Kumpulan Cerita Silat

13/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 10:19 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 05: Keajaiban Pulau Es
Bab 05
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Edisaputra)

Cing-cing tidak mati, ia malahan sangat sadar sejak tadi.

Dalam keadaan demikian, kesadaran sendiri merupakan semacam siksaan yang sukar ditahan, di alam halus seakan-akan benar ada badan halus yang menegakkan keadilan dan sengaja memberi hukum siksa kepadanya.

Seorang Siau-hong telah membawanya ke suatu kamar lain dan membaringkan dia dengan tenang, namun penderitaannya belum lagi berakhir, mungkin cuma kematian saja yang dapat menghindarkan dia dari penderitaan.

Jika penderitaan sudah mencapai titik yang sukar ditahan, kematian akan berubah menjadi hal yang tidak menakutkan sedikit pun.

Sekarang Cing-cing benar-benar ingin mati saja. Dia berharap Liok Siau-hong akan memberikan pembebasan pada dirinya secara cepat, tapi dia pasti tidak mau memperlihatkan keinginannya itu, sebab sejak kecil dia sudah mendapatkan suatu pelajaran, yaitu bilamana kau ingin mati, orang lain justru sengaja membiarkan kau hidup. Bila engkau tidak ingin mati, orang lain justru hendak membunuhmu.

Sampai sekarang dia masih ingat kepada pelajaran ini sebab dia sudah menyaksikan banyak orang yang tidak ingin mati, tapi justru mati di depannya. Juga banyak melihat orang yang ingin mati. tapi justru masih hidup sampai sekarang. Dia memang tumbuh di dalam kesulitan.

Meski Liok Siau-hong masih berdiri di depan tempat tidur dengan tenang, tapi dapat dilihatnya di dalam hati Siau-hong juga tidak tenang.

Betapapun bila melibat kejadian yang mengerikan tadi, tentu hati seseorang akan terganggu.

Mendadak Cing-cing tertawa, katanya. “Tak kusangka engkau akan datang kemari, tapi pasti sudah lama kau tahu akan perbuatanku.”

Siau-hong tidak menyangkal.

Maka Cing-cing berkata pula, “Mestinya kuanggap tindakanku cukup rapi, apabila Jo-jo juga bertindak lebih hati-hati dan tidak menumpahkan isi peti, bisa jadi engkau takkan mencurigai diriku.”

Siau-hong termenung agak lama, katanya kemudian, “Bahwa peti itu berisi batu dan ternyata dapat kau terima dengan baik, bahwa Jo-jo adalah kenalanmu sejak kecil, tapi sengaja berlagak tidak kenal. Meski kedua hal ini cukup membuatku sangat curiga, tetap bukan petunjuk yang penting bagiku.”

“Petunjuk apa yang penting?” tanya Cing-cing.

“Beruang hitam!” jawab Siau-hong.

“Beruang hitam?” Cing-cing menegas.

“Ya,” tutur Siau-hong, “Leng Hong-ji selalu bilang dia melihat beruang hitam di sungai es sana, padahal yang dilihatnya cuma manusia berkulit beruang hitam. Sebab tindak-tanduk orang ini sangat misterius, bentuknya justru sangat mudah dikenali orang, maka dia sengaja menutupi dirinya dengan kulit beruang. Siapa pun kalau melihat beruang hitam tentu akan lari terbirit birit dan takkan memperhatikannya lebih lanjut.”

“Kau anggap orang itu ialah diriku?” tanya Cing-cing.

“Ehmm,” Siau-hong mengangguk,

“Sebab kau lihat di dalam kamarku ada sehelai kulit beruang?”

“Tentunya tak kau sangka akan kudatangi kamarmu, hal itu memang kejadian yang sangat kebetulan.”

Cing-cing menghela napas, “Kamarku memang tidak pernah dimasuki orang lain, dalam hal ini kau tidak salah.”

“Memangnya ada hal lain yang salah?” tanya Siau-hong. “Dapatnya kau datang ke kamarku bukanlah lantaran kebetulan aku pingsan, sebab hari itu pada hakikatnya aku tidak pingsan.”

Meski suara Cing-cing tak bertenaga, tapi setiap katanya terdengar dengan jelas, sebab sejauh itu dia dapat mengatasi penderitaannya. Di dunia ini mungkin sangat sedikit orang yang sanggup bertahan seperti dia.

Ia menyambung pula, “Kubiarkan engkau datang ke kamarku, sebab pada waktu kau pondong diriku, tiba-tiba timbul semacam hasrat yang selama ini belum pernah ada pada diriku, sebenarnya … sebenarnya aku pun tidak menyangka Li Sin-tong bisa mendadak menerobos ke kamarku.”

Siau-hong tertawa, “Jika aku menjadi dia, aku pun bisa mendadak menerobos masuk ke sana.”

“Kulit beruang yang serupa ada dua helai, yang satu lagi milik Li He,” tutur Cing-cing.

“Dan waktu kalian menanam Lo-sat-pay dulu, kalian mengenakan kulit beruang?”

“Ya, waktu itu sudah larut malam, kami tidak menyangka Hong-ji masih duduk termenung di tepi sungai. Waktu kulihat dia, dengan sendirinya dia juga melihat diriku.”

“Tapi dia tidak melihat jelas, sejauh itu dia menyangka melihat seekor beruang hitam.” tutur Siau-hong.

“Apa pun juga aku tetap kuatir,” ujar Cing-cing dengan tersenyum getir. “Umumnya rasa curiga orang perempuan kan jauh lebih besar daripada orang biasa.”

“Maka ketika aku tahu kemarin malam dia datang lagi ke sana, lantas kau bunuh dia untuk menghilangkan saksi.”

Cing-cing tidak menyangkal, katanya, “Selama ini Ting-hiang-ih menganggap hatiku terlebih keji daripada siapa pun.”

“Mestinya dia tidak tahu rahasiamu,” kata Siau-hong. “Tapi pada waktu kau turun tangan membunuhnya, akhirnya ia dapat mengenali dirimu.”

“Ya, waktu dia mengenali wajahku, sorot matanya itu takkan kulupakan untuk selamanya.” ujar Cing-cing dengan gegetun.

“Tatkala itu hatimu tentu rada takut juga, maka begitu berhasil membunuh dia, segera kau tinggal pergi.”

“Betul, sebab kuyakin dia pasti tidak dapat hidup lagi.”

“Tapi tidak kau pikirkan, seorang yang dekat ajalnya, terkadang juga merupakan saat yang paling terang pikirannya selama hidupnya.”

Cing-cing tidak menanggapi, tapi hatinya terasa kecut sebab sekarang juga dia merasa pikirannya jauh lebih terang daripada biasanya.

“Maka sebelum menghembuskan napas terakhir, teringat olehnya beruang hitam yang pernah dilihatnya itu pastilah dirimu, juga terpikir olehnya tujuanmu pasti untuk menanam Lo-sat-pay, maka sekuatnya dia merangkak ke tempat yang pernah kau datangi waktu itu.”

“Makanya kau pun tahu di situlah kami menyembunyikan Lo-sat-pay?”

“Ya, begitulah!” sahut Siau-hong.

“Hm, jika begitu, kematiannya kan sangat menguntungkan dirimu, kenapa kau risaukan?”

Siau-hong ingin bicara, tapi urung.

“Urusan yang tak perlu dirisaukan justru kau pikirkan, yang seharusnya kau risaukan malah kau rasakan dengan sangat gembira,” kata Cing-cing pula.

Siau-hong tetap bungkam dan menantikan ucapannya lebih lanjut.

“Hari itu, waktu kucari dirimu, bukan sengaja kuantar arak dan makanan padamu, juga bukan lantaran memperhatikan dirimu dan suka padamu. Kucari dirimu karena ingin mengganggu dirimu agar Li Sin-tong sempat membekukan mayat Li He di dalam es. Sebab itulah terpaksa kuterima dihina olehmu, padahal bila tersentuh olehmu sungguh rasanya aku ingin tumpah.”

Tiba-tiba Siau-hong tertawa, katanya, “Ah, pahamlah aku.”

“Kau paham apa?” tanya Cing-cing.

“Kau ingin mati,” kata Siau-hong.

“Berdasarkan apa kau anggap aku ingin mati?”

“Sebab sengaja kau pancing kemarahanku supaya kubunuh dirimu.”

“Hm, kutahu kau tidak berani,” jengek Cing-cing. “Selama ini kau cuma melihat orang lain membunuh orang, kau sendiri hakikatnya tidak berani membunuh orang.”

Kembali Siau-hong tertawa, tiba-tiba ia membalik tubuh dan melangkah keluar.

“Untuk apa kau pergi?” seru Cing-cing.

“Memasang kereta,” sahut Siau-hong.

“Mengapa sekarang kau perlu mengatur kereta?”

“Sebab kau tidak dapat menunggang kuda, juga tidak dapat berjalan,”

“Maksudmu hendak … hendak kau bawa diriku pergi?” tanya Cing-cing.

“Meski senjata rahasia dalam Hiat-tomu tak dapat kukeluarkan, tapi kutahu ada seorang dapat menolongmu.”

“Mengapa tidak … tidak kau biarkan kumati saja?”

“Sebab orang yang mati hari ini sudah terlalu banyak!” jawab Siau-hong dengan hambar, tanpa berpaling lagi ia terus keluar.

Melihat kepergian Siau-hong, air mata Cing-cing mengalir perlahan, akhirnya ia menangis tergerung-gerung, tapi entah tangis nya itu karena duka? Atau karena menyesal? Atau karena terharu?

Tapi apa pun juga, seorang kalau ingin menangis, akan lebih baik bilamana dibiarkan menangis sepuas-puasnya dan sebebas-bebasnya.

Dengan sendirinya Siau-hong mendengar suara tangisnya, dia memang berharap Cing-cing bisa menangis, supaya semua rasa sedih, duka dan menyesal dapat terlampias seluruhnya. Habis menangis, mungkin hilanglah niatnya ingin mati.

Sinar sang surya sudah lenyap, angin semakin dingin. Si anak dekil yang ketolol-tololan itu masih berdiri di sana dengan ingusnya yang meler, apa yang terjadi tadi seakan-akan tidak mempengaruhi dia. Mungkin orang lain menertawakan dia tolol, tapi mungkin hidupnya jauh lebih gembira daripada orang lain.

Siau-hong tepuk-tepuk pundak anak itu sambil berkata, “Coba kau jagakan bibi di dalam kamar itu, dia punya uang banyak, nanti akan dibelikan gula-gula bagimu.”

Anak itu ternyata dapat menangkap maksudnya, sambil berjingkrak girang dia berlari masuk ke kamar.

Siau-hong menghela napas. Baru saja ia keluar pintu, segera dilihatnya sebuah tangan terulur padanya.

Hal ini tidak di luar dugaannya, memang sudah diperhitungkannya Swe-han-sam-yu pasti menunggunya di luar.

“Serahkan!” ucap Koh-siong Siansing.

Siau-hong berkedip-kedip, jawabnya kemudian, “Kau minta apa? Uang atau nasi?”

Air muka Koh-siong Siansing berubah menjadi hijau, jengek-nya, “Mungkin sekali ini kuminta jiwamu!”

“Minta nasi atau uang tidak dapat kuberi, kalau jiwa memang ada satu,” ujar Siau-hong dengan tersenyum.

“Memangnya perlu kupatahkan kakimu dahulu baru akan kau serahkan Lo-sat-pay?” tanya Koh-siong dengan gusar.

“Sekalipun kakiku kau patahkan juga takkan kuserahkan Lo-sat-pay padamu.”

“Apa artinya ucapanmu”” tanya Koh-siong dengan gemas.

“Justru ingin kutanya padamu apa maksudmu? Bilakah pernah kuberjanji akan menyerahkan Lo-sat-pay kepadamu?”

“Memangnya hendak kau serahkan kepada siapa?”

“Si jenggot biru,” jawab Siau-hong.

“Harus kau serahkan padanya?”

“Ya, harus!” sahut Siau-hong tegas.

“Sebab apa?” tanya pula Koh-siong.

“Sebab harus kutukar dengan sesuatu?”

“Tukar sesuatu apa?”

“Kehormatanku!”

Koh-siong Siansing memandangnya tajam-tajam, katanya pula. “Memangnya kau sendiri tidak pernah timbul pikiran hendak mengangkangi Lo-sat-pay?”

“Pernah,” jawab Siau-hong.

“Dan sekarang masih punya pikiran begitu?”

“Ya,” sahut Siau-hong singkat.

Kembali air muka Koh-siong Siansing berubah.

“Urusan yang kupikirkan sangat banyak,” sambung pula Siau-hong dengan tak acuh, “Terkadang kupikirkan menjadi raja, tapi kuatir kesepian. Sering juga ingin menjadi perdana menteri, tapi kuatir repot. Lebih sering ingin kaya, tapi takut dicuri orang. Pernah juga kupikir akan beristri, tapi kuatir ketemu perempuan bawel. Dan sekarang malahan kupikirkan ingin menempeleng dirimu, cuma kuatir akan timbul keonaran.”

Belum habis ucapannya, tertawalah Koh-siong Siansing. Tapi sekejap kemudian dia lantas menarik muka pula, katanya, “Urusan yang kau pikirkan terlalu banyak, tapi tidak satu pun kau kerjakan.”

Siau-hong menghela napas, “Setiap orang hidup tentu banyak sekali yang dipikirkan, tapi pada umumnya orang cuma banyak pikir sedikit bekerja. Kan tidak cuma diriku saja.”

Mendadak Koh-siong memandang jauh ke sana seakan-akan juga sedang bertanya kepada dirinya sendiri. Apa yang pernah kupikirkan dan apa yang pernah kukerjakan?

Orang hidup pasti akan mengalami macam-macam ikatan, bila setiap orang boleh berbuat sesukanya setiap apa yang dipikirnya, lalu bagaimana jadinya dunia ini?

Selang agak lama barulah Koh-siong menghela napas panjang dan memberi tanda, “Pergilah kau!”

Siau-hong merasa lega, “Semula kukira sekali ini takkan kau biarkan kupergi. Tak tersangka kau masih sangat percaya padaku.”

Dengan muka dingin Koh-siong Siansing berkata, “Ini merupakan penghabisan kalinya!”

Siau-hong tersenyum, katanya, “Asalkan kau ingin minum sampai mabuk, setiap saat boleh kau cari diriku, aku senantiasa berada di dekatmu.”

Selagi ia hendak melangkah pergi, mendadak Han-bwe Lojin berucap, “Tunggu dulu!”

“Ada keperluan apa lagi?” terpaksa Siau-hong berhenti.

“Ingin kulihat dirimu!” kata Han-bwe Lojin.

“Silakan lihat saja, kabarnya banyak orang menarik kesimpulan aku ini cukup cakap!” kata Siau-hong dengan tertawa.

Wajah si kakek Han-bwe tidak memperlihatkan senyuman, juga tidak ada perasaan lain, katanya dengan dingin. “Yang kulihat bukan fisikmu ini.”

“O, lantas apa yang hendak kau lihat?” tanya Siau-hong dengan tertawa.

“Ingin kulihat kungfumu!” kata Han-bwe.

Seketika tertawa Siau-hong berubah menjadi menyengir, ucapnya, “Ah, kukira akan lebih baik kau lihat ketampananku saja, berani kujamin kungfuku pasti tidak lebih menarik daripada kebagusan orangnya!”

Tapi Han-bwe tidak memandangnya lagi, mendadak ia memutar tubuh, katanya sambil melangkah pergi, “Ikut padaku!”

Siau-hong merasa ragu, dipandangnya Koh-siong, lalu dipandang pula Koh-tiok, air muka mereka ternyata juga kaku dan dingin tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan.

Setelah menghela napas, terpaksa Siau-hong ikut pergi bersama Han-bwe sambil menggerundel.
“Sesungguhnya hendak kau bawa aku kemana? Jika ingin minum arak atau berjudi setiap saat dapat kutemani, bila mengajak berkelahi, terpaksa aku akan angkat kaki saja.”

Tapi Han-bwe tidak menghiraukan dia, setelah berputar dan membelok, sampailah mereka di jalan raya, di situ terdapat sebuah restoran besar, di depan restoran terparkir belasan kereta barang, sehelai panji perusahaan pengawalan terpancang di depan pintu restoran dan berkibar tertiup angin. Panji itu bersulam seekor naga emas dan sebuah huruf “Tio”.

Siau-hong kenal panji pengenal ini, ‘Kim-liong-piaukiok’ atau perusahaan pengawalan Naga Emas, namanya cukup terkenal, langganannya banyak tersebar luas, terutama pencari Jinsom yang biasa menjelajahi pegunungan di daerah utara.

Nama Piaukiok ini juga cukup disegani di dunia persilatan, sebab pemimpin umum Piaukiok ini, Hek-hian-tan Tio Kun-bu, si malaikat muka hitam, semula juga tokoh silat terkemuka yang baru saja diangkat menjadi pimpinan Kim-liong-piaukiok.

Dan sekarang Tio Kun-bu justru sedang minum arak di restoran ini, seorang yang ternama dan berkedudukan seperti dia, dengan sendirinya lagaknya tidak sembarangan.

Begitu naik ke atas loteng restoran, langsung Han-bwe mendekati dia dan menegur, “Apakah kau ini Hek-hian-tan Tio Kun-bu?”

Tentu saja Tio Kun-bu melengak, diamat-amatinya kakek aneh yang bukan Hwesio juga bukan Tosu ini. Biasanya pandangannya cukup tajam, tapi ia merasa tidak kenal kakek ini, terpaksa ia mengangguk dan mengiakan.

“Dan kau tahu siapa diriku?” tanya pula Han-bwe. Tio Kun-bu menggeleng dan menjawab, “Tidak tahu, mohon diberi petunjuk.”

“Akulah Han-bwe Siansing, satu di antara Swe-han-sam-yu yang tinggal di puncak Kun-lun-san, juga Hou-hoat-tianglo (tetua pembela agama) Ma-kau dari barat.”

Han-bwe sengaja bicara dengan lambat dan tandas, ketika mendengar sebutan Swe-han-sam-yu, air muka Tio Kun-bu menjadi agak pucat, apalagi mendengar pula nama Ma-kau dari barat, keringat dingin lantas merembes di dahi Tio Kun-bu.

“Nah. sekarang kau tahu tidak siapa diriku?” kembali Han-bwe menegas.

Seketika Tio Kun-bu berbangkit dan memberi hormat. Ucap, “Maaf bila Wanpwe bermata tapi tidak mengetahui kedatangan Locianpwe….”

Dia ingin mengeluarkan segenap kata-kata merendah diri dan puji sanjung terhadap si kakek, tapi Han-bwe lantas mengitar ke depan Liok Siau-hong, lalu bertanya padanya. “Dan apakah kau tahu siapa dia ini?”

“Pernah kudengar namanya,” sahut Siau-hong.

“Namanya tidak kecil, kungfunya juga tidak lemah, tapi di depanku dia toh sangat menghormati diriku, mengapa sikapmu kepada kami justru acuh tak acuh?” kata Han-bwe pula.

“Waktu kecilnya tentu terdidik dengan baik, seorang yang mendapatkan pendidikan baik di rumah jelas akan lebih sopan san tun,” ujar Siau-hong dengan tertawa.

“Dan kau?” tanya Han-bwe.

“Aku anak yatim piatu,” sahut Siau-hong.

“Makanya kau tidak mendapat pendidikan yang baik?”

“Ya.”

“Jika begitu, kau perlu diberi pelajaran sedikit,” mendadak Han-bwe berpaling kepada Tio Kun-bu dan bertanya sambil menuding Liok Siau-hong, “Apakah kau tahu siapa orang ini?”

Tio Kun-bu menggeleng.

“Kau memang tidak perlu tahu, aku cuma menyuruh kau memberi hajaran sedikit padanya,” kata Han-bwe Siansing.

Wajah Tio Kun-bu kelihatan serba salah, ucapnya dengan menyengir. “Tapi…tapi tidak pernah ada persengketaan apapun antara kami, mana…mana boleh…”

“Takkan kupaksa dirimu,” potong Han-bwe dengan dingin, “Boleh kau pilih, memberi hajaran padanya, atau aku yang menghajar dirimu?”

Sembari bicara, sebuah poci arak buatan timbel di atas meja terus dipegangnya. Diremas sekenanya, seketika poci arak itu meleyot. Waktu ditariknya perlahan, poci timbel lantas berubah lagi menjadi satu batangan.

Keruan air muka Tio Kun-bu berubah pucat. Mendadak ia melompat maju, sebelah tangannya lantas menabas ke kuduk Liok Siau-hong. Serangan ini sangat cepat dan ganas tanpa kenal ampun sedikit pun.

Tapi Liok Siau-hong tidak mengelak juga tidak bergerak, dia tetap berdiri di tempatnya dan menerima pukulan itu.

Di belakang kiri leher setiap orang ada sebuah pembuluh darah besar, tempat ini merupakan salah satu bagian fatal di tubuh manusia. Meski Lwekang Tio Kun-bu tidak terlatih baik, tapi kedua tangannya sekeras baja, tenaga pukulannya sungguh tidak ringan. Mestinya kalau Liok Siau-hong tidak terpukul mati, sedikitnya juga akan jatuh kelengar.

Siapa tahu Siau-hong justru masih berdiri dengan tegak, bahkan air mukanya tidak berubah sama sekali.

Muka Tio Kun-bu berkeringat lagi. Mendadak ia melangkah maju. Sekuatnya ia menghantam pula perut Liok Siau-hong.

Namun Siau-hong tetap mandah dipukul, tetap tidak bergerak dan tidak balas menyerang.

Tio Kun-bu sendiri menjadi kelabakan. Air keringat bercucuran seperti hujan. Dua kali hantamannya jelas mengenai sasaran, tapi justru seperti mengenai tempat kosong. Dirasakan pihak lawan seakan tidak berisi. Ketika terkena kepalannya, rasanya seperti mengenai tempat kosong.
Mestinya dia siap untuk menghantam lagi untuk ketiga kalinya, kepalan sudah tergenggam erat, tapi tidak sanggup menyerang pula.

Padahal Liok Siau-hong seolah-olah sedang menunggu untuk dipukul lagi, setelah menunggu sekian lama tiba-tiba ia pandang Tio Kun-bu, katanya dengan tertawa, “Apakah hajaran Anda sudah cukup?”

Tio Kun-bu juga ingin tertawa sebisanya tapi jadinya serba salah sehingga dia cuma menyengir belaka.

Lalu Siau-hong berpaling kepada Han-bwe dan berkata, “Nah. apakah sekarang aku boleh pergi?”

Air muka Han-bwe tampak masam. Belum lagi dia bicara, Koh-tiok sudah mendahului berucap, “Silakan kau pergi saja!”

“Terima kasih,” ucap Siau-hong dengan tersenyum. Ia tepuk-tepuk bajunya, lalu angkat poci arak lain yang tidak teremas peyot itur arak lantas dituangkan ke dalam mulut, lalu ia melangkah pergi di depan Han-bwe Siansing.

Tapi sebelum dia keluar dan restoran itu, tiba-tiba pelayan berlari datang dengan membawa sepucuk surat sambil berteriak, “Adakah Liok Siau-hong, Liok-tayhiap berada di sini?”

Siau-hong menuding hidungnya sendiri dan menjawab dengan tertawa, “Akulah Liok Siau-hong, tapi bukan Tayhiap, sebab Tay-hiap biasanya cuma memukul orang dan takkan dipukul orang.”

Dia masih tersenyum simpul dan tidak marah, sebab ia tahu di dunia ini terlalu banyak manusia yang suka menjilat ke atas dan mendepak ke bawah. Orang yang berpuluh kali lebih konyol dari pada Tio Kun-bu masih sangat banyak, dan hal ini memang merupakan salah satu kelemahan manusia.

Liok Siau-hong cinta kepada kemanusiaan, cinta kepada kehidupan, maka terhadap hal-hal demikian biasanya dengan cepat dan mudah dapat dimaafkannya.

Akan tetapi setelah dia membaca surat yang diserahkan si pelayan, dia jadi marah benar-benar. Bukan cuma marah saja bahkan juga cemas dan gelisah. Surat itu tertulis:
“Liok Siau-hong, Liok-tayhiap yang terhormat. Banyak terima kasih atas bantuan Anda selama ini, maka segala sesuatu telah kuselesaikan dengan Tan Cing-cing. Mengingat kemungkinan akan mengganggu perjalanan Anda, maka beberapa peti barang keras juga sudah kuangkut pergi lebih dulu. Sekian, supaya Anda maklum.” Penanda tangan di bawah surat jelas tertulis nama “Hui-thian-giok-hou”.

Pada waktu Siau-hong membaca surat, Swe-han-sam-yu justru sedang membaca wajah Siau-hong Mereka sangat terkejut juga, sebab tidak pernah mereka duga bahwa air muka Liok Siau-hong juga bisa berubah beringas begini.

Maka pada waktu Siau-hong menerjang keluar serentak mereka pun ikut berlari pergi, tertinggal Tio Kun-bu saja yang masih berdiri melenggong di situ seperti seorang yang sangat menyesal dan kalau bisa ingin membunuh diri.

Mimpi pun tak terpikir olehnya bahwa orang yang dihajarnya tadi tak lain tak bukan ialah Liok Siau-hong, si Pendekar Empat Alis yang termashur.

Meski Liok Siau-hong dapat memaafkan dia, tapi selamanya dia tak dapat memaafkan dirinya sendiri. Meski Siau-hong tidak bertindak apa-apa, tapi sama halnya telah memberi hajaran berat kepadanya.

Namun Liok Siau-hong sendiri juga telah melakukan suatu kesalahan besar, seharusnya dia tidak meninggalkan Tan Cing-cing, lebih-lebih tidak boleh meninggalkan rumah itu, sebab pada waktu dia memburu kembali ke sana, tempat itu sudah menjadi lautan api.

Untung udara dingin dan tanah beku, di mana-mana timbunan salju belaka, maka menjalarnya api sangat terbatas, tidak banyak rumah di sekitarnya yang ikut menjadi korban, namun begitu tetap ada pihak yang tak berdosa ikut tertimpa musibah tersebut.

Tubuh Tan Cing-cing yang indah itu tidak perlu disangsikan lagi pasti sudah terbakar menjadi abu. Kedatangan Siau-hong sudah terlambat.

Di bawah cahaya api yang berkobar, muka Siau-hong tampak merah, matanya juga merah membara, tapi tangan dan kakinya terasa dingin, hati juga dingin.

Suasana tampak kacau-balau, kaum lelaki berlari kian kemari sambil berteriak-teriak dan berusaha memadamkan api, kaum perempuan menjerit dan menangis, anak kecil juga menangis dan ketakutan.

Kehidupan mereka mestinya aman tentram, tidak pernah merugikan orang lain, tapi sekarang tanpa sebab mereka ikut menjadi korban.

Mendadak Liok Siau-hong berpaling dan melototi Han-bwe, katanya dengan beringas, “Sudah kau lihat belum?”

“Melihat apa?” tanya Han-bwe dengan agak bingung.

“Inilah bencana gara-gara perbuatanmu, masa kau sendiri tidak melihatnya? kata Siau-hong.

Han-bwe bungkam saja tanpa menjawab, jelas hatinya juga merasa tidak enak.

“Sekarang apakah kau masih ingin melihat kungfuku?” tanya Siau-hong.

“Tadi kan sudah kulihat,” jawab Han-bwe. “Itu kan baru kungfu menahan pukul, sekarang apakah kau ingin melihat kungfuku memukul orang?” tanya Siau-hong. Jelas inilah tantangan!

Dia tidak pernah menantang cara demikian terhadap siapa pun, meski sikapnya sangat dingin dan tenang, tapi ketenangan yang melampaui batas tentu juga akan meledak menjadi kemurkaan.

Wajah Han-bwe juga dingin, di bawah cahaya api kelihatan pucat, sampai bibirnya juga putih. Maklumlah, selama ini tidak pernah ada orang berani menantangnya secara langsung begini padanya.

Dia tidak gentar terhadap pemuda ini, selamanya dia tidak pernah jeri terhadap siapa pun. Akan tetapi dalam sekejap ini, tiba-tiba ia merasakan semacam ketegangan yang belum pernah dirasakannya, ketegangan yang membuatnya seakan-akan berhenti bernapas.
Sebab biasanya dia selalu berdiri di atas angin, dia sudah terbiasa menggunakan nama dan kedudukan sendiri untuk menindas dan memerintah orang lain, tapi sekarang untuk pertama kalinya dirasakannya daya tekan orang lain terhadapnya.

Malahan tekanan Liok Siau-hong semakin kuat katanya, “Bagaimana, kau ingin lihat tidak?”

Belum lagi Han-bwe bicara, Koh-tiok telah mendahului menjawab, “Dia tidak ingin melihat?”

Dan Koh-siong lantas menyambung, “Satu-satunya barang yang ingin dilihatnya adalah Lo-sat-pay, aku pun sama.”

Dia menggeser ke depan Siau-hong dan membiarkan Koh-tiok menarik pergi Han-bwe, lalu dia berucap pula perlahan, “Maka kuharap janganlah kau bikin kecewa kami.”

Dia tidak membalik tubuh, tetap berdiri menghadapi Liok Siau-hong, cuma menyurut mundur selangkah demi selangkah, mendadak lengan jubahnya mengebas terus melayang ke belakang, dalam sekejap saja ia lantas menghilang.

Siau-hong tidak bergerak, juga tidak merintangi orang, sampai lama sekali barulah ia menghela napas.

Tiba-tiba ia merasakan dirinya sudah terlalu lama mengalah kepada ketiga orang itu, sekarang sudah waktunya menyuruh mereka mengalah juga.

Untuk pertama kalinya dia bergerak, meski tidak menyerang, tapi sudah memperoleh kemenangan.

Namun ia pun tahu, ketiga kakek itu takkan mundur terlalu jauh, bilamana mereka mendesak maju lagi entah bagaimana akibatnya? Untuk ini dia tak mau memikirkannya.

Api belum lagi padam, tidak boleh dia berdiri dan menonton melulu, meski masih banyak persoalan yang harus dipikirnya, juga harus ditunda dahulu, sekarang dia harus berusaha memadamkan api.

Segera ia menyingsing lengan baju dan ikut menerjang ke tengah api, dari tangan orang lain direbutnya seember air, dia melompat ke dinding rumah sebelah, air terus disiramkan pada api yang berkobar itu.

Dengan sendirinya gerak-geriknya jauh lebih cepat dan tangkas daripada orang lain, tenaga seorang sama dengan tenaga sepuluh orang, namun di sebelahnya masih ada lagi seorang yang gerak-geriknya juga tidak kurang cepatnya daripada dia. bahkan terlebih giat daripadanya satu kali, orang itu melompat ke dinding yang sudah terjilat api dan hampir saja terjerumus ke dalam lautan api.

Dengan mencairnya salju dan air yang disiramkan, ditambah lagi gotong royong para penolong, dengan cepat menjalarnya api dapat dicegah, dan tidak lama kemudian api pun dapat dipadamkan.

Siau-hong merasa lega, ia mengusap keringatnya dengan lengan baju, hati terasa enak, sudah lama ia tak pernah mengalami perasaan demikian.

Di sampingnya ada seorang sedang mengaso dengan napas terengah, ucapnya dengan tertawa, “Seluruhnya kau siram 73 ember air, aku cuma 65 ember, engkau delapan ember lebih banyak.”

Waktu Siau-hong berpaling, baru diketahuinya orang yang bahu membahu memadamkan api bersamanya tadi ialah Hek-hian-tan Tio Kun-bu.

Tertawa Tio Kun-bu sangat cerah, katanya pula. “Sepergimu tadi sungguh aku ingin membunuh diri, tapi sekarang kuingin bisa hidup beberapa tahun lebih lama, makin panjang umur makin baik.” Siau-hong tersenyum, dia tidak tanya apa sebabnya? Karena dia sudah tahu jawabannya.

Jika seorang merasakan dirinya adalah orang yang berguna, tentu dia takkan mencari mati, sebab hidupnya dirasakan cukup berharga dan menyenangkan.

Apabila engkau pernah membantu seorang dengan setulus hati dan sepenuh tenaga, tentu engkau akan paham hal ini, sebab seorang yang mau membantu orang lain berarti dia adalah seorang berguna, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi masyarakat.

Sambil tersenyum Siau-hong menepuk bahu Tio Kun-bu. Katanya, “Kutahu tadi engkau jauh lebih giat daripada siapa pun, waktu kau hajar diriku dengan tenaga sehebat ini, pasti aku tidak tahan.”

Dengan muka merah Tio Kun-bu menjawab. “Waktu kupukul orang tidak nanti kugunakan tenaga sebesar itu, sebab memukul orang bukan hal yang menyenangkan, aku pun takut tanganku akan kesakitan sendiri.”

Kedua orang lantas bergelak tertawa, kemudian baru diketahui mereka bahwa di sekitarnya sudah berkerumun orang banyak dan sedang mengiringi tertawa mereka, sorot mata semua orang sama penuh rasa gembira, hormat dan terima kasih.

Tiba-tiba seorang anak perempuan kecil dengan rambut dikuncir dua berlari maju dan memegang tangan mereka serta memberikan dua-tiga biji gula-gula kepada mereka, ucapnya dengan muka merah, “Inilah gula-gula kesukaanku, tapi biarlah kuberikan kepada kalian, sebab kalian adalah orang baik hati, jika aku sudah besar kelak, tentu aku pun akan membantu orang lain, terutama membantu memadamkan api bilamana terjadi kebakaran.”

Perlahan Siau-hong membelai rambut anak itu, ingin bicara, tapi rasanya kerongkongan seakan-akan tersumbat.

Tio Kun-bu juga memandang anak perempuan itu dengan terharu, air mata hampir saja menitik, ia merasa sekalipun dirinya tadi terbakar mati oleh api juga cukup berharga,
Pada saat itu juga, tiba-tiba sebuah kepala kecil menongol keluar dari dalam got yang sempit dan kotor di tepi jalan, serunya sambil menuding Siau-hong, “Dia bukan orang baik, dia menipuku, bibi itu tidak memberi gula-gula kepadaku.”

Lalu seorang anak hitam kecil merangkak keluar dari dalam got, kiranya si anak dekil yang ketolol-tololan itu.

Anak ini ternyata tidak ikut mati terbakar, mungkin nasibnya mujur, lantaran dia anak bodoh, selain dia, siapa pun tak mungkin memasukkan dirinya sendiri ke dalam got yang kotor dan sempit itu.

Akan tetapi anak ini juga bermata, bahkan tadi berada di dalam rumah Tan Cing-cing, sekarang cuma anak inilah satu-satunya orang yang dapat memberi keterangan apa yang terjadi tadi.

Mata Siau-hong terbeliak, segera ia mendekati anak itu. Apakah anak ini dapat menunjukkan bentuk si pengganas itu atau tidak? Memang belum meyakinkan Liok Siau-hong, tapi kan ada setitik harapan pada anak itu.

Tak terduga, di tengah kerumunan orang banyak mendadak adu orang berteriak. “Itu dia yang membakar rumah! Meski dia ikut membantu memadamkan api, tapi yang membakar juga dia, jangan kita tertipu olehnya!”

Serentak beberapa orang berteriak-teriak sambil menubruk maju, suasana seketika menjadi kacau.

Meski ada sementara orang tidak percaya, tapi ada sebagian lagi menjadi curiga, terutama beberapa orang yang rumahnya ikut terbakar, mereka menjadi kalap, tanpa pikir mereka terus menubruk ke arah Liok Siau-hong.

Pada umumnya mereka adalah rakyat jelata yang berpikiran sederhana, karena rumahnya musnah dan harta benda ludes, dengan sendirinya mereka mata gelap dan ingin melabrak orang.

Siau-hong tidak menyalahkan mereka, juga tidak ingin menghajarnya, syukur Tio Kun-bu telah mewakilkan dia untuk mengadang para pengamuk itu. Meski Siau-hong terkena beberapa pukulan yang tak berarti, tapi dapatlah dia menerjang keluar kepungan. Namun si anak dekil tadi sudah menghilang.

Di tepi got masih terlihat bekas tapak kaki yang kotor, di tengah tumpukan puing masih mengepulkan asap. Mendadak Siau-hong mengertak gigi, dengan nekat ia menerjang ke tengah puing yang masih membara itu.

Para anak buah Tio Kun-bu juga sudah memburu tiba untuk ikut mengatasi kekacauan, Tio Kun-bu juga memberi jaminan dengan kehormatan pribadinya bahwa Liok Siau-hong pasti bukan orang yang membakar rumah mereka, sebab sejak tadi Liok Siau-hong berada bersama dia di restoran dan minum arak. Karena itulah baru kepanikan dapat diredakan, namun waktu mengusut siapa orang yang berteriak tadi, ternyata tidak ada yang tahu.

Dalam pada itu Liok Siau-hong masih berada di tengah puing yang membara itu, tidak ada yang tahu apa yang hendak dicarinya?

“Apa yang kau cari di sana?” tanya Tio Kun-bu sesudah mereka meninggalkan tempat kebakaran itu.

Namun Siau-hong tidak menjawab, matanya memancarkan semacam sinar yang aneh, entah sedang merenungkan sesuatu soal sulit atau ada soal sulit yang sudah dipecahkannya.

Tio Kun-bu tidak bertanya lagi, ia pun mulai merenung, tiba-tiba ia berkata, “Tadi orang yang memfitnah dirimu itu pasti orang yang membakar, dia sengaja mengkambing hitamkan dirimu.”
Siau-hong berpikir lagi agak lama. katanya kemudian, “Mereka tidak cuma menjadikan diriku sebagai kambing hitam, tapi ingin menghilangkan saksi.”

“Menghilangkan saksi siapa?” tanya Tio Kun-bu. “Apakah anak yang merangkak keluar dari got itu?”

Siau-hong mengangguk.

“Anak tolol begitu apa yang diketahuinya?” ujar Tio Kun-bu sambil berkerut kening.

“Mestinya mereka memang tidak perlu bertindak demikian,” kata Siau-hong dengan menyesal.
Tio Kun-bu juga menghela napas menyesal. Apa pun juga urusan toh sudah berlalu, marilah kita pergi minum arak.”

“Jika kau minta minum arak bersamaku, mungkin kau perlu menunggu agak lama,” jawab Siau-hong.

“Sebab apa?” Lanya Tio Kun-bu.

Siau-hong mengepal tinjunya erat-erat, jawabnya perlahan, “Sebelum menemukan Hui-thian-giok-hou, seterusnya aku takkan minum arak setetes pun.”

“Apakah dapat kubantu engkau?” tanya Kun-bu.

“Dapat,” jawab Siau-hong.

“Caranya?”

“Engkau lebih paham sekitar daerah sini, hendaknya engkau ….” tiba-tiba Siau-hong menahan suaranya seakan-akan kuatir didengar orang.

Maklum, kini telah diketahuinya bahwa wilayah pengaruh Hui-thian-giok-hou ternyata jauh lebih luas dan besar daripada dugaannya semula.

Selesai ia bicara, segera Tio Kun-bu berkata, “Tugas ini pasti akan kukerjakan dengan baik, bila ada kabar, cara bagaimana dapat kuberitahukan padamu?”

“Pernah kau datang ke kasino Pancing Perak?” tanya Siau-hong.

“Bukan saja pernah, bahkan sudah beberapa kali berjudi langsung dengan si jenggot biru, malahan aku yang menang beberapa ratus tahil perak,” tutur Tio Kun-bu dengan tertawa.

“Baik, setengah bulan lagi kita akan bertemu di sana,” kata Siau-hong. “Yang datang lebih dulu harus menunggu, sebelum bertemu tidak boleh pergi.”

Tio Kun-bu mengiakan, ia memandang Siau-hong sekian lama, tiba-tiba katanya pula, “Terima kasih padamu!”

Siau-hong tertawa, “Kuminta kau bekerja bagiku, bukannya aku yang berterima kasih, kenapa malah engkau yang berterima kasih padaku?”

“Justru lantaran engkau tidak berterima kasih padaku, makanya aku perlu berterima kasih padamu,” ujar Kun-bu.

“Aneh, mengapa begitu?” tanya Siau-hong.

Mencorong sinar mata Tio Kun-bu, jawabnya, “Sebab kutahu engkau pasti menganggap diriku sebagai kawan!”

Kawan!

Betapa bahagia dan betapa indahnya istilah ini’ Jika kau pun ingin serupa Liok Siau-hong, disukai dan dihormati orang, maka lebih dulu engkau perlu memahami sesuatu yaitu bahwa kekuatan yang dapat membuat orang takluk benar-benar pasti bukan kekerasan atau ilmu silat, melainkan kasih sayang sesamanya dan kebesaran jiwa seseorang.

Dan itu bukanlah hal yang mudah, selain diperlukan kelapangan dada, juga harus punya keberanian yang besar.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: