Kumpulan Cerita Silat

26/03/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (19)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:13 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (19)
Oleh Gu Long

Karena menahan sakit dan derita yang sangat, suara gemetar itu berubah parau, tapi Po-giok masih kenal siapa orang yang sedang sekarat itu.

Jantung Po-giok bergetar mata melotot gusar, desisnya geram, “kau Gui …”

Bayangan orang itu angkat kepala dan terbelalak kaget, di bawah cahaya rembulan yang redup, dilihatnya pemuda berbaju kumal di depannya ternyata adalah Pui-Po-giok yang lelah lama menghilang itu.

Wajah yang berkerut-kerut, menahan sakit itu, kini tampak gemetar menahan gejolak perasaannya, entah kaget atau senang.

“Po-ji,” teriaknya sambil meronta, “kau kah….lekas, lekas tolong aku. Lekas ….”

“Menolongmu?” bentak Po-giok murka, “kau tega berbuat sekeji itu terhadap Nyo-jit-siok, kau pun membunuh para paman yang lain, kau … kau … ingin aku cincang dan mencacah tubuh kau …”

Belum habis Po-giok bicara Gui-Put-tam sudah meringkal ketakutan. Ia kira rahasia perbuatannya tidak mungkin diketahui orang, siapa tahu kini Po-giok menelanjangi perbuatannya, betapa kaget, ngeri dan takut hatinya saat itu. “kau … dari mana kau tahu?” mendadak ia sadar kelepasan omong, dengan suara gemetar lekas ia menambahkan, “Tidak, aku tidak …”

Sekali raih Po-giok rengut baju dadanya dan menjinjingnya dengan kasar, bentaknya beringas, “Kamu masih ingin menipuku? Ketahuilah, aku menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri. Waktu kau turun tangan, aku berada dalam tanah di bawah kakimu.”

“Setan …. ” mendadak Gui-Put-tam menjerit kaget dan takut, “apakah kamu setan?”

“Betul,” desis Po-giok dengan tawa pedih. “aku setan. Aku inilah setan yang disuruh Nyo-jit-siok untuk merengut sukmamu.”

“Ampun … ampunilah aku,” ratap Gui-Put-tam dengan suara memilukan, “aku juga ditipu orang. Coba lihat, aku .. sekarang keadaanku juga amat menyedihkan.”

“Ya, memang ingin kutanya padamu, mengapa kamu mendadak berubah menjadi kejam dan tega melakukan perbuatan terkutuk membunuh Nyo-jit-siok? Kenapa pula keadaanmu sekarang jadi
begini?”

Sekilas tampak senyum memilukan di ujung bibir Gui-Put-tam, mata tampak berkaca-kaca, tubuh gemetar makin keras, Pandangannya makin buram, mulut mengigau, “Aku… aku sudah menunaikan tugas, kini tenagaku tidak diperlukan lagi, mereka … tentu mereka tidak mau mengampuni jiwaku. Meski kutahu akan akhir nasibku ini dan sudah berjaga-jaga, tapi…tetap tak luput dari kekejian mereka.”

“Sudah menunaikan tugas?” Po-giok kaget, “apakah … apakah para paman itu benar dibunuh olehmu?”

“Aku memang harus mati…. Dosaku tidak .. terampun… menyesal pun sudah terlambat,” demikian ratap Gui-Put-tam dengan sedih.

Bercucuran air mata Po-giok, bentaknya gusar, “kau …bayarlah jiwa mereka.”

Tangan sudah terangkat, tapi melihat sorot mata Gui-Put-tam yang penuh derita dan sesal wajah pucat dan basah oleh air mata, tak tega ia memukulnya.

“Bunuhlah aku … bunuhlah aku,” Gui-Put-tam sesambatan dengan tangis yang memilukan, “dengan membunuhku akan mengurangi dosa dan deritaku, aku … jiwaku takkan tahan lama lagi ….”

Po-giok mengepal tinju, bentaknya dengan serak, “Kenapa semua itu kau lakukan?”

“Karena tamak! Loba dan tamak telah menjerumuskan diriku,” ucap Gui-Put-tam dengan air mata meleleh, “aku … mengingkari sumpah terhadap guru yang memberi nama ‘Put-tam’ (tidak boleh tamak) terhadapku, biar mati aku malu menemui beliau di alam baka.”

Agaknya rasa sakit tak tertahan lagi, saking menderita, jari-jari tangannya mencengkeram tanah tubuh pun mengejang.

Mendadak teringat oleh Po-giok suara yang amat dikenal dari tokoh misterius itu, serunya, “Setelah kau bunuh Nyo-jit-siok di Kwi-kik-wan
tempo hari, siapakah orang yang bicara denganmu?”

Rintihan Gui-Put-tam makin lirih, napasnya justru memburu lebih keras, mulutnya megap-megap tak mampu mengeluarkan suara lagi.

Po-giok mencengkeram pundaknya. “Siapa dia? Siapa?”

Mata Gui-Put-tam terpejam, bibirnya kering keadaannya sudah sekarat, tidak sadarkan diri. Menjelang ajal, harta benda masih terbayang juga dalam benaknya, setelah Po-giok mengguncang-guncang tubuhnya, akhirnya mulutnya mengigau, “Mutiara, emas, mutu manikam … air…air…”

Saking gugup Po-giok tampar pipi orang seraya berteriak, “He, bangun, bangun! Katakan siapa dia sebenarnya?”

perlahan Gui-Put-tam membuka mata, dengan hambar dia menatap Po-giok, “Dia … dia …. ”

Mendadak dia menarik napas, tubuh yang meringkal karena menahan rasa sakit lebih mengkeret, akhirnya kaku tak bergerak lagi.

Malam terasa makin dingin.

perlahan Po-giok berdiri, sekian lama dia termangu di depan jenazah Gui-Put-tam, waktu angin mengembus lalu, tanpa terasa dia bergidik kedinginan.

Mata yang semula buram tak bersemangat itu kini menyala seperti bara. Sambil mengertak gigi, dia jinjing jenazah Gui-Put-tam lalu turun gunung.

Langkahnya lebar, tanpa menoleh lagi. Meski jalan pegunungan jelek dan sukar, tiada aral rintang di dunia ini dapat membendung tekad Po-giok. Di bawah gunung dia mencari suatu tempat yang cukup tersembunyi, di sana dia akan mengebumikan jenazah Gui-Put-tam.

Malam hening, mendadak terdengar suara manusia. Po-giok baru saja membaringkan jenazah Gui-Put-tam dalam sebuah gua. Mendadak ada cahaya api di luar gua. Dari suara dan derap langkahnya, Po-giok menduga yang datang cukup banyak jumlahnya.

Suara makin jelas, cahaya api juga tambah terang, jelas tujuan mereka menuju ke gua ini. Sekilas Po-giok bimbang, namun sigap sekali ia sembunyikan mayat Gui-Put-tam di tempat gelap, sementara dirinya menyelinap ke belakang batu.

Cahaya api sudah menyorot ke dalam gua, dua laki-laki mengangkat tinggi obor di atas kepala, dengan langkah lebar mereka masuk, sekilas mereka celingukan lalu berseru bersama, “Betul, memang di sini tempatnya, gotong masuk.”

Suara orang banyak mengiakan di luar, belasan laki-laki menggotong sebuah peti mati masuk ke dalam gua, peti mati itu masih baru, peliturnya mengkilap di bawah cahaya obor.

“Satu, dua, tiga, empat, lima, enam … tidak salah, memang enam,” demikian kata salah seorang pemikul peti mati itu, “syukur semua sudah kita angkut kemari. Mereka sudah mampus seluruhnya, sebaliknya kita harus menderita karenanya.”

“Ah, kenapa kau bilang begitu,” seorang temannya menanggapi, “dalam keadaan biasa, memangnya kamu setimpal memikul peti jenazah mereka.”

“Betul,” jengek laki-laki yang paling depan, “siang tadi orang-orang itu masih disanjung puji bagai pendekar atau ksatria, tapi sekarang semua sudah mampus. Orang hidup punya derajat tinggi dan rendah, setelah mati sama rata, meski waktu hidupnya dia seorang pendekar besar, setelah mati dia juga dikubur dalam liang lahat yang sama.”

“Sudahlah, kenapa ribut,” sela orang ketiga, “tugas kita masih banyak, mungkin masih belasan korban lagi yang harus kita gotong kemari.

Mendengar percakapan mereka, darah seperti mendidih di rongga dada Po-giok, ia maklum bahwa pertemuan di puncak Thai-san sudah mencapai taraf yang mencegangkan, terbukti dengan jatuhnya korban yang dikubur dalam gua ini. Diam-diam Po-giok amat menyesal bahwa orang banyak sudah pertaruhkan jiwa raga untuk memperebutkan “nomor wahid”, sementara dirinya masih sembunyi dalam gua yang gelap ini.

Seorang laki-laki yang membawa obor mendadak tertawa lebar, katanya, “Tugas kita memang melelahkan, tapi banyak orang merasa iri terhadap kita.”

“Apa yang mereka irikan?” tanya seorang lain, “kurasa hanya orang gila yang iri terhadap kerja berat ini.”

“Coba dengar dan buka lebar matamu,” kata laki-laki kekar pembawa obor itu, “betapa banyak orang kini berkumpul di puncak Thai-san, mereka berjejal di luar kalangan, paling hanya mendengar denting senjata beradu atau berkelebatnya sinar pedang dan golok, siapa bisa menonton dengan jelas seperti kita yang boleh hilir-mudik, keluar-masuk dengan bebas, meski dia seorang pendekar besar juga harus menyingkir memberi jalan kepada kita. Memangnya apa pula yang harus kita sesalkan dengan tugas yang membanggakan ini. Ayolah kawan-kawan, lekas selesaikan, pertandingan masih berlangsung dengan seru, sayang kalau tidak bisa menonton pertarungan sengit itu.”

Beramai-ramai rombongan pemikul peti mati beranjak keluar.

Dengan enteng, mendadak Po-giok melompat keluar dari tempat gelap, sekali tangan kiri mengebas, pemikul yang berjalan di belakang tertutuk tiga hiat-to di tubuhnya, tanpa mengeluarkan suara laki-laki ini roboh, sigap sekali Po-giok meraih tubuhnya terus diseret mundur cepat ia belejeti bajunya dan dipakainya.

Betapa cekatan gerak-gerik Po-giok, tiada satu pun rombongan pemikul itu tahu bahwa seorang temannya dikerjai oleh Po-giok, bergegas mereka beranjak pergi sambil bersenda gurau.

Po-giok seret tubuh orang itu ke samping batu, tak jauh dari mayat Gui-Put-tam, sejenak dia memanjatkan doa, tanpa terasa air mata meleleh di pipi, bergegas ia beranjak keluar menyusul rombongan pemikul tadi.

Kira-kira seminuman teh perjalanan, dari kejauhan terdengar suara riuh rendah, sorak-sorai bercampur tepuk tangan, entah pendekar ternama dari mana yang telah mengalahkan lawannya.

Makin dekat ke tempat tujuan, perasaan Po-giok seperti makin ciut, darah panasnya justru makin mendidih, kedua tangan mengepal lebih keras.

Ketika rombongan para pemikul ini tiba di atas gunung. Bulan purnama pun menghias cakrawala, sinar lampu dan obor terang benderang di tanah lapang yang berumput hijau seperti permadani.

Semangat Po-giok menyala, tapi kepala tunduk lebih rendah, meski mencampurkan diri dalam rombongan para pemikul itu, tapi dia tidak berani celingukan. Mereka turun dari punggung gunung, penonton di sebelah sini juga berjubel-jubel, melihat rombongan mereka, tanpa diminta mereka menyingkir memberi jalan.

Para pemikul itu saling memegang pundak, seperti barisan ular saja mereka menyelinap ke depan di tengah kerumunan orang banyak.

Po-giok ikut berdesakan di tengah rombongan itu dan terus maju ke depan. Hidungnya mengendus bau arak, bau keringat dan bau tembakau , sementara telinga mendengar pembicaraan orang banyak.

“Nah, lihat, Thian-siang-hwi-hoa (bunga berterbangan di angkasa) memang luar biasa, beruntun dia menang dua babak, padahal keringatnya belum keluar.”

“Memangnya kenapa kalau sudah menang dua babak? Bukankah Thian-to Bwe-Kiam, Poa-Ce-sia, Siau-hoa-jio Be Cek-coan, Ciang-Jio-bin, Au-yang-thian-kiau dan lain-lain juga sudah menang dua babak.”

“Ya, memang nasib mereka lagi baik, padahal Lu-Hun, Hi-Thoan-kah, Ing-Thi-ih kan belum unjuk diri, kalau mereka melawan beberapa orang ini, apa mereka mampu merebut kemenangan?”

“Bicara tentang orang-orang itu, aku jadi teringat kepada Pui-Po-giok … He, saudara, pasanglah mata dan kupingmu kalau berjalan, jangan main desak saja. Hm, kalau tenaga kalian tidak diperlukan untuk menggotong mayat,umpama yang datang raja juga jangan harap kuberi jalan.”

Di mana barisan ular rombongan pemikul itu lewat, penonton yang berdesakan itu menjadi ribut sama memaki dan berseloroh, suasana tambah ramai saja.

Sementara itu, beberapa laki-laki membawa ember, sedang mencuci noda darah di atas panggung, entah darah siapa yang berceceran di sana.

Tak jauh di pinggir kiri hui-tai (panggung pertandingan), terdapat sebuah meja bulat, enam atau tujuh orang duduk di belakang meja, rambut yang sudah ubanan, dengan wajah yang welas asih dan serius, siapa lagi dia kalau bukan Ting-lo-hu-jin.

Wajah nan merah bercahaya, dengan rambut putih tergelung rapi, di atas kepala, dia bukan lain adalah Bu-sia To-tiang. Bertubuh kurus kering seperti kayu hangus, tapi berwajah tenang seperti air bening, itulah It-bok Tai-su, sedang yang duduk di pinggir dengan berkerut alis seperti dirundung susah, jelas dia Ban Cu-liang.

Hanya sekilas Po-giok melirik ke situ lalu menoleh ke kanan. Di sebelah kanan hui-tai ternyata juga duduk beberapa orang.

Poa-Ce-sia yang bersikap wajar, selalu tertawa dan banyak omong. Au-yang-thian-kiau membusung dada dengan sikap yang kereng. Siau-hoa-jio Be Cek-coan bertubuh sedang kelihatan tangkas wajah pun berseri-seri. Bu-ceng Kong-cu Ciang-Jio-bin berpakaian necis, wajah putih bersih, alis tegak dan mata memandang ke atas, sikapnya congkak menyebalkan.

Sementara Thian-to (golok langit) Bwe-Kiam duduk menunduk, sibuk membersihkan golok sabitnya yang mengkilap itu, seolah-olah tidak ambil perhatian terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya.

Sementara Thian-siang-hui-hoa Ling-Peng-hi yang digembar-gemborkan bakal menduduki tempat pertama, kelihatan duduk prihatin, bukan saja tidak bersikap angkuh, bangga atau puas sebaliknya sinar matanya menunjuk perasaan yang resah.

Beberapa orang yang lain kelihatan bersemangat, sorot mata mereka tetap menyala, jelas mereka orang gagah yang terkenal dan menjagoi
daerah masing-masing, sayang Po-giok tidak kenal mereka.

Setelah berada di belakang panggung, mereka mulai sibuk kerja lagi. Dari celah-celah tonggak panggung yang gede-gede itu, Po-giok lihat di depan panggung paling dekat juga duduk berkerumun banyak orang. Orang-orang ini tidak ikut bertanding, namun mereka adalah para pendekar dan orang gagah yang sudah ternama di kang-ouw, adalah logis kalau kehadiran mereka di sini memperoleh prioritas yang tidak mungkin diperoleh orang lain.

Majikan Kwi-kik-wan Ce Sing-siu, Ban-tiok-san-ceng Ceng-cu, istri Au-yang-thian-kiau, putri kesayangan Ting-lo-hu-jin Ting-si-siang-kiat juga berada dalam rombongan ini.

Bila Po-giok lanjutkan pandangannya ke arah kiri, ia lihat beberapa orang yang selama ini sudah amat dirindukan.

Perawakan Thi-wah yang tinggi besar dan kekar, seperti burung bangau berdiri di tengah kerumunan ayam, kehadirannya paling menyolok di antara orang banyak, tapi pada wajahnya tidak kelihatan sikap jenaka, riang dan kocak seperti biasanya, kedua alis yang tebal itu malah berkerut erat. Betapa rindunya terhadap sang “toa-ko” sedetik pun tidak terlupakan.

Kim Co-lim masih terus minum, tampaknya sudah beberapa hari dia tidak sadar, sikapnya loyo dan mukanya juga kurus. Kecuali mabuk dan mabuk, entah dengan cara apa supaya dapat melupakan musibah dan deritanya selama ini.

Melihat kedua orang ini, jantung Po-giok seperti hendak melompat ke luar, tanpa terasa mata berkaca-kaca.

Lebih jauh dia juga menemukan Bok Put-kut dan Ciok-Put-wi. Semula dia kira kedua orang ini sudah celaka, kini mendadak melihat mereka, betapa senang dan lega hatinya.

Namun wajah Bok Put-kut yang kelihatan kurus pucat dan lelah membuatnya terharu. Untung masih ada Ciok-Put-wi yang kukuh dan tenang selalu mendampinginya, kalau tidak, ingin rasanya dia lari ke sana dan memeluk Toa-su-pek yang baik dan welas asih ini serta menangis sepuas-puasnya dalam pelukannya.

Pada saat Po-giok terlongong itulah, suara Ting-lo-hu-jin yang berwibawa berkumandang di atas panggung. Hadirin seketika diam dan tenang.

“Sudah dua puluhan babak pertandingan diselesaikan, dalam sepuluh jurus sudah menentukan kalah menang, sungguh di luar dugaan, dari sini dapat kita simpulkan. bahwa kungfu para pemenang itu memang jauh lebih tinggi tarafnya.

Bahwa dalam kang-ouw bermunculan jago-jago kosen yang masih muda usia, sungguh aku sangat senang.”

Kata-katanya berat dan jelas, lahirnya dia bilang senang, padahal perasaannya amat berat dan prihatin.

Setelah menghela napas, ia lanjutkan, “Kini sudah memasuki babak kedua, kuyakin pesertanya adalah pilihan dari sekian banyak jago yang paling kosen, pihak mana pun yang terluka atau gugur merupakan kehilangan kaum Bu-lim umumnya. Oleh karena itu kami anjurkan, pada waktu tanding nanti, masing-masing pihak harap dapat membatasi diri, cukup menentukan kalah menang saja, hal ini akan merupakan keuntungan kaum Bu-lim seluruhnya.”

Komentar itu dilontarkan dengan suara lantang, dengan tulus dan luhur, namun jago-jago yang siap bertanding tetap sibuk membersihkan senjata masing-masing, yang termenung tetap termenung, yang tertunduk juga tidak mengangkat kepala, seolah-olah tiada seorang pun peduli nasihat itu.

Sekilas Ting-lo-hu-jin memandang sekeliling, lalu menghela napas panjang, “Baiklah, untuk menyingkat waktu, babak kedua kita lanjutkan. Untuk ronde pertama, yang akan tampil adalah Tin-thian-pi-lik Kho Tiu melawan Giok-bin-kiam-khek Sun Cau.”

Tin-thian-pi-lik Kho-Tiu berperawakan tegap dan besar, sikapnya yang kereng menciutkan nyali orang, berpakaian ketat terbuat dari sutera, golok berpunggung tebal yang berat dan panjang seperti mainan kanak-kanak saja baginya.

Giok-bin-kiam-khek Sun-Cau berwajah putih kepucat-pucatan, kaki tangannya kelihatan halus, alisnya lentik matanya jeli. meski sikap dan wajahnya tampak gagah tapi tindak-tanduknya yang lembut lebih mirip orang perempuan.

Seolah-olah kedua orang itu sudah ditakdirkan untuk bermusuhan, yang satu keras dan yang lain lemas. Tapi kaum Bu-lim sama tahu bahwa kedua orang ini adalah sahabat kental.

Namun nasib mempertemukan mereka di atas hun-tai, hadirin tertarik, semua ingin tahu, apakah dua sahabat karib ini akan saling bunuh atau mau mengalah?

“Sun-heng, silakan memberi petunjuk.” Kho Tiu buka suara dengan lantang.

Sun Cau tersenyum, “Kho-heng, mohon belas kasihanmu.”

Belum habis bicara. Kaki kiri mendadak menyilang ke pinggir, pedang yang terangkat lurus di depan dada mendadak terayun ke depan.

Kelihatan jurus pedang ini ganas lagi cepat, padahal gerakan itu hanya merupakan pemberian hormat kepada Kho Tiu.

Kho Tiu menekan telapak tangan kiri ke bawah, begitu lengan bergerak golok pun terayun, gaya ini pun merupakan tanda hormat.

Mereka saling pandang sekejap lalu mengangguk bersama pula, setelah itu keduanya bergerak dengan lincah dan tangkas, sinar golok dan cahaya pedang berseliweran, turun-naik berputar memenuhi panggung.

Belasan jurus kemudian, hadirin sudah tahu bahwa kedua orang yang bertanding ini tiada maksud berebut kemenangan, gerak pedang dan serangan golok memang kelihaian keras dan lihai, tapi keduanya tidak sepenuh tenaga melontarkan serangan. Siapa bakal kalah dan menang pada ronde pertama di babak kedua ini seolah-olah sudah ada perjanjian. Bahwa mereka bertarung di atas lui-tai tidak lebih hanya untuk pamer kepandaian belaka.

Ilmu pedang Sun Can memang lihai, permainan golok Kho Tiu juga hebat. Tapi hadirin menjadi sebal menonton pertandingan yang tidak sungguh-sungguh ini, lama kelamaan pcnonton menjadi ribut, ada yang melengos dan bicara sendiri dengan kawan-kawan. Hanya Ting-lo-hu-jin saja yang
tampak manggut-manggut dengan tersenyum puas.

Sekonyong-konyong sinar pedang lembayung menggubat sinar golok. “Trang” pedang dan golok beradu dengan keras. Di tengah benturan keras itu pedang di tangan Sun Cau tampak mencelat ke udara.

Hadirin melengong, Kho Tiu sendiri juga kaget, sinar matanya tampak menyesal dan minta
maaf, jelas dia tidak sengaja membuat malu Sun Cau di depan umum. Tapi gerak-gerik Sun Cau
cukup cekatan, reaksinya juga cepat, baru saja pedangnya terlepas, tiba-tiba tubuhnya melayang tinggi mengejar pedang, “crap,” baru saja pedang menancap di belandar panggung, sekali raih lantas dicabutnya.

Tampak mukanya merah padam, bola matanya juga merah membara saking murka, karena malu ia menjadi gusar. Begitu pedang berada di tangan, di tengah udara ia jungkir balik, menukik turun dan menerjang ke arah Kho Tiu. Saking gusar Sun Cau melancarkan jurus paling ganas dari Loh-ing-kiam-hoat.

Kecuali menyesal Kho Tiu juga kaget menghadapi reaksi kawannya, maka ia berdiri kaku seperti tidak mampu bergerak.

Di tengah jeritan kaget para penonton, sinar pedang pun berkelebat, menyusul terdengar jeritan Kho Tiu yang mengerikan, darah pun berhamburan, Kho Tiu roboh mandi darah.

Pedang Sun Can menusuk leher kiri, tembus di ketiak kanan, sekali tusuk menamatkan jiwanya.

Penonton hanya melongo mengawasi musibah yang tidak terduga ini mereka yang duduk berjingkrak berdiri, yang berdiri ingin menyerbu ke atas panggung. Pedang masih menancap di tubuh Kho Tiu.

Giok-bin-kiam-khek Sun Cau berdiri kaku di tempatnya, wajah yang pucat menjadi lebih putih. darah sahabatnya muncrat membasahi pakaian dan selebar mukanya.

Suasana hening lelap.

Terdengar Kho Tiu merintih perlahan, napas berat dan makin lemah. Sekuatnya ia meronta, “Aku … tidak sengaja ….” suara yang gemetar mendadak putus. Riwayat hidupnya yang cemerlang selama ini berakhir begitu saja.

Mendadak Sun Cau mendongak sambil berloroh-loroh, “Bagus … matilah semuanya…”

Di tengah loroh tawanya yang serak, mendadak pedang dicabutnya, sekali putar ujung pedang, sekuatnya ia tusuk tenggorokan sendiri.

Di belakang panggung, Po-giok angkat jenazah kedua orang ini ke dalam peti mati. Betapa duka dan haru hatinya saat itu, rasanya tidak tega menyaksikan lebih lanjut.

Tapi pertandingan tidak berhenti karena jatuhnya korban, darah masih terus mengalir. “Ronde kedua!” teriak Ting-lo-hu-jin dengan suara parau menahan sedih, “Kiu-lian-hoan Ci Gai melawan juragan peternakan. Thian-kiau Au-yang-tai-hiap.”

Sebagai ketua sebuah aliran yang disegani, Au-yang-thian-kiau memang memiliki wibawa yang tidak dimiliki orang lain, dengan langkah tegap dan mantap dia beranjak ke atas panggung.

Sementara Kiu-lian-hoan Ci Gai sudah mendahului melompat tinggi hinggap di atas panggung gin-kang nya memang sudah lama terkenal, gerak-geriknya enteng dan cekatan, penonton menyambutnya dengan tepuk sorak riuh rendah.

Ci Gai sudah berdiri di atas panggung, menginjak noda darah di antara celah-celah panggung, mengawasi Au-yang-thian-kiau yang sedang berjalan ke atas panggung. Entah kenapa perasaannya mendadak mendelu, setiap langkah Au-yang-thian-kiau yang mantap itu ternyata menjadikan nyalinya menjadi ciut dan gentar.

“Ci-tai-hiap,” sapa Au-yang-thian-kiau sambil menjura, “silakan mulai!”

Kebetulan Ci Gai berdiri menghadap rembulan yang memancarkan cahayanya, pandangannya kelihatan hampa, apa yang diucapkan Au-yang-thian-kiau seperti tidak terdengar olehnya.

Berkerut alis Au-yang-thian-kiau, katanya bersungut, “Ci-tai-hiap, apalagi yang kau tunggu, silakan menyerang lebih dulu.”

Mendadak Ci Gai bergelak tawa, “Bergebrak maksudmu? Kenapa aku harus menyerangmu? Apa yang harus aku rebutkan denganmu? Memangnya kenapa kalau kalah? Bagaimana pula kalau menang … ”

Di tengah gelak tawanya, ia melangkah lebar dan turun panggung, melirik pun tidak kepada Au-yang-thian-kiau.

Kaget lagi heran, Au-yang-thian-kiau melengong mengawasi punggung orang.

perlahan Ting-lo-hu-jin berdiri, dengan suara berat dia berseru, “Ronde kedua dimenangkan oleh Au-yang-tai-hiap.”

Au-yang-thian-kiau berputar lalu melangkah turun, sikapnya tidak berubah, langkahnya tetap mantap, tapi entah perasaannya?

Suara Ting-lo-hu-jin yang bernada berat mencekam perasaan seluruh hadirin. “Ronde ketiga, Ce-sia melawan Ong-Liat-hwe!”

Cepat sekali Poa-Ce-sia dan Ong-Liat-hwe sudah berhadapan di atas panggung. Poa-Ce-sia sudah menang dua ronde, namun sikap dan semangatnya masih menyala, tangannya menggenggam Go-kau -kiam, cahaya pedang cemerlang seperti sinar matanya yang binar. Hwe-lui-cu Ong-Liat-hwe tidak sesuai namanya yang “Liat-hwe” (bara api), wajahnya putih kaku seperti mayat, sikapnya dingin tidak mirip api yang membara. Senjatanya adalah sebatang ruyung lemas panjang dan hitam gelap. Ruyung itu dinamakan Lui-cu-sin-hwe-pia.

Ruyung lemas milik Ong-Liat-hwe ini adalah salah satu dari ke-13 jenis senjata yang terkenal di dunia, konon ruyung panjang itu tersusun sebanyak tiga belas ruas yang mirip bambu, setiap ruas ruyung mempunyai keistimewaan luar biasa untuk merengut sukma dan mencopot jiwa musuh.

Dalam pertandingan ini, kecuali mengandalkan permainan Hwe-hun-cap-sah-pian yang lihai lagi aneh untuk merebut kemenangan, tidak mungkin ia mengembangkan keistimewaan Lui-cu-sin-hwe-pian andalannya itu.

Dalam pertemuan besar di puncak Thai-san ini sudah berulang kali diperingatkan oleh penyelenggara, semua peserta dilarang menggunakan senjata rahasia. Kehadiran Ting-lo-hu-jin, Ban Cu-liang dan para pendekar ternama lainnya adalah sebagai pengawas dan penegak keadilan, memberi keputusan akhir hasil pertandingan yang berlangsung.

Poa-Ce-sia tersenyum ramah, katanya sambil soja, “Sejak berpisah di Ce-sia, tanpa terasa tiga tahun sudah lalu. Apakah selama ini Ong-heng baik-baik saja?”

Membesi kaku muka Ong-Liat-hwe, katanya dingin, “Lui-tai ini dibuka untuk merebut kalah dan menang. Di sini bukan tempat mengobrol silakan memberi petunjuk.”

Poa-Ce-sia tetap tersenyum. “Baiklah, boleh Ong-heng mulai lebih dulu.”

Lalu ia mundur dua langkah, pedang terangkat di depan dada, tiga jari tangan kiri menekan ujung pedang, sebelum mulai gebrak dia unjuk hormat lebih dulu.

Tanpa bicara Ong-Liat-hwe mengayun miring ruyung panjangnya menyerang tenggorokan lawan.

Sikapnya sombong dan pongah, ternyata permainan ruyungnya memang lihai, jurus ini dinamakan Lui-hwe-jut-tang, gerakannya kelihatan biasa, namun sedahsyat geledek menggelegar. Tampak sinar hitam berkelebat disertai deru angin yang keras, ruyung panjang itu tahu-tahu sudah tiga senti di depan leher Poa-Ce-sia.

Poa-Ce-sia tidak bergeming, tanpa menggeser kaki, pedang mendadak menyendal ke depan, dengan menyerang dia mempertahankan diri. Di mana sinar hijau berkelebat, bahu Ong-Liat-hwe menjadi sasaran ujung pedang.

“Serangan bagus!” bentak Ong-Liat-hwe.

Bayangan gelap ruyung itu sesuai namanya, yaitu mega api yang mengurung bayangan tubuh Poa-Ce-sia, panggung pertandingan itu pun seperti terbungkus oleh bayang-bayang gelap yang membawa deru angin tajam. Penonton yang berada paling depan tersampuk angin keras menyayat.

Poa-Ce-sia tetap bersikap tenang dan mantap pedang bergerak lincah dan tangkas, menebas menusuk, menutuk atau menyolok, di mana sinar hijau bergerak, selincah ular sakti membendung rangsakan ruyung lawan.

Penonton bertepuk dan bersorak memberi semangat, begitu tegang pertarungan sengit ini sehingga seluruh perhatian tumplek ke arah panggung.

It-bok Tai-su bergumam, “Omitohud! Sian cai Go-kau -kiam yang bagus, Sejak Peng-si-heng-te meninggal beberapa tahun yang lalu, sudah lama aku tidak menyaksikan permainan Go-kau -kiam-hoat selihai ini.”

Ban Cu-liang ikut memberi komentar, “Yang lebih hebat adalah dengan sebatang pedang ganco itu dia mampu melancarkan serangan yang dilandasi tenaga murni, sungguh kepandaian yang harus dipuji.”

Ting-lo-hu-jin juga menghela napas gegetun. “Kalau dia tidak menaruh belas kasihan, sejak tadi Ong-tai-hiap tentu sudah dikalahkan, Bukan saja kaum Bu-lim terlalu rendah menilai kekuatannya, dahulu aku pun teramat meremehkan dia. Kini baru kita melihat secara nyata, kalau dinilai permainan kungfu sejati, taraf kepandaian Poa-Ce-sia mungkin tidak lebih rendah dibanding Ling-Peng-hi, Bwe-Kiam dan lain-lain. Bila beberapa orang ini nanti turun ke gelanggang, betapa tegang pertarungan mereka tentu jauh di luar perkiraan orang banyak.”

“Pertemuan di puncak Thai-san ini adalah pertandingan antara singa dan harimau.” demikian gumam It-bok Tai-su, “Menurut pendapatku, dari sekian hadirin yang ada di sini, bukan cuma beberapa orang itu saja yang belum menunjukkan kemampuannya yang hebat.”

Sementara itu, muka Ong-Liat-hwe yang pucat dan kaku itu kini sudah bermandi keringat. Walau permainan ruyungnya masih gencar dan dahsyat, tapi para ahli sudah melihat, dia hampir kehabisan tenaga, berapa lama dia kuat bertahan lagi?

“Ong-heng,” ucap Poa-Ce-sia perlahan, “kalau setuju, bagaimana kalau kita akhiri pertarungan ini, supaya …. ”

“Kentut!” hardik Ong-Liat-hwe gusar. Mendadak ia melompat tinggi ke udara, pergelangan
tangan bergetar keras, di tengah bayangan ruyung hitamnya, tiga butir mutiara hitam mendadak melesat keluar.

“Awas, Hwe-lai-cu!” penonton yang bermata jeli berteriak kaget dan kuatir.

“Ong-tai-hiap,” bentak Ting-lo-hu-jin, “dilarang menggunakan senjata rahasia.”

Sayang peringatan itu terlambat. Mutiara hitam itu sudah berada di depan Poa-Ce-sia.

Poa-Ce-sia juga berjingkat kaget, secara refleks pedang bergerak hendak menyampuk mutiara itu.

“He, jangan disentuh!” Ban Cu-liang ikut berteriak memperingatkan.

Tapi tiga kali ledakan keras disertai percikan api sudah melanda panggung pertandingan. Api seketika menjilat tubuh Poa-Ce-sia. Saking kaget Poa-Ce-sia langsung menjatuhkan diri berguling di atas panggung.

“Lari ke mana?” bentak Ong-Liat-hwe memburu maju, berbaring ruyung terayun pula, mukanya beringas, matanya melotot, hasratnya ingin membunuh Poa-Ce-sia.

“Berhenti!” Ting-lo-hu-jin dan Ban Cu-liang berseru, serempak mereka melompat ke arah lui-tai. Sayang jarak mereka agak jauh, meski cepat gerakan mereka, jelas tak keburu mencegah perbuatan Ong-Liat-hwe yang melanggar peraturan.

Pada saat genting itulah, mendadak sesosok bayangan menerobos maju, hanya satu langkah ia bergerak, tahu-tahu sudah berada di depan panggung, sekali ulur tangan Poa-Ce-sia berhasil diraihnya dan luput dari hajaran ruyung musuh. Terlambat sedetik saja jiwa Poa-Ce-sia tentu sudah melayang.

Agaknya kepandaian laki-laki gede ini amat lihai, bukan hanya gin-kang nya tinggi, begitu telapak tangan menekan panggung, tubuhnya yang besar mendadak jumpalitan ke atas, “blang”, tahu-tahu seorang laki-laki besar sudah berdiri di atas panggung.

Di tengah jeritan kaget hadirin, Ong-Liat-hwe menyurut mundur dua langkah dengan kaget dan gusar.

Tinggi laki-laki ini delapan kaki, mukanya hitam legam. Ong-Liat-hwe hanya tahu laki-laki dogol ini datang bersama Ban Cu-liang dan Bok-Put-kut.

“Kerbau dungu,” dampratnya gusar, “kamu juga ingin mampus di sini.

Gu-Thi-wah balas membentak, “He, bocah cilik. seorang eng-hiong pantang bermain licik. Ayolah, boleh kau gunakan pecutmu menghajar tuan besarmu ini.”

“Keparat,” Ong-Liat-hwe mengumpat gusar, “kamu ingin mampus!”

Ruyung berputar tiga kali dan menyabet dengan dahsyat.

Gu Thi-wah berdiri tenang, tidak menyingkir atau berkelit, begitu ruyung datang ia ulur tangan menangkap ujungnya, sekali sendal ia rebut senjata lawan.

Mimpi pun Ong-Liat-hwe tidak menyangka ada orang mampu dan tahan menghadapi serangan ruyungnya dengan tangan kosong. Tidak terbayang pula olehnya bahwa orang ini memiliki tenaga besar, sekuatnya ia bertahan dan menarik ruyungnya, bukannya ruyung lepas, telapak tangan sendiri malah tergetar pecah berdarah.

Gu Thi-wah terbahak-bahak. Ingin aku lihat permainan setan apa yang ada di dalam ruyung keparat ini.”

Hanya beberapa kali gulung dengan telapak tangan, ruyung besi beruas itu telah dibuatnya menjadi bundaran seperti gelang. Sudah tentu belasan butir Hwe-lui-cu yang ada di dalamnya berjatuhan.

Dalam pada itu, Ting-lo-hu-jin, Ban Cu-liang dan It-bok Tai-su sudah berada di atas panggung. Menyaksikan betapa hebat kekuatan Gu Thi-wah, mereka tertegun.

“Wah, celaka!” Ban Cu-liang mendahului berteriak, sigap sekali dia sobek lengan baju terus mengebas ke sana. Dengan enteng sobekan lengan baju itu menggulung Hwe-lui-cu terus melayang ke sana meninggalkan panggung.

Bu-ceng-kong-cu Ciang-Jio-bin melompat maju, lengan bajunya yang panjang juga dikebaskan perlahan, sobekan lengan baju yang menggulung Hwe-lui-ciu seperti di dorong ke depan, terbang ke bawah jurang. Beberapa kejap kemudian berkumandanglah ledakan keras di bawah sana.

Melihat betapa hebat kekuatan telapak tangan Thi-wah, pucat dan ciut nyali Ong-Liat-hwe, saking takut cepat ia putar tubuh hendak melarikan diri. Tahu-tahu sebuah telapak tangan segede kipas mencengkeram pundaknya, sudah tentu ia tidak berani menangkis, sambil mendak kedua tangan berputar setengah lingkar terus menyodok ke lambung lawan. Dengan kelincahan gerak tubuh dia berusaha mengalahkan lawan yang dibekali kekuatan raksasa ini.

Di luar dugaan, cengkeraman Thi-wah itu hanya gertak sambel, sigap sekali ia melejit ke sana, tahu-tahu ia sudah berada di sebelah kiri Ong-Liat-hwe. Tangan kanan menyapu miring menyerang kedua lutut Ong-Liat-hwe.

Beberapa tahun ia ikut si orang tua Ciu Hong, meski hanya beberapa jurus saja ia belajar, tapi beberapa jurus pelajaran kungfu itu sudah apal dan mahir sekali, sudah tentu permainannya cukup hebat.

Tidak terbayang oleh Ong-Liat-hwe bahwa laki-laki segede Thi-wah ternyata dapat bergerak selincah kelinci, apalagi gerak tangan dan langkahnya pun luar biasa. Melihat tangan lawan menyapu tiba, lekas dia menahan tangan segede gada itu berbareng melompat mundur untuk lari.

Siapa tahu tangan kiri Thi-wah sudah siap menunggu, begitu ia mundur, Thi-wah membentak sekali, sekali raih ia tarik tubuh orang terus dikempit di bawah ketiak.

Sambil mengempit Ong-Liat-hwe, Gu Thi-wah melangkah turun ke bawah panggung. Sorak-sorai penonton seperti tidak didengar, perhatiannya tertuju kepada lawannya, “Bocah keparat, dengan akal licik kau celakai orang she Poa, lekas mohon ampun padanya.”

Ting-lo-hu-jin saling pandang dengan It-bok Tai-su. Ban Cu-liang mengawasi perawakan Thi-wah yang tinggi besar itu, hatinya diliputi rasa senang dan haru.

Yang paling senang dan haru sudah tentu Pui-Po-giok, diam-diam ia saksikan saudara yang dicintainya ini telah memperlihatkan kemahirannya di depan umum. Mendengar sorak-sorai penonton, hatinya lebih senang dan lega daripada diri sendiri yang memperoleh pujian itu. Tanpa terasa air mata berkaca-kaca di kelopak matanya.

Ketika suasana tenang kembali, sementara itu Siau-hoa-jio Be Cek-coan dan Bu-ceng Kong-cu Ciang-Jio-bin sudah berhadapan di atas panggung.

Be Cek-coan berbaju sutera dengan rambut digelung di atas kepala, wajahnya yang putih halus mirip batu jade yang indah. Ciang-Jio-bin juga berpakaian perlente, sikapnya gagah. Kedua orang ini lebih mirip peragawan yang lagi pamer pakaian dibanding tokoh silat yang siap berlaga di arena pertandingan.

“Apa betul kamu ingin bergebrak dengan aku?” mendadak Ciang-Jio-bin tanya dengan perlahan

“Sudah tentu betul!” sahut Be Cek-coan pendek.

Senyum ejek berkelebat sekilas di ujung mulut Ciang-Jio-bin, “Mana mungkin kamu bisa bergebrak denganku? Kamu tidak takut …”

Merah muka Be Cek-coan, tukasnya kasar, “Di atas lui-tai tidak perlu cerewet. Lihat serangan!”

Padahal waktu mulutnya mengucap “cerewet” tombak perak di tangannya sudah menyerang lebih dulu. Begitu ilmu tombak perak dilancarkan, bunga perak segera bertaburan di atas panggung.

Ciang-Jio-bin bersenjata kipas lempit tulang besi. Pendekar muda yang terkenal di daerahnya ini ternyata mampu memainkan kipasnya dengan tangkas banyak variasi. Kipas lempit itu bisa digunakan sebagai Boan-koan-pit untuk menutuk Hiat-to, juga dapat digunakan sebagai golok atau pedang. Sekaligus Ciang-Jio-bin memperlihatkan aneka ragam permainan kipasnya secara mahir, keji dan ganas.

Dengan tombak perak kemilau, Siau-hoa-jio putar senjatanya membentuk lingkaran sinar yang kukuh, lawan tidak diberi kesempatan untuk mendesak maju lebih dekat.

Sebaliknya dengan mengembangkan ketangkasan langkah dan permainan kipas, Ciang-Jio-bin terus merangsek dengan sengit. Ia tahu bila dirinya tidak mampu menyelinap ke tengah pertahanan lawan, bagaimana dirinya mampu mengalahkan lawan.

Perlu diketahui, dalam hal senjata, lebih panjang lebih kuat, lebih pendek lebih berbahaya. Sejak jaman dahulu tombak dianggap sebagai kakek moyang berbagai macam senjata, merupakan senjata yang paling kuat dan tangguh dari segala jenisnya.

Sedang kipas lempit bertulang besi yang dimainkan Ciang-Jio-bin merupakan senjata terpendek yang paling berbahaya dengan jurus serangan lihai yang bervariasi. Betapa hebat kipas besi itu di tangannya, penonton menjadi tegang dan mengikuti pertempuran sengit ini dengan pesona.

Mendadak Be Cek-coan menghardik sekali, ujung tombak bergetar dengan tusukan berantun, ronce merah juga tampak bergoyang, bayangan berkembang beberapa kaki di seputar gelanggang,
padahal sasarannya adalah tenggorokan Ciang-Jio-bin.

Jurus “bunga langit bertaburan” ini adalah serangan terlihai dari Be-keh-jio-hoat yang terkenal itu.

Melihat ujung tombak menusuk tiba, Ciang-Jio-bin ternyata tidak berkelit atau menyingkir, matanya menatap ujung tombak, sementara kipas lempit di tangan ikut bergetar mengikuti gerakan ujung tombak lawan.

“Ting”, mendadak ujung kipas menutul ujung tombak, dari sini terbukti perbedaan kekuatan pergelangan tangan kedua orang yang bertanding ini. Begitu tombak dan kipas beradu, meski tidak sampai terlepas, tapi tombak terpental ke atas.

Sejurus memperoleh angin Bu-ceng-kong-cu yang tidak kenal kasihan ini tidak memberi kesempatan lagi kepada lawan, tangan putar kipas hingga berkembang laksana segumpal mega mendadak menebas ke arah Be Cek-coan.

Be Cek-coan kaget, lekas dia mendak ke bawah sambil mengeret kepala, berusaha menyelamatkan diri. Tapi Ciang-Jio-bin sudah mendesak maju mana mungkin dapat menyelamatkan diri? “Ting”, terdengar sekali lagi benturan, tusuk kundai yang menggelung rambut di atas kepalanya tergetar hancur.

Hadirin terbeliak kaget, semua menyangka Ciang-Jio-bin telah turun tangan keji. Bukan hanya merobohkan lawan, tapi sekaligus menebas putus lehernya.

Di luar dugaan. setelah berhasil membuat lawan mundur gelagapan, ia pun mundur beberapa kaki, kipas di tangan bergoyang perlahan, wajah seperti tertawa tidak tidak tertawa, dengan tajam ia mengawasi Be Cek-coan.

Rambut Be Cek-coan terlepas dan terurai. Saking kaget ia berdiri termangu, wajah sebentar pucat sebentar merah.

Seorang penonton mendadak berteriak, “Haya, Siau-hoa-jio ternyata betina!”

Baru sadar para hadirin, “O, kiranya itulah rahasianya.” demikian batin mereka.

Be Cek-coan malu lagi gusar, air mata berlinang-linang. Dengan ujung tombak ia tuding Ciang-Jio-bin, serunya gemas. “Bagus kau , sungguh tak nyana kau berani menghinaku, aku … aku … benci…”

Ciang-Jio-bin tertawa kalem, “Apa yang sudah aku lakukan terhadapmu? Kenapa kamu benci padaku. Aku hanya ingin supaya para kawan tahu, Siau-hoa-jio Be-tai-hiap sebetulnya seorang perempuan.”

Be Cek-coan mengentak kaki, “Memangnya kenapa kalau perempuan? Memangnya perempuan bukan manusia? Laki perempuan kan sama saja, apa yang bisa dilakukan laki-laki. juga bisa dilakukan perempuan.”

Ciang-Jio-bin menjengek. “Laki-laki boleh berkelana di kang-ouw. Apa perempuan bisa?”

“Kenapa tidak bisa? Siapa bilang tidak bisa?” bantah Be Cek-coan bertolak pinggang.

“Dalam hotel yang penuh sesak, lelaki boleh tidur campur dan berdesakan, apakah perempuan mau? Di daerah gersang yang tiada airnya, laki-laki bisa mandi bersama orang banyak, apakah perempuan ….”

“Kentut, kentut! Semua itu bukan alasan.”

“Kalau itu bukan alasan, kalau laki dan perempuan sama, kenapa pula kau pinjam nama engkohmu, menyamar jadi lelaki terjun di gelanggang untuk berebut pahala?”

Be Cek-coan melengong, “Ini … ini …”

Karena kalah berdebat, air mata bercucuran kembali Be Cek-coan mengentak kaki. “Baiklah, kamu keparat busuk ini, aku … akan ke rumahmu, menyampaikan hal ini kepada ibumu.”

Habis bicara ia lompat mundur lalu lari meninggalkan gelanggang.

Di samping heran, hadirin juga geli mendengar percakapan mereka. Maka pecahlah gelak tawa orang banyak.

Ting-lo-hu-jin terbatuk-batuk, katanya sambil menahan geli, “Ronde keempat dimenangkan oleh Ciang-Jio-bin Ciang-tai-hiap. Ronde kelima akan berhadap Thian-to Bwe-Kiam dengan Ki-ling-tiap Pui Tiang-tang. Pui-tai-hiap.”

Mendengar nama Thian-to Bwe-Kiam disebut, hadirin seketika menjadi hening. Nama besar dan disegani ini seolah-olah mengandung kekuatan iblis, seperti melambangkan golok kilat, membacok, darah muncrat dan jiwa melayang.

Kalau golok itu berkilauan, cepat, tegas dan tajam. Kampak itu justru berat, kuat dan kelihatan lambat serta kaku. Tapi sinar golok hanya berkelebat sekali, dua kali dan tiga kali. Lawan yang bersenjata kampak itu seketika roboh.

Tiada jeritan kaget, tanpa sorak pujian. Seluruh penonton terpesona oleh permainan golok Bwe-Kiam yang hebat, tidak kenal kasihan. Mereka lupa memberi tepuk sorak.

Dari kantung bajunya Bwe-Kiam mengeluarkan sapu tangan sutera, dengan kalem ia membersihkan darah ujung pedangnya. Sikapnya kaku, tenang dan wajar, tidak ada perubahan sedikit pun.

“Tiga jurus, hanya tiga jurus!” It-bok Tai-su bergumam. “Tiada satu jurus serangan disia-siakan. Pada saat menyerang dan membunuh musuh, dia tidak pernah membuang tenaga secara percuma.”

“Ya, ilmu goloknya jelas bukan ajaran murni dari Tiong-goan.” Ting-lo-hu-jin menanggapi.

“Ya. ilmu golok itu mungkin dari aliran Tang-ing (negeri Jepang sekarang). Di antara ilmu golok yang tersebar luas di negeri kita, umpama ada yang mengandung gerakan ganas dan kaku, sedikit banyak masih mengandung seni dan kenal kasihan. Ilmu goloknya justru lepas dari unsur seni, ilmu golok itu diciptakan khusus untuk membunuh orang. Walau ilmu golok itu amat hebat, tepat dan ganas, tapi hanya orang rendah saja yang mempelajarinya. Ilmu golok itu mengutamakan kekuatan dan manfaat, berguna untuk orang yang meyakinkan, umpama berhasil mencapai puncaknya, aku tetap memandangnya rendah.”

“Em, permainan golok Bwe-tai-hiap itu mengingatkan aku akan seseorang,” Ban Cu-liang menimbrung bicara.

“Siapa?” tanya Ting-lo-hu-jin.

Kalem suara Ban Cu-liang, “Tang-hai Pek-ih-jin (si baju putih dari lautan timur).”

Diam sebentar, akhirnya Ting-lo-hu-jin berkata, “Betul! Sepak terjang Bwe-tai-hiap memang agak
mirip Tang-hai Pek-ih-jin. Mungkin karena kedua orang ini berasal dari Tang-ing.”

“kaum pesilat di Tang-ing mempunyai semangat baja untuk berkorban demi menegakkan kejayaan ilmu yang diyakinkan. Sebelum belajar ilmu, dia harus siap untuk mati, oleh karena itu membunuh orang dianggap sebagai hal yang layak.”

Sementara itu jenazah sudah digotong turun, noda darah juga sudah dibersihkan.

“Ronde kelima dimenangkan oleh Bwe-tai-hiap,” demikian Ting-lo-hu-jin tarik suara pula. “Ronde keenam, inilah ronde terakhir babak kedua. Thian-siang-hwi-hoa Ling-Peng-hi … ” sampai di sini berhenti, sikapnya rikuh dan serba salah.

Sambil tertawa dingin Ling-Peng-hi berdiri, dengan kalem ia melangkah ke depan panggung katanya dengan suara dingin, “Menurut hitungan peserta yang harus bertanding di babak kedua ini tinggal sebelas orang saja. Maka dalam ronde ketiga ini sebetulnya aku tidak memperoleh lawan, dan ini adalah keputusan hasil undian. Bukan aku sengaja ingin menarik keuntungan … tapi Hu-jin tadi bilang, aku harus turun gelanggang dengan seorang lawan. Mohon tanya siapakah lawanku? Dan dari mana?”

Ting-lo-hu-jin bimbang sejenak. lalu berkata dengan perlahan, “Apa yang diucapkan Ling-tai-hiap memang betul. Lawan Ling-tai-hiap pada ronde ini memang datang terlambat, tapi dia adalah seorang pendekar ternama. Karena suatu persoalan penting terpaksa dia terlambat tiba di sini.”

Thian-siang-hwi-hoa Ling-Peng-hi tertawa dingin, “Aku tidak mengerti apa maksud perkataan Hu-jin …” pandangannya menyapu ke arah hadirin, lalu melanjutkan. “Umpama betul lawanku seorang pendekar besar ternama, umpama karena suatu hal yang mendesak ia datang terlambat lalu bolehkah ia ikut bertanding tanpa mengikuti babak penyisihan. Yang pasti aku sudah dua kali bertanding, calon penantangku itu masih segar bugar. Kalau pertandingan harus diteruskan, bukankah melanggar aturan dan tata tertib pertandingan. Hu-jin sebagai ketua pelaksana yang mengatur dan menentukan aturan pertandingan itu, kenapa sekarang justru melanggarnya!”

Ting-Hu-jin menghela napas, “Memang hari aku akui bahwa hal ini melanggar aturan. Tapi aturan pertandingan itu sendiri kadang kala bisa diubah mengikuti perubahan keadaan, jadi bukan sengaja dilanggar.”

“Nah, untuk itulah aku mohon petunjuk. Kenapa aturan pertandingan justru diubah karena orang itu? Apa yang diandalkan? Mohon Hu-jin menjelaskan.”

“Karena apa yang dilakukan orang itu adalah untuk kepentingan seluruh kaum persilatan. Apalagi tenaga yang telah ia keluarkan, pertempuran yang sudah dilakukan, pasti tidak lebih ringan dari pertandingan dua babak yang telah Ling-tai-hiap lakukan. Oleh karena itu, setelah kami rundingkan bersama It-bok Tai-su dan lain-lain kami memutuskan untuk melanggar aturan pertandingan,” demikian penjelasan Ting-lo-hu-jin.

Ban Cu-liang. It-bok Tai-su dan lain-lain segera berdiri.

It-bok Tai-su berkata, “Dengan nama kebesaran kedudukan kita berenam, berani kami bertanggung jawab bahwa apa yang dikatakan Ting-lo-hu-jin barusan memang benar dan nanti boleh dibuktikan.”

Betapa besar wibawa keenam pendekar ini, betapa besar pula bobot ucapan mereka. Hadirin yang tadi mulai ribut karena panitia pertandingan melanggar aturan sendiri, kini mulai tenang kembali.

Ling-Peng-hi menyapu pandang ke empat penjuru, dukungan penonton tidak sesuai yang diharapkan, terpaksa ia berkata dengan suara berat “Kalau demikian, aku mohon keterangan, siapakah orang ini? Apa pula yang telah dilakukan demi kepentingan Bu-lim?”

“Dia terlambat datang karena berada jauh. Tang-ing, mengejar dan menyelidiki kungfu riwayat hidup Tang-hai Pek-ih-jin. Setiba di bawah gunung, seorang diri ia mengganyang belasan orang jahat yang berkomplot hendak menghancurkan seluruh kaum persilatan yang hadir di puncak Thai-san ini. Selama satu jam lebih ia bertempur.”

Belum habis Ting-lo-hu-jin menjelaskan, hadirin menjadi gempar dan berteriak-teriak.

“Apakah rahasia Pek-ih-jin berhasil diselidiki?”

“Siapakah komplotan orang jahat itu? Untuk apa mereka hendak menghancurkan kita semua?”

“Siapakah dia sebenarnya?”

Ting-lo-hu-jin tersenyum, setelah menentramkan suasana, ia melanjutkan, “Menyinggung nama orang ini, aku yakin hadirin banyak yang sudah tahu. Pertanyaan yang kalian ajukan, biarlah dia saja yang menjawabnya. Dia bukan lain adalah …”

Ia sengaja merandek, setelah suara orang banyak mulai reda baru melanjutkan dengan perlahan, “Dia adalah Kong-sun Ang, Kong-sun-tai-hiap.”

“Kong-sun Ang?” hadirin melengak, “Apakah Kong-sun-tai-hiap yang berjuluk Loan-si-jin-liong? Senjata Thian-liong-gun-nya yang nomor satu dari seluruh jenis senjata luar biasa?”

Ting-lo-hu-jin menatap wajah Ling-Peng-hi, “Betul, kurasa Ling-tai-hiap juga sudah kenal namanya?”

Membesi wajah Ling-Peng-hi, jengeknya. “Kukira ia pun tahu siapa diriku.”

Dengan tersenyum Ting-lo-hu-jin mengangguk, “Kalau demikian, entah Ling-tai-hiap mau bertanding dengannya?”

Mendadak Ling-Peng-hi mendongak dan terbahak-bahak. “Kenapa aku tidak mau bertanding dengannya? Memangnya aku takut padanya?”

Mendadak ia berhenti tertawa, suaranya berubah bengis, “Aku justru ingin membuat perhitungan dengan dia, biar nanti dibuktikan, Hong-hun-thian-liong-gun miliknya lebih lihai atau Boh-hun-thian-pit milikku lebih hebat?”

“Baiklah,” Ting-lo-hu-jin manggut-manggut, “kami persilakan Kong-sun-tai-hiap …”

Dari tengah penonton di sebelah kiri, mendadak melejit sesosok bayangan ke udara, bagai segumpal mega merah membara meluncur empat tombak jauhnya, langsung hinggap di atas panggung.

Betapa cepat gerak tubuh orang ini, penonton belum melihat jelas orangnya, tahu-tahu ia sudah berdiri di atas panggung. Rambutnya awut-awutan jambangnya kaku, seluruhnya berwarna merah api kecuali kedua biji matanya, seluruh kepalanya mirip segumpal api yang menyala. Hadirin menjadi silau rasanya.

Baju di depan dadanya terbuka lebar, celana panjang dilempit tinggi, pakaiannya yang juga berwarna merah menjadi gelap karena keringat, lumpur dan minyak. Sepatu rumputnya juga berlepotan lumpur.

Walau pakaiannya tidak keruan, tapi sikap dan wibawa orang ini kelihatan garang. Tatapan matanya tajam berwibawa, seperti raja yang agung dan mulia.

Tangan kirinya memegang sebatang pentung panjang tiga kaki, agaknya tongkat yang biasa dibawa ke mana-mana, maka tongkat itu kelihatan mengkilat karena selalu di pegang.

Tangan kanannya menjinjing karung yang cukup besar dan berat, entah apa isinya, hadirin tiada yang bisa menebaknya. Dari karung besar itu meneteskan air di atas panggung yang sudah dibersihkan. Jelas itulah darah segar…

Kong-sun Ang angkat karung itu ke atas, serunya lantang, “Apakah hadirin ingin melihat apa yang aku bawa dalam karung ini?”

Sebelum hadirin memberi reaksi, Ling-Peng-hi sudah lompat ke atas panggung, “Tidak perlu kau pamer apa isi karung itu. Keluarkanlah Thian-liong-gun, hadapilah Tin-thian-pit-ku.”

Kong-sun Ang meliriknya, “Agaknya tuan sudah tidak sabar lagi?”

“Betul” bengis suara Ling-Peng-hi. “sudah lama aku ingin menghajarmu”

“Baiklah.” ucap Kong-sun Ang bergelak tawa. Karung ia taruh di pinggir panggung, pentung melintang di depan dada, bentaknya, “Ayolah mulai.”

Ling ping-hi menatap pentung di tangan orang “kau berani melawan senjataku, mana senjatamu?”

“Inilah senjataku,” sahut Kong-sun Ang mengangkat pentung di tangannya.

Ling-Peng-hi terkejut, hadirin melengak. Siapa pun tidak menyangka Thian-liong-gun yang diagulkan nomor satu dari berbagai jenis senjata di seluruh dunia itu ternyata hanya sebatang tongkat saja.

Ling-Peng-hi menatap tajam pentung di tangan Kong-sun Ang, berubah rona mukanya, dari kaget heran menjadi kecewa, akhirnya ia mendongak dan bergelak tawa.

“Menghadapi pertarungan di medan laga, apa pula yang kau tertawakan?” jengek Kong-sun Ang.

“Thian-liong-gun yang menggetarkan dunia ternyata hanya sebatang pentung pendek. Pentung pendek begitu ternyata diagulkan lebih tinggi dari Boh-hun-tin-thian-pit. Betapa aku orang she Ling tidak akan geli dan kecewa?”

Sesaat lamanya Kong-sun Ang diam, matanya menatap wajah orang. mendadak ia pun mendongak dan bergelak juga.

“Hm, apa yang kau tertawakan?” jengek Ling-Peng-hi.

“Ling-siau-ceng-cu terkenal di dunia sebagai pemuda serba bisa, ahli sastra pandai silat, berpengetahuan luas, ternyata punya mata tapi tidak bisa membedakan benda. Betapa hatiku takkan geli dan tertawa.”

“Kenapa kamu berkata demikian?” semprot Ling-Peng-hi.

“Tuan berpengetahuan luas, tapi meremehkan pentung pendekku ini. Bukankah pengetahuanmu amat sempit dan picik?” demikian ejek Kong-sun Ang.

Ling-Peng-hi naik pitam, “Baiklah, ingin aku buktikan, apakah Thian-liong-gun mempunyai kehebatan seperti yang diagulkan orang.”

Sengaja ia bicara dengan suara lambat sebelum selesai bicara Boh-hun-tin-thian-pit di tangannya sudah bergerak menaburkan cahaya perak.

Melihat gerak permulaan senjata Ling-Peng-hi, banyak penonton menarik napas, banyak orang maklum, biarpun Ling-Peng-hi bilang kecewa dan meremehkan pentung pendek itu, namun sebenarnya ia tidak berani memandang rendah senjata lawan.

Lima jurus kemudian, penonton justru amat kecewa melihat penampilan Kong-sun Ang, baru lima jurus bergebrak, kelihatan ia sudah terdesak di bawah angin. Thian-liong-gun sejurus pun belum mampu balas menyerang.

Begitu pertarungan dimulai, gerak-geriknya seperti terkekang oleh cahaya perak senjata lawan. Apalagi permainannya jauh berbeda dengan perawakan dan sikapnya yang menakutkan orang.

Tapi sejauh mana penonton masih menunggu perkembangan lebih lanjut, sebab jurus apa yang dilancarkan oleh Kong-sun Ang, banyak penonton yang tidak tahu atau melihat jelas. Gerakannya mirip ilmu pedang, tapi juga mirip ilmu golok. Seperti cangkokan dari ilmu ruyung, waktu menyerang jelas ia menggunakan jurus pedang, tapi di tengah jalan tiba-tiba berubah jurus golok, bila ia menarik senjatanya gayanya seperti permainan ruyung.

Serangan Ling-Peng-hi secepat kilat, di tengah taburan cahaya perak, penonton sukar menyaksikan perubahan senjatanya. Sebaliknya gerak-gerik Kong-sun Ang kaku dan lambat, jurus demi juru seperti berat dilancarkan. Penonton dapat mengikuti gerak-geriknya dengan jelas. Tapi tiada satu pun yang dapat meraba gerak perubahan permainannya.

Jurus-jurus yang dilancarkan Ling-Peng-hi mirip bunga di tengah kabut. Pantas juga kalau orang tidak mampu mengikuti permainannya. Lama kelamaan permainan potlot Ling-Peng-hi makin gencar dan sengit. Sebaliknya gerak pentung Kong-sun An makin lamban dan damai.

Ling-Peng-hi bergerak lincah dan tangkas, seluruh gelanggang seperti ingin dijelajahinya, segesit ikan berenang dalam air, hilir mudik kian kemari. Semula Kong-sun Ang masih ikut bergerak, kemudian ia malah diam tidak bergerak lagi.

Lama kelamaan penonton yang berkepandaian lebih tinggi dan berpandangan lebih tajam dapat
melihat betapapun gencar dan sengit gempuran Ling-Peng-hi bila Kong-sun Ang melancarkan jurus
yang lamban dan mantap itu, rangsakan Ling-Peng-hi yang gencar itu lantas dipatahkan. Hebatnya, sejurus serangan balasan saja dapat memunahkan enam-tujuh jurus serangan lawan.

It-bok Tai-su menghela napas gegetun, kata-kata “Kungfu Ling-si-cu memang cukup mengejutkan, tapi mirip orang minum arak yang dicampur air makin diminum makin tidak ada rasanya. Sebaliknya kungfu Kong-sun-si-cu …”

Ting-lo-hu-jin tersenyum, “Selintas pandang kungfu Kong-sun-si-cu terasa berat dan getir, tapi seperti kita mengunyah kemari, makin lama rasanya makin gurih.”

It-bok Tai-su tertawa lebar. “Ya, memang demikian. Dalam lima puluh jurus, Ling-si-cu pasti kewalahan.”

Lima puluh jurus hampir tiba.

Mendadak Kong-sun Ang bergelak tawa, “Ling-Peng-hi, lemparkan senjatamu!”

Di tengah gelak panjangnya, Thian-liong-gun terayun balik.

Sementara itu, cahaya perak memenuhi angkasa sederas hujan lebat berhamburan turun. Jelas dua senjata itu akan beradu dengan keras, penonton menduga akan terdengar benturan yang memekak telinga, di luar dugaan tiada suara apa-apa, tapi cahaya perak yang bertaburan itu mendadak kuncup dan sirna.

Penonton terbelalak, ternyata Boh-hun-tin-thian-pit yang lincah dan bergerak penuh variasi itu, kini tertindih di bawah Thian-liong-gun. Mirip ular tertindih batu.

Ular, dapat bergerak tangkas dan lincah. Batu meski berat dan sederhana, tapi kalau ular ditindih batu, betapa pun ia meronta, jangan harap dapat membebaskan diri.

Air muka Ling-Peng-hi yang mandi keringat kelihatan serba runyam. Bola matanya merah darah, napasnya menderu berat.

Ting-lo-hu-jin segera berdiri, “Kalah-menang sudah ditentukan, harap Ling-tai-hiap berhenti.”

Ling-Peng-hi menggeram gusar. “Siapa bilang sudah ada kalah dan menang … Kena!”

Bertepatan dengan kata “kena”, Boh-hun-tin-thian-pit di tangannya mendadak putus menjadi tujuh potong, dari setiap potongan potlot itu menghambur keluar cahaya menyilaukan.

Hamburan cahaya itu berbeda warna satu dengan yang lain, yaitu merah, kuning, hijau, coklat, biru, ungu dan jingga. Bukan saja warnanya menyolok, cahayanya juga menyilaukan mata.

Begitu tujuh macam warna cahaya itu berhamburan di atas panggung, penonton merasa silau seperti di tusuk jarum.

Dalam sedetik itu penonton menduga tamatlah riwayat Kong-sun Ang. penonton yang bermata tajam menyaksikan, begitu potlot Ling-Peng-hi putus dan menghamburkan cahaya, tubuh Kong-sun Ang yang tegap itu malah tersungkur ke depan.

Maklum seluruh kekuatannya ia salurkan di ujung pentung, pentung menindih ke bawah. Bila tenaga perlawanan di bawah mendadak lenyap, adalah logis kalau ia kehilangan keseimbangan badan. Dalam keadaan seperti itu, ia harus menghadapi hamburan cahaya lebat bagaimana ia dapat menyelamatkan diri.

Maka terdengarlah jeritan dari atas panggung. Sesosok bayangan orang terlempar dan jatuh ke tanah. Tapi bukan Kong-sun Ang yang menjerit, bukan ia yang ambruk.

Ternyata pada saat cahaya menyilaukan itu berhamburan, bukan mundur tapi Kong-sun Ang malah memapak ke depan dan menubruk ke bawah terus menerobos lewat selangkangan Ling-Peng-hi. Walau gerakannya itu merupakan aksi yang mudah dilakukan, tapi dalam keadaan bahaya dan mendesak seperti itu, kalau tidak punya keteguhan hati dan reaksinya kurang cepat, siapa berani menggunakan cara seperti itu untuk menyerempet bahaya.

Belum lenyap senyum puas di wajah Ling-Peng-hi, Kong-sun Ang sudah berada di bawah selangkangan. Itulah tempat kosong yang paling lemah di tubuh manusia. Musuh berhasil merebut posisi yang menguntungkan, betapa dirinya takkan kalah?

Betapa kejut Ling-Peng-hi, serasa terlipat sukmanya. Untuk berkelit atau menyingkir jelas tidak mungkin karena Thian-liong-gun di tangan Kong-sun Ang sudah terayun.

Tubuh Ling-Peng-hi terpukul mabur ke udara jatuh di bawah panggung. Kebetulan ia jatuh di depan Bok Put-kut dan Ciok-Put-wi.

Sigap sekali Kong-sun Ang melompat berdiri, bentaknya murka, “Ling-Peng-hi, kau sendiri cari mampus, jangan salahkan aku.”

Bentakan itu menyadarkan penonton dan maklum apa yang telah terjadi. Padahal umum menganggap Ling-Peng-hi adalah calon “jago nomor satu” dalam pertandingan besar ini, ternyata
dalam babak semi final akhirnya ia gugur. Maka gegerlah para hadirin, pandangan mereka tertuju ke arah Kong-sun Ang yang bertolak pinggang di atas panggung.

Hanya Po-giok saja yang mengawasi. Ling-Peng-hi dari tempatnya. Sesaat kemudian ia mulai
bergerak, lalu meronta dan merangkak ke depan Ciok-Put-wi. Rona wajahnya tampak kaget dan
menderita, tapi juga kecewa, diliputi dendam dan benci.

Sorot matanya yang penuh kebencian melotot ke arah Ciok-Put-wi, bibirnya gemetar seperti ingin bicara, namun suara tidak keluar dari mulutnya. Mendadak tubuh mengejang lalu ambruk mencium tanah. Apa yang ingin ia ucapkan, selamanya akan menjadi rahasia dalam liang kubur.

Ciok-Put-wi juga terus menatapnya, air mukanya tidak berubah, tapi sorot matanya dingin tajam.

Dari bawah panggung Po-giok memandang ke sana, sikap kedua orang ini ia saksikan dengan jelas. Mendadak kedua alisnya terangkat, air muka juga menampilkan cahaya yang aneh.

Sementara itu suara Kong-sun Ang sedang berkumandang di puncak gunung.

“Tiga tahun yang lalu, untuk menyelidiki rahasia Tang-hai Pek-ih-jin, sengaja aku beli kapal dan berlayar ke lautan timur menuju ke Tang-ing-sam-to, tiga pulau di lautan timur yang sejak dahulu dinamakan pulau dewata.”

“Menurut hikayat lama, Tang-ing-sam-to ditempati oleh keturunan bangsa Han kita yang sejak jaman Cin-si-ong berlayar ke sana untuk mencari obat dewa yang dapat memperpanjang usia manusia. Maka adat istiadat, tulisan dan bahasa penduduk kepulauan itu banyak mirip dengan Han kita. Sikap mereka juga hormat dan sopan terhadap bangsa kita yang berlayar ke sana.

“Hanya sifat dan perangai penduduk kepulauan itu jauh lebih keras kejam dan kasar dibanding kita. Sedikit tidak cocok omong, tidak segan-segan mereka berkelahi dengan mempertaruhkan jiwa.

“Kungfu yang berkembang di pulau itu, asalnya juga dari bangsa kita, tapi setelah mengalami berbagai perubahan, kini sudah jauh berubah menjadi ganas. Ini jelas berhubungan dengan adat istiadat dan watak penduduk pulau itu.

“Senjata yang digunakan penduduk pulau itu adalah golok panjang melengkung (samurai), batang golok itu lurus tipis dan sempit, tajamnya luar biasa, seluruhnya terbuat dari baja murni. Kekuatannya tidak di bawah golok bangsa kita.

“Ilmu golok yang digunakan di pulau itu sederhana dan tidak banyak variasi. Tapi aliran persilatan yang berkembang di pulau itu cukup banyak cukup dengan tiga-empat jurus ilmu golok yang lihai dan siapa pun boleh mendirikan aliran atau perguruan.

“Menurut apa yang aku ketahui, ada dua puluhan jenis aliran kungfu di sana, di antaranya hanya tiga atau empat yang paling menonjol dan disegani. Umpama Siau-lim-pai, Bu-tong-pai, Kun-lun-pai dan lain-lain di sini.”

Meski Kong-sun Ang sedang mengobrol dan belum membicarakan pokok persoalannya, tapi apa yang dia kisahkan memang belum pernah diketahui orang. maka penonton menaruh perhatian.

Dengan suaranya yang lantang Kong-sun Ang, melanjutkan, “Waktu aku mendarat di pulau itu, keadaan serba asing bagiku, apalagi bahasa mereka tidak aku ketahui sama sekali. Dalam tahun permulaan, boleh dikatakan aku tidak memperoleh hasil apa-apa.

“Setahun setelah aku menjadi gelandangan, sedikit banyak aku sudah dapat berkomunikasi
dengan penduduk. Aku mulai kenal aliran dan perguruan silat yang ada di sana.

“Lambat laun, penduduk pulau itu juga mulai tahu bahwa aku adalah pesilat yang datang dari Tiongkok. Mulailah mereka menaruh perhatian terhadap jurus permainan senjata yang aku gunakan.

“Maka cikal-bakal guru atau murid dari berbagai perguruan silat di sana banyak yang datang minta bertanding denganku. Betapa serius sikap mereka terhadap ‘ilmu silat’ kurasa cukup untuk kita jadikan cermin.

“Kedatanganku bukan untuk mencari musuh atau mengukur kepandaian, kalau tidak dipaksa dan terpaksa, aku tidak mau bergebrak, umpama harus bergebrak juga cukup mengukur kepandaian saja.

“Selama itu dapat aku selami ilmu silat mereka memang kalah jauh dibanding kemurnian kungfu yang berkembang luas di negeri kita. Tapi ketegasan dan kekejaman ilmu goloknya, bangsa kita jelas tidak dapat menandingi.

“Terutama ilmu golok Liu-sing-eng-hiong-tiang yang mengutamakan ‘tenang mengatasi aksi, gerakan kemudian mendahului musuh’. Dalam hal ini kurasa amat serasi dengan aliran murni golongan lwe-keh bangsa kita.

Akhirnya aku ketahui, bahwa kungfu Tang-hai Pek-ih-jin ternyata tidak jauh berbeda dengan Liu-
sing-eng-hiong-tiang. mungkin satu dengan yang lain berasal dari satu sumber. Maka aku mulai penyelidikanku dari sini, aku mencari tahu tentang asal usul dan riwayat Pek-ih-jin itu.”

Sampai di sini Po-giok menaruh sepenuh perhatian, mendengarkan dengan seksama. Kong-sun Ang bercerita lebih lanjut, “Dalam suatu kesempatan aku berhasil menemui tiga tokoh besar yang paling disegani kalangan persilatan Tang-ing. Sejak pembicaraan panjang lebar itu, tidak sedikit manfaat yang aku peroleh di bidang ilmu silat. Dari mulut mereka pula berhasil aku korek keterangan tentang riwayat Tang-hai Pek-ih-jin.”

Sampai di sini Kong-sun Ang berhenti sebentar, lalu melanjutkan, “Puluhan tahun yang lalu, di kalangan Bu-lim Tiong-goan pernah muncul seorang jenius, pengetahuannya amat luas. Tapi sebagai manusia biasa, betapapun pintar dan luas pengetahuannya, tetap ada batasnya. Walaupun orang ini mahir mempelajari berbagai jenis ilmu, namun hasil yang dipelajari tiada satu pun yang mencapai taraf tinggi, ilmu yang diyakinkan tiada yang sempurna. Terutama dalam hal ilmu silat, walau ia mahir berbagai ilmu silat dari beberapa cabang. namun tiada satu pun yang berhasil diyakinkan sampai puncaknya.

“Kalau orang lain, dengan bekal yang dimilikinya itu, tentu sudah berkelana di kang-ouw. Tapi orang ini berambisi besar, cita-citanya setinggi langit kaum persilatan umumnya tidak terpandang olehnya, maka ia hanya mencari tokoh-tokoh kosen persilatan untuk diajak bertanding. Dengan bekal yang dimilikinya, sudah tentu setiap kali bertempur selalu kalah.”

Kong-sun Ang menghela napas gegetun, air mukanya seperti merasa kasihan. “Setengah hidup orang ini hanya berkelana di kang-ouw, setelah usianya hampir setengah abad baru ia peroleh seorang keturunan. Orang ini sadar pengalaman hidupnya yang serba gagal itu amat mengecewakan, sudah tentu ia tidak berharap putranya kelak mengikuti jejaknya, maka ia bertekad mumpung dirinya masih mampu mendidik dan merawat putra tunggalnya, ia harus menggemblengnya menjadi seorang tunas muda yang luar biasa di Bu-lim.

“Padahal di Tiong-goan sudah tiada tempat berpijak baginya, maka ia membawa putranya yang masih kecil berlayar menuju ke Tang-ing. Sejak kecil putra kesayangannya itu digembleng dengan berbagai macam ramuan obat. Sejak anaknya mulai belajar jalan sudah harus belajar kungfu. Sedetik pun anaknya tidak boleh menghamburkan waktu. Jiwa raga dan semangat putranya harus dicurahkan untuk belajar dan dipersembahkan untuk ilmu silat.

“Maklum, orang ini serba bisa, menguasai intisari berbagai ilmu silat, hanya sayang ia tidak bisa tekun mempelajarinya satu per satu. Oleh karena itu meski taraf kemampuannya tidak berhasil mengangkat dirinya menjadi tokoh kosen, tapi pasti dia merupakan seorang guru teladan yang tiada bandingannya.

“Belum genap 10 tahun, di bawah gemblengannya, putra kesayangannya itu sudah memiliki lwe-kang yang sejajar dengan tokoh kelas wahid di Tang-ing. Pada usia 11 ia sudah mengembara kang-ouw. Dalam jangka 10 tahun ia sudah menghadapi seluruh jago silat berbagai aliran yang ada di kepulauan itu.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: