Kumpulan Cerita Silat

18/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:22 am

Pendekar Empat Alis
Buku 06: Perkampungan Hantu
Bab 03: Perkampungan Hantu
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Hiu_Khu)

Buron tidak pernah berhenti. Kegelapan tiba pula.

Dalam kegelapan hanya terdengar dengus napas dua orang. Waktu suara dengusan berhenti, orangnya juga roboh terkulai. Tidak peduli apakah tanah di situ kering atau lembab, sama sekali tidak ada hak pilih lagi bagi mereka..

Selangkah pun mereka tidak sanggup lari lagi, biarpun tenggorokan terancam pedang Sebun Jui-soat juga tetap rebah.

Dipandang dalam kegelapan. Pada setiap beberapa pohon selalu ada gemerdepnya setitik sinar bintang.

Cahaya kerlipan fosfor itu sangat lemah, biarpun dalam kegelapan pekat juga perlu diperhatikan benar-benar baru dapat melihatnya. Dan bila ada sedikit cahaya terang saja kerlip fosfor itu segera akan lenyap.

“Apakah kita dapat keluar dengan mengikuti kerlip fosfor itu?” Siau-hong bertanya.

“Ehm.”

“Kau yakin?”

“Ehm.”

Meski keletihan setengah mati sehingga malas untuk bicara, terpaksa Tokko Bi harus menjawab juga, sebab ia tahu Liok Siau-hong pasti akan terus bertanya.

“Ya, kuyakin pasti,” katanya dengan napas terengah. “Sebab asalkan sudah kau ikat perjanjian dengan mereka, maka tidak nanti mereka mengkhianati dirimu.”

“Mereka itu siapa?” Siau-hong lantas bertanya lagi.

“Apakah kau maksudkan orang di San-ceng sana?”

“Ehmm,” kembali Tokko Bi bersuara perlahan.

“San-ceng apa? Dimana letaknya?” Siau-hong masih terus bertanya. “Ada ikatan perjanjian apa antara kalian?”

Tokko Bi tidak menjawab, dari suara napasnya agaknya dia telah tertidur. Apakah dia tidur atau tidak, jelas ia telah mengambil keputusan takkan menjawab lagi pertanyaan Siau-hong.

Agaknya Siau-hong juga merasa dirinya sudah bertanya terlalu banyak, ia lantas tutup mulut juga, malahan ingin tutup mata untuk tidur senyenyaknya.

Tapi dia justru tidak dapat tidur.

Kerlip sinar fosfor di kejauhan itu tiba-tiba dirasakan sebentar jauh sebentar dekat.
Agaknya matanya juga sedemikian letih sehingga jarak dekat atau jauh tak dapat lagi dibedakannya. Tapi mengapa dia sukar pulas? Maklumlah pikirannya sedang bekerja keras.

Hanya dalam kegelapan mutlak saja baru dapat membedakan tanda petunjuk jalan ini. Jika menggunakan obor, kerlip sinar fosfor akan hilang. Pada siang hari lebih-lebih tak tertampak.
Untuk hal ini mungkin juga tak pernah terpikir oleh Sebun Jui-soat, maka dengan sendirinya ia pun takkan menempuh perjalanan dalam kegelapan mutlak begini.

Agaknya penghuni San-ceng atau perkampungan gunung sana sangat cerdik, setiap perencanaan mereka sudah terpikir secara rapi dan sangat bagus.

Apakah Tokko Bi benar-benar akan membawaku ke San-ceng sana?

Dia ada ikatan perjanjian dengan mereka dan aku tidak ada, setibaku di sana, apakah mereka mau menerima diriku?

Apakah di sana benar-benar suatu tempat yang aman dan terahasia sehingga Sebun Jui-soat sekalipun sukar menemukannya?

Mengapa tempat ini hanya boleh didatangi oleh “orang mati”?

Siau-hong tidak bisa pulas, sebab terlalu banyak pertanyaan yang sukar terjawab, semuanya merupakan teka-teki. Sampai kapan baru teka-teki ini dapat dipecahkan?

Kegelapan yang mutlak juga ketenteraman yang mutlak.

Napas Tokko Bi perlahan juga berubah menjadi tenang dan teratur, didengarkan dalam kegelapan jadinya serupa musik saja.

Siau-hong mendengarkan sekian lamanya, ia merasa geli bila membayangkan dengkur Tokko Bi yang serupa nyanyian pada masa kecilnya dahulu.

Ia merasa geli, tapi dia tidak sempat tertawa, sebab pada saat itu juga, dalam kegelapan mendadak bergema suara jeritan ngeri, menyusul lantas “bluk”, tubuh seorang yang mencelat ke atas terbanting dengan keras di atas tanah lumpur

“Siapa?” tegur Siau hong tanpa terasa.

Tidak ada jawaban orang, selang agak lama baru terdengar suara rintihan Tokko Bi dalam kegelapan sana, agaknya terluka.

Siapakah yang menyerangnya dalam kegelapan?

Berdebar hebat jantung Siau hong, kerongkongan terasa kering, tangan basah berkeringat dingin. Maklumlah, dalam kegelapan pekat ini dia tidak dapat melihat apapun.

Selang sekian lama pula baru terdengar keluhan Tokko Bi yang lemah, “Ada … ada ular berbisa.”

Siau hong menghela napas lega, tanyanya., “Darimana kau tahu ada ular?”

“Tempat yang tergigit ini tidak merasakan sakit, tapi kaku pegal, tutur Tokko Bi.

“Di bagian mana lukamu?” tanya Siau Hong.

“Pundak kiri,” jawab Tokko Bi.

Siau hong merayap ke sana dan menemukan pundak kirinya, dirobeknya baju orang, segera jarinya merasakan bagian yang bengkak itu, cepat ia pentang mulut dan mengisapnya dengan kuat tempat luka itu, sampai Tokko Bi berteriak tak tahan barulah berhenti.

“Dapat kau rasakan sakit?” tanya Siau-hong.
“Ehm,” rintih Tokko Bi.

Kalau dapat merasakan sakit berarti bisa ular pada lukanya sudah terisap keluar seluruhnya.

Kembali Siau-hong menghela napas lega, katanya, “Jika masih bisa tidur, boleh tidur lagi. Kalau tidak, duduk saja sebentar, tidak lama lagi fajar akan tiba.”

Tokko Bi merintih kesakitan pula sampai sekian lama, tiba-tiba ia berkata, “Mestinya kau tidak perlu berbuat begini padaku.”

“Oo?!” Siau-hong ingin mendengarkan lebih lanjut.

“Setelah kau tahu jalan keluarnya sekarang, mengapa tidak kau tinggalkan saja diriku?”

Siau-hong termenung hingga lama baru menjawab, “Bisa jadi lantaran engkau masih dapat tertawa.”
Tokko Bi tidak mengerti.

Perlahan Siau-hong menyambung pula, “Sebab kurasakan, seseorang kalau masih bisa tertawa, maka dia tak dapat dianggap seorang yang tidak mau kenal sanak famili lagi.”

Waktu fajar menyingsing, sinar fosfor petunjuk jalan itupun lenyap.

Dekat fajar tiba dapatlah Siau-hong istirahat sejenak.

Ada sementara orang mempunyai kekuatan yang serupa api di padang malam, setiap saat dapat berkobar dengan hebatnya, dan Liok Siau-hong adalah manusia jenis ini.

Sekali ini, sebelum kekuatan yang mulai berkobar lagi terkuras habis, segera diketahuinya bahwa mereka sudah menembus hutan pemakan manusia itu.

Tertampaklah langit yang luas, sang surya baru terbit dari balik gunung di kejauhan sana, angin meniup sejuk membawa bau harum dedaunan yang baru bersemi, butiran embun masih menghiasi kelopak serupa mutiara.

Siau-hong kucek-kucek mata sendiri, ia hampir tidak percaya kepada kenyataan ini. Sungguh keajaiban seakan-akan dalam mimpi.

Tokko Bi yang mendekam di atas punggung Siau-hong juga berubah menjadi lebih segar. Tiba-tiba ia bertanya, “Di depan sana bukankah ada sebatang pohon cemara tua?”

Waktu Siau-hong memandang ke sana, memang betul, ada pohon cemara tua satu-satunya tumbuh di depan batu karang, jauh terpisah dari hutan lebat, seakan-akan tidak sudi tercampur dengan pepohonan yang bernilai rendah itu.

“Bukankah di bawah pohon cemara ada sepotong batu hijau besar?” Tokko Bi bertanya pula.

Betul juga, ada sepotong batu hijau sebesar meja, rata dan licin permukaan batu serupa pahatan.
Siau-hong mendekat ke sana dan berduduk di atas batu sambil menurunkan orang yang digendongnya, sambil menghela napas lega ia berkata, “Akhirnya kita lolos juga dengan selamat.”

Dengan napas terengah Tokko Bi berkata, “Cuma sayang, tempat ini masih belum terhitung tempat yang aman.”

“Betapapun aku tidak jadi mangsa pohon pemakan manusia itu,” ucap Siau-hong pula.

“Namun sayang setiap saat engkau masih dapat mati di bawah pedang Sebun Jui-soat,” kata Tokko Bi.

Siau-hong menyengir, “Apakah tak dapat kau gunakan beberapa kata yang menyenangkan hatiku?”

Tokko Bi tertawa, “Aku cuma ingin memberitahukan sesuatu padamu.

Siau-hong siap mendengarkan.

“Di dunia ini sebenarnya tidak ada orang yang dapat menyelamatkan dirimu, tapi engkau telah menyelamatkan dirimu sendiri.”

“Oo?!” Siau-hong melengak.

“Tadi waktu kau tolong diriku, sekaligus juga telah menolong dirimu sendiri.”

“Maksudmu, semula tidak ada niatmu hendak membawaku ke San-ceng itu?”

Tokko Bi mengangguk, katanya, “Ya, tapi sekarang sudah berubah pendirianku. Sebab biarpun aku biasanya tidak mau tahu sanak famili, aku toh tetap manusia yang berperasaan.”

Ia menatap Siau-hong lekat-lekat, sorot matanya tajam bersifat licik itu tiba-tiba berubah menjadi lembut, ucapnya, “Dalam keadaan begitu engkau tidak mau meninggalkan diriku, dengan sendirinya sekarang aku pun tidak dapat meninggalkan dirimu.”

Maka tertawalah Siau-hong.

Betapapun manusia tetap mempunyai sifat kemanusiaan. Sifat manusia mempunyai sisinya yang bajik, terhadap ini selamanya Siau-hong percaya penuh.

Di bawah pohon masih ada sepotong batu hijau yang lebih kecil, Tokko Bi berkata pula, “Coba pindahkan batu itu. bukankah di bawahnya ada sebuah peti.”

Siau-hong mengejarkan apa yang disebutkan.

Memang benar, di situ ada sebuah peti anyaman rotan, di dalam peti ada sepotong daging rebus, seekor ayam panggang, sebotol arak, sebungkus obat luka dan sebuah sempritan serta sepucuk surat.

Bentuk sempritan sangat aneh, kertas surat dan warna sampul surat juga istimewa, tampaknya serupa kulit orang mati.

Surat itu hanya tertulis sepuluh huruf yang berbunyi: “Tiup sempritan, dengarkan gemanya dan ikuti menurut suaranya”.

Siau-hong minum seceguk arak itu, lalu memuji. “Ehm, arak sedap! Tampaknya cara berpikir orang-orang ini sangat cermat”

“Cara bekerja mereka bukan saja dengan perencanaan yang rapi, bahkan nama mereka juga dipercaya,” tutur Tokko Bi.

“Asalkan sudah kau teken kontrak dengan mereka, pasti mereka akan bertanggungjawab mengantarmu ke San-ceng.”

“Kontrak apa?’” tanya Siau-hong.

“Kontrak menyelamatkan jiwa,” tutur Tokko Bi.

Sekali ini dia tak mengelakkan pertanyaan orang, maka Siau-hong bertanya pula, “San-ceng apa namanya?”

“Yu-leng-san-ceng,” jawab Tokko Bi.

Yu-leng-san-ceng! Perkampungan Hantu!

Hanya orang mati yang pergi ke tempat begitu.

Siau-hong merasa seram, ia coba bertanya pula, “Memangnya tempat itu hanya dihuni arwah orang mati saja?”

Tokko Bi tertawa misterius, jawabnya perlahan, “Justru lantaran tempat itu seluruhnya dihuni arwah orang mati, makanya tiada seorang hidup pun dapat menemukannya, juga tidak ada seorang hidup pun berani menerjang ke sana.”

“Dan kau?” tanya Siau-hong.

Tawa Tokko Bi bertambah misterius, ucapnya tenang, “Kalau aku sudah menuju kematian, dengan sendirinya tidak bisa lain daripada mati.”

“Jika tiada jalan lain daripada mati, dengan sendirinya kau terhitung orang mati,” tukas Siau-hong.

“Rupanya sekarang baru jelas bagimu.”

“Tidak, aku tidak jelas, sedikitpun tidak mengerti,” ujar Siau-hong.

Sempritan itu berada pada tangannya, ia coba memandangnya dun meniupnya perlahan, mendadak bergema suara melengking tajam yang aneh, sampai dia berjingkrat kaget

Pada saat itulah, dan kejauhan lantas berkumandang suara sempritan yang serupa, berkumandang dari arah barat tepat.

Di pegunungan sunyi, untuk membedakan suara sempalan tidaklah sulit, segera mereka menuju ke arah suara sempritan itu makin jauh makin meninggi, di sekeliling penuh gumpalan awan sehingga akhirnya mereka berada di tengah awan belaka

Setelah minum arak dan makan ayam panggang, Siau-hong merasa penuh semangat dan tenaga, betapa jauh perjalanan itu sanggup didatanginya.

Tetapi keadaan Tokko Bi makin lama makin payah, sampai Siau-hong pun dapat mencium busuk dari lukanya. Namun Siau-hong tidak memusingkannya.

“Sebun Jui-soat kan bukan orang tuli?” gumam Tokko Bi.

“Tentu saja tidak tuli,” kata Siau-hong.

“Dan dengan sendirinya ia pun dapat mendengar suara sempritan tadi.”

“Pasti.”

“Makanya setiap saat dia dapat menyusul kemari.”

“Sangat mungkin.”

“Sekarang setelah kutahu cara orang menuju ke perkampungan gunung sana kan lebih baik kau tinggalkan diriku saja,” ucap Tokko Bi. Karena sakitnya, kulit mukanya berkerut-kerut alias meringis. “Betapapun berjalan sendirian tentu akan lebih cepat dari-pada menggendong diriku. Apalagi, jelas aku tidak berguna lagi, seumpama dapat mencapai tempat tujuan juga takkan hidup lama lagi.”

Dia bicara dengan hati tulus ikhlas, namun Siau-hong seolan-olah tidak mendengar. Dia berjalan dengan lebih cepat, gumpalan awan kini sudah mengembang di bawah kakinya, mendadak pandangannya terbeliak.

Langit cerah di depan sana, gunung menghijau bagai lukisan di kejauhan.

Tenggelam hati Siau Hong, tertekan sekali.

Ternyata di depannya adalah sebuah jurang yang tak terperikan dalamnya. Pegunungan yang serupa lukisan di kejauhan itu tertampak jelas, namun dia sudah menghadapi jalan buntu.

la coba menjemput sepotong batu dan dilemparkan ke bawah. ternyata tiada terdengar gema suara apapun.

Di bawah penuh gumpalan awan dan tidak ada apa-apa, bahkan arwah orang mati juga tidak terlihat.

Memangnya Yu-leng-san-ceng (perkampungan arwah orang mati) itu terletak di bawah jurang yang tak terkirakan dalamnya ini?

Siau-hong tersenyum getir, gumamnya, “Bilamana ingin menuju ke Yu-Ieng-san-ceng, tampaknya juga bukan pekerjaan yang sulit, asalkan kau terjun ke bawah, tanggung akan menjadi orang mati, dan tiba di tempat tujuan.”

Tiba-tiba Tokko Bi berucap dengan terputus-putus, “Coba … coba tiup sempritan lagi.”

Siau-hong menurut. Suara sempritan yang melengking tinggi itu memecahkan kesunyian puncak gunung dan juga menembus awan.

Mendadak di tengah lautan awan muncul satu orang. Karena di atas langit penuh awan dan di bawah jurang juga diliputi awan, maka orang ini menjadi serupa berdiri terapung di tengah awan.
Orang apakah yang dapat berdiri terapung di tengah awan?

Orang mati? Arwah orang mati?

Siau-hong menarik napas dingin, tiba-tiba dilihatnya orang ini sedang bergeser, bahkan bergerak dengan sangat cepat seperti meluncur di atas awan, hanya sekejap saja warna bajunya sudah dapat dibedakan, raut wajahnya juga sudah terlihat jelas.

Namun orang ini pada hakikatnya tidak punya raut wajah, mukanya rata serupa dipotong oleh senjata tajam.

Orang yang tidak pernah menyaksikan sendiri pasti tidak pernah membayangkan ada wajah semacam ini.

Nyali Liok Siau-hong tidak kecil, tapi demi melihat muka yang istimewa ini. kaki pun terasa lemas, hampir saja ia jatuh terjerumus kc dalam jurang.

Ia pun dapat merasakan Tokko Bi yang digendongnya itu sedang gemetar, sementara itu orang aneh sudah sampai di depan mereka. Cepat amat datangnya.

Meski orang ini sudah melayang kc atas puncak, tapi gerak tubuh orang ini tampak begitu enteng, cara berjalannya seolah-olah mengapung di permukaan tanah.

Selama ini Liok Siau-hong yakin tokoh dunia Kangouw yang mempunyai Ginkang paling tinggi hanya ada tiga orang, yaitu Sukong Ti-seng, Sebun Jui-soat dan dia sendiri. Tapi sekarang baru diketahui pendiriannya itu ternyata keliru.

Betapa aneh Ginkang orang ini serupa dengan mukanya yang aneh, kecuali menyaksikan sendiri, kalau tidak, sungguh sukar untuk dibayangkan.

Sekarang orang itu pun sedang menatap Liok Siau-hong dengan tajam, kedua matanya tampak merah mencorong serupa lahar yang baru tersembur keluar dari gunung berapi, panas dan berbahaya.
Menghadapi orang semacam ini. sungguh Siau-hong tidak tahu apa yang harus diucapkan.

Tapi Tokko Bi lantas menegur malah, “Apakah engkau Kau-hun-sucia dari Yu-lcng-san-ceng?”

Ketika diketahui orang aneh itu mengangguk. Tokko Bi lantas menyambung, “Namaku Tokko Bi, arwahku sekarang sudah datang!”

Akhirnya orang itu buka mulut. “Kutahu, kutahu engkau akan datang.”

Cara bicaranya sangat perlahan, suaranya lirih, serak sepat, sebab dia tidak berbibir.
Orang yang tidak pernah melihatnya, selamanya sukar membayangkan betapa anehnya cara bicara seorang yang tak berbibir.

Tokko Bi tidak berani memandang lebih lama kepada orang itu ia kuatir mungkin dirinya tidak tahan dan bisa tumpah.

Mendadak orang yang disebut sebagai Kau-hun-sucia atau duta penggaet sukma itu menjengek. “Hm. tidak beran, kau pandang diriku, apakah karena mukaku terlalu jelek?”

Cepat Tokko Bi menyangkal, “O, tidak …”

“Kalau bicara harus menghadap diriku dan menatap wajahku.” bentak Kau-hun-sucia.

Terpaksa Tokko B, memandang wajah orang, tapi tidak bicara lagi, sebab kerongkongannya serasa tersumbat dan perut mulas sehingga sukar bersuara.

Siau-hong tertawa, “Tidak perlu kau kuatirkan diriku, jika aku dapat sampai di sini dengan hidup, pasti juga kudapat pulang ke sana dengan hidup.

Tokko Bi bisa tertawa juga, serunya, “Haha, kutahu engkau tidak pernah memikirkan mati dan hidup, sebaliknya aku sangat takut mati….”

“Tapi sekarang engkau tidak takut lagi,” tukas Siau-hong

Tokko Bi mengangguk, “Ya. sebab aku …”

“Sebab engkau toh tak bisa hidup lama lagi, maka kesempatan hidup hendak kau berikan padaku.”

“Ya, inilah satu-satunya kesempatan,” ujar Tokko Bi.

“Perkataanmu ini sebelumnya sudah pernah kudengar, maksudmu juga dapat kumaklumi, cuma….”

“Kau tetap tidak mau?” sela Tokko Bi.

Siau-hong tertawa, “Dapat bersahabat dengan seorang yang biasanya tidak kenal sanak famili, kan sangat memuaskan bagiku? Cuma sayang aku tidak mempunyai kebiasaan membiarkan sahabat mati bagiku”

“Jadi kau pasti mau pergi?”

“Ya, kepergianku pasti lebih cepat daripadamu.”

Kau-hun-sucia memandangi mereka dengan dingin, sorot matanya menampilkan rasa jemu.

Dia jemu terhadap persahabatan, dengki terhadap segala apa yang baik di dunia ini, serupa kelelawar yang tidak suka kepada sinar sang surya.

Sekonyong-konyong dari kejauhan ada suara orang berseru. “Bawa mereka kemari, keduanya bawa kemari semua!”

Suaranya nyaring berkumandang dari lautan awan sana, tiba-tiba di tengah awan muncul pula bayangan warna jambon, tampaknya juga seperti berdiri mengapung di udara dan sedang menggapai ke sini.

“Siapa yang suruh membawa mereka ke sana? tanya Kau-hun-sucia.

“Lau-to-pacu!” Seru orang itu.

Nama ini seperti semacam mantera, sekonyong-konyong Liok Siau-hong terbawa ke suatu dunia lain.
Betapapun tidak mungkin ada orang dapat berdiri terapung di udara atau di tengah lautan mega.
Kau-hun-sucia juga manusia dan bukan arwah yang tak berwujud, tapi cara bagaimana dia datang dan pergi seperti mengapung di udara?

Sesudah menuju ke sana barulah Siau-hong dapat melihat di tengah awang-awang terdapat seutas tali baja yang besar terikat melintang di antara kedua puncak tebing.

Inilah jembatan mereka. Jembatan dari dunia fana menuju ke pintu akhirat.

Di sisi tebing sebelah sini ada sebuah keranjang bambu yang besar dan tergantung di atas kawat baja dengan roda peluncur.

Tebing sebelah sini lebih tinggi, kalau tali penahan dibuka, segera keranjang bambu meluncur ke seberang sana.

Sakarang Tokko Bi sudah berada di dalam keranjang itu.

Kau-hun-sucia melirik Siau-hong dengan dingin, jengeknya, “Apakah kau pun ingin duduk di dalam keranjang?”

“Aku berkaki,” jawab Siau-hong.

“Jika terjungkal ke bawah tentu tiada soal kaki lagi, malahan akan hancur lebur tak terkubur.”

“Kutahu.”

“Kawat baja ini sangat licin, angin pegunungan juga sangat kencang, betapa tinggi Ginkang seorang juga bisa tergelincir ke bawah.”

“Pernah kau jatuh ke bawah?” tanya Siau-hong dengan tertawa.

“Tidak.” jawab Kun-hun-sucia.

“Kau suka padaku?” tanya Siau-hong pula.

Kun-hun-sucia hanya mendengus saja.

“Jika tidak pernah jatuh kc bawah, darimana kau tahu aku akan jatuh?” ujar Sian-hong dengan lak acuh. “Jika engkau tidak suka padaku, mengapa kau mau pikirkan hidupku?”

“Hm, baik, kau jalan dulu!” jengek Kun-hun-sucia.

“Hendak kau saksikan aku jatuh ke bawah dari belakang?” tanya Siau-hong.

“Kesempatan menonton cara begini sangat sedikit, sayang jika kusia-siakan tontonan menarik ini.”

Kembali Siau-hong tertawa, katanya, “Namun sekali ini kutanggung engkau pasti akan kecelik.”

Kawat baja itu memang benar sangat licin, angin juga meniup dengan kencang. Orang yang berjalan di atas jembatan kawat demikian serupa api lilin yang bergoyang-gontai tertiup angin.

Sejauh mata memandang sekeliling hanya awan melulu yang mengapung di udara dan bergerak perlahan, seluruh jagat raya ini seakan-akan bergerak di udara, memang tidak gampang jika ingin berjalan tenang dan mantap di atas kawat baja ini.

Tapi sesuatu yang tidak mudah dilakukan justru semakin menarik bagi Liok Siau-hong.

Jalannya tidak cepat, sebab cepat terlebih gampang daripada lambat. Dia sengaja berjalan dengan lambat, seperti seorang sedang berjalan mencari angin di tanah lapang.

Tentu saja Kau-hun-sucia terpaksa harus mengikut dari belakang dengan perlahan dan hal ini semakin menambah rasa senang Liok Siau-hong.

Angin menghembus lewat di bawah selangkangannya, gumpalan awan melayang lewat di sekitarnya, tiba-tiba dirasakannya tiada sesuatu di dunia ini yang perlu dirasakannya, umpama benar dia terjatuh ke bawah juga tidak menjadi soal baginya. Dia tidak mahir menyanyi, suaranya juga serak seperti suara burung gagak, tapi sekarang dia jadi ingin menyanyi.

Mendadak terdengar suara angin mendesir, sesosok bayangan lewat di atas kepalanya, seorang hinggap di depannya. Siapa lagi kalau bukan si ‘muka rata’ alias tidak punya muka.

Siau-hong menyengir, “Nyanyianku tidak enak didengar?

“Huh, itu bukan bernyanyi, tapi kerbau menguak, jengek Kun-hun-sucia.

“Hahaha, jadi kau pun ada kalanya tidak tahan, haha, bagus, bagus sekali!” seru Siau-hong dengan terbahak.

Kembali ia menyanyi dengan suara keras, sudah barang tentu suaranya tetap serak basah.

Kau-hun-sucia memandangnya dengan dingin tiba-tiba ia bertanya, “Kau Liok Siau-hong?”

“He, kenapa segera dapat kau kenali diriku setelah aku bernyanyi? Memangnya suara nyanyianku lebih tenar daripada namaku?”

“Jadi benar kau Liok Siau-hong?” kembali Kau-hun-sucia menegas.

“Kecuali Liok Siau-hong, siapa pula yang punya suara tenor ini?” ujar Siau-hong dengan lagak biduan besar.

“Dan kau tahu siapa diriku?” tanya Kau-hun-sucia.

“Tidak tahu,” sahut Siau-hong. Lalu ia menambahkan dengan tertawa. “Meski di dunia cukup banyak orang yang tidak punya muka, tapi tidak ada seorang pun yang berbuat setuntas dan terang seperti dirimu.”

Sorot mata Kau-hun-sucia membara pula, mendadak ia mencabut sebuah tusuk kundai kayu hitam dari gelung rambutnya terus menusuk ke muka Liok Siau-hong.

Gerak tangannya tidak istimewa, jurus serangannya juga biasa, tapi cepat luar biasa.

Siau-hong tidak sempat mengelak, untuk mundur juga tidak bisa, terpaksa ia angkat tangan dan hendak menjepit senjata orang dengan dua jari.

Inilah kungfu yang tidak ada bandingannya dan tidak pernah meleset andalan Liok Siau-hong, tapi sekali ini dia justru meleset.

Tusuk kundai kayu hitam yang biasa itu mendadak seperti berubah menjadi dua dan tetap menusuk matanya secepat kilat.

Jika di tanah datar, serangan ini tentu juga dapat dihindarkan Liok Siau-hong, tapi sekarang dia berdiri di atas kawat baja yang licin dan terapung di udara.

Waktu dia menggeliat, berdirinya menjadi goyah, mendadak ia terjungkal ke bawah.

Apabila manusia jatuh ke dalam jurang tentu akan berubah menjadi bergedel.

Tapi dia tidak jadi bcrgedel. Waktu Kau-hun-sucia menunduk, tertampak sebelah kaki menggantol pada kawat baja, Siau-hong tergantung bagai baju jemuran dan bergoyang-goyang tertiup angin.
Sudah begitu, dia malah juga tidak gugup dan takut, malahan dia merasa senang dan bernyanyi pula, “Goyang, goyang, ayo digoyang, goyang sampai seberang…”

Dia tidak meneruskan, sebab dia lupa syair lagu lanjutannya.

“Tampaknya kau benar-benar Liok Siau-hong adanya.” kata Kau-hun-sucia.

“Maka sekarang aku masih Liok Siau-hong, tapi sebentar lagi bukan mustahil akan berubah menjadi Liok bergedel” ujar Siau Hong.

“Sungguh kau tidak takut mati?”

“Tidak betul,” jawab Siau-hong, “berr”, seperti kitiran, tahu-tahu tubuhnya berputar ke atas dan berdiri tegak lagi di atas kawat baja. Lalu berucap dengan tersenyum, “Tampaknya kau pun tidak sungguh-sungguh hendak mematikan aku.”

“Hm, aku cuma ingin kau tahu sesuatu,” jengek Kau-hun-sucia.

“Oo, urusan apa?” tanya Siau-hong.

Pandangan Kau-hun-sucia tampak jalang pula, ucapnya sekata demi sekata, “Supaya kau tahu, pedang Sebun Jui-soat bukan pedang kilat yang tidak ada bandingannya di dunia ini, aku bisa lebih cepat daripada dia.”

Sekali ini Liok Siau-hong tidak tertawa, tiba-tiba sorot matanya menampilkan semacam perasaan yang sangat aneh, tanyanya sambil menatap orang, “Sesungguhnya siapa kau?”

“Seorang yang tidak punya muka,” jawab Kau-hun-sucia.

Karena tidak punya muka, dengan sendirinya tidak terlihat sesuatu perasaan pada wajahnya. Akan tetapi suaranya tiba-tiba terdengar seperti membawa semacam rasa duka nestapa yang sukar dijelaskan.

Selagi Siau-hong hendak bertanya, mendadak si muka rata melayang pergi seperti burung, dalam sekejap saja sudah menghilang di tangah lautan awan.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: