Kumpulan Cerita Silat

07/03/2008

Amanat Marga (16)

Filed under: Amanat Marga, Gu Long — ceritasilat @ 11:53 pm

Amanat Marga (16)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Eve1yn, Dragon, Nra, dan Ririn)

Kebanyakan pelaut yang bekerja di kapal ini memang berwajah bengis, semuanya me-mandang Lamkiong Peng dengan sorot mata yang waswas serupa binatang buas lagi meng-incar mangsanya.

Diam-diam Lamkiong Peng juga waspada, sebaliknya Hong Man-thian sepcrti tak mengacuhkan.

Setiap pagi pada waktu sang turya baru tcrbit, tentu Hong Man-thian berdiri di haluan kapal, selain itu dia hanya duduk minum arak di dalam kabin, makin jarang dia bicara, terkadang sehari suntuk tidak buka suara.

Selain minum arak sendiri, setiap kali ia pun membujuk Lamkiong Peng ikut minum be-bcrapa cawan arak yang keras itu. Tapi bila melihat si tukang masak kudisan itu membawa-kan makanan, hati Lamkiong Peng lantas mual, tanpa didorong dcngan arak memang sukar menelan makanan itu.

Tukang masak kudisan itu sungguh sangat jorok, terkadang tidak cuci muka sehingga masih bclckan. Untungnya dia memang mahir mengolah makanan yang sangat meneocoki se-lera sehingga biarpun menjemukan masih di-biarkan saja.

Scpanjang hari tukang masak itu hanya tcrtawa linglung, segala urusan tak diacuhkannya, bila mclihat Lamkiong Peng ia suka me-nycngir, sebaliknya Lamkiong Peng cepat melengos.

Beberapa hari kapal berlayar, laut luas tanpa kelihatan tepinya.

“Apakah masih jauh?” demikian Lamkiong Peng sering bertanya.

“Sabar, setibanya di sana akan kautahu sendiri,” jawab Hong Man-thian dengan dingin. Makin lama kapal berlayar, air muka orang tua itu pun tambah kelam, arak yang diminum juga tambah banyak, dcngan sendirinya ini agak janggal, scbab umumnya orang yang pu-lang, semakin dekat rumah sendiri seharusnya semakin senang, kenapa dia justru tambah murung?

Malam ini omb’ak sangat besar, Lamkiong Peng lebih banyak minum arak dan tcrkenang kepada ayah-bunda, hati merasa kesal. Ia me-langkah ke atas geladak dan bersandar di ha-luan, dilihatnya bintang bertaburan di langit, suasana sepi, hanya debur ombak yang tcr-dengar.

Selagi pikirannya merasa lapang, se-konyong-konyong didengarnya di bawah gcladak suara tertawa orang yang khas, menyusul ada suara orang melangkah tiba, suara tertawa itu dikenalnya sebagai suara si tukang masak kudisan itu.

Sesungguhnya Lamkiong Peng tidak suka melihat orang ini, kening bckcrnyit dan ber-usaha menggeser ke bagian yang gclap. Waktu berpaling, tcrlihat dua kelasi menarik si kudisan naik ke atas geladak.

Mestinya Lamkiong Peng hendak tinggal pergi, demi melihat gerak-gerik ketiga orang ini rada meneurigakan, tergerak pikiran Lamkiong Peng, cepat ia sembunyi di balik kabin.

Kedua kelasi yang kurus dan gesit itu bernama Kim Siong, seorang lagi si juru mudi bernama Tio Cin-tong, kedua orang ini adalah kelasi yang berpengalaman dan discgani di antara lesama kelasi, maka Lamkiong Peng kenal mereka.

Begitu melompat ke geladak dan memandang sekcllling, dengan pelahan Kim Siong lantas mendesis, “Sepi!”

“Coba periksa lagi, apakah juru mudinya kawan sendiri atau bukan?” sahut Tio Cin-tong.

Mereka bicara dengan bahasa sandi kaum bandit, hal ini menimbulkan curiga Lamkiong Peng.

Dilihatnya Kim Siong lantas memeriksa keadaan sekitar geladak, ia sempat lewat di samping tcmpat sembunyi Lamkiong Peng, lalu lapor kepada kawannya, “Aman, hanya juru-mudi berada di kabinnya dan agaknya sedang mengantuk.”

Tio Cin-tong mengangguk, si juru masak kudisan diseretnya ke samping setumpukan ba-rang muatan. Si kudisan kelihatan sempoyong-an, muka pun pucat.

“Sret”, Tio Cin-tong melolos belati yang terselip pada sepatu bot yang dipakainya, lalu belati yang mengkilat itu bergerak gerak di de-pan hidung si juru masak, desisnya dengan meyeringai, “Kauingin mati atau minta hidup?”

“Dengan . . . dengan sendirinya ingin hidup,” jawab si kudisan dengan gclagapan ka-rcna ketakutan.

“Kalau ingin hidup harus tunduk kepada perintahku,” kata Tio Cin-tong. “Terus terang, kami ini adalah tokoh-tokoh yang biasa mem-bunuh orang tanpa berkedip, jika memang biasa berkacimpung di lautan tentu pernah kaudengar nama kami, aku inilah Hai-pa (singa laut) Tio-lotoa dari Hai-pa-pang (kawanan ba-jak singa laut) di sekitar Ciu-san!”

Juru masa itu tampak malengak, jawab-nya dengan gemetar, “Ah, tentu . . . tentu hamba akan menurut.”

“Memangnya kauberani membantah,” je-ngck Tio Cin-tong. Lalu ia mengeluarkcn satu bungkusan kertas dan berkata pula, “Nah, be-sok hendaknya kaumasak kuah ayam yang se-dap. separoh isi bungkusan ini masukkan ke dalam kuah dan separoh lagi campurkan pada makanan lain.”

“Eh, kuah ayam kan tidak perlu pakai merica.” ujar si kudisan dengan lagak seorang nhli masak.

“Sialan,” omel Tio Cin-tong. “Ini bukan merica melainkan racun, tahu?! Barangsiapa makan sititik saja, dalam sckcjap akan mam-pus dengan mata-hidung-telinga-mulut kcluar darah, maka ingat, jangan kauanggep sebagai gula dan kaumakan, sesudah urusan beres dan tuanmu mendapat rejeki nomplok, tcntu kau-pun akan kami bagi sedikit. Tapi bila urusan ini sampai bocor, biar kami cencang dirimu lebih dulu dan kami buang ke laut sebagai umpan ikan. Tahu?”

Juru masak itu menjura dan mengiakan berulang.

Kim Siong tertawa, katanya, “menurut pengamatanku selama beberapa hari ini, rejeki ini memang sukar dinilai jumlahnya- Cuma si buntung itu jelas bukan lawan yang empuk, juga si makhluk anch itu, malahan si bagus itu pun kehhatan bisa sejurus dua.”

Tio Cin-tong mendengus, “Hm, kecuali me-rcka, apakah kaukira Ong Ti, Sun Ciau dan si jurumudi Li-losam itu adalah orang baik? Kurasa tujuan mereka ikut dalum kapal ini juga tidak bermaksud baik, besar kemungkin-an mereka pun sahabat kalangan hitam. Cuma

mereka bukan segaris deagan kita, besok kita kerjai mereka sekalian.”

Mereka bicara dengan lirih, namun dapat didengar jelas oleh Lamkiong Peng, diam-diam anak muda itu terkejut dan bersyukur juga, “Untung kudengar tipu muslihat mereka, kalau tidak bukan mustahil akan dikerjai mereka.”

Sclagi berpikir, sekonyong-konyong dari se-belah kiri terdengar suara mendesir, sesosok bayangan orang melayang tiba.

Langsung pendatang ini mendengus, “Hm, Tio-lotoa, keji amat hatimu, sampai kami ber-saudara juga akan kaukerjai?”

Air muka Tio Cin Tong berubah, ia me-lompat mundur sambil membentak, “Siapa?”

Bayangan orang itu melangkah maju, tcrtampak wajahnya yang kaku, tangan besar kaki panjangg. dia inilah Li-losam, si juru mudi.

Tio Cin-tong dan Kim Siong siap siaga, sebaliknya Li-losam seperti tidak mengacuh-kannya, pelahan ia melangkah ke sana dan berucap “Anjing kudisan, serahkan racunnya tadi?”

Juru masak kudisan itu ketakutan dan scmbunyi di tengah tumpukan barang muatan se- hingga mirip anjing kudisan memang.

Belum lagi si juru masak menjawab, men-dadak Tio Cin-tong mcmbcntak, “Kauserah-kan jiwamu!”

Sekali belati terangkat segcra ia hcndak menerjang maju.

“Nanti dulu,” scru Li-losam mendadak. “Rupanya cngkau tidak tahu maksudku, ku-minta racun ini tidaklah berniat jahat, Hen-daknya ingat, si buntung itu tokoh macam apa, masa dia dapat dibcreskan dengan sebungkus racun bcgini saja? Jika ketahuan, engkau bisa mati konyol malah. Lekas lemparkan racun itu kc dalam laut, biarlah kuatar rcncana lain untuk mcmbereskan mercka.”

Tio Cin-tong urung menyerang, tapi mu-lutnya tetap garang, “Hm, kau ini apa, aku Hai-pa Tio-lotoa harus tunduk padamu?”

“Hm, jadi tidak kaukenal diriku?” jcngck Li-losam, mendadak ia melangkah maju lagi dan mendcsiskan dua-tiga kata dengan lirih.

Seketika air muka Tio Cin-tong bcrubah, badan gcmetar dan “trang”, belati pun jatuh, ucapnya dengan terputus-putus, “Hah . . . cngkau . . . mengapa . . . . ”

“Tidak perlu banyak omong, lekas kembali kc kamarmu dan tidur saja, tiba saatnya tentu akan kubcritahukan padamu,” ujar Li-losam, “Hai-pa-pang kalian telah bckerja dengan susah-payah, tcntu takkan kubikin rugi kalian.”

Tcrpaksa Tio Cin-tong mengiakan dan melangkah pergi dengan menarik Kim Siong.

Si juru makan kudisan juga mau ikut pergi dengan takut-takut, mendadak Li-losam men-cengkeram lengannya sambil membentak, “Kurangajar! Kauberani bcrlagak dungu di de-pan tuanmu? …. Serahkan nyawamu!”

Berbareng itu sebelah tangannya terus mengliantam kepala orang.

Lamkiong Peng menjadi heran apakah mungkin si kudisan ini samaran seorang tokoh persilatan?

Dilihatnya juru masak itu ketakutan hingga terkulai lemas di lantai, pukulan Li-losam tam-paknya segera akan membuat batok kepalanya hancur tapi dia masih diam saja. Tak terduga pukulan Li-losam itu mendadak bcrhenti setongah jalan, dia hanya me-ncpuk pelahan pada pundak si kudisan dan berkata, “Jangan takut, aku hanya meneoba dirimu saja. Nah, pergilah sckarang!”

Apa yang diperbuat dan apa yang di-bicarakannya air mukanya tidak pernah ber-ubah, tetap kaku dm dingin. Habis bicara ia lantas kembali ke tcmpat kcmudi.

Si kudisan lantas mcrambat turun ke ba-wah geladak, sinar matanya mclirik sckcjap ke tcmpat sembunyi Lamkiong Peng sepcrti tidak sengaja.

Melihat sekeliling tiada orang lagi, pelahan Lamkiong Peng menyelinap kembali ke ka-marnya, tapi baru saja dia msnarik pintu ka-mar, tiba-tiba diketahuinya dalam kcgelapan sepasang mata meneorong scdang menatapnya, orang sepcrti sudah scjak tadi menunggunya di balik pintu, Lamkiong Peng tcrkejut, segera ia siap menghadapi ssgala kcmungkinan. Tapi setelah diamati, kiranya dia bukan lain daripada si makhluk aneh yang dipanggil “Jitko”‘ itu.

Jitko menycngir schingga kelihatan barisan giginya yang putih panjang serupa taring itu. lalu mclangkah pergi.

Kejut dan heran Lamkiong Peng, ia pikir apakah makhluk aneh ini pun mendergar pcrcakapan orang orang tadi? Mengapa dia tidak bertindak sesuatu?

la lantas rnasuk ke dalam kabin dan meneari Hong Man-thian, dilihatnya orang tua itu asyik minum arak di bawah cahaya lampu yang sudah rcdup, orang dua cacat ini seakcn-akan tidak tidur dan juga tidak makan nasi, dia sr-pcrti dilahirkan melulu untuk minum arak saja.

Tanpa menoleh ia menegur Lamkiong Pcng, “Bclum tidur? Apo mau minum dua cawan?”

“Sekarang Cianpwc boleh minum sepuas-nyn, selanjutnya mungkin tidak dapat minum lagi.”‘ kata Lamkiong Peng.

Hong Man-thian tertawa, “Masa di dunia ini ada sesuatu urusan yang dapat mcmbuatku tidak minum arak9 Wah, rasanya aku jadi ingin tahu apa urusannya?”

Habis bicara ia meneggak lagi satu cawan.

“Apakah Cianpwe tahu kclasi kapalmu ini ,adalah kawanan bajak yang biasa main bunuh dan rampok?” kata Lamkiong Peng, lalu diceritakannya apa yang dilihat dan didengar tadi.

Siapa tahu Hong Man-thian tetap tenang saja.

Dengan kening bckernyit Lamkiong Peng berkata pula,”Meski wanpwe juga tidak me-nguatirkan gangguan penjahat itu, tapi sctelah kutahu maksud jahat mereka, sedikit banyak harus mengawasi gcrak-gerik mereka.”

“Mcmangnya kaukira aku tidak tahu,” ja-wab Hong Man-thian dengan tcrgclak. “Sejak mercka menginjak kapal ini segera kutahu mereka tiada scorang pun orang baik. Hanya si kudisan yang kclihatan linglung itu bukanlah sekomplotan mereka, sebab itulah kusuruh di kudisan menjadi juru masak. Namun aku tctap m.engawasi gerak-gerik mereka, untuk menjaga srgala kemungkinan, di dalam arak sudah ku-taruh obat penawar segala macam racun, ma-kanya setiap kali makan kusuruh kauminum dua-tiga cawan untuk berjaga bilamana diracun, apabila mereka berani main kekcrasan, haha. itu berati mereka meneari mampus sendiri. Kau lihat sepanjang hari aku sclalu minum arak, apa kaukira aku bisa mabuk?”

Diam-diam Lamkiong Peng menghela na-pas, ucapnya. “Kehebatan Cianpwe sungguh sukar dibandingi siapa pun . . . . ”

Hong Man-thian tertawa bangga, lalu berkata pula, “Sebenarnya aku cuma tua keladi dan dapat melihat segala sesuatu dengan lebih jelas, bila usiamu juga setingkat diriku tentu akan kaurasakan segala tipu maslihat di dunia ini tidak lebih hanya begini-begini saja. Cuma Li-losam itu tampaknya memang seorang tokoh yang tidak boleh diremehkan, entah dia berasal dari orang macam apa?”

“Orang ini pasti mempunyai asal-usul ter-tentu, tapi di depan Locianpwe masakah dia mampu bcrbuat scsuka hatinya?” ujar Lamkiong Peng.

“Tidak peduli bagaimana asal-usulnya, yang jelas dia suruh orang she Tio jangan menaruh racun dalam makanan, hal ini menandakan dia cukup cerdik,” ujar Hong Man-tliian. “Padahal betapa hebatnya racun atau obat bius, di mana pun dia campurkan, jika tidak kuketahui hal ini kan berarti sia-sia hidupku selama sekian puluh tahun di dunia ini.”

“Apakah Cianpwe tidak ingin membongkar tipu muslihat mereka?” tanya Lamkiong Peng.

“Jika kubongkar rencana keji mereka dan membunuh mereka, lalu siapa yang akan menjadi kuli di kapa! ini?” Hong Man-thian tergelak. “Kawanan pcnjahat ini memang sial bertemu dengan diriku.”

Mendadak hati Lamkiong Peng tergerak, tanyanya, “Apakah mungkin Cianpwe hendak menggunakan mereka untuk memenuhi daftar belanja yang terakhir itu?”‘

“Memang begitulah,” ujar Hong Man-thian dengan tertawa. “Sudah. kuduga ada orang akan mengnntarkan dirinya sendiri. maka akupun tidak perlu repot meneari-cari orang, setiba di sana, haha . . . .” mendadak ia berhenti tertawa dan menenggak arak lagi.

Lamkiong Peng hanya menggeleng kepala saja, dirasakan orang tua ini salain me-ngagumkan, juga menakutkan. Dilihatnya alis orang tua itu bcrkcrut rapat, serupa menanggung urusan ynng membuatnya masgul, maka arak tcrus ditenggaknya secawan dcmi secawan.

Mendadak ia berpaling dan berkata pula kepada Lamkiong Peng, ”Sclama hidupku ha-nya ada suatu penyesalan, apakah kautahu urusan apa?”

Lamkiong Peng menggclcng dan menjawab tidak tahu.

“Brak”, mendadak Hong Man-thian menggabrukkan cawan arak di atas meja, lalu bcr-kata, “Urusan yang membuatku menyesal se-lama hidup ini adalah minum arak tidak pcrnah mabuk, biarpun kuminum sepanjang hari pikiranku tetapjernih, sungguh aku sangat me nycsal mengapa bisa terjadi begini.”

“Minum tidak pernah mabuk, itu tandanya takaran minum Locianpwe yang luar biasa, masa dibuat menyesal malah?” ujar Lamkiong Peng.

Kembali Hong Man-thian menenggak tiga cawan pula, lalu berkata, “Manusia minum arak sebenarnya untuk menghilangkan rasa kesal. Orang yang takaran minumnya kurang kuat, cukup sedikit minum saja sudah melupakan semua kesedihan, dan inilah yang dicari. Orang yang kuat takaran minumnya, sudah banyak arak yang diminum diminum dan tctap tidak mabuk, selain makan waktu juga makan biaya, hal ini kan tidak menguntungkan. Jika serupa diriku, selamanya minum tanpa mabuk, jelas ini kemalangan besar dan terlebih harus disesalkan.”

Uraian orang tua ini sungguh tidak dimengerti oleh Lamkiong Peng, ia tertawa dan

bcrkata, “Sclama hidup Locianpwe gagah per-kasa, namamu termashur di seluruh jagat, se-sudah tua pun tirakat di Cu-sin-tian, tempat yang serupa sorgaloka bagi pandangan setiap orang pcrsilatan, scmua ini sukar dibandingi orang lain, mengapa Locianpwe justru menggunakan arak untuk menghapus rasa kesal?” “Cu-sin-tian …” Hong Man-thian ber-gumam dengan terkesima, mendadak ia membcri tanda, “Aku sudah dikawani olch arak, bolch kaupcrgi tidur saja.”

Sungguh Lamkiong Peng tctap tidak mengerti mengapa orang tua itu selalu murung.

Esok paginya ia naik ke atas geladak, dilihatnya Tio Cin-tong, Kim Siong dan Li-lo-sam masih tetap bertugas seperti biasa. Dengan sendirinya ia pun bcrlagak tidak tahu apa-apa, cuma diam diam ia pun gegetun bagi nasib malang bebcrapa orang ini.

Sclama brbcrapa hari terakhir ini Hong Man-thian juga tampak pendiam, hanya cara minum araknya tambah banyak.

Mclihat orang tua itu semakin lama semakin lesu. hati Lamkiong Peng juga ikut tertekan dan lesu serupa binatang buas di dalam kurungan itu.

Maklumlah, di tengah lautan makanan dan air minum adalah benda paling bcrharga, dengan sendirinya tidak ada rangsum yang cu-kup bagi kawanan binatang itu, ditambah lagi ombak besar yang mengombang-ambingkan kapal, betapapun kawanan binatang itu pun mabuk sehingga binatang yang, biasanya buas dan garang tcrsiksa hingga lemas dan lesu, sama sekali kehilangan kegarangannya, sampai ssuara meraung pun jarang terdengar.

Mcmandangi Hong Man-thian dan memandang pula kawanan binatang buas itu, tanpa terasa Lamkiong Peng menghela napas.

Layar mengembang, kapal tcrus laju di tengah lautan yang tiada kelihatan ujung pangkalnya. Li-losam dengan wajahnya yang kaku itu duduk di pinggir kapal dan sedang memancing ikan.

Menjelang magrib, Hong Man-thian juga membawa buli-buli arak dan bersandar di taiang layar untuk menyaksikan orang mancing.

“Masa ikan laut juga mau dipancing?” tanya Lamkiong Peng dengan tertawa.

“Asal ada umpan, ikan dimana pun dapat dipancing,” ujar Hong Man-thian.

Bclum lenyap suaranya, mendadak Li-losam menarik tali pancing, bcnar juga seckor ikan kakap kena dikailnya,

“Aha, bagus, ikan ini pasti sangat lezat, cuma sayang di sini tidak ada ahli masak serupa ibumu,” kata Hong Man-thian dengan gegctun.

Menyinggung ibunya, Lamkiong Peng men-jadi sedih, tapi segera ia tertawa cerah. dan bcrucap, “Rasanya caraku masak pun lumayan.”

“Apa bctul?” Hong Man-thian menegas dengan girang.

“Tcntu saja betul,” jawab Lamkiong Peng. Untuk membuat scnang hati orang tua ini, dia benar-benar bawa ikan hasil kaitan Li-losam itu ke dapur.

Hendaklah maklum, kepandaian memasak pun diperlukan kungfu (sesuatu keahlian disebut kungfu, jadi arti kungfu tidak idcntik dengan ilmu silat) yang khas, antara lain cara memotong, bahannya, apinya, rempah-rempahnya semuanya memerlukan kcpandaian khusus.

Bakat Lamkiong Peng memang tinggi, se-lain ilmu silat dan kesusastraan, dalam ha! masak memasak ia pun belajar dan cukup menguasainya.

Maka tidak scberapa lama seporsi Ang-sio-hi sudah di bawa keluar, ternyata memang sangat hebat, baik warna, bau maupun rasanya, semuanya memenuhi sclera Hong Man-thian, sembari makan Ang-sio-hi berulang- ulang ia menenggak arak, hanya sebentar saja seekor ikan sudah tersisa kepala dan ekornya saja.

“Kenapa kausendiri tidak makan ang-sio-hi buatan sendiri?” sesudah kenyang makan baru Hong Man-thian ingat kepada Lamkiong Peng yang sejak tadi hanya menyaksikan dia makan.

Dengan tersenyum Lamkiong Peng menyumpit ekor ikan, ekor ang-sio-hi biasanya kering dan rasanya seperti keripik, dengan nlkmatnya anak muda itu mengunyah keripik ekor ikan itu. Ia pun gembira melihat Hong Man-thian makan Ang-sio-hi dengan bcrnafsu.

Waktu menoleh, Hong Man-thian melihat si makhluk aneh “Jitko” berdiri di samping dan biji lehernya naik turun, tampaknya hampir mengiler, dengan tertawa ia berscru, “Apakah kaupun ingin makan? Ambil saja kepala-nya!”

‘Tanpa disuruh lagi segera Jitko comot kepala ikan terus dijejalkan ke dalam mulut dan dikunyah kulit bersama tulangnya, caranya makan sungguh rakus scrupa binatang buas saja.

“Haha., ibunya ahli masak, anaknya juga lumayan . . . . ” selagi Hong Man-thian ber-seru mcmuji, mendadak suaranya berubah se-rak dan mata melotot, ia meraung, “Wah, ce-lakal”

Langsung scbelah tangannya tcrus men-cangkeram kc arah Lamkiong Peng.

Karena bingung, Lamkiong Peng diam saja, tapi gerakan Hong Man-thian itu ter-nyata bukan menycrang malainkan merampas sisa tulang ikan yang masih belum habis di-makan anak muda itu.

“Bangsat, aku jadi tcrjebak juga olehmu!” bcntak Hong Man-thian dengan beringas, langsung ia sambitkan tulang ikan yang dirampas-nya itu ke arah Li-losam yang memegang pan-cing dan berdiri di pinggir kapal sana.

Namun cepat Li-losam sempat menegas. Hong Man-thian lantas bcrteriak, “Makanan beracun! Lekas binasakan kawanan bangsat ini!”

Serentak ia melompat bangun dan tongkat berputar

Tanpa ayal si makhluk aneh Jitko segera bertindak, ia meraung scrupa binatang buat terus menerkam salah seorang anggota Hai-pa-pang itu seakan-akan pecah nyalinya dan tidak tahu menghindar, segera ia terpegang, kesepuluh jarinya Jitko meneengkram masuk ulu hatinya, baru saja ia menjerit sudah lantas binasa.

Waktu Jitko menarik tangannya, isi perut orang itu kena dirogoh keluar seluruhnya, bahwa isi perut korbannya terus dilalapnya serupa binatang buas benar-benar. Kelihatan sinar matanya yang jelilatan, mukanya penuh berlepotan darah, sembari tertawa aneh ia menerkam lagi korban yang lain.

Keruan orang itu ketakutan setengah mati, segera ia hendak kabur, tak terduga belum lagi lenyap suara tertawanya, mendadak kedua mata jitko mendelik terus jatuh terjengkang, darah tampak mengucur dari mulutnya.

Sekali hantam Lamkiong Peng juga membinasakan seorang lelaki lalu, bergebrak dc-ngan Kim Siong, tapi baru satu-dua gebrakan tiba-tiba kepala tcrasa pening dan hampir ti-dak tahan. Diam-diam ia mengcluh bisa ce-laka. Betapaputi ia tidak ingin jatuh di tangan kawanan bandit ini, segcra ia bergerak hendak tcrjun ke laut.

Siapa tahu mendadak Tio Cin-tong sempat menarik ikat pinggangnya, katanya sambil menyeringai, “Huh, masa kauingin mati dengan cnak!”

Di sebelah sana secepat terbang Hong Man-thian lantas menubruk Li-losam, melihat betapa lihai orang tua itu, mau-tak-mau Li-losam merasa takut. Ia tidak berani melawan tapi melompat mundur sambil menjcngek, “Hm, tua bangka, masakah engkau tidak segcra roboh?!’

Namun gcrakan Hong Man-thian terlampau cepat baginya, sekali raih baju Li-losam sem -pat dipegangnya.

Saking kagettnya Li-losam meronta sekuat nya, “bret”, baju robek, pecah nyali Li losam, tanpa pikir ia terjun ke dalam laut untuk menyclamatkan diri.

Serentak Hong Man-thian membalik tubuh, tongkatnya menyambarseorang lelaki. Perawakan ornng ini sangat kekar, mukanya juga buas, ia bermaksud menangkis, tapi tahu-tahu dia kcna diccngkcram Hong Man-thian dan diangkat terus dilemparkan hingga terbanting di geladak. Ia hanya sempat mcraung, segera kepala pecah dan otak berhamburan. Tanpa berhenti Hong Man-thian menubruk pula kc arah Kim Siong. Ia menyadari keracunan, maka niatnya membinasakan segenap penjahat di atas kapal. Tak terduga racun yang masuk tubuhnya teramat banyak, obat bius ini pun lain dari-yang lain, biarpun dia memiliki lwekang tlnggi tctap tidak tahan. Terasa mata birkunang-kunang, bayangan Tio Cin-tong mulai berubah dua dan dari dua menjadi empat dan lcbih banyak lagi, semuanya melayang kian kemari di sckitarnya.

Ia tahu tidak sanggup tahan lagi, sungguh celaka, seorang gagah perkasa harus jatuh di tangan orang pengecut tak dikenal. Mendadak ia meraung sambil melemparkan tongkatnya, lalu roboh terkapar. Scrangan terakhir ini menggunakan segenap sisa tenaganya, tentu saja dahsyat sekali.

Ketika tongkat itu menyambar tiba, Kim Siong seperti tidak tahu cara bagaimana harus menghindar. Rupanya nyalinya pecah saking takutnya sehingga dia mclongo seperti patung, keruan .dadanya ditembus oleh tongkat baja dan terpantek di lantai kapal.

Semua ini terjadi dalam sekejap, kelasi kapal yang beruntung tidak mati menjadi ke takutan juga, semuanya gemetar.

Yang tcrsisa tanpa cedera hanya si juru masak kudisan saja yang sibuk bekerja di da-pur, ketika mendengar ramai-ramai di geladak dan jeritan ngeri, buru-buru ia naik ke atas untuk melihat apa yang terjadi.

Dalam pada itu Lamkiong Peng, Hong Man-thian dan si makhluk aneh Jitko sudah roboh tcrkapar, hanya burung beo saja yang masih terbang kian kemari, dan hinggap di sa-na-sini sambil menjerit, “Lucu . . . haha, lu-cu . . . . ”

Dengan basah kuyup Li-losam merangkak ke atas kapal lagi, setelah memandang sekeliling, ia bcrucap, ‘Mendingan, cuma mati empat.

Lemparkan mereka ke laut, cuci bersih papan geladak, esok akan kubereskan mereka ber-tiga.”

Meski mengalami kcjadian ini, dia -tetap tcnang saja, ia tutuk beberapa kali pada tubuh Lamkiong Peng,. Hong Man-thian dan si makhluk anch Jitko, ini pun tidak mengurangi rasa kuatirnya, ditambahi lagi ikatan tali yang ke-tat pada tubuh ketiga tawanannya, habis ini barulah ia tinggal pergi.

Tio Cin-tong dan Iain-lain tentu saja sangat kagum atas hasil tipu Li losam itu, mereka lantas membcrsihkan lantai geladak.

Kiranya tadi Li-losam menggunakan obat bius yang paling keras pada umpan pancing, ikan yang dapat dikailnya itu makan umpan yang penuh racun, karena tidak menduga akan hal ini, apalagi Hong Man-thian melihat scn-diri ikan itu baru saja ditangkap dari dalam laut, ang-sio hi juga diolah sendiri oleh Lamkiong Peng, maka tanpa sangsi ia makan ikan saus manis itu.

Tak tersangka bahwa ikan yaug dianggap-nya pasti bersih itu justru telah ditaruhi obat bius yang tidak dapat dipunahkan oleh sem- barangan ohat pcnawar, ketika Hong Man-thian menyadari apa yang terjadi dan ber-maksud menolak kcluar racun yang masuk tu-buh, namun sudah kasip, akhirnya tokoh yang tidak ada bandingannya toh kena diringkus orang tanpa berdaya.

Setelah lcwat sekian lama, kctika hari sudah pagi, Li-losam sudah kcnyang tidur dan keluar dari kamarnya, lalu ia menyuruh orang menyiram Hong Man-thian bertiga dcngan air dingin, akhirnya barulah mereka siuman.

Segcra Lamkiong Peng mcrasakan cahaya matahari yang menyilaukan mata, namun tubuh sama sckali tidak dapat berkutik.

Terdcngar Li-losam mendengus, “Hm, ha-nya dcngan sedikit perangkap saja kalian lan-tas terjebak, rupanya hanya bcgini saja kelihaian kalian”

Waktu Lamkiong Peng memandang kc sana, terlihat Hong Man-thian dan si makhluk anch Jitko juga teringkus seperti dirinya dan tidak dapat bcrgerak.

Tcrtampak Li-losam mcmegang cambuk panjang, ujung cambuk menuding hidung Hong Man-thian dan lagi menegur, ‘Eh, Hong Man-thian, apa pula yang akan kaukatakan, konon kungfumu maha lihai, kenapa sckarang kaupun mati kutu dan jatuh dalam ccng-keramanku?”

Meski sudah siuman, namun sejauh ini Hong Man-thian tidak membuka mata, kini men-dadak ia mendengus, “Hm, akumemang sudah bosan hidup, mau bunuh atau mau sembelih boleh terscrah kepadamu?”

“Sudah bcrpuluh tahun kutunggu kesempatan seperti ini, baru gekarang kau jatuh dalam tanganku, bila kubiarkan kaumati dengan enak rasanya aku kan bcrdosa terhadap diriku sendiri,” suaranya sbenarnya scrak, tapi dua kalimat tcrakhir itu mendadak bcrubah tajam nyaring,

Seketika Hong Man-thian terbelalak, muka berubah pucat dan berscru, “Hah, kira-nya . .”

“Haha, bagus, akhirnya dapat kaukenali diriku, cuma sudah terlambat!” seru Li-losam sambil tergelak. Berbareng cambuknya meng-gclctar di udara.

Mendadak Lamkiong Peng mendengar su-ara raungan harimau, kiranya di bclakangnya

adalah kurungan harimau. Tapi karena bunyi cambuk Li-losam, harimau itu lantas mendekam dan tidak berani bertingkah lagi.

Setelah mendengar suara Li-losam yang melengking nyaring dan kepandaiannya men-jinakkan harimau, hati Lamkiong Peng tergerak, tiba-tiba teringat olehnya akan scorang, scru-nya, “Hah, Tek-ih Hujin!”

Li-losam terbahak-bahak, “Haha, bagus, kaupun mengcnali diriku!”

Sembari bicara terus bcrpaling kesana, waktu ia menoleh kcmbali kc sini, tahu-tahu mukanya yang dingin kaku scrupa orang mati itu mendadak berubah menjadi wajah yang cantik molek, wajah Tck-ih Hujin yang mempesona itu.

Diam-diam Lamkiong Peng gcgetun, “Pantas dia dapat menaruh racnn pada ikan segar dan pandai menundukkan harimau, kiranya dia samaran Tek-ih Hujin. Sekarang kujatuh di tangan orang ini, entah bagaimana nasibku nanti.”

Tek-ih Hujin lantas-mendekati Hong Man-thian, pclahan ia meraba mukanya dan bcr-kata dcngan tertawa, “Hong-lotaucu, sudah la- ma aku merindukan dirimu, cara bagaimana akan kuperlakukan dirimu sckarang, apakah da-pat kauterka?”

Mendadak ia mengeluarkan scbuah botol kecil, sambungnya, “Apa kautahu apa isi bo-tol ini?”

Hong Man-thian memejamkan mata dan tidak menggubrisnya.

Tck-ih Hujin mengerling genit, ucapnya dcngan tcrkckch, “Hihi, biar kuberitahukan, isi botol ini adalah obat perangsang lelaki yang paling kuat, barangsiapa asalkan men-ciumnya sedikit, sekctika nafsu berahi akan berkobar. Apakah kaumau meneiumnya sedikit saja?!”

Waktu menyamar tadi mukanya kelihatan kaku dingin, tapi sekarang setiap kali bicara wajahnya kelihatan sangat mempcrsona dan menggiurkan, gayanya itu membuat Tio Cin-tong dan Iain-lain sama terkesima.

Namun Hong Man-thian tctap diam saja. Tck-ih Hujin lantas menyodorkan botol kecil itu dan bcrkata, “Eh, coba endus sedikit, sesudah meneium bubuk ini, meski sekujur badan tidak dapat berkutik, rasanya tentu luar biasa, kujamin cngkau pasti tidak pernah me-ngalami perasaan demikian . . . . ”

Lamkiong Peng bclum bcrpengalaman, ia tidak tahu apa yang bakal terjadi, ia coba memandang ke sana,

Dilihatnya botol kccil yang dipcgang Tck-ih Hujin semakin mendekati hidung Hong Man-thian, dengan mata terpcjam Hong Man-thian tetap tidak menghiraukannya, namun apa daya, sama sckali ia tidak dapat bcrgerak.

Pada saat itulah mendadak seorang men-jerit, harimau juga mcraung kaget karena jc-ritan itu, serentak Tck-ih Hujin bcrpaling sehingga botol yang dipcgangnya sedikit mi ring dan isinya tertuang setitik dan kabur ter-bawa angin.

Kiranya si juru masak kudisan itulah yang menjerit, waktu Tck-ih Hujin berpaling, dengan tergcgap ia berkata, “Ken . . . kenapa cngkau berubah menjadi orang perempuan? Ap …. apakah engkau dewa yang dapat berubah wu-jud?”

Tek-ih Hujin tersenyum senang, “Kaulihat aku cakap tidak?”

“Ya, cakap . . . cakap sckali!” jawab si kudisan dengan menyengir.

“Mendingan kaupun dapat membedakan orang cakap dan tidak,” ujar Tek-ih Hujin dengan senang. “Baiklah, lekas pcrgi membuatkan beberapa macam makanan enak, sebentar bolch kaupandang diriku lebih la’ma.” Si kudisan tertawa dan berlari pergi. Tek-ih Hujin membctulkan rambutnya, katanya pula dengan tertawa, “Hong-lotaucu, coba kaulihat, scorang linglung saja mengetahui aku …. ”

Belum lanjut ucapannya, sckilas diketahui-nya seorang kclasi kckar di sebelahnya sedang menatapnya dengan sorot mata merah beringas scrupa binatang buas lagi mengincar mangsanya

Ia terkejut dan menegur, “Kaumau apa?” Tubuh lelaki itu tampak gemetar, muka merah bcringas, mendadsk ia pentang kedua tangan terus menubruk maju, karena tidak ter-sangka sangka, tubuh Tck-ih Hujin terpcluk dengan crat, dengan kalap lelaki itu berteriak, “Kuharap . . . kuminta engkau . . . aku tidak tahan • . . . ”

Kiranya karena isi botol tadi scdikit tcrtuang dan terbawa angin, lalu tcrisap olch kelasi itu, obat itu adalah obat perangsarg yang sangat keras, sekctika mengobarkan nafsu bc-

rahinya sehingga membuatnya beringas dan lupa daratan.

Sama sekali tak tcrpikir oleh Tek-ih Hu-jin bahwa kelasi itu berani merangkulnya, seketika ia terpeluk dengan crat, dirasakan ba-dan orang panas scperti dibakar, bagian ter-tentu juga membuat hatinya terguncang. Pada dasarnya perangai Tek-ih Hujin mcmang ca-bul, dia tidak marah, sebaliknya malah tcrtawa sambil mengomel, “Orang mampus . . . . ”

“Bluk”, akhirnya dia roboh tertindih lclaki kalap itu.

mendadak Tio Cin-tong menubruk maju, sekali menikam dengan belatinya, kontan pung-gung kelasi itu tertembus, bentaknya, “Berani kurangajar terhadap Hujin?!”

Lelaki itu mcraung keras, tubuh membalik dan binasa.

Muka Tek-ih Hujin tampak merah, cepat ia melompat bangun, omelnya, “Siapa suruh kaubunuh dia?”

Tio Cin-tong melcnggong, tapi Tek-ih Hujin lantas berkata pula, “Ah, kutahu, tentunya engkau cemburu!”

mendadak sebelah tangannya menampar tehingga Tio Cin-tong jatuh tcrguling.

Dengan muka kercng Tck-ih Hujin menyapu pandang sekejap para kelasi, bentaknya dengan bengis, ‘Nah, inilah contohuya! Asalkn kalian bekerja dcrgan baik dan menurut perintah, tentu akan kuberi imbalan yang sctimpal. Cuma, siapa pun tidak bolch cemburu, tahu?”

Lalu ia mendekati Tio Cin-tong dan menjulurkan tangan.

Muka Tio Cin-tong tampak pucat dan melongo bingung.

Tak tcrduga Tck-ih Hujin hanya meraba perlahan pada mukanya yang digampar tadi.

mendadak ia bcrkata dengan tertawa, “Lemparkan keparat itu ke laut, pcrgilah pegang kcmudi, kerjalah baik-baik, tahu?”

Seperti mendapat pengampunan, cepat Tio Cin-tong mengiakan dan berlari pcrgi.

Semua kcjadian i!u dapat di saksikan oleh Lamkiong Peng, ia hanya geleng kepala, ia merasa bila orang jatuh dalam cengkeraman perempuan seperti ini, sungguh lebih baik mati daripada hidup.

Dilihatnya si juru masak kudisan tclah muncul kembali dcngan membawa enam ma-cam hidangan, bau sedapnya sungguh menusuk hidung.

“Biarlah di sini juga kita makan siang, scmbari maksud ingin kulihat permainan si tua bangka she Hong itu,” kata Tek-ih Hujin.

Dengan cepat para kelasi lantas mengatur meja kursi, Tek-ih Hujin menuang sccawan arak dan dibawa ke depan Hong Man-thian katanya, “Sedap tidak baunya?

Lalu ia mendekati Lamkiong Peng dan si makhluk aneh serta mengiming iming arak itu di depan hidung mereka.

Makhluk aneh Jitko menyeringai, mata pun melotot,

Tek-ih Hujin memperlihatkan botol kccil tadi, katanya pula dengan tertawa, “Jangan kuatir, saat ini pcndirianku sudah berubah, biar kalian merasakan dulu siksaan orang ke-laparan dan kehausan, habis itu baru merasakan bctapa cclakanya orang yang dirangsang nafsu bcrahi.”

mendadak ia mcmberi tanda kepada Tio Cin-tong, katanva, “Ikat dulu kcmudinya, marilah kita minum bersama untuk merayakan kemenangan ini!”

Kccuali Lamkiong Peng bertiga, yang berada di atas kapal kini tersisa tujuh orang saja, jadi tepat untuk memenuhi satu meja.

Kawanan anggota Hai-pa-pang meski bi-asanya sangat garang, tapi menghadapi Tek-ih Hujin, mercka bcnar-benar mati kutu dan juga kebat-kebit.

Yang paling senang jclas adalah Tek-ih Hujin sendiri, bahwa musuh utama selama hidupnya kini dapat ditawan, sungguh hal ini harus dirayakan. Ia angkat cawan arak dan berseru, “Wahai Hong Man-thian, betapa ga-gahnya engkau dahulu ketika membakar Ban-siu-san-ceng kami dan aku terusir hingga tiada tempat bcrteduh. Dua bulan yang ialu, di Lamkiong-san-ceng hampir juga jiwaku melayang di tanganmu, tapi sckarang di mana kagagahanmu?”

Sernbari berolok-olok tidak lupa pula menenggak arah, dia mcmang ayu, setelah minum arak wajahnya semakin menggiurkan.

Kawanan berandal Hai-pa-pang semua masih takut-takut, scsudah minum secawan

arak, mereka bertambah tabah dan segcra makan minum tanpa pantang lagi.

Si juru masak kudisan sibuk naik turun membawakan hidangan dan tambah arak, na-mun lirikan matanya tidak pcrnah melepaskan gerak-gcrik Tek-ih Hujin.

Tiba-tiba Tck-ih Hujin berbangkit dan mendekati Lamkiong Peng, sambil mengamati anak muda itu ia bertanya, “Adik cilik, berapa usiamu tahun ini?”

Lamkiong Peng diam saja.

Tck-ih Hujin tcrtawa, katanya pula. “Ai, kenapa malu-malu bicara dengan Taci, bila…”

Bclum lanjut ucapannya, mendadak terdengar suara gemcrincing. mangkuk piring sa-ma tumpah, ketujuh lelaki itu sama roboh ter-jungkal, semuanya mabuk serupa orang mampus.

“Huh, manusia tak berguna, baru dua-tiga cawan sudah menggeletak,” omel Tek-ih Hujin. Tak terduga mendadak ia pun mengcluh, “Celaka!”

Cepat ia melompat ke samping si juru masak, segera ia ccngkeram pergelangan tangan-nya.

“Ada . . . ada apa?” tanya si kudisan dengan melongo.

“Budak kurang ajar!” bentak Tek-ih Hujin. “Kaubcrani menaruh racun dalam arak, lekas serahkan obat penawarnya, kalau tidak . . . .”

“Hehehehe!” tiba-tiba si kudisan terkekeh. “Akhirnya kautahu juga? Cuma, semuanya sudah terlambat.”

Dia menirukan ucapan Tck-ih Hujin tadi, tentu saja air muka Tek-ih Hujin alias si nyo-nya senang menjadi pucat seketika.

Semangat Lamkiong Peng dan Hong Man-thian sama terbangkit juga melihat kejadian itu.

Tcrdengar si kudisan lagi tertawa, katanya, “Obat ini kuterima dari kalian, sekarang ku-gunakan untuk kalian, ini kan adil dan pantas?”

Di tengah tertawa juru masak itu, Tck-ih Hujin scgera roboh terkulai.

“Hehe, nyonya senang ternyata tidak lama senangnya,” si kudisan berolok-olok pula, ke-lakuannya tetap angin-anginan,

Diam-diam Lamkiong Peng mcrasa gegetun, sungguh sukar dinilai dari lahiriahnya, tak terduga orang yang bcrmuka jelek daa ke-lihatan bodoh ini tcrnyata juga memiliki ke-cerdasan. Kecuali dia rasanya juga jarang ada orang yang sanggup mengclabui mata Tek-ih Hujin.

Dengan langkahnya yang lamban si juru masak kudisan lantas mendekati Lamkiong Peng bertiga dan membuka tali pengikatnya. Tapi karcna hiat-to mereka masih tcrtutuk se-hingga belum dapat bargcrak.

“Budi besar tidak bcrani balas dengan ucapan terima kasih, untuk sclanjutnya masih diharapkan bantuan Anda untuk membuka hiat-to kami,” ucap Hong Man-thian dengan sungkan.

“Hiat-to apa maksudmu?” si kudisan ber-tanya dengan ketolol-tololan.

“Ai, jika. Anda sengaja menycmbanyikan kepandaian, terpaksa aku pun tak dapat me-maksa,” ujar Man-thian dengan gegetun.

“Mana . . . mana hamba tahu hiat-to apa segala, tapi kalau Loyacu mau memberi pe-tunjuk, mungkin . , . mungkin bisa kucoba,” kata si kudisan.

Hong Man-thian pikir jika orang mcmang scngaja berlagak bodoh, apa salahnya ku-

katakan cara membuka hiat-to yang harus di-lakukannya. Maka dengan pclahan ia lantas menguraikan bagian mana yang harus dipijat ‘ dan ditutuk, juru masak yang kotor itu menuruti petuinjuk itu dan mcraba-raba tubuh Lamkiong Peng, walaupun begitu dipcrlukan sckian lamanya baru anak muda itu dapat di-bebaskan dari kelumpuhannya.

Hidung Lamkiong Peng tercium bau busuk kudis di tubuh orang, rasanya ingin tumpah. Untung segera ia merasa dirinya audah dapat bcrgerak, tanpa tunggu lagi ia mclompat ba-ngun sehingga si kudisan tertumbuk sempoyongan.

Cepat Lamkiong Peng membuka hiat-to Hong Man-thian yang tertutuk, begitu melompat bangun Man-thian lantas menjura kepada si kudisan.

“Ah. Loyacu jangan banyak adat,” ujar si juru masak dengan gugup.

“Yang kuhormati bukan karena jiwaku kau selamatkan, tapi karena engkau telah membeebaskan diriku dari hinaan dan aniaya musuh,”ujar Hong Man-thian.

Tika-tiba terlihat si Jitko scdang menyeret salah seorang kelasi tadi ke tcpi kapal.

“He, akan kau apakan dia?” tegur Lam-kiong Peng.

“Buang saja ke laut untuk umpan ikan.” jawab Jitko.

“Nanti dulu,’ kata Lamkiong Peng. “Apa pun juga kita tidak sampai diperlakukan me-lampaui batas, biarlah jiwa mercka bolch di ampuni saja, Taruh saja mereka di dalam se-koci dan hanyutkan sckoci itu, terserah kcpada nasib mercka akan sclamat atau ditelan laut, bukan lagi urusan kita,”

Hati Lamkiong Peng memang luhur, bc-tapapun ia tidak sampai hati melemparkan orang-orang yang belum mati itu ke laut.

Hong Man-thian menggeleng kcpala atas jalan pikiran anak muda itu. Si juru masak kudisan juga tidak membantah, segera mereka menurunkan sckoci dan mcmindahkan tujuh lelaki dan seorang pcrempuan itu ke dalam

parahu kecil itu dan dihanyutkan di tengah laut.

Ketika mereka bertiga tcrtawan, Tek-ih Hujin telah memerintahkan kapal berlayar kembali ke arah semula, sekarang kapal juga tctap laju menuju pulang.

Lamkiong Peng pikir juru masak kotor ini sungguh banyak terdapat kcanehan, ia coba tanya, “Bila tidak keberatan, apakah bolch kami tanya $iapa nama Anda yang sebcnar-nya?”

“Ah, nama orang rendah scmacam hamba mana ada harganya untuk discbut,” jawab si kudisan tctap dengan tcrtawa sepcrti orang bo-doh. Cuma nama Lamkiong-kongcu justru su-dah pernah hamba dengar dari seorang kawan-mu.”

“Hah, apa bctul, siapa dia?” tanya Lamkiong Peng.

Juru masak itu memandang jauh kc sana, katanya kemudian, “Orang itu bukan saja ka-wan Kongcu, bahkan boleh dikatakan orang terdekat Kongcu.”

“Eh, jangan-jangan engkau kenal Liong-toakoku?” Lamkiong Peng menegas dengan girang.

“Bukan,” kata si juru masak.

‘ Lantas siapa? Apakah Ciok-siko, atau Su-ma-lopiauthau atau Loh-sacek . . . . ” begitu-lah sekaligus la menyebut beberapa nama orang yang ada hubungan rapat dengan dirinya, malahan nama Kwc Giok-he, Ong So-so dan Yap Man-jing juga discbutnya.

Namun si juru masak tetap menggelcng dan menjawab bukan.

Lamkiong Peng menjadi bingung sendiri. la pikir orang yang rapat dengan dirinya se-lain yang sudah disebutkan tinggal Bwc Kim-soat yang juga boleh dikatakan orang yang ada hubungan rapat denganku. Tapi dia berwatak dingin, juga suka pada kebersihan. misalnya sslama sepuluh tahun ia tersekap di dalam peti mati, jika orang lain tentu sudah mati konyol, tapi dia dapat kcluar dengan hidup dan pa-kaiannya masih tctap putih bersih. Mustahil dia tidak jijik melihat orang dekil dan ber-bau busuk semacam ini, apalagi mau bicara dengan dia?

Karena itulah akhirnya ia menggeleng dan mengaku, “Wah, rasanya aku tidak ingat lagi ada orang lain yang ada hubungan dekat denganku.”

juru masak ia memandang jauh tanpa bicara. sekian lama barulah itu berkata pula dengan pclahan, “Masa sclain orang-orang itu Kongcu tidak mempunyai sahabat lain lagi?”

“Rasanya tidak . . . tidak ada lagi,” jawab Lamkiong Peng.

Juru masak itu termenung scjenak pula, mendadak ia tertawa, katanya, “Ah, tahulah aku, tentu orang itu sengaja mengaku sebagai sahabat baik Kongcu.”

Lalu ia melangkah ke pinggir kapal dan mengelamun sendiri.

Hong Man-thian yang sedang pegang ke-mudi itu memandang Lamkiong Peng sekejap sclagi dia hendak bicara, mendadak si juru masak berteriak, “Wah, eclaka!”

“Ada apa?” tanya Man-thian cepat.

Jura masak kudisan itu menuding badan kapal, waktu Hong Man-thian melongok ke bawah, sekctika air mukanya juga berubah hebat. Kiranya badan kapal yang tcrapung di permukaan air kini tinggal tiga-empat ka-ki saja.

“Hah, jadi kapal ini lagi tenggelam dengan pelahan?!” tcriak Lamkiong Peng kuatir.

Hong Man-thian tidak menjawab, sekali lompat, tubuhnya yang gede itu mclayang ke

bawah kabin, Meski tongkatnya sudah terlempar ke laut, namun gerak-geriknya tetap cepat dan gesit.

Scgera Lamkiong Peng menyusul kc sana, setiba di bawah dek, keduanya saling pandang dengan muka pucat. Tcrnyata di antara celah-cclah kabin sudah mulai mcrcmbes air laut, makin lama makin kcras, scbagian barang sudah terapung di pcrmukaan air. Malahan rembesan air segera bcrubah deras, sebentar saja sudah sebatas paha Lamkiong Peng.

“Lckas naik ke atas!” scru Man-thian.

Keduanya lantas melompat lagi kc atas geladak, Jitko yang lagi pasang mata di puncak layar juga merambat turun.

“Bagaimana?” tanya si juru masak dengan kuatir.

“Kapal bocor, air laut sudah merembes. masuk dan hampir menggenangi dek bawah, tidak sampai setengah jam lagi kapal ini akan tenggelam,” tutur Hong Man-thian.

Juru masak itu tampak bingung, mendadak ia mengentak kaki dan berkata. “Pantas sebelum Tck-ih Hujin memperlihatkah jejaknya, setiap hari dia pasti mendatangi dek, agaknya diam-diam dia sudah membuat lubang di dasar kapal dan setiap hari harus disumbat. Bilamana akal kejinya berhasil, lubang itu tetap dibikin rapat, jika gagal usahanya, lubang itu akan membesar dan semuanya akan terkubur di’da-lam laut. Saat Ini tcntu penyumbat lubang itu sudah jebol dan air laut merembes masuk dengan dcras di luar tahu kita.”

“Sungguh keji amat perempuan itu,” ge-rutu Lamkiong Peng dengan gemas. Lantas apa daya kita?”

“Kccuali meninggalkan kapal, masa ada jalan lain?” jengek Man-thian.

“Ai, jika aku tidak memberikan sekoji itu, tentu . …” si juru masak juga menyesal.

“Jiwa kami diselamatkan olehmu, buat apa engkau menyecal?” kata Man-thian. “Mati-hidup manusia sudah tcrcatat lakdir, apa arti-nya mati bagi kita. Cuma akhirnya aku tetap mati di tangan Tck-ih Hujin, sampai di akhirat dia tetap merasa senang, sungguh aku tidak rela.”

“Biar kuperiksa lagi, mungkin bisa . . . . ” kata Lamkiong Peng.

‘Bisa apa?” ujar Man-thian, “Perbekalan dan air minum sudah terendam air laut, biar-

pun kita terapung dan tidak karam juga akan mati kclaparan dan kehausan.”

Lamkiong Peng melenggong dan urung melangkah pcrgi.

“Hong-locianpwe sungguh seorang yang tidak gentar mati,” ujar si juru masak.

“Aku mcmang sudah bosan hidup, apa artinya mati bagiku, cuma sayang, kalian yang masih muda ini harut ikut menjadi korban,”‘ ucap Man-thian dengan menyesal. “Jitko, coba kaucari bebcrapa guci aruk lagi, ssbelum mati marilah kita minum sepuasnya.”

Makhluk hidup ltu tampaknya juga tidak menghiraukan hidup atau mati, ia pergi kc bawah dan mendapatkan dua guci arak, kata-nya, “Tinggal ini saja. yang lain sudah pecah tcrtumbuk.”

Segera Hong Man-thian rnembuka guci arak dan menenggak arak, kapal tcnggelam dengan ccpaT, kawanan binatang buas itu agak-nya juga merasakan gclagat tidak enak, semula mercka lesu, sekarang lantas mcraung-raung di da lam kurungan.

Lamkiong Peng ikut minum arak dan men-dadak menghela napas.

“Kenapa engkau menghela napas?” tanya Man-thian. “Toh setiba di Cu-sin-to, hidupmu juga tidak lebih baik daripada mati, Jika da-pat mati sekarang kan lebih menyenangkan malah”

Seketika Lamkiong Peng tidak dapat merasakan makna yang tcrkandung dalam ucap-an orang tua itu, katanya, “Jelck-jclek Wanpwe bukanlah manusia yang tamak hidup dan takut mati, soalnya Wanpwe mendadak teringat kepada seorang, maka merasa menycsal. Bila-mana orang itu ikut di atas kapal ini, tentu akal keji Tek-ih Hajin takkan terlaksana.”

“Siapa yang kaumaksudkan?” tanya si juru masak kudisan dengan mata terbeliak.

Pelahan Lamkiong Peng menjawab, “Bw; ….” “Bwe Kim-soat maksudmu?” tukas si kudisan mendadak dengan badan tergetar.

“Kaukenal dia?’ tanya Lamkiong Peng dengan heran

Juru masak itu tidak menjawab, ucapnya dengan gemetar, “Dalam kcadaan dan di tcm-pat seperti ini, mengapa engkau teringat kepadanya?”

Kembali Lamkiong Peng menghela napas gumamnya, “Teringat padanya, masa aku ter-ingat padanya?”

Sekilas pandang dilihatnya tubuh si kudisan gemetar dan berlinang air mata, tentu saja Lamkiong Peng heran, tanyanya, “Kenapa kau . .. . ”

“Dapat mendcngar ucapanmu ini, mati pun aku . . . . ”

Bclum lanjut ucapan si juru masak, mendadak makhluk aneh Jitko berteriak, “Aha, itu dia, ada daratan . . . daratan …. ”

Seketika si juru masak urung bicara lebih lanjut dan tanya Jitko, “Mana ada daratan?”‘

“Ya, memang ada daratan,” Man-thian ikut bicara. “Mcski manusia adalah makhluk yang paling pintar, tapi daya cium tak dapat menan-dingi binatang. Coba kaulihat, kawanan bi-natang buas itu kelihatan lain, tentu dari angin laut dapat mcrcka meneium bau daratan.”

Sementara itu Jitko telah merambat lagi kc puncak tiang layar, sesudah memandang jauh scjcnak, la!u merosot turan lagi, diambil-nya sebuah ember dan turun kc dck, semen-tara itu badan kapal tinggal satu kaki saja di permukaan air.

Pada saat bahaya rncndadak menemukan titik terang seharusnya mereka bcrsyukur dan gcmbira, tapi Hong Man-thian dan si juru masak kudisan tidak kelihatan senang scdikit pun.

Lamkiong Peng menjadi sangsi, ia coba tanya, “Tadi kaubilang setelah mendengar ucapanku, lalu bagaimana?’

Juru masak itu termangu-mangu, sejenak kemudian baru menjawab, ”Kubilang mati pun engkau menggelikan dan kasihan”

Ia berdiri dan melangkah ke pinggir kapal, katanya pula, “Dari nama kawanmu yang kauscbut tadi jelas semuanya pcndckar tcrnama di dunia pcrsilatan, bahkan Yap Man-jing, Ong So-so dan Iain-lain juga anak perempuan yang cantik dan lamah lembut, hanya Bwc Kim-soat saja, hm, dia berhati kcjam, namanya bu-suk, usianya juga jauh lebih tua, tapi engkau justru teringat padanya, bukankah menggelikan dan harus dikasihani.”

Air muka Lamkiong Peng berubah hebat, mendadak ia menenggak arak dua cawan, pe-lahan ia mendekati si kudisan dan berkata, “Apa pun yang kaukatakan, namun kutahu dia

adalah perempuan yang paling lcmbut, paling berbudi. Demi untuk menolong orang lain dan mcmbela orang lain, dia rela mendcrita sen-diri, tcrhina dan tersiksa, dan mengorbankan nama baik sendiri. Meski usianya lebih tua daripadaku, namun aku rela mendampingi dia selamanya.”

Tubuh si kudisan tampak tergctar, tapi tidak berpaling.

Dcngan kasih mcsra Lamkiong Peng mcmandangi kepala orang yang penuh borok itu, ucapnya pelahan, “Dia sebenarnya seorang yang suka kepada kebcrsihan, tapi demi diriku dia rela membikin kotor sendiri. Dia seorang yang tinggi hati, lantaran diriku dia tidak sayang merendahkan diri. Dia begitu baik padaku, namun selagi aku masih hidup dia tidak mau bi-cara terus tcrang padaku melainkan rela men-derita sendirian. Sekarang aku menghadapi jaian buntu, apakah dia masih tetap . . .. ”

Belum habis ucapannya bcrdcrailah air matanya.

Dahi si kudisan juga kelihatan berkerut-kerut, air mata pun mcleleh membasahi mu-kanya yang dekil itu.

Mendadak Lamkiong Peng mcratap, “O, Kim-soat, mengapa engkau sampai hati mengelabuiku sejauh ini, memangnya engkau belum cukup berkorban bagiku …”

‘”O, adik Peng …. ” tiba-tiba si kudisan membalik tubuh dan mendekap anak muda itu.

Dcngan erat Lamkiong Peng mcrangkulnya, kini tak dihiraukan !agi mukanya yang kotor dan baunya yang busuk, sebab ia tahu semua itu tidak lain hanya bualan belaka, samaran Bwe Kim-soat yang cantik dan harum itu.

“Selamanya aku takkan berpisah lagi denganmu, apa pun yang terjadi dan betapa-pun komentar orang atas diriku, aku akan bcr-kumpu! denganmu,” ratap si kudisan alias Bwe Kim-soat.

“O, mengapa tidak sejak mula kaukata-kan padaku, mengapa engkau lebih suka mendcrita sendiri?” keluh Lamkiong Peng.

“Engkau tidak tahu, berapa kali ingin kubongkar penyamaranku ini dan memberi-tahukan siapa diriku, tapi aku …. ”

Begitulah kedua orang saling mengutara-kan rasa rindu dan scdih masing-masing tanpa

menghiraukan keadaan sekitarnya.

Hong Man-thian scndiri duduk termenung tanpa menghiraukannya, bctapa keras hatinya juga tcrharu olch cinta murni kedua orang itu.

Sckonyong-konyong terdengar suara “blang” yang keras disertai guncangan badan kapal, kiranya tclah kandas, kelihatan jaraknya dc-ngan pantai yang bcrpasir kuning itu cuma bebcrapa puluh tombak saja dan genangan air laut belum lagi meneapai geladak.

Kcgirangan pertemuan kcmbali sctelah berpisah sckian lama, kegembiraan karcna hi-langnya salah pah am, ditambah lagi kegirangan lolos dari maut, sungguh sukar dilukiskan pcrasaan Lsmkiong Peng dan Bwe Kim soat pada saat itu.

Mercka lantas berenang dan mendarat di pulau karang yang tak diketahui namanya ser-ta tak bcrpcnghuni itu.

Mclihat kemesraan kedua orang itu, hati Hong Man thian juga ikut senang dan juga terharu.

Dengan sendirinya Bwe Kim soat sudah membersihkan semua obat rias yang membuat wajah dan tubuhnya kelihatan kotor dan berbau itu, kembalilah wajah aslinya yang cantik, cuma sekarang kelihatan agak kurus dan pucat, namun semakin menambah kcmolekannya.

Pulau karang ini ternyata cukup subur di bagian pedalamannya, pepohonan menghijau permai, langit ccrah tanpa awan, suasana pe-nuh gairah hidup, segala urusan duniawi yang kotor saakan-akan tak dikcnal di sini.

Pulau ini banyak tumbuh pohon kelapa, Hong Man-thian duduk mengelamun di bawah pohon sambil minum arak.

Mendadak ombak mendampar dengan dah-syat, kapal yang kandas itu terdampar kc pe-sisir. Kawanan binatang buas di dalam kurung-an menjadi garang lagi demi melihat daratan. semuanya meraung-raung.

Jitko tclah mengumpulkan bcrbagai buah-buahan liar dan beberapa biji kelapa, akan t-tapi setelah dibuka airnya sudah kering.

Meski makhluk aneh ini kelihatan bodoh, dia ternyata tidak mau diam, selalu ada-ada saja yang dikerjakan, ia sibuk mcrcari scsuatu di dalam kapal, akhirnya ditemukan sebuah kampak, dengan alat ini dia membuat lubang badan kapal yang bocor itu terlebih besar, dengan begitu air yang menggenang di dalam kapal dapat mengalir kcluar dengan cepat.

Lalu dia membongkar papan geladak kapal dan mendapatkan bahan pelckat yang bia-sanya tersedia di dalam kapal, dipaku dan di-tambalnya lubang yang bocor itu hingga rapat.

Sctclah sibuk setcngah harian, akhirnya ia tertawa. dan berkata, “Sebcntar bila air naik pasang, kapal ini akan menyurut kembali kc tcngah laut, dengan demikian kita pun akan terbawa berlayar lagi daripada mati konyol di sini. Tcrutama sepasang pcngantin baru kita bolehlah berbulan madu di tengah lautan.”

Lamkiong Peng dan Bwe Kiam soat saling genggam tangan dan saling pandang dengan terharu dan entah apa yang harus diucapkan.

Bcnar juga, menjelang magrib, air laut naik pasang, lambat-laun kapal itu terapung pula di permukaan laut, Jitko memegang ke-mudi dan pasang layar, pelahan kapal itu mclaju lagi ke tengah laut.

Perbckalan di dalam kapal sudah hampir ludes rusak atau hanyut terbawa air laut, yang maiih tcrsisa dan umpamanya sekadar dapat digunakan juga takkan tahan lcbih lama dari beberapa hari saja. Tcrutama air minum-nya, tiada tersisa setctes pun.

Untunglah si makhlak aneh dapat menernukan dua guci arak yang bclum pccah.

Arak sclain dapat melepas dahaga juga sekadar dapat digunakan scbagai tangsal pcrut.

Dan begitulah tiga hari sudah lampau pula, pada malam hari kcempat, selagi mereka pu-tus asa karena sudah kehabisan perbekalan, tampaknya mereka hanya menanti ajal saja.

Tiba-tiba si makhluk anch dapat mene-mukan lagi seguci arak yang scmula disangka sudah pecah, ternyata pada dasarnya masih tersisa sctengah guci.

Seperti menemukan barang mestika saja mereka bergantian meneguk isi guci itu.

Tak terduga mendadak Hong Man-thian berteriak, “Wah, celaka!”

Rupanya dia memiliki lwekang paling ting-gi, maka dia paling cepat merasakan sc-suatu yang tidak beres pada arak itu.

Nyata arak itu bcracun, agaknya memang sudah diatur oleh Tek-ih Hujin, bebcrapa guci arak yang tersedia itu telah ditaruh racun, telah diperhitungkannya bilamana tidak teng-

gelam dan kandas, tcntu juga penumpangnya akan kehabisan pcrbekalan dan segala apa di-makan dan diminum, maka arak ini pun tidak terkecuali akan dihabiskan olch mcrcka dan tak terhindarlah akan kcracunan.

Di antara mereka bercmpat lwekang si makhluk aneh paling cetck, dia yang menjadi korban lebih dulu. Tahu-tahu matanya men-delik, lalu roboh binasa.

Tcntu saja Lamkiong Peng kaget, waktu barpaling, dilihatnya muka Hong Man-thian juga hitam kelam, orang tua itu sudah kaku dcngan mata tcrpcjam.

“Hci, kenapa Hong-locianpwc.” seru Lamkiong Peng kuatir.

“Aku . . . . ” belum sempat bicara apa pun, Hong Man-thian tampak bcrkcjang dan gigi gemertuk, tanpa ayal Lamkiong Peng me-nutuk hiat-to tidurnya supaya tidak merasakan siksaan yang melampaui batas.

Orang tua itu sempat mengucapkan “terima kasih’, lalu roboh te-rkapar.

Waktu ia menolch, sungguh kagctnya tak terkatakan, tanpa pamit Bwe Kim-soat ternyata juga sudah rebah seperti orang tidur nycnyak, ujung mulutnya malah kclihatan mengulum senyum.

“Hah …” ia tidak tahu apa yang harus dipcrbuatnya, ia rangkul tubuh Bwe Kim-soat dcngan erat, ia pun ingin selekasnya me-nyusulnya ke alam baka.

Malam tiba, kegelapan yang tidak ada ujungnya, Lamkiong Peng mcrasa dunia ini scdemikian seram, makin lama makin menee-kam, namun rasanya racun dalam tubuhnya tidak cepat bckcrjanya.

Bctapa pun ia tidak tahu mengapa bisa terjadi bcgini.

Kiranya tempo hari ketika di hutan per-kampungan Lamkiong-san-ceng dia pernah me-ngisap sedikit bubuk racun Tek-ih Hujin yang membinasakan Bu-sim-siang-ok itu, waktu itu kotak yang dilemparkan Tek-ih Hujin itu me-nyambar lewat di sisinya dan tanpa terasa ter-endus bau harum olehnya, cuma saat itu tidak diperhatikan kejadian ini.

Racun yang tersiap olehnya itu tidak se-gera bekerja, sebab racun buatan Tek-ih Hujin itu merupakan racun maha dingin, sebalik-nya sejak kecil Lamkiong Peng berlatih lwe-

kang yang mengutamakan hawa murni maha panas, maka sctitik racun dingin itu dapat di-tahannya.

Sekarang racun dalam arak yang diminum itu justru racun maha panas, sebab itulah Bwe Kim-soat tidak tahan, ia roboh dengan tubuh panas membara. Bagi Lamkiong Peng, sckaligus tcrjadi pertarungan dua macam racun da-lam tubuhnya, tentu saja hal ini tidak dirasa-kan olch Lamkiong Peng scndiri.

Akan tetapi apa pun juja akhirnya racun meluas juga dan membuatnya menggigil, pi-kiran pun mulai kabur, mata berkunang-ku-nang.

Pada waktu dia’ hampir kehilangan kc-sadaran, tiba-tiba dari kcjauhan pcrmukaan laut sana berkumandang suara orang bertcriak, “Hong Man thian, apakah cngkau sudah pulang?!”

Suaranya kedengaran sangat jauh, namun bagi telinga Lamkiong Peng dirasakan juga begitu jelas.

la hanya sempat berpikir, “Ah, barangkali sudah sampai di Cu-sin-to!”

Habis itu ia lantas tidak ingat apa pun.

Pada saat itulah dalam kegelapan yang tak berujung itu ada setitik sinar lampu bcrgoyang-goyang mendekati mengikuti gelom-bang ombak, menuju kc kapal maut ini….

Di ujung pulau sana meneuat tinggi tcbing yang curam, di atas tcbing berdiri scbuah ru-mah yang berdmding tinggi dan kclihatan se-ram. Sekeliling rumah tiada tcrdapat daun jcndela.di tengah malam sunyi hanya kelihatan setitik cahaya lampu yang berkelip serupa api sctan menghias ruangan yang luas.

Di sekeliling ruang luas ini berderet seba-ris mcja, semuanya memakai taplak meja warna hitam. dalam jarak dua-tiga kaki jauhnya tertaruh scbuah tempurung dan di depan ada sebuah Lengpai (papan dengan tulisan nama orang mati), suasana kelihatan seram.

Di tengah ruangan besar yang seram ini tertaruh sebuah dipan, ternyata yang rebah di atas dipan adalah seorang pcrempuan cantik, mukanya pucat, mata terpejam, agaknya dalam keadaan tidak sadar. Dari cahaya lampu yang guram itu samar-samar kelihatan dia adalah Bwe Kim-soat yang mati keracunan itu.

Sumbu lampu yang semakin guram itu bcrgoyang, ruangan sunyi senyap, sekonyong-konyang Bwe Kim-soat yang rebah di atas di-pan itu bergerak pclahan.

Kclihatan dia mcmbuka mata, sorot mata nya menampilkan rasa kaget dan ngeri, ia menyapu pandang sekelilingnya, lalu merangkak bangun. Scsungguhnya dia sudah mati atau hidup? Sctan atau manusia?

Dengan langkah terhuyung ia bcrjalan ke pojok sana, merambat tepi meja dan menegak-kan tubuh, lalu dipandangnya Lengpai yang bcrjajar di atas mcja itu.

Ia melengak sclolah membacanya, sebab ia kenal nama-nama yang tcrtulis pada bebcrapa

Lengpai itu adalah tokoh-tokoh dunia persilatan masa lampau.

Ia heran,tempat apakah ini? Mengapa Lengpai para tokoh ini tcrkumpul di sini?

Padahal tokoh-tokoh itu berlainun pcrguruan, bahkan berlainan jaman, mengapa bisa tcr-

dapat dan dipuja di sini. Ia coba mcmandang lagi lebih lanjut, mendadak air mukanya berubah, ia menjerit tcrtahan dan jatuh tcrduduk, air mata pun bercucuran, ratapnya. “O, masa engkau . . . engkau sudah meninggal?”

Kiranya lengpai terakhir yang dibacanya itu tcrtulis, “Lamkiong Peng . . . .”

Nama ini scrupa belati tajam yang me-nikam hulu hatinya, seketika tubuhnya serasa dingin.

Tiba-tiba tcrdengar suara “kriuut”, pintu ruangan besar itu terbuka sedikit, sesosok tubuh tinggi kurus dengan jenggot panjang putih daa berbaju belacu menyelinap kc dalam serupa badan halus saja.

Meski sinar matanya meneorong terang, tapi tajam dingin tanpa perasaan. Mukanya juga dingin kaku serupa mayat yang baru merangkak keluar dari liang kubur.

Ia pandang Bwe Kim-soat sekejap, lalu menegur kaku, “Engkau sudah mendusin?”

“Mendusin? …. Memangnya aku tidak mati?” tergetar hatinya dan tangis pun tak ter-tahan lagi. Jika dia tidak mati, lantas bagai-mana dengan Lamkiong Peng, apakah anak muda itu sudah mati?

Si kakek baju belacu hanya memandangi dia menangis tanpa meneegahnya.

“Di mana dia . . . di mana jenazahnya? Aku . . . aku ingin mati bersama dia,” jerit Kim-soat sambil menubruk maju.

Seperti tidak bergerak, tahu-tahu kakek itu menggeser kc samping, sahutnya ketus, “Apakah tangismu sudah cukup?”

“Lamkiong Peng, di . . . di mana dia . . . ,” ratap Kim-soat.

“Jika bclum cukup menangis boleh kau menangis sepuasnya,” kata si kakek. “Kalau sudah cukup menangis, segcra kubawamu ke atas kapal, urusan lain tidak perlu kautanya.”

Mendadak Kim-soat berbangkit, ia mengusap air mata, tanpa bicara ia terus melangkah keluar.

“He, kaumau ke mana?” tanya si kakek. “Engkau tidak mau menjawab, biar kucari dia sendiri, peduli apa denganmu?” jengek Kim-soat, berbareng ia mclangkah lagi.

Advertisements

4 Comments »

  1. saya sangat menghargai atas inisiatif pembuat blog ini, yang bisa berbagi kepada sesama pencinta/pembaca buku silat sehingga kita semua bisa teringat pada masa kejayaan buku2 cerita silat.
    selain itu bila ada yg bisa meneruskan amanat marga ini, sangat kami hargai

    Comment by handijanto t — 14/09/2010 @ 2:28 pm

  2. terima kasih kepada pembuat blog ini. karena membuka kesempatan bagi pencinta buku silat untuk bisa membaca lagi buku yang mereka pernah baca. kalau bisa lanjutan amanat pendekar ini bisa disumbang lanjutannya oleh rekan2 yg punya buku tersebut agar tidak terhenti sampai di jilid 16

    Comment by handijanto t — 14/09/2010 @ 2:41 pm

  3. Ada banyak kesalahan tulis pada Amanat Marga yang saya miliki. Sementara, di sisi lain, sy tidak punya cukup waktu untuk mengeditnya.

    Mohon banyak maaf.

    Comment by ceritasilat — 27/09/2010 @ 2:37 pm

  4. Ini cerita,asyik banget isinya..

    Comment by cerita_silat — 29/04/2013 @ 6:31 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: