Kumpulan Cerita Silat

12/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 10:17 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 05: Keajaiban Pulau Es
Bab 04
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Edisaputra)

File-nya hilang. Saya masih mencarinya. Nanti, kalau ketemu akan disusulkan.

Advertisements

2 Comments »

  1. Bab 4.
    Angin meniup dingin, udara kelam kelabu, jalan penuh tertimbun salju, seorang perempuan menunggang seekor keledai kurus menempuh perjalanan sendirian. Dan kejauhan sayup-sayup terdengar suara seruling yang memilukan, namun bumi raya ini tetap suram dan sunyi.
    Si nona berada jauh di rantau, hatinya terlebih jauh di luar langit. Dia menjalankan keledainya dengan sangat lambat, ia sendiri tidak tahu harus kemana, tapi entah mengapa dia terburu-buru melanjutkan perjalanan.
    Mendadak dari persimpangan jalan sana muncul sebuah kereta kuda yang besar, pengendara kereta memakai topi kulit, memegang cambuk panjang, waktu berlalu di samping si nona, sekilas dia tersenyum padanya.
    Perempuan itu juga tersenyum. Sama-sama pengelana dan kebetulan berjumpa, apa halangannya saling tersenyum walaupun tidak saling kenal?
    Pengendara kereta itu mendadak bertanya, “Nona kedinginan tidak?”
    “Dingin!” sahut perempuan itu. Dia adalah Tan Cing-cing. “Kalau duduk di dalam kereta tentu takkan kedinginan,” ujar si pengendara kereta.
    “Tentu saja, kutahu,” kata Cing-cing.
    “Jika begitu. mengapa nona tidak naik ke atas kereta saja?” ujar si lelaki pengendara kereta.
    Tan Cing-cing berpikir sejenak, perlahan ia turun dari keledainya, kereta pun sudah-berhenti.
    Jika gentong es saja pernah dimasuki, apa artinya naik kereta.
    Sesudah Cing-cing naik ke dalam kereta, mendadak si pengendara mengangkat cambuknya dan menyabet sekerasnya pantat keledai yang ditinggalkan itu.
    Karena kesakitan, keledai itu berlari pergi seperti kesurupan setan.
    Si pengendara kereta tersenyum senang, lalu berdendang lagu cinta “si nona manis siapa yang punya” segala. Tidak lama kemudian, kereta ini pun menjauh.
    Tidak terlalu lama, sampailah kereta besar ini di Hiula, sebuah tempat yang sangat terpencil meski bukan sebuah kota, tapi sudah tergolong tidak kecil di daerah kutub seperti ini.
    Pengendara kereta mendadak menoleh dan berkata dengan tertawa, “Sudah sampai di rumahku, nona mau mampir tidak?”
    Selang sejenak barulah terdengar suara Tan Cing-cing menjawab hambar di dalam kereta, “Kalau sudah berada di sini, mampir sebentar juga tidak menjadi soal.'”
    Baru saja ia turun dari kereta, pintu rumah papan yang sudah reyot berkeriat-keriut dan terbuka, seorang anak yang kotor dan ketolol-tololan melongok keluar dan memandang Cing-cing dengan cengar-cengir.
    Wajah Cing-cing tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ia kebut-kebut bajunya, lalu masuk ke rumah dengan langkah gemulai.
    Di dalam adalah sebuah ruang tamu yang sangat sederhana, di tengah ruangan terpuja patung Toapekong kekayaan dengan tangan memegang Kim-goan-po (bongkah emas), sebuah pintu di belakang ditutupi tabir biru yang sudah luntur, di atas pintu tertempel kertas merah yang tertuliskan “Hi” dan “Cay” (Selamat dan Rejeki). Jelas kelihatan penghuni rumah yang rudin ini setiap hari senantiasa bermimpi agar cepat kaya mendadak.
    Seorang rudin dengan seorang anak dekil, dua-tiga buah rumah bobrok, empat-lima buah bangku yang reyot, huruf tempelan yang miring, lukisan patung yang lucu, semuanya serba tidak serasi.
    Tempat seperti ini seharusnya sukar didiami lama-lama oleh Tan Cing-cing. Maklum, dia suka kebersihan, suka ketenangan suka barang-barang yang indah dan bernilai. Tapi sekarang dia ternyata sangat kerasan di sini, sangat betah, seperti di rumah sendiri sama sekali tidak ada niat hendak pergi lagi.
    Memangnya sudah tidak ada tempat lain lagi yang dapat ditujunya?
    Anak dekil tadi masih memandangnya dengan cengar-cengir, tapi wajah Cing-cing tetap tidak memperlihatkan sesuatu perasaan! Ia melongok kian kemari, habis itu terus menyingkap tabir biru yang sudah luntur itu dan masuk ke kamar tidur orang.
    Di dalam kamar tidur dengan sendirinya ada ranjang, ternyata sebuah ranjang yang besar, bahkan masih baru gres. Kasur selimut dan bantal semuanya juga serba baru dengan sulaman bunga dan sepasang merpati yang indah.
    Di belakang tempat tidur tertumpuk empat-lima buah peti kayu yang juga masih baru, ada pula sebuah meja rias, dinding sekeliling kamar terkapur putih bersih sehingga kelihatannya seperti kamar pengantin baru.
    Cing-cing berkerut kening, sorot matanya menampilkan rasa jemu, tapi ketika ia memandang ke arah peti, seketika sinar matanya mencorong terang.
    Lalu dilakukannya sesuatu yang tak terbayangkan, dia justru melompat ke atas tempat tidur orang, lalu dari bajunya dikeluarkannya serenceng kunci, dibukanya gembok pada salah sebuah peti itu.
    Sekonyong-konyong sinar mengkilat emas terpancar, di dalam peti kayu ini ternyata berisi Kim-goan-po atau emas lantakan, yang jelas emas berkadar murni. Cahaya emas membuat muka Cing-cing mencorong terang.
    Untuk pertama kalinya dia tersenyum, dengan ujung jarinya ia merabai tumpukan lantakan emas yang rapi itu, serupa seorang ibu yang sedang membelai anak bayinya dengan penuh kasih sayang.
    Untuk mendapatkan emas ini memang bukan pekerjaan yang gampang, bahkan jauh lebih susah daripada seorang ibu melahirkan anak.
    Akan tetapi sekarang semua kesulitan sudah berlalu, dengan puas ia menghela napas, lalu menengadah, dilihatnya si lelaki pengendara kereta lagi melangkah ke dalam kamar sambil menegurnya dengan tersenyum, “Bagaimana permainanku ini, cukup menarik tidak?”
    Cing-cing tersenyum manis dan berkata, “Bagus, memang hebat sekali, sungguh engkau tidak malu bergelar sebagai anak ajaib nomor satu di dunia.”
    Lelaki pengendara kereta itu tertawa, ia menanggalkan topi yang hampir menutupi setengah mukanya sehingga terlihatlah wajahnya yang kekanak-kanakan, dia ternyata Li Sin-tong adanya.
    Setelah menanggalkan jubah hijau yang besar, dengan lagaknya yang sinting, kini orang ini kelihatan tidak sinting sedikit pun, bahkan wajahnya juga tidak jelek.
    Cing-cing memandangnya dengan senyuman lembut, katanya kemudian, “Selama dua hari sungguh telah membikin susah padamu.”
    “Ah. susah sedikit sih tidak apa-apa, hanya rada tegang,” ujar Li Sin-tong dengan tertawa, “Keparat yang beralis empat itu sungguh tidak boleh diremehkan.”
    Sejenak kemudian, tiba-tiba ia bertanya, “Waktu kau berangkat, apakah dia bertanya mengenai diriku?”
    Cing-cing menggeleng, “Dia mengira kini seorang gila benar, hakikatnya tidak menaruh perhatian padamu.”
    “Ha .., ha … makanya biarpun dia cerdik seperti setan, akhirnya juga kena kau kibuli,” kata Li Sin-tong dengan tertawa.
    “Semua itu kan juga berkat permainanmu,” ujar Cing-cing. “Pada waktu engkau berlagak gila sampai aku pun hampir percaya.”
    “Apa sulitnya untuk berbuat begitu? Asalkan kuanggap Hong-ji sebagai dirimu, tentunya kau pun tahu ucapanku itu kutujukan kepadamu.
    Dia memandang Cing-cing dengan terkesima, serupa seorang anak yang minta disusui sang ibu. Selang agak lama, tiba-tiba ia berkata pula dengan tertawa, “Eh, coba lihat, bagaimana pajangan rumah ini?”
    “Ehmm, bagus sekali, benar-benar serupa kamar pengantin baru,” jawab Cing-cing dengan senyuman manis.
    Sembari tersenyum ia terus berbaring berbantal sulam merpati itu, dengan sorot mata yang sayu ia pandang Li Sin-tong, katanya dengan lembut. “Kau lihat diriku mirip pengantin baru tidak?”
    Biji leher Li Sin-tong bergerak naik turun, napasnya mulai sesak, mendadak ia menubruk ke atas tubuh Cing-cing, serunya dengan megap-megap, “Aku perlu kau, sudah lama kutahan, sungguh aku bisa gila. Kejadian tempo hari sudah tiga bulan yang lalu ….”
    Sembari bicara, sebelah tangannya terus menarik baju Cing-cing.
    Cing-cing tidak menolak, malahan napasnya juga rada memburu, napasnya yang panas menyembur telinga Li Sin-tong sehingga membuat tulangnya terasa lemas juga. Malahan Cing-cing terus merangkul lehernya.
    “Wah, aku tidak tahan …” seru Li Sin-tong dengan parau.
    Tapi mendadak terdengar suara “krek”. suara tulang patah. Seketika Li Sin-tong melonjak dari atas tubuh Tan Cing-cing, tapi kepalanya sudah terkulai ke samping, sekujur badan lemas seperti karet, “bluk” ia jatuh terkapar dengan mata melotot. Nyata jiwanya sudah melayang.
    Sama sekali Cing-cing tidak memandangnya, melirik pun tidak. Dengan tenang ia tetap berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata.
    Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara mengikik tawa di luar, suara seorang perempuan berseru sambil berkeplok, “Ha … ha ,.. bagus sekali! Pantas Ting-ting bilang engkau ini perempuan yang berhati keji, buktinya memang betul.”
    Air muka Cing-cing berubah seketika, tapi waktu ia berbangkit air mukanya lantas menampilkan senyuman yang lembut dan menggiurkan, ucapnya, “Meski hatiku keji, tapi belum terlalu hitam seperti hatimu!”
    Maka muncullah seorang anak perempuan berbaju kulit kembang dengan topi kulit berbulu halus, senyumnya cerah seperti bunga mekar pada musim semi, dia ternyata si Jo-jo yang genit itu.
    Di belakangnya mengikut pula tiga orang, yang satu berbaju hitam dan berpedang, yang kedua gesit serupa kera, yang ketiga kakek berambut putih dan selalu berada di belakang Jojo.
    Cing-cing lantas menyongsongnya dan menegur, “Sungguh tak kusangka engkau bisa datang ke sini, kalau tahu tentu akan kusediakan makanan kegemaranmu dan minum bersamamu arak kesukaanmu.”
    Tertawa Jo-jo sangat manis, kalanya, “Tak tersangka engkau masih ingat kepada santapan kesukaanku.”
    “Kita dibesarkan bersama, biar pun kau lupa pada diriku, tidak nanti kulupakan dirimu,” kata Cing-cing.
    “Apa betul?” Jo-jo menegas.
    “Tentu saja betul,” jawab Cing-cing. “Sudah beberapa hari ingin kucari kesempatan untuk bercengkerama denganmu, cuma aku pun kuatir akan dicurigai orang lain.”
    “Betul, aku pun begitu. Setan yang beralis empat itu sungguh bukan manusia baik-baik.”
    Begitulah kedua orang bersendau-gurau penuh keakraban. “Tampaknya engkau tidak berubah sedikit pun,” kata Cing-cing pula dengan lembut.
    “Kau pun tidak,” jawab Jo-jo.
    “Sungguh aku sangat rindu padamu selama beberapa tahun ini.
    “Aku pun tidak kurang rindunya padamu.”
    Berbareng kedua orang sama mengulurkan tangan dan melangkah ke depan, seperti saling rangkul untuk memperlihatkan perasaan sayangnya.
    Akan tetapi belum mendekat, senyuman Cing-cing lantas lenyaP, kerlingan matanya yang lembut itu mendadak berubah beringas, gerak tangannya juga berubah, sekonyong-konyong ia mencengkeram pergelangan tangan Jo-jo, tangan yang lain juga mencengkeram iga kirinya.
    Serangan ini cepat lagi ganas, yang digunakan adalah cara yang serupa waktu membunuh Leng Hong-ji. Apabila Jo-jo terpegang jangan harap dapat lolos dengan hidup.
    Akan tetapi meski serangannya sangat cepat, gerak Jo-jo ternyata lebih cepat, baru saja ia mulai menyerang, tiba-tiba terdengar suara “tring” yang perlahan, dua titik sinar lembut menyambar keluar dari lengan baju Jo-jo.
    Seketika Cing-cing merasa dengkulnya kesemutan seperti digigit nyamuk, tenaga sekujur badan lantas lenyap, kaki pun lemas dan “bluk” ia jatuh berlutut di depan Jo-jo.
    Jo-jo lantas tertawa nyaring dan berseru, “Eeh, kita kan saudara sendiri, baru bertemu mengapa engkau banyak adat begini?”
    Di tengah suara tertawanya, kembali setitik sinar perak menyambar ke arah depan, tepat mengenai Siau-yau-hiat di pinggang Cing-cing, bagian Hiat-to yang menimbulkan tertawa terus menerus.
    Benarlah, segera Cing-cing tertawa dan tertawa terus meski sinar matanya tidak mengandung rasa tertawa sedikit pun. Mukanya yang cantik juga berkerut-kerut karena tersiksa, butiran keringat sebesar kedelai juga mengucur.
    Jo-jo berkedip-kedip, lalu berkata, “Ah, pahamlah aku, tentu kau tahu telah berbual sesuatu yang tidak baik padaku, makanya hendak kau minta maaf padaku. Akan tetapi kau juga tidak perlu bertekuk lutut padaku. Asalkan kau serahkan barangnya, tentu aku takkan marah padamu.”
    Cing-cing masih terus tertawa dan mengucurkan keringat dingin, ucapnya sekuatnya, “Barang apa?” “Masa perlu kau tanya?” ujar Jo-jo.
    Cing-cing menggeleng sambil meliuk-liuk. agaknya sekujur badan sudah lemas seluruhnya karena tertawa terus menerus itu sehingga tenaga untuk menggeleng kepala saja terasa berat.
    Jo-jo menarik muka dan menjengek. “Meski saudara sendiri, hutang piutang harus dihitung yang jelas. Kita juga begitu, bahwa Kah Lok-san mau membeli Lo-sat-pay kepada Li He dengan 40 laksa tahil emas, tapi kau hanya minta pembayaran sepuluh ribu tahiI saja padaku dan Lo-sat-pay akan kau serahkan. Begitu bukan?”
    “Tapi tapi Lo-sat-pay kan sudah … sudah diambil oleh lelaki yang kau bawa kemari itu?” sahut Cing-cing dengan menahan siksaan. Segera Jo jo mengeluarkan sepotong Giok-pay dan berkata, “Inikah yang kau maksudkan?” Cing-cing mengangguk.
    Mendadak Jo-jo mendekatinya terus memberi tamparan keras satu kali sambil menjengek, “Hm, memangnya kau kira tak dapat kulihat barang ini palsu?”
    Mendadak ia membanting Giok-pay itu ke atas kepala Li Sin-tong yang sudah tak bernyawa itu, lalu berkata pula, “Kau anggap keparat ini maha pintar, kau kira barang imitasi bikinannya dapat digunakan mengelabui orang, tapi sayang, gambar yang diukirnya pada Giok-pay ini lebih mirip cakar ayam.”
    Sekuatnya Cing-cing menggigit bibir dan berusaha berhenti tertawa, namun sampai bibirnya pecah tergigit, tertawanya tetap sukar berhenti.
    “Sebenarnya sudah lama kucurigai dirimu,” ucap Jo-jo pula, “Jelas kau tahu Lo-sat-pay adalah benda mestika yang tak ternilai, mengapa kau mau menjualnya kepada orang lain. Padahal hatimu biasanya jauh lebih hitam daripada siapa pun, ibaratnya makan manusia juga kau telan bulat-bulat berikut tulangnya, maka sejak mula sudah kusuruh Sin-loji mengawasi dirimu, sekali pun kau masuk ke bumi juga dapat kuseret keluar dirimu.”
    “Apakah kau kira Lo-sat-pay yang asli telah … telah kubawa pergi?” kata Cing-cing.
    “Sebelum Li He menyembunyikan Lo-sat-pay di bawah sungai es, tentu barangnya sudah kau tukar, walaupun tadinya ……”
    Rupanya menurut perundingan yang telah disepakati mereka, cukup Jo-jo membayar seperempat dari harga yang ditetapkan antara Kah Lok-san dan Li He, di antara ke-12 peti asalkan tiga di antaranya berisi emas, maka selebihnya boleh diisi dengan batu. Sebab yang akan menerima peti itu ialah Tan Cing-cing, bilamana ke-12 peti itu sudah diterima, segera ia memberitahukan kepada Li He agar Lo-sat-pay boleh diserahkan.
    Dia memang orang kepercayaan Li He, dengan sendirinya Li He tidak menyangka akan dipermainkan, mestinya dia hendak meledakkan sungai beku itu pada esok harinya untuk mengambil Lo-sat-pay, yang dikehendakinya cuma emas dan lelaki saja, dia tidak berminat terhadap kedudukan ketua Ma-kau segala.
    “Kau tahu, kalau diketahuinya Lo-sat-pay telah ditukar oleh orang, tentu dia akan menyangka dirimu yang melakukannya,” kata Jo-jo pula. “Sebab selain dia sendiri dan dirimu pasti tak ada orang ketiga yang mengetahui rahasia ini, makanya pada malam itu juga telah kau bunuh dia, malahan kau sengaja membekukan dia bersama si Kambing tua di dalam es untuk mengalihkan perhatian orang lain, sebab siapa pun takkan menyangka orang semacam dirimu ini dapat melakukan tindakan yang gila itu.”
    Ia berhenti sejenak, lalu berkata pula, “Coba, bukankah semua rahasiamu tak dapat mengelabui diriku, untuk apa engkau mesti berlagak pilon lagi?”
    Sekujur badan Tan Cing-cing kelihatan mengejang, bukan saja air mata dan keringat mengucur, bahkan celananya juga sudah basah, kedua dengkulnya sakit seperti ditusuk jarum, tapi dia justru terus tertawa ngakak seperti orang yang mendapat rezeki nomplok. “Eh, masih juga tidak kau keluarkan? Tidakkah kau tahu bagaimana akibatnya jika kau tertawa lagi terus menerus cara begini?” tanya pula Jo-jo.
    Sekuatnya Cing-cing ingin mengatupkan mulut namun sukar terlaksana.
    “Walaupun kau tertawa dan yang mengucur hanya air mata dan keringat saja, sekarang kau pasti sudah terkencing-kencing dan terberak-berak. Tidak lama lagi seluruh ruas tulangmu bisa terlepas semua karena tertawamu ini badanmu akan lemas lunglai seperti tidak bertulang, dalam keadaan begitu, cukup tersentuh oleh jari saja. tentu kau akan menjerit kesakitan seperti babi hendak disembelih.
    “Kau … kau …” sedapatnya Cing-cing ingin bicara, tapi sukar “Jika kau sangka aku tidak tega turun tangan lebih keji, maka salah besar, kau serupa Kah Lok-san mengira aku pasti tidak dapat membunuh dia.”
    “Telah kau bunuh dia?” tanya Cing-cing mendadak.
    “Dia berduit, juga punya pengaruh, meski usia sudah lanjut, tapi kondisi badannya masih sangat baik, permainan di atas ranjang tidak kalah daripada anak muda, malahan tekniknya terlebih tinggi, terhadapku juga lembut dan penurut, siapa pun takkan menyangka dapat kubunuh dia.”
    Lalu dia menyambung dengan tak acuh, “Tapi, toh aku telah membunuhnya. Dan kalau dapat kubunuh dia, urusan apa pula yang tidak dapat kulakukan?”
    Mendadak Tan Cing-cing berteriak sekuatnya, “Lo-sat-pay berada di dalam kain kotoranku, hendaknya kau ampuni diriku!”
    Sudah berhenti suara tertawa Tan Cing-cing tapi dia jatuh terkulai di lantai seperti ikan mampus.
    Dengan sendirinya Lo-sat-pay sudah berada di tangan Jo-jo, dengan hati-hati dia pegang Giok-pay itu seperti seorang raja memegang cap kebesarannya, gembira dan bangga, saking senangnya ia bergelak tertawa.
    Pada saat sedang tertawa gembira itulah, mendadak dari luar jendela menyambar masuk seutas cambuk panjang tanpa suara, sekali ujung cambuk membelit, Giok-pay yang dipegang Jo-jo lantas terbang keluar jendela.
    Seketika Jo-jo tidak dapat tertawa lagi, ia meringis kaget serupa orang yang mendadak tergorok lehernya.
    Didengarnya seorang berkala di luar jendela dengan tertawa. “Kalian tidak perlu mengejar keluar, sebab aku segera akan masuk ke situ, berkat bantuan kalian sehingga Lo-sat-pay ini dapat ditemukan kembali, sedikitnya harus kusampaikan rasa terima kasihku padamu secara langsung.”
    Liok Siau-hong!
    Yang bicara itu ternyata Liok Siau-hong.
    Dengan menggreget gemas Jo-jo berkata, “Ya. kutahu pasti dirimu dan mengapa tidak lekas kau masuk kemari?”
    Baru habis ucapannya, tahu-tahu Liok Siau-hong sudah berdiri di depannya dan tersenyum simpul, sebelah tangan memegang cambuk, tangan yang lain memegang Lo-sat-pay.
    Melihat Liok Siau-hong, Jo-jo lantas tertawa juga, katanya, “Hah, tak tersangka engkau juga mahir memainkan cambuk sebagus ini!”
    “Cambuk ini adalah hasil curianku!” tutur Siau-hong dengan tersenyum.
    “Hasil curian? Cara bagaimana dapat kau curi?” tanya Jo-jo, “Kucuri dari kereta di luar sana, permainan cambuk ini juga hasil curianku dari ‘Bu-eng-sin-pian’ (si cambuk sakti tanpa bayangan),” kata Siau-hong pula. “Kalau bicara tentang kepandaian curi mencuri, meski aku tak dapat dibandingkan dengan si rajanya raja pencuri Coh Liu-hiang, sedikitnya jauh lebih pandai daripadamu.”

    Comment by Frango — 29/05/2008 @ 4:44 am

  2. Jo-jo menghela napas, katanya, “Sebenarnya sejak mula sudah harus kuduga kepintaranmu dalam mencuri, hatiku saja hampir kau curi, apalagi barangku.”
    “Hatimu bukankah sudah lama membusuk?” ujar Siau-hong dengan tertawa.
    “Cepat juga kedatanganmu ini?” kata Jo-jo pula mengalihkan pembicaraan.
    “Tak kau sangka bukan?”
    “Mengapa bisa kau pikirkan akan tempat ini?”
    Siau-hong tertawa, jawabnya, “Sebab terlalu banyak yang kupikirkan waktu aku berbaring di tempat tidur, makanya juga banyak urusan yang dapat kupikirkan.”
    “Untuk apa banyak berpikir, kenapa tidak kau perkosa diriku saja?” omel Jo-jo mendadak, bahwa orang tidak memperkosanya ternyata membuatnya marah malah “Dirimu kan bukan seorang Kuncu, jika kau dapat memperkosa orang lain. kenapa tidak kau perkosa diriku?”
    “Soalnya waktu itu aku tidak kebelet,” sahut Siau-hong dengan tertawa.”Karena kau sengaja membikin kecewa hasratku, aku pun balas merusak hasratmu.”
    Jo-jo berkedip-kedip, mendadak ia tanya, “Sejak kapan kau ganti keputusan?”
    “Pada waktu batu tertumpah dari dalam peti,” dengan tersenyum Siau-hong menyambung pula. “Meski aku bukan perampok yang biasa melakukan pekerjaan bongkar dan rampas, tapi sebuah peti yang terbuat dan besi atau emas, rasanya masih dapat kubedakan dengan baik.”
    “Wah, kiranya bukan cuma mahir mencuri, engkau juga masih memiliki kepandaian simpanan begini,” ujar Jo-jo dengan gegetun. ”Orang seperti dirimu ini ternyata tidak menjadi perampok, sungguh sayang.”
    Dengan gegetun Siau-hong menjawab, “Ya, sesungguhnya terkadang aku pun menyesal, beberapa kali hampir saja aku berganti pekerjaan.”
    “Jjka kau ganti pekerjaan, tentu aku mau menjadi isteri gembong perampok,” ucap Jo-jo dengan tersenyum.
    “Tentu saja akan kuterima dengan senang hati, akan kuangkat dirimu sebagai permaisuri seperti halnya sahabatmu Ting-hiang-ih.”
    Jo-jo terbelalak, “Jadi sudah lama kau tahu kukenal dia?” “Ya. sebab begitu berada di Rahasu, kulihat dirimu serupa pulang ke rumah saja, hampir setiap tempat sudah kau kenal, tatkala mana aku sudah mulai curiga, sangat mungkin engkau dibesarkan di tempat itu, juga mungkin sudah lama kau kenal Tan Cing-cing dan Ting-hiang-ih.”
    “Jika kau kenal si Ting-ting, kuyakin kau pun pernah bergumul dengan dia,” ucap Jo-jo dengan menatapnya lekat-lekat. “Aku mengerti pribadinya, bilamana bertemu dengan lelaki semacam dirimu, tidak mau dilepaskannya begitu saja.” Siau-hong tidak menyangkal dan juga tidak membenarkan.
    Segera Jo-jo mengomel lagi, “Di antara kami bertiga sudah ada dua pernah tidur denganmu, mengapa hanya diriku saja yang kau lewatkan?”
    Begitulah mereka berdua terus bersenda_gurau dan bercumbu rayu, keruan ketiga orang yang berdiri di samping sama mendongkol setengah mati, mendadak ketiga orang itu melompat maju dan mengepung Liok Siau-hong di tengah dengan mau mendelik.
    Siau-hong berlagak seperti baru melihat mereka sekarang, ucapnya dengan tersenyum, “Tempo hari kalian mengundurkan diri tanpa bertempur, sekali ini apakah ingin mencoba-coba lagi?”
    “Tempo hari seharusnya kami membunuh dirimu!” jengek si kakek beruban.
    “Kami tidak membunuhmu tempo hari sebab dia masih ingin menggunakan dirimu satu kali lagi sebagai boneka,” sambung Sin-loji.
    Siau-hong tergelak, katanya, “Jika aku bonekanya, lalu kalian bertiga ini apanya? Padahal asalkan aku mengangguk saja segera dia akan naik ranjang bersamaku, dan kalian?”
    Air muka ketiga orang itu berubah beringas, waktu mereka berpaling ternyata Jo-jo sudah menyingkir seakan-akan urusan ini sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan dia.
    “Padahal anak murid Hoa-san It-ci-thong-thian Hoa Giok-kun, tokoh daerah utara To-pi-sianwan Oh Sin dan jago pedang Oh-ih-sin-kiam Toh Pek, semuanya sudah lama terkenal, tapi sejauh ini tidak berani kusebut mereka, sebab aku tidak percaya ketiga tokoh terkenal ini bisa menjadi budak seorang perempuan,” demikian Siau-hong berolok-olok.
    Keruan muka ketiga orang itu sebentar merah sebentar pucat, mereka telah menyamar dan menggunakan nama sebagai she, tak terduga tetap dikenali oleh Liok Siau-hong.
    Si kakek berambut putih yang semula bertubuh bungkuk perlahan lantas menegak, ia menjura dan berkata, “Ya. betul, akulah Hoa Giok-kun. Silakan!”
    “Hendak kau lawan diriku sendirian?” tanya Siau-hong. “Jika asal-usulku tidak kau ketahui, tentu aku akan mengerubut dirimu bersama mereka, tapi sekarang …” sikap Hoa Giok-kun mendadak berubah menjadi kereng. Ucapnya pula dengan bengis, “Mati-hidupku tidak menjadi soal, nama Hoa-san-pay harus ditegakkan dan tidak boleh runtuh di tanganku.”
    Meski Hoa-san-pay bukan perguruan kelas utama di dunia persilatan, tapi aliran ini terkenal bersih, jarang sekali anak muridnya tersesat, juga tidak ada pengecut yang suka main kerubut.
    Segera Liok Siau-hong berubah menjadi serius juga. Maklum, orang yang dapat menghormati dirinya sendiri tentu juga akan dihormati orang.
    “Sudah lama kudengar ilmu tenaga jari Liok-tayhiap nomor satu di dunia, kebetulan yang kuyakinkan juga kungfu ilmu jari, maka mohon Liok-tayhiap sudi memberi petunjuk,” kata Hoa Giok-kun.
    “Baik!” seru Siau-hong.
    Dia menarik napas panjang-panjang, Lo-sat-pay disimpan di dalam baju. Cambuk dilepaskan, segera terdengar suara “crit” sekali, angin tajam berjangkit, jari Hoa Giok-kun setajam pedang telah menutuk Kok-cing-hiat pada bahu kanan-kirinya.
    Sekali menyerang lantas dua gerakan dengan tenaga yang kuat, memang tidak malu sebagai anak murid perguruan ternama.
    Akan tetapi dari serangannya segera Liok Siau-hong dapat melihat meski tenaga serangannya cukup kuat, tapi gerakannya kaku dan banyak memiliki ciri-ciri anak perguruan ternama umumnya, yaitu sombong.
    Cukup Siau-hong memandang sekejap saja lantas yakin dalam dua-tiga gebrakan saja pasti dapat mengatasi lawan.
    Namun lantas timbul juga pertanyaan pada dirinya sendiri apakah sekaligus harus kukalahkan dia? Apakah tidak perlu memberi muka sedikit padanya?
    Jika seorang jatuh cinta, tak peduli siapa yang dicintainya, sepantasnya tidak dapat cuma menyalahkan dia, apalagi dia sudah tua, sekali jatuh tentu sukar bangun kembali.
    Pikiran itu hanya timbul sekilas saja dalam benaknya dan jarak tutukan Hoa Giok-kun dengan Hiat-to yang diarahnya sudah tinggal beberapa senti saja, angin tutukan sudah menembus bajunya tidak ada peluang baginya untuk memilih cara lain lagi. Terpaksa ia harus turun tangan. Secepat kilat ia gunakan ujung jari sendiri untuk memapak ujung jari si kakek.
    Segera Hoa Giok-kun merasakan hawa panas tersalur dan ujung jari lawan, tenaga sendiri mendadak hilang sirna.
    ‘Tan-ci-sin-thong’ atau ilmu tenaga jari sakti dari Hoa-san-pay mestinya termasuk satu di antara tujuh ilmu sakti, biasanva bilamana bertempur, dari jarak lima kaki saja dia mampu menutuk Hiat-to lawan dengan angin tutukannya. Tapi sekarang tenaga tutukannya seperti salju yang mencair di bawah terik sinar matahari, berubah menjadi keringat dingin yang membasahi tubuhnya.
    Siapa tahu mendadak Liok Siau-hong juga mundur dua langkah dan berucap, “Ilmu jari sakti Hoa-san ternyata tidak bernama kosong!”
    “Tapi … tapi aku sudah kalah!” ucap Hoa Giok-kun.
    “Engkau tidak kalah,” ujar Siau-hong, “Meski sudah kusambut seranganmu ini, caraku bergerak mungkin lebih cepat daripadamu. tapi tenagamu jauh lebih kuat daripadaku kenapa engkau…..”
    Belum habis ucapannya, mendadak terdengar suara mendering, berpuluh titik perak berhamburan seperti hujan menyerang punggungnya.
    Punggung Siau-hong tidak bermata, juga tidak bertangan, dengan sendirinya ia menjadi repot.
    Berubah air muka Hoa Giok-kun, sorot mata Jo-jo juga mencorong.
    Tapi pada detik itu juga mendadak tubuh Siau-hong berputar, berpuluh titik perak itu secara ajaib menerobos lewat di bawah ketiaknya, semuanya menancap di dada Hoa Giok-kun yang tadinya berdiri berhadapan dengan Siau-hong.
    Kedua mata Hoa Giok-kun tampak melotot, mendeliki Oh Sin sambil mendesak maju selangkah demi selangkah.
    Air muka Oh Sin juga berubah dan menyurut mundur setindak demi setindak.
    Tapi Hoa Giok-kun hanya sempat mendesak maju tiga langkah saja, lalu ujung mata, lubang hidung dan mulut mengucurkan darah berbareng.
    Oh Sin seperti menghela napas lega dan berkata. “Aku………”
    Ia pun cuma sempat mengucapkan satu kata ini saja, mendadak dadanya juga mengucurkan darah segar berikut menongolnya sepotong ujung ‘pedang. Dengan terkejut ia memandangi ujung pedang ini, seakan-akan tidak percaya hal ini bisa terjadi, namun mulutnya juga lantas mengeluarkan darah, mendadak ia meraung keras dan roboh ke depan, lalu tidak bergerak lagi.
    Sesudah dia roboh baru terlihat Toh Pek berdiri di belakangnya dengan memegang pedang, pada ujung pedangnya masih meneteskan darah segar.
    Hoa Giok-kun memandang Toh Pek dengan tertawa sebisanya sambil berkata, “Terima kasih!”
    Toh Pek juga menyengir, tapi tidak bersuara. Lalu Hoa Giok-kun menoleh dan memandang Liok Siau-hong, ucapnya sekata demi sekata, “Juga terlebih terima kasih padamu!”
    Toh Pek telah membalaskan sakit hatinya dengan membunuh Oh Sin, sedangkan Liok Siauhong telah menjaga nama baiknya, kedua hal inilah yang paling diutamakan oleh orang persilatan.
    Hoa Giok-kun memejamkan mata sambil berucap dengan perlahan, “Kalian … kalian semua sangat baik padaku … sangat baik…..”
    Perlahan ia lantas jatuh terkulai, pada ujung mulutnya masih menampilkan senyuman puas, senyuman terakhir.
    Angin dingin meniup dari luar jendela dan menggigilkan semua orang.
    Sampai lama sekali barulah Liok Siau-hong menghela napas panjang, gumamnya, “Mengapa? … Semuanya ini disebabkan apa?”
    Air muka Toh Pek tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ucapnya perlahan, “Seharusnya kau tahu semua ini sebab apa? Aku sendiri sudah tahu!”
    Angkara murka!
    Angkara murka terhadap duit, angkara murka terhadap kekuasaan, angkara murka akan kehormatan dan angkara murka terhadap Seks.
    Segala macam penderitaan dan bencana manusia di dunia ini bukankah juga timbul lantaran berbagai angkara murka tersebut?
    Kembali Siau-hong menghela napas panjang, lalu ia berpaling dan berkata terhadap Toh Pek, “Kau…..”
    “Aku bukan tandinganmu,” ucap Toh Pek dengan dingin.
    Siau-hong tertawa-tawa, katanya sambil memberi tanda, “Jika begitu, pergilah kau!”
    Darah sudah habis menetes pada ujung pedang, perlahan Toh Pek menyimpan kembali pedang ke dalam sarungnya, lalu dia mendekati Jo-jo dan berkata, “Marilah kita pergi!”
    “Pergi?” Jo-jo menegas. “Kau minta kupergi bersamamu?”
    “Ya, kuminta kau ikut pergi bersamaku,” kata Toh Pek.
    Tiba-tiba Jo-jo tertawa geli, tertawa terpingkal-pingkal hingga menungging, sampai air mata pun hampir mengucur.
    Ketika melihat cara tertawa Tan Cing-cing tadi baru diketahui Siau-hong bahwa tertawa kadang-kadang terlebih menyiksa daripada menangis.
    Kini melihat cara tertawa Jo-jo, Siau-hong baru tahu tertawa terkadang juga jauh lebih sakit melukai orang.
    Wajah Toh Pek tampak putih pucat, kedua tangan juga gemetar tapi dia belum lagi kehilangan harapan, kembali ia bertanya, “Kau tidak mau pergi?”
    Mendadak berhenti suara tertawa Jo-jo, ia pandang Toh Pek dengan dingin serupa orang yang sama sekali tidak mengenalnya. Sampai lama sekali barulah dari mulutnya tercetus satu kata yang teramat dingin, “Enyah!”
    Kata ini serupa cambuk yang tidak kenal ampun, yang sekaligus telah membuat kulit badan Toh Pek tersabet dan pecah sehingga hatinya ikut melompat keluar dan menggelinding ke bawah kaki sendiri serta terinjak-injak.
    Ia tidak bicara apa-apa lagi, ia membalik tubuh terus melangkah pergi.
    Sekonyong-konyong Jo-jo melompat ke atas. Dilolosnya pedang yang tersandang di punggung Toh Pek itu, sekali jumpalitan di udara, pedang itu terus disambitkan ke punggungnya.
    Toh Pek tidak berkelit dan membiarkan pedang itu menembus badannya. Tapi dia tidak roboh, sebaliknya ia malah memutar tubuh dan berdiri berhadapan dengan Jo-jo dan memandangnya dengan dingin.
    Air muka Jo-jo berubah, ucapnya dengan menyengir, “Kutahu engkau tidak dapat kehilangan diriku, maka akan lebih baik kumatikan kau saja dan habis perkara!”
    Mulut Toh Pek juga merembeskan darah, perlahan ia mengangguk, katanya, “Baik, baik sekali…..”
    Belum lenyap suaranya, mendadak ia menubruk ke depan, Jo-jo dirangkulnya erat-erat, mati pun tak dilepaskannya.
    Ujung pedang yang menembus di depan dadanya juga menikam masuk ke dalam dada Jo-jo, darah yang mengucur dari dadanya juga mengalir ke dada Jo-jo.
    Kepala Jo-jo mendekap di bahu Toh-pek, matanya mulai mendelik, napasnya semakin terengah, dirasakannya tubuh orang yang merangkulnya itu mulai dingin, lalu kaku, tapi kedua tangannya masih merangkulnya erat-erat.
    Kemudian ia merasakan tubuh sendiri juga mulai dingin, sampai merasuk tulang sungsum, tapi matanya berbalik terbeliak, tiba-tiba ia pandang Liok Siau-hong dengan tertawa,
    “Mengapa tidak kau perkosa diriku? Mengapa….?”
    Dan itulah tertawanya yang terakhir, juga ucapannya yang terakhir.

    Comment by Frango — 29/05/2008 @ 4:46 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: