Kumpulan Cerita Silat

17/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 11:18 am

Pendekar Empat Alis
Buku 06: Perkampungan Hantu
Bab 02: Tokko Bi, si tak kenal saudara
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Hiu_Khu)

Kegelapan mulai menipis dan berubah menjadi remang kelabu yang aneh.

Kegelapan malam yang panjang ini akhirnya berlalu juga. Kini sudah tiba saatnya fajar akan menyingsing.

Tapi biarpun hari sudah terang, lalu bagaimana? Biarpun kegelapan sudah pergi, namun kematian masih terus mengancamnya.

Banyak daun kering di tanah. Ia meraupnya segenggam untuk membersihkan darah pada tangannya. Pada saat itulah dia mendengar sesuatu suara.

Suara manusia entah darimana datangnya, seperti ada suara orang merintih.

Di tempat dan dalam keadaan begini mana bisa ada orang? Jika tidak terpaksa, siapa pula yang mau masuk ke hutan purba ini? Menempuh jalan kematian ini?!

Jangan-jangan Sebun Jui-soat?

Mendadak Siau-hong merasakan sekujur badan dingin dan kaku, napas pun terasa berhenti, ia mendengarkan dengan tenang.

Terdengar lagi suara rintihan yang lemah, sebentar lenyap dan sebentar terdengar lagi. Dari suaranya, jelas penuh rasa derita Semacam penderitaan yang mendekati putus harapan.

Suara menderita itu jelas pasti, bukan pura-pura. Sekalipun orang ini benar Sebun Jui-soat adanya, penderitaannya sekarang pasti juga tidak di bawah Liok Siau-hong.

Apakah dia juga mengalami sesuatu pukulan yang mematikan? Kalau tidak, mengapa hawa pedang pembunuh yang khas juga lenyap sama sekali?

Siau-hong memutuskan untuk mencari, peduli orang ini Sebun Jui-soat atau bukan, harus ditemukannya.

Dan sudah tentu ditemukannya. Di atas daun kering dan tanah yang lembab menggeletak satu orang, sekujur badan tampak meringkuk menjadi satu kerena kesakitan.

Seorang yang rambutnya sudah ubanan, lemah, pucat, letih. duka dan ketakutan.

Waktu melihat Liok Siau-hong, orang tua itu seperti berusaha melompat bangun, tapi yang diperoleh adalah kejang dan kesakitan.

Dia membawa pedang yang berbentuk antik, jelas sebilah pedang yang sangat bagus. Akan tetapi pedang ini tidak menakutkan, sebab orang ini bukan Sebun Jui-soat.

Siau-hong menghela napas lega, gumamnya, “Bukan, bukan dia.”

Biji leher si kakek tampak naik-turun, sorot matanya yang penuh rasa takut menampilkan setitik harapan, ucapnya dengan terengah, “Sia…Siapa kau?”

“Aku bukan siapa-siapa,” sahut Siau-hong dengan tertawa.

“Aku cuma orang lalu saja.”

“Orang lalu?” si kakek menegas.

“Kau heran bukan? Masa orang lalu di tempat begini?” kata Siau-hong.

Si kakek mengamat-amati dari bawah ke atas dan dan atas ke bawah, tiba-tiba sinar matanya menampilkan kelicikan, katanya, “Apakah jalan yang kau tempuh serupa aku?”

“Sangat mungkin,” jawab Siau-hong.

Si kakek tertawa. Tertawa yang pedih, getir. Dan dia lantas terbatuk-batuk.

Siau-hong juga melihat orang terluka, ternyata juga bagian dada yang terluka, malahan kelihatan sangat parah.

Tiba-tiba si kakek bertanya pula, “Memangnya kau sangka siapa diriku?”

“Seorang lain,” sahut Siau-hong.

“Apakah orang yang hendak membunuhmu itu?”

Siau-hong juga tertawa dan bertanya, “Tadinya kau kira siapa diriku? Apakah orang yang hendak membunuhmu itu?”

Si kakek ingin menyangkal, tapi tidak dapat menyangkal.

Kedua orang saling pandang dengan sikap serupa dua ekor binatang buas yang sama-sama terluka.
Tidak ada orang yang dapat memahami sikap mereka ini, juga tidak dapat memahami perasaan mereka.

Entah sudah berapa lamanya, tiba-tiba si kakek menghela napas panjang dan berkata, “Boleh kau pergi saja.”

“Kau minta kupergi?” tanya Siau-hong.

“Biarpun kularang kau pergi, toh kau pasti juga akan pergi,” ujar si kakek dengan tersenyum getir. “Keadaanku agaknya terlebih parah daripadamu, dengan sendirinya tak dapat aku membantumu. Engkau memang tidak kenal diriku, dengan sendirinya juga takkan membantuku.”

Siau-hong tidak bicara, juga tidak tertawa lagi. Ia tahu apa yang dikatakan kakek itu memang sejujurnya. Keadaan sendiri juga sangai parah, bahkan terlebih celaka daripada apa yang dibayangkan orang. Buron sendirian saja belum tentu lolos, dengan sendirinya ia tidak dapat dan tidak mau ketambahan beban.

Si kakek ini jelas beban yang sangat berat.

Selang sekian lama lagi, Siau-hong juga menghela napas dan berkata, “Ya, aku memang harus pergi.”

Si kakek mengangguk dan memejamkan mata, ia tidak memandangnya lagi.

Siau-hong berkata pula, “Jika engkau ini seekor anjing liar, saat ini aku pasti sudah pergi. Tapi sayang ………”

“Sayang aku bukan anjing, tapi manusia,” tukas si kakek tiba-tiba.
“Sayang aku pun bukan anjing, aku pun manusia,” kata Siau-hong.

“Ya, sungguh sayang.” kata si kakek, meski matanya seperti terpejam, tapi sebenarnya diam-diam ia lagi mengintip gerak-gerik Liok Siau-hong. Terpancar pula sifat kelicikannya

Siau-hong tertawa dan berkata pula, “Padahal sejak tadi kau tahu aku pasti takkan pergi.”

“Oo?!” si kakek bersuara heran.

“Sebab kau manusia, aku juga manusia, dengan sendirinya tak dapat kusaksikan kau mati konyol di sini.”

Mendadak si kakek membuka matanya, terbelalak lebar, lalu berkata, “Jadi hendak kau bawa pergi diriku?”

“Bagaimana dugaanmu?” tanya Siau-hong.

Si kakek berkedip, “Dengan sendirinya dapat kau bawa diriku, sebab engkau manusia, juga aku.”

“Alasan ini tidak cukup.”

“Tidak cukup? Masa ada alasan lain?”

“Betapa brengsek tetap manusia,” kata Siau-hong.

Ucapan ini sukar dipahami, si kakek juga tidak paham, terpaksa menunggu penjelasan lebih lanjut.

“Akan kubawa dirimu, sebab aku bukan saja manusia, juga seorang brengsek, maha brengsek.”

Dalam musim semi segala apapun tampak serba segar di bumi ini.

Pepohonan yang sudah layu kembali tumbuh dengan lebarnya. Dengan sendirinya hutan purba itu juga bertambah rindang sehingga tak tembus sinar matahari.

Di tengah hutan lebat itu hanya remang-remang kelabu belaka, hanya dapat tertampak bayangan yang samar-samar, itu pun tak dapat mencapai jauh.

Liok Siau-hong lelah membawa si kakek meneruskan perjalanan. Akhirnya ia berhenti, ia membaringkan dulu si kakek, lalu ia sendiri pun rebah ke tanah. Sekarang biarpun diketahui Sebun Jui-soat sudah dekat di belakangnya, satu langkah saja ia tidak sanggup bergerak lagi.
Sudah cukup jauh mereka meneruskan perjalanan. Tapi waktu ia menunduk, tiba-tiba dilihatnya bekas kaki sendiri di atas tanah.

Rupanya meski mereka berusaha lari sekuatnya dan sekian lamanya, akhirnya mereka, kembali berada di tempat semula.

Ini bukan lagi sindiran, tapi menyedihkan. Semacam kesedihan bilamana manusia sudah mendekati keputus-asaan.

Napas Siau-hong terengah-engah, napas si kakek juga megap-megap.

Seekor ular sawah raksasa mendadak meluncur turun dari dahan pohon, dengan sendirinya tenaga ular raksasa ini sangat besar, sanggup melilit mati makhluk apapun.

Akan tetapi Siau-hong tak dapat bergerak, si kakek juga tidak dapat bergerak, syukurlah ular raksasa itu juga tidak menghiraukan mereka, merayap lewat di samping mereka, Siau-hong tertawa, sampai ia sendiri tidak tahu mengapa dirinya masih dapat tertawa.

Tiba-tiba si kakek memiringkan kepalanya dan menegur, ‘”He, brengsek, mengapa sejauh ini tidak kau tanya siapa diriku dan siapa namaku?”

“Aku tidak perlu bertanya,” jawab Siau-hong. “Toh kita sudah hampir mati, bilakah pernah kau dengar ada orang mati bertanya nama orang mati yang lain?”

Si kakek memandangnya lagi sampai lama, ingin bicara, tapi urung, waktu ia memandang alis dan kumisnya, akhirnya dia berkata, “Ah, tiba-tiba aku teringat kepada seorang.”

“Siapa?” tanya Siau-hong.

“Liok Siau hong, ya, Liok Siau-hong yaug beralis empat itu.”

Kembali Siau-hong tcrtawa. “Seharusnya sejak mula teringat olehmu, satu-satunya orang brengsek paling besar di dunia ini ialah Liok Siau-hong.”

“Tapi tidak kusangka Liok Siau-hong bisa berubah menjadi begini,” kata si kakek dengan menyesal.

“Memangnya kau kira seharusnya bagaimana Liok Siau-hong itu?”

“Sudah lama kudengar Liok Siau-hong adalah seorang perayu yang paling disukai orang perempuan . bahkan ilmu silatnya sangat tinggi.”

“Ya aku pun pernah mendengar.”

“Makanya selama ini kuyakin Liok Siau-hong pasti seorang yang gagah dan cakap, tapi sekarang tampaknya engkau serupa ”

“Serupa seekor anjing yang menghadapi jalan buntu karena diuber orang,” tukas Siau-hong.

“Agaknya kesulitan yang kau timbulkan tidak kecil ” ucap si kakek.

“Ya, sangat besar.”

“Apakah gara-gara orang perempuan?”

Siau hong menyengir.

“Siapa suami perempuan itu? Kabarnya jurus andalan Pek-in-sengcu yang maha lihai itupun dapat kau tangkis, masa di dunia ini masih ada orang lain yang dapat menguber-uber dirimu sehingga menghadapi jalan buntu?”

“Ada, cuma ada seorang,” jawab Siau-hong.

“Ya, setelah kupikirkan, rasaya memang cuma ada satu orang.”

“Menurut pikiranmu, siapa orang ini?”

“Bukankah Sebun Jui-soat?”

Siau-hong hanya menyengir saja.

“Sungguh tidak kecil kesulitan yang kau timbulkan ini,” ujar si kakek dengan menyesal. “Sungguh aku tidak mengerti sebab apa dapat kau timbulkan kesukaran ini?”

“Sebenarnya aku pun tidak berbuat apa-apa, cuma secara kebetulan tidur seranjang dengan isterinya dan kebetulan pula dipergoki dia.”

Si kakek memandangnya dengan terkejut sampai lama barulah ia menggeleng dan berkata. “Wah. rupanya nyalimu memang tidak kecil.”

Mendadak Siau-hong balas bertanya. “Dan kau? Kesulitan apa yang kau buat?”

Si kakek termenung sekian lama, lalu menjawab dengan menyesal, “Kesulitan yang ditimbulkan juga tidak kecil.”

“Ya memang dapat kulihat.” kata Siau-hong. “Jika tubuh seorang memakai baju yang berharga mahal, memegang pedang antik bernilai, tapi diuber-uber orang seperti seekor anjing geladak, maka perkara yang ditimbulkan orang ini pasti tidak kecil.”

“Malahan perkara yang kutimbulkan tidak cuma satu,” kata si kakek.

“Ada berapa banyak?” tanya Siau-hong.

“Dua,” ucap si kakek sambil memperlihatkan dua jari, “Yang seorang ialah Yap Koh-hong, yang lain Hun-yan-cu.”

“Yap Koh-hong dari Bu-tong yang terjuluk Siau-pek-liong (naga putih kecil)?” Siau-hong menegas.
Si kakek mengangguk.

“Dan Hun-yan-cu alias Ban-li-tah-hoa (menginjak bunga sejauh selaksa li)?”

Kembali si kakek mengangguk.

“Ai, perkara yang kau timbulkan memang tidak kecil dan sangat sulit.”

Yap Koh-hong adalah murid Bu-tong-pay, juga terkenal sebagai tokoh angkatan muda yang menonjol. Konon masih terhitung sanak famili Pek-in-sengcu Yap Koh-seng. Sedangkan nama Hun-yan-cu, si walet berbedak, bahkan lebih terkenal di dunia Kangouw, baik Ginkang maupun Am-gi (senjata rahasia) miliknya jarang ada bandingannya dalam kalangan hitam.

“Cuma Yap Koh-hong adalah murid perguruan ternama, sedangkan Hun-yan-cu adalah kaum penjahat, mengapa sekaligus kau bikin onar terhadap kedua orang itu.”

“Masa engkau tidak paham?” tanya si kakek.

Siau-hong menggeleng.

“Soalnya sangat sederhana, baik Yap Koh-hong maupun Hun-yan-cu, keduanya adalah keponakanku, keduanya anak saudara perempuanku. Kebetulan bini mereka bertamu di rumahku …”

Yap Koh-hong biasa berkelana di dunia Kangouw, Hun-yan-cu yang bekerja sebagai bandit itu juga suka berkeluyuran kemana-mana, dengan sendirinya bini mereka hidup kesepian.

“Sebab itulah adalah layak jika aku berusaha menghibur hati mereka yang hampa,” tutur pula si kakek. “Siapa tahu, kebetulan dipergoki mereka.”

Dengan melengak Siau-hong memandangnya, selang agak lama barulah ia berkata, “Tampaknya bukan cuma nyalimu tidak kecil, bahkan engkau tidak mau kenal sanak famili segala.”

“Memangnya aku bukan orang begitu?” sahut si kakek dengan tertawa.

Siau-hong tambah terkejut, “He, jadi engkau memang dia?”

“Belasan tahun terakhir ini, jarang ada orang Kangouw yang tahu namaku ini, tak tersangka engkau ternyata tahu.”

Kiranya 20 tahun yang lalu di dunia Kungouw ada seorang bandit yang sangat terkenal, bandit ini selalu beroperasi sendirian, namanya Tokko Bi dan berjuluk ‘Lak-jin-put-jin’ atau sanak famili juga tidak peduli.

Jika seorang berani berbuat apapun tanpa peduli sanak famili lagi, maka betapa keji dan kejam hati orang ini dapatkah dibayangkan.

“Nah, tampaknya nama julukanmu memang cocok sekali dengan perbuatanmu.”

“Aku tidak peduli sanak famili. Kau lebih penting perempuan daripada sahabat. Engkau seorang brengsek. Aku juga tidak selisih seberapa. Kita berdua boleh dikatakan sepaham dan sehaluan. makanya juga dapat menempuh jalan yang sama sekarang.”

“Untung di antara kita masih ada setitik perbedaan,” kata Siau-hong.

“Oo, setitik apa?” tanya Tokko Bi.

“Sekarang aku dapat angkat kaki dan kau terpaksa harus berbaring di sini untuk menanti ajal.”

Tokko Bi tertawa.

“Jika kau anggap sekarang hatiku tidak sekejam itu. maka salahlah kau.”

“Jika kau dapat tidak peduli sanak famili, mengapa aku tidak boleh tak mempedulikan dirimu?”

“Tentu saja kau dapat,” kata Tokko Bi.

Segera Liok Siau-hong berbangkit. Sekali dia bilang mau angkat kaki, segera juga dia pergi.

Tokko Bi menyaksikan dia berdiri, kemudian baru dia bicara “Tapi kutanggung setelah kau pergi tentu kau akan menyesal.”

Siau-hong menoleh dan bertanya, “Sebab apa?”

“Sebab di dunia ini selain ada binatang yang makan orang, juga ada manusia yang makan manusia.”

“Kutahu, antara lain juga termasuk dirimu.”

“Dan apakah kau tahu di dunia ini masih ada barang Iain yang juga bisa makan manusia?”

“Apa?” tanya Siau-hong.

“Pohon,” jawab Tokko Bi. “Ada pohon yang suka makan manusia. Orang yang tersesat, apabila masuk ke hutan demikian, segera akan dimakan oleh pohon jenis ini dan selamanya jangan harap akan bisa keluar lagi dengan hidup.”

Kini sudah dekat lohor, namun suasana sekitar situ tetap remang kelabu.

Pepohonan raksasa yang rindang dengan rawa penuh daun kering berbau busuk, pada hakikatnya tak ada jalan yang dapat dilalui.

Jika benar di dunia ini ada pohon pemakan manusia, maka jenis pohon ini pasti terdapat di sini.

Akhirnya Siau-hong memutar balik dan menatap wajah si kakek dengan tajam, katanya, “Jadi kau kenal jalan di sini? Kau yakin dapat keluar?”

Tokko Bi tertawa pula, ucapnya dengan perlahan, “Aku tidak saja dapat membawamu keluar, juga dapat kubikin selamanya Sebun Jui-soat tak dapat menemukan dirimu.”

Siau-hong mendengus, ia tidak percaya.

“Dapat kubawa dirimu ke suatu tempat, di sana biarpun Sebun Jui-soat mempunyai kepandaian setinggi langit juga tak dapat menemukan kau.”

Siau-hong menatapnya, tidak bergerak, tidak bersuara, tapi di kejauhan tiba-tiha ada suara orang menjengek

Suara jengekan itu tadinya masih belasan tombak jumlahnya, tapi tahu-tahu sudah berada di depannya.

Pendatang ini ternyata bukan Hun-yan-cu yang terkenal hebat Ginkangnya melainkan seorang yang bermuka pulih pucat. Bahkan putih seluruhnya, tangannya putih, pedangnya putih, bajunya juga seputih salju.

Sudah sehari semalam mengadakan perburuan di dalam hutan yang gelap dan di rawa yang pengap ini, sikapnya ternyata masih tetap tenang, bajunya juga tetap bersih.

Orangnya juga serupa pedangnya, putih bersih tidak berlepotan darah, juga tidak ada kotoran.
Pada saat kemunculannya itu, tubuh Liok Siau-hong yang terasa beku itu lantas mengendur lagi.

Tokko Bi tertawa penuh sifat mengejek, katanya, “Kau sangka dia Sebun Jui-soat, bukan?”

Memang, semula Siau-hong mengira yang muncul ini ialah Sebun Jui-soat, maka ia tidak manyangkal.

Pemuda ini memang mirip Sebun Jui-soat, muka yang pucat, sikap dingin dan pongah, pakaian seputih salju, bahkan gaya berdirinya juga serupa Sebun Jui-soat.

Meski dia jauh lebih muda daripada Sebun Jui-soat, bentuk wajahnya juga lebih halus daripada Sebun Jui-soat. tapi secara keseluruhannya dia serupa duplikat Sebun Jui-soat.

“Dia she Yap bernama Koh-hong,” tutur Tok-ko Bi. “’Biarpun kakek moyangnya juga tidak ada setitik hubungan apapun dengan Sebun Jui-soat, tapi dia kelihatannya justru seperti anak Sebun Jui-soat.”

Siau-hong tertawa geli, “Ya, memang sangat mirip.”

“Apakah kau tahu mengapa dia bisa berubah menjadi begini?” tanya Tokko Bi.

Siau-hong menggeleng.

Tokko Bi menjengek, “Hm, justru kalau bisa dia sangat berharap akan menjadi anak Sebun Jui-soat.”

“Bisa jadi dia hanya ingin menjadi Sebun Jui-soat kedua”, ujar Siau-hong.

“Tapi sayang, kebaikan Sebun Jui-soat tiada setitik pun dapat ditirunya, sebaiknya ciri-cirinya justru telah lengkap ditirunya,” jengek Tokko Bi.

“Tapi sedikitnya ada sesuatu cin Sebun Jui-soat yang tidak dapat ditiru orang lain.” ujar Siau-hong.

“Pedangnya?” tanya Tokko Bi.

“Bukan pedangnya, tapi kesepiannya.”

Kesepian. Serupa kesepian dingin salju di atas gunung di kejauhan. Seperti kesepian bintang di malam musim dingin.

Hanya seorang yang benar-benar dapat merasakan kesepian semacam ini, yang rela menahan kesepian ini, barulah dia dapat mencapai tingkatan seperti apa yang telah dicapai Sebun Jui-soat.

Sejak tadi Yap Koh-hong hanya menatap Liok Siau-hong dengan tajam, baru sekarang ia bersuara, jengeknya, “Hm, kau ini barang apa? Berani kau bicara tentang diriku di depanku?”

Liok Siau-hong hanya tersenyum saja tanpa menjawab. Ia tahu Tokko Bi pasti akan mendahului menjadi juru bicaranya. Dan dugaannya memang tidak salah.

Dengan tertawa Tokko Bi lantas berkata, “Dia bukan barang melainkan manusia. Jika di dunia ini ada manusia yang setimpal untuk bicara tentang Sebun Jui-soat, maka orang itu ialah dia ini.”

“Sebab apa?” tanya Yap Koh-hong.
“Sebab dia mempunyai empat alis. Juga lantaran di dunia ini cuma dia saja yang pernah tidur bersama isteri Sebun Jui-soat.”

“Hah, Liok Siau-hong!” Yap Koh-hong tersentak kaget “Jadi kau Liok Siau hong?”

Terpaksa Siau-hong mengaku.

Urat hijau pada tangan Yap Koh-hong yang memegang pedang itu tampak menonjol, jelas dia sangat emosi, jengeknya, “Seharusnya kubunuh kau dulu bagi Jui-soat….”

“Tapi sayang, sekali ini orang yang harus kita bunuh bukan dia,” mendadak seorang memotong ucapannya di atas pohon.

Di tengah dedaunan yang lebat itu segera bergemersak, sesosok bayangan lantas melayang turun segesit walet berwarna jambon. Tertampaklah seraut wajah kemerahan seperti anak gadis dengan pakaian berwarna jambon yang dibuat dengan sangat serasi dengan perawakannya, ikat pinggang berwarna jambon pula dan pada pinggangnya juga tergantung sebuah kantung kulit warna jambon.
Bahkan sinar matanya juga menampilkan warna jambon, serupa kebanyakan lelaki bilamana melihat anak gadis yang telanjang. Celakanya, pada waktu dia memandang Liok Siau-hong juga terpancar sikap demikian.

Mendadak Siau-hong merasa muak.

Namun Hun-yan-cu tidak mengacuhkan reaksi Siau-hong itu dia masih tetap tersenyum dan menatapnya, katanya kemudian dengan tersenyum, “Liok Siau-hong memang tidak malu sebagai Liok Siau-hong, tidak mengecewakan harapanku.”

“Oo?” melongok juga Siau-bong.

“Meski saat ini tampaknya engkau tidak terlalu baik, tapi bila kuberi sebaskom air panas, sepotong sabun, supaya engkau mandi sebersihnya, habis itu engkau pasti akan menjadi seorang lelaki yang tentunya sangat menarik,” dengan memicingkan mata Hun-yan-cu mengawasi Siau-hong pula, lalu menyambung, “Rasanya sekarang juga sudah dapat kubayangkan dirimu.”

Agaknya Siau-hong tidak merasa muak lagi, sebab sekarang yang dirasakan olehnya adalah ingin sekali jotos membikin ringsek hidung orang ini.

Untunglah pada saat itu Hun-yan-cu telah berpaling ke arah Yap Koh-hong dan berkata, “Orang ini bagianku, tidak boleh kau sentuh dia.”

Yap Koh-hong juga merasa muak, jengeknya. “Huh. Masa lelaki dan perempuan kau mau semua?”

Hun-yan-cu tertawa, katanya, “Terkadang aku pun menghendaki dirimu.”

Muka Yap Koh-hong yang pucat berubah menghijau.

“Aku pun tahu selama ini engkau sangat jemu padaku, tapi juga tidak dapat kekurangan diriku. Sebab sekali ini jika tidak ada diriku, bukan saja tak dapat kau temukan rase tua itu, bahkan juga jangan harap dapat pulang dengan hidup.”

Ia tersenyum, lalu menyambung. “Kesatria muda dan perguruan ternama seperti dirimu ini, meski biasanya di luaran sok berlagak gagah berani, tapi bila sudah berada di tengah hutan pemakan manusia ini, mungkin dua jam saja kau tidak tahan hidup.”

Yap Koh-hong diam saja dan tidak menyangkal. Perlahan Hun-yan-cu menghela napas. “Maka sekarang bila kuserahkan rase tua ini kepadamu, seharusnya kau merasa puas.”

Tangan Yap Koh-hong menggenggam pedangnya dan berkata, “Harus kau berikan dia padaku, kau tahu aku sudah bersumpah harus membunuhnya dengan tanganku sendiri.”

“Dan bagaimana dengan Liok Siau-hong?” tanya Hun-yan-cu.

“Dia bagianmu, asal saja dia ….”

Belum lanjut ucapan Yap Koh-hong. mendadak Tokko Bi tertawa dan berseru, “Haha, kalian keliru semua, Liok Siau-hong bukan bagiannya, juga bukan bagianmu.”

“Habis bagian siapa?” tanya Hun-yan-cu.

“Bagianku,” kata Tokko Bi.

Hun-yan-cu juga bargelak tertawa, katanya, “Seumpama dia juga mempunyai hobi seperti diriku, kukira dia juga takkan menaksir dirimu.”

“Tapi kalau dia ingin tetap hidup, dia tentu takkan membiarkan aku mati di tangan kalian,” ujar Tokko Bi.

Kembali Hun-yan-cu berpaling menghadapi Liok Siau-hong dan berkata dengan suara lembut, “Asalkan engkau tidak ikut campur urusan kami, boleh juga kubiarkan hidup bagimu.”

Siau-hong diam saja tanpa memberi reaksi.

Setelah menarik napas lagi, Hun-yan-cu berkata, “Nah, Yap-toasiauya, agaknya sekarang boleh kau turun tangan.”

“Baik,” kata Yap Koh-hong. Bagitu bicara begitu pula pedang dilolos dari sarungnya.

Kecepatannya melolos pedang tidak dapat menandingi Sebun Jui-soat, tapi juga tidak lebih lambat daripada orang lain.

Jurus serangan ini merupakan intisari ilmu pedangnya. Juga serangan yang mamatikan, tanpa kenal ampun.

Tokko Bi membuka mulut, ingin berteriak, tapi tidak keluar suara sedikitpun, Liok Siau-hong ternyata juga tidak merintanginya.

Hun-yan-cu masih tertawa, tapi mendadak tertawanya terbeku. Tahu-tahu ujung pedang menongol keluar di dadanya, darah berhamburan. Darah Hun-yan-cu sendiri.

Sungguh Hun-yan-cu tidak percaya, tapi sayang, mau tak mau dia harus percaya. Tangannya bergerak bermaksud merogoh senjata rahasia dalam kantung kulit, tapi orangnya keburu roboh terkulai.

Pada ujung pedang Yap Koh-hong itu masih menitikkan darah, perlahan Yap Koh-hong meniup titik darah terakhir pada ujung pedangnya.

Meniup titik darah pada ujung pedang sebenarnya adalah kebiasaan Sebun Jui-soat, tapi Yap Koh-hong telah dapat menirukan setiap gerak-gerik nya dengan sangat persis.

Cuma sayang, dia bukan Sebun Jui-soat.

Sorot mata Yap Koh-hong menampilkan semacam perasaan terangsang dan penuh semangat, serupa peajurit yang siap menyerbu musuh.

Titik darah terakhir tadi kebetulan jatuh di atas muka Hun-yan-cu, kulit mukanya masih berkerut-kerut, biji matanya melotot besar, tapi semu merah pada wajahnya sudah lenyap.

Tiba-tiba Siau-hong merasa orang ini sangat kasihan. Biasanya dia suka kasihan kepada orang yang mati tanpa mengetahui sebab-musababnya, ia tahu Hun-yan-cu pasti juga mati dengan penasaran.

Darah sudah kering, pedang sudah kembali masuk sarungnya. Tiba-tiba Yap Koh-hong berpaling dan melototi Tokko Bi.

Tokko Bi juga sedang melototi Yap Koh-hong dengan pandangan heran dan curiga.

“Tentunya tak terpikir olehmu mengapa kubunuh dia, bukan?” jengek Yap Koh-hong.

Tokko Bi memang tidak pernah menyangka. Siapapun tidak pernah menduga.

“Kubunuh dia hanya lantaran dia hendak membunuhmu,” kata Yap Koh-hong pula.

“Kedatanganmu bukan untuk membunuhku?” tanya Tokko Bi.

“Bukan,” jawab Yap Koh-hong.

Tokko Bi tambah tercengang. “Namun sebenarnya kau….”

“Sebenarnya aku memang sudah bertekad akan membinasakan dirimu di bawah pedangku.” tukas Yap Koh-hong.

“Dan mengapa sekarang berubah pikiranmu?”

“Sebab kutahu engkau bukan lagi orang hidup.”

Ucapan ini sangat aneh dan tidak dimengerti oleh orang lain. Tapi Tokko Bi tampaknya paham malah, ia menghela napas dan berkata, “Apakah kau pun orang San-ceng (perkampungan)?”

“Tak kau sangka bukan?”

Tokko Bi mengaku, “Ya, mimpi pun tak terpikir olehku.”

Sorot mata Yap Koh-hong menampilkan senyuman mengejek, katanya pula dengan perlahan, “Dengan sendirinya tak tersangka olehmu. Ada sementara orang sama sekali tidak pernah terpikir apa yang akan dilakukannya sendiri.”

Tokko Bi juga menghela napas gegetun, “Orang dalam San-ceng sana sungguh sangat aneh, seperti selamanya tak dimengerti oleh orang lain.”

“Justru lantaran itulah, maka dia sampai saat ini masih tetap ada,” ujar Yap Koh-hong.

Perlahan Tokko Bi mangangguk, mendadak ia membelokkan pokok pembicaraan, tanyanya, “Eh, pernah kau lihat cara turun tangan Liok Siau-hong?”

“Tidak pernah,” jawab Yap Koh-hong. “Apakah kau tahu betapa tinggi ilmu silatnya?”

“Tidak tahu.”

“Betapa banyak pengetahuanmu terhadap orang ini?”

“Kau tahu, dia pernah menyambut jurus serangan Thian-gwa-hui-sian andalan Pek-in-sengcu.”

“Tapi sekarang dia telah dilukai oleh pedang Sebun Jui-soat.”

“Ya, dapat kulihat,” kata Yap Koh-hong, “Sekarang ingin kutanya lagi padamu, hendaknya kau pikirkan secara mendalam baru memberi jawaban.”

Mendadak sikap Tokko Bi barubah sangat kereng, lalu menyambung sekata demi sekata, “Sekarang adakah keyakinanmu akan dapat membunuh dia?”

Yap Koh-hong diam saja, matanya kembali menampilkan senyuman mengejek, urat hijau juga timbul pada dahinya, selang agak lama barulah ia menjawab dengan perlahan. “Aku bukan Sebun Jui-soat.”

Tokko Bi memandanginya sekian lama, kemudian barulah ia berpaling ke arah Liok Siau-hong.

Sama sekali Liok Siau-hong tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, apa yang diperbincangkan mereka tadi seakan-akan sama sekali tidak dimengerti olehnya.

Tiba-tiba Tokko Bi tertawa dan berucap, “Tadi engkau tidak turun tangan menyelamatkan diriku.”
Siau-hong diam saja.

“Sekarang aku pun tidak bermaksud membunuhmu, sebab kami tidak yakin mampu membunuhmu,” kata Tokko Bi pula.

Akhirnya Siau-hong membuka mulut, “Tapi jalan yang kita tempuh tadi rasanya lama.”

“Segala urusan di dunia ini laksana awan di angkasa, setiap saat bisa mengalami berbagai perubahan, apalagi antara kita berdua?”

“Ehm, betul juga,” Siau-hong manggut-manggut.

“Maka sekarang biarlah kau tetap kau dan aku tetap aku, lebih baik kau pergi menuju ke jalanmu sendiri saja.”

“Kukira kurang baik,” sahut Siau-hong.

“Kurang baik?”

“Ya, sebab jalan yang kutempuh pasti tetap jalan tadi, jalan kematian.”

Tokko Bi tertawa, katanya, “Itu kan urusanmu sendiri.”

“Dan kau?” tanya Siau-hong.

“Dengan sendirinya ada jalanku sendiri yang akan kutempuh.”

“Jalan apa? Jalan menuju ke San-ceng?”

Tokko Bi menarik muka, jengeknya, “Jika sudah kau dengar, untuk apa pula bertanya?”

Tapi Liok Siau-hong justru bertanya lagi, “San-ceng apa yang hendak kau tuju?”

“San-ceng yang tidak dapat kau datangi,” jawab Tokko Bi.

“Mengapa tidak dapat kudatangi?”

“Sebab kau bukan orang mati.”

“Hanya orang mati yang boleh datang ke San-ceng sana.

Tokko Bi mengiakan.

“Kau sendiri orang mati?” tanya Siau-hong.

Kembali Tokko Bi membenarkan.

Siau-hong tertawa, katanya. “Baiklah, boleh kalian berangkat.”

Dengan tersenyum ia melambaikan tangannya dan berkata pula. “Jika aku tidak ingin pergi ke perkampungan orang mati, juga tidak mau menjadi orang mati. Asalkan tetap hidup, biarpun hidup lebih lama setengah jam saja kan Iebih baik.”

Dia terus melangkah pergi dengan gagah. Hanya sekejap saja sudah menghilang di tengah remang kelabu hutan lebat itu.

Setelah bayangannya menghilang barulah Tokko Bi berteriak, “He, benar-benar kau biarkan dia pergi?”

“Dia memang sudah pergi,” ujar Yap Koh-hong.

“Kau tidak kuatir dia akan membocorkan rahasia San-ceng?”

“Rahasia yang diketahuinya tidak banyak, apalagi dalam keadaan demikian, mungkin sekali dia memang tidak dapat hidup lebih lama daripada setengah jam lagi.”

“Yang jelas sekarang dia kan tidak mati, malahan dapat menguntit kita secara diam-diam.”

“Kita hendak pergi kemana?” tanya Yap Koh-hong tiba-tiba.

“Dengan sendirinya ke San-ceng.” jawab Tokko Bi.

“Salah,” jengek Yap Koh-hong.

“Bukan kita, tapi kau sendiri yang pergi.”

“Kau tidak pergi?” tanya Tokko Bi.

“Mengapa aku harus pergi ke sana?” jawab Yap Koh-hong dengan tak acuh.

Air muka Tokko Bi seketika berubah.

“Kutahu engkau dan pihak San-ceng ada perjanjian, dengan sendirinya tak dapat kubunuh dirimu, tapi aku pun tidak bilang hendak membawamu ke sana.”

Air muka Tokko Bi tampak berkerut-kerut, ucapnya dengan gemetar, “Tapi kan dapat kau lihat selangkah pun aku tidak sanggup berjalan lagi.”

“Itu kan urusanmu sendiri,” jengek Yap Koh-hong. “Memangnya apa sangkut-pautnya denganku?”

Mendadak ia melolos pedang lagi dan menabas seranting daun pohon dan digunakan sebagai alas tempat duduk, lalu ia duduk bersila di situ.

Dengan gemas Tokko Bi manatapnya, akhirnya ia tidak tahan dan bertanya pula, “Mengapa engkau tidak pergi?”

“Mengapa aku harus pergi?” jawab Yap Koh-hong dengan adem-ayem.

“Apakah hendak kau tunggu kematianku?”

“Boleh kau mati dengan perlahan, aku tidak tergesa-gesa,” jawab Yap Koh-hong.

Dia bersikap sangat tenang dan santai, malahan dia lantas mengeluarkan sepotong daging rebus yang dibungkus dengan kertas minyak, juga terdapat sebotol arak.

Bagi seorang kakek yang telah bergulat dengan kehausan dan kelaparan selama 36 jam, bau arak dan daging bukan lagi merangsang melainkan semacam siksaan. Sebab dia hanya dapat memandang saja, dan bau sedap itu serupa jarum tajam yang menusuknya sehingga membuatnya gemetar.

Seperti sengaja mengiming-iming, perlahan Yap Koh-hong meneguk araknya, lalu menghela napas puas, katanya, “Kutahu hatimu tentu lagi menyesal mengapa tadi tidak membiarkan Liok Siau-hong pergi. Tapi ada satu hal yang jelas tidak kau ketahui.”

Tokko Bi memang ingin memencarkan perhatiannya terhadap arak dan daging dengan berbicara, maka segera ia bertanya, “Hal apa?”

“Sebabnya tidak kubunuh Liok Siau-hong bukan lantaran aku tidak yakin mampu membunuhnya, tapi sengaja kubiarkan dia mati di tangan Sebun Jui-soat.”

“Oo!” Tokko Bi bersuara singkat.

“Tapi sekarang bila dia berani datang lagi, sekali pedangku terlolos pasti darahnya akan berhamburan.” ucap Yap Koh-hong dengan angkuh.

Untuk menghilangkan rasa lapar dan hausnya, Tokko Bi berusaha memencarkan perasaan itu dengan berbicara, maka ia berkata pula “Apakah maksudmu di dunia ini tidak ada orang yang mampu menyelamatkan diriku lagi, juga tidak ada yang sanggup menolong Liok Siau-hong keluar-dan hutan maut ini’
“Ya, pasti tidak ada,” jawab Yap Koh-hong.

Siapa duga, baru selesai ia bicara, mendadak ada tangan terjulur dari balik pohon dan merampas botol arak yang dipegangnya.

Reaksi Yap Ko-hong tidak lambat, begitu tangan tertarik kembali, serentak ia pun sudah berada di belakang pohon.

Tapi di belakang pohon ternyata tidak ada seorang pun.
Waktu ia kembali lagi ke tempat semula, terlihat botol arak sudah berada di tangan Tokko Bi dan sudah hampir tertenggak habis isinya.

Daging rebus yang terbungkus keras minyak tadi sekarang juga sudah lenyap. Keruan Yap Koh-hong melongo dan tidak berani bergerak lagi, napas pun seakan-akan berhenti, hutan yang remang kelabu sunyi bagai kuburan.

Sampai angin pun berhenti meniup, tapi dari atas pohon tiba-tiba melayang turun sehelai benda.
Secepat kilat Yap Koh-hong melolos pedang dan menusuk tembus benda itu. Ternyata kertas minyak pembungkus daging tadi yang tersunduk pada ujung pedangnya.

Tokko Bi tertawa, bergelak tertawa sehingga air mata pun tercucur keluar.

Tapi Yap Koh-hong seperti tidak mendengar, mukanya tampak pucat menghijau, perlahan ia tanggalkan kertas minyak itu.

“Kertas itu tak berdarah, apa yang hendak kau tiup?” ejek Tokko Bi karena orang sok meniru gaya Sebun Jui-soat.

Yap Koh-hong lelap berlagak tidak mendengar, sekali berkelebat pedang sudah kembali ke sarungnya.

Kemudian ilia duduk kembali di tempat tadi, ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengeluarkan satu lipatan kertas, dengan sebatang jarum in paku lipatan kertas pada batang pohon di belakangnya, lalu menjengek. “Inilah peta terperinci cara bagamana keluar dari hilian atau masuk ke gunung sirna. Barang siapa mampu boleh silakan ambil sekalian!”

Dia lelap duduk membelakangi pohon, duduk tanpa hei gerak, bahkan mata pun terpejam sehingga serupa pertapa yang bersemedi.

Suara tertawa Tokko Bi juga berhenti. Matanya terbelalak me mandangi lipatan kertas yang terpaku di pohon itu. Ia tahu inilah umpan Yap Koh-hong untuk memancing ikan.

Kungfu Bu-tong-pay terhitung kelas utama sejajar dengan Siau-lim-pay, sejak berumur empat tahun Yap Koh-hong sudah masuk perguruan Bu-tong, maka Lwekangnya jelas sudah mencapai tingkatan yang top.

Sekarang ia memusatkan segenap tenaga dan pikirannya, meski mata terpejam, namun setiap gerak-gerik beberapa tombak di sekitarnya, biarpun suara jatuhnya sehelai daun kering pun tak terhindar dari mata telinganya.

Jadi umpan sudah diaturnya dengan baik, tapi dimana ikannya? Apakah ikan itu mau terpancing?
Seketika napas Tokko Bi seakan-akan berhenti waktu dilihatnya sebuah tangan terjulur perlahan dari balik pohon.

Gerak tangan ini sangat enteng, cepat dan lincah, begitu tangan terjulur segera lipatan kertas yang terpaku di batang pohon disentuhnya.

Tapi pada saat itu juga, kembali sinar pedang berkelebat secepat kilat “cret”, ujung pedang menancap di pohon, tangan itu terpantek tepat di batang pohon.

Air muka Tokko Bi berubah pucat, air muka Yap Ko-hong juga berubah, tapi perubahan air muka kedua orang mempunyai cita rasa yang berbeda.

Tokko Bi tidak melihat darah. Tangan bukan kertas, mengapa tak berdarah?

Maka dapatlah Tokko Bi menghela napas lega, sebab sekarang dapat dilihatnya dengan jelas tangan itu tidak terpantek oleh ujung pedang. Sebaliknya ujung pedang yang terjepit oleh jari tangan itu. Terjepit oleh kedua jari saja.

Air muka Yap Koh-hong yang pucat mendadak berubah merah, dengan butiran keringat memenuhi dahinya ia telah menarik pedang sekuat tenaganya, namun pedang itu serupa terjepit oleh tanggam yang maha kuat, sedikit pun tidak bergeming.

Jari tangan siapakah itu? Jari tangan siapa yang memiliki kekuatan gaib sehebat itu?

Siapa lagi? Dengan sendirinya cuma Liok Siau-hong saja.

Senyuman menghiasi wajah Tokko Bi pula, ucapnya, “Pedangmu sudah keluar pula dari sarungnya, tapi tampaknya seperti tidak memercikkan darah?”

Yap Koh-hong menjadi nekat, mendadak ia lepaskan pedangnya terus melompat ke belakang pohon.

Sekali ini terlihat Liok Siau-hong berdiri di belakang pohon dan sedang memandangnya dengan tertawa, pada tangannya masih memegang pedangnya, memegang pedangnya dengan jepitan dua jari pada ujung pedang itu.

“Tanpa menggunakan pedang juga dapat kubunuh kau,” jengek Yap Koh-hong.

“Tapi pedang ini punyamu dan tetap akan kukembalikan padamu,” ujar Siau-hong dengan tersenyum.

Segera Yap Koh-hong turun tangan, yang digunakan adalah ilmu pukulan lunak. ‘Bian-ciang’ yang terkenal dari Bu-tong-pay, diselingi pula dengan kungfu mencengkeram dan menangkap. Kungfu bertangan kosong menghadapi lawan yang bersenjata, kelima jarinya melengkung serupa kaitan baja.

Siapa tahu Siau-hong benar-benar menyodorkan pedang padanya, ujung pedang tetap terjepit oleh jarinya, tangkai pedang yang diangsurkan.

Tanpa terasa Yap Koh-hong menjulurkan tangan untuk memegang, tapi air mukanya lantas berubah ketika dirasakan darah merembes keluar dari genggamannya.

Padahal yang disodorkan Liok Siau-hong barusan jelas-jelas tangkai pedangnya. Tahu-tahu yang terpegang olehnya justru ujung pedang yang tajam. Sampai cara bagaimana Liok Siau-hong bergerak juga tidak terlihat olehnya.

“Ini kan pedangmu sendiri dan tidak ada orang yang hendak merampasnya, mengapa kau pegang sekuat itu?” ucap Siau-hong dengan tertawa.

Wajah Yap Koh-hong pucat seperti mayat, tiba-tiba ia bertanya, “Perlu beberapa jurus serangan baru Sebun Jui-soat dapat melukaimu?”

“Satu jurus,” jawab Siau-hong menegas.

“Masa tidak dapat kau sambut satu jurus serangnya?” Yap Koh-hong menegas.

Siau-hong hanya tersenyum getir saja tanpa menjawab. “Apakah waktu itu kau mabuk?” tanya Yap Koh-hong pula Siau-hong menggeleng.

“Apakah betul satu jurus saja tidak mampu kau elakkan,” kembali Yap Koh-hong menegas.

Siau-hong menghela napas, “Kau tahu, kau pernah melihat caranya turun tangan, akan tetapi orang yang menonton di samping selamanya tetap tidak paham betapa cepat serangannya.”

Yap Koh-hong menunduk dan memandang tangan sendiri, tangan yang masih mengucurkan darah, ujung pedang yang dipegangnya tidak dilepaskannya, dari ujung pedang juga meneteskan darah dan menetes terus ….

Mendadak ia menghela napas panjang, dengan ujung pedang yang dipegangnya itu ia tikam hulu hati sendiri.

Seketika helaan napas terhenti dan mata mendelik. Melengak juga Liok Siau-hong, “Tidak ada maksudku hendak kubunuh dirimu, buat apa engkau bertindak begini?”

Keringat memenuhi wajah Yap Koh-hong vang pucal itu, napasnya juga mulai memburu, ucapnya sekuat tenaga, “Selama 20 tahun aku belajar ilmu pedang, kuyakin tidak ada tandingannya di dunia. Mestinya sudah kutantang Sebun Jui-soat untuk bertanding di puncak Ci-kim-tian pada waktu lohor hari Toan-yang nanti.”

“Waktu lohor hari Toan-yang tahun ini?” Siau-hong menegas.

“Ya,” jawab Yap Koh-hong lemah, “Meski aku tidak yakin akan menang, tapi aku percaya sanggup menempurnya. Tapi setelah bertemu denganmu barulah kusadari biarpun aku belajar 20 tahun lagi juga tetap bukan tandingannya….”

Bicara sampai sini, dia terbatuk-batuk tiada hentinya, namun maksudnya sudah jelas diketahui Liok Siau-hong.

Maklumlah, apabila tiba pada hari Toan-yang sebagaimana di-janjikannya, kalau tidak hadir, tentu malu bertemu dengan kawan Kangouw, jika hadir, jelas juga akan keok.

Sebab tiba-tiba ia menyadari ilmu pedang sendiri, selisih sangat jauh dengan Sebun Jui-soat.

Kalau satu jurus serangan Sebun Jui-soat saja tak mampu dielakkan oleh Liok Siau-hong, sedangkan sekarang dia mati kutu menghadapi Liok Siau-hong, maka jarak antara ilmu pedangnya dengan Sebun Jui-soat jelas teramat jauh.

Maka tantangannya terhadap Sebun Jui-soat tiada ubahnya mendatangkan aib baginya, bagi pandangannya, aib demikian jauh lebih besar daripada isterinya dihina orang.

Sorot mata Siau-hong menampilkan rasa kasihan, katanya, “Dan kau mati hanya lantaran urusan sepele ini?”

Yap Koh-hong mengangguk lemah.

Siau-hong menghela napas perlahan, tiba-tiba ia mendekati Yap Koh-hong dan berbisik beberapa patah kata padanya.

Mendadak kulit muka Yap Koh-hong berkerut-kerut seperti mengejang, sinar matanya menampilkan lagi semacam perasaan yang sukar dimengerti oleh siapapun, ia tatap Siau-hong dengan bingung, lalu ambruklah dia.

Anehnya, sesudah roboh, pada ujung mulutnya menampilkan lagi secercah senyuman.

Pedang benda mati, manusia gugur dan pedang tetap hidup.

Siau-hong menggeleng dan menghela napas memandang pedang tak kenal ampun itu.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: