Kumpulan Cerita Silat

14/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 10:33 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 05: Keajaiban Pulau Es
Bab 06
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Edisaputra)

Setengah bulan kemudian, di dalam rumah yang teratur rapi dan resik, cuaca cerah, cahaya mentari gilang gemilang. Di depan jendela ada hiasan pot bunga yang indah.

Ting-hiang-ih ternyata sudah dapat berduduk, wajahnya yang pucat sudah mulai bersemu merah, serupa setangkai bunga yang semula sudah layu mendadak segar kembali.

Dengan sendirinya semua ini sangat menyenangkan orang. Perasaan Liok Siau-hong juga jauh lebih riang daripada beberapa hari yang lalu.

“Kan sudah kujanjikan, aku pasti akan datang lagi menjengukmu,” kata Siau-hong.

“Ya, kutahu,” sahut Ting-hiang-ih, tersembul juga senyuman lembut pada wajahnya, “Kutahu engkau pasti akan datang lagi.”

Dia duduk bersandar tempat tidur, seprei tempat tidur baru saja diganti, dia memakai baju tidur yang longgar hingga menutupi kaki dan tangannya yang buntung.

Sinar sang surya menembus masuk melalui jendela, dia kelihatan masih sangat cantik.

“Kedatanganku juga membawa sesuatu barang,” tutur Siau-hong dengan tersenyum.

Mencorong sinar mata Ting-hiang-ih. Serunya, “Lo-sat-pay?!”

Siau-hong mengangguk, “Apa yang sudah kujanjikan padamu pasti dapat kulakukan, aku tidak berdusta padamu.”

Mata Ting-hiang-ih berkedip-kedip, katanya. “Memangnya aku yang berdusta padamu?”

Siau-hong menarik sebuah kursi dan berduduk, katanya, “Kau bilang padaku bahwa Cing-cing adalah sahabatmu dan boleh kupercaya padanya.”

Ting-hiang-ih membenarkan.

“Apakah dia benar-benar sahabatmu? Kau benar-benar mempercayai dia?” Siau-hong menegas.

Ting-hiang-ih melengos ke arah lain, menghindari pandangan Siau-hong yang tajam. Napasnya mendadak berubah memburu seakan sedang mengekang perasaan sendiri. Selang agak lama, akhirnya ia tidak tahan dan tercetus ucapan setulusnya, “Dia perempuan jalang!”

“Dan kau suruh aku mempercayai seorang perempuan jalang!” kata Siau-hong dengan tertawa.

Akhirnya Ting-hiang-ih berpaling kembali, ucapnya dengan tertawa, “Sebab aku seorang perempuan. Bukankah perempuan selalu suka menyuruh orang lelaki mengerjakan sesuatu yang tidak suka dikerjakannya sendiri?”

Alasan ini sebenarnya tidak begitu tepat, namun Siau-hong seperti merasa puas. Sebab ia tahu berhadapan dengan seorang perempuan, jika orang perempuan disuruh bicara secara peraturan, sama sulitnya kau minta unta menerobos lubang jarum.

Tiba-tiba Ting-hiang-ih bertanya, “Apakah dia benar-benar sudah mati?”

“Ehmm,” Siau-hong mengangguk.

Ting-hiang-ih menghela napas lega perlahan.

Siau-hong menatapnya tajam-tajam, tiba-tiba ia bertanya, “Darimana kau tahu dia sudah mati?”

Kembali Ting-hiang-ih berpaling dan berdehem, lalu menjawab perlahan, “Aku tidak tahu, aku cuma menduga begitu saja.”

“Mengapa dapat kau pikirkan demikian?”

“Jika cara begitu kau tanya padaku tadi, suatu tanda dia telah banyak melakukan hal-hal yang tidak baik padamu. Orang yang berbuat tidak baik padamu bukankah pantas mati?”

Alasan ini kurang baik, tapi diterima juga oleh Liok Siau-hong, katanya, “Apa pun juga, toh akhirnya sudah kutemukan kembali Lo-sat-pay, tidak tersia-sia perjalananku ini.”

Mendengar Lo-sat-pay, sinar mata Ting-hiang-ih tambah mencorong. Ia memandang tangan Liok Siau-hong yang sedang meraba bajunya itu, lalu menyaksikan dia mengeluarkan sepotong Giok-pay, mendadak ia menitikkan air mata.

Siau-hong dapat memahami perasaannya.

Lantaran Giok-pay itulah dia tidak sayang menghancurkan rumah tangganya, menghancurkan kebahagian sendiri, bahkan ia sendiri pun berubah menjadi cacat selamanya. Biarpun Giok-pay itu adalah benda mestika yang tidak ternilai harganya, namun harga kebahagiaan bukanlah terlebih sukar diukur? Apakah cukup berharga tindakannya itu? Apakah sekarang dia merasa menyesal?

Tanpa terasa Siau-hong menghela napas gegetun, ucapnya. “Jika barang ini milikku, pasti akan kuberikan padamu, namun sekarang..”

“Kutahu maksudmu,” potong Ting-hiang-ih, “Tidak perlu kau jelaskan. Sekarang, meskipun kau berikan padaku juga tiada gunanya bagiku.”

Kembali air matanya mengucur lagi. Perlahan ia menyambung pula, “Sekarang aku cuma ingin melihatnya dan memegangnya, dengan begitu sudah puas hatiku.”

Siau-hong juga dapat memahami perasaannya ini. Ia menyodorkan Lo-sat-pay itu kepadanya, namun wajah Ting-hiang-ih kelihatan bertambah menderita.

Dia sudah tidak bertangan, padahal Giok-pay yang diidam-idamkannya tanpa sayang mengorbankan segalanya itu sekarang berada di depan matanya, namun dia tidak mampu memegangnya. Penderitaan ini sungguh sukar ditahan oleh siapa pun, namun dia justru dapat menahannya.

Kembali Siau-hong menghela napas menyesal, katanya, “Bagaimana kalau kuletakkan Giok-pay ini di atas tubuhmu, sedikitnya dapat kau lihat lebih jelas!”

Ting-hiang-ih mengangguk. Dilihatnya Liok Siau-hong menaruh Giok-pay itu di atas dadanya, mata yang berlinang air mata itu tiba-tiba menampilkan semacam perasaan yang sukar dijelaskan, entah berterima kasih? Terhibur atau berduka?

Mendadak Ting-hiang-ih menundukkan kepala dan mencium perlahan Giok-pay itu, serupa mencium sang kekasih pada cinta pertamanya.

“Terima kasih, terima kasih ….” berulang-ulang ia menyebut, dengan kedua tangannya yang buntung sebatas pergelangan tangan itu ia jepit Giok-pay itu dan ditempelkan pada pipi sendiri.

Siau-hong tidak tega memandangi dia. Ia ingat tangan Ting-hiang-ih mestinya sangat halus lagi indah, kukunya memakai cat kuku merah muda serupa warna bunga mawar sehingga tangannya mirip setangkai bunga mawar yang baru mekar. Akan tetapi bunga mawar itu sekarang telah dipatahkan tanpa ampun sehingga cuma tersisa ranting yang kering.

Bunga mawar yang sekarang telah dipatahkan itu masih akan tumbuh lagi tahun depan, namun tangannya?…

Siau-hong berbangkit dan berpaling, pada saat itu mendadak terdengar suara “pluk” sekali, semacam barang terbang keluar menerobos jendela, menyusul terdengar pula “critt” sekali, semacam barang menyambar masuk menembus jendela.

Cepat Siau-hong berpaling, ternyata Giok-pay yang dijepit oleh kedua tangan Ting-hiang-ih yang buntung itu sudah lenyap, malahan dadanya kelihatan merembeskan darah seperti air ledeng. Wajahnya yang bersemu merah kembali berubah pucat, ujung mata dan ujung mulut tampak berkedut-kedut, seperti menangis, serupa tertawa pula.

Umpama tertawa juga semacam tertawa yang terlebih duka daripada menangis…
Ia memandang Siau-hong, sinar matanya yang mencorong tadi telah berubah jadi guram, sekuatnya ia berucap, “Meng…mengapa engkau tidak mengejar?”

Siau-hong menggeleng. Tertampil rasa kasihan dan simpatinya sedikit pun tidak memperlihatkan rasa kejut dan gusar.

Apa yang dilakukan Ting-hiang-ih ini seolah-olah sudah berada dalam dugaannya, selang agak lama barulah ia bicara dengan muram, “Apakah kau tertipu orang lagi?”

Dengan suara lemah Ting-hiang-ih menjawab, “Kutipu kau tapi dia juga menipuku, Setiap orang seperti sudah ditakdirkan harus ditipu oleh semacam orang, betul tidak menurut pendapatmu? Betul tidak?”

Suaranya sangat perlahan, sangat lirih. Tidak terdapat lagi suara duka dan tersiksa.

Sedetik sebelum ajalnya, tiba-tiba ia menyadari semacam falsafah orang hidup yang ruwet, tapi juga sederhana dan ajaib. Lalu tamatlah riwayat hidupnya.

ooo000ooo

Malam di musim dingin, malam yang panjang. Pada jalan yang gelap gulita itu sunyi senyap tiada seorang pun, yang terlihat cuma sebuah lentera.

Lentera berkerudung putih dan sudah tua sehingga hampir berubah menjadi kelabu. Masih tergantung di atas pintu sempit di ujung jalan itu, di bawah lampu tergantung sebuah pancing perak yang mengkilat, serupa pancing yang biasa digunakan kaum pengail.

Pancing perak bergoyang-goyang tertiup angin malam yang dingin. Deru angin seolah-olah helaan napas orang menyesal. Menyesali di dunia ini mengapa terdapat sedemikian banyak orang bodoh yang rela terkail oleh pancing perak ini.

Dari sudut yang lembab di bawah kabut malam Pui Giok-hui melangkah masuk ke kasino Pancing Perak yang gemerlapan itu. Ia menanggalkan mantelnya yang berwarna putih sehingga tertampak pakaiannya yang terbuat dan kain satin dan sangat pas dengan perawakannya.

Setiap hari pada waktu demikian ini adalah waktu perasaannya sangat gembira, terutama hari ini. Sebab Liok Siau-hong sudah pulang dan Liok Siau-hong adalah sahabat yang paling disukai dan paling dihormatinya.

Dengan sendirinya Liok Siau-hong juga sangat gembira, sebab dia sudah pulang. Pulang dari negeri es yang jauh dan dingin itu.

Di ruangan besar kasino yang berpajang mewah itu penuh suasana hangat dan menggembirakan, bau harum arak bercampur dengan bau bedak diselingi suara gemerincing uang perak menimbulkan serentetan suara yang menawan, hampir tiada suara musikyang lebih menawan di dunia ini daripada suara di dalam kasino ini.

Dan Siau-hong suka kepada suara ini, serupa kebanyakan orang lain di dunia ini, ia pun suka akan kemewahan dan hidup nikmat.

Lebih-lebih sekarang setelah mengalami masa sulit sekian lamanya di negeri es nan jauh dan kesepian itu, kini dia pulang kembali di sini, dia jadi serupa seorang anak kecil yang tersesat telah pulang ke rumah yang hangat, kembali ke dalam pangkuan ibunda tersayang. Bahwa sekali ini dapat pulang dengan hidup, sungguh bukan sesuatu yang sederhana.

Dia baru saja habis mandi air panas dan berganti baju, jenggot palsu dan kerut buatan pada ujung matanya serta kapur yang memutihkan rambutnya kini sudah dibuang dan dicucinya hingga bersih. Sekarang dia kelihatan bercahaya, menyala, penuh semangat, sampai dia juga merasa sangat suka kepada dirinya sendiri.

Tentu saja ada berapa orang perempuan yang berada di ruangan judi itu diam-diam meliriknya, meski kebanyakan perempuan itu sudah tergolong ‘tante’, namun Siau-hong tetap memperlihatkan senyuman yang paling menarik bagi mereka. Setiap perbuatan yang dapat membuat gembira orang lain dan toh tidak merugikan dia sendiri, selamanya takkan ditolaknya untuk melakukannya.

Melihat senyumannya, sampai Pui Giok-hui juga merasa sangat senang, dengan tersenyum ia bertanya, “Tampaknya engkau sangat suka pada tempat ini?”

“Ya, orang yang menyukai tempat ini tampaknya makin lama makin banyak,” ujar Siau-hong.

“Usaha tempat ini memang makin maju,” kata Pui Giok-hui, “Bisa jadi lantaran sekarang semua orang dapat hidup lebih longgar dan iseng, hawa juga dingin, kan lebih baik berdiam di dalam rumah, minum arak dan berjudi.”

“Apakah juga banyak orang perempuan yang khusus datang untuk melihat dirimu?” tanya Siau-hong dengan tertawa.

Maka tergelaklah Pui Giok-hui.

Dia memang seorang lelaki yang menggiurkan, “charming”, kata orang sekarang. Mukanya selalu terawat bersih, dandanannya mutakhir, perawakannya juga gagah, meski terkadang kelihatan rada sok, tapi justru lagaknya inilah model yang paling disukai oleh perempuan setengah baya yang tergolong tante itu.

Dengan suara tertahan Siau-hong berkata pula kepada Giok-hui, “Kukira pasti banyak orang perempuan yang terpancing olehmu di tempat ini?!”

Pui Giok-hui tidak menyangkal, jawabnya dengan tersenyum. “Perempuan yang suka berkeluyuran di rumah judi, hampir semuanya tidak beres.”

“Dan bagaimana perempuan yang membuka kasino? Apakah juga…”

Mendadak ucapannya terhenti, sebab tiba-tiba dilihatnya ada seorang sedang menubruk dari belakang Pui Giok-hui dengan memegang belati, langsung iga kiri Pui Giok-hui ditikamnya.

Pui Giok-hui tidak melihat kejadian ini, sebab pada punggungnya tidak ada mata. Waktu Siau-hong melihatnya juga sudah terlambat, belati orang itu tinggal belasan senti saja di belakang punggung Pui Giok-hui. Padahal tempat itu merupakan bagian mematikan pada tubuh manusia, sekali tertikam tentu jiwa melayang. Tentu saja Siau-hong ikut kuatir bagi Pui Giok-hui.

Siapa tahu, pada detik terakhir, mendadak Pui Giok-hui menekuk pinggang, sekali berputar, kontan pergelangan tangan orang yang memegang belati itu kena dicengkeramnya, “trinng”, belati jatuh ke lantai dan orang itu pun mencaci maki.

Tapi baru memaki satu-dua kata segera mulutnya tersumbat, dua lelaki kekar mendadak muncul di belakangnya, satu orang satu sisi, serentak orang itu digusur keluar.

Air muka Pui Giok-hui ternyata tidak berubah sama sekali, dengan tersenyum ia berkala, “Di tempat begini memang sering terjadi hal-hal demikian.”

“Apakah kau tahu sebab apa dia hendak membunuhmu?” tanya Siau-hong.

“Tentunya tidak ada lain, kalau bukan mabuk pastilah kalap karena kalah habis-habisan,” sahut Pui Giok-hui dengan tak acuh.

“Tapi juga bisa jadi lantaran dia gila saking gemasnya,” ujar Siau-hong.

“Sebab apa?” tanya Giok-hui.

“Sebab telah kau kerjai bininya.”

Kembali Pui Giok-hui bergelak tertawa. Menurut pandangannya, kalau dapat mengerjai bini orang seakan-akan merupakan perbuatan yang gemilang dan terpuji, tidak perlu malu atau menyesal.

Siau-hong memandangnya dengan melongo, serupa baru pertama kali melihat orang ini.

Peristiwa tadi berlangsung secara mendadak, juga berakhir dengan cepat, namun tetap saja menimbulkan sedikit kepanikan. Lebih-lebih beberapa meja judi yang berdekatan dengan mereka, kebanyakan orang sudah meninggalkan tempat duduknya dan sedang bisik-bisik membicarakan kejadian ini.

Hanya ada satu orang saja yang masih duduk di tempatnya tanpa bergeser, malahan sedang terkesima menatap kepingan kartu Pai-kiu yang tertaruh di depannya, tidak sedikit taruhannya pada permainan Pai-kiu ini. Kalau tidak menang sangat banyak, pastilah sudah kalah tidak sedikit.

Orang ini memakai topi kulit berbulu halus, memakai jaket kulit yang dibalik, mukanya penuh berewok. Jelas seorang saudagar jinsom yang haru pulang dari luar perbatasan di utara. Pada sabuknya kelihatan penuh terikat hasil usaha jerih payahnya akan tetapi uang sebanyak itu seakan siap diludeskan dalam semalam saja.

“Mengapa kau pandang dia? Tampaknya besar minatmu untuk menangkan duitnya?” dengan suara tertahan Pui Giok-hui berseloroh.

Siau-hong tertawa dan menjawab, “Uang yang didapatkan dari meja judi biasanya paling enak untuk dibuat foya-foya, kesempatan baik begini mana boleh kusia-siakan?”

“Tapi adik iparku sudah lama menunggu kedatanganmu di dalam. Kabarnya, ketiga makhluk tua Swe-han-sam-yu juga sudah tiba lebih dulu,” kata Giok-hui.

“Mereka boleh menunggu, sedangkan duit pada orang semacam ini tidak dapat menunggu. Setiap saat bisa kabur dan sukar dicari lagi!” ujar Siau-hong.

“Ehm, betul juga,” kata Giok-hui dengan tertawa. “Makanya lekas kau beritahukan kepada mereka, tunggu sebentar lagi, segera kudatang.”

Dan tanpa menunggu persetujuan Pui Giok-hui, segera Siau-hong menuju ke meja judi Pai-kiu, dia berdiri tepat di samping si berewok, dengan tersenyum ia menantang, “Kecuali taruhan di atas meja dengan bandar, bagaimana kalau kita berdua mengadakan pertaruhan tersendiri?”

Tanpa pikir si berewok menyetujui, ucapnya, “Jadi! Cara pertaruhanku biasanya semakin besar semakin menyenangkan. Berapa banyak engkau ingin bertaruh?”

“Mau bertaruh harus sepuas-puasnya, taruhan berapa besar pun pasti kuiringi,” jawab Siau-hong.

Pui Giok-hui memandangi mereka dari jauh, ia tersenyum dan menggeleng kepala, tiba-tiba ia merasa tangan sendiri juga gatal.

Waktu dia mengitari meja judi ini dan menuju ke belakang sana, mendadak Siau-hong meremas tangan si berewok sekait di bawah meja….

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: