Kumpulan Cerita Silat

21/03/2008

Misteri Kapal Layar Pancawarna (17)

Filed under: +Misteri Kapal Layar Pancawarna, Gu Long — ceritasilat @ 12:09 am

Misteri Kapal Layar Pancawarna (17)
Oleh Gu Long

Meski Ban-Cu-liang dan lain-lain sama yakin Po-giok pasti bukan pengecut, juga pasti bukan pendusta, namun dari berbagai gejala yang terlihat sama menandakan Po-giok seakan-akan sengaja menghilang tanpa pamit.

Mereka tidak habis mengerti mengapa Po-giok menghilang begitu saja tanpa memberi kabar. Meski mereka yakin perbuatan Po-giok tentu ada alasan yang sukar dijelaskan, tapi tidak ada seorang pun menyangka anak muda itu telah terjeblos ke dalam jaringan tipu muslihat musuh yang rapi dan ruwet seperti jaring labah-labah dan anak muda itu sendiri tersiksa lahir batin. Sebab itulah, sedikit banyak timbul juga rasa tidak puas mereka terhadap Po-giok karena anak muda itu telah mengecewakan harapan mereka.

Hanya Bwe-Kiam saja yang bersikap diam, sama sekali ia tidak memberi komentar, juga tidak mengeluh.
Setelah kejadian itu, pertemuan Thay-san semakin ditingkatkan, para jago muda yang ingin ambil bagian dalam pertandingan itu juga tambah semangat setelah menghilangnya Pui-Po-giok. Terutama gelar “jago nomor satu di dunia” tentu merupakan daya tarik besar bagi mereka.

Tampaknya pertarungan sengit dan banjir darah pasti sukar dihindarkan lagi. Dan orang yang berhasil memperoleh kemenangan tampaknya juga belum tentu dapat mencapai puncaknya dengan melangkahi mayat-mayat lawannya, sebab orang yang menang nanti masih harus menghadapi si jago pedang baju putih dari lautan timur itu, imbalan yang akan diperolehnya bukan lagi ketenaran yang memuncak melainkan ujung pedang si baju putih yang tajam.
Siapa kiranya yang akan keluar sebagai juara nanti?

*****

“Bencana! … Petaka! … Bencana!” demikian berulang-ulang Ban-Cu-liang yang duduk tepekur itu bergumam dengan menghela napas panjang.

“Ya, harus aku pergi mencari mereka,” teriak Kim-Put-we mendadak sambil menggebrak meja.

Kong-sun-Put-ti memandangnya sekejap dan menegas,” Maksudmu hendak mencari Lu-In, Ing-Thi-ih dan lain-lain.”

“Betul ingin kutanya mereka sesungguhnya Pui-Po-giok pendusta atau bukan? Sesungguhnya ilmu silat Po-giok itu sejati atau palsu? Jika Po-giok penipu, pengecut, mengapa mereka dikalahkan penipu dan pengecut itu?”

“Betul, harus kita minta kesaksian mereka!” tukas Nyo-Put-loh. “Ayo, pergi, sekarang juga kita pergi.”

Mereka tidak tahu bahwa Lu In, Ing-Thi-ih, Hi-Toan-kah dan lain-lain yang pernah bertanding dengan Po-giok itu kini sudah sekian hari meninggalkan rumah masing-masing.

Ke mana perginya mereka, anggota keluarga mereka sendiri tidak ada yang tahu, sebab keberangkatan mereka sangat tergesa-gesa, juga sangat misterius. Tempat tujuan mereka belum tentu sama, hari keberangkatan mereka juga berbeda. Tapi satu hal ada persamaan di antara mereka, yaitu mereka tergesa-gesa berangkat setelah menerima sepucuk surat.

Tidak ada yang tahu apa isi surat misterius itu, juga tidak ada yang tahu siapa pengirim surat itu. Sebab itulah rombongan Ban-Cu-liang hanya berlari kian kemari sia-sia tanpa bertemu dengan orang yang mereka cari.

Saat itu Po-giok lagi duduk di tempat tidur tubuhnya belum lagi rebah. Sedapatnya ia melawan rasa gelap matanya yang ingin terkatup itu dengan keteguhan iman dan kepercayaan diri. Ia menggertak gigi dan bertahan agar kelopak mata tidak terkatup meski rasanya kelopak mata sangat berat.

Ia tahu bilamana kelopak mata merapat, seketika juga ia akan ditelan oleh kegelapan yang tidak ada batasnya dan akan tenggelam selamanya.

Tiba-tiba sesosok bayangan muncul di depannya, meski ia pentang matanya lebar-lebar namun rasanya seperti memandang tapi tidak melihat. Hanya remang-remang diketahui bayangan orang ini mendekatinya dan duduk di depannya, apakah orang perempuan atau lelaki, bajunya berwarna hitam atau putih, bagaimana pula bentuk wajahnya, semuanya tidak jelas baginya.

Terdengar orang itu berkata perlahan, “kamu sudah lelah, perlu mengaso dengan tenang. Maka lebih baik tidur saja … ayolah tidur saja … ”

Kedengarannya seperti suara orang lelaki. Namun suaranya terasa begitu manis, begitu lembut, sama sekali tidak terpikir oleh Po-giok bahwa di dunia ini ada suara orang lelaki selembut ini.

Suara lembut itu seperti mempunyai kekuatan sihir, biarpun orang sehat pun sukar melawan kekuatan sihir yang aneh ini. Tanpa terasa kelopak mata Po-giok mulai merapat.

Sesungguhnya ini bukan soal tidur dan tidak tidur melainkan pertarungan sengit dari dua kekuatan batin. Musuh Po-giok sekarang bukan hendak mengincar nyawa anak muda itu melainkan cuma ingin meruntuhkan imannya. Pertarungan ini jelas sama sekali berbeda daripada pengalaman Po-giok yang telah lalu.

Kulit mata Po-giok serasa diganduli benda yang berat dan ingin merapat, namun sedapatnya Po-giok mengumpulkan semangat dan tenaga untuk bertahan agar mata tidak terkatup. Kekuatan batin lawan ternyata sangat hebat, lama-lama Po-giok merasa tenaga habis dan semangat runtuh, tubuh pun mulai gemetar.

“Tidak … tidurlah, jangan melawan, semakin melawan semakin susah bagimu, jalan terbaik bagimu adalah tidurlah!” ucap orang itu dengan suara terlebih lembut dan tubuh Po-giok pun berguncang terlebih hebat.

“Tidurlah …” orang itu berkata pula, “sukar bagimu untuk melawan kekuatan obat itu, asalkan tidur, sesudah mendusin segera akan kau rasakan dirimu seperti sudah berubah seorang lain dan menyenangkan sekali …”

Berdetak jantung Po-Giok, tubuh seperti kena dicambuk sekali, pikirnya, “Berubah menjadi seorang lain? Mana mungkin … tapi bukankah Siau-kong-cu sudah berubah lain … Ah, tidak … aku tidak boleh tidur …”

Sekuatnya ia menghimpun semangat dan mengingatkan sendiri jangan tidur, betapapun jangan tidur, aku tidak pernah minum obat apa pun, aku harus tetap sadar … sadar …

Kelopak matanya yang hampir rapat itu kini terpentang lebar pula, tubuhnya yang gemetar pun berhenti. Inilah semacam pemusatan kekuatan batin sendiri yang aneh, tekad dan semangatnya adalah kekuatan maha besar dan mengalahkan sihir lawan.

Akhirnya dapatlah ia lihat jelas musuhnya. Orang yang duduk di depannya seluruh tubuh memancarkan hawa seram menakutkan. Ia berjubah merah, sinar matanya dingin tajam, bola matanya berwarna ungu tua mendekati merah bara, waktu ia menatap orang, rasanya seperti ada semacam kekuatan gaib yang panas terpancar dari bola matanya. Bola mata yang membakar orang yang dipandangnya dan membuat orang tidak tahan.

Yang terlebih membuat orang tidak tahan adalah wajahnya. Seluruh kepalanya seakan pernah terbakar hangus, mukanya buruk memualkan, penuh bekas luka yang mengerikan.

Namun kedua telapak tangannya justru tampak halus licin, kesepuluh jarinya kelihatan halus lentik, kuku jari terawat baik, kedua tangannya sama sekali tiada cacat, putih mulus bagai batu kemala.

Dengan ujung jari ia raba bekas luka wajah sendiri, wajah yang buruk dengan tangan yang indah, sungguh teramat kontras dan menambah kekuatan gaib yang menggetar sukma.

Waktu Po-giok memandang lebih banyak beberapa kejap, terasa seram dan mengkirik, sungguh sukar dimengerti, makhluk aneh yang serupa iblis ini justru bersuara lembut dan merdu.

Sorot matanya menampilkan rasa kejut dan heran, dengan sendirinya karena Po-giok tidak roboh tertidur sebaliknya pikirannya tetap sadar dan jernih.

Perlahan ia berkata, “Terima kasih atas berkah Thian, engkau ternyata mempunyai ketahanan serupa unta, setangkas elang, secerdik rase, engkau ternyata tetap sadar.”

Sedapatnya Po-giok barsikap tenang, katanya “Sedemikian kau puji musuhmu, sungguh aku tidak mengerti. Seharusnya kau benci pada musuhmu mengapa engkau malah memberkati musuhmu?”

“Musuh? Musuhku? Siapa itu?” tanya orang itu, mendadak ia tertawa, sambungnya pula “Musuhku sudah lama mati semua, bila kuanggap dirimu sebagai musuh, masakah kamu dapat hidup sampai sekarang?”

“Jika aku tidak dipandang sebagai musuh mengapa aku dibikin susah seperti ini? Hwe-mo-sin (malaikat iblis api) dari Ngo-heng-kiong memang biasa memperlakukan kawan dengan cara begini?”

“Aha, ternyata dapat kau terka siapa diriku.” seru si jubah merah dengan tertawa.

“Betul, bukan saja dapat kuterka siapa dirimu, juga dapat kuterka jalan pikiranmu, sudah dapat kuraba apa maksud tujuanmu caramu memperlakukan diriku ini.”

“Oo, apa maksud tujuanku? Coba katakan,” kata si jubah merah alias Hwe-mo-sin.

“Pertama, kamu tidak suka usahaku merintangi pertandingan di Thay-san, sebab memang itulah rencanamu untuk membangkitkan banjir darah di dunia kang-ouw, setelah para jago kelas tinggi sama gugur dan habis, lalu kamu dapat mengeduk keuntungan dan menjagoi dunia persilatan.”

“Aha, bagus, dugaan yang bagus! Lalu apa lagi?”

“Dengan berbagai tipu akal kau coba menjatuhkan diriku agar aku tidak dapat berpijak di dunia kang-ouw, sebab kamu tidak ingin kuhadapi tokoh baju putih dari lautan timur itu, supaya si baju putih tetap dapat menjadi raja dunia persilatan dengan membunuh setiap penantangnya, dengan begitu akan lebih mudah bagimu untuk maksud tujuanmu.”

“Hehe, untuk ini ada sedikit salah terka,” kata Hwe-mo-sin.

“Dengan sendirinya, tindakanku ini masih ada maksud sampingan lain, yaitu bilamana aku sudah malu untuk bertemu dengan para ksatria dunia persilatan, maka tiada jalan lain bagiku kecuali menggabungkan diri ke Ngo-hing-mo-kiong”

Ia berhenti sejenak, sekali ini Hwe-mo-sin tidak menyangkal lagi, diam berarti membenarkan.

“Tapi kamu tetap belum tahu jelas betapa kemampuanku yang sesungguhnya, maka sengaja kau gunakan berbagai cara untuk menguji kungfu, kecerdasan dan keteguhan imanku. Jika aku tidak tahan ujianmu dan mati di tangan anak buahmu, bagimu tidak ada ruginya, sebab kalau aku tidak tahan uji berarti juga tidak ada harganya untuk kau peralat.”

“Bagus, uraian yang bagus!” kata Hwe-mo-sin dengan tertawa.

“Dan kalau ujianmu dapat menjatuhkan aku, itu berarti aku telah menerima semua persyaratanmu dan pasti akan meminta diriku mengerjakan sesuatu.”

“Memangnya urusan apa yang perlu kuminta kau kerjakan?”

“Urusan yang kau minta kukerjakan itu tentu sangat sulit dan bahaya,” tutur Po-giok. “Bahkan selain aku mungkin tidak dapat dikerjakan orang lain, sebab itulah dengan segala daya upaya kau jebak diriku.”

Tiba-tiba Hwe-mo-sin mengalihkan pandangannya ke tempat lain dan termenung sejenak lalu berkata,
“Ya, memang betul, melihat keadaannya sekarang, urusan ini memang cuma dirimu saja yang dapat mengerjakannya.”

“Dan dari mana pula kau tahu aku mau bekerja bagimu?” jengek Po-giok.

Mendadak Hwe-mo-sin menatap tajam Po-giok pula, katanya, “Meski kamu mempunyai kekuatan batin yang teguh, tapi kekuatan batin hanya dapat menguasai pikiranmu dan tidak dapat menguasai fisikmu meski saat ini pikiranmu belum lagi runtuh, namun anggota badanmu tetap belum mampu bergerak dan setiap saat dapat kucabut nyawamu.”

Po-giok bergumam katanya, “Apakah kau lihat aku ini orang yang mudah manyerah kepada ancaman? Soal mati dan hidup bukan apa-apa bagiku, tentu kau pun tahu tekadku ini.”

Hwe-mo-sin terdiam sejenak, tiba-tiba ia tanya, “Berapa umurmu tahun ini?”

Seketika Po-giok tidak tahu apa maksud orang tanya usianya, ia pun terdiam sejenak, akhirnya menjawab, “Sekitar dua puluhan.”

“Bagi pandangan orang berumur 20-an, kematian memang sesuatu yang mudah, sebab orang muda kebanyakan tidak tahu betapa berharganya hidup dan betapa dukanya kematian. Bilamana usiamu sudah sebayaku, tentu kamu akan tahu satu-satunya yang paling berharga di dunia ini adalah hidup, di tengah kehidupan masih banyak hal-hal yang indah yang belum pernah kau nikmati, jika sekarang kamu harus mati, apakah kamu tidak berdosa terhadap diri sendiri?”

“Huh, jangan kau coba memancing dan menggoda diriku,” ujar Po-giok dengan tersenyum.

“Tidak, tidak ada maksudku hendak memancing dirimu. Tapi ingin kukatakan padamu, asalkan kau mau bekerja bagiku, maka segala kenikmatan dunia yang tidak pernah diperoleh orang lain pasti akan dapat kuberikan padamu, apakah itu kedudukan, nama, perempuan cantik, harta benda … asalkan kau mau, segala apa pun dapat kau peroleh. Bilamana pada waktu anak-anak pernah kau mimpikan sesuatu, kujamin impianmu itu pasti akan terkabul menjadi kenyataan.”

“Maksudku, apa pun yang kuminta pasti dipenuhi? …”

“Betul.”

“Wah, segala apa yang pernah aku dengar selama hidup ini memang tidak ada yang lebih memikat daripada janjimu ini, tapi …” mendadak Po-giok tertawa, katanya pula, “Tapi, apakah aku ini orang yang mudah kau pancing?”

Kembali Hwe-mo-sin terdiam, katanya kemudian, “Tapi jangan kau lupa, saat ini kamu tidak punya apa-apa lagi. Di dunia kang-ouw tiada seorang pun yang menghargaimu pula. Kamu sudah diludahi dan dibuang oleh orang di dunia. Lalu apa pula yang menjadi kebanggaanmu, apa yang akan kau bela? Mengapa tidak kau turut saja kepada perintahku.”

“Biarpun aku tidak punya apa-apa lagi, tapi aku masih mempunyai hak untuk menentukan mati dan hidup! Inilah yang harus kuhargai dan kuhormati serta pantas kubela mati-matian …. ”

“Hendaknya kau tahu bunuh diri bukanlah perbuatan seorang jantan melainkan tindakan pengecut,” kata Hwe-mo-sin. “Bilamana kamu memang seorang lelaki sejati, kamu harus berani berjuang untuk hidup menghadapi kesulitan apa pun.”

“Huh, pandai benar caramu membakar semangatku,” Po-giok tertawa pula. “Cuma sayang betapapun pendirianku sukar digoyahkan …”

Sampai lama Hwe-mo-sin memandang anak muda itu, seakan-akan menjajaki jalan pikirannya yang teguh itu.

Katanya kemudian, “Lalu cara bagaimana supaya aku dapat mengambil hatimu?”

“Siapa pun bila menghendaki aku berbuat sesuatu baginya, untuk itu dia harus memohon padaku,” kata Po-giok dengan tersenyum.

Sorot mata Hwe-mo-sin yang merah bertambah membara, namun suaranya tetap tenang dan lembut, “Memohon padamu? Memangnya aku juga orang yang memohon kepada orang lain?”

“Ya, engkau memang tidak perlu memohon kepada orang lain, tapi sekarang dari sorot matamu sudah dapat aku lihat rasa cemas dan gelisahmu, sudah dapat kuterka, asalkan aku mau mengerjakan urusan ini bagimu, maka tanpa sayang segala pengorbanan, bahkan tidak sayang mengerjakan sesuatu yang belum pernah kau lakukan, termasuk tidak sayang untuk memohon padaku … betul tidak?”

Hwe-mo-sin duduk terdiam hingga lama.

Pembicaraan kedua orang sama tajamnya, juga sama indahnya. Keduanya sama-sama menguji keteguhan hati sendiri, sekaligus juga menjajaki keteguhan lawan.

Dalam pertarungan in, akhirnya Hwe-mo-sin jatuh di pihak asor pula.

Sorot matanya menampilkan rasa pedih, rasa pertentangan batin. Kata-kata yang tajam sukar dikeluarkan lagi. Medan perang lidah tadi kini berubah menjadi sunyi senyap.

Entah berselang berapa lama, mendadak ia berdiri, tanpa bicara lagi ia terus melompat pergi, hanya sekejap saja lantas menghilang.

Dia pergi secara mendadak, agaknya hendak melancarkan tipu muslihat lagi.

Namun Po-giok tidak gentar, sebab ia yakin dirinya telah dapat memegang titik lemah Hwe-mo-sin, ia percaya apa yang Hwe-mo-sin minta di kerjakannya itu selain sangat erat hubungannya dengan Hwe-mo-sin sendiri, tentu juga sangat besar sangkut pautnya dengan orang Ngo-hing-mo-kiong, maka cepat atau lambat Hwe-mo-sin pasti akan memohon padanya.

Po-giok sudah memegang kunci kemenangan, seterusnya sama sekali ia sudah berada di pihak yang memegang kendali, ia tidak perlu gentar lagi.

*****

Di ruangan lain, seorang tua rebah di pembaringan. Ia memakai selimut, muka menghadap dinding sehingga tidak kelihatan wajahnya. Yang tertampak cuma rambutnya yang ubanan dan semrawut.

Siau-kong-cu duduk menunduk di tepi tempat tidur tanpa bergerak, namun bola matanya selalu berputar, air muka pun berubah-ubah sehingga apa yang sedang dipikirnya sukar diduga.

Tiba-tiba Hwe-mo-sin melayang masuk duduk di kursi dekat ujung tempat tidur, menghela napas panjang dan berkata, “Tak terduga di dunia ini ada orang berhati sekeras baja seperti dia …”

“Sudahlah, tidak perlu kau katakan lagi,” seru si orang tua yang berbaring itu. “Apa yang kalian percakapkan di ruang sebelah sudah aku dengar dengan jelas, bahkan kurasakan sangat menarik.”

“Menarik?” Hwe-mo-sin menegas. “Pui-Po-giok itu serupa orang tolol pada waktu berlagak pilon, selicin ular pada waktu main licik. kau menghadapi lawan begini dan kau bilang menarik.?”

“Jika bukan orang seperti itu, cara bagaimana dia mampu menyelesaikan urusan itu?” ucap kakek dengan tersenyum.

“Memang betul juga, tapi … tapi segala usaha kita sudah dilaksanakan dan dia tetap tidak mau tunduk. Meski sudah membunuhnya menyuruh dia menurut kehendak kita terlebih sulit. Celakanya kita tidak dapat membunuh dia, lalu apakah benar aku harus memohon padanya?”

Dia bioara dengan nada gemas, namun si kakek tetapi tidak menoleh, perlahan ia berkata pula “Siapa yang menyuruhmu memohon padanya?”

Gemerdep sinar mata Hwe-mo-sin, “Habis apakah ada akal lain?”

“Gampang saja, bebaskan dia,” kata si kakek.

Hwe-mo-sin melengak, “Hah, kau bilang bebaskan dia?”

“Betul, hanya membebaskan dia saja merupakan jalan yang terbaik.”

“Tapi kita sudah banyak membuang waktu dan tenaga baru dapat kita kerjai dia seperti sekarang ini, jika bebaskan dia, bukankah berarti melepas harimau ke gunung dan kita akan dianggap sebagai orang sinting?”

“Untuk bertempur dengan orang seperti dia justru diperlukan orang sinting, sebab hanya orang sinting saja sukar diduga segala tindak-tanduknya. Bilamana kita bekerja menurut peraturan biasa setiap urusan tentu akan terduga sebelumnya, dan sekali dia sudah mendahului kita, tentu kita akan mati kutu tanpa daya.”

“Tapi … tapi kalau bebaskan dia, lalu bagaimana?” Hwe-mo-sin.

“Urusan ini ibaratnya banyak sekali tali panjang, saat ini dia sudah dapat memegang ujung tali yang banyak itu, ia merasa senang dan puas, semakin erat kita menarik tali, semakin mudah baginya untuk mencari arah tali itu. Tapi bila mendadak kita bebaskan dia, apa yang dipegangnya akan menjadi hampa, tatkala mana dia tentu akan bingung dan sangsi, dalam waktu setengah bulan atau sebulan dia pasti akan datang untuk mencari kita lagi.”

Tiba-tiba Siau-kong-cu tertawa dan berkata “Ini namaaya tipu ingin menangkap sengaja dilepaskan dulu. Jika terhadap sikapku kepadanya apakah serius atau pura-pura saja dia tidak tahu saat ini mungkin dia mengira orang yang menjebaknya semalam adalah seorang lain yang menyamar sebagai diriku. Kalian sama memuji dia setinggi langit, tapi bagi pandanganku dia tidak lebih cuma seorang tolol.”

“Seorang lelaki kalau sudah jatuh hati terhadap seorang perempuan, tentu dia akan berubah menjadi tolol”, ujar si kakek dengan tertawa. “Melulu berdasar ini saja, apa pun juga dia pasti akan kembali lagi ke sini”

Hwe-mo-sin termenung sejenak. katanya kemudian. “Tapi biarpun dia kembali lagi ke sini juga belum tentu akan …”

“Asalkan dia kembali lagi ke sini, maka kita sudah berada di pihak pengambil inisiatif,” sela si kakek. “Apalagi mustahil dia tidak ingin tahu urusan apa yang kita minta dikerjakannya? Tanpa kau minta tentu dia malah akan mohon penjelasan padamu tentang urusan yang harus dikerjakannya. Tatkala itu tentu jauh lebih mudah jika kau pancing dia masuk perangkap kita.”

“Betul juga.” ujar Hwe-mo-sin dengan tertawa cerah. “Daripada kumohon dia, kan lebih baik menunggu dia saja yang memohon padaku. Terhadap kelemahan jiwa manusia tampaknya engkau jauh lebih mengerti daripadaku.”

Setelah terdiam sejenak, kemudian si kakek berkata pula, “Lu-In, Hi-Toan-kah dan lain-lain sudah kita pancing kemari, di dunia kang-ouw tidak ada yang dapat menjadi pembelanya lagi. Jalan keluarnya juga sudah kita tutup buntu. akhirnya mustahil dia takkan kembali ke sini.”

*****

Yang mengejutkan adalah isi setiap kereta itu adalah dua buah peti mati bercat hitam sehingga kelihatan agak seram di senja yang remang-remang, ketambahan lagi kereta papan yang jelek, baju berkabung kawanan kusir dan peti mati hitam, suasana tampak misterius.

Meski para jago kang-ouw yang sedang menempuh perjalanan sudah cukup berpengalaman, mau-tak-mau mereka pun sama melengong menyaksikan barisan kereta yang luar biasa itu.

Waktu itu Poa-Ce-sia dari Soa-tang juga sedang dalam perjalanan bersama beberapa orang kawannya, karena herannya, ia coba tanya salah seorang kusir kereta, “Numpang tanya, rombongan kereta ini hendak menuju ke mana?”

“Thay-san,” jawab si kusir singkat.

Poa-Ce-sia tambah heran, ia coba tanya pula “Untuk apa mengangkut peti mati sebanyak ini ke Thay-san? Memangnya di sana mendadak mati orang sebanyak ini?”

“Entah,” si kusir menjawab dengan singkat dan dingin pula, tanpa menghiraukan orang, lalu lagi ia cambuk kudanya dan dilarikan terlebih cepat.

Sekali rasa ingin tahu Poa-Ce-sia sudah timbul tentu saja ia tidak mau berhenti begitu saja. Tapi berturut-turut ia tanya lagi beberapa kusir yang berbaju belacu, jawaban yang diperoleh tetap cekak-aos alias singkat pendek seperti kusir yang pertama.

Diam-diam Poa-Ce-sia sangat gusar, cuma sedapatnya ia tahan perasaannya itu.

Ia coba memberi isyarat kepada kawannya, mereka berhenti di tepi jalan, setelah ke 30 kereta itu lalu seluruhnya, mendadak Poa-Ce-sia melompat turun dari kudanya, sekali lompat, ia seret kusir kereta yang terakhir itu ke tepi jalan. Ia ancam kusir itu agar jangan bersuara, bila bersuara segera akan dihabisi.

Meski terkejut, kusir itu sama sekali tidak bermaksud berteriak, maka tiada seorang pun kawannya yang mengetahui kejadian itu.

“Tarik kereta itu ke pinggir jalan, coba periksa apa isi peti mati yang diangkutnya,” kata Poa-Ce-sia.

Sementara itu tokoh kang-ouw terkemuka pada umumnya sama menerima sepucuk surat aneh, isinya memberitahukan bahwa pertandingan di puncak Thay-san dipercepat pada pertengah bulan ini pada malam bulan purnama.

Tulisan surat itu indah, kertasnya bagus kalimatnya lancar, cuma aneh, tidak dibubuhi siapa penulis surat itu. Kebanyakan tokoh kang-ouw itu menerima surat pada tengah malam sehingga tidak jelas siapa pengantar surat itu.

Walaupun aneh surat itu, namun maksudnya justru cocok dengan kehendak para jago muda yang sudah tidak sabar menunggu lagi. Tanpa mengusut dari mana asal usul surat itu, berbondong-bondong mereka terus berangkat menuju ke Thay-san, malahan saling berebut datang lebih dulu agar dapat melihat gelagat dan mencari posisi yang menguntungkan.

Maka dalam beberapa hari saja, jalan yang menuju Thay-san menjadi sangat ramai, orang berlalu lalang tidak terputus.

Suatu senja, di jalan raya itu tiba-tiba muncul satu barisan aneh. Barisan ini sepanjang berpuluh tombak, terdiri dari 30 buah kereta. Setiap kereta tertutup rapat dengan papan kayu kasar. Ke-30 kusir kereta itu sama memakai kopiah putih dan baju belacu, serupa orang yang sedang berkabung.

Siapa tahu, ketika tutup peti mati dibuka kedua peti mati ternyata kosong belaka. Keruan semua orang melongo kecewa.

Mendadak seorang berseru, “Ini ada …”

Sekali tangan meraba, dijemputnya sehelai kertas dari dalam salah satu peti mati itu. Hanya sekejap saja ia baca tulisan ringkas pada kertas itu, seketika air mukanya berubah aneh, seperti heran, kejut dan juga geli.

Kiranya kertas itu tertulis “Peti baru ini dipersembahkan kepada Biau-Pek-jiang, supaya mayatnya tidak tersia-sia, diharap sobat-handainya suka menerima dan mengebumikannya dengan baik. Dari orang baik hati di dunia kang-ouw”

Biau-Pak-jiang berjuluk Tai-Jik-sin atau si malaikat bertenaga raksasa, terhitung salah seorang di antara ke-40 tokoh yang akan berebut gelar jago nomor satu di Thay-san ini, dengan sendirinya namanya cukup terkenal.

Melihat tulisan itu, semua orang saling pandang dengan serba runyam. Seorang berkata dengan menyengir, “Ai, sesungguhnya apa maksud orang yang mengaku berhati baik ini? Memangnya ia yakin Tai-Jik-sin pasti akan gugur di Thay-san nanti?”

halaman 26

Seorang menukas, “Wah, melihat gelagatnya mungkin ke-40 tokoh yang ambil bagian dalam pertemuan di Thay-san nanti setiap orangnya telah disediakan sebuah peti ….”

Ia pandang Poa-Ce-sia sekejap dan berdehem lalu diam. Maklum, Poa-Ce-sia juga termasuk satu di antara ke 40 jago yang akan ikut bertanding.

Tentu saja Poa-Ce-sia mendongkol, ia cengkeram si kusir dan menghardik, “Sebenarnya siapa majikanmu? Apa maksudnya dengan perbuatan demikian?”

“Aku tidak … tidak tahu …” jawab si kusir dengan ketakutan.

Poa-Ce-sia menggamparnya sekali dan membentak pula, “Kamu mau mengaku tidak?”

Tiba-tiba seorang kakek berbaju coklat dan berbaju kain putih dengan rambut ubanan serta bertongkat entah sejak kapan sudah berada di situ dengan tertawa ia menukas, “Percuma kau tanya dia, sebab dia memang tidak tahu seluk-beluknya dan bukan sengaja tidak mau mengaku.”

Sebagian wajah si kakek tertutup oleh rambutnya yang kusut sehingga tidak jelas bagaimana raut mukanya, hanya kelihatan bagian kening penuh keriput dan sorot matanya yang mengandung rasa ejekan.

Semua orang sama berpaling, dengan suara geram Poa-Ce-sia pun berkata, “Hm, caramu bicara ini, jangan-jangan kau tahu seluk-beluknya atau kau sendiri adalah majikan mereka?”

“Haha,” si kakek terbahak, “bilamana kumau beli peti mati, tentu hanya untuk persediaan diriku sendiri, masakah perlu susah payah kusuruh antar untuk orang lain seperti majikannya yang baik hati itu.

“Mengirim peti mati sama dengan memujikan orang lain lekas mati, masakah ini terhitung baik hati?” jengek Poa-Ce-sia.

Si kakek menggeleng dan berkata dengan gegetun,.”Coba kau pikir sendiri, biasanya orang yang ikut dalam pertarungan demikian ada berapa orang yang bisa pulang dengan hidup? Kan lebih banyak yang terkapar di pegunungan sunyi sebagai mayat? Mungkin sampai mayat membusuk tinggal tulang belulang saja tidak ada orang yang mau mengurusnya. Jika dalam pertarungan di Thay-san nanti ada orang menaruh perhatian dengan mengirimkan peti mati, ini kan untung bagi kalian?”

“Pertemuan di Thay-san nanti hanya pertandingan antara sahabat, mana boleh kau bandingkan dengan pertempuran sengit tanpa kenal ampun, caramu bicara ini kan sengaja mengaco belaka.”

“Huh, cuaca bertanding antara sahabat katamu?” jengek si kakek. “Coba jawab, anak muda bilamana kamu bertanding dengan orang, bilakah pernah kau pikirkan memberi ampun kepada lawan dan membiarkan lawan pulang dengan hidup?”

“Aku … aku … ” Poa-Ce-sia jadi gelagapan.

“Nah, kalau kau sendiri tidak kenal ampun apakah orang lain pernah pakai memberi ampun segala? Orang yang berani naik ke Thay-san. siapa pula yang berani menjamin dirinya bakal pulang lagi dengan hidup? Ai, dasar anak muda, terlampau lugas jalan pikiranmu ….” habis bicara kakek mengetuk tongkatnya ke tanah, lalu tinggal pergi.

Kembali semua orang saling pandang dengan melongo.

Setelah tertegun sejenak, mendadak Poa-Ce-sia berteriak, “Hai, tunggu dulu, Lo-tiang (pak tua) Numpang tanya siapa nama anda, bolehkah memberi tahu?”

Si kakek tetap melangkah ke depan tanpa menoleh, jawabnya setengah berdendang, “kaum kelana yang terlunta-lunta, sudah lama melupakan sama sendiri.”

Poa-Ce-sia mengejar ke sana dan berteriak, “Lo-tiang hendak ke mana?”

Belum lagi si kakek menjawab, mendadak sesosok bayangan orang melayang tiba dari samping sana, begitu cepat bayangan itu seperti burung terbang, melayang ke depan si kakek seperti hendak memotong jalan perginya.

Akan tetapi dengan cepat si kakek membelok ke hutan yang berada di samping jalan, hanya kelihatan bayangannya berkelebat, dalam sekejap saja sudah menghilang.

Bayangan yang muncul itu memburu ke sana tapi setiba di depan hutan lantas berhenti. “Jangan masuk hutan bila mengejar musuh,” itulah pandangan orang kang-ouw yang berlaku sejak dulu kala. Hal ini dipatuhi orang ini dengan baik, sebab orang ini selamanya tidak mau ditipu orang.

Ternyata orang ini bertubuh gemuk, seorang perempuan tua dengan rambut putih seperti perak dan sebagian sudah botak, berbaju belacu yang longgar, saku bajunya sedikitnya ada belasan buah, tongkat yang dipegangnya hampir setombak panjangnya, hampir satu kali lebih tinggi daripada tubuhnya.

Setiap orang kang-ouw yang berpengalaman bllamana bertemu dengan nenek ini tentu akan kuncup dan merasa sial kepergok olehnya.

Poa-Ce-sia juga kenal nenek ini, dengan sendirinya kalau bisa ia pun menghindarinya, cuma sekarang ia sudah terlanjur mengejar ke sana. Ingin putar balik sudah terlambat, terpaksa ia memberi hormat dan menyapa, “Baik-baik, Ban-lo-hu-jin!”

Nenek ini memang Ban-lo-hu-jin adanya, meski dia sudah berhenti di situ, napasnya kelihatan masih terengah-engah, sembari menghela napas ia menjawab, “Baik apa? Sudah tua, tidak berguna lagi. Hanya lari beberapa langkah sudah menggeh-menggeh … Sebaliknya kamu yang kelihatan berwajah merah cerah, tentu banyak rejeki bukan?

Poa-Ce-sia tidak berani menanggapi pertanyaannya, ia bicara hal lain, “Sudah sekian tahu Lo-hu-jin tidak pernah berkelana di dunia kang-ouw
sungguh Siau-tit agak kangen. Ternyata badan Lo-hu-jin tetap sehat dan kuat, sungguh sangat menggembirakan.”

Ban-lo-hu-jin menggerogoti sebuah belimbing yang banyak airnya, lalu berkata dengan tertawa, “Huh, di mulut kau bilang kangen padaku, dalam hatimu sebenarnya berdoa semoga aku selamanya tidak muncul lagi di kang-ouw. Biarpun kamu mengaku gembira bertemu dengan aku, dalam hatimu tentu menyesal dan menganggap sial kepergok olehku. Ai, masih muda, buat apa bohong di depan orang tua.”

Apa yang diucapkan itu kena betul pada isi hati Poa-Ce-sia, tapi dengan sendirinya Poa-Ce-sia tidak berani mengaku, ia coba menyimpangnya bicaranya lagi dan bertanya, “Eh, tentu Lo-hu-jin kenal pada Lo-tiang tadi, kalau tidak kan tidak perlu mengejar dia.”

“Tidak, aku tidak kenal dia, cuma kutahu siapa dia” sahut Ban-lo-hu-jin.

Terbeliak mata Poa-Ce-sia, cepat ia menegas, “Ah, lo-hu-jin tahu siapa dia? Dapatkah Siau-tit beri tahu siapa Lo-tiang itu?”

“kau tahu Ci-ih-hou mempunyai seorang suheng, dia adalah kakek yang membawa pergi Pui-Po-giok enam tahun yang lalu itu, kakek tadi adalah dia!”

“Maksud Lo-hu-jin dia itu Ciu-lo-ya-cu?”

“Anak baik, memang tepat dugaanmu, ujar Ban-lo-hu-jin dengan tertawa. “Yang aku maksudkan memang betul Ciu-Hong. Cuma setan yang tahu apakah rase tua ini aslinya bernama Ciu-Hong atau bukan.”

“Apakah dahulu Lo-hu-jin pernah bertemu dengan Ciu-lo-ya-cu?”

“Untung juga bagiku, baru tadi aku lihat dia,” sahut si nenek dengan tertawa.

“Tapi enam tahun yang lalu Siau-tit pernah melihat Ciu-lo-ya-cu di Wi-ho-lau, rasanya suara dan wajah Ciu-lo-ya-cu sampai kini masih aku ingat dengan baik …”

“Memangnya orang tadi bukan Ciu-Hong maksudmu?” potong Ban-lo-hu-jin.

“Meski Lo-tiang tadi juga seorang seorang kosen dunia kang-ouw yang bijaksana, tapi dapat aku pastikan bahwa dia sama sekali bukan Ciu-lo-ya-cu.”

Ban-lo-hu-jin tercengang, gumamnya, “Dan bukan Ciu-Hong? … Habis siapa? Mengapa selama ini tidak pernah aku dengar bahwa di dunia kang-ouw muncul pula seorang makhluk tua aneh seperti dia.”

Tiba-tiba dua penunggang kuda membedal datang, tampaknya perjalanan mereka sangat tergesa-gesa sehingga tidak memperhatikan orang di tepi jalan melainkan langsung lewat begitu saja.

Terdengar kedua penunggang kuda itu sedang bicara, sayup-sayup terdengar seperti berkata, “Jit-tai-te-cu (ketujuh murid utama) … Ban-Cu-liang … Ya, mereka itulah … Cuma sayang … ”

Meski semua orang yang berada di situ sama bermata jeli dan bertelinga tajam, namun derap kaki kuda terlampau cepat sehingga suara mereka cuma terdengar samar-samar begitu saja.

Tampaknya kedua penunggang kuda itu sudah menjauh, mendadak Ban-lo-hu-jin mendengus angkat tongkatnya yang panjang itu, dari ujung tongkat segera melayang keluar seutas tali panjang serupa pelangi dan menyambar kepala kedua penunggang kuda itu.

Derap kaki kuda lari menutupi suara sambaran tali panjang itu, ditambah lagi kedua orang itu tidak menyangka akan diserang dari belakang. Ketika salah seorang itu menjerit kaget, tahu-tahu lehernya sudah terjerat tali, kuda berjingkrak menegak sambil meringkik, penunggang kuda itu menarik erat tali kendali. Tapi sekali Ban-lo-hu-jin menyendal talinya, kontan orang itu terbanting dari kudanya.

“Hehe, sungguh anak yang tidak tahu aturan melihat orang tua masakah tidak mau turun.” ucap Ban-lo-hu-jin dengan terkekeh.

Penunggang kuda yang lain seperti tidak menyadari apa yang terjadi, kudanya membedal sekian jauh, tahu-tahu penunggang kuda itu meloncat dan tangan pun menghunus suatu senjata mengkilat.

Sekali loncat dari kudanya, dalam sekejap sudah hinggap di depan Ban-lo-hu-jin, dan sebelum menegak, langsung senjata menikam dada nenek itu.

Akan tetapi Ban-lo-hu-jin bukan lawan empuk, sedikit mendak, dapat ia menerobos ke samping dari sambaran senjata musuh.

Ketika berhadapan, terlihat orang ini bertubuh ramping, baju hitam ketat, senjata yang dipegangnya serupa clurit dan mirip pedang, ternyata sejenis senjata yang jarang dikenal.

Meski tidak banyak orang yang melihat senjata seperti ini, namun sudah sering orang mendengar kisahnya dan betapa lihai pemakainya. Maka lamat-lamat sebagian hadirin dapat menduga senjata inilah satu di antara ke-13 senjata khas, yaitu Boh-in-cin-thian-pit, potlot penggetar langit. Dan pendatang yang bertubuh ramping dan berbaju hitam ini tentulah Ling-Peng-hi yang berjuluk Thian-siang-hui-hoa atau bunga bertebaran di langit.

Sementara itu Ban-lo-hu-jin sudah melompat ke samping penunggang kuda yang terbanting oleh jeratan talinya itu, ia cengkeram kuduk orang itu dan dijadikan tameng di depan sendiri.

Ling-Peng-hi terkesiap, bentaknya, “Lepaskan dia!”

Ban-lo-hu-jin berlagak tidak dengar, katanya jangan terkekeh, “Hehe, kukira siapa, rupanya Ling-siau-ceng-cu adanya. Malam bulan purnama belum lagi tiba, ternyata Ling-siau-ceng-cu sudah terburu-buru kemari, memangnya apa tujuanmu?”

Ling-Peng-hi berwajah kaku dingin, mata cekung dan alis tebal, ucapnya dengan sorot mata tajam, “Lepaskan atau binasa!”

Ban-lo-hu-jin tetap tidak gentar juga tidak marah, wajahnya yang welas-asih tetap tersenyum, orang itu tetap dicengkeramnya, sahutnya, “Ai, kenapa Ling-siau-ceng-cu marah, biarpun ada kesalahanku, sepantasnya Ling-siau-ceng-cu kasihan kepada nenek reyot macam diriku yang kesepian ini. Soalnya aku dengar putraku yang tidak becus ini berada di sekitar sini, karena ingin lekas menemuinya, maka melupakan segalanya …”

Ia bicara dengan nada memohon dan sikap memelas. Akan tetapi Ling-Peng-hi tetap tidak peduli, jengeknya malah, “Yang kau pegang itu cuma seorang centingku, apa gunanya kau jadikan dia sebagai sandera?”

Sambil bicara, langsung ia menyongsong ke depan.

Ban-lo-hu-jin tampak celingukan kian kemari mendadak ia berteriak, “Ya ampun, kalian kaum lelaki sebanyak ini masakah cuma berpeluk tangan menonton doang dan tiada seorang pun sudi menolong jiwaku? Jika kalian tidak menghargai diriku, kan sepantasnya mengingat kepada putraku itu …”

Akhirnya Poa-Ce-sia tidak tahan, ia melompat maju ke depan Ling-Peng-hi dan menyapa “Ling-siau-ceng-cu, Ban-lo-hu-jin ini adalah ibu In-bong-tay-hiap Ban-Cu-liang yang terkenal berbudi di dunia kang-ouw, mohon Siau-ceng-cu sudi mengingat kebaikan Ban-tay-hiap dan jangan mengganggunya.”

“Siapa kamu ini?” jengek Ling-Peng-hi.

“Poa-Ce-sia, itulah namaku.”

“O, Poa-Ce-sia baik juga, aku dengar engkau ini pun seorang gagah, tapi biarlah kukatakan terus terang, kedatanganku ini selain untuk menghadiri pertemuan di Thay-san, yang lebih utama adalah ingin menentukan kalah-menang dengan Ban-Cu-liang yang munafik dan bernama palsu itu. Sekarang ibu orang she Ban itu mengganggu lagi anak buahku, apakah hal ini dapat aku tinggal diam? Maka janganlah kamu ikut campur agar tidak terjadi sengketa di antara kita.”

Poa-Ce-sia heran, “Selama hidup Ban-Cu-liang terkenal jujur dan tulus, Lian-thian-san-ceng kalian juga jauh di sana dan tidak pernah bersengketa dengan orang, entah mengapa Ling-siau-ceng-cu jadi bermusuhan dengan Ban-tay-hiap?”

“Jujur dan tulus? Hmk!” jengek Ling-Peng-hi. Coba katakan, saudara angkatku. Hi-Toan-kah selama hidup terkenal gagah ksatria, tapi orang she Ban itu justru menyiarkan desas-desus, katanya dia pernah dikalahkan si pendusta besar Pui-Po-giok sehingga nama baik saudaraku itu runtuh habis-habisan, apakah caranya ini terhitung jujur dan tulus?”

“Oo, ini …” Poa-Ce-sia jadi gelagapan.
Urusan Pui-Po-giok memang sudah tersiar sebagai perkara yang sukar dimengerti di dunia kang-ouw, Poa-Ce-sia sendiri tidak tahu seluk-beluk urusan itu sehingga tidak dapat memberi penjelasan, apalagi membela nama Ban-Cu-liang.

Mendadak Ban-lo-hu-jin berteriak, “Ai, anak yang tidak berbakti memang sudah lama melukai hatiku, jika kau tahu di mana ia berada, harap aku dibawa ke sana, akan aku hajar dia supaya selanjutnya dia menghargai orang tua.”

Centing yang dicengkeram oleh Ban-lo-hu-jin itu tidak gentar meski tidak dapat berkutik, mendadak ia berteriak, “Kabarnya Ban-Cu-liang berada tidak jauh dari sini, kalau tidak masakah cu-kong muda kami terburu-buru menyusul kemari?”

Mendadak Ban-lo-hu-jin melepaskan centing itu, dengan langkah limbung dan tongkat agak gemetar ia mendekati Ling-Peng-hi, ucapnya dengan tersenyum dengan napas agak tersengal, “Ayo kita berangkat bersama, kebetulan aku pun ingin bikin perhitungan dengan binatang kecil itu dan sekalian untuk melampiaskan rasa gemasmu.”

Ucapan ini membuat Ling-Peng-hi tercengang malah, menghadapi nenek yang bicara dengan tertawa, dengan napas tersengal, dengan langkah reyot, dengan kata-kata yang memelas, tentu saja ia tidak sampai hati untuk bersikap kasar padanya.

Centing itu membawakan kuda, setelah termenung sejenak, mendadak Ling-Peng-hi mengentak kaki terus mencemplak ke atas kuda. Pada saat yang hampir sama Ban-lo-hu-jin juga melompat ke atas kuda tunggangan si centing tadi dan berkata, “Biarlah orang muda saja yang berjalan kaki, kuda ini dipinjamkan kepada nenek.”

Habis berkata, ia tepuk pantat kuda dan dilarikan secepat terbang. Segera Ling-Peng-hi ikut ke sana.

“Kabarnya Ban-Cu-liang tinggal di Koai-cip-wan, jangan Siau-ceng-cu salah alamat!” seru si centing.

Sementara itu kusir kereta yang mengangkut peti mati tadi entah telah lari ke mana, kereta kuda ditinggal begitu saja. Poa-Ce-sia menyuruh si centing menggunakan kuda kereta itu, lalu ia pun menyusul ke sana dengan cepat.

Meski arah Koai-cip-wan terletak di jurusan yang berlawanan dengan Thay-san dan para ksatria itu juga terburu-buru hendak pergi ke Thay-san tapi ada tontonan menarik, semuanya ingin melihatnya. Maka beramai-ramai mereka pun ikut menuju ke Koai-cip-wan yang terkenal dan terletak di tepi selatan Tiang-kang.

Taman hiburan itu memang indah permai, pepohonan tumbuh rindang, bunga mekar semarak, banyak gunung-gunungan palsu dengan gardu pemandangan yang cantik, kolam dengan sungai kecil yang menyusuri petamanan itu menambahi keindahan tempat tamasya ini.

Banyak orang yang berkumpul di taman hiburan ini sesuai namanya, Koai-cip-wan artinya taman ria tempat berkumpul. Di berbagai rumah hiburan yang terdapat di dalam taman ramai dengan suara orang gelak tawa, suasana terasa meriah.

Pada saat itu, di samping gunung-gunungan yang terletak di tengah rumpun bambu saja seorang sedang berjalan mondar-mandir dengan menggendong tangan, namun sorot matanya tampak mencorong aneh.

Di sekeliling orang ini yang berjarak belasan tombak jauhnya, di tempat yang agak gelap dan tidak tercapai oleh cahaya lampu, di bawah pohon atau di samping gunung palsu terdapat pula satu atau dua sosok bayangan orang, semua seperti sedang mengintai orang yang mondar-mandir sendirian ini.

Lebih jauh di semak-semak pohon sana terdapat lagi seorang yang berkopiah semangka dan berbaju hijau sedang memandang serumpun bunga yang hampir layu, hanya terkadang ia pun menoleh dan memandang satu dua kejap ke tengah rumpun bambu. Namun orang yang mondar-mandir di hutan bambu itu seperti tenggelam sama sekali dalam lamunannya, terhadap apa yang terjadi di sekitarnya seakan-akan tidak ambil pusing.

Sekonyong-konyong seorang berlari datang dengan tergesa-gesa, menyusur jalan kecil berbatu, melintas jembatan papan, menuju ke sebuah ?????? yang diterangi oleh cahaya lampu dan berlabuh di tepi sungai kecil sana.

Suara langkah yang tergesa-gesa itu mengejutkan orang yang sedang melamun dan mondar-mandir di tengah hutan bambu itu, juga mengacaukan suasana riang orang yang berkumpul di sampan hias.

Pemilik taman hiburan, Ce-Sing-siu, berdiri dengan kening berkerenyit, ia melongok keluar sampan dan menegur, “Ada urusan apa pakai lari-lari seperti diuber setan?”

Pemuda yang lari kesetanan itu berhenti di dekat sampan dengan napas terengah-engah, katanya sambil menuding ke arah datangnya tadi, “Ada … ada seorang ksatria besar … ”

“Setiap hari juga datang banyak ksatria dari berbagai penjuru, memangnya ksatria siapa pun yang datang sehingga membuatmu sedemikian gugup?” tanya Ce-Sing-siu dengan kurang senang.

“Tapi orang ini tidak … tidak sama …”

“Tidak sama apa? Siapa orang yang kau maksudkan?”

“Dia … dia adalah ksatria yang sering disinggung oleh Suhu, yaitu Siau-ceng-cu Lian-thian-san-ceng Ling-Peng-hi.”

Belum habis penuturannya, serentak Ce-Sing-siu meraba bekas luka pada wajahnya, bekas luka yang ditinggalkan Thian-siang-hui-hoa Ling-Peng-hi tahun yang lalu. Selain meninggalkan bekas luka pada mukanya, juga Ling-Peng-hi meninggalkan jiwa Ce-Sing-siu.

Sampai sekarang Ce-Sing-siu sendiri belum lagi tahu apakah dia harus berterima kasih kepada Ling-Peng-hi atau harus benci padanya. Ia termenung sejenak dengan menunduk, lalu berucap dengan menghela napas, “Ya, sudahlah. Silakan dia kemari.”

Waktu ia mendongak, ternyata Ling-Peng-hi sudah berada di depannya.

Cepat Ce-Sing-siu melompat keluar dari sampan dan menyapa, “Maaf tidak dilakukan sambutan yang layak atas kunjungan Ling-heng …”

“Antara kita tidak perlu sungkan,” jengek Ling-Peng-hi, “Aku cuma ingin tanya padamu, saat ini Ban-Cu-liang dan ketujuh murid utama ketujuh aliran itu berada di mana?”

“Ban-tai-hiap maksudmu? Bilakah dia datang kemari?” jawab Ce-Sing-siu dengan melengak, “Ah, kabar yang tersiar sering tidak benar, mungkin Ling-heng salah informasi.”

“Memangnya untuk apa orang membohongi itu?” kata Ling-Peng-hi dengan ketus.

Tiba-tiba dari tempat tersembunyi seorang berteriak, “Meski Ban-Cu-liang tidak pernah datang kemari, tapi di antara Jit-tai-tecu (ketujuh murid utama) jelas ada yang hadir di sini. Hendaknya Ling-siau-ceng-cu jangan sampai ditipu Ce-Sing-siu.”

Ling-Peng-hi tertawa dingin, dengan sorot mata tajam ia tatap Ce-Sing-siu, katanya, “Jangan-jangan ketujuh murid utama itu pun serupa Pui-Po-giok, hanya kaum pembual belaka dan tidak berani menemuiku setelah mengetahui orang she Ling lagi mencarinya?”

“Ah, masa …”

Belum lanjut ucapan Ce Sing-siu, mendadak seorang melompat keluar dan berteriak, “Di antara Jit-tai-tecu memang ada yang hadir di sini, lantas kamu mau apa?”

Orang ini beralis panjang tebal, air mukanya angker, siapa lagi selain Nyo-Put-loh.

Sepintas pandang dia kelihatan sehat, tapi bila diamati, air mukanya tampak pucat, semangat lesu, sorot matanya juga agak buram, jelas orang yang menanggung rasa sedih kalau bukan habis sakit berat.

Orang yang berada di tengah hutan bambu tadi tampak emosi demi melihat kemunculan Nyo-Put-loh, segera ia bermaksud menerjang ke luar, tapi urung, sorot matanya yang emosional penuh rasa pedih pula.

Terdengar Ling-Peng-hi lagi berkata, “Di antara Jit-tai-tecu hanya kamu seorang saja yang di sini?”

“Melulu orang she Nyo seorang saja sudah cukup menghadapi manusia latah semacam dirimu.” jawab Nyo-Put-loh dengan bengis.

“Bagus!” sahut Ling-Peng-hi. “Biarlah orang she Ling belajar kenal dengan kungfu Wi-yang-pai.”

Sekali putar, tahu-tahu senjata khas Cin-thian-pit sudah dilolos keluar.

Ce-Sing-siu melompat maju dan menghadang di depan Nyo-Put-loh, katanya dengan kuatir, “Bok-tai-hiap dan lain-lain tidak berada di sini, mana Nyo-tai-hiap boleh turun tangan sendiri?”

“Justru karena mereka tidak berada di sini, kalau aku tidak turun tangan lantas siapa lagi yang akan maju?” ujar Nyo-Put-loh, lalu ia tampak lebih dekat ke arah Ling-Peng-hi.

Keadaan Nyo-Put-loh sekarang serupa Pui-Po-giok menghadapi Au-yang-thian-kiau tempo hari, walaupun tahu pasti akan kalah terpaksa harus bertempur juga demi nama dan kehormatan.

“Keluarkan senjatamu!” teriak Ling-Peng-hi.

“Eng-jiau-lik (tenaga cakar elang) Wi-yang-tai tidak tertahankan oleh kekuatan apa pun, biarpun senjata paling tajam di dunia ini juga tidak dapat menandingi cakar elang orang she Nyo, apalagi cuma potlot bajamu,” jengek Nyo-Put-loh.

Ling-Peng-hi tertegun sejenak, mendadak ia terbahak-bahak, katanya, “Haha, setelah bertemu sekarang baru kutahu Nyo-Put-loh ternyata juga orang yang sok berlagak.”

“Sok berlagak apa maksudmu?” teriak Nyo-Put-loh dengan gusar.

“Sudah jelas kau tahu senjataku Cin-thian-pit ini serba guna dan sukar dilawan, kau tahu kalau tidak menggunakan senjata tentu aku pun tidak enak untuk menempurmu dengan senjata, lantaran kamu tidak berani menghadapi potlot bajaku ini dengan sendirinya kamu berlagak hendak melawan senjataku dengan bertangan kosong.”

Mendadak Nyo-Put-loh memang gusar, sekali putar ke sana, secepat kilat ia lolos sebilah golok dari pinggang seorang penonton, bentaknya kemudian, “Nah, senjata apa pun yang kau gunakan boleh maju saja sekarang.”

“Haha, bagus! Dalam sepuluh jurus jika orang she Liang tidak dapat menjatuhkanmu, biarlah seterusnya aku lantas pulang ke kampung dan takkan berkecimpung di dunia kang-ouw lagi. Nah, silakan mulai!”

Tanpa bicara lagi golok Nyo-Put-loh lantas membacok. Padahal permainan golok bukan kungfu andalan Wi-yang-pai, namun bacokan golok Nyo-Put-loh ini ternyata sangat dahsyat dan membuat pemilik golok semula merasa kagum, sebab merasa kepandaian orang lebih lihai daripadanya.

Poa-Ce-sia, Ce-Sing-sia dan lain-lain tampak merasa sedih. Sementara itu para ksatria juga sudah berkerumun. Ban-lo-hu-jin sembunyi di tengah orang banyak, sebelum ada kesempatan baik baginya tidak nanti dia mau memperlihatkan diri.

Ketika golok Nyo-Put-loh membacok, Ling-Peng-hi tetap diam saja tanpa bergerak, tampaknya golok sudah hampir membelah batok kepalanya, pada detik terakhir barulah ia menggeser sedikit, cukup bergeser sedikit saja sudah bebas dari rengutan maut.

Betapa tenang dan betapa jitu caranya menghadap serangan maut itu sungguh membuat orang sangat kagum.

Sementara itu Cin-thian-pit Ling-Peng-hi tahu-tahu juga sudah balas menyerang, jurus serangannya seperti biasa saja, namun cepatnya dan arahnya yang tepat sukar untuk dilukiskan. Tahu-tahu beberapa hiat-to penting di dada Nyo-Put-loh sama terancam.

Cepat Nyo-Put-loh berputar, golok berkepala setan segera menebas lagi secepat kilat.

Diam-diam Poa-Ce-sia menghela napas gegetun, katanya perlahan, “Keadaan Nyo-Ji-thiap sendiri kurang sehat, senjata juga tidak biasa digunakan, sekarang dia menyerang secara nekat, mungkin dalam sepuluh jurus ia benar-benar akan kecundang.”

“Ya, apalagi cundrik andalan Ling-Peng-hi itu selama ini menggetar dunia kang-ouw, sekali serang sudah mendahului pihak lawan, jangan-jangan tokoh Wi-yang-pai kita ini akan runtuh di tangannya hari ini.”

“Semoga sekarang ada orang yang berani menggantikan Nyo-ji-thiap, kalau tidak …”

“Siapakah yang hadir di sini sekarang mampu menandingi Ling-Peng-hi?” ujar Ce-Sing-siu dengan tersenyum getir.

“Jurus keempat … jurus kelima! Aha, tampaknya tidak sampai sepuluh jurus orang she Nyo itu pasti akan dijatuhkan!” tiba-tiba seorang berteriak dari tempat gelap.

Memang benar, dalam lima jurus saja Nyo-Put-loh tampak sudah berkeringat, urat hijau sama menonjol di keningnya, gerakan goloknya juga mulai lamban …

Pada saat yang sama orang yang mondar-mandir di hutan bambu itu juga penuh rasa pedih, penuh pertentangan batin. Dalam kegelapan tidak kelihatan air mukanya, tapi dapat terlihat jari tangan rada gemetar.

“Agaknya ia tidak tahan berpeluk tangan membiarkan Nyo-Put-loh menghadapi maut dan sebentar nama baiknya akan tamat selamanya. Tapi dia justru tidak dapat tampil, sebab kalau dia tampil selain akan menghancurkan Nyo-Put-loh juga akan menghancurkan dirinya sendiri.

Sementara itu jurus serangan keenam Ling-Peng-hi sudah dilontarkan, cahaya perak sudah mengurung rapat seluruh tubuh Nyo-Put-loh, siapa pun dapat melihat dalam waktu sekejap lagi Nyo-Put-loh pasti akan dirobohkan.

Selagi pikirannya penuh diliputi pertentangan batin, bertindak atau tidak?

Tiba-tiba dari balik gunung-gunungan sana orang berseru, “Pui-Po-giok … ”

Kata-kata itu serupa anak panah yang menembus hulu hatinya. Tubuh orang ini tergetar dan tidak berpaling. Tapi tidak perlu dijelasksn lagi dia memang benar Pui-Po-giok yang baru lolos dari sarang iblis itu.

Suara tadi bergema pula, “Pui-Po-giok, lantaran membelamu Nyo-Put-loh sedang bertempur mati-matian, tampaknya segera akan kecundang dan kau sendiri malah sembunyi di sini apakah kamu tidak punya perasaan?”

“Siapa kau ?” tanya Po-giok tanpa menoleh.

“Tidak perlu tanya seharusnya dapat kau terka,” sahut orang itu.

Dalam waktu singkat, pembicaraan mereka itu, sementara Ling-Peng-hi sudah melancarkan serangan jurus kedelapan. Sinar perak berkelebat dan Nyo-Put-loh mengangkat golok menyongsong cahaya perak.

Meski ia menyadari goloknya sukar menangkis tenaga serangan cundrik Ling-Peng-hi, namun selain menangkis memang tiada jalan lain, juga tidak sempat lagi baginya untuk mengelak. Jadi tidak ada pilihan lain baginya.
Ketika cahaya perak kontak dengan sinar golok, cahaya perak mendadak berhenti, ujung Cin-thian-pit beradu dengan mata golok. Bilamana cahaya perak itu bekerja lebih keras, kontak golok Nyo-Put-loh pasti akan terlepas. Keadaan Nyo-Put-loh sekarang serupa cacing terhimpit batu dan hanya bisa pasrah nasib belaka.

Melihat keadaan yang menentukan itu, semua orang ikut tegang dan menahan napas. Namun Ling-Peng-hi tidak segera menekan lebih lanjut. Air mukanya yang dingin kaku itu menampilkan sikap mengejek, dengusnya kemudian, “Nyo-Put-loh, jika kamu tidak menghendaki gempuranku lebih lanjut, asalkan kamu mengakui Pui-Po-giok adalah pendusta dan Ban-Cu-liang memang manusia pembual dan penipu, maka segera kutarik kembali senjataku.”

Meski Nyo-Put-loh menggertak gigi sekuatnya, tak urung tubuh pun gemetar saking menahan rasa gusar.

Di sebelah sana Pui-Po-giok juga sedang berkata dengan suara gemetar, “Kamu orang Ngo-hing-mo-kiong, kalian melepaskan diriku, tapi memusnahkan ilmu silatku, tujuan kalian adalah supaya aku menghadapi penderitaan seperti sekarang ini bukan?”

Orang tidak kelihatan itu tertawa, jawabnya “Betul, saat ini seharusnya kau tahu, dunia kang-ouw sudah buntu bagimu, maka lebih baik kembali saja kepada kami, dunia seluas ini hanya Ngo-hing-mo-kiong saja yang masih dapat menerimamu. Tentunya kau pun tahu, di dunia ini tiada seorang pun yang percaya padamu kecuali Ngo-hing-mo-kiong kami.”

Gemeretuk gigi Po-giok dan tangan terkepal erat, namun tidak sanggup menjawab.

Terdengar di sana Ling-Peng-hi sedang berkata, “Nyo-Put-loh, sekarang seharusnya kau tahu bahwa nama dan jiwamu sudah tergenggam di tanganku, setiap saat dapat aku hancurkan dirimu. Maka hendaknya kau pikirkan lagi, kamu mau bicara atau tidak?”
Nyo-Put-loh juga menggertak gigi sekuatnya sehingga urat hijau pada keningnya menonjol terlebih besar.

Melihat wajah Nyo-Put-loh yang penuh derita dan menahan murka itu, mendadak Po-giok membuka tangan yang terkepal, rupanya ia sudah mengambil suatu keputusan. Ia tahu meski kungfu sendiri sudah musnah dan sukar bertempur lagi, tapi bila dia maju keluar, maka Ling-Peng-hi akan segera berhenti menyerang dan Nyo-Put-loh dapat diselamatkan.

Ia sudah mengambil keputusan demi orang lain terpaksa harus mengorbankan diri sendiri. Dengan langkah lebar segera ia keluar dari hutan bambu, serunya, “Inilah Pui-Po-giok berada di sini, harap Ling-siau-ceng-cu berhenti!”

Seketika kawanan ksatria yang berkerumun itu sama melengak, habis itu suasana berubah menjadi gempar. Beramai-ramai mereka lantas memberi jalan lewat.

Seorang pemuda cakap tampak muncul menerobos kerumunan orang banyak. Di bawah pandangan orang banyak yang heran, hina dan curiga, langkah si pemuda mantap tanpa terpengaruh. Entah siapa yang berseru di tengah orang banyak, “Aha, memang betul dia Pui-Po-giok!”

Mendadak Ling-Peng-hi melompat mundur seringan burung terbang. Menyusul terdengar suara “trang”, golok Nyo-Put-loh jatuh ke tanah, tubuh pun jatuh terduduk sambil menatap Po-giok dengan sorot mata yang aneh entah girang entah marah.

Ketika cahaya perak berkelebat, tahu-tahu Ling-Peng-hi sudah berada di depan Pui-Po-giok, keduanya saling tatap sampai sekian lama tanpa bicara.

“Hm, kiranya beginilah bentuk Pui-Po-giok!” jengek Ling-Peng-hi kemudian, “Tadinya kukira seorang penipu tentu berbentuk agak berbeda daripada orang lain.”

“Karena itu anda merasa kecewa, begitu bukan?” tanya Po-giok dengan tersenyum.
Ling-Peng-hi tertawa latah, katanya, “Ya, memang betul, orang she Ling memang kecewa …”

“TapI rasa kecewaku jauh melebihimu,” ujar Po-giok tertawa. “Semula kukira Ling-siau-ceng-cu dari Lian-thian-san-ceng tentulah seorang ksatria gagah perkasa, siapa tahu dia cuma pandai mengambil kesempatan pada saat orang lain terancam bahaya, lalu menarik keuntungan tatkala orang kepepet.”

Tertawa Ling-Peng-hi berhenti seketika, katanya dengan gusar “Huh, kamu penipu, berdasarkan apa kau bicara begitu padaku? Jika aku tidak bertindak demikian, memangnya penipu licik semacam dirimu dapat dipancing keluar?”

“Sekarang aku sudah berada di sini, kau mau apa?” tanya Po-giok.

“Aku mau apa, tanpa kukatakan kentu kau pun tahu,” sahut Ling-Peng-hi ketus.

“Hah, jika begitu, ayo silakan!” habis berkata, segera Po-giok menyurut mundur satu langkah dengan sikap tegak. Ia sudah bertekad mengorbankan diri, dengan sendirinya ia sangat tenang.

Suasana sekeliling seketika berubah sunyi, semua orang menahan napas dan ingin tahu kejadian selanjutnya.

Cundrik Ling-Peng-hi sudah terangkat, namun sekian lama serangannya tidak dilancarkan.

Kembali terjadi kegaduhan di tengah orang banyak. Jika Ling-Peng-hi sudah tahu Pui-Po-giok cuma seorang pendusta, mengapa dia masih berlaku hati-hati dan tidak berani menyerang?

Padahal Pui-Po-giok berdiri tegak begitu saja, tanpa pasang kuda-kuda, tiada kelihatan siap tempur, malahan sekujur badan tidak terjaga. Bilamana cundrik, Ling-Peng-hi menyerang dari arah mana pun sekaligus pasti dapat merobohkan anak muda itu. Namun ketenangan luar biasa Pui-Po-giok itu berbalik membuat lawan ragu dan sangsi.

Tiba-tiba Poa-Ce-sia berteriak, “Pertemuan Thai-san sudah tinggal satu-dua hari lagi, bilamana Ling-siau-ceng-cu harus duel dengan buat apa mesti terburu-buru dilakukan sekarang?”

Meski tidak menjawab, namun sorot mata Ling-Peng-hi sudah menampilkan rasa setuju. Selama hidupnya entah berapa kali bertempur dengan orang, namun tidak pernah menghadapi lawan setenang ini. Tidak mudah ia memupuk namanya dengan sendirinya ia pun tidak mau menyerempet bahaya yang mungkin menjatuhkan namanya.

Segera Ce-Sing-siu menukas, “Memang betul ucapan Poa-tai-hiap. Para kawan datang dari jauh semuanya terhitung tamuku, jika persengketaan ini sementara disudahi, marilah kuhormati kalian barang beberapa cawan, sungguh peristiwa yang menyenangkan.”

Meski pertarungan seru ini sangat dinanti-nantikan para ksatria dan ingin menyaksikan kekalahan Pui-Po-giok, tapi Poa-Ce-sia dan Ce-Sing-siu sudah bicara demikian. Ling-Peng-hi juga kelihatan ada maksud menyudahi persoalan ini siapa pula yang berani menentang?

perlahan cundrik yang dipegang Ling-Peng-hi mulai diturunkan. Sambil menatap senjata lawan yang menurun itu, diam-diam Po-giok menarik napas lega. Meski ia tidak takut mati, tapi kalau boleh tidak mati, tentu saja itulah yang diharapkan.

Siapa tahu pada saat itu juga mendadak seorang tertawa dingin, sesosok bayangan orang melayang tiba dan hinggap di tengah kalangan, siapa lagi dia kalau bukan Ban-lo-hu-jin.

Melihat nenek ini, kening Poa-Ce-sia lantas berkerenyit. Ia tahu orang tua ini paling dunia ini kacau, paling senang bila orang lain sama berkelahi.

Terdengar nenek itu mengejek, “Ai musik sudah berbunyi, lagu pengantar sudah bergema mengapa sandiwaranya belum main? Wah rasanya Ling-siau-ceng-cu agak mengecewakan para penonton hari ini.

Dengan gusar Ling-Peng-hi mengacungkan cundriknya dan membentak, “Apakah kamu saja yang bergerak denganku?”

“Ai selamanya aku tidak ada permusuhan dengan Siau-ceng-cu, buat apa kita harus berkelahi?” ujar Ban-lo-hu-jin dengan terkekeh. “Tapi kalau hari ini Siau-ceng-cu sudah lelah, boleh juga kuwakilkanmu untuk menghajar pendusta dunia kang-ouw ini.”

Rupanya ia yakin Ling-Peng-hi pasti takkan tahan oleh kata-katanya yang provokatif dan tidak nanti membiarkan seorang tua mewakili dia.

Siapa duga, setelah memandangnya sekejap, tiba tiba Ling-Peng-hi mendengus, “Hm, jika benar kau ingin turun tangan, baik, aku serahkan padamu.”

Lalu ia menyingkir ke samping. Meski dia angkuh dan latah tapi bukanlah orang dungu. Sekarang Ban-lo-hu-jin sengaja digunakannya sebagai batu ujian. Bilamana nenek itu kalah sedikit banyak akan dapat diketahuinya betapa tinggi ilmu silat Pui-Po-giok. Sebaliknya kalau Ban-lo-hu-jin menang, kemudian baru ia turun tangan merobohkan nenek itu, dengan demikian kemenangannya akan tambah gemilang.

Merasa salah hitung, berubah air muka Ban-lo-hu-jin, katanya gugup. “Wah, Siau-ceng-cu kan …”

Tapi Ling-Peng-hi mendengus lagi, “Jika kamu sudah menyatakan ingin turun tangan, maka lekas maju. Bila sengaja kau main gila denganku, sedikit banyak akan kuminta pertanggungan jawabmu.”

Keruan Ban-lo-hu-jin melengong, jawabnya kemudian sambil menyengir, “Ai, masakah aku jeri terhadap anak ingusan seperti itu. Nah, Po-ji cilik, kau minta aku hajar adat padamu.”

Po-giok hanya menghela napas tanpa menjawab.

Ban-lo-hu-jin terkekeh, katanya, “Po-ji, sejak kecil aku lihat kamu dewasa, mana dapat kau tandingi diriku. Lebih baik menyerah saja dan tidak perlu … ”

Sembari bicara ia terus melangkah ke depan, tapi baru beberapa langkah, mendadak ia pegang perutnya dengan setengah menungging sembari mengeluh, “Wah, sialan, perutku terasa mules …”

“Tidak peduli perut mules atau tidak, tetap harus aku labrak dia,” kata Ling-Peng-hi.

“Sudah tentu, cuma aku harus kuras perut dulu. Hendaknya kaum lelaki kalian jangan mengintip …” sambil bicara ia terus lari ke tengah kerumunan orang banyak dengan sebelah tangan memegangi celana.

Para ksatria sama tertawa geli dan banyak yang menggeleng kepala, tapi beramai memberi jalan padanya.

Bentak Ling-Peng-hi dengan gusar, “Hm, jika kamu bermaksud lari, naik ke langit pun akan kususul.”

“Lari? Siapa mau lari? Oya, Po-ji cilik, kamu jangan lari, sebentar kudatang lagi untuk hajar adat padamu,” sembari berseru Ban-lo-hu-jin melangkah terlebih cepat dan sekejap kemudian lantas menghilang.

Ling-Peng-hi tahu sekali nenek itu merat jelas takkan kembali lagi kebelet, terpaksa ia menggerutu, “Sialan, sungguh tua bangka yang tidak tahu malu. Hehe, ibunya begitu, bagaimana kadar anaknya dapatlah dibayangkan.”

Kembali Po-giok menghela napas dan semua orang pun merasa kecewa, mereka tahu hari ini tidak mungkin menyaksikan pertarungan menarik lagi, maka sebagian orang lantas mulai bubar.

Sementara itu Ban-lo-hu-jin telah lari masuk ke hutan bambu sana, setiba di balik gunung-gunungan yang gelap, segera ia berjongkok sambil celingukan kian kemari. Setelah yakin tidak ada yang menyusulnya, ia tertawa senang dan bergumam, “Huh betapapun kecerdikanmu juga dapat aku kibuli. Memangnya begitu gampang aku akan kau tipu untuk turun tangan?”

Mendadak dari tempat gelap seorang tertawa dan menanggapi, “Hah, jahe memang pedas yang tua.”

Ban-lo-hu-jin terperanjat, segera ia bermaksud berdiri, tapi cepat berjongkok pula sembari memaki, “Kurang ajar, bangsat cilik dari mana, berani mengintip nenekmu yang lagi buang hajat?”

“Eh, masakah ada orang berak tanpa membuka celana, sungguh lelucon yang tidak lucu!” seru orang itu dalam kegelapan dengan tertawa. “Apalagi, aku kan juga orang perempuan, umpama mengintip juga tidak menjadi soal.”

Suara nyaring, tertawanya genit, ternyata suara orang perempuan.

Ban-lo-hu-jin berjongkok lebih ke bawah, tanyanya dengan terbelalak, “Kamu siapa? kau mau apa?”

“Coba kau lihat siapa aku ini?” menyusul suara tertawanya seorang berbaju hijau dan berkopiah semangka muncul dari kegelapan tanpa menimbulkan suara ketika bertindak.

“Sesungguhnya kamu lelaki atau perempuan?” tanya si nenek.

Orang itu tertawa nyaring seperti dering kelening, ia tanggalkan kopiahnya sehingga rambutnya yang hitam panjang terurai, ucapnya dengan tertawa, “Masih kenal padaku?”

Akhirnya Ban-lo-hu-jin berdiri dan menatap orang itu, terlihat wajah yang cantik, alis lentik dan bibir tipis, mata besar jernih. Meski Ban-lo-hu-jin sendiri juga orang perempuan, tidak urung ia terkesima juga melihat gadis semolek ini.

“Ya, pernah aku lihat dirimu, tapi di … di mana, tidak teringat lagi,” gumam Ban-lo-hu-jin. “Sungguh aneh, gadis secantik ini masakah dapat aku lupakan bila sudah aku lihat satu kali saja.”

“Coba ingat-ingat lagi,” kata si gadis baju hijau. “Enam tahun yang lalu … kapal layar pancawarna … Tatkala itu aku masih anak ingusan, biarpun tidak pernah berhadapan pasti juga pernah kau lihat dari jauh.”

“Aha, betul Siau-kong-cu, betul tidak?” seru Ban-lo-hu-jin.

“Betul, memang kutahu kamu pasti kenal diriku,” ujar Siau-kong-cu dengan tertawa.

“Ai, Siau-kong-cu, antara kita tidak ada permusuhan apa pun, janganlah kau bikin susah padaku, kasihan … kasihanilah kepada nenek reyot ini, selamanya takkan aku lupakan budi kebaikanmu.”

Tiba-tiba Siau-kong-cu menghela napas, “Jika kau mau pergi, dengan sendirinya takkan aku rintangimu. Cuma… ai, kalau ada kesempatan baik di depan mata, kan sayang jika kau tinggal pergi begitu saja?”

“Kesempatan baik?” Ban-lo-hu-jin menegas dengan mata terbelalak. “Kesempatan baik apa maksudmu?”

Siau-kong-cu berkedip-kedip, “Apakah kau ingin mengalahkan Pui-Po-giok?”

“Hah, perbuatan yang membanggakan begitu masakah tidak mau. Cuma … cuma untuk mengalahkan rase cilik itu masakah begitu gampang?”

“Asalkan aku beritahukan suatu rahasia padamu, tentu kamu akan tahu bukan pekerjaan sulit untuk mengalahkan rase cilik itu dan dapat dilaksanakan siapa pun.”

“Hah, rahasia apa?” seru Ban-lo-hu-jin kegirangan. “Lekas katakan, rahasia apa? Wah, Tuan Putri yang baik, lekas katakan padaku, memang sudah lama aku benci rase cilik itu.”

“Betul, dia memang rase cilik yang maha licin. Sebab itulah meski sekarang dia kelihatan gagah perkasa, padahal segenap kungfunya sudah punah …”

“Oo, apa betul?”

“tentu saja betul. Buat apa aku bohongimu?”

Sekaligus Ban-lo-hu-jin menjejalkan empat potong manisan ke mulut sehingga tidak sempat tertawa, gumamnya, “Aha, bagus, lihat saja cara bagaimana aku bereskanmu sekali ini.”

“Tapi ingat, kamu hanya boleh mengalahkan dia dan dilarang mengganggu seujung rambutnya, kalau tidak … ” mendadak lenyap tertawa Siau-kong-cu dan menepuk sekenanya gunung gunungan disampingnya.

Ban-lo-hu-jin tidak mendengar sesuatu suara tapi sebagian gunung-gunungan itu mendadak rontok, sungguh tenaga pukulan lunak yang maha sakti. Keruan air muka Ban-lo-hu-jin berubah pucat tanyanya dengan suara gemetar, “Kenapa tidak boleh mengganggu dia?”

“Tentu saja ada alasannya, tapi kau pun tidak perlu tahu, terlebih jangan membocorkan rahasia ini. Kalau tidak, hendaknya kamu jangan menyesal nanti.”

Siau-kong-cu tidak mengucapkan kata-kata keras, namun ucapannya cukup berwibawa dan membuat ngeri orang, nenek licin dan licik semacam Ban-lo-hu-jin juga mengkirik dibuatnya.

“Ai, Siau-kong-cu jangan kuatir, tidak nanti nenek berbuat yang tidak-tidak,” kata Ban-lo-hu-jin.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: