Kumpulan Cerita Silat

24/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:32 am

Pendekar Empat Alis
Buku 06: Perkampungan Hantu
Bab 09: Pergi (Tamat)
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Hiu_Khu)

Tempat tidur di kamar si janda Hoa memang sangat besar, sepreinya putih bersih, kasur selimutnya masih baru, begitu masuk ke situ, dengan kemalas-malasan Hoa-kuahu lantas menjatuhkan diri di tempat tidur.

Siau-hong hanya berdiri saja di depan ranjang.

Si janda Hoa mengawasi Siau-hong dengan pandangan yang sayu, katanya tiba-tiba, “Sekarang tentunya kau sudah tahu aku ini lah Hoa-kuahu yang menakutkan itu.”

Siau-hong mengangguk.

“Tentunya kau pun pernah mendengar orang bilang aku ini anjing betina, anjing betina yang bisa makan manusia.”

Kembali Siau-hong mengangguk.

“Apakah kau tahu setiap lelaki di sini sama mengira setiap saat aku dapat ikut tidur bersama dia?”

Siau-hong tetap mengangguk saja.

Mata Hoa-kuahu tambah sayu dan penuh harap. “Jika begitu, mengapa tidak lekas kau naik kemari?”

Tapi Siau-hong tidak bergerak sama sekali.

“Engkau tidak berani?” tanya Hoa-kuahu.

Siau-hong tidak mengangguk lagi, juga tidak menggeleng.

Hoa-kuahu menghela napas, ucapnya, “Ya, tentu saja engkau belum berani, sebab sesungguhnya aku ini orang macam apa belum lagi kau ketahui?!”

Tiba-tiba Siau-hong tertawa, katanya, “Tidaklah banyak orang yang dapat manggabungkan Lwekang asli keluarga Liu di Hoaypak dan ilmu pedang Liu-in-kiam-hoat Tiam-jong-pay menjadi satu, sebab itulah ….”

“Sebab itu apa?” tanya Hoa-kuahu.

“Sebab itulah kuyakin engkau pasti putri Hoay-lam-tayhiap, istri Tiam-jong-kiam-kek, Liu Jing-jing.”

“Dan tentunya kau pun tahu aku pernah naik ranjang bersama empat kawan baik Cia Kian (Tiam-jong-kiam-kek, si pendekar pedang dari Tiam-jong-pay).”

Siau-hong mengangguk, hal itu memang merupakan berita sensasi yang sangat menggemparkan dunia Kangouw.

“Jika kau tahu semuanya, mengapa tidak lekas naik kemari?” kata Hoa-kuahu pula.

Kembali Siau-hong tertawa, “’Sebab aku tidak suka, dan juga lantaran aku tidak dapat kau perintah.”

Hoa-kuahu tertawa juga, “Wah, tampaknya kau ini memang rada berbeda daripada lelaki lain.”

Mendadak ia melompat bangun dari tempat tidur dan berseru, “Mari kusuguh kau minum arak.”

Minum arak memang kegemaran Liok Siau-hong.

Semakin banyak arak yang ditenggak, mata Hoa-kuahu juga tambah sayu seperti kuncup kabut.

Di lembah pegunungan ini memang selalu berkabut, sebab itulah selalu bertahan kemisteriusannya. Dan sekarang bukankah demikian dengan Hoa-kuahu?

Untuk melihat tubuhnya yang telanjang mungkin tidak sulit, jika ingin melihat hatinya rasanya tidaklah mudah.

Setelah minum secawan arak pula tiba-tiba si janda bertanya “Apakah kau tahu sebab apa Hay Ki-hoat senantiasa berharap aku mau naik ranjang bersama dia?”

“Sebab dia anggap engkau pernah naik ranjang dengan lelaki lain yang berada di tempat ini,” kata Siau-hong.

“Ya, setiap orang berpikir begitu.” Hoa-kuahu tertawa. “Padahal … berapa lelaki yang benar-benar pernah naik ranjang bersamaku, mungkin kau sendiri tidak dapat menerkanya.”

“Tiada satu pun?” tanya Siau-hong.

“Ada, cuma satu,” kala Hoa-kuahu.

Siau-hong menenggak arak lagi.

Pandangan Hoa-kuahu seperti melayang jauh ke sana, kepada bayangan orang yang berada jauh, yang penuh dikagumi dan dicintainya.

Selang agak lama barulah ia terjaga dari lamunannya, “Mengapa tidak kau tanyakan padaku siapakah orang itu?”

“Untuk apa harus kutanya?” ujar Siau-hong.

Kembali Hoa-kuahu tertawa. “Kau ini memang orang yang istimewa, aku suka kepada lelaki yang istimewa.”

Tiba-tiba lenyap pula tertawanya, ‘”Sebenarnya Cia Kian (suaminya) juga seorang lelaki yang istimewa, aku kawin dengan dia lantaran waktu itu aku memang menyukai dia.”

“Tapi kemudian hatimu berubah?!”

“Yang berubah bukan diriku, tapi dia.”

Kabul pada matanya tiba-tiba terbelah satu garis, dibelah oleh pedang tajam yang penuh rasa pedih dan dendam, lalu ia melanjutkan “Tentunya tidak pernah kau pikir dia berubah menjadi orang macam apa, lebih-lebih tak pernah terpikir olehmu betapa menakutkan perbuatannya?”

“Menakutkan?” Siau-hong menegas.

“Apakah kau tahu sebab apa sampai aku naik ranjang bersama sahabat baiknya?” tanya Hoa-kuahu tiba-tiba, tangannya terkepal erat, air mata menitik, “Sebab…Sebab dia yang minta aku berbuat demikian, dia suka…Dia suka melihat…Bahkan dia berlutut dan memohon padaku untuk berbuat, malahan mengancam pula diriku dengan pedangnya….”

Tiba-tiba Siau-hong menenggak lagi arak dalam cawannya, ia merasa lambungnya mengejang dan hampir tumpah.

Waktu dia berpaling lagi, dilihatnya Hoa-kuahu sudah mengusap air matanya, ia menghabiskan isi cawannya dan berucap pula, “Tentu engkau sangat heran untuk apa kuberitahukan semua ini kepadamu.”

Tapi Siau-hong tidak heran, sedikitpun tidak heran.

Rasa sedih dan duka seorang kalau sudah terpendam terlalu lama, biasanya memang ingin mencari seorang untuk menumpahkan seluruh perasaannya.

Meski rasa pedih Hoa-kuahu sudah terlampias, namun dia sudah banyak menenggak arak, ucapnya pula, “Meski dia sudah tua, tapi dia seorang lelaki sejati, lelaki yang berbeda dengan lelaki lain, mungkin aku tidak suka padanya, tapi aku kagum padanya, asalkan dapat membuatnya senang, aku rela berbuat apapun baginya.”

la mendongak dan menatap Siau-hong, lalu menambahkan, “Bila sudah kau temui dia, pasti kau pun akan suka kepadanya.”

“Yang kau maksudkan ….”

“Kumaksudkan Lau-to-pacu,” tukas si janda.

Siau-hong terkejut, “Lau-to-pacu?”

Hoa-kuahu mengangguk, “Dialah satu-satunya lelaki di sini yang pernah naik ranjang bersamaku, tentu tak kau duga.”

Dia tertawa pedih, lalu menyambung, “Tadinya kukira di dunia ini tidak ada orang yang dapat memahami diriku dan bersimpati padaku, tapi dia memahami diriku, simpati padaku, semua itu timbul dari lubuk hatinya yang murni.”

“Maka kau serahkan dirimu kepadanya?” tukas Siau-hong.

“Ya, bahkan aku rela mengorbankan segalanya baginya,” kata Hoa-kuahu. “Sekalipun dia suruh aku mati juga akan kumati baginya. Namun…namun….”

Dengan cepat ia habiskan secawan arak lagi, lalu menyambung, “Namun aku tidak menyukai dia, aku …aku…”

Dia tidak melanjutkan, perasaan cinta memang sukar untuk dijelaskan begitu saja, ia yakin Siau-hong pasti paham.

Siau-hong memang paham, bukan saja paham terhadap perasaan perempuan, juga paham akan pribadi orang seperti to-pacu, si tangkai pisau tua, yang disegani dan mengepalai perkampungan hantu ini.

“Jika aku menjadi dirimu, aku pasti akan berbuat begini juga,” ucap Siau-hong dengan lembut.

“Kutahu dia pasti seorang manusia yang luar biasa.”

Hoa-kuahu menghela napas panjang, seperti, baru terbebas dari beban yang amat berat.

Dia pandang Siau-hong, sorot matanya memancarkan perasaan gembira dan terima kasih, katanya pula, “Sejak kudatang ke sini belum pernah kurasakan kegembiraan seperti hari ini. Mari, kuhormati tiga cawan padamu.”

“Jika minum lagi mungkin bisa mabuk,” kata Siau-hong.

“Biarpun mabuk juga tidak menjadi soal,” si janda lantas mengangkat cawan pula. “Bila benar mabuk, aku tambah berterima kasih padamu.”

Siau-hong bergelak tertawa. “Hahaha, bicara sejujurnya, memang sudah lama aku ingin mabuk sepuas-puasnya.”’

Maka mereka pun minum lagi dan mereka pun mabuk dan tergeletak di tempat tidur. Meski mereka saling rangkul dengan erat, tapi hati mereka suci murni seperti anak kecil, mungkin selama hidup mereka tidak pernah suci bersih seperti sekarang ini.

Lantas hubungan perasaan macam apakah ini?

Masa muda sudah akan berlalu, kejadian masa lampau tidak perlu ditoleh pula. Seorang perempuan yang telah kenyang dicaci, dinista dan seorang petualang yang terlunta-lunta, siapa pula di dunia ini yang dapat memahami perasaan mereka.

Malam bertambah larut, kabut juga semakin tebal.

Jendela tidak tertutup. Dari balik kabut sana tiba-tiba muncul sesosok bayangan orang dengan sorot mata yang penuh rasa benci dan dengki.

Lalu melalui celah-celah jendela muncul pula sebuah pipa tiup kecil. Pipa tiup warna hitam dan asap yang ditiupkan berwarna ungu gelap.

Asap buyar, orang yang tidak mabuk pun akan mabuk. Orang ini yakin sepenuhnya pasti akan berhasil, sebab asap yang ditiupnya adalah dupa bius yang paling hebat, ‘Siau-hun-sit-kut-san’, bubuk penyusup tulang dan pembetot sukma. Sedikitnya sudah 13 kali ia gunakan dupa ini untuk pekerjaan besar dan tidak sekali pun gagal.

Maka pada waktu Liok Siau-hong dan Hoa-kuahu siuman, mereka tidak lagi berada di tempat tidur yang empuk dan longgar itu, melainkan berada dalam sebuah gua di bawah tanah.

Gua di bawah tanah ini dingin dan lembab, mereka meringkuk di pojok, tak ada yang tahu cara bagaimana mereka berada di sini. Hanya ada seorang yang tahu.

Di dalam gua ini hanya ada sebuah kursi, Piauko berduduk di kursi itu dan sedang memandangi mereka dengan dingin, dengan penuh rasa benci dan dengki.

Melihat Piauko, serentak Hoa-kuahu berteriak, “Hah, kau?!”

“Tak kau sangka bukan?” jawab Piauko.

“Memang tak kuduga,” jengek si janda.

“Hm, anak murid Pah-san-kiam-kek ternyata juga suka menggunakan obat bius yang biasanya dipakai kaum pencuri yang rendah itu.”

“Hm, urusan yang tak terduga olehmu masih sangat banyak,” jengek Piauko pula.

“Tapi sedikitnya aku menjadi tahu juga segalanya,” kata Hoa-kuahu. “Rupanya perbuatanmu, baru sekarang kutahu.”

Kiranya orang yang datang ke perkampungan hantu ini sebelumnya sudah ada perjanjian lebih dulu dengan Lau-to-pacu. Orang yang diperbolehkan masuk ke sini biasanya cukup dapat dipercaya. Tapi akhir-akhir ini banyak penghuni di sini menghilang tanpa sebab, tidak ada yang tahu perbuatan keji siapa. Tapi sekarang Hoa-kuahu dapat menarik kesimpulan.

Piauko juga tidak menyangkal, “Cuma sayang, siapa pun tidak menyangka akan diriku. Sekali ini bila kubunuh kalian, tetap tidak ada yang mencurigai diriku”

Dia yakin akan hal ini, sebab kebanyakan orang tentu akan menyangka si kail yang membunuh mereka.

Hoa-kuahu juga tidak dapat menyangkal akan keyakinan Piau-ko itu.

Sebab setiap penghuni Yu-leng-san-ceng hampir semua mengetahui si kait berminat besar terhadap si janda cantik, juga sama tahu Kaucu atau si kait ingin membunuh Liok Siau-hong.

“Padahal aku pun tahu kau dendam padaku,” kau Hoa-kuahu pula. “Sebab kau suka kepada orang lelaki, sedangkan yang disukai orang lelaki ialah diriku.”

“Mungkin aku masih ada alasan lain,” ujar Piauko dengan tertawa.

“Alasan apa?” tanya si janda.

Mendadak Piauko tertawa aneh, katanya, “Mungkin tindakanku ini hanya untuk membela si kait tua.”

Tiba-tiba ada suara tertawa orang lain dan berkata, “Mungkin juga karena mendadak kau rasakan si kait tua sudah berada di atas kepalamu dan setiap saat kaitannya dapat menggantol lehermu.”

Yang muncul ternyata tidak cuma Kaucu atau si kait saja, tapi ada juga Koan-keh-po. Serupa nenek pengurus rumah tangga umumnya, dimana dan kapan saja wajahnya selalu bersungut.

Sebaliknya Kaucu tertawa dengan gembira.

Piauko juga tertawa, dengan sendirinya tertawa yang tidak gembira atau menyengir.

Meski si kait Hay Ki-koat tidak sekaligus mengait lehernya, tapi kaitannya telah menggantol di atas pundaknya, serupa tukang jagal mengait sepotong daging. Dengan sendirinya perasaan demikian tidak menggembirakan.

Di dunia ini justru ada sementara orang yang suka membikin gembira dirinya sendiri di atas ketidak gembiraan orang lam. dan si kait Hay Ki-koat kebetulan adalah manusia jenis ini.

Dengan tertawa ia berkata, “Baru saja bukankah kau bilang akan membikin orang lain menyangka perbuatanmu ini sebagai perbuatanku?”

Piauko tidak menyangkal, dia memang tidak dapat menyangkal.

“Soalnya kau ingin membunuh mereka, tetapi kau pun takut Lau-to-pacu tidak mengizinkan.” kata Hay Ki-koat pula.

“Padahal sebenarnya aku pun punya keinginan seperti dirimu.”

“Kau pun punya keinginan yang sama?” Piauko tak mengerti.

“Ya, aku pun ingin membunuh Liok Siau-hong, tapi juga kuatir dirintangi Lau-to-pacu. Di antara kita hanya ada setitik perbedaan.”

“Dalam hal apa?” tanya Piauko.

“Aku lebih mujur, dapat kutemukan seorang yang dapat kujadikan sebagai kambing hitam.”

Piauko paham apa yang dimaksudkan, tapi dia sengaja bertanya, “Siapa?”

“Kau,” kata Hay Ki-koat.

“Maksudmu agar kubunuh Siau-hong bagimu?” tanya Piauko.

“Memangnya kau tidak mau?”

“Masa aku tidak mau? Aku memang ingin membunuh dia, kalau tidak, untuk apa kuringkus dia ke sini.”

“Waktu itu bila kau bunuh dia, akulah yang akan kau jadikan kambing hitam, tapi sekarang, bagaimana?”

“Sekarang kalau aku tidak mau membunuhnya, akulah yang akan kau bunuh.”

“Haha, kau memang seorang yang pintar, makanya selama ini aku suka padamu.”

“Dan jika mau kubunuh dia, akan kau lepaskan diriku?”

“Sekarang juga akan kulepaskan kau, memangnya kau dapat lolos dari cengkeramanku?” ucap si kait. Lalu ia singkirkan kaitannya dari pundak Piauko.

Piauko menghela napas lega, lalu berpaling memandang si kail, wajahnya menampilkan senyuman pula, tiba-tiba ia bertanya, “Menurut pandanganmu, apakah aku ini mirip seorang yang mudah emosi dan kurang sabar?”

“Kau tidak mirip orang-orang begitu,” jawab si kait.

“Apakah aku tahu Hoa-kuahu ini seorang perempuan yang lihai dan sukat direcoki?”

“Kau tahu dengan jelas,” kala si kail.

“Jika demikian, mengapa tadi aku bertindak padanya.”

“Ya, sebab apa?” si kail malah bertanya.

Tertawa Piauko berubah, sangat aneh, “Sebab aku ingin disangka oleh mereka bahwa kungfuku tidak ada artinya bagi kalian.” Si kait tidak dapat tcrtawa lagi, “Padahal?” “Padahal cukup satu jurus saja dapat kubunuh kau!” kata Piauko.

Kalimat ini meliputi delapan suku kata, pada waktu mengucapkan kala keenam barulah dia turun tangan, ketika kata terakhir terucap, Hay Ki-koat pun sudah terbunuh olehnya.

Serangannya sungguh cepat dan efektif. Pada hakikatnya tidak ada yang tahu jelas cara bagaimana dia turun tangan. Hanya terdengar dua kali suara “crat-cret” yang aneh, serupa golok si jagal membacok daging, lalu Hay Ki-koat kelihatan roboh terkulai serupa babi mampus.

Liok Siau-hong dan Hoa-kuahu terkejut, tentu saja Koan-keb-po terlebih terkejut.

Piauko tepuk tangan yang kotor, lalu berucap pula dengan tersenyum, “Sudah lama kudengar para Hiangcu dari ketiga seksi Hong-bwe-pang adalah tokoh yang lain daripada yang lain, lebih-lebih pemimpin umumnya, Ko Tiu, tapi sayang sejauh ini hingga sekarang belum sempal kulihat betapa lihai kungfu andalanmu yang mengguncangkan dunia Kangouw itu.”

Koan-keh-po yang selalu bersungut itu sekarang lebih mirip orang yang mau menangis, katanya, “Ah, mana ada kungfu andalanku segala? Kepandaianku yang dapat kuandalkan adalah mengurus rumuh tangga orang, cuci pakaian atau masak di dapur.”

“Kau tidak dapat membunuh orang?” tanya Piauko.

“Tidak,” Koan-keh-po menggeleng kepala.

Piauko menghela napas. “Ai. jika begitu, akan Iebih baik jika kubunuh kau saja.”

Mendadak Koan-keh-po melompat ke atas, selagi mengapung di udara, segera terjadi hujan senjata rahasia, sedikitnya ada 50 buah semala rahasia kecil berhamburan ke arah Piauko.

Kiranya Koan-keh-po ini ahli am-gi atau senjata rahasia, hampir seluruh tubuhnya membawa senjata rahasia vang mematikan dan setiap saat dapat dihamburkan.

Di dunia ini pasti tidak lebih 10 orang yang mahir menghamburkan senjata rahasia sebanyak ini dalam waktu sekejap. Dan lebih sedikit pula orang yang mampu menghindarkan hujan senjata rahasia sebanyak ini.

Tapi Piauko justru satu di antara orang yang terlalu sedikit itu, bukan saja sudah diperhitungkannya kemungkinan serangan Koan-keh-po ini, bahkan juga sudah siap dengan cara mengatasinya. Maka begitu terhambur senjata rahasia lawan, tahu-tahu pedangnya juga sudah siap menunggu.

Begitu sinar pedang berkelebat, segala senjata rahasia itu tergulung hancur, sekali sinar pedang berkelebat lagi, kontan Koan-keh-po lantas roboh, sesudah menggeletak di lantai barulah darah mengalir.

Waktu darah mengalir barulah Siau-hong menghembuskan napas lega, ucapnya, “Inikah Hwe-hong-kiam-hoat?”

“Betul,” jawab Piauko.

“Jadi kau ini satu-satunya ahli waris Pah-san-kiam-kek, Koh Hui-in?”

“Ya, aku inilah orangnya,” kata Piauko.

“Ilmu pedang Pah-san memang hebat,” ujar Siau-hong. “Cuma aku tidak habis mengerti, orang semacam dirimu ini mengapa juga bisa terdesak oleh Sebun Jui-soat sehingga tiada jalan lain kecuali menuju ke sini?”

“Tentunya kau pun tidak bisa mengerti mengapa aku cuma membunuh mereka dan tidak membunuhmu?”
Siau-hong memang tidak mengerti.

“Alasan ini sebenarnya sangat sederhana, yaitu lantaran aku memang tidak ingin membunuhmu,” ujar Piauko dengan tertawa.

Siau-hong tambah tidak mengerti.

Maka Piauko bicara pula, “Lau-to-pacu selalu menganggap organisasinya ini sangat ketat dan terahasia, padahal sudah lama ada tiga tokoh Kangouw mengetahuinya, orang pertama yang tahu ialah guruku,”

“Jadi kau…” melengak juga Siau-hong.

“Aku sengaja dikirim ke sini khusus untuk menyelidiki seluk beluk sindikat ini. Sebab meski mereka sama lalui di dunia Kangouw, ada suatu sindikat yang bernama Yu-leng-san-ceng, tapi tidak banyak mengetahui kekuatan organisasi gelap ini.”

“O, jadi mareka sengaja menyuruhmu pura-pura terdesak oleh Sebun Jui-soat sehingga tiada jalan lari kecuali kabur ke sini?”

“Ya, urusan ini sebenarnya cuma sebuah perangkap saja, sudah mereka perhitungkan Sebun Jui-soat pasti akan ikut campur urusan ini maka mereka juga sudah memperhitungkan pihak San-ceng pasti akan mengikat perjanjian denganku.” “Sebab apa?” tanya Siau-hong.

“Sebab aku baru saja menerima sejumlah harta peninggalan yang cukup besar dan setiap saat sanggup membayarkan sepuluh laksa tahil perak.”

“Uang kontrak di sini sedikitnya sepuluh laksa tahil perak?” tanya Siau-hong.

“Demi menyelamatkan jiwa sepuluh laksa tahil kan tidak banyak.”

“Ya, memang tidak banyak,” Siau-hong mengaku.

Jiwa memang sukar dinilai, memangnya urusan apa di dunia ini yang bisa lebih berharga daripada jiwa sendiri?

“Aku dikirim ke sini, tugasku yang utama adalah menyelidiki pribadi Lau-to-pacu ini,” tutur Piauko lebih lanjut.

“O, mereka pun tidak tahu seluk-beluk dan asal-usul Lau-to-pacu?”

“Ya, tidak ada yang tahu.”

“Bagaimana dengan kau?”

“Meski sudah sekian lama kudatang ke sini, tapi belum pernah kulihat wajah aslinya, sebab itulah aku buru-buru ingin menemukan orang itu.”

“Orang itu siapa?” tanya Siau-hong.

“Orang yang akan mengadakan kontak dan membantuku.’ tutur Piauko. “Sudah disepakati sebelumnya selekasnya mereka akan mengutus pembantu ke sini, tapi gerak-gerik setiap pendatang baru tidak bisa bebas, dengan sendirinya juga sulit untuk mengetahui Koh Hui-in yang hendak dicari ialah diriku alias Piauko.”

“Karena kau tidak sabar menunggu, maka kau yang mencari-cari mereka?”

“Ya, sudah 12 orang yang pernah kutemui.”

“Dan semuanya salah alamat?”

“Benar, maka terpaksa kubunuh mereka untuk menghilangkan saksi.”

“Sekali ini kau kira aku adalah orang yang dikirim untuk membantumu?”

“Ya, kuharap sekali ini tidak keliru,” ucap Piauko sekata demi sekata sambil menatapnya dengan tajam.

Siau-hong menghela napas, ucapnya, “Aku pun berharap sekali ini kau tidak keliru.”

Piauko masih terus menatapnya, sorot matanya berubah setajam sembilu, tiba-tiba ia bertanya, “Kecuali guruku, Pah-san-kiam-kek, masih ada dua tokoh lain yang ikut dalam perencanaan operasi ini. Siapa kedua tokoh yang lain? Siapa yang mengutusmu ke sini? Apa kode pengenalmu?”

“Tidak dapat kukatakan,” jawab Siau-hong.

“Sebab pada hakikataya engkau memang tidak tahu?!”

Siau-hong mengangguk dan tesenyum kecut, katanya, “Sungguh menyesal, sekali ini tampaknya kau keliru lagi.”

Di dalam gua bawah tanah ini ada lampu, kini sudah permulaan musim semi, hawa tidak terlalu dingin.

Tapi mendadak Liok Siau-hong merasa merinding. Hal ini bukan disebabkan tangan Piauko mulai meraba tangkai pedangnya lagi, melainkan di dalam gua ini tiba-tiba bertambah pula satu orang. Seorang berjubah kelabu dan memakai caping bambu.

Baru saja tangan Piauko meraba tangkai pedangnya, tahu-tahu si baju kelabu sudah berada di belakangnya.

Siau-hong dapat melihat orang ini, Hoa-kuahu juga dapat melihatnya, tapi Piauko sendiri tidak merasakan apapun. Pendatang ini serupa badan halus yang cuma berbentuk tapi tak berwujud.

Karena mukanya tertutup oleh caping bambu yang lebar dan berbentuk aneh, sama sekali Siau-hong tidak dapat melihat wajahnya, tapi sudah dapat ditebaknya siapa dia.

Hoa-kuahu tidak memperlihatkan sesuatu tanda, tapi sorot matanya tidak urung menampilkan rasa girang. Si baju kelabu juga lagi memberi isyarat tangan padanya.

Agaknya Piauko juga marasakan sesuatu yang tidak beres sekonyong-konyong ia membalik tubuh. Tapi di belakang tidak ada orang, bahkan bayangan pun tidak ada.

Orang itu serupa bayangan saja yang melengket di belakang Piauko, kembali ia menggoyang tangan lagi kepada Hoa-kuahu.

Waktu Piauko berpaling kembali, si janda lantas menarik muka dan mendengus, “Sesungguhnya hendak kau bunuh Liok Siau-hong atau mambunuhku lebih dulu?”

Perlahan Piauko membetulkan tempat duduknya, ucapnya dengan perlahan, “Tampaknya kalian seperti tidak takut mati?”

“Toh harus mati, untuk apa takut?” kata Hoa-kuahu, “Cuma saja ….”

“Cuma kau tidak mau mati tanpa mengetahui sebab musababnya, begitu bukan?”

Hoa-kuahu membenarkan, ucapan Piauko ini memang tepat mengenai isi hatinya.

“Sebab itulah kau pun ingin tanya padaku, kecuali guruku, siapa pula yang mengetahui rahasia ini.”

“Jika kami toh akan kau bunuh, apa alangannya kau jelaskan?”” pinta si janda.

Piauko menatapnya, tiba-tiba ia tertawa terbahak-bahak.

“Apa yang kau tertawakan?” tanya Hoa-kuahu.

“Kutertawai dirimu,” jawab Piauko.

“Jelas-jelas kau tahu, mengapa pura-pura tanya padaku?”

“Aku tahu apa?” ujar Hoa-kuahu.

“Selain guruku masih ada lagi dua orang, yang satu ialah Bok-tojin dan seorang lagi ialah bapakmu.” kata Piauko.

“Jelas-jelas kau pun mengemban tugas serupa diriku, kau pun datang ke sini untuk menjadi mata-mata, mengapa kau berlagak pilon?”

Air muka Hoa-kuahu berubah seketika.

“Kuyakin sekarang kau pasti tahu Lau-to-pacu itu orang macam apa” kata Piauko pula.

“Sebab engkau seorang perempuan dan dapat tidur bersama dia ”

“Sengaja hendak kau seret diriku ke dalam lumpur ini?” tanya Hoa-kuahu.

“Sebenarnya sudah lama kutahu rahasiamu,” sambung Piauko. “Apa yang kulakukan ini tidak lebih hanya sebuah perangkap saja, ingin kupancing pembeberan rahasiamu, aku lebih suka salah membunuh seratus orang daripada seorang agen rahasia tinggal di sini.”

Hoa-kuahu memandangnya dengan tajam, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata, “Ah, kiranya bukan niatmu menyeret diriku ke dalam lumpur, tujuanmu hanya ingin mencari pengganti untuk mati bagimu.”

“Mengapa aku harus mencari pengganti?”

“Sebab meski tidak kau lihat Lau-to-pacu, tapi sudah tahu dia telah datang,” si janda menghela napas, lalu menyambung, “Sungguh engkau ini seorang cerdik, cuma sayang, ada satu hal yang tidak kau ketahui.”

“Hal apa?” tanya Piauko.

“Bahwa ini memang sebuah perangkap, cuma yang terjebak bukan diriku melainkan kau.”

“Oo?!” Piauko melengak.

“Sudah lama aku dan Lau-to-pacu mencurigai dirimu, makanya kami mengatur perangkap ini untuk menjerat dirimu,” tutur Hoa-kuahu. “Jika kau sangka aku terkena dupa biusmu, maka kelirulah kau.”

Lalu dia tepuk-tepuk lengan bajunya dan berbangkit perlahan. Padahal biasanya seorang yang terkena asap Siau-hun-san itu dalam waktu saiu jam pasti tidak dapat bergerak, tapi sekarang Hoa-kuahu dapal berdiri dengan tegak.

Piauko lelap duduk di tempatnya, tiba-tiba ia berpaling kepada Liok Siau-hong dan berkala.

“Bagaimana pendapatmu’”

Siau Hong menghela napas, “Ai. kalian semua orang pintar, sungguh aku sangai kagum .”

Mendadak Piauko bergelak tertawa. “Hahaha! Dapat membuat kagum orang semacam Liok Siau-hong, biarpun aku Koh Hui-in harus mati juga tidak perlu menyesal,”

Dia ternyata cukup tegas. Sekali bilang mati segera dia mati, bahkan jauh lebih cepat daripada dia membunuh orang. Sekali ujung pedangnya membalik dan menikam dada sendiri, kontan darah berhamburan, tubuhnya lantas tersungkur.

Betapapun ia tidak mau menjadi saksi hidup sehingga orang lain dapat mengorek pengakuan dari mulutnya.

Maklum, jika kau ingin menyelidiki rahasia orang lain, maka lebih dulu kau harus senantiasa siap mengorbankan diri sendiri.

“Sungguh tak tersangka dia benar-benar tidak takut mati setitik pun,” kata Hoa-kuahu dengan kening berkerut.

“Orang yang takut mati pada hakikatnya tidak dapat berbuat begini, orang terlalu pintar juga tidak dapat,” kata Lau-to-pacu tiba-tiba.

“Masih ada lagi sejenis orang yang tidak dapat berbuat begini,” tukas Siau-hong.

“Oo?!” Lau-to-pacu ingin tahu.

“Ada sejenis orang, kemana dia pergi seperti selalu mendapat kesulitan,” tutur Siau-hong.

“Seumpama dia tidak ingin mencari kesulitan, kesulitan sendiri juga akan menimpa dia.”

“Dan kau adalah jenis orang begini?”

“Ya. Biasanya aku memang cukup kenal diriku sendiri.”

“Kesulitan yang kau timbulkan bagiku memang tidak sedikit.”

“Tapi engkau pasti tidak dapat membunuhku,” sela Siau-hong.

“Sebab apa?” tanya Lau-to-pacu.

“Sebab tidak ada minatku untuk datang kemari, engkau sendiri yang menghendaki kedatanganku, maka orang lain boleh membunuhku, hanya engkau tidak dapat, sebab aku adalah tamu undangan.”

Lau-to-pacu termenung, katanya kemudian dengan perlahan, “Boleh juga tidak kubunuh dirimu, asal saja kau sanggupi sesuatu padaku.”

“Urusan apa?” tanya Siau-hong.

“Tutup mulutmu serapatnya dan berjanji takkan mambocorkan rahasia tempat ini.”

“Baik, kuterima.” jawab Siau-hong tegas.

“Bagus, kupercaya padamu. Sekarang pergilah!” kata Lau-to-pacu.

“Kau suruh aku pergi?” Siau-hong melengak.

“Umpama tuan rumah tidak dapat membunuh tamu, sedikitnya kan dapat menyuruhnya pergi.”

“Tapi di luar sana….”

“Tak peduli siapa yang sedang menunggumu di luar, sedikitnya terlebih baik daripada kau mati di sini,” kata Lau-to-pacu dengan dingin.

Siau-hong tidak bicara lagi, ia tahu tiada gunanya banyak bicara, terpaksa dia harus angkat kaki.

Tiba-tiba Lau-to-pacu memanggilnya lagi, “Betapapun engkau sudah pernah menjadi tamu undanganku, bahkan tidak kau khianati diriku, maka bila engkau menghendaki sesuatu dapat kuberikan dan boleh kau bawa pergi.”

“Apapun yang kuminta pasti kau beri?” tanya Siau-hong.

“Ya, asalkan dapat kau bawa,” kata Lau-to-pacu.

“Baik, akan kubawa serta dia,” ucap Siau-hong. Yang diminta ternyata Hoa-kuahu.

Seketika Lau-to-pacu tidak dapat bicara. Sampai lama sekali barulah ia bersuara pula, “Baik, boleh kau bawa pergi dia, cuma selanjutnya sebaiknya jangan sampai kulihat lagi dirimu.”

Lembah pegunungan masih diliputi kabut, untuk mencari jembatan kawat yang hampir tidak kelihatan itu tidaklah mudah, untuk menyeberang juga tidak gampang.

Dan kalau sudah menyeberang ke sana, lalu bagaimana? Di lembah pegunungan ini adalah dunianya hantu, di luar lembah sana bagaimana?

Siau-hong menghela napas panjang, tiba-tiba ia tertawa.

Hoa-kuahu memandangnya dengan heran, tanyanya, “Engkau tidak takut?”

“Takut apa?” tanya Siau-hong.

“Mati,” ucap Hoa-kuahu. Perlahan ia pegang tangan Siau-hong. “Apakah engkau tidak takut begitu keluar dilembah ini, sagera akan mati di bawah pedang orang lain?”

“Toh aku sudah pernah mati satu kali, apa alangannya jika mati sekali lagi?” sahut Siau-hong dengan tersenyum.

Hoa-kuahu juga tersenyum. Apapun juga mereka toh keluar dari Yu-leng-san-ceng, keluar dari dunianya orang mati.

Dangan suara lembut Hoa-kuahu berkata, “Sering kupikirkan, asalkan aku dapat hidup lagi benar-benar, sungguh puaslah hatiku.”

T A M A T

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: