Kumpulan Cerita Silat

06/03/2008

Amanat Marga (15)

Filed under: Amanat Marga, Gu Long — ceritasilat @ 11:52 pm

Amanat Marga (15)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Eve1yn, Dragon, Nra, dan Ririn)

Tek-ili Hujin juga lantas mendengus, “Hm, kalian tidak lekas minta ampun padaku, memangnya kalian tidak ingin hidup lagi?”

Seketika Suma Tiong-thian merandek, sebab mendadak leringat olehnya akan anak-istri dan keluarganya.

“Aku memang sudah bosan hidup!” teriak Loh Ih-sian, berbareng ia menghantam dengan kalap.

“Kausendiri bosan hidup, apakah orang lain juga bosan hidup?” ucap Tek-ih Hujin.

Seketika Loh Ih-.sian melengak dan ber-henti meyeraing, waktu ia memandang ke sana, Suma Tiong-thian kalihatan lesu, sedangkan Lamkiong Siang-ju tampak sedih. Lamkiong-hujin memandang putra kesayangannya dengan cemas.

Loh Ih-sian terharu. pikirnya, “Aku sendiri sebatangkara, dengan sendirinya mati hidup tidak menjadi soal bagiku. Tapi orang lain berumah tangga dan anak istri Iengkap bahagia, mana mereka bisa meniru dirimu dan menyuruh mereka mati begitu saja?”

Maklumlah, lantaran wataknya yang mudah tersinggung, makanya dia putus asa dan mengasingkan diri Selama 20 tahun, dengan segala daya upaya berusaha mengumpulkan duit, sebaliknya pribadinya sama sekaili tidak terawat. Sekarang hatinya menjadi dingin dan berdiri termangu tanpa bicara.

Tiba-tiba Lamkiong Peng berseru, “Cara bagaimana kaubikin susah Toako kami, ke mana perginya sekarang?”

Tek-ih Hujin tersenyum, “Asalkan kauturut perkataanku, urusan Toakomu tentu akan kuberitahukan padamu, Sekarang hari sudah hampir pagi racun yang kalian minum sudah hampir bekerja. kalian tidak berani bertempur dan juga tidak mau menyerah, apakah memang ingin menanti ajal saja di sini?”

“Hm, jangan kau gembira dalu, segala macam racun di dunia ini pasti ada obat penawarnya” Jengek Lamkiong Siang-ju mendadak

“Ah. tidak perlu kaubicara lagi kutahu maksudmu hanya ingin memancing supaya ku-beri tahu seluk-beluk racun ini,” kata Tek-ih Hujin dengan tertawa, “Terus terang kukatakan, racunku ini di dunia hanya dipunyai dua keluarga saja, atau dengan lain perkataan juga cuma dua tempat ini saja yang mempunyai obat penawar, salah satu tempat itu justru jauh terletak di luar perbatasan utara sana. biarpun sekarang engkau dapat terbang ke sana juga tidak keburu lagi”

Hati Lamkiong Peng tergerak, didengar-nya sang ibu sedang berkata, “Habis cara ba-gaimana baru dapat kauberi . . . .”

Belum lanjut ucapannya, “kekk”, menda-dak seekor burung beo menerobos masuk me-lalui jendela dan hinggap di atas sebuah peti lalu mengguncangkan sayap untuk merontokkan air hujan yang membasahi bulunya, kemudian bersuara panjang pula satu kali. Meski kecil burungnya, tapi tampak gagah.

“Aha. sudah Jatang!” Mendadak Lamkiong Siang-ju berseru girang.

Beruang beo itu melayang dan hinggap di pundak Siang-ju serta menirukan ucapannya, “Sudah datang . . … ”

Benar juga segera terdengar suara langkah orang di undakan batu, sesosok bayangan tinggi besar lantas muncul di depan pintu.

Orang yang berperawakan raksasa ini memakai baju satin yang sangat mewah, tapi caranya memakai justru tidak teratur, dari tujuh buah kancing hanya dirapatkan tiga buah saja sehingga dadanya terbuka dan kelihatan dadanya yang bidang dengan simbar (bulu) dada yang hitam lebat.

Rambut orang ini juga semerawut tak teratur, kedua alisnya sangat tebal, mata kiri justru tertutup oleh sebuah kedok mata sehingga menambah keseraman mata kanannya.

Tangan kirinya tampak melambai lurus dan lengan kanan menyanggah pada sebuah tongkat hitam, kaki kanan buntung sebatas dengkul.

Sorot matanya yang tajam itu sekarang sedang menyapu pandang keadaan sekelilingaya. Tergetar hati Tek-ih Hujin melihat kemunculan orang aneh ini.

Burung beo tadi segera terbang dan hinggap di pundak si buntung kaki dan bermata satu ini.

Lamkiong Siang-ju memberi hormat dan berseru, “Sudah lama kami menunggu, silakan masuk.”

Pelahan orang aneh itu mengangguk, kata-nya tambil memandang Lamkiong Peng, “Ini-kah putra kesayanganmu? …. Haha, bagus. momang hebat!”

Diam-diam Tek-ih Hujin menyurut mundur ke sudut yang agak gelap. Sedang si tojin berjubah biru dan si kakek berdiri dengan air muka prihatin memandangi pendatang yang aneh ini.

Seperti tak acuh si buntung tersenyum, katanya, “Sudahlah, tidak perlu bertempur lagi, kabut racunmu sama sekali takkan mempan terhadapku.”

Tek-ih Hujin terkesiap. Belum lagi dia bcrtindak, tongkat lelaki buntung itu mengetuk lantai, pelahan ia melangkah masuk, katanya, ” Bagus, peti-peti ini sudah siap . . . . ”

Burung beo tadi menirukan, “Bagus . . Bagus,… ”

Si tojin jubah biru dan si kakek kurus saling memberi tanda, berbareng mereka hendak menubruk maju.

Tanpa berpaling lelaki buntung itu mendadak membentak, “Jangan bergerak!”

Seketika kedua orang itu urung bertindak.

Dengan tak acuh lelaki buntung itu mem-balik tubuh, lalu bcrkata, “Aha, sekian tahun tidak bertemu, mengapa kalian masih suka main sergap begini?”

Tojin jubah biru terkekeh, “Ah, masakah main sergap, maksud kami banya ingin menyapa kepada kenalan lam saja.!”

“Bagus, bagus . . . . ” ucap si buntung sam-bil membelai bulu burung beo yang hitam legam itu. “Rupanya kalian berdua juga berhasil menemukan Kun-mo-to dan kedatanganmu sekarang hendak memusuhiku, bukan?”

Mendadak si kakek menyela, “Betul?” Sinar matanya mencorong terang dan siap tempur.

Namun si buntung hanya memandangnya sekejap dengan hambar, ia berkata ke arah lain, “Lamkiong-cengcu, jika putramu sudah datang, peti juga sudah siap, bila ada arak harap sediakan dua guci.habis minum segera berangkat!”

“Hm, kutahu kami tidak kaupandang sc-belah mata,” jengek sikakek mendadak. “Tapi bila peti-peti ini hendak kaubawa pergi, sedikitnya harus kaulangkahi dulu mayatku.”

Dengan terkekeh si tojin jubah biru lantas menyambung, “Meski kungfu kami bukan tandinganmu, tapi jika. dua lawan satu, jelas engkau takkan menarik keuntungan. Apalagi, hehe. bukan mustahil keluarga lamkiong akan berdiri di pihak kami.”

Si buntung bermata satu itu berucap, “Bagus, boleh kalian coba saja nanti . . . Hehe, dan Dona besar itu, jika obat penawar tidak kaubei-ikan, apakah kaukira dapat keluar dari Lamkiong-san-ceng dengan hidup?”

Air muka Tek-ih Hujin berubah, katanya dengan tersenyum genit, “Eh, jika engkau melarang kupergi, biarlah kutemanimu di sini.”

“Haha. bagus, Bu-tau-ong, Hek-sim-khek, coba kalian bekuk dia, akan kuberi rasa enak padanya,” seru si buntung.

Suma Tiong-thian tertesiap mendengar nama-nama yang disebut itu, kiranya kedua orang ini adalah “Bu-sim-siang-ok” atau dua manusia jahat tak berhati yang terkenal berpuluh tahun lampau itu, pantas kungfu mereka tinggi dan tindak-tanduknya keji.

Lamkiong Peng belum luas pengalaman kangouw, tak diketahuinya asal-usul Bu-sim-siang-ok yang ditakuti beberapa puluh tahun yang lalu ini.

Si kakek kurus, Bu-tau-ong atau kakak tanpa kepala, tertawa ngekek, ucapnya, “Hehe, kauminta kami membekuk dia? …. Hah, barangkali setelah kaumasuk Co-sin-tian, pikir-anmu menjadi kurang waras.”

“Hm, apakah kalian memang sudah bosan hidup dan tidak mau minta obat penawar ke-padanya?” jengek si buntung.

Bu-tau-ong dan Hek-sim-khek sama me-lengak, seru mereka, “Apa artinya?”

“Hah, rupanya kalian belum lagi tahu,” scru si buntung dengan tertawa. “Baik, ingin kutanya padamu, apakah sebelumnya kalian telah mencium obat penawar?”

Kedua orang sama terkesiap dan tidak dapat bicara.

“Haha, kalian mengira ucapannya tadi hanya untuk menggertak pihat Lamkiong-cengcu saja dan tidak benar telah menebar-kan kabut berbisa soalnya kalian memang tidak tahu kapan dia menyebarkan racun, begitu bukan?”

Muka Hek-sim-khek tambah pucat, wajah Bu-sim-ong pun semakin beringas.

“Huh, jangan kalian percaya kepada ocehannya,” kata Tek-ih Hujin dengan tertawa, namun suaranya rada gemetar

Serentak Bu-sim-siang-ok berputar tubuh, Hek-sim-khek Iantas menegur, “Jadi benar kaugunakan racun?”

Bu-tau-ong juga lantas melangkah maju sambil menjulurkan tangan. “Serahkan obat penawarnya!”

Si buntung kelihatan tertawa senang. ia bersandar tak acuh di atas peti, katanya “Obat penawar tulen. setelah dicium, kontan akan bersin tujuh kali, harus kaucoba du!u, jangan sampai tertipu.”

Tek-ih Hujin menyurut mundur, ucapnya gugup, “Jangan . . jangan kaupercaya, dia bohong!”

“Jika tidak serahkan obat penawar, akan kucincang dirimu, dagingmu akan “kumakan bersama arak,” bentak Bu-tau-ong bengis.

“Kulitnya putih halus, dagingnya tentu empuk, rasanya pasti enak.” Tukas Hek-sim-khek.

“Cuma sayang, tentu rada berbau langu,” ujar si buntung dengan tertawa.

Dalam pada jtu Tek-ih Hujin mash terus menyurut mundur, ucapnya, “Baik, akan…akan kuberi…”

Ia meraba bajunya, tapi mendadak tangannya terangkat, berpuluh titik perak tajam serenntak berhamburan, ia sendiri segera melayang keluar melalui jendela.

Cepat lengan baju Hek-sim-khek mengebas, kedua tangan Bu-sim-ong juga menghantam dari jauh sehingga senjata rahasia lawan dibikin rontok, tanpa berhenti mereka terus mengejar sambil membentak, “Lari ke mana?!”

Pada saat itu juga dari luar menyambar masuk setitik cahaya tajam menuju ke arah Lamkiong Peng. Selagi anak muda itu hendak menangkap senjata rahasia itu, sekonyong-konyong tangan terasa kesemutan, “tring”, cahaya pcrak itu mencelrt jauh ke sana. Entah sejak kapan si buntung bermata satu sudah berada di sampingnya, jarinya mengetuk pelahan tangan Lamkiong Peng, tongkat yang menyanggah ketiaknya membentur senjata rahasia musuh hingga mencelat. Meski tinggi besar tubuhnya, namun gerak-gerik ternyata sangat gesit.

Lamkiong Peng jadi melengak sendiri.

Dengan tak acuh si buntung melangkah ke sana dan bersandar pula di peti, katanya, “Permainan itu tidak boleh disentuh.”

“Tidak boleh disentuh?” Lamkiong Peng menegas.

Si mata satu tertawa, katanya, “Meski nona besar itu tidak betul menyebarkan kabut berbisa tanpa wujud itu, tapi senjata rahasianya memang betul berbisa jahat dan tidak boleh disentuh. Kakiku ini justru korban senjata rahasia lakinya pada waktu Ban-siu-san-ceng terbakar dulu, hampir saja jiwaku ikut melayang. Sampai akhirnya bahkan harus dipotong.”

Semua orang sama terkejut,

Si mata satu menyeringai, ucapnya pula, “Ah di dunia ini mana ada racun tanpa bau dan tiada wujud, kalau ada, bukankah nona besar itu dapat malang melintang di dunia ini tanpa tandingan?”

Sinar matanya menyapa pandang wajah semua orang yang kelihatan bingung itu, tuturnya pula, “Kabut pembetot sukma hanya semacam asap berbisa yang tipis dan dapat terlibat oleh mata, racun ini sudah pernah kuratakan, apa yang kukatakan tadi tidak lebih hanya untuk mengadu domba antara mcreka sendiri supaya anjing menggigit anjing, biar nona besar itu merasakan betapa kejamnya kedua kawannya sendiri- Haha, mana mungkin dapat diberikannya obat penawar yang dapat membuat orang bersin tujuh kali. Cuma . . . nona besar itu juga bukan seteru yang mudah ditandingi, akhirnya Bu-sim-siang-ok juga takkan menarik sesuatu keuntungan, bisa jadi kedua pihak akan sama-sama konyol.”

Suma Tiong-thian berseru senang, “Haha, hampir saja aku tertipu olehnya.”

Si mata satu memandangnya sekejap, jengeknya, “Orang yang tidak takut mati tak mungkin tertipu olehnya.”

“Memangnya engkau sendiri tidak takut mati? tanya Suma Tiong-thian.

“Siapa bilang aku tidak takut mati? Orang yang tidak takut mati tentu orang tolol.”

Mendadak Suma Tiong-thian menunduk, gumamnya, “Tapi jelas.engkau tidak takut mati, kalau takut, mustahil engkau mau menerjang

Bao-siu-san-ceng di tengah malam buta sendirian dan membakar beratus binatang buas serta membinasakan Hok-siu-san-kun . . . . ”

“Ah, itu cuma perbuatan ugal-ugalanku pada waktu muda,” ujar si mata satu dengan tertawa. ‘Manusia makin tua makin licik, hari ini aku juga tidak mau bergebrak dengan orang, terpaksa menggunakan akal licik untuk mengadu domba mereka sendiri.”

Dengan tersenyum Lamkiong Siang-ju berucap, “Meski sudah lama kutahu kungfu Anda maha tinggi, tapi tak pernah terpikir Cianpwe ini ialah Hong Man-thian, Hong-taihiap. terlebih tidak menyangka setelah pertemuan Wi-tan dahulu Hong-taihiap lantas menghilang sekian lamanya dan ternyata masih sehat walafiat.”

“Haha, seiudah pertemuan Wi-san, orang kangouw lama mengira kawanan makhluk tua itu sudah mampus semua dan cuma tersisa Sin-liong dan Tan-hong berdua, tidak ada yang tabu bahwa kawanan tua bangka itu masih banyak yang hidup di dunia fana ini, cuma kebanyakan sudah mengasingkan diri ke Cu-sin-to dan Kun-moto, bicara sesungguhnya. keadaannya tidak banyak bedanya dengan mati.”

“Hah, jadi Hong-taihiap inilah yang ter-kenal di dunia persilatan sebagai Mo-hiam-kuncu (si jantan petualang) Tiang-jiu-thian-kun (Si ksatria suka tertawa)?” tanya Lam-kiong Peng.

Hong Man-thian menengadah dan tergelak, “Ah, itu hanya sebutan yang sembarangan diberikan oleh kawan kangouw, mana aku dapat disebut sbagai Kuncu segala, kalau Siaujin (orang rendah) sih lebih tepat.”

Dalam pada itu hajan sudah reda. cahaya remang subuh sudah kelihatan di luar.

Lamkiong Siang-ju dan Loh Ih-sian mengumpulkan batu permata yang berserakan tadi dan dimasukan lagi ke dalam peti.

Lamkiong-hujin mengeluarkan seguci arak dan seperangkat baju kering, arak untuk Hong Man-thian, baju diberikan kepada Lamkiong Peng yang basah kuyup itu.

Suasana yang diliputi ketegangan tadi kini berubah mcnjadi sepi dan haru akan perpisahan.

Hong Man-thiaa dan Loh Ih-sian duduk berhadapan tanpa bicara dan asyik menenggak arak, hanya sekejap saja seguci arak sudah dihabiskan mereka berdua.

“Sungguh kuat takaran minummu,” sera Hong Man-thian sambil menepuk bahu Loh Ih-sian.

Sambil bergelak tertawa Loh Ih-sian menjawab, “Kekuatanmu minum arak juga sangat hebat, sungguh aku tidak mengerti mengapa engkau sengaja tinggal menyepi di Cu-sin-to, padahal alangkah senangnya jika tinggal di dunia fana sini, kan bisa lebih banyak minum arak beberapa guci lagi.”

Hong Man-thian menengadah dengan termangu-mangu, gumamnya, “Alangkah senangnya minum arak….Hah, tidak ada pesta yang tidak bubar, sekarang sudah terang tanah, sudah waktunya berangkat! Untuk ini kiranya perlu bantuan beberapa kereta Suma-taihiap di luar sana.”

“Untuk mengantar keberangkatan anak Peng keluar lautan, biarlah kami antar be-berapa jauhnva, jika tidak keberatan, sudilah Suma-heng tinggal dulu di sini sampai datangnya penghuni baru perkampungan ini.”

Suma Tiong-thian mengangguk setuju, katanya, “Jangan kuatir, Lamkiong-heng, meski sudah tua bangka, sedikit urusan ini tentu dapat kubereskan.”

“Biar kudatangkan kereta di luar sana,” seru Loh Ih-sian sambil melompat pergi.

“Akan kubantu, Jicek,” seru Lamkiong Peng terus ikut lari keluar.

Kedua orang berlari menuju ke luar perkampungan, tertampak sepanjang jalan senjata berserakan, di tengah hutan, di semak belukar. mayat bergelimpangan, darah sudah bersih terguyur air hujan,

Tidak jauh di sebelah sana beberapa ekor kuda tanpa bertuan scdang asyik makan rumput yang segar.

Lamkiong Peng dan Loh Ih-sian baru saja sampai di depan hutan, mendadak di tengah semak-semak sana berkumandang suara rintihan orang. Keduanya saling pandang sekejap terus melompat maju, terlihat dua batang pohon babak-belur serupa habis dipahat dan dibacok oleh senjata tajam.

Tetumbuhan di sekitar pohon juga bekas terinjak-injak. Dengan hati-hati kedua orang melangkah ke depan.

Mendadak terdengar suara tertawa seram, dua sosok bayangan orang muncul dari balik semak-semak pohon sana.

“Siapa?”bentak Lamkiong Peng.

Tapi segera dapat mereka kenali kedua orang ini ternyata Bu-sim-siang-ok adanya.

Pakaian kedua orang ini kelihatan morat-marit penuh rumput, seperti berguling-guling dari sana, sedang muka, hidung, mulut dan telinga berlepotan darah, mata mendelik kalap.

Berapa tabah Lamkiong Peng dan Loh Ih-sian merasa ngeri juga melihat keadaan kedua orang itu.

“Hehe, obat penawar . . . mana obat pe-nawar …” Bu-sim-ong tcrkekeh, kedua tangan terpentang dan segera menubruk maju.

Lamkiong Peng kaget dan menyurut mundur. Tak terduga baru saja Bu-sim-ong melangkah segera jatuh terguling.

Hek-sim-khek juga membentak, “Ganti nyawaku!”

Belum lenyap suaranva dia juga terjungkal, tapi tangannya sempat terangkat, selarik sinar hitam gilap lantas menyambar ke arah Lamkiong Peng. Serangan sebelum ajalnya ternyata sangat lihai.

Cepat Lamkiong Peng menggeser ke samping, terdengar suara mendesing menyambat lewat di topi telinganya, cahaya hitam gilap itu masih terns melayang ke sana dan menumbuk batang pohon, Kiranya benda itu sebuah kotak kecil

Untuk sejenak Lamkiong Peng dan Loh Ih-sian siap siaga, setelah sekian lama kedua orang itu tidak berkutik lagi barulah mereka mendekati, ternyata keduanya sudah mati dengan. mata mendelik.

Demi melihat kotak itu, Loh Ih-sian berucap dengan gegetun, “Ai, Tek-ih Hujin itu memang sangat keji, kotak racun ini dikatakannya sebagai obat penawar, betapa licin juga Bu-sim-siang-ok takkan menyangka obat yang diserahkan Teh-ih Hujin dalam keadaan terpaksa ini justru adalah racun, dan sekali dicium maka celakalah mereka.”

Sebagai seorang jago kawakan dugaannya ternyata tidak keliru. Cuma tidak diketahuinya bahwa pada waktu sebelum “Bu-sim-siang-ok mencium racun itu, lebih dulu mereka sudah memaksa Teh-ih Hujin mencium dulu obat itu, setelah menyaksikan tidak terjadi sesuatu barulah mereka berebut menciumnya. Dan karena itulah mereka jadi benar-benar terjebak, sebab sebalumnya Teh-ih Hujin sudah memakai obat penawar lebih dulu, makanya dia tidak mengalami sesuatu setelah mencium racunnya,

Padahal bubuk racun dalam kotaknya itu kalau disebarkan dan tertiup angin, maka sedikitnya akan menimbulkan korban beratus orang, sebab asalkan mencium hawanya saja cukup membuat jiwa melayang.

Apalagi Bu-sim-siang-ok kuatir obat penawar yang mereka endus itu kurang banyak, mereka mencium sekuat-kuatnya sehingga se-kotak kecil bubuk racun itu hampir seluruhnya masuk rongga dada mereka, keruan jiwa mereka tak tertolong lagi.

Begitulah mereka berguling di tanah dan tersiksa oleh bekerjanya racun, tubuh serasa ditusuk beribu jarum tak tertahankan rasa sakitnya. Mereka menjadi kalap seperti orang gila, batang pohon dicakar sekuatnya, rumput dibetot, keadaan itulah yang dilihat Lamkiong Peng tadi. Sedangkan Teh ih Hujin sempat melarikan diri.

Biarpun Bu-sim-siang-ok memang penjahat yang berlumuran darah tangannya, tidak urung Lamkiong Peng terharu melihat kematian mereka yang mengenaskan itu. la mengumpulkan ranting kayu dan rumput kering untuk menutupi mayat mereka dan tinggal pergi.

Ia menemukan beberapa ekor kuda, lain dipasang pada kedua kereta kosong di luar perkampungan sana serta dibawa pulang.

Tertampak ayah-ibunya dan Iain-lain sama berdiri di depan rumah sedang menunggu. Beramai-ramai semua peti lantas dimuat keatas kereta.

Suma Tiong-thian mengucapkan selamat jalan kepada semua orang. ia pegang tangan Lamkiong Peng dan memberi nasihat agar berjaga diri baik-baik, terutama harus awas terhadap orang perempuan. Rupanya dia belum lagi lupa kepada Kwe Giok-he yang diam-diam berusaha menjatuhkan nama anak muda itu.

Lamkiong Peng terkesiap dan tidak paham maksud orang tua itu, tapi mengiakannya dengan terima kasih.

Dan begitulah 20-an peti termuat dua kereta terus berangkat menuju ke timur. Loh Ih-sian dan Hong Man-thian menumpang bersama satu kereta dan asyik minum arak sepanjang jalan.

Sedangkan Lamkiong Siang-ju bersama anak dan istrinya menumpang pada kereta lain, ketiganya tidak banyak bicara sepanjang jalan.

Malamnya mereka sampai di suatu kota dan mendapatkan rumah pondokan. Kereta di parkir di halaman. Hong Man-thian mencari sepotong kapur dan menulis sebuah huruf “koan” pada dinding kereta.

“Apakah peti perlu diturunkan?” tanya Koh Ih-sian.

“Dengan huruf “koan” ini, siapa pula di dunia ini yang berani mengincarnya?’ ujar Hong Man-thian dengan tertawa.

Kiranya tulisan “koan” ini adalah tanda tangannya yang dulu pernah mengguncangkan dunia pestilatan.

Satu kali dia membantu seorang teman yang harta bendanya dirampok kaum bandit di Thay-hing-san, tanpa susah-payah Hong Man-thian berhasil meminta kembali harta yang hilang itu. Beberapa peti harta benda itu ditumpuk di lereng bukit sunyi, peti diberi tanda pengenal huruf “koan”, lalu ditinggalkan pulang, kawan pemilik barang disuruh mengambil sendiri ke tempat penimbunan peti.

Tentu saja kawannya kaget, disangkanya harta benda yang baru diminta kembali itu pasti akan dicuri orang lagi. Cepat ja menuju kc tempat yang dimaksudkan yang berjarak tiga-hari-tiga-malam perjalanan itu

Siapa tahu setiba di tempat, harta yang dimaksud ternyata masih utuh tanpa terganggu sedikit pun. Rupanya orang dunia parsilatan setelah melihat tanda pengenal Hong Man-thian itu bukannya mengganggu, sebaliknya diam diam memberi perlindungan malah.

Begitulah dia berkisah kegagahannya pada masa lampau sehingga tambah semangatnya minum arak. Lamkiong-hujin lantas minta disediakan berbagai jenis arak, ia mencampur sendiri arak yang paling enak, dan ternyata sangat menyocoki selera Hong Man-thian dan Loh Ih-sian sehingga tiada henti-hentinya kedua orang itu memuji.

Dan seterusnya setiap persinggahan selalu Hong Man-thian minum sampai mabuk oleh ramuan arak Lamkiong-hujin yang istimewa itu. Entah karena ingin menikmati arak enak atau karena ada sebab lain, perjalanan makin hari makin lambat.

Anehnya pada setiap tempat persinggahan Hong Man-thian pasti keluar sampai setengah harian, pulangnya dia membawa satu kereta penuh muatan, kebanyakan berupa peti besar dan kecil, semuanya tertutup rapat entah apa isinya. Peti yang paling besar serupa peti mati, yang paling kecil juga berukuran dua-tiga kaki panjangnya.

Akhirnya kereta yang dikumpulkan bertambah banyak sehingga merupakan satu iring-iringan kereta.

Wilayah timur ini kebanyakan daerah pegunungan dan merupakan sarang penjahat. Dengan sendirinya iring-iringan kereta mereka menimbulkan perhatian orang. Banyak lelaki kekar berkuda mondar-mandir mengawasi kon-voi mereka, namun Hong Man-thian anggap seperti tidak tahu saja.

Walaupun begitu, kawanan bandit juga heran dan sangsi melihat iringan kereta yang panjang itu ternyata tidak dikawal sebagaimana lazimnya, karena belum jelas asal-usulnya, seketika pun tidak ada yang berani mendahului turun tangan mengganggunya.

Hari ini rombongan mereka sampai di Tangyang, di depan adalah lereng gunung pertemuan antara pegunungan, Hwekeh, Thian-tai dan Sa-beng-san.

Menjelang magrib mereka pun berhenti pada rumah pondokan. Hong Man-thian keluar lagi mengilari kota.

Esok paginya, rumah pondokan itu mendadak menjadi riuh ramai didatangi orang banyak.

Kiranya kemarin Hong Man-thian telah mendatangi semua pandai besi di kota Tangyang ini dan minta dibuatkan satu-dua buah sangkar besi yang besarnya antara satu tombak sehingga jumlah seluruhnya lebih 20 buah.

Dengan sendirinya orang lain tidak tahu apa gunanya sangkar besi sebanyak itu. Tapi Hong Man-thian lantas menyuruh orang memindahkan peti ke dalam sangkar besi, lalu dimuat lagi ke atas kereta dan melanjutkan perjalanan.

Kawanan bandit yang selalu mengintai gerak-gerik konvoi mereka ini menjadi geIi, pikir mereka, “Biarpun harta benda telah kau simpan di dalam sangkar besi, memangnya kami tidak dapat merampas sekalian bersama sangkarnya?”

Karena itu mereka mentertawai kebodohan pemilik barang ini, hati mereka jadi mantap dan malam ini juga berniat turun tangan.

Setelah lewat beberapa kampung lagi, di depan adalah lereng pegunungan, penunggang kuda yang wira-wiri mengikuti iringan kereta mereka tambah banyak, semuanya bertampang jahat menakutkan.

Tentu saja para kusir kereta jadi ketakutan, diam-diam mereka bersepakat bilamana kawanan bandit datang mereka akan menyelamatkan diri lebih dulu.

Lamkiong Siang-ju dan lain-lain juga tidak tahu untuk apa Hong Man-thian membeli sangkar besi besar sebanyak itu, akhirnya mereka coba minta keterangan kepadanya.

Hong Man-thian tertawa, tuturnya, ”Dulu, terjadi sebuah Lelucon, begini ceritanya. Seorang membawa galah bambu masuk ke kota. Baik bambu melintang maupun menegak tetap sukar memasuki gerbang kota. Setelah berkutak-kutek sekian lamanya, akhirnya orang itu melemparkan galah bambu ke dalam kota melalui atas tembok benteng.

“Seorang di tepi jalan terbahak-bahak geli, katanya, ‘Bodoh amat orang ini, kenapa galah bambu itu tidak dipatahkan menjadi dua atau tiga potong, dengan begitu kan leluasa pergi ke mana pun’.”

Loh Ih-sian melenggong, ia pun tidak paham arti lelucon itu, katanya, “Kenapa dia tidak meluruskan bambunya dan menerobos masuk ke kota . . . . ”

“Jika dia masuk kota begitu saja kan bukan lagi lelucon namanya,” ujar Hong Man-thian dengan tergelak.

Lamkiong Peng juga tertawa geli.

Maka Hong Man-thian melanjutkan, “Jika kawanan penjahat melihat kusimpan peti harta benda di dalam sangkar besi, tentu mereka akan tertawa akan kebodohanku serupa orang vang membawa galah bambu itu, kan sangkar besi dapat juga diangkut sekalian biarpun peti tersimpan di dalamnya. Mereka lupa bahwa orang yang membawa galah bambu itu mendadak. bisa membawa galahnya masuk ke kota dengan lurus begitu saja, untuk ini kawanan bandit itu tentu tak bisa tertawa lagi.”

Loh Ih-sian meraba kepalanya yang botak, “Memangnya apa gunanya sangkar besi sebanyak ini?”

“Jika kuceritakan apa gunanya, tentu juga bukan lelucon lagi.” kata Hong Man-thian.

Mendadak burung beo yang selalu hinggap di pundak Hong Man-thian itu ikut bersuara, “Lelucon , .. lelucon . . . . ”

Pada saat itulah sekonyong-konyong tiga anak panah mendenging memecah angkasa sunyi.

Kembali burung beo itu berteriak, “Lelucon datang . . . lelucon datang . . . . ”

Lamkiong Siang-ju tidak heran, ia memang sudah menduga akan kejadian demikian. Ia cuma mengatur rombongan kereta menjadi satu lingkaran, para kusir sama menyingkir ketakutan.

Terdengar dari kanan-kiri suara derap kaki kuda yang ramai, debu mengepul, serentak muncul berpuluh penunggang kuda. Dari arah timur dipimpin seorang bermuka hitam dan berjenggot pendek, kelihatan gagah perkasa, segera ia berteriak, “Inilah Thian-gwa-hui-lai-poan-cai-thian (setengah bukit melayang turun dari langit) berada di sini, para saudara siap!”

Sambil bersuara ia terus melompat ke atas dan berdiri di atas pelana kudanya dengan gagah. Segera kawanan penunggang kuda dari beberapa penjuru itu sama berhenti di se-keliling lelaki kekar itu.

Dari rombongan sana tampil lagi tiga penunggang kuda yang gagah, mereka melompat turun dari kudanya dan berkumpul untuk berunding.

“Hah, rupanya beberapa rombongan bandit ini sudah saling kenal, semula kukira mereka akan saling cakar-cakaran, agaknya tontonan menarik ini tidak jadi muncul,” ucap Loh Ih-sian dengan tertawa.

“Tontonan menarik sih masih ada,” ujar Hong Man-thian. “Untuk itu hendaknya kalian jangan turun tangan dulu, turutlah kepada caraku.”

Dalam pada itu keempat lelaki tadi setelah berkumpul dan berunding, lalu mereka melangkah maju seorang diantaranya yang kurus kecil tapi mata bersinar tajam segera beseru, “Di mana pemilik iringan kereta ini harap tampil untuk bicara.”

Orangnya kecil, tapi suaranya besar, Hong Man-thian berlagak bingung dan memandang kian kemari, tanyanya, “Eh, di mana orang yang bicara itu?”

Tentu saja si kurus kecil mendongkol, jengeknya, “Apakah matamu belum melek, di sinilah aku yang bicara.”

Hong Man-thian sengaja berkerut kening, katanya, “Ai, rasanya kita belum saling kenal, entah ada petunjuk apa Anda mengajak bicara padaku?”

Si kurus terbahak, “Haha, supaya kautahu, aku inilah Jiu-hong-kui-yap (angin musim rontok menyapu daun) Toh Stau-giok dari Lok-yap-ceng …. ”

“Haha, Lok-yap-ceng (perkampungan daun rontok), tampaknya nama yang baik juga,” seru Hong Man-thian,

“Ketiga orang ini yang satu adalah Oh-taihiap yang terkenal dengan ilmu goloknya dari Hun-cui-koan dan . . . . ”

“Untuk apa banyak omong dengan dia,” sela seorang temannya yang bersuara lantang tadi. “Ayolah sahabat, terus terang saja kita buka kartu, memangnya perlu apa kau berlagak bodoh. Tinggalkan keretamu dengan seluruh isinya dan jiwa kalian akan diampuni.”

Hong Man-thian mengelus jenggot dan pura-pura kaget, “Hah, kukira kalian datang untuk ikut minum arak bersamaku, tak tahu-nya kalian mengincar harta benda juga?”

‘O, barangkali engkau ini penggemar sanjak,” si jangkung menyeringai. “Baiklah, biar aku Thi Toa-kan membawakan sajak bagimu, nah dengarkan . . . Gunung ini aku yang buka, hutan ini aku yang tanam. Jika ingin lalu di sini, bayar dulu uang jalan. Ingat, jangan coba coba bilang tidak, senjata kami tidak kenal ampun.”

Mendadak ia ayun kepalan dan meng-hantam kepala salah seekor kuda, kontan kepala kuda pecah, belum lagi sempat meringkik sudah roboh binasa.

Lamkiong Siang-ju dan lain-lain tetap tenang saja. Sebaliknya Toh Siau-giok dan dan begundalnya sama berseri kaget, “Wah, tangan hebat!”

Thi Toa-kan tertawa, katanya, “Nah, dapat kalian pahami tidak akan sajakku?”

Hong Man-thian berlagak terkejut, “Wah, kusangka kalian adalah kaum pelancong yang iseng, siapa tahu kalian ini kaum bandit dan perampok. . . ”

Diam-diam ia mengedipi Lamkiong Peng, lalu berteriak. “Ai celaka, ada bandit! Ayolah lekas kemari pengawalku, hajarlah bandit ini!”

Lamkiong Peng merasa geli. segera ia tampil ke muka.

Semula Thi Toa-kan dan begundalnya melengak juga, tapi ketika diketahui yang muncul cama seorang anak muda belia, hati mereka menjadi tabah, dengan tertawa Thi Toa-kan berseru, “Haha, apakah ini jago pengawalmu. Eh, Toa piauthau yang terhormat engkau dari Piaukiok mana? Setelah kenal nama kami, masakah kauberani main kayu lagi dengan kami?”

Belum lenyap suaranya, tahu-tahu Lamkiong Peng melompat maju dan “plok”, pipi-nya telah tergampar dengan tepat.

Keruan Thi Toa-kan melengak. teriaknya murka, “Binatang ,….”

Baru saja bersuara, pipi sebelah lain juga kena gamparan keras, ia tergetar mundur dengan mulut berdarah, sambil mengusap darah segera ia hendak menerjang maju.

Tapi Toh Siau-giok keburu menarik baju-nya dan mendesis, “Sabar dulu!”

Lalu ia berkata kepada Lamkiong Peng, ‘Eh, lihai benar kungfu saudara muda ini, siapakah namamu dan murid dari perguruan mana?”

“Aku murid Sin-Hong, Lamkiong Peng ada nya!” seru anak muda itu lantang.

Thi Toa-kan, Toh Siau-giok, dan Oh Cin, si jago golok dan seorang lagi berbaju hitam bernama Tio Hiong-to berjuluk Im-yang-poh, si kampak, saling pandang dengan air muka berubah, seru Toh Siau-giok, “Hah, Anda inikah Lamkiong Peng?”

Lamkiong Peng hanya mendengus saja tanpa bicara lagi.

Hendaknya maklum, sejak pertarungan sengit di restoran Koai-cip-lau dan menerjang Hui-goan-san-ceng tempat Wi.Ki dahulu, Lamkiong Peng lantas tersiar luas di kangouw dan disegani.

Keruan keempat orang itu sama gentar, Thi Toa-kan menyingkir ke samping dan memanggil seorang anak buahnya, mendadak dijambretnya leher baju orang dan didamperatnya, “Inikah hasil selidikanmu, kaubilang pengawal iringan kereta ini cuma orang tua yang cacat dan reyot, mengapa bisa mendadak muncul seorang Lamkiong Peng?”

Anak buahnya ketakutan, ‘Hah, dia . . . dia Lamkiong Peng?”

Kontan Thi Toa-kan menjotosnya sehingga mencelat.

Segera keempat orang itu berunding apa yang harus dilakukannya lebih lanjut.

Tio Hiong-to mendesis, “Kabarnya Lam kiong Peng ini sangat lihai, tapi kita sudah telanjur datang, masa harus pulang dengan tangan hampa. Biarpun hebat, dua kepalan takkan mampu melawan empat tangan, kalau kita maju sekaligus, masa kali perlu takut padanya?”

“Betul”. sambut Oh Cin. “Betapapun kita berempat harus mengujinya dulu.”

Setelah sepakat, segera mereka maju lagi bersama, cuma sikap mereka sudah tidak segalak tadi.

Toh Siau-giok mendahului bicara, “Jika iringan kereta ini dikawal oleh Lamkiong-kongcu, mestinya kami akan segera angkat kaki dari sini. Cuma, hehe, ketiga sahabatku ini justru ingin belajar kenal dulu sejurus dua dengan Lamkiong-kongcu, sedikitnya agar menambah pengalaman kami.”

Dia memang licik, semua tanggung jawab ia tumplek atas diri ketiga kawannya.

Lamkiong Peng mendengus, “Ayolah sila-kan mana dulu yang akan maju?!”

Toh Siau-giok menyurut mundur malah, Thi Toa-kan bertiga juga saling pandang dengan ragu, mereka hanya berani main kerubut, untuk satu lawan satu mereka jeri. Terlebih Thi Toa-kan yang habis merasakan digampar, betapapun ia tidak berani maju sendirian.

Terdengar Toh Siau-giok berucap di samping, “Ketiga saudara jangan berebut turun tangan, masa di antara saudara sendiri perlu rendah hati?”

Muka Oh Cin tampak merah, mendadak ia berpaling dan menjengek, “Aneh juga, kenapa mendadak Toh-heng seperti tidak berkepentingan lagi akan urusan ini?”

“Aku memang tidak ingin berebut duluan dengan kalian, jika Oh-heng juga sangsi, silakan mundur saja menonton di samping.” sahut Toh Siau-giok.

Oh Giu menjadi gusar, Hm, memangnya kaukira aku jeri, apa langannya kaumaju untuk belajar kenal dengan dia,” ucap Oh Cin. Segera ia melangkah maju sambil melolos golok.

Mendadak Hong Man-thian berseru sambil menggoyangkan tangannya, “Eh, jangan! Nanti dulu!’

Oh Cin melengak dan bertanya, “Ada a pa lagi?”

“Lamkiong-piauthau,” kata Hong Man-thian. “Hendaknya urusan ini jangan sampai terjadi perkelahian.”

Lamkiong Peng melongo heran juga.

Hong Man-thian lantas menyambung, “Sebab kalau perkelahian ini terjadi serentak kawanan orana gagah ini pasti akan main kerubut, jika terjadi demikian, wah, aku si tua bangka ini pasti akan celaka. Padahal kuminta engkau menjadi pengawalku justru berharap cukup dengan namamu dapatlah barang kirimanku ini akan sampai di tempat tujuan dengan aman, sekarang gelagatnya ternyata kurang menguntungkan, rasanya lebih baik kukorbankan sedikit harta bendaku saja, yang penting aman dan selamat.”

“Hm, ternyata kaupun bisa berpikir panjang,” jengek Oh Cin. “Jika kau mau kompromi baiklah akan kudamaikan bagimu.”

Si dogol Thi Toa-kan juga lantas membusungkan dada dan berseru, “Mendingan kau dapat melihat gelagat, kalau tidak, hmm . . . .”

Diam-diam Lamkiong Peng merasa geli dan mengundurkan diri.

Hong Man-thian lantas berkata pula, “Sangkar besi di atas kereta tidak digembok, bilamana kalian mau, silakan ambil saja, asal-kan jangan dikuras habis, tapi sisakan yang pantas uutuk hari tuaku.”

Meski Lamkiong Peng dan lain-lain tahu tingkah orang tua ini pasti menarik, tapi sejauh ini belum lagi diketahui apa sebenarnya maksudnya.

Sebaliknya Thi Toa-kan dan Iain-lain sangat girang, segera mereka memberi tanda ke-pada anak buahnya dan siap hendak membongkar peti.

Mendadak Thio Hiong-to berteriak. “Nanti dulu!”

“Ada apa?” tanya Oh Gin kurang senang.

“Biarpun saudara sckandung, utang-piutang juga harus dihitung dengan betul,” kata Tio Hiong-to. “Tampaknya rejeki hari ini tidaklah sedikit, meski di antara kita sudah kenal baik, perlu juga segala sesuatu diatur secara jelas. Peti-peti ini berukuran yang sama, isinya juga tidak seragam, bilamana antara kita cuma ambil begitu saja dan bisa kacau dan tidak adil”

“Betul,” sambut Oh Cin, “tadi pihak kami turun tangan dahulu, dengan sendirinya hak utama berada padaku. Mengenai Toh heng, jika dia sudah rela menonton saja di samping, dengan sendirinya ia pun melepaskan haknya.”

Seketika orang Lok-yap-ceng menjadi gempar, segera ada yang melolos senjata dan siap tempur. Tapi Toh Siau-giok memberi tanda kepada anak buahnya itu supaya tenang.

Rupanya dia sudah menduga di balik urusan ini pasti ada sesuatu yang tidak beres, umpama betul persoalannya semudah ini juga dia sudah siap sedia untuk merobohkan lawan.

Di antara keempat pentolan bengal ini memang Toh Siau-giok yang paling licik dan licin, selain kungfunya lebih tinggi juga lebih pandai menggunakan otak.

Tio Hiong-to lantas menarik muka dan mendengus, “Hm, bilakah Oh-heng pernah turun tangan’ Thi-beng, apakah kaulihat?”

“Kalau bicara turun tangan, kukira akulah yang paling dulu,” ujar Thi Toa-kan. Teringat pada dua gamparan yang dirasakannya tadi, tanpa terasa mukanya menjadi merah.

Tentu saja Oh Cin kurang senang, goloknya bergerak, serunya, “Habis bagaimana cara membaginya menurut pendapat kalian?”

“Dengan sendirinya pihak Thian-tai-ce ka-mi berhak mengambil dulu.” seru Thi Toa-kan sambil mcmbusungkan dada. Dia memang tinggi besar, sekali membusung mendadak perawakannya bertambah satu kepala lebih tinggi daripada orang lain.

“Hm, kalau bicara tentang tubuh dengan sendirinya Thi-heng lebih gede, cuma sayang tubuh gede terkadang juga tiada gunanya,” ejck Tio Hiong-to.

“Kurangajar! Kaubilang apa?” bentak Thi Toa kan.

Oh Cin juga angkat goloknya dan berseru “Apa pun engkau tidak berhak ambil dulu.”

Tio Hiong-to melirik Toh Siau-giok sekejap lalu berkata, “Kukira biarkan Toh-heng saja yang membagi rata rejeki ini. Kepandaian Toh-heng paling tinggi, anggota Lok-yap-ceng juga paling banyak, kupercaya dia pasti tidak akan menang sendiri dan bikin rugi orang lain.”

Rupanya dia merasa pihak sendiri tidak sanggup menghadapi pihak yang lain, maka cepat ia ganti haluan dan ingin mencari kawan.

Diam-diam Toh Siau-giok mengawasi air muka Lamkiong Peng dan lain-lain, dilihat-nya anak muda itu tenang-tenang saja. sorot matanya menampilkan rasa geli, tergerak hatinya, dengan tertawa ia berkata, “Ah, soal harta bagiku sih tidak kupikirkan lagi, silakan kalian bertiga membagi sendiri.”

Habis berkata, benar juga ia lantas memberi tanda agar anak buahnya menyingkir mundur. Meski penasaran, terpaksa anak buahnya menurut.

Selagi Thi Toa kan bertiga melenggong, tiba-tiba Hong Man-thian berseru pula dengan tertawa, “Ai, sudah kukatakan silakan bagi saja sendiri, tapi kalian ternyata sungkan-sungkan. Jika begitu, aku ada juga suatu akal baik, mungkin dapat kalian setujui.”

Tio Hiong-to kuatir pihaknya akan dikerubut oleh Oh Cin dan Thi Toa-kan, segera ia mendahului menyatakan setuju, “Bagus, jika Losiansing mau turun tangan dengan bijaksana, kupercaya caramu membagi pasti adil.”

Oh Cin dan Thi Toa-kan saling pandang sekejap, dalam hati mereka juga berpikir sama seperti Tio Hiong-to, maka tiada jalan lain kecuali mengangguk setuju.

“Kalian tahu, orang tua semacam aku ini paling takut melihat darah bercucuran, sebab itulah kurela menyerahkan sebagian harta bendaku ini, yang penting semuanya berjalan aman dan lancar. Cuma kalian harus berjanji juga setelah mendapatkan pesangon yang layak jangan lagi kalian cari perkara lagi, kalau tidak . . .. ” mendadak Hong Man-thian menarik muka dan menyambung, “Kalian sudah menyaksikan sendiri kepandaian jago pengawalku, bilamana dia tidak mau turut lagi kepada perkataanku, tentu kalian tahu sendiri akibatnya.”

Mau-tak-mau ketiga orang itu merasa ngeri juga, terutama Thi Toa-kan yang sudah kena hajaran Lamkiong Peng tadi, cepat Tio Hiong-to mendahului menanggapi, “Baik, asal saja caramu adil, kami pasti setuju.”

“Haha, tentu saja adil,” kata Hong Man-thian. “Kalian adalah kesatria kaum Lok-lias makin gagah makin mengagumkan, makin banyak tangan kalian berlumuran darah makin dipuja, Maka sekarang kuingin tahu dulu siapa kiranya di antara kalian yang paling gagah perkasa. Asalkan setiap orang dapat menceritakan suatu kejadian nyata dari hasil karyanya yang paling gagah perkasa, maka dia berhak mengambil dulu isi petiku ini. Tapi jika perbuatan yang pernah dilakukannya kurang gemilang, terpaksa harus disilakan menyingkir saja ke pinggir.”

Selesai berucap, mendadak tongkatnya terjulur, sebuah peti di luar sangkar dicungkit dan diraihnya ke depannya, lalu berkata pula, “Nah, ingin kutambahkan lagi, peti yang semakin dekat danganku isinya juga semakin berharga. Maka nanti bilamana di antara kalian harus berebut dulu mendului, terpaksa kalian harus menggunakan kepandaian sejati masing-masing untuk memperoleh peti ini.”

Semula orang-orang itu sama ragu oleh cara aneh yang diuraikan Hong Man-thian itu, tapi kemudian demi peti dibuka dan isinya ternyata penuh batu permata yang sukar di nilai, seketika mata mereka menjadi merah dan lupa daratan.

Maklum, kebanyakan manusia tamak kalau urusannya sudah menyangkut harta, maka tuju-an menghalalkan cara dan tidak kenal malu lagi, segera mereka berebut dulu menceritakan perbuatannya yang gagah perkasa.

Sambil menepuk dada Thi Toa-kan ber-teriak, “Pernah pada suatu malam di kota Limhai sekaligus kulakukan tujuh perkara besar, kusikat habis setiap orang yang memergokiku dan melawan, kubunuh semuanya sehingga mata golokku pun tumpul. Kejadian ini cukup diketahui siapa pun sehingga tidak perlu kuberi bukti atau saksi. Nah, apakah perbuatanku itu bukan sesuatu yang gagah perkasa?”

Habis berkata ia bergelak tertawa bangga. Oh Cin tidak mau kalah, segera ia menyambung, “Huh, hanya begitu saja belum masuk hitungan. Pernah pada suatu hari, di luar kota Thaisun, di tengah siang hari bolong sekaligus kukerjai berpuluh anak perempuan yang sedang berziarah ke Gan-tang-san, semuanya kusikat . . . . ”

Begitulah mereka seperti kuatir ketinggalan, satu persatu mereka menuturkan “karya besar” masing-masing, bahkan kuatir tidak di percaya, mereka berani memberi bukti dan mengajukan saksi segala.

Seketika apa yang didengar Lamkiong Peng dan Iain-lain adalah kisah kejahatan yang meliputi perampokan, pembunuhan dan sebagainya yang membuat darah meluap. Setiap perbuatannya yang “gemilang” itu pantas dijatuhi hukuman penggal kepala sepuluh kali.

Toh Siau-giok tetap mengikuti semua ke jadiin itu secara diam-diam, makin dipandang makin dirasakan urusan tidak biasa.

Tadi ketika tongkat Hong Man-thian menggait peti sudah dapat didengarnya suara logam, jelas bukan sembarangan tongkat. Apalagi cara kakek yang kelihatan reyot itu menentukan pemberian isi peti juga harus diragukan. Makin dipikir makin ngeri hati Toh Siau-giok, tanpa terasa ia pun menyurut mundur terlebih jauh.

Anak buah Lok-yap-ceng mestinya penasaran karena orang lain bakal mendapat rejeki nomplok, tapi pihaknya justru diperintahkan mundur. Tapi biasanya mereka sangat tunduk kepada kebijaksanaan sang Cengcu, terpaksa mereka ikut mundur sesuai perintah Toh Siau-giok.

Dan begitulah, setelah gembong Lok-lim itu sama menguraikan perbuatan gagah masing-masing, kemudian mereka lantas bersiap-siap di sekeliling Hong Man-thian.

“Bagus, bagus, kalian ternyata sama gagah perkasa,” seru Hong Man-thian. ”Sekarang bolehlah kalian siap sedia, sekali kuberi tanda dengan tepukan tangan, bolehlah kalian buka dulu peti dalam sangkar yang sudah terbuka itu.”

Pelahan ia lantas angkat tangannya, jantung semua orang sama berdebar menantikan beradunya telapak tangannya, semuanya melotot dan siap tempur.

“Plok,” begitu tangan Hong Man-thian menepuk, beramai-ramai orang-orang itu lantas menyerbu serupa segerombolan binatang buas menerkam mangsanya. Ada yang menubruk peti besar-kecil di atas kereta, ada yang membuka peti di dalam berbagai sangkar besi itu.

Melihat kelakuan orang-orang yang biadab itu, sebenarnya Lamkiong Peng dan Loh Ih-sian sudah tidak tahan lagi rasa gemasnya. Sedangkan Lamkiong Siang ju dan istrinya tetap tenang saja, mereka yakin tokoh kosen angkatan tua seperti Hong Man-thian ini pasti mempunyai maksud tajuan yang di luar dugaan.

Dalam pada itu berpuluh orang itu sebagian besar telah menyerbu peti di dalam sangkar besi tanpa pikir akibatnya.

Mendadak Hong Man-thian membentak, “Tutup pintu sangkar!”

Serentak Lamkiong Siang-ju berempat bergarak cepat, hanya sekejap saja berpuluh pintu sangkar besi itu sudah ditutup rapat.

Kawanan berandal itu lagi lupa daratan ingin merebut rejeki, tentu saja mereka tidak memperhatikan kejadian lain. Ketika mereka menyadari apa yang terjadi, mereka hanya bisa mengeluh dan semuanya sudah terlambat.

Mendadak Hong Man-thian mendekap bibir dan bersuit keras, makin lama makin melengking suitannya sehingga anak telinga orang terasa pekak. Lamkiong Sian-ju berempat saja sama tergetar jantungnya, apalagi kawanan berandal itu, sebagian sudah kelengar, ada yang sanggup bertahan juga tidak urung muka pucat dan gigi gemertuk, Toh Siau-giok yang berdiri agak jauh pun merasa lemas kakinya, ingin lari pun tidak mampu.

Di tengah suara suitan dahsyat itu, satu-dua tutup peti besar di antara puluhan buah peti itu pelahan mulai terbuka. Sekonyong-konyong terdengar raungan yang menggetar, seekor singa pelahan menongol dari dalam peti besar itu.

Menyusul terdengar pula suara harimau meraung, suara serigala, beruang dan sebagai-nya, suara berbagai binatang buas itu serasa mengguncang bumi dan menggetar sukma.

Sebagian binatang buas itu muncul dari peti di sangkar besi sana, dari sangkar besi sini menongol kawanan ular berpuluh ekor banyaknya

Tadi kawanan berandal itu menyerbu serupa binatang buas kelaparan, sekarang mereka sendiri yang menjadi mangsa kawanan binatang buas yang benar-benar kelaparan itu, seketika darah berhamburan dan daging beterbangan, sungguh adegan yang mengerikan.

Pada saat itulah dari kejauhan mestinya sedang melayang tiba beberapa sosok bayangan orang Begitu mendengar suara suitan dahsyat itu, serentak mereka berhenti, seorang di antaranya bertubuh ramping dan gemulai, dia itulah Kwe Giok he.

Di kanan-kirinya dua orang lelaki, yang seorang adalah Yim Hong-peng yang gagah dan yang lain adalah Ciok Tim yang bermuka pucat. Di belakang mereka mengikut empat orang tua, mereka adalah empat di antara Kang-lam-jit-eng atau tujuh elang dari daerah Kanglam.

“Suara suitan siapa itu, begitu lihai!” ta-nya Giok-he dengan kening bekernyit.

“Kalau tidak salah duga, rasanya seperti suara Hong Man-thian yang dahulu seorang diri menerjang dan membakar Ban-siu-san-ceng, itulah Iwekang Boh-giok-siu (suitan penghancur batu pualam) yang maha lihai,” ujar si elang hitam sambil mendekap telinganya.

“Masakah tokoh tua itu belum mati?” tanya Giok-he.

“Konon dahulu dengan lwekangnya yang maha ampuh Boh-giok~siau itu dia dapat menundukkan kawanan binatang buas sehingga Ban-siu-san-ceng dapat dibobolnya,” tutur Yim Hong-peng.

“Jika rnakhluk tua she Hong itu berada di situ, tampaknya kedatangan kita ini hanya sia-sia belaka, marilah kita pergi saja,” ajak Giok-he sambil menarik tangan Yim Hong-peng.

Dengan sendirinya tingkah laku Giok-he itu tidak terlepas dari pengawasan Ciok Tim, air mukanya tampak kelam, entah gusar entah sedih, tapi akhirnya ia ikut juga di belakang Giok-he dengan kepala menunduk, mereka ber-lari pergi secepat datangnya tadi.

Ketujuh orang ini datang dan pergi lagi, dengan sendirinya hal ini tidak diketahui oleh orang-orang yang berada di sana.

Sementara itu suitan Hoag Man-thian su-dah mereda, namun suara raungan binatang buas belum lagi lenyap, apalagi ditambah dengan suara kawanan binatang buas itu sedang mengganyang mangsanya.

Menyaksikan kejadian ngeri itu, Lamkiong Peng merasa ingin tumpah, tapi darah pun bergolak, meski jelas diketahuinya orang-orang itu seluruhnya adalah kaum penjahat yang tak terampunkan, tapi dia tidak sampai hati menyaksikan mereka dijadikan umpan binatang buas itu.

Ia memburu ke depan Hong Man-thian dan berseru, “Sudahlah, berhenti!”

Dibukanya semua pintu sangkar besi itu’

Hong Man-thian melengak, tapi mendadak ia mendongak dan tertawa keras. Begitu hebat suara tertawanya sehingga kawanan binatang itu sama terpengaruh pula serupa kena sihir dan lupa mengganyang mangsanya lagi.

Di dalam sangkar besi masih ada belasan orang yang belum mati dan masih meronta-ronta, demi mendengar suara lengking tawa Hong Man-thian, serentak mereka terhentak sadar, cepat mereka merangkak dan menerobos keluar, Thi Toa kan kelihatan buntung lengan kanan akibat digigit singa. Thio Hiong-to seku-jur badan berlumuran darah dan terluka parah. Sedangkan Oh Cin sudah hancur lebur dirobek oleh cakar harimau dan sebagian tubuhnya sudah menjadi isi pcrut binatang buas itu.

Dalam sekejap saja orang-orang yang beruntung masih hidup itu segera melarikan diri. Diam-diam Toh Siau-giok juga bersyukur tidak menjadi mangsa kawanan binatang dan lekas-lekat mengeluyur pergi.

Serentak Hong Man-thian juga beraksi pula dengan tongkatnya, ia mengetuk tubuh binatang buas itu, lalu dicengkeram kuduknya terus dilemparkan ke dalam peti, hanya sebentar saja berpuluh ekor singa, harimau dan serigala telah dibekuk seluruhnya dan ditutup lagi ke dalam peti.

Puluhan ekor ular berbisa itu pun digiring masuk kembali ke dalam peti, suasana menjadi tenang pula. Kalau tidak ada bekas darah dan ceceran daging. siapa pun tidak tahu baru saja telah terjadi peristiwa yang mengerikan itu.

“Nah, setelah kenyang makan darah dan daging orang jahat, tentu kalian dapat meringkuk dan puasa belasan hari lagi,” ucap

Man-thian dengan tertawa. “Beginikah caramu memberi makan kawanan binatang?” tanya Lamkiong Peng.

“Kawanan penjahat itu digunakan sebagai umpan binatang buas kan cukup adil dan setimpal bagi perbuatan mereka?” jawab Hong Man-thian tertawa.

Seketika Lamkiong Peng melongo dan tidak dapat bicara lagi.

Loh Ih-sian menghela napas, katanya, “Sungguh tak terpikir olehku dalam petimu itu ter-simpan barang hidup, anehnya mengapa kawanan binatang itu sedemikian menurut dan mau mendekam diam di dalam peti. Kalau tidak melihat sendiri sungguh sukar untuk dipercaya”

“Kalau diceritakan sebenarnya juga tidak perlu diherankan,” tutur Hong Man-thian.

“Caraku mengendalikan kawanan binatang ini tiada ubahnya seperti ilmu tiam-hiat, pada bagian tertentu tiap binatang juga ada tempat yang lemah, asalkan dapat kaukuasai tempat dan waktunya secara tepat, sekali ketuk dia takkan berdaya dan akan tunduk padamu.”

Selagi mereka asyik bicara tentang cara mengatasi binatang buas di sebelah sana Lamkiong Peng lagi sibuk menggali liang untuk mengubur sisa tubuh manusia yang berserakan itu.

Tidak lama kemudian, kawanan kuda yang ijuga jatuh kelengar karena suara suitan Hong Man-thian tadi sebagian telah sadar kembali, sebagian lain mati ketakutan melihat binatang buas tadi.

Iringan kereta lantas melanjutkan perjalanan, perasaan semua orang sama tertekan dan jarang yang bicara.

Dua hari kemudian, sampailah mereka di semenanjung Sam-bun-wan, sejauh mata memandang tertampaklah air laut yang biru dan beriak itu.

Sudah sejak jaman kuno perdagangan Tiong-kok melalui laut terbuka secara luas, semenanjung Sam-bun wan ini adalah pelabuhan perdagangan yang merupakan pangkalan besar bagi padagang di wilayah Ciatkang. Kangsoh dan Anhui. Sebab itulah kota pelabuhan ini sangat ramai.

Menjelang magrib, di jalanan kota lantas penuh orang berlalu lalang, kebanyakan adalah kaum nelayan yang berbau amis dan pelaut yang berbaju pendek dan berbadan kekar, dada terbuka dan lengan telanjang. Mereka masuk ke kota untuk mencari hiburan, makan minum, tidak ketinggalan main perempuan pula.

Dengan sendirinya suasana kota pelabuhan begini dirasakan serba baru bagi Lamkiong Peng, ia berdiri di luar hotel memandangi keramaian itu.

Hong Man-thian sendiri asyik minum arak Iagi. Mendadak ia mengeluarkan sehelai kertas panjang dan dibentang di atas meja. Kertas itu penuh tulisan yang tidak rajin, ada yang gaya tulisannya indah, ada yang tulisannya serupa cakar ayam.

Baris pertama tulisan itu berbunyi: Timbel 300 kati, air raksa 100 kati.

Baris berikutnya tertulis: Benang 100 kati, besi seribu kati.

Lalu tertulis Iagi berbagai jenis barang keperluan lain.

Rupanya kertas itu adalah sehelai daftar belanja. Anehnya kebanyakan barang yang tertulis itu bukanlah barang keperluan sehari-hari.

Yang paling aneh adalah bagian terakhir, barang belanja yang diperlukan ternyata tertulis: Harimau satu ekor, singa jantan-betina sepasang, ular berbisa 120 ekor. Serigala dan macan tutul masing-masing dua ekor.

Waktu Lamkiong Peng dan lain-lain ikut membaca daftar itu, semuanya terheran-heran, entah apa yang akan di perbuat oleh tokoh-tokoh kosen yang berdiam di pulau misterius Cu-sin-to dengan barang belanjaannya yang luar biasa ini?

Yang paling membingungkan adalah baris terakhir yang terbaca oleh Lamkiong Peng, ya-itu tertulis: Orang jahat sepuluh.

‘Masa orang jahat terhitung juga barang belanjaan? Apa gunanya dan akan dibeli di mana?” tanyanya heran.

“Nanti tentu kautahu sendiri,” ujar Hong Man-thian dengan tersenyum aneh, senyum misterius dan juga mengandung rasa duka.

Lamkiong Peng tidak dapat menerka maksudnya, ia pun tidak tanya lebih lanjut.

Habis makan-minum, Hong Man-thian lantas keluar untuk belanja, tapi pulangnya ternyata tidak membawa sesuatu barang.

Malamnya, Hong Man-thian memesan satu meja penuh santapan pilihan, sambil makan-minum ia mengajak mengobrol macam macam urusan. Dia memang pandai bercerita sehingga orang lain sama lupa lelah dan kantuk juga lupa tanya padanya kapan dan di mana dia akan berlayar.

Tanpa terasa perjamuan berlangsung hingga hampir tengah malam, tiba-tiba Hong Man-thian menuangkan arak bagi Lamkiong Siang-ju berempat, lalu angkat cawan dan berucap, “Betapa lama berkumpul akhirnya harus berpisah juga, di dunia ini memang tidak ada pesta yang tidak bubar. Bahwa sekali ini Hong Man thian dapat berkunjung ke Kanglam dan bertemu dengan para sahabat, sungguh kejadian yang menggembirakan. Cuma sayang tidak dapat berkumpul lebih lama, waktu berpisah sudah tiba, marilah kita habiskan secawan ini dan segera kumohon diri.”

Semua orang menyangka barang belanjaannya belum lagi lengkap, tentu dia akan tinggal lagi beberapa hari lagi, siapa tahu mendadak ia mengucapkan kata perpisahan, tentu saja semua orang terkesiap.

Lamkiong-hujin memandang putra kesayangan dengan perasaan berat, katanya, “Kenapa Hong-taihiap mendadak hendak berangkat di tengah malam buta, apakah tidak menunggu sampai . . . . ”

Belum lenyap suaranya, mendadak kepala terasa pening dan tidak sanggup bicara lagi.

Bahkan Loh Ih-sian dan lain-lain serentak juga merasa kepala pusing dan mata berkunang-kunang, bumi seperti berputar dan langit akan ambruk. Segala benda serasa berputar seperti kitiran.

Lamkiong-hujin terkejut, serunya kuatir, “Anak Peng . . . . ”

Segera ia berbangkit hendak mendekati Lamkiong Peng, tapi baru melangkah segera ia jatuh terkulai.

Lamkiong Peng juga tidak tahan oleh rasa pusing, samar samar dilihatnya sorot mata ibu kesayangan yang kuatir itu, tapi ia pun tidak berdaya dan tidak ingat sesuatu lagi.

Entah berselang berapa lama lagi, Samar-samar Lamkiong Peng merasa berada di sebuah pulau yang indah, tetumbuhan menghijau permai. Banyak bebuahan yang aneh, bahkan bumi penuh berserakan batu permata.

Di kejauhan ada sebuah istana megah dengan undak-undakan batu kemala dan tiang emas, di depan istana tampak bergerombol orang mondar-mandir serupa malaikat dewata di sorgaloka. Malahan mendadak dilihatnya ayah-ibunda juga berada di tengah orang banyak itu.

Saking girangnya mendadak ia memburu ke sana. Tapi tahu-tahu kakinya menginjak tempat kosong, di bawah ternyata jurang yang tertutup mega.

Ia menjerit kaget dan sekuatnya berusaha melompat ke atas, waktu ia membuka mata, dirasakan keringat membasahi tubahnya, kira-nya baru saja mimpi buruk.

Ia berpaling, tampak dirinya berbaring di dalam ruang yang kosong, hanya terlihat sebuah tempat tidur, sebuah meja dengan dua kursi. Di ketinggian ada sebuah jendela kecil, bintang gemerlip di angkasa Iuar.

Rupanya ia telah tertidur sehari semalam, ia coba menenangkan diri dan meronta bangun, dirasakan lantai bergoyang-goyang, terdengar pula suara gemercak air di sekeliling, tiba-tiba disadarinya dirinya berada di dalam sebuah kapal yang terombang-ambing di tengah laut. Kiranya dalam keadaan tidak sadar ia telah jauh meninggalkan ayah-bundanya, me-ninggalkan tanah kelahirannya, meninggalkan kampung halaman dan orang yang dikenalnya, kini jaraknya entah sudah berapa jauh, sedetik demi sedetik bertambah jauh terpisah.

Pedih rasa hatinya, apakah akan tamat begini saja kehidupannya? Sedangkan budi kebaikan orang tua dan guru belum lagi dibalas-nya, masih banyak amal bakti yang perlu dilaksanakannya pula.

Setelah termenung sekian lama, mendadak ia mengepal tinjunya dan bergumam, “Tidak, aku masih harus pulang ke sana, harus!”

Mendadak seorang tertawa dan berkata sambil mendorong pintu kamar, “Haha, bagus!

Tekadmu harus dipuji.”

Kelihatan Hong Man-thian muncul dengan membawa poci arak, langkahnya agak sempoyongan, jelas terlalu banyak menenggak arak.

“Mari keluar,” kata Hong Man-thian ke-mudian.

Ketika Lamkiong Peng ikut ke geladak kapal, tertampak jauh di ufuk timur sana sudah ada cahaya remang-remang, hanya sebentar saja subuh ternyata sudah tiba. Pemandangan kelihatan indah, tapi keadaan di atas geladak kapal morat-marit penuh tertimbun berbagai macam barang.

Di buritan sana, di samping tiang layar tertaruh sebaris sangkar besi, isinya tentu saja kawanan binatang buas yang sudah dilepaskan dari peti, ssmuanya meraung dan menyeringai ketika melihat manusia.

Seorang lelaki kurus dan pendiam dengan dada baju terbuka berdiri di buritan sambil memegang kemudi, ada lagi seorang lelaki pendek kecil dan agak buntak dengan baju yang dekil, kepala kurapan dan lagi cengar-cengir.

Melihat orang ini, timbul rasa jemu dan mual. Kebanyakan pelaut dan nelayan, biarpun kasar dan miskin, rata-rata juga kelihatan sehat dan bersih, tapi orang ini selain kotor dan menjemukan mukanya, suaranya juga tidak enak didengar.

“Siapa orang ini?” tanya Lamkiong Peng.

“Juru masak,” jawab Hong Man-thian.

Lamkiong Peng melengak, terbayang sayur mayur yang akan dimakannya selanjutnya adalah hasil pengolahan orang dekil jni, seketika tambah mual rasanya, gumamnya.

“Kenapa mencari juru masak seperti ini?”

Hong Man-thian tergelak, katanya, “Kau-tahu, bukan pekerjaan gampang untuk mendapatkan pelaut ini. Biarpun orang yang biasa hidup berkecimpung di lautan, siapa yang mau ikut berlayar tanpa batas waktu dengan kapal yang tak dikenalnya?”

“Dan cara bagaimana Cianpwe mendapatkannnya?” tanya Lamkiong Peng.

Mendadak Hong Man-thian bersuit pelahan, burung beo piaraannya yang selalu mengintil ke mana dia pergi itu lantas hinggap di pundaknya.

“Panggil Jitko,” kata Hong-thian.

Segera beo itu berteriak, “Jitko…Jitko….”

Mendadak papan geladak tersingkap, seorang lelaki hitam kekar melompat keluar dari bawah geladak.

Terperanjat juga Lamkiong Peng melihat bentuk orang yang aneh ini, perawakannya pendek gemuk, pundaknya lebar sehingga bentuknya mirip peti. Punggung agak bungkuk dan kepala seakan-akan terselip di antara pundaknya, Namun gerak-geriknya justru sangat gesit, sekali lompat sudah berada di depan Hong Man-thian.

Rupanya yang buruk juga sangat mengejutkan, mulut lebar dengan gigi panjang serupa siung, dagunya mencuat ke depan. kelakunnnya kasar. Dengan tunduk kepala ia berkata kepada Hong Man-thian, “Apa yang Cukong ingin hamba kerjakan?”

Hong Man-thian terbahak-bahak, katanya kepada Lamkiong Peng, “Bersama dia inilah kami berdua berlayar mengarungi samudera raya dengan sebuah perahu kecil dan akhirnya sampai di daerah Kanglam. Kembalinya sekarang tentu saja kami tidak ingin menderita lagi, kami ganti kapal besar ini, tapi juga tambah muatan sedemikian banyak, maka kami juga perlu pakai tenaga pelaut cukup banyak.”

“Berapa banyak pelaut yang kaubawa?’ tanya Lamkiong Peng.

“Belasan orang”, jawab Hong Man-thian, “Apakah kauingin melihat mereka?”

“Ah, tidak,” jawab Lamkiong Peng sambil menggeleng. Setelah melihat bentuk “Jitko’ yang serupa binatang dan si juru masak yang memualkan itu, ia pikir kebanyakan pelaut yang mau bekerja di kapal ini tentu juga manusia yang tidak sedap dipandang.

Bangun kapal ini sangat kukuh, cuma ada sebuah tiang layar, sekarang layar sudah berkembang dan tertiup angin, ada layar buritan juga sudah dikembangkan, kapal laju dengan cepat.

Untuk pertama kalinya Lamkiong Peng merasakan kehidupan berlayar di samudera raya ini, lambat laun terlupalah segala rasa kesalnya, sebaliknya timbul rasa serba baru. Namun juga diharapkannya selekasnya mencapai tempat tujuan, dengan begitu dapat berdaya untuk selekasnya pulang ke Kanglam.

Advertisements

1 Comment »

  1. My brother suggested I might like this website. He was entirely right.
    This post truly made my day. You can not imagine simply how
    much time I had spent for this information! Thanks!

    Comment by obat ejakulasi — 14/08/2014 @ 6:48 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: