Kumpulan Cerita Silat

11/03/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 10:01 pm

Pendekar Empat Alis
Buku 05: Keajaiban Pulau Es
Bab 03
Oleh Gu Long

(Terima Kasih kepada Edisaputra)

Rumah bekas restoran ini sudah dipotong-potong menjadi beberapa buah kamar, dipisahkan dengan papan. Kamar yang paling besar terdapat sebuah ranjang besar dengan selimut yang tebal. Dan Liok Siau-hong sekarang berbaring di tempat tidur ini sambil selimutan, namun masih terasa kedinginan.

Setiap orang tentu pernah mengalami penurunan mental, Siau-hong juga manusia. Dalam keadaan demikian, ia merasa segala urusan telah dilakukannya dengan kacau-balau tak keruan. Ia menjadi gemas dan ingin menghajar dirinya sendiri hingga setengah mati.

Di luar kamar ramai orang menggotong peti, sebagian pekerja menguap kantuk, ada yang bersin kedinginan.

Maklum, tengah malam buta, orang sedang enak-enak tidur berselimut dibangunkan dan disuruh menggotong peti, jelas orang yang menyuruhnya ini rada-rada sadis.

Siau-hong membalik tubuh, ia ingin lekas pulas tapi sayang, tidur serupa perempuan, semakin kau harapkan dia lekas datang, dia justru datang lambat-lambat. Hidup manusia ini memang banyak terjadi hal demikian.

Pada saat itulah mendadak terdengar serentetan jeritan kaget. Siau-hong melompat bangun dan mengenakan baju luar. Ssampai sepatu saja tidak sempat dipakai, dengan kaki telanjang ia terus menerobos keluar. Dilihatnya beberapa lelaki penggotong peti berdiri termangu di situ sambil memandangi sebuah peti.

Peti jatuh di lantai dan terbuka, isi peti sama berantakan keluar, tapi bukan emas, juga bukan perak, melainkan batu bata. Siau-hong juga melenggong.

Untuk sekian kalinya dia melenggong malam ini. Sekali ini bukan saja dia terkejut, bahkan juga gusar. Sebab ia merasa tertipu, perasaan ini sangat tidak enak.

Sebaliknya Jo-jo tidak memperlihatkan sesuatu tanda terkejut, dengan hambar ia berkata, “Untuk apa kalian berdiri kesima di situ? Batu bata itu kan tidak berkurang, lekas dan diantar ke sana.

“Diantar ke sana?” jengek Siau-hong.

“Memang antar ke mana?”

“Dengan sendirinya ke kasino Pancing Perak sesuai pesanmu,” sahut Jo-jo.

“Huh, hendak kau gunakan batu untuk menukar Lo-sat-pay orang? Memangnya kau kira orang lain semuanya orang tolol?” jengek Siau-hong.

“Justru lantaran nona Tan itu sedikit pun tidak tolol, makanya akan kuantarkan begini saja peti-peti ini. Jika dia seorang yang tahu kwalitas barang, sekali pandang tentu takkan bicara lagi.”

“Apakah isi peti yang lain juga batu?”

“Ya, semuanya batu, cuma ….”

“Cuma apa?” tanya Siau-hong.

Jo-jo tertawa, lalu menyambung. “Cuma meski isi peti ini semuanya batu, tapi petinya sendiri adalah buatan dari emas murni. Maklumlah, kita menempuh perjalanan sejauh ini dengan membawa separtai emas, mau tak mau kita harus bertindak lebih hati-hati.”

Seketika Siau-hong tak dapat bicara lagi, tiba-tiba dirasakannya satu-satunya orang tolol di sini tak lain tak bukan ialah dia sendiri.

Dan sisa beberapa peti itu dengan cepat pun sudah diangkut pergi, tertinggal Liok Siau-hong yang masih berdiri termangu di situ dengan kaki telanjang.

Jo-jo memandangnya, katanya pula dengan tersenyum, “Kutahu engkau lagi marah padaku, kutahu.”

Ia tahu di balik baju luar Siau-hong itu tidak memakai apa-apa, maka ia mendekatinya dan membuka jubahnya, ditempelkannya mukanya ke dada yang telanjang itu serta merangkul pinggangnya dengan erat, lalu bisiknya, “Namun malam ini pasti takkan kubikin kau marah lagi, pasti tidak.”

Siau-hong menunduk dan memandangi kundai di atas kepalanya, sampai sekian lamanya barulah ia bicara, “Urusan apa yang mengubah pendirianmu.”

Dengan suara lembut Jo-jo menjawab, “Selamanya aku hanya berbuat menurut kehendakku, sebelum ini aku tidak suka menemanimu, tapi sekarang…..”

“Sekarang kau suka?” tanya Siau-hong.

“Ehmm,” Jo-jo mengangguk.

Siau-hong tertawa, mendadak ia angkat si dia dan dibawa ke kamarnya, dengan kuat ia lemparkan Jo-jo ke atas tempat tidurnya, lalu ditinggal pergi tanpa bicara.

Segera Jo-jo melompat bangun dari tempat tidur sambil berteriak, “Hei, apa artinya ini?”

Siau-hong tidak menoleh, sahutnya dengan tak acuh, “Tidak berarti apa-apa, cuma ingin kuberitahukan padamu, urusan begini harus dilakukan pada saat keduanya sama-sama suka meski sekarang kau suka, tapi aku tidak suka.”

ooo000ooo

Malam ini meski Siau-hong tidur sendirian, tapi sangat lelap tidurnya. Betapa pun terlampias rasa dongkolnya.

Esok paginya waktu mendusin, ia merasa nafsu makannya bertambah besar, hampir lipat tiga kali.

Meski sudah dekat lohor, Jo-jo masih juga bersembunyi di kamarnya, entah masih tidur atau karena marah.

Anehnya dari pihak kasino Pancing Perak sana juga tidak ada sesuatu berita.

Dengan lahap Siau-hong menyikat santapannya, makan pagi sekaligus makan siang, habis makan semangatnya kelihatan bertambah menyala, malahan dia sengaja mendatangi dapur dan memberi pujian kepada si koki.

Pada waktu hatinya riang gembira, selalu dia menghendaki orang lain juga ikut gembira. Habis itu barulah dia keluar.

Pancing Perak itu masih bergoyang-goyang tertiup angin, Siau-hong melangkah masuk ke kasino itu, merasa hari ini nasibnya pasti sangat mujur, hampir saja ia berhenti di depan meja dadu untuk bermain.

Tapi ia tidak jadi berhenti, ia tidak ingin menghamburkan kemujurannya di atas meja judi.

Dari jauh Li Sin-tong sudah melihat kedatangannya, maka cepat dia mengeluyur pergi. Orang ini kelihatan terlebih kurus pucat daripada biasanya, juga sangat lesu, mirip orang yang semalam habis sakit muntah berak.

Dengan tersenyum Siau-hong mendekat ke sana, ia mendekati pintu kamar yang bertuliskan “dilarang masuk”. Betul juga, segera dua lelaki kekar datang mengadangnya.

Seorang lantas menunjuk papan pengumuman itu dan menegur, “Apa kau buta huruf?”

Siau-hong tersenyum, jawabnya, “Buta huruf sih tidak, cuma aku bukan patung, aku suka bergerak.”

Belum lagi orang itu paham maksud Liok Siau-hong, tahu-tahu pinggangnya terasa kesemutan, orangnya lantas terkulai dan tidak sanggup bangun lagi.

Tan Cing-cing ternyata di dalam kamar rahasia itu, Li Sin-tong juga di situ, melihat kedatangan Siau-hong, keduanya menyambut dengan senyum yang dibuat-buat.

Siau-hong juga tersenyum dan mengucapkan selamat pagi.

“Sekarang tidak pagi lagi, mengapa tidak kau beri kabar padaku?” tanya Siau-hong.

Cing-cing berdehem perlahan dua kali, lalu menjawab, “Kami justru hendak mengundang Kah-toaya agar malam ini sudi makan di sini.”

“Aku tidak suka makan di sembarang tempat, kalau makan harus satu meja perjamuan penuh.”

“Dengan sendirinya satu meja perjamuan lengkap, tiba waktunya nanti Li-toaci juga akan hadir,” ujar Tan Cing-cing.

“Tapi sekarang aku sudah hadir maka sekarang juga aku mau makan,” kata Siau-hong.

“Wah, lantas bagaimana?” ucap Cing-cing.

“Sederhana sekali,” ujar Siau-hong. “Cukup kau beritakan kepada Li-toacimu, katakan aku sudah datang, jia dia masih belum mau keluar menemuiku, segera akan kupotong kedua daun telinga dan batang hidung adiknya.”

Air muka Li Sin-tong tampak berubah. Tan Cing-cing menjadi agak kikuk, katanya, “Tapi sayang kami juga tidak tahu beliau berada di mana, cara bagaimana dapat kuberitahukan padanya?”

“Kalian tidak tahu dia berada dimana. aku justru tahu sedikit,” kata Siau-hong.

“Oo, kau tahu?” Cing-cing tercengang.

“Di sini sebenarnya ada dua buah gentong air raksasa, sekarang di luar cuma tersisa sebuah, masih ada sebuah lari kemana?”

Air muka Tan Cing-cing menjadi rada berubah juga dan tidak menjawab.

“Di mana gentong itu berada, di situ pula Li He berada,” sambung Siau-hong.

“Apa artinya ucapanmu, aku tidak paham,” kata Cing-cing.

“Kau harus paham,” ujar Siau-hong, “Kecuali orang gila, siapa pun takkan menjual rumah dan tanah untuk membuat dua buah gentong raksasa hanya karena ingin menadahi air hujan untuk diminum,”

Cing-cing sependapat, ia mengangguk.

“Dan Ting-lotoa bukanlah orang gila, dia berbuat demikian tentu ada maksud tujuan lain.”

“Menurut pendapatmu apa maksud tujuannya?” tanya Cing-cing.

“Dia dan Li He minggat ke sini, tentunya kuatir orang akan menyusul kemari, maka dia lantas membuat dua gentong raksasa ini agar bilamana perlu dapat digunakan sebagai tempat sembunyi.”

“Orangnya bersembunyi di dalam gentong?” Cing-cing menegas.

“Pada waktu biasa tentu saja tak dapat dibuat sembunyi,” tutur Siau-hong, “tapi bila kau rendam di dalam sungai est jadilah suatu tempat sembunyi yang sangat bagus. Siapa pun takkan menyangka di dasar sungai es bersembunyi orang.”

Cing-cing ingin tertawa, tapi tidak jadi.

Sedangkan Li Sin-tong lantas bertanya, “Kau tahu gentong itu berada dimana?”

Siau-hong mengangguk, mendadak kakinya menggentak lantai papan dan berkata. “Di sini, di bawah sini!”

Cing-cing memandang Li Sin-tong, dan Li Sin-tong memandang Cing-cing. Keduanya tidak bicara tapi di bawah lantai sudah terdengar orang berbicara.

Suara seorang perempuan yang terdengar agak serak dan dingin berseru, “Jika kau tahu aku berada di bawah sini, mengapa tidak lekas kau turun kemari!?”

ooo000ooo

Gentong yang tingginya lebih dua tombak itu terbagi lagi menjadi dua susun, bagian bawah penuh berlapiskan kulit berbulu halus sehingga berwujud sebuah tempat tidur yang sangat enak. Melalui sebuah tangga kecil akan mencapai tingkat atas, tempat yang digunakan makan minum dan keperluan lain. Kecuali ada meja kursi, sekelilingnya tergantung pula permadani yang tebal, dan ada sebuah anglo atau perapian yang sangat indah terbuat dari tembaga.

Siau-hong menghela napas, umbul khayalan dalam benaknya bilamana dirinya dapat tinggal selama beberapa hari dengan anak perempuan yang menyenangkan, maka kehidupan beberapa hari itu tentu seperti berada di surga.

Dilihatnya seorang perempuan setengah baya dengan wajah lumayan sedang berduduk di depan sana dan lagi menatapnya.

Rambut perempuan ini tersisir dengan licin dan rajin, mukanya lebar, tulang pelipis agak tinggi, bibirnya tebal, pori-pori kulit badannya sangat kasar, sikapnya kereng, sama sekali tidak ada bagian yang menarik.

Orang lain akan merasa mukanya tidak terlalu jelek, bisa jadi lantaran matanya, yaitu pada waktu dia menatap orang, matanya kelihatan sayu dan menimbulkan perasaan rawan orang.

“Aku Li He,” kata perempuan itu sambil menatap Siau-hong. “Dan kau sendiri tentulah Kah Lok-san.”

Siau-hong mengangguk.

“Apakah kau tahu orang lain sama bilang engkau adalah seekor rase tua?”

“Aku memang rase tua.”

“Tapi tampaknya engkau belum lagi tua.”

Siau-hong tertawa, katanya. “Sebab kutahu cara membuat orang lelaki awet muda.”

“Bagaimana caranya?” tanya Li He. “Perempuan.” jawab Siau-hong.

Sinar mata Li He seakan-akan mengandung senyuman, ucapnya, “Eh. caramu ini kedengarannya boleh juga.”

Siau-hong juga menatapnya dan berkata dengan tersenyum, “Tampaknya kau pun belum tua.”

“Oo?” Li He melengak.

“Dengan cara bagaimana engkau bertahan awet muda?”

Mendadak Li He menarik muka, jengeknya, “Memangnya kau kira kugunakan orang lelaki?”

Dengan tak acuh Siau-hong menjawab, “Asal tidak kau gunakan diriku, apa yang kau pakai sama sekali tiada sangkut-pautnya dengan diriku.”

Kembali Li He menatapnya, sorot matanya menampilkan semacam perasaan aneh, mendadak ia berseru, “Ayo, sediakan arak!”

“Kedatanganku bukan untuk minum arak,” kata Siau-hong.

“Tapi mau tak mau kau harus minum.”

“Sebab apa?”

“Sebab ku suruh kau minum, kebetulan barang yang kau perlukan juga berada padaku.”

Diam-diam Siau-hong gegetun di dalam hati, hidungnya sudah mencium semacam bau sedap yang sudah sangat dikenalnya.

Santapan yang keluar memang benar serupa yang disajikan Leng Hong-ji dan Jo-jo semalam. Saking dongkolnya hampir saja Siau-hong jatuh kelengar.

Makanan itu mengepulkan asap, arak Tiok-yap-jing juga masih hangat.

Sebelum Li He buka suara, lebih dulu Siau-hong sudah bicara. Dengan sendirinya arak ini kau bawa dari pedalaman sana, selama ini tentunya sayang kau minum.”

Ia mengira Li He pasti akan merasa heran mengapa dia dapat mengucapkan apa yang hendak dikatakannya.

Siapa tahu Li He justru menggeleng dan berkata, “Salah. arak ini justru diantar kemari oleh perempuanmu itu. Aku belum minum, sebab kutakut di dalam arak ditaruh racun.”

Siau-hong menyengir, setiap orang tentu pernah berbuat salah. Katanya kemudian. “Makanya kau minta kucoba dulu arak ini?”

Li He tidak bicara, dan Siau-hong lantas angkat cawan, sekali menenggak dihabiskannya isinya.
Pembawaan Siau-hong menguasai semacam kepandaian istimewa, yaitu daya rasanya jauh lebih peka daripada kebanyakan orang. Bilamana di dalam arak ada racun, begitu arak menempel bibir segera akan dirasakannya. Kalau tidak mungkin selama ini dia sudah mati keracunan beratus kali.

Li He meliriknya sekejap, tiba-tiba ia bertanya pula, “Kabarnya perempuanmu itu sangat cantik. Siapa namanya?”

“Jo-jo,” jawab Siau-hong.

“Hm, jika kau punya perempuan secantik itu, mengapa kau main gila lagi di luaran, sambar sini dan gaet sana, sampai bini orang juga kau sikat?”

Siau-hong tertawa, katanya, “Hong-ji dan Tong cilik itu agaknya bukan lagi bini orang, dan aku suka kepada perempuan.”

Mendadak Li He tertawa, katanya. “Sekarang aku pun bukan isteri orang lagi, aku pun perempuan.”

“Tapi sayang dalam pandanganku, engkau tidak lebih cuma seorang yang hendak mengadakan bisnis denganku.”

“Bisnis kita sekarang kan juga sudah selesai?” ujar Li He.

“Kurasa belum, meski uang sudah kubayar, tapi barang belum kau serahkan.”

“Jangan kualir, barang yang kau minta besok akan kuberikan padamu.”

“Mengapa harus menunggu sampai besok?” tanya Siau-hong.

Li He juga menuang satu cawan arak dan diminum perlahan, matanya menampilkan pula perasaan yang aneh. Katanya kemudian “Kita sudah sama-sama dewasa, tidak perlu bermain seperti anak kecil.”

“Aku pun tidak ingin main-main seperti anak kecil,” kata Siau-hong.

“Lelaki di tempat ini kebanyakan serupa keledai yang dungu, kotor dan bau,” ucap Li He sambil menatapnya.

“Hampir sepanjang tahun mereka tidak pernah mandi, asalkan berdekatan dengan mereka, aku lantas muak akan tetapi engkau … engkau …”

“Aku kenapa?” tanya Siau-hong.

“Engkau ternyata lebih muda daripada dugaanku, badanmu kelihatan kekar, keras dan pandangan Li He bertambah sayu, napasnya tiba-tiba menjadi agak memburu. “Apa yang kuinginkan, masa belum lagi kau pahami?”

“Sedikitpun aku tidak paham,” sahut Siau-hong.

Li He menggigit bibir, “‘Aku pun perempuan, dan perempuan kebanyakan tidak dapat kekurangan lelaki. Namun aku … aku sudah beberapa bulan tidak punya lelaki, aku……”

Napasnya bertambah terengah, mendadak ia condong ke sebelah sini dan memegang tangan Siau-hong. Terlalu kuat pegangannya sehingga kukunya hampir menancap daging tangan Liok Siau-hong.
Mukanya sudah ada butiran keringat, hidungnya berkembang-kempis dan tersengal-sengal, mukanya bersemu merah dan…

Tapi Siau-hong tetap tidak bergerak. Tingkah orang perempuan begini sudah sering dilihatnya, yaitu pada saat penuh gairah dan sangat terangsang burulah wajahnya menunjukkan perasaan demikian. Tapi sekarang Li He hanya memegang tangannya saja.

Dalam sekejap ini tiba-tiba ia paham sebab apa perempuan ini minggat bersama Ting-lotoa dan mengapa mau menjadi isteri si jenggot biru.

Tak perlu disangsikan lagi, dia pasti seorang perempuan yang bernafsu besar, apalagi usianya juga pada masa penuh birahi.

Meski mukanya tidak cantik, tapi perempuan macam ini biasanya memiliki semacam daya tarik yang aneh dan jahat, lebih-lebih bibirnya yang tebal itu, selalu mengingatkan lelaki pada hal-hal yang tidak senonoh.

Siau-hong masih juga tidak bergerak. Tapi mau tak mau dia harus mengakui bahwa hatinya mulai goyang.

Biji lehernya mulai naik turun, mulutnya mendadak terasa kering, ia ingin pergi saja. tapi Li He sudah lantas jatuh dalam pelukannya, menindihnya erat-erat.

Belum pernah Siau-hong melihat perempuan yang begini besar hasratnya, hampir saja ia tidak dapat bernapas. Li He sudah mulai ….

Pada saat itulah mendadak terdengar suara “blang” yang keras, papan di atas telah dibuka orang, seorang berteriak dengan histeris, “Biarkan kumasuk, aku harus masuk ke situ! Barang siapa merin-tangiku, segera kubunuh dia.”

Siau-hong terkejut, Li He juga lantas bangun berduduk dengan napas masih terengah-engah.
Mendadak seorang perempuan melompat turun dari atas, mukanya yang bulat tampak berkerut-kerut karena marahnya, matanya mendelik. Seketika Siau-hong hampir tidak kenal lagi bahwa perempuan ini adalah Tong Ko-king yang selalu pasang aksi di bawah papan merek rumah minumnya.

“Kau…” Li He melompat bangun dan menegur dengan gusar, “Untuk apa kau datang ke sini, lekas enyah!”

Tapi Tong Ko-king mendeliki Li He dan menjawab dengan tidak kurang garangnya, “Aku justru tidak mau enyah! Mengapa aku tidak boleh datang ke sini? Kau larang aku menyentuh orang lelaki, kau sendiri mengapa main gila dengan lelaki?”

Li He tambah gusar, bentaknya dengan bengis. “Kau tidak berhak mengurus, apa pun yang kulakukan bukan hakmu untuk ikut campur!”

“Siapa bilang aku tidak berhak ikut campur? Kau milikku, aku pun melarang lelaki menyentuh dirimu!” teriak Ko-king.

Mendadak Li He memburu maju dan menampar mukanya dengan keras, kontan muka Tong Ko-king bertambah beberapa jalur merah. Sekonyong-konyong ia pun menubruk maju dan menggeluti Li He, serupa cara Li He menggeluti Siau-hong tadi.

“Aku perlu kau, mati pun aku menghendaki kau,” teriak Tong Ko-king. Meski kepalan Li He menghujani tubuhnya, tetap digelutinya tak terlepas. Malahan ia berteriak pula, “Aku pun sama baiknya serupa lelaki, tentunya kau tahu. Mengapa kau ….”

Siau-hong tidak mau mendengarkan lagi. Juga tidak ingin menonton pergumulan dua perempuan lesbian ini, ia cuma merasa mereka harus dikasihani, menggelikan dan juga memuakkan.

Diam-diam ia mengeluyur pergi. Akhirnya ia paham juga mengapa Tong Ko-king benci kaum lelaki dan ingin menyiksa orang lelaki. Ia jadi ingin tumpah bilamana teringat dirinya pernah memegang tangannya.

Malam mendadak tiba. Sampai Siau-hong sendiri tidak tahu bilakah hari mulai gelap. Ia pun tidak kembali ke Thian-tiang-ciu-lau, dia masuk rumah minum terdekat, membeli satu guci arak dan duduk minum sendiri di tempat ini.

Inilah sebuah rumah papan kayu yang tak berpenghuni, terletak di tepi sungai. Mungkin penghuni rumah ini telah pindah ke kota yang dibangun di atas sungai beku itu. Pintu rumah ini hampir tersumbat oleh timbunan salju beku.

Angin menembus masuk melalui celah-celah jendela dan pintu, dingin seperti menyayat. Tapi Siau-hong tidak merasakannya.

Dia berharap Li He akan menepati janji dan esoknya akan menyerahkan Lo-sat-pay, lalu dia akan berangkat.

Pada waktu datang ia pernah merasakan tempat ini indah dan gemilang, dimana-mana penuh sesuatu yang serba baru dan merangsang. Tapi sekarang dia berharap bisa lekas angkat kaki, lekas pulang, makin cepat makin baik.

Di atas meja butut ada sebuah lentera minyak, masih ada sisa minyak sedikit. Tapi dia tidak ingin menyalakan lampu. Ia sendiri tidak tahu mengapa selama dua hari ini dia berubah sedemikian pendiam, muram dan kesal. Sungguh ia ingin mencari Koh-siong Sian-sing untuk beradu minum arak saja.

Anehnya, begitu sampai di sini, Swe-han-sam-yu seakan-akan menghilang dari muka bumi ini.

Dipandang dari jauh, kota di atas es itu masih gilang gemilang. Malam di sini datangnya terlebih cepat. Saat ini mungkin belum terlalu malam, masih cukup panjang menantikan datangnya esok.

Dan cara bagaimana dia harus mengisI malam yang panjang ini?

Siau-hong mengangkat guci araknya, tapi lantas ditaruh lagi. Sebab tiba-tiba didengarnya dari permukaan salju di luar berkumandang suara langkah orang yang sangat perlahan.

Dalam keadaan dan di tempat seperti ini, siapakah yang datang kemari?

Mendadak daun jendela didobrak dan seorang melompat masuk.

Karena pintu sudah tersumbat, Siau-hong juga masuk ke situ melalui jendela.

Di bawah pantulan cahaya salju, ssamar-samar dapat diketahui orang ini memakai sebuah mantel yang panjang dan longgar. Tangan membawa sebungkus barang dan “brak”, bungkusan yang dibawanya itu ditaruh di atas meja, dengan tangan yang menggigil kedinginan ia mengeluarkan geretan dan menyalakan lampu di atas meja.

Habis itu barulah dia berpaling menghadapi Liok Siau-hong, katanya dengan tersenyum, “Dugaanku ternyata tidak meleset, engkau memang berada di sini.”

Muka tampak pucat sebab kedinginan, hidungnya kemerah-merahan, senyumnya tetap lembut dan cantik, dia adalah Tan Cing-cing.

Siau-hong tidak terkejut, tapi ia ingin tahu, maka tanyanya. “Cara bagaimana dapat kau duga aku berada di sini?”

“Sebab kulihat engkau menuju ke sini dengan membawa seguci arak, di sekitar sini hanya ada tempat peneduh ini,” tutur Cingcing dengan tersenyum,

“Meski aku tidak pintar, tapi juga tidak bodoh.”

“Jadi sengaja kau datang kemari mencariku.”

“Ehmm,” Cing-cing mengangguk.

“Untuk apa?” tanya Siau-hong.

Tan Cing-cing menuding bungkusan yang dibawanya, katanya, “Mengantar santapan pengiring arak bagimu.”

Sambil tersenyum ia lantas membuka bungkusan itu dan berkata pula, “Betapapun engkau adalah tamu kami, tidak boleh sampai engkau kelaparan.”

Siau-hong memandangnya dengan dingin, mendadak ia menjengek. Mestinya kau tidak datang kemari.”

“Kenapa tidak boleh kemari?” tanya Cing-cing.

“Sebab aku ini setan perempuan, masakah kau tidak takut….”

Cing-cing tidak memberi kesempatan bicara lebih lanjut padanya, dengan tersenyum ia memotong, “Jika aku takut, tentu aku tidak datang,”

Bilamana kata-kata ini diucapkan Ting-hiang-ih, tentu akan penuh gaya merayu. Jika diucapkan Jo-jo, tentu penuh gaya menantang.

Tapi sikap Cing-cing ternyata tenang-tenang saja, sebab dia cuma bicara tentang kenyataan saja.
Ucapan itu sama artinya: Kutahu engkau seorang Kuncu maka kudatang. Aku pun tahu engkau pasti akan memperlakukan diriku sebagai seorang Kuncu.

Dalam keadaan biasa, bila seorang perempuan bersikap demikian kepada seorang lelaki, memang dapat dikatakan akal yang pintar. Cuma sayang, keadaan Liok Siau-hong sekarang tidaklah biasa.
Dia justru sedang lesu, muram, bahkan keki setengah mati.

Dia keki kepada Jo-jo, kepada Li He, kepada Tong Ko-king, juga keki terhadap dirinya sendiri. Ia merasa apa yang diperbuatnya selama dua-tiga hari ini pantas dihukum rangket seratus kali.

Didengarnya Tan Cing-cing berkata lagi, “Sengaja kubawakan ayam bakar dan daging pindang, perlu kau makan sedikit.”

Siau-hong menatapnya tajam, katanya perlahan, “Aku cuma ingin makan sesuatu.”

“Kau ingin makan apa?” tanya Cing-cing.

“Makan dirimu!” jawab Siau-hong.

Tidak terjadi perlawanan, tidak ada pengelakkan, bahkan juga tidak ada penolakan. Apa pun yang akan berlangsung agaknya memang siap diterimanya.

Meski reaksi Cing-cing tidak terlalu mesra, tapi cukup wajar. Sekarang keduanya sudah kembali dalam keadaan tenang. Perlahan Cing-cing berjangkit dan berdandan sekadarnya.

Tiba-tiba ia menoleh dan bertanya dengan tertawa, “Sekarang kau ingin makan apa?”

Siau-hong juga tertawa, “Sekarang apa pun ingin kumakan, umpama seekor lembu kau bawa kemari juga dapat kutelan bulat-bulat.”

Kalau hasrat sudah terpenuhi, nafsu makan pun bertambah besar.

Keduanya tersenyum dan saling pandang, sesuatu perbuatan yang mestinya harus disesali tiba-tiba berubah menjadi riang gembira.

Mencorong sinar mata Tan Cing-cing, katanya, “Sekarang dapatlah kupahami sesuatu urusan.”

“Urusan apa?” tanya Siau-hong.

“Betapapun bagusnya sesuatu makanan, bila di dalamnya tidak diberi garam, makanan itu pasti akan berubah cemplang dan tidak enak.”

“Ya, pasti hambar,” tukas Siau-hong dengan tertawa.

“Dan lelaki juga begitu,” sambung Cing-cing.

“Mengapa bisa kau persamakan lelaki?” Siau-hong merasa tidak paham.

Dengan tersenyum Cing-cing menjawab, “Betapa baiknya lelaki kalau tidak ada perempuan, tentu dia akan berubah menjadi rusak, rusak sama sekali.”

Wajahnya yang bersemu merah itu sungguh sangat menggiurkan. Hati Siau-hong jadi berdetak lagi dan ingin menarik pula tangannya.

Tapi sekali ini dengan gesit Cing-cing menghindarinya, lalu bicara dengan sungguh-sungguh,

“Sebenarnya kedatanganku ini hendak memberitahukan satu hal padamu.”

“Mengapa tidak kau katakan sejak tadi?”

“Sebab kulihat engkau lagi lesu dan kesal, tidak berani kukatakan,”

“Dan sekarang tentunya dapat kau katakan.”

Cing-cing mengangguk perlahan, dengan sendirinya ia tahu kelesuan Siau-hong sekarang sudah sembuh, katanya, “Kuharap setelah kau dengar urusan ini janganlah kau cemas dan gelisah.”

“Aku takkan gelisah, lekas katakan.” pinta Siau-hong. Meski di mulut dia bilang takkan gelisah, buktinya dia sudah tidak sabar lagi.

Akhirnya Cing-cing menghela napas dan berkata, “Tong Ko-king sudah mati, dibunuh oleh Li He.”

“Li He membunuhnya?” Siau-hong menegas dengan kening berkernyit. “Sebab apa?”

“Entah?” sahut Cing-cing.

“Tidak kau tanya dia?”

‘Tidak, sebab Li He kembali menghilang. Sekali ini dia benar-benar hilang, sudah lama sekali kami mencarinya, bayangannya saja tidak kelihaian.”

Belum habis ceritanya, serentak Siau-hong sudah meloncat bangun.

“Kutahu bila kau dengar kabar ini. tentu kau akan melonjak kaget. Sebab selain dia, siapa pun tidak tahu Lo-sat-pay disimpannya dimana.”

Kembali Siau-hong melonjak terlebih tinggi. “Ke-12 buah peti juga dia sendiri yang memerintahkan orang membawanya pergi, orang lain juga tak tahu peti dikirim kemana.”

“Mengapa urusan ini baru sekarang kau beritahukan padaku?” teriak Siau-hong.

“Sekarang saja sudah setinggi ini engkau melonjak, jika kukatakan tadi, bukan mustahil hidungku bisa meleyot kau jotos.”

Siau-hong duduk kembali dan tidak melonjak lagi, juga tidak berteriak.

“Lantaran diriku, makanya kau mau menyerahkan peti lebih dulu kepadanya?”

“Ehmm,” Siau-hong mengangguk.

“Dan sekarang petimu sudah tidak ada, dia juga menghilang. Menurut pendapatmu, apa yang harus kulakukan?”

“Kan sudah kau dapatkan akal yang sangat baik dan telah menutup mulutku,'” jengek Siau hong.

Cing-cing menunduk, ucapnya lirih, “Jika kau sangka sengaja kuberbuat demikian hanya untuk membungkam mulutmu, maka salahlah kau. Aku kan dapat lari bilamana kutakut dilabrak olehmu.”
Matanya kelihatan basah, hampir menitikkan air matanya.

Hati Siau-hong menjadi lunak, mendadak ia berdiri dan berkata, “Jangan kuatir, dia takkan mampu kabur,”

“Kau yakin dapat menemukan dia?” tanya Cing-cing.

“Kalau pertama kali dapat kutemukan dia, sekali ini juga dapat.

Meski di mulut dia bicara demikian, padahal dalam hati ia pun tahu sulitnya utusan. Tujuannya hanya sekedar menghibur Cing-cing saja.

Maklum, bilamana engkau sudah ada hubungan istimewa dengan seorang perempuan, seumpama dia berbuat salah sesuatu, terpaksa harus kau maafkan dia, malah harus mencari jalan untuk menghiburnya.

“Ai, mengapa kaum lelaki selalu diliputi persoalan ruwet begini?” demikian Siau-hong membatin.

Dalam keadaan begini, sungguh ia ingin cukur rambut dan menjadi Hwesio saja seperti Lau-sit Hwesio.

“Setelah membunuh Tong Ko-king. tentu timbul rasa takutnya, makanya dia kabur,” demikian kata Siau-hong.

“Ehmm,” Cing-cing setuju.

“Waktu itu tentunya kau pun berada di kasino sana, masa tidak kau lihat dia kabur ke arah mana?”

‘Tidak,” jawab Cing-cing. “Ketika kudengar jeritan Ko-king dan memburu ke bawah, ternyata dia sudah menghilang.”

“Orang lain juga tak ada yang melihatnya?” tanya Siau-hong.

Cing-cing menggeleng, “Tempat ini, asalkan hari sudah gelap, setiap orang lantas bersembunyi di dalam rumah masing-masing, apalagi semalam terlebih dingin daripada biasanya. Waktu itu juga saatnya orang makan malam ”

Siau-hong termenung, katanya, “Tapi kutahu ada satu orang yang tidak takut dingin, betapa dinginnya cuaca dia tetap berkeluyuran di luaran.”

“Siapa yang kau maksudkan?” tanya Cing-cing.

“Si Kambing tua.”

“Apakah makhluk tua aneh yang tinggal di dalam gentong raksasa itu?”

Siau-hong mengangguk, “Ya, kau pun tahu gentong raksasa itu?”

“Tadi waktu kudatang kemari, kulihat ada cahaya api di sana, seperti rumah terbakar.”

“Tapi di sana tidak ada rumah, gentong itu juga tidak dapat terbakar,” ujar Siau-hong sambil berkerut kening.

“Makanya aku pun tidak mengerti apa yang terjadi.”

“Jika begitu lekas kita pergi ke sana,” ajak Siau-hong. Hawa sungguh teramat dingin, angin yang meniup kencang serasa menembus baju kulit dan merasuk tulang.

Sebelum mereka melihat gentong raksasa itu, lebih dulu dari hembusan angin sudah tercium bau sedap arak yang keras.

Hidung Siau-hong hampir beku, tapi dapat tercium juga bau arak itu, seketika ia berkerut kening dan berseru, “Wah, celaka!”

“Celaka urusan apa?” tanya Cing-cing,.

“Arak apapun kalau terminum ke dalam perut takkan menyiarkan bau harum demikian.”

“Tapi kalau arak terbakar, bukankah baunya akan tersebar luas?” tukas Cing-cing.

Siau-hong mengangguk, “Tapi si Kambing tua takkan membakar arak, biasanya dia masukkan arak ke perutnya.”

Cing-cing juga mengernyitkan kening, “Apakah kau pikir ada orang menyalakan arak untuk membakar gentongnya?”

“Ya, seumpama gentong itu tak terbakar, orangnya bisa mati terbakar.”

“Tapi siapa yang membakarnya? Mengapa Kambing Tua harus dibakar?”

“Sebab rahasia yang diketahuinya terlalu banyak,” ujar Siau-hong.

Seorang kalau perutnya terisi rahasia terlalu banyak, jadinya serupa gudang kayu yang disiram minyak, mudah terbakar.

Sekarang api kelihaian sudah padam. Waktu mereka tiba, gentong raksasa itu tampak sudah berubah berwarna hitam, di sekelilingnya bertimbun kayu bakar yang tinggi, semua kayu sudah hangus terbakar.

Di tengah hembusan angin masih tersisa bau harum arak, tumpukan kayu setinggi ini, disiram arak lagi, temu apinya sangat besar. Jangankan di dalam gentong cuma ada seekor ‘Kambing tua’ sekali pun terdapat sepuluh ekor lembu juga akan terpanggang sampai hangus.

“Bau arak belum buyar, api juga belum lama padam.” ucap Cing-cing.

“Coba kumasuk ke sana. kau tunggu saja di sini,” kata Siau-hong.

Segera ia meloncat ke atas, tetapi mendadak melompat turun pula.

“Mengapa tidak jadi masuk ke situ?” tanya Cing-cing.

“Aku tidak dapat masuk!”

“Sebab apa?”

“Sebab di dalam gentong penuh terisi es beku.”

Di tempat ini, biar pun air panas yang dituangkan juga akan segera terbeku menjadi es siapa pun tidak mampu menuang air satu gentong penuh, apalagi gentong sebesar ini, dan mengapa di dalam gentong bisa penuh es beku?

Siau-hong angkat pundak dan berkala, “Setan yang tahu…..”

Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar suara “prak”. Gentong raksasa itu merekah, menyusul terdengar lagi suara “krek” kembali merekah lagi satu celah besar. Gentong raksasa buatan khusus ini dalam sekejap telah pecah dan tercerai-berai, dinding gentong pecah sebesar meja, lalu rontok dan hancur.

Meski gentong itu pecah, tapi es di dalamnya tidak remuk, di bawah cahaya bintang yang remang-remang tampaknya serupa sebuah bukit es yang berdiri tegak, bukit es yang bening dan tembus pandang, di dalamnya seperti ada lukisannya.

“Apakah kau membawa geretan api?” tanya Siau-hong.

Cing-cing lantas menyerahkan geretan yang diminta. Siau-hong menjumput sebatang kayu dan disulut. Setelah obor menyala, hati kedua orang seketika tenggelam, hampir saja Cing-cing tidak kuat berdiri lagi.

Sampai Siau-hong sendiri juga merasa ngeri. Selama hidupnya tidak pernah dilihatnya adegan sedemikian menakutkan.

Di bawah gemerdep cahaya obor, bukit es yang tembus pandang itu serupa sepotong batu kristal raksasa dengan cahayanya yang kemilauan. Di tengah gemerdepnya cahaya kemilau itu terdapat dua manusia yang berdiri terapung tanpa bergerak. Dua sosok tubuh yang terbeku di dalam bukit es.
Keduanya telanjang bulat, seorang kepalanya di atas sedang seorang lagi kaki di atas. Yang satu kurus kering, jelas dia si Kambing tua. Seorang lagi berpayudara besar dan berpaha padat, ternyata Li He adanya.

Mata kedua orang sama melotot besar, yang satu di atas dan yang lain di bawah, seakan-akan sedang mendeliki Cing-cing dan Siau-hong.

Akhirnya Cing-cing menjerit, lalu jatuh pingsan. Waktu ia siuman kembali, ia sudah berada di kasino Pancing Perak, sudah berada di dalam kamar tidur sendiri.

Kamar tidur Cing-cing ini terpajang sangat indah, setiap benda terasa ditaruh pada tempat yang sangat serasi, hanya kulit beruang yang besar dan tebal, yang dilapiskan di atas kursi itu yang kelihatan agak menyolok.

Dan sekarang Liok Siau-hong duduk di atas kursi berlapiskan kulit beruang itu. Belum pernah dia berduduk di kursi seenak ini, empuk dan hangat.

Sudah sekian lama Cing-cing siuman, sedangkan Siau-hong seperti ingin tidur, sejak tadi tidak pernah terpaling.

Api tungku menyala keras, cahaya lampu juga sangat terang, apa yang terjadi dirasakan seperti impian masa kanak-kanak yang sudah lama berlalu.

Perlahan Cing-cing menghela napas, ucapnya dengan tersenyum, “Untung tadi aku jatuh pingsan, bilamana kulihat mereka sekejap lagi, bisa jadi aku akan mati kaget.”

Siau-hong tidak buka suara, juga tidak menanggapi.

Cing-cing memandangnya dengan terbelalak, katanya pula, “Apa yang sedang kau pikirkan?”

Akhirnya Siau-hong menjawab dengan perlahan, “Jika di dalam gentong tak berisi air, tentu takkan beku menjadi es. Jika siapa pun tak sanggup menuang air ke dalam gentong, lalu darimana datangnya air segentong penuh itu?”

“Apakah dapat kau pecahkan hal itu sekarang?” tanya Cing-cing.

Siau-hong tidak langsung menjawabnya, katanya pula. “Waktu aku pergi ke sana kemarin, di tepi sungai sana masih banyak timbunan salju, tapi tadi timbunan salju itu sudah lenyap, kemana perginya?”

Biji mata Cing-cing berputar, “Apakah lari ke dalam gentong itu?”

Siau-hong mengangguk, “Ya. Jika kau nyalakan api di luar gentong, bukankah salju yang tertimbun di dalam gentong akan cair menjadi air?”

Mencorong sinar mata Cing-cing, “Dan kalau api padam, air di dalam gentong dengan cepat akan beku menjadi es pula.”

“Dan sebelum air membeku, Li He dan si Kambing tua sudah dilemparkan orang ke dalam gentong,” tukas siau-hong,

Cing-cing menggigit bibir, “Rupanya setelah membunuh Ko-king, Li He lantas mencari si Kambing tua, sebab mereka memang kenalan lama. Bahkan……”

Bahkan keduanya sudah ada main, maklum, meski usia si Kambing tua agak lanjut, tapi tubuhnya masih kuat. Li He sendiri juga sedang memerlukan lelaki.

Hal itu tidak diucapkan oleh Cing-cing, juga tidak sampai hati mengucapkannya. Tapi ia tahu Siau-hong pasti juga paham.

Benarlah, Siau-hong lantas menghela napas panjang, katanya. “Bisa jadi pada saat mereka sedang bergumul itulah mereka dibunuh orang”.

“Siapa yang membunuh mereka? Dan sebab apa?” tanya Cing-Cing.

“Aku tidak tahu siapa orang ini, tapi kuyakin pasti juga lantaran Lo-sat-pay.”

“Tapi setelah Li He terbunuh. Lo-sat-pay kan belum pasti akan diperolehnya?”

Siau-hong menyengir, katanya, “Sekali pun ia sendiri tidak memperolehnya, yang jelas dia juga tidak suka kuperoleh Lo-sat-pay itu.”

“Aku tetap tidak mengerti, setelah dia membunuh Li He, mengapa mesti bersusah payah mencairkan salju menjadi air, lalu membekukan Li He di dalam es.”

“Mungkin semula dia hanya mengancam Li He agar menyerahkan Lo-sat-pay sebelum air membeku menjadi es.”

“Akan tetapi Li He juga bukan orang bodoh, dengan sendirinya ia tahu biarpun Lo-sat-pay diserahkan toh nasibnya tetap akan mati, maka…”

“Maka Lo-sat-pay saat ini pasti masih tersimpan di tempat semula.” tukas Siau-hong,

Cing-cing menghela napas, katanya, “Cuma sayang Li He sudah mati, rahasia ini tidak diketahui oleh orang lain.”

Siau-hong berbangkit dan termenung sampai lama menghadapi api tungku, lalu berkala perlahan, “Ada seorang kawanku, dia pernah memberitahukan padaku bahwa di tempat ini hanya ada dua orang yang dapat dipercaya, yang satu ialah si Kambing tua, dan yang lain ialah dirimu.”

Cing-cing tampak sangat terkejut, tanyanya, “Siapa sahabatmu isu? Dia kenal padaku?”

“Dia adalah kawanmu sejak masa kanak-kanak.”

“Hah, dia Ting-hiang-ih?!” seru Cing-cing dengan terbelalak “Cara bagaimana kau kenal dia?”

“Kuharap asalkan kau tahu dia adalah sahabatku, urusan lain sebaiknya jangan kau tahu terlalu banyak.”

Cing-cing memandangnya lekat-lekat, akhirnya mengangguk dan berkata. “Baik. Kupaham maksudmu, aku pun berharap kau tahu bahwa setiap sahabatnya adalah juga sahabatku.”

“Sebab itulah engkau pasti takkan berdusta padaku.”

“Ya, pasti tidak.”

“Jika kau tahu dimana Lo-sat-pay disembunyikan, pasti akan kau katakan padaku?”

“Tapi aku benar-benar tidak tahu.”

Kembali Siau-hong menghela napas panjang, “Makanya seharusnya Li He tidak boleh mati, lebih-lebih tidak boleh mati sedemikian mengerikan. Padahal di sini tidak ada orang gila, yang ada cuma orang setengah gila.”

“Siapa?” tanya Cing-cing.

“Li Sin-tong,” jawab Siau-hong.

Cing-cing tambah terkejut, “Hah, kau anggap dia tega turun tangan keji terhadap kakaknya sendiri?”

Siau-hong tidak menjawab, sebab mendadak dari luar menerobos masuk satu orang sambil berteriak dan berkeplok tertawa, “Ha … ha … akhirnya dia mau kawin denganku, akhirnya aku mempunyai isteri. Lekas kalian hadir pada pesta nikahku.”

Orang ini ternyata Li Sin-tong adanya.

Dia masih memakai jubah merah besar dan longgar itu, tetap memakai topi hijau tinggi, mukanya bahkan berbedak sehingga kelihatannya tambah gila daripada dulu, entah dia benar gila atau cuma pura-pura gila?

Cing-cing tidak tahan, segera ia bertanya, “Siapa yang mau menjadi isterimu?”

“Dengan sendirinya pengantin baruku.” sahut Li Sin-tong.

“Dimana pengantin barumu?” tanya Cmg-cmg pula.

“Dengan sendirinya di kamar pengantin,” sahut Li Sin-tong. lalu ia berkeplok sambil bernyanyi seperti orang gila benar terus berlari pergi lagi.

“Apakah kau ingin melihat pengantin barunya?” tanya Cing-cing kepada Siau-hong.

“Ingin,” sahut Siau-hong.

Dengan sendirinya Li Sin-tong juga mempunyai kamar tidur sendiri, di dalam kamar benarlah sudah dinyatakan sepasang lilin merah besar di atas meja, di tempat tidur juga berduduk seorang pengantin perempuan yang bergaun merah dan memakai cadar merah.

Pengantin perempuan ini duduk miring bersandar di ujung tempat tidur, dan Li Sin-tong berdiri di sampingnya, tiada hentinya tertawa dan dada hentinya bernyanyi. Nyanyinya lebih buruk dari pada suara gagak.

Cing-cing berkerut kening, ucapnya, “Kedatangan kami bukan untuk mendengarkan nyanyianmu, dapatkah kau tutup mulut?”

Li Sin-tong cengar-cengir, katanya, “Tapi biniku sungguh cantik, kau ingin melihatnya tidak?”

“Ingin,” sahut Cing-cing.

Segera Li Sin-tong hendak menyingkap cadar merah itu, tapi mendadak ia menarik tangannya dan bergumam, “Ah, harus kutanya lebih dulu apakah dia mau menemui kalian.”

Dia benar-benar setengah berjongkok dan bisik-bisik dengan si pengantin perempuan.

Jelas pengantin perempuan sama sekali tidak buka mulut, bahkan tidak memberi reaksi sedikit pun, namun Li Sin-tong lantas berjingkrak gembira dan berteriak, “Aha, dia mau, malahan dia minta kalian menyuguh secawan arak kepadanya.”

Lalu ia menjulurkan tangannya lagi dan sekali ini dia benar-benar menyingkap cadar si pengantin perempuan.

Seketika hati Siau-hong dan Cing-cing tenggelam pula, sekujur badan terasa dingin dan kaku, bahkan jauh lebih terkejut dan lebih mual daripada melihat kedua mayat yang terbingkai di dalam gumpalan es tadi.

Muka si pengantin perempuan juga teroles pupur yang tebal, Tapi matanya melotot besar seperti mata ikan emas. Pengantin perempuan ini ternyata sudah mati.

“Tong cilik.” seru Cing-cing, “Tong Ko-king!” Tapi Li Sin-tong terus tertawa dengan riangnya, ia malah membawakan empat cawan arak dan mendekati mereka, secawan diberikan kepada Tan Cing-cing. Katanya, “Nah, secawan untukmu, secawan untukku, secawan untuk dia, satu cawan lagi untuk pengantin perempuan.”

Terpaksa Siau-hong dan Cing-cing menerima cawan arak itu hati keduanya sama-sama tidak enak.

Tampaknya orang ini benar-benar sudah tidak waras lagi Li Sin-tong lantas berduduk di ujung tempat tidur, secawan arak diberikan kepada pengantin perempuan, kalanya dengan tertawa, “Marilah kita minum satu cawan sebagai tanda bahagia kita, habis minum segera kuusir mereka.”

Dengan sendirinya pengantin perempuan tidak dapat menerima cawan araknya, maka mendeliklah dia, ucapnya, “Kenapa engkau tidak sudi minum? Apakah pikiranmu berubah lagi dan tidak mau menikah denganku?”

Cing-cing tidak sampai hati menyaksikan adegan demikian, ia kuatir dirinya bisa menangis, juga takut dirinya akan tumpah, segera ia berteriak, “Masa tidak kau lihat dia sudah mati, mengapa……”

Mendadak Li Sin-tong berjingkrak dan berseru, “Siapa bilang dia mati? Siapa bilang?”

“Aku yang bilang,” sahut Cing-cing.

Li Sin-tong menatapnya dengan beringas dan berteriak, “Mengapa kau bicara semacam ini?

“Sebab dia memang betul sudah mati.” kata Cing-cing. “jika benar kau suka padanya, seharusnya kau biarkan dia istirahat dengan tenang.”

Mendadak Li Sin-tong menerjang maju sambil berteriak, “Dia tidak mati, tidak mati! Dia pengantin baruku, dia tidak mati!”

Ia jambret leher baju Tan Cing-cing dan diguncang-guncangkan dengan keras. Muka Cing-cing kelihatan pucat, tapi juga gusar, mendadak ia menggamparnya dengan keras.

“Plak”, setelah suara tamparan terdengar, seketika suara tangisan dan teriakannya berhenti, suasana dalam rumah berubah sunyi senyap seperti di kuburan. Li Sin-tong berdiri termangu-mangu kedua matanya yang kaku buram itu tiba-tiba menitikkan air mata, perlahan air mata merembes ke bawah melalui mukanya yang berbedak tebal itu.

Sorot matanya yang kaku itu masih mendelik. Tan Cing-cing, kelihatan sangat berduka, tapi juga persis orang gila.

Tanpa terasa Cing-cing menyurut mundur dan mengkirik.

Tiba-tiba Li Sin-tong berkata. “Ya, dia memang sudah mati, kuingat benar siapa yang membunuhnya.”

“”Sia … siapa?” tanya Cing-cing.

“Kau. tentu saja kau!” seru Li Sin-Tong. “Kusaksikan sendiri, dengan sebuah kaos kaki kau cekik mati dia.”

Mendadak ia membalik dan berlari ke sana, dibukanya leher baju Tong Ko-king sehingga kelihatan bekas jiratan pada lehernya, lalu berkata pula, “Coba lihat, inilah hasil karyamu, masa dapat kau sangkal?”

Tan Cing-cing merasa gemas dan gelisah sehingga sekujur badan bergemetar, ucapnya. “Gila, kau benar-benar gila, untung siapa pun tidak mau percaya ocehan seorang gila.”

Li Sin-tong tidak menghiraukannya lagi, mendadak ia menubruk di atas badan Tong Ko-king dan menangis tergerung-gerung, teriaknya, “O, sayang! Kau tahu sebab apa selama ini aku mau ikut Ciciku? Soalnya diam-diam aku cinta padamu. Sejauh ini kunantikan jawabanmu agar mau menikah denganku. Meski aku tidak berduit, tapi si jenggot biru sudah berjanji akan memberikan 30 laksa tahil perak padaku. Demi ke 30 laksa tahil perak inilah kakak pun kukorbankan, akan tetapi … akan tetapi mengapa engkau malah mati?”

Diam-diam Siau-hong mengeluyur keluar, ia merasa bila tinggal lebih lama lagi di situ, mungkin ia sendiri akan berubah menjadi gila juga.

Seorang memang tidak boleh terlampau mencintai seorang, bila cintanya terlalu mendalam, akibatnya sering-sering adalah tragis.

Di luar gelap dan dingin, setiba di luar, Siau-hong menarik napas dalam-dalam.

Malam sudah larut, Siau-hong berjalan sendirian kian kemari menyusuri jalan raya. Cahaya lampu sudah banyak yang dipadamkan, suasana tambah hening.

Entah sudah berapa jauhnya ia berjalan, dan juga entah kapan ia berhenti. Waktu ia menengadah baru diketahuinya dirinya telah berada di depan toko obat Leng Hong-ji.

Dari balik pintu masih ada cahaya lampu yang menerobos keluar, sampai seban lamanya Siau-hong termangu. Diam diam ia bertanya kepada dirinya sendiri, “Apakah memang ingin kucari dia? Kalau tidak, mengapa tepat kuberhenti di depan rumahnya?”

Pertanyaan ini biar pun dia sendiri juga tidak sanggup menjawabnya. Dalam lubuk hati setiap orang, seringkali tersimpan sesuatu rahasia yang tiduk diketahuinya sendiri, atau mungkin bukannya tidak tahu. hanya tidak berani menyingkapnya.

“Peduli apa pun juga, aku kan sudah datang kemari?” demikian akhirnya Siau-hong mengambil keputusan. Ia mulai mengetuk pintu.

Pintu hanya dirapatkan saja tanpa dipalang. maka sekali dorong perlahan pintu lantas terbuka. Di dalam lampu masih menyala, cuma tidak kelihatan orangnya.

Kemana perginya Leng Hong-ji?

Tiba-tiba timbul semacam firasat tidak enak dalam hati Liok Siau-hong, segera ia melangkah ke dalam. Di ruangan depan tidak ada orang, kamar tidur juga kosong, di dapur pun tidak ada orang.
Sebuah pintu kecil di belakang dapur juga cuma dirapatkan begitu saja sehingga menimbulkan suara gemeratak bilamana tertiup angin.

Apakah Leng Hong-ji kembali tidak dapat pulas, maka dia keluar melalui pintu belakang ini dan berduduk di sungai es sana untuk mengintip beruang hitam sebagaimana pernah diceritakannya itu.
Siau-hong meninggalkan tempat Hong-ji itu.

Malam yang gelap seakan dimana-mana penuh sesuatu yang misterius dan menakutkan. Apa yang akan ditemuinya malam ini?

Meski Siau-hong tidak dapat meramalkannya, tapi ia sudah bertekad akan menemukan Leng Hong-ji, ia tak ingin Hong-ji juga lenyap dalam kegelapan malam yang misterius ini.

Lalu kemana Hong-ji? Apakah benar lagi mengintai beruang hitam yang katanya sering muncul, lalu menghilang lagi secara ajaib?

Dilihatnya di kejauhan sana ada kerlipan beberapa titik bintang. Segera ia menuju ke arah sinar bintang itu.

Mendadak didengarnya suara jeritan ngeri dari depan sana, suaranya tajam dan seram, jelas suara orang perempuan.

Dengan kecepatan penuh ia memburu ke sana, di bawah kerlipan bintang yang menyinari sungai es, kelihatan di situ ada secomot darah segar, beberapa puluh langkah mengikuti ceceran darah itu dapatlah dilihatnya tubuh Leng Hong-ji yang meringkuk di sana tanpa bergerak.

Tubuhnya sudah kaku, mukanya rusak seperti bekas dicakar oleh lima cakar maut. Apakah Hong-ji kepergok oleh beruang hitam dan menemui ajalnya di bawah cakar beruang yang kuat itu.

Anehnya binatang buas yang kelaparan itu mengapa tidak menyentuh mayatnya, sama sekali tidak mengoyaknya. Tubuh Hong-ji tidak ada bekas gigitan, jelas tidak diseret ke sini oleh seekor beruang, tapi merangkak sendiri ke sini.

Mengapa dia meronta mati-matian dan menggunakan sisa tenaganya untuk merangkak sejauh ini?

Meski tubuhnya meringkuk, tapi kedua tangannya terjulur ke depan, kukunya menancap di dalam es yang keras, seperti orang yang hendak menggali isi sungai. Memangnya ada rahasia di bawah sungai es ini? Apa pula yang hendak digalinya?

Beberapa bintik bintang di langit akhirnya lenyap juga, bumi raya dengan sungai esnya diliputi kegelapan belaka.

Saat inilah saat yang paling gelap dalam sehari. Tapi waktu Siau-hong menengadah, matanya tampak bersinar, seperti cahaya terang sudah berada di depan mata.

Saat yang paling gelap dalam sehari, juga saat yang dekat dengan cahaya terang.

Kehidupan manusia juga begitu. Asalkan dapat kau tahan penderitaan selama masa gelap itu, akan tercapailah hidupmu yang terang dan penuh harapan.

Ketika sang surya mulai akan memancarkan cahayanya, Liok Siau-hong sudah bersama Jo-jo dan Tan Cing-cing. Dengan sorot mata yang lembut, mereka lagi memandang Siau-hong, cuma pan dangan mereka merasa sedih dan bingung Mereka tidak mengerti untuk apa pagi-pagi buta begini Siau-hong mengajak mereka ke sini. Tapi kemudian baru mereka tahu apa yang terjadi.

Mayat Leng Hong-ji telah digotong pergi, noda darah juga sudah hilang, tapi semua itu sudah mereka lihat dan sukar untuk dilupakan.

Sejak tadi Cing-cing berdiri diam di samping Siau hong, mukanya pucat, baru sekarang ia menghela napas dan bergumam, “Sudah lama kudengar di sini ada beruang, tak tersangka binatang ini sedemikian buas.”

“Kau kira dia mati di bawah cakar beruang?” tanya Siau-hong. Hanya cakar binatang buas saja yang memiliki tenaga sebesar ini, dan hanya beruang saja yang dapat berdiri serupa manusia serta menubruk mangsanya dengan telapak kaki depan.”

“Ehmm, betul juga?” ucap Siau-hong.

“Coba kalau tidak kebetulan kau tiba di sini, saat ini mungkin mayatnya saja sukar ditemukan,” ujar Cing-cing dengan sedih. “Di antara kami berempat, hanya aku dan dia saja yang akrab. Sungguh aku…….”

Mendadak suaranya tersendat dan matanya merah, ia terus mendekap di bahu Liok Siau-hong dan menangis tersedu-sedan.

Tanpa terasa Siau-hong merangkul pinggangnya. Jika di antara seorang lelaki dan seorang perempuan sudah mempunyai sesuatu hubungan yang istimewa, maka serupa debu yang tersorot sinar matahari, sukar mengelabui mata orang.

Jo-jo melototi mereka, mendadak ia mendengus, “Hm, kedatanganku ini bukan untuk melihat kalian main sandiwara. Selamat tinggal!”

Sekali bicara pergi, seketika juga dia angkat kaki.

Sesudah Jo-jo melangkah agak jauh, tiba-tiba Siau-hong berucap, “Kau tidak mau menonton sandiwara, memangnya juga tidak mau melihat Lo-sat-pay?”

Kata-kata ini serupa tali laso yang menjerat kaki Jo-jo, seketika ia memutar balik dan berseru.
“Kau bilang Lo-sat-pay? Benda itu sudah kau temukan? Dimana?”

“Di sini,” sahut Siau-hong.

Sini yang dimaksudkan adalah tempat dimana mayat Leng Hong-ji menggeletak tadi, yaitu tempat yang sedang digaruk tangan Hong-ji sehingga kukunya masih tertanam di dalam es.

Padahal es beku itu tebalnya belasan kaki, kerasnya serupa baja, jangankan tangan manusia, sekalipun dicangkul atau dipalu juga sukar menembusnya.

“Kau bilang Lo-sat-pay berada di bawah sungai es ini?” Jo-jo

bertanya pula.

“Ya, pasti berada di sini, paling-paling dalam lingkaran satu tombak di bawah sini,” tutur Siau-hong.

“Memangnya matamu mampu tembus pandang tanah es setebal ini sehingga kau tahu apa yang terpendam di dasar sungai?” ejek Jo-jo.

Tempat ini sangat dekat dengan tepi sungai, warna es di sini seperti lebih gelap daripada tempat lain. Hanya mata telanjang manusia tentu saja sukar memandang tembus ke bawah, tapi terlihat juga sepotong pohon kering yang menongol di permukaan sungai. Mungkin pada waktu sungai mulai beku, pohon itu kebetulan tumbang dari tepi sungai. Ranting pohon entah dipapas oleh siapa, hanya sebagian batang pohon yang menongol di permukaan sungai sehingga serupa bangku panjang, bila duduk di atas ‘bangku’ ini, tepat berhadapan dengan bukit bersalju di kejauhan serta sebuah kuil di seberang sana.

“Meski tidak dapat kutembus pandang, tapi dapat kurasakan,” demikian jawab Siau-hong atas ejekan Jo-jo tadi.

“Toh hal ini belum ada buktinya, seumpama betul Lo-sat-pay terpendam di bawah, betapa pun sukar bagimu untuk menggalinya,” jengek Jo-jo.

Siau-hong tertawa, ucapnya, “Sejak kecil sudah kudengar dua pameo yang sangat berguna bagi orang hidup.”

“Tapi sayang, pameo yang betapa bergunanya tetap tak dapat membuat sungai es ini cair,” jengek Jo-jo pula.

Siau-hong tidak menghiraukannya lagi, “Pameo pertama mengatakan: “Di dunia ini tidak ada pekerjaan sulit, yang diperlukan adalah tekad orang”. Lalu pameo lain bilang, “Bila ingin menyelesaikan sesuatu pekerjaan dengan lancar, yang utama adalah ketajaman peralatannya”. Nah, tentunya kau paham arti kedua pameo ini.”

“Aku justru tidak paham,” sahut Jo-jo.

“Artinya, asalkan punya tekad yang teguh dan punya genggaman yang efektif, maka di dunia ini tidak ada pekerjaan yang tak dapat diselesaikan.”

“Cuma sayang, tekadmu tak kulihat, genggamanmu juga tidak kulihat.”

Kembali Siau-hong tertawa, “Nanti pasti akan kau lihat.”

Maka Jo-jo lantas berdiri di samping dan melihatnya.

Siapa pun tidak menyangka gaman atau alat yang digunakan Liok Siau-hong tidak lain cuma belasan batang bambu dan sebuah botol kecil saja.

“Inikah alat kerjamu?” tanya Jo-jo dengan tertawa geli.

Siau-hong tidak menghiraukan ocehannya, dia kelihatan sangat prihatin dan bekerja dengan sangat khidmat, dengan hati-hati ia membuka tutup botol lalu menuang satu tetes isi botol itu, cairan warna kuning muda yang menetes di atas sungai es itu seketika menerbitkan suara “cress” disertai mengepulnya asap hijau. Es batu sekeras baja itu lantas berlubang oleh tetesan kuning itu.

Belum lagi asap itu buyar, Siau-hong lantas mengangkat sebatang bambu dan ditancapkan ke dalam lubang es, dengan sebelah tangan memegang botol dan tangan lain memegang galah, hanya sekejap saja belasan galah bambu itu telah ditancapkan semua di dalam sungai es dalam lingkaran seluas satu tombak.

Di antara galah bambu itu terdapat pula dua-tiga utas sumbu yang panjangnya dua-tiga kaki, Siau-hong lantas menyulut sebatang dupa kecil, serentak ia berlari mengitari pagar bambu itu, kembali dalam sekejap saja belasan sumbu itu telah disulutnya.

Mendadak ia berteriak, “Mundur, lekas mundur sejauhnya!” Cepat ketiga orang berlari mundur, baru lima-enam tombak jauhnya, terdengar suara ledakan. Beribu kerikil es muncrat ke atas bercampur dengan potongan bambu dan berhamburan seperti hujan, terdengar suara gemerincing ramai mirip gotri yang dilemparkan ke talam.

Pada saat itulah sepolong barang hitam juga mencelat ke udara dan “trang” benda itu jatuh ke tanah es. Ternyata sebuah bumbung yang terbuat dari baja.

Ketika tutup bumbung itu dibuka, segera sepotong Gok-pay atau batu kemala yang berbentuk pipih dan berwarna putih gilap meluncur keluar. Ternyata benda inilah Lo-sat-pay yang sedang dicari.
Jo-jo berdiri melenggong, Cing-cing juga terkesima, meski badan mereka kejatuhan kerikil es juga lupa merasakan sakit.

Siau-hong menghela napas lega, ucapnya dengan tersenyum, “Inilah alat kerjaku, bagaimana menurut pendapatmu?!”

Mau tak mau Jo-jo tertawa, katanya, “Cara yang aneh-aneh begini mungkin cuma kau saja yang dapat menemukannya.”

“Jika tidak ada obat peledak buatan Pi-pek-tong dari Kanglam, betapa baik sesuatu akal juga sukar terlaksana,” tutur Siau-hong.

“Darimana kau dapatkan obat peledak Pi-pek-tong?” tanya Jo-jo heran.

“Dapat kucuri,” jawab Siau-hong.

“Curi! Darimana kau curi?” tanya Jo-jo pula.

“Dan dalam gentong raksasa itu.”

“Gentong raksasa mana?”

“Tempat Li He,” tutur Siau-hong.

Rupanya waktu menemukan mayat Leng Hong-ji segera timbul kecurigaannya bahwa Lo-sat-pay mungkin disembunyikan di bawah sungai es ini, cuma saja belum seratus persen yakin.

“Setelah kutemukan barang-barang ini di dalam gentong Li He itu, baru tahulah aku bahwa dugaanku tidak meleset.” demikian tutur Siau-hong pula. “Sebab setiap pekerjaannya selalu dilakukan dengan cermat. Tindakan apapun pasti dipikirkan olehnya jalan mundurnya. Maka kalau dia berani menyembunyikan Lo-sat-pay di bawah sungai es yang beku ini, tentu dia mempunyai jalan untuk mengeluarkannya.”

Maklum, cairan yang sangat keras itu ditambah obat peledak, jika gunung saja dapat diruntuhkan, tentu sungai beku juga mudah dihancurkan.

“Kupikir bila dia sudah menyiapkan alat pembobol sungai sebagus ini, dengan sendirinya Lo-sat-pay pasti juga sudah disembunyikannya di dasar sungai, teori ini kan sangat sederhana seperti halnya teori satu tambah satu sama dengan dua.”

Padahal teori ini tidaklah sederhana, kesimpulannya ini baru diperoleh setelah dia mengumpulkan bahan pembuktian dari sana sini.

Tiba-tiba Jo-jo menghela napas, katanya, “Mestinya hendak kumaki kau lagi, cuma dalam hatiku mau tak mau harus merasa kagum padamu.”

“Jangankan kau, aku pun sangat kagum pada diriku sendiri,” kata Siau-hong dengan tertawa.

Biji mata Jo-jo berputar, katanya tiba-tiba, “Cuma kepandaianmu masih belum terlalu hebat, apabila kau mampu menemukan pembunuh Li He itulah baru dapat kukatakan engkau memang sangat hebat.”

Siau-hong tertawa, ucapnya, “Aku tidak ingin orang mengatakan diriku hebat, juga bukan datang kemari untuk mencarikan pembunuh bagi orang lain, yang hendak kucari adalah Lo-sat-pay.”

Cing-cing memandangnya dengan termangu, mendadak ia berkata. “Dan sekarang barangnya sudah kau temukan, apakah segera engkau akan berangkat?”

Pertanyaan ini diucapkannya dengan perlahan, terasa mengandung semacam perasaan duka dan hampa.
Siau-hong lantas menghela napas pula. ucapnya, “Mungkin memang sudah waktunya aku harus pergi.”

Cing-cing tersenyum, “Apa pun juga, aku kan nyonya rumah di sini. Lohor nanti akan kuadakan jamuan makan selamat jalan kepada kalian, hendaknya kalian sudi hadir.”

“Dia pasti hadir, tapi aku tidak,” Jo-jo mendahului menjawab.

“Sebab apa?” tanya Cing-cing.

“Sebab di dalam hidanganmu nanti pasti banyak terdapat cuka, bilamana terlalu banyak makan cuka, lambungku bisa sakit.”

Lalu Jo-jo menghela napas dan melirik Siau-hong sekejap. “Bukan saja lambung akan sakit, hati pun juga sakit. Maka lebih baik aku tidak hadir saja.”

Sepulangnya di Thian-tiang-ciu-lau, segera ia berbaring dan tertidur. Cuma sebelumnya ia sudah mengingatkan dirinya sendiri hanya boleh tidur dua jam. Dan benar, belum sampai dua jam dia sudah mendusin. Dan begitu membuka mata, segera dilihatnya Jo-jo berdiri di ambang pintu dan sedang memandangnya.

“Sudah lama kutunggu,” kata Jo-jo.

“Ada apa menungguku?” tanya Siau-hong sambil kucek-kucek matanya yang masih sepat.

“Untuk pamit padamu,” jawab Jo-jo.
“Pamit? Sekarang juga kau hendak pergi?”

“Setelah kau dapatkan Lo-sat-pay, semua hutangku padamu sudah lunas. Sebentar lagi kau mau minum arak, sedangkan aku tidak ingin minum cuka, mau apa kalau tidak pergi saja?”

Tanpa memberi kesempatan buka suara kepada Siau-hong, segera Jo-jo bertanya pula, “Cuma aku rada heran, mengapa engkau dan dia bisa mendadak berubah menjadi begitu akrab? Bahkan tampaknya seperti sudah ada … ada deh!”

“Alasannya cukup sederhana,” sahut Siau-hong dengan tertawa. “Sebab aku adalah lelaki yang normal, dan dia juga seorang perempuan yang normal.”

“Dan aku?” tukas Jo-jo. “Apakah aku bukan perempuan, apakah aku tidak normal?”

“Kau pun sangat normal. Cuma sayang, agak terlalu normal sedikit!” kata Siau-hong,

Jo-jo mendelik, mendadak ia menerjang maju. Membuka selimut Siau-hong tcrus menindih di atas tubuhnya.

“He, kau mau apa?” tanya Siau-hong.

“Ingin kukatakan padamu. Asalkan aku mau, apa yang dapat dilakukannya tentu juga dapat kulakukan, bahkan akan kukerjakan dengan lebih baik daripada dia.” desis Jo-jo.

Tubuhnya yang panas terus meliuk-liuk dan menggesek di atas tubuh Siau-hong. Sambil menggigit daun telinganya ia mendesis pula dengan napas terengah. “Sebenarnya aku sudah mau mengapa kau malah tidak menghendaki diriku. Dan sekarang apakah engkau mulai menyesal?”

Siau-hong menghela napas, mau tak mau ia harus mengaku sesungguhnya anak perempuan ini adalah siluman cilik yang sangat menggiurkan.

Mendadak Jo-jo melompat bangun, lalu menerjang keluar tanpa berpaling lagi, terdengar suaranya berkumandang dari luar. “Skarang bolehlah kau tidur sendirian dan menyesal selamanya.”

Tapi Siau-hong tidak berbaring lama, sebab baru saja Jo-jo pergi, segera Cing-cing muncul, bahkan membawa dua cawan dan satu poci arak.

“Nona yang suka minum cuka dan juga takut sakit lambung itu mengapa tergesa-gesa berangkat lebih dulu?” tanya Cing-cing dengan tertawa.

“Sebab kalau dia tidak pergi, tentu kepalaku akan terlebih sakit daripada lambungnya,” jawab Siau-hong sambil menyengir.

“Baik juga dia sudah pergi,” ujar Cing-cing dengan tersenyum, “Sudah kututup kasino di sana, aku memang hendak kemari.”

“Cuma sayang, arak yang kau bawa ini hanya cukup untuk berkumur saja bagiku,” ujar Siau-hong dengan tertawa.

“Minum arak tidak perlu banyak, yang penting adalah hati yang tulus,” ucap Cing-cing dengan lembut.

“Baik. tuangkan, akan kuminum,” kata Siau-hong.

Perlahan Cing-cing menuang dua cawan, lalu berkata dengan sedih, “Kuhormati engkau satu cawan sebagai ucapan selamat jalan padamu, semoga engkau sampai di tempat tujuan dengan baik. Boleh juga kau suguh aku satu cawan sebagai tanda selamat jalan, selanjutnya kita berpisah ke arah sendiri-sendiri”

“Kau pun akan pergi?” tanya Siau-hong.

Cing-cing menghela napas, “Kami datang berlima, sekarang tersisa aku seorang saja. Untuk apa pula kutinggal di sini?”

“Kau … kau hendak kemana?

Jika kita toh akan pergi semua, kenapa kita tidak pergi bersama?”

Cing-cing tertawa, “Sebab aku tahu engkau tidak bersungguh-sungguh ingin membawaku pergi. Kutahu juga banyak sekali anak perempuan yang kau kenal. Tidak ada perempuan yang tidak cemburu, aku juga perempuan, maka…..”

Dia tidak melanjutkan, tapi lantas menenggak araknya, perlahan ia taruh cawan arak, lalu membalik tubuh dengan perlahan dan melangkah pergi.

Sama sekali ia tidak menoleh, seakan-akan kuatir sekali menoleh lantas sukar lagi melangkah pergi.

Siau-hong juga tidak mencegahnya, ia memandangi kepergiannya dengan diam saja, air mukanya mirip orang yang habis menenggak secawan arak getir.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong didengarnya seorang berucap di luar, “Selamat, selamat atas keberhasilan segala usahamu!”

Suaranya serak tua, jelas yang datang ialah Swe-han-sam-yu.

Belum lagi Siau-hong memandang orangnya, sudah terlihat tangan mereka lebih dulu.

“Serahkan!” belum lagi masuk Kohsiong Lojin sudah menjulurkan tangannya lebih dulu. “Berikan barangnya lantas boleh kau pergi, segala persoalan kita selanjutnya pun lunas.”

Siau-hong tidak menjawab, juga tidak bergerak, hanya tertawa lebar seperti orang linglung.
Koh-siong Lojm menarik muka, katanya pula, “Masa kau tidak mengerti apa yang kukatakan?!”

“Mengerti,” sahut Siau-hong.

“Nah, mana Lo-sat-pay?” tanya pula si kakek.

“Hilang!”

Seketika berubah air muka Koh-siong Lojin. “Apa katamu?” bentaknya dengan bengis.

“Aku mengerti perkataanmu, masa kau tidak mengerti ucapanku?” Siau-hong tetap tertawa.

“Masa Lo-sat-pay tidak berada padamu sekarang?” tanya pula si kakek.

“Tadi ada,” jawab Siau-hong. “Dan sekarang?”

“Sekarang sudah dicuri orang,” “Dicuri siapa?”

“Orang yang tadi menindih dan bergelimang di atas tubuhku itu.”

“Maksudmu perempuan yang kau bawa kemari itu?”

“Ya, tentu saja perempuan. Bila lelaki yang menindih dan bergelimang di atas tubuhku, bisa jadi aku sudah pingsan,” ujar Siau-hong dengan tertawa.

Koh-siong Lojin menjadi gusar, “Jika jelas kau tahu dia mencuri Lo-sat-pay itu, kenapa kau lepaskan dia pergi?”

“Harus kulepaskan dia pergi,” kata Siau-hong.

“Apa alasanmu?”

“Sebab Lo sat-pay yang dicurinya itu palsu.” Koh-siong Lojin jadi melongo.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: