Kumpulan Cerita Silat

28/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:37 am

Pendekar Empat Alis
Buku 07: Duel di Bu Tong
Bab 04
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Hiu_Khu)

Tanggal sepuluh bulan empat, cuaca cerah.

Waktu Jing-jing mendusin, sang surya telah memancarkan cahaya yang gemilang di luar jendela.

Daun jendela tampak lagi bergerak. Pepohonan di luar juga bergerak, bergerak mundur ke belakang secepat terbang.

Ia kucek-kucek matanya. Tiba-tiba diketahui dirinya sudah berada di dalam kereta lagi. Siau-hong tampak berduduk di depan dan sedang memandangnya dengan tertawa.

Jing-jing coba menggigit bibir, terasa sakit, jelas ini bukan mimpi.

Ia melompat bangun dan melototi Siau-hong.

“Selamat pagi,” ucap Siau-hong dengan tersenyum.

“Pagi? Sekarang pagi?” tanya Jing-jing.

“Sebenarnya juga tidak pagi lagi. Tidurmu semalam sungguh seperti orang mampus,” sahut Siau-hong dengan tertawa.

“Dan kau?” tanya Jing-jing dengan gregetan.

“Aku juga tidur sebentar.”

Mendadak Jing-jing menubruk ke atas tubuh Siau-hong dan mencekik lehernya, serunya dengan gemas, “Katakan. Lekas katakan. Sesungguhnya apa yang terjadi?”

“Kejadian apa?” tanya Siau-hong.

“Kejadian semalam,” kata Jing-jing.

Siau-hong menghela napas, ucapnya. “Aku justru ingin tanya padamu sesungguhnya apa yang terjadi? Mengapa tanpa sebab kepalamu kau tumbukkan ke dinding sehingga jatuh kelengar?”

“Aku tidak gila, mengapa kutumbukkan kepala sendiri?” teriak Jing-jing.

“Jika kau sendiri tidak tahu, darimana aku dapat tahu?” ujar Siau-hong sambil menyengir.

“Kutanya padamu, mengapa semua lampu di rumah-rumah itu bisa padam mendadak secara serentak?”

“Kalau minyak sudah habis, dengan sendirinya lampu padam.”

“Dan kemana perginya si penggali cacing.”

“Sesudah lampu padam, dengan sendirinya ia pergi mencari minyak.”

“Didapatkan tidak?” tanya Jing-jing pula.

“Justru dia mendapatkan minyak, maka dapat kami menemukan dirimu.”

“Penggali cacing itu memangnya manusia?”

“Bukan saja manusia, bahkan manusia baik. Tidak minyak saja yang dia dapatkan, dia malah memasak satu kuali bubur dan menyuruh kami makan sekenyangnya.”

Jing-jing jadi melenggong sampai sekian lamanya, kemudian bertanya pula, “Kalian berada dimana pada waktu lampu padam?”

“Di belakang,” tutur Siau-hong.

“Aku berada di depan. Mengapa kalian pergi ke belakang, untuk apa?”

“Jika kau berada di depan, mengapa kami harus berada di depan juga? Kami kan bukan pengekor, mengapa tidak boleh melongok ke belakang?”

Mendadak Jing-jing berteriak, “Koan-keh-po dan putra kesayangan, masuk sini semuanya.”

Kereta lantas berhenti, orang yang dipanggil juga menghadap seluruhnya. Ia bertanya kepada mereka seperti dia tanya Siau-hong tadi, tapi jawaban mereka juga sama. Mereka pun tidak mengerti mengapa tanpa sebab dia menumbukkan kepala sendiri sehingga jatuh kelengar.

Sungguh tidak kepalang keki Liu Jing-jing, hampir saja ia jatuh semaput lagi. Ia coba bertanya pula, “Masa kalian sama sekali tidak melihat tangan itu?”

“Tangan apa?” tanya Koan-keh-po.

“Tangan setan yang mencekik leherku,” tutur Jing-jing.

“Ya, kulihat,” mendadak Siau-hong menyela dengan tertawa, “bukan cuma melihatnya saja, bahkan kubawa sekalian.”

“Dimana?” seru Jing-jing dengan sinar mata mencorong terang

“Di sini,” kata Siau-hong sambil mengeluarkan seutas tali penggantung kerai jandela, pada saat itu terdapat beberapa kaitan kecil sepanjang satu inci, kaitan serupa kuku tangan, lalu sambungnya, “Inikah tangan setan yang meraba lehermu?”

Seketika Jing-jing melenggong dan tidak dapat bicara lagi.

Mendadak Hay Ki-koat bergelak tertawa, serunya, “Hahaha, tak tersangka, pendekar wanita termashur kita juga bisa jatuh kelengar kaget oleh sepotong tali.”

“Padahal dapat kau maklumi hal ini,” ujar Siau-hong.

“Sebab apa?” tanya Hay Ki-koat,

“Dia kan perempuan, makhluk lemah di dunia, ini. Aalagi usianya juga sudah lanjut,” Siau-hong menghela napas, lalu menyambung, “Perempuan seusia dia adalah pantas kalau sok sangsi dan curiga serta macam-macam prasangka.”

Esoknya lagi, cuaca juga cerah.

Dari pagi sampai petang, sangat sedikit Liu Jing-jing berbicara. Total jenderal yang diucapkannya sepanjang hari ini mungkin tidak lebih banyak daripada perkataannya pada waktu makan siang pada hari-hari biasa.

Air mukanya juga kurang sedap. Entah lantaran kagetnya belum hilang atau karena tegang berhubung waktu operasi sudah hampir tiba.

Jarak mereka ke tempat tujuan, yaitu Bu-tong-san, paling lama tinggal setengah hari perjalanan saja, tapi sejauh itu tidak ada kabar berita dari Lau-to-pacu. juga tidak ada petunjuk-petunjuk terakhir kepada mereka. Sebab itulah, bukan saja Liu Jing-jing tampak ber-ubah, orang lain juga rada tegang.

Siapa pun tidak tahu berapa banyak sukses mereka dalam operasi ini. Terutama bila mengingat lawan yang akan mereka ha-dapi adalah tokohnya tokoh dunia persilatan seperti Ciok Ho, Thi-ko, Ko Hing-kong dan sebagainya.

Apalagi selain ketujuh orang itu, entah berapa banyak lagi tokoh kelas tinggi lain yang telah berada di Bu-tong-san.

“Kau pikir Sebun Jui-soat akan hadir tidak?” demikian timbul perbincangan di antara mereka.

“Mungkin dia takkan hadir.”

“Sebab apa?”

“Sebab dia lagi mencari Liok Siau-hong, dia pasti takkan me-nyangka Liok Siau-hong berani datang ke Bu-tong-san.”

Pembicara terakhir ini adalah Liok Siau-hong sendiri, dia bica-ra demikian, mungkin karena di dalam hati dia berharap akan terjadi demikian pula.

Petang hari, di dalam kota pada umumnya sangat ramai, karena mereka menyusuri jalan raya yang ramai sekali.

“Seumpama Sebun Jui-soat tidak hadir, Bok-tojin pasti berada di sana, akhir-akhir ini meski dia sudah hampir mengundurkan diri seluruhnya dari dunia ramai, tapi peristiwa pengangkatan pewaris tidak mungkin dia tinggal diam dan tidak mau tahu.”

“Ya, kalau Bok-tojin hadir, tentu Koh-siong Kisu juga akan hadir, melulu dua orang ini saja sukar dihadapi.”

“Kuyakin Lau-to-pacu sudah mempunyai cara menghadapi mereka, kalau tidak, mengapa sejauh ini dia tidak memasukkan kedua orang ini ke dalam rencananya?”

“Apapun juga sekarang kita tidak perlu memikirkan hal ini,” kata Siau-hong.

“Lantas apa yang perlu kau pikirkan?”

“Kukira lebih penting memikirkan kemana kita akan makan.”

Saat itu Piauko, Koan-keh-po dan Hay Ki-koat seluruhnya berada di dalam kereta, seperti mau bicara, tapi serentak tutup mulut, semuanya hanya memandang ke sebuah Ciulau atau restoran di seberang jalan sana.

Kereta berjalan sangal lambat pada waktu mereka berlalu, kebetulan ada tiga orang masuk ke Ciulau itu.

Yang seorang bermuka merah dan berkepala botak, sinar matanya,tajam serupa elang, orang kedua tinggi kurus, cara berjalannya bergoyang sampan, serupa orang tak tahan tiupanangin.

Orang ketiga memegangi pundak kedua orang pertama tadi, tampakpya sudah agak mabuk, dia ini seorang Tojin yang berambut ubanan.

Ketiga orang ini saluruhnya dikenal Siau-hong. Piauko, Koan-keh-po dan Hay Ki-koat juga kenal mereka.

Yang bersinar mata tajam seperti elang itu adalah pemimpin besar ke 12 pelabuhan, Eng-gan-lojit, atau Lojit si mata elang.

Sedangkan orang yang tinggi kurus seakan-akan setiap saat bisa jatuh bila barjalan itu adalah Ko Hing-kong, pemimpin gerombolan Gan-tan-san yang terkenal dengan Ginkangnya itu.

Adapun Tosu tua yang agak mabuk itu adalah tokoh Bu-tong-pay yang baru saja mereka singgung tadi, yaitu Bok-tojin.

Meski memandang ketiga orang itu, tapi Piauko berharap kereta mereka lekas berlalu ke sana.

Siapa tahu mendadak Liok Siau-bong berseru, “Berhentikan kereta!”

Piauko terperanjat, “Untuk apa?”

“Sebab kita hendak makan di restoran ini.”

“Tidak kau kenal ketiga orang itu?” tanya Piauko dengan ter belalak.

“Kukenal mereka, tapi mereka tidak kenal diriku,” jawab Siau-hong.

“Jika sampai dikenal mereka, lantas bagaimana?” ujar Piauko.

“Bila sekarang mereka mengenali kita, setiba di Bu-tong-san pasti juga akan dikenali mereka.”

Piauko berpikir sejenak, akhirnya ia mengerti maksud Siau-hong, “Jadi hendak kau uji mereka apakah dapat mengenali kita atau tidak?”

“Ya, toh kita harus menyerempet bahaya, lebih baik dikenali mereka di sini daripada dikenali di. Bu-tong-san nanti.”

Baru habis ucapannya, Liu Jing-jing lantas berterriak, “Berhenti!”

Semua orang merasa jalan pikiran Liok Siau-bong ini sangat baik, tidak ada orang pun yang membantah. Sebab sekarang rflereka belum masuk ke restoran itu, tapi bila mereka sudah berada di sana, tentu mereka akan menyesal, dan orang yang paling menyesal ialah Liok Siau-hong sendiri.

Restoran ini sangat mengutamakan dekorasi, segala alat perabot juga sangat mewah, tapi pengunjungnya ternyata tidak banyak.

Sekarang adalah waktu bersantap malam, tapi di atas loteng restoran yang terpajang indah ini hanya ada tiga meja tamu.

Rombongan Ko Hing-kong itu tidak cuma bertiga, sebab di atas loteng sudah ada seorang telah menunggu.

Orang ini tinggi besar dan gagah berwibawa, dari sikap dan dandanannya, orang ini seharusnya tokoh terkenal di dunia persilatan.

Tapi Liok Siau-hong justru tidak kenal dia, bahkan melihat saja belum pernah. Padahal hampir semua tokoh Bu-lim ternama pasti dikenalnya.

Pada meja sebelah sana dikelilingi tamu paling banyak, arak yang ditenggak juga paling banyak, di antara tamu itu ada lelaki dan perempuan.

Pakaian lelakinya sangat perlente, tampaknya kalau bukan saudagar kaya tentulah anggota keluarga bangsawan, yang parempuan cantik molek, tidak kikuk, jelas biasa berkelana di dunia ramai.

Meja yang paling sedikit tamunya cuma diduduki satu orang saja. Seorang berbaju putih, seputih salju.

Melihat orang terakhir ini seketika tangan Siau-hong berkeringat dingin, sungguh tak tersangka olehnya akan bertemu dengan orang ini di sini, kalau tidak, biarpun ada orang mencambuknya dari belakang juga dia takkan masuk ke restoran ini.

Sekali sudah naik ke atas loteng, untuk turun lagi jelas tidak keburu lagi.

Terpaksa Siau-hong mencari suatu tempat berduduk, Liu Jing-jing memandangnya dengan dingin, hampir dapat melihat butiran keringat pada wajah Siau-hong yang merembes di balik kedoknya.

Sebaliknya si baju putih sama sekali tidak memandang mereka, melirik saja tidak. Mukanya kelam, pedang terletak di atas meja.

Yang diminumnya adalah air, air putih dan bukan arak. Jelas setiap saat dan dimana pun siap membunuh orang.

Waktu Bok-tojin menyapanya, si baju putih juga seperti tidak melihatnya. Tokoh Bu-tong-pay yang termashur ini seakan-akan tidak terpandang olehnya.

Pada hakikatnya memang tidak ada seorang pun yang terpandang olehnya.

Bok-tojin lantas tertawa malah, gumamnya sambil tertawa dan menggeleng kepala, “Tidak kusalahkan dia, betapa dia bersikap kurang sopan juga takkan kumarah padanya.”

“Sebab apa?” tanya si kakek tinggi besar.

“Sebab dia Sebun Jui-soat!” jawab Bok-tojin.

Si baju putih memang betul Sebun Jui-soat yang tidak ada keduanya di kolong langit ini. Pedang sakti yang tidak ada bandingannya di dunia ini.

Selama tangannya masih memegang pedang, selama itu pula dia berhak meremehkan siapa pun juga.

Bisa jadi yang dapat dilihatnya sekarang hanya ada satu barang, yaitu Liok Siau-hong.

Sakit hati serupa racun yang aneh, meski dapat membikin ce laka jiwa orang, tapi juga dapat mengembangkan kekuatan setiap orang yang terpendam, membikin tekadnya tambah teguh, bertambah cepat dan peka reaksinya.

Apalagi pada pendekar pedang yang sekali menyerang tidak pemah melihat ini memang terdapat sapasang mata setajam mata elang.

Meski sekarang sama sekali tak terduga olehnya bahwa Liok Siau-hong justru berada di depannya, tapi sedikit Liok Siau-hong memperlihatkan cirinya, pastilah sukar terlolos dari pandangannya yang tajam itu.

Hidangan sudah dipesan, pelayan lagi bertanya, “Tuan tamu ingin minum arak?”

Cepat Liu Jing-Jing mendahului menjawab, “Hari ini kami tidak minum arak, setitik saja tidak minum.”

Arak mudah membuat orang lena, sedikit terlena saja cukup mengakibatkan kesalahan fatal.

Akan tetapi arak juga dapat mengendurkan saraf yang tegang, menenangkan pikiran.

“Hari ini kami tidak minum setitik arak, tetapi akan minum sebanyak-banyaknya,” tiba-tiba Siau-hong menukas dengan tertawa. Ia tepuk bahu Piauko dan berkata pula, “Hari ini adalah ulang tahun putraku ini, hari bahagia mana boleh tanpa arak. Ayolah bawakan dulu satu guci Tiok-yap-jing.”

Liu Jing-jing melototi Siau-hong dengan mendongkol, tapi Siau-hong berlagak tidak melihat, dengan tersenyum ia berkata pula, “Lelaki dilahirkan berjiwakan arak, ucapan perempuan tidak perlu didengar. Marilah kalian berdua juga ikut berduduk dan minum bersamaku.”

Terpaksa Koan-keh-po dan Hay Ki-koat berduduk.

Di sebelah sana Bok-tojin lantas bertepuk tangan dan tertawa, “Sungguh tepat, ucapan perempuan memang tidak perlu didengar, cukup kata-kata ini saja harus diberi pujian.”

Dengan cepat arak diantar, cara minum juga sangat cepat.

Setelah tiga cawan arak masuk perut, pulihlah ketenangan Liok Siau-hong, matanya mulai bersinar.

Sekarang dia sudah keluar dari bayangan gelap Sebun Jui-soat, seakan-akan sudah lupa bahwa di atas loteng restoran ini masih ada seorang demikian.

Tiba-tiba sorot mata Sebun Jui-soat yang tajam beralih ke arahnya.

Bok-tojin juga sedang menatapnya, mendadak ia mengangkat cawan dan berkata dengan tertawa, “Sahabat yang berjiwakan arak ini, bolehkah kusuguh engkau satu cawan?”

“Menurut sama dengan menghormat, sepantasnya aku pun balas menyuguh tiga cawan kepada Totiang,” jawab Siau-hong dengan tertawa.

Sambil bergelak Bok-tojin terus mendekati Siau-hong, terpancar sorot matanya yang tajam, tanyanya sembari menatap Siau-hong, “Siapa she Anda yang terhormat.”

“She Him, artinya beruang,” jawab Siau-hong.

“Perkenalan secara kebetulan, seyogianya tak boleh kuganggu Anda,” ucap Bok-tojin, “cuma cara minum arak Him-heng sungguh sangat mirip dengan seorang sahabatku.”

Berdetak jantung Liu Jing-jing, namun Lok Siau-hong tetap tertawa gembira, jawabnya, “Dimanakah beradanya sahabat Totiang?”

“Jauh di ujung langit, dekat di depan mata,” sahut Bok-tojin.

Hampir saja jantung Liu Jing-jing melompat keluar dari rongga dadanya, arak dalam cawan Liok Siau-hong juga hampir tercecer.

Sebaliknya Bok-tojin lantas menengadah dan menghela napas panjang, sambungnya pula, “Thian suka sirik terhadap orang berbakat tinggi, meski sahabatku ini sudah mangkat jauh di dunia lain, namun di sini ada arak, juga ada sahabat, bisa jadi rohnya telah kembali lagi di depan mataku.”

Jing-jing menghela napas lega, juga Siau-hong merasa lega, sebab mereka tidak memandang Sebun Jui-soat.

Wajah Sebun Jui-soat yang pucat itu seakan-akan tembus cahaya, sebelah tangannya sudah memegang tangkai pedang.

Mendadak di luar jendela bergema suara mendenging satu kali. Hanya pada waktu pedang dilolos dari sarungnya mengeluar kan suara mendenging nyaring begini.

Seketika sinar mata Sebun Jui-soat mencorong tajam. Pada saat yang sama, dalam kegelapan udara seperti ada sinar kilat menyambar, selarik sinar perak menyambar masuk melalui jendela dan langsung menusuk Sebun Jui-soat.

Pedang Sebun Jui-soat masih terletak di atas meja dan belum terlolos dari sarungnya, tapi sebuah cawan arak yang berisi air di samping sarung pedang, mendadak melejit ke atas dan memapak sinar pedang.

“Tring”, cawan arak hancur berkeping dan muncrat membawa beratus titik air membentuk kabut.

Sinar pedang lenyap, dari balik kabut lantas muncul satu orang, seorang berbaju hitam, mukanya juga memakai kedok kain hitam, hanya kelihatan matanya yang bersinar.

Pedang tidak terletak di meja lagi, tapi sudah terpegang di tangan.

“Lolos pedangmu!” ucap baju hitam sambil menatap tajam.

“Tujuh orang adalah jumlah yang terlalu sedikit, kenapa kau harus mati?” jengek Sebun Jui-soat.

“Tujuh orang?” si baju hitam merasa bingung.

“Di seluruh dunia ini, yang pantas menggunakan pedang hanya ada tujuh orang lermasuk dirimu,” kata Sebun Jui-soat. “Bukanlah pekerjaan mudah untuk belajar ilmu pedang sampai setaraf ini.”

Lalu dia memberi tanda dan menambahkan, “Pergilah kau!” “Kalau tidak pergi akan mati?” “Ya,” sahut Sebun Jui-soat tegas.

“Hm, yang akan mati mungkin bukan aku, tapi kau!” jengek si baju hitam

Mendadak pedangnya menyambar lagi.

Bok-tojin bekernyil kening, ucapnya, “Jurus serangan ini tidak di bawah jurus dewa turun dari langit Yap Koh-seng. Memangnya siapakah orang ini?”

Tidak ada yang tahu siapa orang ini, hanya Liok Siau-hong saja yang tahu.

Teringat olehnya pertemuan dengan orang yang sekali tusuk denganpedangnya dapat menembus batu padas di garis pemisah antara mati dan hidup waktu mau masuk ke Yu-leng-san-ceng tempo hari. Yaitu Ciok Ho, manusia yang tidak bermuka.

Ciok Ho memang bertekad ingin mencari Sebun Jui-soat dan menentukan kalah dan menang dengan dia.

Tiba-tiba terdengar suitan nyaring, pedang Sebun Jui-soat juga sudah terlolos dari sarungnya.

Tidak ada yang mampu melukiskan betapa cepat dan gerak perubahan pedang mereka. Tidak ada yang sanggup melukiskan pertarungan mereka ini.

Hawa pedang berhamburan, mangkuk piring di atas meja sama berantakan dan hancur, angin tajam memecah udara, memaksa napas setiap orang hampir-hampir terhenti.

Keempat kakek berbaju perlente itu tetap tenang saja, anak perempuan yang mendampingi mereka tampak pucat ketakutan.

Sekonyong-konyong selarik sinar pedang melayang ke udara, si baju hitam melompat ke samping dan hinggap di atas meja kawanan kakek itu. Sinar pedang Sebun Jui-soat menyerang dari atas sekujur badan si baju hitam yang terkurung di bawah sinar pedang.

Dalam keadaan demikian, menghindar tidak bisa, mengelak juga sukar.

Siapa tahu pada detik itulah mendadak papan loteng ambles ke bawah, meja juga ikut anjiok ke bawah, si baju hitam yang hinggap di atas meja juga ikut jatuh ke bawah, keempat kakek yang berduduk dengan tenang itu juga jatuh ke bawah.

Ternyata papan loteng restoran mendadak berlubang besar serupa bumi mendadak pecah, karenanya semua ikut jatuh ke bawah, sinar pedang Sebun Jui-soat menyambar lewat di atas lubang, perubahan ini jelas juga sangat di luar dugaan Sebun Jui-soat.

Selagi ia hendak menerobos ke bawah melalui lubang loteng, siapa tahu papan yang anjiok ke bawah itu mendadak melayang naik lagi ke atas dan “crat”, dengan tepat lubang tadi tertambal dengan rapat.

Meja kursi masih berada di atas papan loteng yang berlubang tadi, keempat kakek perlente itu juga masih duduk di situ dengan tenang. Papan loteng yang anjiok ke bawah itu seolah-olah diisap ke atas oleh kaki mereka, Semenlara itu si baju hitam tadi sudah menghilang.

Sinar pedang lenyap, pedang sudah masuk ke sarungnya, Sebun Jui-soat memandang mereka dangan sorot mata dingin dan rada tercengang.

Ko Hing-kong, Lojit si mata elang, dan Bok-tojin juga saling pandang dengan terkesiap.

Dengan sendirinya mereka tahu sekarang bahwa keempat kakek berpakaian mewah itu bukanlah sebangsa saudagar kaya segala, juga bukan pembesar yang lagi pesiar dengan pakaian orang biasa, tapi mereka adalah tokoh dunia persilatan yang sukar dijajaki kungfunya.

Mereka telah membikin papan loteng berlubang dan anjiok ke bawah dengan tenaga dalam, lalu dengan tenaga dalam pula mengisap ke atas lagi papan loteng yang anjiok itu dan merapat kembali di tempat semula, memangnya ada berapa orang di dunia persilatan zaman ini yang mampu berbuat damikian?

“Tiga orang saja,” ucap Sebun Jui-soat tiba-tiba.

Ketiga kakak perlente itu diam saja dan menantikan ucapannya lebih lanjut.

“Yang mampu menyambut ke 49 jurus seranganku seluruhnya hanya ada tiga orang,” kata Sabun Jui-soat pula.

Kiranya dalam sekejap tadi sekaligus ia telah menyerang 49 kali. Padahal untuk membunuh orang belum pernah dia menge-luarkan keseluruhan 49 jurus.

Kakek yang tertua di antara ketiga kakek perlente itu akhirnya membuka mulut, “Kau kira dia satu di antara ketiga orang yang kau maksudkan itu?”

“Bukan,” sahut Jui-soat.

“Oo?!” si kakek melengak.

“Ketiga orang itu semuanya adalah pimpinan suatu perguruan besar, biarpun darah tercecer di bawah pedang juga tidak nanti melarikan diri,” ucap Sebun Jui-soat dengan dingin.

“Jika begitu dia terhitung orang keempat,” ujar si kakek.

“Tidak ada orang keempat,” kata Jui-soat.

“Pedang masih berada di tangan Anda, kenapa tidak kau coba lagi apakah kami sanggup menyambut ke 49 jurus seranganmu?”

“Biarpun mampu, di antara kalian berempat paling banyak hanya akan tersisa tiga saja.”

“Dan kau sendiri?” tanya si kakek.

Sebun Jui-soat menjadi bungkam.

Memang untuk menghadapi empat orang sekaligus, dia memang tidak yakin pasti akan menang.

Sebaliknya keempat kakek itupun bungkam. Mereka pun sama tidak yakin mampu mengalahkan Sebun Jui-soat.

Salah seorang gadis yang berbaju hitam sutera tipis yang ikut bersama kawanan kakek itu mendadak berteriak, “Hai, Kuku, akhirnya dapat kutemukan dirimu, sungguh susah payah kucari engkau selama ini.”

Sembari berseru ia terus berlari ke arah Liok Siau-hong. Keruan Siau-bong melengak.

Selama hidupnya sabatangkara, sekarang mendadak bertambah dengan seorang ‘putra’, kini tiba-tiba ada orang memanggilnya “Kuku” (paman, adik ibu) pula.

Gadis itu terus berlutut di depan Siau-hong sambil menangis, ratapnya, “O, Kuku, masakah engkau tidak kenal padaku lagi? Aku ini kan Siau Jui, keponakanmu yang sering kau gendong waktu kecil dahulu.”

Mendadak Siau-hong merangkulnya dan berseru, “Ah, masa aku tidak kenal padamu. Eh, dimanakah ibumu?”

Siau Jui hampir tidak sanggup bernapas karena rangkulan erat Siau-hong itu, dengan agak megap-‘megap ia menjawab, “Ibu sudah meninggal.”

“Dan mengapa dapat kau ikut kawanan orang tua itu ke sini?”

“Aku … aku tak berdaya, mereka … mereka ….” belum lanjut ucapan Siau Jui, menangislah dia tergerung-gerung.

Siau-hong berjingkrak gusar dan menerjang ke depan kawan kakek itu sambil mendamprat, “Mengapa kalian menganiaya se orang gadis? Jika tidak, mustahil dia menangis sedemikian sedih?”

Dia jambret leher baju seorang kakek dan mendamprat pula, “Usia kalian sudah lebih tua daripadaku, tapi menganiaya seorang gadis yatim, apakah kalian terhitung manusia? Biar kulabrak kalian.”

Ia menarik kakek itu sekuatnya, Siau Jui juga memburu tiba dan menarik Siau-hong dari belakang, sekonyong-konyong terdengar suara gemuruh, papan loteng itu anjiok lagi ke bawah, ketiga orang jatuh saling dekap.

Tampaknya Sebun Jui-soat juga tercengang. Yang dihadapinya tadi mungkin sekali adalah lawan yang paling menakutkan selama hidupnya ini. Akan tetapi mendadak yang dihadapinya sekarang melulu sebuah lubang besar.

Terpaksa ia tinggal pergi. Waktu berlalu di depan Bok-tojin, tiba-tiba ia berhenti dan menegur, “Baik-baikkah kau?”

“Baik, sangat baik,” Bok-tojin juga tercengang, tapi lantas bergelak tertawa. “Haha, tak tersangka engkau masih kenal padaku.”

“Pernah kau lihat Liok Siau-hong?”

Bok-tojin tidak tertawa lagi, sahutnya dengan menyesal, “Tidak kulihat dia, siapa pun tidak ada yang melihat dia.” Sebun Jui-soat mendengus

Bok-tojin membelokkan pokok percakapan, “Apakah engkau akan hadir juga ke Bu-tong-san?” “Tidak,” jawab Jui-soat. “Sebab apa?” tanya Bok-tojin.

“Aku berpedang, Bu-tong-san ada Kay-kiam-giam (tebing menanggalkan pedang).”

“Pedangmu tidak boleh ditanggalkan?” Sebun Jui-soat mengiakan.

Mendadak si kakek tinggi besar dan kereng itu menjengek, “Kau pun tidak berani membawa pedang ke Bu-tong-san?”

“Aku cuma berani membunuh orang,” ucap Jui-soat dengan dingin. “Asalkan kau bicara lagi satu kata, segera kubunuh kau.”

Tiada seorang pun berani bicara lagi.

Pedang masih berada pada Sabun Jui-soat, ia melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Liok Siau-hong masih terus berkutetan dengan kakek perlente tadi, sama sekali Jui-soat tidak memandang mereka.

Jalan raya masih ramai dengan cahaya lampu yang terang.

Memandangi kepergian Sebun Jui-Sioat hingga jauh, kemudian si kakek tinggi besar menghela napas dan berucap, “Apakah betul-betul di dunia ini hanya tiga orang yang mampu menandingi ke 49 jurus serangannya?”

“Betul,” kata Bok-tojin.

“Adakah orang yang mampu menanggalkan pedangnya?” tanya si kakek.

“Tidak ada,” sahut Bok-tojin

“Apakah benar dia tiada tandingannya di dunia ini?” tanya Ko Hing-kong.

Mendadak si kakek tinggi besar tertawa, ucapnya, “Mungkin tidak ada orang yang mampu melucuti pedangnya, tapi ada seorang yang dapat membunuhnya.”

“Siapa?” tanya Ko Hing-kong dan si mata elang Lojit.

Tertawa si kakek tinggi besar tampak sangat misterius, ucapnya perlahan, “Cepat atau lambat orang ini pasti akan muncul, boleh kalian tunggu dan lihat saja nanti.”

Persengketaan yang timbul mendadak seketika lantas berakhir, meski membingungkan bagi pandangan orang lain, tapi dalam hati mereka yang bersangkutan tahu sama tahu.

Sesudah Sebun Jui-soat pergi, Liok Siau-hong juga lantas berangkat. Dengan sendirinya kawanan kakek berpakaian perlente itu tidak merintanginya, seperti tidak pernah terjadi apapun.

Sakarang Liok Siau-hong sudah berada kembali di dalam keretanya yang nikmat itu, kereta mulai dilarikan ke depan. Si gadis berbaju sutera hijau, keponakannya yang molek itu, berduduk di depannya, meski air mata belum lagi kering di wajahnya, tapi tiada lagi rasa duka sedikit pun, malahan dia mengulum senyum, seolaholah merasa geli terhadap apa yang terjadi tadi.

Tampaknya Liok Siau-hang juga merasa geli terhadap kejadian ini, katanya tiba-tiba, “Benar kau keponakanku?”

“Ehm,” si gadis mengangguk. “Ibumu adikku?” tanya Siau-hong pula. “Ehm,” si nona tetap mengangguk. “Sekarang dia sudah mati?” “Ehmm.”

“Apakah sekarang hendak kau bawa kami ke rumahmu?” “Ehm.”

“Ada siapa saja di rumahmu?” “Ada orang orang yang pasti disukai olehmu.” “Darimana kau tahu kusuka pada siapa?” “Dengan sendirinya kutahu,” jawab Siau Jui sambil berkedip-kedip.

“Ada berapa orang?”

“Tidak sedikit.”

Tertawa Siau Jui tampak misterius, mendadak ia melongok keluar jendela dan berteriak memberi perintah kepada kusir, “Belok kiri pada simpang jalan di depan, rumah ketiga di sebelah kanan bercat merah, berhenti saja di situ.”

Gang itu cukup rajin, jalan batu yang resik, di balik dinding kedua sisi jalan bunga flamboyan tampak mekar dengan indahnya, suasana riang gembira di balik dinding sukar lagi ditutupi.

Pintu merah pada rumah ketiga sebelah kanan jalan memang terbuka, di depan pintu tergantung beberapa buah lampu istana berwarna merah muda.

Begitu masuk ke rumah itu Siau Jui lantas berteriak, “Lekas kemari semua, Kuku kita datang!”

Belum lagi berhenti seruannya, berbondong-bondong berlari keluar dari halaman sana belasan anak perempuan. Semuanya masih muda belia, serupa burung pipit saja, serentak bercuat-cuit tidak ada hentinya.

Maklum, anak perempuan manakah yang tidak suka kepada Kuku?

Beramai-ramai mereka segera mengerumuni Liok Siau-hong, ada yang menarik tangannya, ada yang menarik ujung bajunya, semuanya memanggil, “Kuku!”

Kembali Siau-hong melengak, “Mereka semua ini keponakanku?!”

Siau Jui mengangguk, “Ya, masa engkau tidak suka kepada mereka?”

Mau tak mau Siau-hong mengangguk, “Suka, tentu suka?”

“Ya’, kutahu engkau pasti menyukai mereka,” ujar Siau Jui dengan tertawa. Lalu ia memperingatkan kawanan anak perempuan itu, “Tapi kalian harus hati-hati, Kuku kita ini memang orang baik, hanya sedikit saja cirinya, yaitu rada tidak beres bilamana merangkul, bisa bikin orang sesak napas.”

Tambah riuh tertawa anak perempuan itu, “He, rupanya kau sudah dirangkul olehnya?”

“Kuku tidak adil, jika merangkul dia, kami juga harus dipeluk.”

“Ya, aku pun minta dipeluk Kuku!” teriak yang lain.

Liok Siau-hong tengak-tangok ke sana sini, lagaknya seperti ingin merangkul ke kanan dan ke kiri.

Liu Jing-jing menyaksikan itu di samping, selagi ia hendak berbuat sesuatu untuk menyadarkan Siau-hong agar tidak keblinger, siapa tahu tindakan Siau Jui terlebih cepat, mendadak ia menarik Siau-hong dan diajak pergi.

“Hei, mengapa kau bawa lari Kuku?” teriak kawanan anak perempuan itu, “Dia bukan monopolimu, dia kan juga Kuku kami.”

Siau-hong setuju, “Jika semua memang keponakanku, perlu juga kutemani mereka.”

Namun Siau Jui tidak menghiraukan dia, ia terus menyeretnya ke serambi belakang, setiba di situ baru mengendurkan tangannya, lalu melirik dengan senyum tak senyum, omelnya, “Tampaknya tidak kecil ambisimu, padahal kawanan budak liar itu semuanya macan betina, masa kau tidak takut akan dicaplok mereka bulatbulat besama tulangmu?”

Ucapan ini tidak mirip lagi lagak bicara seorang keponakan terhadap pamannya. Sesungguhnya siapakah Siau Jui ini? Mengapa mengaku Liok Siau-hong sebagai Kuku? Untuk apa pula ia menyeret Siau-hong ke sini?

Sambil berkedip Siau-hong sengaja bertanya, “Eh, barangkali kau ingin berada berduaan bersamaku?”

Siau Jui tertawa ngikik, ucapnya, “Aku sih tidak setabah itu, tadi seluruh ruas tulangku hampir remuk oleh rangkulanmu, jika berada berduaan bersamamu, kan bisa tambah hancur?”

“Terkadang aku juga sangat lembut, lebih-lebih pada waktu tidak ada orang lain lagi,” kata Siau-hong.

Siau Jui sengaja menghela napas, “Pantas orang sama bilang engkau ini mata keranjang, ternyata keponakan sendiri juga kau incar.”

“Siapa bilang aku mata keranjang?” tanya Siau-hong. “Kata seorang,” jawab Siau Jui. “Siapa?” desak Siau-hong.

“Dengan sendirinya juga seorang yang sangat kau sukai, kujamin bila kau lihat dia, seketika engkau akan melupakan orang lain.”

Terbeliak mata Siau-hong, tanyanya cepat, “Dimana dia?”

Siau Jui menuding sebuah pintu pada ujung serambi sana dan berkata, “Dia sedang menunggumu di sana, sudah lama menunggu, tidak cepat kau pergi ke sana?”

“Dan kau?” tanya Siau-hong.

Siau Jui tertawa ngikik pula, “Aku kan cuma comblang yang menyampaikan berita dan tidak dapat membawa orang masuk kamar pengantin.”

Di serambi panjang itu tergantung beberapa lentera berkerudung warna jambbn, cahayanya terlebih lembut daripada cahaya rembulan.

Kawanan budak liar itu ternyata tidak menyusul ke sini, Liu Jing-jing juga tidak ikut kemari.

Pintu hanya setengah dirapatkan saja, di balik pintu sunyi senyap, tidak terdengar suara manusia. Sesungguhnya siapakah yang menunggunya di dalam? Apakah sebuah perangkap menyenangkan atau sebuah jebakan maut.

Selagi Liok Siau-hong merasa ragu, Siau Jui telah mendorongnya dari belakang sehingga masuk ke dalam pintu itu.

Cahaya lampu di dalam rumah terlebih lembut, kelambu tempat tidur tertutup, suasana rada-rada mirip keadaan kamar pengantin baru.

Sekarang pengantin lelaki sudah masuk kamar, lantas dimanakah pengantin perempuannya?

Di balik kelambu juga sunyi tiada suara manusia, agaknya memang tidak ada orang di situ, tapi di atas meja sudah tersedia beberapa macam hidangan dan satu poci arak.

Hidangan yang tersedia itu semuanya kegemaran Liok Siau-hong, araknya juga Tiok-yap-jing kesukaannya.

Tidak perlu disangsikan lagi orang yang menunggunya pasti kenal padanya, bahkan sangat memahami pribadinya. Apakah Yap Ling yang telah mendahului tiba di sini dan sengaja hendak membuatnya kaget?

Kalau bukan Yap Ling, siapa pula yang tahu dia inilah Liok Siau-hong?

Ia coba mengenangkan setiap perempuan yang pernah dikenalnya, rasanya tidak mungkin ada yang tahu akan kedatangannya.

Ia tidak mau berpikir lagi, selagi ia hendak berduduk dan mencicipi santapan malam yang tadi belum selesai, mendadak di balik kelambu ada orang barkata, “Malam ini boleh kau makan minum sepuasmu, boleh kau makan minum dengan siapa pun, sampai mabuk juga tidak menjadi soal. Besok baru kita mulai bekerja.”

Siau-hong menghela napas demi mendengar suara orang ini, khayalan yang timbul lagi seketika sirna.

Jelas itulah suara Lau-to-pacu.

“Kan banyak cara dapat kau gunakan untuk bertemu denganku, mengapa mesti pakai cara begini dan membuatku kegirangan percuma?” kata Siau-hong dengan menyesal.

“Sebab apa yang hendak kubicarakan denganmu sekarang tidak boleh didengar oleh orang ketiga,” ujar Lau-to-pacu.

Akhirnya muncul juga orangnya, pakaiannya masih tetap berwarna,kelabu, masih tetap memakai caping bambu, dandanannya sungguh tidak serasi dengan keadaan kamar yang serupa kamar pe-ngantin ini.

Arak pun tidak ingin diminum lagi oleh Siau-hong, ucapnya dengan menyengir, “Apakah hendak kau caci-maki diriku?”

“Apa yang kau lakukan tadi memang sangat berbahaya, kalau sebelumnya aku tidak mengatur seperlunya, bukan mustahil Bok-tojin dapat mengenali dirimu, mungkin Sebun Jui-soat juga sudah mengenalimu.”

Suaranya ternyata sangat ramah, sambungnya pula, “Namun sekarang urusan sudah berlalu, ternyata tidak berpengaruh terhadap pekerjaan kita.”

“Jadi apa yang terjadi tadi sudah kau ketahui seluruhnya? Memangnya tadi kau pun hadir di sana?” tanya Siau-hong. “Aku tidak hadir di sana, tapi kutahu.”

Siau-hong menghela napas, “Kekagumanku kepadamu sebenarnya bukan lantaran kau serba tahu segala apapun.”

“Memangnya kau kagum mengenai apa?”

“Bahwa dapat kau pikirkan menyuruh Hwesio tua seperti Bu-hou dan Bu-pa membawa orang perempuan dan minum arak segala, melulu hal ini saja mau tak mau harus kukagumi dirimu.”

Memang luar biasa, bahwa beberapa tuan besar yang royal dengan membawa orang perempuan dan makan minum itu ternyata bekas Hwesio saleh dari Siau-lim-si, kecuali Lau-to-pacu, siapa pula yang dapat mencetuskan gagasan begini?

Sebab itulah meski Sebun Jui-soat dan lain-lain merasa ilmu silat dan gcrak-gerik mereka agak mencurigakan, tapi juga tidak pernah menyangka mereka adalah Bu-hou dan Bu-pa yang diketahui sudah mati itu, telah hidup kembali.

Di dunia Kangouw memang juga banyak orang kosen yang berkungfu tinggi dan enggan menonjolkan diri.

Dengan hambar Lau-to-pacu berkata pula, “Justru karena tak terduga oleh orang lain, maka kejadian itu tidak berpengaruh terhadap pekerjaan kita.”

“Akan tetapi pada tanggal 13 nanti mereka akan muncul juga di Bu-tong-san

“Betul, tetapi waktu itu mereka sudah berubah menjadi kaum Tosu pengembara yang datang untuk mengucapkan selamat, tak ada orang yang akan memperhatikan mereka.”

“Dan.bagaimana dengan diriku? Pada hari itu aku akan berubah menjadi orang macam apa?”

“Kau jadi seorang Tojin pelayan, setiap saat harus kau layani tamu agung yang berada di ruangan pendopo.”

“Wah, boleh juga tugas ini,” ujar Siau-hong sambil menyengir.

“Pada hari itu, tamu yang datang di Bu-tong-san pasti akan ramai sekali, tentu tidak ada orang akan memperhatikan seorang Tosu pelayan.”

“Dan apa tugasku yang sebenarnya? Menghadapi Ciok Gan atau melayani Bok-tojin?” tanya Siau-hong.

“Kedua-duanya bukan tugasmu, sudah ada orang lain yang kuberi tugas untuk menghadapi mereka.”

“Lantas bagaimana dengan diriku? Tentunya engkau tidak cuma menugaskan diriku untuk melayani tetamu saja.”

“Dengan sendirinya ada tugasmu yang lain, malahan sukses atau gagalnya pekerjaan kita ini, kuncinya justru terletak pada dirimu.”

Siau-hong menenggak secawan arak, teringat kepada tanggung jawab sendiri yang begitu besar, tanpa terasa ia menghabiskan lagi secawan. Sungguh ia rada tegang.

Lau-to-pacu lantas menuang juga secawan arak dan dikecupnya sedikit, lalu bicara pula perlahan, “Tugas yang kuberikan padamu bukanlah membunuh orang, aku cuma menyuruhmu mengambilkan sejilid buku.”

“Buku? Buku apa dan buku siapa?”

“Buku piutang,” tutur Lau-to-pacu. “Buku itu semula kepunyaan Bwe-cinjin, sesudah dia mati, buku piutang itu lantas jatuh ke tangan Ciok Gan.”

“Seorang ketua Bu-tong-pay terhormat begitu masakah perlu mengurus pembukuan sandiri?” tanya Siau-hong dengan tidak mengerti.

“Ya, setiap hufuf dalam buku piutang itu selalu ditulis oleh mereka sendiri.”

“Dan yang tertulis di dalam buku itu pasti bukan tagihan biasa.”

“Memang betul.”

“Lantas apakah yang tercatat di situ?”

Mendadak Lau-to-pacu menenggak habis isi cawannya, lalu berucap dengan suara parau, “Yang tercatat dalam buku itu adalah mengenai jiwa raga beratus-ratus orang.”

“Orang siapa?” tanya Siau-hong.

“Semua orang yang berkedudukan dan ternama, orang kaya.”

“Ada sangkut paut apa antara jiwa raga beratus orang itu dengan buku piutang Ciok Gan ini?” Siau-hong tambah tidak mengerti.

“Karena yang tercatat di dalam buku itu menyangkut rahasia kehidupan pribadi orang-orang itu.”

“Rahasia yang tidak boleh diketahui orang luar?” Siau-hong menegas.

Lau-to-pacu mengangguk, “Jika Ciok Gan mengumumkan rahasia mereka itu, maka jangan harap lagi orang-orang itu dapat menancapkan kaki di dunia Kangouw, bahkan mungkin sekali nama mereka akan runtuh dan mati tak terkubur.”

Siau-hong menghela napas panjang, “Ai, seorang ketua Bu-tong-pay yang dihormati masakah sampai melakukan pemerasan dengan senjala membeberkan rahasia pribadi orang?”

“Seharusnya tidak pantas mereka lakukan, tapi toh sudah mereka lakukan,” jengek Lau-to-pacu. Mendadak suaranya berubah menjadi penuh rasa benci dan dendam, “Kalau saja mereka tidak memeras orang dengan ancaman akan membeberkan rahasia pribadi orang-orang itu, mana bisa terjadi Ciok Ho merusak wajah sendiri pada malam sebelum dia diangkat menjadi pejabat ketua Bu-tong? Dan tidak mungkin orang lain mengetahui rahasia pribadi orang-orang seperti Koh Hui-hun, Ko Tiu, Liu Jing-jing, Ciong Bu-kut dan lain-lain.”

“Jadi rahasia pribadi mereka itu sengaja disiarkan oleh Bwecinjin dan Ciok Gan?” tanya Siau-hong.

“Lantaran pemerasan mereka tak berhasil, mereka lantas bertekad akan membinasakan orang-orang itu. Umpama orang-orang itu ingin bertobat dan menjadi orang baik juga tidak ada kesempatan lagi,” tutur Lau-to-pacu dengan dendam.

“Dan engkau telah memberi suatu kesempatan kepada mereka,” ujar Siau-hong.

“Aku cuma memberi sekali kesempatan kepada mereka, bukan suatu kesempatan.”

“Memangnya apa bedanya?” kata Siau-hong.

“Mereka kan ingin menjadi manusia baru dan bukan menjadi orang mati,” kata Lau-to-pacu.

Orang yang hidup di Yu-leng-san-ceng itu masakah ada bedanya dengan orang mati? Hanya buku catatan mengenai rahasia pribadi mereka dimusnahkan barulah benar-benar ada kesempatan bagi mereka untuk menjadi manusia baru.

Dengan mengcpal kedua tinjunya erat-erat Lau-to-pacu menegaskan, “Maka tujuan operasi kita ini hanya boleh sukses dan tidak boleh gagal!”

“Prak”, cawan arak teremas hancur, darah segar merembes keluar dari celah-celah jarinya.

Siau-hong memandang darah segar yang menetes itu, tiba-tiba ia terhanyut dalam lamunannya.

Ia bertanya apakah tepat tindakan Lau-to-pacu ini? Jika tepat, jika benar, apakah dirinya perlu membantu melaksanakan urusannya ini hingga mencapai sukses?

Bu-tong-pay adalah perguruan ternama, Bwe-cinjin dan Ciok Gan cukup dihormat dan disegani orang, betapapun Siau-hong tak pernah menyangsikan kepribadian mereka. Akan tetapi sekarang terhadap semua itu perlu dinilainya kembali.

Lau-to-pacu sedang menatapnya dengan tajam, seperti ingin tahu apa yang terpikir pada lubuk hati Siau-hong yang paling dalam itu.

Sesungguhnya apa yang sedang dipikirkan Liok Siau-hong? Perlahan Lau-to-pacu berkata pula, “Kupaham, jika engkau tidak rela berbuat sesuatu, siapa pun tidak dapat memaksa dirimu. Sebab itulah, aku mengharuskan kau tahu duduk perkara ini yang sebenarnya.”

Tiba-tiba Siau-hong bertanya, “Jika tujuanmu demi menolong orang, mengapa perlu membunuh orang pula?”

“Orang yang hendak kubunuh adalah orang-orang yang tidak boleh tidak kudu dibunuh.”

“Ong Cap-te, Ko Hing-kong, Cui-siang-hui, orang-orang ini semuanya kudu dibunuh?”

Lau-to-pacu menjengek, “Hm, coba jawab, melulu mengandalkan anak murid kepercayaan Bwe-cinjin dan Ciok Gan saja apakah mampu mendapatkan rahasia pribadi orang sebanyak itu?”

“Jadi orang-orang yang hendak kau bunuh ini pernah bekerja bagi mereka, menjadi penyelidiknya?”

Lau-to-pacu mengangguk, “Ya, sebab rahasia pribadi orang-orsng itu sendiri juga tergenggam di tangan Bwe-cinjin dan Ciok Gan.”

Tangan Siau-hong terkepal kencang juga, akhirnya ia bertanya, “Buku catatan itu berada di mana?”

“Tersimpan di dalam kopiah pertapaan Ciok Gan,” jawab Lau-to-pacu.

Seketika hati Siau-hong tenggelam. Ia maklum, semasa mudanya Ciok Gan sudah terkenal sebagai jago pedang yang disegani di dunia Kangouw. Akhir-akhir ini tentu maju terlebih pesat kungfunya. Meski biasanya jarang orang melihat kepandaiannya, tapi menurut pikiran umum, ilmu pedangnya pasti di atas Bok-tojin.

Tidak perlu disangsikan lagi, Ciok Gan termasuk satu di antara ketiga jago pedang yang disegani dan pernah disinggung Sabun Jui-soat.

Kopiah pertapaan pejabat ketua Bu-tong-pay tidak cuma melambangkan keangkeran perguruan Bu-tong. Kopiah itu sendiri juga mestika yang tak ternilai harganya, apalagi di dalam kopiah masih tersimpan lagi rahasia sebesar ini.

“Aku pun tahu, adalah bukan pekerjaan mudah jika ingin menanggalkan kopiah yang dipakai Ciok Gan itu,” kata Lau-to-pacu.

“Dan mengapa kita harus turun tangan pada waktu kopiah terpakai di atas kepalanya?” ujar Siau-hong.

“Sebab pada waktu itulah kesempatan kita satu-satunya,” tutur Lau-to-pacu dengan alasan yang cukup, “Sebab kecuali dia sendiri, siapa pun tidak tahu pada waktu biasa kopiah itu disimpan di mana.”

“Wah, rasanya aku tidak sanggup melaksanakan tugas,” kata Siau-hong sambil menghembuskan napas panjang.

Maklumlah, pada hari itu, di ruang pendopo kuil Bu-tong-san pasti terang benderang dengan cahaya lampu. Jago kelas tinggi yang hadir juga tak terhitung jumlahnya. Jika hendak menanggalkan kopiah yang dipakai ketua Bu-tong-pay di depan orang sebanyak itu, siapakah yang mampu melakukannya?

“Hanya kau, pasti dapat kau lakukan!” ucap Lau-to-pacu dengan yakin.

“Seumpama dapat kutanggalkan kopiahnya juga pasti tidak mampu membawanya lari di depan pandangan orang sebanyak itu,” kata Siau-hong.

“Bukan di depan pandangan orang banyak, pada waktu kau turun tangan tidak ada yang melihat dirimu.”

“Mengapa tidak melihat diriku?”

“Sebab pada saat itu, ke-72 buah lampu yang terdapat di luar-dalam ruang pendopo akan padam secara serempak pada saat yang sama.”

Jika minyak pada lampu itu kering, dengan sendirinya lampu akan padam.

“Sedikitnya kami sudah menguji lima ratus kali. Sudah jelas dan pasti bila minyak lampu tersisa tiga tetes saja, maka pada saat dia mengumumkan siapa ahli waris yang diangkatnya segera lampu akan padam. Agen kita yang sudah berada di Bu-tong-san pada saatnya nanti pasti akan membikin minyak pada setiap lampu pendopo itu cuma tersisa beberapa tetes saja.”

Rencana ini sungguh sangat rapi.

“Tapi pada ruang pendopo tentu juga masih ada nyala lilin,” kata Siau-hong.

“Hoa Gui yang bertanggung jawab mengenai hal ini. Kepandaiannya menghamburkan senjata rahasia sukar ditandingi siapa pun,” tutur Lau-to-pacu.

Dengan demikian rcncana ini hampir tidak ada lubang kelemahan lagi. Pada waktu lampu padam, suasana pasti panik, pada saat itulah Liok Siau-hong akan turun tangan untuk merampas kopiah. Ciok Ho bertugas membunuh Ciok Gan, Bu-hou bersaudara membunuh Thi-koh Hwesio, Piauko akan membunuh Koh-tojin cilik, Koan-keh-po membunuh Lau-jit si mata elang, Hay Ki-koat membunuh Cui-siang-hui, Koan Thian-bu membunuh Ko Hing-kong, Toh Thi-sim membunuh Ong Cap-te, tugas masing-masing sudah teratur dengan baik.

“Tidak peduli apakah mereka akan berhasil melaksanakan tugas atau tidak, yang pasti, bilamana lampu menyala lagi, serentak mereka pun akan mengundurkan diri dengan baik. Kau pun begitu, biarpun kopiah tidak berhasil kau dapatkan, kau pun harus angkat kaki, sebab dalam keadaan begitu pasti tidak ada kesempatan untuk turun tangan lagi kedua kalinya.”

Lalu Lau-to-pacu menambah lagi, “Jadi berhasil atau tidak harus cepat kau kembali ke sini. Setelah lampu menyala kembali, semua orang pasti akan mencurahkan perhatian untuk menolong kawan yang terluka. Siapa pun takkan memikirkan siapa yang menghilang dari ruang pendopo dan juga tidak ada orang akan mengejar ke sini.”

“Apalagi pada waktu itu sama sekali tidak ada yang tahu sesungguhnya apa yang terjadi…”

Tanpa terasa Liok Siau-hong menghela napas pula, ucapnya, “Sungguh aku kagum padamu.”

Selama hidupnya entah sudah berapa banyak dia ikut campur tipu muslihat orang, tapi tidak ada satu pun yang lebih hebaf daripada sekali ini.

Rencana Lau-to-pacu sungguh hampir tidak ada cirinya sama sekali.

Akan tetapi masih ada beberapa hal perlu ditanyakan. “Mengapa kita tidak membunuh Ciok Gan lebih dulu baru kemudian mengambil kopiahnya?”

“Sebab kita tidak yakin dapat merobohkan ia dengan sekali serang!” jawab Lau-to-pacu.

Tapi operasi hanya boleh sukses dan tidak boleh gagal. Urusan ini memang sudah menguras segenap tenaga dan pikirannya.

“Jika aku tidak ikut serta dalam operasi ini, siapa yang akan melaksanakan tugasku ini?” tanya Siau-hong pula.

“Yap Soat!” jawab Lau-to-pacu.

“Mengapa dia?” Siau-hong tersenyum getir.

“Ginkangnya kan sangat tinggi, juga hebat pembawaannya melihat dalam kegelapan. Dalam keadaan tidak terduga-duga dia menyerang Ciok Gan, sedikitnya ada tujuh delapan bagian pasti akan berhasil.”

Mendadak ia genggam tangan Siau-hong dengan kuat dan menyambung pula, “Sedangkan kau ada sembilan bagian, bahkan lebih dari itu. Kau pasti akan berhasil. Kutahu kemampuanmu bekerja tanpa keliru dalam kegelapan, bahkan engkau mempunyai sepasang tangan yang tidak ada bandingannya di dunia ini.”

Dia memegang tangan Liok Siau-hong serupa memegangi benda mestika yang sukar dinilai harganya.

Sebaliknya Liok Siau-hong sedang memandangi tangan Lau-to-pacu. Tangan yang kurus kering dan kuat dengan kuku yang panjang.

Apabila tangan ini memegang sebilah pedang yang cocok, apakah tangan ini takkan lebih menakutkan daripada tangan Sebun Jui-soat?

Sesugguhnya siapakah gerangan orang ini?

Jika Liok Siau-hong memutar tangannya dan balas mencengkeram urad nadi orang, lalu menanggalkan capingnya, segera akan diketahuinya siapa dia.

Biarpun kesempatan akan berhasil tidak terlalu banyak, sedikitnya dia dapat mencobanya. Tapi Liok Siau-hong tidak mau mencoba.

Hal ini membuatnya marah terhadap dirinya sendiri, mendadak ia bertanya dengan suara keras, “Masakah tidak pernah kau pikirkan mati-hidupnya?”

Lau-to-pacu melengak, “Siapa yang kau maksudkan?”

“Anak perempuanmu, Yap Soat!”

“Jika tidak ada gunanya dipikir, untuk apa pula dipikirkan?”

“Tahukah kau, setelah ibunya meninggal masih juga di…”

Segera Lau-to-pacu memotong ucapannya, dengan sorot mata tajam ia melototi Siau-hong dan berucap, “Boleh kau minta kulakukan apapun bagimu, tapi selanjutnya jangan sekali-kali kau singgung lagi perempuan itu di depanku.”

Sungguh aneh, memangnya kenapa? Padahal Sim Sam-nio adalah istri Yap Leng-hong dan melahirkan seorang anak perempuan baginya, jika Sim Sam-nio bersalah terhadap Yap Leng-hong dan bukan kepadanya, lantas apa sebabnya dia juga benci kepada Sim Sam-nio?

Liok Siau-hong tidak mengerti, berpikir sampai sekian lama tetap tidak mengerti.

Rasa marah Lau-to-pacu dengan cepat dapat di atasinya, katanya pula, “Besok tidak ada pekerjaan, kau bebas untuk melakukan apapun, esok lusa pagi-pagi akan kuatur keberangkatanmu ke Bu-tong-san.”

Dia lantas berbangkit, jelas hendak mengakhiri pembicaraan ini, “Kepala pelayan di Bu-tong-san bernama Peng Tiang-cing, setiba di sana, segala apa keperluanmu akan diatur olehnya.”

“Kemudian?” tanya Siau-hong.

“Kemudian boleh kau tunggu saja di sana.”

“Menunggu sampai waktunya lampu padam.”

“Betul, menunggu sampai lampu padam,” Lau-to-pacu melangkah keluar, lalu menoleh dan menambahkan, “Mulai sekarang engkau bergerak sendiri dan tidak perlu lagi mengadakan kontak dengan orang lain, juga tidak ada orang yang akan mencari dirimu.”

Siau-hong tersenyum getir, “Mulai sekarang, mungkin anak isteriku pun tak dapat kujumpai.”

“Tapi engkau takkan kesepian, engkau masih mempunyai banyak keponakan perempuan.”

Tanggal 13 bulan empat sebelum fajar, suasana Bu-tong-san masih gelap gulita setelah berada di pinggang gunung, hawa bertambah dingin.

Suasana sunyi senyap, gumpalan asap putih mengambang di sekitar kaki gunung, entah awan, entah kabut?

Dipandang dari jauh, samar-samar sudah kelihatan bayangan kuil kuno yangmegah itu.

Setiba di sini, penunjuk jalan lantas pergi. Katanya, “Boleh kau tunggu di sini, selekasnya akan datang orang yang akan membawamu ke atas.”

Siau-hong tidak bertanya, juga tidak ingin tahu siapakah pengantar ini. Meski hari ini merupakan hari luar biasa, namun semangat Siau-hong tidak begitu segar. Maklumlah, terlalu banyak keponakan perempuannya.

Untung dia tidak terlalu lama menunggu, dari kegelapan segera didengarnya orang bertanya dengan suara tertahan, “Kau datang untuk apa?”

Inilah kata sandi menurut perjanjian mereka, jawabnya adalah, “Datang mencari kacang, tiga belas biji kacang.”

Dari kegelapan lantas muncul satu orang. Siau-hong lantas menegur, “Siapa kau?”

“Peng Tiang-cing!” jawab orang itu.

Peng Tiang-cing kelihatannya memang” rada-rada mirip kacang, pendek, buntak, matanya mencorong terang, gerak-geriknya gesit, dengan cepat ia mengamati Liok Siau-hong dua-tiga kejap, lalu menegur dengan menarik muka, “Kau baru minum arak?”

Dengan sendirinya Liok Siau-hong habis minum arak, malahan tidak sedikit arak yang diminumnya.

“Di sini dilarang minum arak, dilarang memandang orang perempuan, berjalan dilarang terlalu cepat, bicara dilarang terlalu keras,” demikian Peng Tiang-cing memberikan serentetan dilarang.

“Apakah di sini juga dilarang kentut?” tanya Siau-hong dengan tertawa.

Peng Tiang-cing menarik muka, jengeknya, “Aku tidak tahu sebelum ini apa pekerjaanmu. Aku pun tidak ingin tahu. Yang penting, setiba di sini mau tak mau engkau kudu patuh pada peraturan.”

Siau-hong tidak tertawa lagi. Ia tahu telah bertemu lagi dengan seorang yang sukar dilayani.

“Ada lagi satu hal hendaknya kau ingat betul,” kata Peng Tiang-cing pula.

“Hal apa?” tanya Siau-hong.

“Setiba di atas gunung hendaknya kau tidur sepuasmu. Jangan sekali-kali bergaul dengan orang lain. Bilamana ada orang bertanya padamu, katakan saja kau datang membantuku.”

Setelah berpikir, ia menambahkan pula, “Suteku Tiang-jing adalah seorang yang cerdik dan lihai, bila berhadapan dengan dia, cara bicaramu perlu lebih hati-hati.”

“Aku pasti akan sangat berhati-hati,” jawab Siau-hong.

“Baik, ikut padaku,” kata Peng Thian-cing. Tidak cuma gerak-geriknya gesit, ginkangnya juga cukup hebat.

Sungguh Siau-hong tidak menyangka, seorang tosu kepala pelayan bisa memiliki kepandaian setinggi ini.

Peng Tiang-cing juga merasa di luar dugaan bahwa Liok Siau-hong ternyata dapat mengikuti dia dengan ketat. Betapa cepat dia berlari, selalu Siau-hong mengintil di belakangnya dalam jarak yang sama.

Jelas Lau-to-pacu tidak memberitahukan Peng Tiang-cing tentang asal-usul Liok Siau-hong. Kecuali Lau-to-pacu sendiri, agaknya apa yang diketahui setiap orang tidak terlalu banyak. Sebab itulah andaikan satu-dua orang di antaranya gagal melaksanakan tugasnya juga takkan mempengaruhi rencana seluruhnya.

Hari belum terang tanah, namun bagian dapur di belakang gunung sudah ramai orang bekerja. Ada yang menanak nasi, ada yang memotong sayur, ada yang menimba air dan sebagainya. Setiap orang sama sibuk menunaikan tugas masing-masing, jarang ada orang bicara. Jelas disiplin di sini cukup keras, kepala pelayan Tiang-cing jelas terlebih kereng terhadap anak buahnya daripada sikapnya terhadap Liok Siau-hong tadi.

Di belakang dapur ada dua baris rumah gubuk. Pada rumah ujung sana tertimbun berpuluh keranjang asinan lobak yang belum kering terjemur, di pojok rumah terdapat sebuah balai-balai bambu.

“Boleh kau tidur di sini.” kata Peng Tiang-cing kepada Liok Siau-hong.

“Boleh tidur sampai kapan?” tanya Siau-hong.

“Sampai kudatang lagi mencari dirimu. Makanan juga tersedia di sini.”

“Makan lobak kering ini?” Siau-hong menegas dengan terkejut.

“Lobak kering juga makanan orang,” jengek Peng Tiang-cing.

Siau-hong menghela napas, gumamnya sambil menyengir, “Wah, bila terlalu banyak makan lobak kering mungkin akan kentut melulu.”

“Boleh juga tidak perlu kau makan, biarpun kelaparan satu hari kan tidak sampai mati?” Peng Tiang-cing siap tinggal pergi. “Nah, apakah masih ada urusan yang belum mengerti?”

“Hanya satu,” ujar Siau-hong.

“Apa? Katakan!”

“Kuheran mengapa engkau tidak ganti profesi menjadi sipir bui saja.”

Habis omong Siau-hong terus menjatuhkan diri di atas balai-balai. Ditariknya selimut yang ada untuk menutup kepalanya. Segala apa tidak dipedulikan lagi.

Terdengar suara “blang” yang keras, agaknya terpaksa Peng Tiang-cing melampiaskan rasa dongkolnya terhadap daun pintu.

Siau-hong tertawa di dalam selimut. Menghadapi orang demikian dia suka mencari akal untuk membikin keki padanya. Setiap kesempatan tidak dilaluinya dengan percuma. Kalau bisa harus membuatnya keki setengah mati.

Akan tetapi selimut yang dibuat menutupi kepala Liok Siau-hong sudah lebih dulu membuatnya kelabakan setengah mati karena baunya. Cepat ia mengeluarkan kepala untuk mengganti napas, tapi bau lobak kering tidak lebih enak daripada bau selimut dan balai-balai ini. Hanya orang yang pilek saja mungkin masih tahan tidur di sini.

Dalam pada itu remang-remang di ufuk timur sudah kelihatan. Kertas jendela sudah mulai terang, cahaya sang surya pun menembus ke dalam rumah.

Dengan mata terbelalak ia memandangi jendela satu-satunya di rumah gubuk ini. Sungguh celaka jika dia hanya disuruh berbaring di sini sepanjang hari. Apalagi sekarang perutnya terasa keruyukan, laparnya minta ampun. Jika dia diharuskan makan caipuh (lobak kering), lebih baik dia mati kelaparan.

Dalam keadaan runyam begini, jika dia masih sanggup ngendon di tempat ini. Jelas dia bukan Liok Siau-hong, betapapun ia harus pergi ke dapur untuk mencari makanan.

Jika di atas gunung bakal kedatangan tamu agung sedemikian banyak, di dapur tentu saja banyak tersedia makanan seperti jamur dan sebagainya.

Meski biasanya dia lebih suka makan daging dan ikan. Jika sekali tempo ciacai (makan sayur) rasanya juga tidak jelek. Ia cuma anti lapar saja, ia perlu mengisi perut. Ia anggap setiap orang berhak bebas dari kelaparan.

Sang surya sudah cukup tinggi di langit. Pekerja dapur sedang mengatur makanan ke dalam tempat makanan untuk diantar kepada yang berhak menerima.

Meski makan pagi yang sederhana, tapi cara pengolahannya cukup baik, jelas hendak diantarkan kepada para tamu agung.

Selagi Siau-hong hendak mencari akal untuk mendapatkan sebuah kotak makanan untuk dibawa ke kamarnya, mendadak terdengar seorang berseru, “Kemari kau!”

Pembicara itu ternyata adalah seorang tosu setengah umur, mukanya lonjong seperti muka kuda, tampangnya tidak enak dipandang.

Siau-hong memandang ke kanan-kiri dan memeriksa ke belakang, ternyata tidak ada orang lain di sekitarnya. Jelas dirinya yang dipanggil si Tosu muka kuda ini. Terpaksa ia mendekatinya.

Tenaga pembantu sementara yang dikerahkan ke bagian dapur agaknya tidak cuma Siau-hong saja, hal ini terbukti tosu muka kuda itu tidak menanyai asal-usulnya melainkan terus menyodorkan sebuah kotak makanan besar kepadanya dan menyuruhnya mengantar ke Ting-tiok-siau-wan’ (nama pavilyun), bahkan dipesan agar diantar dengan cepat.

Segera Siau-hong angkat kotak makanan dan melangkah pergi. Dilihatnya yang terisi di dalam kotak makanan itu adalah satu porsi rebung cah jamur, satu porsi kacang kapri, satu porsi tahu ang-sio dan satu kuali bubur yang masih mengepul.

Semua makanan ini sangat mencocoki seleranya, sungguh ia ingin makan dulu dan perkara belakang.

Jika dia benar-benar berbuat demikian, maka dia pasti juga bukan Liok Siau-hong.

Cara bekerja Liok Siau-hong selalu pakai pertimbangan, betapapun ia tidak mau membikin runyam urusan.

Bahwa makanan sebaik ini yang diantar, jelas yang tinggal di Ting-tiok-siau-wan itu pasti tamu agung khusus. Persoalannya sekarang adalah dia tidak tahu dimana letak Ting-tiok-siau-wan itu.

Selagi dia hendak mencari seorang yang agak ramah untuk bertanya, tiba-tiba dilihatnya seorang yang paling tidak ramah. Peng Tiang-cing sedang memandangnya dengan dingin di depan sana.

Sesudah dekat, dengan suara tertahan Peng Tiang-cing bertanya, “Apakah kau tahu siapa yang tinggal di Ting-tiok-siau-wan?”

Dengan sendirinya Siau-hong menggeleng tanda tidak tahu.

“Ialah Thi-koh Hwesio dari Siau-lim-si.”

Seketika tangan Siau-hong berkeringat. Ia kenal Thi-koh, Hwesio tua ini tidak cuma mempunyai mata yang tajam. Sebelum menjadi Hwesio, dia adalah seorang pothau (polisi, detektif) terkenal. Segala macam perbuatan kaum penjahat tidak ada satu pun yang tidak dipahaminya. Konon keahliannya adalah kepandaian menyamar, sampai bandit nomor satu di dunia Kangouw masa lampau ‘Si Muka Seribu’ juga terjungkal di bawah tangannya.

“Jika samaranmu diketahui olehnya, maka tamatlah riwayatmu,” jengek Pang Tiang-cing pula.

“Bolehkah aku tidak ke sana,” Siau-hong menyengir.

“Tidak bisa”

“Sebab apa?”

“Sebab orang yang menyuruhmu ini ialah Song Tiang-jing. Dia sedang mengawasi gerak-gerikmu.”

Syukur Ting-tiok-siau-wan atau pavilyun nyanyian bambu tidak sulit dicari. Sesuai petunjuk Peng Tiang-cing, sesudah menyusuri sebuah jalan kecil berbau telur, terlihatlah rumpun pohon bambu yang menghijau permai.

Setiba di sana, Siau-hong melihat ada seorang berjalan di depannya. Pakaiannya yang berwarna biru sudah luntur hingga hampir berubah menjadi putih seluruhnya. Malahan di sana sini banyak tambalan.

Siau-hong kenal orang ini. Tanpa melihat mukanya juga dapat dikenalnya.

Peraturan Kay-pang (sindikat kaum pengemis) sangat keras. Kantung goni yang tersandang pada punggung setiap anggota teratur dengan baik dan tidak boleh dilanggar. Bilamana kedudukan seorang anggota adalah murid berkantung tujuh, maka kantung goni yang tersandang di punggungnya harus tujuh buah, lebih banyak sebuah saja tidak boleh, kurang satu juga dilarang.

Murid berkantung tujuh sudah terhitung pimpinan Kay-pang, hanya Pangcu atau ketua saja yang berhak menyandang sembilan buah kantung goni.

Tapi kantung goni yang tersandang di punggung orang yang berjalan di depan Liok Siau-hong ini ada sepuluh buah.

Sejarah berdirinya Kay-pang sudah sekian ratus tahun lamanya, hanya terjadi kekecualian ini saja. Sebab orang ini telah berjasa besar bagi Kay-pang. Tapi setelah berjasa, dia lantas mengundurkan diri, hendak diangkat menjadi Pangcu saja ditolaknya.

Untuk menghormati dia dan sebagai tanda terima kasih atas jasanya, segenap anggota Kay-pang yang berpuluh ribu jumlahnya itu telah memotong secuil kecil kantung masing-masing, lalu dijahit menjadi sebuah kantung istimewa dan dihadiahkan kepadanya sebagai lambang kebesaran dan kejayaannya dalam organisasi mereka.

Dan orang inilah Ong Cap-te adanya, si Ong berkantung goni sepuluh.

Liok Siau-hong menundukkan kepala dan sengaja memperlambat jalannya.

Usia Ong Cap-te sekarang sudah mendekati delapan puluh tahun. Boleh dikatakan tokoh Kangouw kawakan, sesepuh dunia persilatan yang jarang ada bandingannya. Segala urusan Kangouw hampir tidak ada lagi yang dapat mengelabui mata telinganya.

Sungguh Siau-hong tidak ingin dirinya dilihat pengemis tua ini, celakanya justru sukar menghindarinya. Jelas Ong Cap-te juga hendak menuju ke Ting-tiok-siau-wan. Di sana sudah menunggu banyak sahabatnya. Dengan sendirinya semua sahabatnya itu adalah tokoh Bu-lim yang terhormat.

Bok-tojin, Ko Hing-kong dan Lau-jit si mata elang, semuanya sudah menunggu di situ. Ada lagi si kakek yang tinggi besar dan kereng itu.

Sesungguhnya siapakah dan apa kedudukan kakek ini?

Lalu ada lagi seorang Tosu setengah baya berdandan rapi dan berwajah putih dengan jenggot yang jarang-jarang, dia inilah Koh-tojin cilik dari Pah-san.

Seorang lagi berdandan sederhana dan pendiam. Seorang muda yang penuh percaya kepada dirinya sendiri dan senantiasa cinta kepada sesamanya, ternyata Hoa Ban-lau yang sudah lama berpisah itu.

Tidak ada orang tahu Hoa Ban-lau adalah seorang buta, dia sendiri seperti juga melupakan hal ini. Meski dia tidak dapat memandang dengan mata, namun dia dapat melihat dengan pikiran dan perasaannya, dia dapat memahami, bersimpati dan memperhatikan kepentingan orang lain. Sebab itulah kehidupannya senantiasa padat dan berharga.

Setiap kali Siau-hong melihat Hoa Ban-lau, dalam hati selalu timbul semacam perasaan hangat yang tak terkatakan.

Itu bukan cuma perasaan persahabatan saja, juga semacam perasaan hormat yang timbul dari lubuk hatinya.

Di dalam kamar terpajang dengan indah dan teratur dengan resik, waktu Siau-hong masuk ke situ, mereka sedang membicarakan apa yang dialami Bok-tojin di restoran tempo hari.

Dengan sendirinya Liok Siau-hong juga sangat tertarik oleh bahan perbincangan mereka. Maka ia sengaja bekerja dengan sangat lambat, sedapatnya ia menghindarkan adu pandang dengan orang-orang ini.

Agaknya mereka pun tidak memperhatikan Liok Siau-hong. Pembicaraan mereka tidak pernah berhenti.

“Apa yang dikatakan Sebun Jui-soat memang betul,” demikian ucap Bok-tojin, setiap gagasannya memang selalu diperhatikan kawan-kawannya, “yang mampu menghadapi jurus serangan kilatnya pasti tidak lebih dari lima orang.”

“Kau pun tidak tahu asal-usul pendekar pedang berbaju hitam dan berkedok itu?” yang bertanya ialah Koh-tojin dari Pah-san.

Ia sendiri juga jago pedang ternama. Hwe-hong-kiam warisan keluarga Koh bersama dengan Liang-gi-kiam-hoat dari Bu-tong-pay dan Hui-liong-kiam-hoat dari Kun-lun-pay sama-sama disebut sebagai tiga ilmu pedang besar.

“Betapa hebat permainan pedang orang itu tampaknya tidak di bawah Koh tua dahulu,” ucap Bok-tojin pula sambil merenungkan kembali apa yang dilihatnya. “Anehnya, yang digunakan seperti juga ilmu pedang Bu-tong-pay, tapi jauh lebih tajam dan keji lagi.”

“Menurut pandanganmu, bagaimana kalau dia dibandingkan dirimu sendiri?”

Yang bertanya sekali ini ialah Ong Cap-te, hanya dia saja yang dapat mengajukan pertanyaan ini.

Bok-tojin tertawa, “Sedikitnya sudah sepuluh tahun kedua tanganku tidak pernah memegang pedang lagi.”

“Apakah tanganmu tidak merasa gatal?”

“Bila tanganku terasa gatal, segera kugunakan untuk memegang biji catur dan cawan arak,” ucap Bok-tojin dengan tertawa. “Dengan begitu rasanya menjadi lebih menyenangkan daripada memegang pedang, juga jauh lebih aman.”

“Sebab itulah tempo hari kau hanya menonton saja?”

“Aku hanya dapat menonton saja, sebab tanganku memegang cawan arak, juga memegang poci?”

“Sahabatmu yang kau katakan menganggap arak sebagai jiwanya itu sesungguhnya siapa?”

“Orang itu kabarnya adalah pembesar negeri yang pensiun dan hendak pulang ke kampung halaman, kukira agak mencurigakan keadaannya,” tiba-tiba Lau-jit si mata elang menimbrung.

“Mencurigakan?”

“Ya, meski sedapatnya dia berlagak kaku, tapi jelas kungfu bagian kakinya tidaklah lemah. Begitu dia terjungkal ke bawah loteng, ternyata tidak mengalami cedera apapun. Tampaknya dia sangat mirip dengan seorang kenalan baik kita.”

Mendengar sampai di sini jantung Liok Siau-hong hampir melompat keluar dari rongga dadanya, sungguh ia ingin lekas mengeluyur pergi saja.

“Memangnya mirip siapa?” terdengar seorang bertanya.

“Sukong Ti-seng!”

Seketika Siau-hong menghela napas lega dan tidak ingin pergi lagi.

Mereka lantas membicarakan pula keempat kakek yang gerak-geriknya kelihatan misterius itu.

“Bukan saja Lwekang keempat orang itu sangat tinggi, gaya mereka pun hampir sama satu dengan yang lain,” ujar Bok-tojin. “Orang semacam mereka itu, satu saja sukar dicari, tapi sekaligus mereka berempat muncul mendadak, serupa jatuh dari langit.”

“Ya, yang lebih aneh adalah sikap dan gerak-gerik mereka hampir sama,” sela Ko Hing-kong, “sampai wajah mereka juga mirip satu sama lain seperti saudara sekandung saja.”

“Saudara sekandung?” tukas Thi-koh Hwesio sambil mengernyitkan dahi. “Saudara sekandung macam begitu kutahu cuma…?

Dia tidak melanjutkan, biasanya dia memang tidak suka sembarangan menarik kesimpulan, dengan kedudukannya juga tidak boleh sembarangan memastikan begitu saja.

Akan tetapi para tokoh Kangouw kawakan yang hadir sudah dapat menangkap maksudnya, “Kau maksudkan Bu-hou dan Bu-pa bersaudara?”

Thi-koh tidak membenarkan juga tidak menyangkal.

Bok-tojin tertawa pula, “Seumpama mereka masih hidup di dunia ini juga tidak mungkin membawa serta kawanan nona ‘Boan-jui-lau’ dan minum arak di tempat umum.”

“Kawanan nona dari Boan-jui-lau (nama tempat hiburan)?” tanya Ong Cap-te. “Tampaknya kau seperti tahu benar aturan ini, jangan-jangan kau pun pernah mengunjungi Boan-jui-lau?”

“Dengan sendirinya pernah kupergi ke sana,” jawab Bok-tojin dengan tertawa. “Asalkan bisa minum arak, tempat apapun kudatangi.”

Ong Cap-te bergelak tertawa, “Wah, cara bicara tosu tua ini serupa benar dengan Liok Siau-hong.”

Pokok pembicaraan mereka seperti hendak terbelok lagi atas diri Liok Siau-hong, segera Siau-hong bermaksud mengeluyur pergi lagi.

Mendadak si mata elang Lau-jit berkata, “Ada lagi satu hal terlebih sukar dimengerti.”

“Hal apa?” tanya Bok-tojin.

“Seorang pembesar negeri yang sudah pensiun mengapa bisa mendadak berubah menjadi seorang tosu pelayan?” kata si mata elang.

Seketika kaki dan tangan Liok Siau-hong terasa dingin, hendak kabur pun sudah terlambat.

Serentak si mata elang melompat maju dan mengadang di depan Siau-hong sambil mendengus, “Tidak boleh pergi!”

Liok Siau-hong berlagak kaget, “Mengapa aku tidak boleh pergi?”

“Sebab apa yang kurasakan tidak mengerti ini hanya dirimu saja dapat menjelaskan,” ucap si mata elang.

Ko Hiang-kong juga melompat maju dan berseru, “Betul, dia inilah sahabat yang memandang arak seperti jiwanya sendiri. Mengapa dia bisa berada di sini?”

Seketika kamar yang semula tenteram itu diliputi hawa pembunuhan. Barang siapa kalau menjadi pemimpin besar ke-12 pelabuhan, dalam sebulan sedikitnya ada beberapa orang akan dibunuh olehnya.

Ko Hing-kong yang culas dan kejam itupun tokoh yang cukup terkenal di dunia Kangouw. Asalkan mereka mulai bergerak, seketika akan terjadi pembunuhan.

Begitulah dari muka belakang mereka mencegal jalan Liok Siau-hong, bersayap juga sukar kabur dari rumah ini.

Namun bila di dunia ini masih ada seorang yang dapat lolos dari rumah ini, maka orang itu pastilah Liok Siau-hong adanya.

Mendadak ia bergelak tertawa dan berucap, “Wah, tampaknya aku kalah.”

“Jelas kau kalah,” jengek si mata elang Lau-jit.

“Selama hidupku sedikitnya sudah ribuan kali aku bertaruh dengan orang, baru sekali ini aku mengalami kekalahan mengenaskan,” ujar Siau-hong dengan tertawa.

“Bertaruh? Bertaruh apa?” tanya si mata elang.

“Ada seorang bertaruh denganku, asalkan aku mampu berdiam seminuman teh di sini dan tidak dikenali orang, maka kalahlah dia dan aku akan dijamu di restoran. Kalau tidak, seterusnya akan kupanggil dia telur busuk.”

Si mata elang hanya mendengus saja. Pada hakikatnya dia tidak percaya obrolan Liok Siau-hong. Tapi dia bertanya juga, “Siapa orang yang bertaruh denganmu itu?”

“Dengan sendirinya dia memang telur busuk, bahkan telur maha busuk dan paling besar.”

“Siapa?” si mata elang menegas.

“Liok Siau-hong!” jawab Siau-hong.

Nama ini membikin semua orang melengak, “Hah, dia belum mati?”

“Orang mati masakah dapat bertaruh denganku?” ujar Siau-hong.

“Di mana dia sekarang?” tanya Lau-jit.

Siau-hong sengaja menengadah dan memandang jauh keluar jendela sambil memberi tanda dan berseru, “Ayolah, lekas masuk kemari!”

Dengan sendirinya semua orang sama berpaling ke sana, tapi Siau-hong sendiri lantas kabur melalui arah lain.

Daun jendela kedua sisi ruangan itu sama terbuka secepat terbang Siau-hong melayang keluar, sebelah kaki menginjak pada emper rumah. Ketika emper rumah runtuh, segera dia melompat beberapa tombak jauhnya ke sana.

Di belakang ada suara orang membentak. Ginkang setiap orang juga cukup tinggi, emper rumah yang runtuh itu hanya dapat merintangi pengejaran mereka sejenak saja, selekasnya mereka akan memburu keluar lagi.

Sama sekali Liok Siau-hong tidak berani menoleh, ia tetap lari ke depan.

Tokoan atau kuil agama To ini adalah bangunan kuno, tinggi, besar, megah dan luas, meski banyak tempat yang dapat dibuat sembunyi, tapi Siau-hong tidak berani mengambil resiko.

Kini sudah tanggal 13, orang yang perlu hadir sudah datang, yang datang ini adalah tokoh kelas tinggi seluruhnya. Dimana pun dia bersembunyi ada kemungkinan akan ditemukan. Bila ditemukan oleh siapa pun, jelas sangat sulit baginya untuk lolos.

Dengan sendirinya ia tidak dapat kabur turun gunung. Urusan yang akan terjadi nanti tidak boleh diabaikan, juga tidak ingin ditinggalkannya.

Terlihat bayangan orang berkelebat, di atas rumah depan sana sudah ada orang mengejar ke sini. Menyusul dari kanan kiri juga muncul bayangan orang, empat penjuru sudah terkepung seluruhnya, hampir tidak ada jalan lari lagi baginya. Terpaksa ia melompat turun ke bawah.

Orang di bawah agaknya terlebih banyak. Dari sana-sini sudah bergema suara orang berlari.

Cepat ia membelok dua-tiga tikungan rumah. Mendadak di depan muncul seorang yang lagi menatapnya dengan dingin, mukanya yang berpotongan muka kuda itu kaku tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, dia inilah saudara seperguruan Peng Tiang-cing, wakil kepala pelayan, Song Tiang-jing.

Tentu saja Siau-hong terkejut, sedapatnya ia menyapa dengan tertawa, “Engkau baik-baik.”

“Aku tidak baik, kau terlebih tidak baik,” jengek Tiang-jing. “Asalkan aku berteriak, serentak mereka akan memburu ke sini, biarpun sekali hantam dapat kau robohkan diriku juga tak ada gunanya.”

“Habis apa kehendakmu?” tanya Siau-hong sambil menyengir.

“Aku cuma minta kau paham hal ini.”

“Aku sudah paham.”

“Jika begitu, sebaiknya biarkan kubekuk dirimu, selanjutnya juga ada baiknya bagimu.”

Siau-hong menghela napas, “Baiklah, toh aku tidak mampu lolos lagi. Biarlah kuberi kebaikan padamu.”

Terbeliak mata Tiang-jing, segera ia melompat maju.

“Hendaknya jangan terlalu keras cara turun tanganmu,” kata Siau-hong.

“Baik!” ucap Tiang-jing.

Baru saja ia buka mulut, tahu-tahu secomot barang telah terjejal ke dalam mulutnya, baru saja ia hendak menghantam, tahu-tahu bagian iga sudah tertutuk. Segera Siau-hong lari ke pengkolan rumah di depan sana, sedangkan Tiang-jing hanya dapat memandangnya dengan terbelalak tanpa bisa berkutik.

Akan tetapi ia tahu Liok Siau-hong tetap tidak dapat kabur, sebab bila membelok lagi ke depan, sampailah di ruang pendopo kuil besar itu.

Dan pejabat ketua Bu-tong-pay saat itu berada di ruang pendopo.

Di depan ruang pendopo adalah sebuah halaman yang luas. Siapa pun tidak dapat menyembunyikan diri, meski cahaya di dalam ruang pendopo agak guram dengan asap dupa yang bergulung-gulung. Tapi, Siau-hong toh menyelinap juga ke dalam. Agaknya memang sudah direncanakan akan bersembunyi di sini.

Ia tahu pada umumnya orang-orang mempunyai titik buta. Bersembunyi pada tempat yang paling menyolok justru semakin tidak mudah diketemukan.

Sekarang sudah lewat waktu sembahyang pagi, umpama di ruang pendopo itu masih ada orang tentu juga sudah terkejut oleh suara ramai-ramai di luar. Sungguh tak tersangka olehnya bahwa di dalam pendopo masih ada satu orang.

Seorang Tojin yang berperawakan jangkung, sedang berdiri termenung di depan meja sembahyang, entah lagi berdoa bagi keselamatan umat manusia atau lagi merenungkan dosanya sendiri di masa lampau.

Di atas meja sembahyang di depannya tertaruh sebilah pedang Jit-sing-po-kiam atau pedang pusaka bintang tujuh yang melambangkan kebesaran dan kekuasaan sang ketua.

Dengan sendirinya orang ini ialah Ciok Gan, pejabat ketua Bu-tong-pay.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: