Kumpulan Cerita Silat

26/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:34 am

Pendekar Empat Alis
Buku 07: Duel di Bu Tong
Bab 02
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Hiu_Khu)

Setiba kembali di sana, perjamuan ternyata belum lagi dimulai, sebab masih harus menunggu kehadiran seorang, seorang yang tidak boleh absen.

Diam-diam Siau-hong masuk ke ruangan, dengan tersenyum Yap Ling ikut di belakangnya, senyumnya sangat gembira, sebaliknya Siau-hong tampak muram durja, bersungut-sungut, dia harap orang lain tidak memperhatikan dia. Akan tetapi semua orang justru memperhatikan dia, setiap orang sama menatapnya dengan sikap yang aneh.

“Kau datang terlambat,” ucap Lau-to-pacu sambil menatap tajam padanya.

Siau-hong menjawab, “Aku tersesat. Aku…”

Pada hakikatnya Lau-to-pacu tidak menghiraukan apa yang diucapkan Siau-hong, katanya pula, “Namun kutahu kau pasti akan pulang bila mendengar suara genta, maka semua orang sama menunggu, sudah lama menunggu.”

Siau-hong menyengir, “Sebenarnya juga tidak perlu menunggu diriku.”

“Tapi hari ini harus menunggu,” kata Lau-to-pacu.

“Sebab apa?” heran juga Siau-hong.

“Sebab hari ini ada peristiwa bahagia,” tutur Lau-to-pacu.

“Peristiwa bahagia bagi siapa?”

“Bagimu.”

Seketika Siau-hong melenggong.

Sungguh tidak habis dimengerti. Mengapa sekarang juga Lau-to-pacu sudah tahu apa yang barusan mereka lakukan? Apakah karena perbuatan Yap Ling itu memang atas perintah Lau-to-pacu?

Yap Ling tidak bersuara. Siau-hong juga tidak berpaling, ia pun tidak berani memandang Yap Soat yang duduk di samping Lau-to-pacu.

Yap Soat tampak menunduk dan tidak memandangnya.

Lau-to-pacu lantas berkata, “Di tempat ini biasanya cuma ada urusan kematian. Sesudah kedatanganmu, sedikit banyak membawa juga suasana bahagia.” Ia berhenti sejenak lalu menyambung dengan nada terlebih halus, “Dan semua orang juga menyetujui urusan ini. Kau dan A Soat memang satu pasangan yang setimpal.”

“A Soat?” Siau-hong terkejut.

Lau-to-pacu mengangguk, “Sudah kutanyai dia. Sepenuhnya dia pasrah padaku. Ku pikir kau pasti juga tidak anti.”

Kembali Siau-hong melengak.

Sedangkan Yap Ling yang berada di belakang lantas berteriak, “Aku anti!”

Air muka setiap orang sama berubah. Siapa pun tak menyangka ada orang berani membangkang terhadap keputusan Lau-to-pacu.

Yap Soat juga menengadah dan memandang adiknya dengan terkesiap.

Yap Ling lantas tampil ke muka. Serunya, “Dengan tegas aku menyatakan tidak setuju, mati pun aku tidak setuju.”

Dengan gusar Lau-to-pacu membentak, “Jika begitu, paling baik lekas kau mati saja.”

Sedikitpun Yap Ling tidak gentar. Sahutnya, “Jika aku mati, Liok Siau-hong juga akan mati bersamaku.”

“Siapa bilang begitu?” teriak Lau-to-pacu dengan beringas.

“Setiap orang pasti akan bilang demikian,” sahut Yap Ling, “Sebab dia dan aku sudah menjadi suami-isteri sehidup semati.”

Keterangan ini semakin mengejutkan orang.

Air muka Yap Soat juga pucat seketika, teriaknya, “Apa katamu? Kau sudah kawin dengan dia?”

Yap Ling menengadah dan menjengek, “Betul, aku sudah kawin dengan dia. Sudah kuserahkan segala milikku kepadanya. Sekali ini dapatlah aku mendahuluimu satu langkah. Meski dia menolak dirimu, tapi dia telah menerima diriku.”

“Kau … kau dusta!” teriak Yap Soat dengan gemetar.

Yap Ling lantas merangkul lengan Siau-hong, katanya, “Mengapa tidak kau katakan bahwa semuanya memang betul.”

Setiap patah katanya setajam jarum. Tanpa Liok Siau-hong memberi keterangan juga, semua orang percaya ucapan Yap Ling tidak palsu.

Mendadak Yap Soat berbangkit. Meja di depannya didorongnya hingga terjungkir. Tanpa berpaling lagi ia berlari pergi.

Yap Ling tambah gembira. Ditariknya Liok Siau-hong ke depan Lau-to-pacu lalu berkata, “A Soat adalah putri angkatmu, aku juga. Mengapa engkau tidak mengambil keputusan bagiku?”

Lao-to-pacu menatapnya dengan tajam, jengeknya, “Apakah kalian benar ingin menjadi suami-isteri selama hidup?”

“Tentu saja ingin,” jawab Yap Ling.

“Baik, akan kujadi walimu. Tiga bulan lagi akan kulangsungkan upacara nikah bagi kalian,” kata Lau-to-pacu kemudian.

“Mengapa harus menunggu lagi tiga bulan?” tanya Yap Ling.

“Sebab ini keputusanku. Apakah kau berani membangkang?” bentak Lau-to-pacu dengan bengis.

Yap Ling tidak berani.

Maka Lau-to-pacu berucap pula, “Dalam tiga bulan ini, kalian berdua dilarang bertemu. Sesudah tiga bulan, jika pikiran kalian tidak berubah, segera kunikahkan kalian.”

Ia tidak memberi kesempatan bicara bagi Yap Ling. Segera ia memberi pesan kepada Liu Jing-jing, “Selama tiga bulan ini kuserahkan Liok Siau-hong kepadamu.”

Yap Ling mengertak gigi dan mendadak menggentak kaki lalu menerjang keluar. Setiba di ambang pintu ia berpaling dan melototi Liok Siau-hong dengan gemas, “Awas, asalkan kau berani menyentuh perempuan lain, segera akan kutidur dengan seratus lelaki lain. Biar kau pakai seratus buah topi hijau.”

Supaya diketahui, ‘topi hijau’ adalah istilah olok-olok bagi lelaki yang bininya suka menyeleweng.

Perjamuan sudah bubar. Liu Jing-jing menyuruh pembantu menyiapkan beberapa sayuran dan juga arak. Dia memang perempuan yang mengerti akan hidup nikmat. Ia pun sangat memahami kaum lelaki.

Liok Siau-hong tidak buka mulut. Ia juga mendampinginya dengan diam saja. Kalau cawan arak Liok Siau-hong sudah kosong segera ia menuangkan arak. Hidangan belum lagi disentuh, namun arak sudah banyak tertenggak.

Akhirnya Siau-hong mengangkat kepalanya dan memandang Liu Jing-jing lekat-lekat, katanya tiba-tiba, “Mengapa tidak kau caci-maki diriku?”

“Mengapa harus kumaki dirimu?” tanya Jing-jing.

“Sebab aku ini telur busuk, aku tidak…”

Liu Jing-jing tidak memberi kesempatan bicara lebih lanjut padanya. Dengan suara lembut ia memotong, “Tidak perlu kau resahkan diriku, usiaku lebih tua daripadamu. Memang aku tidak punya ambisi akan kawin denganmu, aku cuma ingin menjadi sahabatmu.”

Dia tertawa. Tertawa yang sangat mesra, sambungnya, “Asalkan kau suka, aku bahkan dapat menjadi kekasih gelapmu.”

Siau-hong hanya menyengir saja. Bila orang mencaci-maki padanya, mungkin dia akan merasa lega malah. Bahkan menamparnya juga akan diterimanya.

Tapi Liu Jing-jing berkata lagi, “Namun kutahu engkau pasti tidak berani mengambil resiko ini.”

“Resiko apa?” tanya Siau-hong.

“Resiko memakai topi hijau,” tutur Jing-jing. “Budak cilik itu biasanya berani berkata berani berbuat.” Dia tertawa, lalu berkata pula, “Sebenarnya dia juga tidak terhitung cilik lagi. Tahun ini usianya sudah tujuh belas. Dahulu waktu umurku tujuh belas, aku pun sudah menikah.

Siau-hong mulai minum arak lagi dengan hati kesal.

Tiba-tiba Jing-jing bertanya pula, “Apakah engkau sedang memikirkan A Soat?”

Capat Siau-hong menggeleng.

“Kau tidak pikirkan dia, aku justru kuatir baginya. Wataknya keras, suka menang, tadi dia kehilangan muka di depan orang banyak, mungkin dia…”

“Mungkin bagaimana?” tanya Siau-hong.

Jing-jing ingin bicara lagi tapi urung. Padahal tanpa bicara juga setiap orang tahu apa yang ingin dikemukakannya.

Mendakak Siau-hong mendengus, “Hm, jika kau kuatir dia akan membunuh diri, maka kelirulah kau. Dia pasti bukan perempuan yang berpikiran sempit, hubungannya dengan diriku juga belum sampai sejauh itu.”
Jing-jing tidak membantah, dilihatnya Siau-hong sudah rada terpengaruh oleh arak, juga rada menyesal.
Memangnya apa yang disesalkannya? Apakah karena perbuatannya terhadap Sebun Jui-soat? Atau karena Yap Soat?
Maklum, siapa pun kalau menolak anak perempuan cantik dan mulus begitu, bukan mustahil akan menyesal akhirnya.
Bisa juga dia menyesalkan pernikahannya dengan Yap Ling, sesungguhnya mereka bukan suatu pasangan yang ideal.
Liu Jing-jing merasa gegetun di dalam hati, kembali ia menuangkan satu cawan bagi Liok Siau-hong. Malam sudah larut, jika mabuk akan lebih baik malah.
Maka ia pun menuang secawan bagi diri sendiri,
Pada saat itulah mendadak di luar ada orang berkata, “Sisakan secawan bagiku!”
Yang masuk ternyata Piauko adanya.
Jing-jing menjengek, “Mulai kapan kau kira akan kuundang minum arak?”
Sikap Piauko sangat aneh, napasnya juga memburu, sedapatnya ia menjawab dengan tertawa, “Kedatanganku bukan untuk mi¬num arak.”
“Habis untuk apa kau datang kemari?”
“Ingin kuberitahukan suatu kabar.”
“Dan mengapa kau minta minum arak?”
“Sebab kabar ini sangat buruk.”
Kabar buruk memang selalu membuat orang ingin minum arak, yang mendengar ingin minum, yang memberitahu juga lebih ingin minum. Arak memang bisa mengurangi rasa kesal dan ketegangan.
Segera Liu Jing-jing mengangsurkan cawan arak yang dipegangnya, sesudah Piauko menenggak araknya baru bertanya pula, “Nah, kabar apa yang kau bawa?”
“Yap Soat telah masuk ke Tong-thian-kok,” tutur Piauko.
Seketika air muka Liu Jing-jing menampilkan semacam perasaan yang aneh, selang agak lama baru dia berpaling menghadapi Liok Siau-hong dan berkata, “Yang keliru tampaknya bukan diriku melainkan kau.”
“Tong-thian-kok itu tempat macam apa?” tanya Siau-hong.
“Sebuah rumah kayu, terletak di puncak Tong-thian-keh (tebing mendaki langit), yaitu tebing tinggi yang terletak di bukit belakang sana.”
“Rasanya tidak pernah kulihat sesuatu di sana.”
“Tentu saja tidak kau lihat, rumah kayu itu memang dibangun secara darurat.”
“Terdapat apa di sana?”
“Tidak ada apa-apa, cuma ada peti mati dan orang mati..”
Padahal orang mati benar-benar di Yu-leng-san-ceng sejauh ini hanya ada satu.
“Jadi rumah itu dibangun hanya untuk tempat semayam jenazah Yap Koh-hong.”
“Bukan untuk tempat semayamnya, tapi akan dibakarnya.”
Hati Siau-hong terasa tenggelam.
“A Soat pergi ke sana, agaknya dia siap mati dibakar bersama dengan layon kakaknya,” tutur Piauko.
Di tengah remang malam, di atas tebing yang seram, rumah kayu itu kelihatan berwarna kelabu pucat seperti rumah hantu.
Di bawah tebing ada batu karang yang rata serupa sebuah panggung, di situ berdiri tiga orang, mereka ialah Hay Ki-koat, Koan keh-po dan Lau-to-pacu.
Angin meniup kencang, air muka ketiga orang tampak kelam serupa kegelapan malam.
Di sekeliling rumah kayu itu sudah tertumpuk kayu kering dan siap untuk dibakar.
Siau-hong membiarkan Piauko dan Liu Jing-jing menggabungkan diri dengan Lau-to-pacu bertiga, ia sendiri berdiri di kejauhan.
Pikirannya kusut, dia perlu ketenangan.
Sesudah mendekat Liu Jing-jing lantas bertanya, “Sudah berapa lama dia masuk ke sana?”
“Cukup lama,” jawab Lau-to-pacu.
“Siapa yang menemukan dia berada di sini?”
“Tidak ada, dia yang minta kedatanganku,” tutur Lau-to-pacu. “Dia menyuruh penjaga di sini mengundangku, sebab katanya ada pesan terakhir hendak disampaikan kepadaku.”
“Dan apa yang dikatakannya?”
Dengan kedua tinju terkepal erat Lau-to-pacu menjawab, “Dia minta kucarikan pembunuh yang sebenarnya, untuk membalaskan dendam kematian kakaknya.”
“Dia bilang ini pesannya yang terakhir?”
Lau-to-pacu mengangguk, air mukanya tambah sedih, ucapnya, “Ya, dia sudah siap untuk mati.”
“Mengapa tidak kau bujuk dia?”
“Dia bilang, asalkan aku naik ke sana, segera dia akan mati di hadapanku.”
Jing-jing tidak bertanya lebih lanjut, dengan sendirinya ia tahu Yap Soat adalah gadis yang berani bicara dan berani berbuat, tidak ada sesuatu urusan yang dapat menggoyahkan pendiriannya semula.
Angin meniup dingin, sayup-sayup terdengar suara tangisan.
Liu Jing-jing merinding, ucapnya, “Apakah kita hanya menyaksikan kematiannya begini saja?”
Dengan suara tertahan Lau-to-pacu mendesis, “Justru kutunggu kedatangan kalian, mungkin ada yang sanggup menyelamatkan dia.”
“Kau minta kami memanjat ke atas secara diam-diam?” tanya Jing-jing.
“Ginkang kalian berdua paling tinggi, kalian naik ke sana pada waktu angin meniup kencang seperti ini, mungkin takkan diketahui A Soat.”
“Kemudian?”
“Lebih dulu Piauko mengitar ke belakang, lalu membobol dinding menerjang masuk, kau jaga di pintu depan, waktu melihat Piauko, seumpama tidak menyerang, tentu juga dia akan mendamprat, kesempatan itu segera kau gunakan untuk menerobos ke dalam untuk merangkulnya.”
Jing-jing termenung sejenak, katanya kemudian, “Cara ini kurang baik.”
“Ada caramu yang lebih baik?” jengek Lau-to-pacu. Jing-jing tidak tahu, terpaksa ia naik ke atas sesuai kehendak Lau-to-pacu.
Ginkangnya memang hebat, Piauko juga tidak lebih rendah. Sesungguhnya Ginkang mereka berdua sudah tergolong kelas top, tebing setinggi lima-enam tombak itu dapat mereka naiki dengan sa¬ngat mudah.
Di dalam rumah kayu itu gelap gulita dan sunyi senyap, ternyata Yap Soat tidak mengetahui kedatangan mereka.
Jing-jing memberi tanda, Piauko lantas memutar ke belakang, menyusul lantas terdengar suara gemuruh yang keras.
Rumah itu dibangun dengan bahan kayu yang mudah terbakar, dengan sendirinya tidak sulit untuk membobol dindingnya.
Akan tetapi setelah suara gemuruh itu, menyusul lantas terde¬ngar jeritan ngeri, di tengah malam dingin ini kedengaran terlebih seram.
Lamat-lamat dalam kegelapan kelihatan sinar pedang berkelebat, seorang lantas tergelincir ke bawah tebing dan terbanting di atas tanah, sebagian tubuhnya berlumuran darah, ternyata Piauko adanya.
Terdengar suara Yap Soat bergema terbawa angin, “Hoa-koa-hu, jika tidak lekas angkat kaki dari sini, biar kau ikut mati bersamaku di sini.”
Suaranya tajam melengking dan juga gelisah, dia berteriak pu¬la, “Hendaknya kau pulang dan beritahukan kepada Lau-to-pacu supaya jangan menyuruh orang ke sini lagi agar tidak jatuh korban lebih banyak, yang jelas toh aku tidak mau lagi pergi dari sini de¬ngan hidup.”
Tidak perlu diberitahukan oleh Liu Jing-jing, setiap orang pun dapat mendengar ucapan Yap Soat itu dengan jelas.
Lau-to-pacu mengepal erat kedua tinjunya, sorot matanya yang tajam terpancar dari balik capingnya, ucapnya dengan bengis, “Kau murid Pah-san-kiam-kek, biasanya kau yakin kungfumu tidak rendah, mengapa terbukti sedemikian tidak becus?”
Piauko mendekap luka pada bahunya, darah segar tampak merembes keluar dari celah-celah jarinya, butiran keringat pun menghiasi dahinya. Nyata, lukanya tidak ringan.
Selang agak lama barulah ia berusaha memberi keterangan, “Dia seperti sudah memperhitungkan setiap gerak-gerikku, begitu kuterjang ke dalam, pedangnya sudah siap menanti kedatanganku.”
Mendadak Lau-to-pacu menengadah dan berucap dengan gegetun, “Memang sudah sering kukatakan, kalian kalah dibandingkan dia. Yu-hun sudah mati, Ciang-kun terluka parah, aku sudah kekurangan dua pembantu tangguh, jika kehilangan dia lagi men¬dadak ia menggentak kaki sehingga batu karang di bawah kakinya retak seketika.
Pada waktu itulah di tengah kegelapan tiba-tiba ada orang ber¬kata, “Mungkin ada akalku dapat menyelamatkan dia.”
Yang muncul ialah Tokko Bi.
“Kau punya akal?” tanya Lau-to-pacu. “Akal apa?”
Tokko Bi tertawa, “Cuma sayang, aku ini orang yang tidak pedulikan sanak famili segala, dengan sendirinya aku tidak menolong orang secara percuma.”
Tertawanya kelihatan licik dan licin, sampai lama Lau-to-pacu menatapnya, lalu bertanya, “Apa syaratmu?”
“Syaratku sangat sederhana,” jawab Tokko Bi, “aku perlu seorang isteri.”
“Siapa yang kau minta?”
“Kakak beradik Yap, Hoa-koahu, yang mana pun jadi.” “Akalmu pasti akan berhasil?”
“Asalkan kau terima dengan baik, pasti akan berhasil.”
“Asal pasti berhasil tentu dapat kuterima.”.
“Akalku juga sangat sederhana.” tutur Tokko Bi dengan terta¬wa, “asalkan Liok Siau-hong diringkus dan dibawa ke atas tebing, akan kubuktikan dia yang membunuh Yap Koh-hong, sebab pada waktu terjadi pembunuhan itu aku sendiri menyaksikannya di samping. Setelah mendengar keteranganku, tentu nona Yap akan menerjang keluar untuk membalas dendam bagi kakaknya, dan bila Liok Siau-hong sudah terbunuh olehnya, tentu dia tidak perlu membunuh diri lagi.”
Lau-to-pacu mendengarkan dengan tenang, tiba-tiba ia berta¬nya, “Bukankah kau sendiri yang membawa Liok Siau-hong ke sini?”
“Waktu itu karena hati nuraniku kebetulan timbul sehingga kubantu dia, biasanya jarang timbul hati nuraniku seperti itu.”
Kembali Lau-to-pacu termenung agak lama, lalu mengangguk perlahan dan berkata, “Ehm, kedengarannya akalmu itu tidaklah je¬lek.”
Baru selesai berkata, mandadak tangannya menggampar, kontan Tokko Bi roboh terkulai.
“He, jika akalku tidak jelek, mengapa kau pukul diriku?” teri¬ak Tokko Bi.
“Meski akalmu tidak jelek, tapi orang macam dirimu ini maha jelek,” jengek Lau-to-pacu.
Waktu dia menghantam lagi untuk kedua kalinya, Tokko Bi tidak mampu bersuara lagi, cara turun tangan Lau-to-pacu tidak cepat juga tidak terlalu berat, tapi cespleng, jitu dan manjur.
Siau-hong masih berdiri di kejauhan, mendadak Lau-to-pacu mendekatinya, lalu berkata sambil menepuk bahunya, “Mari ikut padaku!”
Di balik pengkolan sana terlebih gelap, setiba di tempat gelap barulah Lau-to-pacu berhenti, lalu berputar menghadapi Liok Siau-hong dan berucap perlahan, “Akal Tokko Bi sebenarnya sangat efektif apakah kau tahu mengapa tidak kugunakan?”
“Sebab kau tahu aku bukan pembunuh yang sebenarnya,” kata Siau-hong.
“Tidak, bukan begitu.”
“Memangnya karena kau pun memerlukan tenagaku?” “Tepat,” kata Lau-to-pacu.
Di antara mereka sudah sama tahu tidak perlu berbohong terhadap pihak lain, sebab mereka bukanlah orang yang mudah ditipu. Hal ini membuat mereka ada semacam saling pengertian yang mendekati persahabatan akrab.
“Aku sudah tua, kupaham bilamana kehilangan kesempatan, selamanya sukar diperoleh lagi, maka …”
“Maka kau perlu tenagaku, sebab kesempatanmu sudah hampir tiba, begitu?” Siau-hong menegas.
Lau-to-pacu menatapnya dengan tajam, katanya pula, “Tapi aku pun memerlukan tenaga Yap Soat, sebab urusan yang hendak kulaksanakan adalah suatu pekerjaan besar, kalian adalah orang yang tidak boleh absen di dalam rencanaku ini.”
“Jadi kau minta kuselamatkan dia?” tanya Siau-hong.
Lau-to-pacu mengangguk, “Jika di dunia ini ada orang yang dapat membuat dia hidup terus, maka orang itu ialah kau.”
“Baik, akan kukerjakan, cuma aku pun ada suatu syarat.”
“Coba katakan.”
“Kuminta waktu 24 jam, dalam batas waktu ini, apapun yang kulakukan tidak boleh kau ganggu-gugat.”
“Kutahu caramu bekerja suka menggunakan caramu sendiri.”
“Mulai sekarang, tiada seorang pun boleh berdiam di tempat yang dapat melihat diriku, asalkan kau sanggup, dua hari kemudian akan kubawa dia menemuimu.”
“Dalam keadaan hidup?”
“Kujamin.”
“Baik, kuterima,” jawab Lau-to-pacu tanpa pikir.
Semua orang pun sudah pergi, di atas tebing sunyi senyap, di tengah malam kelam rumah gubuk itu kelihatan seram serupa rumah hantu.
Siau-hong mendekat ke sana dengan menyongsong angin yang meniup dingin dan lembab, mengapa di tempat setan ini selalu berkabut?
Belum lagi terlalu mendekat, terdengarlah suara Yap Soat menegur dari dalam gubuk, “Siapa itu?”
“Tentunya kau tahu siapa diriku,” sahut Siau-hong. “Aku tidak dapat melihat dirimu, tapi jelas dapat kau lihat diriku.”
Sampai sekian lama suasana sunyi senyap, lalu datang jawaban yang singkat, “Enyah!”
“Engkau tidak mau menemuiku?” tanya Siau-hong.
Jawaban tetap cekak aos, “Enyahl”
“Jika engkau tidak ingin menemuiku mengapa engkau me¬nunggu kedatanganku”
Sunyi pula suasana di dalam gubuk.
Siau-hong lantas menyambung lagi, “Kau tahu cepat atau 1am bat aku pasti akan datang, makanya engkau belum lagi mati.”
Dia bicara dengan sangat lambat, tapi melangkah dengan sa¬ngat cepat, tahu-tahu ia sudah berada di depan pintu, lalu berkata pula, “Maka sekarang juga akan kudorong pintu dan masuk ke situ, sekali ini kujamin di sekitar sini pasti tidak ada orang ketiga.”
Dia lantas menolak pintu.
Gelap gulita di dalam rumah, hanya kelihatan sepasang mata yang mencorong terang, membawa semacam perasaan yang sukar dilukiskan, entah duka, entah pedih atau benci?
Siau-hong berhenti dari kejauhan, tegurnya, “Tidak ada yang hendak kau katakan padaku?”
Tangisnya sudah berhenti, namun matanya masih basah.
“Sebenarnya tidak kau katakan juga kutahu.” ucap Siau-hong pula. “Perbuatanmu ini tiada lain hanya lantaran diriku. Soalnya barang yang kau inginkan selamanya tidak pernah dirampas orang.”
Dalam kegelapan berkelebat lagi cahaya dingin, serupa sinar pedang. Apakah dia ingin membunuh Liok Siau-hong? Atau ingin mati di depan Siau-hong?
Tangan Siau-hong berkeringat dingin, inilah detik yang sangat penting, sedikit kesalahan saja, satu di antara mereka pasti akan binasa di sini.
Dia tidak boleh berbuat salah, apapun juga tidak boleh salah ucap satu kata pun.
Tiba-tiba dalam kegelapan bergema pula suara Yap Soat, “Aku berbuat demikian, sebab di dunia ini tiada seorang pun yang berharga bagiku untuk tetap hidup.”
“Ada, masih ada satu, sedikitnya masih ada satu,” tukas Siau-hong.
Yap Soat tidak tahan dan bertanya, “Siapa?”
“Ayahmu!” jawab Siau-hong. Dia tidak memberi peluang bi¬cara bagi Yap Soat dan segera menyambung pula, “Ayahmu tidak mati, semalam baru saja aku bertemu dengan dia.”
Mendadak Yap Soat menjengek, “Hm, berdasarkan apa kau minta kupercaya kepada bualanmu ini.”
“Ini bukan bualan, sekarang juga dapat kubawamu untuk me nemui dia,” seru Siau-hong.
Hati Yap Soat seperti mulai tergerak, ia bertanya, “Dapat kau temukan dia?”
“Jika dalam waktu 12 jam tidak kutemukan dia, aku jamin mengantarmu kembali ke sini, biar engkau mati dengan tenang.”
Akhirnya Yap Soat tergugah, “Baik, biar kupercaya lagi satu kali padamu.”
Siau-hong menghela napas lega, “Kau pasti takkan kecewa.”
Sekonyong-konyong sinar pedang berkelebat, ujung pedang yang dingin sudah mengancam di depan hidungnya, dengan suara terlebih tajam daripada ujung pedang Yap Soat berkata, “Sekali ini jika kau tipu lagi diriku, engkau pasti akan mati bersamaku.”
Lembah yang gelap dan hutan yang sunyi, semua ini tidak asing bagi Liok-Siau-hong, seperti halnya perempuan di sampingnya, meski terkadang terasa’menakutkan, tapi juga ada semacam daya tarik yang sukar dilawan.
Sekali ini dia tidak tersesat. Maklum, pada waktu dia pulang, dia sudah siap untuk datang lagi.
Yap Soat berjalan di sampingnya dengan diam, mukanya pucat, sorot matanya dingin, jelas dia bertekad akan bertahan satu jarak tertentu dengan dia.
Akan tetapi di tengah hutan sunyi dan pegunungan yang gelap ini, segala apa bisa terjadi perubahan.
Sangat lama mereka berjalan, di tengah desir angin terendus pula bau lumpur rawa. Segera Siau-hong berhenti dan berkata, “Di sekitar sinilah kemarin aku berjumpa dengan dia.”
“Dan sekarang dimana orangnya?” tanya Yap Soat.
“Entah.”
Tergenggam erat tangan Yap Soat.
“Aku cuma tahu dia berdiam di rawa-rawa di depan sana, kita harus menunggu sampai pagi baru dapat mencarinya,” Siau-hong berduduk, lalu menambahkan, “Biarlah kita menunggu saja di sini.”
Yap Soat memandangnya dengan dingin, jengeknya, “Sudah kukatakan jika kau tipu lagi diriku
Siau-hong memotong ucapannya, “Selama ini tidak pernah kutipu dirimu, mungkin karena aku tidak mau menipumu, maka kau benci padaku.”
Yap Soat melengos dan tidak mau memandangnya lagi, sorot matanya yang dingin tiba-tiba menampilkan rasa lelah.
Dia memang sangat lelah, jiwa dan raga, tapi dia berkeras ti¬dak mau berduduk, dia harus bertahan dalam keadaan sadar.
Tapi Liok Siau-hong lantas berbaring di atas daun yang lunak dan memejamkan mata.
Sesudah dia memejamkan mata, Yap Soat lantas melotot pa¬danya, entah berapa lama lagi mendadak terbayang sesuatu yang sa¬ngat menakutkan.
Sekuatnya dia menggigit bibir, sedapatnya ia mengatasi perasaannya, apa mau dikatakan lagi, tempat ini terlalu sunyi, bisa membikin gila saking sunyinya, dan lebih celaka lagi adalah apa yang terpikir olehnya, urusan yang tidak dapat ditahan oleh setiap orang perempuan.
Tiba-tiba ia memburu maju, ia mendepak lambung Liok Siau-hong, teriaknya dengan histeris, “Kubenci padamu, kubenci …”
Siau-hong membuka mata dan memandangnya dengan terkejut.
Napas Yap Soat tampak terengah, matanya merah, mendadak ia menubruk ke bawah dan mencekik leher Siau-hong.
Terpaksa Siau-hong menangkap tangan si nona, bila si dia mengerahkan tenaga, terpaksa ia pun melawan dengan lebih kuat.
Dan begitulah kedua orang terus berguling di atas tanah berdaun yang lunak, mendadak Siau-hong mengetahui dirinya telah menindih di atas tubuh si dia.
Napas Yap Soat semakin tersengal, tapi tubuh tambah lemas, dia sudah habis mengerahkan segenap tenaganya.
Kemudian dia lantas tenang kembali, melepaskan segala rontaan dan perlawanannya. Waktu ia membuka mata dan memandang Liok Siau-hong, kelopak matanya sudah penuh dengan air mata.
Jagat raya ini terasa sedemikian tenteram, sedemikian gelap, jarak di antara mereka sekarang terasa sedemikian dekat.
Hati Liok Siau-hong mendadak lunak, segala siksa derita dan dendam kesumat terlupakan seluruhnya dalam sekejap ini.
Air mata merembes dan membasahi muka si dia yang putih pucat, selagi Siau-hong hendak mengisapnya dengan bibir sendiri yang kering, pada saat itulah, di tengah desir angin dari arah rawa sana sayup-sayup terbawa suara nyanyian orang.
Nyanyian yang memilukan dan dapat mengingatkan orang kepada berbagai siksa derita dan dendam kesumat.
“Apakah dia?” desis Yap Soat, napasnya serasa berhenti.
“Rasanya betul dia.”
“Mungkin dia tahu akan kedatangan kita dan minta kita ke sa¬na.”
Siau-hong berbangkit tanpa bicara, lalu ditariknya tangan Yap Soat, serupa orang yang menarik keluar seorang yang hampir mati karam.
Dalam perasaannya, orang yang hampir mati tenggelam ini bukan Yap Soat melainkan dirinya sendiri.
Kecuali lumpur, ada apa lagi di tempat yang disebut rawa?
Daun rontok dan rumput berbisa yang membusuk, batu padas yang rontok dan terbenam di situ, macam-macam serangga dan ular berbisa, nyamuk pengisap darah yang jahat dan semut….
Di rawa-rawa yang terdapat macam-macam keanehan ini bah¬kan dapat kau temukan beribu jenis benda yang aneh dan jarang terlihat, bahkan hampir setiap sesuatu pasti memuakkan orang.
Akan tetapi dipandang dalam kegelapan, rawa yang memuak¬kan ini tiba-tiba berubah menjadi semacam keindahan yang sukar dijelaskan, kecuali bau busuk yang sukar ditutupi oleh kegelapan itu, keindahannya hampir menyerupai sebuah danau yang tenang dan misterius.
Suara nyanyian yang memilukan tadi sudah berhenti, Siau-hong juga tidak melangkah ke depan lagi.
Terpaksa dia berhenti, sebab baru saja sebelah kakinya menginjak lumpur, hampir saja seluruh orangnya terisap ke dalam.
Serupa kejahatan saja, rawa-rawa juga ada semacam daya tarik yang jahat, sekali kejeblos, tentu akan ambles seluruhnya.
Muka Yap Soat tambah pucat, katanya, “Kau bilang selama sekian tahun dia sembunyi di sini?”
Siau-hong mengangguk.
“Cara bagaimana dia dapat hidup di tempat seperti ini?” tanya Yap Soat.
“Sebab dia tidak mau mati,” suara Siau-hong membawa rasa berduka, “Bila seorang benar-benar ingin hidup, betapa besarnya penderitaan pasti dapat ditahannya.”
Ucapan yang sederhana, tapi mengandung makna yang ruwet dan dalam, hanya orang yang sudah kenyang asam garamnya siksa derita dapat memahaminya.
Dalam kegelapan tiba-tiba ada orang berucap dengan menyesal, “Ucapanmu mamang tidak salah, tapi perbuatanmu keliru, tidak seharusnya kau bawa orang ke sini.”
Suara yang serak basah itu tidak asing bagi Liok Siau-hong. Tapi tangan Yap Soat terasa dingin.
Sambil menggenggam tangan si nona, Siau-hong berkata, “Dia bukan orang lain, tapi anakmu.”
Lawan tidak kelihatan, juga tidak terdengar jawabannya, Siau-hong berseru pula menghadap ke rawa yang gelap sana, “Meski engkau tidak mau anakmu melihat dirimu, tapi sedikitnya kau harus melihatnya, dia sudah dewasa.”
“Bukankah dia masih serupa dahulu, suka sembunyi sendirian di dalam kamar yang gelap sehingga orang lain sukar menemukan dia,” terdengar suara si bayangan memotong ucapannya.
Hal ini merupakan rahasia pribadi Yap Soat, pembawaannya memang memiliki sepasang mata yang dapat memandang sesuatu dalam kegelapan. Makanya dia suka sembunyi di tempat gelap, se¬bab ia tahu orang lain tidak dapat melihatnya, sebaliknya dia dapat melihat orang lain.
Orang yang tahu rahasia pribadinya ini tidak banyak, seketika tubuhnya gemetar.
“Sudah dapat kau terka siapa dia?” tanya Siau-hong.
Yap Soat mengangguk, mendadak ia berteriak, “Jika tidak kau perlihatkan dirimu kepadaku, biarlah aku mati di sini saja.”
Keadaan kembali sunyi, akhirnya dalam kegelapan muncul segulung bayangan hitam, bentuknya aneh, serupa rumah kapal, bukan saja mengambang di atas rawa, bahkan dapat bergerak.
“Kau ingin melihatku?” tanya orang itu.
“Ya ingn sekali,” tegas jawaban Yap Soat.
“Liok Siau-hong,” ujar orang itu, “tidak seharusnya kau bawa dia ke sini, sungguh tidak pantas.”
Si bayangan menghela napas lagi, tidak ada orang lain yang dapat lebih memahami keangkuhan dan kebandelan puterinya daripada dia sendiri.
“Dapat kuperlihatkan diriku kepadamu, tetapi kau pasti akan menyesal, sebab aku tidak lagi…”
“Betapapun engkau berubah, engkau tetap ayahku, dalam hatiku ayah tidak pernah berubah selamanya, engkau tetap lelaki yang paling cakap di dunia ini, lelaki yang paling baik terhadapku.”
Rumah kapal yang mengambang itu semakin dekat, kira-kira dua tombak jaraknya segera Yap Soat melompat ke sana.
Siau-hong tidak merintanginya, dapat dilihatnya di antara me¬reka ayah dan anak pasti ada hubungan perasaan yang sangat erat dan mendalam.
Tiba-tiba terkenang olehnya akan ayah-bunda sendiri, teringat dirinya yang hidup sendiri kesepian selama ini.
Mendadak suara jeritan membuyarkan lamunannya. Suara jeritan yang timbul dari rumah kapal, suara Yap Soat. Sementara itu rumah kapal yang mengambang itu perlahan lenyap lagi dalam ke¬gelapan.
“Tidak dapat kau bawa pergi dia!” teriak Siau-hong.
Si bayangan tertawa, “Jika dia putriku, mengapa tidak boleh kubawa dia pergi?”
Suara tertawanya penuh rasa mengejek dan keji.
Dingin seluruh badan Siau-hong, tiba-tiba diketahuinya sesuatu yang menakutkan, teriaknya, “Kau bukan ayahnya! Kutahu kau ini Giok-su-kiam-kek Yap Leng-hong, tapi engkau bukan ayahnya.”
Tergelak si bayangan, katanya, “Peduli aku apanya, yang jelas akan kubawa serta dia, kembali dan beritahukan kepada Lau-to-pacu, jika dia ingin orang, suruh dia datang sendiri kepadaku.”
Makin jauh suara tertawanya, rumah kapal juga tidak tertampak lagi, rawa yang misterius kembali lagi sunyi dan gelap.
Siau-hong berdiri termangu dalam kegelapan, selang sekian la¬ma, tiba-tiba ia menghela napas dan berucap, “Tidak perlu kukembali untuk memberitahukan padamu, apa yang dikatakannya tentu sudah kau dengar dengan jelas.”
Dia tidak bicara kepada diri sendiri, sesudah rumah kapal itu pergi jauh, segera diketahuinya Lau-to-pacu telah berada di belakangnya.
Tidak perlu berpaling pun dia sudah tahu.
Lau-to-pacu memang betul sudah datang, ia pun menghela na¬pas panjang, “Apa yang dikatakannya sudah kudengar semuanya, ta¬pi selalu kupertahankan jarak cukup jauh denganmu, juga tidak mengganggu tindakanmu.”
“Kutahu engkau seorang yang dapat pegang janji,” kata Siau-hong.
“Apa pula yang kau ketahui?” tanya Lau-to-pacu.
Mendadak Siau-hong berpaling dan menatapnya, “A Soat bu¬kan putri Yap Leng-hong, tapi putrimu.”
Lau-to-pacu tidak menyangkal, juga tidak membenarkan.
“Justru lantaran Yap Leng-hong mengetahui hal ini, makanya kau ingin membunuh dia,” kata Siau-hong pula.
Lau-to-pacu tertawa, tertawa sepet, ucapnya, .”Tak kusangka dia ternyata tidak mati.”
“Meski hidupnya terlebih menderita daripada mati, tapi dia se-bisanya bertahan.”
“Sebab dia ingin menuntut balas.”
“Tapi dia tidak berani mencarimu, terpaksa menggunakan cara ini agar kau yang mencari dia. Dia lebih hapal mengenai daerah ini, A Soat dijadikan pula sandera, maka kesempatannya jauh lebih besar daripadamu.”
Lau-to-pacu mendengus, “Hm, mestinya kukira engkau tidak mungkin tertipu, tidak tahunya
akhirnya kau tetap dapat diperalat orang.”
“Untung juga batas waktu perjanjian kita belum habis,” kata Siau-hong.
“Memangnya cara bagaimana dapat kau pergi? Meliuk ke sana serupa belut menyusup di tengah lumpur?” “Aku dapat membual sebuah rakit.”
Lau-to-pacu termenung sejenak, katanya kemudian, “Rakit yang kau buat dapat muat dua orang?”
“Rakit yang dibuat dua orang bersama baru dapat memuat dua penumpang.”
“Hah, tampaknya orang ini tidak pernah mau dirugikan,” ucap Lau-to-pacu dengan tertawa.
Maka kedua orang lantas bekerja keras, dalam sekejap saja belasan pohon sudah mereka tebang, bukan ditebang dengan senjata, tapi ditebas dengan telapak tangan.
“Kau yang membersihkan ranting dan daun, aku akan mencari tali,” kata Lau-to-pacu.
Siau-hong menyengir, “Bekerja bersama orang semacam kau, ingin tidak rugi juga sukar.”
Meski dia tahu tugas sendiri terlebih berat, terpaksa ia menurut, sebab ia juga tidak tahu kemana akan mencari tali.
Lau-to-pacu juga tidak dapat mencari tali, baru saja Siau-hong berjongkok, kontan telapak tangan Lau-to-pacu menabas kuduknya, segera dia rebah serupa pohon tumbang.
Cuaca suram kelam, juga penuh kabut.
Waktu Siau-hong siuman, dirasakan sudah berbaring di tempat tidur Liu Jing-jing yang besar itu.
Tidak ada orang di dalam rumah, pada meja kecil di ujung tempat tidur ada sebotol arak, di bawah botol tertindih secarik kertas yang tertulis: “Maaf, salah tangan dan melukai lehermu, syukur ada arak dapat sekedar menghilangkan rasa kagetmu, bila mendusin, silakan minum seadanya, sekitar lohor nanti akan kudatang lagi untuk omong-omong.”.
Habis membaca surat singkat itu barulah dirasakan oleh Siau¬hong lehernya kesakitan hingga
menoleh saja sukar.
Dengan sendirinya bukan Lau-to-pacu salah tangan memukulnya. Akan tetapi mengapa Lau-to-pacu perlu menyergapnya? Me¬ngapa tidak membiarkannya pergi menolong Yap Soat.
Apakah di balik semua ini masih ada rahasia yang tidak boleh diketahui orang?
Dia tidak mengerti, maka tidak dipikirkan lagi, ia angkat botol arak terus dituang ke dalam mulut.
Sesudah isi setengah botol masuk perut, tiba-tiba di luar ada suara anjing menggonggong, semula cuma ada suara seekor anjing, mendadak berubah menjadi suara gonggong tujuh atau delapan ekor, baik anjing kecil, besar, jantan dan betina, semuanya ada, ramai sekali suaranya.
Di lembah pegunungan sunyi ini, darimana datangnya anjing sebanyak ini?
Tentu saja Siau-hong heran dan ingin tahu, baru saja ia mem¬buka pintu, mau tak mau ia tercengang.
Di luar tiada seekor anjing pun, yang ada cuma satu orang. Seorang berbaju hitam, kurus kering, muka pucat, tapi mata bersinar tajam.
Siau-hong menghela napas, tegurnya, “Sesungguhnya kau manusia atau anjing?”
“Bukan manusia juga bukan anjing,” sahut Kian-long-kun, si jaka anjing.
“Kau ini barang apa?” tanya Siau-hong pula.
“Aku juga bukan barang, maka kudatang mencari dirimu.”
“Untuk apa mencariku?”
“Kau terima suatu permintaanku dan akan kuberitahukan dua kabar kepadamu.”
“Kabar baik atau kabar buruk?”
Kian-long-kun tertawa, “Sesuatu yang keluar dari mululku masa ada kabar baik?”
Siau-hong juga tertawa, mendadak tangannya bergerak, secepat kilat ia cepit hidung orang dengan dua jari.
Kedua jari yang paling berharga di dunia persilatan, jari sakti yang paling terkenal dan tidak ada bandingannya.
Pada hakikatnya Kian-long-kun sama sekali tidak mampu mengelak, sekalipun tahu jelas kedua jari itu akan mencepit hidungnya tetap juga tidak sanggup menghindar.
Dengan tersenyum Siau-hong berkata, “Konon hidung anjing peka daya ciumnya, anjing yang tak berhidung, hidupnya pasti tidak enak.”
Muka Kian-long-kun tampak merah padam, napasnya sesak.
Siau-hong lantas melepaskan jarinya dan berkata, “Nah, kata¬kan dulu kabar yang kau bawa.”
Kian-long-kun menghembuskan napas lega, lalu menjawab, “Kabar apa?”
Siau-hong tertawa pula, mendadak secepat kilat tangannya be¬kerja lagi dan hidung orang kembali dicepitnya dengan dua jari. Dan Kian-long-kun tetap tidak mampu mengelak.
Kembali Siau-hong melepaskan jarinya, lalu bertanya pula de¬ngan tersenyum, “Nah, kabar apa?”
Sekali ini terpaksa Kian-long-kun bicara sejujurnya, sebab da¬pat ditarik kesimpulan, asalkan Liok Siau-hong turun tangan, setiap saat hidungnya pasti akan terjepit semudah kucing menerkam tikus.
“Ciangkun hampir mati, Yap cilik menghilang,” inilah berita yang dikatakannya, memang berita buruk.
“Masa tidak ada yang tahu kemana perginya Yap cilik?” tanya Siau-hong.
“Jika anjing saja tidak tahu, apalagi manusia,” ujar Kian-long-kun atau si jaka anjing dengan menyengir. “Dan bagaimana dengan Ciangkun?” “Ciangkun sedang menunggu ajal.”
“Aku cukup tahu betapa berat seranganku jelas aku tidak hendak membinasakan dia.”
“Kecuali dirimu, masih ada orang lain.”
“Biarpun orang lain yang membunuhnya, tetap aku yang akan ditagih hutang.”
“Makanya supaya kau tahu aku bermaksud baik, hubungan Ciangkun dengan Lau-to-pacu biasanya sangat erat.”
“Makanya aku pun perlu menerima permintaanmu, begitu?” “Aku cuma minta kau bawa diriku pada waktu kau hendak pergi.”
“Hanya ini saja?” tanya Siau-hong.
“Bagimu hal ini adalah urusan kecil, tapi merupakan urusan besar bagiku.”
“Baik, kuterima,” kata Siau-hong.
Mendadak Kian-long-kun barlutut dan menyembah tiga kali padanya, lalu menengadah dan menghela napas lega, serunya, “Sayang aku tidak berekor, kalau ada, sedikitnya ekorku akan bergoyang sepuluh kali setiap kali melihat dirimu.”
“Dimana Ciangkun menanti ajal?”
“Dengan sendirinya di Ciangkunhu (istana panglima),” tutur Kian-long-kun.
Ciangkunhu yang dimaksudkan dikelilingi hutan lebat, Kian-long-kun sudah pergi, tapi di tengah hutan itu ada suara napas orang serupa napas anjing.
Mending orang itu masih bisa bernapas, sedangkan napas Ciangkun sudah berhenti.
Dengan napas terengah seorang menunggangi tubuh Ciangkun dan mencekik lehernya.
Orang ini tarnyata Tokko Bi adanya.
Siau-hong rnemburu maju, sekali hantam Tokko Bi dibikin mencelat. Wajah Ciangkun tampak pucat, jantung masih berdetak, mata belum tertutup dan memandang Siau-hong dengan memohon belas kasihan, seperti ingin bicara apa-apa, biasanya sesuatu yang diucapkan seorang mendekati ajalnya kebanyakan adalah urusan penting dan rahasia.
Sayang satu kata saja tak sanggup diucapkannya. Waktu Liok Siau-hong mendekatkan teling”anya ke mulut orang, denyut jantung Ciangkun sudah berhenti.
Napas Tokko Bi masih tersengal-sengal.
Siau-hong menjambret leher bajunya dan membentak, “Kalian bermusuhan?”
Tokko Bi menggeleng.
“Apakah dia hendak membunuhmu?”
Tokko Bi tetap menggeleng.
“Habis mengapa hendak kau bunuh dia?”
Tokko Bi menatapnya dengan tajam, napasnya sudah tenang kembali, tiba-tiba ia balas bertanya, “Memangnya kau sangka aku benar-benar Tokko Bi yang tidak kenal sanak dan tahu famili?”
Siapa pun tidak menyangka dia akan bertanya demikian, Siau-hong juga tercengang, “Memangnya kau bukan Tokko Bi?”
Tokko Bi menghela napas, tiba-tiba ia mengucapkan kata-kata yang lebih mengejutkan, “Lepaskan celanaku!”
Siau-hong balas menatapnya sampai sekian lamanya, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Selamanya aku tidak pernah membuka celana orang lelaki, tapi sekali ini harus dikecualikan.”
Tokko Bi diketahui sudah kakek, tapi daging bagian pantatnya ternyata masih padat seperti anak muda.
“Adakah kau lihat uci-uci di situ?”
Dengan sendirinya Siau-hong melihatnya dengan jelas, uci-uci ini cukup besar dan dapat dipandang dari tempat jauh.
“Korek uci-uci itu dengan pisau ini,” kata Tokko Bi pula sambil menyodorkan sebilah pisau.
Selama hidup Siau-hong entah betapa banyak telah melakukan hal-hal yang aneh, tapi waktu menerima pisau itu, tidak urung ia merasa ragu sekian lama, habis itu baru uci-uci itu dipotongnya.
Darah mengalir, satu biji bola emas menerobos jatuh dari uci-uci yang terbelah itu.
“Potong bola emas itu,” kata Tokko Bi.
Waktu pisau memotong baru diketahui bola emas ini terbuat dari lilin, di dalamnya terdapat sepotong kain kuning dan tertulis, “Sun Put-pian, murid keempat ketua Bu-tong-pay sekarang, atas perintah, menyamar dan berganti rupa untuk menyelidiki jejak murid murtad. Yang berkepentingan supaya maklum.”
Di bawah tulisan ada cap kebesaran ketua Bu-tong-pay dan tanda tangan Ciok-cinjin, pejabat ketua.
“Inilah bekal bagiku dari pejabat ketua untuk membuktikan siapa diriku sebenarnya bilamana perlu,” kata Tokko Bi.
Siau-hong memandangnya dengan tercengang, akhirnya ia menghela napas dan berkata, “Tampaknya engkau memang tidak mirip Tokko Bi yang sebenarnya.”
“Sebelum masuk Bu-tong-pay, semula aku murid Hoa Si-koh. Ilmu rias keluarga Hoa termashur dan tiada bandingannya di dunia, tapi agar lebih aman kumasuk pula ke perguruan Tokko Bi dan menjadi budak di sana, sedikitnya kugunakan waktu sepuluh bulan untuk belajar menirukan gerak-gerik dan suaranya, setelah kurasakan segala sesuatu cukup sempurna dan tiada setitik ciri pun, barulah kutinggalkan sana.”
“Kau bunuh dia?” tanya Siau-hong.
Sun Put-pian mengangguk, “Dengan sendirinya tidak kubiarkan orang lain menemukan seorang Tokko Bi lagi.”
“Siapa murid murtad yang kau cari?”
“Yang pertama ialah Giok Ho.”
“Sekarang sudah kau temukan dia?”
“Ya, semua juga berkat dirimu.”
“Ciong Bu-kut juga mati di tanganmu?”
“Dia juga murid murtad Bu-tong-pay,” tutur Sun Put-pian. “Tidak boleh kubiarkan dia hidup.”
Gemerdep sinar mata Liok Siau-hong, “Pada waktu mudanya bukankah Giok-su-kiam-kek juga murid Bu-tong-pay?”
“Ya, dia dan Ciong Bu-kut sama-sama murid Bu-tong dari ke¬luarga swasta, keduanya sama dipecat oleh kakek guru kami, Bwe-cinjin.”
Bwe-cinjin adalah Suheng Bok-tojin, mengetuai Bu-tong-pay selama 17 tahun dan kemudian jabatan ketua diserahkan kepada Ciok Gan, pejabat ketua sekarang.
“Cukup lama kami mempelajari keadaan,” tutur Sun Put-pian, “Kesimpulan kami akhirnya menganggap paling aman adalah menyamar sebagai Tokko Bi, cuma saying …”
“Cuma sayang, rahasiamu dapat diketahui oleh Ciangkun?!” tukas Siau-hong.
Sun Put-pian tersenyum getir, “Semua orang mengira lukanya sangat parah, aku pun hampir tertipu, siapa tahu orang yang bersembunyi di rumah untuk merawat luka itu bukanlah dia, melainkan seorang lain, dia sendiri senantiasa mengintai diriku.”
“Cara bagaimana dia mengetahui dirimu?”
“Dia memang sahabat lama Tokko Bi, banyak rahasia Tokko Bi masa lampau diketahuinya, sebaliknya aku tidak tahu. Aku terpancing oleh kata-katanya, terpaksa harus kubunuh dia untuk menghapus saksi.”
“Mengapa kau beritahukan rahasia ini kepadaku?” tanya Siau-hong.
“Keadaan cukup gawat, terpaksa kuberitahukan padamu,” jawab Sun Put-pian. “Jadi kuharap selain kau jaga rahasia bagiku, ju¬ga kuminta kau bantu diriku. Aku tidak dapat berdiam lagi di sini, harus pulang ke Bu-tong selekasnya.”
Dia menyengir, lalu berkata pula, “Dengan sendirinya kutahu engkau bukan seorang yang suka menjual kawan. Dengan sendiri¬nya kutahu engkau tidak bergendakan dengan isteri Sebun Jui-soat, hal itu tentu cuma alasan belaka dalam permainan sandiwara kalian untuk membongkar rahasis Yu-Ieng-san-ceng yang misterius ini.”
Kembali Siau-hong menatapnya hingga lama, tiba-tiba ia menghela napas panjang dan barkata, “Sayang, sungguh sayang.”
“Sayang apa?” tanya Sun Put-pian.
“Sayang kau salah lihat orang.”
Air muka Sun Put-pian berubah, teriaknya bengis, “Memang¬nya kau lupa siapa yang membawamu ke sini?”
“Aku tidak lupa,” jawab Siau-hong dengan dingin, “aku pun tidak lupa selama dua hari ini sudah tiga kali kau jebak diriku, kalau Lau-to-pacu tidak bertindak, tentu aku sudah mati di tanganmu.”
“Masa tidak dapat kau lihat semua itu sengaja kulakukan agar tidak dicurigai mereka?”
“Tidak, aku tidak tahu,” sahut Siau-hong.
Sun Put-pian menatapnya, katanya kemudian dengan gegetun, “Ai, baiklah, kau sangat baik.”
“Aku tidak baik, tidak baik sedikitpun,” ujar Siau-hong. “Jika demikian kau harus mati!”
Di tengah bentakannya, mendadak Sun Put-pian menubruk maju, langsung dia menutuk Hian-ki-hiat di dada Liok Siau-hong, jurus serangannya memang kungfu asli Bu-tong-pay, cepat lagi jitu.
Cuma sayang, waktu serangannya tiba, Hiat-to yang diarahnya sudah berganti tempat, Liok Siau-hong sudah bergeser ke samping.
Tangan Sun Put-pian membalik, kembali ia melancarkan tiga kali serangan berantai, serangan kuat, gerakan cepat.
“Murid Ciok-tojin memang hebat!” puji Siau-hong dengan gegetun. Selesai ucapannya, beberapa kali serangan Sun Put-pian itu kembali mengenai tempat kosong. Betapa cepat dia menyerang selalu Liok Siau-hong terlebih cepat selangkah.
Penggunaan dan gerak perubahan ilmu pukulan Bu-tong-pay tampaknya tidak lebih sedikit pengetahuan Liok Siau-hong daripada lawannya.
Mandadak Sun Put-pian berhenti menyerang dan melotot, tanyanya, “Kau pun pernah berlatih kungfu Bu-tong-pay?”
Siau-hong tertawa, “Aku tidak pernah belajar kungfu Bu-tong, tapi banyak sahabatku orang Bu-tong-pay.”
Sinar mata Sun Put-pian menampilkan secercah harapan pula, “Jika begitu, engkau lebih-lebih harus membantuku lari dari sini.”
“Cuma sayang, engkau bukan sahabatku,” ujar Siau-hong. “Kau tolong diriku satu kali, mencelakai aku tiga kali, sekarang aku mengalah sekian jurus seranganmu pula, utang-piutang kita sejak tadi sudah lunas.”
Sun Put-pian menjadi nekat, “Baik, silakan turun tangan!”
“Aku memang sudah siap turun tangan,” begitu selesai ucap¬annya, serentak ia pun menyerang, yang digunakan juga kungfu Bil¬tong-pay, ilmu pukulan maupun caranya menutuk.
Baru saja Sun Put-pian mengegos ke samping, secepat kilat Siau-hong memburu maju dan telapak tangannya tepat memotong pada pembuluh darah besar di bagian tengkuknya.
Pada waktu roboh, Sun Put-pian sempat memandang Liok Siau-hong dengan tercengang.
“Masa tidak kau ketahui aku mempunyai dua tangan?” ujar Siau-hong dengan tertawa.
Dengan sendirinya Sun Put-pian tahu, yang tidak diketahuinya adalah tangan seorang mengapa bisa bergerak secepat itu.
Lau-to-pacu berduduk di kursinya yang longgar besar dan su¬dah tua itu, ia pandang Liok Siau-hong, tampaknya sangat gembira.
Kursi tua serupa sahabat lama saja, dapat membuat orang merasa enak dan gembira.
Cuma sayang, Siau-hong tetap tidak melihat jelas wajah asli Lau-to-pacu.
Sun Put-pian menggeletak di depannya, tapi tidak dipandangnya barang sekejap, tampaknya perhatiannya terhadap Liok Siau-hong jauh lebih besar daripada terhadap siapa pun.
“Orang ini mata-mata musuh, agen Bu-tong-pay,” tutur Siau-hong.

“Mengapa tidak kau bunuh dia?” tanya Lau-to-pacu.

“Aku tidak berhak membunuh orang, juga tidak ingin membunuh orang,” jawab Siau-hong.

“Jika begitu harus kau bebaskan dia.”

“Bebaskan dia?” Siau-hong melengak.

“Mata-mata musuh yang sesungguhnya sudah mati semua. Tidak pernah ada agen rahasia musuh dapat hidup lebih tiga hari di sini,” kata Lau-to-pacu.

“Masa dia bukan agen rahasia musuh?”

“Dengan sendirinya dia agen rahasia, tapi bukan agen rahasia Bu-tong-pay melainkan mata-mataku. Sekian tahun yang lalu sudah kukirim dia ke Bu-tong-pay sebagai agen rahasiaku.”

Siau-hong melongo.

Lau-to-pacu tertawa gembira, “Apapun juga kau harus berterima kasih padanya.”

“Untuk apa aku berterima kasih padanya?”

“Justru lantaran dia, dapat kupercayai kau sepenuhnya.”

“Dia juga utusanmu untuk menguji diriku?”

Lau-to-pacu tertawa, “Ada sementara orang pembawaannya adalah agen rahasia. Asalkan kau beri tugas agen rahasia padanya, pekerjaannya pasti takkan mengecewakan.”

“Dan orang ini pembawaannya adalah agen rahasia?”

“Ya, dari ubun-ubun hingga ujung kaki.”

Siau-hong menghela napas, sekali depak Sun Put-pian mencelat serupa bola.

Lau-to-pacu juga menghela napas, ucapnya, “Di sinilah letak kejelekan menjadi agen rahasia. Orang semacam ini serupa keledai saja, harus setiap saat siap menerima depakan orang.”

“Aku cuma mendepaknya sekali,” ujat Siau-hong.

“Masih ada sebelah kakimu, hendak kau depak siapa?” tanya Lau-to-pacu.

“Depak diriku sendiri.”

“Masa kau pun agen rahasia?”

“Aku bukan agen. Aku cuma keledai. Keledai dungu,” ucap Siau-hong dengan gemas. “Sebab aku ingin menolong putri orang dengan mati-matian, hasilnya adalah sekali pukulan yang tepat mengenai kudukku.”

“Padahal kau sendiri harus tahu, tidak nanti kubiarkan kau tolong dia,” ucap Lau-to-pacu dengan gegetun.

“Aku tidak tahu,” kata Siau-hong.

“Rawa itu di mana-mana terdapat perangkap yang bisa mematikan orang. Juga ada pasir bergerak, sekali kejeblos, lenyaplah selamanya. Mana boleh kubiarkan kau menyerempet bahaya ke tempat begitu?”

“Mengapa tidak boleh?”

“Sebab aku memerlukan tenagamu,” kata Lau-to-pacu lebih lanjut. “Ciangkun dan Ciong But-kut sudah mati. Sekarang kaulah tangan kananku. Jika aku kehilangan lagi tangan kanan, betapa besar rencana kerjaku juga akan gagal.”

“Maksudmu, mulai sekarang engkau tidak dapat kehilangan aku?”

“Ya,” jawab Lau-to-pacu tegas.

Siau-hong tertawa. Pada waktu tertawa itulah tiba-tiba ia melayang maju serupa burung elang dan tangannya juga serupa cakar. Sasaran cengkeramannya adalah caping yang dipakai Lau-to-pacu.

Namun Lau-to-pacu tetap berduduk di atas kursi dengan tenang, sedang cengkeraman Liok Siau-hong lantas mengenai tempat kosong. Padahal biarpun kelinci yang paling licin dan gesit juga sukar lolos dari cengkeraman elang ini. Cara turun tangan Liok Siau-hong jelas terlebih cepat dan jitu daripada cengkeraman elang.

Namun cengkeramannya mengenai tempat kosong. Sebab Lau-to-pacu berikut kursinya mendadak meluncur ke samping. Kursi besar itu seolah-olah lengket pada pantatnya dan dapat digeser kian kemari.

Siau-hong menghela napas. Ia melayang turun. Ia tahu sekali luput menyerang, serangan kedua terlebih sukar mengenai sasarannya.

“Kau ingin melihat diriku?” tanya Lau-to-pacu.

“Kau minta ku mati. Sedikitnya, harus kau perlihatkan dulu padaku sesungguhnya engkau ini orang macam apa?” ucap Siau-hong dengan menyengir.

“Aku tidak sedap dipandang,” kata Lau-to-pacu, “Aku pun tidak minta kau mati bagiku. Bilamana usaha ini berhasil, kita akan sama-sama untung.”

“Jika gagal?” tanya Siau-hong.

“Biarpun kau mati juga tidak rugi apa-apa,” ujar Lau-to-pacu dengan hambar. “Engkau memang seorang mati.”

“Kau bangun Yu-leng-san-ceng ini memang sengaja mencari orang untuk menyerempet bahaya bagimu?”

“Orang yang datang ke sini memangnya harus mati satu kali. Apa alangannya jika mati sekali lagi?”

“Orang mati satu kali. Bisa jadi terlebih takut mati lagi?”

Lau-to-pacu sependapat, “Tapi sembunyi di sini apa bedanya dengan mati?”

Siau-hong menghela napas. Ia mengakui perbedaannya me mang tidak banyak.

Sorot mata Lau-to-pacu setajam sembilu terpancar dari balik capingnya, tanyanya tiba-tiba, “Maukah kau berdiam selamanya di sini?”

Segera Siau-hong menggeleng kepala.

“Kecuali kita berdua, di sini masih ada seorang tamu dan rasanya sudah pernah kau lihat. Coba katakan, apa yang kau lihat?”

Siau-hong menyengir, “Rasanya aku tidak melihat apa-apa.”

“Dengan sendirinya tak dapat kau lihat. Sebab tindak-tanduk mereka sudah tergosok rata. Tiada satu pun yang menonjol sehingga tampaknya mereka adalah orang biasa saja.”

“Padahal?” tanya Siau-hong.

“Orang yang mampu datang ke sini pasti tergolong jago kelas tinggi. Setiap orang pasti mempunyai sejarah sendiri yang gilang-gemilang. Serupa dirimu, mereka pun tidak mau kesepian, tiada seorang pun rela berdiam selama hidup di sini.”

Mendadak suaranya bertambah lantang dan sangat gembira, “Dan kesempatan satu-satunya bagi semua orang untuk melihat sinar matahari dengan bebas adalah berhasilnya pekerjaan ini.”

“Sesungguhnya urusan apa?” akhirnya Siau-hong bertanya.

“Selekasnya kau akan tahu.”

“Selekasnya itu kapan?”

“Ialah sekarang.”

Baru habis ucapannya, terdengarlah suara genta bergema pula. Lau-to-pacu berbangkit, katanya dengan suara gembira, “Namun kita harus makan dulu. Makan siang hari ini kujamin pasti sangat memuaskan seleramu.”

Hidangan memang banyak tapi araknya sangat sedikit. Jelas Lau-to-pacu menghendaki pikiran setiap orang selalu dalam keadaan sadar. Akan tetapi ia sendiri justru menghabiskan satu piala penuh berisi anggur Persi, malahan dituang penuh lagi.

Untuk pertama kalinya Siau-hong melihat Lau-to-pacu minum arak. Diam-diam ia membatin, “Hari ini pasti hari bahagia baginya. Mungkin sudah sangat lama dia menunggu datangnya hari ini.”

Semua orang sama menunduk dan makan tanpa bicara, tapi semuanya makan sangat sedikit, kebanyakan juga tidak minum arak.

Siau-hong sendiri minum lebih banyak, lalu diamat-amatinya orang-orang ini dengan pandangan gembira. Meski semua orang ini sama memakai jubah panjang yang longgar, tapi di dalam ruangan yang guram, ada beberapa orang di antaranya kelihatan terlebih menyolok.

Seorang lelaki kekar berwajah penuh panu. Sehabis minum dua cawan arak, panu pada mukanya lantas mencorong seperti mata uang. Seorang lagi bermuka merah dan berjenggot panjang. Tampaknya mirip Kwan Kong di atas panggung.

Seorang gendut, perut buncit. Seorang berwajah kereng serupa hakim pengadilan. Seorang nenek ompong tapi rakus makannya. Masih ada lagi beberapa kakek tinggi kurus dan sangat pendiam, yang menyolok mungkin adalah karena pendiamnya mereka.

Kecuali Liu Jing-jing, yang berusia paling muda adalah seorang pendek kecil serupa anak belasan tahun, bermuka bulat. Dan yang berusia paling tua adalah beberapa kakek pendiam itu.

Liok Siau-hong berusaha menyelidik. Ingin ditemukan asalusul orang-orang ini dari ingatannya. Orang pertama yang mudah teringat adalah lelaki penuh panu itu, ‘Kim-ci-pa’ Hoa Gui, si macan tutul.

Perawakan orang ini tinggi besar. Arak yang diminumnya pasti tidak lebih sedikit daripada Liok Siau-hong. Gerak-geriknya lamban. Mukanya yang penuh panu membuatnya kelihatan agak lucu. Akan tetapi bila Am-gi atau senjata rahasianya dihamburkan, orang pasti takkan merasa lucu lagi.
Keluarga Hoa di daerah Kanglam adalah ahli Am-gi turun temurun dan sangat termashur di dunia Kangouw. Hoa Gui ini adalah anak murid keturunan langsung keluarga Hoa. Malahan ada orang bilang kepandaian Am-gi Hoa Gui sudah termasuk satu di antara ketiga ahli Am-gi di seluruh dunia ini.

Siau-hong coba memandangnya lagi. Kelihatan tidak sedikit arak ditenggaknya, namun gerak tangannya tetap sangat mantap.

Lantas orang yang berwajah angker itu apakah bukan Toh Thisim, kepala seksi hukum pada gabungan 72 gerombolan bandit yang sangat ditakuti pada 20 tahun yang lalu?

Dan nenek itu apakah bukan lutung betina dari Cin-nia-siang-wan (dua lutung dari bukit Cin)? Konon lantaran berebut sebiji buah ajaib yang menurut cerita orang bisa membikin panjang umur dan awet muda, lalu dia tidak segan-segan menggorok leher lakinya sendiri, yaitu Seng-jiu-sian-wan Lo Tay-sing, si lutung sakti bertangan suci.

Dan siapakah beberapa kakek berbaju hitam yang pendiam itu? Juga si cebol yang bermuka bulat dan berkepala besar itu?”

Siau-hong tidak sempat berpikir lagi sebab diam-diam Liu Jing-jing lagi menarik ujung bajunya dan mendesis, “Dimanakah binimu?”

Siau-hong melengak, tapi segera ingat yang ditanyakan adalah Yap Ling, jawabnya, “Kabarnya dia menghilang.”

“Apakah kau ingin tahu di mana dia?”

“Tidak ingin.”

Jing-jing mencibir. Ia sengaja berolok, “Dasar lelaki. Tidak ada lelaki yang berperasaan. Tapi justru ingin kuberitahukan padamu di mana dia.”

Lalu dia tahan suaranya dengan lebih lirih dan mendesis, “Saat ini dia pasti berada di dalam air.”

“Mengapa bisa berada di dalam air? Darimana kau tahu dia berada di dalam air?” tanya Siau-hong dengan heran.

“Sebab dia kabur dengan mencuri seperangkat baju menyelam dan sepasang cundrik (senjata di dalam air) milik orang.”

Siau-hong terkejut, ada dua hal yang membuatnya terkejut.

Pertama adalah baju dan senjata yang biasa digunakan penyelam itu. Alat itu juga dapat digunakan pada rawa-rawa. Apakah Yap Ling pergi mencari kakaknya? Darimana diketahuinya kejadian di rawa sana?

Kedua baju menyelam dan cundrik adalah senjata air yang terkenal di dunia Kangouw, milik seorang tokoh yang sangat termashur, yaitu Hui-hi-tocu Ih Hoan, kepala pulau Ikan Terbang. Bukan cuma namanya terkenal, kemahirannya menyelam juga sangat hebat. Ilmu pedangnya pun tidak lemah. Jika orang ini belum mati dan hadir di sini, selayaknya juga sangat menyolok. Akan tetapi Liok Siau-hong tidak menemukannya.

Rupanya Liu Jing-jing lagi menunggu reaksinya, maka tidak bicara lagi. Setelah berpikir, akhirnya Siau-hong bertanya, “Urusan ini diketahui Lau-to-pacu tidak?”

“Rasanya tidak ada sesuatu yang terjadi di sini tidak diketahui olehnya,” ujar Jing-jing.

Apakah mungkin kepergian Yap Ling mencari kakaknya juga atas izin Lau-to-pacu? Jika tidak, darimana ia tahu jejak Yap Soat?

Siau-hong tidak bertanya lagi sebab tiba-tiba diketahuinya ada seorang telah berada di belakang mereka tanpa suara.

Waktu ia menoleh, tertampak sebuah wajah tanpa muka, itulah Kau-hun-sucia yang selama ini tidak pernah tampil di depan umum. Suasana dalam ruangan besar tambah khidmat. Agaknya semua orang rada jeri terhadap manusia yang tidak punya muka ini!

Dia tidak duduk melainkan berdiri di belakang Lau-to-pacu dan tidak bergerak lagi. Pedang tergantung di pinggangnya. Sarung pedang berbentuk antik. Terdapat tujuh titik bekas bacokan golok. Jelas pada tempat bekas itu tadinya terbingkai batu permata. Bukankah pedang ini Jit-sing-pokiam (pedang pusaka bintang tujuh) milik Bu-tong-pay yang biasanya cuma dipakai oleh pejabat ketua sendiri.

Pada saat itulah mendadak Hay Ki-koat berdiri, lalu mengumumkan dengan suaranya yang lantang, “Operasi Halilintar dimulai!”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: