Kumpulan Cerita Silat

02/04/2008

Pendekar Gelandangan (02)

Filed under: Gu Long, Pendekar Gelandangan — ceritasilat @ 10:52 pm

Pendekar Gelandangan (02)
Bab 02. Pedang Pembunuh Manusia
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Bintang73 dan Donnios)

Suasana dalam hutan hening, sepi, tak kedengaran suara apapun, termasuk pembicaraan manusia.

Yan Cap-sa sedang memandang ranting di tangan perempuan itu sambil termenung, ia seakan-akan sedang memikirkan sesuatu.

“Mengapa kau belum mencabut pedangmu?”, tanya Buyung Ciu-ti tiba-tiba.

“Pedangku sudah berada di tangan, setiap saat dapat kucabut keluar, dan kau?”

“Inilah pedangku!”

“Bukan, itu bukan pedang”

“Meskipun wujudnya bukan pedang, tapi dalam genggamanku dapat berubah menjadi senjata pembunuh”

“Aku tahu. Kau dapat membunuh orang dengan benda itu, tapi pada hakekatnya wujud sebenarnya tak lain hanya sebuah ranting kering”

“Asal bisa digunakan untuk membunuh orang meskipun bentuknya hanya ranting atau pedang sungguhan toh tiada bedanya”

“Tetap ada bedanya!”

“Apa bedanya?”

“Benda itu dapat membunuh orang, tapi hingga kini belum pernah melakukannya, berbeda dengan pedangku”

Dengan penuh kasih sayang laki-laki itu membelai pedangnya, lalu berkata lebih lanjut: “Sudah sembilan belas tahun pedang ini mengikutiku, manusia yang mampus di ujung pedang inipun sudah mencapai enam puluh tiga orang”

“Aku tahu, tak sedikit memang manusia yang telah kau bunuh”

“Sebetulnya pedang ini tidak lebih cuma sebilah pedang yang sederhana, tapi sekarang ia telah menghirup dari enam puluh tiga orang, ya, enam puluh tiga orang pembunuh yang tak berperasaan, enam puluh tiga lembar sukma penasaran”

Ia masih membelai terus pedangnya, setelah menarik napas panjang, pelan-pelan lanjutnya:

“Aku merasa pedangku sekarang seolah-olah sudah bernyawa, ia sangat bernapsu ingin menghirup darah orang lain, ia berharap orang lain dapat mampus di ujung pedangnya”

“Apakah dia yang memberitahukan ke semuanya itu kepadamu?”, ejek Buyung Ciu-ti sambil tertawa dingin.

“Tentu saja ia tak dapat memberitahukan kepadaku, tapi aku dapat merasakannya”

“Merasakan apa?”

“Bila ia sudah keluar dari sarungnya, seorang pasti akan terbunuh, kadangkala bahkan aku sendiripun tak sanggup untuk mengendalikannya”

Apa yang diucapkan bukan cerita tahayul, tapi suatu kenyataan.

Bila kaupun memiliki pedang semacam ini, bila kaupun pernah membinasakan enam puluh tiga orang, maka kau pasti akan mempunyai perasaan seperti ini.

Sekali lagi Yan Cap-sa memperhatikan ranting di tangan itu, kemudian berkata:

“Ranting kering di tanganmu itu sudah mati, ia tidak mempunyai gairah untuk membunuh orang, sedang kau sendiripun tidak bersungguh-sungguh ingin membinasakan diriku”

Ia mendongakkan kepalanya dan menatap sepasang matanya tanpa berkedip, kemudian menambahkan:

“Sebab pada hakekatnya kau bukan Cia Siau-hong!”

Bibir Buyung Ciu-ti sudah memucat, mukanya ikut memutih, mungkin ucapan tersebut sangat mengena dalam hatinya.

Selembar daun melayang jatuh, tepat dihadapannya.

Sambil memandang benda itu, gumamnya:

“Apakah daun tersebut kini juga sudah mati?”

“Ya, daun itu sudah mati!”

“Tapi belum lama berselang ia masih berada di atas ranting, dia masih hidup segar”

Kalau daun belum rontok dari rantingnya tentu saja masih hidup, setelah terjatuh ke tanah apakah masih dapat dikatakan hidup?

“Benarkah kehidupan manusia harus menyerupai nasib dari daun tersebut?”, keluh Buyung Ciu-ti.

“Aku dapat memahami perasaanmu”, bisik Yan Cap-sa.

“Kau sungguh-sungguh dapat memahami?”

“Ya, untuk menghidupkan bocah itu dan memeliharanya hingga dewasa, tentu sudah banyak penderitaan yang kau alami, maka cintamu kepadanya tak mungkin dapat menandingi rasa benci dan dendammu kepadanya”

Buyung Ciu-ti tidak menyangkal, dia hanya membungkam.

“Oleh karena itu, kaupun tidak merasa sayang terhadap jiwa dan kehidupanmu,” Yan Cap-sa melanjutkan, “asal aku dapat memecahkan seranganmu itu, meski kau bakal mati di ujung pedangku, kaupun akan mati dengan hati yang rela”.

Ia menghela napas panjang, katanya: “Sayang kau keliru besar!”

“Aku keliru?”

“Ya, karena meskipun aku dapat memecahkan seranganmu, belum berarti dapat memecahkan serangan dari Cia Siau -hong”.

Ditatapnya perempuan itu tajam-tajam, lalu meneruskan: “Sebab pedang yang kau gunakan bukan sebilah pedang pembunuh, kaupun bukan Cia Siau-hong”.

Tiba-tiba sepasang tangan Buyung Ciu-ti terjulur ke bawah dengan lemas, hawa pembunuhan yang semula menyelimuti wajahnya kini ikut lenyap tak berbekas, air matanya sudah bercucuran membasahi pipinya.

“Tapi aku dapat mengabulkan permintaanmu itu”, kata Yan Cap-sa lebih lanjut, “bila ada kesempatan, dia pasti akan kubunuh!”

Buyung Ciu-ti merasakan semangatnya kembali berkobar.

“Kau merasa mempunyai berapa bagian keyakinan?”, tanyanya.

“Sebetulnya sebagianpun tak punya!”, jawab Yan Cap-sa sambil tertawa getir.

“Dan sekarang?”

“Sekarang paling sedikitpun sudah ada empat lima bagian”

“Jadi kau telah berhasil menemukan cara pemecahannya?”

“Coba lihatlah!”, tiba-tiba Yan Cap-sa memungut sebatang ranting kering di atas tanah.

Gerakan tubuhnya itu sederhana dan lagi bebal, tapi sinar mencorong keluar dari balik mata Buyung Ciu-ti.

Perempuan itu tahu, ia telah berhasil menemukannya.

Ya, seandainya ilmu pedang dari Sam-sauya adalah sebuah gembokan, maka dia telah berhasil menemukan anak kunci pembuka gembokan tersebut.

Ketika sebuah tusukan dilancarkan, kebetulan ada segulung angin berhembus lewat.

Tiba-tiba ranting kering di tangan Yan Cap-sa itu berubah menjadi bubuk yang lembut, dalam waktu yang singkat bubuk tersebut sudah terhembus hingga lenyap tak berbekas.

Seandainya ia melancarkan serangan dengan memakai sebilah pedang sungguhan, dapat di bayangkan sampai dimanakah kekuatan yang disertakan dalam tusukan tersebut.

Buyung Ciu-ti menghembuskan napas panjang dan pelan-pelan duduk kembali, katanya: “Sekarang, kau pergilah!”

Ketika Yan Cap-sa tiba di luar hutan, si Memuakkan masih bermain di tempat itu.

Hanya si Memuakkan seorang, pada tangan kirinya memegang sebuah paha ayam, padahal mulutnya masih mengunyah buah pir.

Di sekeliling tempat itu tak ada penjaja makanan ataupun buah-buahan, entah makanan-makanan tersebut ia dapatkan dari mana.

Yan Cap-sa memang suka dengan bocah ini, apalagi bila terbayang kembali kisah kehidupannya, ia semakin menaruh perasaan simpatik.

Untungnya bocah itu sepertinya sudah pandai membawa diri dan merawat dirinya baik-baik.

Ketika itu, si Memuakkan sedang memandang ke arahnya dengan sepasang mata yang terbelalak besar.

Yan Cap-sa menghampirinya dan menepuk bahunya, lalu berkata: “Cepatlah pulang, encimu sedang menunggu kau”

“Mau apa dia menunggu aku?”

“Karena…..karena dia sangat memperhatikan dirimu”

“Buat apa dia menaruh perhatian kepadaku?”

“Apakah kau beranggapan bahwa selama ini tak ada orang yang pernah menaruh perhatian kepadamu?”

“Ya, selamanya memang tak ada, bahkan separuh manusiapun tak ada. Aku adalah si Memuakkan, siapapun muak melihatku, belum pernah ada orang yang tidak muak melihat tampangku”

Ia menggigit paha ayam di tangannya, lalu menambahkan: “Tapi, sedikitpun aku tak ambil perduli!”

Memandang raut wajahnya yang manis dan menawan, tiba-tiba Yan Cap-sa merasa hatinya menjadi kecut.

Di sekitar tempat itu tak ada orang lain, sesosok bayangan manusiapun tak ada, kembali ia tak tahan dan bertanya:

“Kemana perginya temanku?”

“Temanmu yang mana?”

“Si Burung Gagak!”

“Dalam hutan ini tak ada burung gagak, yang ada cuma burung-burung gereja!”

“Maksudku orang yang berada bersamaku tadi, ia bernama si burung gagak…” Yan Cap-sa menerangkan.

Si Memuakkan mengedipkan matanya, lalu berkata: “Apakah kau pernah membayar uang jaminan kepadaku? Pernahkah kau minta kepadaku untuk menjaga dirinya?”

“Tidak pernah!”

“Nah, kalau tidak pernah, dengan dasar apa kau ajukan pertanyaan kepadaku?”

“Karena…. karena aku rasa kau pasti tahu kemana ia telah pergi……….”

“Tentu saja aku tahu, tapi dengan dasar apa aku musti memberitahukan hal ini kepadamu?”

Yan Cap-sa terbungkam, dia hanya bisa tertawa getir.

Ya, kadangkala pertanyaan yang diajukan seorang bocah memang sukar untuk dijawab sebagaimana mestinya.

Kembali si Memuakkan menggigit buah pir-nya, tiba-tiba ia berkata: “Tapi belum tentu aku tak akan memberitahukan kepadamu!”

“Apa yang harus kulakukan sehingga kau bersedia memberitahukan hal ini kepadaku?”

“Bila kau ingin bertanya kepadaku, sedikit banyak harus kau bayar dulu ongkos untuk bertanya?”

Tangan Yan Cap-sa sudah merogoh sakunya, tapi setengah harian ia merogoh tak sepotong bendapun yang berhasil didapatkan.

“Kalau kulihat dari dandananmu serta pakaianmu yang perlente, tampaknya seperti orang yang kaya, masa kau betul-betul kosong melompong Cuma kerak kosong belaka?”

“Mungkin, karena selama ini belum pernah ada orang yang minta ongkos bertanya kepadaku”

Si Memuakkan menghela napas panjang: “Aaaai…. Kalau toh sang kayu tak dapat mengeluarkan minyak, terpaksa aku harus mengakui lagi sial. Kalu begitu tulis saja nota hutang untukku”

“Nota hutang?”

“Bukankah kau ingin bertanya? Siapa bertanya dia harus membayar ongkos bertanya dan sekarang kau tak punya uang, lain hari tentu punya bukan…..?”

“Di sini tak ada kertas tak ada pit, aku musti menulis nota hutang itu dengan apa?”

“Gunakan pedangmu untuk menyayat kulit pohon dan tulislah nota hutang itu di atas kulit pohon dengan pedangmu”

“Pandai amat kau berpikir!” keluh Yan Cap-sa sambil tertawa getir.

Dalam keadaan begini, terpaksa dia menuruti kemauan orang.

“Berapa yang kau minta?” tanyanya kemudian.

“Satu huruf yang ditulis, sepuluh huruf juga harus ditulis, kalau toh sama-sama harus menulis lebih baik tulis saja yang rada banyakan sedikit”

Sepasang biji matanya berputar-putar, lalu terusnya: “Kalau begitu…..yaaa, tulislah sepuluh laksa tahil perak, meskipun terlampau sedikit bagiku tak apalah, terhadap orang miskin macam kau, memang aku harus bertindak bijaksana”

Yan Cap-sa membelalakkan sepasang matanya serta memperhatikan bocah itu dari atas hingga ke bawah sebanyak beberapa kali.

Seorang bocah yang baru berusia tujuh tahun, ternyata begitu buka suara lantas minta sepuluh laksa tahil perak, bagaimana nantinya setelah dewasa?

“Aku tahu dalam hati kecilmu sekarang sedang berpikir, sekecil ini aku sudah pandai mencari untung, bagaimana nantinya setelah menjadi dewasa……..”

“Darimana kau bisa tahu apa yang sedang kupikirkan?”

“Sebab perkataan semacam ini sudah berulang kali diajukan orang lain kepadaku”

“Lantas bagaimana kau menjawabnya?”

“Aku jawab, kalau sekarang sudah pandai memeras, setelah dewasa nanti pasti akan menjadi hartawan yang kaya raya, alasan semudah ini masa tak bisa kau pahami!”

Yan Cap-sa tertawa, ia benar-benar tertawa.

Bocah ini benar-benar pandai merawat diri.

Bila seorang bocah yang tidak memperoleh perawatan, ternyata untuk merawat diri sendiripun tak bisa, itu baru namanya celaka………….

Oleh karena itu jumlah uang yang ditulis Yan Cap-sa dalam nota hutangnya bukan sepuluh laksa tahil perak, melainkan lima puluh laksa tahil perak….suatu jumlah yang cukup lumayan.

Si Memuakkan tertawa lebar setelah membaca tulisan itu, katanya:

“Aku minta sepuluh laksa, tapi kau memberi lima puluh laksa, tampaknya meski kau miskin, tapi cukup sosial untuk mengeluarkan uang”

“Kalau orang sosial dalam mengeluarkan uang, apakah dia yang miskin?”

“Betul, memang seharusnya bukan orang miskin”

“Nah, setiap perkataan yang masuk diakal musti kau catat sebaik-baiknya di dalam hati, bila kau tak ingin miskin, maka jangan terlalu besar mengeluarkan uang, lebih-lebih lagi jangan kau buang uangmu dengan begitu saja”

“Punya uang tak boleh royal, bukankah keadaan semacam ini tak berbeda jauh dengan orang yang tak beruang?”

Sekali lagi Yan Cap-sa tertawa setelah mendengar perkataan itu.

Ia benar-benar amat menyukai bocah ini, tapi ia lupa untuk memikirkan soal lainnya……

Ia lupa kalau diapun ingin membinasakan ayah dari si bocah itu……… bahkan sangat ingin.

Lima puluh laksa tahil perak, yaa! Dengan surat hutang itu ia dapat menerima suatu jumlah uang yang sangat besar, tapi si Memuakkan memasukkan nota tersebut dengan begitu saja ke dalam sakunya, seakan-akan dia menganggap kertas itu sebagai selembar kertas tak terpakai.

“Walaupun sekarang aku tak punya uang, tapi setiap saat aku bisa mempunyai uang”, kata Yan Cap-sa.

“Aku mengerti, kalau tidak buat apa surat hutangmu musti kuterima……….”

“Setiap saat kau berjumpa denganku, boleh kau minta uang tersebut dariku!”

“Aku tahu!”

“Oleh karena itu, surat tanda hutang itu musti kau simpan sebaik-baiknya agar jangan sampai hilang!”

“Kalau sampai hilang, anggap saja kau yang beruntung dan aku yang lagi sial, tiada sesuatu yang luar biasa”

Sambil mengerdipkan matanya, kembali bocah itu melanjutkan: “Seperti juga bila kau cepat mampus, akupun hanya bisa mengakui kesialanku sendiri, sebab manusia semacam kau memang bisa mampus setiap saat”

Yan Cap-sa tertawa tergelak.

Ia benar-benar tertawa tergelak, tapi bagaimanakah perasaan sesungguhnya?

Siapa yang tahu?

Manusia yang hidup dalam dunia persilatan ibaratnya daun yang terhembus angin puyuh, setiap saat daun tersebut kemungkinan rontok dan mati…………….

Ketika ia menyelesaikan gelak tertawanya, si Memuakkan baru berkata:

“Sahabatmu itu pergi ke belakang bukit sebelah depan sana!”

“Mau apa ke sana?”

“Tampaknya mau beradu jiwa!”

“Beradu jiwa? Beradu jiwa dengan siapa?”

“Agaknya seorang bocah keparat yang memakai huruf Ping sebagai namanya…..!”

Mungkinkah Cho Ping?

Mungkinkah selama ini dia selalu membuntuti perjalanannya? Mungkinkah dia yang telah membayar semua rekening buat mereka?

Kalau memang benar, mengapa ia mencari si Burung Gagak untuk diajak beradu jiwa?

Yan Cap-sa tidak menguatirkan keselamatan si burung gagak, ia tahu Cho Ping masih bukan tandingan si burung gagak.

Tapi, dugaan ini ternyata keliru besar.

Rumput-rumput di tebing belakang sana sudah pada layu, tapi darah yang menodainya tampak merah segar.

Itulah darahnya si burung gagak.

Si gagak sudah roboh, roboh terkapar diantara rumput-rumput yang layu, darahnya membasahi rerumputan, menodai pula pakaiannya.

Darah itu meleleh keluar dari tenggorokannya hanya tiga inci dari tempat yang mematikan.

Justru karena masih ada selisih tiga inci, maka ia masih hidup hingga kini.

Siapakah yang melukainya?

“Apakah Cho Ping?”, tegur Yan Cap-sa sambil memburu ke depan.

Si burung gagak mengangguk.

“Apakah kau yang sengaja mengalah kepadanya?”, kembali Yan Cap-sa bertanya dengan wajah terperanjat.

Si burung menggeleng.

Yan Cap-sa lebih terperanjat lagi, jelas hal ini sudah terjadi, tapi ia masih belum mempercayainya.

Si burung gagak tertawa getir, katanya: “Aku tahu kau tak akan percaya, bahkan aku sendiripun tidak percaya, aku pernah menyaksikan bocah keparat itu turun tangan”

“Tapi kau…..”

“Sebenarnya aku mempunyai keyakinan untuk merobohkannya dalam tiga jurus, bahkan aku seyakin-yakinnya”

“Tapi sekarang yang roboh justru adalah kau sendiri!”

“Ya, itulah disebabkan oleh kesalahanku sendiri!”

“Kesalahan dalam bagian yang mana?”

“Aku pernah menyaksikan ia turun tangan, perubahan jurus pedangnya juga telah kupahami, ilmu pedang aliran Thiam-cong tak nanti sanggup untuk melukaiku”

“Jadi ilmu pedang yang digunakan bukan ilmu pedang Thiam-cong-pay?”

“Pasti bukan!”

“Lalu ilmu pedang apa yang dia gunakan?”

“Aku tidak tahu”

“Masa kaupun tak dapat mengetahuinya?”

“Perubahan jurus tersebut bukan saja tak dapat kupahami, bahkan membayangkanpun tidak”

“Hanya satu jurus? Hanya satu jurus saja kau telah terluka di tangannya…..”, Yan Cap-sa tidak percaya.

“Ya, sekalipun kau yang menghadapinya, kaupun tak dapat menyambut serangan tersebut!”, jawab si gagak dingin.

Tiba-tiba ia menghela napas panjang, tambahnya: “Hingga kini aku masih belum dapat membayangkan, siapakah di dunia ini yang sanggup menerima serangan tersebut?”

Yan Cap-sa tidak bersuara lagi.

Tapi tubuhnya sudah mulai melakukan suatu gerakan.

Ya, suatu gerakan yang begitu lambat dan begitu indah, selembut hembusan angin yang sedang menyambar lewat.

Kemudian pedangnya itu pelan-pelan menusuk ke depan.

Pedang itu menusuk datang dari suatu arah yang tak terbayangkan, setelah menusuk ke luar tiba-tiba diikuti pula dengan suatu perubahan yang tak dapat dibayangkan sebelumnya.

Dengan terkejut si gagak memandang ke arahnya, lalu berteriak keras: “Betul, jurus serangan inilah yang dia pergunakan!”

Rerumputan telah mengering, darah telah mengering.

Yan Cap-sa duduk termenung di hadapan si burung gagak.

“Darimanakah kau bisa mengetahui kalau jurus itu yang ia gunakan?”, tanya si burung gagak ingin tahu.

“Karena hanya serangan itu yang mampu mengalahkan dirimu!”, jawaban Yan Cap-sa amat lirih.

“Sudah jelas jurus serangan itu bukan jurus pedang aliran Thiam-cong-pay, juga bukan ilmu pedangmu!”

“Tentu saja bukan!”

“Lantas jurus serangan milik siapakah itu?”

“Seharusnya kau dapat menebaknya”

“Jadi, jurus itu milik Sam-sauya?”

“Kecuali dia siapa lagi?”

“Tapi paling sedikit kau bisa menggunakan jurus itu, Cho Ping juga bisa!”

Yan Cap-sa tertawa getir, ia tak menyangka Cho Ping secara diam-diam mencuri belajar pula serangan tersebut.

Waktu itu mereka terlalu memusatkan perhatiannya, hakekatnya mereka tidak memperhatikan kalau di dalam hutan masih ada orang lain.

Ia lebih-lebih tidak menyangka kalau Cho Ping akan mempergunakan si burung gagak untuk mencoba jurus pedangnya.

Tiba-tiba ia teringat akan satu persoalan.

Orang yang akan dicari Cho Ping berikutnya pasti adalah Cia Siau-hong.

Cia Siau-hong, Sam-sauya (Tuan muda ketiga) dari perkampungan Sin-kiam-san-ceng.

Siapakah yang dijumpai Yan Cap-sa dalam hutan? Secara bagaimana mereka bisa mempelajari ilmu pedang dari Sam-sauya?

Beberapa persoalan itu tidak ditanyakan si burung gagak, sebab ia cukup memahami manusia macam apakah Yan Cap-sa itu.

“Kalau kau ingin pergi ke Sin-kiam-san-ceng, cepatlah pergi, aku tetap tinggal di sini”, demikian katanya.

Yan Cap-sa memang ingin cepat-cepat berangkat kesana, sebab bila Cho Ping dapat mencuri belajar jurus serangan dari Sam-sauya, berarti telah curi belajar pula jurus pemunah serangannya.

Ia benar-benar tak ingin menyaksikan orang lain menggunakan jurus pedangnya untuk memecahkan serangan dari Sam-sauya.

Sebab hak dan kebanggaan tersebut merupakan miliknya, sekalipun serangan tersebut tidak berhasil ia pecahkan, yang pantas mati adalah dia, bukan orang lain.

“Tapi kau sudah terluka, bila kutinggalkan seorang diri di sini……”, mau tak mau dia harus berkuatir bagi keselamatan si burung gagak.

Burung gagak bukan jenis burung yang disenangi orang, diapun bukan orang yang bersedia menerima kebaikan orang.

Tentu tak banyak orang yang ingin membunuh si burung gagak.

Si burung gagak tertawa dingin, lalu katanya:

“Kau tak usah kuatir, aku tak mungkin mampus, yang harus dikuatirkan bukan aku melainkan kau sendiri”

“Aku sendiri?”

“Jarak dari tempat ini sampai ke telaga Liok-sui-ou tidak terlampau jauh, sepanjang jalan tak mungkin ada orang yang akan membayarkan rekening-rekeningmu lagi”

Cho Ping pasti sudah mendapatkan kereta yang paling nyaman dan paling cepat, jalan yang dilaluipun pasti merupakan jalanan yang paling cepat.

Seseorang yang “tong-pes” alias kantong kempes hanya bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, sekalipun ia berhasil mendahului Cho Ping, setelah tiba di perkampungan Sin-kiam-san-ceng, satu-satunya orang yang bakal menderita kekalahan mungkin juga dia sendiri.

“Kecuali kau mempunyai nasib yang lebih baik”, demikian si burung gagak berkata, “atau dalam waktu singkat dapat bertemu seseorang yang punya uang banyak, mengendarai kuda cepat, kemudian kau merampas uangnya dan merampas pula kudanya”

“Kau tak usah kuatir, pekerjaan semacam itu bukannya tak dapat kulakukan….”, kata Yan Cap-sa sambil tertawa.

Si burung gagak ikut tertawa.

Tiba-tiba dua orang itu mengulurkan tangannya dan saling menggenggam dengan eratnya.

“Cepatlah pergi,” kata si burung gagak lagi, “asal kau belum mati, pasti akan kusuruh seseorang untuk menghantarkan pedangku ini untukmu”

“Bukankah kau pernah berkata, seringkali seseorang yang sudah hampir mati bisa mempunyai nasib yang lebih baik?”

“Ya, aku memang pernah mengatakan demikian”

“Tampaknya nasib baikmu segera akan datang kembali”

Yang muncul adalah sebuah kereta kuda.

Kuda penariknya adalah kuda jempolan, kereta yang dihelapun kereta ringan, mereka datang sangat cepat.

Baru saja suara putaran roda dan ringkikan kuda kedengaran di tempat kejauhan sana, tahu-tahu kereta itu sudah muncul di tikungan bukit sebelah depan.

“Aku percaya pekerjaan semacam ini pasti dapat kau lakukan”, kata si burung gagak.

“Tentu saja!”

Meskipun di mulut dia berbicara sok berpengalaman, padahal ketika benar-benar harus melaksanakannya, dia menjadi bingung.

Ia benar-benar tidak tahu bagaimana harus mulai menjalankan aksinya itu…..

Tiba-tiba saja ia merasa bahwa untuk menjadi seorang penyamun bukanlah suatu pekerjaan gampang segampang apa yang pernah dibayangkan dahulu.

Tampak kereta kuda itu melaju lewat dari sisi tubuhnya, tapi ia belum menunjukkan tanda akan melancarkan sergapan.

“Nasib mujur semacam ini tak mungkin akan berlangsung untuk kedua kalinya”, kata si burung gagak dengan kening berkerut.

“Mungkin aku……”

Belum habis perkataan itu diucapkan, tiba-tiba kereta kuda itu berhenti tepat di hadapan mereka.

Ia tidak melancarkan serangan, tapi kereta itu berhenti dengan sendirinya.

Dari dalam ruang kereta segera kedengaran seseorang berkata dengan suara yang parau dan aneh:

“Wahai orang yang buru-buru ingin melanjutkan perjalanan, silahkan naik ke atas kereta”

Si burung gagak memandang ke arah Yan Cap-sa dan Yan Cap-sa memandang ke arah si burung gagak.

“Orang yang memiliki nasib sangat mujur belum tentu akan sungguh-sungguh mati dalam waktu singkat”

Yan Cap-sa tertawa terbahak-bahak.

Pintu kereta sudah terbuka, ia melompat naik dan berkata sambil tertawa tergelak: “Pokoknya kalau aku masih hidup, tanggung kau bisa berjumpa lagi denganku, sekalipun tak ingin bertemu juga tak bisa”

Siapakah yang berada dalam ruangan kereta itu?

Dalam ruang kereta yang bersih dan nyaman hanya ada seseorang, ia mengenakan jubah lebar berwarna hitam, kepalanya di bungkus dengan kain hitam dan mukanya mengenakan pula kain cadar berwarna hitam.

Yan Cap-sa duduk tepat dihadapannya, ia hanya mengajukan satu pertanyaan setelah berada di dalam kereta:

“Dapatkah kau angkut diriku ke puncak Cui-im-hong telaga Liok-sui-ou dengan waktu yang paling cepat?

“Dapat!”

Setelah mendengar jawaban tersebut, Yan Cap-sa menutup mulutnya. Bahkan sepasang matanya ikut pula dipejamkan.

Sebetulnya banyak persoalan yang ingin ditanyakan, tapi sekarang sepatah katapun tidak ditanyakan.

Ya, dia memang bukan seorang manusia bertipe ingin tahu.

Manusia berbaju hitam itu justru menaruh perasaan ingin tahu terhadap tamunya, dengan sepasang matanya yang tajam di balik kain cadar berwarna hitam, ia sedang menatapnya tanpa berkedip.

Jeli amat sepasang matanya itu.

Kereta kuda itu berjalan sangat cepat, selama ini Yan Cap-sa hanya pejamkan matanya rapat-rapat, entah tertidur entah tidak.

Ternyata ia tidak tidur.

Sebab sejak orang berbaju hitam itu mengeluarkan sebuah poci arak dari laci keretanya dan mulai minum, tenggorokannya ikut bergetar pula.

Orang yang sudah tertidur tak mungkin dapat mencium bau harumnya arak.

Sekulum senyuman seperti memancar dari balik mata orang berbaju hitam itu, dia mengangsurkan botol arak tersebut ke depan, lalu tegurnya: “Mau minum seteguk dua tegukan arak?”

Tentu saja dia mau.

Di kala Yan Cap-sa mengeluarkan tangannya untuk menerima botol arak itu, keadaannya seperti orang hampir mati tenggelam yang tiba-tiba berhasil meraih sebuah balok kayu.

Akan tetapi sepasang matanya masih belum terbentang lebar.

Seandainya ia membuka matanya, maka dengan cepat akan ditemukan bahwa orang berbaju hitam itu mempunyai sepasang tangan yang sangat indah.

Bagaimanapun lembutnya seorang pria, jarang sekali mereka dapat memiliki sepasang tangan yang begini indah.

Padahal, perempuan sedikitpun jarang yang memiliki sepasang tangan seindah ini, jari-jari tangan yang runcing dan kurus, tapi panjang, dan kulit yang putih lagi halus.

Ketika Yan Cap-sa mengembalikan botol arak itu…..tentu saja botol yang sudah hampir kosong.

Tanpa sengaja tangannya telah menyentuh sepasang tangannya.

Untung dia masih mempunyai sedikit perasaan atau paling sedikit ia masih dapat merasakan bahwa sepasang tangannya begitu lembut, begitu halus dan menawan.

Tapi ia tidak menunjukkan reaksi apa-apa, seakan-akan kelembutan serta kehalusan tersebut tidak dirasakan olehnya.

Hampir setengah harian lamanya orang berbaju hitam itu menatapnya, tiba-tiba ia bertanya:

“Sesungguhnya kau ini manusia atau bukan?”

Suaranya masih separau dan seaneh tadi, padahal orang yang memiliki sepasang tangan sebagus itu tidak seharusnya mempunyai suara sejelek itu.

Ternyata jawaban dari Yan Yan Cap-sa sederhana sekali.

“Aku adalah manusia!”

“Apakah manusia hidup?”

“Ya, hingga detik ini aku masih hidup!”

“Tapi kau tidak ingin tahu siapakah aku?”

“Aku tahu kaupun seorang manusia, bahkan pasti seorang yang masih hidup”

“Cukupkah itu?”

“Cukup sekali!”

“Keretaku bukan kudapatkan dari mencuri, arak yang kau minum juga bukan kuperoleh dengan jalan mencuri, kenapa tanpa sebab tanpa musabab kau ku undang naik ke kereta, ku antar kau ke telaga Liok-sui-ou, bahkan mengundang kau minum arak pula?”

“Karena kau sedang senang!”

Jawaban itu membuat si orang berbaju hitam tertegun, bahkan tidak tanggung-tanggung tertegun sampai setengah harian, setelah itu ia baru tertawa cekikikan.

Sekarang suaranya telah berubah, ya berubah menjadi begitu merdu, begitu lengking dan menawan hati.

Kini, barang siapa merasa dirinya manusia, dia pasti akan tahu kalau orang itu adalah seorang perempuan, bahkan pasti seorang perempuan yang cantik dan menarik hati.

Setiap pria tentu senang menyaksikan perempuan yang cantik.

“Kau tidak ingin tahu siapakah diriku?”, kembali orang berbaju hitam itu bertanya.

“Tidak ingin!”

“Kenapa?”

“Karena aku tak ingin mencari kesulitan bagi diriku sendiri”

“Jadi kau tahu kalau aku bakal mendatangkan kesulitan?”

“Bila tanpa sebab musabab seseorang mengundangku naik kereta dan menjamu minum arak kepadaku, sedikit banyak orang itu pasti mempunyai penyakit”

“Ada penyakit? Atau ada kesulitan?”

“Bila seseorang mempunyai penyakit, maka sedikit banyak dia pasti akan mendatangkan kesulitan”

Kembali orang berbaju hitam itu tertawa, suara tertawanya kedengaran semakin menarik hati.

“Mungkin setelah kau mengetahui siapakah aku, sekalipun bakal menimbulkan banyak kesulitan, kesulitan itu berharga untuk kau alami”

“Oya?!”

“Tentu saja, sebab aku adalah seorang perempuan yang cantik dan menawan hati, tentu selalu berharap agar orang lain ikut menyaksikan keindahannya”

“Oya?!”

“Bila orang lain menolak permohonannya dia pasti akan menganggap kejadian itu sebagai semacam cemoohan atau penghinaan, dia pasti akan merasa bersedih hati”

Pelan-pelan orang itu menghela napas panjang, terusnya: “Bila seorang perempuan sedang bersedih hati atau kesal, kadangkala ia dapat melakukan segala perbuatan yang membingungkan!”

“Misalkan perbuatan apa?”, tanya Yan Cap-sa.

“Misalnya, mungkin saja dia akan mengusir tamu yang telah di undangnya naik ke dalam kereta”

Yan Cap-sa mulai menghela napas.

Ketika ia mulai bernapas, sepasang matanya sudah dibuka……tapi hanya sekejap mata kemudian dipejamkan kembali, seakan-akan ia menjumpai setan mengerikan secara tiba-tiba.

Ya, karena yang terlihat olehnya sudah bukan seseorang yang terbungkus di balik kain hitam lagi.

Tentu saja yang dijumpainya ketika itu bukan setan.

Baik di langit maupun di bumi, mana mungkin bisa dijumpai setan yang menawan hati?

Ia telah menjumpai seorang perempuan.

Seorang perempuan yang betul-betul telanjang bulat, dari atas hingga bawah tubuhnya berada dalam keadaan polos, secuil kainpun tak kelihatan, semua bagian tubuhnya kelihatan jelas, begitu terang membuat orang merasa berdebar.

Tubuh itu begitu halus, begitu putih dan begitu lembut, sebagian besar berwarna putih pualam, tapi ada bagian-bagian tertentu yang berwarna hitam.

Belangkah dia? Tentu saja tidak!

Tapi mengapa ada bagian tubuhnya yang tertentu berwarna hitam? Entahlah…… mungkin sudah takdir sejak ia menjadi dewasa.

Tentu saja nama sesungguhnya dari Yan Cap-sa bukan Yan Cap-sa, meski demikian sudah pasti nama aslinya juga bukan si banci atau si dungu.

Ia pernah menjumpai perempuan.

Aneka macam perempuan sudah pernah dijumpainya, ada yang mengenakan baju lengkap, tapi ada pula yang tanpa busana.

Ada yang sesungguhnya berpakaian, tapi kemudian pakaian itu dilepaskan semua.

Bahkan ada pula yang melepaskan semua bajunya dengan begitu cepat.

Seorang gadis telanjang bulat sesungguhnya tak akan membuat laki-laki macam Yan Cap-sa menjadi terperanjat.

Ia menjadi terperanjat bukan lantaran perempuan itu terlampau cantik, juga bukan lantaran pinggangnya terlampau ramping, atau payudaranya terlalu montok.

Tentu saja lebih-lebih bukan disebabkan sepasang kakinya yang ramping, gempal dan putih mulus itu.

Persoalan-persoalan seperti di atas tadi paling banter cuma mengakibatkan jantungnya berdebar, tak mungkin akan mengejutkan hatinya.

Ia terkejut karena perempuan itu pernah dijumpainya, bukan saja baru ditemui bahkan telah melakukan pula suatu perbuatan yang mengejutkan.

Tentu saja perempuan itu tak mungkin adalah Buyung Ciu-ti.

Perempuan polos itu ternyata bukan lain adalah istri Hee-ho Seng yang tampaknya alim dan lemah lembut itu.

Ya, dia bukan lain adalah nyonya muda dari keluarga Hee-ho yang ada di lembah Ang-im-kok, bukit Hwee-gan-san.

Ilmu pedang dari Hee-ho Seng mungkin tidak terlalu menakutkan, tapi keturunan keluarganya sangat menakutkan.

Keluarga Hee-ho dari bukit Hwee-gan-san lembah Ang-im-kok, bukan saja merupakan keluarga persilatan yang ternama, peraturan rumah tangganya juga paling ketat.

Kemanapun orang-orang Hee-ho-san-ceng pergi, belum pernah mereka menerima cemoohan atau penghinaan dari orang lain.

Bila perempuan dari Hee-ho-san-ceng kebetulan keluar rumah, orang lain tak akan berani memandang mereka walau hanya sekejappun.

Sebab bila kau melihat mereka lebih lama, kemungkinan besar biji mata kalian akan di korek ke luar.

Oleh sebab itulah walau siapapun juga bila secara tiba-tiba menemukan bahwa nyonya muda dari keluarga Hee-ho tiba-tiba duduk dihadapannya dalam keadaan telanjang bulat, mereka niscaya akan merasa terperanjat.

Kalau masih duduk saling berhadapan masih mendingan.

Sekarang Si Ko-jin sudah duduk di sampingnya, ia duduk begitu dekat dengannya, bahkan dengusan napasnya yang agak memburupun kedengaran sangat jelas.

Tentu saja sangat jelas, sebab dengusan napas itu justru berasal dari sisi telinganya.

Yan Cap-sa seperti orang yang sudah tak bernapas lagi.

Ia tidak termasuk orang yang bodoh, juga bukan tipe manusia yang gampang mabuk atau terbuai oleh keadaan yang dihadapinya.

Sejak kakinya melangkah masuk ke dalam kereta tersebut, ia sudah menduga sedikit atau banyak pasti ada kesulitan yang bakal dijumpainya.

Tapi ia tak tahu sampai di mana besarnya kesulitan tersebut.

Tapi sekarang dia sudah tahu.

Seandainya ia tahu betapa besarnya kesulitan yang bakal dijumpainya, ia lebih rela merangkak ke telaga Liok-sui-ou daripada menunggang kereta kuda itu.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: