Kumpulan Cerita Silat

25/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:33 am

Pendekar Empat Alis
Buku 07: Duel di Bu Tong
Bab 01
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Hiu_Khu)

Lereng yang mereka lalui tandus tanpa tetumbuhan apapun, batu padas licin dan tajam! Mendadak Hoa-kuahu berhenti dan memandang kaki sendiri, kakinya yang putih halus itu tampak melepuh dan berdarah.

“Engkau tidak bersepatu?” tanya Siau-hong.

“Tidak,” jawab si janda dengan tertawa. “Biasanya aku sangat jarang berjalan.”

Ternyata sepatu pun tidak dipakainya dan segera ikut pergi bersama Siau-hong, malahan tidak membawa apapun.

“Engkau tidak menghendaki apapun dan cuma minta kuikut pergi bersamamu, lalu apa yang perlu kubawa?” ucap Hoa-kuahu dengan muka pucat karena kaki kesakitan namun tetap tertawa lembut. “Di dunia ini masakah ada yang lebih berharga daripada cinta sejati?”

Siau-hong memandangnya, rasa hangat membanjiri hatinya. Dipondongnya Hoa-kuahu dan melintasi lereng ini.

Si janda berbisik di tepi telinga Siau-hong, “Sekarang Sebun Jui-soat pasti menganggap engkau sudah mati, asalkan kau suka, kita dapat mencari suatu tempat yang aman dan tenang untuk hidup seterusnya.” “Sebenarnya aku sudah bertekad akan mati bagi Lau-to-pacu, tapi telah kutemukan dirimu,” sambungnya pua. “Dia juga tidak berkeras menghendaki aku tinggal di sana, maka kuharap seterusnya dia akan melupakan si janda ini. Aku she Liu, bernama Jing-jing.”

Jing-jing artinya hijau menghijau. Rerumputan di depan memang hijau, dedaunan juga menghijau.

Siau-hong tidak langsung menuju ke sana, dia tidak lupa di depan itulah hutan pemakan manusia.
Mereka berduduk di ketinggian tanah di tepi hutan, di atas tanah berumput yang penuh dedaunan rontok.

Aneh juga, tengah musim semi, masa daun sudah rontok?

Siau-hong memungut sehelai daun itu, hanya dipandangnya sekali, mendadak tangannya berkeringat dingin.

Segera si janda alias Liu Jing-jing dapat melihat perubahan air muka Liok Siau-hong itu, cepat ia tanya, “Apa yang kau lihat?”

Siau-hong menunjukkan pangkal daun rontok itu dan berkata, “Daun ini bukan rontok tertiup angin.”

Pangkal daun rontok itu ternyata rata.

Liu Jing jing juga berkerut kening, ucapnya, “Bukan rontok tertiup angin? Apakah rontok karena tebasan pedang?”

“Bukan ketajaman pedang, tetapi hawa pedang,” tukas Siau-hong.

Air muka Liu Jing-jing juga berubah. Pedang di tangan siapa yang mampu memancarkan hawa pedang setajam ini?

Segera Siau-hong memungut lagi sehelai bulu yang juga ron¬tok oleh karena hawa pedang.

Di hutan ini ada burung dan burung dapat dijadikan santapan. Tapi di dunia ini, ada berapa orang yang mampu membuat burung terbang jatuh dengan hawa pedang? Siapa lagi kecuali Sebun Jui-soat.

Liu Jing-jing tidak dapat tertawa lagi, “Apakah dia belum pergi?” tanyanya.

“Biasanya dia tidak mudah kehilangan akal,” ujar Siau-hong dengan tersenyum getir.

Liu Jing-jing menunduk, “Kutahu bagaimana bentuknya, pernah kulihat dia.” Tiba-tiba ia mendongak pula dan berkata, “Tapi kita pun tidak perlu takut, dengan tenaga gabungan kita berdua masakah tidak mampu melawannya?”

Siau-hong menggeleng.

“Tetap kau takut padanya?” Jing-jing menegas. “Sebab apa?”

Siau-hong juga menunduk, ucapnya dengan menyesal, “Sebab aku merasa malu.”

“Apakah benar engkau pernah berbuat seperti apa yang dituduhkan padamu?”

“Setiap orang pasti pernah melakukan kesalahan,” ujar Siau-hong.

“Tapi, engkau bukanlah seorang yang ceroboh.” “Orang yang tidak cereboh juga dapat berbuat ceroboh.” Tambah rawan air muka Jing-jing, “Kau kira kita pasti tidak dapat keluar dari hutan ini?”

“Ya, sebab itulah sekarang kita hanya ada satu jalan.”

“Jalan mana?”

“Jalan kembali ke sana.”

Jing-Jing memandangnya dengan terkesiap, “Kembali lagi ke Yu-leng-san-ceng?”

“Kemana pun selalu ada yang sedang menungguku, tapi kan lebih baik daripada mati konyol di dalam hutan.”

Di tengah lembah masih penuh awan dan kabut. Kembali ke sini sama sukarnya seperti kalau mau pergi.

Sesosok bayangan orang melayang-layang dari lereng depan sana seolah-olah mengapung di tengah awan. Itulah Kau-hun-sucia. Meski dia tidak berwajah, tidak punya nama, tapi dia punya tangan dan berpedang. Pedang sudah terhunus dan siap menyerang.

Ia pandang Siau-hong dengan dingin, lalu menegur, “Kau sudah pergi, mengapa kembali lagi?”

“Sebab aku rindu rumah,” jawab Siau-hong dengan tertawa.

“Di sini bukan rumahmu,” ucap Kau-hun-sucia.

“Mestinya bukan, tapi sekarang rumahku. Sebab tiada tempat lain lagi yang dapat kutuju.”

“Kau lihat apa yang kupegang?”

“Seperti sebilah pedang.”

“Asal dapat kau kalahkan pedangku ini segera kulepaskan kau lewat.”

“Kukira lebih baik jangan kau coba.”

“Memangnya kau yakin dapat mengalahkan pedangku?” jengek Kau-hun-sucia.

“Aku tidak yakin, sedikitpun tidak. Namun paling sedikit aku sanggup menahan sepuluh jurus seranganmu.”

“Lantas bagaimana kalau dapat menahan sepuluh jurus?”

“Dari kesepuluh jurus seranganmu kuyakin dapat mengenali gaya ilmu silat dan asal-usulmu,” Siau-hong tertawa, lalu menyambung, “Kukira kau pasti tidak suka asal-usulmu diketahui orang.”

Kau-hun-sucia tidak bicara lagi, urat hijau pada punggung tangannya yang memegang pedang tampak menonjol.

Siau-hong tidak lagi memandangnya lalu melangkah lewat dengan tenang di bawah pedang orang. Terpaksa Liu Jing-jing mengintil di belakangnya.

Tangan Kau-hun-sucia tampak gemetar. Cahaya pedang juga gemilap.

Siau-hong tetap tidak menoleh. Baju Liu Jing-jing sudah basah oleh keringat. Dapat dilihatnya Liok Siau-hong sama sekali tidak siaga, apabila pedang orang menusuk, cukup sekali saja pasti dapat membinasakan dia.

Akan tetapi Kau-hun-sucia justru menyaksikan Siau-hong berlalu begitu saja. Sampai sekian jauh barulah pedang diturunkan. Terdengar suara nyaring dan letikan bunga api, sepotong batu karang pecah menjadi beberapa bagian.

Diam-diam Liu Jing-jing melirik ke belakang. Kembali keringat dingin membasahi telapak tangannya.

Batu karang di pegunungan ini sangat keras. Biarpun dipalu juga sukar pecah maka dapat dibayangkan betapa kuat tabasan pe¬dang Kau-hun-sucia.

Belum seberapa jauh, terlihatlah seorang berbaju kelabu dan bercaping sedang berjalan di depan.

“Lau-to-pacu!” seru Siau-hong.

Orang itu tidak menjawab. Siau-hong ingin menyusulnya, tapi meski tampaknya orang di depan berjalan dengan seenaknya, Siau-hong justru tidak dapat menyusulnya.

Ketika Siau-hong tidak menyusul lebih lanjut, mendadak si baju kelabu di depan berkata, “Kau bukan jenis orang yang sembarangan menyerempet bahaya dengan mempertaruhkan jiwamu. Berdasarkan apa kau yakin dia pasti tidak membunuhmu.”

Baru sekarang Siau-hong tahu segala urusan sukar mengelabui Lau-to-pacu. Agaknya segala sesuatu yang terjadi di sini selalu dikontrolnya dengan baik. Terpaksa ia bicara terus terang. “Sebab kulihat mukanya itu rata bekas disayat pedang. Dengan ilmu pedangnya yang tinggi itu, di dunia ini cuma ada seorang yang mampu meratakan mukanya.”

“Siapa?” tanya Lau-to-pacu.

“Dia sendiri,” kata Siau-hong.

Lau-to-pacu mendengus tanpa bicara.

“Jika dia lebih suka merusak mukanya sendiri daripada orang mengenali siapa dia, dengan sendirinya dia juga tidak mau asal-usulnya kuketahui. Maka kuyakin dia pasti takkan turun tangan padaku.”

Mendadak Lau-to-pacu menoleh dan menatapnya dengan tajam, “Sedemikian keyakinanmu, apakah lantaran sudah dapat kau terka siapa dia?”

Siau-hong tertawa, ucapnya, “Aku cuma kebetulan teringat kepada sesuatu peristiwa masa lampau.”

“Uraikan!” dengus Lau-to-pacu.

“20 tahun yang lalu, jago pedang Bu-tong-pay yang paling terkenal ialah Ciok Ho, yang paling besar harapan untuk mengembangkan kejayaan Bu-tong-pay juga dia. Namun pada saat dia hampir diangkat sebagai pejabat ketua, mendadak di dunia Kangouw tersiar berita kematiannya. Padahal waktu itu usianya baru 40-an, dalam keadaan sehat dan kuat mengapa mati mendadak. Maka orang sama menaruh curiga terhadap kematiannya itu. Dengan sendirinya macam-macam isu lantas tersebar. Ada yang bilang dia tidak patuh kepada peraturan sehingga dipecat dari perguruannya. Karena penasaran lantas membunuh diri. Sebaliknya aku menyangsikan dia masih hidup dengan baik di dunia ini, tapi sengaja mengasingkan diri karena malu bertemu orang luar.”

Lau-to-pacu mendengarkan dengan tenang. Selesai Siau-hong bicara, barulah ia menjengek, “Dan kau mestinya juga tidak perlu lagi menemui aku.”

“Tapi aku pun tahu engkau pasti takkan membunuhku,” kata Siau-hong.

“Apa dasarmu?” bentak Lau-to-pacu dengan bengis.

“Kutahu saat ini engkau sangat memerlukan tenaga, engkau juga tahu aku ini seorang yang sangat berguna.”

“Kenapa aku harus mempergunakan dirimu?”

“Untuk melakukan pekerjaan besar harus memakai orang yang berguna.”

“Kau tahu ada pekerjaan besar yang akan kulaksanakan?”

“Untuk membangun pangkalan ini, entah berapa banyak kau keluarkan tenaga dan pikiran serta harta benda. Untuk tetap mempertahankannya terlebih tidak gampang. Biarpun ada peraturanmu yang mengharuskan pembayaran sepuluh laksa tahil perak bagi setiap orang yang mengadakan kontrak denganmu, kukira tetap belum tentu dapat menutup pembiayaanmu. Umpama dapat untung sedikit, dengan pribadimu kukira juga takkan bersusah payah hanya untuk mencari sedikit keuntungan ini.”

“Bicara terus,” dengus Lau-to-pacu.

“Maka dapat kupastikan perbuatanmu ini pasti ditopang oleh sesuatu rencana lain. Dengan kepintaranmu, apa yang kau rancang pasti sesuatu urusan yang besar.”

Lau-to-pacu memandangnya dengan dingin, sorot matanya tambah tajam, mendadak ia membalik tubuh dan berkata, “Ikut padaku!”

Pada ujung jalan kecil yang berliku itu ada sebuah rumah batu berbentuk kuno dan sederhana. Pajangan di dalam rumah juga bersahaja, bahkan terasa agak seram, jelas jarang dihuni orang.
Akan tetapi sekarang di dalam rumah sudah menunggu tiga orang. Tiga orang yang seharusnya sudah mati.

Mereka adalah Kaucu, Piauko dan Koan-keh-po.

Ketiga orang ini berdiri di samping sebuah meja pemujaan bertabir kuning, wajah mereka sama tersembul senyuman licik dan sama melirik kedatangan Liok Siau-hong.

Meski Siau-hong berusaha mengekang perasaan sendiri, tidak urung ia kelihatan sangat terkejut.

“Sekarang tentunya kau paham semuanya?” kata Lau-to-pacu.

“Tidak, aku tidak paham,” ujar Siau-hong dengan menyengir.

“Dari awal hingga akhir urusan ini memang sebuah perangkap belaka,” kata Lau-to-pacu pula.

Namun Siau-hong tetap menggeleng tidak paham.

“Apa yang dilakukan mereka, semuanya akulah yang mengatur. Tujuannya hanya untuk menguji dirimu.”

“Engkau mencurigai aku ini agen rahasia musuh yang sengaja diselundupkan ke sini?” tanya Siau-hong.

“Aku curiga terhadap siapa pun,” jawab Lau-to-pacu. “Setiap orang di sini sudah pernah mengalami ujian. Yang terbunuh oleh Koh Hui-hun adalah orang yang tidak tahan uji.”

Akhirnya Siau-hong paham, “Jadi sengaja kau lepaskan aku pergi, tujuanmu juga untuk menguji diriku apakah aku benar-benar terdesak oleh Sebun jui-soat hingga menghadapi jalan buntu, begitu?”

“Dan kalau engkau tidak putar balik ke sini, saat ini kau pasti sudah binasa di tengah hutan pemakan manusia itu,” tukas Lau-to-pacu.

“Tentunya juga telah kau perhitungkan aku akan membawa pergi Liu Jing-jing, kebetulan dapat kau suruh dia membinasakan diriku,” sambung Siau-hong.

“Hal itu justru di luar dugaan, jika kau tidak putar balik, dia juga akan ikut mati bersamamu.”

Tanpa terasa Siau-hong berpaling, ternyata Liu Jing-jing juga sedang memandangnya. Keduanya tidak bicara, apapun yang hendak mereka katakan seolah-olah sudah terucapkan seluruhnya ketika keduanya beradu pandang tadi.

Lau-to-pacu memandangi mereka. Setelah Liok Siau-hong berpaling kembali, barulah ia berkata pula, “Dan sekarang bukankah kau sudah paham mengapa aku bertindak demikian?”

Siau-hong mengangguk, “Engkau ingin tahu apakah aku ini berharga dipergunakan olehmu atau tidak.”

“Betul, engkau memang boleh,” ujar Lau-to-pacu. Mendadak suaranya berubah kalem, “Baik, ilmu silat maupun kecerdasanmu, semuanya boleh. Yang lebih penting lagi, engkau tidak berdusta di hadapanku.”

“Jika sudah jelas tak dapat berdusta padamu, untuk apa pula aku berbohong?” ujar Siau-hong sambil menyengir.

“Engkau orang pintar. Sku suka kepada orang pintar sebab itulah selanjutnya engkau adalah sekutuku. Asalkan tidak keluar perkampungan ini, apapun boleh kau lakukan. Kupercaya orang pintar seperti kau pasti takkan berbuat sesuatu ketololan.”

Lalu ia berpaling dan mamberi pesan kepada Koan-keh-po, “Sampaikan perintahku. Malam ini mengadakan perjamuan besar untuk memberi selamat datang padanya.”

Koan-keh-po lantas mengundurkan diri, begitu pula Piauko dan Kaucu.

Tiba-tiba Lau-to-pacu berkata pula, “Rumahmu sudah dirusak orang. Mulai hari ini, boleh kau pindah ke tempat Jing-jing sana.”

Siau-hong menjadi ragu, ucapnya, “Tapi engkau?

“Aku sudah tua,” sela Lau-to-pacu, “Orang tua biasanya suka lupa kepada hal-hal yang telah lalu.”

Dia berbangkit menghadapi pemujaan, ucapnya pula dengan perlahan, “Hanya ada satu hal tidak pernah kulupaka. Sampai waktunya nanti pasti akan kuberitahukan padamu.”

Siau-hong tidak bertanya lagi, ia tahu setiap kata ucapan Lau-to-pacu adalah perintah.

Santapan yang disuguhkan sangat baik dan banyak, terdiri dari 12 macam masakan. Bentuk meja perjamuan juga agak istimewa. Delapan belas meja panjang melingkar menjadi bentuk persegi. Lau-to-pacu berduduk di tengah, di sebelah kirinya ialah Liok Siau-hong.

Pandangan semua orang terhadap Liok Siau-hong sekarang sudah berbeda daripada dua hari yang lalu. Dia bukan saja tamu utama perjamuan ini, bahkan dia mendadak berubah menjadi orang kepercayaan Lau-to-pacu.

Orang pertama yang berdiri menyampaikan selamat padanya ialah si kait Hay Ki-koat, menyusul lantas Piauko, Koan-keh-po dan Tokko Bi.

Hanya Yap Ling saja yang diam saja, sejak awal hingga akhir tidak melirik sekejap pun kepada Siau-hong, sebab yang duduk di sampingnya ialah Liu Jing-jing. Janda pemakan manusia ini seperti sudah berubah juga. Berubah menjadi tenang dan lembut.

Lau-to-pacu tetap memakai capingnya yang berbentuk aneh itu, sampai Liok Siau-hong yang duduk di sampingnya juga tidak dapat melihat jelas wajahnya.

Sedikit sekali Lau-to-pacu minum arak, makannya juga sangat sedikit, bicaranya pun tidak banyak. Namun setiap orang yang me-mandangnya pasti memperlihatkan sikap yang patuh dan hormat.

Orang yang hadir jauh lebih banyak daripada biasanya. Seluruhnya berjumlah 59 orang. Kebanyakan tidak dikenal Liok Siau-hong, tapi dapat dibayangkannya orang-orang ini pasti mempunyai sejarah hidup yang gilang-gemilang. Jika bukan anak keluarga kaya-raya, tentulah tokoh yang menjagoi satu wilayah. Bukan saja kedudukannya tinggi, kungfunya pasti juga tidak rendah. Kalau tidak, tentu tidak memenuhi syarat untuk masuk ke Yu-leng-san-ceng ini.

“Apakah orangnya sudah lengkap hadir?” demikian Siau-hong bertanya dengan suara tertahan.

“Hanya dua orang yang tidak hadir,” jawab Liu Jing-jing de¬ngan lirih. “Yang seorang ialah Kau-hun-sucia, biasanya dia me-mang tidak suka berkumpul dengan orang lain.”

“Dan siapa seorang lagi?” tanya Siau-hong.

“Kakak Yap Ling, namanya Yap Soat,” tutur Jing-jing. “Dia suka berburu, kalau keluar biasanya sampai belasan hari baru pulang.”

“Mengapa dia boleh pergi datang dengan bebas?”

“Lau-to-pacu sudah memberi izin khusus padanya,” jengek Jing-jing. “Perempuan ini memang makhluk aneh, apa yang hendak dilakukannya tidak ada orang mampu merintanginya. Seumpama berada di sini, biasanya dia juga tak suka bicara dengan orang lain.”

“Mengapa begitu?” tanya Siau-hong.

“Sebab dia merasa dirinya jauh lebih hebat dari orang lain.”

Jelas Jing-jing tidak suka membicarakan perempuan ini. Juga tidak suka membicarakannya dengan Liok Siau-hong. Tapi ternyata mereka juga tidak dapat bicara lebih lanjut, sebab orang yang baru dibicarakan segera juga muncul.

Mendadak seekor macan tutul melompat masuk dari luar pintu dan terbanting di depan meja perjamuan dengan keras.

Yap Soat juga ikut melayang masuk bersaitia macan tutul itu. Begitu macan tutul jatuh ke lantai, Siau-hong lantas dapat melihat orangnya.

Serupa macan tutul, selain cantik, orang ini juga cepat, gesit, dingin dan kejam. Bedanya adalah macan tutul itu sudah mati, mati terbunuh olehnya.

Termasuk macan tutul yang sekarang, sudah ada 13 ekor ma¬can tutul yang terbunuh olehnya. Hampir segenap macan tutul yang berkeliaran di sekitar lembah ini mati di tangannya. Nona ini gemar memburu. Lebih-lebih memburu macan tutul.

Padahal di antara binatang buas, yang paling ganas dan cekatan, yang paling sukar dihadapi adalah macan tutul. Biasanya biarpun pemburu yang berpengalaman juga tidak berani memburu macan tutul sendirian. Hampir tidak ada orang yang berani melakukan perbuatan yang bodoh dan berbahaya ini. Tapi, nona ini justru berani dan sudah dilakukannya.

Dia seorang perempuan yang pendiam, namun dia memburu macan tutul. Watak yang ruwet dan bertentangan itu menciptakan semacam kekuatan khas padanya. Sampai Liok Siau-hong pun tidak pernah melihat perempuan semacam ini. Dia memandangnya dengan te-kesima hingga lupa di sampingnya berduduk Liu Jing-jing.

Tapi dari awal hingga akhir Yap Soat hanya menatap Lau-to-pacu dengan mukanya yang pucat. Katanya tiba-tiba, “Kau tahu Piaukoku (maksudnya Yap Koh-hong) sudah mati?”

Lau-to-pacu mengangguk.

“Kau tahu siapa yang membunuhnya?” tanya Yap Soat pula. Kembali Lau-to-pacu mengangguk.

“Siapa?” Yap Soat menegas.

Mencelos hati Liok Siau-hong tiba-tiba. Ia tahu seorang wanita pemburu harimau tutul tentu dapat berbuat apapun jika ingin menuntut balas. Dan dia tidak ingin menjadi macan tutul yang akan diburunya.

Akan tetapi jawaban Lau-to-pacu sangat di luar dugaannya, “Sebun Jui-soat.”

Air muka Yap Soat bertambah pucat. Kedua tangannya mendadak terkepal erat.

“Tentunya kau ingat dahulu Piaukomu sudah menyatakan bila dia mati di tangan Sebun Jui-soat maka siapa pun dilarang menuntut balas baginya. Sebab apa yang terjadi pasti suatu pertarungan yang adil.”

Maksud Yap Koh-hong tentunya juga agar orang yang hendak menuntut balas baginya tidak binasa pula di bawah pedang Sebun Jui-soat.

Bibir Yap Soat tampak gemetar, tangan yang mengepal juga gemetar, mendadak ia berduduk dan berucap, “Ambilkan arak!”

Yang membawakan arak ialah Koan-keh-po. Seguci arak yang baru dibuka.

Sama sekali Yap Soat tidak meliriknya. Ia hanya mendengus, “Sebaiknya kau menyingkir agak jauh, makin jauh makin baik.”

Dan Koan-keh-po benar-benar menyingkir. Sangat jauh ia menyingkir.

“Siapa yang mau mengiringi aku minum?” kata Yap Soat pula.

“Aku!” Hay Ki-koat mendahului.

“Kau tidak setimpal,” jengek Yap Soat.

Mendadak Lau-to-pacu menepuk bahu Liok Siau-hong. Perlahan Siau-hong lantas berbangkit dan mendekati Yap Soat.

Akhirnya Yap Soat memandangnya sekejap dan berucap, “Kau inikah Liok Siau-hong?”

Siau-hong mengangguk.

“Dapat kau minium arak?”

“Dapat.”

“Baik. Ambilkan mangkuk besar!”

Segera mangkuk yang diminta diantarkan. Mangkuk sangat besar. Dia minum habis satu mangkuk, Siau-hong juga minum satu mangkuk. Yap Soat tidak bicara, Siau-hong juga tidak buka mulut. Ia tidak memandang Siau-hong lagi, Siau-hong juga tidak menghiraukannya. Kedua orang lantas berduduk berhadapan di lantai dan minum arak semangkuk demi semangkuk.

Sedikithya sudah belasan mangkuk arak terminum, tapi wajah Yap Soat tetap putih kepucatan.
Arak seguci terminum habis lalu dia berbangkit dan melangkah pergi tanpa berpaling. Juga tidak berucap lagi sepatah kata pun.

Waktu Siau-hong berdiri kepala pun terasa rada pening.

“Bagaimana?” tanya Lau-to-pacu.

Siau-hong menyengir, “Tak kusangka sehebat ini takaran mi-numnya. Sungguh tak terduga.”

Tiba-tiba Lau-to-pacu menghela napas, “Aku pun tidak menduga. Selama ini tidak pernah kulihat dia minum arak.”

Siau-hong sangat terkejut dan menegas, “Tidak pernah kau lihat dia minum arak?”

Bagi seorang yang kepala sudah pening terlalu banyak menenggak arak, rasanya tidak ada urusan lain yang lebih menarik baginya daripada sebuah tempat tidur. Apalagi tempat tidur ini sangat longgar dan empuk.

Tapi sayang, justru ada seorang tidak membiarkan Siau-hong berbaring dengan enak.

Begitu masuk rumah segera Liu Jing-jing mencari seguci arak, ia duduk di lantai dan berseru, “Siapa yang akan mengiringiku minum arak?!”

Siau-hong memandang kian kemari, lalu ucapnya sambil menyengir, “Tampaknya dalam rumah ini hanya ada diriku seorang?”

“Kau dapat minum?” tanya Jing-jing.

“Bolehkah aku tidak minum?”

“Tidak boleh.”

Teipaksa Siau-hong berduduk dan mengiringinya minum. Pada waktu berduduk, dia sudah siap untuk mabuk. Dan dia benar-benar mabuk.

Waktu mendusin, Jing-jing sudah tidak berada di dalam rumah. Dia berbaring sendirian di tempat tidur. Sepatu pun tidak dicopot, kepala masih sakit seakan-akan mau pecah. Dia tidak ingin bangun, juga tidak sanggup bangun rasanya, namun di luar jendela justru ada orang memanggilnya.

Daun jendala terbuka. Yang memanggilnya ialah Tokko Bi, katanya, “Sudah tiga kali kudatang dan melihat tidunnu sangat nye-nyak, tidak berani kubangunkan kau.”

“Ada keperluan apa kau cari aku?”

“Keperluan sih tidak ada, cuma sudah lama tak bertemu, ingin mengobrol denganmu.”

Apapun juga orang kan sahabatnya. Jika sahabat datang mengajaknya mengobrol, biarpun kepala sakit juga sukar ditolaknya.

“Sebaiknya kita mengobrol di luar, kutakut melihat si janda Hoa itu,” kata Tokko Bi.

Di luar masih tetap berkabut, lembab dan dingin. Sangat berfaedah bagi seorang mabuk yang belum siuman seluruhnya.

Luka Tokko Bi sudah sembuh dengan cepat, tampaknya dia menahan sesuatu pikiran, katanya, “Sebenarnya sudah lama ingin kucari dirimu. Cuma kutakut engkau marah padaku.”

“Mengapa harus kumarah padamu?”

“Sebab aku yang memperkenalkan Kaucu dan lain-lain padamu. Sungguh, aku tidak tahu mereka akan membikin susah padamu.”

Siau-hong tertawa, “Dengan sendirinya engkau tidak tahu. Engkau adalah sahabatku. Selalu kau bantu diriku.”

Tokko Bi tampak ragu, akhirnya dia tabahkan diri dan berucap, “Namun semalam kembali aku berbuat sesuatu kesalahan lagi.”

“Urusan apa?” tanya Siau-hong.

“Semalam aku pun mabuk, tanpa sadar telah kubocorkan rahasiamu. Sekarang mereka bertiga sudah mengetahui Yap Koh-hong mati di tanganmu.” Mereka bertiga yang dimaksud tentu saja Piauko, Kaucu dan Koan-kek-po.

Maka Siau-hong tidak dapat tertawa lagi. Meski baru bertemu satu kali, namun dia sudah cukup memahami orang semacam Yap Soat, terlebih memahami pribadi Yap Ling.

“Konon orang di sini yang paling sulit direcoki ialah mereka kakak beradik. Mereka mengetahui kejadian ini, tentu mereka akan mencari dan mengadu jiwa denganmu,” tutur Tokko Bi dengan simpatik. “Meski engkau tidak takut, tapi serangan terang mudah dihadapi, sergapan secara gelap sukar dijaga. Maka kukira?”

“Kira apa?” tanya Siau-hong.

“Sebaiknya kau cari akal untuk menyumbat mulut mereka.”

Kembali Siau-hong tertawa. Dia paham maksud Tokko Bi. Katanya, “Kau minta aku bersikap bersahabat dengan mereka dan jangan memusuhi mereka. Jika mereka ada keperluan mencariku sebaiknya jangan kutolak permintaan mereka begitu?”

Mendadak Tokko Bi memandangnya lekat-lekat dan menggenggam tangannya, lalu ucapnya, “Sungguh aku bersalah padamu, maaf.”

Habis berkata ia lantas pergi.

Memandangi lenyapnya bayangan punggung orang, sungguh Siau-hong tidak mengerti sesungguhnya orang ini seorang sahabat atau seorang yang setiap saat dapat menjual sahabat. Sekarang dia cuma dapat memastikan sesuatu hal, yaitu selekasnya Kaucu dan lain-lain pasti akan mencarinya.

Dan apa yang akan terjadi? Sungguh tak berani dipikirnya. Juga tidak sempat untuk memikirkannya sebab pada saat itu juga cahaya pedang lantas berkelebat, ada orang menusuknya.

Saat itu sudah cukup lama Tokko Bi pergi. Sudah sekian jauh-nya Siau-hong berjalan dan sudah dekat tempat tinggal Liu Jing-jing. Sinar pedang justru menyambar turun dari balik emper, cepat lagi jitu, juga ganas.

Tak diduganya di tempat ini masih ada orang yang hendak menyergapnya, dalam keadaan demikian sudah tiada peluang baginya untuk mengelak. Untung dia Liok Siau-hong, juga untung dia mempunyai tangan. Mencjadak ia menjulurkan kedua jarinya dan menjepit…

Meski setiap manusia di dunia ini hampir seluruhnya bertangan dan berjari, tapi tidak perlu disangsikan lagi kedua jari Liok Siau-hong inilah paling berharga sebab kedua jari ini sudah sering menyelamatkan dia dari marabahaya. Dan sekali inipun tidak terkecuali. Sekali menjepit, mata pedang orang sudah terkatup kencang di tengah jarinya.

Mata pedang yang tajam dan kuat itu tidak dapat terlepas dari jepitan kedua jarinya. Waktu ia mendongak, dilihatnya sepasang mata yang indah dan dingin. Yap Soat sedang memandangnya.

Siau-hong menghela napas. Ucapnya, “Kau sudah tahu semuanya?”

Sampai lama Yap Soat menatapnya kemudian baru mengangguk, “Ya, sekarang baru kutahu Liok Siau-hong memang tidak malu sebagai Liok Siau-hong. Ternyata, aku tidak salah mencari orang.”

Suaranya tidak mengandung rasa dendam dan benci. Segera Siau-hong bertanya, “Kau datang untuk mencariku atau hendak membunuhku?”

“Aku cuma ingin membuktikan jurus andalanmu yang termashur ini.” jawab Yap Soat. “Bahwa kau mampu menyambut tusukan pedangku ini berarti engkau adalah orang yang ingin kucari.”

“Dan bila ku mati di bawah pedangmu?”

“Itupun salahmu sendiri.”

“Jadi sekarang aku ini orang yang hendak kau cari?” tanya Siau-hong pula.

“Ya, ikut padaku,” Yap Soat mengangguk.

Mereka menuju ke hutan yang lebat, setelah melintasi lereng lagi, terdengarlah suara gemercik air. Air yang mengalir tidak keras dan membentuk sebuah kolam di tempat ini. Sekelilingnya pegunungan menghijau permai, kabut pun tipis. Jika seorang dapat duduk tenang sekian lama di tepi ko¬lam ini, tentu banyak kekesalan akan terlupakan.

“Sungguh tak tersangka di Yu-leng-san-ceng juga terdapat tempat seindah dan setenang ini,” gumam Siau-hong.

Biasanya anak kecil ada tempat bermain sendiri yang dir-hasiakan. Jelas tempat ini milik Yap Soat. Tapi untuk apa dia mem-bawa Liok Siau-hong ke sini?

“Sesungguhnya apa kehendakmu?” tanya Siau-hong.

Yap Soat berdiri di tepi kolam dan memandang jauh ke sana. Membiarkan rambutnya yang hitam halus dan panjang terurai. Suaranyajuga halus bening serupa air kolam yang jernih. Tapi apa yang diucapkannya sungguh membuat orang terpe-ranjat, dia bilang, “Kuminta kau jadi suamiku.”

Keruan Siau-hong melengak dan merasa napas sendiri mendadak berhenti.

Yap Soat membalik tubuh ke sini dan menatap Siau-hong de¬ngan pandangan yang bening. “Aku masih perawan,” sambungnya pula. “Selamanya belum pernah disentuh lelaki mana pun.” Malahan ia lantas menjamin pula, “Sesudah kukawin denganmu, pasti juga tiada lelaki lain yang akan menyentuhku.”

Siau-hong menarik napas dalam-dalam, ucapnya, “Aku percaya.”

“Dan kau mau?” tanya Yap Soat.

“Kukira masih ada syarat lain yang kau minta dariku?”

“Apa yang kuminta kau lakukan kan juga bermanfaat bagimu?”

“Sedikitnya aku harus diberitahukan dahulu urusan apa?”

Kerlingan mata yang lembut tiba-tiba memancarkan sinar tajam. Hanya orang yang merasa dendam saja mempunyai sorot mata semacam ini, katanya, “Kuminta kau bantu aku membunuh Sebun Jui-soat.”

Siau-hong tidak memberi reaksi. Permohonan ini tidak di luar dugaannya.

“Jika kita dapat menemukan dia, seketika dia akan turun tangan membunuhmu. Sebab dia pasti takkan memberi kesempatan lagi padamu untuk melarikan diri.”

“Sebenarnya tidak perlu kita cari dia, asalkan aku keluar lembah ini, segera dia akan mencari diriku,” ucap Siau-hong dengan tersenyum getir.

“Kutahu,” kata Yap Soat. “Jika hendak kucari dia, tentu sangat sulit. Kalau dia yang mencari kemari barulah segalanya bisa berjalan lancar, makanya pilihanku jatuh padamu.”

“Maksudmu agar kualihkan perhatiannya supaya kau sempat membunuh dia?”

Yap Soat tidak menyangkal, “Dia pasti tidak memperhatikan diriku, sebab dia benci padamu. Juga hakikatnya dia tidak tahu siapa diriku. Asalkan dapat kau jepit mata pedangnya, pasti dapat kubunuh dia.”

“Jika aku gagal?”

“Untuk menghadapi Sebun Jui-soat memang suatu tindakan yang sangat berbahaya, namun sudah lama sekali kupikirkan. Asalkan kau mau, sedikitnya ada tujuh bagian kita akan berhasil.”

“Mungkin kesempatanmu lebih dari tujuh bagian. Sebab seumpama aku gagal, pada waktu ujung pedangnya masih bersarang di dadaku, dapat juga kau bunuh dia,” Siau-hong tertawa dan menggeleng. “Hal ini tentu saja sudah kau pikirkan. Maka kau berani menjamin padaku bahwa selanjutnya tidak bakal ada lelaki lain yang berani menyentuhmu, sebab kau ingin aku mati dengan hati tenteram.”

Yap Soat juga tidak menyangkal, “Memang sudah kupikirkan. Kesempatanmu memang tidak terlalu banyak. Aku pun tahu engkau seorang penjudi. Barang sesuatu yang berharga untuk kau pertaruh-kan tentu akan kau lakukan.”

Sorot matanya tambah kuat, sampai lama barulah Siau-hong dapat mengalihkan pandangannya, dan segera diketahuinya si nona sudah dalam ke adaan telanjang bulat…

Puncak gunung menghijau permai dengan air kolam yang jernih, Yap Soat berdiri diam di situ, membawa semacam kecantikan dan keangkuhan yang sukar dijelaskan. Dia memang pantas angkuh, sebab tubuhnya yang perawan memang betul masih suci bersih.

Sampai lama ia pandang Siau-hong, katanya kemudian, “Asalkan kau mau, sekarang juga aku akan menjadi milikmu.”

Suaranya penuh rasa kepercayaan kepada dirinya sendiri. Ia yakin tiada seorang lelaki di dunia ini yang mampu menolaknya.

Napas Siau-hong serasa mau berhenti. Sampai lama, baru ia sanggup bersuara, “Jika kutolak dirimu, tentu banyak orang akan mengira aku ini orang gila, namun aku…?”

“Namun kau tolak diriku?” mencorong tajam pandangan Yap Soat.

“Aku cuma minta kau tahu sesuatu,” kata Siau-hong.

“Coba katakan.”

“Kakakmu tidak mati di tangan Sebun Jui-soat.”

“Darimana kautahu?”

“Sebab pada waktu dia mati, aku sendiri berdiri di depannya. Sarah yang muncrat dari pedang hampir mengotori bajuku.”

“Pedang siapa?” tanya Yap Soat.

“Pedang kakakmu sendiri!” jawab Siau-hong.

“Dusta! Kau bohong!” mendadak Yap Soat meraung seperti orang gila.

Setelah gema suara orang berhenti, barulah Siau-hong berkata pula, “Engkau adalah perempuan paling cantik yang pernah kulihat dan mestinya dengan segera dapat kumiliki dirimu, untuk apa aku berdusta?”

Suaranya dingin dan tajam. Langsung menikam pada pusat persoalan. Lalu ia melangkah pergi cukup jauh barulah ia berpaling. Dari celah dedaunan masih dapat terlihat si nona. Dia masih berdiri tidak bergerak di sana. Siapa pun tidak tahu bagaimana perasaannya.

Tiba-tiba Siau-hong merasa pedih. Jika orang lain dapat kau tusuk hingga sakit, kau sendiri juga akan merasakan rasa sakit yang sama. Sebab itulah Siau-hong hanya memandangnya sekejap, lalu tidak berpaling lagi.

Lembah hijau tenang dan permai, tubuh anak perawan yang putih mulus tanpa cacat, kerlingan matanya yang lembut menggiurkan…

Sedapatnya Liok Siau-hong menahan perasaan dan tidak lagi membayangkannya, namun ia pun tahu kenangan itu pasti akan terukir selamanya di dalam lubuk hatinya.

Langkahnya sangat cepat. Sudah cukup jauh dia berjalan. Seharusnya dia sudah berada kembali di jalan kecil itu. Tapi waktu dia berhenti dan memandang sekitarnya, ia merasa sudah tambah jauh berada di tengah pegunungan itu.

Segera ia menyadari apa yang terjadi, ia tersesat.

Yang menakutkan adalah kabut di sekelilingnya mulai tebal. Bahkan jauh lebih tebal daripada kabut di Yu-leng-san-ceng sana. Betapa tajam pandangan seorang juga sukar mencapai lebih daripada setombak jauhnya. Bahkan, menuju ke arah mana pun ada kemung-kinan akan semakin jauh meninggalkan perkampungan hantu itu. Namun Liok Siau-hong tetap ingin mencoba. Sia bukan manusia yang suka berduduk dan menunggu datangnya cuaca cerah.

Dia berjalan lagi sangat jauh dan tetap tidak menemukan jalan yang betul. Di tengah hutan pegunungan yang tidak dikenal dengan kabut yang celaka ini sampai kapan baru akan dapat menemukan ja¬lan pulangnya?

Selagi dia mulai merasakan perut lapar dan badan penat serta berkuatir, tiba-tiba tereridus olehnya bau sedap penyelamat jiwa.

Meski sangat tipis bau sedap itu, tapi segera dapat dibedakan-nya itulah bau kelinci panggang.
Jauh pada waktu dia masih anak kecil, dia sudah menjadi pem-buru yang cekatan, sesudah dewasa minatnya terhadap makanan bi-natang buruan tetap sangat besar.
Jelas kelinci tidak dapat memanggang dirinya sendiri, di tem¬pat kelinci panggang itu pasti ada manusia, padahal satu-satunya tempat yang ditinggali manusia di sekitar sini adalah Yu-leng-san-ceng.
Dia menelan air liur, meski terasa tambah lapar, tapi sema-ngatnya terbangkit, ia menahan napas dalam-dalam, segera dapat dibedakannya bau sedap ituu teruar dari jurusan barat sana.
Analisanya memang sangat tepat, sebab tidak jauh dia menuju ke sana, bau sedap bertambah keras tercium.
Lereng gunung di depan sana tampaknya bertambah curam, namun seperti semakin menurun. Bau sedap kelinci panggang itu se-perti bercampur dengan semacam bau lumpur busuk.
Jelas andaikan ada manusia di tempat ini, pasti juga bukan orang Yu-leng-san-ceng.
Hati Liok Siau-hong kembali tenggelam, manusia macam apa-kah yang tinggal di tempat begini? Sungguh sukar dibayangkannya.
Pada saat itulah di depan sana tiba-tiba menggema semacam suara aneh. Ia percepat langkahnya, segera terlihat di tengah kabut tebal sana muncul sesosok bayangan aneh.
Dapat dilihatnya bayangan itu pasti bukan bayangan manusia, tapi juga tidak serupa bayangan binatang, bahkan dia tidak dapat melukiskan bentuk bayangan aneh ini.
Akan tetapi, begitu melihat bayangan ini, seketika hatinya timbul semacam perasaan takut dan mual, hampir saja ia tumpah.
Bayangan di depan seperti juga lagi bergerak dengan tidak tenteram, waktu Siau-hong menabahkan diri dan menerjang ke sana, mendadak bayangan itu lenyap, lenyap sama sekali, seperti halnya tidak pernah muncul.
Tanpa lerasa Siau-hong merinding, ia berdiri tercengang hing¬ga lama, tiba-tiba dirasakan ?li tengah hembusan angin ada bau ha-ngus kayu dibakar.
Pasti di sinilah tempat kelinci dipanggang. Ia percaya dugaan sendiri pasti tidak meleset. Akan tetapi di sekitar situ justru tidak ditemukan sesuatu bekas apapun.
Kalau orang lain pasti sudah dilalui saja tempat ini, bahkan cepat-cepat melarikan diri. Namun Liok Siau-hong tidak mau me-ninggalkan barang sesuatu yang belum jelas diketahuinya.
Lebih dulu belasan tombak di sekitar tempat ini dia lingkari dengan seutas tali yang tidak kelihatan, lalu dia mulai melacak de¬ngan cara seperti orang menyingkap permadani.
Tanah dan daun rontok tempat ini basah dan lernbab, inilah tandanya tempat ini memang dekat dengan daerah rawa.
Ditemukannya sebagian tanah yang kelihatan kering, daun rontok di atasnya tampaknya juga baru saja dipindahkan ke situ.
Ia lantas berjongkok dan menyingkirkan daun rontok itu, de¬ngan hidung setajam anjing pelacak ia mulai mencium tanah, bah¬kan dicomotnya sedikit tanah untuk dicicipi rasanya.
Dalam tanah ternyata benar ada rasa hangus kayu terbakar, bahkan terasa seperti bercampur dengan rasa lemak kelinci pang¬gang.
Segera ia menggali lebih dalam, ditemukannya sedikit ranting kayu kering dan beberapa kerat tulang serta sebatang ranting ber-cabang yang biasanya digunakan sebagai garpu panggang. Pada garpu panggang ini masih tersunduk sepotong sisa daging kelinci yang bulu dan kulitnya terkerik bersih.
Hanya dengan tangan manusia saja dapat membuat garpu panggang seperti ini, hanya gigi manusia saja dapat menggerogoti tulang sebersih ini, bahkan cuma manusia saja yang makan daging bakar.
Kesimpulan Siau-hong, di tempat ini pasti ada orang.
Orang ini tidak cuma mempunyai sepasang tangan yang lincah dan cekatan, cara kerjanya juga sangat cermat. Kalau bukan Liok Siau-hong, siapa pun sukar menemukan tempat yang pernah diguna¬kan untuk memanggang ini.
Lantas siapakah orang ini? Mengapa bisa datang ke sini? Apa-kah dia juga sedang menghindari pengejaran orang lain?
Lalu barang apakah bayangan aneh yang meliuk-liuk tadi?
Sama sekali Siau-hong tidak mengerti, dan lantaran tidak bisa memecahkan soal ini, dia tambah ingin tahu.
Baginya sekarang, dapat menemukan jalan untuk pulang sudah berubah tidak begitu penting lagi. Sebab dia sudah bertekad akan menemukan jawaban pertanyaan ini.
Padahal jawabannya pasti terletak di sekitar tempat ini, namun di sekelilingnya justru tidak ditemukan sesuatu bekas kaki.
Siau-hong berduduk, lebih dulu ia bersihkan daging kelinci panggang, lalu disobeknya sepotong demi sepotong dan dimakan dengan perlahan.
Tidak bergaram, juga sudah terpanggang hangus, pula sudah tertanam di dalam tanah, daging kelinci seperti ini dengan sendiri¬nya terasa cemplang dan tidak enak. Tapi sedapatnya Siau-hong ma-kan seluruhnya.
Untuk bekerja apapun diperlukan tenaga, kalau lapar, darima-na datangnya tenaga?
Sesudah perut terisi, rasanya menjadi jauh lebih enak. Dia ber-baring, ia ingin istirahat sebentar, lalu akan mulai mencari lagi. De¬ngan sendirinya tidak pernah terpikir olehnya bahwa sekali dia ber-baring, hampir saja dia tidak mampu berbangkit lagi untuk selama-nya.
Kabut tebal mengambang di sekeliling pepohonan laksana asap, baru saja Siau-hong merebah, segera dirasakannya kabut asap ini menjauh serupa mega di langit, segala apa terasa semakin jauh meninggalkan dia.
Dia merasa seperti terjeblos ke dalam sebuah gua yang menye-nangkan tapi tidak ada dasarnya, segala apa di dunia ini berubah ja¬uh sekali, berubah menjadi sangat indah, urusan yang paling penting juga berubah tidak ada artinya lagi, segala siksa derita terasa sudah mendapat pembebasan.
Perasaan lega dan nikmat sesungguhnya memang dicari oleh setiap orang, akan tetap bagi Liok Siau-hong justru menimbulkan semacam rasa takut yang sukar dijelaskan.
Ia tahu dirinya pasti tidak mempunyai perasaan semacam ini. Juga tidak boleh ada, sebab ia mengemban tugas berat, tidak mung-kin tugas ini ditinggalkan begitu saja.
Yang lebih menakutkan lagi adalah waktu dia ingin bangun, ia merasa tubuh sendiri lemas sekali, seolah-olah segenap ruas tulang-nya terlepas.
Pada saat itulah, kembali dia melihat bayangan aneh itu.
Bayangan yang meliuk-liuk, di tengah kabut tebal kelihatan-nya serupa sebuah boneka kain yang telah dirusak oleh tangan jahil anak kecil sehingga tidak menyerupai manusia lagi. Sebab sekujur badannya kelihatan lemas, hampir setiap bagian tubuhnya dapat meliuk-liuk dengan bebas.
Padahal tubuh manusia bertulang dan beruas. Manusia pasti tidak demikian bentuknya, pasti tidak.
Selagi Siau-hong hendak memusatkan perhatiannya pada sorot matanya yang buyar agar dapat melihat lebih jelas, didengarnya si bayangan sedang berkata kepadanya, “Engkau ini Liok Siau-hong?”
Suaranya aneh, serak-serak basah dan lamban, tapi jelas suara manusia. Bayangan ini bukan saja manusia, bahkan seorang yang kenal Liok Siau-hong.
Untung sekarang Siau-hong tidak lagi merasa kaget dan takut, kalau tidak, bisa jadi dia akan ketakutan hingga gila.
Bayangan itu mengikik tawa, lalu katanya, “Konon Liok Siau-hong tidak pernah keracunan, mengapa sekarang bisa keracunan juga?”
Hal ini memang sukar dimengerti oleh Siau-hong. Padahal bi¬asanya, racun macam apapun, asalkan terdapat setitik saja di dalam makanan atau minumannya pasti akan segera diketahuinya.
Dengan tertawa si bayangan berkata pula, “Supaya kau tahu, yang kugunakan adalah daun ganja, kusuka menggunakan daun gan-ja untuk memanggang daging. Setelah kumakan akan terasa baha-gia, seperti mau terbang ke langit, sebaliknya setelah kau makan bisa berubah menjadi seekor babi mampus.”
Lalu ia menjelaskan pula, “Tadi waktu kau cium bau sedap daging panggang, racun ganja sudah kau isap setitik, sebab itulah ketika kau makan sisa daging panggang itu tidak lagi ada prasang-kamu.”
“O, jadi sengaja kau pancing kedatanganku,?”
Si bayangan menggeleng, “Sepotong sisa daging itu memang sengaja kutmggalkan, kalau tidak, biarpun seekor kuda juga dapat kumakan habis.”
Dia seperti sangat bangga terhadap ucapannya sendiri, hanya orang yang sudah biasa hidup terpencil dan menyendiri dapat bicara dengan bergumam seperti ini, hanya orang semacam ini yang bisa merasa senang terhadap ucapannya sendiri.
Setelah tertawa terkikik-kikik lagi sekian lamanya, lalu sam-bungnya lagi, “Jika tidak kau temukan sisa daging panggang itu mungkin akan kulepaskan kau, malang, daging itu dapat kau temu¬kan.”
“Malang?” Siau-hong menegas.
“Ya, malang bagimu, sebab tidak dapat kubiarkan orang me¬ngetahui aku berada di sini.”
Mendadak ia melompat maju dengan gerak tubuh yang sangat aneh, setiba di samping Liok Siau-hong, serentak ia.menutuk bebe-rapa Hiat-to hingga Siau-hong tambah tidak bisa berkutik.
Tangan orang tampaknya sebuah sarung tangan kulit ular yang sudah busuk, tapi gerak tangannya ternyata sangat cepat dan jitu.
Dibandingkan bagian tubuhnya yang lain, tangan buruk ini masih mendingan. Tidak ada orang yang mampu melukiskan ben-tuknya, tidak dapat dan tidak berani, Juga tidak tega melukiskannya.
Meski hati Liok Siau-hong sama sekali berada dalam keadaan seperti alam kosong, akan tetapi demi melihat jelas orang ini, tidak urung dia merinding dan mau tumpah lagi.
“Hm, sekarang dapat kau lihat diriku, apakah kau rasa mukaku sangat buruk?” jengek si bayangan.
Siau-hong tak dapat menyangkal. “Jika kau dijebloskan orang ke dalam jurang yang beratus tombak tingginya, lalu terendam lagi belasan hari di dalam lumpur, kuyakin kau pun akan berubah serupa diriku sekarang,” kata orang itu, suara tertawanya sekarang lebih pedih daripada orang menangis. Lalu sambungnya, “Dahulu aku pasti tidak lebih buruk daripadamu, bahkan terhitung seorang lelaki cakap.”
Siau-hong tidak memperhatikan ucapan terakhir orang, ia lan¬tas bertanya, “Kau didorong orang dari ketinggian jurang, lalu terje-blos lagi belasan hari di dalam lumpur, tapi engkau tidak mati?”
“Aku sendiri tidak tahu mengapa aku bisa tetap hidup,” ujar si bayangan dengan tersenyum pedih. “Rasanya Thian seperti mem-bantuku, tapi Thian seperti juga sengaja hendak menyiksa diriku.”
Bahwa orang ini dapat hidup sampai sekarang memang benar-benar suatu keajaiban, padahal keajaiban ini tidak lebih hanya ber-kat daun rontok yang membusuk itu.
Daun rontok yang membusuk di dalam rawa itu tumbuh sema¬cam jamur yang aneh, serupa semacam keajaiban, jamur ini dapat menyembuhkan infeksi pada luka manusia.
“Berkat barang-barang yang tidak membusuk semuanya di dalam lumpur itulah dapat kutangsal perutku, belasan hari kemudian barulah aku merangkak keluar dari rendaman lumpur,” demikian tutur pula si bayangan. “Seterusnya dapat kuketahui, lumpur itu se¬perti bermanfaat bagi Iukaku, maka setiap kali bilamana lukaku mu¬lai meradang, segera kubenamkan diriku di dalam lumpur, selama sekian tahun, cara demikian telah menjadi kebiasaanku.”
Akhirnya Siau-hong paham juga mengapa tubuh orang ini da¬pat meliuk-liuk sesukanya seperti ular.
“Akan tetapi siksaan sesungguhnya sukar ditahan,” si bayang¬an bertutur lagi, “syukurlah kemudian tanpa sengaja kutemukan bahwa daun ganja dapat menghilangkan banyak penderitaanku, se¬bab itulah aku dapat bertahan hidup sampai sekarang.”
Daya elastik hidup manusia memang sangat aneh, keajaiban penyesuaian di antara berbagai makhluk dan benda di alam ini juga sukar dibayangkan oleh manusia.
Siau-hong menghela napas panjang, keadaan di depan mata-nya perlahan sudah mulai normal lagi. Sejak tadi sekuatnya dia ber-usaha memusatkan pikiran sendiri, sayang meski sekarang pengaruh obat bius sudah lenyap, namun Hiat-to justru tertutuk.
Tiba-tiba ia bertanya,- “Kau tahu aku bernama Liok Siau-hong, kau kenal diriku?”
“Tidak kenal, tapi pernah kulihat dirimu.”
“Bilakah pernah kau lihat diriku?”
“Tadi,” jawab si bayangan.
Tertarik hati Siau-hong, “Tadi kau lihat diriku?”
“Ya, setelah kau tahu rahasia diriku, seharusnya kubunuh diri¬mu untuk menyumbat mulutmu, justru lantaran tadi kulihat dirimu, makanya dapat kau hidup sampai sekarang.”
“Sebab apa?” Siau-hong tambah tidak mengerti.
“Sebab engkau ternyata tidak terhitung orang busuk, kesem-patan itu tidak kau gunakan untuk mengotori A Soat.”
Tiba-tiba suaranya berubah menjadi penuh perasaan dan ber-
kata pula, “A Soat adalah anak baik, aku tidak dapat membiarkan
dia diganggu orang.” – –
Siau-hong memandangnya dengan terkejut, “Engkau ini apa-
nya?”
Si bayangan tidak mau menjawab pertanyaan ini, dia berbalik bertanya, “Sebab apa Sebun Jui-soat hendak membunuhmu? Ada permusuhan apa antara dia denganmu?”
Sejcnak Siau-hong merasa ragu untuk menjawab, akhirnya dia bicara terus terang, “Dia memergoki bininya tidur bersatu ranjang denganku.”
Si bayangan terdiam, sampai lama ia menatap Siau-hong, tiba-tiba tercetus suara tertawanya yang aneh, ucapnya, “Hah, sekarang barulah kupaham apa sebabnya kau datang ke Yu-leng-san-ceng.”
“Ya, kudatang untuk menghindari pengejaran musuh,” tukas Siau-hong.
“Tidak, bukan begitu.”
“Jika kau saja tidak mau mati, dengan sendirinya aku pun ti¬dak ingin mati.”
“Kau pun tidak takut mati,” kata si bayangan. “Kedatanganmu ke sini hanya ingin menggali rahasia tempat ini.”
Dia bicara dengan penuh- keyakinan, sambung pula, “Jika ga-dis molek seperti A Soat saja tidak memikat hatimu, mana bisa kau curi bini Sebun Jui-soat.”
Siau-hong menghela napas, katanya, “Aku cuma ingin berta¬nya sesuatu padamu.”
“Silakan,” jawab si bayangan.
“Jika aku agen rahasia musuh, mana bisa Lau-to-pacu mem-biarkan kuhidup sampai sekarang. Betapa cerdik dan lihainya, tentu engkau terlebih jelas daripadaku.”
Mendadak si bayangan bergemetar, tubuhnya mendadak me-ngerut lebih ringkas, matanya memancarkan sinar yang penuh rasa dendam, benci, murka, duka dan juga jeri.
Perlahan Siau-hong berucap pula, “Dengan sendirinya kau ta¬hu, sebab orang yang menceburkan dirimu ke dalam jurang ini ialah dia.”
Badan si bayangan tambah gemetar.
Siau-hong menghela napas, ucapnya, “Tapi jangan kau kuatir,
pasti takkan kusiarkan rahasia ini kepada siapa pun.” “Sebab apa?” tanya si bayangan.
“Sebab aku benar-benar sangat suka kepada Yap Soat, tidak nahti kubikin susah ayahnya?”
Kembali si bayangan menyurut mundur selangkah, ucapnya dengan suara parau, “Siapa ayahnya?”
“Kau!” jawab Siau-hong.
Mendadak si bayangan roboh, menggeletak di tanah, sampai napas pun tampak berhenti.
Tapi dia tidak mati, selang sekian lama barulah dia menghela napas dan berkata, “Memang betul, aku ayahnya. Semua orang me-ngira aku sudah mati, sampai mereka kakak beradik juga mengira aku sudah mati.”
“Paling tidak kan seharusnya mereka perlu diberitahu bahwa engkau masih hidup.”
Serentak si bayangan melompat bangun dan berseru, “Tidak, jangan kau beritahukan kepada mereka, sekali-kali jangan.”
“Sebab apa?” tanya Siau-hong.
“Sebab tidak kuhendaki mereka tahu keadaanku sekarang, aku lebih suka ….”
Mendadak ucapannya terputus, ia mendekap di atas tanah dan mendengarkan dengan cermat, sejenak kemudian, barulah ia men-desis, “Kumohon dengan sangat, jangan sekali-kali kau katakan te-lah bertemu denganku.”
Begitu selesai berkata, segera pula ia melayang pergi, nada ucapannya memang penuh nada memohon dengan sangat.
Selang sekian lama pula barulah Siau-hong mendengar suara orang, lalu muncul seorang melintasi daun rontok.
Siau-hong berharap yang datang ialah Yap Soat.
Tapi yang muncul bukan Yap Soat melainkan Yap Ling.
“Nona itu juga terkejut ketika melihat Siau-hong berada di situ, tapi segera ia dapat menenangkan diri.
Nyata nona cilik ini jauh terlebih tenang dan berpengalaman daripada apa yang pernah dibayangkan orang atas dirinya.
Segera ia tanya Siau-hong, “Tadi kudengar di sini ada suara bicara orang, memangnya siapa yang kau ajak bicara?”
“Bicara kepada diriku sendiri,” jawab Siau-hong.
Yap Ling tertawa, dengan berkedip-kedip ia berkata pula, “Bi-lakah engkau suka bicara sendiri?”
“Pada waktu kuketahui di antara kawan-kawanku ternyata ti¬dak dapat dipercaya lagi.”
“Mengapa engkau seorang diri berbaring di tanah?” tanya Yap Ling pula.
“Sebab aku suka,” sahut Siau-hong.
Yap Ling tertawa pula, sambil menggendong tangan ia me-ngitari Siau-hong dua kali, lalu berkata pula, “Kau tutuk Hiat-to sendiri, apakah juga lantaran kau suka berbuat demikian?”
Siau-hong menyengir. Mau tak mau ia harus mengakui keta-jaman mata nona cilik ini jauh di luar dugaan orang, namun ia yakin dirinya masih sanggup melayaninya.
Bagi orang semacam dia, bukan sesuatu urusan sulit jika ingin mengapusi seorang nona cilik.
“Dedaunan dan tetumbuhan di sini kebanyakan beracun, tanpa sengaja kumakan dan keracunan terpaksa kututuk beberapa Hiat-to sendiri untuk mencegah menjalarnya racun.”
Tiba-tiba dirasakan untuk berdusta ternyata juga tidak terlalu
sulit.
Yap Ling memandangnya, seperti percaya, tapi tak bicara lagi.
Dengan gegetun Siau-hong berkata pula, “Setelah kututuk Hiat-to sendiri baru kuingat suatu persoalan gawat, sebab aku tidak mampu lagi membuka Hiat-to sendiri yang tertutuk. Untunglah se¬karang kau datang, sungguh aku harus berterima kasih kepada langit dan bumi.”
Yap Ling tetap menatapnya tanpa bicara.
“Kuyakin engkau pasti dapat menolong diriku, biasanya eng¬kau sangat pintar,” kata Siau-hong pula.
Mendadak nona cilik itu berkata, “Tunggu sebentar, segera kukembali lagi.”
Habis berkata ia terus berlari pergi secepat terbang tanpa me-noleh.
Siau-hong jadi melenggong sendiri. Untung begitu Yap Ling pergi, segera si bayangan tadi muncul kembali.
“Apa yang kau minta sudah kukerjakan semua, sekarang da-patkah kau lepaskan aku pergi?” tanya Siau-hong.
“Tidak,” jawab si bayangan tegas.
“Sebab apa?” tanya Siau-hong gelisah.
“Sebab ingin kulihat cara bagaimana A Ling akan mengerjai dirimu,” dia bicara dengan rasa geli. “Budak cilik ini sejak kecil me¬mang suka berbuat jahil, terkadang aku sendiri tidak tahu apa yang akan dikerjakannya.”
Siau-hong ingin tertawa, tapi tidak bisa, sebab ia pun tidak da¬pat menerka sesungguhnya apa yang akan dilakukan Yap Ling atas dirinya, hanya diketahuinya apapun dapat dilakukan budak setan ini.
Selagi dia hendak bicara lagi kepada si bayangan, tahu-tahu bayangan itu lenyap pula, lalu didengarnya suara kresak-kresek daun terinjak, suara langkah orang.
Sekali ini suara melangkahnya terlebih berat, kedatangan Yap Ling juga terlebih cepat daripada tadi, sekali ini dia membawa se¬macam obat rumput yang tak dikenal namanya, jelas baru saja di-petiknya, begitu tiba, dengan napas masih terengah segera ia ber-seru, “Makan, lekas!”
“Masa kau suruh aku makan rumput liar yang tak keruan ini?” jawab Siau-hong terkejut.
Yap Ling menarik muka, “Ini bukan rumput liar, tapi obat pe-nyelamat jiwa, sengaja kupetik dengan susah payah bagimu.”
Lalu ia memberi penjelasan pula, “Adalah mudah untuk mem-buka Hiat-tomu, tapi setelah Hiat-to terbuka, bila racun menyerang jantungmu, bukankah berarti aku membikin celaka dirimu, maka le¬bih dulu harus kucarikan obat penawar bagimu.”
“Tapi … tapi sekarang rasanya aku sudah … sudah sembuh,” ucap Siau-hong.
“Tidak, belum,” kata Yap Ling. “Racun harus bersih seluruh-nya dari tubuhmu, toh obat rumput ini hanya ada faedahnya bagi manusia, makan banyak juga tidak berbahaya.”
Mulut si nona terus bicara, mulut Siau-hong tidak dapat bicara lagi, sebab mulutnya telah penuh dijejali rumput itu.
Siau-hong benar-benar mati kutu, terpaksa ia membiarkan diri-nya dicekoki sesuka hati nona cilik itu, akhirnya segenggam rumput habis ditelan olehnya dan barulah Yap Ling menghela napas lega. Lalu berkata dengan berkedip-kedip, “Bagaimana, enak tidak?”
“Oo … uuh …” Siau-hong tidak mampu menjawab.
“Eh, suara apa itu?” tanya Yap Ling. , “Suara domba, sekarang tiba-tiba kurasakan diriku seperti ber¬ubah menjadi seekor domba.”
Yap Ling tertawa, “Aku suka domba kecil, mari, biar kugen-dong dirimu.”
Dia benar-benar mengangkat tubuh Liok Siau-hong, tidak ke¬cil juga tenaganya.
Kembali Siau-hong terkejut, serunya, “He, untuk apa kau gen-dong diriku? Mengapa tidak kau buka Hiat-toku?”
“Obat penawarnya belum bekerja sepenuhnya, tempat ini juga tidak aman, kukira harus kupindahkan dirimu lebih dulu.”
“Hendak kau bawa aku kemana?”
“Tentu saja ke suatu tempat yang baik, tempat yang enak.”
Siau-hong hanya menyengir saja. Sungguh tidak terlalu enak digendong olah seorang anak dara yang hampir pantas menjadi anaknya.
Akan tetapi dada anak dara ini justru sedemikian masak, se-demikian padat, bau tubuhnya juga sedemikian harum.
Terpaksa Siau-hong memejamkan mata, ia ingin menirukan pertapa yang sedang mengheningkan cipta.
Mendadak didengarnya suara Yap Ling mendenging-denging bernyanyi kecil, sebagian lagunya menirukan lagu yang pernah di-nyanyikan Siau-hong tempo hari.
Keruan Siau-hong tambah runyam, lebih celaka lagi, pada saat itulah dirasakan sesuatu yang lebih membuatnya serba susah.
Tiba-tiba dirasakan ada sesua,tu yang tidak beres.
Semula ia tidak tahu sesungguhnya organ bagian mana pada tubuhnya yang tidak beres, tapi setelah dirasa-rasakan dan diketahui jelas tempatnya, wah, celaka, mendadak diketahuinya dirinya telah berubah menjadi kucing jantan di atas genteng.
Mendingan kalau di atas genteng, celakanya sekarang dia ber¬ada dalam gendongan seorang anak dara yang harum dan bernas. Dan anak dara ini justru tidak boleh disentuhnya.
Berulang-ulang ia memperingatkan dirinya sendiri, “Jangan, dia masih kecil, tidak boleh kupikirkan hal-hal ini, tidak boleh
Tapi apa mau dikata lagi, dia lelaki normal, lelaki sehat kuat, perubahan organ tubuhnya ini juga normal bagi seorang lelaki se¬perti dia dan sukar dicegah.
Yang diharapkannya semoga Yap Ling tidak melihatnya. Ia sendiri tidak berani memandang si nona, sekejap saja tidak berani.
Tapi Yap Ling justru lagi memandangnya, tiba-tiba ia berkata, “He, mengapa mukamu menjadi merah? Apakah kau demam? Me-riang?”
Siau-hong hanya menjawab secara samar-samar, sampai ia sendiri tidak jelas apa yang dikatakannya.
Untung Yap Ling tidak mendesak lagi, terlebih untung lagi ia sendiri tidak dapat bergerak sama sekali. Kalau saja Hiat-to tidak tertutuk, entah apa yang akan dilakukannya sekarang? Sungguh ti¬dak berani dibayangkannya.
Tiba-tiba Yap Ling barkata pula, “Tampaknya obat rumput yang kau makan telah mulai menunjukkan khasiatnya.”
Siau-hong tidak tahan, tanyanya, “Sesungguhnya rumput apa? Penolong jiwa atau pengganggu jiwa?”
“Pengganggu jiwa,” jawab Yap Ling. Mendadak ia berhenti dan menaruh Liok Siau-hong di atas segundukan dedaunan yang lunak.
Siau-hong membuka mata, baru diketahuinya tempat ini ada¬lah sebuah gua, dengan bertolak pinggang Yap Ling berdiri di de-pannya dan segera tertawa seperti siluman cilik.
Dengan berkedip-kedip anak dara itu berkata, “Sekarang apa¬kah kau rasakan jiwamu terganggu?”
Siau-hong menyengir, “Ya, hampir gila terganggu.”
“Kutahu ada semacam obat dapat menyembuhkan gangguan jiwamu,” ucap si nona.
“Obat apa?” tanya Siau-hong.
“Ini,” jawab Yap Ling sambil menuding hidung sendiri. “Ha¬nya diriku dapat menyembuhkan penyakitmu.’, Siau-hong melotot.
Sesungguhnya dia memang bukan anak perempuan kecil lagi, bagian yang pantas besar sudah tumbuh sangat besar.
Akhirnya Siau-hong jadi gregetan, ucapnya, “Baik, kau sendiri yang menghendaki, jangan salahkan aku.”
“Aku tak menyalahkan dirimu, memangnya engkau bisa apa?” ujar Yap Ling.
Siau-hong memang tidak bisa apa-apa, pada hakikatnya dia tidak dapat bergerak sama sekali. Hal ini tadi dirasakannya sebagai keberuntungan, sekarang telah berubah menjadi tidak beruntung.
Malahan sekarang ia merasakan tubuh sendiri seperti dibakar, setiap saat bisa meledak.
Yap Ling memandangnya dengan mengikik tawa, “Sekarang tentunya kau tahu urusan ini terkadang memang sangat mengganggu jiwa?”
Siau-hong tahu dan percaya, ia yakin sekarang tidak ada orang lain yang terlebih jelas daripadanya. Lebih celaka lagi, sekarang su¬dah dilihatnya paha yang mulus.
Entah sejak kapan paha siluman cilik ini sudah telanjang di luar baju. Sungguh paha yang menggiurkan.
“Ap … apakah sengaja hendak kau bikin gila diriku?” suara Liok Siau-hong sekarang lebih mirip orang meratap. .
“Aku sangat ingin menolongmu,” ucap Yap Ling dengan lem-but, “sebenarnya aku memang suka padamu, tapi sayang
Dengan sebuah jari perlahan ia membelai pipi Liok Siau-hong, katanya pula, “Aku pun masih perawan, selamanya juga belum per¬nah disentuh lelaki.”
Kata-kata itu pernah diucapkan kakaknya, Yap Soat, sekarang dia dapat menirukannya dengan sangat persis.

Seketika Siau-hong paham. Kiranya tempat rahasia Yap Soat itu sesungguhnya tidak benar-benar rahasia sebagai mana pernah disangkanya.

Mendadak Yap Ling menjengek, “Hm, terus terang. Apa yang kalian lakukan di sana sudah kulihat seluruhnya. Ku lihat dengan sangat jelas.”

“Hal itu lantaran cicimu…”

“Dia bukan Ciciku,” potong Yap Ling dengan suara keras, “Dia dilahirkan sebagai lawanku. Setiap apa yang kusukai selalu di-rebut olehnya.”

“Tapi aku…”

“Sudah jelas dia tahu, aku yang menemukan kau lebih dulu, dia tetap main rebut,” kembali Yap Ling memotong ucapannya. “Akan tetapi sekali ini aku tak mau mengalah lagi. Engkau adalah punyaku. Kuminta kau kawin denganku.”

Tiba-tiba ia tertawa pula, tertawa yang lembut dan manis. Katanya, “Atau boleh juga kau yang minta kukawin denganmu. Singkatnya, apapun yang kau minta pasti akan kupenuhi.”

Dalam keadaan demikian, apa pula yang dapat dikatakan Liok Siau-hong?

Gua ini gelap tapi tenang, senja sudah tiba….

Setelah suasana kembali tenang sejenak, menangislah Yap Ling, sungguh sedih tangisnya seperti orang yang habis mengalami sesuatu yang membuatnya penasaran.

“Kau ganggu diriku. Kau sadis. Mana boleh kau lakukan cara demikian padaku? Kau bikin celaka diriku selama hidup,” demikian omelnya.

Padahal sesungguhnya siapa yang diganggu? Dan siapa yang membikin celaka siapa?

Liok Siau-hong hanya menyengir saja dan tidak berani tertawa. Apapun juga dia masih seorang anak dara bahkan benar-benar anak perawan yang belum pernah disentuh lelaki.

Seorang lelaki yang habis melakukan hal seperti apa yang mereka lakukan tadi, apapula yang dapat diucapkan si lelaki ini?

“Apa yang kau katakan sendiri tadi? Apakah sekarang kau merasa menyesal?”

“Tidak, aku tidak menyesal.”

“Sungguh tidak menyesal?”

“Sungguh.”

Anak dara itu tertawa pula, tertawanya kembali serupa anak kecil.

“Mari, kita pulang.” Segera ia menarik tangan Siau-hong, “Mulai hari ini, engkau adalah seorang lelaki yang berumah tangga. Asalkan engkau tidak mencari perempuan lain, pasti akan kuladeni engkau serupa raja.”

Sang surya sudah terbenam, cuaca mulai gelap.

Mendadak Siau-hong merasa sangat lelah. Selama hidupnya hampir tidak pernah selelah sekarang ini.

Hal ini bukan disebabkan obat rumput yang celaka itu. Juga bukan perbuatan yang konyol itu.
Kelelahan ini seperti timbul dari dalam hati. Hanya seorang yang sudah siap hendak melepaskan segalanya, baru akan timbul rasa kelelahan demikian.

“Mungkin sudah waktunya aku pantas menjadi ‘lelaki rumah tangga’,” demikian ia membatin.

Di bawah remang senja, dilihatnya senyum manis pada wajah Yap Ling yang kebocahan itu. Dalam hati jadi timbul pikiran semacam itu, “Apapun yang dilakukan anak dara ini kan disebabkan karena dia suka padaku, maka diperbuatnya?”

Tertampak senyum Yap Ling bertambah manis. Tak tertahan Siau-hong memegang lagi tangannya.

Pada saat itulah terdengar suara genta dikejauhan. Agaknya di Yu-leng-san-ceng akan diadakan perjamuan besar lagi.

Apakah Lau-to-pacu telah menyiapkan perjamuan bahagia bagi mereka?

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: