Kumpulan Cerita Silat

29/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:38 am

Pendekar Empat Alis
Buku 07: Duel di Bu Tong
Bab 05
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Hiu_Khu)

Tentu saja Siau-hong terkejut. Begitu masuk, serentak dia melompat ke atas. Belandar ruang pendopo itu sedikitnya sepuluh tombak tingginya dari permukaan lantai. Tidak ada orang mampu sekali lompat mencapai sepuluh tombak tingginya.

Tapi Liok Siau-hong letap Liok Siau-hong. Selagi mengapung di udara, segera ujung kaki kanan menginjak telapak kaki kiri. Dengan tenaga tolakan ini kembali tubuhnya menjulang lebih tinggi lagi ke atas dan kembali sekali lagi dengan cara yang sama dapatlah dia mencapai belandar tengah ruang pendopo.

Ciok Gan masih tetap berdiri termenung di situ, seperti orang yang tidak sadar dan tidak tahu apapun.

Baru saja Siau-hong menghembuskan napas lega, serentak Ong Cap-te, Ko Hing-kong si mata elang dan lain-lain menerjang masuk.

“Adakah orang yang baru saja masuk ke sini?” tanya mereka.

Perlahan Ciok Gan membalik tubuh dan menjawab, “Ada!”

Terdengarnya jawaban “ada” ini serupa tertuduh mendengar vonis kematian yang dijatuhkan kepadanya bagi Siau-hong.

Didengarnya seorang bertanya lagi, “Di mana orangnya?”

“Di sini,” kata Ciok Gan dengan tertawa, “Aku inilah baru saja masuk ke sini.”

Semua orang sudah pergi, sampai Ciok Gan juga sudah pergi.

Bilamana ketua Bu-tong-pay bilang tidak ada orang lain masuk ke situ, maka sekalipun ada orang melihat jelas Liok Siau-hong berada di situ pasti juga akan menyangka matanya sendiri sudah lamur.

Banyak orang menganggap setiap kata ketua Bu-tong-pay jauh lebih dapat dipercaya daripada matanya sendiri. Sebab Ciok Gan pasti tidak berdusta, dengan ketajaman mata telinganya masakah dia tidak tahu ada orang masuk ke situ?

Tiba-tiba Liok Siau-hong teringat kepada permainan anak kecil. Apabila seorang anak bersembunyi di belakang kursi paman, lalu anak yang lain datang bertanya, selalu paman akan bilang tidak ada orang sembunyi di sini.

Padahal Ciok Gan bukan pamannya, mengapa dia menutupi tempat sembunyinya?

Untuk ini Siau-hong tidak sempat memikirkannya.

Debu di atas belandar sangat tebal, tapi dia toh berbaring di situ dengan harapan dapat tidur sebentar. Sekarang jelas dia tidak dapat memperlihatkan diri lagi, ia harus menunggu di sini, menunggu sampai waktu lampu padam.

Bila saat itu tiba, dari atas belandar dia tetap bisa turun tangan. Sebab itulah dia memilih tempat sembunyi ini, di sini sedikitnya tidak ada bau busuk lobak kering. Cuma sayang, masih juga dia tidak dapat tidur. Ia kuatir jatuh ke bawah. Bukan saja takut jatuh ke bawah, juga kuatir debu di atas belandar bertebaran ke bawah. Maka runyamlah dia, sampai bergerak saja tidak berani.

Ketika teringat olehnya rasa laparnya, ia mulai menyesal. Menyesali diri sendiri mengapa tidak berlaku prihatin. Kan, lebih baik berdiam di rumah itu. Betapa bau, lobak kering kan tidak sebusuk apa yang dibayangkannya.

Dalam pada itu ada beberapa orang masuk lagi ke ruangan pendopo. Ada yang sibuk membersihkan lantai, ada yang mengatur kursi, ada pula yang bertanya, “Siapa yang bertugas mengurus minyak lampu?”

“Tecu Tiang-cin,” sahut seorang.

“Sudah ditambah belum minyaknya?”

“Sudah!”

Rupanya penanya itu sangat puas, agaknya cara bekerja Tiang-cin biasanya memang rajin dan dapat dipercaya.

Anehnya, mengapa anak murid Bu-tong-pay bisa dibeli oleh Lau-to-pacu? Terhadap seluk-beluk Bu-tong-san mengapa dia juga sedemikian hapal?

Siau-hong tidak memikirnya. Akhir-akhir ini dia seperti enggan menggunakan otak untuk memikirkan apapun.

Orang-orang itu sudah ada yang pergi. Tinggal beberapa orang saja yang berjaga di ruang pendopo.

Selang sekian lama pula, terdengar oleh Siau-hong beberapa orang itu sedang kasak-kusuk, yang dibicarakan adalah ‘mata-mata musuh’ yang menyamar sebagai Tosu pelayan.

“Sungguh aku tidak mengerti, di sini kan tidak ada rahasia apa-apa. Mengapa ada mata-mata musuh, memangnya mau apa?”

“Mungkin dia bermaksud mencuri.”

“Mencuri barang tosu miskin seperti kita ini?”

“Jangan lupa, tamu yang datang beberapa hari ini adalah tamu agung semua.”

“Bisa jadi dia bukan pencuri, juga bukan mata-mata musuh.”

“Habis apa?”

“Pembunuh gelap, hendak membunuh tetamu kita.”

“Sekarang belum dapat kita tangkap dia?”

“Belum.”

“Kukira dia sudah kabur ke bawah gunung. Dia bukan orang dungu. Masakah, masih berani tinggal di atas gunung untuk menanti kematian.”

“Yang celaka ialah Tiang-cing. Konon dia yang membawa orang itu ke atas gunung, saat ini pemimpin besar ke 12 pelabuhan itu sedang mengadakan pemeriksaan kepadanya.”

Konon kepandaian Hun-kin-co-kut-jiu (cara membikin tulang keseleo dan otot terkilir) si mata clang Lau-jit lain daripada yang lain. Di bawah tangannya, orang mati pun terpaksa harus buka mulut. Dan apakah Tiang-cing akan mengku? Betapa banyak rahasia rencana Lau-to-pacu yang diketahuinya?

Selagi Siau-hong merasa kuatir, tiba-tiba terdengar pula suara langkah orang. Dua orang berlari masuk dengan napas terengah dan menyampaikan berita yang mengejutkan, “Tiang-cing sudah mati!”

“Cara bagaimana matinya?” tanya seorang.

“Waktu Jisusiok mendesak pengakuannya, mendadak dari luar menyambar masuk sepotong bambu dan memanteknya hidup-hidup di atas kursi.”

“Pembunuh gelap itu tertangkap tidak?”

“Tidak, kakek guru dan para paman guru sudah mengejar keluar.”

Siau-hong menghela napas, apa yang terjadi ini tidak mengejutkan dia, membunuh untuk menghilangkan saksi, hal ini biasa dilakukan oleh mereka.

Cuma memantek mati seorang di atas kursi, kepandaian ini tidak banyak dikuasai orang, bahkan Piauko dan Koan-keh-po juga tidak mempunyai kemampuan ini. Kecuali pembunuh ini, siapa pula yang telah menyusup ke atas Bu-tong-san?

Bu-hou dan Bu-pa bersaudara serta Ciok Ho jelas tidak berani naik ke Bu-tong-san sedini ini, jangan-jangan yang datang ialah Lau-to-pacu?

Cara bagaimana dia datang ke sini, dengan menyamar sebagai apa dia datang? Mungkinkah juga menyamar sebagai Tosu pekerja?

Mendadak di bawah ada orang bertanya pula, “Matinya Tiang-cing kan tidak ada sangkut-pautnya dengan kita, untuk apa kau lari ke sini untuk menyampaikan berita ini?”

“Tidak ada sangkut-pautnya denganmu, tetapi ada sangkut-pautnya dengan Tiang-cin Suheng

“Ya, kupaham,” sela seorang lagi, “sesudah Tiang-cing mati, Tiang-jing juga dihukum, dengan sendirinya Tiang-cin Suheng akan menggantikan mereka sebagai kepala kita, jadi kalian datang menyampaikan berita menyenangkan ini.”

Tampaknya para Tosu pekerja ini tidak taat kepada ajaran agama. Diam-diam mereka juga berebut kedudukan dan ingin berkuasa.

Selagi Siau-hong merasa gegetun, tiba-tiba terdengar serentetan suara tajam aneh berkumandang dari luar. Sampai dia tidak tahu suara apakah itu, yang jelas anak telinga serasa pekak.
Dalam sekejap itu ruang pendopo telah berjangkit serentetan suara jeritan ngeri dan teriakan singkat, “He, kau…”

Belum lanjut ucapan itu, segala suara lantas terputus secara mendadak.

Siau-hong tidak tahan, perlahan ia coba melongok ke bawah, tapi hanya memandang sekejap saja, seketika kaki dan tangan terasa dingin.

Di bawah semula ada sembilan orang, sembilan orang hidup, tapi hanya dalam sekejap saja sembilan orang hidup itu telah berubah menjadi orang mati. Leher kesembilan orang telah tersayat putus, tidak perlu disangsikan lagi, jelas semuanya mati oleh tebasan pedang.

Hanya sekali serang saja lantas membinasakan. Padahal anak murid Bu-tong-pay kebanyakan punya dasar kungfu yang kuat, tapi dalam sekejap saja mereka telah terbunuh.

Suara aneh tadi kiranya suara mendesing sambaran pedang.

Sungguh pedang yang cepat dan serangan yang keji. Biarpun Sebun Jui-soat yang malang melintang itu juga belum tentu lebih hebat daripada orang ini.

Lantas siapakah gerangan pambunuh ini? Mengapa dia membinasakan kawanan Tosu pekerja yang tidak ada artinya ini.

“Ah, lantaran Tiang-cing,” tiba-tiba Siau-hong paham persoalannya. “Dia memperhitungkan, setelah Tiang-cing mati, orang lain pasti akan menanyai Tiang-cin, maka lebih dulu ia bunuh Tiang-cin untuk menutup mulutnya.”

Jika demikian, pembunuh Tiang-cing tentu juga dia.

Bahwa orang ini dapat pergi-datang dengan bebas di Bu-tong-san yang keramat ini dan membunuh sesukanya, sesungguhnya apa kedudukannya di sini.

“He, kau…” Sebelum mati Tiang-cin sempat berucap demikian, jelas karena dia kenal orang ini dan juga tidak menyangka si pembunuh ialah orang ini.

Siau-hong jadi menyesal, apabila suara aneh tadi berjangkit segera ia melongok, mungkin itulah satu-satunya kesempatan baginya untuk melihat wajah asli pembunuh itu. Tapi kesempatan baik sudah berlalu dan takkan diperoleh pula selamanya.

Orang mati jelas tak dapat buka mulut, betapa lihai cara si mata elang menyiksanya juga sukar memperoleh pengakuannya.

Maka semua rencana dan acara pasti akan berlangsung seperti biasa.

Terpaksa Siau-hong menunggu lagi, menunggu sampai hari gelap, menunggu sampai lampu dinyalakan hingga lampu padam pula.

Rasanya orang menunggu sungguh tidak enak.

Lambat-laun tiba juga magrib, hari sudah mulai gelap, lampu di ruangan pendopo sudah dinyalakan. Namun, di atas belandar tetap sangat gelap.

Cahaya matahari tidak dapat menyinari tempat ini, cahaya lampu juga tidak. Di dunia ini memang terdapat banyak tempat yang selamanya tidak mendapatkan cahaya.

Banyak manusia juga begitu, tidak pernah mendapat cahaya, selalu hidup dalam kegelapan.

Memangnya Liok Siau-hong sudah berubah menjadi orang begini? Masakah selama hidupnya tidak ada kesempatan untuk menonjol dan akan selalu bersembunyi dalam kegelapan seperti tikus, menghindari Sebun Jui-soat?

Mungkin dia masih ada kesempatan, bisa jadi operasi ini adalah satu-satunya kesempatan baginya, sebab itulah dia tidak boleh gagal. Akan tetapi ia sendiri tidak yakin dan pasti.

Siapakah yang yakin mampu mengambil kopiah dari atas kepala Ciok Gan? Tiada seorang pun yang teringat olehnya.

Ruang pendopo di bawah bergema pula suara langkah orang, seorang yang berjalan paling depan melangkah dengan berat, tapi suara langkahnya tetap sangat ringan.

Mau tak mau Siau-hong mengintip pula ke bawah, tertampak sebarisan Tojin berjubah ungu dan berkopiah merah berturut-turut masuk ke situ, yang paling depan ternyata Bok-tojin adanya.

Dia bersahabat sekian lama dengan Bok-tojin. Baru sekarang diketahuinya betapa hebat kungfu tokoh tua Bu-tong-pay ini.

Ciok Gan belum muncul, kursi utama di tengah masih kosong. Bok-tojin lantas berduduk pada kursi kedua.

Meski dia disegani dan terhormat, tingkatannya sangat tinggi, tapi selama sang pejabat ketua hadir, dia tetap harus mengalah. Inilah peraturan Bu-tong, juga etika Kangouw umumnya, siapa pun tidak dapat mengubahnya.

Cahaya lampu di tengah pendopo terang benderang, ada suara genta bergema di luar. Bok-tojin lantas keluar menyambut, para tamu beruntun telah datang.

Sikap setiap orang tampak sangat prihatin. Sikap si mata elang Lau-jit dan lain-lain terlebih serius. Jelas belum lupa kepada peristiwa yang terjadi siang tadi.

Si kakek tinggi besar itupun hadir. Tempat duduknya bahkan lebih terhormat daripada tempat duduk si mata elang. Memangnya apa kedudukannya? Mengapa selama ini tidak menonjol di dunia kangouw? Sebab apa pula saat ini dia muncul mendadak?

Terus menerus Siau-hong menatap kakek ini. Ia merasa dirinya seharusnya kenal orang ini, tapi justru tidak kenal.

Kursi yang tersedia di ruang pendopo tidak banyak. Maklumlah, orang yang berhak mendapatkan tempat duduk terhormat memang tidak banyak. Tamu yang datang tidaklah sedikit, yang tidak mendapatkan tempat duduk terpaksa harus berdiri.

Thi-koh Hwesio, Ciok Gan, Ong Cap-te, Cui-siang-hui, Ko Hing-kong, Koh-tojin dari Pah-san dan si mata elang. Di belakang mereka banyak berdiri orang. Setiap orang itu ada kemungkinan sedang menunggu mencabut nyawa mereka.

Di antara orang-orang yang berdiri itu ada yang sudah pernah dinyatakan mati dan kini telah hidup kembali? Lantas siapakah di antara mereka ialah Toh Thi-sim? Siapa Koan Thian-bu, siapa nenek Lo?

Siau-hong terus mengamat-amati orang-orang itu, ia sedang mencari mereka.

Wajah mereka sesudah menyamar, kecuali Lau-to-pacu dan Kian-long-kun, hanya Liok Siau-hong saja yang tahu.

Kian-long-kun sudah melukiskan wajah samaran mereka kepada Liok Siau-hong. Di hotel kelas satu, kakus tentu juga cukup luas, kecuali membuang hajat dapat pula digunakan mengerjakan urusan lain.

Jika anjing yang dibunuh Hay Ki-koat itu anjing sungguhan, lantas kemana perginya Kian-long-kun, si jaka anjing? Apakah rahasia ini juga cuma diketahui oleh Liok Siau-hong saja?

Dengan cepat dapatlah Siau-hong menemukan mereka. Bahkan Ciok Ho yang tidak punya wajah itu sekarang juga sudah mempunyai sebuah muka.

Jelas mereka sedang mengincar sasaran masing-masing dengan ketat. Mereka menunggu, begitu lampu padam, serentak turun tangan.

Satu-satunya orang yang tidak menjadi sasaran agaknya cuma Bok-tojin saja. Apakah lantaran sudah lama dia tidak ikut campur urusan dunia Kangouw, maka Lau-to-pacu tidak menjadikan dia sebagai sasaran operasinya?

Siau-hong tidak berpikir lebih banyak lagi, sebab pada saat itu sasarannya sendiri juga telah muncul.

Ketua Bu-tong-pay dengan berkopiah warna emas telah masuk di bawah iringan empat Totong (Tosu anak-anak) yang memegang berbagai peralatan.

Ciok Gan Totiang yang dihormati dan disegani ini bukan cuma kungfunya saja yang memang tinggi, pada waktu mudanya dia sudah kenyang pengalaman tempur, ilmu pedang, Lwekang, dan kekuatannya sudah jarang ada bandingannya.

Akan tetapi sekarang dia kelihatan sangat lelah, sangat loyo, bahkan rada tegang.

Ya, Giok Gan memang rada tegang.

Menghadapi tamu agung sebanyak ini, meski mau tak mau dia harus menyambut mereka dengan tersenyum, namun di dalam hati terasa tegang dan gopoh. Selama sepuluh tahun terakhir jarang sekali terjadi hal begini atas dirinya.

Hari ini, lamat-lamat seperti timbul semacam firasat tidak enak dalam hatinya, ia tahu pasti akan terjadi hal-hal yang tidak menguntungkan.

“Bisa jadi aku memang harus mundur,” demikian dia sedang berpikir. “Perlu aku mencari tempat yang tenang dan sepi, kubangun dua gubuk, dan seterusnya tidak ikut campur persoalan dunia kangouw dan juga tidak menemui siapa pun.”

Tapi sayang, sampai saat ini, semuanya itu tetap merupakan khayalan belaka. Apakah selanjutnya dia benar-benar dapat mengundurkan diri dari dunia kangouw pada saat yang tepat, untuk ini ia sendiri tidak yakin benar.

Bilamana dia merasa tegang dan lelah, akan dirasakannya belakang lehernya mengeras dan kepala pun sakit. Lebih-lebih sekarang, karena memakai kopiah emas yang tidak ringan bobotnya, kepala terasa tertindih dan tambah sakit.

Dalam pada itu para tetamu serentak berdiri menyambut kedatangannya. Ia tahu mereka menghormati dirinya hanya karena dia pejabat ketua Bu-tong-pay. Meski dia tidak seluruhnya menyukai orang-orang ini, mau tak mau ia harus memperlihatkan senyuman manis dan menegur sapa dengan para tetamu.

Semua ini bukankah mirip main sandiwara belaka? Jika dia sudah berperan, biarpun kuduknya tambah kaku dan kepala tambah sakit, terpaksa dia harus bermain terus.

Cahaya lampu di ruang pendopo terang benderang. Dipandang di bawah cahaya lampu, Thi-koh Hwesio dan Ong Cap-te jelas terlebih letih dan lebih tua daripada dia.

Padahal mereka seyogianya juga harus pensiun dan hidup tenteram di rumah saja, hakikatnya mereka tidak perlu datang ke sini.

Sesungguhnya Ciok Gan enggan bertemu dengan mereka, terutama Ong Cap-te, jelas-jelas seorang berjiwa sempit dan berhati culas, sakit hati sedikit saja pasti menuntut balas, tapi lagaknya justru seperti seorang tokoh pehgelana yang berbudi luhur dan sok jenaka.

Ada lagi si Koh-tojin cilik yang suka bercermin itu, pantasnya dia menjadi germo saja, mengapa menjadi Tosu segala?

Upacara sudah mulai berlangsung. Setiap acaranya entah sudah berapa kali pernah dilakukan Ciok Gan, apa yang perlu dikatakan juga entah sudah berapa kali pernah diucapkannya. Karena itulah semuanya berjalan dengan lancar biarpun dalam hatinya sedang memikirkan macam-macam urusan.

Menyusul tiba saatnya dia harus mengumumkan nama ahli warisnya. Ia coba melirik beberapa anak muridnya yang terhitung penting, yang besar harapannya diangkat menjadi ahli waris, kelihatan mereka juga sama tegang.

Jika nama yang diumumkannya nanti bukan nama beberapa murid ini, lalu bagaimana air mukanya? Dan apa pula reaksi orang lain? Semua ini pasti sangat menarik.

Teringat hal ini, tanpa terasa tersembul senyuman pada ujung mulutnya, hampir saja ia bergelak tertawa.

Tapi dia dapat mengekang perasaan sendiri. Selagi dia siap melaksanakan acara pokok dalam upacara ini, sekonyong-konyong sebuah lampu yang biasanya tidak pernah padam, kini mendadak sirap.

Seketika timbul firasat tidak enak dalam hatinya, ia menyadari alamat jelek yang dirasakannya sebelumnya segera akan terbukti.

Hampir pada saat yang sama, hanya sekejap saja, ke 72 lampu di seluruh ruang pendopo serentak juga padam semua. Berbareng terdengar desir angin tajam yang ramai, beberapa api lilin di meja sembahyang juga tertimpuk padam. Ruang pendopo yang semula terang benderang seketika berubah menjadi gelap gulita.

Dalam kegelapan lantas bergema serentetan jeritan ngeri, menyusul terdengar angin kencang menyambar dari atas belandar ke arah kepalanya, mengguncangkan kopiah pertapaannya. Waktu ia hendak memegang kopiahnya, tahu-tahu kopiahnya sudah terbang.

“Cring”, serentak Jit-sing-kiam, pedang tujuh bintang yang tergantung di pinggangnya juga terlolos, tapi bukan dilolos oleh Ciok Gan sendiri. Cepat ia melompat ke atas, segera terasa bagian iga “nyes” dingin, rasanya seperti tersayat oleh mata pedang.

Semuanya itu hampir terjadi juga pada sekejap itu secara serentak. Pada hakikatnya semua orang tidak tahu apa yang terjadi, dengan sendirinya juga tidak tahu cara bagaimana harus menghadapinya.

Di tengah suara jeritan ngeri tadi agaknya juga terdapat suara lokoh kelas tinggi seperti Thi-koh Hwesio, Ong Cap-te dan lain-lain. Kemudian terdengar suara bentakan Bok-tojin, “Siapa yang membawa geretan api? Lekas nyalakan lampu!”

Suaranya terdengar tetap sangat tenang, tapi Ciok Gan dapat mendengar di tengah suaranya itu mengandung juga rasa sakit. Apakah Bok-tojin juga terluka?

Meski semua itu berlangsung dalam sekejap saja, tapi selamanya sukar dilupakan oleh siapa pun.
Akhirnya lampu menyala kembali, tapi semua orang tambah terkejut, tambah ngeri. Siapa pun tidak percaya kepada apa yang terlihat, tapi semua ini justru kejadian nyata…

Thi-koh Hwesio, Ong Cap-te, Koh-cinjin dari Pak-san, Cui-siang-hui, Ko Hing-kong, si mata elang Lau-jit, ada pula beberapa anak murid Bu-tong-pay yang penting, semuanya tergeletak di tengah genangan darah.

Malahan pada pinggang Ong Cap-te tertancap pula sebilah pedang, hampir sebagian besar mata pedang itu bersarang di tubuhnya.

Tubuh Bok-tojin juga berdarah, meski terluka, tapi sikapnya paling tenang, “Pengganas pasti masih berada di sini. Sebelum jelas duduknya perkara, hendaknya samua orang tetap tinggal di tempat masing-masing.”

Karena kejadian yang luar biasa ini, nada Bok-tojin juga berubah sangat kereng, “Barang siapa asalkan melangkah keluar satu langkah saja akan sukar terlepas dari tuduhan sebagai pengganas, maka jangan menyesal jika anak murid Bu-tong akan bertindak tegas kepada Anda.”

Ternyata tidak ada orang berani sembarangan melangkah, tidak ada yang ingin tersangkut dan menimbulkan rasa curiga orang.

Anehnya, orang yang masih berada di ruang pendopo tidak ada yang membawa senjata, lalu darimana datangnya senjata untuk membunuh itu dan sekarang kemana perginya senjata itu?

Meski tidak luka parah, Ciok Gan, tapi jelas dia terlebih berduka, murka dan lesu daripada orang lain.

Dengan suara tertahan Bok-tojin berkata kepada Ciok Gan, “Pengganas ini tidak cuma seorang saja. Setelah berhasil menyerang, sangat mungkin mereka lantas mengundurkan diri dalam kegelapan, tapi tidak mungkin mereka meninggalkan Bu-tong-san seluruhnya.”

“Jika semua orang harus tetap tinggal di sini, lalu siapa yang akan mengejar mereka?” kata Ciok Gan.

“Biar aku yang pergi,” ucap Bok-tojin. Ia pandang anak murid Bu-tong yang siap menerima perintah dan berkata pula, “Perlu kubawa beberapa pembantu.”

“Anak murid perguruan kita terserah kepada susiok untuk memberi perintah seperlunya,” ujar Ciok Gan.

Segera Bok-tojin berangkat dengan membawa sepuluh orang, dengan sendirinya semua anak murid Bu-tong-pay pilihan.

Melihat kepergian Bok-tojin yang tergesa-gesa itu, tiba-tiba sorot mata Ciok Gan menampilkan semacam perasaan yang sangat aneh.

Dalam pada itu si kakek tinggi besar dan belum diketahui identitasnya itu diam-diam menggeser ke belakang Ciok Gan, katanya dengan suara tertahan, “Ternyata betul terjadi demikian.”

Ciok Gan mengangguk, mendadak ia berseru dengan bersemangat, “Karena kejadian mendadak dan luar biasa ini, diharap hadirin tetap menunggu sementara di sini. Bu-an, bawalah muridmu dan memindahkan para korban ke ruang samping, Bu-keng dan Bu-sik, pimpin anak murid kalian memeriksa sekeliling kuil, apabila menemukan sesuatu senjata hendaknya segera lapor.”

“Paling benar harus kau suruh mereka menggeledah diriku lebih dulu,” kata si kakek tinggi besar mendadak.

Ciok Gan tersenyum getir, sahutnya, “Jika engkau mau membunuh orang, masakah perlu pakai senjata?”

“Jika demikian, aku pun ingin ikut susiokmu pergi mengejar pembunuh,” kata si kakek.

“Silakan,” seru Ciok Gan.

Kakek itu memberi hormat. Sekali lompat, secepat terbang ia melayang pergi.

Serentak terdengar suara tidak puas di antara tetamu, “Kami dilarang pergi, mengapa dia boleh pergi?”

“Sebab kedudukannya berbeda dengan orang lain.”

“Memangnya siapa dia?”

“Dia adalah…”

Mendadak terdengar suara ribut memutus ucapan orang lain, dua Tosu berjubah ungu tampak berlari masuk dengan mengangkat sebilah pedang, jelas pedang inilah Jit-sing-kiam simbol kebesaran ketua Bu-tong-pay.

Akan tetapi benda mestika sang ketua yang lain, yaitu kopiah emas, tetap lenyap tanpa bekas.

Sampai tengah malam, kopiah emas itu tetap tidak diketemukan.

Dalam keadaan begitu, hanya satu orang saja yang tahu dimana beradanya kopiah emas itu. Dengan sendirinya orang ini ialah Liok Siau-hong.

Entah darimana dia membeli sebuah caping ukuran paling besar dan dipakainya hingga menutupi hampir seluruh mukanya.

Kopiah emas itu justru berada di atas kepalanya, tertutup oleh caping besar itu.

Kopiah pusaka itu berhasil dicomotnya dari atas kepala Ciok Can dengan jarinya yang tidak ada bandingannya itu. Gerak tangannya ternyata tidak pernah meleset. Akan tetapi pada saat dia turun tangan tadi, sekujur badannya telah basah kuyup air keringat.

Ia tahu operasi sekali ini telah mencapai sukses seluruhnya. Pada waktu dia melayang keluar pondopo, didengarnya suara jeritan Thi-koh Hwesio dan lain-lain.

Kini baju Liok Siau-hong sudah kering. Dia berputar beberapa kali di gang yang gelap dan berdekatan, setelah yakin tidak ada orang mengejarnya, lalu ia menyelinap masuk melalui pintu belakang ke Boan-jui-lau, rumah pelesir yang banyak dihuni nona cantik itu.

Taman belakang sunyi senyap, tak terdengar suara manusia, juga tidak kelihatan cahaya lampu.
“Masa orang-orang itu belum kembali ke sini?”

Selagi ia hendak mencari seorang untuk ditanyai, tiba-tiba terdengar suara mendesis di balik semak pohon bunga, “Di sini!”

Jelas itulah suara Liu Jing-jing. Ketika berhadapan dengan Siau-hong, sikapnya tampak sangat aneh, seperti kejut, heran, seperti juga girang, ia menegur. “He, kau pun berhasil!”
Siau-hong mengangguk, “Dan bagaimana dengan orang lain?”

“Hampir semuanya sudah kembali ke sini dan sedang menunggu Lau-to-pacu,” tutur Liu Jing-jing.

Ia menggigit bibir dan melirik Siau-hong sekejap, lalu berkata pula, “Namum aku tidak menyangka sekali ini benar-benar berhasil dengan baik.”

“Mengapa tidak kau sangka?” tanya Siau-hong.

“Sebab aku tetap mencurigai dirimu,” jawab Jing-jing, “terutama mengenai Kian-long-kun, juga si pelayan yang menertawakan anjingmu itu serta si penggali cacing di rumah keluarga Yap”

“Semua itu hanya dapat membuktikan rasa curigamu sedikitnya sepuluh kali lebih besar daripada orang lain,” kata Siau-hong dengan tertawa. Liu Jing-jing juga tertawa, baru saja ia memegang tangan Siau-hong, mendadak dari balik semak bunga ada cahaya lampu menyorot keluar.

Baru tahu Siau-hong bahwa tempat pertemuan itu ternyata terletak di bawah semak-semak pohon.

Meski setiap detil rencana mereka sudah teratur dengan baik, tapi sebelum tiba saat terakhir, kecuali Lau-to-pacu sendiri, tetap tidak diketahui seluruhnya oleh orang lain.

Sampai saat ini tetap tidak ada orang tahu wajah asli Lau-to-pacu, selekasnya dia pasti akan datang.

Ruangan di bawah tanah ini sangat longgar, lubang hawa dibuat dengan sangat bagus, namun napas semua orang tetap terasa sesak.

Orang yang ikut serta dalam operasi besar ini kini sudah hadir seluruhnya, ternyata tidak terjadi sesuatu di luar perhitungan, juga tidak ada yang cedera.

Ada sementara orang bajunya berlepotan darah, mungkin karena terlalu keras waktu turun tangan sehingga darah korbannya muncrat.

Selayaknya mereka bergembira, sebab apa yang mereka lakukan malam ini jelas akan mengubah sejarah dan nasib dunia parsilatan umumnya.

“Mengapa tidak ada arak?” ada orang bertanya.

“Pekerjaan kita sudah mencapai sukses besar, mengapa kita tidak dapat minum arak sekadar merayakannya?

“Sebab Lau-to-pacu belum lagi pulang.”

“Mengapa dia belum pulang ke sini?”

“Karena masih banyak urusan yang harus dikerjakannya,” terdengar suara orang berkumandang dari luar ruangan bawah tanah itu.

“Dia masih harus menahan pengejar bagi kalian dan juga mengumpulkan semua hasil kemenangan ini.”

Akhirnya Lau-to-pacu muncul juga, hasil kemenangan jelas sangat gemilang, hal ini terbukti dari suaranya yang rada parau saking gembiranya.

Kemudian ia mengumumkan secara resmi, “Sekali gempur, semua sasaran tertumpas. Operasi Halilintar telah mencapai sukses seluruhnya!”

Perencanaan yang rapi, gerakan yang cepat dan tepat, asalkan kedua hal ini terpenuhi, segala pekerjaan pasti akan berhasil dengan baik.”

Tapi Lau-to-pacu seolah-olah telah melupakan sesuatu. Dia tidak tanya Liok Siau-hong apakah pekerjaannya telah berhasil dengan baik, lalu darimana dia tahu operasi ini telah mencapai sukses seluruhnya? Kecuali dia masih berada di ruangan pendopo ketika lampu menyala kembali dan dapat dilihatnya kopiah emas sudah tidak terpakai lagi di atas kepala Ciok Gan.

Siau-hong tidak tahan, ia bertanya, “Apakah engkau tidak lupa minta sesuatu barang padaku?”
Mendadak ia menanggalkan capingnya, segera kopiah emas memancarkan cahaya kemilau di bawah cahaya lampu.

Tapi Lau-to-pacu hanya memandang sekejap saja lantas berkata, “Aku tidak perlu terburu-buru.”

“Dengan sendirinya engkau tak perlu terburu-buru,” ujar Siau-hong dengan tertawa, “sebab yang kau inginkan memang bukan kopiah emas ini melainkan pedang pusaka Jit-sing-kiam itu.”

Mestinya dia tidak mau mengucapkan kata-kata ini, tapi mendadak ia tidak tahan dan tercetus dari mulutnya, “Pada waktu kurebut kopiah emas ini, tentu Ciok Gan akan mengangkat tangannya untuk menahan kopiah, pada kesempatan itulah lantas kau rebut pedang pusaka yang tergantung di pinggangnya.”

Lau-to-pacu memandangnya dengan dingin dan menunggu ceritanya lebih lanjut.
“Meski rahasia terletak pada batang pedang pusaka itu, namun Ciok Gan tidak pernah menggunakannya untuk memeras siapa pun. Sebaliknya kau tetap kuatir. Sebab salah satu rahasia yang paling penting di antaranya menyangkut rahasia pribadimu, tidak boleh dengan sendirinya rahasiamu jatuh ke tangan orang kedua lagi.”

Lau-to-pacu ternyata tidak menyangkal, katanya, “Ya, tangannya selalu memegang tangkai pedangnya, maka perlu kugunakan dirimu. Seterusnya dia pasti akan menganggap dirimu adalah biang keladi samua kejadian ini.”

“Mengapa?” tanya Siau-hong.

“Sebab pada waktu kau turun tangan tadi pasti menggunakan tenaga cukup keras. Kopiah emas ini tentu terpencet mendekuk oleh jarimu. Padahal setiap orang tahu, orang yang mampu menyambar kopiah dari kepalanya dengan dua jari, kecuali Liok Siau-hong saja mungkin tidak ada orang kedua lagi di dunia ini. Jadi inilah bukti yang paling kuat.”

Siau-hong menghela napas, “Wah, kiranya bukan cuma kau gunakan diriku untuk memencarkan perhatiannya, malahan hendak kau peralat diriku untuk menanggung semua dosamu.”

“Ya, ini namanya sekali tembak dua burung,” kata Lau-to-pacu.

Hal ini merupakan kunci terakhir daripada seluruh rencana operasi mereka, baru sekarang Liok Siau-hong tahu duduknya perkara.

Ia hanya menyengir saja, katanya, “Tapi aku tetap tidak mengerti, jika sudah dapat kau rampas pedangnya, mengapa tidak sekalian kau bunuh dia?”

“Sebab dia toh tak dapat hidup lama lagi,” jawab Lau-to-pacu.

“Oo, sebab apa?” tanya Siau-hong dengan terkejut.

“Sebab dia mengidap penyakit maut yang tak tersembuhkan, usianya paling lama hanya bertahan dua-tiga bulan lagi.”

“Pantas dia terburu-buru mengangkat ahli waris untuk menggantikan kedudukannya.”

“Tapi sayang, anak murid Bu-tong yang cocok menggantikan kedudukannya sekarang telah kita bunuh seluruhnya.”

Siau-hong menatapnya tajam, “Maka sekarang kedudukan Ciangbun Bu-tong-pay terpaksa harus diserahkannya kepadamu?”

Mendadak tangan Lau-to-pacu tergenggam erat, jengeknya, “Hm, sesungguhnya kau seorang pintar, kata-kata ini seyogianya tidak kau utarakan.”

“Cuma sayang, aku tidak tahan dan harus kukatakan,” ujar Siau-hong.

Mendadak Lau-to-pacu berteriak, “Lo-lopocu, Koan Thian-bu, Toh Thi-sim, Ko Tiu, Hay Ki-koat, Koh Hui-hun!”

Setiap kali dia menyebut namanya, orang yang bersangkutan segera tampil ke depan dan mendelik terhadap Liok Siau-hong.

Lau-to-pacu lantas mendengus pula, “Coba, kau lihat mereka berenam ini mampu mengatasi dirimu atau tidak?”

“Dua-tiga orang pun sudah cukup, apalagi enam orang,” sahut Siau-hong.

“Memangnya kau ingin mereka turun tangan?” jengek Lau-to-pacu.

“Aku tidak ingin.”

“Habis, mengapa tidak lekas kau menyerah?”

“Sebab kutahu mereka pasti takkan turun tangan padaku,” kata Siau-hong.

Mendadak Lau-to-pacu membentak bengis, “Bekuk dia!”

Suaranya sangat keras dan berwibawa, tapi keenam orang itu diam saja, seperti berubah menjadi tuli mendadak, bergerak pun tidak.

Seketika sorot mata Lau-to-pacu menciut. Sebaliknya Siau-hong tertawa.

“Jika mereka mau turun tangan, maka hanya seorang yang akan mereka tangkap,”ujar Siau-hong dengan tersenyum.

“Siapa?” tanya Lau-to-pacu.

“Kau!” jawab Siau-hong
Benar juga, serentak keenam orang itu berputar tubuh menghadapi Lau-to-pacu dan berkata berbareng, “Apakah kau perlu tunggu kami turun tangan?”

Sekujur badan Lau-to pacu serasa kaku dingin, ucapnya, “Jika tidak ada diriku, saat ini mungkin tulang-belulang kalian sudah hancur tanpa bekas, masakah kalian berani mengkhianati diriku?”

“Mereka tidak ingin mengkhianati dirimu, mereka cuma menyesal karena perbuatanmu yang salah,” sela Siau-hong.

Keadaan ruang di bawah tanah ini tetap tenang. Kecuali Liu Jing-jing dan Siau Jui, setiap orang sama bersikap tenang saja, perubahan yang mengejutkan ini seakan-akan sudah berada dalam dugaan mereka.

Masakah orang-orang ini sudah berkhianat semua padanya? Tangan Lau-to-pacu terkepal erat katanya, “Apa perbuatanku?”

“Meski rencanamu sangat rapi dan rahasia, tapi ada setitik lubang kelemahan yang fatal,” tutur Siau-hong.

Tentu saja Lau-to-pacu tidak percaya. Betapapun dia tidak percaya, sebab rencana yang rapi ini sudah diperiksa dan dipertimbangkannya lagi sampai beberapa kali.

“Kebagusan rencanamu ini terletak pada orang-orang yang ikut beroperasi ini, semuanya sebenarnya sudah mati, tapi kau bikin mereka berubah menjadi orang yang sesungguhnya tidak pernah ada, dengan sendirinya orang Kangouw tak akan memperhatikan gerak-gerik mereka.” Siau-hong tertawa, lalu menambahkan, “Cuma sayang, hal ini justru juga merupakan titik kelemahan yang paling besar dalam rencanamu itu.”

Lau-to-pacu merasa tidak mengerti.

Uraian Liok Siau-hong justru memang tidak mudah dimengerti siapa pun.

Segera Siau-hong bertutur pula, “Jika kau rias Ko Tiu menjadi Cui-siang-hui, biarpun kepandaian merias Kian-long-kun setinggi langit juga hasil kerjanya tetap akan dikenali orang. Sedikitnya sanak keluarga Cui-siang-hui akan mengenalinya.”

Ia tepuk-tepuk pundak ‘Koan-keh-po’, lalu berucap pula, “Dan dia ini telah kau rias begini, pada hakikatnya di dunia tidak terdapat seorang macam begini, dengan sendirinya juga tidak ada orang dapat mengenali dia.”

Uraian ini rasanya terlebih mudah dimengerti orang. Dengan sendirinya Lau-to-pacu juga mengerti, hal ini memang termasuk salah satu titik pokok perencanaannya.

“Tapi kau pun melalaikan sesuatu,” kata Siau-hong pula.

“Sesuatu apa?” tanya Lau-to-pacu.

Siau-hong menuding muka ‘Koan keh-po’, lalu berkata, “Ko Tiu dapat menyamar seperti ini, dengan sendirinya orang lain juga dapat menyamar cara begini.”

Lau-to-pacu tidak menyangkal. Cukup ada sehelai kedok manusia yang terbuat dengan bagus, ditambah lagi seorang ahli rias, siapa pun dapat dirias menjadi begini.

“Sesudah Ko Tiu menyamar seperti ini, tentu juga tidak ada orang dapat mengenalinya,” ucap Siau-hong pula.

Sebab di dunia ini memang tidak ada seorang demikian, maka tidak ada orang yang akan memperhatikan dia, sampai Lau-to-pacu juga tidak terkecuali.

Tiba-tiba tangan Lau-to-pacu bergemetar, teriaknya, “Jangan-jangan orang ini bukan Ko Tiu lagi?”

“Akhirnya kau paham juga maksudku,” ujar Siau-hong dengan tertawa.

‘Koan-keh-po’ juga tertawa, sekuatnya ia menarik kedok yang dipakainya, segera tertampaklah wajah seorang perempuan yang berusia belum begitu lanjut.

Dengan sendirinya dia bukan KoTiu.

“Nona ini adalah saudara Kongsun-toanio dahulu,” tutur Siau-hong dengan tertawa, “dia juga sahabatku yang baik, seketika sukar bagiku menemukan Koan-keh-po yang bukan lelaki dan bukan perempuan serupa Ko Tiu itu, terpaksa kuminta dia kemari membantu aku.”

Seketika Lau-to-pacu melengak.

“Kau dapat merias Ko Tiu menjadi begini, dengan sendirinya aku pun dapat menyuruh orang merias dia menjadi demikian,” kata Siau-hong pula.

“Jangan-jangan Kian-long-kun telah mengkhianati aku?” kata Lau-to-pacu dengan gemas.

“Sebab dia juga manusia,” Siau-hong mengangguk. “Dia bukan anjing. Anjing benar-benar juga akan melompat dan menubruk dinding bilamana sudah kepepet, apalagi manusia.”

“Dia belum mati?” tanya Lau-to-pacu.

“Jika dia mati, cara bagaimana kita dapat merias nona ini sehingga serupa benar dengan Koan-keh-po, sampai kau pun tak dapat membedakannya.”

“Kedoknya juga diambil dari Ko Tiu?” tanya Lau-to-pacu.

“Ya, dikelupas dari muka Ko Tiu.”

“Dan di mana Ko Tiu sendiri?”

“Sudah terlalu banyak urusan yang dicampurinya, dia perlu istirahat.”

Mendadak Liu Jing-jing bertanya, “Apakah pada malam ketika berada di perkampungan Yap Leng-hong itulah kau kerjai dia?”

Baru sekarang teringat olehnya, malam itu setelah lampu padam, tahu-tahu mereka lantas menghilang. Kiranya pada kegelapan itu Liok Siau-hong telah membekuk Ko Tiu, Koh Hui-hun dan Hay Ki-koat. Lalu tiga orang kawannya dipalsukan menjadi Ko Tiu bertiga, bahkan memakai kedok muka yang sama dan diproses oleh ahli rias yang sama pula, yaitu Kian-long-kun, si jaka anjing.

“Jadi tempo hari Kian-long-kun juga berada di sana?” tanya Jing-jing pula.

“Ya, dia memang sudah menunggu di sana,” jawab Siau-hong. “Pada hari kedua, lebih dulu kusuruh orang mencarikan seekor anjing yang serupa, pada waktu pelayan restoran membawa anjing keluar berjalan-jalan, kedua ekor anjing lantas saling tukar.”

Bentuk anjing umumnya tidak banyak berbeda, kecuali orang yang berdekatan dan memiaranya setiap hari, jarang orang memperhatikan dan dapat membedakannya.

Liu Jing-jing menghela napas, katanya, “Aku memang sudah mencurigai pelayan itu.”

“Rasa curigamu memang selalu besar,” ujar Siau-hong dengan tertawa.

“Dan siapakah orang yang gemar menggali cacing ini?” tanya Jing-jing.

“Dia itulah pelayan restoran yang membawa anjing berjalan-jalan itu.”

“Memangnya siapa dia?”

“Sukong Ti-sing!”

Selain termashur sebagai maling sakti budiman dengan Gin-kang maha tinggi dan kecerdikannya melebihi orang biasa, bahkan dia juga seorang ahli rias muka.

“Jangan-jangan semua orang yang berada di sini bukan lagi orang yang semula?” tanya Jing-jing pula.

“Hanya dua orang saja masih tetap sama.”

“Dua orang siapa?”

“Aku dan kau.”

“Mengapa hari itu kalian tidak turun tangan padaku?”

“Sebab kau terlalu berdekatan dengan Lau-to-pacu, kami takut diketahui olehnya.”

Mendadak Liu Jing-jing menggreget, ia terus menjotos hidung Liok Siau-hong.

Siau-hong tidak menghindar, tapi jotosan Liu Jing-jing juga tidak kena sasarannya, sebab tahu-tahu tangannya dipegang orang. Namun dia masih melototi Liok Siau-hong dengan gemas dan berteriak, “Kuingin kau tahu sesuatu.”

“Urusan apa?” tanya Siau-hong.

“Satu-satunya orang yang paling berdekatan denganku ialah dirimu!” teriak Jing-jing.

Hati Siau-hong rada pedih dan juga haru. Namun seorang kalau ingin berbuat sesuatu hal yang bermanfaat bagi orang banyak, mau tak mau dia harus berkorban sedikit.

Sedapatnya Siau-hong berlagak tidak melihat air mata Jing-jing yang bercucuran, sedapatnya dia tidak memikirkan hal ini.

Seumpama dia mau menyesal dan harus menangis kan juga dapat menunggu sampai besok. Sekarang masih banyak urusan yang harus dikerjakannya. Sebab dia ialah Liok Siau-hong.

Ada orang memotong sumbu lentera yang sudah menjadi arang, maka cahaya lentera lantas berubah lebih terang.

Lau-to-pacu berbalik menjadi lebih tenang daripada tadi, kembali ia bertanya, “Jika kalian sebelumnya sudah menguasai situasi, mengapa kalian tetap melaksanakan tugas sesuai rencanaku semula?”

“Sebab kami belum lagi tahu sesungguhnya siapa Lau-to-pacu, maka perlu kupancing kau masuk perangkap.”

Dan ini baru merupakan sendi utama keseluruhan rencana, sampai sekarang juga belum pernah dia lihat wajah asli Lau-to-pacu, belum ada orang yang pernah melihatnya.

Lau-to-pacu menjengek, “Sekarang selekasnya kalian akan dapat mengelahui siapakah aku sesungguhnya, cuma sayang, Thi-koh dan lain-lain sudah tidak dapat mengetahui untuk selamanya.”

Tiba-tiba Siau-hong tertawa pula, “Kau kira mereka sudah mati benar-benar? Coba kau lihat siapakah mereka ini?”

Serentak lubang masuk ruang bawah tanah itu terbuka, sebarisan orang melangkah turun perlahan, jelas mereka itulah Thi-koh Hwesio, Ong Cap-te, Ko Hing-kong, Koh-tojin, Lau-jit si mata elang, Cui-siang-hui dan lima tokoh utama murid Bu-tong-pay. Di antaranya terdapat juga si kakek tinggi besar yang belum diketahui namanya itu. Dan ada lagi Ciok Gan, dia berjalan paling akhir.

Pada waktu Ciok Gan turun ke bawah, lubang masuk itu masih tetap terbuka.

Saat itu Siau-hong lagi berkata, “Dengan kaum ahli rias muka seperti Ok-locianpwe, Sukong Ti-sing dan Kian-long-kun, untuk pura-pura mati dengan sendirinya bukan pekerjaan yang terlalu sulit, apalagi…”

Belum habis ucapannya, mendadak Laii-to-pacu meloncat ke atas, secepat terbang ia melayang keluar. Dia sudah memegang pedang, pedang yang sudah terlolos dari sarungnya.

Pedang dan orangnya seakan-akan bergabung menjadi satu, secepat kilat ia serang Ciok Gan yang berada paling belakang.

Tapi Ciok Gan juga berpedang. Sesudah rahasia pada tangkai pedang diambil, Jit-sing-kiam itu berada kembali lagi di tangannya. Segera ia bermaksud melolos pedang tapi bawah iga mendadak terasa sakit, luka baru dan luka lama berjangkit sekaligus.

Tahu-tahu pedang Lau-to-pacu sudah mengancam di depan tenggorokannya, orangnya sudah mengitar ke belakang Ciok Gan dan menelikung sebelah tangannya sambil membentak, “Bila kalian berani bergerak, segera kubunuh dia!”

Terpaksa semua orang diam, tidak berani bergerak.

Meski Ciok Gan dikatakan mengidap penyakit maut yang tak tersembuhkan, tapi tidak ada yang suka menyaksikan ketua Bu-tong-pay yang saleh dan dihormati ini mati di bawah pedang.

Terpaksa semua orang menyaksikan Lau-to-pacu menyurut mundur dengan membawa Ciok Gan sebagai sandera.

“Meski rencanaku tidak terlaksana seluruhnya, tapi rencana kalian tampaknya juga gagal total,” jengek Lau-to-pacu.

Liok Siau-hong tersenyum, “Jika kubiarkan kau pergi, dapatkah kau perlihatkan wajahmu yang asli?”

“Tidak bisa!” bentak Lau-to-pacu. Lalu ia terbahak-bahak, “Selamanya tidak ada yang dapat melihat lagi wajah asliku, tidak ada selamanya…”

Tapi mendadak gelak tertawanya terhenti dan tubuhnya terjungkal ke depan. Terguling ke bawah undakan dan terkapar di lantai, dari punggungnya kelihatan darah segar mengucur seperti air mancur. Capingnya juga terpental.

Seorang melangkah turun dari undakan lubang, masuk ke sana dengan perlahan. Pada tangannya memegang sebilah pedang panjang, pada ujung pedang masih meneteskan darah.

Air muka Liok Siau-hong berubah seketika. Kalau saja mukanya tidak memakai kedok, orang banyak pasti akan terkejut, sebab perubahan air mukanya sungguh luar biasa dan menakutkan.

Yang turun dari undakan lubang masuk itu bukanlah Sebun Jui-soat, tapi Bok-tojin.

Dialah orang yang berjalan paling belakang, yang masuk terakhir. Jelas Lau-to-pacu tidak menyangka di belakang Ciok Gan masih ada orang lain lagi, jadi seperti ular mencaplok katak, di samping sedang mengincar lagi si pawang ular.

Liok Siau-hong seperti juga tidak menyangka akan kedatangan Bok-tojin. Ia memandangnya dengan terkejut, lalu memandang pula Lau-to-pacu yang terkapar di tengah genangan darah, katanya tiba-tiba, “Mengapa kau bunuh dia? Mengapa tidak kau biarkan dia hidup untuk dimintai keterangan?”

“Rahasianya sudah kita ketahui, biarpun ditanyai lagi juga tidak lebih daripada itu,” jawab Bok-tojin. “Meski seranganku agak keras hingga membinasakan dia, tapi juga hilanglah bahaya di kemudian hari.”

“Namun kita belum lagi melihat wajahnya yang asli?” ujar Siau-hong.

“Orang mati kan juga tak akan berubah muka aslinya?” kata Bok-tojin dengan tertawa.

Siau-hong melengak, lalu tertawa dan berkata, “Ai, beberapa hari ini aku terlalu lelah sehingga kepala pun pusing.”

“Setiap orang tentu pernah kepala pusing. Paling celaka jika tidak punya kepala lagi untuk pusing,” ujar Bok-tojin dengan tertawa.

Ketika Liok Siau-hong membalik tubuh Lau-to-pacu dan melihat mukanya, kembali ia melengak.

Yang terlihat olehnya ternyata sebuah wajah yang tak bermuka, matanya yang celung seakan-akan sedang mengejeknya, “Selamanya tiada orang dapat melihat wajahku yang asli, tidak ada selamanya
Semua orang sama melengak juga, sampai Liu Jing-jing juga melongo.

Sebaliknya Ciok Gan lagi menghela napas panjang, ucapnya, “Meski dia tak berwajah juga kukenal dia.”

“Dengan sendirinya kau kenal, aku pun kenal,” ucap Bok-tojin dengan rawan. Ia mendongak, tampaknya bertambah tua dan loyo, lalu menambahkan, “Orang ini adalah murid murtad perguruan kami, Ciok Ho.”

——–

“Bukan,” kata Liok Siau-hong, “dia bukan Ciok Ho.”

Nadanya tegas dan pasti. Dia percaya penuh atas dirinya sendiri, baginya, persoalan ini telah diyakininya benar-benar. Kalau tidak yakin, tidak nanti dia bicara demikian kepada orang-orang yang hadir di rumah itu.

Tempat itu adalah sebuah kamar tulis yang indah. Sebuah tempat yang sangat terahasia dan aman.
Siapa pun kalau mau masuk ke kamar tulis ini harus melalui tujuh pintu yang terjaga dengan sangat ketat.

Yang berjaga di luar hampir setiap orang adalah tokoh Bu-lim kelas satu di zaman ini. Di antaranya meliputi anak murid pilihan dari Bu-tong-pay, Siau-lim-pay, Gan-tang-san dan Pah-san, juga beberapa Tocu perairan Tiangkang yang terkenal cerdik dan lihai. Tanpa izin khusus pasti tidak ada orang yang dapat menerobos ke dalam rumah ini. Maka apa yang mereka bicarakan di sini pasti takkan bocor.

Mereka menyebut tempat ini sebagai ‘sarang elang’. Rencana operasi mereka terhadap Yu-leng-san-ceng atau perkampungan hantu itu ditetapkan tiga bulan yang lalu ketika rapat rahasia di ‘sarang elang’ ini.

Tentu saja ini merupakan rencana operasi yang sangat rahasia.

Menurut rencana, langkah pertama ialah Sebun Jui-soat harus dibujuk supaya ikut dalam operasi ini, akan dibikin supaya terjadi bentrok seru antara Sebun Jui-soat dan Liok Siau-hong. Agar terjadi permusuhan dan dendam kesumat, supaya orang Kangouw sama tahu Sebun Jui-soat bertekad akan membunuh Liok Siau-hong.

Hal ini tidak mudah terlaksana sebab Sebun Jui-soat bukan orang yang gampang menerima bujukan.
Siapa tahu, sekali ini Sebun Jui-soat tidak menolak. Jelas dia merasa tertarik oleh rencana mereka, bisa mengejar Liok Siau-hong untuk membunuhnya adalah pekerjaan yang menarik. Sebab itulah satu-satunya syarat yang dikemukakannya adalah Liok Siau-hong harus kabur dengan sungguh-sungguh, sebab dia juga akan mengejar dengan sungguh-sungguh. Jika sampai tersusul, bisa jadi dia benar-benar akan membunuh Liok Siau-hong.

Lantaran itulah, pada waktu buron, senantiasa Liok Siau-hong waswas dan berkeringat dingin sebab kuatir kalau benar-benar tersusul oleh Sebun Jui-soat.

Langkah kedua menurut rencana adalah mengatur arah buron Liok Siau-hong, harus dibuat sedemikian rupa sehingga secara tidak sengaja Liok Siau-hong mengadakan kontak dengan orang Yu-leng-san-ceng sehingga tidak dicurigai.

Di tengah buron itu Liok Siau-hong harus menghadapi segala kesukaran dengan tenaga sendiri dan dilarang berhubungan dengan siapa pun.

Apakah Liok Siau-hong dapat menyusup masuk ke Yu-leng-san-ceng? Semula mereka tidak mempunyai keyakinan. Akan tetapi mereka rela menyerempet bahaya.

Sudah lama mereka tahu sindikat yang disebut Yu-leng-san-ceng itu. Cuma sebegitu jauh belum diperoleh data-datanya. Hanya dari seorang tak dikenal yang sekarat. Diketahui tidak lama lagi sindikat ini akan melakukan sesuatu pekerjaan besar yang mengguncangkan dunia.

Sebab itulah operasi mereka harus dimulai selekasnya, sebab kemudian diketahui mereka bahwa orang yang sekarat itu ternyata Koh Hui-hun adanya, orang yang seharusnya sudah mati di bawah pedang Sebun Jui-soat bebarapa tahun yang lalu.

Koh Hui-hun melarikan diri dari Yu-leng-san-ceng. Dia diuber Ciok Ho dan terjerumus ke dalam jurang yang beribu kaki tingginya, meski beruntung tidak mati, tapi kedua kakinya patah. Berkat tekadnya yang bulat dan ketahanan fisiknya, ia merangkak selama lima hari empat malam di dasar jurang itu. Akhirnya, dapat bertemu dengan seorang Tosu pencari daun obat di tengah pegunungan sunyi itu.

Tosu itu adalah murid Bu-tong-pay. Akhirnya Koh Hui-hun berhasil menceritakan rahasia Yu-leng-san-ceng, cuma sayang, yang diketahuinya tidak banyak. Malah keadaannya juga sudah kempas-kempis dan akhirnya tak tertolong.

Lantaran itulah sejak mula Liok Siau-hong sudah tahu orang yang disebut ‘Piauko’ itu sebenarnya bukan Koh Hui-hun.

Pencetus rencana operasi ini adalah Ciok Gan, ketua Bu-tong-pay. Orang pertama yang dicarinya ialah Liok Siau-hong.

Ia yakin, jika di dunia ini ada seorang yang mampu menunaikan tugas operasi yang maha sulit dan berat ini, tidak perlu disangsikan lagi orang itu adalah Liok Siau-hong.

Akan tetapi Liok Siau-hong menyadari melulu tenaga sendiri saja pasti tidak cukup, dia perlu mencari beberapa pembantu yang dapat diandalkan. Ia anggap salah seorang yang tidak boleh kurang ialah Sukong Ti-sing.

Untuk membujuk Sukong Ti-sing memang jauh lebih sulit daripada membujuk Sebun Jui-soat, untung dia mempunyai satu kelemahan. Yaitu gemar bertaruh, lebih-lebih bertaruh dengan Liok Siau-hong, bertaruh apapun dia mau.

Maka Siau-hong lantas bertaruh dengan dia, “Jika aku gagal, harus kau gali cacing bagiku.”

Ketika Sukong Ti-sing menyadari perangkap ini, menyesal pun sudah terlambat. Agar dia tidak kalah, terpaksa ia harus membantu sepenuhnya agar Liok Siau-hong mencapai sukses. Selamanya Sukong Ti-sing memang seorang yang pegang janji.

Tapi dia juga berkeras minta diberi seorang pembantu yang tidak boleh kurang, dia minta Liok Siau-hong mencarikan Hoa Ban-lau baginya.

Cara pemikiran Hoa Ban-lau sangat cermat dan sukar dibandingi orang lain, mungkin lantaran dia tidak dapat melihat, maka waktu untuk berpikir menjadi jauh lebih banyak daripada orang lain.

Begitulah, maka perencanaan awal telah diputuskan oleh mereka di ‘sarang elang’ ini.

Dengan sendirinya tenaga mereka berempat saja tidak cukup, maka mereka menarik pula enam orang lagi. Yaitu Thi-koh Hwesio dari Siau-lim, Ong Cap-te dari Kay-pang, Cui-siang-hui dari Tiang-kang, Ko Hing-kong dari Gan-tang-san, Koh-tojin dari Pah-san dan si mata elang Lau-jit.

Maklumlah, dalam perguruan keenam tokoh itu juga terdapat murid murtad yang menggabungkan diri dengan Yu-leng-san-ceng, pengaruh mereka juga tersebar di antara jalan dari Yu-leng-san-ceng menuju ke Bu-tong-san.

Yang paling penting, mereka adalah orang-orang yang dapat tutup mulut serupa mulut botol tersumbat, pasti takkan membocorkan rencana kerja mereka yang harus dirahasiakan ini.

Dipandang dari luar, ‘sarang elang’ mereka cuma sebuah rumah berloteng yang sangat umum di tengah kota, dibeli atas nama seorang anak buah mata elang. Tiga ruangan di bawah loteng digunakan untuk berdagang, yang satu toko obat, satu lagi restoran dan sebuah toko peti mati.
Pegawai ketiga perusahaan itu adalah anak murid mereka yang terpilih, jujur dan cekatan.

Jadi yang mengetahui rencana operasi cuma mereka bersepuluh orang, sisa lainnya cuma pelaksana atas perintah saja. Dan sekarang di antara mereka bersepuluh sudah hadir delapan orang.

Liok Siau-hong memandangi mereka satu per satu, ia mengulangi lagi ucapannya tadi, “Dia bukan Ciok Ho, pasti bukan!”

Ciok Gan tidak hadir. Jelas karena sakitnya sangat berat. Tinggal satu-satunya yang pernah melihat Ciok Ho adalah Thi-koh Hwe-sio.

Dahulu waktu Bu-tong-pay hendak mengangkat ahli waris, mendadak Ciok Ho merusak wajah sendiri sehingga batal pencalonannya, waktu itu paderi saleh Siau-lim-si ini juga hadir sebagai salah seorang tamu undangan. Dia melihat sendiri wajah tanpa muka itu, barang siapa asalkan pernah melihatnya, sekejap pasti sukar melupakannya.

Sebab itulah ia lantas menyatakan keyakinannya. “Kau pernah melihat wajahnya, dia pasti Ciok Ho adanya.”

“Yang mati di bawah pedang Bok-tojin dengan sendirinya Ciok Ho adanya, tapi Ciok Ho bukanlah Lau-to-pacu, pasti bukan,” kata Siau-hong pula.

“Berdasarkan apa kau bicara demikian?” sela Sukong Ti-sing tiba-tiba.

“Sebab kutahu siapa Lau-to-pacu,” jawb Siau-hong.

“Memangnya siapa dia?” tanya Sukong Ti-sing pula.

“Bok-tojin!” kata Siau-hong.

Sukong Ti-sing terkejut, semua orang juga terkejut.

Selang agak lama, perlahan Thi-koh Hwesio menggeleng kepala dan berucap, “Tidak benar, tidak mungkin dia.”

“Apa alasanmu?” tanya Siau-hong.

“Puluhan tahun yang lalu, banyak kesempatan baginya untuk menjadi ketua Bu-tong, tapi dia malah menyerahkan kedudukan itu kepada Sutenya, yaitu Bwe-cinjin,” tutur Thi-koh. “Dari kejadian ini terbukti dia tidak kemaruk kepada kedudukan dan kekuasaan, mana bisa dia berbuat hal-hal yang tidak pantas ini?”

“Semula aku juga tak percaya, malahan ada maksudku mengikut-sertakan dia dalam gerakan kita ini,” kata Siau-hong.

“Masakah ada orang tidak setuju?” tanya Thi-koh.

Siau-hong mengangguk, “Ya, Ciok Gan anti. Hoa Ban-lau juga tidak setuju.”

“Apa sebabnya?” tanya Thi-koh pula, yang ditanyainya sekali ini ialah Hoa Ban-lau.

Tokoh tunanetra itu tampak ragu, tuturnya kemudian dengan perlahan, “Waktu itu bukan maksudku mencurigai dia, aku cuma merasa dia terlalu berdekatan dengan Koh-siong Kisu dan sukar menyimpan rahasia terhadap Koh-siong.”

“Kau pun menyangsikan ketulusan Koh-siong Kisu?” tanya Thi-koh Hwesio.

“Ilmu silatnya sangat tinggi, akan tetapi asal-usulnya dan aliran perguruannya tidak pernah diketahui orang,” ucap Hoa Ban-lau. “Dia seorang petapa, setiap orang tentu mempunyai kisah masa lampau. Tapi dia tidak ada, seolah-olah begitu lahir lantas menjadi pertapa.”

Thi-koh termenung, tanyanya kemudian, “Dan sebab apa Ciok Gan anti Bok-tojin?”

“Sebab dia tahu Bok-tojin tidak secara sukarela menyerahkan kedudukannya kepada Bwe-cinjin,” tutur Siau-hong.

“Apakah dia juga serupa Ciok Ho, karena berbuat sesuatu yang melanggar paraturan agama dan perguruan, maka terpaksa menyerahkan kedudukannya?”

“Ya, kukira begitu,” kata Siau-hong.

“Memangnya apa yang telah diperbuatnya?” tanya Thi-koh dengan kening bekernyit.

“Entah, Ciok Gan tidak mau menerangkan,” ucap Siau-hong.

Kebusukan keluarga sendiri tak boleh disiarkan kepada orang luar. Betapapun Bok-tojin adalah paman gurunya, sesepuh Bu-tong-pay yang masih hidup, dengan sendirinya Ciok Gan tidak mau nama perguruan sendiri tercemar.

Koh-tojin dari Pah-san tidak tahan, tanyanya, “Sesungguhnya dahulu Bok-tojin pernah melakukan perbuatan apa yang melanggar peraturan agama?”

“Dia tidak saja kawin di luar, bahkan juga melahirkan anak,” tutur Siau-hong.

Seketika Thi-koh menarik muka, “Omongan iseng orang tidak boleh sembarangan dipercaya, apalagi kata-kata yang menyangkut nama baik orang, terlebih tidak boleh dipercaya dan juga jangan sembarangan diucapkan.”

Siau-hong mengiakan.

Tiba-tiba Sukong Ti-seng menyela pula, “Tapi kalau dia berani berucap, tentu dia mempunyai dasar yang meyakinkan.”

“Tidak boleh cuma yakin saja, tapi bukti nyata,” kata Thi-koh.

Dan Liok Siau-hong tidak memegang bukti.

Menurut analisanya, biarpun Thi-koh Taysu juga tidak bisa tidak mengakui kebenarannya.

Bahwa Sim Sam-nio adalah isteri Yap Leng-hong, tapi Sim Sam-nio melahirkan anak bagi Lau-to-pacu, mestinya Sim Sam-nio berdosa kepada Yap Leng-hong dan bukan terhadap Lau-to-pacu, tapi mengapa Lau-to-pacu justru benci padanya bahkan membunuh Yap Leng-hong? Sebabnya Lau-to-pacu ialah Bok-tojin dan Bok-tojin adalah piauko atau kakak misan Sim Sam-nio atau juga suaminya yang sesungguhnya.

“Waktu itu Bok-tojin masih muda dan kuat, Sim Sam-nio juga remaja cantik,”. Di depan Thi-koh Taysu, cara bercerita Liok Siau-hong tidak berani terlalu blak-blakan, namun maknanya cukup jelas.

Tidak perlu disangsikan lagi, ada hubugan gelap di antara kedua saudara misan berlainan jenis kelamin itu. Apa mau dikata, waktu itu Bok-tojin sudah merupakan murid Bu-tong-pay yang menonjol, dengan sendirinya tidak dapat menjadi suami-isteri dengan Sim Sam-nio secara resmi, sebab itulah dia menggunakan akal ‘pinjam sewa’, dibiarkan Sim Sum-nio secara resmi jadi isteri Yap Leng-hong, dibiarkan Yap Leng-hong menjadi ayah bagi anaknya.”

“Mengapa pilihannya jatuh atas diri Yap Leng-hong?”

“Sebab Yap Leng-hong juga pernah belajar ilmu pedang di Bu-tong-san, bahkan Bok-tojin sendiri yang mengajarnya. Demi gurunya sendiri, yang menjadi murid rela berkorban.”

Tapi kemudian Bok-tojin bertambah tua, sepanjang tahun lebih sering mengembara. Sim Sam-nio tidak tahan hidup kesepian. Dari pura-pura menjadi sungguhan, dia mengadakan hubungan gelap dengan Yap Leng-hong.

Waktu Bok-tojin mengetahui isterinya melahirkan anak lagi, yang seharusnya tidak ada, dengan sendirinya lantas diketahui hubungan Sim Sam-nio dengan Yap Leng-hong, keruan dia dendam.

Tapi dia terlebih dendam kepada Bu-tong-pay, sebab muridnya, yaitu Ciok Ho, juga mengalami nasib yang sama seperti dia dan terpaksa menyerahkan kedudukan ketua kepada saudara seperguruan yang lain.

Mestinya dia menaruh harapan atas diri Ciok Ho, sekarang semua harapan itu sirna, terpaksa dia menempuh jalan lain.

‘Balas dendam’ dan ‘kekuasaan’, dua macam hal ini memang sangat besar kekuatannya, salah satu di antaranya sudah cukup membuat orang menyerempet bahaya dan bertindak tanpa mengenal cara.

“Akan tetapi inipun belum dapat membuktikan Bok-tojin adalah Lau-to-pacu,” kata Thi-koh.

“Aku masih mempunyai bukti lain,” tutur Siau-hong.

Pada waktu upacara berlangsung, hanya Bok-tojin saja yang dapat mendekati Ciok Gan, hanya dia saja yang tahu rahasia tersimpan dalam pedang. Rahasia itu mungkin sekali mengenai rahasia pribadinya waktu dia terpaksa mengundurkan diri dari percalonan ketua dahulu, maka rahasia ini harus didapatkan olehnya.

Hanya dia paham terhadap seluk-beluk Bu-tong-pay sendiri, maka dapatlah dia mengatur jalan mundur yang aman setelah melakukan pembunuhan, bahkan para kesatria harus ditinggaikan di ruang pendopo sehingga tidak mampu mengejarnya.

Tiang-cing dan Tiang-jing adalah murid langsung anak buahnya, hanya Bok-tojin sendiri yang dapat menguasai mereka. Pribadi Ciok Ho biasanya juga congkak dan menyendiri, hanya Bok-tojin saja yang dapat memerintahnya.

Beberapa hal ini meski cuma dugaan saja, tapi sudah cukup untuk dirangkai menjadi satu garis yang lengkap. Apalagi pada Liok Siau-hong masih terpegang satu segi yang penting, yaitu mengenai Koh Hui-hun, meski sebelumnya sudah diketahui Piauko bukan Koh Hui-hun, tapi sejauh itu belum lagi diketahui asal-usulnya.

“Dan sekarang sudah kau ketahui asal-usulnya?” tanya Thi-koh.

Siau-hong mengangguk, “Ya, Piauko ialah Koh-siong Kisu.”

Keterangan ini kembali membuat semua orang terkejut.

“Akhir-akhir ini Bok-tojin dan Koh-siong Kisu selalu berada bersama tanpa terpisahkan, sering mengembara bersama, bahkan jejaknya sukar diraba, sebab mereka sering-sering perlu pulang ke Yu-leng-san-ceng,” demikian tutur Siau-hong pula.

“Pertemuan besar di Bu-tong-san kali ini, semua orang menduga Koh-siong pasti akan hadir, tapi dia justru tidak muncul,” kata Koh-tojin.

“Hal ini disebabkan dia telah kukurung di ruang bawah tanah di perkampungan keluarga Yap,” ujar Siau-hong.

“Apakah dapat kau buktikan dia ialah Koh-siong Kisu?” tanya Thi-koh Hwesio.

“Pernah kulihat cara turun tangannya. Ilmu pedangnya sangat tinggi, juga sangat luas pengetahuannya. Kulihat ilmu pedangnya sangat mirip dengan ilmu pedang Koh-siong, perawakan dan bentuk wajahnya juga sangat mirip. Jika ditambah lagi sedikit jenggot dan beberapa utas rambut uban, maka tiada ubahnya lagi dengan Koh-siong Kisu.”

“Pantas selalu kurasakan lagak Koh-siong Kisu agak tidak beres. Kiranya dia tidak berani memperlihatkan wajah aslinya terhadap orang lain,” sela Sukong Ti-sing.

Thi-koh termenung, katanya tiba-tiba, “Masih ada sesuatu ciri lagi.”

“Ciri apa?” tanya Siau-hong.

“Jika Bok-tojin betul-betul Lau-to-pacu mengapa tidak bergabung dengan kalian di Boan-jui-lau menurut perjanjian?”

“Hal ini disebabkan dia mengetahui urusan sudah ada perubahan,” kata Siau-hong. “Sudah ada orang membocorkan rahasia kita.”

“Siapa yang membocorkan rahasia kita,” tanya Thi-koh.

“Dengan sendirinya orang tak dikenal yang muncul mendadak itu,” jawab Siau-hong dengan tersenyum.

Orang yang tak dikenal dan muncul mendadak dengan sendirinya ialah si kakek tinggi besar itu.

“Urusan ini mestinya tak boleh diketahui oleh orang kesebelas, mengapa kalian membawa satu orang lebih?” tanya Siau-hong pula.

“Kau tahu siapa dia?” Koh-tojin balas bertanya. Siau-hong tidak tahu.

Maka Koh-tojin menyambung, “Apakah kau tahu ada seorang Susiokku, dia adalah kepala suku turun-temurun di perbatasan Hun-lam, kepala suku Miau.”

Mendadak Liok Siau-hong melonjak bangun, “Hah, maksudmu Liong Beng, Liong Hui-say?”

Koh-tojin tersenyum, “Dia tidak pernah datang ke Tionggoan sini, pantas engkau tidak kenal dia.”

“Kalian juga membiarkan dia ikut dalam gerakan rahasia ini?” tanya Siau-hong.

“Dia merajai daerah perbatasan sana. Kedudukannya agung, hidup berjaya dan dipuja. Sukar ditandingi orang Kangouw biasa, masa kau kira dia dapat menjual kita dan membocorkan rahasia kita?” kata Koh-tojin pula.

Seketika Liok Siau-hong bungkam. Akan tetapi segera teringat olehnya siapakah orang ini, juga teringat sebab apa dirinya selalu merasa pernah kenal orang ini. Mendadak ia merasa mulut sendiri terasa kecut dan getir, seperti habis makan sekuali daging busuk.

“Sekarang kita cuma ada satu jalan untuk membuktikan apakah dugaanmu tepat atau tidak?” kata Thi-koh Hwesio.

“Jalan apa?” tanya Koh tojin.

“Minta Ciok Gan menceritakan rahasia yang tersimpan di dalam tangkai pedangnya.”

Semua orang setuju. Jika Bok-tojin menyerahkan haknya kepada sutenya adalah karena hubungan gelapnya dengan Sim Sam-nio, ini membuktikan bahwa dia memang Lau-to-pacu adanya.

“Meski Ciok Gan tidak suka membocorkan rahasia tokoh angkatan tua perguruan sendiri, tapi dalam keadaan begini, mau tak mau harus diceritakannya,” ujar Thi-koh.

“Apakah dia sudah pulang ke Bu-tong-san?” tanya Siau-hong.

“Sebelum fajar dia sudah berangkat pulang,” tutur Thi-koh.

“Saat ini apakah Bok-tojin juga berada di Bu-tong-san?” tanya Siau-hong pula.

“Kami pun kuatir mungkin ada orang akan bertindak padanya, maka sengaja kuminta Ong Cap-te mengiringi dia pulang ke sana.”

“Jika begitu, kita harus lekas menyusul ke Bu-tong untuk mencari keterangan sejelasnya,” kata Koh-tojin.

Tiba-tiba Siau-hong menghela napas, gumamnya, “Kuharap keberangkatan kita sekarang belum lagi terlambat.”

“Tapi sudah terlambat,” mendadak seorang menanggapi di luar.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: