Kumpulan Cerita Silat

27/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:36 am

Pendekar Empat Alis
Buku 07: Duel di Bu Tong
Bab 03
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Hiu_Khu)

Rencana “Operasi Halilintar” dibagi menjadi empat tahap. Tahap pertama, menyerang dan memilih anggota peserta serta membagi tugas. Tahap kedua, menyamar dan berganti rupa serta turun gunung secara berkelompok. Tahap ketiga, berkumpul dan menunggu perintah, siap tempur. Tahap keempat, barulah operasi total secara resmi.

Apa yang dimulai sekarang baru tahap pertama namun cara berlangsungnya sudah cukup mendebarkan hati orang.

Suasana dalam ruangan besar menjadi tegang, Lau-to-pacu sendiri berbangkit dan buka suara, “Banyak orang di dunia ini sudah lama seharusnya mati tapi tidak ada yang berani mengganggu gugat mereka. Banyak urusan yang sudah lama harus dikerjakan tapi tidak ada orang berani melakukannya. Maka sekarang tujuan kita adalah bertindak terhadap orang-orang itu dan menyelesaikan urusan itu.”

Tiba-tiba Siau-hong merasakan pembawaan orang ini memang seorang pemimpin, bukan saja tenang dan dingin, rapi perencanaannya, bahkan seorang ahli pidato. Cukup beberapa patah kata saja sudah menjelaskan keseluruhan tujuan gerakan mereka ini.

“Gerakan kita serupa bunyi guntur dan sambaran kilat maka kita beri nama Operasi Halilintar.”
Suasana dalam ruangan besar menjadi sunyi. Setiap orang sama menunggu pembicaraannya lebih lanjut.

Cukup lama Lau-to-pacu berhenti bicara, serupa kesunyian sesaat sebelum tibanya hujan badai, seperti juga agar setiap orang sudah ada persiapan mental untuk mendengarkan bunyi geledek yang menggetar langit dan memecah bumi itu.

“Untuk pertama kali, yang hendak kita hadapi adalah tujuh orang,” Lau-to-pacu berhenti lagi sejenak, lalu menguraikan nama ketujuh orang ini. “Ciok Gan dari Bu-tong-pay, Thi-ko Hwesio dari Siau-lim-pay, Ong Cap-te dari Kay-pang, Cui-siang-hui di sungai Yangce, Ko Hing-kong dari Gan-tang-san, Koh-tojin dari Pah-san dan si mata elang dari Cap-ji-lian-goan-bu (gabungan 12 pelabuhan).”

Suasana ruangan yang sangat sunyi kini tambah hening serupa kuburan, sampai suara napas dan denyut jantung semua orang seakan berhenti juga.

Walaupun sebelumnya Siau-hong sudah tahu yang hendak dilakukan Lau-to-pacu adalah suatu pekerjaan besar, tidak urung ia terkejut juga ketika mendengar nama-nama yang disebutnya itu.

Selang agak lama barulah ada orang mulai mengusap keringat, ada yang minum arak, malahan ada satu-dua orang yang menyusup ke kolong meja dan tumpah.

Dengan suara terlebih tenang dan tegas Lau-to-pacu berucap pula, “Bilamana operasi kita ini sukses, selain pasti akan menggemparkan dunia dan disegani siapa pun, terhadap para peserta juga akan besar manfaatnya.” Kembali dia berhenti, lalu menyambung lagi, “Sudah kuperhitungkan setiap bagian operasi ini secara mendetail. Seharusnya tidak perlu disangsikan lagi akan suksesnya, cuma, segala apapun sukar terhindar dari hal-hal yang tak terduga, maka gerakan kali ini tentu juga tak terhindar dari bahaya, sebab itulah aku pun tidak memaksa setiap orang harus ikut.” Sorot matanya yang tajam menyapu pandang para hadirin dari balik capingnya itu, lalu serunya lagi dengan tegas, “Nah, siapa yang tidak mau ikut boleh silakan berdiri, pasti takkan kupaksa.”

Suasana sunyi kembali, perlahan Lau-to-pacu berduduk dan menuang arak lagi.

Tanpa terasa Siau-hong juga pegang cawan araknya. Baru diketahui dirinya juga ikut tegang. Terbukti telapak tangan sendiri juga berkeringat dingin.

Sampai saat ini belum lagi ada seorang pun yang berdiri, tapi ada orang bertanya, “Yang tidak mau ikut apakah selanjutnya masih boleh tinggal di sini?”

“Boleh, terserah padamu ingin tinggal berapa lama di sini. Pasti tidak ada yang keberatan.” jawab Lau-to-pacu tegas.

Penanya itu ragu sejenak pula, akhirnya dia berdiri dengan perlahan, segera tertampaklah perutnya yang buncit.

Tiba-tiba Siau-hong teringat siapa orang ini. 20 tahun yang lalu di dunia Kangouw ada empat tokoh ajaib, yang seorang maha gemuk, seorang maha kurus, seorang maha tinggi dan seorang lagi maha pendek.

Si maha gemuk serupa babi itu bernama Cu Pui. Kalau dibaca secara terbalik menjadi ‘Pui-cu’, artinya babi gemuk. Tapi bagi orang yang mengenalnya sama tahu dia bukan babi, sebaliknya seorang yang cerdik dan pintar. Orang yang pernah bergebrak dengan dia lebih-lebih tidak berani memandangnya sebagai babi sebab selain gerak-geriknya cepat dan lincah, bahkan cara turun tangannya juga keji tanpa kenal ampun. Kungfu andalannya adalah permainan golok dengan berguling di tanah, semacam kungfu yang jarang terlihat.

Siau-hong tahu ini pasti Cu Pui adanya. Tak tersangka olehnya orang pertama yang berdiri ialah dia. Padahal Cu Pui pasti bukan seorang penakut.

“Sebabnya aku tidak pergi,” dia beralasan, “adalah karena aku kelewat gemuk, terlalu menyolok. Betapapun aku menyamar dan berganti rupa tetap akan dikenali orang.”

Alasan memang masuk di akal. Bahkan, Lau-to-pacu juga harus mengakui kebenaran alasannya, tapi juga terasa sayang olehnya. Maklumlah, kungfu Cu Pui yang khas itu sebegitu jauh jarang ada tandingannya, jelas tenaga orang semacam ini sangat diperlukan Lau-to-pacu. Akan tetapi ia hanya menghela napas perlahan saja dan tidak memberi komentar.

Jika ada seorang berani mendahului berdiri biasanya lantas ada orang kedua dan begitu seterusnya.

Lau-to-pacu tetap tenang dan dingin saja memandangi orang berdiri itu. Sampai pada orang ke-13 barulah air mukanya rada berubah.

Wajah orang ini sangat biasa, tiada sesuatu yang istimewa, gerak-geriknya kaku, tingkahnya bodoh. Tiada sesuatu yang menarik. Akan tetapi orang yang dapat menggerakkan hati Lau-to-pacu tentu bukan tokoh sembarangan.

“Kau pun tidak ikut?” tanya Lau-to-pacu.

Dengan wajah kaku tanpa sesuatu perasaan orang itu menjawab, “Kau bilang orang yang tidak mau pergi boleh berdiri, dan aku sudah berdiri sekarang.”

“Sebab apa engkau tidak ikut pergi?” tanya pula Lau-to-pacu.

“Sebab baju menyelam dan senjata cundrikku dicuri orang,” jawab orang itu.

Setelah mendengar jawaban ini, mau-tak-mau Siau-hong juga melengak. Sungguh tidak tersangka olehnya orang yang ketolol-tololan ini adalah jago pedang lautan selatan yang terkenal, yang namanya hanya di bawah Pek-in-sengcu, yaitu Hui-ih-tocu Ih Hoan.

Di daratan Pek-in-sengcu adalah jago pedang termashur, tapi di dalam air jelas dia bukan tandingan Ih Hoan.

Dalam gerakan Lau-to-pacu kali ini jelas juga sangat memerlukan seorang yang mahir berenang dan menyelam.

“Prak”, mendadak cawan arak yang dipegang Lau-to-pacu teremas hancur.

Pada saat itu juga mendadak terdengar suara jeritan ngeri, seseorang yang berduduk di samping Toh Thi-sim baru saja berdiri segera roboh dan mendekap di atas meja sehingga mangkuk piring sama pecah berantakan. Lalu tertampak darah segar mengucur bercampur dengan arak yang membasahi taplak meja. Sumpit yang dipegang Toh Thi-sim tampak merah juga, tentu saja merah karena berlepotan darah.

“Kau bunuh dia?” tanya Ih Hoan sambil berpaling ke sana.

Toh Thi-sim mengaku, “Ya, untuk pertama kali ini kubunuh orang dengan sumpit.”

“Mengapa kau bunuh dia?” tanya Ih Hoan pula.

“Sebab terlalu banyak rahasia yang diketahuinya, jika dia hidup, mungkin sekali kita yang akan mati,” jawab Toh Thi-sim de¬ngan tak acuh, dicomotnya sepotong daging dengan sumpitnya yang berlepotan darah itu dan dimakan dengan nikmatnya tanpa berkedip.

‘Loa-jiu-bu-ceng’ Toh Thi-sim, si tangan ganas tanpa kenal ampun, dia memang seorang iblis yang membunuh orang tanpa ber¬kedip.

Ih Hoan masih menatapnya, ucapnya perlahan, “Betapa banyak rahasia yang diketahuinya juga telah kuketahui, apakah aku pun akan kau bunuh?”

“Ya,” sahut Toh Thi-sim dengan dingin, dia tetap tidak berkedip, “Orang yang tidak mau ikut, seorang pun jangan harap akan keluar rumah ini dengan hidup.”

Air muka Ih Hoan berubah seketika.

Belum lagi dia buka mulut, seorang telah mendahului berseru, “Jika Lau-to-pacu yang berkata demikian, terpaksa aku pasrah nasib, tapi kau…?”

Tidak bersambung ucapannya, sebab dari samping tiba-tiba menyambar tiba setangkai sumpit dan tepat menembus telinga kirinya ke telinga kanan.

Sumpit yang dipegang si nenek ompong sekarang tersisa sebatang saja, dia lagi bergumam dengan gegetun, “Wah, tampaknya terpaksa aku harus makan dengan memakai cakar.” Ia benar-benar lantas menggunakan tangannya mencomot sepotong Ang-sio-pay-kut (tulang iga masak saus manis) terus digerogoti dengan dua biji giginya yang masih tersisa.

Terdengar suara gemuruh. Orang yang telinganya tertembus sumpit itu roboh dan membikin meja di depannya porak poranda.

Beberapa orang yang semula berdiri perlahan bermaksud duduk kembali.

Tapi Toh Thi-sim lantas menjengek, “Yang sudah berdiri dilarang duduk lagi.”

Cu Pui tidak tahan, teriaknya, “Ini, keputusan siapa?”

“Keputusan kita bersama,” jawab Toh-thi-sim.

Cu Pui tampak sangsi, akhirnya dia berkata dengan tertawa, “Sebenarnya bukan aku sengaja tidak mau ikut pergi. Cuma sayang, aku terlalu gemuk, jika aku diharuskan ikut pergi, boleh juga asalkan badanku dapat digilas menjadi kurus seperti lajur mie.”

“Baik, gilas dia!” seru Toh Thi-sim.

“Aku yang gilas dia!” serentak si cebol yang bermuka bulat dan berkepala besar itu melompat maju.

Potongan orang ini sungguh sangat lucu, kepalanya sebesar gantang, tubuhnya justru pendek kecil, waktu berdiri menjadi mirip sebuah tomat tersunduk di atas sumpit yang ditegakkan.
Cu Pui tidak dapat tertawa lagi, malahan air mukanya lantas berubah. Bahwa yang berdiri di depannya sekarang tiada ubahnya seperti seorang anak kecil, tapi dia justru ketakutan setengah mati terhadap si cebol ini.

Melihat rasa ketakutan Cu Pui dan melihat pula kepala si cebol yang tidak seimbang dengan
tubuhnya itu, seketika air muka Liok Siau-hong juga berubah. Apakah mungkin orang ini Toa-tau-kui-ong Sukong Tau, si raja setan kepala besar yang paling kejam di antara gerombolan setan dari wilayah barat sana.

Pandangan Siau-hong memang tidak keliru. Hal ini terbukti apa yang diteriakkan Cu Pui, “Sukong Tau, apa sangkut-pautnya urusan ini denganmu, apa kehendakmu?”

“Akan kugilas dirimu menjadi mi,” sahut Sukong Tau, si setan kepala besar.

Ia memegang sepasang sumpit. Tiba-tiba ia menggosok-gosok kedua sumpit itu pada telapak tangannya serupa Cu Pui yang sedang digilasnya. Mendadak bubuk halus berhamburan dari celah telapak tangannya. Waktu dia membuka telapak tangan, sumpit tidak kelihatan lagi. Ternyata sumpit yang dapat digunakan untuk membunuh orang itu telah tergilas luluh menjadi bubuk oleh tangannya yang kecil serupa tangan anak kecil.

Muka Cu Pui tampak berkerut-kerut. Sekujur badan serasa lemas lunglai. Ia duduk terkulai di atas kursinya ketika Sukong Tau bergaya hendak menubruk ke arahnya. Mendadak ia menjatuhkan diri ke bawah terus menyusup ke kolong meja, siku dan dengkul bekerja sama. Dalam sekejap beberapa meja diterobosnya. Gerak cepat dan gesitnya sungguh sukar dilukiskan.

Cuma sayang, meja itu tidak bersambungan satu dan lain. Sukong Tau telah melompat ke atas, kesepuluh jarinya terpentang, ia incar dengan baik, begitu orang menongol dari bawah meja, segera dia menubruk ke situ.

Siapa tahu gefak-gerik Cu Pui yang gemuk seperti babi itu tidak kurang cepatnya. Sekali melejit, kembali ia menyusup ke kolong meja di depan.

Terdengar suara “pluk”. Jari Sukong Tau menembus permukaan meja. Waktu tangan ditarik kembali, permukaan meja sudah bertambah sepuluh lubang.

Cu Pui terus ngambek sekalian di bawah meja dan tidak mau keluar. Gemas Sukong Tau. Disapunya mangkuk piring di atas meja sehingga hidangan dan arak sama tumpah di atas tubuh seorang, kakek berbaju hitam pendiam itu.

Segera Sukong Tau bermaksud menjungkir-balikkan meja pula, sekonyong-konyong seorang membentak, “Nanti dulu!” Sepasang sumpit tahu-tahu terjulur tiba. Bilamana tangan Su¬kong Tau menghantam meja, sama dengan tangan disodorkan ke ujung sumpit dan bukan mustahil bisa tembus.

Untung reaksi Sukong Tau juga sangat cepat ia tahan mentah-mentah gerak tangannya.

Keempat kakek berbaju hitam masih duduk tenang dan diam di tempatnya sambil memandangnya dingin.

Seperti baru sekarang Sukong Tau melihat mereka, ia tertawa lebar dan berucap, “Bolehkah minta tolong kalian mendepak keluar babi gemuk di bawah meja itu?”

“Tidak,” jengek si kakek yang tubuhnya berlepotan arak dan kuah itu.

“Hendak kau bela dia?” tanya Sukong Tau.

“Asal orang tidak menggangguku, aku pun tidak mengganggu orang,” kata si kakek.

“Siapa yang mengganggumu?” tanya Sukong Tau.

“Kau!” jawab si kakek.

“Memangnya kenapa kalau mengganggumu?”

“Jika orang menggangguku, maka dia bukan lagi orang?”

“Aku memang bukan orang, tapi setan,” jengek Sukong Tau.

“Kau pun bukan setan, tapi hewan,” damprat si kakek. “Aku tidak membunuh orang, hanya membunuh hewan, membunuh satu-dua hewan tidak terhitung melanggar pantangan membunuh.”

Sukong Tau mengepal erat tinjunya, ruas tulang sekujur badannya berbunyi keriut-keriut, mukanya yang bulat itu berubah kelam.

Mendadak Lau-to-pacu bersuara, “Orang ini masih berguna bagiku, harap An-siansing memberi kelonggaran padanya.”

Si kakek baju hitam berpikir sejenak, akhirnya mengangguk dan berkata, “Baik, aku cuma menghendaki sebelah tangannya.”

Kembali Sukong Tau tertawa, suara tertawanya seperti ringkik setan.

Kedua tangannya berlatih kungfu yang berbeda, tangan kiri berlatih Pek-kut-jiau (cakar tulang putih) dan tangan kanan meyakinkan Oh-kut-jiau (cakar tulang hitam). Sudah lebih 20 tahun dia berlatih ilmu tersebut. Jika sekarang kehilangan sebelah tangannya, hal ini sama dengan menghendaki setengah jiwanya.

“Aku menghendaki tangan kirimu,” kata si kakek baju hitam.

“Baik, kuberi!” seru Sukong Tau, begitu kata terakhir terucapkan, serentak kedua tangannya mencakar sekaligus. Tangan yang satu berubah warna putih salju, tangan yang lain berubah hitam seperti arang.

Dikeluarkannya kekuatan latihan selama 20 tahun. Asalkan tersentuh oleh ujung jarinya, biarpun patung batu juga akan bertambah sepuluh lubang.

Si kakek baju hitam masih duduk tanpa bergerak, ia hanya menghela napas, lengan bajunya terus menyabet.

Terdengar suara “krek” serupa ketimun dipatahkan, menyusul lantas terdengar jeritan ngeri.
Sukong Tau mencelat ke sana, menumbuk dinding dan terbanting ke lantai, lalu tidak bergerak-lagi, kedua tangannya berlumuran darah, kesepuluh jarinya sudah patah semua.

Si kakek baju hitam menghela napas, katanya, “Mestinya aku cuma menghendaki sebelah tangannya.”

Kakek satunya lagi yang berubah menjengek, “Hanya menghendaki sebelah tangannya kan tidak perlu mengeluarkan tujuh bagian tenagamu?”

“Sudah lama aku tidak pernah bergebrak dengan orang, cara menggunakan tenaga tidak lagi tepat, pula aku terlalu menilai tinggi kekuatannya,” ujar si kakek berbaju hitam tadi.

“Maka kau salah, hewan juga berjiwa, tetap kau langgar pantangan membunuh,” kata si kakek beruban.

“Betul, aku salah, Buddha maha kasih!” ucap si kakek berbaju hitam.

Keempat kakek lantas mengucapkan doa dan berdiri perlahan, lalu berkata terhadap Lau-to-pacu, “Kami mohon diri dulu. Kami akan bertapa tiga hari untuk menebus dosa sebagai tanda terima kasih kepada Cengcu.”

Lau-to-pacu berdiri juga dan menjawab, “Dia mencari kematian sendiri, untuk apa Siansing menista diri sendiri?”

“Bilamana Cengcu ada perintah apa-apa, kami senantiasa siap melaksanakan tugas,” kata si kakek tadi.

Lau-to-pacu seperti merasa lega, ia memberi hormat dan berucap, “Silakan.”

Keempat kakek itu lantas melangkah pergi dengan perlahan, setiba di depan Liok Siau-hong mendadak mereka berhenti, si kakek beruban tiba-tiba bertanya, “Apakah akhir-akhir ini Liok-kongcu bertemu dengan Koh-kua Siangjin?”

“Pernah bertemu beberapa kali tahun yang lalu,” jawab Siau-hong.

“Siangjin terkenal ahli masak. Liok-kongcu pasti sering makan bersamanya.”

Siau-hong mengiakan dengan tertawa.

“Jika demikian dia pasti sehat-sehat saja seperti dahulu.”

Kembali Siau-hong mengiakan.

Kakek beruban itu memuji pula kebesaran Buddha. Ketiga kakek lain juga berdoa, lalu melangkah keluar, tetap dengan langkah lamban dan tenang.

Tapi tangan dan kaki Siau-hong terasa dingin. Akhirnya dia ingat asal-usul keempat kakek ini setelah melihat sikap hormat Lau-to-pacu kepada mereka dan melihat daya sabet lengan bajunya tadi, melihat ketaatan mereka terhadap agama Buddha, dapatlah Siau-hong menerka siapa mereka.

Jika tadi dia tidak tahu siapa mereka adalah karena mereka sekarang sudah piara rambut dan berbaju orang biasa. Dengan sendirinya, tak terpikir olehnya keempat kakek itu adalah Hwesio, lebih-lebih tak terduga mereka adalah bekas anggota Go-lo-han dari Siau-lim-si.

Go-lo-han atau lima pengabdi Buddha ini asalnya adalah lima saudara sekandung. Mereka cukur rambut menjadi Hwesio berbareng dan sama-sama masuk Siau-lim-si. Sekarang mereka cuma tinggal empat orang saja, sebab kakak tertua Bu-liong-lohan sudah mati.

Pada waktu mudanya mereka sudah malang-melintang di dunia Kangouw, tak terhitung jumlah orang yang mereka bunuh, mereka mendapat julukan sebagai lima binatang buas, yaitu Liong (naga), Hou (harimau), Say (singa), Jio (gajah) dan Pa (macan tutul). Tangan setiap orang sama penuh berlumuran darah.

Akan tetapi seperti sabda Buddha, taruh pisau jagalmu dan segera menjadi Buddha. Kelima binatang buas itu seterusnya lantas berubah menjadi Go-lo-han dalam Siau-lim-si. Gelar mereka pun berubah menjadi ‘Bu-liong’ tanpa naga, Bu-hou, Bu-say, Bu-jio dan Bu-pa, artinya mereka sudah meninggalkan segala apa yang lalu, yang ada sekarang hanya sujud kepada Buddha.

Bu-liong bertugas mengurus ruangan kitab. Sudah sekian tahun dia bekerja dengan baik. Kedudukannya sudah menanjak menjadi Tianglo (sesepuh). Tapi entah mengapa, pada suatu malam mendadak Bu-liong mabuk lupa daratan. Tatakan lilin terbalik dan api menjilat, seluruh ruangan kitab Sim-lim-si itu hampir terbakar habis menjadi puing. Karena gusar, Hongtiang atau ketua Siau-lim-si menjatuhkan hukuman kurungan sepuluh tahun terhadap Bu-liong ditambah 20 kali rangketan. Merasa terhina, Bu-liong mati dengan menahan dendam.

Karena urusan menyangkut saudara sekandung, sisa keempat Lohan yang lain merasa penasaran. Hati suci mereka berubah kembali dirangsang nafsu membunuh. Mereka tidak segan-segan melakukan pelanggaran dan berusaha membunuh sang ketua.

Orang Kangouw hanya tahu usaha membunuh mereka itu gagal. Tapi tidak ada yang tahu bagaimana mati-hidup mereka selanjutnya. Lebih-lebih tidak ada yang tahu Bu-liong yang sudah lama diakui suci bersih itu mendadak bisa mabuk?

Peristiwa itu sudah menjadi kasus yang mencurigakan di dunia persilatan. Serupa halnya orang pun tidak tahu mengapa mendadak Ciok Ho dipecat dari Bu-tong-pay.

Akan tetapi sekarang Liok Siau-hong dapat meraba seluk-beluk urusan itu. Mabuknya Bu-liong pasti ada sangkut-pautnya dengan Koh-kua Hwesio. Maklum, untuk makan enak bersama Koh-kua tentu akan dibarengi juga dengan minum beberapa cawan arak.

Tadi keempat kakek itu bertanya tentang keadaan Koh-kua Hwesio, tentunya mereka berharap Koh-kua masih hidup dengan baik, dengan begitu barulah mereka dapat menuntut balas padanya.

Sekali serang tadi Bu-pa lantas mematahkan tulang tangan lawan dan membunuhnya, hal ini membuktikan dendam kesumatnya sudah lama terpendam dan belum terlampiaskan.

Yang paling dibenci mereka bukan Koh-kua Hwesio melainkan Siau-lim-si. Serupa halnya Ciok Ho dendam kepada Bu-tong dan Ko Tiu benci kepada Hong-bwe-pang.

Adapun alasan mereka hendak menumpas Koh-tojin dari Pah-san adalah karena Pah-san kaya dengan tambang emas. Dengan sendirinya Koh Hui-hun ingin merampas kekayaan keluarga Koh itu sebagai milik sendiri.

Sedangkan Hay Ki-koat sudah sukar menancap kaki di lautan bebas. Dengan sendirinya dia ingin merampas kekuasaan Cui-siang-hui yang merajai lembah sungai Yangce atau Tiangkang itu.

Sedangkan Toh Thi-sim bermusuhan besar dengan Kay-pang. Dan si kakek berjenggot panjang itu sangat bisa jadi adalah Pek-seng-to-ong Kwan Thian-bu, si raja golok selalu menang, yang dahulu pernah berebut warisan perguruan Gan-tang dengan Ko Hing-kong.

Jadi gerakan Lau-to-pacu ini sekaligus hendak menjaring segenap musuh mereka, dengan sendirinya mereka mendukung dengan sepenuh tenaga.

Cuma sasaran mereka itu semuanya adalah pimpinan atau gembong sesuatu perguruan besar. Biasanya sangat sukar bertemu, apalagi berkumpul. Jarak tempat tinggal masing-masing juga sangat jauh. Mengapa Lau-to-pacu mampu menjaring mereka sekaligus dalam suatu operasi total?

Untuk ini Lau-to-pacu sudah mulai memberi penjelasan. “Pada tanggal 13 bulan empat nanti adalah ulang tahun wafatnya mendiang Bwe-cinjin, ketua Bu-tong-pay yang dulu. Juga ulang tahun kesepuluh Ciok Gan menjabat ketua. Konon pada hari itu dia akan mengangkat ahli-waris Bu-tong-pay yang akan datang.”

Dia mendengus, lalu menyambung lagi, “Pada hari itu, di Bu-tong-san tentu akan berkumpul tamu undangan yang tak terhitung banyaknya, Thi-koh, Ong Cap-te dan lain-lain pasti juga akan hadir sebagai tamu undangan.”

“Apakah pada hari itu kita akan bertindak?” pertanyaan ini mestinya akan diajukan Liok Siau-hong, tapi telah didahului oleh Toh Thi-sim.

Lau-to-pacu mengangguk, “Maka kita harus berada di Bu-tong-san sehari sebelum aksi operasi kita.”

Akan tetapi bilamana rombongan mereka berangkat bersama. Tak sampai meninggalkan wilayah pegunungan ini pasti akan menggemparkan dunia persilatan.

Maka gerakan mereka harus dilakukan secara rahasia. Tidak boleh diketahui oleh siapa pun. Keberangkatan mereka selain dilakukan dengan berkelompok juga setiap orang harus berganti rupa atau menyamar. Semua itu sebelumnya sudah dirancang dengan cermat oleh Lau-to-pacu.

“Tentang gerakan kita secara terperinci akan kuatur dengan baik bagi para peserta, maka kalian tidak perlu pusing kepala,” kata Koan-keh-po.

“Aku dapat menjamin, orang yang bertanggung jawab bagi penyamaran kalian mutlak adalah seorang ahli yang tidak ada bandingannya di dunia ini. Bilamana kalian sudah berganti rupa, ditanggung orang lain tidak kenal lagi kepada wajah asli kalian.”

Persoalan satu-satunya sekarang ini adalah: Cara bagaimana membawa senjata ke atas gunung Bu-tong?

Biasanya tidak ada seorang pun diperbolehkan membawa senjata ke Bu-tong-san. Segala macam senjata harus ditinggalkan di kaki gunung, di suatu tempat yang disebut ‘Kay-kiam-ti’ atau kolam menanggalkan pedang.

“Tapi aku pun dapat menjamin, pada malam operasi harus di laksanakan itu, setiap orang pasti akan mendapatkan senjata masing-masing yang biasa kalian gunakan,” kata Lau-to-pacu pula.

“Di mana akan didapatkan senjata?” tanya nenek Lo yang sedang melahap sepotong ayam goreng itu.

“Di kakus sana,” jawab Lau-to-pacu.

Selagi nenek itu hendak bertanya pula, Koan-keh-po sudah menyodorkan lagi gepotong babi panggang untuk menutup mulutnya.

Dan bagaimana harus menutup mulut orang-orang seperti Ih Hoan? Bukankah rahasia yang diketahui mereka sudah terlalu ba-nyak?

Wajah mereka kelihatan pucat. Sebab mereka pun menyadari untuk menyelesaikan persoalan ini hanya ada satu jalan. Hanya orang mati saja takkan membocorkan rahasia apapun.

Dan bila ingin mencari hidup di tengah kematian itu, biasanya juga cuma ada satu jalan, yaitu, ‘Sebelum terbunuh, harus membunuh lebih dulu!’

Karena itulah mendadak Ih Hoan melompat maju. Serupa ikan terbang yang meletik dari dalam air.
Hui-hi-ji (semacam cundrik penusuk ikan) yang digunakannya seluruhnya ada lima pasang. Yap Ling hanya berhasil mencuri empat pasang senjatanya, sisa sepasang masih tersimpan di dalam bajunya. Sekarang cundrik itu telah berubah menjadi dua jalur kilat dan menyambar Lau-to-pacu.

Namun Lau-to-pacu tidak bergerak. Sebaliknya Ciok Ho yang berdiri di belakangnya segera bertindak. Jit-sing-kiam atau pedang bintang tujuh mendadak menyambar bagai sejalur pelangi.
Pelangi ketemu sinar kilat, “tring-tring” dua kali. Sinar kilat lenyap mendadak, dua potong ujung cundrik jatuh dari udara, pelangi juga hilang. Ujung pedang sudah bersarang di dalam dada Ih Hoan.

Ia memandang kutungan cundrik yang masih dipegangnya. Lalu memandang pula pedang yang menembus dadanya, kemudian baru menengadah dan memandang orang yang tidak punya muka di depannya ini, seperti tidak percaya kepada apa yang terjadi ini.

Si manusia tidak bermuka alias Ciok Ho itu juga menatapnya dengan dingin, tanyanya tiba-tiba, “Bagaimana seranganku ini dibandingkan dengan jurus Thian-gwa-hui-sian andalan Yap Koh-seng itu?”

Ih Hoan mengertak gigi, satu kata pun tak terucapkan, ujung mulutnya yang berkerut menampilkan senyum ejekan, seakan-akan hendak bilang: “Yap Koh-seng sudah mati, memangnya mau apa jika kau lebih hebat daripada dia?

Agaknya Ciok Ho tahu maksudnya, tangan yang memegang pedang itu mendadak berputar, dengan sendirinya mata pedang juga ikut berputar.

Muka Ih Hoan seketika mengejang, mendadak ia meraung dan menubruk maju, darah lantas muncrat dan tubuh tersunduk lebih dalam di tengah pedang.

Siau-hong tidak tega menyaksikan adegan ngeri itu. Ia berbangkit. Masih ada beberapa orang yang berdiri itu belum terbunuh, ia tidak ingin menyaksikan mereka mati satu per satu. Kabut masih tebal, hawa dingin dan lembab. Ia menarik napas dalam-dalam, pikiran terasa segar, ia perlu ketenangan.

“Kau tidak suka membunuh orang?” terdengar suara Lau-to-pacu. Dia ikut keluar untuk mencari hawa segar juga.

“Aku gemar minum arak, adalah hal lain jika melihat orang lain juga minum arak,” ujar Siau-hong dengan hambar.

Dia tidak berpaling untuk memandang Lau-to-pacu, tapi dari suaranya diketahuinya orang merasa puas terhadap jawabannya.

“Aku pun tidak suka melihat, urusan apapun juga akan jauh lebih menyenangkan jika kulakukan sendiri,” kata Lau-to-pacu.

Siau-hong termenung sejenak, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Tapi ada sementara urusan agaknya tidak suka kau kerjakan sendiri.”

“Oo, apa?” tanya Lau-to-pacu.

“Kau tahu Yap Ling telah mencuri baju renang dan senjata Ih Hoan, kau pun tahu apa yang hendak dilakukannya, tapi tidak kau cegah.”

“Ya, tidak,” Lau-to-pacu mengaku.

“Kau larang kupergi menolong Yap Soat, kau sendiri juga tidak pergi, mengapa kau biarkan Yap Ling pergi ke sana?”

“Sebab kutahu Yap Leng-hong pasti takkan mencelakai dia.”

“Kau yakin?”

Lau-to-pacu mengangguk, tiba-tiba suaranya berubah parau, “Ya, sebab dia adalah putri kandung Yap Leng-hong.”

Kembali Siau-hong menarik napas dalam-dalam seperti tidak memperhatikan rasa pedih dan dendam yang terkandung dalam ucapan orang, katanya pula, “Ada lagi satu urusan, tampaknya kau pun tidak mau turun tangan sendiri.”

Lau-to-pacu menunggu lanjutan ucapannya.

“Apakah kau ingin menggunakan Ciok Ho untuk menghadapi Ciok Gan dari Bu-tong dan menggunakan keempat saudara binatang buas itu untuk menghadapi Thi-ko Hwesio dari Siau-lim?”

“Itu menyangkut permusuhan mereka, memang mereka perlu menyelesaikannya sendiri secara tuntas.”

“Dan mampukah Toh Thi-sim menghadapi Ong Cap-te?”

“Selama belasan tahun ini kungfunya sudah maju pesat, apalagi si nenek Lo akan membantunya.”

“Kurasa Koh-tojin bukan tandingan Piauko (Koh Hui-hun), dan antara Cui-siang-hui dan Hay Ki-koat, kau pegang siapa?”

“Tiangkang adalah pangkalan yang menguntungkan. Tentu saja Cui-siang-hui (terbang di atas air) banyak mengeduk keuntungan dari situ sehingga dia sudah terlalu gemuk dan tidak sanggup terbang lagi. Maka baik di darat maupun di dalam air, biarpun tiga berbanding satu juga kupegang Hay Ki-koat.”

“Akan tetapi Kwan Thian-bu sudah pernah dikalahkan tiga kali oleh Ko Hing-kong,” kata Siau-hong.

“Ketiga kali itu disebabkan diam-diam ada orang membantu Ko-Hing-kong.”

“Siapa?” tanya Siau-hong.

Lau-to-pacu mendengus, “Tentu dapat kau pikirkan. Ko Hing-kong malang melintang di Tiangkang. Apa sangkut-pautnya kenduri orang mati di Bu-tong-san dengan dia? Mengapa dia juga perlu hadir?”

Siau-hong manggut-manggut, kiranya orang Bu-tong-pay yang diam-diam membantu Ko Hing-kong.

Tapi urusan dalam perguruan Gan-tang-san, mengapa anak murid Bu-tong-pay perlu ikut campur?

Siau-hong tidak ingin bertanya terlalu banyak, katanya pula, “Sekarang mengenai Lau-jit si mata elang, seumpama Koan-keh-po tidak mampu mengatasi dia, kalau ditambah lagi dengan Hoa Gui tentu jauh daripada cukup.”

“Hoa Gui ada tugas lain, Ko Tiu juga tidak memerlukan pembantu,” kata Lau-to-pacu.

“Wah, tampaknya ketujuh sasaran pokok itu sudah ada orang siap menghadapinya, urusan pasti akan berhasil dengan baik.”

“Ya, pasti akan sukses.”

“Lantas apa yang kau minta kukerjakan?” tanya Siau-hong dengan tertawa. “Untuk menghadapi kawanan Tojin tukang sapu dan tukang cuci piring?”

“Apa yang kuminta kau kerjakan justru merupakan kunci berhasil atau gagalnya operasi kita ini.”

“Pekerjaan apa?” tanya Siau-hong.

Lau-to-pacu tertawa, “Apa yang kau ketahui sekarang sudah cukup banyak. Urusan lain biarlah kuberitahukan padamu nanti bilamana malam tanggal 12 bulan empat sudah tiba.”

Ia tepuk bahu Siau-hong dan berkata pula, “Maka malam ini boleh kau rileks sesukamu. Boleh kau minum sampai mabuk, sebab besok boleh kau tidur sehari suntuk.”

“Harus kutunggu sampai lusa baru boleh turun gunung?” tanya Siau-hong.

“Ya, kau termasuk kelompok terakhir.”

“Siapa lagi di antara kelompok terakhir?”

“Koan-keh-po, nenek Lo, Piauko, Kaucu dan Liu Jing-jing,” Lau-to-pacu tertawa, lalu menyambung, “Tontonan menarik biasanya berada pada babak terakhir. Dengan sendirinya, kalian harus diatur pada barisan terakhir.”

“Apalagi kalau mereka ikut bersamaku, sedikitnya aku takkan mati disergap orang di tengah jalan….”

Tambah riang tertawa Lau-to-pacu, “Jangan kuatir, sekalipun di tengah perjalanan kau kepergok Sebun Jui-soat, kutanggung dia pasti tidak mengenalmu lagi.”

“Ya, sebab orang yang akan merias wajahku itu adalah ahli yang tidak ada bandingannya di dunia ini.”

Lau-to-pacu tertawa, “Jika seorang dapat menyamar dirinya sendiri sebagai anjing, masa perlu lagi kau ragukan kemampuannya?”

Kiranya si ahli rias yang dimaksud ialah Kian-long-kun, si jaka anjing.

Tugas Kian long-kun adalah mengubah wajah setiap orang agar tidak dikenali orang lain.

Dan bagaimana setelah tugasnya itu selesai?

“Kuminta kau bawa pergi diriku!” Inilah permintaan Kian-long-kun. Akhirnya, Siau-hong paham artiriya. Dengan sendirinya si jaka anjing juga sudah menyadari bahaya yang mengancam dirinya.

Lau-to-pacu menengadah dan menghembuskan napas panjang. Masa tanam sudah berlalu, yang ditunggu sekarang adalah musim panen. Dia seperti sedang membayangkan buah yang mulai tumbuh itu. Buah sebiji demi sebiji itu adalah buah kepala.

Mendadak Siau-hong berpaling dan menatapnya, “Dan kau sendiri? Setiap orang sudah ada tugas yang akan dilaksanakan, kau sendiri akan melakukan apa?”

“Aku kan pemilik modal, aku cuma menunggu hutang yang hendak kalian tagih bagiku.”

“Bu-tong-pay hutang pada Ciok Ho, Siau-lim-si hutang kepada kawanan binatang liar itu, lantas siapa yang hutang padamu?”

“Setiap orang sama hutang padaku,” kata Lau-to-pacu, lalu ia tepuk-tepuk pula bahu Liok Siau-hong, sambungnya dengan tersenyum. “Bukankah kau pun hutang sedikit padaku?”

Siau-hong menarik napas panjang, terasa hawa segar masih penuh dalam rongga dadanya.

Ia tahu barang siapa berhutang kepada Lau-to-pacu. Cepat atau lambat harus membayar, tidak saja berikul rentenya, tapi bila berlipat-ganda. Ia kuatir dirinya takkan mampu membayar.

Kian-long-kun berbaring di tempat tidurnya dan memandang langit-langit dengan terkesima.
Sungguh dia ingin tidur, sudah dicobanya memejamkan mata beberapa kali, tapi tetap sukar pulas.
Ia gelisah, ia merasa nasib sendiri ibarat telur di ujung tanduk, mana dia bisa pulas.

Malam sunyi, mendadak terdengar “krek”, jendela terbuka dan seorang melayang masuk, Liok Siau-hong adanya.’ Sebelum Kian-long-kun bersuara, Liok Siau-hong telah mendekap mulutnya sambil mendesis, “Hanya kau sendiri di dalam rumah ini?”

Memang cuma dia seorang. Siapa pun tidak betah tinggal di dalam rumah yang penuh bergantungan kulit anjing dan kulit manusia. Siapa pun tidak tahan oleh bau busuk kulit yang dimasak di dalam kuali yang selalu mengepul itu.

Menyaru dan berganti rupa bukan pekerjaan yang ringan dan santai sebagaimana disangka orang. Untuk membuat sehelai kedok kulit manusia yang baik tanpa cacat selain diperlukan ketrampilan tangan yang cekatan, juga diperlukan kesabaran yang luar biasa.

Siau-hong tidak tahan oleh bau busuk yang mengepul di kuali itu, ia bertanya, “Apa yang kau masak?”

“Masak lem urat kerbau. Kedok kulit manusia harus dilem dengan cairan urat kerbau supaya tidak terlepas.”

“Kedok kulit manusia? Benar-benar kau gunakan kulit manusia sebagar kedok?”

“Kedok muka harus dibuat dari kulit manusia tulen barulah seluruh bentuk wajah dapat berubah sama sekali. Bahkan setiap kedok harus dibuat klise sesuai dengan bentuk wajah orang yang bersangkutan.”

Mendadak ia berkata kepada Siau-hong dengan tertawa, “Aku pun sudah membuat sebuah kedok sesuai bentuk wajahmu.”

“Juga terbuat dari kulit manusia?” tanya Siau-hong dengan menyengir.

“Ya, asli, tanggung tulen.”

“Berapa banyak seluruhnya kau bikin?”

“Ada 31 helai.” kata Kian-long-kun. “Kecuali Lau-to-pacu, setiap orang mendapat sehelai.”

Mengapa Lau-to-pacu tidak perlu menyamar? Memangnya dia akan tetap memakai caping itu ke Bu-tong-san?

“Sesudah berganti rupa, apakah wajah setiap orang itu akan diberi sesuatu tanda pengenal yang khas?”

“Tidak, setitik pun tidak ada.”

“Jika masing-masing tidak saling mengenal lagi, apakah tidak mungkin akan salah membunuh kawan sendiri?”

“Pasti tidak akan terjadi.”

“Sebab apa?”

“Sebab tugas setiap kelompok tidak sama. Ada yang khusus menghadapi kawanan Tosu Bu-tong dan ada yang khusus menghadapi Hwesio Siau-lim. Asalkan kelompok yang bersangkutan dapat mengingat bentuk masing-masing sesudah menyamar, tentu takkan terjadi membunuh kawan sendiri.”

Siau-hong termenung sejenak, mendadak ia bertanya dengan suara tertahan, “Dapatkah kau tinggalkan setitik tanda pengenal pada wajah setiap kelompok? Misalnya ditambah setitik tahi lalat dan sebagainya.”

Kian-long-kun memandangnya dengan terheran-heran, sampai lama barulah ia bertanya dengan suara lirih, “Kau yakin dapat membawa pergi “diriku?”

“Pasti,” jawab Siau-hong.

“Asalkan kau sanggupi permintaanku, tentu kulakukan permintaanmu.”

“Cara bagaimana akan kau beri tanda?”

Kian-long-kun terkedip-kedip, katanya kemudian, “Sekarang belum dapat kukatakan. Nanti kalau kita mau berangkat baru akan kuberitahu.”

Orang ini hampir serupa Lau-to-pacu saja, kecuali kepada dirinya sendiri ia tidak percaya kepada siapa pun. Terkadang malahan juga tidak percaya kepada dirinya sendiri.

Tiba-tiba Kian-long-kun bertanya pula, “Apakah Hoa-kuahu berangkat satu kelompok denganmu?”

“Mungkin betul,” jawab Siau-hong.

“Kau ingin dia berubah bagaimana bentuknya? Supaya tambah tua dan tambah buruk, atau lebih muda dan agak cakap?”

“Makin tua makin baik, semakin buruk semakin baik,” jawab Siau-hong.

“Sebab apa?” tanya Kian-long-kun.

“Sebab tidak ada orang mau percaya Liok Siau-hong bisa berada bersama seorang perempuan tua lagi buruk rupa, maka pasti juga tak ada yang mau percaya diriku inilah Liok Siau-hong.”

“Jadi semakin tua dan semakin buruk rupanya, makin aman pula bagimu, bukan saja orang lain tidak dapat mengenalimu, kau sendiri pun tidak akan tergiur padanya.”

Kian-long-kun berkedip, lalu berkata pula dengan tertawa, “Selama beberapa hari ini memang perlu kau jaga kondisi badanmu. Jika tinggal bersama seorang janda muda, tentu tidak gampang lagi bagimu untuk menyimpan tenaga.”

Siau-hong memandangnya lalu mendengus, “Kau tahu apa penyakitmu?”

Kian-long-kun menggeleng.

“Penyakitmu yang paling parah adalah terlalu banyak bicara.”

“Asalkan kau bawa pergi diriku, kujamin sepanjang jalan takkan bicara satu kata pun,” kata Kian-long-kun dengan tertawa.

“Sekalipun kau mau bicara juga ada caraku akan membikin kau tidak mampu bicara.”

“Apa caramu?” tanya Kian-long-kun.

“Aku ini kan seorang pesiunan pembesar yang pulang kampung halaman. Selain membawa beberapa pengiring, aku pun membawa seekor anjing,” Siau-hong tersenyum, lalu menyambung, “Dan kau adalah anjing itu. Dengan sendirinya anjing takkan bicara seperti manusia.”

Sampai lama Kian-long-kun atau si jaka anjing memandangnya, akhirnya ia menyengir dan berucap, “Betul, aku adalah anjing itu. Cuma kumohon janganlah engkau lupa bahwa anjing ini hanya suka makan daging dan tidak mau menggerogoti tulang.”

“Tapi kau pun jangan lupa, anjing yang tidak menurut perintah, selain cuma diberi tulang saja, terkadang juga akan makan tahi.”

Sambil bergelak tertawa, Siau-hong melangkah keluar, tiba-tiba ia berpaling dan bertanya pula, “Eh, Yap Ling dan Yap Soat termasuk dalam kelompok keberapa?”

“Entah, aku pun tidak tahu,” jawab Kian-long-kun. “Dari daftar nama yang kuterima dari Lau-to-pacu juga tidak terdapat nama mereka.”

Malam bertambah larut. Siau-hong berduduk di tempat sepi itu. Di tengah kabut yang dingin, terjadi pula pertentangan batinnya, “Sekarang harus kupergi ke rawa sana untuk mencari mereka kakak beradik atau minum sampai mabuk saja?”

Akhirnya ia memilih mabuk saja.

Umpama dia tidak pergi mencari mereka juga tidak perlu harus mabuk. Akan tetapi dia toh mabuk, lupa daratan. Mengapa dia harus mabuk?

Apakah karena dia menanggung sesuatu penderitaan batin yang sukar dikatakan kepada orang lain?

Pada tanggal tiga bulan empat, petang hari, cuaca terang, banyak kabut. Waktu Siau-hong mendusin, dirasakannya kepala sakit seperti mau pecah, mulut kering dan pahit, semangat lesu, serupa orang habis sakit berat.

Sekian lama dia mendusin baru membuka mata, dan begitu membuka mata hampir saja ia melonjak kaget.

Aneh, mengapa si nenek Lo bisa berduduk di ujung tempat tidurnya? Bahkan sedang menatapnya.
Ia kucek-kucek matanya yang masih sepat, baru diketahuinya sekarang nenek yang duduk di ujung tempat tidurnya bukanlah nenek Lo yang lagi makan kacang itu, namun usianya jelas tidak lebih muda daripada nenek Lo.

“Siapa kau?” tanyanya. Tapi jawaban si nenek membuatnya terkejut pula.

“Aku binimu,” ucap nenek itu sambil menjengek, “Sudah 50 tahun bulat kujadi isterimu, betapapun tak dapat kau sangkal aku ini binimu.”

Siau-hong memandangnya dengan tercengang, mendadak ia tertawa terpingkal-pingkal dan berguling di tempat tidur.

Nenek ini ternyata Liu Jing-jing adanya. Ia dapat mengenali suaranya.

“Mengapa engkau berubah semacam ini?”

“Semua ini gara-gara si anjing buduk itu. Aku ingin muda sedikit saja tidak diluluskan,” sambil bicara Liu Jing-jing sibuk makan kacang pula, ditambahkannya dengan gemas, “Sekarang aku berubah jadi begini, kau sangat senang bukan?”

Siau-hong sengaja berkedip-kedip, lalu menjawab, “Mengapa aku senang?”

“Sebab engkau memang menghendaki aku makin tua makin baik, makin buruk makin baik, sebab kau memang selalu menghindari diriku, seperti takut akan kutelan dirimu bulat-bulat.”

“Mengapa harus kuhindari dirimu?” Siau-hong tetap berlagak pilon.

“Jika bukan menghindari diriku, mengapa setiap hari kau tenggak arak hingga mabuk seperti babi mampus?” jengak Jing-jing, lalu sambungnya, “Padahal aku pun tahu engkau tidak berani menyentuh diriku. Namun aku juga rada heran, bilamana setiap malam kau diharuskan tidur bersama seorang nenek macam diriku ini, mana bisa kau tahan?”

Siau-hong berduduk dan bertanya, “Mengapa setiap malam perlu kutidur bersamamu?”

“Sebab engkau ini pesiunan pembesar kotaraja yang hendak pulang kampung halaman. Aku adalah istrimu. Seorang istri yang terkenal sebagai gentong cuka (maksudnya suka cemburu).”

Seketika Siau-hong melongo dan tidak sanggup bicara lagi.

“Ada kabar baik ingin kuberitahukan padamu, yaitu anak kita juga akan selalu mendampingi perjalanan kita.”

Kembali Siau-hong terkejut, “Siapa itu anak kita?”

“Piauko,” tutur Jing-jing.

Mendadak Siau-hong rebah kaku di tempat tidur dan tidak bergerak lagi.

Liu Jing-jing tertawa geli, mendadak ia menubruk di atas tubuh Liok Siau-hong, ucapnya dengan terkikik, “Meski aku sudah tua orangnya, tapi hatiku belum tua. Setiap hari aku masih perlu, tiada gunanya biarpun kau pura-pura mati.”

“Tidak nanti aku berlagak mati,” sahut Siau-hong dengan tertawa getir, “Kika setiap hari aku diharuskan berbuat begituan dengan seorang nenek, sungguh aku bisa mati benar-benar.”

“Kan dapat kau pejamkan mata dan membayangkan wajahku masa lampau?” ujar Liu Jing-jing dengan tertawa geli. “Bukankah kaum lelaki kalian suka bilang, asalkan memejamkan mata, maka setiap perempuan di dunia ini kan sama saja.”

Sekarang Liok Siau-hong baru merasakan akibat tingkah-polahnya sendiri. Dia sendiri yang menggali lubang ini dan dia sendiri yang terjeblos ke dalam lubang ini.

Waktu Kian-long-kun datang, napas Liu Jing-jing tampak masih terengah-engah. Jika ada yang melihat seorang nenek ompong berlagak serupa gadis remaja dan berbaring di samping seorang lelaki cakap dengan napas terengah-engah dan mampu bertahan tanpa tertawa geli, maka kepandaian orang ini pasti tidak kecil.

Kepandaian Kian-long-kun memang tidak kecil. Dia tidak tertawa geli, malahan dia dapat berlagak tidak tahu, tapi ketika Liok Siau-bong berdiri, tiba-tiba ia memicingkan mata kepadanya seperti lagi bertanya, “Bagaimana?”

Tidak kepalang dongkol Siau-hong, sungguh dia ingin mengorek biji mata orang untuk diberi makan kepada Liu Jing-jing sebagai kacang.

Syukur dia tidak sampai bertindak demikian. Dari luar, lantas melongok seorang nenek yang lebih tua daripada gabungan usia Liu Jing-jing dan nenek Lo, dengan suaranya yang lucu lagi berkata, “Loya dan Thay-thay (tuan dan nyonya) hendaknya bersiap-sfap, begitu fajar tiba segera kita akan berangkat.”

Nenek reyot ini adalah Koan-keh-po. Siapa pun tak menyangka seorang tokoh berpengaruh Hong-bwe-pang dan pernah malang melintang di dunia Kangouw sekarang bisa berubah menjadi begini.

Liok Siau-hong merasa senang, tiba-tiba ia berseru, “Di mana putraku sayang? Lekas panggil kemari untuk memberi selamat kepada bapaknya.”

Piauko yang tampaknya sudah tambah muda 20 tahun terpaksa masuk dengan muka muram durja.

Segera Siau-hong menarik muka, ucapnya, “Keluarga pembesar harus mempunyai peraturan rumah tangga yang tertib. Biarpun di tengah perjalanan juga tidak boleh menyampingkan peraturan. Maka selanjutnya setiap hari kau harus menghadap dan memberi selamat pagi dan malam kepadaku, tahu tidak?”

Terpaksa Piauko mengangguk.

“Jika tahu, mengapa tidak lekas berlutut dan menyembah,” kata Siau-hong.

Melihat Piauko menurut kepada segala perintahnya dan benar-benar menyembah padanya, hati Siau-hong tambah riang. Apapun juga menjadi bapak memang lebih baik daripada menjadi anak.

Dengan sendirinya sepanjang perjalanan dia juga takkan kesepian, kecuali bini, dia juga punya anak, ada seorang Koan-keh atau pengurus rumah tangga dan juga seorang Koan-keh-po, nenek pengurus rumah tangga, malahan juga membawa seekor anjing.

“Anjing ini tidak dapat dibawa serta,” kata Hay Ki-koat.

Kaitan pada tangannya yang buntung telah ditanggalkan sehingga bila tidak tertutup oleh lengan baju. Pergelangan tangannya yang terputus itu kelihatan halus licin, kelihatan lucu.

Namun sikap Hay Ki-koat, si Koan-keh, sangat kereng dan tegas, “Betapapun tidak boleh kita membawanya.”

“Apakah ini juga perintah Lau-to-pacu?” tanya Siau-heng.

“Dengan sendirinya,” sahut Hay Ki-koat.

“Jadi kalian akan membunuh dia?”

“Begitulah.”

Agaknya tugas Kian-long-kun sekarang sudah selesai, mereka tidak memerlukan tenaganya lagi.

“Siapa yang akan turun tangan membunuhnya?” tanya Siau-hong.

“Aku,” jawab Hay Ki-koat.

“Tanpa kaitan juga dapat kau bunuh orang?”

“Setiap saat dapat kulakukan.”

“Baik, jika begitu sekarang juga boleh kau bunuh diriku,” kata Siau-hong.

Air muka Hay Ki-koat berubah, “Apa … apa maksudmu ini?”

“Maksudku cukup sederhana,” ucap Siau-hong dengan ketus. “Dia pergi, aku juga pergi. Dia mati, aku juga mati.”

Dengan sendirinya Liok Siau-hong tidak boleh mati.

Maka Hay Ki-koat menjadi ragu, ia pandang Piauko, Piauko memandang Koan-keh-po dan Koan-keh-po memandang Liu Jing-jing.

Liu Jing-jing juga memandang Kian-long-kun, tiba-tiba ia bertanya, “Kau ini anjing jantan atau betina?”

“Jantan,” jawab Kian-long-kun.

“Ada anjing yang biasanya suka tidur di pinggir ranjang majikannya, bagaimana dengan kau?” tanya Jing-jing pula.

“Aku suka tidur di depan pintu. Bahkan tidurku biasanya seperti anjing mampus, apapun tidak terdengar.”

“Asalkan bukan anjing betina, biarkan saja dia mau bawa berapa ekor juga boleh, aku tidak anti.”

“Dan adakah orang lain tidak setuju?” seru Siau-hong.

Hay Ki-koat menghela napas dan menjawab, “Tidak.”

“Ya, setengah orang saja tidak ada,” sambung Koan-keh-po.

“Dan kau?” tanya Siau-hong terhadap Piauko.

“Aku ini anak yang berbakti. Aku jauh lebih penurut daripada anjing,” ucap Piauko dengan tertawa.

Maka ketika fajar tiba. Liok-toaloya atau tuan besar Liok kita lantas berangkat bersama empat orang dan seekor anjing, beramai mareka meninggalkan Yu-leng-san-ceng, perkampungan hantu.

Inilah untuk kedua kalinya ia meninggalkan tempat ini, ia tahu sekali ini dirinya pasti takkan kembali lagi ke sini.

Tanggal lima bulan empat, cuaca cerah.

Liok Siau-hong lagi tersanyum menghadapi sebuah cermin perunggu yang tergosok sangat licin dan bening. Memandangi bayangan dalam cermin yang bukan lagi dirinya itu, meski agak janggal rasanya, tapi juga sangat menarik.

Kakek dalam cermin ini dengan sendirinya tidak segagah dan tampan seperti asalnya, tapi kelihatan angker dan berwibawa. Sekali-kali bukan kakek konyol yang terlalu banyak minum dan kelewat takaran piara bini muda. Bukan kakek yang sebelah kakinya sudah melangkah ke liang kubur. Untuk hal ini jelas hatinya sangat senang, satu-satunya hal yang disesalkannya adalah dia tidak dapat mencuci muka.

Sebab itulah dia hanya dapat menggunakan handuk kering dan mengusapnya secara perlahan saja, lalu berkumur dan sikat gigi. Kemudian berpaling dan memandang nenek yang masih berbaring di tempat tidur itu sambil menggeleng.

Pada saat itulah anjing yang patuh itu telah masuk dengan menggoyang ekor. Putra berbakat juga datang menyampaikan ucapan salamat pagi.

Siau-hong tambah gembira, katanya dengan tertawa, “Kalian telah bekerja dengan baik. Biarlah kuajak kalian makan di restoran ‘369’ yang terkenal itu.”

Restoran ‘369’ sangat terkenal di kota ini. Terutama bakpau buatannya. Kecil mungil, masih mengepul panas dari tempat kukusannya, sekaligus orang menghabiskan 20 biji bakpau ini juga tidak terhitung banyak.

Malahan anjing piaraan Liok-toaloya saja bisa menghabiskan belasan biji bakpau. Sebaliknya pengurus rumah tangganya, baik yang lelaki maupun yang perempuan terpaksa hanya berdiri di belakang majikan dan melayaninya.

Pembesar negeri, apalagi pejabat di kotaraja, disiplin biasanya jauh lebih keras daripada orang lain.

Pelayan restoran yang menyaksikan semua itu hanya menggeleng kepala saja. Dengan munduk-munduk ia berusaha menyanjung tetamunya yang terhormat, “Tampaknya menjadi anjing di rumah Toaloya jauh lebih baik daripada jadi manusia.”

Liok Siau-hong sedang sibuk tusuk gigi habis makan, tiba-tiba ia berkata, “Jika kau suka padanya (anjing), kenapa tidak kau bawa dia berjalan-jalan. Biarkan dia kencing dan berak di luar, nanti kuberi persen.”

Pelayan tampak ragu, ucapnya kemudian sambil memandang Koan-keh alias Hay Ki-koat, “Apakah Koan-keh sendiri tidak membawanya pergi.”

“Dia tidak suka kepada anjing ini, makanya anjing ini suka menggigit dia,” kata Siau-hong.

Pelayan menjadi takut, “Wah, jangan-jangan hamba pun akan digigitnya.”

“Hm, kau kira dia mau sembarangan menggigit orang, jika dia tidak mau biarpun orang minta digigit, anjing ini juga tidak sudi pentang mulut,” jengek Siau-hong.

Dengan tersenyum, akhirnya pelayan menarik tali pengikat anjing dan membawanya keluar.

Koan-keh dan Koan-keh-po saling pandang, lalu saling pandang pula dengan Piauko.

Nyonya besar alias Liu Jing-jing berkata dengan tersenyum, “Jangan kau kuatir, anjing bapakmu ini sangat penurut, pasti takkan kabur, seumpama mau kabur juga tidak mudah.”

“Sebab apa?” tanya Piauko.

“Sebab kau pun akan ikut pergi, pada waktu dia berak harus kau tunggu di sampingnya,” kata nyonya besar.

Piauko ternyata sangat penurut, ia berbangkit terus keluar.

Siau-hong tertawa, “Tampaknya putra kesayangan kita ini memang anak yang berbakti.”

Liok Siau-hong mempunyai ciri, yaitu setiap hari sehabis makan pagi, tentu pergi ke belakang, ke kakus.

Dalam keadaan begini, betapa besar curiga dan cemburu nyonya besar juga tidak mungkin mengintilnya pada waktu sang tuan besar membuang hajat.

Akan tetapi anjing tentu tidak pantang menunggui orang dalam keadaan apapun, waktu berak juga anjing dapat menungguimu. Sebab itulah setiap kali Siau-hong masuk ke kakus, selalu Kian-long-kun menggoyang ekor dan ikut masuk ke situ.

Hari ini juga tidak terkecuali. Begitu Siau-hong berjongkok, dengan suara tertahan Kian-long-kun lantas mendesis, “Pelayan itu bukanlah pelayan yang sesungguhnya.”

Namun Siau-hong diam saja, sama sekali tidak menghiraukannya.

“Ginkangnya pasti sangat tinggi. Dapat kuketahui dari suara langkahnya,” kata Kian-long-kun pula.

Siau-hong tetap tidak memberi reaksi.
Serupa kebanyakan orang, pada waktu menguras perut, perhatiannya selalu tercurahkan pada hal yang satu ini.

“Bahkan dapat kulihat dia pasti juga seorang ahli rias dan menyamar. Malah terlebih mahir daripadaku,” kata Kian-long-kun pula.

Tiba-tiba Siau-hong berkata, “Apakah kau tahu barang apakah dirimu ini? Kau siluman, tahu?”

“Siluman?” Kian-long-kun melengak.

“Jika seekor anjing dapat bicara secara manusia, apalagi jika bukan siluman?”

“Akan tetapi aku…?”

“Dan apakah kau tahu cara bagaimana orang akan memperlakukan siluman?” potong Siau-hong sebelum lanjut ucapan si jaka anjing.

Kian-long-kun menggeleng.

“Jika tak dibakar hidup-hidup, tentu dipentung sampai mati.”

Kian-long-kun tidak berani berucap lagi, cepat ia mengeluyur pergi dengan mencawat ekor.

Siau-hong merasa lega. Baginya, bilamana dapat duduk sendiri dengan tenang, biarpun duduk di atas tong jamban, dirasakannya se-bagai semacam kenikmatan. Kenikmatan yang sukar dicari sebab mendadak sekarang dia mempunyai seorang bini tukang intai.

Pada waktu dia keluar, dilihatnya Liu Jing-jing sudah menunggu di luar. Tampaknya, sudah cukup lama menunggu, hal ini terbukti dari kulit kacang yang menumpuk sekian banyak di lantai. “Kau suka melihat orang lelaki buang hajat? Atau gemar mengendus bau kakus?” tanya Siau-hong.

“Aku cuma rada curiga saja,” jawab Jing-jing.

“Curiga apa?”

“Kucuriga engkau tidak benar-benar membuang hajat melainkan cuma alasan saja untuk menghindari diriku dan mengadakan pertemuan mesra dengan sahabat anjingmu itu.”

“O, makanya kau tunggu di luar. Untung dia seekor anjing jantan, kalau betina, tentu bisa susah,” ujar Siau-hong dengan gegetun.

“Jika anjing betina, saat ini pasti sudah menjadi anjing mampus,” kata Jing-jing dengan hambar.

Esoknya, cuaca terang, banyak awan.

Pada buku harian Koan-keh-po tercatat, “Makan pagi dilakukan di restoran Kui-goan-koan di kota timur. Antara waktu makan, menyuruh orang melepas anjing lagi, pergi pulang sekitar setengah jam. Pelayan yang melepas anjing she Ong, penduduk setempat, sudah 14 tahun menjadi pelayan, beristeri, punya anak satu lelaki dan satu perempuan.”

Catatan ini tentunya akan digunakan sebagai laporan kepada Lau-to-pacu, tapi Hay Ki-koat tidak setuju, katanya, “Tidak, tidak boleh ditulis demikian.”

“Mengapa tidak boleh?” tanya Koan-keh-po.

“Pada hakikatnya kita tidak boleh membawa serta anjing ini. Apalagi menyuruh orang lain melepas anjing. Bila laporan ini dibaca Lau-to-pacu pasti akan dianggap urusan ini tidak sederhana.”

“Habis apa yang akan kau lakukan?” tanya Koan-keh-po.

“Jika anjing ini mampus, kan beras segala persoalan?” jengek Hay Ki-koat.

“Kau tidak takut kepada Liok Siau-hong?”

“Bila anjing hidup sudah berubah menjadi anjing mati, serupa beras sudah dimasak menjadi nasi, lalu apa yang dapat dilakukannya terhadapku?”

“Tapi anjing hidup ini perlu menunggu sampai kapan baru akan menjadi anjing mati?”

“Hampir, selekasnya akan terjadi.”

“Besok juga kau mau berjalan-jalan dengan anjing?”

“Apa boleh buat, mungkin selama hidupku baru pertama kali kuiakukan hal ini,” ucap Hay Ki-koat sambil mengangkat pundak.

“Apakah juga penghabisan kalinya?”

“Ya, pasti.”

Esoknya hari juga cerah, Hay Ki-koat membawa anjing keluar. Sudah berjalan cukup jauh dan belum nampak bermaksud putar balik.

Piauko mengikut di belakangnya, ia tak tahan dan bertanya, “Mulai kapan kau gemar berjalan-jalan seperti ini?”

“Baru tadi,” jawab Hay Ki-koat.

“Sekarang kau hendak pergi kemana?”

“Keluar kota?”

“Untuk apa keluar kota?”

“Meski kejadian jamak seekor anjing mati di tengah jalan, tapi kalau dari dalam kulit anjing keluar satu orang, jelas ini bukan kejadian biasa.”

“Ya, dengan sendirinya urusan ini tidak boleh dilihat orang,” kata Piauko.

“Makanya kita perlu keluar kota.”

Hay Ki-koat memegang erat tali leher anjing, tangan Piauko juga siap memegang tangkai pedang di balik bajunya.

Anjing ini diketahui paham ucapan manusia, bahkan jago Amgi. Bila anjing tidak jadi mati di tangan manusia, sebaliknya manusia yang mati di tangan anjing, inilah lelucon yang maha besar.
Siapa tahu, anjing ini sama sekali tidak memperlihatkan sesuatu reaksi.

“Apakah kau tahu isi hati anjing ini, apa yang sedang dipikirnya?” tanya Piauko.

“Aku hanya tahu di sekitar sini seperti tidak ada orang lalu.”

“Ya, bayangan setan saja tidak nampak.”

Mendadak Hay Ki-koat berhenti. Dipandangnya anjing itu, lalu berkata dengan menyesal, “O, saudaraku anjing, jelek-jelek kita pernah berkawan. Makan bersama dan minum arak berbareng. Jika engkau perlu meninggalkan pesan apa-apa, silakan bicara saja. Asal mampu pasti akan kami laksanakan bagimu.”

Anjing itu menggoyang-goyangkan ekornya dan menyalak “hung-hung.”

“Sampai terlepas kau goyang akormu juga tidak ada gunanya, kami tetap akan membunuhmu,” kata Hay Ki-koat dengan menyesal. Berbareng kapalannya lantas bekerja, “prak”, dengan tepat kepala anjing digenjotnya.

Segera terdengar suara tulang kepala retak. Anjing itu mengaing satu kali. Dia masih sempat berdiri tegak, tapi pedang Piauko segera bersarang di lehernya.

Darah muncrat, cepat Hay Ki-koat melompat ke atas. Waktu dia turun kembali, anjing hidup itu sudah menggeletak menjadi anjing mati.

Hay Ki-koat menghela napas lega, ucapnya dengan tertawa, “Tampaknya membunuh anjing terlebih ringan daripada membunuh manusia.”

Tapi Piauko tampak menarik muka dan mendengus, “Mungkin yang kita bunuh adalah anjing sungguhan.”

Hay Ki-koat terkejut, cepat ia berjongkok dan memeriksanya. Memang betul, di dalam kulit anjing memang anjing tulen, anjing ini bukanlah samaran Kian-long-kun.

“Jelas-jelas kulihat sendiri,” ucap Hay Ki-koat dengan melenggong.

“Melihat apa?” tanya Piauko.

“Melihat Kian-long-kun menyusup ke dalam kulit anjing ini dan berubahlah dia menjadi anjing,” tutur Hay Ki-koat.

“Anjing kan banyak jenisnya. Anjing yang sama jenisnya hampir serupa,” jengek Piauko.

“Jika begitu kemana perginya Kian long-kun? Darimana pula datangnya anjing ini?”

“Mengapa tidak kau tanyai Liok Siau-hong?”

Di luar kakus ternyata ada orang menunggu lagi. Baru membuka pintu, belum lagi Siau-hong sempat mengikat celana kolor, sudah terlihatlah Hay Ki-koat.

Tampaknya Hay Ki-koat sudah tidak tahan, seperti orang kebelet dan sudah berak di celana.

Siau-hong menghela napas, gumamnya, “Sungguh aneh, setiap kali aku berak di sini selalu ada orang antri. Jangan-jangan semua orang telah salah makan obat dan sama mencret?”

Dengan gemas Hay Ki-koat menjawab, “Aku tidak salah makan obat segala, cuma salah membunuh.”

Siau-hong seperti terkejut, tanyanya, “Siapa yang kau bunuh?”

“Seekor anjing,” jawab Ki-koat.

“Sesungguhnya yang kau bunuh manusia atau anjing?”

“Anjing yang kubunuh itu seharusnya manusia. Siapa tahu dia benar-benar seekor anjing. Di dalam kulit anjing juga tidak ada manusia.”

“Anjing tetap anjing, di dalam kulit anjing dengan sendirinya terdiri dari daging dan tulang anjing, dangan sendirinya tidak terdapat manusia,” kata Siau-hong. Ia tepuk bahu Hay Ki-koat, lalu menyambung, “Tampaknya engkau sangat lelah. Kukira perlu istirahat, kalau tidak, bukan mustahil engkau bisa gila.”

Melihat beringasnya, Hay Ki-koat seperti benar-benar akan gila saking gusarnya, mendadak ia berteriak, “Di mana Kian-long-kun?!”

Siau-hong menjawab dengan tak acuh, “Dia bukan Koan-keh dan juga bukan putraku, darimana kutahu dia berada di mana?”

“Tapi yang berkeras ingin membawanya serta dalam perjalan an ini ialah kau sendiri.”

“Aku cuma bilang mau membawa serta seekor anjing dan tidak pernah mengatakan akan membawa serta Kian-long-kun,” Siau-hong menepuk bahu Hay Ki-koat pula dan menambahkan dengan tersenyum, “Sekarang anjingku telah kau bunuh, tapi takkan kuminta ganti rugi padamu. Apapun juga seorang Koan-keh kan lebih berguna daripada seekor anjing. Apalagi aku pun tidak ingin Koan-keh-po menjadi janda.”

Saking gemasnya sampai Hay Ki-koat tidak mampu bersuara lagi.

Akhirnya Siau-hong telah mengikat baik celananya dan melangkah keluar dengan santai, beberapa langkah berjalan, ia menoleh dan berkata pula dengan tersenyum, “Kejadian ini harus kau laporkan kepada Lau-to-pacu, dia pasti juga akan sangat tertarik oleh cerita ini, bisa jadi akan memberi hadiah besar padamu.”

Dengan tertawa yang rada-rada bersifat mengejek ia menyambung pula, “Kau pikir hadiah apa yang akan diberikannya padamu?”

Sudah tentu telah dipikirkan Hay Ki-koat, hadiah apapun pasti sesuatu yang sangat berat. Entah sekali pukulan berat atau sekali bacokan berat.

Mendadak Ki-koat bergelak tertawa, “Haha, sekarang dapatlah kupahami.”

“Paham apa?” tanya Siau-hong.

“Jika yang kubunuh adalah anjing, yang mati dengan sendirinya juga anjing. Peduli anjing jenis apa yang jelas kan seekor anjing mati,” ia memicingkan mata dan tersenyum. “Jika manusia mati saja serupa, apalagi anjing.”

Siau-hong tertawa, “Hah, tampaknya orang ini memang benar sudah bisa memahami persoalannya.”

Pada hari tanggal delapan bulan empat, cuaca mendung, terkadang hujan. Dalam buku harian Koan-keh-po tercatat singkat: “Menempuh perjalanan sejauh empat ratus li, anjing mati mendadak.”

Esoknya hari tetap mendung, cuaca kelam, jalan pegunungan sunyi senyap, kecuali batu padas dan belukar, apapun tak tertampak.

“Mengapa kita menuju ke tempat begini?”

“Sebab kusir kuatir malam ini tidak dapat mencapai tempat bermalam, maka memotong jalan yang lebih dekat.”

“Jalan ini lebih dekat?”

“Seharusnya demikian, akan tetapi sekarang,” Koan-keh-po menghela napas, lalu menyambung dengan menyengir, “Sekarang rasanya seperti tersesat.”

Mestinya sudah waktunya makan. Seharusnya mereka sudah membersihkan badan dan siap menghadapi meja makan, tapi sekarang mereka justru tersesat di suatu tempat yang sama sekali asing bagi mereka.

“Aku lapar, tidak kepalang laparku,” keluh Liu Jing-jing, nyata dia bukan perempuan yang tahan uji. “Aku perlu makan sesuatu, lambungku kurang baik.”

“Jika benar kau perlu makan sesuatu, boleh kau tiru kambing makan rumput saja di sini.”

Jing-jing berkerut kening, “Masa tiada sesuatu makanan di dalam kereta?”

“Tidak ada, bahkan air minum pun tidak ada.”

“Lantas bagaimana baiknya?”

“Hanya ada satu jalan.”

“Bagaimana?”

“Tahan lapar.”

Mendadak Jing-jing membuka pintu dan melompat turun dari kereta, “Aku tidak percaya tak ada jalan lain, biar kupergi mencari.”

“Cari apa?”

“Tempat apa dan dimana pun pasti ada penduduknya, di sekitar sini pasti juga ada orang,” cara bicara Liu Jing-jing seperti penuh keyakinan, padahal dalam hati sama sekali tidak berdaya.
Tapi dia mau berusaha, sebab dia tidak tahan menderita. Tidak tahan lapar.

Apapun yang hendak kau cari, hanya orang yang mau berusaha mencari baru dapat menemukannya.

Di dunia ini banyak kejadian demikian. Orang pertama yang menemukan kereta tentu seorang yang malas berjalan .Justru lantaran manusia tidak mau menderita, maka hidup manusia banyak mendapat kemajuan.

Karena Jing-jing mau berusaha, mau mencari, maka dia berhasil.

Di balik lereng sana ternyata ada satu keluarga, suatu keluarga besar. Padahal di mana pun sangat sulit menemukan keluarga besar seperti ini.

Dipandang dalam kegelapan, atap rumah itu serupa gumpalan awan mendung saja. Pintu gerbang yang lebar sedikitnya dapat dimasuki enam ekor kuda berjajar.

Akan tetapi cat pada daun pintu sudah mulai luntur dan terkelupas, pintu juga tertutup rapat, yang paling aneh adalah rumah sebesar ini hampir tidak terlihat setitik cahaya lampu apapun.

Konon, di tengah hutan belukar yang tiada manusia sering muncul rumah hantu, apakah tempat ini adalah rumah hantu?

“Umpama betul rumah hantu juga akan kumasuki dan kulihat,” Jing-jing hanya takut kelaparan dan tidak takut hantu atau setan.

Dia mulai menggedor pintu, gelang tembaga pada daun pintu yang besar itu dipukulkannya dengan keras, namun di dalam tetap tidak ada suara apapun.

Selagi dia hendak tinggal pergi, mendadak pintu terbuka. Hanya terbuka sadikit dan terpancar cahaya lampu. Seorang berdiri di belakang cahaya lampu dan sedang memandangnya dengan dingin.

Hanya sekilas pandang saja Jing-jing tidak memandang lagi muka orang itu. Orang ini sungguh tidak mirip manusia, jika dia dibilang manusia, maka dia pasti manusia tanah, bila dikatakan dia setan paling-paling juga cuma setan yang terbuat dari tanah Hat. Sekujur badan orang ini tanah belaka, mukanya, hidungnya, alisnya, sampai mulutnya, seolah-olah juga tertutup oleh tanah.

Untung dia masih dapat tertawa.

Melihat sikap kaget Jing-jing, tertawalah dia, tertawa geli sehingga tanah yang menempel di tubuhnya sama rontok.

Baik dia manusia atau setan, asal bisa tertawa, tampaknya menjadi tidak lagi menakutkan.
Jing-jing menabahkan hati dan berucap dengan tertawa, “Kami tersesat…”

Hanya dua kata ia bersuara orang itu lantas memotong, “Kutahu kalian tersesat, kalau tidak tersesat mustahil akan datang ke tempat setan ini.”

Tertawanya bertambah riang, sambungnya pula, “Tapi nyonya juga tidak perlu takut, meski tempat ini tempat setan, aku bukanlah setan. Aku manusia bahkan manusia yang baik.”

“Manusia baik kenapa tubuh penuh tanah begini?” tanya Jing-jing.

“Siapa pun kalau menggali cacing selama beberapa hari, pada tubuhnya tentu akan bertambah tanah sebanyak ini.”

Jing-jing tercengang, “Kau lagi menggali cacing.”

Orang itu mengangguk, “Ya, sudah 783 ekor cacing kugali.”

“Untuk apa menggali cacing sebanyak itu?” tanya Jing-jing semakin terheran-heran.

“Sudah sebanyak ini toh masih belum cukup, aku masih harus menggali 717 ekor lagi baru cukup jumlahnya.”

“Sebab apa?” tanya Jing-jing

“Sebab aku bertaruh dengan orang, barang siapa kalah dia harus menggali 1500 ekor cacing, kurang satu ekor saja tak boleh.”

“Dan kau kalah?”

Orang itu menghela napas, “Saat ini belum kalah, namun kutahu sendiri pasti akan kalah.”

Jing-jing memandangnya dengan terbelalak, “Sungguh istimewa caramu bertaruh ini, kuyakin orang yang bertaruh denganmu itu pasti juga seorang aneh.”

“Bukan saja seorang aneh, malahan seorang busuk,” kata orang itu.

Sejak tadi Liok Siau-hong berdiri di kejauhan sana, mendadak ia menimbrung, “Bukan saja orang busuk, bahkan maha busuk.”

“Betul,” si penggali cacing ini mengangguk.

“Jika dia orang busuk, lalu kau sendiri bagaimana?”

“Aku pun sama busuknya,” kembali penggali cacing menghela napas.

Selagi Siau-hong hendak bicara apa-apa lagi, mendadak Jing-jing menyela, “Kau bukan orang busuk. Engkau orang baik. Kutahu engkau pasti memperbolehkan kami menumpang mondok semalam di sini.”

“Kau ingin bermalam di sini? Sungguh?” tanya orang itu.

“Tentu saja sungguh,” sahut Jing-jing.

Orang itu memandangnya dengan tercengang, jauh lebih tercengang daripada melihat orang menggali cacing di tengah lumpur.

Jing-jing tidak tahan. Katanya pula, “Kami tersesat. Di sekitar sini tidak ada penduduk lain, terpaksa kami mohon menumpang di sini. Masa hal ini sangat mengherankan?”

Orang ini mengangguk, lalu menggeleng, gumamnya, “Tidak mengherankan, sedikit pun tidak mengherankan.” Mulutnya bilang tidak heran, tapi wajahnya kelihatan terheran-heran.

“Memangnya di tempat ini ada setannya?” tanya Jing-jing.

“Tidak ada, satu pun tidak ada.”

“Jika begitu, bolehkah kami menumpang satu malam di sini?”

Orang itu tertawa pula, “Asalkan kalian suka, tidak menjadi soal berapa lama kalian akan menumpang tinggal di sini.”

Dia membalik dan menuju ke halaman yang gelap dan seram sana sambil bergumam, seperti lagi bilang, “Mungkin setengah jam saja kalian takkan betah tinggal di sini, sebab selamanya tidak pernah ada orang yang betah berdiam di sini?”

Bangunan yang berderet di depan sana ada tujuh buah rumah, setiap rumah terdapat beberapa pelita, semua pelita minyak.

Orang tadi menyalakan semua lampu pada setiap rumah itu, habis itu baru menghela napas lega, usapnya, “Tempat setan apapun, asalkan ada cahaya lampu, suasana tentu akan berubah lebih baik.”

Padahal tempat ini tidak tarlalu buruk. Meski dimana-mana penuh sawang dan debu, namun pajangan dan perabotnya yang mewah belum lagi rusak, hanya tidak terawat, lamat-lamat dapat dibayangkan betapa megahnya kehidupan di tempat ini.

Jing-jing coba bertanya pula, “Tapi engkau seperti bilang tidak pernah ada orang betah tinggal di sini?”

Orang itu mengangguk.

“Sebab apa?” tanya Jing-jing.

“Sebab ada sesuatu di sini yang selama ini tidak dapat ditahan oleh siapa pun.”

“Sesuatu barang apa? Dimana?”

“Di sini,” sahut orang itu sambil menuding.

Yang dituding adalah sebuah kotak kristal yang terletak di atas meja sembahyang di ruangan tengah. Kotak kristal yang sangat tipis dan tembus pandang. Di dalamnya seperti berisi sebuah kelopak bunga yang sudah layu.

“Bunga apakah itu?” tanya Jing-jing.

“Ini bukan bunga, juga bukan sesuatu yang dapat kau bayangkan.”

“Memangnya barang apa?”

“Biji mata seorang.”

Jing-jing terbelalak, tanpa terasa ia menyurut mundur dua langkah.

“Biji mata siapa?”

“Mata seorang perempuan. Seorang perempuan yang sangat terkenal. Ciri khas yang paling terkenal pada perempuan ini adalah matanya.”

“Mengapa terkenal?”

“Sebab matanya sangat tajam. Disebut mata sakti. Konon dia sanggup menyulam dalam kegelapan bahkan dapat menusuk mati seekor nyamuk dari jarak beberapa langkah dengan jarum sulamnya.”

“Apakah Sin-gan (si mata sakti) Sim Sam-nio yang kau maksudkan?” tanya Jing-jing.

“Siapa lagi selain dia?”

“Siapa pula yang menaruh matanya di sini?”

“Siapa pula kecuali suaminya?”

“Suaminya kan Yap Leng-hong dan berjuluk sebagai Giok-si-kiam-kek itu?”

“Betul, di dunia Kangouw hanya ada seorang Yap Leng hong, untung hanya ada satu.”

Tangan Jing-jing tergenggam dan berkeringat.

Apakah dia juga tahu suka-duka dan permusuhan antara Yap Leng-hong dengan Lau-to-pacu? Mereka dibawa ke sini, hanya secara kebetulan atau diam-diam ada orang sengaja mengaturnya?

Muka penggali cacing itu tertutup semua oleh tanah sehingga sukar diketahui bagaimana mimik wajahnya. Akan tetapi suaranya terdengar agak parau, ia bertutur pula. “Di sini seluruhnya ada 93 buah rumah, setiap rumah terdapat sebuah kotak kristal begini.”

Segera Jing-jing menerjang masuk ke rumah kedua. Benar juga dilihatnya kotak kristal yang sama, cuma isinya bukanlah biji mata melainkan daun kuping yang sudah kering.

Si penggali cacing mengikut di belakangnya serupa badan halus, ia memberi penjelasan, “Sesudah Sim Sam-nio mati, Yap Leng-hong telah memotong mayatnya menjadi 93 bagian.”

“Mengapa dia bertindak demikian?” teriak Jing-jing tak tahan.

Penggali cacing itu menghela napas, “Sebab ia terlalu mencintai isterinya. Ingin melihatnya setiap saat. Ke mana pun dia pergi ingin melihatnya, baik cuma sebuah daun telinganya maupun cuma sebiji matanya.”

Jing-jing mengertak gigi, hampir saja ia tumpah.

“Konon kakak-misan Sim Sam-nio adalah Bok-tojin, tokoh Bu-tong-pay yang terkemuka,” tanya Siau-bong tiba-tiba.

Si penggali cacing mengangguk.

“Konon yang menjodohkan mereka justru ialah Bok-tojin sendiri,” kata Siau-hong pula.

“Betul,” jawab si penggali cacing.

“Perbuatan Yap Leng-hong itu apakah tidak kuatir akan ditindak oleh Bok-tojin?”

“Waktu Bok-tojin hendak bertindak padanya sudah terlalu terlambat,” kata si penggali cacing.

“Sebelum tiga bulan Sim Sam-nio mati, Yap Leng-hong juga lantas gila dan menumbukkan kepalanya pada batu gunung-gunungan di belakang sana, kepalanya hancur luluh.”

Seorang kalau mati dengan kepala hancur dengan sendirinya orang tidak dapat lagi mengenali wajah aslinya sehingga tidak ada yang dapat membuktikan sesungguhnya siapa yang mati itu.

“Dan sesudah dia mati, mengapa orang lain tidak memindahkan kotak-kotak kristal ini?” tanya Jing-jing pula.

“Sebab orang yang ingin memindahkan kotak-kotak ini sekarang juga sudah berbaring di dalam kotak” jawab si penggali cacing.

“Kotak macam apa?” tanya Jing-jing.

“Kotak panjang. Terbuat dari kayu. Kotak yang khusus untuk orang mati. Kebanyakan orang mati akan dimasukkan ke dalam kotak semacam ini.”

“Jika begitu, sedikitnya jauh lebih baik daripada terisi di dalam kotak kristal semacam ini,” ujar Jing-jing dengan tertawa.

“Cuma sayang, rasanya tidak jauh lebih baik.”

“Sebab apa?”

“Sebab kalau dicekik mati oleh tangan setan, tentu rasanya tidak enak.”

“Tadi kau bilang di sini tidak ada satu setan pun.”

“Tempat ini memang tidak ada satu setan, tapi sedikitnya ada 49 setan, semuanya setan penasaran.”

“Semula di tempat ini ada berapa orang?”

“49 orang.”

“Sekarang?”

“Sudah mati seluruhnya?”

“Bila setiap hari sebuah mata di dalam kotak kristal selalu mendelik padamu, apakah kau tahan.”

“Aku tidak tahan. Sku bisa gila.”

“Jika kau tidak tahan, orang lain juga tidak tahan, sebab itulah setiap orang sama ingin memindahkan kotak-kotak kristal ini. Akan tetapi, siapa pun bila menyentuh kotak ini, seketika lidahnya akan terjulur. Dalam sekejap lantas putus napas seperti ini ia lantas menjulurkan lidah sendiri sedemikian panjang, serupa setan gantung yang mengerikan.

Cepat Jing-jing melengos. Ia tidak berani memandangnya lagi. Tapi, masih juga bertanya, “Dan kau sendiri bagaimana? Tidak pernah kau sentuh kotak-kotak ini?”

Si penggali cacing mengangguk lalu menggeleng pula karena lidahnya masih terjulur sehingga tidak sanggup bersuara.

“Penghuni di sini bukankah sudah mati semua, mengapa engkau masih hidup? Apakah engkau bukan manusia?” tanya Jing-jing.

Mendadak si panggali cacing merogoh saku lalu dilemparkannya segenggam benda hitam lunak ke arah Liu Jing-jing. Barang hitam ini makhluk hidup, lunak licin dan agak basah Iagi, ternyata gumpalan cacing.

Jing-jing menjerit kaget dan hampir saja jatuh kelengar.

Dia bukan perempuan yang mudah kaget dan jatuh kelengar. Akan tetapi, siapa tahan cacing yang licin, lunak dan agak basah lagi.

Setelah dia mengelakkan lemparan cacing itu, tahu-tahu si penggali cacing sudah menghilang. Cahaya lampu berkedip dua-tiga kali, lampu di dalam rumah mendadak padam.

Waktu ia berpaling, Liok Siau-hong dan lain-lain juga tidak berada lagi di dalam rumah ini.

Untung rumah di sebelah masih ada cahaya lampu, cepat ia memburu ke sana, tapi mendadak lampu di rumah ini pun padam.

Ia berlari pula ke rumah di depan yang kelihatan ada cahaya lampu. Tapi, ketika dia menerjang ke dalam, lampu itu pun padam mendadak.

Cahaya lampu pada ketujuh rumah itu dalam sekejap padam seluruhnya. Suasana menjadi gelap gulita.

Sekonyong-konyong Jing-jing tidak dapat melihat apa-apa lagi. Sampai tangan sendiri juga tidak kelihatan.

Apakah biji mata kering di dalam kotak kristal itu masih mendelik padanya?

Apakah ke 49 setan penasaran dengan lidah terjulur itu juga sedang mengintai di dalam kegelapan?

Jing-jing tak dapat melihat mereka, ia bukan si mata sakti.

Lantas kemanakah Liok Siau-hong yang brengsek itu?

“He, tua bangka, kemanakah kau? Orang she Liok, lekas kemari!”

Meski dia berteriak dan gembar-gembor sekian lama, tetap tidak ada jawaban, tiada suara seorang pun, sampai Koan-keh-po, Kaucu dan Piauko juga entah mengeluyur kemana perginya?

Apakah mereka juga tercekik mati oleh kawanan setan yang tidak kelihatan?

Jangan-jangan tempat ini adalah sebuah perangkap?

Ia ingin menerjang keluar, tapi sudah dua-tiga kali ia menerjang selalu menumbuk dinding, sekujur badan sudah basah kuyup oleh keringat dingin.

Terakhir ia jatuh terkulai, kakinya sudah lemas, merangkak bangun saja hampir tidak sanggup.

Dalam kegelapan ada sebuah tangan terjulur tiba dan menariknya bangun.

Apakah Liok Siau-hong?

Ternyata bukan, tangan ini terasa kurus kering dan dingin, panjang kukunya paling sedikit ada satu inci. “Siapa kau?” Jing-jing tak tahan.

“Tidak dapat kau lihat diriku, tapi dapat kulihat jelas dirimu,” dalam kegelapan ada orang bicara dengan mengikik tawa. “Aku ini bermata sakti.”

Itulah suara orang perempuan, memangnya tangan ini terjulur dari kotak kristal?

Suara tertawa itu belum berhenti. Sekuatnya Jing-jing menubruk, tapi menubruk tempat kosong.

Tangan yang kurus kering dan dingin itu kembali terjulur dari belakang dan meraba kerongkongannya dengan perlahan.

Jing-jing bukan perempuan yang mudah kaget dan jatuh kelengar tapi sekarang dia jatuh semaput.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: