Kumpulan Cerita Silat

19/03/2008

Hina Kelana: Bab 112. Siapa yang Berdiri di Belakang Tho-kok-lak-sian

Filed under: +Hina Kelana, Jin Yong — ceritasilat @ 11:50 pm

Hina Kelana
Bab 112. Siapa yang Berdiri di Belakang Tho-kok-lak-sian
Oleh Jin Yong

Dengan lantang Co Leng-tan menjawab, “Guru kalian mempunyai pandangan jauh dan perhitungan mendalam, beliau adalah tokoh paling hebat dari Ngo-gak-kiam-pay kita, selamanya aku pun sangat kagum padanya. Cuma sayang beliau telah meninggal di Siau-lim-si tempo hari, kalau beliau masih hidup, maka ketua Ngo-gak-pay hari ini rasanya takkan diperebutkan lagi, cukup serahkan saja kepada Ting-sian Suthay.”Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula, “Dahulu di waktu Cayhe berunding tentang penggabungan Ngo-gak-kiam-pay dengan Ting-sian Suthay bertiga, secara tegas Cayhe juga pernah menyatakan bilamana peleburan Ngo-gak-kiam-pay jadi dilaksanakan, maka jabatan ketua Ngo-gak-pay sudah pasti akan kuminta Ting-sian Suthay yang menjabatnya. Tatkala mana Ting-sian Suthay secara rendah hati telah menolak usulku, tapi setelah Cayhe menyarankan dengan sungguh-sungguh, akhirnya Ting-sian Suthay tidak menolak lagi. Tapi, ai, sungguh harus disesalkan, seorang kesatria wanita yang belum merampungkan darmabakti itu sudah mendahului meninggal di Siau-lim-si, sungguh membikin hati sedih dan gegetun.”

Berturut-turut ia dua kali menyebut Siau-lim-si, secara samar-samar ucapannya itu hendak mengingatkan orang bahwa kematian Ting-sian dan Ting-yat Suthay itu adalah perbuatan pihak Siau-lim-si, seumpama pembunuhnya bukan orang Siau-lim-pay, tapi tempat kejadian itu adalah tempat suci yang diagungkan dunia persilatan, namun pembunuh itu tetap berani melakukan kejahatannya, maka betapa pun pihak Siau-lim-pay harus ikut bertanggung jawab.
(more…)

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:23 am

Pendekar Empat Alis
Buku 06: Perkampungan Hantu
Bab 04: Liok-koangkoan, akhirnya Liok siau-hong punya rumah.
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Hiu_Khu)

Siau-hong berdiri termangu di tengah awan dan entah apa yang sedang dipikirkannya.
Selang agak lama barulah ia mulai melangkah ke depan dan akhirnya mencapai seberang sana. Dilihatnya di depan puncak tebing itu ada seutas benang merah yang terikat melintang pada dua batang galah bambu.

Di kejauhan ada seorang mendengus padanya, “Bila kau terjang benang mati-hidup ini, maka jadilah kau orang mati. Makanya boleh kau pikirkan lagi, akan tetap menyeberang ke sini atau putar balik ke sana.”
(more…)

Create a free website or blog at WordPress.com.