Kumpulan Cerita Silat

29/04/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (27)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:56 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (27)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Lenghocong)

“Satu hal harus kau ingat, kalau kita ingin lekas tiba di Pek-cui-kiong, tenaganya kita butuhkan untuk penunjuk jalan.”

Akhirnya Po-giok menghela napas dan melepaskan pegangannya.
(more…)

Darah Ksatria: Bab 35. Setelah Kentongan Ketiga

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 12:00 am

Darah Ksatria
Bab 35. Setelah Kentongan Ketiga
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Mayat Ong Ban-bu juga tidak terluka, tiada noda darah pula, jantungnya tergetar hancur oleh pukulan lunak yang amat dahsyat, itulah penyebab kematiannya.

“Kenapa ia pun dibunuh?” yang bertanya adalah Cia Giok-lun.
(more…)

28/04/2008

Darah Ksatria: Bab 34. Malam Yang Menakutkan

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 12:04 am

Darah Ksatria
Bab 34. Malam Yang Menakutkan
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari dan Dra)

Kakek timpang yang cacat ini tak berbeda lagi dengan kebanyakan manusia, karena sekarang dia sudah mati, mayatnya rebah di bawah tikar yang disingkap Ji-liong.

Setiap orang akhirnya pasti mati. Orang mati sudah tentu sama, kaku dingin tidak bernapas lagi. Entah bagaimana dia mati, mati dibunuh, mati sakit atau kecelakaan, setelah dia mati, tubuhnya akan kaku menjadi mayat. Peduli di masa hidupnya dia seorang Enghiong, seorang Pendekar, perempuan cantik atau ratu sekalipun, setelah mati dia akan berubah dalam bentuk yang sama, sebagai mayat yang tak mampu berbuat apa-apa lagi.
(more…)

27/04/2008

Darah Ksatria: Bab 33. Malam Tragis Di Gedung Besar

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:58 pm

Darah Ksatria
Bab 33. Malam Tragis Di Gedung Besar
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Kanglam Ji Ngo adalah pendekar besar yang terkenal, seorang cerdik, pelajar ternama, ilmu sastra maupun ilmu silatnya jarang ketemukan tandingan, pokoknya serba bisa.

Tapi berbeda dengan Ji Liok yang satu ini. Seperti apa yang ia katakan sendiri, kelihatannya mirip orang kasar, orang desa atau kampung yang bersahaja, kaki besar tangan kasar, hidup tenteram dan sederhana. Menilai wajahnya yang persegi, kelihatannya tak cukup pintar, namun bila tersenyum maka orang baru membayangkan wajah Ji Ngo melekat pada wajahnya juga.
(more…)

Misteri Kapal Layar Pancawarna (26)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:46 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (26)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Lenghocong)

“Agaknya kedua orang itu sudah seia-sekata, bersekongkol menciptakan jurus ilmu silat, sungguh heran bahwa dalam keadaan serba sulit dalam tahanan itu mereka berhasil menciptakan jurus ilmu silat yang lihai, agaknya mereka sudah lama membuat rencana untuk menghadapimu bersama.”

“Kalau benar kedua orang ini bergabung dan kerja sama serta berhasil membuka lembaran baru dalam bidang ilmu silat, maka jerih-payah mereka patut dihargai, hasilnya merupakan sumbangan yang besar artinya bagi kaum Bu-lim.”
(more…)

26/04/2008

Bakti Pendekar Binal (08)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:37 pm

Bakti Pendekar Binal (08)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Pada saat itulah tiba-tiba seorang menukas dengan terkekeh-kekeh, “Hehehe, saat ini Hoa-kongcu ingin membela diri saja sukar, mana dia ada tenaga buat menolong kalian, masa kalian tidak dapat melihat keadaannya ini, mengapa kalian memaksanya?”

Di tengah gelak tertawa kembali Kang Giok-long muncul dengan lagak tuan besar. Dan Hoa Bu-koat ternyata menyaksikan kedatangannya begitu saja tanpa berdaya dan tak menanggapi.
baca halaman penuhnya…

Darah Ksatria: Bab 32. Tangan Yang Mengejutkan

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 12:02 am

Darah Ksatria
Bab 32. Tangan Yang Mengejutkan
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Keadaan di dalam rumah sudah berbeda dibanding waktu mereka meninggalkan tempat ini. Ranjang besar yang terletak di tengah ruang sudah dibongkar dan disingkirkan ke pinggir. Cia Giok-lun yang semula harus meronta-ronta untuk berganti pakaian dan membersihkan badan itu sekarang sudah berdiri tegak, berjalan atau bergerak dengan leluasa seperti orang sehat.

Tapi ini bukan sebab utama kenapa Thiat Tin-thian dan Toa-hoan kaget setengah mati. Mereka kaget karena di dalam rumah melihat Ma Ji-liong lagi. Yang berdiri jajar di pinggir Cia Giok-lun ternyata bukan penjahit tadi, tetapi adalah Ma Ji-liong. Ma Ji-liong masih dalam penyamarannya sebagai Thio Eng-hoat.
(more…)

25/04/2008

Darah Ksatria: Bab 31. Penjahit Luar Biasa

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:58 pm

Darah Ksatria
Bab 31. Penjahit Luar Biasa
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

“Tadi aku sudah bilang kubawa, tentu ada di sini.”

Toa-hoan, Cia Giok-lun, Thiat Tin-thian dan Ong Ban-bu menyaksikan penjahit ini tidak membawa apa-apa, bertangan kosong, tetapi sambil bicara ia berputar satu lingkaran. Waktu ia menghadap pula ke arah mereka, tangannya sudah memegang dua blok kain. Satu blok kain sutera di tangan kanannya berdasar merah, malah tersulam kembang mawar kuning emas.
(more…)

Bakti Pendekar Binal (07)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:36 pm

Bakti Pendekar Binal (07)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Bu-koat melenggong sejenak, tiba-tiba ia memburu ke sana dan berseru, “Waktu masih cukup luang, biarlah aku pun mengantarmu sebentar.”

Thi Peng-koh mengikuti bayangan kedua orang itu hingga menghilang di kejauhan, tubuhnya rada gemetar, dengan mengertak gigi mendadak ia melompat bangun terus berlari kembali ke arah hotel kecil itu.
baca halaman penuhnya…

Hina Kelana: Bab 113. Perdebatan yang Bertele-tele

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — ceritasilat @ 10:27 pm

Hina Kelana
Bab 113. Perdebatan yang Bertele-tele
Oleh Jin Yong

Lantaran berpikir demikian, cepat Co Leng-tan berseru, “Nanti dulu, para kawan Hing-san-pay, ada persoalan apa biarlah kita berunding secara baik-baik, kenapa mesti terburu nafsu?”

“Adalah begundalmu yang mengusir kami dan bukan kami sendiri yang mau pergi dari sini,” jawab Tho-kin-sian dengan mencibir.
(more…)

24/04/2008

Darah Ksatria: Bab 30. Penjahit, Pupur, Gincu Dan Tandu

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:56 pm

Darah Ksatria
Bab 30. Penjahit, Pupur, Gincu Dan Tandu
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Ma Ji-liong akhirnya sadar. Kegaduhan sudah sirap, alam semesta seperti dilingkupi keheningan yang membeku. Kini Ji-liong rebah di atas ranjang besar itu, ranjang satu-satunya yang ada di rumah itu. Sejak beberapa bulan yang lalu, baru pertama kali ini ia rebah di atas ranjang.

Cia Giok-lun duduk di samping mengawasinya dengan rasa kuatir dan penuh perhatian. Di dalam rumah itu hanya ada mereka berdua saja. Ma Ji-liong berusaha tersenyum, tapi senyumnya getir dan nyengir, segera ia bertanya, “Mana orangnya?”
(more…)

Bakti Pendekar Binal (06)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:32 pm

Bakti Pendekar Binal (06)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Dengan ilmu silat Siau-hi-ji sekarang tingkatannya sudah sebanding dengan tokoh-tokoh Bu-lim terkemuka, dalam gusarnya, pukulan yang dilontarkan ini sekaligus mencakup ilmu pukulan sakti dari Bu-tong-pay dan Kun-lun-pay. Dengan sendirinya ilmu pukulan ini berasal dari beberapa tokoh dunia persilatan yang diciptakan secara gabungan di istana bawah tanah itu. Kini Siau-hi-ji sudah dapat memainkannya dengan leluasa, bahkan mengerahkan segenap daya serangannya.

Siapa tahu, pukulan yang cukup membuat keder setiap tokoh Bu-lim ini bagi Tong-siansing tidak lebih hanya menggeliat, tubuhnya seakan-akan patah menjadi dua. Pada saat itu pukulan balasannya juga lantas dilontarkan, kalau tidak menyaksikan sendiri, siapa pun takkan percaya seorang dapat melancarkan serangan dalam posisi yang aneh begitu.
baca halaman penuhnya…

23/04/2008

Darah Ksatria: Bab 29. Perjamuan Besar

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:55 pm

Darah Ksatria
Bab 29. Perjamuan Besar
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Meja perjamuan tidak kelihatan. Bahwasanya tiada meja perjamuan di luar rumah. Tanah kosong yang semula becek itu kini ditaburi batu-batu hitam mengkilap. Di tengah taburan batu hitam bulat mengkilap itu hanya ada sebuah dipan kecil yang terbuat dari kayu cendana berbentuk persegi, terukir indah seluas satu meter persegi.

Di bagian belakang dipan persegi dengan ukiran antik itu, berdiri dua tiang kayu setinggi satu meter. Tiang kayu untuk tempat sangkutan kelambu yang menjuntai turun. Seorang laki-laki tinggi gede bercambang dengan telanjang dada berdiri di belakang dipan sambil membusungkan dada. Dari tampang dan kalung bundar besar yang menggelantung di telinga kirinya, dapat diperkirakan bahwa laki-laki gede ini adalah bangsa Persia. Pengawal Persia ini bermata biru melotot bundar dengan topi pendek warna merah terbuat dari beludru, di pinggir kanan dihiasi pita biru yang melambai ditiup angin, jaket sutera pendek ketat tanpa kancing berwarna hitam disulam garis-garis benang emas tersingkap di bawah ketiaknya. Ikat pinggangnya lebar lagi tebal berwarna merah maron, tangannya memegang gagang golok melengkung yang terselip di pinggangnya.
(more…)

Bakti Pendekar Binal (05)

Filed under: +Pendekar Binal, Gu Long — ceritasilat @ 11:29 pm

Bakti Pendekar Binal (05)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Eve1yn)

Maka jago tua “Kim-to-bu-tek” Peng Thian-siu yang pertama-tama tidak tahan, segera ia menjengek, “Hm, cara bicara sahabat cilik ini sungguh sukar dipahami.”

“Kau tidak paham bicaraku?” tanya Siau-hi-ji.
baca halaman penuhnya…

22/04/2008

Darah Ksatria: Bab 28. Rahasia Lembah Kematian

Filed under: +Darah Ksatria, Gu Long — ceritasilat @ 11:51 pm

Darah Ksatria
Bab 28. Rahasia Lembah Kematian
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Ansari, Dra, dan Wawan)

Apa yang menakutkan dari batu-batu hitam itu?

Asal orang tidak memaksa kau menelan batu itu, juga tiada orang yang menimpukkan batu itu di atas kepalamu, perduli apa bila batu itu putih, hitam, biru atau kuning? Batu hitam itu meski bentuknya bulat aneh tapi kan tidak perlu dibuat takut?
(more…)

Older Posts »

Create a free website or blog at WordPress.com.