Kumpulan Cerita Silat

01/04/2008

Pendekar Gelandangan (01)

Filed under: Gu Long, Pendekar Gelandangan — ceritasilat @ 10:50 pm

Pendekar Gelandangan (01)
Bab 01. Jago Pedang Kenamaan
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Bintang73 dan Donnios)

Musim gugur telah menjelang, udara dingin dan sang surya di sore itu sudah tenggelam di ufuk barat.

Di bawah pepohonan yang mulai gundul berdiri sesosok bayangan manusia, ia berdiri kaku bagaikan patung dan seakan-akan sudah melebur dengan suasana kelabu di senja itu.

Ya, mungkin karena ia sangat tenang.

Mungkin juga ia terlalu dingin.

Di balik semacam rasa dingin dan lelah yang merasuk ke dalam tulang, justru membawa hawa pembunuhan yang menggidikkan hati orang.

Ia sudah lelah, mungkin lantaran terlalu banyak orang yang telah dibunuh bahkan orang yang tidak seharusnya terbunuhpun ikut dibunuh.

Ia membunuh orang karena belum pernah ia diberi kesempatan untuk memilih yang lain.

Di tangannya terdapat sebilah pedang.

Sebilah pedang dengan sarung kulit ikan yang berwarna hitam gelap, gagangnya terbuat dari emas dengan tiga belas butir mutiara bertaburan diatasnya.

Tidak banyak orang persilatan yang tak kenal dengan pedang itu, lebih-lebih tak banyak orang yang tak tahu siapakah pemiliknya!

Orangnya maupun pedangnya sudah tersohor dalam dunia persilatan semenjak ia masih berusia tujuh belas tahun, kini usianya mendekati pertengahan, ia tak dapat menanggalkan pedang itu lagi, dan orang lain tak pernah mengijinkan dirinya untuk melepaskan pedang itu.

Sebab dikala ia menanggalkan pedangnya berarti nyawanya sudah hampir berakhir.

Nama besar, kadangkala bagaikan sebuah buntalan, sebuah buntalan yang tak dapat kau tanggalkan untuk selamanya.

Bulan sembilan tanggal sembilan belas pukul enam sore.

Di luar kota Liok-yang di tepi jalan raya di bawah pohon kuno.

“Kugorok lehermu, bawa serta pedangmu”

Pukul enam sore waktu sang surya tenggelam di balik bukit.

Matahari telah lenyap, daunpun berguguran terhembus angin dingin.

Seseorang berjalan di jalan raya dengan langkah lebar, bajunya perlente, mukanya hijau membesi, sebilah pedang tersoren dipunggungnya, sepasang biji mata yang lebih tajam daripada sembilu sedang menatap ke atas sebilah pedang di bawah pohon sana.

Langkah kakinya berat dan tetap tetapi cepat dan cekatan. Ia berhenti tujuh depa di depan pohon besar itu.

“Yan Cap-sa” tiba-tiba tegurnya.

“Betul!”

“Benarkah Toh-mia-cap-sa-kiam (tiga belas pedang perenggut nyawa)mu tiada tandingannya di dunia ini”.

“Belum tentu!”

Orang itu segera tertawa, suara tertawanya begitu dingin seram dan bernada menyindir.

“Aku Ko Thong! It-kiam-cuan-sim (Sebuah tusukan penembus hati) Ko Thong……!” demikian katanya.

“Aku mengerti!”

“Kau yang mengundang aku kemari?”

“Ya, aku tahu kau memang sedang mencariku”.

“Tepat, aku memang sedang mencarimu, sebab aku harus merenggut selembar nyawamu”

“Bukan hanya kau seorang yang ingin membunuhku” sela Yan Cap-sa dengan suara kaku.

“Justru karena kau terlalu termasyhur maka barang siapa dapat membunuhmu dia akan segera termasyhur pula”.

Ko Thong berhenti sejenak, kemudian sesudah tertawa dingin katanya lebih lanjut: “Bukan pekerjaan yang gampang untuk menjadi tenar dalam dunia persilatan, hanya cara inilah yang akan menghantar aku menuju ketenaran secara mudah………….”

“Bagus sekali”

“Kini aku telah datang, membawa serta pedangku, silahkan kau gorok leherku!”.

“Bagus sekali!”

“Lantas bagaimana dengan hatimu?” Ko Thong bertanya.

“Hatiku telah mati”

“Kalau begitu biar kubuat hatimu mati sekali lagi!”

Cahaya pedang tampak berkilauan, tahu-tahu senjatanya sudah diloloskan dan secepat kilat menusuk ke ulu hati Yan Cap-sa.

Inilah It-kiam-cuan-sim……… sebuah tusukan penembus hati!.

Dengan tusukan serupa ini, entah berapa banyak sudah hati orang yang ditembusi.

Ya, hakekatnya tusukan tersebut merupakan sebuah tusukan maut yang mematikan!.

Akan tetapi tusukan itu tidak berhasil menembusi ulu hati Yan Cap-sa.

Ketika pedang itu sedang menyambar ke depan, tiba-tiba tenggorokannya terasa dingin dan anyir………………..

Mulut luka akibat tusukan itu hanya satu inci tiga dim……..

Pedang Ko Thong sudah rontok, tapi orangnya belum mampus.

“Aku hanya berharap kau tahu untuk menjadi tenar bukanlah suatu pekerjaan enak,” kata Yan Cap-sa.

Ko Thong hanya bisa memandang musuhnya dengan mata melotot, nyaris biji matanya ikut melotot keluar.

“Sebab itu lebih baik kau mati saja,” lanjut Yan Cap-sa dengan suara hambar.

Ia telah mencabut keluar pedangnya.

Pedang itu pelan-pelan dicabut keluar dari tenggorokan Ko Thong, ya pelan-pelan…. pelan-pelan.

Karena itu percikan darah tak sampai menodai bajunya.

Ia cukup pengalaman untuk melaksanakan pekerjaan semacam ini.

Iapun tahu jika pakaiannya sampai terpercik darah, sukar untuk menghilangkan noda tersebut.

Lebih-lebih lagi untuk membersihkan bau anyir darah dari tangannya, pekerjaan ini jauh lebih susah.

Malam semakin kelam……., suasana kembali menjadi hening.

Darah yang menetes dari ujung pedang telah berhenti.

Di kala pedang itu sudah dimasukkan ke dalam sarungnya, di tengah keremangan cuaca tiba-tiba muncul kembali empat sosok bayangan manusia.

Empat orang dengan empat bilah pedang!

Ke empat orang itu mengenakan pakaian yang perlente, sikapnya congkak dan mukanya bengis, perkasa sekali perawakannya.

Yang paling tua adalah seorang kakek yang rambutnya telah beruban semua, sedang yang paling muda adalah seorang pemuda ingusan.

Yan Cap-sa tidak kenal dengan orang-orang itu, tapi dia tahu siapakah mereka.

Yang tertua diantara ke empat orang itu sudah tersohor sejak empat puluh tahun berselang, ia selalu berada di luar perbatasan.

Ilmu Hui-eng-cap-sa-ci (tiga belas tusukan elang terbang) hasil ciptaannya sudah menggetarkan wilayah sepanjang perbatasan.

Kali ini dia sengaja masuk ke daratan dengan membawa satu tujuan, yakni mencari Yan Cap-sa.

Ia tidak percaya kalau tiga belas tusukan elang terbangnya tak dapat menandingi tiga belas pedang perenggut nyawa dari Yan Cap-sa.

Yang termuda usianya terhitung pula sebagai seorang jago angkatan muda dalam dunia persilatan, dia termasuk seorang murid yang paling top dalam perguruan Thiam-cong-pay.

Ia berbakat bagus, diapun bersedia menderita.

Hatinya cukup keji, perbuatannya cukup brutal sebab itu belum sampai setahun mengembara dalam dunia persilatan, nama besar Bu-cing siau-cu (Bocah muda tak berperasaan) Cho Ping sudah menggetarkan seluruh dunia.

Dua orang lainnya tentu saja merupakan jago-jago lihay pula.

Ilmu pedang Ciang-hong-kiam (Jago pedang angin sejuk) begitu enteng begitu lincah dan begitu cepat, di mana pedangnya berkelebat lewat, orang hanya merasa seperti ada angin sejuk berhembus lewat.

Ilmu pedang dari Thi-kiam-tin-sam-san (Pedang baja yang menindih tiga bukit) berat, mantap dan penuh bertenaga, pedang yang digunakan mencapai tiga puluh kati beratnya.

Yan Cap-sa kenal dengan mereka, sebab dialah yang mengundang kedatangan orang-orang itu.

Empat pasang mata dari ke empat orang itu menatap wajahnya tanpa berkedip, tak seorangpun di antara mereka yang melirik mayat di tanah walaupun hanya sekejappun.

Mereka tak ingin sebelum pertarungan dimulai, semangat serta keberanian mereka patah di tengah jalan.

Sebab siapapun yang menggeletak mati di tanah pada hakekatnya tiada hubungan apapun dengan mereka.

Asal dirinya masih hidup, perduli mati hidup orang lain, mereka tak akan menggubris, mereka tak akan ambil perduli.

Yan Cap-sa tertawa bahkan senyumnya kelihatan begitu lelah, katanya, “Tak kusangka kalian telah datang semua!”.

“Sebenarnya kukira hanya aku seorang yang kau undang,” jawab Kwan-gwa-hui-eng (Elang terbang dari luar perbatasan) dengan suara ketus.

“Bila suatu pekerjaan dapat ku selesaikan bersamaan waktunya kenapa musti membuang banyak waktu dan tenaga?”

“Kini ada empat orang yang telah datang, siapakah yang akan turun tangan lebih dulu?” sela Cho Ping.

Ia sangat gelisah. Ia gelisah dan ingin cepat-cepat ternama. Ia lebih gelisah karena ingin segera membinasakan Yan Cap-sa.

“Apa salahnya kalau kita berundi? Siapa menang dia yang turun tangan lebih dulu!” tegas Thi-kiam-tian-sam-san mengusulkan.

“Tidak perlu!” tukas Yan Cap-sa tiba-tiba.

“Tidak perlu?”.

“Ya, tidak perlu! Kalian boleh turun tangan bersama!”.

“Kau anggap kami sebagai manusia macam apa? Manusia yang mencari kemenangan dengan andalkan jumlah banyak?” kata Kwan-gwa hui-eng dengan marah-marah.

“Jadi kau keberatan?” ejek Yan Cap-sa.

“Tentu saja keberatan!”

“Tapi aku tidak keberatan!” tiba-tiba pedangnya telah lolos dari sarung.

Cahaya pedang memancar bagaikan cahaya bianglala, dalam waktu singkat cahaya tajam itu sudah berkelebat lewat dari hadapan mata ke empat orang itu.

Dalam keadaan begitu sekalipun mereka berkeberatan juga percuma.

Maka empat bilah pedang hampir bersamaan waktunya telah diloloskan semua…………..

Cho Ping turun tangan paling cepat, paling brutal dan paling tidak berperasaan.

Elang terbang dari luar perbatasan telah melambung ke udara dan melancarkan tubrukan ke bawah.

Tiga belas jurus ilmu elang terbang termasuk salah satu jenis dari Jit-jim-ciang (pukulan tujuh unggas). Kepandaian semacam itu biasanya menyergap dari atas ke bawah, dengan kekerasan menindas kaum yang lemah.

Andaikata orang lain yang dihadapinya semenjak tadi orang itu sudah mampus secara mengerikan.

Tapi sayang musuh yang dihadapinya sekarang lain daripada yang lain, musuhnya ini terlampau tangguh bagi ukurannya.

Dalam sekejap mata Cho Ping telah melancarkan sembilan buah tusukan kilat.

Ia tidak menaruh perhatian pada orang lain, semua konsentrasinya, semua perhatian dan tenaganya hanya tertuju pada Yan Cap-sa seorang.

Hanya satu keinginannya pada waktu itu, yakni membinasakan orang di hadapan matanya dengan sebuah tusukan maut.

Sayang ke sembilan buah tusukan mautnya gagal total, tak satupun diantaranya berhasil mengenai sasaran. Yan Cap-sa yang sesungguhnya tepat berada dihadapannya tadi kini sudah lenyap tak berbekas.

Ia menjadi tertegun dan keheranan, menyusul kemudian ia temukan suatu kenyataan yang mengerikan.

Di atas tanah telah bertambah dengan tiga sosok mayat.

Pada leher setiap mayat bertambah sebuah lubang besar, darah masih menetes keluar membasahi seluruh permukaan tanah.

Elang terbang dari luar perbatasan, pedang angin sejuk, pedang baja yang menindih tiga bukit, tiga orang jago pedang kelas satu dari dunia persilatan telah tewas secara mengerikan di ujung pedang Yan Cap-sa dalam waktu sekejap.

Tangan dan kaki Cho Ping mulai dingin, peluh dingin telah membasahi sekujur badannya.

Ketika ia mencoba untuk menengadah, maka tampaklah Yan Cap-sa sedang berdiri di bawah pohon besar nun jauh di sana.

Pedang pembunuh yang mengerikan itu sudah disarungkan kembali.

Sepasang telapak tangan Cho Ping menggenggam makin kencang, akhirnya ia berbisik: “Kau……..”

“Aku masih belum ingin membereskan nyawamu!” tukas Yan Cap-sa cepat.

“Kenapa”

“Karena aku masih ingin memberi kesempatan sekali lagi kepadamu untuk datang membunuhku”.

Semua otot-otot hijau di tangan Cho Ping telah menonjol keluar, peluh sebesar kacang kedelai telah membasahi jidatnya, ia tak bisa menerima kesempatan seperti ini.

Jelas kejadian ini merupakan suatu penghinaan, suatu cemoohan bagi nama baiknya!.

Tapi bagaimanapun juga ia tak boleh melepaskan kesempatan tersebut, sebab inilah satu-satunya kesempatan baginya untuk melanjutkan hidup dan kemudian melatih diri serta menuntut balas di kemudian hari.

“Pulanglah!,” kata Yan Cap-sa lagi, “Latih kembali pedangmu selama tiga tahun, kemudian datanglah dan berusahalah membunuhku lagi”.

Cho Ping hanya bisa menggertak gigi, menggigit bibir menahan pergolakan emosi dalam dadanya.

“Aku tahu ilmu pedang dari Thiam-cong-pay cukup bagus, asal kau mau melatihnya secara bersungguh-sungguh, kesempatan di kemudian hari pasti masih ada”.

Tiba-tiba Cho Ping berkata: “Seandainya tiga tahun kemudian kau telah mampus di ujung pedang orang, apa yang harus kulakukan?”.

Yan Cap-sa tertawa lebar.

“Kalau sampai terjadi peristiwa semacam itu, maka kau boleh membunuh orang yang telah membinasakan diriku itu,” katanya.

“Hmm…………..! Aku harap lebih baik jagalah dirimu sebaik mungkin, lebih bagus lagi jika kau belum keburu mampus!” kata Cho Ping penuh perasaan mendendam.

“Bukan kau saja yang berharap, akupun berharap bisa demikian!”.

Malam semakin kelam, seluruh permukaan jagad telah diselimuti oleh kegelapan yang mencekam

Pelan-pelan Yan Cap-sa memutar badannya, menghadap ke tempat yang paling gelap, tiba-tiba menyapa: “Baik-baikkah kau?”

Lewat agak lama, dari balik kegelapan betul juga kedengaran suara jawaban: “Aku tidak baik”.

Suara itu dingin, kaku, serak dan berat, mirip suara orang tua.

Menyusul jawaban tadi muncul seorang dari kegelapan dengan langkah lambat, ia mengenakan baju hitam dengan rambut panjang hitam, sarung pedangnya juga hitam, mukanya juga hitam, seakan-akan membawa warna kematian, hanya sepasang biji matanya yang hitam memancarkan sinar tajam.

Ia berjalan sangat lambat, tapi sekujur tubuhnya seakan-akan sedang melayang dengan enteng, seperti kakinya tak pernah menempel di atas permukaan tanah sekilas pandangan ia lebih mirip sesosok sukma gentayangan daripada seorang manusia.

Tiba-tiba raut wajah Yan Cap-sa berkerut kencang, lalu tegurnya lagi: “Si gagak-kah di situ?”

“Betul!”

Yan Cap-sa menarik napas panjang-panjang, lalu katanya lagi: “Tidak kusangka akhirnya kita dapat berjumpa kembali!”

“Berjumpa denganku bukan suatu kejadian baik!” si Gagak menerangkan.

Ya, bertemu dengannya memang bukan suatu kejadian yang menyenangkan.

Burung gagak berbeda dengan burung nuri!.

Tak seorang manusiapun yang suka bertemu dengan burung gagak.

Bahkan menurut cerita kuno….. menurut kepercayaan orang-orang kuno……… bila burung gagak telah muncul, pertanda bencana sudah berada di ambang pintu.

Dan kini si burung gagak sudah datang, bencana apakah yang di bawa olehnya? … mungkin saja ia sendiri adalah bencana, suatu bencana yang tak mungkin dapat dihindari.

Kalau toh memang tak dapat dihindari lagi, lantas apa gunanya musti murung atau masgul karena hal itu?

Paras muka Yan Cap-sa telah pulih kembali dalam ketenangan dan keketusannya semula.

Si burung gagak memperhatikan pula pedangnya lalu memuji: “Ehmm ….. pedang bagus!”.

Siapa yang menyimpan benda mestika, dia bakal mati karena mestika tersebut. Demikian yang dikatakan ujar-ujar kuno.

Sudah barang tentu Yan Cap-sa memahami pepatah kuno itu atau paling sedikit ia pernah mendengarnya.

Yaa, nama besar serta pedangnya ibarat wangi-wangian yang berharga bagaikan tanduk kambing hutan yang bernilai tinggi sebagai bahan obat.

“Hingga kini sudah tujuh belas pedang yang kusimpan!” kembali si burung gagak menerangkan.

“Ehmmm…. Tujuh belas pedang? Tidak sedikit!”

“Yaa, memang tidak sedikit, bahkan ke tujuh belas pedang itu rata-rata adalah pedang ternama”

“Wah, kalau begitu tidak sedikit jago kenamaan yang sudah terbunuh ditanganmu!” kata Yan Cap-sa.

“Pedang Ko Thong dan pedang si elang terbang juga ingin kumiliki!”

“Bereskan saja mayat-mayat mereka itu, otomatis ke empat bilah pedang mereka akan menjadi milikmu”

“Kau hanya menginginkan pedang dari orang-orang mati?”

“Betul”

“Bunuhlah aku, maka pedangku akan menjadi milikmu pula!” ejek Yan Cap-sa tiba-tiba.

“Tentu akan kulakukan”

“Kalau begitu bagus sekali”

“Tidak, tidak bagus?”

“Apanya yang tidak bagus?”

“Hingga kini aku masih belum mempunyai keyakinan untuk membinasakan dirimu!”

Mendengar perkataan itu kontan saja Yan Cap-sa tertawa terbahak-bahak… keras nian tertawanya itu.

Secara tiba-tiba ia merasa bahwa orang ini betul-betul seekor burung gagak, sebab paling sedikit burung gagak tak pernah berbohong.

“Terutama terhadap tusukan yang telah kau gunakan untuk membinasakan si elang terbang dari luar perbatasan tadi,” kata si burung gagak lebih lanjut.

“Oh….. kau tak mampu memecahkan seranganku itu?” kata Yan Cap-sa sambil tertawa.

“Aku sendiripun tak berhasil menemukan seseorang di dunia ini yang sanggup memecahkan tusukan tersebut”

“Maksudmu tusukan itu sudah merupakan ilmu pedang yang tiada tandingannya di dunia?”

“Baik ilmu pedang dari Jit-toa-kiam-pay (tujuh perguruan pedang terbesar) maupun jago-jago dari empat keluarga persilatan terbesar sudah pernah kujumpai semuanya”

“Bagaimana tanggapanmu tentang kepandaian mereka?”

“Ilmu pedang mereka terlalu ketat dalam pertahanan, terlalu memandang serius nyawa sendiri, maka dari itu mereka tak sanggup menandingi dirimu”

Yan Cap-sa menghela napas panjang, katanya: “Hebat betul ketajaman matamu, sayang pengetahuanmu kurang luas!”

“Oya,” si gagak mendesis.

“Menurut apa yang kuketahui di dunia ini justru masih ada satu orang yang sanggup memecahkan tusukan maut itu, bahkan dapat ia lakukan semudah membalikkan telapak tangan sendiri”

“Kau pernah menyaksikan ilmu pedangnya?” tanya si burung gagak agak tertarik.

Yan Cap-sa mengangguk, katanya setelah menghela napas panjang.

“Ilmu pedang yang dimiliki itulah baru merupakan ilmu pedang yang benar tiada tandingannya di dunia ini!”

“Siapa orang itu?”

Yan Cap-sa tidak langsung menjawab, dia hanya memperhatikan ketiga buah jari tangannya.

“Kau maksudkan Sam-jiu-kiam (pedang tiga tangan) Kim Hui?” si burung gagak cepat berseru.

Konon menurut cerita orang di kala Sam-jiu-kiam sedang bertempur melawan orang, maka seolah-olah ia mempunyai tiga buah tangan yang melancarkan serangan secara bersama.

Pedangnya yang sebuahpun otomatis ikut berubah menjadi tiga batang pedang.

Sampai dimanakah kecepatan ilmu pedangnya, sampai dimanakah perubahan jurus yang dimilikinya, semuanya itu dapat dibayangkan dari julukan yang ia miliki.

Namun Yan Cap-sa menggelengkan kepalanya, ia berkata: “Bila seseorang ingin membunuh orang secara sungguhan, ia tidak perlu menggunakan tiga buah tangan, diapun tak perlu menggunakan tiga batang pedang tajam”

Ya, perkataan itu sungguh benar, seandainya kau sungguh-sungguh ingin membunuh orang sebatang pedangpun sudah lebih dari cukup.

“Kau tidak maksudkan dia bukan?” kata burung gagak kemudian.

“Ya, dialah Sam-sauya!”

“Sam-sauya yang mana? Sam-sauya dari keluarga mana?”

“Sam-sauya dari bawah tebing Cui-im-hong, tepi telaga Liok-sui-ou!”

Tiba-tiba sepasang tangan si burung gagak mengepal kencang.

“Tapi aku anjurkan kepadamu agar lebih baik jangan menjumpai dirinya…..!” kata Yan Cap-sa lagi.

Tiba-tiba si burung gagak tertawa.

Ia jarang tertawa, senyumnya tampak begitu kaku, begitu aneh dan tak sedap dilihat.

“Aku mengucapkan kata-kata semacam itu bukan dengan maksud untuk bergurau” kata Yan Cap-sa lebih lanjut.

“Aku sedang mentertawakan kau!” kata si gagak.

“Kenapa”

“Kau toh sudah tahu bahwa aku telah datang memangnya kau anggap aku dapat melepaskan dirimu dengan begitu saja?”

Yan Cap-sa menyatakan sangat setuju dengan ucapan tersebut.

Kembali si gagak berkata: “Meskipun aku tidak mempunyai keyakinan untuk membunuhmu, kau sendiripun tidak mempunyai keyakinan untuk membunuhku”

Yan Cap-sa menyatakan sangat akan kebenaran dari perkataan itu.

“Sebab itu kau hendak membakar hatiku agar aku berangkat ke Cui-im-hong dan bertanding lebih dahulu dengan Sam-sauya tersebut,” si gagak melanjutkan.

Kali ini Yan Cap-sa ikut tertawa, ya tertawa lebar malah.

“Kau anggap perkataanku hanya gurauan?” tegur si gagak.

“Tidak, aku sedang mentertawakan diriku sendiri”

“Oya? Kenapa?”

“Sebab apa kupikirkan dalam hati ternyata berhasil kau tebak dalam sekian pandang belaka”

“Jadi kau tidak bersedia untuk bertarung melawan diriku pada saat ini?”

“Sangat tidak bersedia”

“Kenapa?”

“Karena aku masih mempunyai janji”

“Janji macam apakah itu?”

“Janji kematian!”

“Dimana?”

“Di bawah Cui-im-hong, di depan telaga Liok-siu-ou!”

“Sudah kau ketahui bahwa kepandaianmu belum dapat menandinginya, mau apa lagi kau ke sana?”

“Suatu perjanjian kematian tidak akan bubar sebelum berjumpa!”

“Masa kau sengaja hendak menghantar diri untuk dibunuh olehnya?”

Yan Cap-sa tertawa, jawabnya dengan hambar: “Apakah kau merasa hidup itu adalah suatu kejadian yang menyenangkan?”

Si gagak terbungkam, ia tak sanggup menjawab lagi.

Yan Cap-sa masih tertawa, dibalik sekulum senyum itu terselip suatu nada ejekan yang amat sinis. Kembali katanya:

“Bagi seseorang yang berlatih pedang, cepat atau lambat akhirnya dia pasti akan mampus di ujung pedang orang. Tiada kesempatan atau harapan bagimu untuk menghindarinya”

Si gagak masih bungkam.

“Tak terhitung manusia yang kubunuh sepanjang hidup” kata Yan Cap-sa lebih jauh, “dan kini seandainya aku bisa mampus pula di ujung pedang seorang jago pedang yang paling tersohor di dunia ini, sekalipun harus mampus aku akan mampus dengan hati yang rela”

Si gagak menatapnya dengan tajam, lama, lama sekali, tiba-tiba bisiknya: “Kalau begitu, pergilah!”

Yan Cap-sa memberi hormat, sepatah katapun tidak diucapkan lagi, dia putar badan dan segera angkat kaki.

Ia tidak berjalan terlalu jauh, ketika kakinya kembali terhenti, sebab ia menemukan si burung gagak masih terus mengikuti di belakangnya, mengikuti terus bagaikan bayangan tubuhnya.

Ketika ia terhenti, si burung gagak ikut berhenti lalu menatapnya tajam-tajam.

“Aku dapat memahami maksud hatimu!” kata Yan Cap-sa menerangkan.

“Oya?”

“Aku boleh pergi, mengapa kau boleh ikut?”

“Rupanya kau tidak bodoh!”

“Akan tetapi kau tidak seharusnya musti ikut diriku ke sana?”

“Tidak, harus!”

“Kenapa?”

“Sebab kau tidak ingin melepas kesempatan yang sangat baik untuk menyaksikan pertarungan kalian”

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya kembali dengan ketus: “Bila dua orang jago tangguh sedang bertempur mereka tentu akan mengerahkan segenap kepandaian yang dimilikinya, seandainya kusaksikan pertarungan itu dari samping, pasti banyak titik kelemahan yang berhasil kutemukan dibalik permainan pedang kalian!”

“Yaa, perkataanmu memang masuk di akal,” kata Yan Cap-sa sambil menghela napas.

“Dalam pertarungan tersebut, baik kau atau dia yang menang, pada akhirnya orang terakhir yang masih hidup sudah pasti adalah aku!”

“Ya, aku tahu! Pada saat itu si pemenang tentu sudah kehabisan tenaga, sedang kau telah berhasil menemukan titik-titik kelemahan dari ilmu pedangnya, bila kau ingin membunuhnya, itulah kesempatan yang paling baik bagimu”

“Sebab itulah apakah aku harus melepaskan kesempatan sebaik itu dengan begitu saja?”

“Ya, memang tidak seharusnya?” sahut Yan Cap-sa.

Setelah menghela napas panjang, kembali katanya: “Hanya sayang kau masih sedikit keliru”

“Kekeliruan dibagian yang mana?”

“Pada hakekatnya dalam permainan pedang, Sam-sauya tidak terdapat titik kelemahan, kau tak bakal menemukannya!”

Sekarang mereka sudah mulai minum arak.

Kedai arak adalah kedai yang paling baik, arak yang diminum adalah arak yang paling baik, mereka selalu menginginkan segala sesuatu yang paling top, paling baik.

“Seusai membunuh orang, aku pasti akan minum arak” Yan Cap-sa menerangkan.

“Tidak membunuh orangpun, aku tetap minum arak” si burung gagak menanggapi.

“Setelah minum arak, aku pasti akan mencari perempuan”

“Tidak minum arakpun aku mencari perempuan”

Yan Cap-sa tertawa terbahak-bahak.

“Haahhh….. haaaahhhh… haaahhhh….. tidak kusangka kau adalah seorang bajingan yang suka minum arak dan bermain perempuan”

“Sama-sama…… setali tiga uang!”

Arak yang mereka minum tidak sedikit jumlahnya.

“Tampaknya kaupun seorang bajingan arak dan perempuan, hari ini biar aku mengalah sekali untukmu” kata Yan Cap-sa lagi.

“Mengalah apa?”

“Mengalah agar kau saja yang membayar rekening kita!”

“Oohhh… tidak perlu mengalah, tidak perlu sungkan-sungkan”.

“Tidak, kali ini aku harus mengalah, kali ini harus sungkan-sungkan”

“Tidak perlu, tidak perlu!”

“Aaaaah…. Harus, harus!”

Kalau orang lain bersantap akan berebut untuk membayar rekeningnya, maka mereka berebut untuk tidak membayar rekening.

“Bila ingin membunuh orang, biasanya dalam sakuku tidak membawa barang-barang yang merupakan beban daripada benda tersebut mengganggu gerak-gerikku!” kata Yan Cap-sa.

“Oooohh…. begitukah!”

“Dan uang merupakan benda yang paling mengganggu!”

Si burung gagak merasa akur dengan pendapat tersebut.

Bila seseorang harus membawa beberapa ratus tahil perak dalam sakunya, mana mungkin baginya untuk mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya semaksimal mungkin?

“Tapi kau toh dapat membawa uang lembaran uang kertas?” tanya burung gagak kemudian.

“Aku paling benci dengan uang kertas!”

“Kenapa?”

“Untuk selembar uang kertas, entah sudah berapa laksa kali berganti tangan, dari tangan yang lain, huuuuh…kotornya bukan kepalang!”

“Kau toh bisa menggunakan mutiara pada gagang pedangmu itu untuk ditukar dengan uang?”

Kali ini Yan Cap-sa tertawa.

“Kau anggap perkataanku adalah suatu lelucon?” tegur si urung gagak.

“Yaaa, suatu lelucon yang paling lucu di dunia ini”

Tiba-tiba ia merendahkan suaranya dan berbisik:

“Mutiara-mutiara itu semuanya palsu, yang asli sudah kujual semenjak dulu-dulu”

Si burung gagak tertegun, ia dibikin tercengang oleh kenyataan tersebut….

“Oleh sebab itulah hari ini aku musti berlalu sungguh-sungguh dan mempersilahkan kau yang membayar”

“Bila aku tidak datang bersamamu?”

Yan Cap-sa tersenyum, katanya: “Waktu itu, tentu saja akan kucari akal lain, tapi sekarang kau sudah ikut datang, buat apa aku musti memikirkan cara lainnya lagi?”

Si burung gagak tertawa lebar.

“Hei, apa yang kau tertawakan?” tegur Yan Cap-sa.

“Aku mentertawakan kau karena telah salah memilih orang”

Diapun merendahkan suaranya lalu berbisik:

“Keadaankupun tidak jauh berbeda denganmu hari ini. Sebetulnya aku datang untuk membunuh orang”.

“Kau juga benci dengan uang kertas?”

“Yaa, bencinya luar biasa!”

Sekarang giliran Yan-Cap-sa yang tertegun. Sampai sesaat dia hanya bisa membungkam.

“Maka dari itulah hari ini aku harus bersikap sungkan dan mempersilahkan kau saja yang membayar” kata si gagak akhirnya.

Sementara Yan Cap-sa masih menghela napas, tiba-tiba muncul si pemilik rumah makan, katanya sambil tertawa paksa:

“Kek-koan berdua tak perlu sungkan-sungkan, rekening kalian berdua telah dibayar oleh orang di bawah loteng sana”

Siapa yang telah membayar rekening mereka?

Kenapa ia membayarkan rekening mereka?

Pada hakekatnya mereka tak pernah memikirkannya, bertanyapun tentu saja tak pernah.

Terhadap mereka, persoalan tersebut tidak ada artinya.

Bisa makan minum secara gratis memang merupakan suatu peristiwa yang menyenangkan.

Bila seseorang sedang berada dalam keadaan riang gembira, seringkali arak yang diminumpun jauh lebih banyak dari takaran biasa.

Tetapi mereka tidak sampai mabuk.

Di kala mereka sudah hampir mabuk dibuatnya, tiba-tiba dari bawah loteng muncul dua orang perempuan. Dua orang perempuan yang amat cantik dengan dandanan yang amat bagus, perempuan jenis yang paling gampang menggiurkan hati prialah kedua orang itu.

Barang siapa berada dalam keadaan hampir mabuk, dia akan lebih gampang terpengaruh oleh segala macam godaan, terutama nafsu birahi.

Yan Cap-sa dan si burung gagak mulai tertarik, mereka sudah siap menggunakan akal untuk memancing kehadiran kedua orang itu.

Ternyata mereka tak perlu bersusah payah untuk memancing kehadiran kedua orang perempuan itu dengan akal.

Ya, mereka telah datang dengan sendirinya.

“Aku bernama Siau-hong!”

“Aku bernama Siau-cui!”

Kemudian sambil tertawa manis dan genit kedua perempuan itu menambahkan:

“Kami sengaja datang untuk melayani kalian berdua”

Sekarang Yan Cap-sa hanya bisa memandang ke arah si burung gagak dan si burung gagak memandang ke arah Yan Cap-sa.

Seandainya mereka pernah mampus di ujung pedang, mereka masih sempat menyaksikan mimik wajah mereka sekarang, tentu mereka akan merasa penasaran sekali atas kematian yang menimpa mereka.

Raut wajah maupun sikap mereka sedikitpun tidak mirip jago kenamaan yang pernah menggetarkan kolong langit, apalagi mirip seorang jagoan pedang yang tak berperasaan.

Sambil tersenyum kata Siau-hong: “Kalian berdua mau minum arak di sini atau minum arak di tempat kami adalah sama saja”

“Ya, benar” sambung Siau-cui, “bagaimanapun juga rekening kalian berdua telah dibayar orang lain”

Meskipun di dunia ini terdapat banyak orang baik dan perbuatan baik, namun tidak banyak bisa dijumpai kejadian sebaik ini.

“Sebenarnya nasibmu sedang mujur? Atau aku yang lagi mujur?” kata si burung gagak kemudian.

“Tentu saja nasibku yang sedang mujur?”

“Kenapa?”

“Konon bila seseorang sudah mendekati ajalnya, kadangkala nasibnya secara tiba-tiba dapat berubah menjadi lebih mujur”

Itu kejadian di hari pertama.

Ternyata keadaan pada hari kedua tidak jauh berbeda, kemanapun mereka pergi selalu ada yang membayarkan rekening bagi mereka.

Tapi siapa yang membayar rekening-rekening mereka itu? Dan kenapa berbuat demikian?

Baik Yan Cap-sa maupun si burung gagak tak ada yang bertanya, bahkan dipikirkanpun tidak.

Mereka selalu tidur setelah larut malam, tentu saja bangunnyapun juga tidak terlalu pagi.

Setiap hari bila mereka sudah melangkah keluar dari pintu penginapan, sebuah kereta kuda tentu siap menunggu di sana seakan kuatir kala mereka terlalu lelah semalam dan tak sanggup untuk berjalan kaki lagi……

Tapi berbeda dengan hari ini, mereka ingin berjalan kaki, mungkin sudah bosan menunggang kereta.

Atau mungkin karena cuaca hari ini tampak sangat baik.

“Jauhkah tebing Cui-im-hong dari sini?” tanya si burung gagak tiba-tiba.

“Tidak terlampau jauh”

“Berjalan macam begini aku sangat berharap bisa berjalan agak jauh sedikit tentu saja lebih jauh lebih baik”

“Kita boleh pelan-pelan berjalan ke situ”

Sebuah hutan lebat terbentang di depan sana, daunnya hijau segar dan kelihatan rimbun.

“Bagaimana kalau kita minum-minum arak dalam hutan sebelah depan sana?” kata Yan Cap-sa.

“Tapi mana araknya?”

“Tak usah kuatir, asal kita pingin minum, pasti ada orang yang menghantarkan arak untuk kita”

Terik matahari memancar dari tangan awang-awang.

Sinar keemas-emasan memancar di atas sebuah jalan raya, merasa berjalan di depan kereta kuda.

Dari arah lain tiba-tiba muncul pula sebuah kereta kuda kereta itu meluncur datang dan berhenti di belakang hutan.

Dari atas kereta melompat turun tiga orang, dua dewasa dan seorang anak-anak.

Dua orang dewasa itu langsung masuk ke hutan sedangkan si bocah berbaju hijau bertopi kecil itu malah keluar hutan, ia mengeluarkan seutas tali pinggang berwarna merah dan mengikatnya di atas dahan pohon-pohon di tepi hutan tersebut.

Kemudian bocah itupun ikut masuk ke dalam hutan.

Menyaksikan kesemuanya itu, Yan Cap-sa menghela napas panjang, katanya: “Tampaknya kita harus berpindah ke tempat lain untuk minum arak”.

“Tidak baikkah tempat ini?”

“Oooh…. baik sekali!”

“Kalau baik kenapa musti pindah?”

“Karena benda itu!” seraya berkata Yan Cap-sa menunjuk ke arah ikat pinggang merah diatas dahan pohon itu.

“Apa maksud benda itu?”

“Maksudnya untuk sementara waktu tempat ini akan menjadi daerah terlarang, siapapun tak boleh memasuki wilayah tersebut”

“Hmmm……peraturan darimanakah itu?” si burung gagak tertawa dingin.

Sebelum Yan Cap-sa membuka suara, tiba-tiba dari dalam hutan berkumandang suara khim (harpa). Suara itu melengking di udara dan mewartakan kabar gembira………

Sepasang tangan si gagak mengepal kencang!

Pada saat itulah tiba-tiba dari jalan raya muncul sebelas penunggang kuda, penunggang kuda itu rata-rata berbaju ringkas, bermuka bengis. Setiap orang menyoren golok besar dipunggungnya, pita merah pada gagang golok itu berkibar berhembus angin.

Ketika tiba di tepi hutan, para penunggang itu melompat turun dari kudanya masing-masing.

Ternyata mereka semua memiliki gerakan tubuh yang enteng dan lincah.

Tidak terlalu banyak jago dalam persilatan yang benar-benar berilmu tinggi tapi ke sebelas orang itu tampaknya sungguh merupakan jago yang tangguh.

Di antara ke sebelas orang itu, seorang laki-laki berlengan tunggal mempunyai kecepatan paling hebat, sambil menyerbu masuk ke dalam hutan bentaknya: “Serahkan nyawa kalian!”

Permainan khim dari balik hutan masih mengalun merdu, lembut dan membuat orang merasa nyaman.

Sementara itu, ke sebelas orang laki-laki tadi sudah menyerbu ke dalam hutan.

“Bukankah orang-orang itu datang dari Tay-heng?” tanya si burung gagak keheranan.

“Ehmmm…. Tay-heng toa-to memang betul-betul bernyali!” jawab Yan Cap-sa.

“Menurut pendapatmu, mau apa mereka kemari?”

“Mereka datang untuk menghantar kematian sendiri!”

Baru saja Yan Cap-sa menyelesaikan kata-katanya, sudah ada sesosok tubuh melayang keluar dari hutan dan terbanting keras-keras di atas tanah.

Ketika tubuhnya mencium permukaan tanah, ia sudah tak berkutik, bahkan bersuarapun tidak.

Dan orang itu ternyata bukan lain adalah laki-laki berlengan tunggal yang paling garang.

Petikan khim dari hutan masih kedengaran terus.

Bayangan manusiapun satu demi satu melayang keluar dari hutan, semuanya berjumlah sebelas orang.

Ke sebelas orang itu sudah melayang keluar semua, ketika terbanting di atas tanah, tubuh mereka sudah tidak berkutik lagi.

Ketika mereka menyerbu ke dalam hutan tadi, gerakan tubuhnya cukup cepat, tapi gerakan sewaktu mereka keluar ternyata jauh lebih cepat lagi.

“Ternyata mereka betul-betul datang untuk menghantar kematian!” kata si burung gagak dengan suara dingin.

“Agaknya…… bukan mereka saja yang datang mengantar kematiannya!”

“Yaa, betul, paling sedikit masih ada aku” sambung si burung gagak.

“Sekarang masih belum tiba gilirannya bagimu”

Si burung gagak tidak bertanya lebih lanjut.

Ya, sebab ia sudah melihat ada dua orang sedang berjalan melalui jalan raya itu.

Mereka adalah seorang dewasa dan seorang anak-anak.

Yang dewasa masih belum begitu tua, paling banter berumur tiga puluh tahunan, perempuan lagi.

Sepintas lalu dia tampak lemah dan tak bertenaga, perempuan itu cukup cantik wajahnya cuma sayang membawa kepandaian yang sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Yang kecil ialah lebih muda lagi daripada bocah yang mengikat ikat pinggang di bawah pohon tadi, sepasang biji matanya yang kecil bulat sedang berkeliaran memandang kesana kemari.

Siapapun yang menjumpainya pasti akan mempunyai pendapat yang sama, seorang bocah yang pintar cerdik dan menarik.

Akan tetapi apa yang dilakukannya seperti bukan suatu perbuatan yang cerdik.

Mereka sedang berjalan ke hutan itu.

Rupanya kejadian ini cukup menarik perhatian.

Yan Cap-sa berdua terbukti manusia. Macam si burung gagakpun merasa tak tega membiarkan mereka mengantar kematiannya, ia sudah bersiap siap untuk menghalangi jalan perginya.

Kedua orang itu agaknya juga melihat tali merah di atas dahan, tiba-tiba nyonya muda itu berkata:

“Lepaskan ikat pinggang itu!”

Dengan cekatan bocah itu melompat ke depan dan melepaskan ikat pinggang tadi kemudian ia mengeluarkan pula sebuah ikat pinggang berwarna hijau dan mengikatnya di tempat semula.

Setelah menyelesaikan tugasnya pelan-pelan mereka baru masuk ke dalam hutan.

Dua orang itu seolah-olah tak pernah melihat mayat yang bergelimpangan di tanah, merekapun tidak memperhatikan si burung gagak ataupun Yan Cap-sa.

Si burung gagak yang sebetulnya hendak menghalangi dua orang itu, entah apa sebabnya sekarang ia telah berubah pikiran.

Apalagi Yan Cap-sa, menggerakkan tubuhnyapun tidak.

Akan tetapi dari sorot mata mereka jelas terpancar suatu sikap yang aneh sekali.

Pada saat itulah, suara permainan khim dalam hutan tiba-tiba berhenti.

Angin berhembus lewat menggugurkan dedaunan, cahaya mentari menyinari seluruh jagad.

Setelah irama khim itu terhenti, sampai lama, lama sekali dari balik hutan belum juga kedengaran suara yang berisik.

Siapapun tak tahu apa yang telah terjadi dalam hutan tersebut…….

Siapakah pemetik khim itu?

Mengapa irama khim tersebut terhenti secara mendadak?

Apakah si gadis dan bocah itu mengalami nasib yang sama dengan orang-orang dari Tay-heng-to-bun, dilempar keluar dalam keadaan tak bernyawa?

Siapapun manusia di dunia ini tentu ingin tahu keadaan yang sesungguhnya, tidak terkecuali si burung gagak maupun Yan Cap-sa.

Oleh karena itulah mereka belum pergi, bahkan si kusir kereta yang mengikuti dari belakangpun ikut membelalakkan matanya untuk menyaksikan keramaian tersebut.

Tapi tiada keramaian yang dapat ditonton.

Tiada pula seorang manusia yang terlempar dari balik hutan.

Mereka hanya mendengar suara langkah manusia yang menginjak di atas daun-daun kering, orang itu berjalan sangat ringan dan sangat lambat.

Orang yang berjalan dipaling depan tak lain adalah si bocah yang mengikatkan tali merah di atas dahan pohon itu.

Dua rang berjalan di belakangnya, mereka berjalan sangat lambat. Seorang laki-laki dan seorang perempuan, tampaknya seperti sepasang suami isteri……

Usia mereka berdua tidak terlalu besar, tapi pakaiannya perlente dan gerak-geriknya cukup berwibawa.

Yang lelaki menyoren pedang dan kelihatannya tampan lagi perkasa, sedang yang perempuan bukan saja cantik jelita, lagi pula lembut dan menawan hati.

Seandainya mereka benar-benar adalah suami isteri, hakekatnya kedua orang itu merupakan sepasang yang cukup membuat orang menjadi kagum. Sayangnya paras muka kedua orang itu tampak memucat, seakan-akan ada sesuatu persoalan yang membuat hati mereka mendongkol.

Sebetulnya mereka hendak naik ke dalam kereta tapi setelah menjumpai si Burung gagak dan Yan Cap-sa yang berada di luar hutan, niat tersebut mereka urungkan.

Dua orang itu seperti membisikkan sesuatu kepada sang bocah, dan bocah itu segera lari mendekat, diawasinya Yan Cap-sa berdua dengan sepasang mata melotot besar kemudian tegurnya:

“Bukankah kalian sudah datang lama sekali?”

Yan Cap-sa mengangguk.

“Semua peristiwa yang barusan berlangsung telah kalian saksikan pula?” desak si bocah lebih jauh.

Si Burung Gagak mengangguk.

“Engkau tahu kami datang darimana?”

“Bukit Hwe-gan-san, lembah Ang-im-kok, perkampungan Hee-ho-san-ceng!”

“Aaaai…rupa-rupanya apa yang kau ketahui tidak sedikit!,” kata si bocah sambil menghela napas.

Meskipun suaranya masih berbau kekanak-kanakan, tapi caranya berbicara maupun sikapnya sewaktu mengutarakan ucapan tersebut sangat terlatih dan seakan-akan orang berpengalaman.

“Siapa namamu?” Yan Cap-sa ganti bertanya.

Tiba-tiba bocah itu menarik muka, katanya:

“Kau tak usah mencari tahu siapa namaku, aku bukan datang untuk mengikat tali persahabatan dengan kalian!”

“Lantas ada keperluan apa kau datang kemari?” tanya si burun gagak.

“Kongcu kami ingin meminjam tiga macam benda, setiap orang tiga macam!”

“Tiga macam benda apakah itu?”

“Sebuah lidah dan dua biji mata!”

Yan Cap-sa tertawa dan si burung gagak ikut pula tertawa.

Tiba-tiba bersamaan waktunya dua orang itu turun tangan, yang seorang mencengkeram lengannya sedang yang lain mencengkeram kakinya, lalu mereka membentak bersama:

“Terbanglah! Bocah muda……”

Bocah itupun terbang ke atas mengikuti bentakan tersebut……. “Wesss” Bagaikan bom udara yang meluncur ke udara, badannya melambung sampai tinggi sekali.

Kongcu itu masih berdiri sambil bergendong tangan seakan-akan tidak pernah menyaksikan adegan tersebut. Berbeda dengan isterinya, ia berkerut kening.

Sementara itu, tubuh si bocah yang terlempar ke udara tadi sudah meluncur kembali ke bawah.

Si burung gagak dan Yan Cap-sa kembali turun tangan bersama, dengan entengnya ia menerima tubuh si bocah lalu diletakkan di atas tanah.

Bocah itu sudah ketakutan setengah mati, sepasang kakinya menjadi lemas dan celananya basah oleh air kencing. Rupanya bocah itu mengompol karena ngerinya.

Sambil tersenyum Yan Cap-sa menepuk bahunya lalu berkata:

“Tidak menjadi soal sewaktu masih kecil dulu akupun sering dilempar orang ke udara macam keadaan sekarang”

“Betul, dengan berbuat demikian sama pula dengan sedang berlatih keberanian” si burung gagak menambahkan.

Bocah itu memutar sepasang biji matanya. Kalau dilihat dari sikapnya itu ia bersiap sedia akan melarikan diri.

“Benda yang diperintahkan untuk diambilkan belum kau dapatkan, bagaimana pertanggungan jawabmu nanti?,” tanya Yan Cap-sa.

“Aku…….”

“Tak usah bingung aku dapat mengajarkan sebuah cara kepadamu”

Bocah itu berdiam diri, rupanya ia sedang bersiap-siap menerima petunjuk.

“Bukankah kongcumu bernama Hee-ho kongcu?” tanya Yan Cap-sa kemudian.

Bocah itu manggut-manggut.

“Apakah dia yang suruh kau mengambil benda tersebut?”

Kembali bocah itu mengangguk.

“Kalau memang begitu kau boleh kembali kepadanya sambil bertanya, kalau toh dia menghendaki ketiga macam benda itu, mengapa tidak datang untuk mengambilnya sendiri?”

Kembali bocah itu mengangguk, kemudian memutar badan dan lari meninggalkan tempat itu.

Paras muka Hee-ho kongcu masih belum berekasi apa-apa, tapi isterinya sudah maju ke muka.

Caranya berjalan begitu lembut tapi suaranya merdu menawan hati. Ketika tiba di hadapan kedua orang itu, katanya:

“Aku bernama Si Ko-jin, yang berdiri di sebelah sana adalah suamiku Hee Ho-seng”

“Oh, rupanya Sau-cengcu Ang-im-kok!” desis Yan Cap-sa dengan suara ewa.

“Jika kalian berdua sudah pernah mendengar namanya, tentu kau ketahui bukan, manusia macam apakah dia?”

“Tidak, aku tidak tahu”

“Dia adalah seorang manusia yang sangat berbakat, bukan saja dalam ilmu silat, ilmu sastrapun cukup tinggi kepandaiannya. Terutama dalam hal ilmu pedang, jarang sekali ada orang yang mampu menandinginya”

Sekalipun anak perempuan suka memuji kehebatan suaminya, jarang diantara mereka yang memuji secara begini rupa di hadapan orang lain, sekalipun memuji dengan beberapa patah kata, tak urung merah juga pipinya karena jengah.

Tapi berbeda dengan perempuan ini, mukanya tidak merah, gerak-geriknya juga tidak jengah, seakan-akan ia sudah biasa melakukan kata-kata pujian semacam itu, atau memang ia sedemikian kagum dan hormat kepada suaminya sehingga memuji keunggulan sang suami merupakan kebanggaan baginya.

Diam-diam Yan Cap-sa menghela napas….. seandainya bisa ditemukan perempuan semacam ini, sungguh beruntung nasibnya.

Kembali Si Ko-jin berkata: “Terhadap manusia seperti dia, tentu saja kalian berdua tak akan berkelahi dengannya bukan?”

“Oya?!”

“Yaa, bukan saja berasal dari keturunan keluarga ternama, iapun menganggap dirinya luar biasa, bila kalian berdua sampai berkelahi dengannya, maka keadaan tersebut ibaratnya telur ayam diadu dengan batu, sebab itu kuanjurkan kepada kalian berdua untuk…………”

“Untuk pasrah saja dan mempersembahkan lidah dan sepasang mata kami kepadanya?” lanjut Yan Cap-sa.

Si Ko-jin menghela napas panjang.

“Ya, meskipun cara tersebut kurang sedap tampaknya, paling sedikit lebih enakan daripada mengirim nyawa sendiri ke neraka!”

Yan Cap-sa kembali tertawa, tiba-tiba katanya: “Tentunya kongcu-ya yang lihay dalam ilmu silat maupun ilmu sastra itu bukan seorang bisu, bukan?”

“Tentu saja bukan! Dia normal dan segar bugar!”

“Lantas ucapan-ucapan semacam itu kenapa tidak dia ucapkan sendiri?”

“Hmmm…..! Sekalipun dia itu bisu, pantat tentunya punya bukan? Kenapa kentut sebau itu tidak dia lepaskan sendiri dari lubang pantatnya…..?” si burung gagak menambahkan.

Paras muka Hee-ho Seng berubah hebat.

“Jika ia tidak mau kemari, kenapa bukan kita saja yang ke situ?” Yan Cap-sa mengusulkan.

“Bagus!”

“Kau yang akan kesana? Atau aku saja?”

“Kau!”

“Konon pedang seribu ular miliknya bukan saja merupakan sebilah pedang bagus, bahkan terhitung pula sebagai sebilah pedang yang aneh”

“Ehmmm….. konon memang begitu!”

“Seandainya ia mampus, pedang tersebut akan menjadi milik siapa?”

“Milikmu!”

“Kau tidak menginginkan pedang itu?”

“Kenapa tidak berusaha untuk mendapatkannya?”

“Karena aku enggan berkelahi dengan cucu kura-kura semacam dia, apalagi sejak pandangan pertama aku sudah muak melihat tampang wajahnya”

Belum habis ia mengucapkan kata-kata tersebut, sesosok bayangan manusia sudah menyambar lewat.

Tahu-tahu Hee-ho Seng telah muncul dihadapannya dengan wajah hijau membesi, teriaknya dengan suara dingin:

“Engkaulah orang yang sedang kucari!”

“Kalau begitu cepat-cepatlah cabut pedang!” ejek si burung gagak.

Hee-ho Seng meloloskan pedangnya.

Itulah pedang seribu ular yang tak pernah mempunyai perasaan, sebilah pedang mustika yang dapat menciptakan beribu-ribu bintang seluruh angkasa.

Ya, tak dapat dibantah pedang itu memang sebilah pedang aneh.

Di kala tangannya digetarkan, pedang tersebut seolah-olah telah berubah menjadi beribu-ribu ekor ular perak yang menciptakan bintang di seluruh angkasa.

Pedang itu memang hebat, seperti patah menjadi beberapa bagian dalam waktu singkat dan pecahan tersebut mengancam setiap tempat penting di tubuh manusia.

Tentu saja bagian-bagian penting di tubuh si burung gagak.

Burung gagak bisa terbang, tapi sekarang tak mampu terbang lagi, tubuhnya berputar kencang sekilas cahaya pedang berkilauan dan melindungi sekujur badannya.

“Traaaang…..!” beratus-ratus pecahan pedang itu mendadak merapat kembali, kemudian menusuk ke tenggorokannya.

Rupanya di atas pedang tersebut telah dipasang semacam tombol rahasia yang bekerja rangkap, bisa dipakai untuk memecahkan senjata itu menjadi beberapa bagian, bisa juga digunakan untuk menggabungkannya kembali.

Bila digabungkan kembali maka bentuknya berwujud pedang, sebaliknya jika dipisahkan maka bentuknya akan berubah menjadi beratus-ratus senjata rahasia yang antara satu dengan lainnya diikat dengan seutas benang kuat….

Yan Cap-sa menghela napas panjang, katanya: “Aku yang seharusnya melangsungkan pertarungan ini, sebab akupun menginginkan pedang itu”

Tiba-tiba terdengar suara dentingan nyaring yang memekakkan telinga, seperti suara hujan yang menimpa di atas jendela……

Pada saat itulah si burung gagak telah melancarkan empat puluh sembilan buah tusukan berantai, semua tusukan tersebut menghajar telak di setiap keping pedang seribu ular yang terpecah belah itu.

Pedang seribu ular menjadi lemas kembali, seakan-akan sebuah ruyung panjang yang memancarkan sinar keperak-perakkan, pedang si burung telah melingkar pada gagang ruyung tersebut.

Paras muka Hee-ho Seng berubah hebat, sambil memutar badan dia melejit ke tengah udara mengikuti gerakan perputaran tersebut, ia melepaskan diri dari belenggu pedang musuh, kemudian…… “Kraaak” senjata itu menggabung kembali menjadi wujud pedang.

Yan Cap-sa segera berkata: “Pertarungan kalian berlangsung seimbang, tak ada yang menang tak ada pula yang kalah, sekarang tiba giliranku untuk melakukan pertempuran!”

Hee-ho Seng tertawa dingin, sinar matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu, mendadak paras mukanya berubah, bahkan kali ini berubah jauh lebih pucat dari keadaan semula.

Rupanya secara tiba-tiba ia menemukan bahwa ia telah kehilangan seseorang.

Bocah itu sudah tergeletak di tanah, tampaknya di totok jalan darahnya oleh orang, sedang Si Ko-jin lenyap tak berbekas.

Sekali tendang Hee-ho Seng membebaskan jalan darah bocah itu, kemudian bentaknya: “Siapa yang melancarkan serangan kepadamu?”

“Nyo….nyonya…..!” jawab bocah itu dengan wajah memucat.

“Dan nyonya?”

“Nyonya sudah kabur!”

Bocah itu masih duduk sambil menangis, Hee-ho Seng telah melakukan pengejaran sedang Yan Cap-sa maupun si burung gagak tidak menghalangi kepergiannya.

Bila binimu secara tiba-tiba melarikan diri, bagaimana perasaanmu waktu itu? Rupanya mereka dapat memahami perasaan orang.

Cuma, ada satu hal yang tak pernah mereka duga, bahkan mimpipun tak pernah menduganya. Seorang istri yang begitu lembut, begitu halus, begitu cantik dan memuji suaminya sendiri ternyata sudah kabur dikala suaminya sedang beradu jiwa dengan orang lain.

Sepintas lalu mereka menyerupai sepasang sejoli yang hidup harmonis, yang lelaki ganteng sedang yang perempuan cantik jelita, malah Yan Cap-sa pun merasa kagum.

Tapi, mengapa ia kabur?

Tiba-tiba Yan Cap-sa merasakan suatu kesedihan yang sukar dilukiskan dengan kata-kata, tentu saja bukan sedih lantaran dirinya, lebih-lebih tak mungkin bersedih hati karena toa-sauya itu.

Ia bersedih hati untuk umat manusia di dunia ini.

Siapa yang menduga bahwa banyak kejadian yang tak berkenan di hati, banyak kejadian yang tak berbahagia, tidak menyenangkan seringkali bersembunyi dibalik kebahagiaan dan kegembiraan.

Ya, siapa yang menduga?

Bocah yang duduk menangis di tanah telah pergi, seorang bocah lain yang lebih kecil muncul sambil tertawa riang.

Larinya tidak terlampau cepat, tetapi sekejap mata telah berada di hadapan Yan Cap-sa serta si burung gagak.

Paling banter umurnya cuma tujuh delapan tahun.

Seorang bocah yang baru berumur tujuh delapan tahun, ternyata memiliki ilmu meringankan tubuh sedemikian hebatnya, siapa yang akan percaya kalau kejadian ini adalah suatu kenyataan?

Tapi Yan Cap-sa dan si burung gagak mau tak mau harus mempercayainya, karena mereka menyaksikan kejadian tersebut dengan mata kepala sendiri.

Bocah itu sedang memandang ke arah mereka sambil tertawa, manis nian tertawanya.

Di waktu-waktu biasa, si burung gagak tidak begitu suka dengan anak kecil.

Ia selalu beranggapan bahwa bocah cilik ibaratnya seekor kucing kecil atau anjing cilik, lelaki manapun yang melihatnya akan menyingkir sejauh-jauhnya.

Tapi kali ini dia tidak pergi, malah sebaliknya bertanya:”Siapa namamu?”

“Aku bernama Siau Tau-yan (si memuakkan)”

“Tapi kau tidak kelihatan memuakkan, kenapa orang memanggilmu si memuakkan?”

“Kau sendiri seorang manusia, kenapa orang memanggilmu si burung gagak?” bocah itu balik bertanya.

Si burung gagak ingin tertawa, tapi ia tak mampu tertawa. Bukankah burung gagakpun merupakan jenis burung yang paling memuakkan?

“Kau tahu kalau dia bernama burung gagak?” tanya Yan Cap-sa.

“Hmmm……pertanyaan yang berlebihan!”, tukas si memuakkan.

Ya, pertanyaan Yan Cap-sa memang pertanyaan yang berlebihan, jika si Memuakkan tak tahu dia bernama si burung gagak, kenapa ia dapat memanggilnya sebagai si burung gagak?

Kembali si Memuakkan berkata: “Bukan saja aku tahu kalau ia bernama si burung gagak, akupun tahu kau bernama Yan Cap-sa, sebab dahulu ada orang bernama Yan Jit (walet tujuh) lalu ada pula yang bernama Yan Ngo (walet lima), karena kau merasa dirimu masih lebih kuat sebagian bila dibandingkan dengan mereka berdua yang bergabung, maka kau menamakan dirimu Yan Cap-sa (Walet tiga belas)!”

Yan Cap-sa tertegun! Memang itulah maksud sebenarnya dari nama yang dipakai sekarang, hal ini merupakan rahasia pribadinya, ia tak habis mengerti mengapa si Memuakkan dapat mengetahui tentang hal ini.

“Kau tak usah keheranan” kata si Memuakkan lebih lanjut, “sesungguhnya aku sama sekali tidak tahu kau walet ke berapa, aku mengetahuinya ini karena enciku menceritakan kesemuanya ini kepadaku!” Kejadian ini sungguh berada di luar dugaan.

Nyonya muda yang masuk ke dalam hutan bersamanya tadi lebih pantas menjadi ibunya daripada encinya.

“Apakah encimu punya nama?” tanya Yan Cap-sa kemudian.

“Tentu saja punya!”

“Siapa namanya?”

“Apakah kau bisu?” Si Memuakkan menukas.

Yan Cap-sa cepat menggeleng.

“Apakah kau tak punya kaki?” kembali si Memuakkan bertanya.

Yan Cap-sa menundukkan kepalanya seakan-akan sedang memeriksa apakah ia masih mempunyai kaki atau tidak.

“Kalau kau merasa masih mempunyai kaki, bukan bisa malah, kenapa tidak menanyakan sendiri kepadanya?”

Yan Cap-sa segera tertawa lebar.

“Yaaaa…. Lantaran aku bukan orang buta, aku masih dapat melihat!” jawabnya.

“Melihat apa?”

Sambil menuding ikat pinggang hijau di atas dahan pohon itu, kata Yan Cap-sa: “Kau sendiri yang mengikat ikat pinggang tersebut di sana, tentunya kau memahami bukan apa maksudnya?”

“Maksudmu tempat ini sudah menjadi milik kami, maka bila bukan orang bisu yang masuk ke dalam, keluarnya akan menjadi bisu, mempunyai kaki sewaktu masuk, keluarnya akan kehilangan kaki?”

Yan Cap-sa tidak membantah, iapun enggan melakukan perdebatan.

Itulah peraturan dari empat keluarga persilatan di dunia dewasa ini, peraturan yang diakui setiap orang.Bila tidak mempunyai ikatan dendam sedalam lautan, siapapun tak ingin melanggar peraturan tersebut.

Siapapun yang melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, sedikit banyak harus memahami peraturan-peraturan yang berlaku di dunia pada saat itu, tidak terkecuali Yan Cap-sa.

“Tampaknya segala persoalan dapat kau pahami, sayang ada satu hal yang tak dapat kau mengerti” kata si memuakkan lagi.

“Oya?”

“Sekarang, kendatipun kau tak ingin masuk juga tak mungkin”

“Kenapa?”

“Sebab enciku yang menyuruh aku menitahkan kau masuk!”

Suasana dalam hutan itu tenang dan damai, sampai-sampai injakan kaki pada daun keringpun kedengaran begitu lembut dan syahdu. Semakin masuk ke dalam hutan itu, suasana musim rontok semakin terasa… bukan udara saja terasa dingin, banyak daun yang berguguran di tanah.

Mengapa ia hendak menjumpainya? Bahkan mengadakan pertemuan di bawah empat mata?

Yan Cap-sa tidak habis mengerti, tapi diapun tak perlu berpikir panjang, sebab ia telah menjumpai dirinya……

Di bawah sebatang pohon tua yang sudah layu, terbentang sebuah tikar baru, di atas tikar terdapat sebuah khim, sebuah pedupaan dan sebuah poci arak.

Rupanya benda-benda itu merupakan peninggalan dari Hee-ho Seng, sebab terlampau terburu-buru ketika ia meninggalkan tempat itu tadi. Apakah ia pergi karena diusir? Dan perempuan murung yang duduk di bawah pohon itulah yang mengusirnya pergi?

Sepintas lalu perempuan itu bukan saja tampak murung dan sedih, tubuhnyapun lemah tak bertenaga, seakan-akan tak akan tahan menghadapi sebuah pukulan yang paling ringan.

Yan Cap-sa menghampirinya dengan langkah yang pelan dan sangat berhati-hati seakan-akan kuatir kalau ia sampai dibikin terkejut. Ia sudah mendongakkan kepalanya dan mengawasi wajahnya dengan sepasang mata yang bening.

“Kau yang bernama Toh-mia Yan Cap-sa (Walet tiga belas perenggut nyawa)…?” tegurnya.

Yan Cap-sa mengangguk.

“Nona datang dari tebing Cui-im-hong?”

Ia kenal dengan ikat pinggang hijau di luar hutan sana, itulah lambang dari Cui-im-hong, telaga Liok-sui-ou. Siapa tahu dia menggelengkan kepalanya malah.

Yan Cap-sa terpana, ia tak habis mengerti kalau bukan anggota Cui-im-hong, kenapa berani menggunakan lambang dari Cui-im-hong?

“Aku datang dari Kanglam, Jit-seng-tong tepatnya”, kata perempuan itu dengan suara yang lemah lembut, “aku bernama Buyung Ciu-ti!”

Yan Cap-sa makin terperanjat lagi.

Jit-seng-tong di wilayah Kanglam termasuk salah satu di antara empat keluarga besar persilatan.

Buyung Ciu-ti bukan saja merupakan gadis tercantik di dunia persilatan, iapun tersohor sebagai anak yang berbakti kepada orang tuanya.

Demi merawat ayah-bundanya yang banyak penyakitan, ia telah mengorbankan masa remajanya yang paling indah dalam kehidupannya ini.

Sekarang kenapa secara tiba-tiba ia muncul di sini? Jangan-jangan pemilik Jit-seng-tong yang disebut orang Kanglam Tay-hiap Buyung Tin telah meninggal dunia? Nama besar Jit-seng-tong tidak berada di bawah nama Cui-im-hong, tapi mengapa ia gunakan lambang dari keluarga lain?

Rupanya Buyung Ciu-ti dapat menebak jitu apa yang dipikirkan orang, tiba-tiba katanya: “Ayahku belum mati meski banyak penyakit yang dideritanya, dalam tiga lima tahun beliau belum akan meninggal dunia”

Yan Cap-sa menghembuskan napas panjang. “Semoga tubuhnya selalu sehat wal’afiat dan bisa hidup beberapa tahun lagi”

Beberapa patah kata itu betul-betul muncul dari dasar sanubarinya yang bersih.

Buyung Tin memang seorang pendekar sejati yang jujur dan bijaksana, jarang sudah orang dapat menjadi manusia segagah dan sejujur dia dalam dunia persilatan dewasa ini.

“Kemunculanku dalam dunia persilatan kali ini tanpa sepengetahuan dirinya, aku pergi secara diam-diam dan ia sama sekali tidak tahu,” kata Buyung Ciu-ti lagi.

“Kenapa?,” Yan Cap-sa ingin mengucapkan perkataan tersebut.

Tapi sebelum pertanyaan itu diajukan, Buyung Ciu-ti melanjutkan kembali kata-katanya: “Sebab aku ingin membunuh seseorang!”

Dibalik sorot matanya yang sayu dan penuh kesedihan, tiba-tiba memancarkan kesedihan dan kebencian yang luar biasa. Ia pasti sangat membenci orang itu… tapi siapakah dia?

Yan Cap-sa tidak berani bertanya, diapun tak ingin mencampuri masalah yang menyangkut empat keluarga besar persilatan.

Sinar mata Buyung Ciu-ti seolah-olah sedang memandang ke tempat kejauhan, seakan-akan dia sendiri ikut berada di kejauhan, lama, lama sekali akhirnya pelan-pelan ia baru berkata:

“Tentunya kalian tahu bukan bahwa aku adalah seorang anak yang berbakti kepada orang tua?”

Yan Cap-sa membenarkan.

“Selama tujuh tahun belakangan ini sudah empat puluh tiga kali pinangan yang kutolak,” Buyung Ciu-ti melanjutkan.

Tentu saja hanya keturunan orang-orang ternama yang berhak untuk mengajukan pinangan kepada keluarga Jit-seng-tong.

“Tahukah kau, mengapa kutolak semua pinangan mereka?,” tanya Buyung Ciu-ti lagi.

“Sebab kau tak tega meninggalkan ayahmu!”

“Kau keliru besar!”

“Oya, Kenapa?”

“Aku bukan anak berbakti seperti yang dibayangkan orang lain, aku…..aku……”

Sambil menggenggam kencang sepasang tangan sendiri, tiba-tiba serunya: “Aku tidak lebih hanya seorang penipu, bukan saja menipu orang lain, akupun telah menipu diriku sendiri”

Yan Cap-sa terpana.

Ia tak berani memandang lagi ke arahnya, sebab matanya sudah menjadi merah, air mata setiap saat mungkin akan meleleh keluar. Ia tak ingin menyaksikan perempuan menangis, diapun tak ingin tahu apa sebabnya perempuan itu menangis.

Sayang, perempuan itu telah mengemukakan sendiri sebab musababnya.

“Selama ini aku menolak pinangan orang lain lantaran aku selalu menunggu dia yang datang meminangku”

“Dia? Siapakah dia?”

Apakah orang yang hendak dibunuhnya itu?

Akhirnya air mata meleleh keluar membasahi pipi Buyung Ciu-ti, kembali ia berkata: “Ia pernah berjanji akan datang kemari bahkan berulang kali memberikan janjinya”

…..namun ia tak pernah datang.

…..seorang laki-laki yang tak berperasaan telah menggunakan perkawinan sebagai umpan untuk menipu seorang gadis yang mudah jatuh cinta.

…..bukan hanya dia seorang yang pernah mengalami tragedi semacam itu.

Ya, sejak dahulu sampai sekarang, tragedi itu sudah berulang kali terjadi, bahkan hingga kini setiap waktu setiap saat mungkin akan terulang kembali tragedi semacam ini.

Yan Cap-sa tidak bersedih hati oleh tragedi yang menimpanya.

Sebab tragedi yang menimpa dirinya terhitung suatu tragedi yang sungguh-sungguh menyedihkan hati. Tragedi orang lain, sulit untuk menembusi perasaan hati manusia semacam Yan Cap-sa.

“Aku kenal dengannya pada usia enam belas tahun, ia suruh aku menunggu dirinya selama tujuh tahun,” kata Buyung Ciu-ti.

Tujuh tahun! Betapa panjangnya waktu……….

Dari usia enam belas sampai usia dua puluh tiga, bukankah masalah usia merupakan masa terindah bagi seorang gadis remaja?

Dalam kehidupan seorang manusia, di dunia ini, ada berapa banyak masa tujuh tahun seperti ini?

Yan Cap-sa mulai menghela napas dalam hati kecilnya.

Ia suruh perempuan itu menunggu selama tujuh tahun, hal ini sama artinya telah menipu dirinya.

Ia mengira perempuan itu pasti tak dapat menunggu selama ini, ia mengira dalam tujuh tahun kemudian ia pasti akan melupakan dirinya.

Yan Cap-sa adalah seorang pria, tentu saja ia sangat memahami perasaan seorang pria.

Tapi apa yang direnungkan tidak sampai diutarakan, ia dapat merasakan bahwa tujuh tahun dalam penantian adalah suatu pengalaman yang tak akan terlupakan untuk selamanya, selama itu berapa banyak air mata telah dicucurkan, berapa banyak siksaan telah dirasakan.

“Sudah kau lihat bocah tadi?” kembali Buyung Ciu-ti bertanya, “dia bukan adikku!”

“Bukan?”

“Ya, bukan. Dia adalah putraku, anak hasil hubungan gelapku dengan orang itu”

Sekali lagi Yan Cap-sa tertegun.

Sekarang dia baru mengerti kenapa ia musti menunggu selama tujuh tahun, kenapa begitu membenci orang itu. Bahkan sekarang dia sendiripun ikut berduka atas tragedi yang menimpa perempuan itu.

“Aku memberitahukan kesemuanya ini kepadamu bukan lantaran agar kau ikut bersusah hati atas musibah yang menimpa diriku,” kata Buyung Ciu-ti lagi.

Secara tiba-tiba saja suaranya berubah menjadi dingin, sinar matanya yang sayu ikut berubah pula menjadi setajam sembilu.

“Ku undang kedatanganmu kemari karena aku berharap agar kau bunuhkan seseorang bagiku,” ia melanjutkan ketus.

“Membunuh orang itu?”

“Ya, benar!”

“Sayang, aku hanya membunuh dua jenis manusia!”

“Orang-orang yang mempunyai ikatan dendam denganmu?”

Yan Cap-sa mengangguk.

“Dan yang sejenis lagi adalah orang-orang yang ingin membinasakan diriku,” ia menambahkan.

Sesudah berhenti sejenak, katanya lagi: “Maka dari itu aku berharap agar kau dapat memahami satu hal”

“Katakanlah!” kata Buyung Ciu-ti

“Bila kau bertekad ingin membinasakan orang itu, maka kau harus turun tangan sendiri, sebab tali simpul yang membelenggu dirimu hanya bisa dibebaskan olehmu sendiri”

“Tapi aku tak dapat berbuat demikian”

“Kenapa?”

“Sebab…..sebab aku tak ingin bertemu lagi dengannya”

“Apakah karena kuatir setelah bertemu lagi dengannya nanti maka kau menjadi tak tega untuk turun tangan?”

Sepasang tangan Buyung Ciu-ti mengepal semakin kencang.

Tentu Yan Cap-sa mengetahui apa yang sedang dipikirkan perempuan itu, ia menghela napas panjang.

“Aaaai….bila tak tega, buat apa mesti membinasakannya?” ia berbisik.

Buyung Ciu-ti menatapnya tajam-tajam, tiba-tiba ia berkata: “Akupun berharap kepadamu agar kau bisa memahami tentang satu persoalan….”

“Coba katakan!”

“Aku bertekad membinasakan orang itu, bahkan engkau pula yang harus melaksanakan tugas ini!”

“Kenapa?”

“Sebab orang itu bernama Cia Siau-hong!”

“Cia Siau-hong dari telaga Liok-sui-ou?” kata Yan Cap-sa dengan wajah agak berubah.

“Ya, dialah orangnya!”

Di ruang tengah perkampungan Sin-kiam-san-ceng yang berada di bukit Cui-im-hong telaga Liok-sui-ou, terbentang sebuah papan nama yang besar sekali.

Di atas papan nama itu terukir lima huruf besar, lima huruf yang terbuat dari emas: “Thian-he-tit-it-kiam” Pedang nomor wahid di dunia.

Bukan berarti orang-orang dari perkampungan itu tekebur dan membanggakan diri dengan memberi julukan buat perkampungan sendiri. Julukan itu mereka dapatkan dari hadiah para jago pedang yang bertanding di puncak bukit Hoa-san, dengan setail emas murni tiap orang, mereka ciptakan papan nama itu dan diberikan untuk Cia Thian.

Cia Thian adalah pemilik pertama dari perkampungan Sin-kiam-san-ceng.

Kejadian ini sudah berlangsung lama, lama sekali, sekalipun huruf emas pada papan nama itu masih memancarkan sinar gemerlapan, nama julukan Thian-he-tit-it-kiam sudah tidak berwujud lagi.

Pada seratus tahun belakangan ini, sudah tiada seorang manusiapun yang dapat disebut jago pedang nomor wahid di dunia.

Kejayaan serta kepamoran Sin-kiam-san-ceng pun makin lama ikut semakin redup sehingga tiba pada generasi ini.

Ya, generasi sekarang memang berbeda dengan generasi-generasi sebelumnya, sebab pada generasi sekarang telah muncul seorang manusia yang luar biasa, bukan ilmu pedangnya saja yang lihay, bahkan sastrapun tak kalah hebatnya.

Orang ini pernah mengalahkan Hoa Sau-kun seorang jago pedang dari perguruan Hoa-san pada tiga belas tahun berselang.

Ketika itu dia baru berusia sebelas tahun.

Sejak dilahirkan, orang ini seakan-akan telah membawa datang segala kebahagiaan dan kejayaan.

Setelah ia dilahirkan, tak seorang manusiapun di dunia ini dapat menandingi kejayaan serta ketenaran yang diperolehnya.

Dia adalah seorang jago pedang yang tiada duanya di dunia ini, seorang manusia berbakat dari dunia persilatan. Bukan saja ia cerdik, gagah dan perkasa, iapun seorang pendekar sejati yang berjiwa jujur dan penuh kebijaksanaan.

Dalam sejarah kehidupannya, walaupun siapapun juga orang itu, jangan harap bisa menemukan setitik kelemahan dari tubuhnya.

Orang itu bukan lain adalah Sam-sauya (Tuan muda ketiga) dari perkampungan Sin-kiam-san-ceng.

Orang ini tak lain adalah Cia Siau-hong.

Suasana dalam hutan sangat hening, ditengah kelembaban udara disekitar tempat itu, terendus bau daun yang mulai membusuk.

Tapi Yan Cap-sa seolah-olah tidak merasakan bau itu, bahkan napasnya nyaris terenti ketika mendengar nama orang itu.

Lewat lama, lama sekali, ia baru menghembuskan napas panjang.

“Aku mengetahui orang ini,” demikian bisiknya.

“Ya, sudah tentu kau harus tahu, sebab kalian masih mempunyai sebuah janji yang tak akan buyar sebelum mati”

Yan Cap-sa tak dapat menyangkal perkataan itu, katanya: “Ya, aku memang telah berjanji untuk menjumpainya”

“Kau tak pernah batalkan setiap perjanjian yang telah kau buat….. bukan?” tanya Buyung Ciu-ti.

“Selamanya tak pernah!”

“Kalau begitu perjanjianmu kali ini mungkin adalah perjanjianmu yang terakhir”

“Masa iya?”

“Pernah kusaksikan permainan pedangmu, tapi kau masih bukan tandingannya!”

“Kalau sudah tahu, mengapa masih menyuruh aku untuk membunuhnya…?” Yan Cap-sa tertawa getir.

“Sebab kau telah bertemu denganku”

“Kau…..!”

“Ilmu pedangnya sudah berhasil melebur jadi satu dengan perasaan dan jiwanya, hampir boleh dibilang telah melampaui batas maksimal dari suatu permainan pedang”

“Aaaai….dia memang seorang yang berbakat, akupun pernah menyaksikan dia turun tangan,” Yan Cap-sa menghela napas.

“Sudah kau temukan juga titik kelemahan dibalik permainan pedangnya?”

“Masa dalam permainan pedangnya masih ada titik kelemahan? Tidak mungkin ada”

“Ada!”

“Sungguh ada?”

“Pasti ada, meski hanya setitik saja”

“Dan kau tahu?”

“Hanya aku seorang yang tahu!”

Mencorong sinar tajam dari balik mata Yan Cap-sa.

Ia percaya apa yang dikatakan bukan kata-kata bohong, seandainya di kolong langit masih ada seorang yang mengetahui titik kelemahan dalam permainan pedang Sam-sauya, maka orang itu pasti adalah dia.

Sebab mereka pernah saling mencintai.

Atau paling sedikit dikala mereka akan memiliki bocah itu, jiwa dan raga mereka pernah bersatu. Hanya seseorang yang amat dicintainya yang akan mengetahui rahasia tersebut.

Bagi seorang jago pedang yang tiada taranya di dunia ini, titik kelemahan di dalam permainan pedangnya merupakan suatu rahasia yang paling besar dalam sejarah hidupnya.

Bukan saja sepasang matanya saja yang memancarkan sinar tajam, jantung Yan Cap-sa ikut berdebar keras.

Dia seorang yang berlatih pedang pula.

Ia telah mempersembahkan semua jiwa dan cintanya kepada pedangnya. Persembahan bukan hanya suatu persembahan yang agung, melainkan suatu pengorbanan pula yang harus dibayar dengan segala kesengsaraan dan kesulitan.

Tapi pengorbanannya bukan suatu pengorbanan yang sia-sia.

Sinar kebanggaan di sat berhasil merenggut kemenangan, sudah cukup untuk menyinari seluruh kehidupannya.

Tujuannya berlatih pedang adalah untuk mencari kemenangan, bukan mencari kematian.

Ya, sudah pasti tidak!

Maka di kala ada kesempatan untuk mencari kemenangan, siapakah yang sudi melepaskannya dengan begitu saja?

Ketika menjumpai sinar matanya yang mencorong, Buyung Ciu-ti segera memahami bahwa orang itu sudah dibuat tertarik oleh perkataannya.

Dengan cepat ia berkata lebih lanjut: “Oleh sebab itu di kolong langit dewasa ini hanya aku seorang yang bisa membantumu untuk mengalahkan dia, dan hanya kau seorang yang sanggup membinasakan dirinya”

“Kenapa hanya aku seorang?”

“Sebab asal salah satu jurus dari ketiga belas pedang perenggut nyawamu mengalami sedikit perubahan, maka kau sudah sanggup untuk membinasakan dirinya!”

“Jurus yang mana?”

“Jurus ke empat belas!”

Sudah terang dia tahu kalau Toh-mia-cap-sa-kiam hanya terdiri dari tiga belas jurus, kenapa sekarang dapat muncul jurus yang ke empat belas? Kalau orang lain, mungkin dia tak akan habis mengerti.

Tapi Yan Cap-sa mengerti.

Walaupun Toh-mia-cap-sa-kiam hanya terdiri dari tiga belas macam gerakan jurus, namun perubahan yang dikandung di dalamnya justru terdiri dari empat belas perubahan.

Pada perubahan yang terakhir itulah terkandung seluruh intisari dari jurus serangannya. Disitulah tersimpan roh atau nyawa dari permainan pedangnya.

Roh itu memang tidak nampak, tapi tiada seorang manusiapun yang menyangkal kalau roh itu tak ada.

Tiba-tiba Buyung Ciu-ti melompat bangun. Jangan dilihat tubuhnya yang lemah gemulai seolah-olah tak bertenaga, namun dari balik matanya justru memancarkan sinar tajam yang melebihi tajamnya sembilu.

Ia sedang memandang ke arah Yan Cap-sa, bahkan sepatah demi sepatah ia sedang berkata: “Sekarang aku telah menjadi Cia Siau-hong”

Ketika tujuh patah kata itu diutarakan, sinar matanya seakan-akan telah berubah menjadi semacam hawa pembunuhan yang menggidikkan hati! Ya, semacam hawa maut yang hanya dimiliki oleh sekawanan jago lihay yang sudah terbiasa membunuh orang.

Mungkinkah perempuan muda yang lemah lembut dan tak bertenaga itu sudah pernah membunuh orang? Berapa orang yang telah dibunuhnya?

Yan Cap-sa tidak bertanya, diapun merasa tak perlu bertanya, sebab ia dapat menduganya.

Buyung Ciu-ti telah mematahkan sebatang ranting, lalu berkata: “Inilah pedangku!”

Setelah ranting tersebut berada di tangannya, perempuan itu kembali mengalami perubahan.

Hawa pembunuhan yang mengerikan dan menggidikkan hati itu bukan hanya terdapat di dalam pancaran matanya saja, di tubuhnya ada, di seluruh bagian tubuhnya ikut ada.

“Sekarang perhatikan baik-baik, awasi dengan seksama, inilah satu-satunya titik kelemahan yang terdapat di dalam ilmu pedangnya,” Buyung Ciu-ti berkata.

Segulung angin berhembus lewat, angin itu secara tiba-tiba terasa begitu dingin.

Tubuhnya, maupun pedangnya sudah mulai melakukan gerakan, semacam gerakan yang begitu lambat, begitu indah sebebas angin yang berhembus lewat.

Bila ada angin berhembus lewat, siapakah yang dapat menahannya?

Siapa pula yang bisa menduga darimana datangnya hembusan angin itu?

Raut wajah Yan Cap-sa berkerut kencang. Pedangnya pelan-pelan sudah menusuk ke depan.

Pedang itu menusuk tiba-tiba dari suatu arah yang tak dapat di duga, setelah tertusuk keluar tiba-tiba saja mempunyai perubahan lagi yang sukar dibayangkan sebelumnya.

Betul juga, dalam perubahan itulah ia menemukan sebuah titik kelemahan.

Di kala angin puyuh berhembus lewat, benarkah masih ditemukan bagian-bagian yang terhindar dari hembusan?

Tapi ketika angin puyuh berhembus lewat, benarkah masih ditemukan bagian-bagian yang terhindar dari hembusan?

Tapi ketika angin puyuh itu berhembus lewat, siapa pula yang akan menaruh perhatian ke arah sana?

Tiba-tiba Yan Cap-sa menemukan bahwa telapak tangannya sudah basah oleh keringat dingin.

Pada saat itulah gerakan tubuh Buyung Ciu-ti berhenti di tengah jalan.

Ditatapnya Yan Cap-sa dengan pandangan dingin, kemudian katanya: “Sekarang apakah kau sudah menemukannya?”

Yan Cap-sa mengangguk.

“Kau dapat menemukannya karena gerakanku sekarang dua puluh empat kali lebih lambat daripada gerakannya”

Yan Cap-sa percaya bahwa perkiraannya itu tepat dan tak mungkin salah.

Bila seorang jago yang sungguh-sungguh jago memberikan penilaiannya, maka penilaiannya itu sepuluh kali lipat akan lebih cocok daripada penilaian petugas pegadaian.

“Bila aku benar-benar turun tangan, meskipun lebih lambat sedikit darinya, tapi tak akan lambat terlalu banyak,” kata Buyung Ciu-ti.

Yan Cap-sa mau tak mau harus mempercayainya.

Sekarang ia baru menyadari bahwa perempuan yang tampaknya lemah gemulai seakan-akan tak bertenaga itu hakekatnya adalah jagoan lihay yang belum pernah dijumpainya selama hidup.

“Sekarang aku telah bersiap sedia untuk melancarkan serangan!” kata Buyung Ciu-ti tiba-tiba.

“Melancarkan serangan? Siapa yang hendak kau hadapi?”

“Kau!”

Pelan-pelan Yan Cap-sa menghembuskan napas panjang.

“Apakah kau hendak membuktikan dapatkah aku memecahkan seranganmu itu?”

“Betul!”

“Bila aku berhasil memecahkan serangan tersebut, bukankah kau bakal mati secara mengenaskan di ujung pedangku?”

“Tentang hal ini kau tak perlu kuatir”

“Seandainya aku belum berhasil juga untuk memecahkan seranganmu itu….?” Yan Cap-sa bertanya hati-hati.

“Maka kau harus mampus!”

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya dengan suara dingin: “Sebab bila kau belum berhasil juga untuk memecahkan serangan tersebut, sekalipun kau tetap hidup juga tak akan mendatangkan manfaat apa-apa untukku, maka lebih baik kau mati saja”

Advertisements

1 Comment »

  1. INFORMASINYA CUKUP BERMANFAAT. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

    Comment by SAUT BOANGMANALU — 30/01/2010 @ 4:40 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: