Kumpulan Cerita Silat

22/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:26 am

Pendekar Empat Alis
Buku 01: Perkampungan Hantu
Bab 07: Orang-orang mati yang hidup kembali
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Hiu_Khu)

Tiba-tiba dari kegelapan berkumandang lagi suara orang, “Sekarang apakah kau mau manusia yang menjadi petunjuk jalanmu?’”’

Yang dilihatnya sekarang memang manusia benar, yaitu Yap Ling.

Di tengah remang kabut, senyuman Yap Ling masib tetap manis.

“Sekarang seharusnya kau yakin bahwa di tempat ini sesungguhnya manusia lebih menyenangkan atau anjing lebih menyenangkan?”

“Aku tidak tahu,” sahut Siau-hong.

“Masa belum tahu?”

“Aku cuma tahu satu hal,” kata Siau-hong. “Yaitu di sini anjing terkadang adalah manusia dan manusia juga anjing.”

Hoa-kuahu yang dimaksudkan belum tentu benar seekor anjing betina, tapi anjing hitam tadi jelas seorang manusia.

“Meski orang Kangouw ada juga yang suka menjadi anjing (kiasan bagi kaum antek), tapi yang bisa bekerja setuntas ini hanya ada satu orang.”

“Kau tahu siapa dia?” tanya Yap Ling.

“Ya, Kau-long-kun (si anjing cakap).”

“Sudah kau ketahui sebelumnya?”

Siau-hong tertawa, “Sedikitnya kutahu si jenggot biru bukan mati di tanganku, tentu dia sendiri juga tahu. Sebab itulah sekalipun dia benar menjadi setan buas juga tidak perlu mencari diriku.”

Yap Ling tertawa, ucapnya sambil berkedip, “Seumpama setan buas tidak perlu mencari dirimu, setan lapar pasti akan mencari dirimu.”

“Setan lapar?” Siau-hong melenggong.

“Arti setan lapar ialah orang yang mati kelaparan karena menunggu kedatanganmu untuk makan. Jika tidak lekas kau hadir ke sana. Malam ini sedikitnya akan bertambah 37 setan lapar.

“Seumpama aku tidak pergi, setan lapar yang benar cuma satu saja.”

“Masa cuma satu? Siapa?” tanya Yap Ling.

“Aku sendiri,” jawab Siau-hong.

Kaucu si kait yang disebut-sebut Yu-hun itu memang salah seorang tokoh di Yu-leng-san-ceng ini.
Kemarin dia baru merayakan ulang tahunnya yang ke-70. Waktu mendusin hari ini, rasa mabuknya belum lagi hilang, kepala terasa sakil seakan-akan pecah, napsu birahinya berkobar.
Gejala yang pertama itu menandakan dia sudah tua.

Hanya 40 kati arak saja yang diminumnya dan sekarang kepalanya kesakitan seperti mau pecah.
Padahal sepuluh tahun yang lalu semalam dia pernah memecahkan rekor minum sebanyak 80 kati, setelah tidur dua jam lantas pulih kembali semangatnya, dan dengan cuma sebelah tangan saja dia mampu membinasakan 23 orang di antara 32 orang musuh yang mengerubutnya.

Bila teringat pada hal ini, sungguh dia sangat gemas dan menyesal, menyesali dirinya sendiri, mengapa orang semacam dirinya ini juga bisa tua.

Akan tetapi setelah gejala kedua diketahuinya, tanpa terasa hatinya sangat terhibur, bagian tubuh tertentu itu ternyata sekeras kaitan baja yang terpasang pada tangan kanannya yang buntung itu. Memangnya ada berapa kakek berumur 70 yang sehat dan kuat seperti si kait ini?
Cuma sayang, perempuan di tempat ini terlalu sedikit, perempuan yang cocok dengan seleranya bahkan terlebih sedikit.

Sesungguhnya, perempuan yang berada di Yu-leng-san-ceng yang terpandang olehnya cuma ada tiga orang. Celakanya ketiga perempuan brengsek ini justru selalu mempermainkan dia.
Terutama si rase cilik yang cerdik dan licin itu, sudah berjanji tiga kali mau datang ke kamarnya, tapi tiga kali dia menunggu sia-sia semalam suntuk.

Bayangkan, kalau lelaki menunggu kedatangan pacar dengan hasrat yang menyala dan akhirnya harus kecewa, sungguh hatinya jadi gregetan. Bila teringat hal ini, sungguh kalau bisa sekarang juga dia ingin menyeret si rase cilik itu dan dibelejeti di tempat tidur, kalau perlu akan diperkosa.

Pikiran begitu makin mengobarkan hawa nafsunya, ia merasa kalau hari ini tidak terlampias, bisa jadi dia akan mati meledak.

Begitulah selagi dia melamun membayangkan betapa manis senyum si rase cilik dan Cicinya yang selalu tampak dingin serta janda Hoa yang masak serupa buah kesemek, tiba-tiba terdengar ada orang menggedor pintu, cukup keras gedorannya.

Biasanya cuma ada dua-tiga orang yang berani menggedor pintunya sekeras ini, yaitu kalau bukan Koan-keh-po tentulah Piauko.

Meski kedua orang ini adalah komplotannya yang paling erat, tetap juga dia marah.

Jika hasrat terganggu, biasanya lantas berubah menjadi gusar.

Dia meraih selimut untuk menutupi tubuhnya, lalu berteriak gusar, “Masuk!”

Yang bardiri di luar ialah Piauko alias kakak misan, mukanya putih licin, serupa telur ayam yang baru dikuliti

Melihat wajah yang halus ini, tidak ada orang yang dapat menerka berapa usianya. Mengenai hal ini, Piauko sendiri biasanya sangat bangga, terkadang sampai ia sendiri juga melupakan usianya sendiri.

Ketika mendengar suara Kaucu yang geram, segera dia tahu si setan tua hari ini lagi birahi pula.

Dengan tersenyum ia mendorong pintu dan melangkah masuk, segera dilihatnya bagian tubuh Kaucu yang kurang adat itu masih tertutup selimut. Dengan tersenyum ia menyapa, “Wah, tampaknya hari ini kau sangat bergairah, apakah perlu kupetikkan dua genggam daun (Yap) bagimu?”

“Tutup mulutmu dan matamu yang serupa mata maling itu.” kembali Kaucu meraung. “Bila ingin perempuan dapat kucari sendiri.”

“Memangnya berapa orang yang bisa kau dapatkan?” tanya Piauko.

Kaucu tambah murka, serentak ia melompat bangun dan menerjang ke depan Piauko, dengan kaitan tangan kanan ia ancam perut orang sambil berteriak, “Coba bicara lagi satu kata saia, segera kusodet isi perutmu hingga berantakan.”

Tapi sedikit pun Piauko tidak takut, sebaliknya bertambah riang tertawanya, “Hahahaha! Bukan maksudku sengaja membikin marah padamu, aku justru lagi menyembuhkan penyakitmu. Coba lihat sekarang, bukankah sudah lemas!”

Kaucu melotot dengan gemas, mendadak ia terbahak-bahak sembari menarik kaitannya, katanya. “Haha, tidak perlu kau berlagak, kalau saja lelaki di sini lebih mudah didapatkan, kuyakin penyakitmu pasti akan lebih parah daripadaku.”

Dengan tenang Piauko melangkah ke sana dan berduduk di kursi yang berada dekat jendela, lalu berucap, “Cuma sayang lelaki di tempat ini memang makin lama makin sedikit. Saat ini, yang benar-benar kupenujui mungkin juga cuma satu saja.”

“Maksudmu Tayciangkun?” tanya Kaucu.

“Dia terlalu tua,” jengek Piauko sambil menggeleng.

“Apakah Siau-jing?”
“Dia cuma sebuah bantal bersulam saja.”

“Barangkali Koan-keh-po?”

Piauko tertawa pula, “Dia sudah nenek-nenek, aku harus berterima kasih bila dia tidak mencari diriku.”

“Habis, sesungguhnya siapakah yang kau maksudkan?” tanya Kaucu.

“Liok Siau-hong,” jawab Piauko.

“Apa katamu? Liok Siau-hong?” teriak Kaucu.

“Apakah Liok Siau-hong yang beralis empat itu?”

“Kecuali dia, siapa pula yang dapat menggelitik hatiku?” ucap Piauko sambil memicingkan mata dengan tertawa.

“Cara bagaimana dia sampai di sini?”

“Kabarnya akibat dia meniduri bini Sebun Jui-soat.”

“Sudah kau lihat dia?”

“Hanya mengintip sekejap dua kejap saja.”

“Bagaimana bentuknya?”

Mata Piauko kembali terpicing, “Dengan sendirinya seorang lelaki sejati, lelakinya lelaki.”

Kaucu baru saja berduduk, segera ia berbangkit pula dan mendekati jendela dengan kaki telanjang.

Cuaca di luar jendela remang tertutup kabut. Mendadak ia menoleh dan menatap Piauko, ucapnya, “Akan kubunuh dia!”

“Apa katamu?” Piauko melonjak kaget.

“Kubilang akan kubunuh dia!”

“Tidak kau dapatkan perempuan lantas hendak membunuh?” seru Piauko.

Kaucu mengepal erat tinjunya, ucapnya perlahan, “Usianya tahun ini paling banter baru tiga puluhan, sedangkan aku sudah tujuh puluh. Tapi aku pasti dapat membunuhnya, aku yakin.”

Melihat sikap dan air mukanya itu, siapa pun dapat menduga tujuannya membunuh orang pasti tidak cuma unluk pelampiasan belaka, tapi juga untuk membuktikan bahwa dia masih muda, masih tangkas.
Banyak kakek di dunia ini yang mencari anak perempuan muda, alasannya juga serupa, yakni ingin membuktikan dia masih muda dan masih sanggup.

Mereka hanya melupakan sesuatu, meski muda memang menyenangkan, usia tua juga ada kesenangan tersendiri.

Piauko memandang Kaucu lekat-lekat, akhirnya ia menghela napas dan berkata, “Baik, akan kubantu kau membunuh dia, tapi kau pun harus membantuku mengerjai dia.”

“Baik!” ucap Kaucu.

Mendadak seorang menanggapi dengan menjengek, “Hm, baiknya memang baik, cuma sayang kalian sudah terlambat satu langkah.”

Yang masuk mengikuti suara tertawa itu adalah seorang kakek tinggi kurus, berhidung seperti paruh elang dan berbadan bungkuk.

Piauko menghela napas, katanya, “Sudah kuduga Koan-keh-po macam dirimu ini pasti akan ikut campur urusan kami.”

“Kedatanganku hanya ingin memberitahukan suatu berita kepada kalian,” ujar si kakek alias Koan-keh-po atau si nenek pengurus rumah tangga.

“Berita apa?” tanya Kaucu cepat.

“Si anjing hitam sudah mendahului pergi mencari Liok Siau-hong,” tutur Koan-keh-po.

“Seumpama dia gagal, berikutnya masih ada Ciangkun.”

“Ciangkun hendak bertindak apa?” melengak juga Kaucu.

“Sudah dia atur perjamuan besar di depan sana dan sedang menunggu kedatangan Liok Siau-hong.”

Malam tetap gelap, kabut tetap tebal. Namun perasaan Siau-hong sudah lain.

Betapapun berjalan bersama seorang anak perempuan cantik manis dan pintar tentu saja jauh lebih menyenangkan daripada berjalan ikut di belakang seekor anjing hitam.

Yap Ling melirik Siau-hong, lalu berkata, “Tampaknya engkau sangat gembira.”

“Sedikitnya aku memang lebih gembira daripada tadi,” jawab Siau-hong.

“Sebab kau tahu aku takkan menggigitmu?”

“Ya, juga kau terlebih cakap daripada anjing tadi, lebih cakap daripada anjing mana pun.”

Yap Ling tartawa, sungguh manis sekali tertawanya, “Apakah hanya setitik ini saja kelebihanku dibandingkan dia?”

“Dengan sendirinya masih ada yang lain.”

“Apa lagi?” tanya Yap Ling.

“Engkau bisa bicara, kusuka mendengar bicaramu.”

Yap Ling berkedip dan berkata pula, “Kau suka kubicara apa saja? Apakah suka kuceritakan rahasia tempat ini?”

Siau-hong tertawa. Mungkin tertawanya banyak maknanya, tapi jelas tidak mengandung makna menyangkal ucapannya.

“Kau ingin kubicara mulai darimana?”

“Mulai saja dari si kait.”

Yap Ling terbelalak, “Kau pun tahu si kait? Darimana kau tahu dia?”

“Aku tidak cuma tahu si kait, juga tahu Ciangkun, Piauko dan Koan-keh-po.”

Yap Ling menuju ke sana, memetik sehelai daun, lalu kembali, tiba tiba ia menghela napas dan berucap, “Sudah terlalu banyak yang kau ketahui, namun jika kan tetap bertanya boleh juga kuberitahukan pula padamu

“Jika begitu, sebaiknya kau mulai dari si kait,” kata Siau-hong.

“Dia adalah kan pembunuh, juga seekor serigala jantan yang gemar main perempuan, yang paling ingin dilakukannya sekarang adalah merobek celanaku dan menelentangkan aku di tempat tidur.”

Siau-hong menghela napas, ucapnya, “Sebenarnya tidak perlu kau beberkan sejelas ini.”

Mata Yap Ling yang bersih itu terbelalak pula, katanya. “Aku memang perempuan yang suka berterus terang, kebetulan aku pun perempuan yang paling dapat memahami jiwa kaum lelaki.”

Siau-hong menyengir, “Sungguh kebetulan memang. Cuma sayang, bukan maksudku ingin tahu ada berapa banyak lelaki yang ingin membelejeti celanamu.”

Yap Ling berkedip-kedip, tanyanya tiba-tiba, “Jika ada orang ingin membuka celanamu, kau ingin mendengar tidak?”

“Hal ini juga biasa, bukan cuma sekarang akan terjadi,” jawab Siau-hong dengan tertawa.

“Tapi bagaimana kalau orang yang ingin membuka celanamu itu seorang lelaki?”

“Hah. seorang lelaki?” seru Siau-hong.

“Ah, salah ucapanku, bukan seorang, tapi dua orang.”

Siau-hong tidak dapat bersuara lagi, sampai sekian lama baru dia bertanya, “Apakah Piauko dan Koan-keh-po?”

“Darimana kau tahu?” kembali mata Yap Ling terbelalak lebar

“Nama kedua orang ini kedengarannya rada-rada seram.” ujar Siau-hong.

“Tapi orang yang paling menakutkan bukanlah mereka.” tutur Yap Ling.

“Oo?” Siau-hong ingin tahu.

“Pernah kau lihat orang merobek seekor banteng dengan bertangan kosong?”

“Tidak pernah,” Siau-hong menggeleng.

“Pernah kau lihat dengan sebuah jari saja batok kepala orang diketuknya hingga hancur?”

“Tidak,” jawab Siau-hong.

“Selekasnya semua itu akan dapat kau lihat.”

Siau-hong menelan liur, ucapnya, “Yang kau maksudkan apakah Ciangkun?”

“Betul,” jawab Yap Ling.

“Dia sedang menunggu kedatanganku?”

“Bukan cuma menunggu saja, bahkan sudah tidak sabar menunggu. Sebab itulah paling baik harus kau siapkan sebuah wajan.”
“Wajan untuk apa?” tanya Siau-hong.

“Untuk menutup batok kepalamu!”

Saat itu Ciangkun atau panglima sedang berdiri di atas panggung. Tinggi badannya lebih delapan kaki, bobotnya 137 kati, pundaknya lebar, dadanya tebal, telapak tangannya kalau dipentang hampir selebar daun palem. Belulang pada telapak tangannya hampir dua senti tebalnya. Senjata tajam apapun kalau terpegang olehnya pasti patah seketika.

Di depannya tertaruh sebuah wajan besar. Wajan itu di atas tungku, tungku terletak di depan panggung dan panggung itu berada di tengah ruangan.

Ruangan pendopo itu dibangun beberapa meter tingginya dari halaman luar, panggung batu menjadi lebih tinggi lagi, sedikitnya tujuh atau delapan kaki tingginya, wajan besar itupun tingginya lebih tiga kaki.

Api tungku tampak berkobar, isi wajan adalah daging rebus, bau sedap sungguh dapat memancing datang manusia dan anjing dari jarak belasan li jauhnya.

Waktu Siau-hong masuk ke situ, Ciangkun sedang mengaduk daging rebus dengan sebuah gayung.

Begitu melihat Liok Siau-hong, segera ia menaruh gayungnya dan melotot sambil membentak, “Liok Siau-hong?”

Suara bentakannya menggelegar seperti bunyi geledek, namun Siau-hong sama sekali tidak berkedip, bahkan balas membentak, “Ciangkun?”

“Kau mau kemari tidak?” seru Ciangkun pula.

“Mau!” jawab Siau-hong. dia benar-benar mendekat ke sana, langkahnya jauh lebih lebar daripada biasanya.

Ciangkun melotot padanya dan berkata pula, “Yang di dalam wajan adalah daging!”

“Ya, daging!” jawab Siau-hong. “Kau makan daging?” “Makan!”

“Dapat makan banyak?”

“Cukup banyak!”

“Baik, boleh kau makan!”

Gayung tadi lantas disodorkannya kepada Liok Siau-hong. Tanpa pikir Siau-hong lantas menyendok satu gayung penuh. Satu gayung sama dengan isi satu mangkuk daging rebus yang panas.

Siau-hong tidak takut panas, dia makan dengan cepat, habis makan satu gayung barulah ia menarik napas lega, ucapnya, “Ehm. daging lezat!”

“Memang daging lezat,” kata Ciangkun.

“Engkau juga makan daging?” Siau-hong balas bertanya.

“Makan.”

“Juga makan banyak?”

Tanpa menjawab Ciangkun lantas merampas gayung yang dipegang Siau-hong, ia pun menyendok segayung penuh dan diganyang sampai habis, lalu ia menengadah dan menghembuskan napas, ucapnya, “Ehm, daging lezat!”

“Memang daging lezat,” tukas Siau-hong.

“Kau tahu ini daging apa?” tanya Ciangkun.

“Tidak.”
“Kau tidak takut ini daging manusia?”

“Takut.”
“Kalau takut kenapa kau makan?”

“Makan manusia kan lebih baik daripada dimakan manusia.”

Kembali Ciangkun memelototi Siau-hong hingga sekian lama, katanya kemudian, “Baik, silakan makan.”

Kembali Siau-hong makan segayung, Ciangkun juga segayung, lalu giliran Siau-hong pula.

Satu gayung sama dengan isi satu mangkuk, satu mangkuk daging sama dengan satu kati. Hanya sekejap saja sedikitnya sudah lima kati daging masuk perutnya.

Pada waktu makan gayung keenam, barulah Ciangkun bertanya, “Kau masih sanggup makan?”

Siau-hong tidak bersuara, mendadak ia main akrobat, ia berjumpalitan, sekaligus berjumpalitan 36 kali, habis itu baru berdiri tegak dan menjawab, “Aku masih sanggup makan.”

“Baik, silahkan makan lagi,” kata Ciangkun.

Dan begitulah makan dan makan lagi, setiap makan satu gayung daging, Siau-hong lantas berjumpalitan lima kali, sampai ratusan kali ia berjumpalitan dan air mukanya tetap tidak berubah.

Mau tak mau hati Ciangkun terkesiap, ucapnya, “Ehm, akrobat bagus!”

Baru selesai berucap, “plotak”, ikat pinggangnya putus menjadi dua.

Siau-hong lantas bertanya, “Kau masih mampu makan?” Ciangkun juga tidak menjawab, ia melompat turun dari panggung, sekali raih, tungku dipegangnya.

Tungku itu dibuat dari perunggu, ditambah lagi wajan besar di atas tungku, sedikitnya ada lima atau tujuh ratus kati bobotnya. Tapi dengan sebelah tangan ia sanggup mengangkatnya, lalu diturunkan dan diangkat lagi, sekaligus ratusan kali naik turun barulah tungku itu ditaruh pada tempat semula.

Segera ia rampas lagi gayung dari tangan Siau-hong dan berseru, “Nah, sudah kau lihat?”

Sekali ini dia makan dua gayung sekaligus. Terkesima Liok Siau-hong mamandangi gayung yang dipegang orang, mendadak ia pun menirukan cara orang, ia angkat tungku itu naik-turun hingga ratusan kali, lalu merampas gayung dan juga makan dua gayung daging sekaligus.

Mata Ciangkun juga melotot mengikuti tingkah Siau-hong itu.

“Makan lagi?” tanya Siau-hong dengan napas rada memburu.

“Ya, makan lagi!” ucap Ciangkun sambil mengertak gigi. Dia pegang gayung dan menyendok pula, terdengar suara “pletak” lagi. Sekali ini bukan ikat pinggang yang putus, tapi gayung menyentuh dasar wajan.

Satu gayung sama dengan satu kali daging, satu wajan berisi 30 atau 50 gayung, semuanya ternyata sudah diganyang habis oleh Siau-hong menghela napas panjang sambil meraba perutnya yang mcmbuncit, ucapnya. “Daging lezat.”

“Ini memang daging lezat,” tukas Ciangkun dengan melotot.

Kedua orang lantas bergelak tertawa, mendadak keduanya roboh bersama, roboh di atas panggung dan masih terus tertawa.

Orang di bawah panggung sama melongo menyaksikan kelakuan mereka.

Tiba-tiba Ciangkun berkata pula. “Perutmu belum lagi meledak?”

“Belum,” jawab Siau-hong.

“Tak tersangka sekecil ini perutmu, tapi dapat memuat daging sebanyak itu.”

“Malahan aku makan satu gayung lebih banyak daripadamu,” kata Siau-hong.

“Tapi setiap gayung yang kusendok terlebih banyak daripadamu.

“Belum tentu benar.”

Serentak Ciangkun melompat bangun dan melototi Liok Siau-hong.

Tapi Siau-hong tetap berbaring dengan tenang.

“Bangun, boleh kita masak satu wajan daging dan berlomba lagi,” kata Ciangkun.

“Tidak, tidak mau berlomba lagi,” ujar Siau-hong.

“Jadi engkau mengaku kalah?’”

“Sebenarnya aku sudah menang, mengapa harus berlomba lagi? Kalau menang kenapa disuruh mengaku kalah malah?”

Ciangkun mendelik, urat hijau tampak menonjol di dahinya, suatu tanda betapa geram hatinya.
Tapi Siau-hong bicara dengan hambar. “Rupanya bukan cuma perutmu saja yang kembung, kepalamu juga melembung.”

Mendadak Ciangkun mengepal erat kedua tinjunya, ruas tulang seluruh badannya seakan-akan mengeluarkan suara “keriat-keriut”, perawakan yang memang tinggi besar itu seolah-olah bertambah lebih tinggi lagi.

Tampaknya orang ini tidak cuma bertenaga raksasa, Gwakang (kekuatan atau kekebalan badan luar) juga terlatih sampai puncaknya.

Dengan tertawa Siau-hong bertanya pula, “Kau ingin berkelahi?”

Ciangkun hanya bungkam saja. Dia sudah menghimpun tenaga, bila buka mulut tentu tenaga akan buyar.

“Meski makan daging lagi sudah berkurang minatku, kalau berkelahi dapat kuiringi,” kata Siau-hong.

Mendadak Ciangkun menggertak, kontan ia menjotos. Dia sudah siap sejak tadi, dengan sendirinya tenaga pukulannya tidak kepalang dahsyatnya.

Terdengarlah suara gemuruh, wajan dan tungku terguling, meja kursi yang berdekatan juga berantakan bersama mangkuk piringnya.

Liok Siau-hong juga terpukul hingga mencelat, melintasi beberapa meja dan melayang di atas kepala belasan orang, serupa layangan putus.

Serentak terdengar suara bersorak memuji, Ciangkun berdiri tegak di atas panggung sehingga kelihatan terlebih gagah perkasa.

Siapa duga, pada saat itu juga tiba-tiba terdengar deru angin, tahu-tahu Siau-hong sudah berada kembali di depan Ciangkun dengan tersenyum simpul dan berkata, “Pukulanmu membikin badanku bertambah segar, apakah mau coba lagi sekali?”

Ciangkun meraung murka, berturut-turut ia menghantam tiga kali. Pukulannya tidak banyak variasi, tapi praktis dan efektif.

Ketiga pukulan ini meski tidak sedahsyat pukulan pertama, tapi jauh lebih cepat.

Kembali Siau-hong terpukul ke atas lagi, cuma sekali ini tidak mencelat, mendadak ia berjumpalitan di udara, lalu turun di belakang Ciangkun.

Biarpun perawakan Ciangkun tinggi besar, reaksinya justru sangat lincah dan gesit, mendadak ia membalik tubuh, bergerak sambil menyerang. Kembali tiga kali pukulan dilancarkan sekaligus.
Untung Liok Siau-hong juga lain daripada yang lain, mendadak ia berkelit terus menerobos lewat bawah ketiak Ciangkun, sekaligus ia angkat siku Ciangkun dan kepalanya terus menumbuk iga orang.

Tubuh Ciangkun yang berbobot 173 kati itu terhuyung-huyung oleh serudukan Siau-hong itu dan hampir saja terjungkal ke bawah panggung.

Sebaliknya Siau-hong juga tidak kurang terkejutnya. Tiba-tiba diketahuinya orang ini menguasai kekebalan badan yang luar biasa, serudukan kepalanya itu serupa menanduk dinding batu, sampai kepala sendiri pusing tujuh keliling.

Karena terkejut dan kepala pusing, maka suara tertawa Siau-hong bertambah keras, serunya, “Kembali kau kalah lagi!”

“Kentut!” teriak Ciangkun.

“Sekali pukul hampir kurobohkan dirimu, masa engkau tidak mengaku kalah?” ujar Siau-hong dengan tertawa.

“Kau pakai pukulan apa?” jengek Ciangkun.

“Pukulan kepala!”

“Huh, terhitung kungfu macam apa itu?”

“Inilah kungfu untuk berkelahi, asalkan dapat merobohkan lawan, cara bagaimana pun dapat digunakan.”

“Hm, ingin kulihat pukulan apa pula yang dapat kau gunakan?” jengek Ciangkun.

Segera ia pasang kuda-kuda dan menghantam lagi, pukulannya tambah gencar, serangannya tambah cepat, tekadnya sekali ini harus merobohkan lawan.

Siau-hong memang tak mampu menembus pertahanan lawan, memang tidak ada orang yang sanggup membobol ilmu pukulan Ciangkun yang rapat dan dahsyat ini.

Agaknya Siau-hong juga menyadari hal ini, dia tidak melakukan serangan, sebaliknya mundur ke pojok panggung sana dan mendadak menungging sambil memegang perutnya, serunya, “Wah payah! Perutku mulas!”

Padahal ia tahu, biarpun perutnya mulas setengah mati dan kotoran keluar di celananya juga tidak akan diampuni orang.

Benar juga. Ciangkun terus menubruk maju dan menghantam pula.

Tak terduga, pada saat tubuh Ciangkun mengapung itulah, se-licin belut Liok Siau-hong lantas meluncur lewat di bawah kakinya, mendadak kedua tangannya menahan lantai, sekali melejit, pantatnya tepat menumbuk pantat Ciangkun.

Karena perhatian Ciangkun tertuju untuk menyerang ke depan, dia tidak sempat menahan diri, sekali ini dia benar-benar tertumbuk jatuh ke bawah panggung, hampir saja jatuh terguling.

“Haha, kembali kau kalah lagi!” seru Siau-hong sambil barkeplok.

Tidak kepalang gusar Ciangkun, mukanya masam, bibirnya hijau.

“Sekali ini mengapa tidak kau tanya pukulan apa yang aku gunakan?” ucap Siau-hong. Tapi Ciangkun diam saja.

“Yang kugunakan ialah pukulan pantat!” kata Siau-hong dengan tersenyum, “Maka lain kali bilamana kau temui lawan yang dapat menyerang dengan pantat, sebaiknya cepat engkau menyingkir sejauhnya, sebab kau pasti bukan tandingannya.”

Mendadak Ciangkun meraung murka, ia memukul lagi dengan dahsyat, tapi yang dihantamnya sekali ini bukan manusia melainkan panggung batu.

Panggung yang ditumpuk dengan balok batu itu sampai retak sebagian, batu kerikil bertebaran. Menyusul tubuhnya yang gede itu juga melompat ke atas, selagi masih mengapung di udara segera ia melancarkan pukulan kedua.

Hantaman dari udara tentu saja terlebih dahsyat, tapi juga lebih mudah memperlihatkan bagian kelemahan sendiri, gaya serangan ini mestinya hanya boleh dilakukan bilamana menghadapi lawan yang lebih lemah.

Dan Liok Siau-hong jelas tidak lebih lemah daripada Ciang kun. Serangan Ciangkun ini sungguh sangai besar resikonya, sebab dia memperhitungkan Liok Siau-hong tidak dapat berdiri tegak Siapa pun sukar berdiri tegak di atas panggung yang retak dan di bawah hujan batu kerikil.

Jika berdiri seorang tidak tegak dan kurang kuat, dangan sendirinya tidak mampu balas menyerang, kalau tidak dapat balas menyerang tarpaksa harus menghindar, tapi cara bagaimanapun menghindar sukar mengelakkan angin pukulannya yang dahsyat.

Kesehatan Siau-hong sendiri belum pulih, tubuhnya masih lemah, sebenarnya dia tidak tahan angin pukulan lawan vang hebat itu.

Tapi dia tidak pcrlu menahan angin pukulan orang, dia malah dapat melancarkan serangan balasan, balas menyerang dalam keadaan yang tidak memungkinkan.

Ciangkun sudah berpengalaman tempur, kemenangan yang terjadi pada sekejap itu sudah diperhitungkannya dengan baik. Cuma sayang, sekali ini dia salah hitung.

Sesuatu yang dikerjakan oleh Liok Siau-hong memang banyak yang dianggap orang lain sebagai hal yang tidak mungkin bisa di lakukan.

Sekali ini dia tidak memakai pukulan kepala, juga bukan pukulan pantat, tapi menggunakan tangan, jari tangan. Jari sakti Liok Siau-hong yang tidak ada bandingannya.

Sekonyong-konyong Siau-hong mengegos ke samping sambil menjulurkan kedua jari dan menjentik perlahan. Jari telunjuk tepat mengenai kepalan Ciangkun dan jari tengah mengenai dadanya.

Padahal apa gunanya dua jari manghadapi kepalan yang dapat meretakkan panggung batu dan dada yang tidak mempan dibacok golok?

Namun hasilnya segera terbukti, sukar orang membayangkan betapa lihai tenaga jarinya. Terdengar Ciangkun meraung dan mencelat ke sana dan jatuh terbanting di atas batu kerikil yang berserakan di lantai.

Di tengah ruangan pendopo itu masih ada 36 orang, tapi udak ada setitik suara apapun, sampai suara napas saja seakan-akan berhenti.

Mata ke-36 orang sama melototi Liok Siau hong, menampilkan semacam sorot mata yang aneh.

Siau-hong hanya menyengir saja, sabab ia tahu meski orang-orang ini bukan sahabat Ciangkun, sekarang semuanya tentu juga telah menjadi lawannya.

Seorang yang baru tiba di tempat yang belum dikenal ini dan mendadak harus mengikat permusuhan dengan 36 orang, betapapun hal ini urusan yang sangat tidak menyenangkan.

Dia hanya berharap luka Ciangkun tidak terlalu parah. Tapi ketika dia berpaling ke sana, Ciangkun yang tadinya rebah di lantai itu sekarang sudah lenyap.

Waktu ia menoleh lagi, terlihatlah seorang berbaju kelabu sedang berjalan keluar dengan perlahan dan Ciangkun ternyata berada dalam rangkulan orang itu.

Dengan mata telinga Siau-hong yang tajam, ternyata tidak dapat merasakan darimana munculnya orang berbaju kelabu itu, juga tidak tahu cara bagaimana dia membawa pergi Ciangkun, tapi tahu-tahu orang sudah berada di ambang pintu.

Mau tak mau Siau-hong melengak.

Sementara itu si baju kelabu sudah keluar pintu, ke-36 orang dalam ruangan pendopo juga lantas ikut keluar. Tiada seorang pun yang menoleh dan memandang Siau-hong, seakan-akan menganggap Liok Siau-hong sudah menjadi orang mati.

Betapapun menarik seorang mati, tentunya tidak ada orang yang sudi memandangnya lebih lama.

Siau-hong sendiri juga tiba-tiba merasa dirinya seperti berdiri di dalam kuburan, tidak ada manusia, tidak ada suara, meski cahaya lampu masih menyala, tapi seperti sudah berubah menjadi sangat gelap

Apabila segala apapun tak terlihat, setitik sinar harapan saja tak terlihai, apa pula gunanya cahaya lampu?

Entah selang berapa lama. Siau-hong masih berdiri termangu di situ tanpa bergerak. Tempat ini memang asing baginya, kemana dia akan pergi?

Dia memang sudah berada di jalan buntu, dia dapat pergi ke mana?’

Pada saat itulah dia melihat sepasang mata dan satu tangan. Tangan yang putih dan kecil, sepasang mata yang membawa senyuman. Itulah Yap Ling yang sedang menggapai padanya di luar pintu.

Segera Siau-hong mendekatinya.

Biarpun di luar pintu terdapat seratus perangkap dan seribu jebakan yang sedang menantikan, dia juga akan mendatanginya tanpa ragu.

Sebab dirasakannya keadaan yang menyendiri dengan keputus-asaan jauh lebih menakutkan daripada mati.

Syukur di luar pintu tidak terdapat apa-apa, hanya ada satu orang dan kegelapan.

Mata Yap Ling dalam kegelapan tampak terang bagai bintang kejora. Dia memandang Siau-hong dengan tersenyum, katanya tiba-tiba, “Selamat padamu!”

“Selamat apa?” Siau-hong merasa bingung.

“Sebab engkau tidak jadi mati,” tutur Yap Ling. “Seorang asalkan dapat tetap hidup adalah hal yang pantas diberi ucapan selamat.”

“Memangnya aku mestinya mati?” tanya Siau-hong.

Yap Ling mengangguk.

“Dan sekarang?” tanya Siau-hong pula.

“Sekarang paling tidak engkau masih dapat hidup di Yu-leng-san-ceng ini.”

Siau-hong menghela napas lega, ia coba bertanya pula, “Siapakah orang berbaju kelabu tadi?”

“Tidak dapat kau terka?” jawab Yap Ling.

“Apakah Lau-to-pacu?” tanya Siau-hong.

Berputar biji mata Yap Ling, ia balas bertanya. “Kau kira dia orang macam apa?”

“Seorang yang menakutkan?”

“Kau pikir bagaimana ilmu silatnya.”

“Tak dapat kulihat.”

“Masa sampai dirimu tak dapat melihatnya.’

“Justru lantaran aku tak dapat menilainya maka terasa menakutkan ”

“Kau pikir seharusnya Lau To-pacu orang macam apa?” tanya Yap Ling pula.

“Dengan sendirinya seorang yang sangat menakutkan.”

Yap Ling tertawa, “Jika begitu orang tadi dengan sendirinya Lau-to-pacu, mestinya tidak perlu kau tanya lagi.”

Siau-hong juga tertawa, namun bukan tertawa gembira. Seorang jago kelas tinggi seperti dia, kalau mendadak menemukan seorang berkepandaian jauh lebih tinggi daripadanya, maka perasaannya pasti tidak enak.

Tiba-tiba Yap Ling menarik muka dan mendengus, “Hm, hari pertama kedatanganmu lantas bikin onar dan berkelahi segala, kalau tidak ada orang memintakan ampun bagimu, saat ini sedikitnya engkau sudah mati dua kali.”

“Siapa yang memintakan ampun bagiku?” tanya Siau-hong.

Yap Ling menuding hidungnya sendiri dan menjawab, “Aku!”

Siau-hong menghela napas, “Ya, tentu saja kau. memang sudah kuketahui pasti kau.”

Tiba-tiba Yap Ling tersenyum manis, “Jika tahu, cara bagaimana akan kau balas kebaikanku?”

Siau-hong tersenyum, “Akan kugigit hidungmu!”

Yap Ling mendelik, mendadak ia berjingkrak murka, “Enyah, lekas enyah ke sarang anjingmu, kalau tidak ada suara genta dilarang keluar!”

“Inikah perintah Lau-to-pacu?” tanya Siau-hong.

Tapi Yap Ling hanya mendengus saja.

“Dapatkah kutemui dia sekarang?”

“Tidak,” jawab Yap Ling tegas.

“Tapi bilamana dia ingin menemuimu, mau tak mau harus kau temui dia.”

Siau-hong menghela napas, “Ya. lumayan juga apabila seorang dapal istirahat selama beberapa hari dengan tenang. Susahnya kalau tidak makan nasi.”

“Kau akan makan nasi, makan tiga kali sehari, ada enam macam sayuran dan semacam kuah, boleh piilih sesukamu, “kata Yap Ling.

“Apakah sekarang boleh kupesan santapanku untuk besok?” tanya Siau-hong.

“Boleh.” jawab Yap Ling.

“Baik, aku ingin makan Ang-sio-ti-te, jamur cah ayam, bebek campur tiga segar, hay-som masak ti-to dan…”

Yap Ling memandangnya dengan sorot mata yang menampilkan perasaan aneh.

“Aku gemar makan enak, jika kupesan santapan lezat kan tidak perlu diherankan,” kata Siau hong.

“Aku cuma heran, mengapa tidak ingin kau makan hidanganku?” kata Yap Ling.

Lampu sudah dipadamkan, Siau-hong berbaring dalam kegelapan. Inilah malam pertama yang dilewatkannya di Yu-leng-san-ceng.

Baru setengah hari dia berada di sini dan sudah banyak kejadian aneh dan menakutkan yang dialaminya, juga banyak orang aneh dan mengerikan yang dilihatnya. Terutama Kau-hun-sucia dan Lau-to-pacu. Betapa tinggi ilmu silat kedua orang ini sungguh sukar dibayangkan olehnya.
Meski sekarang dia masih hidup, tapi bagaimana selanjutnya?

Ia tidak ingin merenungkannya lagi. Tiba-tiba ia merasakan semacam rasa takut yang sukar dijelaskan.

Esok paginya, di lembah pegunungan masih penuh diliputi kabut, rumah gubuk kecil itu serupa terapung di tengah awan. Waktu membuka pintu, dirinya sendiri pun terasa melayang-layang di udara, seperti juga mengambang di atas air.

Siau-hong menghela napas, ia menutup pintu lagi, perasaannya sangat tertekan.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: