Kumpulan Cerita Silat

09/03/2008

Pendekar Baja (12)

Filed under: Gu Long, Pendekar Baja — ceritasilat @ 11:41 am

Pendekar Baja (12)
Oleh Gu Long

Lama Jit-jit menatapnya dengan mendelik, mendadak dia putar tubuh, sekali loncat ia hinggap di atas pagar tembok dan langsung melompat ke dalam.

Sudah tentu si Kucing terperanjat, segera dia ikut melompat dan melayang, ke balik tembok.

Siapa tahu, baru saja dia hinggap di tanah, segera dilihatnya Cu Jit-jit berdiri di kaki tembok sambil mengawasinya dengan tertawa ejek, katanya, “Kutahu kau pasti tidak tega membiarkan aku masuk sendirian.”

Dongkol, gemas juga geli si Kucing, katanya sambil menggeleng, “Baiklah, aku betul-betul takluk padamu.”

“Kalau sudah takluk padaku, maka kau harus patuh pada perintahku.”

Mendadak si Kucing berkata serius, “Bila tempat ini betul tempat yang kau maksud, maka jelas di sinilah sarang naga dan gua harimau, di sekeliling kita pasti terpasang berbagai perangkap.”

“Ya, betul,” sahut Jit-jit.

“Karena itulah penyelidikanmu kali ini harus dilakukan dengan hati-hati, sedikit pun tidak boleh salah langkah, sedikit lena mungkin takkan bisa keluar dari sini.”

“Aku tahu … ikuti aku,” sembari bicara Jit-jit lantas melayang ke depan.

Sebelum tengah malam tempat ini biasanya masih riuh ramai, gelak tertawa dan cekikikan genit, namun sekarang sunyi senyap, sinar lampu pun tidak kelihatan.

Di bawah pantulan salju Cu Jit-jit berusaha membedakan arah, namun dalam keadaan remang-remang sukar baginya memastikan apakah dia pernah datang ke sini.

Si Kucing menyusul di belakangnya, katanya, “Hati-hati, jangan meninggalkan bekas kaki di permukaan salju.”

“Jangan khawatir, aku tahu.”

“Apa pun untuk jadi maling jelas kau bukan tandinganku, biar aku yang menunjukkan jalan saja,” tanpa menunggu jawaban Cu Jit-jit si Kucing lantas mendahului melayang ke depan.

Satu di depan yang lain di belakang, mereka merunduk ke taman belakang, sepanjang jalan bukan saja tidak terdengar suara orang, juga tidak menemukan rintangan atau perangkap.

Kesunyian yang agak ganjil, membuat orang tegang dan khawatir. Cu Jit-jit merasakan jantung berdebar cepat dan keras.

Mendadak kakinya menyentuh sesuatu yang lunak, saking tegang dan kaget hampir saja Jit-jit menjerit. Untung si Kucing keburu mendekap mulutnya, desisnya, “Ssst, ada apa?”

Jit-jit tergegap, lidah terasa kelu, dia hanya menuding ke sana.

Waktu si Kucing memandang ke arah yang ditunjuk, tertampak di bawah pohon kering meringkuk dua orang berbaju hitam tanpa bergerak, entah masih hidup atau sudah mati. Keruan berubah air muka mereka, keduanya menyurut mundur setindak. Kedua orang yang rebah di atas salju itu tetap tidak bergerak.

“Mungkin … mungkin sudah mati?” ucap Jit-jit gemetar.

Si Kucing menunggu beberapa kejap pula, lalu mendekat dan berjongkok membalik tubuh salah seorang berbaju hitam itu, kedua orang ini kelihatan melotot, mulut terbuka lebar, mukanya berlepotan salju, kulit daging sudah kaku dan pucat karena kedinginan, namun hidungnya masih bernapas lemah, dadanya pun masih hangat. Kedua orang ini jelas belum mati.

Setelah memeriksa sekian lamanya, akhirnya si Kucing berkata, “Kedua orang ini tertutuk hiat-tonya.”

Mengepal tinju Jit-jit, katanya tegang, “Dilihat dari dandanan kedua orang ini, jelas tukang pukul atau penjaga pekarangan ini, mereka penjaga di sini ….”

“Ya, pasti demikian,” kata si Kucing.

“Tapi … siapakah yang menutuk hiat-to kedua orang ini?”

“Kau tanya, padaku, aku tanya siapa?”

Jit-jit gelisah, katanya, “Masa tak dapat kau buka hiat-to mereka dan tanyai mereka?”

Si Kucing menggeleng kepala, “Bukan saja lwekang penutuk itu amat tinggi, cara yang digunakan juga khas, kecuali ajaran perguruannya, siapa pun takkan mampu memusnahkan tutukan hiat-to mereka.”

“Lalu … siapakah gerangan penutuk itu?”

“Melihat gelagatnya, ada seorang kosen secara diam-diam telah datang lebih dahulu, jejak kita bukan mustahil sudah di bawah pengawasannya ….”

“Lalu bagaimana baiknya?”

Si Kucing berdiri, “Mari kita pulang saja.”

“Pulang? Setelah datang kau bilang harus pulang? Umpama benar ada orang mendahului kita, tapi dia menutuk hiat-to kedua budak ini, jelas dia berada di pihak kita, bukankah berarti kita mendapat bantuannya, maka jangan pulang, apa pun kejadian ini harus diselidiki sampai jelas.”

Si Kucing berpikir sejenak, memang beralasan si nona, dia lantas berkata dengan menghela napas, “Baiklah, terserah.”

Maka kedua orang ini merunduk maju lebih lanjut, langkah mereka lebih hati-hati. Mendadak tampak di hutan bambu tak jauh di sana ada sinar lampu.

“Tidak masuk sarang harimau mana bisa menangkap anak harimau, mari kita ke sana,” ucap Jit-jit.

Urusan sudah telanjur, si Kucing tak bisa menolak, maka dia iringi Cu Jit-jit menerobos ke dalam hutan bambu.

Di dalam hutan bambu terdapat tiga atau lima petak rumah mungil, sinar lampu menyorot keluar dari jendela. Cahayanya remang-remang, terasa mengandung kegaiban.

Si Kucing jadi tertarik, dengan tabah dia menyelinap ke bawah jendela, mereka mendekam tak bergerak di bawah jendela dengan menahan napas dan pasang kuping.

Sesaat kemudian terdengar suara rintihan seorang perempuan. Si Kucing dan Cu Jit-jit saling pandang sekejap dan merasa tegang.

Diam-diam Jit-jit membatin, “Jangan-jangan ada Pek-hun-bok-li yang berbuat salah dan sedang menjalani hukuman?”

Tapi anehnya, setelah mendengarkan sekian lama, bukan saja suara rintihan itu tidak seperti orang kesakitan, malah agak … agak … entah agak apa Cu Jit-jit sendiri tak bisa menerangkan.

Menyusul terdengar dengus napas seorang lelaki.

Kontan air muka si Kucing berubah, berubah aneh dan lucu, segera dia tarik lengan baju Cu Jit-jit, maksudnya mengajaknya pergi.

Tapi Jit-jit sedang keheranan dan ketarik oleh suara keluhan itu, mana dia mau pergi.

Didengarnya suara laki-laki itu berkata di tengah sengal napasnya yang berat, “Bagaimana … nikmat? ….”

Suara genit seorang perempuan menjawab setengah merintih, “O, sayang … aku … aku tidak tahan … tidak tahan lagi ….”

Betapa pun hijaunya, akhirnya Jit-jit tahu juga apa yang tengah berlangsung di dalam kamar, seketika merah mukanya, diam-diam dia berludah.

Si Kucing juga serbakikuk, keduanya melenggong dan tak bergerak, hingga tanpa sadar sesosok bayangan berkelebat lewat di atas kepala mereka. Cepat mereka pun berdiri dan lari ke luar hutan.

Setelah jauh, Jit-jit berkata dengan mendongkol, “Tidak tahu malu … menyebalkan!”

“Dari sini dapat disimpulkan bahwa di tempat ini tak terjadi sesuatu yang ganjil, kalau tidak masakah di dalam ada laki-laki iseng yang bermain dengan pelacur.”

Dengan wajah merah Jit-jit berkata, “Dari mana kau tahu laki-laki itu iseng, bukan mustahil dia … dia adalah temannya?”

Diam-diam si Kucing tertawa geli, batinnya, “Keluhan nikmat perempuan itu memang disengaja untuk menyenangkan setiap lelaki iseng, orang seperti diriku mana bisa dikelabui?”

Sudah tentu hal ini tidak dijelaskannya. Waktu dia angkat kepala dan menoleh, tiba-tiba dia bertanya kaget, “He, apa yang berada di atas kepalamu?”

“Ada apa ….” sahut Cu Jit-jit, waktu dia angkat kepala, ia pun menjerit kaget, “Hei, apa yang berada di atas kepalamu?”

Berbareng mereka meraba kepala, dari atas kepala mereka masing-masing menjamah sebuah mahkota yang dirangkai dari ranting kayu kering, di atas mahkota ranting kayu itu masing-masing terselip secarik kertas. Mereka tarik kertas itu, di bawah keremangan mereka melihat tulisan di atas kertas itu berbunyi: “Ratu Tolol”, sedangkan kertas si Kucing tertulis: “Raja Goblok”.

Siapakah yang menaruh mahkota ranting kering di atas kepala mereka? Kapan ditaruhnya? Ternyata si Kucing dan Cu Jit-jit tidak tahu dan tidak menyadari sama sekali.

Keruan tidak kepalang kaget mereka, namun setelah membaca tulisan itu di samping mendongkol mereka pun geregetan, Jit-jit menggerutu, “Kentut, kentut anjing busuk. Huh, ratu … apa, kalau dapat kutangkap bajingan itu, awas, akan kubeset kulitnya.”

Si Kucing tertawa getir katanya, “Orang menaruh ranting di atas kepalamu saja tidak kau ketahui, cara bagaimana mampu kau tangkap dia, bayangan saja tak dapat melihatnya.”

Betapa tinggi kungfu orang, ginkangnya yang lihai dan gerak-geriknya yang cekatan dan tangkas, ngeri Jit-jit membayangkannya, bila yang ditaruh di atas kepala mereka bukan ranting kayu tapi senjata rahasia beracun yang bisa membuat luka kepala mereka, lalu apa jadinya, keruan ia berkeringat dingin.

Si Kucing bergumam, “Pasti orang itulah yang menutuk hiat-to kedua orang berbaju hitam tadi, tapi … siapakah dia sebenarnya? Tokoh mana dalam dunia ini yang berkepandaian setinggi ini?”

“Peduli siapa dia,” ucap Jit-jit, “lebih baik kita ….”

“Kita pulang saja,” tukas si Kucing.

“Pulang, pulang, kau hanya tahu pulang saja,” omel Jit-jit mendongkol.

Si Kucing menghela napas, katanya, “Orang itu jelas tak bermaksud jahat terhadap kita, kalau mau, dengan mudah dia dapat mencabut jiwamu, tapi perbuatannya ini jelas cuma ingin memperingatkan, supaya kita tidak terlalu lama berada di sini.”

“Kenapa … kenapa ….”

Si Kucing memandang sekitarnya, lalu katanya, “Dalam kegelapan di sekitar kita ini pasti banyak alat perangkap yang tak kelihatan, khawatir kita terjebak, maka orang itu menganjurkan kita pulang saja.”

“Kalau dia suruh kau pulang, kau lantas pulang? Kau begitu patuh kepadanya?”

“Betapa pun orang bermaksud baik ….”

“Aku justru tak mau terima kebaikannya, aku justru ingin tahu lebih jelas,” belum habis bicara segera orangnya melompat ke depan.

Si Kucing sudah kenyang berkelana di dunia Kangouw, pengalaman luas, banyak tipu akalnya, gesit, dan cekatan, siapa saja yang bermusuhan dengan dia pasti pusing tujuh keliling, tapi menghadapi Cu Jit-jit, justru dia sendiri yang kewalahan.

Cu Jit-jit sudah berlari ke depan, terpaksa dia mengikut di belakangnya. Dengan kebat-kebit, mereka maju lagi beberapa puluh tombak jauhnya.

Sekonyong-konyong berkumandanglah bunyi keleningan, meski ringan suaranya, tapi di tengah malam gelap dan sunyi, suaranya sungguh mengejutkan.

Menyusul tampak cahaya api menyala di sebelah depan.

Betapa besar nyali Cu Jit-jit kaget juga dia dan menghentikan langkah, terdengar suara bentakan keras di sana, “Siapa itu? …. Berhenti! …. Tangkap maling!”

Berubah air muka si Kucing, “Wah, celaka … lekas mundur ….”

Belum lenyap suaranya, tampak sesosok bayangan orang melesat keluar dari arah cahaya api sana, gerakannya secepat kilat dan menubruk ke arah Cu Jit-jit dan si Kucing bersembunyi.

Gerak-geriknya sungguh amat cepat, walau melesat dari depan, tapi Jit-jit dan si Kucing hanya melihat bayangannya saja, hakikatnya sukar melihat raut wajah dan bentuk perawakan orang. Tatkala melesat lewat di samping tubuh mereka, bayangan itu membentak lirih, “Ikuti aku!”

Sementara itu tampak bayangan orang banyak disertai langkah ramai sama memburu ke arah Cu Jit-jit dan si Kucing, bentakan dan teriakan bertambah keras.

Dalam keadaan terdesak begini, terpaksa Jit-jit putar tubuh dan melompat keluar, untung jalan mundur mereka belum tercegat, dengan cepat mereka melayang keluar pagar tembok.

Setiba mereka di luar pagar tembok, bayangan misterius tadi tidak kelihatan lagi.

Jit-jit mengentak kaki, omelnya, “Maling mampus, bangsat goblok, dia sendiri lebih setimpal dianugerahi julukan raja goblok, jejaknya yang konangan orang, kita ikut susah.”

“Kukira dia sengaja berbuat demikian,” ujar si Kucing setelah berpikir.

“Maksudmu dia sengaja memperlihatkan jejaknya? Memangnya dia sudah gila?”

“Sudah berulang kali dia memberi peringatan, namun kita tetap bandel, terpaksa jejaknya sengaja diperlihatkan supaya kita pun mau tidak mau ikut kabur ….”

Jit-jit melenggong, katanya kemudian dengan gemas, “Apa sangkut paut urusan kita dengan dia? Kenapa dia mempermainkan kita?”

Mulut bicara, kaki tidak berhenti, cepat sekali sudah melewati dua jalan raya.

Pada saat itulah mendadak Jit-jit berhenti.

“Kau mau apa pula?” tanya si Kucing.

“Aku ingin kembali ke sana.”

“He, apa kau sudah gila?”

“Siapa bilang aku gila, aku sangat sadar, setelah gagal menangkap maling, mereka tentu tidur lagi, kenapa aku tidak boleh kembali ke sana?”

Si Kucing menghela napas, katanya, “O, nonaku yang manis, memangnya tak kau pikir, setelah kejadian ini penjagaan tentu diperketat, kalau kau kembali ke sana, pasti masuk perangkap mereka.”

Jit-jit mengertak gigi, desisnya, “Mungkin betul ucapanmu, namun aku tambah yakin tempat itu adalah sarang iblis, kalau aku tidak memeriksanya pula ke sana, mana hatiku bisa tenteram?”

“Berdasarkan apa kau begitu yakin?”

“Coba jawab, kalau sarang pelacur biasa mana mungkin dijaga sekian banyak orang? Apalagi berulang kali orang itu memberi peringatan kepada kita, pasti dia tahu dalam taman itu banyak dipasang jebakan. Nah, coba jawab lagi, sarang pelacur biasa mana mungkin terdapat jebakan dan perangkap?”

Lama si Kucing terdiam, akhirnya menghela napas, katanya, “Aku selalu kalah berdebat dengan kau.”

“Kalau mengaku kalah, ayolah ikut aku pula.”

“Baiklah, aku ikut.”

“Betul?” seru Jit-jit girang.

“Sudah tentu betul, tapi bukan malam ini, sekarang kita pulang dulu, besok kita rancang dulu langkah kita, betapa pun sarang pelacur ini harus diselidiki sampai jelas.”

Jit-jit bimbang sejenak, tanyanya, “Apakah omonganmu dapat dipercaya?”

“Setiap patah kataku laksana paku yang menancap di dinding, satu paku satu mata.”

“Baiklah, kali ini aku terima saranmu, besok kita lanjutkan penyelidikan ini.”

*****

Setiba mereka di rumah keluarga Auyang, penghuni rumah besar itu sudah tidur semua, agaknya tiada orang tahu apa yang dilakukan kedua orang ini setengah malaman ini, segera mereka kembali ke kamar masing-masing.

Di musim dingin, malam pendek siang panjang, Jit-jit hanya tidur sebentar di atas ranjang, waktu dia membuka mata mentari sudah memancarkan cahayanya ke dalam kamar.

Cukup lama dia duduk termenung di atas ranjang, makin dipikir terasa makin mencurigakan, mendadak dia menyingkap selimut terus berpakaian langsung dia pergi ke kamar Sim Long.

Pintu kamar masih tertutup rapat, segera ia hendak menggedor, tapi urung, sejenak ia berpikir, lalu berputar ke arah jendela dan pasang kuping mendengarkan, didengarnya Sim Long masih mendengkur dengan teratur, jelas tidurnya sangat nyenyak.

Mendadak di belakangnya seorang menyapa perlahan, “Selamat pagi, Nona!”

Cepat Jit-jit membalik, yang berdiri di belakangnya dengan meluruskan tangan ternyata Pek Fifi.

Secara diam-diam dia berdiri di luar jendela kamar orang lelaki dan mencuri dengar, kini kepergok, keruan ia malu. Seketika dia menarik muka, baru saja dia hendak mengumbar adat, mendadak pikirannya berubah, dengan tertawa dia berkata perlahan, “Kau pun pagi, apa semalam enak tidurmu?”

Dua hari ini setiap melihat tampang Pek Fifi selalu dia jengkel, kini sikapnya mendadak berubah ramah, sudah tentu Pek Fifi merasa di luar dugaan, ia jadi kebat-kebit malah, sahutnya dengan hormat, “Terima kasih atas perhatian Nona, aku … aku tidur dengan nyenyak.”

“Angkat kepalamu, biar kulihat mukamu.”

Fifi mengiakan dan perlahan angkat kepalanya.

Hujan salju sudah berhenti, mentari yang baru menyingsing memancarkan cahaya keemasan menyinari wajah Pek Fifi.

Jit-jit menghela napas, ujarnya, “Memang cantik, melihatmu aku pun ketarik, apalagi kaum lelaki hidung belang itu, sudah tentu tergila-gila ….”

Fifi kira rasa cemburu orang mulai angot lagi, maka dengan gugup dia berkata, “Mana hamba berani dibandingkan dengan Nona ….”

“Tak usah sungkan, tapi … jangan kau bohongi aku.”

Fifi berjingkat kaget, katanya, “Mana berani hamba bohongi Nona.”

“Apa betul kau tidak bohong? Baik, jawab pertanyaanku, kau bilang semalam tidur nyenyak, kenapa kedua matamu tampak merah bengul?”

Wajah Fifi yang semula pucat seketika merah, katanya dengan tergegap, “Aku … hamba ….”

Khawatir dimaki Cu Jit-jit, saking takutnya sampai tak mampu bicara.

Jit-jit malah tertawa, katanya, “Kalau semalam kau tidak tidur, aku ingin tanya padamu, kamarmu di sebelah kamar Sim-siangkong, apa kau tahu semalam Sim-siangkong keluar dari kamarnya tidak?”

Lega hati Fifi, katanya, “Semalam Sim-siangkong pulang ke kamar dengan mabuk, begitu rebah di ranjang lantas tidur pulas, dari kamar hamba pun mendengar suara dengkurannya.”

Sesaat Jit-jit menimbang-nimbang, lalu berkerut alis dan bergumam, “Kalau demikian, mungkin bukan dia ….”

“Bukan dia siapa?” tiba-tiba seorang bertanya dengan tertawa. Entah kapan Sim Long sudah membuka pintu dan melangkah keluar.

Merah muka Jit-jit, katanya, “O, tidak … tidak apa-apa.”

Sikapnya di hadapan Sim Long serupa Pek Fifi di hadapannya tadi, muka merah dan menunduk kepala, tergegap tak mampu bicara.

Sambil menunduk diam-diam Fifi mengundurkan diri.

Sim Long menatap Jit-jit, cahaya mentari yang keemasan menyinari wajah Cu Jit-jit, wajahnya kelihatan cantik, siapa pun melihatnya pasti merasa sayang.

Mendadak Sim Long menghela napas, katanya, “Wajahmu bak bunga mekar, lebih cantik dari ….”

“Siapa maksudmu?” tukas Jit-jit.

“Sudah tentu kau, masa orang lain.”

Muka merah Jit-jit, belum pernah dia dengar Sim Long memuji kecantikannya, entah kejut entah senang, dia menunduk dan berkata, “Apakah kau bicara setulus hatimu?”

“Sudah tentu setulus hati …. Angin pagi dingin di luar, marilah duduk di dalam kamar.”

Tanpa diminta lagi Jit-jit mendahului melangkah masuk dan duduk di dalam kamar, terasa Sim Long masih terus mengawasi dirinya dengan saksama.

Ia menjadi rikuh, duduk tak tenang, berdiri juga tak enak, akhirnya dia mengomel dengan tertahan, “Apa yang kau pandang? Bukankah aku serupa, beratus kali telah kau pandangku, dipandang lagi juga takkan tumbuh sekuntum bunga di mukaku.”

Sim Long tersenyum, katanya, “Aku sedang berpikir, perempuan secantik kau bila mengenakan mahkota di atas kepala pasti mirip seorang ratu.”

Terkesiap hati Jit-jit, “Ratu … ratu apa?”

Sim Long bergelak tertawa, “Sudah tentu ratu kecantikan. Memangnya ada ratu lain.”

Tak tahan Jit-jit, ia mengawasi orang dengan saksama.

Sim Long tertawa, katanya, “Udara dingin bumi beku, keluar malam gampang masuk angin, bila nanti malam kau ingin keluar, lebih baik mengenakan baju kapas ….”

Jit-jit berjingkrak, serunya, “Siapa bilang nanti malam aku mau keluar?”

“Siapa bilang kau mau keluar, aku hanya bilang umpama kau ingin keluar,” mendadak Sim Long menoleh, lalu menyambung dengan tertawa, “Him-heng, kenapa berdiri di luar jendela, silakan masuk?!”

Si Kucing berdehem, lalu melangkah masuk perlahan dan menyapa, “Pagi benar Sim-heng bangun.”

“Sebetulnya tidak pagi lagi, bagi orang yang malam hari suka keluyuran menjadi maling, semalam suntuk tidak tidur, tapi sekarang sudah bangun, dia baru dapat dikatakan bangun pagi-pagi betul tidak Him-heng?”

Si Kucing menyengir, sahutnya, “Ya … ya ….”

“Barusan kubilang ada seorang mirip ratu, kini kulihat tampang Him-heng, haha, cara Him-heng melangkah bagai harimau lapar, gagah perkasa, bila mengenakan mahkota juga, kau pasti mirip seorang raja.”

Melotot si Kucing mengawasi Sim Long, sampai sekian lama terkesima dan tak mampu bersuara.

Mendadak Sim Long berdiri, katanya, dengan tertawa, “Silakan kalian duduk di sini, aku akan keluar melihat-lihat dulu.”

“Melihat … melihat apa?” tanya Jit-jit.

“Ingin kulihat apakah semalam ada maling datang mencuri barang, mungkin gagal mencuri malah kehilangan segenggam beras, kereta kuda yang ditumpangi juga tertinggal di luar.”

Dengan tertawa segera dia berlari keluar.

Jit-jit dan si Kucing saling pandang dengan melenggong dan tak mampu bicara.

Sesaat kemudian si Kucing tak tahan, ia buka suara, “Semalam pasti dia.”

“Ya, pasti dia,” ucap Jit-jit.

Si Kucing menghela napas, katanya, “Sepak terjangnya sungguh menakjubkan, gerak-geriknya laksana setan, tingkah kita ternyata tak mampu mengelabui dia …. Ai, sungguh kungfu hebat.”

Tiba-tiba Jit-jit tertawa, katanya, “Banyak terima kasih.”

Si Kucing heran, “Kau terima kasih apa?”

Manis tawa Jit-jit, katanya, “Kau memuji dia, berarti memujiku pula, mendengar pujianmu sungguh aku sangat senang, maka aku mengucapkan terima kasih, jika kau maki dia, pasti kuhajarmu.”

Si Kucing melongo sejenak, akhirnya menghela napas, katanya, “Semalam dia mempermalukan dirimu dan kau tidak marah?”

“Siapa bilang dia mempermainkan aku, maksud dia kan baik, ini … ini kan kau sendiri yang bilang demikian? Kan pantas kita berterima kasih kepadanya, kenapa mesti marah?”

Kembali si Kucing melenggong, katanya kemudian, “Tapi aku justru marah.”

“Kau marah apa?” tanya Jit-jit.

Si Kucing tidak menjawab, mendadak ia berterus melangkah pergi.

Jit-jit tidak mencegah, hanya katanya keras, “Hanya marah saja apa gunanya? Kalau malam nanti kau dapat membebaskan diri dari pengawasannya baru terbukti kau punya kepandaian tinggi, laki-laki yang serbapintar pasti akan disukai gadis.”

Si Kucing sudah pergi dengan langkah lebar, mendadak dia kembali dengan langkah lebar pula, katanya, “Kau kira aku tak mampu membebaskan diri dari pengawasannya?”

Dengan tertawa Jit-jit mengawasinya, katanya, “Apa kau mampu?”

“Mampu saja, boleh kau buktikan,” seru si Kucing keras. Setelah mengentak kaki, kembali dia melangkah pergi.

Mengawasi bayangan orang yang lenyap di luar pintu, Jit-jit tertawa senang, gumamnya, “Kau si Kucing ini pernah bilang selamanya tak pernah terpancing orang? Sekarang kenapa terpancing juga olehku? …. Tampaknya laki-laki di dunia ini sama saja, tiada satu pun yang tahan dihasut oleh orang perempuan …. Hanya … kecuali Sim Long saja ….”

Terbayang akan watak Sim Long yang tidak kenal kompromi, tidak doyan halus maupun keras, sering berlagak bisu dan tuli lagi, sungguh ia gemas dan geregetan, rasanya ingin menggigitnya. Tapi … ia hanya menggigitnya perlahan, sebab khawatir menyakitkan dia.

*****

Dengan sendirinya Auyang Hi berusaha menahan tetamunya supaya tinggal lebih lama, Jit-jit juga tidak berniat pergi, maka kebetulan orang banyak lantas tinggal lebih lama di rumah Auyang Hi.

Malamnya diadakan pula perjamuan besar. Setelah minum tiga cawan, si Kucing mendadak berkata, “Eh, tiba-tiba teringat olehku suatu persoalan menarik.”

“Soal apa?” tanya Auyang Hi.

“Bila kita berempat bertanding minum arak entah siapa yang akan ambruk lebih dulu?”

“Wah ….” Auyang Hi jadi bingung, ia menoleh ke arah Sim Long, lalu memandang Ong Ling-hoa pula.

Sim Long diam saja, Ong Ling-hoa juga tidak memberi tanggapan.

Setiap orang yang gemar minum pasti tidak mau mengaku takaran minumnya sedikit dan akan mabuk lebih dulu.

Auyang Hi bergelak tertawa, katanya, “Persoalanmu memang menarik, namun sukar mendapatkan jawabannya.”

“Kenapa sukar,” ujar si Kucing, “asal Auyang-heng mau sediakan arak, hari ini juga kita bisa menentukan kalah-menang.”

Belum habis orang bicara Auyang Hi lantas berkeplok, serunya, “Bagus! …. Ayo keluarkan empat guci arak!”

Cepat sekali empat guci arak yang diminta sudah diusung keluar.

Ong Ling-hoa tertawa, katanya, “Begini saja, satu orang satu guci, siapa pun tak dirugikan.”

Sim Long tersenyum, “Jika habis satu guci dan belum mabuk, lalu bagaimana?”

“Bila empat guci belum mabuk, keluarkan lagi delapan guci,” kata Ong Ling-hoa.

“Kalau belum juga mabuk?” tanya Sim Long.

Ong Ling-hoa tertawa, “Jika masih juga belum ada yang mabuk, apa salahnya kita teruskan adu minum sampai tiga hari?”

Si Kucing tepuk tangan, serunya dengan bergelak tertawa, “Haha, bagus! Tapi, masih ada ….”

“Masih ada apa?” tanya Auyang Hi.

“Cepat atau lambatnya cara minum juga harus diatur ….” ujar si Kucing.

“Betapa cepat kau kucing ini dapat minum kami pasti akan mengiringimu sama cepatnya.”

“Baik ….” seru si Kucing girang, segera diangkatnya satu guci dengan kepala mendongak, arak terus dituang ke dalam perut, sekaligus dia habiskan setengah guci.

Ketika mendengar si Kucing ribut urusan minum arak, Jit-jit lantas tahu maksud si Kucing hendak mencekok mabuk ketiga orang ini, bila Sim Long juga mabuk, maka dia takkan bisa menguntit gerak-gerik mereka malam ini. Dalam hati dia tertawa geli dan bersorak akan akal si Kucing. Maka dia hanya menonton saja di samping tanpa memberi komentar.

Empat orang ini memang jago minum, hanya sekejap saja isi empat guci sudah terminum habis, segera Auyang Hi tepuk tangan dan menyuruh keluarkan empat guci arak lagi.

Ketika empat guci ini habis diminum dan minta tambah empat guci, keadaan keempat orang ini sudah mulai tak genah, mulai sinting, cara bicara juga ngelantur.

Jit-jit sangat tertarik, ia ingin menyaksikan siapa di antara keempat orang ini yang mabuk dan ambruk lebih dulu. Tapi setelah berpikir pula, ia jadi tidak tertarik lagi. Pikirnya, “Takaran minum keempat orang ini agaknya seimbang, jika si Kucing tak mampu mencekoki Sim Long hingga mabuk, malah dia sendiri yang mabuk lebih dulu, lalu bagaimana baiknya?”

Mendadak terlihat Sim Long berdiri dan berseru lantang, “Kucing tetap kucing, habis tiga guci arak jatuh melingkar seperti kerbau.”

Mendadak ia roboh perlahan dan tak bangun lagi.

“Haha, ambruk satu ….” teriak si Kucing dengan tertawa.

Ong Ling-hoa mengedip mata, katanya, “Jangan-jangan dia pura-pura mabuk.”

Meski ingin mencekoki Sim Long sampai mabuk, tapi melihat keadaannya benar-benar mabuk, Jit-jit menjadi gugup pula, dengan penuh perhatian dia berjongkok memapah Sim Long, katanya, “Dia tidak pura-pura, tapi betul-betul mabuk, kalau tidak masa dia mengoceh tak keruan.”

Ong Ling-hoa tertawa, “Tak nyana orang lain ambruk lebih dulu, bagus, bagus! Biarlah kuminum lagi tiga cawan.”

Lalu dia habiskan tiga cawan arak, namun sebelum cawan ditaruh di atas meja, orangnya mendadak tak kelihatan, kiranya dia telah merosot ke bawah meja dan tak mampu bangun lagi.

Si Kucing tertawa, cawan didorongnya serta berbangkit, tapi sebelum sirap suara tertawanya, ia pun ambruk telentang.

Auyang Hi bergelak, serunya, “Bagus … bagus! Bicara soal kungfu memang berbeda satu dengan yang lain, tapi soal kekuatan arak akulah yang paling jempol ….”

Ia pegang cawan dengan langkah sempoyongan dan keluar pintu. Sesaat kemudian terdengar cangkir jatuh berantakan menyusul “bluk” yang keras, lalu suara Auyang Hi tak terdengar lagi.

Dengan terkesima Jit-jit mengawasi mereka satu per satu, namun sesaat kemudian mendadak si Kucing melompat bangun, katanya sambil mengawasi Cu Jit-jit, “Nah, bagaimana, bukankah sekarang aku dapat melepaskan diri dari mereka.”

“Ya, anggaplah kau memang lihai, tapi … tapi tak pantas kau mencekokinya sampai begini,” apa pun Jit-jit tetap membela Sim Long.

Si Kucing melenggong sejenak, katanya dengan menghela napas, “O, perempuan … sudah kubela dia, dia malah membela orang lain ….”

Jit-jit angkat Sim Long ke atas ranjang dan menyelimutinya, habis itu baru dia ikut si Kucing melesat keluar pekarangan. Kedua orang sama memikirkan persoalannya sendiri, maka tiada yang buka suara.

Setiba di luar tembok rumah itu baru Jit-jit menoleh dan berkata, “Malam ini Sim Long tidak akan memberi petunjuk dan perlindungan lagi, maka kita harus lebih hati-hati.”

“Hmk!” si Kucing hanya mendengus saja.

Jit-jit tertawa, “Kau minum arak sebanyak itu dan tidak mabuk, jangan-jangan kau mabuk minum cuka (cemburu).”

Dengan enteng mereka melompati tembok, keadaan gelap gulita sekelilingnya sepi seperti tiada penjagaan, ronda malam juga tidak kelihatan. Mereka maju terus tanpa rintangan.

Entah berapa lama mereka sudah memasuki pekarangan besar ini, waktu diteliti agaknya mereka sudah berada di taman belakang, pemandangan sekelilingnya memang mirip seperti “sarang iblis” yang pernah dilihat Cu Jit-jit dulu.

Hutan cemara, hutan bambu, gardu pemandangan, loteng bersusun, gunung-gunungan dan empang ….

Jalan kecil berkerikil sudah bertabur salju, empang teratai yang sudah membeku. Makin pandang makin mirip, namun makin dipandang hatinya juga semakin tegang, meski di musim dingin telapak tangan dan jidatnya ternyata berkeringat.

Mendadak si Kucing bergelak tertawa, “Haha, arak bagus, arak bagus, lagi sepoci ….”

Saking kaget jantung Cu Jit-jit seperti mau melompat keluar dari rongga dadanya, cepat dia membalik dan menarik si Kucing terus diajak menggelinding ke tempat gelap.

Ditunggu sesaat lamanya, keadaan tetap sunyi senyap, gelak tawa si Kucing ternyata tidak mengejutkan penjaga atau ronda malam di taman ini.

Jit-jit merasa lega, ia tarik lengan baju si Kucing dan mengomel, “Sudah gila kau?”

Si Kucing menyengir, “Sudah gila, ya sudah gila, lebih baik minum arak ….”

“Celaka, kau … kau mabuk?”

Mendadak si Kucing menarik muka, “Siapa mabuk, aku hanya ingin coba apakah di sini ada orang atau tidak.”

“Caramu mencoba ini apakah tidak akan membikin jiwa melayang?” omel Jit-jit.

Mendadak si Kucing berkata keras pula, “Baiklah, jika kau minta jangan kucoba, aku pun tidak akan mencoba.”

Tubuh Jit-jit berkeringat dingin, lekas dia memberi tanda dan mendesis, “Sssst, jangan bicara.”

Mendadak si Kucing juga mendekap mulut dan berkata, “Sssst, jangan bicara.”

Khawatir dan gusar, serbasalah pula Jit-jit, ia tak tahu apa yang harus dilakukan lagi, sekarang baru dia tahu, tadi si Kucing memang pura-pura mabuk, tapi setelah badan kena angin malam, arak dalam perut berontak hingga betul-betul jadi mabuk. Kalau tadi betul-betul mabuk masih mending, di tempat seperti ini dia baru mabuk, keruan Jit-jit gugup setengah mati.

Tak terduga mendadak si Kucing berdiri, dengan hati-hati dia menuju ke sana, gerak-geriknya kelihatan lincah dan cekatan, Jit-jit tak berhasil menariknya, terpaksa dia ikuti saja langkah orang.

Setelah sekian jauhnya, langkah si Kucing betul-betul seringan kucing merunduk tikus, enteng tak mengeluarkan suara, lega hati Cu Jit-jit, pikirnya, “Semoga dia tidak mabuk, kalau tidak ….”

Baru melamun, mendadak si Kucing berlari ke arah sepucuk pohon cemara, kaki tangan bekerja sekaligus, beruntun dia memukul dan menendang pohon itu sambil berteriak-teriak, “Bagus, kau bilang aku mabuk, kuhajar kau … kuhajar kau sampai mampus.”

Di samping kaget, dongkol juga Jit-jit, segera dia memburu maju dan menekan tubuh si Kucing pada batang pohon itu. “Plak-plok”, belasan kali dia gampar mukanya.

Si Kucing tidak meronta, juga tidak melawan, dia malah menyengir lucu.

Dengan gemas Jit-jit memaki, “Kucing goblok, kucing mabuk, akulah yang akan menghajarmu sampai mampus!”

Kucing meratap, “Nona yang baik, jangan menghajarku sampai mampus, cukup setengah mati saja.”

Walau gusar, Jit-jit merasa geli pula, namun saat itu dia sadar bahaya selalu mengelilinginya, yang menemani dirinya justru kucing mabuk, dia bisa tertawa.

Keadaan taman tetap sunyi senyap dan tak kelihatan orang mengejar.

Dengan menahan suara Jit-jit berkata dengan geregetan, “Kucing mabuk, dengarkan, sekali lagi kau bikin ribut, segera kututuk hiat-tomu dan kubuang ke semak-semak, biar badanmu dicincang orang, kau tahu tidak?”

Si Kucing manggut-manggut, “Ya, aku tahu, aku tahu!”

“Masih berani kau bikin ribut?”

“Tidak, tidak berani lagi.”

Lega hati Jit-jit, katanya, “Baik, ikuti aku dan jangan berisik, berani bersuara sedikit saja segera kucabut nyawamu.”

“Baik, ikuti kau perlahan, asal mengeluarkan suara, kau akan merenggut nyawaku.”

Diam-diam Jit-jit membatin, “Walau dia mabuk, pikirannya ternyata masih jernih. Agaknya nasibku masih mujur, tadi dia ribut sekeras itu, ternyata tidak mengejutkan orang.”

Maka kedua orang lantas maju lebih lanjut.

Si Kucing sudah mabuk hingga mengoceh tak keruan, seorang lagi gadis yang hijau dan cetek pengalaman, betapa keras keributan yang dilakukan si Kucing tadi, umpama orang mati pun akan terkejut bangun. Apalagi orang di sini pasti tidak mati.

Tapi keadaan tetap sunyi, dalam hal ini pasti ada sebab musababnya, namun bukan saja Jit-jit tidak pikirkan hal ini, dia malah merasa senang dan menganggap dirinya bernasib mujur.

*****

Dugaan Cu Jit-jit memang tidak salah, “sarang pelacur” ini memang betul adalah sarang iblis yang tempo hari pernah membuat dirinya ketakutan setengah mati itu. Maju beberapa langkah lagi lantas terlihat loteng kecil itu.

Walau keadaan sekelilingnya gelap gulita, namun sudah terbayang olehnya akan wajah si nyonya setengah baya yang cantik dan berdandan seperti permaisuri itu tengah berdiri di langkan dan melambaikan tangan kepadanya.

Rasa ngeri seketika menjalari benaknya, cepat dia tarik si Kucing terus menyelinap ke belakang sepucuk pohon.

“Ken ….” baru si Kucing bersuara, mulutnya lantas didekap Cu Jit-jit. Tangan Jit-jit yang lain menuding loteng kecil itu, katanya, “Di … di sana itulah.”

Si Kucing bersuara dalam kerongkongan sambil manggut-manggut.

Jit-jit berbisik pula, “Setiba di sini, jangan bersuara apa pun, perempuan yang tinggal di atas loteng itu lebih menakutkan daripada setan, bila mengeluarkan suara dan didengar olehnya, jang … jangan harap bisa pulang, tahu tidak?”

Si Kucing manggut-manggut, selanjutnya bernapas pun dia tak berani terlalu keras.

Jit-jit segera lepaskan dekapan atas mulut orang, katanya perlahan, “Walau kita sudah temukan tempat ini, tapi aku tidak tahu bagaimana baiknya? Perlukah kita memeriksanya ke atas? Atau pulang dulu mengajak Sim Long kemari?”

Dengan berbisik si Kucing berkata, “Kita periksa lebih dulu.”

Jit-jit menghela napas, katanya, “Diperiksa dulu juga boleh, tapi tak dapat kau bayangkan betapa menakutkan perempuan di atas loteng itu, apalagi kau sedang mabuk ….”

“Tak jadi soal,” kata si Kucing tegas. Belum lenyap suaranya dia lantas melompat jauh ke depan, meluncur secepat anak panah.

Jit-jit tak berhasil meraihnya, ingin berteriak tidak berani, saking khawatir berubah air mukanya, sebetulnya dia ingin menyusul, sayang kedua kaki terasa lemas.

Dilihatnya si Kucing berlari langsung ke arah loteng, di mana kakinya melayang, dia depak daun pintu bagian bawah, menerjang masuk dengan langkah tegap seperti masuk rumahnya sendiri.

Tendangan si Kucing itu rasanya seperti menendang hulu hati Cu Jit-jit, seketika kepala pusing, jantung pun serasa berhenti berdenyut. Dia ambruk di tanah, kaki-tangan terasa dingin dan basah keringat, ia bersuara perlahan, “Wah, celaka … habis ….”

Dia yakin setelah si Kucing menerjang masuk ke sana, jiwanya pasti amblas dan takkan keluar lagi dengan hidup, sebetulnya timbul niatnya akan ikut menerjang masuk sebagai tanda setia kawannya, sayang, kakinya terasa lemas dan tak mampu berdiri.

Dia membatin sambil mengertak gigi, “Salahmu sendiri minum sebanyak itu hingga mabuk, kau … kau mampus juga pantas, buat apa aku kasihan ….”

Walau demikian pikirannya, tapi entah kenapa, air mata lantas bercucuran.

Didengarnya si Kucing lagi mengamuk di dalam loteng, teriaknya, “Perempuan setan, iblis perempuan, ayo keluar, kalau berani ayolah berhantam dengan pendekar besar ini, coba kau yang mampus atau aku yang hidup, memangnya kau kira si Kucing takut padamu?”

Menyusul terdengar suara “blang-blung” yang ramai disertai caci maki si Kucing, agaknya telah terjadi baku hantam yang seru di dalam loteng.

Kalau betul terjadi pertarungan sengit, meski kepandaian si Kucing amat tinggi, apa pun dia bukan tandingan si perempuan setengah baya yang menghuni loteng kecil itu, apalagi saat itu si Kucing lagi mabuk.

Jit-jit tak tahan membendung air matanya, sambil menangis terisak dia berkata sendiri, “Peduli kau mabuk atau tidak, kalau bukan lantaran aku, tentu kau … kau tidak akan mabuk dan takkan berada di sini …. Akulah yang membuatmu celaka … aku yang membuatmu celaka, tapi aku malah duduk saja di sini, tak menyertai kau mengadu jiwa … aku memang patut mampus … pantas mati ….”

Tangan diangkatnya, mendadak dia gigit lengan sendiri, begitu jengkelnya hingga lengannya digigitnya sampai berdarah.

Sementara itu tak terdengar lagi suara si Kucing di dalam loteng. Suasana menjadi sepi, keadaan sunyi yang aneh dan mencekam lebih mengerikan dari kegaduhan, dengan khawatir Cu Jit-jit angkat kepalanya, air mata masih berkaca-kaca di pelupuk matanya, ia pandang ke sana dengan bingung.

Di tengah kesunyian yang mencekam perasaan ini, loteng kecil itu tetap menegak di tengah kegelapan, tiada suara, tak terlihat sinar lampu, apalagi bayangan manusia ….

Di samping khawatir dia juga heran, batinnya, “Apakah yang terjadi …. Mengapa jadi begini …. Mungkinkah dia … dia menemui ajalnya? Tapi umpama dia gugur, sedikitnya terdengar jeritannya.”

Loteng kecil yang tak bernyawa itu dalam pandangan Jit-jit sekarang berubah seperti iblis jahat. Pintu yang terpentang oleh tendangan si Kucing tadi seperti mulut iblis raksasa yang ternganga menunggu mangsanya, seperti juga menantang dan mencemoohkan Cu Jit-jit, “Apa kau berani masuk?”

Bergidik Jit-jit. Tubuhnya memang sudah basah oleh salju, kini celananya juga basah dan kotor, namun dia seperti tidak menyadari, matanya tetap mengawasi bangunan loteng itu, persoalan lain seperti tak dipedulikan lagi. Daun pintu yang terpentang bergerak-gerak tertiup angin, seperti lagi mengejek Cu Jit-jit, juga seperti sedang menantang.

Dengan mengertak gigi Jit-jit meronta berdiri, diam-diam ia maki dirinya sendiri, “Kenapa aku jadi penakut, mati saja tak takut, apa yang harus kutakuti?”

Ia tidak menyadari “rasa takut” adalah titik lemah manusia, kelemahan yang sudah dibawa sejak lahir, kecuali orangnya mati, pingsan atau mati rasa, kalau normal, siapa pun pasti punya rasa takut.

Meski tak kuasa menghentikan rasa takutnya, namun akhirnya Jit-jit berdiri. Walau dia seorang gadis, tidak punya jiwa keperwiraan, namun wataknya suka menang dan keras kepala, dia juga memiliki hati yang bajik, dia sudah bersumpah demi kesejahteraan umat persilatan, dia harus membongkar rahasia ini, rahasia yang menakutkan ini.

Setindak demi setindak dia melangkah ke arah loteng. Pintu masih terbuka lebar. Tapi keadaan di dalam pintu lebih gelap daripada di luar, dengan ketajaman matanya tetap sukar melihat keadaan di dalam rumah.

Jantungnya seperti hendak melompat keluar, rasa takut makin menjadi. Tapi sambil mengertak gigi dia tetap melangkah masuk, tidak menoleh dan tidak berhenti.

Dari tempat dia jatuh terduduk tadi ke pintu loteng jaraknya tidak jauh, namun jarak sedekat ini terasa betapa jauh dan lama perjalanan ini.

Akhirnya dia berada di pintu, untuk sampai ke situ rasanya dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya, kalau saat itu ada orang menerjang keluar dari balik pintu, sekali tonjok pasti dapat membunuhnya.

“Blang”, mendadak daun pintu tertutup. Hampir saja Jit-jit menjerit. Padahal angin yang bikin gara-gara.

Jit-jit menggigit bibir, tangan kiri meraba dada tangan kanan mendorong daun pintu Perlahan daun pintu terbuka, di dalam tiada orang, juga tak ada reaksi apa-apa.

Dengan menabahkan hati dia melangkah masuk. Meski masih ngeri, namun kaki-tangannya kini sudah penuh tenaga, sekujur badan bersiap siaga, setiap saat dia siap tempur menghadapi sergapan.

Namun setelah beranjak beberapa langkah, ternyata tiada kejadian apa pun yang dialaminya. Saking gelap kelima jari tangan sendiri pun tak terlihat, tiada suara apa pula, hening lelap, kecuali detak jantung sendiri.

Keadaan ini membuat Jit-jit jadi bingung dan heran, kesunyian yang ganjil ini malah membuatnya terkejut, sukar untuk dimengerti sebenarnya apa yang terjadi? Perangkap apa yang terpasang di loteng kecil ini? Muslihat apa pula yang direncanakan musuh? Ke manakah si Kucing? Mati atau hidup? Kenapa penghuni loteng ini tidak segera menyergap dirinya? Apa pula yang mereka tunggu?

Urusan sudah telanjur sejauh ini, terpaksa Jit-jit mengeraskan kepala dan melangkah maju lebih lanjut. Dia tahu setelah berada di dalam rumah ingin mundur juga kepalang tanggung, peduli ada perangkap atau muslihat apa, biarlah pasrah nasib.

Selangkah demi selangkah ia maju terus, telapak tangan sudah basah keringat dingin, keadaan sekarang boleh diibaratkan seorang buta menunggang kuda lamur dan tengah malam berada di tepi jurang.

Secara membabi buta dia terjang ke depan, setiap saat bukan mustahil dia akan jatuh ke dalam perangkap dan mengalami bahaya, kecuali nona bandel ini mungkin tak ada yang berani.

Tiba-tiba kakinya terasa menginjak sesuatu yang empuk, rasanya seperti kaki orang, waktu tubuhnya tersungkur ke depan, kembali ia membentur sesuatu yang lunak. Benda itu bukan saja basah juga lunak, terendus pula bau khas orang yang kasar, itulah bau arak dan bau keringat, bercampur dengan bau sepatu yang bacin.

Saking kaget Jit-jit melompat mundur, bentaknya, “Siapa?”

Keadaan tetap hening, tiada reaksi apa-apa, tapi mendadak berkumandang gelak tertawa orang.

Dengan suara serak Jit-jit berteriak, “Siapa kau sebenarnya? Kau ….”

Belum habis dia bicara, sinar lampu mendadak menyala di empat penjuru hingga keadaan ruangan itu terang benderang.

Sudah sekian lama dalam kegelapan, mendadak melihat sinar lampu, tentu mata Jit-jit terasa silau, cepat ia pejamkan mata sambil menyurut mundur.

Mendadak punggungnya menumbuk benda lunak pula, seperti badan laki-laki, saking kaget dia menerjang maju lagi. Tak tersangka sepasang tangan segera menangkap pundaknya.

Dia ingin meronta, namun didengarnya seorang laki-laki bicara perlahan di sampingnya, “Berdiri yang tegak, jangan terjatuh.”

Suara yang sudah amat dikenalnya, seperti suara Sim Long. Saking kaget segera dia membuka mata.

Mendingan kalau dia tidak membuka mata, seketika dia terbelalak tertegun, mulut ternganga, sepatah kata pun tak mampu bicara.

Di bawah sinar lampu yang benderang, meja kursi di dalam rumah lengkap dan rapi, mana ada bekas orang bertarung sengit? Seorang berduduk menghadap pintu sambil tertawa lebar, siapa lagi kalau bukan Ong Ling-hoa.

Di tempat ini mendadak melihat Ong Ling-hoa, hal ini sudah cukup membuatnya kaget, ternyata seorang yang duduk di sebelah Ong Ling-hoa dengan tersenyum adalah Sim Long. Bahwa mendadak dia melihat Sim Long di sini masih bisa dimaklumi, tapi mimpi pun dia tidak percaya bahwa seorang lagi yang duduk santai di sebelah Sim Long ternyata bukan lain adalah si Kucing yang mabuk dan mengoceh tak keruan hingga membuatnya takut dan menangis tadi.

Melihat ketiga orang ini sekaligus berkumpul di sini, meski cukup mengejutkan, tapi yang lebih mengejutkan lagi setelah dia melihat seorang lain yang duduk di sebelah si Kucing.

Tulang pipi orang ini menonjol, sorot matanya tajam berkilat, mulutnya lebar, dia inilah Thi Hoat-ho yang sudah sekian lamanya hilang tak keruan parannya itu.

Keempat orang ini sekaligus berada di sini, padahal semula keempat orang ini adalah lawan dan bukan kawan, tapi sekarang mereka duduk bersama di sini, mengawasi dirinya dengan senyum geli, satu sama lain seperti tiada permusuhan.

Sebetulnya apa yang terjadi Jit-jit tidak habis mengerti.

Tiba-tiba keempat orang itu berdiri. Ong Ling-hoa bersuara lebih dulu sambil menjura, “Kagum, sungguh kagum, keberanian Nona Cu memang mengejutkan, sungguh jantannya kaum wanita, Cayhe betul-betul kagum lahir batin.”

Thi Hoat-ho juga menjura, katanya dengan tertawa, “Demi keselamatan kami, Nona tak segan menempuh bahaya dan berusaha membongkar peristiwa ini, entah betapa derita yang kau alami, sungguh Cayhe sangat berterima kasih, seumur hidup takkan kulupakan.”

Dengan tersenyum Sim Long juga berkata, “Setelah mengalami peristiwa ini, baik pengalaman maupun keberanianmu telah bertambah tidak sedikit, bila kau mengalami derita juga setimpal.”

Si Kucing juga tertawa, katanya, “Kalian bilang dia belum tentu berani menerobos kemari, tapi aku justru bilang dia pasti berani, aku ….”

Mendadak Cu Jit-jit berjingkrak, bentaknya, “Tutup mulut, tutup mulut semua.” Dia menubruk ke depan Sim Long dan menjambret leher bajunya, teriaknya, “Sebetulnya apa yang terjadi? Lekas katakan, katakan! Aku hampir gila!”

Si Kucing maju mendekat dan membujuk, “Nona, bicaralah baik-baik, kenapa ….”

“Plak”, belum habis dia bicara mendadak mukanya digampar oleh Jit-jit. Seketika si Kucing melenggong di tempatnya, tangan mendekap pipi yang pedas dan sakit, tak tahu apa yang harus diucapkan lagi.

Jit-jit menghadapinya sambil bertolak pinggang, serunya, “Bicara baik-baik, bicara kentut. Ayo jawab, bukankah kau mabuk, kenapa sekarang mendadak segar bugar, bukankah tadi kau pura-pura mabuk?”

Si Kucing menyengir, katanya, “Aku … aku ….”

Mendadak Cu Jit-jit menjerit di dekat kuping orang, “Kau tipu aku, kenapa kau tipu aku?”

Hampir pecah genderang telinga si Kucing, dia melompat mundur, serunya tergegap, “Ini … ini ….”

Si Kucing biasanya pandai bicara, sekarang gelagapan, si Kucing sekarang hanya melirik Ong Ling-hoa dan mohon belas kasihan.

Ong Ling-hoa berdehem, katanya, “Urusan ini memang banyak liku-likunya, cuma ….”

Sim Long menukas, “Cuma kami tiada bermaksud jahat terhadapmu.”

“Tidak bermaksud jahat apa, masih berani kau bilang tak bermaksud jahat,” damprat Jit-jit. “Coba jawab pertanyaanku, kenapa dia menipuku? Kenapa kau pun menipu aku? Kalian laki-laki setan ini kenapa dusta padaku?”

Dia berteriak dengan suara setengah tersendat.

“Rahasia urusan ini mestinya hendak kami jelaskan kepadamu ….”

“Lantas kenapa tidak kalian jelaskan?” Jit-jit meraung.

Sim Long menghela napas, katanya, “Kau bicara seperti ini, cara bagaimana kami dapat menjelaskan kepadamu.”

Jit-jit berjingkrak pula, serunya, “Seperti ini apa? Berani kau salahkan diriku, kalian menipuku, memangnya begitu masuk kemari aku harus berlutut dan minta maaf kepada kalian?”

Ong Ling-hoa tertawa, “Tapi Nona harus dengarkan dulu penjelasanku baru boleh marah lagi.”

“Ya, seharusnya begitu,” timbrung Sim Long, “Nah, duduklah, dengarkan penjelasan kami.”

“Aku justru tak mau duduk, kau mau apa?” bantah Jit-jit, dia mundur beberapa langkah dan menarik sebuah kursi, lalu duduk. Entah kenapa, setiap saran Sim Long, meski lahirnya dia membantah, tapi selalu diturutinya, perkataan Sim Long seperti mengandung tenaga gaib, terpaksa dia harus tunduk dan menurut.

Sim Long menghela napas lega, katanya, “Baiklah. Urusan ini amat panjang untuk diceritakan, silakan Ong-heng saja yang bicara dari permulaan.”

Ong Ling-hoa juga menghela napas lega, tuturnya, “Soal ini memang ruwet dan berliku-liku, aku sendiri bingung, entah harus mulai dari mana?”

Hampir saja Jit-jit berjingkrak pula, teriaknya, “Kalau tidak tahu mulai bicara dari mana, apa tak jadi bercerita?”

“Ah, sudah tentu harus kuceritakan, tapi ….”

“Tapi apa?” mendelik Jit-jit.

“Karena tidak tahu caranya mulai bicara, maka lebih baik Nona saja yang mengajukan pertanyaan, apa saja boleh tanya dan pasti kujawab tanpa rahasia.”

“Baik, biar aku tanya,” ujar Jit-jit, namun dia lantas melenggong, kejadian yang dialami memang berbelit-belit dan sukar dimengerti, hakikatnya dia sendiri juga bingung soal apa yang perlu diungkap lebih dulu. Ia menunduk, lalu angkat kepala pula, benaknya bekerja, biji matanya berputar, mendadak dilihatnya di atas dinding depan tergantung sebuah lukisan raksasa.

Entah sebab apa, sorot matanya segera tertarik pada lukisan besar itu hingga gejolak perasaannya seketika terhenti.

Itulah sebuah lukisan cat air, melukiskan keadaan tengah malam.

Di bawah cahaya rembulan yang sunyi sebuah jalan kecil yang berliku-liku menjurus dari pojok kiri bawah terus menuju ke tengah lukisan dan lenyap di balik keremangan malam, seperti ingin melukiskan perasaan “tak tahu datang dari mana dan tak tahu pergi ke mana”.

Kedua tepi jalan kecil itu dipagari tebing curam, pepohonan tumbuh subur memenuhi lereng gunung, bagian bawah adalah tanah dan batu padas berwarna cokelat kelabu. Di belakang batu padas, sebelah kanan menjorok keluar pagar tembok warna merah, di atas tembok kelihatan payon rumah yang bentuknya seperti kuil kuno dan perkampungan misterius di pegunungan sunyi.

Di balik tebing kanan menongol setengah badan bayangan orang, rambutnya hitam panjang, bola matanya jeli bening, itulah lukisan seorang gadis rupawan, seperti sedang sembunyi, tapi juga seperti sedang mengintip.

Di bawah payon juga ada seorang perempuan, sama cantiknya, masih muda pula, tubuhnya setengah berputar, seperti hendak melangkah keluar, juga seperti mau masuk ke dalam.

Perempuan ketiga berdiri di jalan berliku itu, kepalanya miring hingga cuma sebagian wajahnya saja kelihatan, seperti ingin menoleh dengan lirikannya, seperti juga hendak menghindari tatapan perempuan di bawah payon itu.

Tiga perempuan dalam lukisan sama-sama cantik jelita, namun alis lentik mereka tampak terkerut seperti dirundung persoalan yang merisaukan hati mereka, seperti duka, tapi juga mirip dendam. Seperti lagi menghindar tapi juga seperti menantikan.

Apakah yang mereka nantikan? Kedatangan siapa yang mereka harapkan? Atau menantikan sesuatu yang bakal terjadi?

Meski sebuah lukisan mati, namun apa yang terlukis itu justru serupa hidup.

Tiga perempuan yang terlukis dalam gambar itu menampilkan watak masing-masing yang menonjol, setiap orang seperti siap melakukan sesuatu atau sedang melakukan sesuatu yang khas.

Orang yang melihat lukisan ini memang tak tahu apa yang hendak dilakukan ketiga perempuan itu, namun bila menatap lukisan ini sekian lamanya, dari relung hati akan timbul semacam perasaan ngeri, seolah-olah apa yang akan dilakukan mereka adalah peristiwa yang membuat orang bergidik.

Diterangi cahaya rembulan yang remang-remang sehingga lukisan itu bertambah gaib dan misterius, seperti ada sesuatu yang akan terjadi, namun belum terjadi.

Lukisan yang sederhana dengan goresan biasa, namun hidup dan indah, sekaligus menggambarkan berbagai makna dan perasaan yang berbeda-beda. Jelas membuktikan pelukis ini punya perasaan yang kuat yang tertuang ke dalam lukisannya ini, keadaan lukisan ini seolah-olah menggambarkan pengalaman hidupnya sendiri.

Hanya pengalaman nyata saja dapat melimpahkan perasaan yang kuat dan menonjol, dan perasaan yang paling kuat dalam hati manusia adalah cinta dan benci.

Tapi yang menarik perhatian Cu Jit-jit sekarang bukan perasaan cinta dan benci yang meliputi lukisan itu melainkan tokoh dalam lukisan. Kini dia sedang menatap perempuan yang berdiri di tengah jalan dalam lukisan itu, sorot matanya menampilkan rasa kaget dan takut.

Walau hanya kelihatan sebagian wajahnya, namun Jit-jit segera dapat mengenali perempuan dalam gambar itu bukan lain adalah perempuan setengah baya yang cantik tapi berhati keji di atas loteng itu.

Akhirnya Jit-jit berkata, “Baik, aku ingin tanya, siapakah orang ini?”

“Guruku ….” jawab Ong Ling-hoa.

“Bohong,” bentak Jit-jit, “jelas kudengar kau panggil ibu padanya.”

Ong Ling-hoa tertawa, katanya, “Karena guruku teramat sayang kepada anaknya, sejak kecil anaknya hilang tak keruan parannya, maka aku dipungut menjadi muridnya, beliau anggap aku sebagai putra sendiri, dengan sendirinya aku memanggilnya ibu.”

“Oo,” Jit-jit bersuara dalam mulut, agaknya dia menerima penjelasan ini, tapi kejap lain dia bertanya pula dengan suara bengis, “Kalau begitu jadi kau mengakui aku pernah melihatnya di sini.”

“Tidak salah,” sahut Ong Ling-hoa dengan tertawa sambil mengangguk.

“Jadi Can Ing-siong, Pui Jian-li, dan lain-lain juga betul digusur kemari dan disekap dalam penjara bawah tanah. Kau pun pernah mengurung aku dalam kamar di bawah loteng ini, kau bebaskan aku, dan aku pun betul-betul lari keluar dari toko peti mati itu?”

“Betul, betul,” sahut Ong Ling-hoa tertawa.

Makin beringas sikap Jit-jit, pertanyaannya pun makin mendesak, namun semua diakui oleh Ong Ling-hoa, malah sikapnya tenang, wajahnya selalu mengulum senyum.

Tak tahan Jit-jit berjingkrak pula, serunya gusar, “Bagus! Sekarang kau baru mengaku terus terang, kenapa waktu itu kau mungkir, celakanya orang sama anggap aku ini membual, mengira aku ini orang gila.”

Dengan tertawa Ong Ling-hoa menjelaskannya, “Soalnya waktu itu aku belum tahu Sim-heng kawan atau lawan? Sudah tentu aku menyangkal segala tuduhanmu, tapi sekarang ….”

“Sekarang kenapa, memangnya sekarang Sim Long sudah sehaluan dengan kau?”

“Ya, sekarang kutahu, Sim Long dan Cayhe sehaluan menghadapi satu musuh yang sama, maka terhadap persoalan apa pun sekarang tidak perlu kututupi lagi.”

Bergetar badan Cu Jit-jit, saking kaget dia menjublek.

Dengan mata kepala sendiri Jit-jit saksikan Ong Ling-hoa bersama ibunya melakukan berbagai perbuatan aneh dan rahasia, setiap urusan pasti mencelakai jiwa orang, malah menyangkut keamanan kaum persilatan umumnya, sungguh dia tidak percaya Sim Long mau berdiri di pihak mereka, mimpi pun dia tidak percaya Sim Long yang berjiwa pendekar sudi melakukan hal demikian.

Maka dia lantas berteriak, “Sim Long, lekas katakan, betulkah apa yang dikatakan?”

Sim Long tersenyum, sahutnya perlahan, “Apa yang diuraikan Ong-heng memang betul.”

Jit-jit terkesiap pula, teriaknya serak, “Aku tidak percaya … aku tidak percaya!”

Segera dia memburu ke depan Sim Long, dengan air mata berlinang dia berkata, “Aku tak percaya kau sekomplotan dengan mereka, aku tak percaya kau ikut dalam komplotan mereka yang kotor dan jahat.”

Sim Long menggeleng kepala, katanya sambil menghela napas, “Kau keliru….”

“Bluk”, Jit-jit jatuh terduduk di lantai, dengan mendongak dia mengawasi Sim Long, sorot matanya menunjukkan rasa kaget dan gusar, curiga, tapi juga berduka, ratapnya, “Masa … masa kau pun serendah itu?”

“Kau lebih keliru lagi,” ucap Sim Long.

Dengan tangan memukul lantai Jit-jit meratap terlebih keras, “Sebetulnya apakah yang terjadi? Apa yang terjadi? Aku tidak tahu … aku tidak paham … aku semakin bingung.”

“Biar kujelaskan,” ucap Sim Long, “terhadap segala persoalan, jangan dinilai dari luarnya saja, padahal penilaianmu hanya dari luar persoalan ini, maka bukan saja tidak paham, kau pun salah paham.”

Rambut Jit-jit semrawut, wajahnya basah air mata, “Salah paham ….” serunya sambil mendongak.

“Betul, salah paham,” sahut Sim Long, “Ong-kongcu juga bukan iblis jahat seperti apa yang kau bayangkan, demikian pula sepak terjang Ong-lohujin juga tidak seperti yang apa kalian sangka ….”

“Tapi kejadian itu semua kusaksikan sendiri,” tukas Jit-jit sengit.

Sim Long menghela napas, katanya, “Apa yang kau saksikan memang betul. Thi-tayhiap, Pui-tayhiap, dan Can-piauthau serta yang lain memang ditolong keluar dari makam kuno itu oleh Ong-lohujin. Sebelumnya beliau sudah menyusup ke dalam kuburan itu, pada waktu kau dan aku bermain petak dengan Kim Put-hoan dan Ji Yok-gi, sementara itu dia orang tua sudah menolong Can-piauthau dan lain-lain keluar dari situ dan menyuruh orang membawanya kemari, tujuannya boleh dikatakan baik dan tak bermaksud jahat.”

“Kalau tidak bermaksud jahat, kenapa tingkah lakunya serbamisterius, malah membius kesadaran mereka, lalu menyuruh gadis-gadis berbaju putih itu menggiringnya kemari? Jika betul dia berjiwa pendekar, setelah berhasil ditolong keluar, sepantasnya segera dibebaskan dan suruh mereka pulang.”

“Soalnya Ong-lohujin tahu yang menjadi biang keladi intrik jahat ini adalah seorang iblis laknat yang amat kejam, baik kungfu maupun akal muslihatnya tak mampu dilawan oleh Can-piauthau dan lain-lain, bila waktu itu juga mereka dibebaskan, orang-orang itu bukan mustahil akan jatuh lagi ke tangan iblis laknat itu, betul tidak?”

Jit-jit mendengus tanpa menjawab.

Lebih lanjut Sim Long berkata, “Menolong orang harus sampai tuntas, terpaksa beliau menahan mereka sementara di sini, melindungi jiwa mereka, hanya di tempat ini saja mereka akan selamat dari gangguan tangan jahat musuh.”

“Umpama betul demikian, tidak pantas dia menggiring mereka ke sini seperti hewan.”

“Kalau dia pakai cara biasa mengantar mereka kemari, dalam jarak seratus li pasti konangan orang, jika iblis laknat itu mencegat di tengah jalan, bukankah usahanya akan sia-sia belaka?”

Lama Jit-jit mencerna penjelasan Sim Long, akhirnya dia mendengus lagi sebagai jawaban, namun masih uring-uringan.

“Apalagi keadaan waktu itu amat mendesak, hakikatnya Ong-lohujin tidak sempat memberi penjelasan seluk-beluk persoalan ini, umpama dijelaskan juga belum tentu mereka mau mendengar nasihatnya, demi keselamatan mereka di sepanjang perjalanan, juga untuk memburu waktu, terpaksa digunakan cara luar biasa dan menggiring mereka ke sini. Hal ini harus dimaklumi karena keadaan yang cukup gawat itu, lawan yang harus dihadapi juga luar biasa, maka beliau menggunakan cara yang luar biasa pula …. Justru karena caranya yang luar biasa itulah sehingga menimbulkan salah paham.”

“Tapi … tapi … aku ikut kemari, kenapa dia memperlakukan diriku begitu rupa?” omel Jit-jit.

Sim Long tersenyum, katanya, “Waktu itu beliau tidak tahu siapa kau? Kan pantas kau dicurigai sebagai kaki tangan iblis laknat itu? Adalah logis kalau beliau bersikap demikian kepadamu.”

“Tapi … tapi ….” tapi bagaimana Cu Jit-jit tidak dapat menjelaskan. Walau dirasakan penjelasan Sim Long agak dipaksakan, namun kedengarannya juga masuk akal, hingga sukar menemukan lubang kelemahan penjelasannya itu.

Agak lama kemudian baru dia berkata pula, “Kau tahu sejelas ini, cara … cara bagaimana kau bisa tahu sejelas ini?”

“Sudah tentu Ong-heng yang menjelaskan persoalan ini kepadaku,” sahut Sim Long.

“Dia yang menjelaskan kepadamu? Mana mungkin dia memberitahukan kepadamu? Kenapa tidak dijelaskannya kepadaku?”

“Wah, ini ….” Sim Long jadi gelagapan.

Ong Ling-hoa segera menyambung, “Soalnya hingga malam kemarin baru terpaksa kuberi penjelasan kepada Sim-heng.”

“Malam kemarin?” teriak Jit-jit, “kenapa baru malam kemarin terpaksa kau jelaskan kepadanya?”

Ong Ling-hoa tertawa, “Karena banyak persoalan meski dapat kukelabui Nona, tapi tak bisa mengelabui Sim-heng, jadi daripada dikatakan kujelaskan kepada Sim-heng, lebih tepat adalah karena Sim-heng sendiri yang telah membongkar persoalannya.”

“Tidak paham, aku tidak mengerti,” teriak Jit-jit.

“Sejak Nona membawa Sim-heng ke toko peti mati itu, Sim-heng telah menemukan banyak kejadian ganjil, namun Nona sendiri malah tidak menyadarinya.”

Jit-jit menoleh ke arah Sim Long, katanya, “Keganjilan apa yang kau temukan, kenapa aku tidak melihatnya?”

Sim Long tersenyum, katanya, “Padahal kejadian itu amat mencolok, siapa pun asal sedikit memerhatikan pasti akan melihat keganjilannya, sayang saat itu hatimu gundah dan pikiran tidak tenang ….”

“Memangnya ada keganjilan apa? Lekas katakan.”

“Apakah kau lihat merek toko yang tergantung di atas pintu dan papan syair di kanan-kiri pintu ….”

“Memangnya aku buta, sudah tentu melihatnya, itulah papan merek yang dicat hitam yang sudah luntur, hurufnya berbunyi ….”

“Tulisan apa tidak perlu dibaca.”

“Dibaca atau tidak sama saja. Pendek kata, bukan saja aku melihat jelas, juga masih ingat betul, sudah kuperhatikan, papan merek itu tidak ada keganjilan apa-apa?”

“Tapi apakah kau perhatikan papan syair panjang di kanan-kiri pintu itu? Papannya sudah lapuk, catnya juga sudah ngelotok, umurnya sedikitnya sudah hampir sepuluh tahun.”

“Tokonya sudah tua, adalah jamak kalau papan mereknya juga sudah lapuk, apanya yang ganjil?”

“Anehnya, toko yang sudah tua, juga papan mereknya, demikian pula meja kursi dan alat perabot lain dalam toko juga serbalama, hanya meja kasir yang tinggi tertutup itulah kelihatan baru dipindah ke sana, bukan saja catnya belum kering, malah dibuat secara kasar, jika dibandingkan papan merek dan meja kursi dalam toko jelas amat mencolok perbedaannya.”

Jit-jit melengak, katanya, “Ya … hal ini tidak kuperhatikan, tapi ….” ia merandek sejenak, lalu berteriak, “Tapi apa pula sangkut pautnya?”

“Di situlah letak persoalannya, kalau hari itu sudah kau lihat adanya meja kasir besar itu, kenapa meja kasir yang sekarang justru ditaruh di sana secara tergesa-gesa dan baru lagi?”

Jit-jit melenggong pula, katanya kemudian, “Iya … kenapa?”

“Masih ada, setiap toko peti mati mana pun, di dalam toko pasti ada bau khusus yang tidak ada di tempat lain, Ong-som-ki adalah toko tua, seharusnya bau khusus itu cukup tebal.”

“Ya, bau peti mati memang tidak enak rasanya, bau itu … bukan bau kayu melulu, tapi seram, bau apak seperti bau orang mati.”

“Itu betul, tapi waktu aku berada di Ong-som-ki tempo hari, bau yang kurasakan tidak seperti bau orang mati, sebaliknya bau sejenis lilin wangi.”

Jit-jit menepuk paha, serunya, “Iya … dan kenapa begitu?”

“Masih ada lagi, toko peti mana pun, yang selalu diperhatikan dan dihindari adalah api, sebab seluruh isi toko adalah bahan yang mudah terbakar.”

Jit-jit mendengarkan dengan terkesima, tanpa terasa ia hanya mengiakan saja.

“Tapi di toko Ong-som-ki hari itu, pekarangan di belakang yang membuat peti mati, kutemukan banyak permukaan dinding dan sudut tembok hitam hangus oleh asap api,” dengan tersenyum Sim Long meneruskan, “pada saat kalian tidak memerhatikan, perlahan aku meraba dinding, jari tanganku lantas hitam berminyak, dari sini terbukti bukan saja tempat itu sudah sering tersembur asap api, malah dalam beberapa hari ini juga masih disembur asap ….”

Tak tahan Jit-jit bertanya, “Aku kurang paham penjelasanmu ini, coba uraikan terlebih jelas.”

“Kau tahu, untuk membuat hangus dinding putih diperlukan waktu yang cukup panjang.”

“Betul, waktu kecil pernah kucuri makanan dapur, dinding di dapur seluruhnya terbakar hangus, dinding dapur itu sedikitnya sudah puluhan tahun terkena asap.”

Sim Long tertawa, “Tapi waktu aku merabanya, hangus berminyak yang mengotori jari tanganku ternyata masih baru, ini membuktikan bahwa selama bertahun-tahun, tempat itu selalu disembur asap api ….”

“Ya, paham aku sekarang ….” mendadak Jit-jit berkedip dan berkata pula, “Tapi aku juga tidak mengerti, apa pula sangkut pautnya dengan persoalan ini?”

“Ada dua hal penting menyangkut persoalan ini.”

“Orang mampus, lekas katakan!”

“Pertama, tempat pembuat peti mati pantasnya menyingkiri api dan asap, tapi dinding sekitar tempat pembuatan peti mati justru hangus oleh semburan asap, bukankah janggal?”

“Betul, memang aneh …dan yang kedua?”

“Kedua, setelah berani kupastikan tempat itu sering kena asap, namun tak kulihat di sana ada sepotong lilin pun, bukankah hal ini pun janggal?”

Jit-jit berpikir sekian lama, katanya, “Iya, kenapa begitu?”

Sim Long tertawa, “Waktu itu dalam hatiku sudah mulai coba meraba hal ini, namun belum dapat dibuktikan, maka tak berani kupastikan, setelah keluar dari toko itu baru dapat kupastikan seluruhnya.”

Jit-jit heran, katanya, “Setelah keluar dari toko lantas kau yakin dugaanmu betul? Berdasar apa kau berani memastikan kebenaran dugaanmu?”

“Kulihat sebelah toko peti mati itu adalah toko lilin dan hio serta pelengkap sembahyang.”

Jit-jit makin heran, “Toko lilin dibuka di sebelah toko peti mati, tiada bedanya pegadaian dibuka di sebelah rumah judi, kukira ini sangat umum, berdasarkan hal ini lantas kau yakin kebenaranmu?”

“Aku yakin beberapa hari yang lalu toko peti mati itu sebetulnya adalah toko lilin, toko lilin sebelah itu sebetulnya adalah toko peti mati, jadi dalam jangka waktu dua-tiga hari kedua toko itu telah saling tukar tempat.”

“Tukar tempat ….”

“Ya, tukar tempat, di pekarangan belakang toko peti mati semula adalah tempat pembuatan lilin adalah logis kalau dindingnya menjadi hitam oleh hangus ….” melihat Jit-jit masih bingung, maka Sim Long melanjutkan, “Karena mereka tukar tempat secara tergesa-gesa, segala benda apa pun yang bisa bergerak cepat dipindah, tapi meja kasir besar yang terpendam di lantai tak mungkin dipindah, maka toko peti mati itu harus membuat ruang kasir yang serupa dengan semula … meja kasir yang dibuat secara tergesa-gesa dengan sendirinya kasar dan jelek, betul tidak?”

“Betul, betul … betul!” dua kata “betul” yang diucap duluan sebenarnya masih dirundung rasa bingung, namun pada ucapan “betul” yang ketiga, mendadak Jit-jit melonjak bangun. Tampak wajahnya berseri girang dan haru, teriaknya, “Ya, aku tahu … aku paham ….”

“Nah, coba sekarang kau uraikan, apa saja yang kau ketahui?” tanya Sim Long.

“Toko peti mati yang semula ada lorong bawah tanah, namun toko lilin yang semula tidak ada, Ong Ling-hoa sudah memperhitungkan aku pasti akan kembali ke toko peti mati dan mencari lorong gelap itu, maka dia tukar tempat kedua toko itu, waktu aku datang lagi, sudah tentu tidak menemukan apa-apa.”

“Bagus, akhirnya kau paham juga,” kata Sim Long.

“Bentuk bangunan deretan toko sepanjang jalan itu sama, jelas seluruhnya milik keluarga Ong Ling-hoa, kalau sang pemilik sendiri ingin pindah ke sana-sini, sudah tentu tinggal memberi perintah saja,” demikian kata Jit-jit pula.

Ong Ling-hoa tertawa, “Tidak sederhana seperti apa yang kau kira, mereka juga bekerja berat.”

Jit-jit tidak menghiraukan ucapannya, katanya pula, “Kedua toko saling tukar tempat, penduduk sekitarnya dan para langganan sudah tentu merasa heran, tapi aku sendiri tidak paham seluk-beluk keadaan setempat, dengan sendirinya tidak memerhatikan hal-hal itu.”

Sim Long tertawa, “Justru di situlah kepintaran Ong-heng mengatur tipu dayanya, dia memperalat titik kelemahan sifat manusia, terhadap sesuatu yang mudah dan sering terlihat, biasanya orang tidak menaruh perhatian.”

Ong Ling-hoa tertawa, katanya, “Akalku itu memang bagus, namun tak bisa mengelabui Sim-heng …. Sungguh tak kuduga bahwa daya pengamatan Sim-heng teramat tajam, soal-soal sekecil itu pun tak lepas dari pengamatanmu.”

“Sebenarnya hal-hal itu cukup mencolok mata, cuma orang lain tidak memerhatikan, kuyakin banyak rahasia di dunia ini sering terbongkar dari sesuatu yang terlihat jelas, karena itulah cara pengamatanku berbeda daripada orang lain.”

Si Kucing menghela napas, katanya, “Untuk berlatih daya pengamatan setajam Sim-heng, kurasa bukan pekerjaan yang mudah, padahal manusia sama mempunyai dua mata, kenapa Sim-heng bisa melihat dan menemukan kelemahan itu, sebaliknya kita tidak.”

Advertisements

1 Comment »

  1. mana nih bos lanjutannya?

    Comment by albri — 26/12/2008 @ 5:42 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: