Kumpulan Cerita Silat

19/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:23 am

Pendekar Empat Alis
Buku 06: Perkampungan Hantu
Bab 04: Liok-koangkoan, akhirnya Liok siau-hong punya rumah.
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Hiu_Khu)

Siau-hong berdiri termangu di tengah awan dan entah apa yang sedang dipikirkannya.
Selang agak lama barulah ia mulai melangkah ke depan dan akhirnya mencapai seberang sana. Dilihatnya di depan puncak tebing itu ada seutas benang merah yang terikat melintang pada dua batang galah bambu.

Di kejauhan ada seorang mendengus padanya, “Bila kau terjang benang mati-hidup ini, maka jadilah kau orang mati. Makanya boleh kau pikirkan lagi, akan tetap menyeberang ke sini atau putar balik ke sana.”

Dalam hati Siau-hong juga bertanya-tanya kepada diri sendiri, “Terjang ke sana atau putar balik?”

Menerjang ke sana berarti orang mati, kalau putar balik mungkin juga Cuma ada jalan kematian.
Tiba-tiba Siau-hong tertawa, gumamnya, “Terkadang timbul hasratku untuk mati, tapi tidak pernah mati. Tak tersangka hari ini aku dapat mati dengan semudah ini.”

Dengan tersenyum ia lantas melangkah ke seberang dengan gaya yang santai, memasuki dunia lain yang sebelumnya tidak pernah dibayangkannya. Dunianya orang mati.

Sejauh mata memandang, tetap awan melulu, hampa dan tiada terlihat apapun, sampai Kau-hun-sucia tadi juga entah berada dimana, juga Tokko Bi entah pergi kemana. Sesungguhnya tempat apa ini?

Dengan membusungkan dada, segera Liok Siau-hong melangkah ke depan, malahan mulutnya juga tidak mau menganggur, ia bernyanyi pula, “Goyang digoyang, ooi, sampai di seberang, ooi ….”

Belum rampung bernyanyi, mendadak dari samping sana ada suara orang meratap, “O, kasihilah diriku, ampun!”

Suara ratapan itu berkumandang dari sebuah rumah gubuk kecil. Gubuk berwarna putih kelabu, berada di tengah remang awan begini perlu mengamat-amatinya dengan cermat baru dapat menemukan gubuk sekecil ini

Akhirnya Siau-hong dapat melihat, namun cuma gubuk itu yang terlihat dan tidak melihat orang.

Suara rintihan itu belum lagi berhenti, maka Siau-hong lantas bertanya, “Apakah engkau terluka?”

“Aku tidak terluka, tapi hampir mati,” jawab orang itu suasana perempuan muda. “Hampir mati oleh karena nyanyianmu.”

“Jika engkau sudah berada di sini, dengan sendirinya kau pun orang mati, apa alangannya bila mati sekali lagi?” ujar Siau-hong.

“Nyanyianmu itu, setan hidup saja tidak tahan, apalagi orang mati?”

Maka tergelaklah Liok Siau-hong.

Suara di dalam gubuk itu bertanya pula, “Apakah kau tahu siapa yang menolong kau tadi?”

“Apakah engkau?”

“Tepat, memang aku,” tiba-tiba suara tertawanya kedengaran sangat manis. “Aku she Yap bernama Ling. Orang lain suka memanggilku Siau-yap (Yap cilik).”

“Ehm, nama yang bagus,” puji Siau-hong.

“Namaku juga tidak jelek. Cuma aku tidak mengerti, lelaki besar mengapa bernama Siau-hong-hong segala.”

Siau-hong menyengir, jawabnya, “Namaku Liok Siau-hung dan bukan Siau-hong-hong.”

“Memangnya apa bedanya?”

“Hong-hong kan sepasang dan bukan seekor, Hong yang satu jantan, Hong yang lain betina.”
Perlahan Siau-hong melangkah ke sana, mendadak suasana dalam rumah menjadi hening, selang agak lama baru terdengar Yap Ling menghela napas perlahan dan berkata, “Diriku tidak lebih cuma sehelai yap (daun) kecil saja, bukan sepasang, juga tidak tahu apakah jantan atau betina?”

“Untuk ini kukira tidak perlu kau kuatir.” ujar Siau-hong. “Kujamin, cukup kupandang sekejap saja segera dapat kubedakan apakah kau ini jantan atau betina.”

Mendadak ia menolak pintu dan menyelinap ke dalam. Dipandang dari luar, gubuk itu memang teramat kecil, sesudah di dalam, rasanya terlebih sempit lagi seperti rumah burung merpati. Namun meski kecil burung merpati, isi perutnya juga komplit. Gubuk inipun serupa rumah orang lama. Lengkap dengan segala pe rabotnya, malahan juga tersedia sebuah ‘Be-thang’ bercat merah, yaitu tong kayu tempat membuang hajat atau sejenis kloset yang dikenal zaman sekarang.

Siau-hong berminat terhadap ‘Be-thang’ itu, tapi sekarang dia justru memperhatikan tempat berak itu. Sebab pada waktu dia masuk ke gubuk ini, dilihatnya seorang nona cilik berbaju merah justru lagi nongkrong di atas ‘Be-thang’ itu.

Kalau orang berak sedikitnya celana harus dipelorotkan ke bawah, tapi nona cilik itu duduk di atas ‘Be-thang’ dengan pakaian rapi, malahan melototi kedatangan Siau-hong dengan mata terbelalak.

Muka Siau-hong menjadi merah sendiri.

Apapun juga, jika seorang anak perempuan sedang nongkrong di atas kloset, kan tidak pantas tempat itu dimasuki seorang lelaki.

Tapi dia sudah kadung masuk ke situ, jika lari keluar lagi bisa tambah tidak enak?

Orang salah biasanya suka main gertak dulu, maka Siau-hong juga lantas menegur dengan tertawa, “Memangnya engkau biasa menerima tamu sambil nongkrong di atas ‘Be-thang’?”

Nona yang mengaku bernama Yap Ling itu menggeleng kepala, jawabnya, “Hanya dalam dua macam keadaan barulah kududuk di atas ‘Be-thang’.”

Keadaan yang satu itu tentu tidak perlu ditanyakan lagi, sebab hal itu pasti dilakukan oleh setiap manusia. Lantas apa keadaan semacam lagi?

“Yaitu bilamana dari ‘Be-thang’ ini ada barang akan menerobos keluar,” tutur Yap Ling.

Maka Siau-hong tidak jadi tertawa lagi, memangnya selain bau busuk, barang apa yang bisa menerobos keluar dari tong kotoran itu?

“Apakah kau ingin melihat apa isi tong ini?” tanya Yap Ling.

Cepat Siau-hong menggoyang kepala dan menjawab, “Tidak.”

“Tetapi sayang, biarpun tidak ingin melihat tetap harus kau lihat.

“Mengapa begitu?” tanya Siau-hong.

“Sebab barang di dalam tong ini akan kuberikan padamu.”

“Jika aku tidak mau, apa tidak boleh?”

“Tentu saja tidak boleh,” ujar Yap Ling.

Ketika melihat nona itu berdiri dan hendak membuka tutup be-thang, hampir saja Siau-hong kabur sambil memencet hidung.

Tapi dia tidak jadi kabur, sebab bau be-thang ternyata tidak busuk, sebaliknya malah sangat harum.

Bersama dengan tersiarnya bau harum, serentak terbang pula sepasang burung seriti dan sepasang kupu-kupu.

Baru saja burung seriti dan kupu-kupu terbang keluar melalui jendela kecil, seperti main sulap saja. Yap Ling lantas mengeluarkan pula seperangkat pakaian baru, sepasang sepatu halus dengan gulungan kaos kaki, sebotol arak, sepasang cawan, dua pasang sumpit, sebuah kuali, sebuah senduk dan beberapa biji bakpau, akhirnya ada lagi seikat bunga segar.

Siau-hong sampai melongo.

Siapa pun tidak mengira dari dalam tong tempat membuang hajat itu bisa dikeluarkan barang sebanyak itu.

“Burung dan kupu-kupu adalah tanda selamat datang kepadamu.” tutur Yap Ling. “Pakaian dan sepatu tentu cocok dengan ukuranmu. Arak adalah Tiok-yap-jing simpanan lama, isi kuali adalah ayam tim, bakpau juga baru keluar dari kukusan.”

Lalu ia menengadah dan memandang Liok Siau-hong, sambungnya pula dengan hambar, “Apakah kau senang kepada semuanya ini?”

Liok Siau-hong menarik napas, jawabnya, “Senangku setengah mati.”

“Kau mau?” Yap Ling menegas.

“Kunyuk yang tidak mau,” sahut Siau-hong.

Maka tertawalah Yap Ling, tertawa manis serupa madu, seindah bunga, serupa juga rase cilik yang bisa bikin celaka orang dan juga lengket memikat orang.

Siau-hong memandangnya, ia menghela napas pula dan berucap, “Engkau ini betina, tidak pcrlu diragukan pasti, betina.

Waktu Yap Ling memasukkan bunga segar tadi pada pot bunga, arak juga mulai masuk ke perut Liok Siau-hong.

Memandangi Tiok-yap-jing yang tidak mudah dibeli itu tertuang ke dalam perut Siau-hong seperti menuang air, tampaknya si Yap cilik tidak merasa heran, sebaliknya ia merasa sayang. Tiba-tiba ia berucap dengan menyesal, “Hanya ada satu hal yang tidak benar.”

Siau-hong tidak tahu apa yang dimaksudkan.

Maka Yap Ling memberi penjelasan, “Ada orang bilang dirimu ini baik kecerdikan, kungfu, kekuatan minum arak, tebalnya kulit muka dan kesukaanmu kepada perempuan, semuanya jarang ada bandingannya.”

Siau-hong menaruh botol arak yang sudah kosong itu, katanya dengan tertawa, “Sekarang kan sudah kau saksikan kekuatan minum arakku.”

“Ya, aku pun sudah menyaksikan kungfumu,” tukas Yap Ling. “Tadi engkau tidak terjatuh ke dalam jurang, betapapun aku kagum padamu.”

“Tapi aku tidak gila perempuan, orang salah menafsirkan hal ini,” sambung Siau-hong.

“Hal ini juga tidak salah,” kata Yap Ling.

Siau-hong marah, “Apakah pernah aku bertindak kasar padamu?”

“Tidak?” jawab Yap Ling. “Sampai sekarang memang belum. tapi pada waktu kau lihat diriku, kedua matamu lantas ….”

Cepat Siau-hong memotong ucapannya, “Dalam hal apa yang kau maksudkan tidak benar?”

“Mengenai kulit mukamu,” ujar Yap Ling dengan tertawa. “Kulit mukamu ternyata tidak terlalu tebal, sebab kulihat mukamu juga bisa merah.”

“Musti kau kira selama hidupku mukaku tidak pernah merah? Apakah semua keterangan orang itu kau percaya sepenuhnya?”

Yap Ling berkedip-kedip, lalu balas bertanya, “Apakah kau tahu berita ini kudengar dari siapa?”

“Siapa?”tanya Siau Hong.

“Lau-to-pocu,” jawab Yap-ling.

Orang inilah dengan namanya ingin diketahui Liok Siau-hong. mengapa orang ini mempunyai daya pikat sebesar ini?

Ia coba bertanya, “Apakah dia pemimpin kalian?”

“Bukan saja pemimpin kami, juga juragan kami, bapak kami.”

“Sesungguhnya orang macam apakah dia?”

“Seorang yang dianggap sebagai bapak secara sukarela oleh orang banyak, boleh kau bayangkan seharusnya dia orang macam apa?”

“Aku tidak tahu, selama ini tidak ada orang yang sukarela mau menjadi anakku, selama ini aku pun tidak mau menjadi anak orang lain,” ujar Siau-hong.

“Masa cuma ingin kau tahu nama dan asal-usulnya saja?”

Siau-hong tidak dapat menyangkal, “Ya. Itulah yang ingin kuketahui.”

“Jika benar ini tujuanmu, mungkin jiwamu benar-benar bisa melayang,” mendadak sikap Yap Ling berubah kereng. “Bila kau ingin tinggal dengan baik di sini, maka sebaiknya jangan sekali-kali kau cari tahu seluk-beluk orang lain, kalau tidak…”

“Kalau tidak bagaimana?” tanya Siau-hong.

“Kalau tidak, biarpun kungfumu seratus kali lebih tinggi lagi juga setiap saat engkau dapat hilang.”

“Hilang?” Siau-hong menegas.

“Artinya hilang adalah dirimu bisa mendadak tidak kelihatan lagi, di dunia ini pasti tidak ada yang tahu kemana kepergianmu.”

“Di sini sering terjadi orang hilang?’

“Sangat sering.”

Siau-hong menghela napas, “Tadinya kusangka di sini sangat aman dan tertib.”

“Di sini memang sangat tertib, ada tiga tertib.”

“Ketiga tertib apa?” tanya Siau-hong.

“Tidak boleh mencari tahu seluk-beluk orang lain, dilarang membikin marah kepada Lau-pacu, lebih-lebih dilarang membangkang perintahnya.

“Apa yang dia perintahkan juga harus kulaksanakan?”

Yap Ling mengangguk, “Ya, sekalipun dia suruh kau makan najis juga harus kau makan.”

Siau-hong cuma menyengir saja.

Yap Ling bertanya pula, “Kau tahu sebab apa kudatang kemari dan memberitahukan semua ini kepadamu?”

Tertawa Siau-hong berubah menjadi cerah, katanya, “Dengan sendirinya lantaran kau suka kepadaku.”

Yap Ling jadi tertawa juga, “Tampaknya dia memang benar, kulit mukamu memang sangat tebal, mungkin tidak mempan ditusuk pisau.”

Dia tertawa seindah bunga, semanis madu, lalu menyambung pula dengan perlahan, “Tapi awas, jika kau langgar peraturanku, bisa kubeset kulit mukamu untuk kujadikan sandal.”

Mau tak mau Siau-hong menyengir pula, “Sedikitnya kan harus kau beritahu kepadaku apa peraturanmu?”

“Hanya ada dua peraturanku,” tutur Yap Ling. “Jangan merecoki Yap besar dan jangan membiarkan orang perempun masuk ke Liok-kongkoan (kantor Liok).”

“Yap besar juga seorang manusia?”

“Yap besar adalah kakak Yap cilik, Liok-kongkoan adalah tempat kediaman Liok Siau-hong?”.

“Dimana letak Liok-koangkoan?” tanya Siau-hong.

“Di sini,” jawab Yap Ling sambil menunjuk lantai gubuk ini.

Lalu dia menambahkan, “Mulai saat ini tempat inilah rumahmu, malam hari tidur di sini, siang hari sebaiknya juga berdiam saja di sini. Setiap saat bisa kudatang mengontrol dirimu.”

Siau-hong tertawa pula, tertawa yang aneh.

Seketika Yap Ling mendelik. “Kau berani menertawakan diriku.”

“Aku tidak menertawai dirimu, aku menertawakan diriku,” jawab Siau-hong dengan tetawa aneh, tertawa yang mengandung rasa pedih. “Aku sudah hidup 30 tahun, baru pertama kali ini aku mempunyai rumah sendiri dan kamar tidur sendiri ….”

Dia tidak meneruskan, sebab mulutnya mendadak terkancing oleh bibir Yap Ling, bibir yang terasa halus, lunak dan dingin.

Bibir kedua orang hanya berkecupan perlahan saja, mendadak kepala si nona tepat mengenjot perut Liok Siau-hong, pukulan keras lagi berat.

Sampai menungging Liok Siau-hong sambil memegang, perutnya yang tertonjok itu, sebaliknya Yap Ling mengikik tawa dan ber-lari pergi.

“Ingat, perempuan mana pun dilarang masuk ke sini” terdengar suara Yap Ling berkumandang dari luar, “Lebih-lebih Hoa-kuahu Janda Hoa, selangkah pun tidak boleh menginjak tempat ini.”

“Orang apa Hoa-kuahu?” tanya Siau Hong.

“Dia bukan orang melainkan anjing betina, anjing betina pemakan manusia.”

Liok Siau-hong mempunyai empat alis, tapi cuma punya satu tangan.

Dengan tangan kiri ia gosok-gosok perutnya yang kena genjot, dengan tangan kanan ia raba bibir yang dikecup tadi. Air mukanya entah lagi menangis atau tertawa? Mungkin menyengir!

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: