Kumpulan Cerita Silat

27/03/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (20)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:17 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (20)
Oleh Gu Long

“Betapapun tinggi kepandaian yang dibekalnya, karena usianya masih kecil, bila berhadapan dengan jago yang benar-benar kosen, sudah tentu ia tetap dikalahkan. kaum pesilat di sana meski berwatak kejam dan suka bunuh, namun terhadap bocah yang lihai ini mereka tidak tega membunuhnya. Oleh karena itu, meski anak ini sering menderita kalah, namun belum menemui ajalnya.

“Dari setiap pengalaman tempur, dari kekalahan demi kekalahan yang dialaminya, bocah ini justru tergembleng lebih matang, lebih peka dan tajam. Masa anak yang indah bagi bocah lain justru ia lewatkan dalam kehidupan yang serba sengsara, boleh dikatakan setiap hari ia harus dihajar dan dihajar. Namun demikian, pengorbanannya itu berhasil memperoleh sukses yang besar, imbalan itu cukup setimpal dibanding seluruh pengorbanannya. Waktu ia berusia delapan belas, seluruh jago silat di Tang-ing sudah disapunya bersih, meski jago angkatan tua juga dikalahkan dalam beberapa gebrak saja.

“Tubuhnya sudah tergembleng laksana otot kawat tulang besi apalagi lwe-kang nya sudah punya dasar yang kuat, setelah latihan praktek selama belasan tahun, bekal kungfunya boleh dikata sudah merupakan kombinasi antara ilmu silat Tiong-kok dengan berbagai aliran ilmu silat yang ada di Jepang. Tiga tokoh utama yang berkuasa di sana seluruhnya sudah empat kali bertanding dengan dia mereka bilang setelah empat kali bertanding tingkat kepandaiannya sudah sukar diukur lagi.”

Kong-sun Ang menelan ludah, lalu menarik napas panjang, “Dalam jangka sepuluh tahun itu, ayahnya meninggal. Kecuali ‘kungfu’ ia tidak punya apa-apa lagi, ayahnya mati, tapi ia tidak peduli dan tiada perhatian sama sekali. Bukan saja tubuhnya sudah tergembleng bagai baja, hati pun jadi dingin dan kaku bagai besi, tanpa perasaan dan tidak kenal kasihan atau duka lara.

“Setelah ia berusia dua puluh, sudah tiada tokoh silat di kepulauan itu yang mampu menandingi dia. Ia maklum bila dirinya menetap di sini, masa depannya akan makin suram kungfunya juga takkan memperoleh kemajuan….”

“Dan karena itu ia berlayar ke negeri kita?” hadirin bertanya.

Kong-sun Ang geleng kepala dengan tertawa getir, “Kalau mau ia dapat datang waktu itu, tapi orang ini bukan anak sombong yang tidak tahu diri, ia tahu kungfunya sudah menyapu seluruh jago silat di Tang-ing, namun kemampuannya belum memadai untuk menjadi jago di negeri kita ini. Maka ia berlayar seorang diri ke arah timur menetap di sebuah pulau kecil yang kosong.

“Pulau kecil itu masih liar dan belum dijamah manusia. Di pulau itu terdapat sebuah empang, dalam empang itu terdapat banyak batu kecil berwarna hitam dan putih, bundar dan mengkilap mirip biji catur. Di pulau itu Pek-ih-jin menetap sepuluh tahun lamanya.

“Apa kerjanya sepuluh tahun di pulau itu?” hadirin bertanya pula.

“Tiada orang tahu apa kerjanya di sana. Tapi kaum Bu-lim umumnya suka usil, diam-diam ada yang mengintip gerak-geriknya. Ternyata di pulau itu ia mengabaikan kungfu yang diyakinkan selama ini. Dari pagi hingga petang duduk termenung menghadapi problem catur di depannya.”

Hadirin heran dan bingung. Hanya Pui-Po-giok dan It-bok Tai-su berkerut kening, setelah terbatuk-batuk It-bok Tai-su berkata, “Kelihatannya ia mengabaikan latihan silat, padahal selama sepuluh tahun taraf kepandaiannya meningkat jauh lebih tinggi.”

“Ya, memang demikian kenyataannya,” ucap Kong-sun Ang menghela napas. “Menurut salah satu tokoh terkemuka di negeri itu, semula kungfunya memang tinggi, namun masih bisa dijajaki. Tapi setelah ia pulang dari pulau terpencil itu, betapa tinggi bekal kungfunya, orang sudah mampu mengukurnya. Tiga tokoh besar di itu, pernah mengajaknya bertanding, tapi sebelum melancarkan serangan mereka sudah mengaku kalah.”

Hal ini disebabkan semangat, nalar dan keteguhan hatinya sudah bersatu-padu, senyawa dengan pedang di tangannya, sekujur badan seolah-olah terbungkus oleh hawa pedang, tiada lubang kelemahan untuk digempur. Hasigawa adalah cikal bakal ilmu pedang yang terkemuka dan disegani di sana. Tujuh jam lamanya mereka berhadapan saling tatap, namun tidak menemukan kelemahannya, maka ia tidak berani turun tangan.

“Akhirnya Hasigawa sendiri luluh semangat dan tekadnya. Sementara Pek-ih-jin masih berdiri tegak sekukuh gunung, tidak bergeming juga tidak terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya. Tanpa bertempur Hasigawa mengaku kalah ….”

Kecuali kaget dan heran, hadirin merasa kagum juga.

“Setelah yakin akan bekal ilmunya yang tangguh Pek-ih-jin berkeputusan untuk hijrah ke Tiong-goan. Ia pikir dengan kungfunya sekarang cukup untuk melampiaskan penasaran ayahnya dahulu. Ia yakin kemampuannya sudah tiada bandingan di dunia.

“Di luar dugaan, di Tiong-goan ada seorang Ci-ih-hou. Betapa kuat tulang dan otot Ci-ih-hou. betapa berat dan gigih latihannya, mungkin tidak seberat dan setangguh Pek-ih-jin. Tapi jiwanya yang besar, dadanya yang lapang dan kebaikannya, Pek-ih-jin jelas bukan apa-apanya. Padahal beberapa unsur penting ini juga merupakan syarat utama bagi seseorang jago silat untuk meyakinkan ilmu mencapai puncak yang paling tinggi. Oleh karena itu, meski dalam duel yang menentukan itu akhirnya Ci-ih-hou meninggal dunia, namun Pek-ih-jin harus mengaku kalah juga.”

“Betul,” It-bok Tai-su manggut-manggut, “kalau bukan karena kebesaran jiwanya, kebaikannya, ditambah pengetahuannya yang luas, umpama seseorang selama hidup meyakinkan ilmu juga tidak akan mencapai taraf ilmu pedang yang paling top. Karena bila ia tidak mampu melebur ilmu pedang ke dalam jiwanya, paling tinggi ia hanya mencapai taraf ‘ahli pedang’ saja. Padahal betapa besar perbedaan antara kedua pengertian ini.”

Orang lain mungkin sulit mencerna makna uraian yang mendalam dari Kong-sun Ang ini. Tapi Po-giok mendengarkan dengan jelas dan seksama hati-hati dan penuh pengertian, ia mencerna dan merasakan betapa tinggi makna yang terkandung dalam uraian itu.

Kong-sun Ang berkata lebih lanjut. “Pek-ih-jin pulang dengan kekalahan, berita ini segera tersiar luas di Tang-ing. Mendengar berita ini, Hasigawa menjadi panik, takut dan bingung. Maklum, ia sudah menyelami watak dan jiwa Pek-ih-jin. Dengan kekalahannya itu, maka sepak terjangnya jadi eksentrik, padahal tiada kaum silat di Tang-ing yang mampu mengendalikannya. Sebagai cikal bakal suatu aliran yang disegani, Hasigawa mengumpulkan tujuh belas ahli pedang dan membentuk satu barisan, bila Pek-ih-jin menunjukkan aksinya, maka barisan ini akan bertindak dengan segala akibatnya.

“Hasigawa berpendapat usahanya ini merupakan aturan dan semangat ‘persilatan’, Pek-ih-jin tergembleng dan ‘jadi’ pesilat di Tang-ing, adalah menjadi kewajiban kaum persilatan di Tang-ing untuk melenyapkan bila dirasa kehadirannya membahayakan jiwa orang lain.

“Di luar dugaan, setiba di Tang-ing, Pek-ih-jin yang dahulu pendiam dan menyendiri, kini berubah ramah, dan senang berkumpul dengan orang banyak. Bukan lagi menyembunyikan diri untuk meyakinkan ilmu silat, tapi ia malah membuka dasar dan berjualan di pasar. Kalau ada orang tanya tentang perjanjiannya dengan kaum Bu-lim di Tiong-goan tujuh tahun lagi, ia hanya geleng kepala dengan tersenyum ramah.”

Riwayat hidup Pek-ih-jin merupakan legenda yang diliputi misteri, perubahan jiwa dan watak hidupnya justru lebih membuat orang heran, bingung dan tidak habis mengerti.

Berbeda-beda tanggapan hadirin setelah mendengar kisah Kong-sun Ang, ada yang geleng kepala, menghela napas panjang, ada juga yang bersorak gembira dan keplok kegirangan.

Namun It-bok Tai-su berkerut kening, gumam nya dengan nada rendah, “Menakutkan … sungguh menakutkan …. ”

Dari samping Ban Cu-liang bertanya. “Dalam hal apa ia menakutkan?”

Tertekan suara It-bok Tai-su, “Kurasa Pek-ih-jin kini sudah setingkat lebih tinggi lagi daripada apa yang dicapainya dulu. Bukan lagi ‘lahirnya’ belajar dan memperdalam ilmu pedang. tapi kini lebih tepat dikatakan sudah menjadi jiwanya. Kurasa makna tertinggi bagi seorang ahli pedang tidak jauh bedanya dengan seorang murid Budha yang belajar mencapai kesempurnaan.”

Ting-lo-hu-jin menghela napas, “Kalau benar demikian, setelah ia lulus dengan kemanunggalan-nya itu tentu kepandaiannya naik setingkat lebih tinggi lagi.”

“Setahun yang lalu,” demikian Kong-sun Ang melanjutkan kisahnya, “aku tidak berhasil menemukan jejak Pek-ih-in di pasar atau di mana pun. Ternyata jejaknya menghilang entah ke mana, baju yang biasa dipakainya masih tetap di tempatnya, seolah-olah ia minggat tanpa mengenakan pakaian secuilpun.

“Dari para pelaut dan pedagang yang pulang dari Tiongkok aku dengar adanya pertandingan besar yang diadakan di puncak Thai-san ini, Kurasa aku sudah cukup mencari tahu riwayat hidup Pek-
ih-jin, maka bergegas aku berlayar pulang. Setiba di sini, baru kutahu bahwa pertemuan dibuka lebih dini daripada waktu yang sudah ditentukan.

“Di luar dugaan, ketika aku memburu datang ke Thai-san, di hutan di kaki gunung aku temukan segerombolan orang asing yang mencurigakan, maka diam-diam aku intip gerak-gerik mereka, ternyata mereka sedang memasang sumbu peledak dengan tujuan mencelakai kaum persilatan yang hadir di puncak ini.”

“Hah, lalu bagaimana akhirnya? Apa yang sudah kau lakukan?” hadirin berteriak-teriak.

Kong-sun Ang bergelak tawa. “Sudah tentu aku tidak berpeluk tangan. Nah ini buktinya boleh hadirin periksa,” lalu ia raih karung yang tadi ia taruh di pinggir panggung serta menuang isinya, ternyata isi karung itu adalah belasan batok kepala manusia, seluruhnya orang-orang asing yang sudah pernah dilihat Po-giok beberapa tahun yang lalu.

*****

Peserta pertandingan yang masuk babak berikutnya, kini tinggal Kong-sun Ang, Bwe-Kiam, Ciang-Jio-bin, Au-yang-thian-kiau dan Poa-Ce-sia yang luka terbakar.

Kini perhatian hadirin tertuju ke arah panggung lagi. Mereka sudah tidak peduli apakah dinamit yang terpendam itu nanti bakal meledak atau tidak, yang pasti pertandingan ini tidak boleh diabaikan.

Dengan memegang daftar peserta, sesaat Ting-lo-hu-jin berdiri bimbang. Ia bingung bagaimana mengatur kelima peserta yang harus bertanding di “semi final” ini.

Tiba-tiba Poa-Ce-sia menghampiri dan bicara bisik-bisik. Semula Ting-lo-hu-jin tampak kaget dan heran, akhirnya ia tersenyum penuh pengertian, lalu mengangguk.

Maka terdengar suara Ting-lo-hu-jin lantang “Barusan Poa-Ce-sia Poa-tai-hiap menyatakan mengundurkan diri dari pertandingan selanjutnya…Oleh karena itu, kini tinggal empat orang yang memasuki babak semi final. Semoga …”

Belum habis Ting-lo-hu-jin bicara, di tengah penonton mendadak berkumandang gelak tertawa aneh yang menusuk telinga, Terpaksa Ting-lo-hu-jin menahan sabar, menunggu gelak tawa itu berhenti. Tapi berhenti gelak tawa itu melainkan makin keras dan memekak telinga.

Dingin muka Ting-lo-hu-jin, bentaknya, “Siapa itu yang tertawa seperti itu, memangnya tidak puas dengan keputusan kami?”

Orang di tengah penonton itu masih bergelak tawa. “Pertemuan besar Thai-san apa, sungguh lucu dan menggelikan, kenapa aku tidak boleh tertawa.”

Suaranya melengking tajam seperti jarum menusuk genderang telinga.

Ting-lo-hu-jin naik pitam, serunya, “Di kolong langit ini siapa berani bilang pertemuan Thai-san lucu dan menggelikan? Harap jelaskan, dalam hal apa pertemuan besar ini lucu dan menggelikan?”

Orang di tengah penonton itu berkata dengan, tertawa “Dengan kemampuan lima orang tadi akan memperebutkan ‘jago nomor satu di dunia’? Haha, menurut pendapatku, kelima orang ini hanya setimpal merebut gelar ‘badut nomor satu di dunia’.”

Suasana yang semula sudah reda dan tentram mendadak menjadi ribut dan gempar oleh hasutan orang ini.

Au-yang-thian-kiau, Kong-sun Ang berempat menjadi gusar. Mereka merasa diremehkan dan dihina di muka umum. Siapa berani bicara begitu? Sungguh besar nyalinya!

Kong-sun Ang bertolak pinggang sambil membentak, “Tuan berani membual di depan umum, tentu mempunyai kepandaian yang luar biasa. Kenapa tidak keluar saja bertanding dengan kami para badut ini?”

“Ya, memang harus demikian!” terdengar sahutan suara melengking itu di tengah penonton.

Tak perlu mendesak orang, penonton sudah minggir dengan sendirinya memberi jalan, ribuan mata penonton tertuju ke sana, semua ingin tahu dan melihat siapa orang gila yang berani bermulut besar. Atau dia memang seorang gagah sejati!

Tampak seorang berjalan santai di tengah penonton, perawakannya sedang berbaju hijau dengan topi kecil, wajahnya putih halus, alis lentik mata bening, tingkah dan tindak tanduknya lebih mirip orang perempuan.

Banyak hadirin yang bersorak dan bersiul, “Haya, orang sekecil ini, cukup satu jari saja Kong-sun Ang mampu mendorongnya jatuh. Ternyata mulutnya sok usil, kurasa dia memang orang gila.”

Dengan penuh perhatian Ting-lo-hu-jin mengawasi perawakan, langkah dan sikap orang ini, memperhatikan seluruh gerak-geriknya. Mendadak ia berkerut alis, katanya dengan nada rendah, “Orang ini pasti seorang perempuan.”

It-bok Tai-su mengangguk, “Hu-jin bilang ia seorang perempuan, aku yakin tidak salah lagi. Tapi belum pernah aku dengar, di Bu-lim ada perempuan yang punya nyali besar seperti dia.”

“Tunas muda selalu muncul di kalangan kang-ouw,” demikian ucap Ting-lo-hu-jin menghela napas “tidak perlu heran kalau kami tidak tahu asal-usulnya. Yang aku herankan, apakah ia tidak tahu asal-usul Bwe-tai-hiap dan Ciang-tai-hiap berempat? Memangnya ia tidak tahu betapa tinggi taraf kungfu mereka? Apakah mereka rela diam dan berpeluk tangan dihina di depan umum?”

“Perempuan ini tentu putri keluarga persilatan yang ternama dan sengaja mencari gara-gara untuk mengagulkan nama besar keluarganya. Di luar tahunya bahwa empat tokoh finalis itu semuanya berwatak keras, angkuh dan tidak mau mengalah kepada siapa pun.”

Mendadak Ban Cu-liang menimbrung, “Bukan mustahil ia sudah tahu asal-usul dan taraf kepandaian keempat tokoh finalis itu. Mungkin juga ia tidak jeri menghadapi kungfu keempat orang ini. Lalu…lalu bagaimana baiknya?”

Mendadak Ting-lo-hu-jin membalik badan, katanya, “Apakah Ban-tai-hiap sudah tahu siapa dia sebetulnya?”

Ban Cu-liang geleng kepala sambil menghela napas, “Rasanya aku tahu siapa dia sebetulnya. namun sukar aku jelaskan siapa dia sebenarnya.”

Ting-lo-hu-jin dan It-bok Tai-su saling pandang tanpa bicara.

Dari sekian banyak hadirin yang paling kaget dan berubah air mukanya hanya Pui-Po-giok seorang. Ia sembunyi di belakang seorang lelaki yang bertubuh lebih besar dan tinggi, supaya orang berbaju hijau dengan topi kecil itu tidak melihat wajahnya.

Sementara itu, pemuda baju hijau dengan topi kecil itu sudah sampai di depan panggung.

Cahaya rembulan menyinari wajahnya yang pucat, bola matanya yang bening tajam laksana mata pisau. Sepintas orang banyak merasa orang ini misterius, dingin tapi cantik.

Kong-sun Ang, Au-yang-thian-kiau. Bwe-Kiam dan Ciang-Jio-bin seperti terkesima oleh wajah pucat dingin dan misterius ini.

Ting-lo-hu-jin merendahkan suara, katanya lembut, “Di panggung pertandingan yang sewaktu-waktu dapat mengancam jiwa sendiri, lebih baik nona jangan ikut campur.”

Sikap pemuda baju hijau tenang dan wajar meski dipanggil “nona” oleh Ting-lo-hu-jin.

Malah dengan suara dingin ia berkata, “Kungfu Ciang-Jio-bin bergaya tapi tidak berisi, permainan Au-yang-thian-kiau juga hanya untuk menggertak orang, Thian-to Bwe-Kiam memang ganas, tapi kurang gesit dan tidak serasi. Dengan golok lengkungnya itu untuk membabat padi atau membabat rumput kurasa lebih tepat. Sementara Kong-sun Ang…hehe, walau kungfunya satu sumber dengan Pui-Po-giok, tapi berlatih sepuluh tahun lagi, taraf yang dapat dicapainya paling banyak cuma sepersepuluh dari yang dicapai Pui-Po-giok. Dengan kemampuan begini siapa setimpal menjadi nomor satu di Bu-lim.”

Mendadak Kong-sun Ang membentak “He, apa kamu ini Pui-Po-giok?”

“Pui-Po-giok? …. ” pemuda baju hijau menyeringai, “sebagai penggosok sepatuku pun ia tidak setimpal. Tapi kalau kalian berempat ingin menjadi penggosok sepatu Pui-Po-giok, aku yakin dia pun tidak mau.”

“Hm, siapa kau sebenarnya?” hardik Kong-sun Ang menahan amarah.

“Aku? … aku bukan siapa siapa, aku kemari hanya untuk memberi hajaran kepada kalian. Jangan menutup pintu dan mengangkat diri menjadi raja, mengagulkan diri sebagai jago kosen nomor satu. Orang bisa rontok giginya karena geli”

Ciang-Jio-bin ikut membentak gusar, “Kalau tidak mengingat kamu ini betina, saat ini sudah….”

“Kalau betina memangnya kenapa?” pemuda baju hijau bertolak pinggang, “kau kira perempuan di dunia ini seperti Be-Cek-coan yang boleh dihina dan dipermainkan begitu.”

Satu per satu ia tatap wajah empat orang di depannya, sikapnya makin pongah dan memandang rendah mereka, “Kalau saat ini aku menantang kalian satu per satu. kalian tentu akan bilang tadi aku belum mengeluarkan tenaga dan sengaja cari keuntungan.”

Sampai di sini ia berhenti bicara, lengan bajunya mengebas perlahan, tahu-tahu tubuhnya sudah berada di atas panggung, katanya sambil menggerakkan tangan, “Ayolah, kalian berempat maju bersama saja supaya menyingkat waktu dan menghemat tenagaku.”

Bwe-Kiam, Au-yang Thian-kiau berempat menggerung gusar, serempak mereka memburu ke atas panggung. Tapi mereka adalah tokoh-tokoh besar yang disegani, di hadapan sekian banyak orang gagah, meski sedang marah, jelas mereka tidak akan turun tangan bersama. Sekilas mereka saling pandang, tanpa berjanji semuanya merandek dan segan turun tangan.

Kong-sun Ang buka suara lebih dulu, “Mohon kalian sudi mengalah, biar aku yang turun gelanggang lebih dulu.”

“Biar Siau-te saja yang memberi hajaran kepadanya,” Ciang-Jio-bin menimbrung.

“Aku juga tidak sabar lagi,” Bwe-Kiam tidak mau mengalah, “kurasa …”

Pada saat tiga orang ini bersitegang, Au-yang-thian-kiau bertindak lebih dulu, langsung ia melompat ke depan pemuda baju hijau, sepuluh jarinya terpentang bagai cakar dan mencengkeram ke dua pundak pemuda baju hijau.

Jurus silat yang dilancarkan Au-yang-thian-kiau tanpa kembangan juga tidak mengandung tipu keji, tapi lwe-kang nya memang hebat, dasarnya amat kuat dan sempurna latihannya, jarang ada tokoh silat yang dapat menandinginya.

Banyak anak murid keluarga persilatan yang mengirim putra-putrinya belajar di perguruan Thian-kiau di bawah bimbingannya. kaum persilatan sama tahu, murid didik Au-yang-thian-kiau pasti mempunyai pupuk dasar yang luar biasa. Adalah jamak kalau peternakan Thian-kiau amat terkenal, muridnya pun tersebar luas di berbagai pelosok dunia.

Sejurus demi sejurus Au-yang-thian-kiau melancarkan serangan secara teliti dan mantap. Setiap jurus mengandung bobot yang berbeda, jelas dan bersih, tidak mengandung unsur-unsur jahat, juga tidak gegabah.

Sebaliknya permainan silat pemuda baju hijau ini jauh berbeda kalau tidak mau dikata berlawanan dengan kungfu Au-yang-thian-kiau. Apa yang ditunjukkan pemuda baju hijau ini lebih tepat dilukiskan dengan “tinju kembang dan tendangan sulam”

Langkahnya ringan, gerak-geriknya tangkas lagi gesit, seluruh panggung hanya tampak bayangan kaki dan tinjunya. Betapa gemulai dan liuk tubuhnya seperti bidadari yang sedang menari saja. Hakikatnya pemuda ini seperti tidak bertanding silat, tapi lebih tepat sedang menari, penonton menjadi bingung dan melongo, lupa bersorak dan keplok.

Yang menakjubkan adalah antara ribuan penonton yang menyaksikan permainan si pemuda, termasuk It-bok Tai-su, Ting-lo-hu-jin dan para pendekar yang lain, tiada satu pun di antara mereka yang tahu dan membedakan jurus silat dari aliran mana.

Bayangan tinju dan tendangan kaki si pemuda memang bertaburan seperti bunga rontok dari pucuk pohon. Karena terselubung oleh bayangan inilah, penonton sukar mengikuti gerak-geriknya.

It-bok Tai-su menghela napas, “Sudah lima puluh tahun aku berkelana di kang-ouw, belum aku lihat ilmu pukulan selincah dan seindah ini. Belum pernah aku bertemu dengan gadis secerdik ini.”

“Dari mana Tai-su tahu gadis ini cerdik? Mohon dijelaskan,” demikian kata Ting-lo-hu-jin.

“Coba Hu-jin perhatikan, pukulannya seperti hanya menari tanpa isi, namun kalau mau diperhatikan, pemainannya sedikit pun tidak kalut, itu karena gerak perubahannya yang bervariasi tanpa batas. Untuk memainkan pukulan yang mengandung perubahan sebanyak itu, kalau ia tidak cerdik pandai, menyaksikan saja sudah pusing, apalagi mempelajarinya.”

“Ai, semoga ia tidak tersesat oleh kepintarannya,” Ting-lo-hu-jin menghela napas.

Pui-Po-giok mendengar jelas pembicaraan kedua orang ini. Ia merasa lega juga kuatir, maklum hanya ia yang tahu paling jelas tentang kepintaran Siau-kong-cu.

Pemuda baju hijau bertopi kecil itu memang samaran Siau-kong-cu.

Bahwa Siau-kong-cu mendadak muncul, turun gelanggang dan bertanding, Pui-Po-giok betul-betul kaget, heran dan bingung. Biasanya Ngo-hing-mo-kiong bertindak secara gelap dan licik, kenapa sekarang ia berani tampil di depan umum? Tapi hanya beberapa kejap saja Po-giok menelaah persoalan ini dan segera ia paham dan mengerti.

Dahulu Ngo-hing-mo-kiong selalu mengacau secara diam-diam, maksudnya supaya kaum persilatan berteka-teki, saling curiga dan bunuh membunuh. Tujuan utama sudah tentu supaya Pui-Po-giok menghadapi jalan buntu.

Dan yang pasti, mereka masih takut pihaknya akan menonjol dan menjadi paling besar di depan umum. Bila Pek-ih-jin datang lagi, maka pihak Ngo-hing-mo-kiong yang pertama harus menghadapinya.

Kalangan kang-ouw sudah kacau, korban sudah berjatuhan, tujuh murid besar sudah ada yang gugur dan terluka. Apakah Pek-ih-jin akan muncul kembali, masih merupakan tanda tanya. Dan yang paling penting adalah, mereka mengira Pui-Po-giok sudah tewas.

Pada saat dan situasi seperti sekarang, segala kekuatiran sudah tidak perlu ada. Lalu tunggu kapan lagi kalau sekarang mereka masih tidak menampakkan diri. Dalam situasi yang kalut ini, mereka akan mudah menguasai keadaan, kesempatan sebaik ini memangnya harus disia-siakan?

Pandangan Po-giok berputar. Setelah terjadi keributan tadi, keadaan di sekeliling panggung sudah banyak berubah, kedudukan orang-orang yang tadi menonton paling depan juga banyak berubah dan tergeser.

Penonton yang terdepan tadi sama berpakaian ketat, baju mereka dari sutera dan perlente. Tapi penonton terdepan sekarang adalah orang-orang berbaju hitam dengan caping yang lebar dan ditarik rendah.

Terutama orang yang paling depan, meski caping bambu rendah menutup mukanya, tapi bola matanya yang bersinar merah seperti api membara, selalu melirik ke arah panggung. Po-giok melihat jelas bahwa orang ini bukan lain adalah Hwe-mo-sin. Sorot matanya yang mirip bara iblis itu, selama hidup tidak akan dilupakan oleh Po-giok.

Orang-orang Ngo-hing-mo-kiong akhirnya menyelundup juga ke Thai-san. Dengan munculnya orang-orang ini, apa yang bakal terjadi selanjutnya memang sukar diramalkan oleh Po-giok. Tapi darah seperti bergolak di rongga dada, makin lama makin mendidih …

Sampai sejauh ini Po-giok masih belum berani turun tangan. Soalnya ia tahu kaum silat di dunia sudah menganggap dirinya sebagai momok jahat yang tidak berperikemanusiaan.

Jika dirinya menampakkan diri, hadirin tentu gempar, pada saat hati sedang gusar dan penasaran, dihasut oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab lagi, bukan mustahil dirinya bisa hancur lebur oleh amukan orang banyak. Umpama dirinya memiliki kungfu setinggi langit juga tidak mungkin melawan keroyokan orang banyak, dirinya akan mati konyol, mati penasaran.

Oleh karena itu, meski darah mendidih di dada, terpaksa ia harus sabar dan sabar.

Dalam sekejap dilihatnya Siau-kong-cu telah melancarkan belasan jurus serangan.

Betapa rumit gerak perubahan serangannya, Au-yang-thian-kiau melayaninya dengan mantap, reaksinya selalu memunahkan aksi Siau-kong-cu yang bervariasi itu. Setiap jurus setiap tipu dipunahkan dengan jelas, bersih dan tegas.

Kedua mata Au-yang-thian-kiau setengah terpejam, sikap dan mimiknya mirip seorang hwesio yang lagi semedi, namun gerak tubuhnya tidak berhenti. Seluruh serangan telapak tangan maupun tendangan kaki yang membingungkan segencar bunga jatuh berhamburan itu seperti tidak dilihatnya sama sekali. Hanya telinga mendengar menentukan arah dan kedudukan, memunahkan serangan dan mematahkan jurus.

Jago kosen yang terkenal di Bu-lim ini bukan saja memiliki lwe-kang tangguh, pengalaman, pengetahuan dan bekal ilmu silatnya juga sudah mencapai taraf yang tinggi. Ia maklum bila dirinya melihat atau mengikuti permainan silat lawan yang mengaburkan pandangan, dirinya akan pusing dan dengan sendirinya, gerak-gerik sendiri akan terpengaruh dan kalut karenanya.

It-bok Tai-su manggut-manggut, katanya setelah menghela napas, “Sian cai, Sian cai! Au-yang-si-cu memang bukan tokoh yang mudah disesatkan. Betapapun lihai dan aneh permainan gadis pandai itu, kalau ingin mengalahkan dia kurasa amat sukar.”

Penonton mulai bersorak pula mengikuti permainan Au-yang-thian-kiau, mereka berpihak dan memberi aplaus kepada jago tua yang kosen ini. Dari sorak-sorai dan tepuk tangan itu dapat disimpulkan bahwa murid didiknya yang sudah tersebar luas di Bu-lim itu tidak sedikit yang hadir di puncak Thai-san ini.

Po-giok menonton penuh perhatian, makin menyaksikan makin heran dan kaget.

Bukan kaget atau heran karena kungfu Au-yang-thian-kiau tangguh dan kuat. Tapi heran menyaksikan permainan Siau-kong-cu. Dalam hati ia membatin, “Mendadak Siau-kong-cu muncul di sini dan berani menantang empat finalis, kalau tidak membekal kepandaian khusus, mana berani ia bertingkah di sini? Padahal melawan Au-yang-thian-kiau seorang saja ia tidak mampu mengalahkan, dengan bekal kemampuannya yang tidak becus ini, mana mungkin pihak Ngo-hing-mo-kiong membiarkan dia berbuat onar? Bukan mustahil secara diam ia menyiapkan tipu muslihat untuk menjebak lawan?”

Maka dengan seksama ia perhatikan setiap gerak-gerik Siau-kong-cu.

Dirasakan sambil bergebrak badan Siau-kong-cu sengaja bergeser mundur ke tengah belakang panggung, tidak lagi mau berputar ke bagian depan. Sementara Au-yang-thian-kiau mendesak dengan ketat.

Maka ruang lingkup gerak-gerik kedua orang yang berhantam ini menjadi makin ciut. Lambat-laun jarak mereka lebih dekat dari tempat Po-giok sekarang berdiri. Maka setiap tipu dan setiap serangan kedua orang yang lagi bertarung ini dapat disaksikan lebih jelas oleh Po-giok.

Mendadak kaki Siau-kong-cu seperti terpeleset sehingga badan doyong dan langkah menjadi kacau, dengan sendirinya gerak tangan pun merandek, meski gangguan hanya sekejap dan Siau-kong-cu dapat memperbaiki posisi dalam sekejap. Tapi Au-yang-thian-kiau bukan jago silat biasa, meski kesempatan hanya sekejap saja tak disia-siakan. Dalam detik yang hampir sama, telapak tangan besi Au-yang-thian-kiau mendadak menyusup ke tengah bayangan tangan lawan yang merandek sekejap itu. Jelas pukulan itu tidak mungkin luput.

Penonton yang berada di bawah panggung pasti tidak melihat jelas detik-detik berbahaya ini. Tapi dari sudut tempat Po-giok berdiri justru dapat menyaksikan dengan gamblang. Saking kaget, belum lagi ia menjerit “celaka”. Siapa tahu mendadak tubuh Siau-kong-cu yang kecil itu mendadak menyelinap selincah ikan selicin belut ke belakang Au-yang-thian-kiau.

Meski menakjubkan gerakan gemulai tubuh Siau-kong-cu, tapi terasa agak dipaksakan juga. Maklum, pada posisi yang tidak menguntungkan begitu, siapa pun sukar menghindar dan turun tangan.

Sudah tentu hal ini juga sudah diperhitungkan oleh Au-yang-thian-kiau, maka ia tidak terkejut atau heran. Di mana pinggang berputar dan lengan terayun ke belakang serta menepuk, namun serangan utama bukan pada telapak tangan melainkan adalah kebasan lengan bajunya yang membawa deru angin kencang.

Dalam keadaan kepepet seperti posisi Siau-kong-cu sekarang, meski tidak mungkin balas menyerang, siapa tahu dari lengan bajunya mendadak melesat keluar selarik benang perak, secara tepat dan telak menyelinap masuk ke dalam lengan baju Au-yang-thian-kiau yang mengebas ke depan.

Tubuh Au-yang-thian-kiau bergetar air mukanya berubah hebat, telapak tangan besinya tak mungkin ditepukkan lagi.

Pada kesempatan baik sedetik ini, badan Siau-kong-cu meliuk dan menghardik, “Pergilah!”

Sekali tangan yang putih halus menampar, sambil meraung keras Au-yang-thian-kiau terlempar jatuh.

Waktu benang perak tadi melesat keluar dari lengan baju Siau-kong-cu, perawakan Au-yang-thian-kiau yang tinggi besar, kebetulan menghalangi pandangan penonton. Apalagi sinar perak itu hanya berkelebat terus lenyap, maka para pendekar yang hadir juga tidak ada yang melihat.

Seolah-olah dalam posisi yang tidak mungkin melancarkan serangan, Siau-kong-cu balas menyerang. Betapa aneh dan hebat gerak tubuhnya, penonton yang tidak tahu adanya muslihat dalam pertarungan ini sudah tentu merasa kaget dan heran.

Apalagi senjata rahasia yang melesat keluar dari lengan baju Siau-kong-cu hanya merupakan selarik air, begitu semprotan air itu masuk ke dalam lengan baju Au-yang-thian-kiau segera lenyap, bukan saja tangan tidak terluka, lengan baju pun tidak kurang suatu apa, umpama ada orang curiga juga tidak menduga bahwa Au-yang-thian-kiau terluka lebih dulu oleh senjata rahasia musuh. Kalau demikian halnya, memangnya siapa berani menuduh Siau-kong-cu berbuat curang?

Perbuatan jahat dan curang ini terjadi secara cepat dan direncanakan secara cermat sehingga tidak ada orang tahu akan akal busuk yang dilakukan Siau-kong-cu. Di luar dugaan, Pui-Po-giok yang tertimpa musibah itu kebetulan berada di belakang panggung dan menyaksikan seluruh kejadian ini dengan jelas, dengan sendirinya ia tahu dan maklum apa tujuan muslihat musuh.

Hadirin menjadi gempar, di tengah keributan tampak air muka Bwe-Kiam dan lain-lain menampilkan rasa kaget dan tidak percaya.

It-bok Tai-su bergumam, “Jurus bagus, tipu lihai. Mungkin mata tuaku ini sudah hampir buta, cara bagaimana gadis cilik itu melancarkan serangan kejinya tidak aku lihat dengan jelas.”

Ting-lo-hu-jin menghela napas, “Aku merasakan jurus yang dilancarkan tadi seperti mengandung hawa iblis.”

“Betul,” It-bok Tai-su mengangguk, “Jurus seperti itu rasanya tidak mungkin dilancarkan manusia biasa.”

Po-giok berdiri diam di tempatnya, hati kacau dan pikiran butek.

Di kolong langit ini, hanya dirinya saja yang tahu dan dapat membongkar muslihat Siau-kong-cu tadi, apakah perlu dirinya tampil ke atas panggung menelanjangi kedoknya?

Dalam keadaan dan kondisi seperti ini, apakah dirinya boleh menampilkan diri? Apakah tega dirinya membongkar perbuatan keji gadis yang selama ini menjadi pujaan hatinya!

Sementara itu, beberapa orang telah menggotong pergi jenazah Au-yang-thian-kiau ke belakang.

Seorang yang berdiri tak jauh di samping Po-giok berkata sambil geleng kepala. “Sungguh lihai aku lihat dia hanya mengulap tangan sekali, Au-yang Thian-kiau yang gede dan gagah itu ternyata mampus seketika.”

Maklum meski orang-orang ini juga berdiri di belakang panggung, tapi pandangan mereka teraling oleh tubuh Siau-kong-cu. Hanya posisi Po-giok yang kebetulan berada di sudut yang menguntungkan dapat melihat adanya sinar perak yang berkelebat tadi.

Siau-kong-cu tertawa puas dan bangga di atas panggung. “Tadi sudah kubilang, kalian maju bersama saja, kenapa harus menyerahkan jiwa satu per satu? Kong-sun Ang, Bwe-Kiam dan Ciang-Jio-bin ayolah kalian maju, tunggu apa lagi?”

Meski Siau-kong-cu bersikap takabur, namun tidak ada orang berani meremehkannya, Kong-sun Ang, Bwe-Kiam dan Ciang-Jio-bin tidak berani berebut menampilkan diri.

“Lho, bagaimana?” ejek Siau-kong-cu. “apa kalian tidak berani maju?”

Ciang-Jio-bin dan Bwe-Kiam naik pitam, berbareng mereka melangkah maju. tapi seorang mendadak menarik lengan mereka.

Bwe-Kiam berkata dengan suara kaku, “Siapa pun di antara kita yang maju dulu kan sama saja.”

“Ya, betul.” ucap Ciang-Jio-bin. “biar aku dulu yang turun tangan.”

Kong-sun Ang tersenyum ramah, “Permainan silat orang ini aneh dan mengandung rahasia, banyak muslihatnya lagi. Di antara kita bertiga, pengalamanku paling luas dan aneka ragam pula permainanku, adalah pantas kalau kalian mengalah padaku.”

Sekejap Bwe-Kiam saling pandang dengan Ciang-Jio-bin, mereka mundur menyingkir.

Kong-sun Ang lompat dari tengah kedua orang langsung menubruk ke depan Siau-kong-cu. Thian-liong-gun di pinggangnya sudah dilolos, katanya dengan suara berat. “Tuan tidak keluarkan senjata?”

Siau-kong-cu tersenyum ejek, “Gebrak dengan orang seperti kalian, memangnya perlu pakai senjata?”

perlahan Kong-sun Ang menarik napas, “Kalau demikian ….”

“Ya. memang demikian.” tukas Siau-kong-cu, “silakan serang, buat apa cerewet.”

Sekali tubuh berkelebat, tahu-tahu ia sudah berada di belakang Kong-sun Ang. Sepuluh jari tangan mencengkeram hiat-to penting di punggungnya.

Betapa cepat gerak tubuhnya memang mirip setan atau dedemit.

Kong-sun Ang tidak putar badan, bila serangan tangan lawan sudah mengancam punggungnya, mendadak kaki melangkah lebar maju ke depan. Langkah ini sungguh tepat dan pas, cengkeraman Siau-kong-cu dengan sendirinya mengenai tempat kosong.

“Bagus,” bentak Siau-kong-cu nyaring, “coba buktikan, kamu membalik badan tidak.”

Tubuh mendesak maju ia tampar dengan dua tangan sekaligus.

Kong-sun Ang tetap tidak berpaling, kaki menginjak lagi setapak ke depan, serangan lawan luput lagi. Saat mana tubuhnya sudah berada di tepi panggung, maju lagi sudah tiada tempat berpijak untuknya.

Siau-kong-cu membentak. “Tidak mau berpaling, nah, serahkan jiwamu!”

Sambil membentak kesepuluh jarinya terangkap, dengan kekuatan kedua telapak tangan serempak ia menepuk ke depan.

Kong-sun Ang tetap tidak berpaling, ia maju lagi setapak lebih lebar. Keruan hadirin menjerit kaget dan kuatir, jelas Kong-sun Ang akan terjerumus jatuh ke bawah. Tak terduga pada saat gawat itu, dengan Thian-liong-gun pada tangannya menolak pinggir panggung. “tek”, perawakan tubuhnya yang gede itu mendadak mencelat ke udara bersalto lewat kepala Siau-kong-cu dan hinggap di belakangnya. Thian-liong-gun menciptakan deru angin kencang mengepruk kepala Siau-kong-cu.

Jeritan kaget dan kuatir para penonton mendadak berubah menjadi sorak gembira dan pujian.

Jalan mundur ke kanan-kiri dan belakang Siau-kong-cu sudah terhalang atau terkunci oleh bayangan pentung lawan, untuk menyelamatkan diri harus berkelit ke depan. Tampak tubuhnya memang menerobos ke depan, jelas ia akan jatuh ke bawah panggung.

Di luar dugaan, meski tubuh bagian atas sudah doyong ke depan, tapi kedua kaki seperti terpaku di panggung, tubuh kaku seperti menancap di pinggir panggung. Sudah tentu bayangan pentung Kong-sun Ang jadinya menyerang tempat kosong.

Sedikit meliuk pinggang lalu menarik tubuh mendadak Siau-kong-cu berbalik di udara dan menerobos lewat bayangan pentung lawan yang menindih turun. Betapa lincah dan tangkas gerak tubuhnya, sungguh amat menakjubkan, lebih mempesona lagi adalah keindahan gerak tubuhnya sungguh amat menakjubkan semua penonton. Kalau tidak memiliki gin-kang yang sempurna, seorang tidak mungkin menunjukkan gerak tubuh seindah itu.

Sorak-sorai dan tepuk tangan hadirin tidak berhenti malah tambah gegap, bukan lagi menyoraki Kong-sun Ang, tapi memberi pujian kepada Siau-kong-cu yang memperlihatkan gin-kang yang hebat.

Kini kedua orang mengembangkan kegesitan tubuh dan ketangkasan gerak kaki, selincah kelinci segesit kijang, makin gerak makin cepat. Serang menyerang silih berganti, bentuk pertarungan mereka kini jelas berbeda lagi dibanding pertarungan Siau-kong-cu melawan Au-yang-thian-kiau tadi.

Tepuk sorak penonton terus berlangsung tanpa berhenti. Dari sekian babak pertarungan yang sudah berlangsung di puncak Thai-san ini, ronde yang ini boleh dikatakan yang paling seru, sengit dan menegangkan, paling mempesona dan menakjubkan pula.

Ting-lo-hu-jin menghela napas, “Aku kira kungfu yang diyakinkan Kong-sun-tai-hiap mengutamakan kekerasan, sungguh di luar dugaan bahwa Nuikang (tenaga lunak) yang dia yakinkan juga sudah mencapai taraf sehebat ini.”

Apa yang dipujikan Ting-lo-hu-jin adalah yang dikagumi juga oleh penonton. Hadirin tidak menduga, perawakan Kong-sun Ang yang kekar dan kasar itu ternyata mampu melakukan gerak tubuh selincah dan seindah itu.

Deru angin Thian-liong-gun di tangan Kong-sun Ang makin kencang dan terasa mengiris kulit muka. Tekanan makin berat membuat gerak-gerik Siau-kong-cu tidak selincah dan segesit tadi.

Ting-lo-hu-jin menarik napas panjang, “Aku yakin Kong-sun-tai-hiap dapat mengalahkan lawannya.”

“Kukira belum tentu,” ujar It-bok Tai-su dengan muka serius.

Sesaat lamanya Ting-lo-hu-jin bungkam, akhirnya ia mengangguk, “Betul, memang belum tentu. Permainan nona ini kadang-kadang lihai seperti setan iblis, lawan sukar menduga dan tidak bisa meraba permainannya.”

Dalam pada itu, Siau-kong-cu sudah mundur dan mundur lagi. Seolah-olah ia terdesak di bawah angin oleh rangsakan pentung Kong-sun Ang, terpaksa ia mundur ke satu sudut untuk mempertahankan diri.

Sinar mata Kong-sun Ang bagai kilat, wajahnya merah bersemangat, bertempur penuh gairah. Kekuatan terpendam di tubuhnya sedang berkobar dan dikembangkan seluruhnya. Tampak setiap jurus permainannya amat rapi, mundur maju menyerang atau bertahan secara ketat. Bukan saja serangan deras dan lihai, bertahan juga kukuh lawan jelas tidak mungkin balas menyerang, apa lagi menjatuhkan dirinya.

Kematian Au-yang-thian-kiau menjadi pelajaran dan cermin baginya. maka sedikit pun ia tidak berani lena atau gegabah. Tekadnya besar untuk mengalahkan pemuda baju hijau lawannya ini, ia pantang mundur atau kalah.

Ciang-Jio-bin menarik napas, “Kurasa tidak sampai sepuluh jurus lagi.”

“Ya, paling banyak sepuluh jurus,” tukas Bwe-Kiam.

Ting-lo-hu-jin dan It-bok Tai-su juga yakin bahwa pandangan mereka tidak keliru lagi. Maklum mereka tidak habis pikir dengan cara dan akal apa Siau-kong-cu mampu mengalahkan Kong-sun Ang dalam satu gebrak saja.

Dalam posisi dan keadaan Siau-kong-cu sekarang, untuk mencapai kemenangan memang tidak mungkin dicapai dengan kepandaian ilmu silat yang wajar.

Berbeda dengan perasaan Pui-Po-giok, saat mana jantungnya seperti hendak meloncat keluar rongga dadanya saking tegang. Ia tahu senjata rahasia yang disembunyikan dalam lengan baju Siau-kong-cu bukan hanya sejenis, malah setiap jenis senjata rahasia yang dibawanya itu amat jahat dan khusus diciptakan untuk berbuat curang pada saat genting seperti ini.

Po-giok tahu, Siau-kong-cu sukar mengalahkan Kong-sun Ang, namun gadis ini cerdik pandai banyak muslihatnya lagi, ada golongan jahat mengendalikan dia. Betapapun ketat dan waspada Kong-sun Ang mempertahankan diri, kalau diserang secara gelap dengan senjata rahasia keji, pasti celaka jiwanya. Sebentar lagi jiwa Kong-sun Ang akan terengut oleh serangan ganasnya.

Tegakah Po-giok menyaksikan para ksatria yang berjiwa gagah perwira ini gugur oleh perbuatan jahat yang licik? Tegakah dia menyaksikan musibah ini terus berlangsung tanpa ada akhirnya?

Tapi dia sendiri sedang dalam kesulitan, dapatkah dia bertindak dan mencegah kejahatan ini? Po-giok kuatir, bila dirinya turun tangan, Paling hanya mengorbankan jiwa sendiri. Perang batin bergolak dalam benaknya, hatinya menderita. Po-giok tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.

Bulan purnama sudah doyong ke barat, tak lama lagi fajar akan menyingsing.

Cahaya rembulan kebetulan menyinari wajah Siau-kong-cu, mendadak Po-giok melihat sinar matanya mengandung kelicikan dan kekejaman. Ini pertanda bahwa ia sudah bertekad turun tangan keji. Mendadak telapak tangan kanan terayun keluar, jari-jari yang runcing panjang tertekuk mirip cakar. Seolah-olah ia sudah terdesak, maka dengan nekat ia berusaha merebut Thian-liong-gun yang mampu mengepruk hancur batu gunung dengan jari tangan yang halus.

Kong-sun Ang menghardik sekali, Thian-liong-gun terayun ke depan memapak tangan lawan, dengan memutar pergelangan tangan, Thian-liong-gun seperti sengaja diserahkan untuk dipegang oleh Siau-kong-cu.

Tangan Siau-kong-cu seperti terkena listrik, menjerit kaget ia tarik tangan ke dalam lengan baju.

Penonton terbelalak, tidak sedikit pula yang bersorak. Tangan Siau-kong-cu terluka oleh Thian-liong-gun, mana mungkin bisa menang? Bukankah tangan kanan merupakan kekuatan utama untuk bertempur!

Tapi Po-giok melihat dengan jelas tangan Siau-kong-cu tidak tersentuh oleh Thian-liong-gun, ia sengaja menjerit kaget untuk menarik tangan ke dalam lengan baju, supaya Kong-sun Ang tidak waspada dan tidak memperhatikan tangan kanannya lagi. Sementara senjata rahasia yang pencabut nyawa sudah siap disambitkan dengan tangan kanan dari balik lengan bajunya.

Cahaya rembulan seperti sengaja menyorot ke atas panggung.

Cepat Siau-kong-cu menyelinap ke belakang Kong-sun Ang. Dalam sekejap ini mendadak Po-giok lihat sinar perak berkelebat dalam lengan baju Siau-kong-cu. Senjata rahasia sudah siap disambitkan. Tangan Siau-kong-cu sudah terangkat ke atas.

Pada saat itulah, mendadak Pui-Po-giok menerobos ke atas panggung, gerakannya secepat panah. Begitu cepat ia bergerak, tahu-tahu sudah berdiri di tengah antara Siau-kong-cu dan Kong-sun Ang, kedua telapak tangannya bergerak ke kanan kiri.

Kong-sun Ang baru ganti gerakan, entah kenapa pentung di tangannya mendadak ditangkap orang, menyusul dirasakan segulung tenaga lunak yang dahsyat dan tidak terbendung tersalur lewat pentungnya. Karena diterjang tenaga lunak yang hebat ini, tanpa kuasa tubuhnya gentayangan dan jatuh terduduk di panggung.

Siau-kong-cu yakin serangannya dapat merobohkan lawan. Mendadak ia rasakan lengan kirinya kaku kesemutan, lalu menjuntai lemas dan tak mampu bergerak. Menyusul tangan yang menggenggam lengan kirinya berkelebat di depan dada, hampir pada waktu yang sama, sikut kanan pun tercengkram sehingga lengan kanan juga lemas lunglai.

Dari lengan bajunya seperti ada suara mendesis yang perlahan, terasa pula semburan hawa panas yang keluar dari lengan bajunya. Semburan hawa panas itu tidak berbentuk, namun setelah suara mendesis tadi lenyap, papan panggung yang tebal di bawah kaki Siau-kong-cu terjilat api dan mengeluarkan asap biru. Betapa hebat daya bakar rahasia itu, jiwa sang korban tentu sukar diselamatkan bila tersambit.

Yang disemburkan dari lengan baju Siau-kong-cu adalah segulung bara asap. Umumnya bara asap berwarna merah, bila suhu panasnya sudah tinggi berubah menjadi hijau, namun bila nyala api sudah mencapai daya panas yang paling tinggi, warnanya tidak akan kelihatan lagi.

Bara asap yang panas dan tidak berwarna disemburkan ke muka Kong-sun Ang, umpama hanya terserempet saja, kedua mata Kong-sun Ang akan buta seketika.

Pada saat itulah tangan Siau-kong-cu akan menyerang telak di mukanya. Jangan kira jari tangan halus putih, namun bila mengenai muka orang, wajah sang korban akan hancur dan jiwa melayang.

Ting-lo-hu-jin, It-bok Tai-su, Bwe-Kiam dan Ciang-Jio-bin tertegun, tak tahu bagaimana harus bertindak.

Kejadian tak terduga amat mengejutkan, tapi kepandaian Pui-Po-giok lebih mengejutkan lagi. Maklum, Thian-liong-gun milik Kong-sun Ang diagulkan sebagai nomor satu dari tiga belas senjata aneh di dunia, namun dengan mudah terampas hanya sekali gebrak saja.

Tidak ada orang membayangkan di antara kuli panggul mayat di belakang panggung itu, ternyata bersembunyi seorang jago kosen yang lihai.

Bahwa muslihatnya digagalkan, kecuali kaget dan gusar, Siau-kong-cu mengumbar adat sebagai gadis yang dimanjakan. Tidak peduli lawan berkepandaian lebih tinggi, tidak pikirkan jiwa sendiri tercengkram di tangan orang, kontan ia mengumpat, “kau ini apa, berani …”

Baru memaki berapa kata mendadak ia lihat wajah Po-giok, saking kaget ia menjerit takut, “He, kiranya kau !”

Sementara itu, Hwe-mo-sin dan murid-muridnya sudah siap menerjang ke atas panggung. Mendengar jeritan Siau-kong-cu, dari bawah ia membentak, “Siapa dia?”

Gemetar suara Siau-kong-cu, “Dia .. belum mati! Dia adalah …. ”

Secepat kilat Po-giok mendekap mulutnya.

Namun Poa-Ce-sia, Ciok-Put-wi, Bok Put-kut, Hwe-mo-sin, Ting-lo-hu-jin, Bau Cu-liang Kim Co-lim dan Gu Thi-wah .. Orang-orang yang kenal baik dengan Po-giok sudah dapat menebak kata-kata Siau-kong-cu, serempak mereka berteriak, “Pui-Po-giok! Pui-Po-giok!”

Nama Pui-Po-giok ternyata lebih mengejutkan hadirin daripada mendengar nama setan iblis yang jahat. Tiga huruf nama itu seolah-olah melambangkan dosa, misterius, banjir darah, haru, senang dan lega, nama yang legendaris. Seolah-olah tiga huruf itu mempunyai kekuatan iblis yang menciutkan nyali manusia.

Mendadak Ciok-Put-wi berjingkrak sambil membentak, “Bangsat keparat! Secara keji kau bunuh para paman yang luhur budi, berani kau unjuk diri di sini? Memangnya kau kira tidak ada orang di dunia ini dapat membekuk dirimu?”

Mungkin terlalu emosi, Ciok-Put-wi yang biasanya jarang bicara ini, sekaligus mencaci maki dengan sengit, kata-katanya mengandung hasutan memancing amarah hadirin.

“Betul!” hadirin berkaok-kaok gusar, “jangan kita biarkan bangsat ini hidup … Ayolah kawan-kawan! Serbu! Kita ganyang Pui-Po-giok di atas panggung!”

Di tengah keributan, beberapa orang sudah menyerbu ke atas panggung.

Mendadak beberapa jeritan terdengar dari depan. Beberapa orang yang menyerbu paling depan terlempar ke udara. Bukan mabur sendiri, tapi dicengkeram dan dilempar seseorang.

Gu Thi-wah dengan tubuhnya segede menara berdiri di depan panggung. Hardiknya murka, “Siapa berani mengusik Toa-ko ku, Thi-wah akan membantingnya menjadi perkedel!”

Sembari membentak kedua tangannya bekerja secepat angin, dua orang terlempar pula ke tengah pononton.

“Thi-wah,” Ciok-Put-wi membentak gusar, “Kenapa kau bantu bangsat itu malah?”

“Siapa bilang Toa-ko ku bangsat?” Thi-wah meraung, “kau ! kau sendiri …. ” betapapun ia tidak berani balas memaki. Di tengah bentakannya kembali ia cengkeram dua orang dan mengadu batok kepala mereka hingga kelenger.

Ciok-Put-wi membentak, “Thi-wah! Gila kau ? kau lupa apa yang pernah ia lakukan?”

“Tidak peduli! Dia adalah Toa-ko ku, dia .. dia bukan orang jahat!” Thi-wah membantah dengan gusar pula.

Thi-wah mengerahkan tenaga sakti beberapa orang yang menerjang paling depan terdorong jatuh sungsang sumbel. Dua korban yang diadu kepalanya oleh Thi-wah berhasil di selamatkan jiwanya dari injakan orang banyak.

Pada saat terjadi keributan di bawah panggung, Po-giok menutuk hiat-to kanan kiri lengan Siau-kong-cu.

Siau-kong-cu memaki sambil mengentak kaki, “Bangsat kecil, tidak membantu aku malah kau bantu orang lain? kau lupa bagaimana ayahku menanam budi padamu?”

Tiba-tiba kakinya terayun menendang ke arah Po-giok.

Tapi baru saja kakinya bergerak, hiat-to di pahanya kembali tertutuk oleh Po-giok.

Kong-sun Ang sudah berdiri sejak tadi dan mengawasi penonton yang ribut, memandang Pui-Po-giok pula, agaknya ia serba salah, tidak tahu pihak mana harus dibelanya.

Sementara itu Hwe-mo-sin sudah memimpin anak buahnya yang berseragam hitam menerjang ke atas panggung. Kalau mereka tidak kuatir melukai Siau-kong-cu, senjata rahasia api mereka tentu sudah menyerang Po-giok.

Ternyata Thi-wah kewalahan membendung orang banyak yang menyerbu ke atas panggung. Belasan orang menerobos lewat dari kanan kirinya. Begini berada di atas panggung, mereka melolos senjata mendesak ke arah Pui-Po-giok.

Walau Hwe-mo-sin dan anak buahnya bermusuhan dengan orang banyak, namun menghadapi Pui-Po-giok, mereka sehaluan, sama-sama ingin membunuh Pui-Po-giok. Umpama Po-giok memiliki kepandaian setinggi langit juga tak mungkin melawan senjata musuh sebanyak itu. Dalam keadaan genting ini, pemuda genius yang luar biasa ini menghadapi bahaya jiwa terancam, rasanya pasti tak mampu meloloskan diri.

Bok Put-kut menarik lengan Ciok-Put-wi, dengan haru dan sedih ia berseru, “Celaka, tamatlah Po-ji, dia .. dia …. ”

“Keparat jahat itu, siapa pun patut mengganyangnya. Kenapa Toa-ko masih menyayanginya demikian jengek Ciok-Put-wi dingin.

“Tapi…” Bok Put-kut gelagapan, “sebentar lagi ia akan binasa, aku tidak tega, kita .. kita harus memberi kesempatan padanya untuk bicara.”

Dari bawah Ciok-Put-wi melotot ke arah Pui-Po-giok, “Kesempatan untuk bicara justru tidak boleh diberikan kepadanya.”

“Hah, ken … kenapa?” tanya Bok Put-kut.

Ciok-Put-wi geleng kepala, tidak bisa menjawab.

Mereka juga terdorong oleh arus orang banyak ke tepi panggung. Meski banyak orang berkaok-kaok, tapi yang benar-benar menyerbu ke atas panggung jumlahnya tidak banyak.

“Ayolah tunggu apa lagi?” demikian teriak Put-wi sambil angkat kedua tangan, “Serbu! Ganyang dia!”

Ciok-Put-wi yang biasanya pendiam, kaku dan sedikit bicara serta tegas ini, bukan saja hari ini banyak bicara, juga terlalu emosi. Hal ini belum pernah terjadi selama ini.

Padahal hasutannya itu sudah tidak berguna lagi. Lima orang tampak melompat ke atas panggung. Kui-thao-to. Ceng-kong-kiam, Lian-cu-jio, Siang-hoa-to … empat-lima macam senjata menghujani Po-giok. Saking bernafsu mereka menyerang tidak jarang senjata mereka beradu sendiri, mengeluarkan suara keras yang memekak telinga.

Kong-sun Ang sudah beranjak maju hendak menghadang di depan Po-giok, namun setelah ragu akhirnya ia batalkan niatnya. Sambil menghela napas ia malah menyingkir mundur.

Melihat berbagai macam senjata menyerang tiba, Po-giok sadar bila dirinya balas menyerang, pihak lawan tentu ada yang dirobohkan. Orang banyak sedang diburu emosi, bila melihat jatuh korban, serupa api disiram minyak, lebih banyak senjata akan menyerangnya lagi.

Tapi Po-giok juga tahu bila dirinya tidak balas menyerang, kalau hanya berkelit dan menghindar, padahal sekian banyak senjata bertaburan dari berbagai penjuru, di atas panggung seluas ini, ke mana dirinya akan menyingkir, sampai kapan dirinya bisa bertahan?

Pendek kata, Po-giok balas menyerang atau hanya bertahan saja. Bila ia tetap berada di atas panggung, cepat atau lambat dirinya pasti akan menjadi korban secara konyol.

Di belakang panggung masih ada tanah kosong di tanah kosong itu ada beberapa peti kosong. Kuli-kuli gotong itu berdiri gemetar di pinggir peti. Di belakang mereka adalah jurang yang tidak terukur dalamnya.

Dalam keadaan kepepet itu, seolah-olah ada suara halus bergema dalam hati Po-giok, “Larilah Pui-Po-giok! Lompatlah ke jurang, bukan mustahil masih ada harapan hidup bagimu…Kesempatan untuk bicara tidak ada, kalau tidak lekas lari. memangnya menunggu ajalmu di sini?”

Namun gema suara lain juga mendengung dalam benaknya, “Pui-Po-giok, jadilah laki-laki sejati. Busungkan dada dan hadapilah kenyataan. Kalau hari ini kau lari, umpama tidak mampus, nasibmu lebih celaka lagi, kamu tidak punya peluang untuk berpijak di dunia. Daripada tamak hidup, lebih baik mati saja.”

“Pui-Po-giok, hadapilah segala kesulitan dan ujian hidup ini dengan lapang dada. Tidak ada persoalan di dunia ini yang tidak bisa dibereskan, hadapilah bahaya dengan tabah. Tuhan akan selalu besertamu.”

Namun dalam keadaan gawat dan menghadapi bahaya yang mengancam jiwa ini, memangnya siapa bisa menghadapinya dengan tabah dan tenang?

Sinar golok mendesing tajam membacok turun.

Po-giok meraih lengan Siau-kong-cu, sebat sekali ia lompat mundur.

Kui-thau-to, Siang-hoa-to, Ceng-kong-kiam dan Lian-cu-jio memang menyerang tempat kosong. Tapi Cu-coat-pian, Gan-san-to, Hou-sing-kiam. Sian-hoa-tiap dan banyak lagi jenis senjata lain menyambar bergantian pula.

Terpaksa Po-giok mengayun tangan kanan, segulung tenaga mendorong ke arah bayangan ruyung dan sinar golok.

“Crang, creng”, berbagai jenis senjata yang menyerang bersama menjadi kacau dan saling bentur diterpa tenaga dorongan Po-giok. Terutama kapak besar seberat tiga puluh kali itu membentur pedang Hou-sing-kiam yang ringan, pedang patah dan melukai kawan sendiri malah.

Di tengah jerit kaget orang banyak, sebat sekali Po-giok melejit ke pinggir.

Mendadak seorang mendengus dingin, “Binatang, sudah terkurung masih berani melawan, sampai kapan kamu kuat bertahan? Nah, mau lari ke mana?”

Sambil memberi komando, Hwe-mo-sin pimpin anak buahnya mendesak maju.

Di bawah aba-aba Hwe-mo-sin, anak buahnya menyerang bergantian secara rapi dan teratur. Hanya sayang mereka harus merahasiakan diri, maka senjata khas Ngo-hing-mo-kiong tidak berani digunakan di depan umum. Kini mereka memakai senjata yang tidak leluasa, sedikit banyak permainan mereka tidak selihai biasanya. Namun demikian Po-giok kerepotan juga dibuatnya.

Sementara itu, orang yang berada di atas panggung makin banyak, ruang gerak Po-giok dengan sendirinya makin sempit, apalagi ia harus mengempit Siau-kong-cu yang dijadikan sandera. Kalau mau menurunkan Siau-kong-cu tentu Po-giok bisa bergerak lebih bebas, mungkin masih kuat bertahan agak lama. Tapi menghadapi bahaya lebih besar. Po-giok malah memeluk Siau-kong-cu lebih erat.

Pada saat genting dan sibuk menghadapi serangan musuh, mendadak Siau-kong-cu berbisik di pinggir telinganya, “Tidak kau lepas aku, memangnya aku harus mati bersamamu?”

Po-giok menarik napas, sebetulnya banyak yang ingin ia bicarakan, namun rasa gusar dan penasaran membuat lidahnya kelu, saking gugup sepatah kata pun tak mampu bicara.

Siau-kong-cu berkata pula, “Kalau kamu tidak mau membebaskan aku, carilah akal untuk menyelamatkan diri. Ingat aku tidak ingin mampus di sini.”

Sambil berkelit Po-giok bertanya, “Cari akal apa?”

“Kamu merasa difitnah, kenapa kamu tidak bicara?” kata Siau-kong-cu.

“Dalam keadaan seperti ini, siapa mau memberi kesempatan padaku untuk bicara? Apakah mereka mau percaya keteranganku?”

Karena harus bicara, gerak-geriknya agak lamban sehingga ujung bajunya tergores sobek oleh pedang yang menusuk dari samping.

“Kamu tidak bisa memaksa orang mendengar penjelasanmu. Tapi ada orang bisa membantumu,” Siau-kong-cu bicara dengan suara cukup keras.

Tapi para pengerubut itu juga membentak-bentak, tiada yang peduli akan percakapan mereka, “Siapa maksudmu?” tanya Po-giok.

“Memangnya kamu tidak bisa menebaknya?” Siau-kong-cu balas bertanya.

“Ya, aku tahu,” Po-giok menghela napas, “tapi ….”

Mendadak ia kertak gigi, cepat sekali ia menyelinap ke tengah lingkaran sinar golok dan menerobos lewat cahaya tombak. Entah bagaimana sinar golok dan cahaya pedang yang berputar gencar itu ternyata tidak ada yang mampu melukainya.

Cepat sekali Po-giok menyelinap ke depan Hwe-mo-sin, lalu berkata keras, “Lekas suruh mereka berhenti menyerang.”

Hwe-mo-sin menyeringai, “Kenapa harus kusuruh mereka berhenti?”

“Karena kamu tidak ingin aku mati konyol di sini!” sahut Po-giok tegas.

Berkilat sinar mata Hwe-mo-sin, “Lebih baik kamu mampus, kenapa aku harus membelamu hidup?”

“Jangan lupa, aku sudah berjanji akan pergi ke Pek-cui-kiong,” seru Po-giok pula.

Sesaat Hwe-mo-sin tertegun, akhirnya ia bergelak tertawa, “Anak bagus, sungguh hebat. Dalam keadaan seperti ini, pikiranmu tidak kalut, berani mengambil keputusan lagi …. Baik, karena kamu berjanji kepadaku, maka kuterima permintaanmu.”

Di mana tangannya terayun, setitik hitam melesat ke udara lalu meledak menaburkan kembang api berasap hijau, bentuknya laksana sebuah pohon perak. Betapa indah bentuk dan warnanya, tampak jelas dan menyolok di langit yang gelap.

Begitu kembang api meledak di udara, di sudut puncak sana mendadak diguncang oleh ledakan yang cukup dahsyat. Semburan api dan asap hitam tampak menjulang ke angkasa.

“He, apa itu?” ada orang berteriak kaget di tengah hadirin.

“Itulah dinamit … dinamit!” seorang lain menanggapi.

Orang-orang yang berdesakan maju ke arah panggung menjadi takut dan berhenti. Nyali mereka pecah dan sama berusaha menyelamatkan diri, sudah tentu mereka tidak menghiraukan Po-giok lagi.

Penonton yang ada di belakang berteriak-teriak “Di mana dinamit itu … masih ada tidak? … Siapa yang meledakkan?”

Sambil menyeringai seram Hwe-mo-sin memberi tanda. Ledakan keras disertai semburan api dan asap menjulang ke angkasa. Hadirin tambah panik.

Dalam suasana kalut itu, Hwe-mo-sin berseru lantang, “Di mana dinamit itu terpendam, hanya aku yang tahu.”

“Di mana … di mana … ” hadirin menjadi ribut lagi.

Namun mereka tidak berani banyak tingkah, semua mengawasi Hwe-mo-sin dengan melongo.

Dengan suara lantang Hwe-mo-sin mulai berpidato, “Setelah bersusah payah setahun lamanya baru aku berhasil mengumpulkan bahan peledak yang dimiliki keluarga Tang di Su-wan, keluarga Liu di San-sai, keluarga Pek di Hun-lam, Pit-lik-tong di Tiong-goan dan Hwe-to-ceng di Kang-lam, seluruhnya aku kirim ke puncak Thai-san ini. Betapa berat obat peledak bikinan beberapa keluarga yang terkenal di Bu-lim itu, silakan kalian bayangkan.”

Hadirin saling pandang. Tidak ada yang berani bicara.

Hwe-mo-sin mendapat angin, suaranya lebih pongah, “Bahan-bahan peledak itu kini terpendam di empat penjuru, semua terjaga oleh anak buahku, begitu aku memberi aba-aba, dalam sekejap mereka bisa meledakkan puncak gunung ini.”

“Apa tujuanmu dengan rencana busukmu itu?” tanya Ting-lo-hu-jin.

“Betul, apa kehendakmu?” It-bok Tai-su ikut bertanya.

“Kalian harus berdiri diam, tutup mulut. Tanpa izinku siapa pun tidak boleh bergerak, tidak boleh bicara. Kalau membangkang biarlah puncak gunung ini rata dengan tanah.”

Kong-sun Ang tidak tahan lagi, serunya “Orang-orang asing itu, apakah ….”

“Orang-orang asing itu sudah aku sogok dan bekerja untukku,” tukas Hwe-mo-sin sambil membusung dada, “tujuh tahun yang lalu mereka sudah berada di negeri kita, membawa banyak harta benda, maksud semula hendak mohon bantuan Ci-ih-hou, tapi Ci-ih-hou bertindak tegas menolak permintaan mereka. Celakanya harta benda yang mereka bawa terjatuh ke tangan orang lain.”

“Jatuh ke tangan siapa?” tanya Ting-lo-hu-jin, “ke tanganmu bukan?”

Hwe-mo-sin terbahak-bahak tanpa menanggapi pertanyaan ini ia melanjutkan, “Keruan tugas tidak tercapai, harta benda lenyap pula, sudah tentu mereka tidak berani pulang ke negerinya. Akhirnya mereka menjadi gelandangan di sini, mereka melakukan kejahatan, dengan tampang yang jelek dan menyolok itu, lama kelamaan operasi mereka makin susut sehingga kehidupan pun sengsara. Lebih celaka adalah kepandaian mereka tidak tinggi tidak jarang mereka harus lari sana sembunyi sini baru bisa menyelamatkan diri. Kelemahan mereka justru menjadi keuntungan bagiku, dengan mudah aku himpun mereka menjadi kaki tanganku.”

“Ya, benar,” Kong-sun Ang mengangguk, “kalau kungfu mereka tinggi, mana mungkin aku dapat mengganyang mereka seluruhnya? Jelas mereka hanya kawanan kroco, kenapa kau mau menggunakan tenaga mereka?”

“Kungfu mereka memang rendah, tapi di negeri mereka, cara menggunakan bahan peledak sudah umum, pengetahuan mereka tentang membuat dinamit juga cukup luas. Lalu apa salahnya kalau memperalat mereka.”

“Ya, aku mengerti.” Kong-sun Ang manggut-manggut, “jadi kau peralat mereka untuk membuat dinamit.”

“Betul, aku memperalat mereka untuk kepentinganku. Setelah dinamit dipendam di tempat yang sudah aku rencanakan, mereka sudah tidak berguna lagi bagiku. Memangnya aku sedang bingung cara bagaimana menyingkirkan mereka, eh, kebetulan kau datang, sengaja aku bicara di tempat persembunyian mereka untuk memancing perhatianmu. Sesuai rencanaku, mereka kau bunuh seluruhnya.”

Sambil mendongak ia tertawa keras, lalu melanjutkan, “Entah kamu ini bodoh atau keblinger. Mereka itu orang asing, rahasia apa yang mereka bicarakan mana mungkin kau tahu kalau tidak disengaja. Persoalan sepele begini. kenapa tidak dapat kau pecahkan?”

Kong-sun Ang tertegun diam, wajahnya sebentar pucat sebentar merah, hatinya malu tapi juga dongkol. Meski ia sudah tahu dirinya diperalat orang, namun tak mungkin ia mengumbar penasaran.

Ting-lo-hu-jin menghela napas panjang, “Sekarang apa pula kehendakmu?”

“Jerih payahku berhasil, sebetulnya aku ingin mengganyang kalian yang suka tepuk dada mengagulkan diri sebagai pendekar. Tapi belakangan terpaksa aku ubah lagi rencanaku.”

“Rencana apa?” desak Ting-lo-hu-jin.

“Belakangan kupikir. kalau secara diam-diam kubunuh kalian dengan ledakan itu, umpama aku berhasil menguasai dunia, tapi kalian mampus semua, bukan saja tidak bisa menyaksikan aku berkuasa, kalian juga tidak akan hormat kepadaku. Lalu apa bedanya dengan seorang pengarang yang memeras keringat menciptakan karyanya tapi tidak ada orang yang membacanya?”

“Betul,” seru It-bok Tai-su, “hanya orang mati saja yang dapat dianggap ksatria atau pendekar. Menghadapi persoalan apa saja, ia tidak kenal rasa takut lagi…”

“Karena itu kupikir,” demikian ujar Hwe-mo-sin lebih jauh. “daripada kubunuh orang-orang itu kan lebih baik membiarkan mereka hidup menyaksikan aku berkuasa dan tunduk di bawah kakiku.”

Pandangannya menyapu empat penjuru, lalu berseru lebih lantang. “Aku tahu di antara kalian tidak sedikit laki-laki sejati, ksatria gagah yang berhati baja, tapi tidak sedikit pula yang bernyali kecil dan lemah, patuh dan menyembah padaku. Apa yang dapat dilakukan seorang hidup, jelas lebih banyak dan lebih menguntungkan daripada dia mati. Aku yakin orang-orang yang bertekuk lutut di depanku pasti tidak sedikit jumlahnya.”

Hadirin bungkam, mereka malu diri, tidak sedikit yang menunduk kepala.

Mendadak Hwe-mo-sin berseru pula lebih keras. “Tapi perkembangan terakhir ini membuatku mengubah rencana lagi.”

Lega hati Ting-lo-hu-jin, “Berubah bagaimana?”

“Kini aku tidak akan memaksa kalian melakukan sesuatu untukku. Demi ‘seorang’ terpaksa aku ubah rencanaku itu, karena seorang diri dia bisa melakukan lebih banyak, lebih berguna dibanding apa yang bisa dilakukan orang banyak. Kini dia sudah berjanji untuk melaksanakan permintaanku. Maka apa pun permintaannya kepadaku supaya bertindak terhadap kalian, aku tidak akan ragu-ragu.”

“Siapa yang kau maksud?” tanya Ting-lo-hu-jin melotot.

Hwe-mo-sin tersenyum kalem, katanya tegas, “Siapa lagi kalau bukan Pui-Po-giok!”

Penonton tidak berani lagi berkaok-kaok, namun suara desis ratusan orang berpadu tetap seolah-olah angin puyuh melanda puncak itu.

perlahan Hwe-mo-sin membalik tubub mengawasi Pui-Po-giok, “Kalau kau ingin bicara sekaranglah saatnya. Aku yakin tidak ada yang berani mengganggu atau menukas perkataanmu, tidak ada orang berani melukai dirimu meski hanya satu ujung rambut saja.”

Kalau keadaan Pui-Po-giok saat itu dilukiskan sebagai patung batu adalah tepat sekali, karena kulit mukanya kelihatan hitam kelabu, kaku dan lembut, hanya matanya saja yang masih memancarkan cahaya. Ia seperti tidak mendengar anjuran Hwe-mo-sin, matanya yang bercahaya penuh dendam itu sedang menatap seseorang di bawah panggung.

Hwe-mo-sin menghampiri dan menepuk pundaknya, “Lekaslah bicara!”

Pui-Po-giok seperti tersentak dari lamunan. “Ya, aku ingin bicara, banyak yang akan aku bicarakan.”

Sorot matanya bergerak, suaranya perlahan tertekan, “Yang berdiri di depanku sekarang ada para Su-siok yang berbudi luhur, ada saudara sehidup semati, juga para Cian-pwe yang memandangku sebagai murid keponakan, tidak sedikit pula para kawan yang sudi bersahabat denganku…”

Waktu bicara sorot matanya beralih dari wajah Bok Put-kut, Gu Thi-wah, Kim Co-lim, Ban Cu-liang dan lain-lain, air mukanya yang hitam kelabu bagai batu dingin itu kelihatan mulai mencair.

Tapi kecuali Thi-wah yang balas memandangnya dengan mata berkaca-kaca, orang lain hakikatnya tidak ada yang sudi menatap dirinya. Tidak sudi melihatnya, bahkan merasa hina melihatnya.

Po-giok menarik napas sambil mengertak gigi. “Melihat para paman dan saudaraku yang tercinta dan berbudi, diperas dan diancam oleh seorang yang amat kita benci, hatiku seperti disayat sembilu, dan aku…aku hanya menonton dari samping, aku … aku terpaksa hanya bisa berbuat demikian, karena … karena aku …. ”

Tinju Po-giok terkepal, suaranya serak tersendat karena emosi.

“Kalau aku tidak berbuat demikian, aku tidak bisa membela diri. Hanya dia …” jarinya menuding Hwe-mo-sin dengan gemetar, “hanya dia yang bisa memberi waktu untukku bicara. Orang sama memfitnah dan salah paham terhadapku. Kalau aku tidak bicara penasaranku tidak terlampias, mati pun …mati pun aku tidak meram!”

Segala perasaan yang terpendam selama ini meledak lewat kata-katanya. Walau sekuatnya Po-giok menahan diri, namun air mata tak terbendung lagi.

Banyak penonton ikut merasa haru dan terketuk sanubarinya.

Terutama Thi-wah, air matanya meleleh membasahi pipi, lalu menangis tergerung-gerung. Orang berhati baja juga ikut merasa sedih.

Sambil menangis Thi-wah berteriak, “Toa-ko, lekas … lekas beri tahu padaku, biar Thi-wah adu jiwa dengan dia. Siapa dia?”

Po-giok mengawasinya. “Siau-te, kau …kau sungguh baik!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: