Kumpulan Cerita Silat

02/04/2008

Seri Maling Romantis: Rahasia Ciok Kwan Im (02): Sahabat Masa Kecil

Filed under: Gu Long, Maling Romantis — ceritasilat @ 10:42 pm

Seri Maling Romantis
Rahasia Ciok Kwan Im (02): Sahabat Masa Kecil
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Gumaha)

Mendadak Coh Liu-hiang melompat turun dari punggung kudanya, teriaknya keras-keras, “Oh Thi-hoa, Oh hongcu (Oh si gila), kenapa kau bisa berada di sini?”

Orang itu berpaling dan melihat Coh Liu-hiang pula, seketika ia berjingkrak kegirangan, serunya tertawa besar, “Coh Liu-hiang, kau ulat tua yang busuk ini, dengan cara bagaimana pula kau bisa berada di sini?” Tanpa hiraukan kucing dalam pelukannya lagi ia memburu ke depan, sekali pukul ia hantam pundak Coh Liu-hiang. Coh Liu-hiang tidak mau rugi, sekali sodok iapun pukul perut orang.

Saking kesakitan keduanya menjerit mengaduh, namun tawa riang mereka membuat mata berkaca-kaca hampir menangis saking kegirangan akan pertemuan yang tak terduga ini.

“Tak heran selama beberapa tahun belakangan ini aku tidak melihatmu, kukira kau sudah mampus karena malas, kiranya kau sembunyi di tempat ini.” Demikian kata Coh Liu-hiang.

“Kau Lo co jong ulat tua busuk inipun bagaimana bisa tiba di sini, apa diusir oleh gendak-gendakmu itu sampai ngacir ke tempat ini?”

Kembali mereka saling pukul dan tertawa berhadapan, dengan langkah semula mereka masuk ke kedai arak, mereka duduk di pinggir meja yang sudah reot, kucing kembang itu segera loncat naik ke atas meja.

Sekali jewer Oh Thi-hoa segera menariknya turun ke bawah, katanya tertawa, “Pus mungil, jangan kau cemburu, ulat tua busuk ini adalah teman baikku, dia sudah datang, terpaksa kau mendekam di samping saja…” dalam ocehannya Coh Liu-hiang ternyata dinamakan ulat busuk, kalau dipikir dia sendiri hampir pecah perut saking geli.

Kata Coh Liu-hiang tertawa besar, “Sekian tahun tak bertemu, tak nyana kau kucing malas ini sudah punya teman baru.. mari! Pus mungil, kau minum dua cangkir bersamaku!”

“Apa, minum dua cangkir?” tanya Oh Thi-hoa membelalak. “Hari ini kalau tidak kucekok kau dua ratus cangkir, anggap aku bukan teman baikmu.” Lalu ia gebrak meja dan berkaok-kaok, “Arak! Arak! Lekas antarkan arak, memangnya kau hendak membuat temanku mati kekeringan.”

Seorang nyonya kurus, kecil hitam dan kering, menenteng sebuah poci arak keluar. “Blang,” ia banting poci arak yang terbuat dari tanah liat itu ke atas meja, putar badan lalu tinggal pergi. Tanpa bersuara melirikpun tidak kepada Oh Thi-hoa. Sebaliknya kedua mata Oh Thi-hoa terbelalak seperti hendak mencolot keluar, menatapnya lekat-lekat tanpa berkedip, seolah-olah dia mengawasi seorang perempuan yang tercantik di seluruh jagad ini.

Coh Liu-hiang tertawa geli, batinnya, “Mungkin kucing malas ini sudah terlalu lama tidak melihat cewek, macam apa sebenarnya bentuk seorang perempuan jelita, mungkin sudah dia lupakan.”

Sebetulnya nyonya ini tidak begitu jelek, usianya pun belum tua. Matanyapun bening bundar dan tidak sipit, cuma badannya kurus kering bobot dagingnya tidak cukup empat kati, seperti ayam babon yang kelaparan dan kering dihembus angin.

Setelah bayangan orang menghilang ke balik pintu sana, baru Oh Thi-hoa berpaling, dia tuang dua cangkir arak, katanya tertawa, “Coh Liu-hiang, kau harus rada hati-hati. Oh Thi-hoa yang sekarang kau hadapi takaran minumnya tidak sama dengan Oh Thi-hoa masa lalu. Masih segar dalam ingatanku kau cekoki aku sampai mabuk sebanyak delapan puluh delapan kati, sekarang aku harus mulai menuntut balas.”

“Delapan puluh sembilan… masakah kau sudah lupakan kejadian dalam genteng besar itu?”

“Mana bisa aku melupakan, kali itu aku hanya mencampur sesendok obat urus-urus dalam arakmu, kau malah ceburkan badanku ke dalam gentong arak keluarga Thio itu, sehingga aku mabuk tiga hari tiga malam.”

“Apakah kau masih ingat kapan peristiwa itu terjadi?”

“Delapan belas… mungkin hampir genap sembilan belas, waktu itu, aku bocah yang baru berusia delapan sembilan tahun. Jikalau tidak berkawan dengan kau teman jelek ini, masakah aku bisa belajar minum arak.”

Coh Liu-hiang berkakakan, ujarnya, “Jangan kau lupa, pertama kali kami minum, arak itu toh hasil curianmu.”

“Apa benar?” ujar Oh Thi-hoa dengan tertawa getir. “Aku sudah lupa.” Akhirnya ia berkakakan pula, serunya, “Bicara terus terang, arak curian rasanya memang lebih nikmat, selama hidup ini aku takkan bisa merasakan arak seenak itu,” dia hanya menengadah kepala, arak semangkok besar itu, sekejap saja sudah habis.

Coh Liu-hiang melihat perbuatan orang, diapun habisi araknya, lalu tanyanya mengerut alis, “Apakah ini arak?”

“Apa kalau bukan arak?”

“Tadi kukira cokak!”

Oh Thi-hoa terbahak-bahak, kembali dia tuang arak dan berkata, “Di tempat seperti ini ada arak seperti ini pula, sudah terhitung besar rejekimu.”

Coh Liu-hiang terima arak yang diangsurkan, gumamnya, “Agaknya kucing malas ini bukan saja sudah lupa akan paras jelita yang sesungguhnya, sampaipun rasa arak yang tulenpun sudah dia lupakan.”

Puluhan poci arak, dalam sekejap sudah tertenggak habis ke dalam perut, sudah tentu nyonya kurus kecil itupun berulang kali keluar masuk puluhan kali. Setiap kali ia banting poci arak di atas meja terus putar badan tinggal pergi.

Belakangan setiap orang menongol keluar pintu, hati Coh Liu-hiang menjadi tegang, hampir tak tertahan dia hendak menutupi kedua telinganya, apa boleh buat, kedua tangannya dengan tersipu-sipu harus pegangi meja, kalau tidak meja reot itu pasti bisa remuk dan rontok seluruhnya.

Sebaliknya setiap kali nyonya kurus kecil itu muncul, biji mata Oh Thi-hoa lantas bersinar cemerlang, suara tawanya pun lebih lantang, sikapnya yang semula malas dan ogah-ogahan seketika bersemangat.

Tak tertahan akhirnya Coh Liu-hiang menghela nafas, ujarnya, “Anak muda yang harus dikasihani, bahwasanya berapa lama kau sudah menetap di tempat seperti setan ini.”

Oh Thi-hoa mengedip-ngedip matanya, sahutnya, “Masihkah kau ingat, berapa tahun sudah berselang sejak terakhir kali aku bertemu dengan kau?”

“Tujuh tahun, tak nyana sekejap saja sudah tujuh tahun.”

Mata Oh Thi-hoa memandang keluar nan jauh di sana, katanya rawan, “Waktu itu musim panas, di Mo-jin-ouw danau jangan murung. Tahun itu kembang teratai berkembang biak amat indahnya di Mo-jin-ouw, kami gunakan daun kembang teratai sebagai cawan arak, setiap kali tenggak habis melempar selembar daun, belakangan daun-daun teratai itu hampir saja menenggelamkan perahu yang kita tumpangi, daun teratai di pinggirmu sudah bertumpuk setinggi hidungmu.”

Coh Liu-hiang tersenyum, ujarnya, “Musim panas tahun itu, sungguh cepat berlalu!”

Mendadak Oh Thi-hoa berkakak, serunya, “Masihkah kau ingat siapa pula yang tahun itu berada bersama kami?”

“Seumpama kita sudah melupakan kehadiran manusia dalam dunia ini, tentu takkan terlupakan kepada Ko Ah-nam, waktu itu dia baru saja berhasil mempelajari Wi hong li-kiam dari Hong-san, setiap kali mabuk, tentu dia mainkan ilmu pedang itu di hadapan kami sehingga Kim-leng yang suka iseng setiap hari merubung di pinggir danau tak mau pergi ingin menonton pertunjukan gratis, sudah tentu di antara mereka ada yang ingin mencuri belajar ilmu pedangnya itu.”

“Bicara terus terang, ilmu pedangnya itu tidak begitu bermutu, belakangan setiap kali ia berlatih ilmu pedangnya, aku lantas terkencing-kencing. Sungguh aku heran, nama julukan Leng-hong-ji kiam-khek gelarnya itu entah cara bagaimana dia dapatkan.”

Coh Liu-hiang tertawa, katanya, “Katamu ilmu pedangnya tidak baik, tapi Ki Bing-yam malah bilang bahwa ilmu pedangnya itu tiga puluh persen lebih bagus dari Hoa-san-pay Ciangbun Ji Siok-tin.”

“Benar!” seru Oh Thi-hoa mengelus tapak tangan. “Jago Mampus itu bisa tiga hari tidak bicara, namun begitu buka suara selalu mengagulkan ilmu pedangnya sendiri. Kukira delapan puluh persen dia sudah jatuh hati kepadanya.”

“Tapi dia sebaliknya malah jatuh hati kepada kau, kalau tidak masakah dia sudi bergaul dan keluntungan dengan laki-laki setan arak seperti kami ini, apa kau masih ingat waktu hari kau mabuk, pernah kau berjanji hendak menikah dengan dia.”

Oh Thi-hoa menyengir, ujarnya, “Masa aku tidak ingat, hari kedua setelah aku sadar sudah kulupakan peristiwa itu, siapa tahu dia justru tidak lupa, malah dia menuntut dan desak aku ingkar janji, dia takkan punya hidup lagi, dia hendak bunuh diri, terpaksa malam itu juga aku terjun ke dalam air, dan selulup sejauh mungkin melarikan diri.”

Belum habis cerita orang, Coh Liu-hiang sudah mendekap meja karena perut sakit tertawa terpingkal-pingkal, katanya dengan nafas ngos-ngosan, “Tak heran, hari kedua setelah terang tanah, tiba-tiba kudapati kalian berdua sudah tidak kelihatan pula bayangannya, itu waktu aku kira kalian sudah kawin lari. Oleh karena itu Ki Ping-yam yang menjadi masgul dan murung, malam itu hampir saja dia mampus karena mabuk, hari ketiga ternyata diapun menghilang, sampai sekarang belum pernah aku melihatnya.”
O
h Thi-hoa tertawa getir, katanya, “Kalau bukan lantaran Ko Ah-nam mengejarku mati-matian, memangnya aku bisa lari ke tempat nan jauh ini?”

“Sejak tujuh tahun kau lari ke sini, kau tetap tinggal di sini?”

“Tiga tahun setelah dia mengejarku, baru aku lari ke tempat ini.”

“Jadi kau sudah empat tahun menetap di sini?”

Oh Thi-hoa teguk araknya, katanya pula, “Tiga tahun sepuluh bulan.”

“Soal apa yang menyebabkan kau kerasan tinggal di tempat setan seperti ini selama itu, sungguh aku tidak habis mengerti.”

Kembali Oh Thi-hoa tenggak araknya, mendadak ia pelototi Coh Liu-hiang, serunya, “Kau ingin aku bicara kepadamu?”

“Lekas katakan!”

Oh Thi-hoa dekatkan mulutnya ke telinga Coh Liu-hiang, katanya, “Sudahkah kau melihat tegas perempuan yang mengantar arak tadi?”

Coh Liu-hiang berjingkrak berdiri, serunya, “Kau… jadi lantaran dia kau menetap sedemikian lama di tempat ini?”

“Tidak salah!”

Lekas Coh Liu-hiang berpegangan meja, agaknya dia kuatir kalau dirinya jatuh semaput. Dari atas ke bawah bolak-balik ia amati Oh Thi-hoa dengan seksama, seperti setua ini baru pertama kali ia pernah melihat laki-laki brewok di hadapannya ini. Ia lalu pelan-pelan duduk kembali di tempatnya, setelah tenggak secangkir arak, berkata pelan-pelan, “Aku ingin mohon sesuatu kepadamu.”

“Soal apa?”

“Perempuan itu dari kaki sampai kepala, dalam hal apa dia lebih elok dari Ko Ah nam, bisakah kau jelaskan?”

Kembali Oh Thi-hoa habiskan tiga cawan arak, sahutnya, “Biar kuberitahu kepadamu, Ko Ah-nam hendak mengejar aku, sebaliknya aku mengejar dia malah empat tahun lamanya aku tak berhasil menyanderanya, disitulah letak kebalikannya, kau tahu tidak?”

Mata Coh Liu-hiang menatap mukanya, melotot sepeminuman teh lamanya, baru dia unjuk rasa senang dan tertawa besar pula, sambil mendekap meja, katanya, “Karena baru sekarang aku mau percaya, bahwa karma memang bisa terjadi di dunia ini.”

Oh Thi-hoa manggut-manggut, dengusnya, “Apa yang kau tertawakan, aku memang tahu perasaan hati manusia yang paling suci dan bersih ini, orang kasar dan awam seperti kau, selama hidup pasti takkan mengerti.”

Coh Liu-hiang menekan perut, katanya, “Oh Tuhan! Cinta suci nan setia! Sukakah kau ampuni aku? Aduh, perutku hampir pecah!”

Dengan bersungut-sungut Oh Thi-hoa diam saja, sekaligus dia habiskan tiga cawan lagi. Mendadak iapun terbahak-bahak, keduanya mendekap meja, dan tertawa besar berhadapan saling pandang dan tuding, air mata sampai bercucuran.
 
“BAGAIMANA bisa terjadi asmara suci murni ini coba kau kisahkan kepadaku.”

“Setelah kuceritakan kau jangan tertawa lho!”

“Tidak! Tanggung tidak tertawa!”

“Pertama kali aku tiba di sini, sudah tiga bulan aku tak pernah melihat perempuan, begitu melihat dia, kau boleh mengatakan dia kurang cantik, tapi aku beranggapan ditempat ini ia merupakan perempuan yang paling cantik.”

“Aku mengakui.”

“Oleh karena itu aku ingin………. bermain-main dengan dia, dalam anggapanku, sekali raih tentu berhasil, siapa tahu dia justru pandang aku sebagai orang mati, melirikpun tidak sudi kepadaku.

Coh-Liu-hiang tahan rasa gelinya, katanya: “Memangnya Hong-liu ‘bajul Kaucu Hoa-tiap oh ‘kupu kembang’, dipandang sepele oleh perempuan kecil itu, sungguh keterlaluan dan penasaran! Sampai akupun ikut merasa jengkel”

Semakin ia tidak hiraukan aku, Semakin merupakan daya tariknya dalam pandanganku. aku siap dalam bulan, siapa tahu dua bulan kemudian, sedikitpun aku tidak mendapat kemajuan maka aku persiapkan dari tiga bulan, siapa tahu…”

ia tertawa getir, “Tak usah kukatakan kaupun sudah melihatnya, aku sudah berjerih payah selama tiga tahun sepuluh bulan penuh, dalam pandangan matanya tetap sebagai orang mati, malah unjuk tawa atau tersenyum kepadakupun dia tidak pernah.”

Coh Liu hiang memang tahan geli dan tak tertawa, memang dia takkan bisa tertawa. Ikut prihatin akan usaha teman karibnya yang gagal ini.

Kembali Oh Thi-hoa habiskan tiga cawan arak, katanya keras: “Jikalau kau unjuk sedikit rasa kasihan kepadaku, biar kutuang arak sepoci ini ke dalam hidungmu.”

“Aku tidak kasihan kepadamu, aku malah kagum kepadamu, kagum hampir mampus.”

Oh Thi hoa terkial-kial sampai arak dalam mulutnya menyemprot keluar membasahi selebar meja, “Sekarang.” katanya, “Aku ingin dengar ceritamu, kenapa pula kau bisa sampai disini? Memangnya ada siapa yang hendak paksa kau untuk mengawini dia menjadi binimu?”

Sikap riang Coh Liu hiang tadi seketika sirna, mukanya tampak masgul dan kesal, sesaat ia berdiam diri, lalu katanya pelan-pelan: “Apa kau masih ingat Soh Yong-yong, Li Ang siu dan Song-Thiam ji?”

“Sudah tentu masih ingat, waktu itu mereka masih gendak genduk cilik, sekarang tentunya sudah tumbuh dewasa menjadi perawan jelita, masakah mereka hendak menikah dengan kau, tak heran kau lari ke tempat sejauh ini.”

“Orang lain sama menyangka hubunganku dengan mereka rada kurang genah, bahwasanya sejak berusia dua belasan mereka sudah ikut padaku, tidak lebih mereka pandang aku sebagai toakonya sendiri, anggap aku sebagai teman karib, dan aku… tentunya kau tetap percaya kepadaku, sejak mula aku pandang mereka sebagai adik kandungku.”

“Orang lain tidak percaya kepada kau, tapi aku tahu kau ulat tua busuk ini, kalau bertindak rusuh memang bikin kepala orang lain pusing tujuh keliling, tapi bila kau bertindak baik, orang lain mimpipun tidak pernah menduganya.”
Coh Liu hiang menarik napas panjang, ujarnya rawan: “Kini mereka bertiga sama diculik oleh orang.”

Tersirap darah Oh Thi-hoa, serunya: “Diculik orang? Siapa orangnya yang punya nyali sebesar itu?”

“Pernahkah kau dengar nama Ca Bok-hap raja padang pasir?”

“Keparat itu berani mencari gara-gara terhadapmu? Biar kubeset dia menjadi umpan anjing!”

“Bukan dia, tapi putranya Hek tin-cu.”

“Persetan dia Hek tin-cu atau Pek tin-cu ‘mutiara putih’ berapa banyak sih dia punya nyali, berani mengganggu usik saudara kami?” Tiba-tiba ia gebrak meja seraya berdiri, serunya lantang: ‘Hayo berangkat! Kita buat perhitungan kepadanya!”

“Kau ingin ikut aku?”

“Kau ulat tua busuk ini.” damprat Oh Thi-hoa gusar. “Kau pandang aku apa? Kau menghadapi kesulitan, kalau tidak aku membantumu siapa yang bantu kau?

Coh Liu hiang berjingrak berdiri, serunya: “Dengan kau sebagai teman seperjalananku, kalau padang rumput tidak kuobrak-abrik jangan panggil aku sebagai Maling kampiun!” mendadak ia hentikan tawanya, sekilas ia melirik ke pintu belakang, katanya: “Tapi bagaimana dia? Kau tidak mau perdulikan ia lagi?”

Oh Thi hoa tertawa lebar, ujarnya: “Cukup asal sepatah katamu saja, batok kepalaku ini pun boleh kuserahkan, masakah aku tidak tega meninggalkan dia?”
Dengan tertawa besar, mereka beriring keluar pintu.

Tak nyana nyonya kurus kecil itu mendadak memburu keluar dengan langkah seperti terbang dari belakang pintu, dengan kencang dia tarik lengan baju Oh Thi-hoa, teriaknya lantang: “Kau hendak tinggal pergi demikian saja?”

Sekilas Oh Thi-hoa melengak, tanyanya: “Apa rekening arakku belum kubayar?”

“Siapa sudi terima uangmu.” suruh nyonya kecil kurus dengan suara serak: “Yang kuinginkan adalah kau sendiri.”

Kata-kata ini seketika membuat Oh Thi-hoa terpaku di tempatnya, demikian juga Coh Liu hiang menjublek tak bergerak.

Berkata Oh Thi-hoa tersendat: “La… lalu kenapa kau selama ini tidak hiraukan sapa tegurku?”

“Aku tidak mau hiraukan kau, lantaran aku tahu, kau menyukai aku karena aku tak mau hiraukan kau!” jawab nyonya kurus kecil.

Kembali Oh Thi-hoa melenggong, katanya tertawa getir: “Coh Liu hiang, kau sudah dengar? Jangan sekali-kali kau pandang perempuan siapa saja sebagai manusia pikun, siapa bila pandang perempuan seorang pikun, dia sendiri yang pikun.”

Bercucuran air mata nyonya kurus kecil, katanya: “Kumohon kepadamu jangan tinggalkan aku, asal kau tidak pergi, segera aku rela menikah dengan kau.”

Kata-kata ‘menikah’ laksana sengat kala yang menusuk ulu Oh Thi-hoa, dengan kaget ia tarik lengan bajunya, seperti kelinci yang ketakutan dikejar harimau lapar cepat ia melarikan diri.

Walau gerak-gerik Coh Lui-hiang tidak lambat, kuda tunggangannya dapat berlari sekencang angin puyuh, tapi dia harus kerahkan segala tenaganya, barulah berhasil menyandak Oh Thi-hoa, serunya tertawa besar : “Kau tak usah takut, dia takkan menyandak kau, dia tidak memiliki Ginkang setinggi Ko Ah-nam.”

Baru sekarang Oh Thi-hoa kendorkan larinya, katanya tertawa getir: “Kau dengar, ternyata dia tahu bahwa aku menyukai dia lantaran dia tidak mau hiraukan aku! Kau bunuh akupun, aku takkan mau percaya, perempuan tampangnya itu, ternyata sedemikian cerdik.”

“Sebodoh-bodoh perempuan, tentulah seorang ahli pula dalam bidang ini, mungkin selama hidupnya ini memang dia sedang menjebak dan memancing laki-laki goblok seperti kau ini terjerat muslihatnya, memangnya dia tidak bisa pentang mata lihat orang?”

“Perempuan!” ujar Oh Thi-hoa menghela napas. “Selama hidupku ini, mungkin takkan bisa menyelami jiwa perempuan.”

“Tapi perempuan justru paling paham menghadapi laki-laki, mereka tahu kebanyakan laki-laki itu bertulang kere!”

Akhirnya Oh Thi-hoa bergelak tertawa, katanya : “Maksudmu tak lain hanya ingin mengatakan bahwa aku ini memang balong(tulang) kere”

“Kalau toh kau berpikir demikian, kenapa aku harus menyangkal!”

Dia sudah lompat turun dari kudanya, jalan berjajar dengan Oh Thi-hoa, beberapa jauh kemudian baru ia sadari bahwa Oh Thi-hoa membawanya menempuh perjalanan yang keliru, segera ia bertanya: “Kemana kau hendak pergi?”

“Lan-ciu”

“Lan-ciu! Heng-tin-cu tinggal di padang pasir di luar perbatasan, untuk apa kita menuju ke Lan-ciu?”

“Demikian saja kita berdua hendak pergi ke padang pasir, setelah kau berhadapan dengan Hek-tin-ciu, mungkin tanganmu sendiripun kau tidak mampu mengangkatnya, memangnya kau ingin melabrak orang?”

Coh Liu-hiang mengerutkan keningnya, katanya : “Aku sudah tahu bahwa padang pasir serba berbahaya.”

“Berbahaya? Memangnya kau sangka cukup dilukiskan dengan sepatah kata ‘berbahaya’ saja? Orang yang belum pernah ke padang pasir, mimpipun tak pernah terpikir olehnya betapa menakutkan padang pasir itu.”

“Kau sedang gertak dan menakuti aku?”

Oh Thi-hoa pejamkan mata, ujarnya : “Ditengah padang pasir nan luas tak kelihatan ujung pangkalnya itu, jiwa seseorang manusia merupakan sebutir kerikil yang tak berarti sama sekali, seumpama Coh Liu-hiang si maling kampiun yang kenamaan itu mampus ditelan pasir kuning di sana juga merupakan kejadian biasa, tak terhitung istimewa.”

“Kau takkan bisa membuatku takut!”

Oh Thi-hoa tidak hiraukan ocehannya, katanya pelan-pelan: “Disana begitu terik sehingga ingin rasanya kau sendiri membeset kulitmu, sebaliknya kalau malam dinginnya bisa bikin darahmu membeku dalam badan. Gundukan gunung dalam sedetik bisa berubah menjadi tanah yang datar, tanah datar tiba-tiba menjadi tanah yang tinggi, dikala angin badai melanda tiba, sebuah kota besarpun mungkin bisa terpendam dan dikubur didalam pasir, ditambah air yang merupakan barang termahal melebihi jiwa, khabarnya dalam setiap jam, sepuluh manusia yang berada di padang pasir mati kekeringan.”

“Tempat yang sepuluh kali lebih berbahaya dari padang pasirpun pernah ku datangi,” sela Coh Liu-hiang tertawa.

Terbuka mata Oh Thi-hoa, katanya keras: “Yang kau hadapi dulu hanya manusia, tapi yang harus kau hadapi di sana adalah kebesaran alam serta kekejamannya! Apalagi kau tidak tahu menahu tentang seluk beluk padang pasir, sebaliknya Hek-tin-cu sejak kecil dibesarkan di padang pasir, cuaca, situasi bumi, tata kehidupan manusia serta pergaulan adat istiadat bangsa minoritas di sana, tiada yang kau ketahui, mengandalkan apa kau hendak mengikuti dia?”

Coh Liu-hiang menghela napas, ujarnya: “Ucapanmu ini memang benar!”

“Apalagi, sampai sekarang kau sendiri belum tahu dimanakah dia sebetulnya berada, benar tidak?”

Coh Liu-hiang manggut sambil mengiakan.

“Kalau demikian, hakekatnya kau takkan bisa menemukan dia, kau kira padang pasir hanya sebesar taman kebun rumahmu? Di sana langit tersentuh bumi, bumi bersambung dengan langit, sehingga kau sulit membedakan arah, dan lagi bahasa pergaulan bangsa gembala sepatah katapun kau tidak mengerti. Jikalau kau hendak menjelajah kesana, membentur nasib, cukup dua putaran jalan, kau pasti sudah tersesat jalan, dalam jangka tujuh hari kau akan mati kering karena dahaga,” matanya semakin melotot mengawasi Coh Liu-hiang, tambahnya keras : “Sebetulnya kau seorang yang punya otak jernih dan pikiran pandai, memangnya kali ini kau sudah gila saking gelisahnya?”

Sesaat lamanya Coh Liu-hiang berdiam diri, katanya kemudian dengan tertawa getir : “Memang aku gila saking gelisah, tapi betapapun sukar dan berbahayanya, aku tetap akan menyusul kesana, jikalau kau………………”

“Kau ulat busuk ini,” damprat Oh Thi-hoa gusar : “Kau sangka aku gentar?”

“Jadi maksudmu…………..”

“Maksudku, jika kita memang harus pergi, kita harus bekerja dengan sempurna dan mempersiapkan diri. Urusan harus berhasil dengan gemilang, jangan seperti orang pikun terima menghantar kematian secara sia-sia belaka. Kita harus bertindak dengan tenang dan kepala dingin.”

“Apa sekarang kau tenang dan dingin kepala?” tanya Coh Liu-hiang tertawa.
Oh Thi-hoa ikut tertawa, ujarnya : “Melihat kau bersikap seperti anak kecil yang diburu nafsu, sungguh tak tertahan aku ingin marah, kita sekarang sudah cukup dewasa, pekerjaan seorang dewasa harus menunjukkan gengsi dan pamor orang dewasa pula.”

Coh Liu-hiang geleng-geleng kepala, katanya gemas : “Beberapa hari ini, pikiranku memang terlalu kusut!”

“Kau bisa berpikir demi keselamatan orang lain, jelas bahwa kau ini memang anak mungil, tidak seperti tutur kata orang lain, adalah seekor rase, seekor ular beracun.” kembali ia berkaok-kaok keras :” Jika kita ingin menolong mereka, kita harus menjadi rase atau ular prikemanusiaan takkan bisa berumur panjang.”

Coh Liu-hiang mengamat-amatinya, katanya geleng-geleng : “Mungkin aku masih bisa menjadi rase, tapi ular beracun……………..akupun tak kuasa berbuat demikian apalagi kau.”

“Oleh karena itu, kita harus mencari orang yang dapat merubah kita menjadi ular beracun itu.”

“Siapa?”

Advertisements

1 Comment »

  1. mantap…

    Comment by hamid — 16/08/2009 @ 5:06 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: