Kumpulan Cerita Silat

25/03/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (18)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 10:07 pm

Misteri Kapal Layar Pancawarna (18)
Oleh Gu Long

“Itu paling baik,” ucap Siau-kong-cu, dengan tertawa, “Asalkan kau lakukan sesuai dengan perkataanku kelak tentu mendatangkan manfaat bagimu. Nah, boleh kau pergi saja sekarang.”

Ban-lo-hu-jin, mengiakan dengan menunduk, waktu ia menengadah, ternyata si nona entah sudah menghilang ke mana.

******

Dalam pada itu kebanyakan di antara para ksatria yang berkerumun itu telah menemukan sesuatu yang mengherankan. Yaitu Nyo-Put-loh yang berhubungan erat dengan Pui-Po-giok dan tidak sayang bertempur mati-matian bagi anak muda itu kini ternyata sama sekali tidak memandang sekejap pun terhadap Po-giok, biarpun anak muda itu memanggilnya tetapi tidak digubrisnya, malahan terus menyingkir ke sana.

Ling-Peng-hi sendiri berdiri tegak dengan angkuhnya di sebelah sana dengan senyuman mengejek.

Dalam keadaan demikian Ce-Sing-siu yang menjadi tuan rumah merasa serba susah, ia berdiri tercengang tanpa berdaya.

Selagi Po-giok hendak menyusul Nyo-Put-loh yang hampir menyelinap ke dalam hutan sana, mendadak seorang berteriak “Hai, Po cilik apakah kamu hendak kabur? Ini nenek datang untuk menghajarmu!”

Seorang lantas muncul bersama lenyapnya suara. Dia ternyata Ban-lo-hu-jin adanya, dia benar-benar telah datang lagi, hal ini sungguh di luar dugaan orang banyak. Seketika Nyo-Put-loh membalik tubuh dan Pui-Po-Giok berhenti di tempatnya. Ling-Peng-hi juga terbelalak dan Ce-Sing-siu berkerut kening. Para ksatria yang mulai bubar juga banyak yang putar balik.

Sementara itu Ban-lo-hu-jin sudah berdiri di depan Po-giok.

“Kamu benar-benar hendak bergebrak denganku?” tanya Po-giok sambil menarik napas.

“Dengan sendirinya benar,” sahut Ban-lo-hu-jin dengan tertawa. “Orang lain takut padamu, tidak mungkin nenek juga takut padamu. Dalam sepuluh jurus pasti akan aku hajar kamu sehingga merangkak-rangkak minta ampun, kau percaya tidak?”

Diam-diam Po-giok mengeluh jawabnya dengan tersenyum pedih, “Boleh silakan!”

Tanpa terasa ia pandang Nyo-Put-loh sekejap, akan tetapi tokoh Wi-yang-pai itu justru melengos ke sana.

Po-giok tahu dirinya menjadi sasaran penyesalan orang banyak, diam-diam ia putus asa, terasa tiada arti lagi hidup baginya. Rasanya cuma “kematian” saja yang dapat digunakan untuk minta ampun kepada orang lain.

“Eh, anak baik, jangan menghindar, biar sekali kemplang nenek pecahkan kepalamu!” seru Ban-lo-hu-jin sambil mengayun tongkatnya.

Po-giok menggertak gigi, ia menjadi nekat, sama sekali tidak menghindar, sebaliknya malah menyongsong kemplangan tongkat lawan.

Semua orang sama bersuara tertahan, tampaknya kepala Po-giok pasti akan hancur dan darah berhamburan.

Siapa tahu ketika tongkat sampai setengah jalan mendadak berganti arah, dari kemplangan mendadak meleset ke samping menyerempet lengan baju Pui-Po-giok.

Keruan Po-giok terkejut dan heran, semua orang juga melongo bingung.

“Cepat amat!” bentak Ban-lo-hu-jin. Segera ia putar tongkatnya, dalam sekejap ia serang lagi empat kali.

Diam-diam para penonton terkesiap, meski nenek ini terkenal licik dan licin, ternyata kungfunya juga tidak rendah, jarang orang kang-ouw yang mampu menandingi tongkatnya ini.

Beberapa kali serangan Ban-lo-hu-jin itu sungguh sangat lihai dan berbahaya, hampir setiap kali selalu menyerempet lewat tubuh Pui-Po-giok. Anak muda ini juga melengong dan tidak habis mengerti sebab apa si nenek menyerangnya seperti orang gila.

Tapi dalam pandangan orang banyak, semua mengira kungfu Pui-Po-giok yang telah mencapai puncaknya sehingga apa pun juga serangan tongkat Ban-lo-hu-jin sukar mengenai sasarannya dan setiap kali selalu melesot dengan selisih setitik saja.

Akhirnya para penonton sama bersorak memuji Pui-Po-giok, Ce-Sing-siu dan Poa-Ce-sia juga berseri-seri, hanya Ling-Peng-hi saja yang tampak cemberut.

Dalam pada itu Ban-lo-hu-jin telah menyerang lagi tiga empat kali dan tetap tidak dapat merobohkan Po-giok.

“Aha, sepuluh jurus sudah penuh … sepuluh jurus sudah lewat …” banyak orang mulai berteriak-teriak membela Po-giok.

Mendadak Ban-lo-hu-jin membentak, tongkat mengemplang lagi dengan dahsyat. Akan tetapi bagi pandangan Po-giok, serangan si nenek jelas banyak memberi peluang baginya.

Terdengar Ban-lo-hu-jin berbisik perlahan, “Kenapa tidak lekas turun tangan, tolol!”

Po-giok melengong, tanpa terasa sebelah tangannya lantas menghantam.

Ia tahu kekuatan sendiri sudah lenyap, pukulan ini pada hakikatnya sukar merobohkan seorang biasa, apalagi tokoh serupa si nenek.

Siapa tahu, baru saja tangan bergerak, kontan Ban-lo-hu-jin meloncat ke atas sambil mengeluarkan suara jeritan ngeri, berturut-turut ia berjumpalitan dua tiga kali, lalu terbanting ke tanah dengan keras.

Tubuhnya yang gemuk itu terguling-guling beberapa kali dan menggelinding ke tengah kegelapan, lalu merangkak bangun terus kabur secepat terbang, kendali begitu ia masih sempat mencaci-maki, “Baik, Po cilik, ingat utangmu ini, tidak nanti kuampunimu.”

Po-giok sendiri terkesima dan membatin “Sesungguhnya apa yang terjadi? Mengapa nenek yang licin ini berbuat demikian, untuk apa sebenarnya? Memangnya ada tipu muslihat keji di balik perbuatannya ini?”

Namun jelas orang telah mengorbankan diri sendiri untuk menyelamatkan jiwa dan namanya betapapun harus dipandang dari maksud yang baik, masakah ada muslihat keji segala.

*****

Saat itu Siau-kong-cu yang berbaju hijau dan berkopiah sembunyi di balik gunung-gunungan dan menyaksikan pertarungan itu dari jauh, melihat akhir dari pertarungan itu, ia pun heran dan juga gelisah.

“Apakah mungkin kungfu Po-ji sudah pulih kembali?” demikian ia tidak habis mengerti. “Tapi … ah, tidak mungkin! Pasti tua bangka Ban-lo-hu-jin itu sengaja mengacau. Namun, apakah rase tua itu sudah gila? Memangnya apa manfaatnya dengan bertindak demikian?”

Meski biasanya ia sangat cerdik dan pandai berpikir, tidak urung sekarang ia merasa bingung. Sementara itu kawanan ksatria yang hadir itu sudah berubah sikap lagi, semuanya memberi penilaian lain pula terhadap Pui-Po-giok.

Siau-kong-cu menggigit bibir dan mengentak kaki omelnya perlahan, “Setan cilik boleh lihat, nanti baru kau tahu rasa!”

Sekali loncat, dengan ringan ia menghilang dalam kegelapan.

Sementara itu Po-giok masih berdiri termenung di sana dan bergumam, “Kenapa bisa begini? Sementara orang yang tidak perlu membikin susah aku justru mencelakai aku, orang yang pasti mencelakai aku berbalik tidak berbuat demikian …”

Waktu ia memandang ke sana, terlihat Ling-Peng-hi berdiri di depan dan sedang menatapnya dengan tajam, sampai sekian lama, mendadak tangan terjulur hendak mencengkeramnya.

Keruan Po-giok terkejut, siapa tahu orang sama memegang pergelangan tangannya dan tidak ada maksud untuk perang tanding lagi, meski wajahnya tetap kaku dingin, namun di mulut ia berkata, “Sungguh kungfu yang hebat, tadi aku salah menilai dirimu.”

“Tapi … tapi ini … ” Po-giok gelagapan dan tidak dapat menjelaskan.

“Di antara kita memang masih harus perang tanding lagi, biarlah kita bertemu pula di puncak Thai-san pada malam bulan purnama nanti,” kata Ling-Peng-hi pula, ia memberi salam dan tinggal pergi.

Poa-Ce-sia juga sudah mendekati Po-giok katanya, “Meski angkuh orang she Ling ini, namun jiwa ksatrianya harus dipuji juga. Berani bicara berani berbuat, memang seorang lelaki sejati

Po-giok mengangguk dan mengiakan.

“Tapi bila dibandingkan anda, jelas bedanya sukar diukur,” sambung Poa-Ce-sia dengan tertawa. “Apa yang telah anda perlihatkan tadi sudah cukup membuat orang tunduk benar-benar.”

Po-giok menyengir, katanya, “Tapi … tadi … tadi … ”

“Apa pun kungfu Pui-siau-hiap memang sukar diukur dalamnya,” tukas Ce-Sing-siu. “Sudah berpuluh tahun aku berkecimpung di dunia kang-ouw tidak sedikit jago kelas tinggi yang kutemui, tapi sekarang … ai, bicara terus terang, sampai di mana letak kehebatan kungfu Pui-siau-hiap saja tidak dapat kuraba.”

Po-giok tersenyum getir, ia membatin di mana terdapat kehebatan kungfuku pun aku sendiri tidak tahu.

Dalam pada itu para ksatria telah berkerumun di sekitarnya, dengan gelisah Po-giok coba melongok ke sana, terlihat Nyo-Put-loh berdiri di kejauhan dan juga sedang memandang ke arahnya.

“Nyo-jit-cek … aku … ” Po-giok coba berteriak.

Mendingan ia tidak bersuara, sekali ia berteriak. Nyo-Put-loh berbalik lantas melangkah ke sana malah. Keruan Po-giok tambah gugup.

Bilamana tenaganya belum lenyap, tentu dia akan mengejar ke sana menyisihkan orang yang mengerumuni dia. Sayangnya ia tidak bertenaga lagi, terpaksa ia saksikan Nyo-Put-loh menyingkir semakin jauh.

Kerumunan orang semakin ketat, banyak yang berceloteh membicarakan kemenangan Po-giok atas Ban-lo-hu-jin dan membuat Ling-Peng-hi ngacir ketakutan. Beramai-ramai para ksatria lantas menyongsong Po-giok ke tempat minum, ada yang memberi selamat, ada yang menyuguh arak…

Sementara itu Po-giok mendapat tahu dari Ce-Sing-siu bahwa Ban-Cu-liang, Thi-wah, Bok-Put-kut dan lain-lain sedang sibuk mencari jejak Lu-In, Hi-Toan-kah dan lain-lain di samping juga mencari kabar tentang Po-giok. Akan tetapi dalam waktu singkat mereka juga akan berkumpul lagi di sini, sebab itulah Nyo-Put-loh menunggu di situ. Terpaksa Po-giok harus menunggu juga dan tinggal di rumah Ce-Sing-siu.

Namun Nyo-Put-loh ternyata tidak kembali ke kamarnya dan entah ke mana perginya. Sing-siu coba menghibur Po-giok, “Jangan kuatir Nyo-jit-hiap pasti akan pulang kemari.”

Namun Po-giok tetap kuatir. Yang membuatnya tidak mengerti adalah Ban-lo-hu-jin. entah mengapa nenek itu bertindak begitu? Sesungguhnya apa maksudnya? Apakah di balik urusan ini ada biang keladinya?

Sudah jauh malam, suasana sunyi senyap, namun Po-giok tetap tidak dapat pulas.

Sekonyong-konyong daun jendela berdetak perlahan. Cepat Po-giok bangun dan membentak perlahan, “Siapa itu?”

“Sssst!” terdengar suara orang mendesis perlahan di luar jendela.

Cepat Po-giok membuka jendela, terlihat seorang menggelantung dengan kaki menggantol emperan dan kepala di bawah tepat di depan jendela. Siapa lagi dia kalau bukan Ban-lo-hu-jin.

Di bawah kegelapan malam yang remang-remang terlihat wajah si nenek menampilkan senyuman misterius, katanya lirih, “Po-ji cilik, nenek penolongmu datang menjengukmu, kenapa kamu tidak keluar bicara dengan dia?”

Po-giok terkejut dan bergirang, katanya dengan suara tertahan, “Memang hendak kucari dirimu untuk minta keterangan padamu mengapa engkau bertindak demikian?”

“Tidak perlu banyak omong kosong, lekas keluar saja.” kata Ban-lo-hu-jin sambil menjulurkan sebelah tangannya untuk menarik Po-giok keluar.

Po-giok tidak bersuara, juga tidak meronta, membiarkan dirinya dibawa lari oleh si nenek ke tempat gelap sana. Setiba di tengah pepohonan yang rindang, cahaya lampu tampaknya cukup jauh, hanya terdengar kesiur angin dan gemercik air, jelas mereka sudah berada di suatu tempat pojok taman yang sepi.

Di situlah Ban-lo-hu-jin berhenti, lalu berkata dengan tertawa, “Po-ji cilik, apakah kau tahu sebab apa tadi nenek menolongmu? Padahal cukup aku menyerang sekali saja dengan sungguh-sungguh tentu nyawamu sudah amblas.”

“Ya, aku sendiri tidak mengerti sebenarnya apa maksudmu berbuat begitu?”

“Hehe, kalau tidak kukatakan, selama hidupmu juga tak dapat menerka,” ujar Ban-lo-hu-jin dengan tertawa sambil menjejalkan sepotong manisan ke mulut. “Saat ini kamu sama sekali tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.”

Po-giok memang merasa bingung bila teringat Siau-kong-cu sebentar baik dan sebentar jahat, ia pun tidak mengerti mengapa Hwe-mo-sin dapat membebaskan dia, dan sekarang Ban-lo-hu-jin juga bersikap sebaik ini kepadanya.

Katanya kemudian, “Ya, aku memang merasa bingung dan tidak tahu apa-apa. Mungkin engkau mengetahui rahasia urusan ini.”

Ban-lo-hu-jin tidak menjawab melainkan bicara sendiri dengan tertawa, “Apakah kau tahu setiap tindak-tandukmu sekarang senantiasa berada di bawah pengawasan orang. Ke mana pun kau pergi dan apa pun yang kau lakukan tetap sukar lolos dari mata-telinga orang.”

“Ini … ini memang sudah dapat aku duga,” ujar Po-giok dengan menyesal.

“Dan apakah kau tahu siapa yang sedang mengawasi dirimu?”

“Kutahu pasti orang Ngo-hing-mo-kiong, tidak jelas siapa dia.”

“Hehe, padahal orang yang mengawasimu sebenarnya adalah kenalanku … ”

“Hah, maksudmu Siau-kong-cu?” potong Po-giok.

“Ehm, pintar juga kamu. Ya, memang dia.”

“Bahwa aku telah kehilangan tenaga, jangan-jangan dia yang memberitahukan padamu?”

“Betul, kalau bukan diberi tahu oleh dia, mana aku berani bergebrak denganmu.”

Sorot mata Po-giok menampilkan rasa senang, “Aha, kutahu, tentu dia yang minta padamu agar sengaja mengalah padaku.”

“Hehe, sekali ini kamu salah terka. Meski minta jangan aku ganggu jiwamu, tapi mengharuskan aku merobohkanmu untuk membuat malu dirimu di depan umum. Dengan begitu terpaksa kamu akan mengesot kembali di bawah telapak kakinya. Ia membiarkan hidup padamu, sebab kamu masih berguna bagi Ngo-hing-mo-kiong.”

Po-giok merasa mukanya di gampar orang, ia termenung seperti patung, sampai lama baru berkata dengan tersenyum pedih, “Dia juga tidak dapat disalahkan. Selama lima-enam tahun dia terpengaruh di tengah Ngo-hing-mo-kiong, tadinya dia seorang anak yang tidak tahu apa pun. Serupa sehelai kertas putih, setelah bergaul dengan kawanan iblis itu, dengan sendirinya putih berubah menjadi hitam.”

“Sampai sekarang kamu tetap berpikir baik baginya?” tanya Ban-lo-hu-jin.

“Dengan sendirinya aku pikirkan dia, sebab pada dasarnya dia memang anak perempuan yang baik dan menyenangkan, meski sekarang dia belepotan warna kotor, namun aku bersumpah pada suatu hari pasti akan … akan kucuci bersih dia.”

“Hihi, kamu ternyata pemuda yang romantis juga.”

“Dan siapa pula yang menyuruhmu agar mengalah padaku?”

Sembari makan manisan Ban-lo-hu-jin menjawab, “Ilmu silat orang ini sangat tinggi, kecerdasannya juga serupa malaikat dewata, biarpun tokoh-tokoh semacam Hwe-mo-sin, Bok-long-kun, Toh-sin-kun, Kim-ho-ong dan lain-lain digabung menjadi satu juga tidak dapat membandingi satu jarinya.”

“Wah, jika di belakangnya saja engkau tidak berani mengakali dia, tentu orang ini sangat luar biasa. Memangnya siapa dia?”

“Li kiong cu dari Pek cui-kiong, Cui-sian-nio-nio.”

“Oo, bukankah dia ibu … ibu Cui-Thian-ki?”

“Betul,” jawab Ban-lo-hu-jin.

Kejut dan heran pula Po-giok, “Dia kan juga orang Ngo-hing-mo-kiong, mengapa dia bermurah hati padaku? Jangan-jangan lantaran Cui-Thian-ki.”

“Cukup panjang jika urusan ini harus diceritakan dan tidak sederhana.”

“Tapi kan dapat kau ceritakan dengan agak ringkas.”

“Begini,” tutur Ban-lo-hu-jin, “setelah Cui-Thian-ki menghilang, karena sedih memikirkan putri kesayangan, rasa gusar Cui-sian-nio-nio menimpa diri Bok-long-kun, Kim-ho-ong, Toh-liong-cu dan lain-lain, selama lima tahun ini, dengan kelihaian kungfu dan kecerdasannya ia telah memaksa keluar keempat majikan istana Kim, Bok, Hwe dan Toh, bahkan putra beberapa orang itu
ditawannya pula sebagai sandera, lantaran itulah, biarpun majikan keempat istana itu sangat marah tidak berani sembarangan bertindak.”

“Masakah dengan tenaga seorang saja ia sampai memaksa pergi majikan keempat istana yang lain?”

“Ya, dengan sendirinya ada yang membantunya, yaitu nenekmu ini,” ujar Ban-lo-hu-jin dengan tertawa.

“Engkau membantu dia?” Po-giok menegas.

“Betul, aku yang mendampingi dia mendatangi setiap istana itu untuk mengadakan pertarungan dengan majikan keempat istana itu, berbareng itu diam-diam kami pun bertindak secepat kilat menawan putra mereka. Ketika majikan keempat istana itu kalah taruhan dan mengetahui anak mereka berada dalam cengkeraman kami, mau tak mau mereka harus angkat kaki dari istana masing-masing sesuai janji yang telah mengikat mereka. Yang aneh adalah Hwe-mo-sin, anaknya tidak tertangkap oleh kami, tapi dia juga menurut saja pergi dari istananya. Hehe, biarpun anak Hwe-mo-sin itu tiada sesuatu yang dapat dipilih, namun Hwe-mo-sin memandang anaknya melebihi nyawa sendiri.”

Diam-diam Po-giok memahami duduknya perkara, “Tampaknya Hwe-mo-sin sama sekali tidak tahu menahu tentang persekongkolan putranya dengan Ong-Poan-hiap, ditambah lagi waktunya juga kebetulan sehingga Hwe-mo-sin mengira putranya juga ditawan oleh Cui-sian-nio-nio. Pantas juga selama ini dia tidak pernah minta keterangan padaku tentang jejak anaknya?”

Meski begitu pikirnya, di mulut ia berkata, “Jika, demikian Cui-sian-nio-nio tidak mau membebaskan sanderanya, kan majikan keempat istana yang lain juga tidak berani bertindak padanya?”

“Ya, terkecuali ada salah seorang dari keempat istana itu berani masuk ke Pek-cui-kiong mengalahkan Pek-cui Ho-jin dengan pertaruhan yang sama, kalau tidak, jelas Cui-sian-nio-nio takkan membebaskan sanderanya. Dan selamanya keempat istana yang lain juga jangan harap akan dapat mengalahkan Cui-sian-nio-nio.”

“Oo, kiranya begitu …” gumam Po-giok. Sekarang dapatlah ia menerka apa yang diminta Hwe-mo-sin adalah supaya dia masuk sendiri ke Pek-cui-kiong untuk menempur Pek-cui Ho-jin alias Cui-sian-nio-nio. Hal ini memang hanya dapat dilakukan olehnya, sebab di kolong langit ini hanya dia saja yang ada harapan akan mengalahkan Cui-sian-nio-nio.

Po-giok termenung sejenak, tiba-tiba ia tanya pula, “Jika Siau-kong-cu sudah tahu engkau juga orang Pek-cui-kiong, mengapa tetap …. ”

“Orang semacam diriku, apa pun yang kulakukan tentu sudah aku rancang dulu secara diam-diam,” sela Ban-lo-hu-jin. “Lalu dari mana orang lain bisa tahu?”

“Jika dirancang secara diam-diam, mengapa sekarang kau muncul juga.”

“Kemunculanku ini adalah untuk mencari tahu gerak-gerik keempat istana yang lain, tanpa sengaja aku dapat tahu bahwa majikan keempat istana itu hendak menggunakan dirimu untuk menghadapi Cui-sian-nio-nio.”

“Oo, jadi kau pun tahu hal ini?”

“Jika dia menyuruhku menjatuhkan namamu sebaliknya melarang aku ganggu seujung rambut dirimu, dengan sendirinya dia mengharapkan kamu bekerja bagi mereka. Bilamana keadaanmu kurang sehat, lalu cara bagaimana akan dapat mengalahkan Cui-sian-nio-nio? Dan bilamana kamu tidak menghadapi jalan buntu, masakah kau mau bekerja bagi mereka? Dalil ini kan sangat sederhana.”

“Ya, rasanya memang begitulah,” ucap Po-giok dengan menyesal.

“Dengan sendirinya memang begitu. Memangnya kau kira sebabnya Siau-kong-cu bersikap baik padamu, makanya tidak tega mencelakaimu? Ai, kamu memang pemuda yang romantis dan juga si tolol yang perlu dikasihani.”

“Jika begitu, mengapa tidak kau bunuh diriku saja? Bila aku mati di bawah tongkatmu, bukankah akan selesai segalanya dan aku pun tidak dapat bekerja bagi keempat istana itu.”

Ban-lo-hu-jin tertawa, katanya, “Jika kubunuh kamu dan diketahui Bok-Put-kut dan lain-lain, kan mereka akan membikin perhitungan denganku. Memangnya aku orang macam apa dan mau berbuat sebodoh itu? Apalagi, waktu itu Siau-kong-cu pasti mengawasi tindakanku di sekitar situ, belum tentu aku dibiarkan mancederaimu.”

Ia merandek, wajah yang tersenyum welas asih itu mendadak berubah beringas. Sekilas pandang, tanpa terasa Po-giok menyurut mundur satu tindak.

Dengan suara parau nenek itu berkata pula “Jika sekarang kubunuh dirimu, maka setan pun takkan tahu. Padahal tadi semua orang menyaksikan aku dikalahkan olehmu, mimpi pun tiada orang menyangka tidak lama kemudian dapat kubunuh dirimu. Andaikan Bok-Put-kut dan lain-lain ingin menuntut balas juga takkan terpikir atas dirimu. Di tempat sepi ini, tidak nanti ada yang merintangi tindakanku. Jika sekarang kubunuhmu, kan sangat leluasa bagiku.”

Wajah Po-giok tampak pucat pasi, ucapnya dengan menggertak gigi, “Sungguh perempuan keji … ”

“Hehe, boleh kau lihat dulu apa itu yang berada di semak-semak bunga sana?” kata Ban-lo-hu-jin dengan terkekeh sambil menuding ke sana, rupanya yang dimaksud adalah sebuah liang yang baru digali.

“Apakah … apakah liang ini yang kau siapkan untuk mengubur diriku?” tanya Po-giok.

“Betul, setelah kubunuh dan mengubur mayatmu, biarkan para ksatria dunia kang-ouw mengira kamu sengaja menghilang lagi. Coba, baik tidak cara ini?”

“Hm, tadi kamu sengaja mengalah padaku dan mempertahankan nama baikku sekarang kau ancam pula diriku, cara demikian, jangan-jangan kau pun menghendaki sesuatu dariku?”

“Haha, memang betul, kamu ini memang pintar,” sahut Ban-lo-hu-jin dengan tertawa. “Apabila kau mau menurut padaku, maka akan kuampuni jiwamu, kalau tidak … ”

“Yuh, tokoh semacam Hwe-mo-sin saja tidak mampu memeras diriku, apalagi cuma tua bangka dirimu ini … ” belum habis ucapan mendadak ia memegang perut dan menungging.

“Eh, ada apa?” tanya Ban-lo-hu-jin dengan heran.

Hanya dalam sekejap itu, dahi Po-giok tampak dihias butiran keringat sebesar kedelai, tubuh meringkuk dan gemetar serta kejang, jelas dia menahan rasa derita yang amat luar biasa, bibir tampak gemetar dan sukar bicara.

Sejenak Ban-lo-hu-jin mengamati anak muda itu, katanya kemudian, “Kamu keracunan atau terluka.

“Aku … aku …” Po-giok tidak sanggup meneruskan.

Ban-lo-hu-jin menaruh tongkatnya dan menegakkan tubuh Po-giok, dengan tangan kiri ia urut beberapa hiat-to di sekitar perut anak muda itu, setiap kali jari si nenek menggunakan tenaga, setiap kali Po-giok mengeluh perlahan. Kalau tidak terlampau sakit, tak nanti anak muda itu mengeluh.

“Sudah ada berapa lama kau derita penyakit seperti ini?” tanya Ban-lo-hu-jin.

“Selama dua hari ini, selang tidak lama tentu kumat satu kali, setiap kali tambah keras … ”

Betapapun tangkas seorang, bilamana sedang menderita tentu juga akan berubah menjadi lemah, maka terhadap pertanyaan orang lain seringkali tanpa terasa menjawab terus terang.

“Tak tersangka penyakitmu ternyata segawat ini,” gumam Ban-lo-hu-jin, “Agaknya selain obat penawar dari perguruan mereka sendiri, orang lain sangat sulit untuk memulihkan tanganmu.”

“Boleh kau … kau pergi saja … ” kata Po-giok dengan lemah.

“Dengan sendirinya aku mau pergi,” jengek Ban-lo-hu-jin. Ia jemput kembali tongkatnya dan menatap Po-giok sekian lama, lalu berkata pula, “Sebenarnya hendak kuampuni jiwamu agar kamu dapat bekerja bagiku. Siapa tahu kamu sudah berubah menjadi sampah yang tak berguna lagi.”

Baru habis ucapannya, serentak tongkatnya bekerja, berturut-turut tiga hiat-to penting di tubuh Po-giok ditutuknya.

Po-giok menjerit tertahan, mendadak tubuh terpental dan tepat jatuh ke dalam liang yang baru digali itu. Liang itu sebenarnya digunakan oleh Ban-lo-hu-jin untuk menggertak Po-giok, siapa duga sekarang benar-benar dijadikan untuk liang kuburnya.

Akan tetapi setelah tongkatnya menutuk, tahu-tahu tubuh Ban-lo-hu-jin juga tergetar hingga terhuyung-huyung mundur beberapa langkah dan akhirnya “bruk”, jatuh terduduk.

Air muka nenek itu berubah hebat, tangan pun tergetar berdarah, ia pandang Pui-Po-giok yang terperosot ke dalam liang itu dengan termangu-mangu, sorot matanya menampilkan rasa kejut dan heran.

Kiranya tadi ketika tongkatnya menutuk Po-giok tahu-tahu dari tubuh anak muda itu memantulkan semacam tenaga tolakan yang dahsyat sehingga Ban-lo-hu-jin pun tidak sanggup menahannya.

Ia jatuh terduduk dan termangu sejenak, akhirnya berkata dengan suara gemetar, “Jadi … jadi tenagamu belum hilang melainkan cuma untuk membohongiku saja … Aku kan tidak jelek padamu, hendaknya jangan … jangan kau bikin susah padaku.”

Ia sangsi dan curiga serta bicara sendiri, namun Po-giok yang terperosot ke dalam liang tidak memberi reaksi apa-apa, ia coba melemparkan sepotong tanah, anak muda itu tetap diam saja.

Akhirnya ia tabahkan hati dan merangkak ke sana, dilihatnya wajah Po-giok tetapi pucat gigi gemeretuk menahan sakit, waktu diraba, kaki dan tangannya sedingin es.

Maka legalah hati Ban-lo-hu-jin, ia berdiri bergumam, “Sungguh aneh, siluman cilik ini sudah sekarat masih juga menakuti orang.”

Sampai di sini, rasanya ia pun mengkirik, cepat ia menggunakan tongak untuk menguruk tanah galiannya. Tampaknya Po-giok sudah terkubur dan tertinggal kepala saja yang masih menonjol ke permukaan tanah, sekonyong-konyong dari kejauhan seperti ada suara langkah orang ke sini.

Begitu mendengar suara, seketika Ban-lo-hu-jin menggunakan tongkat untuk menolak tanah sehingga tubuh melayang jauh ke sana terus menghilang dalam kegelapan.

Ketika tertutuk oleh tongkat, Po-giok merasa dari perut memancar hawa yang sukar ditahan dan tubuh terpental jatuh ke dalam liang. Walau sakit seluruhnya, rasa sakit dalam perut kontan sudah hilang, namun kaki dan tangan terasa lemas lunglai tanpa tenaga sedikit pun sampai jari pun sukar bergerak.

Perubahan yang aneh ini sampai ia sendiri tidak sanggup mengatakan apa sebabnya? Ia cuma mendengar Ban-lo-hu-jin bergumam sendiri di tepi liang dan nenek itu mulai menguruk tubuhnya dengan tanah dan dirinya tidak sanggup melawan sama sekali. Terpaksa ia pejamkan mata dan menggertak gigi serta mandeh diperlakukan sesuka orang, dalam gugupnya tadi Ban-lo-hu-jin ternyata tidak mengetahui anak muda itu masih bernapas dengan aneh. Juga masih punya daya rasa.

Po-giok merasakan tanah yang dingin lembab mulai membenam kakinya, perut dan dadanya, dan lambat laun mencapai lehernya. Karena dada teruruk tanah, napasnya semakin sesak, pikiran pun terlantur, entah takut, bingung atau apa?

Rasanya orang ditanam hidup-hidup memang sukar untuk dilukiskan.

Sampai akhirnya tanah mulai menaburi mukanya, rasa sesak napas sudah sukar ditembus, rasanya untuk selamanya sukar mengembuskan napas lagi. Siapa tahu pada saat terakhir itulah, mendadak Ban-lo-hu-jin lantas kabur.

Dengan sendirinya Po-giok tahu hiat-to yang tertutuk tongkat Ban-lo-hu-jin itu adalah bagian mematikan di tubuh manusia. Tapi mengapa sekarang dia tidak cedera apa pun juga, hal ini sungguh membuatnya tidak mengerti.

Pada saat itulah ia pun mendengar langkah orang yang semakin mendekat dan menuju ke semak bunga yang sepi ini, terdengar suara seorang berkata, “Di tempat ini pasti takkan terganggu dan boleh kita bicara dengan bebas.”

Begitu mendengar suara orang ini, seketika hati Po-giok tergetar. Dirasakan suara orang ini sudah sangat dikenalnya. Sedapatnya ia meronta dan bermaksud melihatnya, bila dikenalnya, tentu orang akan dapat menolongnya.

Namun apa daya, ia tidak dapat bergerak juga tidak bisa bicara, muka pun tertutup tanah mana ia dapat memandang.

Terdengar seorang lagi berkata, “Jika ada urusan rahasia yang hendak kau rundingkan denganku, sepantasnya kau temui aku secara jujur dan terus terang, mengapa mesti main sembunyi kepala kelihatan ekor, pakai tutup kepala segala?”

Po-giok dapat mengenali suara orang yang dingin ini adalah Ling-Peng-hi, siapa lawan bicaranya belum diketahui.

Terdengar orang itu menjawab dengan tertawa, “Jika benar kau percaya padaku, tanpa melihat wajahku kan juga tidak menjadi soal. Jika pada dasarnya engkau memang tidak percaya padaku, kan juga tidak ada gunanya biarpun aku perlihatkan wajahku.”

Ling-Peng-hi seperti berpikir sebentar, katanya kemudian, “Baik, ada urusan apa, silakan kau bicara saja.”

Orang itu tidak menanggapi, tapi terus berlari sekeliling tempat ini, nyata cara bekerjanya sangat rapi dan cermat, meski jelas di sini tidak kelihatan orang lain toh masih juga diperiksanya dengan jelas.

Namun meski cermat tindak-tanduknya, mimpi pun dia tidak menyangka ada seorang Pui-Po-giok tertanam di situ dan sedang mendengarkan percakapan mereka.

Po-giok mendengar kesiur angin yang diterbitkan oleh kibaran kain baju, sejenak kemudian, rupanya orang itu telah berada di tempat semula, lalu berkata, “Dalam pertemuan di Thai-san ini, bila kepandaianmu dapat mengungguli para ksatria, maka dapatlah kau duduki singgasana Bu-lim-beng-cu (ketua perserikatan dunia persilatan), entah adakah maksudmu untuk …”

“Dengan sendirinya kutahu hal ini, untuk apa kau singgung urusan ini?” jengek Ling-Peng-hi.

Perlahan orang itu berkata, “Tentu saja ada gunanya. Coba jawab, dalam pertemuan Thai-san nanti, lawan yang benar-benar merupakan seterumu yang paling tangguh, kecuali Pui-Po-giok dan Jit-tai-te-cu masih ada siapa lagi?”

“Hm, memangnya Jit-tai-te-cu pasti dapat menandingiku?” jengek Ling-Peng-hi. “Selain mereka orang lain juga tidak terpandang olehku.”

Orang itu tersenyum, “Itu dia, bilamana dapat kusuruh orang-orang ini tak berdaya bertarung denganmu di Thai-san, kan dapatlah kau naik singgasana Bu-lim-beng-cu dengan mantap?”

Bergetar hati Po-giok, ia heran siapakah orang ini sehingga mempunyai kekuatan akan dapat membuat aku dan rombongan paman Bok tak berdaya bertempur dengan Ling-Peng-hi?”

Makin mendengarkan, dirasakan suara orang ini memang sangat dikenalnya, cuma sejauh ini tidak teringat siapa dia. Ia yakin daya ingat dan pendengaran sendiri cukup kuat, suara siapa pun asalkan pernah didengarnya satu kali pasti takkan dilupakan. Tapi sekali ini mengapa justru tidak ingat, ia pikir di dalam hal ini tentu ada sesuatu yang ganjil, tapi sebenarnya apa sebabnya? inilah yang ingin dipecahkannya. Namun makin dipikir justru semakin kacau.

Terdengar napas Ling-Peng-hi juga agak berat jelas pikirannya juga mulai goyah. Selang sejenak, akhirnya ia berkata, “Selamanya kita tidak saling kenal, untuk apa kau mau membantuku? Sebenarnya apa tujuanmu?”

“Jika tidak aku bantu, jelas maha sulit bagimu untuk merebut gelar Bu-lim-beng-cu,” ujar orang itu dengan tertawa. “Untuk itu tentu kau sendiri cukup mengerti. Dan bila kamu sudah menduduki singgasana Beng-cu, tentu tidak boleh kau lupakan bantuanku, sedang aku pun tidak perlu ikut berebut kedudukan Beng-cu lagi. Jadi, bila ada kerja sama antara kita akan sama menguntungkan, kalau berlawanan akan sama rugi.”

“Lantas apa yang kau harapkan dariku?” tanya Ling-Peng-hi.

“Asalkan kau tulis suatu perjanjian denganku, anggap aku sebagai saudara tua, selama hidup takkan membangkang, maka pasti dapat aku dukung dirimu menjadi Bu-lim-beng-cu.”

“Tapi … tapi dengan dasar apa harus aku percaya padamu?”

“Segera kamu akan menaruh kepercayaan penuh padaku,” ujar orang itu.

Belum habis ucapannya, tiba-tiba dari kejauhan terdengar pula suara langkah orang.

“Lekas sembunyi, cepat …” seru orang itu dengan suara tertahan.

Maka terdengarlah suara kesiur angin yang diterbitkan kain baju, menyusul suara langkah orang dari sana juga semakin mendekat dan ternyata juga masuk ke semak bunga ini.

Terdengar seorang di antaranya berkata, “kau bilang hendak mendamprat Po-ji, tapi mengapa kau bawa ke sini?”

Meski cemas suaranya, namun suaranya lemah kurang tenaga, kiranya dia Nyo-Put-loh adanya.

Lalu seorang menjawab dengan suara halus, “Betapapun harus kutanya padamu, sebab apa kamu marah-marah terhadap Po-ji?”

Dari suaranya dapat dikenali dia ini Gui-Put-tam.

Bahwa Gui-Put-tam dan Nyo-Put-loh mendadak juga datang kemari, keruan Po-giok terlebih terkejut. Ia kuatir Ling-Peng-hi dan tokoh misterius yang sembunyi di sekitar situ akan mendadak menyergap kedua paman guru itu, padahal luka Nyo-Put-loh belum lagi sembuh, betapa tinggi ilmu silat Gui-Put-tam bila disergap secara mendadak pasti juga akan celaka. Dan bila mereka berdua mati di sini, dengan sendirinya tak dapat lagi menuju Thai-san untuk bertanding dengan Ling-Peng-hi.

Makin dipikir makin kuatir, namun apa daya untuk bernapas saja sulit, dengan sendirinya juga tidak dapat bersuara, sekujur badannya teruruk tanah, jari saja tidak sanggup bergerak, apalagi ingin memberi tanda.

Terdengar Nyo-Put-loh sedang berkata dengan suara gemas, “Bocah Po-ji ini akhir-akhir ini memang rada menjengkelkan, tindak tanduknya sukar dimengerti. Misalnya tadi, jelas-jelas ia sudah berada di sini, tapi baru muncul setelah aku dibikin malu di depan umum. Memangnya apa sebabnya betapapun harus kutanya dia hingga jelas.”

“Kenapa tadi tidak kau tanya dia?” kata Gui-Put-tam.

“Setelah menang tanding, pada hakikatnya dia tidak memandang sebelah mata lagi padaku, mana dia sudi menemuiku,” kata Nyo-Put-loh dengan gemas. “Memang betul, waktu itu dia dikerumuni orang banyak, tapi kalau mau kan dia dapat menerobos keluar untuk menemui aku. Karena mendongkol, sengaja aku tinggal pergi saja.”

Diam-diam Po-giok berduka dan geleng kepala karena disalah-pahami sang paman.

“Dan sekarang apa kehendakmu?” tanya Gui-Put-tam kepada Nyo-Put-loh.

“Akan kutanya dia sebab apa dia bersikap demikian terhadapku dan selama beberapa hari ini dia pergi ke mana? Sesungguhnya dia sedang main gila apa?”

Gui-Put-tam berpikir sejenak, katanya kemudian, “Rahasia urusan ini mungkin selamanya takkan kau ketahui.”

“Mengapa selamanya takkan kuketahui?” tanya Nyo-Put-loh.

“Sebab …” mendadak Gui-Put-tam menuding ke belakang Nyo-Put-loh dan membentak “Siapa itu?”

Waktu Nyo-Put-loh berpaling, ternyata tiada seorang pun yang terlihat, ucapnya heran, “Mana ada orang ….”

Belum lanjut ucapannya, mendadak Gui-Put-tam bekerja secepat kilat, punggung Nyo-Put-loh dengan tepat kena dihantam. Kontan Put-loh menjerit dan menyemburkan darah segar, tubuh pun mencelat.

Kejadian ini sungguh, mimpi pun tak terduga oleh Po-giok, sama sekali ia tidak mengerti Gui-Put-tam dapat turun tangan keji terhadap saudara angkat sendiri. Apa tujuannya? Apakah pengaruh jiwanya yang tamak?

Perlahan Gui-Put-tam mendekati Nyo-Put-loh, terlihat mata Nyo-Put-loh melotot, gigi terkatup rapat, ujung mulut mencucurkan darah, dua titik air mata meleleh. Darah itu melukiskan rasa dendam dan gusarnya, air mata menunjukkan duka dan kecewa sebelum ajalnya. Nyata mati pun ia penasaran.

Tanpa terasa Gui-Put-tam bergidik, gumamnya, “Lo-jit, jangan kau salahkan diriku, terpaksa aku bertindak demikian, jika kau rasakan kesepian menuju ke akhirat, biarlah segera aku carikan teman perjalanan bagimu.”

Nadanya semula kedengaran merasa menyesal, tapi akhirnya tersembul senyuman licik, suara pun berubah dingin dan keji.

Mendengar suaranya, tanpa terasa Po-giok pun bergidik, pikirnya, “Siapa lagi yang akan dicelakai olehnya? …. Siapa …. ”

Pada saat itulah tiba-tiba dalam kegelapan ada orang berkata, “Bagus sekali caramu bekerja, Gui-lo-ngo!”

Dari suaranya yang aneh dapat diketahui dia itulah si orang yang misterius tadi.

Gui-Put-tam tertawa dan menjawab,” Ah, hanya urusan kecil ini kan belum apa-apa.”

“Asalkan bekerja terus begini, segala sesuatu yang kau harapkan pasti akan terkabul, kujamin harta benda yang tak terkira besarnya di dunia ini pasti akan kau peroleh.”

“Aku pun dapat menjamin padamu beberapa jiwa orang itu pasti akan aku bereskan,” sahut Gui-Put-tam dengan tertawa.

“Bagus, bekerja terus!” kata suara misterius itu.

Ngeri Po-giok mendengar percakapan singkat itu dan mandi keringat dingin. Sekarang diketahuinya bahwa antara Gui-Put-tam dan tamu misterius itu ada persekongkolan, dan tamu misterius ini jelas orang Ngo-hing-mo-kiong.

Dari percakapan mereka itu dapat ditarik kesimpulan bahwa orang Ngo-hing-mo-kiong telah dapat membeli Gui-Put-tam yang berjiwa serakah dan Gui-Put-tam akan diperalat untuk menumpas ketujuh murid utama, lalu Pui-Po-giok yang dijadikan sasaran fitnah. Jika ketujuh perguruan besar dunia persilatan sudah memusuhi Pui-Po-giok, maka tiada tempat berpijak lagi dunia kang-ouw, bagi anak muda itu.

Begitulah Po-giok terkejut dan gusar pula, tapi juga bersyukur semua itu dapat didengarnya langsung tanpa sengaja, kalau tidak, siapakah yang menyangka Gui-Put-tam ternyata berjiwa sekotor ini. Tapi … dapatkah kukeluar dari kuburan ini?

Terdengar suara langkah orang dalam kegelapan, suara misterius tadi bergema pula, “Ling-siau-ceng-cu, urusan tadi telah kau saksikan sendiri, bagaimana pendapatmu?”

“Aku … aku …. ” terdengar suara Ling-Peng-hi tergagap.

Agaknya dia terkesiap oleh kejadian tadi dan seketika tidak sanggup bicara.

“Sekarang kau percaya keteranganku atau tidak?” tanya suara misterius itu.

“Ya, percaya.” terdengar Ling-Peng-hi menjawab dengan suara lemah.

Lalu terdengar suara kresek-kresek, suara misterius tadi berkata pula, “Di sini tersedia tiga helai surat perjanjian, asalkan kau tulis namamu dan menanda tangani, maka terjadilah kerja sama kita, mati-hidup bersama, kaya miskin ditanggung bersama.”

“Tapi ….”

“Kesempatan sukar dicari lagi, apa yang kau ragukan pula?”

Agaknya pikiran Ling-Peng-hi tergerak akhirnya ia berseru, “Baik, kuterima dengan baik …”

Belum lanjut ucapannya, tiba-tiba terdengar pula suara ramai orang berlari kemari, jumlahnya ternyata tidak sedikit.

Baru saja Ling-Peng-hi dan si tamu misterius sembunyi, rombongan orang itu pun mendekat, Gui-Put-tam tampak di depan diiringi Ce-Sing-siu, Poa-Ce-sia dan belasan jago kang-ouw yang lain.

“Dari mana Gui-heng tahu Nyo-jit-hiap datang kemari?” terdengar Ce Sing-siu bertanya.

“Tadi Lo-jit sudah bertemu denganku, katanya Po-ji akan dibawa kemari untuk diberi hajar adat … Ai, tambah tua perangai Lo-jit semakin keras, sebaliknya Po-ji … ai, maklum juga, masih muda sudah termashur, kaum tua seperti kita ini tidak terpandang lagi olehnya. Aku jadi kuatir terjadi sengketa antara mereka, sebab itulah kuajak kalian ke sini untuk mendamaikan mereka.”

“Menjadi juru damai mereka merupakan tugas kami,” kata Ce-Sing-siu.

“Tadi di sini suasana sunyi senyap, mana ada orang?” ujar Poa-Ce-sia.

“Coba kita cari … Lo-jit … Po-ji, di mana kalian? …. ” seru Gui-Put-tam. Lalu terdengar suara langkah orang terpencar, agaknya sedang mencari kian kemari.

Tiba-tiba seorang menjerit, “Wah, celaka, ini … ini Nyo …”

Karena kagetnya, suaranya menjadi gemetar dan terputus.

Orang lain tidak tahu jelas apa yang dikatakan, namun sama memburu ke sana, dan segera melihat jenazah Nyo-Put-loh sudah menggeletak kaku di situ dengan wajah beringas.

Ce-Sing-siu sama berteriak, “Ai, apa … apa yang terjadi ini? Siapa yang turun keji terhadap Nyo-jit-hiap? Ke mana perginya Pui-siau-hiap?”

Di tengah kepanikan itu, Gui-Put-tam berlagak mendekap mayat Nyo-Put-loh dan menangis sedih.

Menyusul ada orang menemukan huruf goresan jari Nyo-Put-loh sebelum ajalnya dan berteriak “Hei, di sini ada tulisan!”

Segera ada orang menyalakan obor, lalu seorang berteriak, “Hei, sebuah huruf Po, sebelum menemui ajalnya untuk apa Nyo-Jit-hiap menulis huruf ini?”

“Wah, jangan-jangan maksudnya … maksudnya Pui-siau-hiap … ”

Gui-Put-tam berlagak menjerit sedih, “O, Po-ji, Pui-Po-giok, pasti dia yang turun tangan keji, kalau tidak masakah Lo-jit sama sekali tidak berjaga, siapa pula di dunia ini mampu membinasakan Lo-jit dengan sekali pukul?”

Serentak orang banyak sama mencaci maki, “Ya, pasti perbuatan Pui-Po-giok, sungguh tidak tersangka begini keji caranya”

Dengan berlagak menangis sedih Gui-Put-tam berseru, “Makanya kalian harus membantuku membekuk keparat yang kotor ini.”

Berbareng orang banyak berteriak menyatakan setuju.

Pedih dan penasaran Po-giok, ia tahu bilamana sekarang dirinya ditemukan, tentu Gui-Put-tam takkan memberi kesempatan bicara padanya dan langsung akan membunuhnya.

Walaupun mati-hidup baginya sudah tak terpikir lagi, tapi bila intrik keji Gui-Put-tam itu tidak dibongkarnya, sungguh mati pun ia tidak tentram. Maka apa pun jadinya dia harus hidup terus.

Terdengar orang banyak sama lari pergi, banyak yang menginjak lewat di atas tubuhnya, tapi tiada yang menyangka anak muda yang hendak mereka cari itu tertanam di bawah tanah yang baru mereka langkahi, dalam keadaan ramai juga tiada seorang pun yang menemukan kelainan beda tanah yang mereka injak.

Po-giok merasa jantung sendiri berdebur keras dan tambah berat, gendang telinga pun seakan pecah tergetar.

Pada saat itulah tubuhnya yang dingin itu tiba-tiba timbul semacam rasa panas, seperti api mendadak membakar dalam tubuhnya. Dalam sekejap seluruh anggota badan dan isi perut terasa sakit terbakar dan hampir tak tertahankan.

Akan tetapi pada saat yang sama anggota badan yang semula lemah dan tak dapat bergerak itu mendadak bertenaga lagi berikut rasa sakit terbakar itu. Kerongkongan seperti dapat mengeluarkan suara lagi.

Ia ingin meronta dan berusaha berteriak. Akan tetapi bila ia bersuara dan sedikit bergerak segera jejaknya akan ketahuan.

Jika dalam keadaan biasa, betapa siksa derita juga dapat ditahannya, tapi sekarang mental maupun fisiknya dalam keadaan lemah sehingga rasanya tidak tahan derita seakan dibakar itu. Meski ia menggertak gigi dan bertahan sekuatnya tetapi sukar mengendalikan hasrat akan meronta dan berteriak itu.

Selagi dia hampir gila harus melawan pertentangan batin itu, sekonyong-konyong guntur
berbunyi, hujan lebat pun turun bagai dituang.

Air hujan menyiram tanah dan merembes ke baju Po-giok, tubuh Po-giok yang panas bagai dibakar itu menjadi agak segar, rasa sakit banyak berkurang, pikiran pun segera jernih kembali.

Lapisan tanah yang menutup muka Po-giok memang tidak terlalu tebal, setelah diguyur air hujan, dapatlah Po-giok membuka mata sehingga terlihat air hujan yang lebat itu. Api sudah padam di tengah hujan terdengar suara bentakan berkumandang dari jauh. Suara langkah orang banyak pun menjauh dan suasana kembali sepi.

Hujan semakin lebat, rasa sakit serupa dibakar sudah lenyap dari tubuh Po-giok, ia merasa lelah lahir batin, kelopak mata terasa sangat berat. Segala apa terasa pula berjarak sangat jauh, akhirnya ia terpulas.

*****

Tanggal 13 bulan delapan, bulan sudah mendekati bulat.

Pertemuan kaum ksatria di puncak Thai-san sudah tinggal dua hari lagi.

Sinar bulan terang benderang, bintang sangat terang, malam sudah larut.

Ban-tiok-san-ceng yang terletak di kaki Thai-san itu merupakan tempat berkumpul kaum ksatria, namun suasana dalam perkampungan sekarang sudah sunyi senyap, agaknya untuk dapat mengikuti pertandingan di puncak gunung esok paginya para ksatria sengaja mengaso lebih dini daripada biasanya.

Suasana sangat hening, hanya pada sebuah kamar yang terletak di sudut barat taman terlihat ada cahaya lampu.

Di bawah cahaya lampu yang redup duduk berhadapan Bok-Put-kut, Kong-sun Put-ti dan Ciok-Put-wi. Ketiganya sama diam dengan kening berkerenyit murung.

Akhirnya Bok-Put-kut menghela napas panjang, ucapnya sedih, “Lebih dulu Nyo-jit-te meninggal dengan terluka parah, lalu Kim-lo-ji tewas minum arak beracun, semalam Se-bun-lak-te juga disergap orang dan sekaligus terkena tiga macam senjata rahasia berbisa, tampaknya juga sukar tertolong lagi. Teringat waktu kita berdelapan sama masuk perguruan, kita telah bersumpah akan sehidup dan semati, tapi sekarang, ai …”

Setelah menghela napas panjang, lalu ia menunduk.

“Selama aku masih dapat bernapas, aku bersumpah pasti akan menuntut balas,” ucap Ciok-Put-Wi dengan air mata bercucuran.

“Ya, harus menuntut balas,” tukas Kong-sun-Put-ti. “Tapi biarpun benar Nyo-jit-te tewas di tangan Po-giok, masakah Lo-ji dan Lo-liok juga terbunuh oleh anak muda itu? Jika pembunuh yang sebenarnya saja kita tidak tahu, cara bagaimana kita dapat menuntut balas?”

“Dari ucapanmu ini, apakah kau maksudkan kematian Lo-ji dan Lo-liok tidak ada sangkut pautnya dengan Pui-po-giok?” tanya Bok Put-kut.

“Ehm, begitulah,” Kong-sun Put-ti mengangguk.

“Tapi, selain Pui-Po-giok, siapa pula yang dapat dan mampu menyergap mereka?”

“Hendaknya kau perhatikan hal-hal ini. Kematian mereka itu sama sekali tidak ada tanda ada perlawanan, ini menunjukkan sebelumnya mereka tidak berjaga-jaga, dari sini dapat ditarik kesimpulan orang yang mencelakai mereka pasti sudah dikenal baik … ”

“Ya, makanya aku yakin pembunuhnya pasti Pui-Po-giok,” tukas Bok-Put-kut.

“Tapi setelah Jit-te dicelakai po-giok, tentu Lo-ji dan Lo-liok memandangnya serupa binatang berbisa, begitu bertemu pasti akan melabraknya, mana mungkin mereka menghadapinya dengan tenang?” kata Kong-sun Put-ti.

Bok-Put-kut melengong dan tidak dapat menjawab.

“Tepat!” seru Ciok-Put-wi.

Agak lama Bok-Put-kut terdiam, katanya kemudian, “Jika orang ini bukan Po-ji, namun juga seorang yang sudah sangat kita kenal, lantas siapa … siapa dia? Apakah mungkin …”

Sungguh ia tidak tahu siapakah di antara orang yang sangat dikenalnya bisa berbuat sekeji itu. Biasanya dia tidak berani sembarangan menduga jelek terhadap siapa pun, maka ia hanya menghela napas menyesal saja.

Perlahan Kong-sun Put-ti berkata pula, “Harap Toa-ko berpikir lagi, di antara saudara kita, siapakah kiranya yang paling gampang dipancing dengan keuntungan. Sesudah Lo-ji dan Lo-jit mati, siapa pula yang paling dahulu menemukan mereka?”

Tubuh Bok-Put-kut tergetar, mendadak bentaknya dengan mata mendelik, “Jangan-jangan
kau maksudkan Gui-lo-ngo? Mana boleh kau curigai dia? Jangan … jangan kau lupa, antara kita dan dia sebaik saudara sekandung.”

“Urusan sudah sejauh ini, kita harus menaruh curiga terhadap setiap orang yang pantas dicurigai lebih baik salah duga daripada urusan bertambah parah …”

“Betul, biar aku pergi melihatnya,” kata Ciok-Put-wi.

Selagi Bok-Put-kut hendak mencegahnya, cepat Kong-sun-Put-ti menariknya, katanya, “Cara bekerja Si-te biasanya sangat cermat, jika dia mau pergi, urusan pasti beres.

Sejenak kemudian Ciok-Put-wi sudah lari kembali dan berkata singkat kepada mereka, “Ikut
kemari!”

Bok-Put-kut dan Kong-sun-Put-ti tidak tahu apa maksudnya, terpaksa mereka ikuti kehendaknya.

Ciok-Put-wi dan Bok-Put-kut bertiga tinggal sekamar, sedang Gui-Put-tam sekamar dengan Gu-Thi-wah dan Kim-Co-lim. Waktu Bok-Put-kut bertiga mendorong pintu kamar Gui-Put-tam dan melihat keadaannya, seketika air muka mereka berubah.

Dalam kamar yang agak gelap terlihat Thi-wah tidur mendengkur, Kim-Co-lim mabuk serupa orang mati, sedang Gui-Put-tam menggeletak kaku di lantas dengan mulut berbusa, sebuah cangkir di sampingnya terjatuh hancur.

“Celaka, jangan-jangan Gui-go-te keracunan!” seru Bok-Put-kut.

Kong-sun-Put-ti memburu maju dan mengangkat tubuh Gui-Put-tam dan memeriksa kelopak matanya serta memegang nadinya, lalu secepat kilat ia tutuk beberapa hiat-to di sekitar dada Gui-Put-tam.

Ciok-Put-wi telah menyalakan lampu dan memeriksa poci teh dengan teliti, katanya kemudian, “Dalam teh ada racun!”

Air mata Bok-Put-kut bercucuran, ia raba kepala Gui-Put-tam dan berkata dengan sedih, “O, Go-te, hampir saja kami salah sangka padamu …”

“Betul, tadi aku memang salah menuduhnya,” ucap Kong-sun-Put-ti.

Ia merasa menyesal, sebab kalau benar Gui-Put-tam pelaku jahat, mana mungkin ia sendiri pun keracunan.

“Apakah dia juga … juga tak tertolong lagi?” tanya Bok-Put-kut.

“Untung kita keburu datang, racun belum menyerang jantungnya, bila terlambat setengah jam saja, tentu jiwa Go-te akan melayang,” ujar Kong-sun-Put-ti.

Lalu ia mengeluarkan sebuah kotak kecil yang berisi beberapa botol kecil, dari salah satu isi botol kecil itu dituangkan ke mulut Gui-Put-tam. Itulah obat penawar Bu-tong-pai yang terkenal mujarab.

Tidak lama, tubuh Gui-Put-tam dapat bergerak, mulut pun mengeluarkan suara keluhan, menyusul dan mulut pun merembes keluar air warna hijau gelap.

Kong-sun-Put-ti mengusap keringat pada dahinya dua berucap lega, “Dia tidak berhalangan lagi.”

Bok-Put-kut juga menghela napas lega dan duduk terkulai.

“Go-te sudah lolos dari bahaya. cukuplah kujaga dia di sini, silakan Si-te dan Toa-ko pergi mengaso dulu, menghadapi pertarungan yang sudah dekat, Toa-ko perlu istirahat secukupnya,” kata Kong-sun-Put-ti.

Akhirnya Bok-Put-kut dapat dibujuk Ciok-Put-wi dan pergi mengaso. Thi-wah masih tidur lelap. Kim-Co-lim juga belum sadar dari mabuknya. Semua kejadian di dalam kamar sama sekali tidak dirasakan oleh mereka.

Kong-sun-Put-ti tersenyum memandangi mereka, gumamnya, “Sungguh beruntung mereka …”

Pada saat itulah tiba-tiba di luar jendela ada orang bertepuk tangan sekali.

“Siapa itu?” bentak Kong-sun Put-ti cepat.

Tak terduga, belum lagi lenyap suaranya, sekonyong-konyong Gui-Put-tam yang rebah di tempat tidur itu melompat tangan, berbareng beberapa titik perak menyambar punggung Kong-sun Put-ti secepat kilat.

Betapa cerdik pandai Kong-sun-Put-ti juga tidak menyangka akan diserang dari belakang, apalagi suara ngorok Thi-wah sekeras bunyi guntur sehingga suara sambaran senjata gelap tidak terdengar.

Maka begitu titik perak berkelebat, menyusul Kong-sun-Put-ti pun menjerit dan tergelepar ke depan dan terhuyung-huyung, ia sempat melompat keluar jendela dan lari dengan cepat.

Gui-Put-tam angkat kepalanya dan memandang keluar jendela sekejap, tersembul senyumannya yang licik. Setelah terkena senjata rahasia berbisa, ditambah lagi lari cepat tentu racun akan bekerja terlebih keras, mungkin tidak sampai beberapa tombak jauhnya akan menggeletak dan tidak dapat bangun lagi. Lalu siapa di dunia ini akan menduga semua ini adalah perbuatan Gui-Put-tam?

Kiranya Gui-Put-tam yang kelihatan keracunan itu tidak lebih cuma pura-pura sengaja dan sengaja diaturnya agar orang lain tidak mencurigai dia, untuk itu dia sudah minum obat penawar lebih dulu sebelum minum teh beracun. Jadi keadaannya yang tidak sadar itu hanya pura-pura saja, biarpun tidak diberi obat oleh Kong-sun-Put-ti juga dia takkan mati.

Ketika pintu kamar berbunyi, kembali Bok-Put-kut dan Ciok-Put-wi menerjang masuk. Tapi Gui-Put-tam keburu rebah lagi dan berlagak tidak sadar.

Bok-Put-kut memandang kian kemari, katanya dengan heran dan kuatir, “Siapa tadi yang menjerit? Wah, ke mana perginya Kong-sun jit-te?”

Cepat mereka berusaha membangunkan Kim-Co-lim dan Gu-Thi-wah serta ditanya, “Sesungguhnya apa yang terjadi di dalam kamar barusan, kalian tahu tidak?”

Dengan sendirinya Kim-Co-lim dan Thi-wah merasa bingung, mereka balas tanya malah, “Memangnya apa yang terjadi?”

Selagi Bok-Put-kut hendak mengomel, mendadak Ciok-Put-wi berseru, “Lihat apa Itu?”

Waktu semua orang memandang ke arah yang ditunjuk, terlihat di dekat jendela sana ada beberapa titik bekas darah, sebagian daun jendela juga sudah rusak terjebol.

“Hah, apakah Kong-sun-jit-te juga disergap musuh? Apakah dia terluka dan mengejar musuh?” seru Bok-Put-kut. “Tapi mengapa dia tidak … tidak memberi tanda kepada kita, mana boleh dia mengejar musuh sendirian?”

“Cepat susul!” seru Ciok-Put-wi dan mendahului melompat keluar jendela.

Akan tetapi meski seluruh perkampungan itu sudah mereka cari ubek-ubekan tetap tidak menemukan jejak Kong-sun-Put-ti. Ternyata Kong-sun-Put-ti telah menghilang.

Di antara ketujuh murid utama sekarang tiga orang terluka parah atau mati, seorang keracunan dan seorang menghilang, tentu saja berita ini sangat menggemparkan dunia kang-ouw. Kejadian ini membuat sebagian besar orang kang-ouw merasa senang dan ada yang ikut berduka cita. Nyata pertarungan di Thai-san nanti telah berkurang beberapa lawan kuat.

Padahal pertemuan di Thai-san akan berlangsung besok, tentu saja Bok-Put-kut dan Ciok-Put-wi tidak berdaya dan kelabakan, hanya dalam semalam saja wajah mereka sudah berubah pucat karena kurang makan dan tidak tidur.

Meski waktu pertandingan ditentukan pada malam bulan purnama, tapi pada pagi hari tanggal 15 di puncak Thai-san sudah berjubel-jubel orang yang berkumpul.

Pada setiap tempat yang agak teraling, di balik batu karang, di tengah semak, di mana saja asal ada tempat luang tentu terdapat sebuah peti mati baru.

Sebelumnya memang sudah timbul macam-macam dugaan ketika melihat peti mati itu, maka sekarang kebanyakan orang tidak heran lagi. Malahan banyak orang yang menggunakan peti mati itu sebagai tempat duduk atau tempat berbaring untuk menanti datangnya malam dan terbitnya bulan purnama.

Lewat lohor kebanyakan tokoh utama yang akan ikut pertandingan ini sudah hadir. Dengan sendirinya beberapa tokoh terkenal menjadi buah tutur orang.

Poa-Ce-sia adalah pendekar ternama, dia paling dini sampai di tempat. Menyusul tokoh terkemuka lain seperti Go-Tong-lin dari Tiang-pek-san, Be-Siok-coan yang berjuluk si tombak sakti Ciang-Siau-bin yang berjuluk Bu-ceng-kong-cu atau pemuda tidak kenal kasihan, dan jago-jago muda lain lagi.

Akan tetapi tokoh yang paling dinanti-nantikan akan kahadirannya dalam pertarungan ini sampai sang surya sudah terbenam masih juga belum tampak muncul, hal ini segera menimbulkan pembicaraan orang banyak lagi.

“Kabarnya Thian-to Bwe-Kiam sudah lebih dulu sampai di kaki gunung bersama Ban-Cu-liang dan Jit-toa-te-cu, mengapa rombongan mereka belum tampak muncul?” demikian seorang mengomel.

Lalu yang lain menanggapi, “Mungkin disebabkan urusan yang menyangkut Jit-toa-te-cu sehingga dia datang terlambat. Jit-toa-te-cu sekarang tinggal dua orang saja, apalagi sampai kini juga tidak kelihatan bayangan Bok-Put-kut, sekali ini jelas mereka tidak sanggup ikut bertanding, andaikan ikut juga takkan tahan sekali hantam oleh musuh.”

“Sungguh aneh dan sukar dimengerti bahwa Jit-toa-te-cu yang termashur itu bisa jatuh habis-habisan seperti sekarang.”

Kukira yang paling aneh adalah orang yang dipandang paling besar harapannya akan keluar sebagai juara nanti, ternyata sampai sekarang juga belum kelihatan.”

“Siapa yang kau maksudkan?”

“Thian-siang-hui-hoa Ling-Peng-hi.”

“Oo, dia? Mengapa bisa dia?”

“Hehe, berita yang aku peroleh ini datang dari sumber yang sangat dirahasiakan, maka sementara ini tidak dapat aku jelaskan. Namun hal ini sudah dapat dipastikan, jika tidak percaya boleh kalian tunggu dan lihat nanti.”

“Lantas bagaimana dengan Pui-Po-giok?”

“Pui-Po-giok? Huh, mungkin selamanya dia takkan muncul lagi di depan umum …”

*****

Selain peti mati yang disembunyikan di sana sini, ternyata di samping puncak gunung yang rimbun oleh pepohonan dan di celah-celah batu padat sana masih ada sebuah peti mati.

Tampak dua lelaki, seorang berjubah satin dan yang lain berbaju biru, dengan susah payah akhirnya dapat mencapai samping gunung itu, si lelaki baju biru menarik napas lega, katanya dengan tertawa, “Walaupun sukar mencapai tempat ini, tapi sekali sudah berada di sini, dapatlah kita menyaksikan pertandingan dengan tentram, peti mati bukan lambang yang baik, namun enak juga duduk di atasnya seperti berada di panggung kehormatan.”

Lelaki berjubah satin mengebut debu pada bajunya, ucapnya dengan tertawa, “Betul, menonton keramaian dari sini sungguh seperti beli karcis kelas utama.”

Dan baru saja kedua orang duduk di atas peti mati itu, tiba-tiba terdengat suara “ciiat” sekali, suara tajam melengking yang mengejutkan, apalagi timbul dari dalam peti mati. Keruan kedua orang sama melonjak kaget setengah mati.

Tanpa pikir si baju satin segera angkat kaki hendak kabur, namun kawannya si baju biru sempat menariknya, lalu membentak, “Sia … siapa itu yang berada di dalam peti?”

Terdengar suara terkekeh aneh di dalam peti mati, “Hehehe, orang mati di dalam peti, orang hidup, lekas menjauh!”

“Sesungguhnya kamu manusia atau setan?” bentak si baju biru.

“Tidak perlu urus aku manusia atau setan?” ujar suara aneh itu. “Jika kalian berani lagi duduk di atas peti, maka jangan harap kalian dapat pergi dengan hidup. Kalau tidak percaya, silakan saja coba.”

Meski tubuh kedua orang itu cukup gede, namun nyali mereka ternyata kecil. Mereka saling pandang sekejap, lalu lari sipat kuping dan terguling-guling ke bawah gunung.

Kembali terdengar suara terkekeh-kekeh di dalam peti, tutup peti pun tersembul ke atas dengan perlahan, lalu menongol sebuah kepala dengan rambut beruban, ucapnya dengan tertawa, “Hehe, enak-enak aku rebah di sini untuk menonton keramaian, kalian justru duduk di atas kepalaku kan mencari penyakit? Bilamana bukan lantaran aku tidak ingin menampakkan diri sekarang, saat ini jiwa kalian pasti sudah melayang.”

Sembari bicara ia terus meraba sepotong manisan ceremai dan dijejalkan ke mulut serta dimakan dengan nikmatnya.

Siapa lagi dia kalau bukan Ban-lo-hu-jin.

Pada saat itu juga, sekonyong-konyong setangkai ranting secepat kilat menyambar masuk celah-celah tutup peti.

Keruan Ban-lo-hu-jin terkejut, sekuatnya ia hendak merapatkan tutup peti, namun ranting kayu yang lemas itu seperti mengandung tenaga maha kuat, bukannya merapat, sebaliknya tutup peti sedikit demi sedikit malah merenggang ke atas.

Muka Ban-lo-hu-jin berubah pucat, ia coba memandang ke sana mengikuti ranting kayu. Terlihat sebuah tangan seputih kemala, tiga jari lentik memegang ranting, waktu memandang lebih ke atas, itulah lengan baju berwarna hijau pupus.

Sampai di sini Ban-lo-hu-jin tidak mau memandang lebih ke atas lagi, kepalanya terus mengeret ke dalam, seluruh badan meringkuk masuk lagi ke dalam peti mati.

Terdengar seorang berucap dengan tertawa lirih, “Hihi, sudah aku duga kau pasti akan datang ke sini, tapi sejauh ini tidak aku lihat dirimu, selagi heran, baru sekarang kutahu engkau sembunyi di dalam peti mati.”

Suaranya merdu dan lembut, selain Siau-kong-cu siapa lagi. Ia bicara sambil mencungkit perlahan dengan ranting kayu sehingga tutup peti itu terpentang, terlihat Ban-lo-hu-jin meringkuk di dalam peti dan tidak berani mengangkat kepala.

“Sembunyi apa lagi, kenapa tidak lekas keluar?” ucap Siau-kong-cu.

“Nona … nona mencari nenek, apakah ada sesuatu urusan?” kata Ban-lo-hu-jin dengan lagak seperti tidak terjadi sesuatu, tapi suaranya tidak urung rada gemetar.

“Kucari dirimu hanya ingin tanya padamu ke mana perginya Pui-Po-giok?”

Ban-lo-hu-jin terkekeh-kekeh, “Pui … Pui-Po-giok? Nona maksudkan Pui-Po-giok? Hehe, tindak-tanduk tuan muda ini biasanya sukar diraba, mana perempuan tua tahu dia berada di mana?”

“Benar kamu tidak tahu?” Siau-kong-cu menegas dengan tertawa.

Ia bicara dengan halus dan lembut serta tersenyum manis, akan tetapi bagi pandangan Ban-lo-hu-jin justru membuatnya merinding, cepat ia menjawab, “Ben … benar!”

“Jika benar kamu tidak tahu, mengapa kamu mesti ketakutan padaku? Maka dapat diduga dalam hal ini tentu kau sembunyikan sesuatu, karena berdosa, maka takut. Betul tidak?”

“Oo, aku … aku …” si nenek gelagapan.

“Kutahu engkau ini orang cerdik, selama hidup tidak mau dirugikan orang tapi mengapa sekarang kau paksa aku turun tangan? Maka lebih baik bicara terus terang saja dan kujamin pasti takkan membikin susah padamu.”

“Artinya, asalkan kukatakan di mana jejak Pui-Po-giok dan engkau pun takkan membikin susah padaku? Tidak peduli dia berada di mana engkau tetap takkan … ”

“Betul!” potong Siau-kong-cu.

“Berdasarkan apa supaya aku dapat mempercayaimu?” tanya si nenek.

“Tidak perlu pakai dasar apa pun, keadaan sekarang sudah cukup menjadi dasar agar kau percaya padaku.”

Ban-lo-hu-jin termenung sejenak, katanya kemudian sambil menyengir, “Ya, betul. saat ini memang mau-tidak-mau harus aku percayaimu. Baiklah, biar kukatakan padamu.”

“Berurusan dengan orang pintar memang menyenangkan. Nah, katakan sekarang, Pui-Po-giok berada di mana?”

Bola mata Ban-lo-hu-jin berputar-putar, mendadak ia berteriak, “Pui-Po-giok sudah mati!”

Tergetar tubuh Siau-kong-cu. Serentak Ban-lo-hu-jin juga meloncat ke atas, ia berjumpalitan dua kali di udara, lalu kabur secepat terbang. Ia sempat melirik Siau-kong-cu dan terlihat si nona berdiri melengong di samping peti mati dan tidak ada maksud buat mengejarnya.

Dari jauh Ban-lo-hu-jin berseru, “Jenazah Pui-Po-giok aku lihat sendiri dan pasti tidak bohong padamu …. ”

Suaranya berkumandang di lembah pegunungan, dalam sekejap bayangan si nenek pun menghilang.

Siau-kong-cu berdiri terkesima di situ dengan wajah kaku, siapa pun tidak dapat meraba apakah dia lagi gembira atau berduka, hanya terdengar bergumam perlahan, “Mungkinkah dia dusta padaku? … Ah, tidak bisa, jika dia mau dusta tentu takkan dusta hal ini, sebab perbuatan demikian kan tidak berfaedah baginya, sedang urusan yang tidak mendatangkan manfaat biasanya tidak nanti dilakukannya … ”

Sementara itu di tengah kerumunan orang banyak sana terdengar ramai orang berteriak, “Itu dia Ling-Peng-hi … Ya, Ling-Peng-hi sudah datang …”

Walaupun di sana suara orang banyak bergemuruh, namun Siau-kong-cu masih berdiri terpaku di tempatnya dan masih bergumam, “Po-ji, apakah benar engkau sudah mati?!”

Berita kematian Pui-Po-giok dengan sendirinya membuat siasat Ngo-hing-mo-kiong harus banyak diadakan perubahan. Namun pertandingan di puncak Thai-san tetap berlangsung. Sampai sekarang tiada seorang pun dan sesuatu kejadian yang dapat menundanya lagi.

Menjelang petang, panitya pertandingan yang berkumpul di Ban-tiok-san-ceng mengeluarkan maklumat tentang peraturan pertandingan yang dilangsungkan dengan sistem seleksi, dan diawasi suatu dewan juri yang terdiri dari tujuh tokoh pilihan seperti It-bok Tai-su, Ting-lo-hu-jin, Ban-Cu-liang dan lain-lain.

Sementara itu di suatu tanah lapang di puncak Thai-san itu sudah dipasang sebuah panggung pertandingan. Ketujuh anggota juri, kecuali Ban-Cu-liang yang belum muncul, sudah sama mengambil tempat duduk yang tersedia di samping panggung.

Jago-jago muda yang akan ikut bertanding juga sama berkerumun di tempat panitya untuk mengambil nomor undian urutan bertanding.

Malam sudah mulai gelap, bulan belum lagi terbit, namun kawanan centing Ban-tiok-san-ceng sudah sibuk memasang obor hingga puncak gunung terang-benderang bagai siang hari.

Suasana mulai tegang, semua jago yang akan ikut bertanding sama prihatin. Terdengar panitya memberi pengumuman bahwa pasangan pertama yang akan bertanding adalah Go-Tong-lin dari Tiang-pek-san melawan Poa-Ce-sia…

Tampaknya pertarungan sengit segera akan dimulai. Dalam pada itu tiada seorang pun yang teringat lagi kepada Pui-Po-giok, siapa pun tidak menyangka pada saat itu juga Pui-Po-giok juga sudah berada di kaki gunung.

Anak muda itu mondar-mandir di kaki gunung, beberapa kali sudah akan beranjak ke atas, tapi urung. Ia ternyata tidak berani naik ke atas gunung, seperti sudah kehilangan keberanian.

Bajunya kelihatan compang-camping, rambut kusut dan muka pucat dekil, bahkan kedua matanya yang besar itu pun tidak bercahaya lagi. Namun dia belum lagi mati, dia benar-benar masih hidup di dunia ini. Mengapa bisa begini? Untuk ini harus diceritakan sejak dia minum teh beracun dan kemudian ditanam oleh Ban-lo-hu-jin, di situlah tanpa sengaja ia dapat mendengar rahasia kelicikan Gui-Put-tam.

Selagi Po-giok tersiksa oleh rasa panas bagai dibakar ketika itu, kebetulan hujan lebat dan tanah yang menutupi tubuhnya terguyur buyar oleh air hujan, secara kebetulan pula hawa panas racun dalam tubuh Po-giok juga dipunahkan oleh air hujan.

Semua itu dengan sendirinya terjadi secara kebetulan, tapi kalau bukan pemuda luar biasa seperti Pui-Po-giok masakah dapat mengalami penemuan yang aneh dan luar biasa pula.

Sampai sekarang bilamana Po-giok teringat pada siksaan yang dialami ketika ditanam di bawah tanah itu, sungguh ia pun mengkirik sendiri, sedapatnya ia ingin melupakan peristiwa yang mengerikan itu.

Beberapa hari kemudian kadar racun dalam tubuh pun hilang, namun keadaannya pun kurus kering. Untung orang-orang di taman itu sudah sama berangkat ke Thai-san, maka dapatlah ia kabur dengan selamat.

Sekarang bulan sudah hampir purnama, tanpa terasa Po-giok pun berlari ke arah Thai-san, lambat-laun pulih juga kesehatannya. Dan kini ia pun sudah berada di kaki gunung Thai-san itu, namun dia tidak ada keberanian untuk naik ke atas gunung.

Selagi perasaannya diliputi rasa bimbang, sekonyong-konyong dari semak rumput yang gelap di samping sana terdengar suara rintihan orang. Po-giok terkesiap, ia coba mengawasi tempat itu terlihat di tengah semak rumput sana memang benar ada sesosok bayangan orang sedang meronta dan bersuara merintih, “Air … air … tolong … air …”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: