Kumpulan Cerita Silat

30/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:40 am

Pendekar Empat Alis
Buku 07: Duel di Bu Tong
Bab 06 (Tamat)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Hiu_Khu)

Tertampak Ong Cap-te telah muncul.

Sesudah berduduk dan mengusap keringatnya dan mengembus napas, perlahan barulah Ong Cap-te bertutur, “Pejabat ketua Bu-tong yang ke-13, Ciok Gan, sudah wafat pada sebelum lohor tanggal 14 bulan empat dalam usia 47.”

Hati semua orang sama tenggelam. Tidak ada yang bergerak dan tidak ada yang bersuara.

Selang agak lama baru ada yang bertanya, “Cara bagaimana kematiannya?”

“Dia mengidap penyakit maut yang sangat berat,” tutur Ong Cap-te.

“Penyakit apa?” tanya Thi-koh Hwesio.

“Penyakit radang hati. Dengan sendirinya Bok-tojin sudah memeriksanya dan diketahui hidup Ciok Gan takkan lebih seratus hari lagi.”

“Bok-tojin pernah memeriksa penyakitnya?” Siau-hong terkesiap.

“Ilmu pertabiban Bok-tojin cukup tinggi. Aku pun rada paham ilmu pengobatan,” ujar Ong Cap-te.

“Menurut pendapatmu, dia benar-benar wafat karena penyakitnya itu?”

“Tidak perlu disangsikan lagi,” sahut Ong Cap-te.

Perlahan Siau-hong berduduk kembali, berdiri pun terasa sangat berat.

Air muka Thi-koh Hwesio kelihatan prihatin, ucapnya, “Adakah dia meninggalkan pesan dan menunjuk ahli waris?”

“Semula semua orang juga mengira dia pasti meninggalkan surat wasiat, tapi tidak dapat diketemukan,” jawab Ong Cap-te.

Air muka Thi-koh bertambah kelam. Ia cukup tahu tata tertib rumah tangga Bu-tong-pay. Bilamana pejabat ketua wafat karena sesuatu sebab tak terduga tanpa meninggalkan surat wasiat, maka kedudukan ketua akan dijabat oleh tokoh paling terhormat dan tertua dalam perguruan. Dan sekarang tokoh Bu-tong-pay yang paling terhormat jelas Bok-tojin.

Thi koh menghela napas, “Tak tersangka 30 tahun kemudian dia tetap menjabat ketua Bu-tong-pay.”

“Mungkin hal ini sudah lama diduganya,” ucap Siau-hong dengan tersenyum getir.

Semua orang sama maklum, sekarang bila tidak ada bukti nyata, jelas lebih-lebih tak dapat mengganggu gugat lagi terhadap Bok-tojin. Pejabat ketua Bu-tong-pay tentu saja tidak boleh sembarangan dinista orang.

Sekarang mereka benar-benar tidak punya sesuatu bukti, umpama betul Bok-tojin adalah Lau-to-pacu juga mereka tidak mampu berbuat apa-apa.

Ong Cap-te berucap pula dengan berduka, “Meski Ciok Gan sendiri menyadari ajalnya sudah dekat, tapi juga tidak menyangka akan mati mendadak begini.”

“Masakah tiada satu patah kata pesan terakhir waktu dia meninggal?” tanya Siau-hong.

“Dia cuma mengucapkan satu kalimat,”jawab Ong Cap-le.

“Apa yang dikatakannya?” tanya Siau-hong.

“Dia minta kuberitahukan padamu bahwa dugaanmu memang tidak salah.”

Serentak Liok Siau-hong bcrdiri, tapi perlahan duduk kembali, gumamnya, “Tidak berguna lagi, biarpun dugaanku tidak keliru juga tidak berguna lagi.”

Dia pernah tanya Ciok Gan apakah dahulu Bok-tojin terpaksa menarik diri dari pencalonan pejabat ketua berhubung ada skandal pribadi, waktu itu Ciok Gan tidak mau menjawab. Sekarang dia mau menjawab, tapi sudah terlambat.

Rahasia yang tersimpan di dalam tangkai pedang tidak perlu diragukan lagi, sekarang pasti sudah jatuh di tangan Bok tojin, mereka tidak mampu memperlihatkan sesuatu bukti lagi.

“Meski dugaanmu tidak keliru, tapi engkau masih berbuat keliru,” kata Thi-koh pula.

“Keliru apa?” tanya Siau-hong.

“Jika kau tahu ada orang bermaksud merebut pedangnya, mestinya tidak boleh kau biarkan Ciok Gan menyimpan rahasia itu pada tangkai pedangnya.

“Kita bertindak demikian hanya untuk memancing dia ke Boan-jui-lau menurut perjanjian. Dengan begitu baru dapat kita bongkar kedoknya di sana. Bila rahasia dalam tangkai pedang itu orisinil, hal ini tentu akan diketahuinya dan menimbulkan rasa curiganya.

Dia menghela napas menyesal, lalu menyambung, “Tentu saja waktu itu kita tidak menyangka urusan ini akan bocor dan mendadak dia berubah pikiran.”

“Peduli siapa dia, yang jelas dia memang seorang yang hebat,” ujar Thi-koh dengan gegetun.

“Walaupun rencananya gagal total, tapi sampai detik terakhir dia belum lagi kalah.”

Semua orang berduduk dengan diam dan lesu. Meski rapi dan rapat rencana mereka, tak tersangka akhirnya tetap terjadi kericuhan.

“Apakah sekarang kita benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa padanya?” tanya Koh-tojin.

Siau-hong termenung sejenak, ucapnya kemudian, “Bisa jadi dapat kutemukan satu-dua akal.”

“Akal apa?” tanya Koh-tojin.

“Bukankah sekarang susiokmu juga berada di Bu-tong-san?” tanya Siau-hong tiba-tiba.

“Tidak,” jawab Koh-tojin.

“Kau tahu saat ini dia berada dimana?”

“Kutahu majikan Coan-hok-lau (nama restoran) adalah bekas anak buahnya. Hari ini sengaja memotong seekor sapi dan mengundang susiok makan sepuasnya, hal ini biasanya tidak disia-siakan oleh Susiok.”

Seketika mata Siau-hong mencorong terang, “Dia gemar makan daging?”

“Gemar sekali, pada hakikatnya tidak boleh satu hari tanpa makan daging.”

“Makannya banyak tidak?”

“Banyak sekali.”

———-

Siang hari, pada pintu Coan-hok-au tertempel sepotong kertas merah pemberitahuan,”Ada tamu agung,istirahat satu hari”.

Meski istirahat, tapi pintu restoran tidak tertutup. Maka begitu masuk ke situ segera terlihat Liong Beng. Liong Hui-sayyang tinggi besar dan gagah perkasa itu.

Di tengah ruangan tiga meja direntet menjadi satu, di atas mea tertaruh satu kuali besar daging rebus.

Caranya makan daging tidak suka diiris kecil-kecil dan diberi bumbu segala, dia suka melalapnya dengan potongan besar. Ruangan makan sebesar itu hanya ditunggu seorang pelayan saja, sampai majikan restoran juga tidak ada.

Waktu makan daging, Liong Beng tidak suka diganggu orang, juga tidak suka bicara. Akan tetapi dia tidak menyuruh orang merintangi masuknya Liok Siau-hong.

Dengan langkah lebar Siau-hong menuju ke tengah, ia ambil sebuah kursi dan berduduk di depan orang, lalu menyapa sambil terawa, “Engkau baik-baik saja?”

“Baik,” jawab Liong Beng.

“Kukenal kau,” kata Siau-hong pula.

“Aku pun kenal kau, Liok Siau-hong bukan?”

“Tapi aku tidak kenal Liong Beng, aku cuma kenal dirimu.”

“Apakah diriku bukan Liong Beng?”

“Engkau memang Liong Beng, kepala suku Liong Hut-say, apakah bukan lagi Ciangkun yang gemar makan daging?”

Liong Beng tidak tertawa lagi, terpancar cahaya tajam dari matanya, ia melototi Liok Siau-hong.

“Ciangkun ternyata tidak mati, Ciangkun masih tetap makan daging,” kata Siau-hong pula.

“Daging enak dimakan,” kata Liong Beng.

“Jika Kian-long-kun dapat menyamarkan dirimu menjadi serupa Ciangkun, dengan sendirinya juga dapat menyamarkan orang lain menjadi begitu, apalagi kalau orang mati, bentuknya kan tidak banyak berbeda.”

“Mengapa Ciangkun bisa mati?” tanya Liong Beng.

“Sebab kudatang di sana.”

“Kau datang dan Ciangkun lantas mati?”

“Urusan Ciangkun sangat penting. Kecuali Lau-to-pacu, orang lain tidak boleh mengetahui wajah aslinya, jika mati lebih cepat kan juga lebih aman.”

“Betul, orang mati memang paling aman. Siapa pun takkan memperhatikan orang mati.”

“Cuma sayang, akhir-akhir ini orang mati sering-sering hidup kembali.”

Liok Beng menyendok segayung daging, tiba-tiba ia bertanya, “Kau makan daging?”

“Makan,” jawab Siau-hong.

“Makan banyak?

Banyak.”

“Baik, mari makan!” lebih dulu Liong Beng makan sendiri segayung daging, lalu mengangsurkan gayung kepada Liok Siau-hong dan berkata, “Lekas makan yang banyak, daging enak!”

Siau-hong juga menyendok segayung, katanya, “Daging memang lezat, cuma sayang terkadang benar-benar bisa membikin orang mati.”

“Ciangkun makan daging, kau pun makan daging, semuanya makan daging, tapi yang makan daging belum pasti Ciangkun adanya.”

Siau-hong mengakui kebenaran ucapan itu.

Mendadak mata Liong Beng menampilkan senyuman misteriusnya, dengan suara tertahan ia mendesis, “Maka selamanya engkau tak dapat membuktikan bahwa aku inilah Ciangkun.”

Ia bergelak tertawa dan menambahkan pula, “Dan kau hanya makan daging saja.”

Siau-hong ingin tertawa, tapi tidak dapat. Rasa daging memang empuk dan sedap, tapi baru makan setitik, seketika air mukanya berubah.

Liong Beng tertawa, “Caramu makan hari hari tampaknya tidak cepat, juga tidak banyak.”

“Kau sendiri sudah makan banyak?” tanya Siau-hong.

“Sangat banyak,” jawab Liong Beng.

“Dan sekali ini mungkin benar-benar akan menghendaki nyawa.”

“Nyawa siapa?” tanya Liong Beng.

“Nyawamu,” begitu bicara demikian, serentak Siau-hong menahan meja terus melayang ke seberang, secepat kilat ia hendak menutuk Hiat-to di sekitar jantung Liong Beng.

Cuma sayang ia lupa di tengah meja masih ada satu kuali daging. Gerakan Liong Beng alias Ciangkun juga sangat cepat, mendadak ia dorong kuali itu, kuah daging panas berhamburan.
Terpaksa Siau-hong menghindar dan berteriak, “Duduk saja, jangan bergerak.”

Dengan sendirinya Liong Beng tidak mau menurut, mendadak ia melompat bangun dan melayang keluar. Gerakannya sangat cepat dan sangat keras. Karena itulah racun yang mengeram di dalam perutnya mendadak bekerja dan menyerang jantungnya.

“Di dalam daging ada racun, bila bergerak segera…” tidak lanjut ucapan Siau-hong, sebab Ciangkun lantas roboh terkapar dan tidak terdengar lagi ucapannya.

Daging dalam kuali itu benar-benar telah membuat melayang jiwanya. Pada waktu roboh, mukanya telah berubah hitam dan binasa.

Siapakah yang memasak sekuali daging ini? Di manakah majikan restoran ini?

Pelayan yang berdiri jauh di sana sampai terkesima ketakutan. Segera Siau-hong menjambret leher bajunya dan membentak, “Antar aku pergi ke dapur.”

Yang masak daging itu seharusnya berada di dapur. Namun di dapur hanya ada daging dan tidak ada orang.

Di atas tungku masih ada sekuali daging rebus, kuali besar. Serupa kuali di dapur Bu-tong-san, daging sekuali penuh tampaknya belum lagi masak benar.

Air muka Siau-hong berubah pula, ia tidak tahan dan tumpah-tumpah. Tiba-tiba terbayang olehnya, daging dalam kuali itu mungkinkah daging manusia?

Sekarang yang bisa menjadi saksi bagi Liok Siau-hong mungkin sekali tersisa seorang saja.

Apakah dia Piauko atau Koh-siong juga boleh, yang diharapkan Liok Siau-hong adalah orang yang akan dilihatnya nanti masih hidup.

Sekarang berada dimanakah orang itu? Untung cuma Siau-hong sendiri yang tahu.

Liang di bawah tanah di perkampungan keluarga Yap dengan sendirinya tidak mutlak suatu tempat yang aman. Sebelumnya dia sudah mengantar tawanannya di suatu tempat rahasia yang tak terpikirkan oleh siapa pun.

Permainan sudah hampir berakhir. Dengan sendirinya dia harus menyimpan rahasia bagi kepentingan sendiri.

Senja di permulaan musim semi, cahaya sang surya masih gilang gemilang, perlahan Siau-hong menyusuri jalan raya, seperti tidak ada tempat tujuan.

Kedua sisi jalan raya terdapat macam-macam orang, ia dapat melihat mereka dan mereka juga melihat dia, tetapi dia tidak tahu di antara mereka ada berapa orang yang sedang mengintainya secara diam-diam.

Pada ujung jalan raya sana tiba-tiba berlari datang sebuah kereta kuda dengan cepat dan hampir saja menubruk Liok Siau-hong. Sekilas dari dalam jendela kereta seperti melongok sebuah kepala dan memandangnya sekejap, kelihatan sepasang mata yang terang.

Jika dia boleh memandangnya dengan cermat, dia pasti dapat mengenali orang itu. Cuma sayang ketika dia hendak memandangnya, kereta itu sudah lewat. Mata yang terang itu membuat perasaan Siau-hong tidak tenteram, aneh juga, lirikan seorang yang tak dikenal mengapa dapat membuatnya waswas. Mungkinkah orang itu memang tidak asing lagi baginya?

Sedapatnya ia tidak memikirkan hal ini. Pada ujung jalan ia membeli dua biji apel pada penjual buah di tepi jalan, sebuah diberikan kepada seorang anak kecil yang termenung di samping penjual buah, apel yang lain digerogotinya sembari berjalan.

Yang dipikirnya sekarang adalah menemukan titik kelemahan Bok-tojin, apakah Bok-tojin juga bermaksud membunuhnya?

Daging yang hampir merenggut nyawanya tadi mesti cuma dimakannya sedikit dan segera tertumpah, tapi sampai sekarang perut masih terasa tidak enak. Untung kadar racun dalam daging tidak keras. Jika keras, racunnya tentu lebih cepat ketahuan.

Sebenarnya Liong Beng bukan seorang yang lamban reaksinya, soalnya daging yang dimakannya sudah terlampau banyak.

Jika Siau-hong tadi makan daging lebih banyak, tentu Bok-tojin tidak perlu menguatirkan apa-apa lagi. Siau-hong sendiri juga tidak perlu pusing pula.

Orang yang melongok dari jendela kereta tadi seperti seorang perempuan, mulut kuda penarik kereta tampak berbuih tebal, tampaknya terlalu jauh menempuh perjalanan dan berlari kencang pula. Siapakah dia? Datang darimana?

Sedapatnya Siau-hong tidak mau memikirkan urusan ini, tapi justru sukar dilupakan.

Timbul semacam firasat yang aneh, terasa orang itu sangat penting baginya. Padahal orang yang paling penting baginya bukanlah si dia melainkan Koh-siong Kisu alias Piauko.

Tempo hari, pada waktu lampu padam, Siau-hong sendiri yang membekuknya, juga Hay Ki-koat dan Ko Tiu, mereka dikurungnya di ruang bawah tanah belakang perkampungan. Semua orang yang datang dari Yu-leng-san-ceng kini sudah terkurung di sana.

Sejak hari pertama meninggalkan gunung, segera Siau-hong menyerahkan lukisan wajah orang-orang itu kepada si pelayan pawang anjing. Serentak orang di ‘sarang elang’ terpencar dan bergerak sehingga orang-orang itu terjaring seluruhnya. Lalu Kian-long-kun, Sukong Ti-sing dan Ong Cap-te merias kawan sendiri menjadi serupa mereka.

Liok Siau-hong tidak begitu mempedulikan mati hidup mereka. Toh mereka pasti tidak tahu siapa Lau-to-pacu sesungguhnya, mereka kan orang-orang yang seharusnya sudah lama mati?

Tapi bagaimana dengan ‘Piauko’ alias Koh-siong Kisu? Kemana Siau-hong menyembunyikan Piauko dan dengan cara bagaimana membawanya pergi? Rasanya dia tidak ada kesempatan membawa pergi seorang hidup.

Tanpa terasa Siau-hong tertawa terhadap dirinya sendiri. Sesudah menembus sebuah gang, ia tiba kembali di rumah penginapan sendiri. Yaitu hotel yang ditempatinya pada waktu mereka baru datang tanggal 11 yang lalu.

Sesudah menurunkan muatan dan membereskan kereta, lalu mereka pergi minum arak, pada waktu minum arak baru bertemu dengan ‘keponakan perempuannya’ dan akhirnya sampai di Boan-jui-lau, Kereta dan rangselnya masih tertinggal di hotel. Kuli yang disewanya di tengah jalan malahan sedang menunggu pembayaran upah dari dia.

Agaknya dia sudah melupakan hal ini, seperti baru sekarang teringat. Cepat ia membayar upah mereka dan diberi ekstra upah pula. Tapi lantas dirasakan agak penasaran, segera ia suruh kusir memasang kereta dan berkata, “Cuaca hari ini sangat cerah, kuingin pesiar keliling kota, hendaknya kau bawa diriku berputar-kayun, nanti kutraktir kau minum arak.”

Cuaca memang cerah, manusia pengendara kereta dan kuda penarik kereta sudah cukup beristirahat, maka cara bekerjanya juga cukup bersemangat.

Tempat ini bukan saja merupakan jalan yang harus dilalui bilamana mau pergi ke Bu-tong-san, juga kota yang terdekat dengan pegunungan Bu-tong. Setelah keluar dari kota, pemandangan pegunungan yang hijau permai lantas terpampang di depan mata.

Di samping hutan di kaki gunung mereka berhenti, baru sekarang Siau-hong ingat terlupa membawa arak.

“Tadi sudah kujanjikan mentraktir kau minum arak,” kata Siau-hong sambil memberi uang kepada si kusir, “Nah, belikan arak. Beli arak yang banyak, sisanya untukmu.”

Dengan sendirinya jarak tempat ini dengan tempat penjual arak tidak dekat, tapi mengingat uang yang diterimanya, kusir itu tetap berangkat dengan gembira.

Saat itu sudah dekat magrib, cahaya senja sangat indah, pegunungan ternama pusatnya agama To itu tampak sangat permai. Cuma di sekitar sini tidak ada jalan menuju ke atas gunung. Cukup jauh pula jaraknya dengan tempat pesiar dan kuil indah di atas gunung. Maka ke arah mana pun memandang, tidak kelihatan seorang pun.

Mendadak Siau-hong menyusup ke bawah jok kereta. Padahal di bawah situ tidak ada apa-apa, untuk apa dia menyusup ke situ? Apakah mau tidur?

Namun dia tidak memejamkan mata, malahan seperti lagi bergumam, “Hanya kelaparan dua-tiga hari saja takkan mati kelaparan, apalagi kaum pertapa biasanya juga tidak makan terlalu banyak.”

Tapi rasanya dia juga bukan lagi bergumam, apakah di bawah kereta itu masih ada orang lain?

Siau-hong ketuk-ketuk papan dasar kereta. Dari suaranya dapat diketahui di bawah adalah kosong. Jelas masih ada satu lapis rahasia, jika di situ disembunyikan satu orang memang bukan pekerjaan sulit.

Tempo hari, waktu berada di perkampungan keluarga Yap, sebelum Liu Jing-jing bangun tidur dan orang lain sibuk menyamar, diam-diam Siau-hong telah menyembunyikan ‘Piauko’ ke bawah kereta ini.

Seorang setelah ditutuk Hiat-to kelumpuhannya dan dikurung di bawah kereta, meski suatu perlakuan sadis, tapi Siau-hong menganggap ada sementara orang memang pantas mendapatkan sedikit siksaan semacam ini.

“Meski sekarang kau sedikit tersiksa, tapi asalkan kau mau membantu diriku, kujamin takkan membikin susah lagi padamu. Engkau tetap dapat menjadi pertapa yang baik.”

Dia melepaskan papan pemisah, segera seorang menggelinding jatuh, seorang hidup. Tanpa diperiksa juga kelihatan seorang hidup, sebab pada waktu dia jatuh ke bawah, sekujur badannya sama bergerak.

Setelah orang ini jatuh keluar, menyusul lantas jatuh keluar lagi satu orang dan satu lagi.

Padahal jelas-jalas Liok Siau-hong hanya menyembunyikan satu orang di sini, mengapa sekarang bisa berubah menjadi tiga orang. Tiga orang hidup dan dapat bergerak, bahkan bergerak sangat cepat dan banyak sekali perubahannya.

Bagian bawah kereta memang tidak luas, sendirian saja kurang bebas, apalagi sekaligus bertambah lagi tiga orang. Seketika Siau-hong terdesak hingga tidak dapat bergerak. Sebaliknya ketiga orang itu serentak berubah seperti ikan cumi-cumi, semuanya menindih di atas tubuh Siau-hong dan menggelutinya beramai-ramai, lima buah tangan serentak menutuk Hiat-tonya.

Aneh juga, mengapa tiga orang hanya ada lima tangan? Apakah satu di antaranya cuma bertangan satu? Apakah orang yang bertangan satu ini Hay Ki-koat?

Belum lagi Liok Siau-hong sempat melihat jelas muka mereka, tahu-tahu dia sudah terangkat oleh mereka dan dibanting ke pojok kabin kereta dan tak bisa berkutik lagi.

Terdengar suara ringkik kuda di luar sana sedang membedal cepat ke depan.

Ketiga orang itu telah berduduk dan memandang Liok Siau-hong dengan dingin. Seorang jelas Ko Tiu, seorang lagi Hay Ki-koat, tapi orang ketiga bukan Piauko melainkan Toh Thi-sim.

Padahal di bawah kareta hanya bersembunyi Piauko seorang, sekarang dia justru menghilang?
Kemana perginya? Lantas cara bagaimana ketiga orang ini bisa berada di situ? Siapa pula yang mengendarai kereta di depan itu? Apakah si kusir yang disuruh pergi beli arak tadi?

Mendadak Siau-hong tertawa, ingin bicara, tapi tak dapat, tutukan mereka cukup keras, jangankah bicara, tertawa saja sukar bersuara.

Jelas mereka tidak ingin mendengar bicaranya, juga tidak suka melihat tertawanya, tapi bilamana mereka menghendaki dia bicara, mau tak mau dia harus bicara.

Tangan Toh Thi-Sim direntang lalu digenggam pula sehingga ruas jarinya mengeluarkan suara keriat-keriut, tangan yang tidak kenal ampun.

Ko Tiu memandangi tangan rekannya, tiba-tiba ia bertanya, “Sudah berapa tahun kau jadi Hing-tong-tongcu (kepala seksi hukum)?”

“Sembilan belas tahun,” jawab Toh Thi-sim.

“Di bawah tanganmu ini adakah orang yang berani tidak bicara sejujurnya?” tanya Koh Tiu pula.

“Tidak ada,” kata Toh Thi-sim.

“Konon banyak kesempatanmu untuk menjadi pemimpin besar, mengapa tidak kau lakukan?”

“Sebab seksi hukum terlebih menarik bagiku.”

“Kau suka melihat orang lain tersiksa?”

“Betul.”

Ko Tiu tertawa, Hay Ki-koat juga tertawa. Suara tertawa keduanya serupa suara logam digosok membuat orang merasa ngilu.

“Sungguh aku sangat ingin melihat kemahirannya masa 1ampau,” ujar Hay Ki-koat dengan tertawa.

“Selekasnya akan dapat kau lihat,” kata Ko Tiu.

“Apakah ruang pemeriksaan sudah siap?”

Ko Tiu mengangguk, “Jangan kuatir. Caranya memeriksa pesakitan pasti sangat menarik dan khas.”

Siau-hong memejamkan mata. Kalau bisa, ia pun ingin menutup telinganya. Sungguh tidak mengenakkan percakapan mereka itu, tapi justru bukan omong kosong belaka.

Tahu-tahu di luar kereta sudah berubah gelap gulita, cahaya rembulan dan kerlip bintang pun tidak kelihatan.

Terdengar kumandang suara gemuruh memekak telinga, agaknya kereta kuda itu telah memasuki sebuah terowongan atau gua, sampai sekian jauhnya barulah berhenti di dalam gua itu.

Ko Tiu menghela napas lega dan berucap, “Sudah sampai!”

“Di sini ruang hukum Lau Toh?” tanya Hay Ki-koat.

Ko Tiu terkekeh-kekeh, “Inilah istananya raja akhirat.”

Mereka lantas menyeret turun Liok Siau-hong, serupa orang meraih sebuah karung rusak dan diseret begitu saja, sebentar menumbuk pintu kereta lain saat membentur dinding gua sehingga kepala Liok Siau-hong benjut dan pusing tujuh keliling, sampai tulang pun hampir patah.

Ko Jiu sengaja berlagak menyesal dan mengomel, “Ai, yang kau seret bukan peti rusak, mengapa tidak sedikit hati-hati.”

“Aku tidak dapat melihat jelas,” jawab Hay Ki-koat.

Ucapannya juga tidak salah. Di dalam gua ini sungguh gelap gulita, sampai jari sendiri pun tidak kelihatan.

Makin maju ke depan makin sempit maka kesempatan kepala terbentur lebih keras akan bertambah banyak. Tapi apa daya, terpaksa Siau-hong cuma meringis saja.

Untung pada saat itu juga dinding di depan berbunyi suara “krek-krek”, mendadak muncul sebuah lubang dan terlihat cahaya. Bukan saja ada cahaya, juga ada meja dan kursi.

Di atas meja terpasang lilin putih yang umumnya digunakan upacara sembayang kepada orang mati, sudah lebih separoh lilin putih itu terbakar. Api lilin gemerdep, agaknya angin meniup masuk dari celah-celah gua sana sehingga merupakan lubang hawa alamiah bagi gua ini.

Seenaknya Hay Ki-koat melemparkan Liok Siau-hong ke depan meja, lalu berucap, “Ehm sungguh tempat yang baik.”

“Seumpama sepuluh ribu orang mencari di sekitar sini hingga tiga tahun tiga bulan juga sukar menemukan tempat ini,” tukas Ko Tiu.

Hay Ki-koat ketuk-ketuk kepala Liok Siau-hong dengan kaitannya dan berkata, “Jika sukar menemukan tempat ini, siapa yang akan menolongnya?”

“Biarpun dia berteriak minta tolong kepada bapak dan biangnya juga tidak ada yang mendengar.”

“Wah. jika begitu, kan dia pasti akan mati?”

“Tapi takkan terlalu cepat matinya.”

“Sebab apa?” tanya Hay Ki-koat.

“Sebab akan kubikin dia mati dengan perlahan dan perlahan sekali,” sambung Toh Thi-sim.

Hay Ki-koat tertawa, dilihatnya Ko Tiu sedang mengamat-amati bangun tubuh Liok Siau-hong, ia bertanya pula, “Jika kau disuruh turun tangan padanya, pisaumu akan mulai memotong dari bagian mana?”

Ko Tiu menepuk tangan Liok Siau-hong dan berkata, “Tentu saja akan kumulai memotong kedua jarinya.”

“Jika aku, pasti akan kucabut dulu alias matanya,” kata Hay Ki-koat.

“Kedua alis yang mana?” tanya Ko Tiu.

“Dengan sendirinya alis yang tumbuh di atas bibirnya itu.”

Begitulah kedua orang itu bercanda dengan gembira ria seolah sedang menghadapi seekor domba yang akan disembelih.

Biasanya Liok Siau-hong adalah seorang yang sabar dan berpikiran terbuka, namun perasaannya tekadang serupa seorang yang sudah berada di dalam wajan berminyak mendidih.

Tampaknya dia memang tidak ada harapan lagi, kalau bisa mati dengan cepat sudah mujur baginya.

Siapa tahu, pada saat itulah dalam kegelapan di luar sana tiba-tiba berkumandang suara orang tertawa dingin.

“Siapa?!” serentak Ko Tiu, Hay Ki-koat dan Toh Thi-sim melompat ke sana.

Ketiga orang tergolong jago kelas tinggi, gerakannya cepat, reaksinya juga gesit. Jarang yang mampu menghadapi kerubutan mereka.

Padahal orang di luar itu seperti cuma sendirian, jadinya orang ini seperti sengaja mengantar kematian saja.

Begitu menerjang keluar, serentak mereka menggunakan posisi mengepung. Tak peduli siapa pendatang ini, tidak nanti mereka membiarkannya pergi lagi dengan hidup.

Hay Ki-koat sangat tangkas dan ganas. Kaitan pada sebelah tangannya yang buntung itu juga senjata yang tidak kenal ampun. Dengan kaitan siap merobek tubuh lawan, ia mendahului menerjang ke depan.

Dengan tangan siap menyerang To Thi-sim menyusul di belakang rekannya.

Kembali terdengar lagi suara mendengus. Dalam kegelapan mendadak sinar pedang berkelebat secepat kilat disertai suara mendenging nyaring.

Terdengar suara “tring” sekali, kaitan baja menghantam dinding dan memercikkan lelatu api, sekilas terlihat kaitan baja membawa sepotong tangan kutung.

Menyusul Toh Thi-kim juga roboh terjungkal, darah segar menyembur dari lehernya serupa air mancur.

Menjerit saja tidak sempat, tahu-tahu Hay Ki-koat dan Toh Thi-sim sudah roboh dan binasa.

Sungguh pedang yang cepat. Di bawah berkelebatnya sinar pedang, dalam kegelapan seperti ada bayangan manusia.

Melihat orang ini, kontan Ko Tiu menyurut mundur setindak demi setindak. Mukanya berkerut-kerut ketakutan serupa mendadak melihat munculnya setan iblis. Setelah mundur beberapa langkah, mendadak ia jatuh terkulai, air mata, ingus, ludah, air kencing dan kotoran perut semuanya mengalir keluar. Nyata dia telah mati ketakutan.

Siapakah yang dapat membuatnya ketakutan sehebat ini? Siapakah yang mampu memainkan pedang secepat ini? Apakah Sebun Jui-soat?

Segera tertampaklah seorang muncul dari kegelapan…

Yang muncul dari kegelapan adalah seorang berjubah panjang berwarna kelabu dan mamakai caping bambu serupa tampah.

Pendatang ini ternyata bukan Sebun Jui-soat melainkan Lau-to-pacu.

Seketika Liok Siau-hong merasa dingin seperti kejeblos ke dalam ruang es. Bahwa dia ingin memegang titik fatal orang ini, dengan sendirinya orang ini juga menghendaki jiwanya.

Akan tetapi suara Lau-to-pacu ternyata sangat halus, dia lantas bertanya malah, “Adakah mereka memperlakukan kasar padamu?”

Siau-hong hanya menyengir saja. Sesudah diseret dan tertumbuk dinding gua sekian kali, urat nadinya terasa sudah mulai lancar dan sudah bisa bicara. Tapi dalam keadaan begini dan di tempat seperti ini, apa pula yang dapat dikatakannya?

“Betapapun tak boleh mereka memperlakukan kasar kepadamu. Mereka tidak setimpal,” kata Lau-to-pacu pula.

Siau-hong tidak tahan untuk tidak bicara, “Baru sekarang kutahu. Rupanya sebelumnya sudah kau rencanakan akan membunuh mereka bilamana pekerjaanmu sudah selesai.”

Lau-to-pacu tidak menyangkal, “Bunuh sampai habis, seorang pun tidak boleh tertinggal.”

“Bisa jadi ruang bawah tanah di Boan-jui-lau itu adalah tempat kubur mereka.”

“Liang bawah tanah di perkampungan keluarga Yap itu juga serupa,” tukas Lau-to-pacu.

Siau-hong menghela napas, “Rencanamu ternyata belum gagal sama sekali.”

“Kan sudah kukatakan, rencanaku pasti takkan gagal,” Lau-to-pacu tertawa.

Terpaksa Liok Siau-hong harus mengakui, tampaknya sekarang, kemenangan terakhir tetap akan diperolehnya.

“Betapapun pemikiranku terlebih rapi daripadamu,” kata Lau-to-pacu pula dengan tersenyum.

“Misalnya ada sepuluh lapis benteng pertahananku sudah sembilan lapis kau bobol, pada akhirnya engkau kehabisan tenaga dan ambruk sendiri.”

“Sudah kau perhitungkan aku yakin tidak mampu membongkar wajah aslimu?”

“Di dunia sekarang tiada seorang pun yang dapat menjadi saksi bagimu, siapa yang mau percaya kepada apa yang kau katakan?”

“Masih ada satu orang,” ujar Siau-hong.

“Siapa?” tanya Lau-to-pacu.

“Kau sendiri,” jawab Siau-hong.

Lau-to-pacu terbahak-bahak.

“Hanya kau sendiri tahu apa yang kukatakan memang benar, maka harus kau bunuh diriku untuk menutup mulutku.”

“Dan bagaimana dengan dirimu? Apakah kau sendiri percaya sepenuhnya terhadap cara berpikirmu?”

“Aku” Siau-hong merasa ragu.

“Kutahu kau pun tidak percaya sepenuhnya, kecuali kau tanggalkan capingku ini dan melihat sendiri wajahku yang asli.”

Betapapun Siau-hong tidak bisa menyangkal.

“Masih ada hal lain, kau pun keliru,” kata Lau-to-pacu pula.

“Hal apa?” tanya Siau-hong.

“Aku tidak ingin membunuhmu.”

“Tidak ingin membunuhku?” Siau-hong menegas.

Lau-to-pacu tertawa. “Mengapa kubunuh dirimu? Padahal keadaanmu sekarang apa bedanya dengan orang mati?”

Dia tersenyum dan tinggal pergi dengan tenang, “Orang yang tidak berharga kubunuh pasti takkan kubunuh.”

“Dan sekarang bolehkah kulihat sesungguhnya siapa engkau?” teriak Siau-hong.

“Tidak boleh,” jawab Lau-to-pacu tanpa menoleh.

Sinar lilin gemerdep dan sudah hampir padam.

Lau-to-pacu sudah pergi, dinding raksasa pada lubang masuk itu pun sudah tertutup rapat.

Seumpama Liok Siau-hong dapat bergerak dengan bebas, juga pasti tidak dapat keluar lagi dengan hidup.

Tempat ini serupa sebuah kaleng yang tertutup rapat. Lalat saja tidak sanggup terbang keluar.

“Untuk apa kubunuhmu? Keadaanmu sekarang tiada bedanya dengan orang mati!” ucapan ini masih tcrngiang di telinga Liok Siau-hong.

Memang tidak ada bedanya, ‘kaleng’ yang tertutup rapat ini adalah kuburannya.

Cepat atau lambat setiap orang pasti akan masuk kubur. Cuma daripada duduk menunggu kematian di dalam kuburan, kan lebih baik mati saja terlebih cepat.

Celakanya, sebegitu jauh cara untuk mati lebih cepat saja sukar diperolehnya.

Lilin sudah hampir habis terbakar, jiwanya bukankah mirip dengan lilin ini?

Sampai sekarang baru disadarinya ternyata dirinya sendiri bukanlah ‘superman’ yang serba sukses dan serba bisa.

Jika sebelum ini dia selalu dapat lolos dari bahaya pada detik yang terakhir, mungkin semua itu hanya karena ‘hokki’ saja.

Akan tetapi setelah menghadapi lawan menakutkan seperti Lau-to-pacu, hokki menjadi tidak berguna sama sekali.

“Kutahu kau sendiri pun tidak percaya sepenuhnya kepada pemikiranmu sendiri terkecuali kau lihat wajahku yang asli”, teringal olehnya ucapan Lau-to-pacu ini.

Sekarang dia tak bisa lagi melihatnya untuk selamanya. Terpaksa soal ini harus dibawanya serta ke neraka. Apakah benar dia perlu menuju ke neraka?

Api lilin akhirnya padam, namun dia tetap masih hidup.

Jika berduduk menunggu kematian di dalam kuburan sudah tergolong konyol, duduk menanti kematian dalam kegelapan terlebih konyol lagi.

Teringat banyak hal oleh Liok Siau-hong, terkenang pula banyak orang. Bahkan teringat olehnya akan sepasang mata yang indah di balik jendela kereta itu.

Dalam keadaan begini dan tempat ini, mengapa dia terkenang kepadanya? Memangnya sepasang mata mencorong terang dari seorang perempuan lalu saja ada sangkut-pautnya dengan sesuatu hal yang misterius?

Tiba-tiba hawa di ruang rahasia ini terasa sumpek. Siau-hong mulai berkeringat, butiran keringat berjatuhan dari dahinya. Mendadak ia merasakan tangan sendiri sudah dapat bergerak.

“Engkau mempunyai sepasang tangan yang tidak ada bandingannya di dunia, kedua jarimu itu adalah mestika yang tak ternilai harganya.”

Setiap orang bilang demikian. Tapi apa yang dapat dikerjakan oleh kedua jarinya yang tak ternilai harganya itu sekarang, hanya dapat meraba dan memijat kaki sendiri, supaya dia lebih sadar dan jangan selalu menganggap diri sendiri luar biasa.

Namun sesudah sadar justru akan tambah menderita. Jika dapat tidur akan jauh lebih baik. Begitu mendusin dan mengetahui dirinya sudah berada di neraka, bukankah terlebih menyenangkan? Namua dia justru tidak dapat tidur.

Menyusul datangnya kegelapan dan rasa sumpek adalah kelelahan, kelaparan dan kehausan. Kehausan biasanya terasa terlebih menyiksa. Entah sampai kapan baru siksaan demikian akan berakhir?

Mungkin sampai mati!

Tapi bilakah baru akan mati?

Mendadak Siau-hong bernyanyi, lagunya tetap lagu anak-anak yang sering dinyanyikannya itu. Masa emas anak-anak, kenangan masa lampau yang indah, bahkan penderitaan waktu dulu kini pun berubah menjadi manis.

Kiranya kehidupan manusia sedemikian berharga, mengapa kebanyakan manusia baru akan sayang kepada kehidupannya bilamana sudah dekat ajalnya?

Tiba-tiba dalam kegelapan ada suara “brak” yang keras. Dinding raksasa itu mendadak terbalik.

Tertampak cahaya lampu, serombongan orang membanjir masuk, di antaranya terdapat Thi-koh Hwesio, Ong Cap-te, Hoa Ban-lau. Yang berjalan paling depan adalah seorang Tosu tua berambut putih. Jelas dia inilah Bok-tojin.

Menghadapi ajal mendadak mendapat pertolongan, hal ini seharusnya pantas dibuat girang, tapi mendadak Liok Siau-hong dibanjiri rasa gusar, saking gemasnya hampir saja ia jatuh kelenger

——

Esoknya, tanggal 15, menjelang petang di ruangan yang sunyi dan tenang, hanya terkadang terdengar gemerisik daun bambu di luar. Inilah Ting-tiok-siau-wan, pavilyun mendengarkan suara bambu di Bu-tong-san, tempat sang ketua menerima tetamu.

Tamu agung yang berkunjung sekali ini ialah Liok Siau-hong.

Dia berbaring di tempat tidur tanpa bergerak, sedang memandangi langit-langit kamar, tiada ubahnya seperti orang mati.

“Kalau saja Bok-cinjin tidak teringat kepada sebuah ruang di belakang gunung, sekali ini kau pasti mati,” yang bicara ini ialah Thi-koh Hwesio. “Tempat itu biasanya untuk mengurung anak murid Bu-tong-pay yang berbuat salah, sekarang tertib perguruan mereka tidak sekeras dahulu, tempat itu pun jarang didatangi orang. Sekali ini boleh dikatakan masih mujur.”

Mujur? Persetan! Tambah mendongkol Siau-hong mendengar ucapan tersebut.

“Tapi kau pun tidak boleh seluruhnya berterima kasih kepada kemujuran, yang membawa kami ke sana mencari dirimu adalah Bok-cinjin.”

Samar-samar makna yang dikemukakan paderi agung Siau-lim-si ini, tapi maksudnya cukup jelas.

Nyata dia tidak lagi mencurigai Bok-tojin adalah Lau-to-pacu, sebab: Kalau dia Lau-to-pacu, kenapa dia membawa kami pergi menolong kau?

Jalan pikiran orang lain dengan sendirinya sama, teori ini serupa dengan ‘satu tambah satu sama dengan dua’, cukup sederhana dan cukup gamblang.

Sebab itulah sebutan Bok-tojin lantas berubah menjadi Bok-cinjin (Cinjin adalah sebutan kepada pendeta To atau Tau yang tinggi ibadatnya).

Namun Liok Siau-hong sendiri cukup mafhum seluk-beluk urusan ini. Ia tahu bila Bok-tojin membunuhnya, ini berarti semua orang sukar menemukan sesuatu bukti dan semua orang pasti tetap curiga.

Tapi kalau sekarang dia menyelamatkan Liok Siau-hong, hal ini tidak cuma membuktikan dia bukan Lau-to-pacu, bahkan dapat mendatangkan rasa terima kasih dan hormat orang banyak.

Terpaksa Liok Siau-hong mengakui hal ini adalah perencanaan yang paling licik dan paling rapi yang pernah diketahuinya selama ini, Bok-tojin benar-benar lawan yang paling menakutkan yang pernah dihadapi selama hidupnya.

Tidak perlu disangsikan lagi peristiwa ini pun merupakan kegagalan paling besar selama hidupnya, sekarang mau tidak mau ia harus mengaku kalah.

Dalam had meski dia sangat jelas duduknya perkara ini, tapi tidak bisa diceritakannya, sebab biarpun dia bercerita juga takkan dipercaya orang.

Terpaksa dia hanya bertanya satu kalimat saja, “Darimana kalian mengetahui aku menghadapi bahaya dan terkurung di sini.”

“Kami yakin engkau pasti takkan hilang begitu saja tanpa sebab. Di belakang kaki gunung Bu-tong kami menemukan keretamu. Di dalam kereta terdapat sepotong bajumu, leher bajunya robek, juga ada kotoran yang kelihatan bekas bergulat di atas tanah.”

Jawaban ini sudah cukup membuktikan dia mengalami bahaya, sebab itulah dia tidak bertanya pula.

Sementara itu senja sudah tiba, di luar tiba-tiba bergema bunyi genta yang nyaring.

“Hari ini adalah upacara Bok-cinjin menjabat ketua Bu-tong secara resmi, apa pun juga engkau harus hadir untuk mengucapkan selamat,” demikian kata Thi-koh Hwesio.

Menyaksikan seorang yang seharusnya mendapatkan hukuman setimpal, tapi sekarang malah mendapatkan kedudukan dan kekuasaan, dengan sendirinya kejadian ini membuat hati Siau-hong tidak enak.

Tapi mau tak mau dia harus hadir. Dia tidak ingin mengelak.

Ia ingin diketahui Bok-tojin bahwa kekalahan yang dialaminya ini meski membuat hatinya sangat pedih, tapi tidak merobohkan dia.

Meski dia harus mengaku kalah, tapi ia ingin mengaku kalah dengan berdiri tegak berhadapan di sana.

Angin meniup menimbulkan gemersik daun bambu di luar, cuaca sudah mulai gelap.

Di ruangan pendopo sudah terang benderang, Bok-cinjin memakai kopiah emas dan berpedang tujuh bintang, di bawah cahaya lampu tampaknya bertambah kereng dan terhormat.

Bok-tojin yang dahulu suka mengembara kian-kemari dan hidup melarat itu kini sudah tidak ada lagi. Yang berdiri di sini sekarang ialah Bok-cinjin, pejabat ketua Bu-tong-pay ke-14 yang tidak boleh diremehkan siapa pun.

Diam-diam Siau-hong memperingatkan dirinya sendiri perlu ingat betul-betul hal ini. Lalu dia membetulkan pakaiannya dan melangkah ke depan, ia menjura dan berucap, “Selamat bahagia Totiang menaiki kedudukan terhormat ini, terimalah salam hormat Liok Siau-hong!”

Bok-cinjin tersenyum sambil memegang sebelah lengannya, “Ah, Liok-tayhiap jangan banyak adat.”

Liok Siau-hong juga tersenyum dan berkata pula, “Dengan susah payah akhirnya tercapailah cita-cita Totiang, sebaliknya Liok Siau-hong tetap Liok Siau-hong dan bukan Liok-tayhiap segala.”

Meski sikapnya ramah dan menghormat, namun ucapannya mengandung sindiran tajam. Lebih-lebih kata “akhirnya tercapailah cita-cita Totiang”. Nyata Siau-hong ingin Bok-cinjin mengetahui bahwa meski dia sudah kalah, tapi pasti bukan orang dungu yang tidak tahu apa-apa.

Maka Bok-cinjin berkata lagi dengan tertawa, “Ah, jika Liok Siau-hong masih tetap Liok Siau-hong, tentu Tosu tua juga tetap Tosu tua, kita masih tetap bersababat, betul tidak?”

Meski sambil tertawa, namun sorot matanya menampilkan sinar tajam juga. Tiba-tiba Siau-hong merasakan ada semacam arus tenaga yang maha kuat tersalur dari tangan Bok-tojin.

Dalam sekejap ini, pejabat ketua Bu-tong yang terhormat dan diagungkan sudah tidak ada lagi dan telah berubah pula menjadi Lau-to-pacu yang angkuh, culas tapi juga cerdik dan gagah perkasa itu. Dia seperti juga ingin memberitahukan kepada Liok Siau-hong, “Biarpun kau tahu siapa diriku juga tidak berhalangan, memangnya apa yang dapat kau lakukan atas diriku?”

Kedua tangannya yang memegang lengan Liok Siau-hong dan semula bermaksud mengangkat bangun tamunya ini mendadak berubah menjadi berat dan berdaya menekan ke bawah.

Daya tekanan kuat ini dapat menimbulkan dua akibat, tulang kedua lengan tertekan patah atau orangnya tertekan ke bawah dan bertekuk lutut.

Bagi Liok Siau-hong, tulangnya boleh patah seratus kali juga tidak sudi bertekuk lutut di depan orang ini. Syukur tulangnya tidak patah, sebab serentak ia pun mengerahkan tenaga sepenuhnya kepada kedua lengannya.

Yang terjadi kini adalah keras lawan keras, yang lemah akan kalah, dalam hal ini tidak ada jalan mengelak dan mengalah segala.

Kungfu mengatasi musuh untuk memperoleh kemenangan juga terdiri berbagai macam cara, ada yang menang dengan tenaga dalam, ada yang unggul dengan tenaga luar, ada yang menang dengan keuletan, ada juga yang menang karena lebih cerdik.

Perubahan ilmu silat Liok Siau-hong memang beraneka macam ragamnya dan sukar diraba musuh, mestinya kungfunya tergolong yang terakhir itu.

Akan tetapi sekarang dia sudah kadung mengerahkan tenaga sejati, serupa anak panah yang sudah terpasang di busurnya, atau orang sudah telanjur menunggangi harimau, ingin menarik diri juga tidak keburu lagi.

Maklumlah, tenaga lawan sesungguhnya terlalu kuat, bila dia menarik kembali tenaganya, sekujur badan pasti akan tertekan remuk.

“Krek”, balok batu yang berada di bawah kakinya sudah hancur, butiran keringat sebesar kedelai juga mulai menetes dari dahinya.

Air muka orang yang berdiri di sekitar mereka sama berubah, tapi semuanya hanya menyaksikan saja dengan mata terbelalak.

Tenaga kedua orang tampaknya setali-tiga-uang alias sama kuat. Bila ada orang ketiga ikut dalam pertarungan ini, sedikit selisih tenaganya tentu salah seorang di antara mereka akan celaka, tapi orang ketiga ini mungkin juga akan binasa oleh pergolakan tenaga mereka. Lantaran itulah siapa pun tidak berani menyerempet bahaya.

Sesungguhnya Liok Siau-hong juga tidak perlu menyerempet bahaya, sebab sudah dirasakannya pada saat terakhir Bok-cinjin hendak mengerahkan tenaganya tadi, mestinya dia masih sempat menarik diri, akan tetapi ia sudah pernah mengalah satu kali, dia tidak sudi mengalah lagi.

Akibatnya sekarang dia merasa napas sendiri tambah berat, denyut jantung tambah keras, sampai biji mata pun melotot seperti mata ikan mas.

Satu-satunya kekuatan yang mendukung daya tahannya adalah karena dia juga melihat keadaan Bok-tojin pun tidak lebih baik daripadanya.

Tampaknya siapa pun yang memenangkan pertarungan ini, harga yang harus dibayarnya pasti juga sangat besar, mestinya Bok-tojin juga tidak perlu berbuat demikian.

Mungkin dia tidak menyangka Liok Siau-hong memiliki keberanian dan jiwa pantang menyerah demikian ini, bisa jadi sekarang Bok-tojin sudah mulai menyesal.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari luar berlari masuk seorang Tojin muda. Tampaknya sangat gelisah, seperti telah terjadi sesuatu yang gawat, kalau tidak, mana dia berani menerobos begitu saja ke dalam ruangan pendopo ini.

Mendadak Bok-tojin tertawa dan bergeser dua tindak ke samping. Daya tekan beribu kati pada kedua lengan Liok Siau-hong itu mendadak lenyap sirna. Hal ini membuatnya hampir terbang ke atas karena kehilangan pegangan secara mendadak.

Sungguh tak terpikir olehnya lawan dapat menarik kembali begitu saja tenaga tekanannya dalam keadaan begitu, tampaknya dia kalah pula dalam pertarungan ini.

Sebelum dia sempat berganti rtapas, didengarnya Bok-tojin sudah berbicara dan menanyai tosu muda tadi, “Ada urusan apa?”

“Sebun Jui-soat datang!” jawab Tosu muda itu dengan gugup.

“Ada tamu agung, kenapa tidak disilakan masuk ke sini?”

“Dia berkeras naik ke atas gunung dengan membawa pedang,” tutur si Tosu muda dengan tangan masih gemetar. “Tecu sekalian tidak mampu menanggalkan pedangnya. Kini para Suheng yang berjaga di Kay-kiam-ti sana juga sudah terluka oleh pedangnya.”

Kejadian ini sungguh sangat gawat. Selama beratus tahun ini tidak ada orang yang berani sembarangan menyatroni Bu-tong-san.

“Orangnya berada di mana sekarang?” tanya Bok-tojin.

“Masih di Kay-kiam-ti, Pat Susiok (paman guru kedelapan) sedang berusaha menahannya di sana,” lapor Tosu muda itu.

Tangan Bok-tojin telah meraba tangkai pedangnya. Tangannya kurus kering, tapi pegangannya mantap, jarinya panjang dan kuat. Bilamana tangan ini memegang sebilah pedang yang cocok, bukankah tangan ini terlebih menakutkan daripada Sebun Jui-soat.

Mendadak Bok-tojin melangkah keluar dengan cepat. Melihat kepergiannya itu, hati Siau-hong timbul semacam perasaan takut yang sukar dikatakan.

Hanya dia saja pernah melihat pedang orang ini. Jika di dunia ini masih ada seorang yang mampu mengalahkan Sebun Jui-soat, maka tidak perlu disangsikan lagi orang itu ialah Bok-tojin ini.
Agaknya di Kay-kiam-ti atau kolam penanggal pedang segera akan merah dibanjiri darah. Dan darah siapakah?

Liok Siau-hong tidak berani memastikannya, betapapun dia tidak boleh membiarkan Sebun Jui-soat mati di tangan orang ini. Dia harus mencari akal untuk mancegah pertarungan ini.

Bok-tojin sudah melintasi halaman depan sana dan keluar pintu kuil, cepat Siau-hong menyusul ke sana.

Di luar kuil pepohonan menghijau permai, di balik semak semak tetumbuhan yang lebat sana seperti sedang mengintip sepasang mata yang mencorong terang.

Hati Liok Siau-hong berdebur. Pada saat itulah seorang yang berbaju belacu putih, baju orang berkabung mendadak melompat keluar dari balik semak-semak dangan pedang terhunus, secepat kilat pedangnya lantas menusuk ke hulu hati Bok-tojin.

Saat itu tangan Bok-tojin juga sedang memegang tangkai pedangnya. Sebenarnya dengan sangat mudah dapat dia melolos pedang dan mengalahkan si penyergap ini, bahkan dengan sangat gampang penyergap ini dapat dibunuhnya.

Tapi entah mengapa, pedang tidak dilolosnya. Ketika melihat perempuan yang berbaju berkabung ini, dia seperti melongo tertegun. Dan pada detik itulah pedang perempuan berbaju putih itu telah menembus hulu hatinya.

Bok-tojin tidak lantas roboh, ia pandang nona itu dengan tercengang, seperti tidak percaya kepada apa yang terjadi. Air mukanya bukan cuma tercengang saja, juga menampilkan semacam perasaan duka dan pedih yang sukar dilukiskan.

“Kau … kau bunuh diriku?” tegurnya kemudian dengan suara terputus-putus.

“Kau bunuh ayahku, dengan sendirnya kubunuh kau!” jawab nona itu.

“Ayahmu?”

“Ya, ayahku adalah Lau-to-pacu yang mati di bawah pedangmu itu.”

Mendadak kulit muka Bok-tojin berkerut-kerut. Ucapan nona itu serupa jarum yang menusuk telak pada hatinya, bahkan jauh lebih telak dan lebih tajam daripada pedang yang bersarang di hulu hatinya ini.

Mandadak wajahnya menampilkan semacam perasaan takut yang sukar dilukiskan, jelas bukan rasa takut mati.

Yang ditakutinya adalah kejadian di dunia ini yang tidak dapat dijelaskan dan sukar dibayangkan dalam sekejap ini mendadak telah memberikan jawabannya. Segala hal yang mestinya tidak dipercayanya, dalam sekejap ini membuatnya mau tidak mau harus percaya.

Mendadak ia menghela napas dan bergumam, “Bagus… bagus…”

Inilah dua patah kata terakhir yang diucapkannya. Habis ini dia lantas roboh dan tidak pernah bangun lagi untuk selamanya.

Liok Siau-hong menyaksikan pedang itu bersarang di hulu hatinya, juga menyaksikan dia roboh terkulai, dirasakan sekujur badan sendiri sedingin es, wajahnya juga menampilkan semacam rasa takut yang sukar dilukiskan.

Inilah hukum Yang Maha Kuasa, barang siapa berdosa, dia akan manerima ganjarannya yang setimpal tanpa terkecuali.

Alam halus seakan-akan benar ada semacam kekuatan gaib yang tak kelihatan yang menentukan nasib manusia, tidak ada seorang pun yang pantas mendapatkan hukumanNya dapat lolos. Kekuatan ini meski tidak kelihatan dan tidak dapat diraba, tapi setiap saat dapat dirasakan oleh setiap orang akan kehadiran-Nya.

Rasa takut Bok-tojin tadi juga disebabkan dia merasakan kehadiran-Nya. Sekarang hal ini juga dirasakan oleh Liok Siau-hong, timbul rasa hormat dan segannya, hampir saja ia berlutut di tengah kegelapan ini.

Orang lain juga sama tergetar, selang agak lama barulah ada anak murid Bu-tong-pay yang menerjang maju untuk mengepung si pembunuh gelap itu.

Tapi segera si nona membentak, “Kalian mundur semua, apa yang kulakukan akan kuselesaikan sendiri.”

Dalam kegelapan malam wajahnya yang pucat lesu itu, tampaknya cantik dan anggun sekali, serupa malaikat perempuan penuntut balas, ucapnya pula, “Aku bernama Yap Soat. Akulah putri Lau-to-pacu, jika ada orang menganggap aku tidak boleh menuntut balas bagi kematian ayahku, silakan maju dan membunuh saja diriku.”

Mendadak ia menarik leher bajunya sehingga terpampang dadanya yang putih bersih. Namun tidak ada orang yang berani mendekatinya.

Setiap orang seakan-akan sama terpengaruh oleh kecantikannya, oleh sikapnya yang anggun dan suci itu. Lebih-lebih Liok Siau-hong. Hanya dia saja yang tahu sesungguhnya siapa ayah Yap Soat yang sebenarnya, sebab … Bok-tojin ialah Lau-to-pacu.

Dengan sendirinya ia tak dapat memberitahukan hal ini, ia tidak sampai hati dan juga tidak mau memberitahukannya. Apalagi, umpama dikatakannya juga tidak ada orang yang mau percaya.
Akibat ini adalah gara-gara perbuatan Bok-tojin sendiri, sekarang dia telah makan hasil kejahatan sendiri, meski perencanaannya rapi, tapi tak terduga olehnya betapapun dia tak bisa lolos dari tangan-Nya.

“Sebenarnya aku telah mati di rawa itu, namun aku tidak mati,” kata Yap Soat.

Dia seorang nona pemburu macan tutul. Dengan sendirinya dia seorang sabar, tekun, jauh lebih tahan derita dan bahaya apa pun. Sudah lama dia menguasai kesabaran menunggu, sebab itulah dia dapat menunggu sampai sekarang, sampai datangnya kesempatan paling baik untuk turun tangan.

“Aku tidak mati, sebab Thian menghendaki aku membalas sakit hati,” katanya pula dengan suara dingin dan tenang. “Sekarang cita-citaku sudah terkabul, aku takkan menanti kalian turun tangan, sebab…”

Baru sekarang dia memandang Liok Siau-hong. Sorot matanya menampilkan semacam perasaan yang sukar dijelaskan. Bukan duka, juga bukan derita. Namun, hati siapa pun pasti akan hancur bilamana melihatnya.

Hati Liok Siau-hong hancur, remuk rendam. Tapi Yap Soat lantas menegakkan kepala lagi, bisa melihatnya sekejap agaknya sudah terpenuhi angan-angannya yang terakhir, dan dia pasti takkan menunggu orang lain turun tangan padanya, dia akan menyelesaikan dirinya sendiri…

Darah yang perlu mengucur sudah mengalir habis. air kolam di bawah ‘tebing penanggal pedang’ masih jernih, Bu-tong-san juga masih menjulang tinggi dan tegak, tetap pegunungan suci, pusatnya agama To yang dikagumi orang, tanah sucinya dunia persilatan.

Yang berubah adalah manusianya, dari hidup sampai mati, dari muda menjadi tua, perubahan yang terjadi ini terkadang datangnya sangat mendadak.

Segala persoalan cinta kasih, dendam, budi dan rahasia, kini sudah terpendam untuk selamanya bersama dengan datangnya perubahan mendadak itu. Semuanya sudah terpendam di lubuk hati Liok Siau-hong yang paling dalam.

Sekarang dia cuma ingin mencari suatu tempat yang tidak ada orang, tempat yang sunyi untuk melewati kehidupannya dengan tenang.

Sebelum fajar menyingsing, ia lantas turun gunung. Tak diketahuinya bahwa di kaki gunung masih ada seorang sedang menunggunya.

Seorang berdiri di samping Kay-kiam-giam, tebing penanggal pedang, seorang berbaju putih mulus.

Perlahan Siau-hong mendekatinya dan menegur, “Kini segalanya sudah selesai, mengapa engkau belum lagi pergi?”

“Meski segalanya sudah selesai, tapi lakonnya belum tamat,” jawab orang itu, Sebun Jui-soat.

“Memangnya apa pula yang akan kau lakukan?” tanya Siau-hong.

“Aku mengejar beribu li jauhnya, tujuanku hanya ingin membunuh seorang,” sahut Sebun Jui-soat. “Sekarang orang yang kuburu belum mati. Aku ingin meniupkan satu lagu baginya, lagu kematian dan kutiup dengan pedangku.”

“Orang yang kau maksudkan adalah diriku?” tanya Siau-hong.

“Ya, kau!” kata Jui-soat.

“Masakah kau lupa, pengejaranmu padaku hanyalah pura-pura saja?”

“Aku cuma tahu pada umumnya orang kangouw tidak membedakan pura-pura atau sungguhan. Pokoknya, bila kau masih hidup berarti penghinaan bagiku.”

Siau-hong memandangnya, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Apakah sengaja kau paksa aku turun tangan? Ingin kau coba apakah aku mampu mematahkan jurus seranganmu yang tidak ada bandingannya di dunia ini?”

Sebun Jui-soat tidak menyangkal.

“Kutahu engkau sangat ingin tahu jawaban soal ini. Aku pun tahu inilah kesempatan yang paling baik bagimu. Cuma sayang, engkau tetap sukar mencobanya.”

“Sebab apa?” tanya Sabun Jui-soat.

Senyuman Siau-hong tampak letih dan kesal, sahutnya dengan hambar, “Asalkan pedangmu terlolos dari sarungnya, segera kau tahu apa sebabnya. Untuk apa pula kau tanyakan sekarang?”

Masa Siau-hong tidak bersedia untuk menghindari serangan Sebun Jui-soat?

Sebun Jui-soat memandangnya sampai sekian lama. Kabut tampak mulai mengambang mengelilingi alam sana. Mendadak, Sebun Jui-soat membalik tubuh dan menuju ke balik kabut.

“He, kenapa tidak jadi turun tangan?” seru Siau-hong.

Tanpa menoleh Sebun Jui-soat menjawab, “Sebab hatimu sudah mati, pada hakikatnya engkau hanya seorang mati!”

“Hatiku sudah mati? Apakah benar hatiku sudah mati?” Siau-hong bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Apakah aku sudah tidak mampu berbuat sesuatu lagi serupa orang mati?”

Pertanyaan ini hanya dia sendiri yang dapat memberikan jawabannya.

Di tengah remang kabut sudah kelihatan cahaya subuh di ufuk timur, Liok Siau-hong membusungkan dada dan menuju ke arah cahaya terang dengan langkah lebar.

TAMAT

Advertisements

1 Comment »

  1. Boz mana lanjutany?
    Tlg dipost scptny plzzz

    Comment by Uqi — 28/06/2010 @ 4:18 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: