikan sembah hormat kepada arwah para Co-su di alam baka, murid tak becus tidak berhasil mendidik murid sehingga murid generasi ke delapan Ciok-Put-wi menjadi anak durhaka yang mengkhianati perguruan, melakukan kejahatan pula di kang-ouw, lebih celaka lagi, waktu mangkat ke alam baka anak ini masih terhitung sebagai murid perguruan kita, belum sempat dipecat dari perguruan …. ”

Suaranya makin serak dan tersendat, namun ia meneruskan, “Sayang sekali Tecu tidak sempat mencuci bersih nama baik perguruan pada saat dia masih hidup. Setelah dia mati terpaksa aku bertindak untuk menegakkan aturan perguruan.”

Pedang yang terangkat tinggi di atas bergerak turun lalu menusuk jenazah Ciok-Put-wi.

Dalam suasana yang hening, hadirin mendengar jelas waktu ujung pedang menusuk dada Ciok-Put-wi. Meski hanya sekejap dan perlahan, tapi suara itu membuat orang banyak bergidik dan merinding.

Pui-Po-giok melengos ke arah lain, tidak tega menyaksikan. Orang banyak juga menunduk kepala. Meski Bok-Put-kut berusaha menahan diri, akhirnya pecah juga tangisnya.

Air mata berkaca-kaca di pelupuk mata Thi Sin-liong, lebih lanjut ia berkata dengan serak, “Sebagai Ciang-bun Tecu ikut bertanggung jawab atas kejadian ini, maka Tecu …. ”

Mendadak pedang ia putar balik terus menusuk tenggorokan sendiri.

Meledaklah jerit kaget orang banyak.

Secepat kilat Ti-jan To-tiang dan Bu-siang Tai-su melompat maju memeluk lengan Thi Sin-liong, sementara Thi-jan To-tiang merebut pedang panjang. serunya. “Ken … kenapa kamu berbuat sebodoh ini!”

Sambil mendongak Thi Sin-liong mengeluh panjang, “Aku gagal mendidik murid, bukan saja durhaka terhadap para Co-su, aku juga berdosa terhadap kalian, kalau aku tidak mati, apa … apakah aku bisa tenang? Betapa aku bisa menebus dosa?”

“Omong kosong!” bentak Thi-jan To-tiang, “kamu tidak dapat disalahkan. Siapa di kolong langit ini yang menyalahkanmu! Dalam suasana tegang dan ricuh di Bu-lim sekarang, tenaga dan pikiranmu amat dibutuhkan, tidak .. tidak berarti kematianmu ini”

“Aku … aku … ” Thi Sin-liong meratap sedih.

Mendadak Bu-siang Tai-su ulur tangannya menepuk perlahan pinggangnya. Belum habis Thi Sin liong bicara, tubuhnya menjadi lemas, kepala bersandar di pundak Thi-jan To-tiang.

Kata Bu-siang Tai-su setelah menghela napas, “Dia terlalu emosi. biarlah dia istirahat saja ..”

Beberapa kejap keadaan tetap hening, kemudian hadirin mulai bergerak dan ribut.

Ada yang menghela napas, ada yang bisik-bisik, tidak sedikit yang berebut maju ingin memberi hormat kepada guru dan Ciang-bun-jin mereka.

Pertemuan besar di puncak Thai-san yang cukup menggemparkan ini, gelagatnya akan berakhir dalam suasana yang merawankan, berakhir secara tawar dan melempem.

Tidak sedikit di antaranya yang siap-siap akan bubar, yang suka usil ada juga yang diam-diam mencari-cari di mana dinamit itu disembunyikan. Seolah-olah tiada orang yang memperhatikan gerak-gerik Hwe-mo-sin lagi.

Padahal, meski sedang berbincang-bincang, Ting-lo-hu-jin, Ban Cu-liang, It-bok Tai-su ketujuh Ciang-bun-jin dan Pui-Po-giok, tiada satu pun yang lena, tiada satu pun yang tidak memperhatikan gerak-gerik Hwe-mo-sin.

Hwe-mo-sin juga tahu bahwa dirinya masih diawasi dan menjadi pusat perhatian orang banyak, maka tidak berani banyak tingkah, lama-kelamaan karena merasa risi, meledaklah rasa kekinya, bentaknya, “Tentunya kalian tahu bahwa kematian Ciok-Put-wi dan lain-lain bukan perbuatanku. Kenapa kalian masih mengawasi diriku?”

Ini-jan To-tiang melotot gusar, semprotnya, “Bukan kamu biang-keladinya. kenapa tadi kamu mengaku?”

Hwe-mo-sin tertawa keras, katanya, “kalau tadi aku tidak mengaku, bukankah Pui-Po-giok kini sudah celaka? Urusan harus dibedakan mana lebih penting dan mana harus didahulukan, memangnya kalian sudah melupakan nasihat orang kuno?”

Sudah tentu orang banyak tahu apa makna perkataan Hwe-mo-sin, semua diam dan saling pandang tanpa bicara.

Hwe-mo-sin berhenti tertawa, suaranya menjadi beringas, “Tidak perlu aku banyak bicara. Apa kehendak kalian terhadap diriku katakan saja.”

Hadirin beradu pandang, sukar mengambil keputusan. Akhirnya pandangan orang banyak tertuju ke arah Ting-lo-hu-jin, Thi-jan To-tiang dan Bu-siang Tai-su. Agaknya mereka mempercayakan keputusan ini kepada mereka bertiga.

Bu-siang Tai-su menjura hormat, katanya, “Entah bagaimana pendapat Hu-jin?”

“Terserah pada putusan Tai-su.” sahut Ting-lo-hu-jin.

Berkatalah Bu-siang Tai-su sambil mengelus jenggot. “Bagaimana pendapat Pui-siau-hiap?”

Bahwa guru besar suatu aliran ternama seperti Bu-liang Tai-su dari Siau-lim juga menghargai pendapat seorang pemuda seperti Pui-Po-giok, jelas bobot dan kedudukan Pui-Po-giok sekarang di kalangan kang-ouw sudah cukup berat lagi tinggi.

Perasaan Ban Cu-liang, Bok Put-kut dan beberapa orang lagi tampak lega dan senang. Sikap Pui-Po-giok justru prihatin, sedikit pun tidak memperlihatkan rasa bangga atau congkak, dengan serius ia menjawab, “Tai-su cukup bijaksana, Tecu tidak berani banyak bicara.”

Bu-siang Tai-su manggut-manggut katanya pelan, “Bagus, jiwa pendekar, laku ksatria, mengutarakan welas asih .. ” mendadak ia mengulap tangan, serunya. “Enyahlah. lekas enyah dari sini!”

Bibir Pui-Po-giok tampak bergerak, seperti mengucap terima kasih.

Diam-diam Ting-lo-hu-jin, It-bok Tai-su, Ji-gi Lo-jin, Ban Cu-liang dan lain-lain mengangguk. Hanya Thi-jan To-tiang yang berubah air mukanya, seperti ingin protes, namun ditelan lagi niatnya.

Bahwa Ciang-bun Bu-tong-pai tidak memprotes, orang lain mana berani banyak mulut.

Hwe-mo-sin celingukan, lalu tertawa, katanya, “Kalau demikian, baiklah aku mohon diri.”

“Tunggu sebentar!” mendadak Thi-jan To-tiang membentak.

Berdiri alis Hwe-mo-sin, “Ada apa?”

Melotot mata Thi-jan To-tiang, “Dengan hati yang baik hari ini Bu-siang Tai-su mengampuni dirimu, bukan saja kamu tidak mengucap terima kasih. masih berani bertingkah dan …. ”

“Kenapa aku harus berterima kasih?” tukas Hwe-mo-sin dengan sikap sombong, “bahwa kalian tidak berani menahan dan merintangi aku, karena takut aku meledakkan dinamit yang bisa menghancurkan semua orang di sini berani kau …”

Belum habis Hwe-mo-sin bicara, mendadak berkumandang gelak tawa nyaring disusul perkataan lantang seorang dari kejauhan, “Dinamitnya disembunyikan dalam peti mati, di suatu tempat dalam hutan, semuanya sudah aku rusak dan murid-murid Mo-kiong juga seluruhnya aku bekuk. Jangan kuatir lagi datangnya bencana.”

Suara lantang itu seperti mengambang di udara, makin jauh dan lirih. Tokoh-tokoh silat yang berdiri di atas panggung banyak yang melihat berkelebatnya bayangan orang di lereng gunung sana, berpakaian kasar dan memegang tongkat panjang, jenggot dan rambutnya sudah ubanan, karena jarak cukup jauh, sukar terlihat jelas wajahnya.

Hanya Poa-Ce-sia yang melihat jelas dan kenal orang itu. Orang tua ini pernah muncul sebelum pertemuan besar di Thai-san ini dibuka, ia muncul sambil berdendang dan pergi seperti naga yang kelihatan kepala tanpa kelihatan ekornya.

Kecuali kagum dan kaget, timbul juga rasa curiga Poa-Ce-sia, “Siapakah orang tua itu?”

Hadirin terkejut tapi juga girang, perhatian orang banyak kembali tertuju ke arah Hwe-mo-sin.

Thi-jan To-tiang tertawa. “Nah, bagaimana sekarang?”

“Apa kehendakmu?” bentak Hwe-mo-sin naik darah.

Memang tidak malu ia dikenal sebagai gembong penjahat, dalam keadaan seperti ini, dikepung sekian banyak orang gagah, walau sorot matanya tampak jeri dan gugup, namun masih berdiri tegap, seperti tidak mau takluk atau menyerah.

Mendelik Thi-jan To-tiang, baru mulutnya terbuka, Bu-siang Tai-su sudah mendahului bicara. “Hwe-si-cu, tadi kulepas pergi, kau kira karena takut terhadapmu? Kamu salah … salah! Sekarang kalau kami mau mencabut nyawamu, semudah menginjak semut, umpama dinamitmu masih ada, tak mungkin kau beri perintah kepada anak buahmu, memangnya kamu belum percaya?”

Hwe-mo-sin menunduk dan tidak berani bicara lagi.

“Nah, pergilah,” ujar Bu-siang Tai-su, “Kuharap dalam sisa hidupmu dapat berlaku baik dan melakukan pekerjaan mulia bagi masyarakat umumnya. Mau tidak kau dengar wejanganku, terserah padamu.”

Naik turun dada Hwe-mo-sin, entah merasa malu atau menyesal, mungkin juga gusar. Sesaat kemudian mendadak ia menoleh mengawasi Pui-Po-giok.

Pui-Po-giok tersenyum, katanya, “Janji yang pernah kukatakan, tidak akan aku jilat kembali. Tidak usah kuatir.”

Wajah Hwe-mo-sin yang serba runyam mengulum senyum kecut, katanya, “Baiklah, tiga hari lagi aku akan menemuimu.”

Sejenak ia menyapu pandang sekelilingnya, tanpa bicara lagi lalu membawa orang-orangnya pergi.

Thi-jan To-tiang mengentak kaki, katanya gegetun, “Melepas harimau pulang ke gunung, kelak pasti mengundang bencana.”

Bu-siang Tai-su tersenyum, “Membunuhnya kita kehilangan cinta kasih melepas dia kita memperoleh kesetiaan.”

Thi-jan To-tiang tertawa, katanya, “Tai-su benar, akulah yang salah.”

Hadirin merasa kagum, hormat dan malu diri melihat betapa besar jiwa mereka, dengan cinta kasih mengikat kesetiaan, bersalah berani mengaku salah, itulah teladan yang patut dipuji dan ditiru.

Bergegas Po-giok menjatuhkan diri, serunya, “Terima kasih atas bantuan para Cian-pwe.”

Belum habis Po-giok bicara, Bu-siang dan Thi-jan memapahnya bangun. Dengan senyum lebar Bu-siang berkata, “Hari ini dapat berhadapan ksatria gagah seperti Pui-si-cu, sungguh merupakan kebanggaan kaum Bu-lim umumnya … Omitohud sang Budha memang bijaksana, fitnah atas dirinya kini sudah tercuci bersih, ibarat mutiara dapat memancarkan cahaya kembali.”

Sambil mengelus jenggot Thi-jan To-tiang juga berkata. “Ucapan Tai-su betul Pui-Po-giok, jangan kau lupakan petuah Tai-su. Kini tiba saatnya bagimu menegakkan kembali peraturan Bu-lim.”

Po-giok menyembah pula menerima petuah itu katanya, “Terima kasih ..

Sementara itu Ting-lo-hu-jin, Ban Cu-liang, It bok Tai-su, para Ciang-bun dari Kun-lun, Khong-tong dan lain-lain sama merubung maju, wajah mereka cerah dan gembira, semua memberi selamat bahagia.

Siau-kong-cu berdiri di samping, diam dan terlongong mengawasinya, mendadak air mata meleleh membasahi pipi.

Penonton yang sudah mulai bubar mendadak merubung lagi di sekeliling panggung. Mereka maklum betapa berat perjuangan Pui-Po-giok untuk, memperoleh kepercayaan kembali dari para Cian-pwe dan orang banyak yang salah paham terhadapnya. Kini ia boleh merasa bangga dan tentram, namun tidak kecil pengorbanan yang harus dipertaruhkan. Penonton yang merasa kagum lantas bersorak sorai, “Hidup Pui-Po-giok … Hidup Pui-Po-giok …”

Tak kuasa Bok Put-kut membendung air matanya, ia tidak tahu kenapa dirinya menangis, entah merasa senang atau berduka?

Thi-wah malah berjingkrak dan menari-nari, serunya sambil keplok, “Toa-ko memang baik, aku senang punya Toa-ko sebaik ini!”

Dasar lugu, dalam keadaan seperti ini ia tidak tahu apa yang harus dikatakan untuk menyatakan kegembiraan hatinya, maka ia menari dan berkeplok sendiri.

Sebagian pcnonton yang berada di sebelah timur agaknya sudah berunding, kini serempak mereka berteriak, “Mohon Pui-siau-hiap mendemonstrasikan kepandaiannya, supaya terbuka mata kami!”

Seruan ini mendapat sambutan seluruh hadirin, teriakan demi teriakan berkumandang dari berbagai sudut, “Ya, benar, mohon Pui-siau-hiap unjuk beberapa jurus kepandaiannya. silakan Pui-siau-hiap. Silakan …. ”

Saking harus lidah Pui-Po-giok menjadi kelu matanya pun berlinang-linang, sesaat kemudian ini ia dapat bersuara. “Hadirin … hadirin …. aku ….”

Umpama Po-giok dapat bicara lancar. suaranya juga tenggelam oleh sorak-sorai orang banyak apalagi hatinya lagi amat senang hingga tidak mampu bicara.

Dengan tersenyum Ji-gi Lo-jin menghampiri katanya, “Ya, kalau hari ini Po-giok tidak memperlihatkan satu-dua jurus kepandaiannya, sorak-sorai orang banyak mungkin tidak akan berhenti.”

Po-giok menunduk rikuh, katanya, “Tapi .. Tecu … mana Tecu berani ….”

“Pamer kepandaian di depan orang memang pantangan kaum pesilat,” demikian kata Thi-jan To-tiang. “Tapi harapan orang banyak tidak boleh ditampik, kan mereka yang minta. kenapa kamu tidak berani.”

Getir tawa Po-giok, “Tapi Tecu … apa yang harus Tecu lakukan.”

Ji-gi Lo-jin tertawa, “Seorang diri mana bisa dia memperlihatkan kepandaian sejati. Memangnya harus diiringi seorang untuk saling tanding? Menurut apa yang kutahu, kungfu yang dipelajari Po-giok mengutamakan makna baru kemudian bentuk, kungfu tingkat tinggi yang dimilikinya kalau dipamerkan tanpa ada orang yang mengiringi sudah jelas tidak akan tampak nilainya yang murni.”

Bahwa sebentar lagi hadirin akan menyaksikan pertunjukan silat dari orang-orang kosen, berarti harapan mereka akan terkabul, maka mulai sirap sorak-sorai orang banyak, kini berganti tepuk tangan yang riuh.

Thi-jan To-tiang menentramkan suasana, lalu berkata lantang, “Kalau demikian, biarlah aku memulainya bergebrak beberapa jurus!”

Keruan Po-giok menjadi gugup, cepat ia berlutut, katanya gelisah, “Umpama Tecu punya nyali besar juga tidak berani bergebrak dengan Cian-pwe.”

Thi-jan To-tiang tertawa, katanya, “Orang belajar tidak perlu membedakan dahulu dan belakang, yang pandai adalah teladan. Kenapa kamu tidak berani bergebrak dengan aku, apalagi kamu adalah ahli waris Suheng Ci-ih-hou, soal kedudukan jelas kamu tidak lebih rendah di banding aku.”

Po-giok tidak tahu bagaimana harus membantah, terpaksa ia geleng kepala, “Tecu tidak berani.”

Namun Thi-jan To-tiang tetap memaksanya, hadirin juga mendesak, saking gugup badan Po-giok basah kuyup oleh keringat.

Siau-kong-cu yang berada di sampingnya mengerling, mendadak ia berkata dengan tertawa, “Thi-jan To-tiang. Po-giok takut wibawamu tersapu dalam sekejap mata, maka betapapun ia tidak berani bergebrak denganmu. Kukira lebih baik urungkan saja.”

Ucapan Siau-kong-cu umpama minyak menyiram api, Thi-jan To-tiang merasa panas, serunya dengan tertawa, “Pui-Po-giok, memangnya kau takut aku bakal kalah? Kalah-menang soal biasa dalam pertandingan, masa aku tidak berani menghadapi kenyataan? Ayolah maju ….”

Sembari bicara ia menyingsing lengan baju dan hendak mencabut pedang.

Tapi sempat ditahan oleh Bu-siang Tai-su, “Walau To-beng masih gagah dan gembira, namun menurut adat dan aturan. apa pun Pui-si-cu tidak boleh bergebrak dengan To-heng. Menurut pendapatku ….”

Pada saat padri agung ini tepekur memikirkan cara pemecahannya. Kong-sun Put-ti yang sejak tadi berdiri diam mendadak menjatuhkan diri, katanya sambil berlutut. “Sudilah Tai-su memberi ampun, Tecu ada pendapat.”

“Hm, kau tahu apa, berani banyak mulut?” demikian jengek Thi-jan To-tiang.

Kong-sun Put-ti mendekam di tanah dan tidak berani bicara.

“Biarlah dia bicara.” ujar Bu-siang Tai-su.

“Tecu … Tecu …. ” Kong-sun Put-ti gelagapan.

“Bu-siang Su-pek suruh kau bicara, maka lekas bicara, kenapa plintat-plintut?”

Diam-diam orang banyak tertawa geli, dalam hati mereka membatin, “Guru yang satu ini sungguh sukar dilayani.”

Kong-sun Put-ti menghela napas lega, katanya menurut pendapat Tecu. Lebih baik Suhu dan kelima Su-pek yang lain membentuk sebuah barisan pedang, Po-giok dikepung di tengah barisan, biar membuktikan apakah mampu menerobos ke luar.”

“Betul.” seru Ji-gi Lo-jin sambil keplok, “dengan cara ini, di samping kita bisa menyaksikan kelihaian kungfu Pui-siau-hiap, kedua pihak juga akan cedera. Thi-jan To-heng tentu setuju bukan?”

“Ji-gi-heng bilang demikian, apa pula yang harus kulakukan … Pui-Po-giok …..”

“Tecu menurut perintah,”. Pui-Po-giok mengiakan sambil menyembah.

Asal dirinya tidak bergebrak melawan Thi-jan To-tiang, dengan cara apa pun dia akan menurut saja.

Di bawah pimpinan Bu-siang Tai-su, enam orang Ciang-bun perguruan besar itu membentuk sebuah barisan pedang, meski barisan ini dibentuk secara mendadak tanpa persiapan, namun menilai tingkat kepandaian keenam tokoh silat ini. maka dapat dibayangkan betapa besar wibawa permainan mereka, gabungan kekuatan mereka berarti tenaga dalam yang diyakinkan selama tiga ratus tahun.

Hawa pedang yang dihimpun dari landasan kekuatan tiga ratus tahun, jangankan manusia biarpun kumbang, burung walet atau camar juga jangan harap lolos dari lingkaran hawa pedang.

Hadirin menjadi tegang dan ingin menyaksikan Pui-Po-giok yang secara langsung diagulkan sebagai jago nomor satu di seluruh dunia, apakah mampu menerjang keluar barisan pedang itu? Dengan cara apa dia akan menerobos keluar?

Rasa tegang hadirin memuncak lagi. Sementara sang surya memancarkan cahayanya yang benderang, cahaya cemerlang itu seperti terpusat pada enam pedang yang seolah-olah dapat merebut berbagai jenis sinar cahaya yang ada di mayapada ini.

Po-giok tidak bergerak, enam pedang itu juga tidak bergeming. Po-giok memejamkan mata, seperti tenggelam dalam pikiran, berdaya untuk menjebol kepungan. Para Ciang-bun itu juga setengah memejamkan mata, seakan-akan tiada yang memperhatikan gerak-gerik Po-giok.

Padahal umpama ujung jari Po-giok bergerak juga akan diketahui oleh keenam Ciang-bun ini, namun kenyataan Po-giok tidak bergeming sedikit pun, berdiri tegak seperti patung.

Seluruh perhatian hadirin tumplek pada ke tujuh orang yang akan bertanding di atas panggung. Hanya Thi-wah saja yang mengawasi gerak-gerik Siau-kong-cu.

“Kerbau dogol, kenapa kamu mengawasiku saja?” damprat Siau-kong-cu.

“Hihi,” Thi-wah tertawa tanpa bicara.

“Laki-laki segede ini mengawasi anak perempuan, memangnya tidak tahu malu.” Siau-kong-cu berolok-olok.

Thi-wah hanya tertawa dan tetap tutup mulut.

“Eh, apa lantaran aku cantik, kamu terpesona?” goda Siau-kong-cu genit.

“Apa engkau ini cantik?” Thi-wah balas bertanya, “aku kok tidak tahu,”

“Tidak tahu apa tidak bisa melihat?” jengek Siau-kong-cu.

“Tidak bisa melihat juga harus melihat.” ucap Thi-wah tertawa.

Berputar bola mata Siau-kong-cu, mengawasi belakang Thi-wah mendadak ia tertawa senang, “He, sungguh tak nyana, kamu juga di sini. Coba lihat Thi-wah ini selalu mengawasi aku. He, apa kamu tidak cemburu?”

Thi-wah tertawa bodoh. “Peduli siapa yang datang, aku tidak akan berpaling. Aku mewakili Toa-ko mengawasimu, umpama kamu ingin kabur juga jangan harap.”

Siau-kong-cu mendongkol, sesaat ia menggigit bibir, mendadak tertawa lagi, “Aku tahu ada satu tempat, di sepanjang jalan banyak orang jualan daging sapi, kalau mau ikut, aku tanggung akan makan kenyang.”

“Daging sapi, ah. Thi-wah tidak suka,” Thi-wah tertawa bandel.

“Tapi daging sapi yang dimasak di sana rasanya lezat dan sedap, aku tanggung selama hidup belum pernah kau rasakan daging seenak itu. Cukup mencium baunya saja, kamu sudah mengiler.”

“Ehm, apa benar?” mata Thi-wah berkedip-kedip.

Melihat orang seperti terpengaruh oleh bualannya. Siau-kong-cu menjadi girang. “Sudah tentu benar, kalau tidak percaya, ayolah ikut aku ke sana?”

“Boleh!” sahut Thi-wah.

Siau-kong-cu berjingkrak senang, “Ayolah … kita berangkat diam-diam.”

Baik, tunggu Toa-ko dulu, nanti kita berangkat bersama,” Thi-wah membanyol.

Siau-kong-cu melengong, lalu mengentak kaki dampratnya. “Dasar kerbau dogol, kerbau mampus!”

Walau Siau-kong-cu banyak akalnya, pintar bicara dan pandai mengatur siasat, namun menghadapi Thi-wah yang sederhana seperti batu ini, betapapun pintar dan lihai muslihatnya, sama sekali tidak dapat menjebaknya.

Padahal perhatian hadirin tertuju ke atas panggung, di mana Po-giok lagi bertanding dengan Ciang-bun, kesempatan baik untuk melarikan namun di bawah pengawasan Gu Thi-wah, dia benar-benar mati kutu.

Diam-diam ia perhatikan keadaan sekeliling, ternyata tiada orang memperhatikan pembicaraannya dengan Thi-wah, waktu ia melirik ke arah Pui-Po-giok, pemuda ini masih berdiri tegak tanpa bergerak sedikit pun. Poa-Ce-sia berdiri sejajar dengan Ban Cu-liang. Tiba-tiba Poa-Ce-sia berkata lirih “Kong-sun Put-ti ternyata cerdik pandai, saran yang dia ajukan, lahirnya membantu Po-giok, sebenarnya menyudutkan Po-giok agar mengalami kekalahan”

“Lho, kenapa begitu?” tanya Ban Cu-liang.

“Bicara soal kungfu, meski kedudukan para Ciang-bun cukup agung, kalau bertanding satu per satu mereka bukan tandingan Po-giok. Tapi barisan pedang keenam orang ini ibarat dinding baja jangankan Pui-Po-giok, umpama Ci-ih-hou hidup kembali atau Ciu-lo-cian-pwe yang terjun di arena juga takkan mampu menerobos keluar.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: