Kumpulan Cerita Silat

23/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:31 am

Pendekar Empat Alis
Buku 06: Perkampungan Hantu
Bab 08: Kesulitan datang
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Hiu_Khu)

Satu-satunya suara yang dapat menggembirakan dia pagi ini adalah suara ketukan pintu waktu pengantar makan datang.

Pengantar itu seorang burik, mukanya kaku, giginya kuning, mungkin tidak parnah disikat. Satu-satunya bagian tubuhnya yang menyenangkan orang hanya tangannya yang menjinjing rantang santapan itu.

Rantang makanan itu memang berisi enam macam masakan yang sesuai dengan pesanan Liok Siau-hong semalam.

Namun setiap macam masakan itu seluruhnya cuma terdiri secuil saja, secuil kecil. Orang yang rabun mungkin sukar melihatnya.

Yang paling istimewa adalah masakan bebek campur tiga segar yang cuma terdiri dari sekerat tulang bebek, secuil kulit bebek dan sehelai bulunya.

Keruan Siau-hong berjingkrak dan berteriak, “Inikah masakan bebek campur tiga segar?”

Si burik lantas mendelik dan menjawab, “Memangnya apa kalau bukan bebek? Apakah kucing?”

“Umpama betul bebek, lalu dimana tiga segar yang dimaksudkan?”

“Bulu bebek baru saja dibubut, kulit bebek juga baru saja disayat, tulang bebek pun masih segar, apalagi ketiga macam ini jika tidak boleh disebut tiga segar?”

Mau tak mau Siau-hong jadi bungkam.

“Biang”, si burik merapatkan daun pintu dengan keras dan tinggal pergi.

Memandangi keenam jenis masakan dan memandang pula semangkuk nasi di depannya, Siau-hong jadi menyengir sendiri.

Baru sekarang dia paham apa sebabnya Yu-hun-siansing itu sedemikian berminat menggeragoti tulang ayam.

Ia pegang sumpit, tapi lantas ditaruh kembali dan menghela napas,

Mendadak didengarnya di luar jendela sana juga ada orang menghela napas menyesal dan berucap, “Ang-sio-ti-te yang kau dapat ini jauh lebih besar daripada bagian yang kumakan kemarin, sedikitnya satu kali lebih besar.”

Tanpa berpaling Siau-hong tahu yang bicara itu ialah Yu-hun. si arwah gentayangan, ia coba bertanya, “Makanan semacam ini sudah berapa lama kau makan?”

“Tiga bulan,” jawab Yu hun.

Serentak dia menerobos masuk melalui jendela, dia pandang santapan di atas meja sambil menjilat-jilat bibir, kutunya pula, “Ada rahasianya cara makan santapan semacam ini”

“Rahasia apa?” tanya Siau-hong.

“Setiap macam santapan itu harus dimakan dengan perlahan. Paling baik digosok dulu pada gigi lalu dijilat dengan lidah dengan begitu baru akan diketahui rasa aslinya.”

“Bagaimana rasanya?” tanya Siau-hong.

“Rasanya membuat orang ingin mati dengan membenturkan kepala.”

“Tapi sampai sekarang engkau sendiri belum lagi mati.”

“Soalnya aku belum mau mati. Jika orang lain menginginkan aku mati, aku jadi bertambah gairah untuk hidup, supaya mereka tahu.”

Siau-hong menghela napas gegetun, ucapnya, “Engkau dapat hidup sampai sekarang tentu tidaklah mudah.”

Yu-hun mengangguk perlahan, tiba-tiba dua titik air mata menetes.

Siau-hong tidak tega melihatnya, ia terus berbaring dan menutup kepalanya dengan bantal.

“Nasi sudah diantar kemari, kenapa tidak kau makan?” tanya Yu-hun.

“Boleh kau makan saja, aku tidak lapar.”

“Tidak lapar juga harus makan, mau tak mau harus makan.”

“Sebab apa?”

“Sebab engkau harus hidup!”

Mendadak ia tarik bantal yang menutupi muka Liok Siau-hong dan berteriak, “Jika kau ingin mati, kan lebih baik kupukul mati kau sekarang juga, sebab pada tubuhmu sekarang masih berdaging dan dapat kujadikan santapan sepuas-puasnya.”

Siau-hong memandangnya, memandang, muka orang yang tinggal kurus membungkus tulang itu. Lalu katanya. “Aku she Liok bernama Siau-hong.”

“Kutahu,” jawab Yu-hun.

“Dan siapa engkau? Mengapa bisa datang ke sini?” Tanya Siau-hong dengan matanya yang cekung, lalu balas bertanya, “Engkau sendiri mengapa bisa datang ke sini?”

“Sebab….”

“Sebab engkau berbuat salah dan dikejar orang hingga kepepet, terpaksa menuju kejalan kematian ini.” potong Yu-hun. Siau-hong mengangguk.

“Sekarang orang Kangouw tentu mengira engkau sudah mati, Sebun Jui-soat juga menyangka dirimu sudah mati, makanya dapat kau hidup terus di sini.”

“Dan kau?” tanya Siau-hong.

“Aku pun begitu juga,” jawab Yu-hun. “Baik Ciangkun, Piauko, Kaucu, Koan-keh-po dan lain-lain, keadaan mereka juga sama saja.”

“Aku tidak takut asal-usulku diketahui mereka,” ujar Siau-hong.

“Tapi mereka justru takut padamu.”

“Sebab apa?” tanya Siau-hong.

“Sebab mereka masih tidak mempercayai dirimu. Betapapun mereka tidak ingin orang lain mengetahui mereka masih hidup, kalau ….”

“Kalau tidak, musuh mereka pasti akan menyusul kemari, begitu?”

“Betul,” jawab Yu-hun.

“Bagaimana dengan dirimu? Kau pun tidak percaya kepadaku?”

“Seumpama aku percaya padamu juga tak dapat kuberitahukan asal-usulku.”

“Mengapa?” tanya Siau-hong.

Tiba-tiba sorot mala Yu-hun menampilkan semacam perasaan aneh, entah takut, entah pedih.
“Tidak, tidak dapat kukatakan, tidak boleh ….” ia bergumam seperti memperingatkan dirinya sendiri, lalu tubuhnya hendak melayang pergi lagi

Namun sekali ini Liok Siau-hong tidak membiarkan orang pergi, secepat kilat ia pegang tangan orang dan bertanya pula sekali, “Apa sebabnya?”

“Sebab …..” agaknya Yu-hun juga memutuskan akan bicara terus terang, “sebab kalau kukatakan, kita takkan bersahabat lagi.”

Siau-hong tetap tidak paham dan ingin hartanya pula siapa tahu tangan Yu-hun yang kurus kering itu mendadak berubah selunak kapas dan licin, tahu-tahu terlepas dan pegangannya. Padahal belum pernah ada tangan orang yang dapat lolos dari pegangan Liok Siau-hong.

Waktu Siau-hong hendak memegang lagi, namun Yu-hun sudah menerobos keluar jendela dan melayang pergi serupa arwah gentayangan benar-benar.

Siau-hong jadi melengak. Belum pernah dilihatnya orang menguasai Nuikang (kungfu lunak) setinggi ini. Mungkin dia cuma pernah mendengar saja, rasanya Sukong Ti-seng pemah bercerita, tapi sudah tidak teringat lagi ….

Dan begitulah, sudah dua-tiga hari Liok Siau-hong berdiam di gubuk itu. Malahan tepatnya dua hari atau tiga hari, atau mungkin sudah empat hari, sampai dia sendiri tidak ingat lagi dengan jelas.

Rupanya lapar selain dapat membuat orang kehilangan tenaga, juga dapat merusak daya pikir orang, membuat orang melupakan segala apa yang seharusnya dipikirkan olehnya.

Seorang berbaring sendirian di dalam gubuk seperti kotak burung merpati dengan menahan lapar, siapa yang tahan penderitaan semacam ini?

Rupanya cuma Liok Siau-hong saja yang tahan. Urusan yang dapat ditahan oleh orang mungkin bisa membuatnya meledak, tapi urusan yang orang lain tidak tahan dia justru sanggup bertahan.

Akan tetapi ketika mendengar suara genta berbunyi, tanpa terasa ia pun melonjak kegirangan.
“Kalau genta tidak berbunyi, dilarang keluar”.

Sekarang genta berbunyi, ia melompat bangun dan menerjang keluar, sampai sepatu saja tidak sempat dipakai lagi.

Di luar tetap ada kabut, waktunya senja sehingga masih kelihatan sisa cahaya mentari yang mengintip di balik kabut tebal sana dan memantulkan lingkaran pelangi yang indah.

Betapapun dunia ini tetap permai, dapat hidup tetap merupakan sesuatu yang menggembirakan.

Ruangan pendopo itu masih tetap dihadiri 36 atau 37 orang saja, tiada satu pun yang dikenal Liok Siau-hong.

Orang yang pernah dilihatnya seluruhnya tidak berada di sini, baik Kau-hun-sucia, Ciangkun, Yu-hun, Yap Ling dan lain-lain, entah mengapa tidak ada yang hadir. Juga Tokko Bi, entah mengapa lantas lenyap begitu saja di lembah pegunungan ini.

Ia mencari tempat duduk yang terletak di pojok, tidak ada yang menghiraukan dia, bahkan tidak ada yang meliriknya. Air muka setiap orang tampak prihatin, perasaan setiap orang seperti sangat tertekan.

Orang yang hidup di tempat begini mungkin senantiasa demikian, Siau-hong menghela napas gegetun. Waktu ia memandang ke depan baru diketahui panggung yang semula terdapat tungku itu sekarang sudah berganti pajangan, yang terletak di situ adalah sebuah peti mati.

Peti mati baru gres, malahan belum dipantek tutupnya. Entah siapa yang mati? Apakah Ciangkun?

Mereka mendatangkan Liok Siau-hong, apakah hendak menuntut balas bagi Ciangkun.

Selagi Siau-hong merasa tidak tenteram, segera dilihatnya Yap Ling berlari masuk.

Anak perempuan yang suka bergurau dan suka berbaju merah itu sekarang telah berganti baju berkabung, bahkan kelihatan menangis sangat sedih. Dan begitu dia menerobos masuk, segera ia menubruk di atas peti mati dan menangis.

Siau-hong tidak menduga nona ini bisa menangis sedih begitu bagi orang lain, dia masih muda, cantik dan lincah, hal-hal yang menyedihkan dan kemalangan rasanya seperti takkan menimpa dirinya. Memangnya siapa yang mati dan ada hubungan apa dengan dia?

Selagi Siau-hong hendak mencari kesempatan untuk menghibur nona itu, siapa tahu Yap Ling lantas berseru padanya, “Liok Siau-hong, kemari kau!”

Terpaksa Siau-hong mendekatinya. Ia tak tahu mengapa mendadak Yap Ling bisa memangnya. Ia tidak ingin terlalu mendekat.

Tapi Yap Ling lantas berkaok-kaok mendesaknya supaya berjalan lebih cepat dan lebih mendekat ke sana ke atas panggung.

Waktu Siau-hong menengadah, baru sekarang dilihatnya nona itu sedang menatapnya dengan matanya yang mengembeng air mata, memandangnya dengan benci dan penuh rasa permusuhan.

“Kau minta kunaik ke atas?” Siau-hong bertanya.

Yap Ling mengangguk.

“Untuk apa naik ke situ?” tanya Siau-hong pula.

“Supaya dapat kau lihat dia!” kata Yap Ling.

“Dia” yang dimaksudkan jelas orang yang membujur di dalam peti mati. Padahal orang mati, apa yang perlu dilihat lagi?

Akan tetapi sikap Yap Ling tampak tidak sabar dan mengharuskan Liok Siau-hong melihatnya ke atas panggung. Dengan terpaksa Siau-hong naik ke situ.

Yap Ling menggeser tutup peti mati sehingga teruar bau harum yang keras bercampur bau busuk mayat. Jenazah dalam peti jelas sudah membusuk, mengapa nona itu berkeras menyuruh Siau-hong melihatnya?

Terpaksa Siau-hong memandangnya sekejap dan segera ia ingin tumpah.

Orang yang mati ternyata Yap Koh-hong adanya. Yap Koh-hong yang mati di tengah hutan pemakan manusia itu.

Dengan menggreget Yap Ling menatap Siau-hong dan bertanya, “Kau tahu siapa dia?”

Siau-hong mengangguk.

“Dia adalah kakakku, kakak kandungku, jika tak dirawat oleh dia sejak kecil tentu aku sudah mati kelaparan,” sorot mata Yap Ling penuh rasa duka dan dendam.

“Dan sekarang dia mati terbunuh, kau bilang aku harus menuntut balas baginya atau tidak?”

Siau-hong mengangguk pula.

Dia tidak suka berdebat dengan orang perempuan, apalagi dalam keadaan demikian, hakikatnya tidak ada tempat baginya untuk bicara.

“Kau tahu cara bagaimana kematiannya?” kembali Yap Ling bertanya.

Siau-hong jadi serba salah, tidak dapat mengangguk, tidak dapat menggeleng, tak bisa memberi penjelasan, juga tidak dapat menyangkal. Sungguh ia ingin ada sebuah peti mati lain agar dia dapat sembunyi di dalamnya.

“Hm, biarpun tidak kau katakan juga kutahu,” jengek Yap Ling.

“Kau tahu apa?” tanya Siau-hong tidak tahan.

“Dia mati di hutan maut sana, baru tiga hari dia mati, selama tiga hari ini hanya dirimu saja yang melalui hutan sana.”

“Memangnya kau kira aku yang membunuh dia?” tanya Siau-hong dengan menyengir.

“Ya,” seru Yap Ling.

“Salah!” tiba-tiba-seorang menanggapi sebelum Siau-hong menjawab.

“Apa? Salah?” teriak Yap Ling murka.

“Ya, salah, sebab orang yang pernah melalui hutan sana selama tiga hari ini tidak cuma Liok Siau-hong saja seorang.”

Yang tampil dan bicara membela Liok Siau-hong itu ternyata bukan lain daripada Tokko Bi yang menghilang sejak masuk perkampungan hantu ini.

“Sedikitnya aku pun pernah lewat di hutan sana, aku pun datang dari sana,” demikian Tokko Bi menambahkan.

“Masa kau pun masuk hitungan? Kau mampu membunuh kakakku?” teriak Yap Ling.

“Seumpama aku tidak dapat, kan masih ada orang lain,” ujar Tokko Bi dengan menyesal.

“Masih ada orang lain?” Yap Ling menegas.

Tokko Bi mengangguk, “Ya. seumpama aku bukan tandingan kakakmu, tapi bagi orang itu tidaklah terlalu sulit jika dia mau membunuh kakakmu.”

“Siapa yang kau maksudkan?” tanya Yap Ling dengan gusar.

“Sebun Jui-soat!” jawab Tokko Bi. Matanya bercahaya seperti mengandung senyum yang licik seperti seekor rase tua, lalu menambahkan. “Nama ini pernah kau dengar bukan?”

Air muka Yap Ling berubah seketika, dengan sendirinya dia pernah mendengar nama itu.

Sebun Jui-soat, pedang saktinya pedang, dewa pedangnya manusia.

Setiap orang asalkan mendengar satu kali nama ini dan takkan terlupakan selamanya.

Tokko Bi meliriknya sekejap, lalu berucap pula, “Apalagi ketika itu Liok Siau-hong sendiri juga terluka sangat parah, keadaannya ketika itu paling-paling hanya setengah Liok Siau-hong, apakah mampu membunuh si Naga Putih dari Bu-tong-pay yang termashur ini?”

“Dusta! Kau dusta!” teriak Yap Ling pula.

Kembali Tokko Bi menghela napas, ucupnya, “Seorang kakek yang biasanya sanak famili sendiri saja tidak mau dikenal, masakah perlu berdusta bagi orang lain?”

Dengan sendirinya tiada alasan lagi bagi Yap Ling untuk menuduh Liok Siau-hong.

Malam masih diliputi kabut tebal, jalan sempit. Sudah sangat jauh mereka jalan berendeng di jalan yang sempit ini tanpa bicara.

“Seorang kakek yang biasanya tidak kenal sanak famili lagi, mendapa mau berdusta bagiku?” akhirnya Siau-hong buka mulut.

Tokko Bi tertawa, “Sebab kakek ini suka padamu. Tapi cepat ia menambahkan. “Cuma untunglah kakek ini tidak mempunyai penyakit seperti Hun-yan-cu yang suka kepada sesama jenisnya, maka sama sekali engkau tidak perlu kuatir.”

Siau-hong juga tertawa, “Dan kakek ini apakah punya arak?”

“Bukan saja arak, juga ada daging.”

“Benar!” tambah cerah tertawa Siau-hong.

“Selain ada daging, juga masih ada sahabat,” kata Tokko Bi.

“Sahabatmu atau sahabatku?”

“Sahabatku sama dengan sahabatmu.”

Araknya memang arak baik, sahabatnya juga sahabat baik.

Bagi seorang tukang minum arak, arti sahabat baik biasanya adalah sahabat yang besar takaran minumnya.

Sahabat ini bukan saja menyenangkan caranya minum arak, cara bicaranya juga menyenangkan, setelah menenggak beberapa cawan, tiba-tiba ia bertanya, “Kutahu engkau ini Liok Siau-hong, dan kau tahu siapa diriku?”

“Tidak tahu,” jawab Siau-hong.

“Mengapa tidak kau tanyakan?”

Siau-hong tertawa, tertawa getir, “Sebab aku sudah mendapatkan pelajaran.”

“Sudah pernah kau tanya orang lain dan orang lain tidak mau bicara?”

“Ehm,” Siau hong mengangguk.

“Tapi aku bukan orang lain, aku ialah aku,” dia tenggak habis arak yang berada pada tangan kirinya, lalu tangan kanan mengait sepotong daging.

Daging dikait dan bukan dipegang, sebab tangan kanannya bukan tangan melainkan sebuah kaitan, kaitan besi.

“Engkau inikah Kaucu?” akhirnya Siau-hong teringat kepada orang ini.

Kaucu atau si kait mengangguk, “Kutahu engkau pasti pernah mendengar diriku dari orang lain, tapi ada satu hal pasti tidak kau ketahui ”

“Hal apa?” tanya Siau-hong.

“Yaitu pada hari pertama kedatanganmu sudah timbul niatku untuk bersahabat denganmu,” Kaucu menepuk pundak Tokko Bi dan menyambung, “sebab sahabatmu juga sahabatku, musuhmu juga musuhku.”

“Jika sahabat kita adalah dia, lantas siapa musuh kita?” tanya Siau hong.

“Sebun Jui-soat!” jawab Kaucu.

Siau-hong melengak, “Hei, kau ….”

“Aku inilah Hay Ki-hoat!” tukas si kait.

Siau-hong tambah terkejut, “Hay Ki-hoat si Tok-pi-sin-liong (naga sakti bertangan satu) yang dahulu namanya menggetarkan tujuh samudera raya itu?”

“Hahahaha!” si kait alias Hay Ki-hoat bergelak, Tak tersangka Liok Siau-hong juga kenal namaku!”

Siau-hong memandangnya dengan tercengang dan juga sangsi, tiba-tiba ia menggoyang kepala dan berkata, ‘Tidak, kau bukan dia, Hay Ki-hoat sudah mati tenggelam di laut.”

Tertawa Hay Ki-hoat bertambah riang, “Yang mati adalah seorang lain, seorang yang memakai jubahku dan membawa senjataku, wajahnya juga mirip diriku.”

Lalu dia memberi penjelasan pula, “Orang yang berada di sini semuanya pasti sudah pernah mati satu kali di luar sana, bukankah kau pun begitu?”

Akhirnya Siau-hong mengerti, “Ya, inilah Yu-leng-san-ceng, hanya orang mati saja yang dapat datang ke sini.”

Hay Ki-hoat bergelak tertawa, “Jika Sebun Jui-soat mengetahui kita masih minum arak dan makan daging di sini, mungkin dia bisa mati kaku saking gemasnya.”

“Tampaknya di sini masih terdapat banyak sahabatku,” ucap Siau-hong.

“Tidak salah, di sini sedikitnya ada 16 orang yang terdesak oleh Sebun Jui-soat dan terpaksa lari ke sini,” kata Hay Ki-hoat.

Gemerdep sinar mata Liok Siau-hong. tanyanya dengan tiba-tiba, “Apakah juga ada beberapa orang yang kabur ke sini karena terdesak olehku?”

“Seumpama ada juga tidak perlu kau kuatirkan,” ujar Hay Ki-hoat.

“Ya, sebab aku sudah mempunyai sahabat seperti kalian ini.”

“Tepat” seru Hay Ki-hoat sambil mengangkat cawan araknya lagi, mendadak ia mendesis pula.

“Hanya ada seorang yang khusus perlu kau perhatikan.”

“Siapa?” tanya Siau-hong.

“Sebenarnya dia tidak dapat terhitung manusia melainkan cuma arwah gentayangan saja.”

“Ah, Yu-hun yang kau maksudkan.”

“Pernah kau lihat dia?” tanya Hay Ki-hoat.

Siau-hong tidak menyangkal.

“Kau tahu dia orang macam apa?”

“Aku justru sangat ingin tahu.”

“Di sini ada sebuah perkumpulan yang sangat aneh, namanya Goat-lo-hwe (kumpulan pini-sepuh). Pada waktu Lau-to-pacu tidak ada, segala urusan di sini menjadi tanggung jawab Goat-lo-hwe.”

“O, anggota Goat-lo-hwe dengan sendirinya adalah para sesepuh, tentu Anda termasuk satu di antaranya,” kata Siau-hong

“Kecuali diriku, Goat-lo-hwe masih ada delapan anggota lain, padahal sesepuh yang sesungguhnya cuma ada dua orang.”

“Dua orang yang mana?” tanya Siau-hong.

“Seorang ialah Kau-hun dan yang lain ialah Yu-hun.” tutur Hay Ki-hoat.

“Mereka dan ayah dari kakak beradik she Yap itu adalah tokoh yang membangun tempat ini bersama Lau-to-pacu dahulu, sekarang Yap tua sudah mati, orang yang berada di sini tidak ada yang lebih tinggi tingkatannya daripada mereka.”

“Hanya lantaran ini harus khusus kuperhatikan dia?” tanya Siau-hong.

“Masih ada satu hal lain,” ujar Hay Ki-hoat.

Siau-hong mengangkat cawan arak dan menunggu ceritanya lagi

“Dia adalah sesepuh tempat ini. Jika dia ingin membunuhmu setiap saat dapat ditemukan kesempatan, sebaliknya sama sekali tak dapat kau sentuh dia.”

“Ada alasannya hendak membunuhku?” tanya Siau-hong.

“Ada.” kata Hay Ki-hoat, “sebab kau bunuh anaknya,”

“Anaknya? Siapa anaknya?” tanya Siau-hong.

“Hui-thian-giok-hou!”

Siau hong menarik napas dingin, tiba-tiba ia merasa arak yang diminumnya berubah menjadi air cuka.

Sebenarnya dia yang mendirikan Hek-hou-pang,” tutur Hay Ki-hoat pula. “Pada waktu Hek-hou-pang sudah mulai berakar dengan kuat, dia justru ikut Lau-to-pacu ke sini. Sebab dia juga telah menyalahi seorang yang mestinya tidak boleh dimusuhi, karena tiada jalan, terpaksa dia lari ke sini.”

“Siapa musuhnya?” tanya Siau-hong.

“Bok-tojin, sesepuh dan tokoh terkenal Bu-tong-pay.”

Tanpa terasa Liok Siau-hong menarik napas lagi, baru diketahuinya sekarang mengapa sebegitu jauh Yu-hun tidak mau menceritakan asal-usulnya.

“Hek-hou-pang kan hancur di tanganmu, anaknya juga mati di tanganmu. Kebetulan Bok-tojin juga sahabatmu, coba pikir, bukankah cukup alasan baginya untuk membunuhmu?”

“Ya, benar,” Siau-hong menyengir.

“Yang paling runyam adalah biarpun jelas kau tahu dia hendak membunuhmu, tapi engkau justru tidak dapat menyentuhnya.”

“Sebab dia adalah sesepuh dalam Goat-lo-hwe?” tanya Siau-hong.

Hay Ki-hoat mengangguk, “Selain dia, Goat-lo-hwe masih ada delapan anggota lagi, jika kau bunuh dia, kedelapan orang itu juga takkan tinggal diam. Dan dapat kujamin, tidak ada seorang pun di antara kedelapan orang itu lawan empuk bagimu.”

“Makanya terpaksa harus kutunggu dia turun tangan lebih dulu ” kata Siau-hong dengan menyesal.

“Sebelum dia yakin sekali serang pasti berhasil, tidak nanti dia turun tangan,” ujar Hay Ki-hoat.

“Sekarang dia belum turun tangan, mungkin dia sedang menunggu kesempatan.”

Meski Siau hong tidak bicara lagi, tapi dia tidak menutup mulut. Mulutnya lagi asyik minum arak.

Kembali Hay Ki-hoat menghela napas, katanya. “Jika kau mabuk, maka tibalah kesempatan baginya.’

“Kutahu.” kata Siau-hong.

“Dan kau tetap minum?”

Tiba-tiba Siau-hong tertawa, “Kalau dia sesepuh, akhirnya tentu akan memperoleh kesempatan baik, mengapa sebelum mati aku tidak minum arak lebih dulu.”

Minum arak tidak sama dengan makan nasi.

Orang yang biasanya takaran makannya cuma tiga mangkuk, tak mungkin dia mampu makan tiga puluh mangkuk. Namun orang yang biasanya tidak pernah mabuk biarpun minum tiga ratus cawan, terkadang cukup minum beberapa cawan saja bisa membuatnya mabuk.

Dan sakarang bukankah Liok Siau-hong sudah mabuk?

“Tidak, aku tidak mabuk,” demikian ia mendorong Tokko Bi dan Hay Ki-hoat. “Aku dapat pulang sendiri, kalian tidak perlu mengantarku.”

Dia memang tidak kesasar. Memang begitulah orang mabuk, biarpun kelihatan sempoyongan dan hampir tak tahu apa-apa lagi tapi dia masih tahu jalan untuk pulang, setiba di rumah barulah ia ambruk.

Seorang peminum arak pasti mempunyai pengalaman demikian. Dan Liok Siau-hong juga punya pengalaman serupa ini, malahan sering.

Meski gubuk ini kecil seperti kotak merpati, apapun juga terhitung rumahnya.

Seorang petualang yang tak menentu tempat tinggalnya, sehabis mabuk ternyata menemukan dirinya dapat pulang ke rumah. Sungguh penemuan yang menyenangkan.

Siau-hong lantas berdendang dan entah membawakan lagu apa, suaranya bertambah keras, tiba-tiba ia merasa suara sendiri semakin merdu

Di dalam rumah tidak ada cahaya lampu, tapi begitu dia mendorong pintu, segcra dirasakan di situ ada seorang.

“Kutahu siapa dirimu, tanpa bersuara juga kutahu,” Siau hong tertawa, suara tertawanya juga sangat keras.

“Engkau ialah Yu-hun, sesepuh tempat ini, kau tunggu diriku di sini, apakah benar hendak kau bunuh diriku?”

Orang di dalam rumah tetap tidak bersuara.

Liok Siau-hong tergelak, “Seumpama hendak kau bunuh diriku juga tidak akan main sergap, betul tidak” Sebab engkau adalah murid utama Bu-tong-pay dari keluarga preman, sebab engkau ialah Ciong-siansing Ciong Bu-kut.”

Dia melangkah masuk dan merapatkan pintu, lalu mencari geretan sambil berucap pula, “Sebenarnya engkau juga sahabat lama Bok-tojin, tapi tidak pantas kau bentuk sindikat semacam Hek-hou-pang secara sembunyi-sembunyi, kalau tidak, masakah Bok-tojin perlu bertindak padamu.”

Tetap tidak ada suara jawaban, tapi sudah ada cahaya api. Begitu api menyala segera menyinari sebuah wajah orang, wajah yang tinggal kulit membungkus tulang, matanya yang cekung seperti tengkorak itu sedang menatap Siau-hong tanpa berkedip.

“Jika sekarang kita sudah menjadi orang mati, untuk apa pula mempersoalkan urusan masa lampau, apalagi….”

Liok Siau-hong tidak malanjutkan ucapannya, suaranya terputus mendadak, geretan api juga padam seketika. Sebab tiba-tiba diketahuinya Ciong-siansing ini benar-benar telah menjadi orang mati.
Keadaan gelap gulita, Siau-hong berdiri dalam kegelapan tanpa bergerak, kaki dan tangan terasa dingin, sekujur badan juga dingin seperti terjerumus ke dalam gua es. Cuma di sini bukan gua es melainkan sebuah perangkap.

Sudah dapat dirasakannya, cuma dia tidak dapat lari keluar. Hakikatnya tiada jalan lari baginya.

Maka dia lantas berduduk saja di situ. Baru saja berduduk, dari luar lantas berkumandang suara kaki orang berjalan, menyusul ada orang menggedor pintu.

“Apakah engkau sudah tidur? Aku ingin bicara denganmu!” suaranya merdu, itulah suara Yap Ling.
Siau-hong bungkam saja tanpa menjawab.

“Kutahu engkau tidak tidur, mengapa tidak lekas membuka pintu?” suara Yap Ling bertambah bengis. “Apakah di dalam rumah tersembunyi orang perempuan?”

Akhirnya Siau-hong menghela napas dan berucap. “Di dalam rumah ini tidak ada orang perempuan, setengah orang saja tidak ada. tapi ada satu setengah orang mati.”

Dengan suara lebih garang Yap Ling berteriak pula, “Sudah kuperingatkan, bila berani kau masukkan orang perempuan ke dalam rumah, segcra akan kubunuh kau, tak peduli orang perempuan itu hidup atau mati.”

“Blang”, mendadak pintu didobrak.

Api lantas menyala lagi dan akhirnya Yap Ling dapat melihat si orang mati, tanyanya, “Masih ada lagi setengah, dimana?”

“Yang mati setengah ialah diriku,” ucap Siau-hong sambil menyengir.

Yap Ling memandangnya, lalu memandang orang mati pula, mendadak ia berjingkrak dan berteriak, “Hah, kau bunuh dia? Mana boleh kau bunuh dia? Kau tahu siapa dia?”

Siau-hong tidak buka mulut, juga tidak perlu buka mulut, sebab di luar ada orang mewakili dia menjawab, “Dia tahu!”

Rumah itu sangat kecil, jendelanya terlebih kecil. Yap Ling sendiri berdiri di ambang pintu, orang di luar pada hakikatnya tidak dapat masuk.

Tapi mereka mempunyai caranya sendiri. Mendadak terdengar suara “blang” sekali, dinding gubuk itu tercerai-berai, atap rumah juga ambruk, orang yang semula berada di dalam rumah mendadak sudah berada di tempat terbuka.

Siau-hong tidak bergerak. Ambruknya atap rumah menjatuhi dia, tapi dia tidak menahannya dengan tangan, juga tidak menghindar, ia cuma menghela napas panjang saja.

Untuk pertama kalinya dia mempunyai rumah ini, mungkin sekali juga unluk penghabisan kalinya.
“Kiranya di dunia ini selain ada manusia sial juga ada rumah sial,” ucap Siau-hong dengan gegetun. “Rumah ini sial sebab salah memilih penghuni, orang menjadi sial karena salah berkawan.”

“Tapi kesialanmu justru lantaran salah berbuat sesuatu.”

“Segala apa boleh kau lakukan, mengapa justru kau bunuh dia?”

“Kan sudah kukatakan padamu, sekalipun kau tahu dia hendak membunuhmu juga jangan kau sentuh dia. kalau tidak, aku pun tidak akan melepaskan dirimu.”

Pembicara terakhir itu ialah Hay Ki-hoat, dua pembicara yang lain, yang seorang bermuka putih tanpa kumis atau jenggot berpakaian perlente. Seorang lagi tinggi kurus, hidung bengkok dan punggung bungkuk, mukanya selalu mengulum senyum. Muka yang satu selalu gembira, muka yang lain senantiasa masam.

“Yang manakah Piauko?” tanya Siau-hong tiba-tiba. Muka Piauko yang putih licin itu masih mengulum senyum, tapi dia sengaja menghela napas dan berucap, “Untung aku bukan Piaukomu, kalau tidak, aku kan bisa ikut susah.”

Siau-hong juga menghela napas menyesal dan berkata, “Untung kau bukan Piaukoku, jika tidak mungkin aku akan bunuh diri.”

“Kujamin engkau tidak perlu bunuh diri, kami punya banyak cara untuk membikin kau mati,” ujar Piauko dengan tertawa gembira seakan-akan merasa puas terhadap setiap patah kata yang diucapkannya.

Tiba-tiba yang seorang lagi menanggapi, “Aku memang Koan-keh-po (pengurus rumah tangga), maka mau tak mau urusan ini aku harus ikut mengurus. Sebenarnya aku sudah malas bekerja, selama beberapa bulan terakhir ini aku tidak dapat tidur dengan nyenyak, selalu pinggang linu dan punggung pegal, gigi juga sering sakit …” Ia terus mengomel dan mengeluh, bukan saja tidak puas terhadap kehidupannya sendiri, juga tidak puas terhadap orang lain.

“Sungguh tidak tersangka, sekaligus telah datang tiga anggota Goat-lo-hwe ke sini,” ucap Siau-hong dengan tersenyum getir.

“Empat, bukan tiga,” tukas Yap Ling tiba-uba.

“Termasuk kau?” tanya Siau-hong dengan terkejut.

“Arti Goat-lo adalah mengenai kedudukannya dan bukan usianya ” jawab Yap Ling dengan ketus.

“Jawaban bagus,” seru Piauko.

Koan-keh-po lantas bicara pula, “Jika Lau-to-pacu tidak ada, asalkan jumlah suara di antara anggota Goat-lo-hwe lebih banyak yang menyetujui, maka segala keputusan dapat dijatuhkan.”

“Jumlah suara lebih banyak meliputi berapa orang?” tanya Siau-hong.

“Anggota Goat-lo-hwe berjumlah sembilan orang, suara lebih banyak dengan sendirinya adalah lima orang.”

“Tetapi sekarang kalian yang hadir sepertinya cuma empat orang,” ujar Siau-hong dengan menghela napas.

“Lima,” tukas Koan-keh-po.

“Yang sudah mati juga dihitung?” tanya Siau-hong.

“Orang di sini memang orang mati semua, Ciong-siansing hanya mati lebih banyak satu kali saja.”

“Maka sekarang juga kalian dapat mengambil sesuatu keputusan?” tanya Siau-hong pula.

“Engkau sangat pintar, dengan sendirinya kau tahu urusan apa yang hendak kami putuskan,” ucap Piauko degan perlahan.

“Yang akan kami putuskan adalah engkau pantas mati tidak?” sambung Koan-keh-po.

“Masa aku tak mendapat kesempatan sama sekali untuk membela diri?” tanya Siau-hong.

“Tidak ada,” jawab Koan-keh-po.

Siau-hong cuma menyengir saja.

“Nah, menurut pendapat kalian, dia pantas mati tidak?” tanya Hay Ki-hoat.

“Dengan sendirinya pantas mati!” seru Koan-keh-po.

“Jelas pantas mati,” sambung Piauko.

Hay Ki-hoat menghela napas menyesal katanya pula, “Kukira pendapat Ciong-siansing tentu juga sama dengan kalian.”

“Sekarang tinggal minta pendapat nona Yap cilik saja,” kata Piauko.

Yap Ling menggigit bibir dan melirik Siau-hong sekejap, pandangannya serupa seckor kucing yang berhasil mencengkeram seckor tikus.

Pada saal itulah mendadak dan dalam hutan yang gelap sana ada orang berseru, “Kenapa tidak kalian tanyakan pendapatku?”

Tiba-tiha dalam hutan yang gelap itu ada cahaya lampu bergeser, muncul dua gadis cilik berdandan sebagai dayang istana dan membawa lampu berkerudung, seorang perempuan berambut sangat panjang mengikut di belakang kedua gadis cilik itu dengan langkah kemalas-malasan.
Perempuan ini tidak terlalu cantik, tulang pipinya terlalu tinggi, mulutnya juga agak lebar, kedua matanya sayu seperti orang yang senantiasa merasa ngantuk. Pakaiannya juga bebas, hanya mengenakan jubah tidur warna hitam yang sangat longgar, malahan seperti baju tidur orang lelaki cuma diikat dengan seutas tali pinggang sekenanya, rambutnya pan-jang terurai, bertelanjang kaki tanpa kaos dan sepatu.

Namun tidak perlu disangsikan lagi dia seorang perempuan yang istimewa, kebanyakan lelaki pasti akan terpikat bilamana memandangnya sekejap saja.

Melihat kemunculan perempuan ini, Piauko lantas mengernyitkan kening, sedangkan Yap Ling mencibir, Koan-keh-po tersenyum dan bertanya, “Menurut pendapatmu dia pantas mati tidak?”

“Tidak,” jawab perempuan itu singkat dan tegas.

Mestinya Yap Ling belum memberi pendapatnya, sekarang mendadak ia melonjak dan berteriak, “Sebab apa tidak?”

Perempuan itu tertawa kemalas-malasan Iagi, katanya, “Untuk menjatuhkan hukuman mati kepada seorang, paling tidak kalian harus membuktikan kesalahannya, dan kalian mempunyai bukti apa?”

“Mayat Ciong-siansing adalah bukti yang nyata,” kata Koan-keh-po.

Perempuan berjubah hitam itu menggeleng, ucapnya, “Jika kau bunuh orang, dapatkah kau sembunyikan mayat di dalam rumah sendiri?”

Koan-keh-po memandang Piauko dan Piauko memandang Hay Ki-hoat, ketiga orang sama-sama tidak dapat menjawab.

Serentak Yap Ling melonjak lagi dan berteriak, “Mereka tidak punya bukti, aku ada.”

“Kau ada bukti apa?” tanya perempuan berjubah hitam.

“Kusaksikan sendiri dia membunuhnya.” jawab Yap Ling.

Ucapan ini tidak saja membikin Siau-hong terkejut, bahkan Piauko dan lain-lain juga melenggong.
Sebaliknya si perempuan berjubah hitam tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ucapnya dengan tak acuh. “Umpama benar kau lihat juga tidak ada gunanya.”

“Siapa bilang tidak ada gunanya?” teriak Yap Ling pula.

“Aku,” jawab perempuan berbaju hitam.

Dengan langkah kemalasan dia mendekati Liok Siau-hong, sebelah tangan menggantol pada tali pinggang dan tangan lain membetulkan rambut sambil berkata, “Jika di antara kalian ada yang tidak tunduk, boleh coba berurusan dulu denganku.”

“Ai, mengapa engkau bertindak begini? Mengapa?” ujar Hay Ki-hoat dengan menyesal.

“Sebab aku suka, dan engkau tidak perlu urus,” jawab perempuan itu.

Hay Ki-hoat mendelik “Jadi sengaja kau paksa kami turun tangan?”

“Memangnya kau berani?” ejek perempuan itu.

Mata Hay Ki-hoat menjadi merah seperti mau menyemburkan api, tapi satu jari saja tidak berani bergerak.

Senyum Piauko tidak nampak lagi menghiasi wajahnya, katanya dengan muka masam, “Hoa-kuahu, hendaknya kau tahu diri sedikit. Meski orang she Hay menaksir dirimu, aku tidak pernah berurusan denganmu.”

Hoa-kuahu atau si janda Hoa meliriknya sekejap dan mendengus, “Hm, memangnya kau bisa apa? Hanya beberapa jurus pedang yang kau dapatkan dari Pah-san Tosu tua itu juga berani berlagak di depanku?”

Muka Piauko yang kelam itu mendadak berubah merah padam, sambil menggertak ia melolos pedang, sebilah pedang lemas yang biasanya melingkar pada pinggangnya.

Sekali pedang lemas disendal seketika terjulur lurus, serentak ia pun menubruk maju.

Siau-hong tidak menduga orang yang sok berlagak itu juga hisa meledak amarahnya ketika merasa terhina.

Namun janda Hoa seperti sudah menduga apa yang akan terjadi, tangan yang menyangkul ikat pinggang itu mendadak bergerak, tali pinggang dari kain yang lemas im mendadak terlepas dan juga menjulur lurus terus membelit pedang Piauko.

Hanya baja baik yang dapat digembleng menjadi pedang yang lemas, siapa tahu ikat pinggang kain tak putus ditabas ujung pedangnya.

Waktu Hoa-kuahu menyendal lagi, ikat pinggang menyambar pula, plok tepat mengenai muka Piauko.
Muka Piauko lantas merah bengap. Muka Siau-hong mendadak juga merah.

Dengan sendirinya merah muka Siau-hong berbeda dengan merah muka Piauko. Merah muka Siau-hong disebabkan jengah melihat sesuatu, sebab tiba-tiba diketahuinya di balik baju tidur Hoa-kuahu ternyata tidak terdapat sehelai benang pun.

Waktu ikat pinggang dikebutkan lagi, baju Hoa-kuahu terbuka, maka bagian tubuhnya yang paling vital hampir terlihat seluruhnya.

Akan tetapi Hoa-kuahu sama sekali tidak merasa kikuk, dia berdiri kemalas-malasan di tempatnya dan berkata, “Nah, apakah kau mau coba-coba lagi?”

Piauko memang belum kapok dan masih ingin mencoba, namun Koan-keh-po dan Hay Ki-koat lantas merintanginya.

Biji leher Hay Ki-koat naik turun seperti orang yang kehausan, ingin dia mengalihkan pandangannya dari tubuh Hoa-kuahu tapi sayang rasanya sukar untuk berpaling begitu saja.

Usia Hoa-kuahu tentunya tidak muda lagi, namun tubuhnya ternyata masih montok serupa gadis remaja, bahkan terlebih menggiurkan daripada gadis, lebih masak.

Hay Ki-koat menghela napas, katanya sambil menyengir, “Dapatkah kau rapatkan dulu bajumu baru kemudian bicara lagi.”

“Tidak,” jawaban Hoa-kuahu tetap singkat tegas.

“Sebab apa?” tanya Hay Ki-koat.

“Sebab aku suka begini, kalian tidak dapat melarangku.

“Sebenarnya apa kehendakmu’” cepat Koan-keh-po menyela.

“Aku pun tidak ingin apa-apa, hanya mengena, Liok Siau-hong, dia adalah orang yang dimasukkan sendiri ke sini oleh Lau-to-pacu. Bila ada yang hendak membunuhnya, harus tunggu sampai Lau-to-pacu pulang,” kata Hoa-kuahu.

“Dan sekarang bagaimana” tanya Koan-keh-po.

“Sekarang tentunya akan kubawa pergi dia.”

Yap Ling lantas melonjak lagi, teriaknya, “Berdasarkan apa kau berhak membawanya pergi?”

“Berdasarkan hak ikat pinggangku ini,” jengek Hoa-kuahu.

“Memangnya bisa apa ikat pinggangmu?” tanya Yap Ling dengan melotot.

“Ikat pinggangku memang tidak bisa apa-apa, paling-paling hanya dapat digunakan meringkus dirimu dan membelejeti pakaianmu, lalu membiarkan dirimu ditunggangi si kait.”

Merah padam muka Yap Ling, tinjunya juga terkepal erat, tapi tidak berani bertindak, ia hanya mengentak kaki, katanya dengan gemas, “Kalau Ciciku pulang, coba apakah kau berani bertindak demikian?”

“Cuma sayang, Cicimu belum pulang, maka terpaksa harus kau saksikan kubawa pergi dia,” ujar Hoa-kuahu dengan tertawa.

Dia lantas menarik tangan Siau-hong, lalu berkata sambil mengerling genit, “Di tempatku sana ada tempat tidur ukuran besar, cukup buat tidur kita bardua dengan nikmat, masakah tidak lekas kau ikut pergi bersamaku?”

Dia benar-benar menarik pergi Liok Siau-hong, dan orang lain juga cuma dapat memandangnya dengan terbelalak tanpa bisa berbuat apa-apa.

Entah sudah lewat berapa lama kemudian, tiba-tiba Yap Ling berkata, “Kait tua, engkau bukan barang baik.”

“Aku memang bukan barang kaik, aku orang baik,” jawab Kaucu Hay Ki-koat.

“Huh, persetan, kau berani mengaku sebagai orang?” jengek Yap Ling.

“Jelas di sini hanya dirimu saja yang dapat melayani anjing betina ilu, mengapa kau diam saja dan tidak berani bertindak.”

“Sebab aku masih mengharapkan dia tidur bersamaku,” ujar si kait.

“Masa benar-benar kau menghendaki perempuan?” tanya Yap Ling.

“Ya, hampir gila kupikirkan perempuan ”

“Baik, jika kau bunuh dia, akan kutidur bersamamu selama tiga hari,” seru Yap Ling.

“Hehe, apa kau cemburu”” tanya Hay Ki-koat alias si kait dengan tertawa.

“Kau suka pada Liok Siau hong?”

Yap Ling mengertak gigi, ucapnya dengan gemas, “Apakah aku cemburu atau bukan, yang jelas apa yang kukatakan pasti kutepati. Aku masih muda, anjing betina itu kan sudah nenek-nenek, sedikitnya dalam hal ini aku lebih unggul daripadanya.”

“Akan tetapi….”

“Apa kau ingin melihat barang dulu?” tukas Yap Ling mendadak.

“Baik….”

Tiba-tiba ia membuka kaki celananya sehingga kelihatan betisnya yang putih dan licin.

Mata Hay Ki-koat kembali melotot, “Hanya sekian saja yang dapat kulihat?”

“Jika kau ingin melihat yang lain, harus kau bunuh dulu anjing betina itu,” jawab Yap Ling.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: