Kumpulan Cerita Silat

05/03/2008

Amanat Marga (14)

Filed under: Amanat Marga, Gu Long — ceritasilat @ 11:52 pm

Amanat Marga (14)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Eve1yn, Dragon, Nra, dan Ririn)

“Dan bagaimana setelah kau tahu sekarang?” jengek Loh Ih-sian.

Di luar sana masih gaduh, segera Yim ong hong beretriak, “Cin-loji, lekas membawa para saudara kita mengundurkan diri keluar perkamoungan, Hong-tun-sam-yu berada disini!”

Belum lenyap suaranya Cin Luan-ih telah melompat ke depan pintu, serunya kaget, “Ah, kiranya betul ketiga Taihiap berada disini, tak terduga kungfu yang kami latih selama berpuluh tahun ini tetap tidak mampu menahan sekali terkam dari udara oleh Loh tai-hiap.”

DI bawah hujan lebat sana mendadak ada orang berteriak, “Huh, Hong-tun sam-yu apa segala? Jauh-jauh kita sudah datang kemari, masa selalu satu patah kata ini saja kita lantas mundur dengan tangan hampa.”

Pada saat yang sama serentak belasan bayangan orang lantas menerjang maju.

Mendadak Cin Luan-ih membalik tubuh dan membentak, “Siapa itu yang bicara?”

Segera seorang leleki pendek kecil dengan sinar mata tajam tampil ke muka, seorang di sebelah kiri juga menjengek, “Hm, menyuruh kawan sendiri pergi, sedikitnya kau perlu di beri sedikit sangu? Betul tidak, kawan-kawan?”

Belasan orang sama mengiakan.

“Ah, kiranya kedua Pek cecu,” ucap Yim ong hong dengan tertawa sambil mendekati kedua orang itu. “Katakan saja terus terang, sesungguhnya apa yang kalian minta?”

Orang yang di sebelah kiri menjawab, “Dari jauh kami datang kemari, adalah layak bilamana kami minta bagian, sebagai orang tua tentu juga harus memikirkan nasib para saudara kami yang sudah lelah ini.”

“Baik, terimalah ini?” seru Yim ong hong sambil tertawa, berbareng kedua tangannya menyodok ke depan.

Terdengarlah suara “blang-blang” dua kali, kontan kedua Pek bersaudara menjerit dan tumpah darah serta terguling ke bawah undakan sana.

“Nah, siapa lagi yang minta bagian rezeki?” jengek Yim ong hong kemudian.

Seketika kawanan bandit sana bungkam, hanya suara hujan saja yang terdengar, belasan orang itu sama berdiri diam, bernafas saja tidak berani terlampau keras.

“Enyah!” bentak Yim ong hong.

Buru-buru belasan orang itu ngacir keluar.

Hong-ih-siang-pian lantas memberi hormat dan mohon diri.

“Sudah lama kita berkenalan, kalian ternyata belum lagi melupakan kami, meski sekarang kami sedang menghadapi urusan gawat, tapi bilamana kalian perlu bantuan sedikit banyak masih dapat kuberikan,” kata Lamkiong siang ju.

“Ah, cengcu tidak menghukum kami saja sudah membuat kami berterimakasih, mana kami berani mengharapkan urusan lain,” jawab Yim ong hong.

“Jika demikian, karena kami masih ada urusan, biarlah kita sudahi sampai di sini,” kata siang-ju sambil memberi tanda mengantar tamu.

Yim ong hong dan Cin luan-ih memberi hormat. Selagi mereka hendak melangkah pergi, mendadak Loh-ih-sian berkata, “nanti dulu, Ingin kutanya sedikit, ketika kalian datang tadi, tentu kalian telah bertemu dengan anak murid Tiam-jong di depan sana?”

“ya, Anak murid Tiam-jong sudah terluka lebih separuh, kecuali Tiam jong yan dan Thian-go berdua, yang masih sanggup bertempur tidak seberapa orang lagi.”

Habis menutur, kedua orang itu lantas mohon diri dan angkat kaki.

Setelah berada di tengah ruangan, Loh-ih-sian berkata, “Jika kepungan kawanan penyatron sudah menipis, kenapa kesempatan ini tidak digunakan Toako untuk mengangkat peti-peti ini keluar?”

Lamkiong siang-ju tersenyum pedih,”Para utusan Cu-sin-to sudah datang satu kali, tapi mereka tidak menjelaskan tempat penyerahan harta benda ini, umpama peti ini kita angkut keluar, lalu harus diantar kemana?”

Loh-ih-sian tercengang, mendadak ia menengadah dan bergelak tertawa, “Haha, dimana dan kapanpun, betapa banyak penyatron di sana, memangnya dengan gabungan kita takut takkan mampu menerobosnya?”

Sembari bicara, serentak ia guncangkan genta emas yang dipegangnya, suara genta yang nyaring berkumandang jauh di tengah hujan lebat.

Melihat Lamkiong Peng memandangi gentanya dengan terkesima, Loh-ih-sian bertanya, “Nak, apakah dapat kau dengar di mana letak keajaibannya bunyi genta ini?”

Lamkiong peng menggeleng dengan tersenyum.

“Genta emas ini sebenarnya adalah benda pusaka keluarga lamkiong kita,” tukas Lamkiong hujin, “genta ini seluruhnya ada tiga pasang, satu hal aneh mengenai genta emas ini adalah bila salah satu pasang diantaranya berguncang, kedua pasang yang lain juga akan ikut berbunyi. Gejala ini serupa paduan suara alat musik saja.”

Segera ia mengeluarkan sepasang genta emas dan diberikan kepada Lamkiong Peng, sesudah genta itu dipegang, mendadak Loh-ih-sian mengguncangkan gentanya, seketika genta di tangan Lamkiong peng juga ikut berbunyi.

Tentu saja Lanikiong Peng tcrhcran heran dunia ini mcmang pcnuh keajaiban, banyak urusan yang sukar dijclaskan dengan akal.

‘”Ketika kami bertiga masih malang melintang di dunia kangouw dahulu, hanya kung fu ibumu yang paling lcmah.” tutur Lamkiong Siang-ju. “Kami kuatir suatu tempo ibumu akan mcnghadapi bahaya, maka kubagikan genta emas ini kcpada mercka masing-masing satu pasang, bila ibumu mengalami bahaya, sckali genta berbunyi, segera kcdua pasang genta yang kami pegang ini juga akan me-ngcluarkan suara dan segera pula kami dapat menyusul ke tempatnya untuk memberi bantuan . . . . ”

Makanya ayahmu telah memberikan nama yang aneh dan juga enak didengar kepada genta yang serupa ini, yaitu Hou hou-lcng.” sambung Loh Ih-sian dengan tcrtawa.

“Ah, kisah berpuluh tahun yang lalu buat apa mengungkapnya Iagi.” ujar Lamkiong- hujin

“Anak Peng, apabila kaumau, biarlah sepasang gentaku ini bolch kuberikan padamu, selanjutnya bila berkclana di dunia kangouw

Mendadak teringat olehnya putra ke-sayangan sebentar Iagi akan menuju ke tempat jauh yang tidak diketahui di mana letaknya, sckctika wajahnya yang berseri bcrubah muram durja.

Lamkiong Siang-ju menghela napas pelahan, “Ya, nak, bolehlah kau simpan saja scpasang genta ini, ayah-ibu tidak dapat memberi benda berharga lain, hendaknya kcdua pasang genta ini dapat kausimpan dengan baik, kclak …. ”

Bicara urusan kelak, tanpa tcrasa ia menjadi scdih dan tidak sanggup meneruskan.

Di luar hujan masih lebat, suasana gelap gulita.

Mcmegangi keempat buah genta emas, Lamkiorig Peng juga menunduk diam.

Tiba-tiba Loh Ih-sian bcrkata dan tcrtawa lantang, “Haha, jika ayah-bundamu sudah menghadiahkau gentanya kepadamu, bila ku-simpan gcntaku sendiri, bisa jadi akan kau-pandang pamanmu ini memang orang kikir. Nak, ambil saja, biar kuberikan sckalian gentaku ini dm simpanlah baik-baik, kelak bila ketemukan gadis setimapal, boiehlah kaubagi dia sepasang genta ini.”

Dengan hormat Lamkiong Peng menerima pemberian itu.

“Apa pun juga, hari ini kita dapat ber-kumpul kembali, hal ini harus kita rayakan,” kata Lamkiong hujin. “Biarlah kuolah dua-tiga macam hidangan untuk teman minum arak kalian. Dengan hadirnya Loh-loji dan anak Peng di sini, paling tidak perasaanku akan lebih longgar.”

“Ah, masa mesti bikin repot Samoay scndiri,” ujar Loh Ih-sian.

“Apa boleh buat, kan semua kaum hamba di sini sudah dilepas,” kata Lamkiong-hujin.

Lalu Lamkiong Siang-ju membuka hiat-to para lelaki yang terluka karena membela per-kampungannya tadi disertai permintaan maaf, kcmudian mcreka disilakan istirahat di be-lakang.

Selcsai mengatur, makanan sedcrhana pun sudah dihidangkan.

Tapi belum lagi tiga cawan arak habis terminum, mendadak Loh Ih-sian berdiri dan membentak,” Siapa itu di luar?”

Di tengah kcgelapan malam di luar masih hujan lebat, terdengar suara gemersak ramai di undak-undakan. Sekali Lamkiong Sian-ju tolak dari jauh, terpcntanglah daun pintu, tapi di luar tidak kelihatan sesuatu.

Air muka Lamkiong Siang-ju dan Loh Ih-lian sama berubah, tiba-tiba angin meniup membawa semacam bau amis yang aneh.

Kebetulan Lamkiong-hujin datang mem-bawakan scpiring Ang-sio-bak, sekilas pandang terlihat dalam kegelapan di luar ada dua titik cahaya, tanpa tcrasa ia menjerit, “Hah, ular!”

“Prang!” piring yang dipegangnya jatuh dan pecah berantakan.

Terlihat. kedua titik cahaya hijau itu bergoyang-goyang dan scmakin dekat. Selagi Lamkiong Peng hendak bertindak, mendadak Loh Ih-sian mencegahnya sambil mendesis, “Nanti dulu !”

Sekali ia monyembur, seutas benang perak terpancar ke arah kedua titik cahaya hijau.

Di tengah desir angin yang berbau amis ter-cium pula bau arak, kiranya Loh Ih-sian telah menggunakan tenaga dalam untuk menekan arak yang diminumnya sehingga terpancur keluar, serupa panah arak, sungguh hebat sekali semprotan panah arak itu, scketika kedua titik cahaya hijau itu padam.

Dengan kening bekernyit Lamkiong Siang-ju berucap, “Sejak Ban-siu-san-ceng (perkam- pungan scribu binatang) terbakar, di dunia persilatan sudah langka ahli yang mahir mc-ngendalikan ular dan binatang liar, kcdatangan ular ini sungguh rada aneh.”

Belum habis terpikir, tiba-tiba bergema suara musik di kejauhan, scgera kedua titik cahaya hijau muncul lagi, bergoyang-goyang mengikuti irama musik dan meninggi ke atas. Berubah air muka Lamkiong Siang-ju, di-raihnya poci arak di atas meja dan disiramkan ke sana, seutas air mancur lantas tersebar sampai di depan pintu, segera. ia jemput pula lentera tcmbaga dan berjongkok untuk me-nyulut, “buss”, api lantas mcnyala dan ber-kobar mengikuti jalur arak.

Di bawah cahaya api tampaknya di atas undak-undakan luar sana seckor ular hijau se-besar lengan lagi menegak lehcr dengan lidah-nya yang terjulur sembari menyurut mundur.

Loh Ih-sian bcrtcriak kaget dan menyingkir kc pojok.

“Hah, Loh-loji juga takut alar?” ujar Lam-kiong-hujin dengan terscnyum-

Baru sekarang Lamkiong Peng tahu sebab-nya kakek botak ini ketakutan terhadapan ka-wanan setan dari Kwan-gwa dulu, rupanya bu-kan orangnya yang ditakuti melainkan ular pia-raan mercka.

Dengan cepat api yang menyala dari alkohol itu telah paham, suara musik tadi tambah melengking.

Cepat Lamkiong-hujin juga turun tangan, dua titik cahaya perak menyambar kc depan, cahaya hijau seketika padam, ular pun ter-guling ke bawah undak-undakan. Mendadak suara musik berubah keras, menyusul lantas terdengar suara harimau meraung, seekor ma-can kumbang mclompat ke atas,

”Binatang!” bentak Lamkiong Peng sambil memapak ke depan.

Harimau itu sedang menubruk dari atas, sekali berkelit Lamkiong Peng mengelak kc samping, menyusul sebelah tangannya lantas menghantam kepala binatang itu. “Prak”, tanpa ampun kepala macan hancur, darah muncrat, kepala binatang buas itu luluh dan binasa.

Sekalian kaki Lamkiong Peng mendepak, bangkai karimau diu-ndangnya ke bawah undak undakan sana.

“Sungguh hebat, itulah murid Sin-long maha sakti!” puji Loh Ih-sian sambil berkeplok tertawa.

Mendadak suara musik berganti nada lagi, suara musik ringan hilang, sebagai gantinya adalah suara alat musik berat, yaitu tambur dan gembreng ditabuh bertalu-talu. Di tengah hujan angin empat sosok bayangan tinggi besar tampak muncul dari kegelapan dan serentak melompat kc atas undak-undakan. Tcrnynta ke-empatnya adalah kingkong yang bertenaga raksasa.

Di bawah cahaya rcmang bulu kcempat ekor kingkong yang berwarna kuning emas itu membentangkan kedua lengan dengan mulut ternganga serta mengeluarkan suara garang di selingi suara gemuruh menepuk dada, buas dan mengerikan.

“Lekas kcmbali, anak Peng,” seru Lamkiong Siang-ju.

Namun Lamkiong Peng tetap berdiri meng-hadapi keempat ekor kingkong itu.

Tiba-tiba bcrgema suara orang di dalam kegclapan hutau, “Lamkiong Siang ju, untuk apa kaubertahan di situ, jika tidak lekas ang-kat kaki, sebentar lagi bila binatang sakti membanjir tiba, kematian kalian pun takkan terkubur.”

Suaranya kecil melengking, berkumandang jelas di tengah suara genderang yang ramai,”Omong kosong!” bentak Lamkiong Peng, berbareng kedua tangannya lantas memukul langsung kepada kedua ekor kingkong yang tengah.

Sambil meraung aneh, kedua ekor kingkong itu terguling ke bawah undak-undakan. tapi segera mereka melompat bangun dan menerjang maju lagi sambil menyeringai sehingga kelihatan barisan giginya yang menakutkan.

Dalam pada itu kedua ekor kingkong yang lain scgera menubruk maju dari kanan-kiri. Namun secara gesit Lamkiong Peng melompat ke samping.

Kedua ekor kingkong yang terguling tadi sudah menerjang tiba dan mengcrubuti Lamkiong Peng. Mangkin gencar suara tambur di-tabuh, makin kalap keempat ekor kingkong itu mencrjang musuh.

Melihat putranya kcwalahan dikerubut keempat ekor kingkong itu, Lamkiong Siang-ju tidak tinggal diam, dari samping ia pun meng- hantam. kontan salah scekor” kingkong itu ter-pukul jatuh. Tapi dengan cepat merangkak bangun dan mcnerjang maju lagi.

Mcndadak Loh Ih-sian mendekap bibir dan bersuit sekerasnya, begilu kcras suara suitan-nya sehingga irama tambur menjadi kacau, sc-kctika cara bcrtempur kccmpat ekor kingkong itu pun tidak tcratur lagi.

Kesempatan itu digunakan Lamkiong Siang-ju untuk menghartam lagi, ‘”blang”. dada salah seekor kingkong iiu tcrtonjok. Sungguh dahsyat pukulan ini, kontan kingkong tumpah darah dan terguling ke bawah undak undakan.

Loh Ih-sian masih terus bersuit. Mendadak iapun menghantam dua tangan sekaligus, salah scekor kingkong itu mendoyong kc belakang, tapi segera kaki Loh Ih-sian mengait dan “bluk” kingkong ttu jatuh tcrjengkang.

Tanpa ayal Loh Ih-sian memegang kedua kaki kingkong sambil menggertak, sekali angkat tubuh kingkong sebesar manusia itu terus di-putar dua-tiga kali, lalu dliemparkan hingga jatuh jauh di hutan sana.

Semangat Lamkiong Peng tambah terbang-kit, kembali ia menghantam dan menendang sehingga scekor kingkong mencelat.

Sekarang suara tambur itu bergema lagi, namun sisa seekor kingkong itu rupanya tahu gclagat dan tidak berani bertempur lagi, segera ngacir pergi.

Loh Ih-sian bergelak tertawa puas dan memuji, ‘”Sungguh kungfu hebaf, murid Sin-liong memang lain daripada yang lain.”

Dalam pada itu Lamkiong Siang-ju sedang bcrseru lantang ke sana, “Dengarkan para ka-wan, harta benda di Lamkiong-san ceng saat ini bcrada di sini, apabila kalian mengincarnya, silakan mcngambilnya menurut kemampuan kalian, kenapa mcsti main sembunyi dalam kcgelapan hutan dan menyuruh kawanan binatang yang tak berarti ini untuk membikin malu kalian sendiri?”

Suara tambur mulai mcreda, sebagai gan-tinya suara musik halus tadi kembali bergema, lembut dan ulem.

Waktu angin meniup lagi, bau amis tadi sudah hilang, sebalikuya malah mengandung bau harum sayup sayup anch membuat perasaan tcrgelitik dan membangkitkan nafsu.

Mendadak di tengah hutan yang gelap me nyala empat cahaya lampu yang menyilaukan mata, pekarangan di depan uudak-urdakan batu, seluas dua-tiga tombak itu tiba-tiba muncul enam orang gadis berbaju sutera putih tipis dan berkcrudung topi bunga serta mulai me-nari mengikuti irama musik.

Hujan masih turun, hanya sekejap saja baju tipis keenam gadis jelita itu sudah basah kuyup schingga hampu tembus pandang garis tubuh mereka yang menggiurkan.

Makin lama makin asyik bunyi musiknya dan makin panas tariannya, kening Lamkiong Peng bekernyit, ia melengos ke arah lain.

Alis Lamkiong Siang-ju juga menegak, kata-nya, “Jite, apakah kauingat cara mempengaruhi lawan dengan kemaksiatan dan menggertak dengan kekerasan seperti ini biasanya digunakaa tokoh kangouw dari mana?”

“Apakah maksud Toako hendak mengatakan kebiasaan majikan pcrempuan dari Ban-siu san-ceng, yaitu Tek-ih-huicu (si nyonya senang)?” jawab Loh Ih-sian.

“Sesudah kebakaran yang menimpa Ban-siu-san-ceng, sudah lama Tck-ih-huicu meng-hilang dan tiada kabar beritanya,” kata Lam-kiong Siang-ju. “Bahwa sekarang dia muncul kembali, nyata caranya sudah tidak selihai dulu lagi, namun gayanya masih tidak berubah.”

“Ya, memang sudah bcrpuluh tahun tidak ada kabar tentang Tek-ih-huicu, apakah mung-kin iblis perempuan yang menyendiri ini dahulu juga pernah mendidik murid?”

Tengah bicara, suara musik tadi tambah gencar, gaya menari kcenam gadis berbaju sutera itu pun semakin mcnghanyutkan, di antara gerak-geriknya sepcrti scngaja dan seperti tidak sengaja selalu menonjolkan bagian tubuh yang seharusnya dirahasiakan, lirikan matanya juga memikat.

Cahaya lampu juga tambah remang, dari kegclapan hutan sana lantas muncul empat gadis lagi dengan menggotong sobuah joli ke-cil beratap.

Waktujoli berhenti dan tabir tersingkap, kedua gadis jelita di depan lantas mcmbentang dua buah payung, maka turunlah dari joli se-orang nona berbaju warna lembayung dengan potongan tubuh yang ramping, cantik sekali nona ini tampaknya tapi mukanya justru di-alingi sebuah kipas bambu.

“Joli kecil dan baju ungu, semua ini adalah ciri pengenal Tck-ih-huicu dahulu. jangan-jangan memang betul Tek-ih-huicu telah rnun-cul lagi di dunia kangouw?” gumam Lamkiong Siang-ju.

Loh Ih-sian tidak menanggapi, dia kclihat-anprihatin, mcndadak ia mcmbentak, “Siapa itu?”

Waktu ia bcrpaling, di bawah cahaya lampu yang remang, di atas tumpukan pcti ternyata sudah bcrtambah bcberapa sosok bayangan orang.

Pada saat itu juga gadis berbaju ungu juga mulai melangkah kc atas undak-undakan mengikuti irama musik, gayanya jauh lcbih monggiurkan daripada gadis yang lain.

Serentak bclasan gadis jelita tadi mcngikut di bclakangnya, sambil mcnaiki undakan batu para gadis itu melepaskan baunya yang tipis sepotong demi sepotong sehingga akhirnya telanjang bulat tanpa schelai bcnang pun.

Semcntara itu di tcngah ruangan pcndopo bayangan orang banyak serentak bcrputar mengitari tumpukan peti, seorang yang me-ngepalainya tampak bcrperawakan kckar, alis tebal mata cekung, seorang lagi bertubuh jang- kung dan berwajah kurus. Kiranya mcrcka ini adalah tokoh Tiam-jong-pai, yaitu Kongsua Yan dan Thian-go Tojin.

“Hm, kukira Tiam-joNg-pai adalah golongan ternama dan aliran lurus rupanya juga biasa bcrbuat sccara sembunyi-scmbunyi, tcngah ma-lam buta menyusup ke rumah orang, barangkali memang beginilah ajaran Tiam-jong-pai?” segera Loh Ih-sian mengejek.

Thian-go Tojin meniadi gusar. Sedangkan Kongsun Yan tidak menghiraukan ejekan itu, ucapnya ketus, “Kami hanya minta birara de-ngan Lamkiong-cengcu.”

“Mclihat perbuatan para Totiaug, rasanya tidak ada yang perlu kubicarakan lagi,” ujar Lamkiong Siang-ju dengan dingin.

“Crcng”, segcra Thian-go Tojin mclolos pedang.

Kongsun Yan tetap tenang saja, katanya, “Apabila Cengcu mau mendengar nasihatku sebaiknya harta bcndamu ini kautitipkan dalam penga-wasan kami sclama tiga tahun, sc-sudah tiga tahun akan kami kembalikan dalam keadaan utuh tanpa kurang scsuatu . . . .”

“Hehe, anjing kelaparan ingin pinjam bak- pau, sungguh menggclikan,” ejek Loh Ih-sian.

Kongsun Yan berlagak tidak mendengar, katanya pula, “Atas kehormatan Tiam-jong-pay kuberani memberi jaminan takkan mengganggu sedikit pun harta bcndamu ini.”

“Hehe, kehormatan Tiam-jong-pai? Memangnya berapa harganya sckati?”‘ jengck pula Loh Ih-sian.

Thian-go membentak murta, segera pedang bcrgcrak dan hendak menyerang.

Namun Kongsun Yan keburu mencegahnya, katanya, “Nanti dulu Samte, dengarkan dulu jawaban Lamkiong-cengcu.'”

“Kukira Toako juga tidak ada jawaban, kami justru ingin tahu apa yang dapat diper-buat orang Tiam-jong-pai Kalian?” jengek Loh Ih-sian.

Belum lenyap suaranya segera pedang Thian-go Tojin menusuk, cepat Loh Ih-sian berkclit dari keduanya lantas saling labrak.

Di luarr sana suara musik masih ber-kumandang, belasan gadis jelita itu sudah ber-ada di ujung undak-undakan, semuanya telanjang bulat dengan tubuh yang mulus menggiurkan.

Gadis jelita berbaju ungu menggoyang goyang kipasnya setengah menutupi wajahnya, meski dia tidak mcrnanggalkan bajunya. Tapi terkadang mengeluarkan suara tertawa genit yang memikat.

“Turun?” bentak Lamkiong Peng.

Namun kawanan gadis itu tetap menari seperti tidak mendengar, Kcrlingan mcrcka terpusat kc arah Lamkiong Peng seakan-akan ingin menelan bulat-bulat anak muda itu.

Melihat goyang pinggul dan gcrakan memikat yang tcrpampang di depan mata itu, tcntu saja Lamkioug Pong scrba susah, mana dia sampai hati turun tangan terhadap gadis telanjaug bcgilu.

Dalam pada itu Thian-go Tojin dan Loh Ih-sian sedang bertempur dengan sengit. Pedang Thian-go bcrputar ccpat dengan tipu serangan yang ganas, ilmu pedang Tiam-jong-pai memang cepat dan lincah, namun Loh Ih-sian iuga tidak kurang lihainya Dia bergcrak ter-lebih cepat daripada sambaran pedang lawan. Sedikit pun senjata lawan tidak mampu meyentuh ujung bajunya, malahan dia seperti sengaja hendak mempermainkan orang dan tidak balas menyerang, serupa kucing mempermainkan tikus.

Dengan gemas mendadak pedang Thian-go tojin menusuk dari arah yang tak terduga akan tetapi mendadak tersengar suara ‘trang’ kiranya Loh ih-sian sempat meraih sebuah piring sebagi tameng sehingga tertusuk berantakan oleh pedang Thian go tojin, hidangan dalam piring berhamburan mengotori bajunya.

Tentu saja Thian go tojin bertambah murka, seklai depak ia bikin meja terbalik, mangkuk piring pecah berserakan, lampu perunggu di atas meja juga ikut terguling dan padam seketika.

Tapi pada saat itu cahaya lampu dari dalam hutan sana telah menyorot tiba, kawanan penari telanjang juga sudah berada di depan ruangan.

Lamkiong siang ju berkerut kening, ucapnya, “Jite, jangan bergurau lagi, sudah waktunya turun tangan sunguh-sungguh!”

“Baik,” seru Loh-ih sian, segera jurus serangannya berubah, sekaligus ia melancarkan dua tiga kali pukulan sehingga Thian go tojin terdesak ke pojok ruangan.

Siang ju berseru kepada sang istri, “hujin boleh kaulayani yang di luar dan yang di dalam serahkan saja kepadaku.”

Dengan sendirinya lmakiong hujin sudah melihat datangnya kawanan penari telanjang itu, Cuma seketika ia pun bingung menghadapi adegan luar biasa itu.

Nona berbaju ungu tadi tampaknya melangkah maju dengan gaya gemulai, tahu-tahu ia sudah bergeser ke depan Lamkiong Peng, seketika anal muda itu pun mencium bau harum yang memabukkan, pikirannya serasa melayang.

“Mundur!” cepat ia membentak sembari ayun sebelah tangannya ke depan untuk menghantam Koh-cing-hiat di pundak orang.

Tak tersangka nona cantik itu sama sekali tidak menghindar, sebaliknya sambil tertawa genit ia malah menyongsong maju, dengan dadanya yang montok ia sambut pukulan Lamkiong Peng itu.

Cepat Lamkiong Peng menarik kembali pukulannya, betapapun ia tdiak dapat menyerang seorang gadis yang tidak melawan.

“Menyingkir Peng-ji!” seru lamkiong hujin.

Tapi baru saja dia bergerak, tahu-tahu empat penari telanjang sudah mengadang di depannya. Empat penari tclgnjarg Iain lantas mengepung Lamkiong Peng dcngan goyang ping-gul dan guncang dada secara mcrangsang.

Saat itu Lamkiong Peng berdiri di depan pintu, bila dia menyingkir berarti mcmbcri kesempatan kepada kawanan penari telanjang itu untuk menyerbuke dalam, tapi kalau tidak menghindar. tcntu dia akan tcrkurung di tengah gadis telanjang, betapapun tcguh imannya jika dibuai oleh irama musik yang masyuk dan tarian yang merangsang, tcntu tidak tahan akhirnya.

Dalam pada itu keempat penari telanj ng itu sudah semakin mendekat, gaya mcrcka yang cabul sungguh bisa membuat setiap lelaki lupa daratan …

.

Di scbelah dalam pertarungan Thian-go dan Loh Ih-sian juga tambah scru, jsgo pedang Tiam-jong-pai yang lain sudah memegang pcdang dan siap tempur juga,

Tiba-tiba Kongsun Yan melolos pedang dan bcrkata, “Hari Ini bukan pcrtandingan biasa, umpama main kcrubut juga bukan soal lagi”

Ia memberi tanda dan segera msnyerang disusu oleh bcgundalnya.

Mendadak Loh Ih-sian merasa angin tajam menyambar dari bclakang, tiga pcdang serentak menabasnya.

Thian-go Tojin juga tidak tinggal diam , berbareng ia pun menyerang

‘”Hm, biasanya Tiam jong- pai tidalah jahat, mestinya aku tidak suka membikin susah orang. tapi pcrbuatan kalian sungguh ke-terlaluan, tcrpaksa aku harus bertindak.” kata Lamkiong Siang-ju.

Mendadak ja menghantam ke bclakang, angin pukulannya mendampar kccmpat penari telanjang yang mengepung di depan Lamkiong Peng, meski dia menyerang tanpa berpaling, namun pukulannya cukup telak, mana kawanan gadis telanjang itu tahan angin pukulannya, terdengar jeritan kaget, dua di antaranya ter-getar jatuh ke bawah undakan batu.

“Harap ayah menghadapi mereka di sini, biar anak melayani orang Tiam-jong-pai,” seru Lamkiong peng.

Belum lanjut ucapannya, kembali Lamkiong Siang-ju menghantam lagi satu kali, si nona bcrbaju ungu tergetar mundur, ccpat Lamkiong Peng mendesak maju dan menutuk pundak lavvan.

Namun kipas si nona mendadak menabas pergelangun tangan Lamkiong Peng, sekilas tcrtampaklah wajahnya di bawah cahaya remang.

Sckctika hati Lamkiong Peng tcrgctar, seru-nya, “Hei, kau . . . kau . . . . ”

Sungguh tak fersangka dan tak terduga nona berbaju ungu ini adalah Suci atau kakak seperguruannya, yaitu Koh-ih-hong alias Ong So-so.

Dengan tersenyum manis dan kerlingan genit kembali Koh Ih-hong memotong lagi de-ngan kipasnya menurut irama musik.

“He, Sisuci, ken .. kenapa engkau mc-nyerangku?’ scru Lamkiong Peng. “Masa eng-kau tidak . . . tidak kenal lagi padaku? Di mana Toako sckarang?”

Koh Ih-hong terkekek, “Hehe, siapa kenal padamu? Siapa Toakomu?”

Dalam pada itu kawanan penari telanjang lantas menerjang maju pula,

Dengan tcrcengang Lamkiong Peng me-nyurut mundur ke dalam ruangan.

Kening Lamkiong Sian-ju bekernyit, scru-nya, “Gadis ini mungkin sudah tcrpengaruh oleh obat bius. boleh kau menyingkir dulu….”

Belum lenyap suaranya. mendadak cahaya pedang berkelebat. Kongsun Yan telah menusuk dari samping.

Lamkiong Peng msmbentak, segera ia me-nendang pergclangan tangan lawan yang mc-megang scnjata.

Di scbelah. sana Lamkiong hujin tampak-nya juiga scrba susah menghadapi keampat penari telanjang tadi, meski ia sendiri iuga orang perempuan, tidak urung mukanya menjadi me-rah melihat gcrak cabul mercka.

“Awas obat bius mereka, Hujin,” seru Lamkiong Siang-ju mendadak.

Tcrkesiap Lamkiong-hujin. benar juga, baru saja ia menahan napas, serentak keempat penari telacjaug itu menaburkan kabut tipis.

Dengan gusar Lamkiong-hujin mengebaskan lengan bajunya sehingga bubuk putih buyar, sekaligus ia kebut hiat-to tangan lawan.

Di sebelah sana Loh ih sian satu lawan empat dan sedang melancarkan pukulan dasyat, “blang blang”, mendadak ia menyikut ke belakang sehingga dua orang lawan menjerit kaget dan pedang terlepas, kedua tojin itu pun tumpah darah.

Dalam pada itu Lamkiong Peng telah menandingi Kongsun Yan dan dua pemudi berdandan ringkas. Ia terkejut, kuatir dan sangsi pula, ia kuatir mengenai keadaan sang Toako, yaitu Liong hui, juga sangsi mengapa Koh ih hong bisa berubah menjadi begitu.

“Jangan melukai dia ayah!” seru Lamkiong Peng mendadak.

Kiranya pada saat itu Koh Ih-hong kena ditutuk oleh lamkiong sian ju dan sempoyongan terjatuh ke bawah undakan batu.

Pada saat itulah itulah tiba-tiba dari kegclpan hutan sana muncul sesosok bayangan

sambil membentak terus menerjang tiba, sekali raih dapatlah dia merangkul tubuh Koh Ih hong yang hampir roboh itu.

Pendatang ini bertubuh tinggi besar dan berbaju mentereng muka penuh berewok pendek kaku serupa dari landak. Nyata dia inilah Liong hui.

“He, toako………..” seru lamkiong Peng setelah mengenali orang.

“Apakah orang ini Liong Hui?” tanya Lamkiong Siang ju dengan melenggak.

‘”Betul,”jawab Lamkiong Pcng, scgera ia bereseru pula, “Toako, siaute Lamkiong Peng berada di sini!”

Siapa tahu air muka Lioug Hui tidak mem perlihatkan sesuatu perasaan scrupa orang ling lung saja, sambil mcrangkul Koh Ih-hong segera ia pentang kelima jarinya mencakar muka Lamkiong Sian ju.

Baru saja Lmakiong siang ju mendak ke bawah, segera Liong hui menendang lagi.

Meski ganas serangannya, tapi sebenarnya banyak lubang kelemahannya. Namun Lamkiong siang ju tidak ingin melukainya, ia melompat mundur untuk menghindari tendangan lawan.

Tak terduga mendadak Laiong hui menaruh Koh ih hong, lalu membentak, “Biarlah aku mengadu jiwa dengan kawanan bangsat kalian ini?”

Sekali tendang ia bikin seorang penari telanjang hingga terjungkal, menyusul sebelah tangannya menghantam lamkiong siang ju dengan dasyat.

“he, Toako, ken………kenapa kau?………….” jerit Lamkiong Peng keget, tiba-tiba pundak terasa dingin, kiranya telah terserempet oleh pedang Kongsun Yan schingga tergores luka.

“Layani saja lawanmu dengan tckun, biar kuselesaikan urusan Suhcngmu ini,” kata Lam kiong Siang-ju.

Tanpa menghiraukan luka sendiri, Lam kiong Peng bcrscru kuatir, “Ayah, apakah Toaka terpengaruh juga oleh obat?”

“tampakuya memang begitu,” kata Lamkiong Siang-ju.

“Sungguh rendah Tiam-jong-pai, pakai obat bius segala?!” tcriak Lcmkiong Peng dengan murka, mendadak ia jepit batang pedang Kong-sun Yan yang menyambar tiba, sekali tekuk pedang lawan lantas patah, scbelah kaki menendang scorang jago pedang Tiam-jong-pai. Mcnyusul pedang patah membalik dan diguna-kan untuk menusuk lawan.

Jago pedang menjerit dan jatuh tcrguling dengan tangan memegang dada ia bergulingan di lantai yang penuh pecahan mangkuk piring; sehingga sekujur badan berlumuran darah, akibatnya tak sadarkan diri.

“Keji amat!” geram Kongsun Yan.

Selagi dia hendak menyerang pula dengan pedang patah, tak tersangka Lamkiong-hujin telah berhasil mengebas hiat-to keempat penari telanjang dan saat. itu sedang melompat tiba, sekali tepuk pelahan Ciang-tai-hiat di pung-gung Kongsun Yan tertutuk.

Pada saat itu juga pedang patah yang di-rampas Lamkiong Peng juga ditusukkan ke ba-hu Kongsun Yan, terdengar jeritan, darah pun mengucur.

“Jisuhcng . . . .”seru Thian-go kuatir.

Dengan tumpah darah Kongsun Yan berseru, “Samte, le . . . lekas pergi!”

Habis berkata ia pun jatuh terguling.

Tiba-tiba dalam kegelapan sana berkumandang suara kuda lari, cepat seorang berteriak dari kcjauhan. “Lamkiong-cengcu, Lam-kiong-heng, saudaramu Suma Tiong-thian datang tcrlambat!”

Hanya sekejap saja seckor kuda sudah mendekat, Thi cian ang-ki Suma Tiong-thian, si jago tua bertombak besi dan panji merah, memutar tombaknya di bawah hujan, langsung ia larikan kudanya ke atas undak- undakan sambil berteriak pula “Jangan kuatir, Lam kiong heng, inilah Suma Tiong-thian!”

Begitu tombak bergerak, secepat kilat ia tusuk Liong Hui.

Sekilas pandang Lamkiong Peng melihat kuda jago tua itu akan menginjak tubuh Koh Ih-hong yang menggeletak di undakan batu itu. ia bertcriak kuatir dan melompat maju sambil mendorong dengan kuat sehingga Iari kuda tertolak ke samping.

Tentu saja kuda itu meringkik kaget dan tusukan tombak Suma Tiong-thian juga mcleset.

Liong Hui membentak gusar, sekali raih ujung tombak kena dipegangnya.

Baru sekarang Suma Tiong-thian dapat melihat jelas siapa orang yang diserangnya tadi, serunya, “Hei, Liong. . . Liong-taihiap . . . .”

Pada saat itu tiba-tiba dari hutan Sana berkumandang suara orang tcrtawa seram, keem-pat jalur cahaya api sercntak padam, suara musik juga lantas lenyap.

Angin dan hujan kembali menderu lebat, bumi raya gelap gulita dan hampir tidak ke-lihatan jari sendiri.

Pada saat itulah terdengar Lamkiong-hujin menjerit kaget dan bentakan Liong Hui, men dadak Liong Hui menarik sckuatnya sehingga Suma Tiong-thian terseret jatuh ke bawah kuda, berbareng itu Liong Hui juga berguling dan mcngangkat Koh Ih-hong terus dibawa lari kc tengah kegelapan sana.

Lamkiong Peng tercengang. sedang Thian-go Tojin melancarkan dua-tiga kali tusukan untuk mendesak mundur Loh Ih-sian, lalu ia mcndobrak daun jendela dan melompat pergi.

Kuatir di luar musuh akan menyergapnya Loh Ih-sian tidak mengejar.

Suma Tiong-thian ternyata sangat tangkas meski sudah berusia lanjut, sekali lompat ia bcrusaha menahan kudanya yang menjadi liar dan membedal ke dalam ruangan, terdengar suara gemuruh, tumpukan peti diterjang roboh. Isi peti berserakan, semuanya berupa batu permata yang kemilauan dalam kegelapan.

Selagi Suma Tiong-thiau hendak mengatasi kudanya, sekonyong-konyong sinar tajam

menyambar dari luar, seorang jago pedang Tiam jong-pai menyambitkan pedangnya, ce-

pat jago tua itu mengelak, pedang menyambar lewat dan menancap di perut kuda.

Keruan kuda itu kesakitan dan tambah liar terus mcmbedal keluar seperti kesetanan.

Jago pcdang Tiam-jong-pai tadi tertendang jatuh dan bclum sempat mcrangkak bangun, kontan dia terinjak mampus oleh lari kuda yang kesetanan itu.

Habis mcnginjak orang, kuda itu pun kc-serimpat dan jatuh terjungkal ke bawah undak -ondakan sambil meringkik, lalu tidak bergcrak lagi.

Suma Tiong-thian terkesima kehilangan kuda kesayangan.

Lamkiong Peng bcrteriak, “Toako . . .” Akan tetapi Lamkiong Siang-ju lantas rncmbujuknya, “Tcnang, anak Peng, tampak-nya kcdua orang itu kehilangan kesadarannya dan saat ini entah sudah lari ke mana, bukan mustahil . . . .”

Mcski tldak lanjut ucapannya, namun da-pat diduga dia pasti akan mengatakan kcse-

lamatan Liong Hui dan Koh Ih-hong sukar di-ramalkan.

Lamkiong Peng tertegun scjenak, mendadak ia menjadi beringas, diseretnya bangun Kong-sun Yan, bentaknya, “Coba katakan, dengan obat bius apa Tiam-jong-pai kalian mengerjai Toako kami schingga dia lupa daratan?’

Selain sang guru, orang yang paling di-kasih dan dihormatinya ialah Liong Hui, dengan sendirinya hatinya sekarang sangat sedih dan gusar.

Ujung mulut Kong-sun Yan berlumuran darah, setcngah potorng pedang masih me-nancap di bahunya, keadaannya payah, ucap-nya lemah, “Orang Tiam-jong-pai tidak pcr-nah menggunakan obat bius.”

‘Omong kosong, jika bukan perbuatan Tiam-jong-pai kalian, habis siapa?” teriak Lamkiong Peng,

Kongsun Yan memejamkau mata dan tidak menanggapi.

“Sabar anak Peng,” ucap Lamkiong Siang-ju, “Kuyakin Tiam-jong-pai memang bukan orang yang suka menggunakan obat bius, apa yang diperbuatnya ini tentu karena tcrpaksa, juga pakai perempuan cantik untuk memikat musuh, cara ini pun pasti tidak sudi dilakukan Tiam-jong-pai, seharusnya kaukatakan terus terang apa yang terjadi. Kalau tidak, peristiwa hari ini telah disaksikan orang banyak. betapa pun kalian menyangkal juga sukar membuat orang pcrcaya.”

Tiam-jong-yan Kongsun Yan terscnyum sedih, ucapnya, ‘Di mana Samsuteku Thian-go?”

Loh Ih-sian menjawab, ‘Meski Tiam-jong-pai kalian mcrnusuhi kami, tapi kami tidak bcrtindak kejam, Thio-go sudah. kami lepaskan.

Kongsun Yan terdiam sejenak, akhirnya ia menghela napas dan bertutur, “Bilamana kalian ingin ke luar dari perkampungan ini dengan selamat, kukira tcramat sulit.”

“Apa maksudmu?’ tanya Lamkiong Siang-ju. “Kalau kalian ingin hidup, hendaknya kau-serahkan harta bendamu ini kepada mereka, kalau tidak . . . . ”

“Mcmangnya kaum iblis Kun-mo-to sudah tiba?” tanya Lamkiong Siang-ju.

“Betul,” Kongsun Yan mengangguk,” “agak-nya Kun-mo-to terlalu meremehkan Lamkiong-sanceng kalian, mereka tidak mengirim ja-go kelas tinggi mclainkan cuma seorang pelayan rendahan saja dengan kawanan gadis dan binatang buas itu, katanya hendak membantu Tiam jong pai kami menduduki perkampungan ini siapa tahu Lamkiong-cengcu suami-istri yang sclama ini dikenal sebagai orang awam ternyata menguasai kungfu sctinggi ini. Sekarang pihak mcreka untuk sementara menghentikan serang-an, tentu sedang menyiapkan langkah sclanjut-nya yang lebih lihai.”

Bicara sampai di sini napasnya tampak terscngal dan scperti tidak tahan lagi.

Lamkiong Siang-ju tampak sedih, ucapnya, “Terima kasih atas kcterusterangan Totiang, bilamana tidak menolak, padaku tersedia obat luka.”

“Tiada gunanya.” ucap Kongsun Yan dengan tcrsenyum pedih, ”Urat nadiku sudah ter,-getar putus oleh pukulan nyonya, ditambah lagi tusukan pedang Lamkiong-kongcu tadi …. Namun semua itu tidaklah menjadikan aku den-dam kepada kalian, aku hanya memohon bi lamana mungkin, kelak semoga kalian dapat membantu Suteku membangun kembali Tiam-jong-pai kami ….'”

Sampai di sini, suaranya hampir tak tcrdengar lagi, napas pun semakin lemah.

Tiba-tiba hati Lamkiong Peng tergcrak, scrunya, “Jika benar kawanan iblis dari Kun mo-to tadi harus menyusun kckuatan untuk menycrang lagi, saat ini kepungan tcntu agak longgar, kcsempatan ini dapat kita gunakan untuk menerjang keluar daripada menunggu ajal di sini.”

“BetuI,” tnkas Loh Ih-sian, “Setelah menerjang keluar dapat kita bcrusaha mengadakan kontak dengan utusan dari Cu-sin-tian . … ”

“Usul yang baik,” kata Suma Tiong thian. ”Saat ini di !uar ada belasan orang kawanku dan …”

“Belasan Piauthau kawan Suma-cianpwe sekarang juga lagi istirahat di ruangan be-lakang, biar kupanggil keluar mereka,” kata Lamki’ong Peng tiba-tiba sambil lari ke be-lakang.

“Apakah Toako dan Toaso masih ingin berbenah sesuatu lagi?” tanya Loh Ih-sian.

“Sclanjutnya kami takkan punya kediaman tetap lagi, mau bebenah apa pula?” ujarLam-kiong-hujin sambil mcnghela napas.

Selagi Loh Ih-sian hendak bicara pula, mendadak terdengar suara kagct Lamkiong Peng yang berlari keluar.

“Ada apa?” tanya Lamkiong Siang-ju.-

‘”Semua . . . mati semua . . . . ucap Lamkiong Peng dengan gugup.

Semua orang sama mclenggong.

“Semuanya mati dengan urat nadi tergetar putus,” tutur Lamkiong Peng. “Dada mereka

terasa masih hangat, jelas mati belum lama,

tapi sudah kuperiksa dan tiada nampak bayangan seorang pun.”

Semua orang saling pandang dengan ter cengang, Bahwa di ruangan depan berkumpul tokoh kelas tinggi sebanyak ini dan tiada sc-orang pun mendengar scsuatu, tahu-tahu orang di bclakang sama terbunuh, sungguh kejadian yang mengerikan.

Pelahan Kongsun Yan membuka matanya dan berucap dengan lemah, “Sudah . . . sudah terlambat, kawanan . . . kawanan iblis sudah dataug ….”

Mendadak matanya mendelik, napas ter-sumbat dan meninggal dunia.

Angin masih menderu, hujan tetap lebat.

Di tengah suara tegang itu. perasaan semua orang sama tertekan.

Lamkiong-hujin menggunakan saputangan-nya untuk membalut luka lengan Lamkiong Peng, katanya pelahan, ”Coba angkat tangan-mu, nak, apakah melukai uratmu tidak?”

Lamkiong Peng menggerakan tangannya dan menjawab, “Tidak apa-apa.”

Dalam pada itu terdengar pula derap kaki kuda yang ramai dalam kegelapan, kedengaran-

nya tidak cuma satu-dua penunggang kuda saja.

“Suma-heng,” tanya Lamkiong Siang-ju, “yang datang itu mungkin anak buahmu?”

Suma Tiong-thian berlari ke depan, dilihatnya empat ekor kuda berlari datang dengan cepat di bawah hujan lebat. Waktu diamati, ternyata tiada seorang penunggang pun, hanya kuda yang terakhir tcrikat miring sebuah panji merah dan berkibar tertiup angin, mendadak panji itu tertiup jatuh ke tanah dan terinjak kuda schingga sukar dikenali lagi.

Tergetar hati Suma Tiong-thian dan me-nyurut mundur, gumamnya, “Wah, habis . . . habis sudah …. ”

Apakah para saudaramu di luar perkampungan sana juga mengalami scsuatu?’ tanya Lamkiong Siang-ju.

“Ada kuda tanpa penunggangnya. dengan sendirinya lebih banyak celaka dari pada selamatnya,” ucap Suma Tiong-thian. Mendadak ia berteriak lantang, “Wahai kawanan tikus Kun-mo-to! Jika bcrani ayolah keluar untuk menentukan siapa yang lebih unggul, kenapa main sembunyi dan sergap, terhitung orang gagah macam apa?”

Sambil bertcriak ia jemput tombaknya yang terlempar ke undakan batu tadi terus berlari dengan tombak terhunus.

Mendadak dari kegelapan hutan sana me-layang keluar tiga gulung bayangan hitam. Cepat tombak Suma Tiong-thian menyampuk dan menusuk, kedua guling bayang hitam terpukul jatuh, bayangan ketiga tertusuk oleh ujung tombak.

Lamkiong Siang-ju memburu maju dan berscru, “Sabar dulu, Suma-heng, jangan ter-buru nafsu dan tcrpancing muslihat musuh!”

Tanpa terasa Suma Tiong-thian diseret kembali kc dalam ruangan, waktu ia meme-riksa ujung tombaknya. ternyata yang tersunduk di situ adalah sebuah kepala manusia dan se-gera dikenali sebagai anak buah sendiri.

Keruan air muka Suma Tiong-thian ber-ubah hebat. tangan pun terasa lemas dan tombak terjatuh ke lantai.

“Sungguh keji kawanan iblis Kun-mo-to.” geram Loh Ih-sian. “Toako, dcngan kemampu-an kita, mcmangnya kita tidak dapat mcner-jang keluar . . . .”

“Jite,” kata Lamkiong Siang-ju, “musuh dalam keadaan gelap dan kita di pihak terang, bctapapun kita sudah bcrada dalam posisi yang lemah. Jika kita tidak sabar dan meng-hadapi persoalan dcngan tenang, bisa jadi urusan akan runyam.”‘

Tapi . , . tapi kalau mesti menunggu dan menunggu lagi, sampai kapan baru akan ber-akhir?”

Dcngan beringas Suma Tiong-thian berscru, “Aku Icbih suka menerjang kc kcgelapan sana dan bertcmpur mati-matian daripada menunggu dcngan tersiksa cara begini?”

Lamkiong Peng juga memandang sang ayah dcngan semangat mcnyala, anak muda ini pun ingin bertempur saja daripada menunggu sc-cara tidak menentu.

Pelahan Lamkiong Siang-ju menghela na-pas, “Soal mati atau hidup adalah urusan kecil, tapi menepati janji adalah soal lebih besar. Scjak dulu hingga kini keluarga Lamkiong ti dak pernah berbuat sesuatu yang melanggar janji, meski sekarang keluarga Lamkiong kita menghadapi kerutuhan juga tctap tidak bolch mclanggar janji. Apapun juga kita harus menunggu kedatangan utusan Cu-sin-tian dan me -nyerah-terimakan harta benda ini, kalau tidak mati pun aku tidak tentram.”

Pada saat itulah tiba-tiba di bawah hujan terdengar suara gemersik, suara orang berjalan yang semakin mendekat. Scketika hati semua orang menjadi tegang.

Sekali lompat I.oh Th-sian menuju ke de-pan pintu.

Di atas undak-undakan akhirnya muncul tiga sosok bayangan orang, selangkah demi selangkah naik ke atas, kedatangannya seperti tidak bermaksud jahat.

“Siapa itu?” bentak Loh Ih-sian.

Tiba-tiba orang yang di tengah berdehem pelahan, dalam kegelapan kelihatan kepalanya yang gundul kclimis, seperti scorang hwesio. Sekali mengangkat kaki. tahu-tahu sudah di depan Loh Ih-sian.

Kcruan Ih-sian terkejut.

Terdengar pendatang itu berkata, “Paderi tua tidak sering berkecipung di dunia kangouw, umpama kuberitahukan namaku juga Sicu tak-kan kenal.”

Waktu Loh Ih-tian memandang kc sana, dilihatnya sckujur badan orang basah kuyup, jenggot dan alisnya sama putih, sikapnya ke-reng berwibawa, tanpa terasa timbul rasa hormat dan segan Koh Ih-iian.

Kedua orang lain juga mcnyusul naik kc atas undakan, seorang memakai tudung sebang-sa caping dan memakai mantel ijuk, tangan memegang scbuah karung goni yang basah.

Ka-rcna tudungnya yang lebar sehingga wajahnya tidak terlihat jelas. Orang ketiga bcrjubah bi-ru, ternyata scorang tojin.

Meski dandanan ketiga orang ini, tidak sama, tapi semuanya sudah berusia lanjut.

Dalam keadaan tidak biasa ini. entah ada keperluan apa kunjungan kalian bertiga?” tcgur Loh Ih-sian.

Hwesio pertama memberi salam dengan terscnyum, jawabnya, “Kedatangan kami justru mcnyangkut kejadian di Lamkiong-san-ceng ini.

Apabila Sicu tidak keberatan, biarlah kututurkan setelah bcrada di dalam.”

Loh Ih-sian agak ragu, tapi ketiga orang itu lantas melangkah ke dalam ruangan.

Tergerak hati Larnkiong Peng, pikirnya, ‘”Kcpungan di luar perkampungan cukup ke-tat, entah cara bagaimana ketiga orang ini da -pat masuk ke sini dengan lcluasa?”

Waktu ia mclirik sang ayah, orang tua itu kelihatan tetap tenang taja. maka ia pun tidak kuatir lagi.

Bcgitu masuk ke dalam dan mclihat mayat yang bergelimpangan itu, si hwesio lantas bcrkata; “Ai, hanya pcrsoalan sedikit harta benda dan harus jatuh korban jiwa sebanyak ini, apakah para Sicu tidak merasa bcrdosa?”

“Kcjadian ini bukanlah kehendak kami dan tcrjadi karena terpaksa, biarlah kelak akan kami mengadakan selamatan bagi arwah para korban ini,” kata Lamkiong Siang-ju

“Jika benar Sicu mempunyai nazar begini, hal ini menandakan Sicu masih mempunyai nurani yang baik,” kata si hwesio. “Tapi akan Icbih baik lagi bilamana Sicu sudi rnenderma-kan barang-barang yang mengakibatkan ben cana ini untuk amal bagi anak-cucumu.”

Air muka samua orang sama bcrubah, baru sekarang kelihatan belangnya maksud tujuan kcdatangan kctiga orang mi. ‘

Derngan tenang Lamkiong Siang-ju mcn-jawab, “Meski Caihe ada maksud demikian, cuina sayang, harta benda ini sudah bukan miiikku lagi.”

“Ah, masa Harta benda ini masih ber-ada di tempat Sicu, kcnapa bukan lagi milikmu?” kata si hwcsio dengan tersenyum.

Mendadak Suma Tiong-thian membentak, ‘ Umpama benar miliknya, jika tidak diderma-kan padamu, memangnya akan kaupaksa?”

Si hwcsio tua tetap tersenyum tanpa gusar. jawabnya sambi! tergelak. “Haha, bila para Sicu tidak sudi bcramal, maka urusan di sini pun tidak ada sangkut-pautnyaa dengan kami.”

Memangnya apa sangkut-pautnya urusan ini dengan kalian?” bentak Suma Tiong-thian dengan gusar. “Lckas kalian cnyah dan sini!”

‘Eeh, Sicu ini ternyata seorang pemberang?” seru si tojin berjubah biru dengan tcrtawa.

“Wah, air muka Sicu kelihatan gelap, ini tanda tidak baik, hendaknya jangan suka marah, kalau tidak, pesti akan mengalami malapetaka. Ingat dan camkan!”

Saking gusarnya sampai Suma Tiong-thian tidak sanggup bersuara, hanya dadanya yang tampak naik turun.

Si kakek bermantel ljuk lantas mendekati Suma Tiong-thian, mendadak is mcnyingkap tudungnya dan mendengus, “Hm, apakah kau tidak percaya ucapannya?”

“Memang tidak …” belum lanjut pcr-kataan Suma Tiong-thian, mendadak dilihatnya wajah orang yang luar biasa.

Ternyata muka orang tua ini sangat me-nyeramkan, bagian di atas hidung penuh gores-an bekas luka scrupa sebuah semangka yang diiris kian kemari, rambut dan alisnya juga ter-kerik licin, kedua matanya bersinar galak, wajahnya sangat menakutkan.

Semua orang juga terkesiap menyaksikan wajah yang seram ini.

Si kakek tertawa, ‘Haha, jangan takut, biar mukaku jelek, tapi hatiku sangat baik, seorang pedagang sejati. Jika mercka datang dengan bertangan kosong untuk menderma, kedatang-anku justru membawa bavang dagangan dan ingin juaal beli secara adil.”

“Memangnya barang dagangan apa yang kaubawa, bolehkah diperlihatkan kepada ha-dirin di sini?” ujar Lamkiong Siang-ju dengan tersenyum.

“Wah, tampaknya Lamkiong-cengcu juga seorang pedagang,” kata kakek itu sembari me-nuang semua isi karungnya. Ternyata isinya adalah buah kcpala manusia yang sudah tcr-guyur air hujan schingga putih pucat.

“Semua barangku ini masih segar dan ba-ru, sebuah kcpala bertukar dengan sebuah pe-ti, jual-beli ini tentu cukup adil bukan?”

“Satu kepala tukar sebuah peti, hm, jual-beli ini memang pantaa, cuma kukira barang daganganmu sudah tidak segar lagi,” jengek Siang-ju.

“Oo, apakah kauminta barang yang lebih segar?’ tanya si kakek.

Mendadak Lamkiong Siang-ju melompat ke sana dan mengangkat sebuah peti, serunya, “Jika sekarang juga kupotong kcpalamu sendiri, maka peti ini akan kutukar.”

“Eh, jadi atau tidak bisnis kita, kenapa Cengcu mesti mrngincar jiwaku?” sahut si kakek dengan tertawa sambil melangkah maju.

Selagi semua orang melenggong, mendadak sebelah kaki si kakek menyampar sebuah kepala manusia yang dituangnya dari karung ta-di, langsung kepala itu menyambar kc muka Suma Tiong-thian. Berbareng itu sebelah ta-ngan si kakek terus meraih peti yang dipegang Lamkiong Siang-ju, tangan lain juga memotong pundak Lamkiong-hujin, sedangkan kaki kanan terus menyampar pula sehingga sebuah kepala kembali mencelat menuju ke muka Loh Ih-sian dengan keras.

Bebcrapa gerakan itu seakan-akan dilaku-kannya. secara bersamaan. Keruan semua orang melengak.

Dalam pada itu Suma Tiong-thian juga ka-get kctika mendadak sebuah kepala manusia nienyambar kearahnya, seketika ia tidak sem-pat mengelak, cepat ia mengebas dengan tangan s-hingga kepala itu mencelat jauh ke luar ruangan.

Habis itu baru mendadak teringat olehnya wajah kepala tadi seperti sudah dikcnalnya, yaitu salah seorang anak buahnya sendiri. Keruan hati terkesiap, rasanya mual, isi perut hampir tertumpah keluar seluruhnya. Ia mem bcntak dan menghantam pula dengan dahsyat.

Dalam pada itu Loh Ih-sian mcnggcser ke samping sehingga kcpala manusia tadi me-nyambar Icwat di tampingnya dan ‘”bluk”, mcmbcntur dinding.

Sedang Lamkiong Siang-ju berusaha mem-pcrtahankan petinya, tiba-tiba dirasakan tenaga dahsyat menyodok tiba, sckuatnya ia ber-tahan.

Pads saat hampir sama Lamkiong-hujin lantas mcnabas, ia balas memotong pcrgelangan tangan si kakck.

”Sambil bergelak kakck itu meluncur ke samping, pcti Lamkiong Siang-ju ikut tertolak kc depan karena kehilangan imbangan, saat itu juga Suma Tiong-thian lagi mcnghantam dan tepat mcngenai pcti, “brak”, sekctika peti jatuh terbuka dan isinya berhamburan.

Diam-diam Lamkiong Peng terkejut, sckaligus kakek itu menggunakan tangan dan kaki-nya untuk rnenycrang cmpat orang dengan cara yang bcrbeda, kungfunya sungguh sangat lihai, mengapa selama ini tidak terdengar asal-usul seorang tokoh kosen scperti-ini?”

Si hwesio tua tadi tersenyum dan bcrkata “Tcnaga dalam Lamkiong-sicu sungguh hebat, pukulan Lamkiong-hujin juga sangat gesit, bi-cara sejujurnya kalian sudah tcrhitung lumayan. Mengenai Sicu yang ini …. ”

la melirik Suma Tiong-tian sekejap, lalu menyambung, “Dia tidak lebih scrupa anak yang baru masuk sekolah dasar, bila ingin maju masih harus belajar lebih giat lagi.”

“Dan bagaimana dengan diriku?” tanya Loh Ih-sian sambil melompat maju dan mcnyerang si hwesio.

‘Akulah pengujinya, jangan salah sasaran!” seru si kakck kclimis tadi sambil mengadang di depan Loh Ih-sian, tangan terangkat, kon-tan ia colok kedua mata Loh Ih-sian.

Dalam keadaan demikian, Loh Ih-sian tidak sempat menarik kembali pukulannya untuk menangkis, tak terduga mendadak ia men-dongak scdikit, ia pcntang mulut terus hendak menggigit jari lawan.

Keruan kakek kelimis itu terkesiap dan cepat tarik kembali tangannya.

“Haha, bolch juga, dengan cara menggigit ini sudah terhitung lulusan kelas menengah,” seru si hwesio.

“Huh, terhitung jurus serangan macam apa ini?” jengek si kakek kelimis

“Oo, bclum pernah kaulihat? Hehc, tam-paknya engkau perlu banyak menambah pe-ngalaman.” ejek Loh Ih sian.

Sembari bicara kedua orang sudah saling gebrak lagi, hanya sekejap saja bclasan jurus sudah lalu.

Meski cara bcrtempur Loh Ih-sian tampak serabutan. tapi scrangannya justru sangat ber-bahaya, sama sekali si kakek kelimis tidak mampu mengatasinya. Suma Tiong-thian sampai melongo mcnyaksiikan pertarungan mereka.

“Tak tersangka di dunia persilatan sc-karang masih ada beberapa jago lumayan se-perti ini, bilamana harus kubinasakan mereka sungguh rasanya tidak tega,” ucap ti tojin ber-jubah biru tadi.

Mendadak Lamkiong Peng mendengus, “Hm, jika setiap penghuni Kun-mo-to cuma punya kepandaian sepcrti mereka ini, maka ke-takutan orang kangouw terhadap kawanan iblis dari pulau hantu itu sebenarnya agak ber-lebihan.”

“Eh, kautahu kami datang dari Kun-mo-to anak muda?” tanya si tojin dengan mata me-lotot.

“Lahiriah bajik, hati ternyata kejam dan keji, ucapan licin. kungfu tidak lemah, usia pun rata-rata sudah mendekati waktunya ma-suk peti mati, orang begini jika tidak datang dari Kun-mo-to masakah mungkin datang dari tempat lain?” jengek Lamkiong Peng.

“Hahaha, bagus!” seru tojin berjubah biru dengan terbahak, anak muda memang lebih ccpat berpikir . . . .”

Belum lanjut ucapannya Lamkiong Peng telah jemput sebatang pedang di lantai terus menusuk.

Tojin itu tidak mengelak melainkan cuma mengebaskan lengan jubahnya. kontan pedang terbelit oleh lengan jubah yang longgar itu.

Tak terduga pedang Lamkiong Peng yang kelihatan keras itu, scbenarnya cuma serangan pancingan bclaka, mendadak ujung pedang bergetar terus menyambar ke samping, Ialu seccpat kilat menusuk lagi dari arah lain.

Lengan jubah si tojin membelit tempat kosong, tahu-tahu ujung pedang lawan me-nyambar lagi ke tcnggorokannya, sungguh tak tcrpikir olehnya anak muda belia ini mengua-sai ilmu pedang sehcbat ini. Cepat ia menyurut mundur dua-tiga sclangkah.

Si hwesio tua berkerut kening, nyata dia terkesiap ucapnya, “Aha, Sicu cilik ini sungguh anak bcrbakat. Apabila kaumau ikut kami kc lautan sana, tanggung dalam waktu scpuluh tahun pasti akan mcnonjol dan mcnjagoi dunia kangouw.”

“Huh, Lamkiong Peng adalah scorang le-laki sejati mati pun tidak sudi berkomplot dengan kawanan iblis,” seru Lamkiong Peng.

“Lamkiong Peng?!” si hwesio menegas, “Jadi dirimu inilah putra sulung lamkiong san-ceng sekarang ini?”

“Bctul!” tcriak Lamkiong Peng, berbarcng Pcdang menyabat sambil menggeser ke sam-Ping.

Si hwesio tua mengelak dengan ringan, katanya. “Lamkiong-sicu, rasanya padcri tua men-jadi tcrpikat olch bakat putramu ini dan ingin memboyong segenap anggota keluarga Lamkiong ke pulau sana untuk menikmati hidup bahagia bersama. Tapi bila Sicu sendiri berkeras pada pendirianmu, kami juga tidak boleh membiarkan harta benda ini digunakan sebagai dana kejahatan kawanan tua bangka di Cu-sin-to sana, apalagi kalau putramu yang berbakat ini sampai dipcralat oleh mcreka, tentu urasan akan tambah runyam. Maka ter-paksa hari ini kami mesti melanggar pantangan membunuh.”

Tiba-tiba pikiran Lamkiong Siang-ju ter-gerak, serunya ccpat, “Jite dan anak Peng, ber-henti dulu semuanya!”

Lamkiong Peng segcra melompat mundur. Sedangkan Loh Ih-sian molancarkan pukulan dahsyat untuk memaksa mundur si kskek ke-limis, habis itu ia pun melompat ke samping Lamkiong Sian-ju sambil bcrkata, “Toako, jangan kaupercaya kepada ocehan hwesio ini.

Pcnghuni Kun-mo-to kebanyakan adalah manusia jahat dan orang buangan, scbaliknya peng-huni Cu-sin-to adalah kaum kesatria dunia per-silatan yang mengasingkan diri. tidak perlu bicara urusan lain, mclulu nama Kun-mo dan Ca-sin saja sudah mcrupakan pembedaan yang mcnyolok, urusan sckarang sudah telanjur be-gini, biarlah kita hadapi kawanan iblis ini sekuatnya.”

Segera Suma Tiong-thian menyatakaa setuju, “Bctul, gempur saja!”

Segera Lamkiong Siang-ju berkata pula, “Antara keluarga Lamkiong sudah ada perjanjian dengau Cu sin-to yang telah bcrlangsung selama ratusan tahun, tcntang siapa baik dan siapa jahat bukan urusan kita, yang jelas tidak mungkin kurusak perjanjian lcluhur yang sudah ada. Urusan hari ini biarlah kusclcsaikan lang-sung dengan Taysu saja.”

“Jika begitu, jadi Sicu bermaksud mc-nantang bertarung denganku satu lawan satu?” tanya si hwesio dengan sinar mata gemerdep.

“Begitulah maksudku,” jawab Siang-ju.

“Dan bagaimana pula jika hasil pertandingan kita sudah jelas?” tanya si hwesio tua.

“Bila kukalah, maka segala urusan keluarga Lamkiong kuserahkan kepada semua Kehendakmu,” jawab Siang-ju dengan tegas dan mantap.

Loh Ih-sian dan lain-lain yakin ilmu silat hwesio tua ini pasti sangat tinggi dan su-kar diukur, tapi mcrcka pun tahu watak Lamkiong Siang-ju yang pendiam dan cermat, tidak nanti bcrbuat sesuatu yang tidak yakin berhasil, sebab itulah meski merasa ragu, namun tidak ada yang bersuara.

Si hwesio tua tersenyum, katanya sambil mengerling ke arah kedua kawanya,” “Sebenar-nya aku tidak kebcratan atas tantangan Lam-kiong-sicu ini, cuma sayang, kedua kawanku ini jelas tidak dapat meluluskan.”

Serentak si jubah biru dan si kakek ke-limis berseru, “Ya, tidak!”

Loh lh-sian dan Iain-lain menjadi heran, jelas pcrtarungan ini menguntungkan pihak mereka, mengapa kedua orang ini mcnolak dengan tegas.

Lamkiong Siang-ju tertawa, “Haha, rupa-nya tidak meleset dugaanku . . . . ”

“Dugaan apa?” tanya si hwesio.

Tertawa Lamkiong Siang-ju terhenti, ucapnya pelahan, “Orang bilang Teh-ih Hujin ma-hir ilmu rias yang tidak ada bandingannya di dunia ini, setelah bcrtemu sekarang memang harus kupuji tcrnyata tidak bernama kosong. Cuma sayang, betapa cermat tindakanmu tetap melupakan sesuatu.”

Hati semua orang sama tcrgetar, sama heran atas ucapan Siang-ju ini.

Perlahan si hwesio menjawab, “Melupakan apa?”

“Meski Hujin bicara dcngan alim serupa seorang paderi saleh, tapi engkau lupa bahwa seorang hwcsio harus mcnjalani penbabtisan dcngan kcpala diselomoti api dupa. Engkau tidak mcmbawa tasbih pula, mcski memakai kasa (jubah kaum hwesio), tapi kaki memakai sandal orang awam. Yang lebih kentara lagi adalah wajah Hujin yang dibuat kercng, namun kerlingan matamu tidak berubah, mana mungkin seorang paderi saleh selalu main mata.”

Hwesio tua itu terdiam sejenak, mendadak ia tcrtawa ngekek, katanya, “Ah, rupanya aku terlalu menilai rendah kccerdasan kalian, sebab itulah aku telah bertindak ccroboh. Sung-guh hebat juga dapat kaulihat samaranku. Tadi aku pun tidak scharusnya menggunakan “gema irama iblis dan tari pembetot sukma” sehingga dapat kautcrka Tck-ih Hujin pasti berada di sckitar sini. Yang lebih tidak pantas Iagi adalah aku menyamar sebagai hwesio, padahal di dunia ini mana ada hwesio yang punya mata jeli scrupa diriku? ”

Waktu semua orang memandangnya, meski wajahnya kelihatan kereng, namun kerlingan matanya memang jalang. Mau-tak-mau scmua orang sama gcgetun. di samping memuji ke-mahiran penyamaran Tck-ih Hujin yang luar biasa berbareng juga mengagumi ketajaman mata Lamkiong Siang-ju, orang lain tidak tahu samarannya, tapi dia ternyata dapat mengetahui hwesio tua ini adalah samaran Tek-ih hujin.

Di tengah tcrtawa merdunya, pclahan tangan si “hwesio” mengusap dan menarik mu-ka sendiri, ketika ia membuka tangan, tahu-ta-hu hwesio tua yang salch telah berubah mcnjadi seorang perempuan setcngah baya dan masih sangat cantik mempesona.

“Setelah jejak Hujin ketahuan, kcnapa tidak lckas pergi saja, memangnya perlu mengalirkan darah di sini?” kata Siang-ju.

Tck-ih Hujin mengerling genit, ucapnya, ‘Kami bertiga melawan kalian berlima memang terasa kalah kuat, cuma sayang, betapa-pun cerdik Lamkiong-cengcu tetap melupakan sesuatu.”

Nyata, suaranya sckarang telah berubah menjadi halus mcrdu.

“Melupakan apa?” tanya Siang-ju.

Tek-ih Hujin tertawa ngikik, “Kaulupa bahwa selain mahir merias dan mengubah suara, Tek-ih Hujin masih menguasai sejenis kepandaian yang tidak ada bandingannya di dunia…..”

Tergerak hati Lamkiong Siang-ju, serunya mendadak, “Hah menggunakan racun maksudmu? . …”

“Betul, kembali dapat kautcrka dengan jitu,” ajar Tek-ih Hujin. “Cuma sayang kini sudah tcrlambat.”

Sercntak Lamkiong Siang-ju menyurut mundur sambil mcmbentak “Lekas tahan napas!”

“Sudah kukatakan tcrlambat, masa engkau tak pcrcaya?” ujar Tck-ih Hujin dengan tertawa. “Saat ini kalian sudah mengisap hawa racun yang tak berwujud dan tak berbau, dalam sctengah jam kalian akan mati dengan tubuh membusuk, apa gunanya sekarang kalian mau menahan napas? Selama hidupku senantiasa ‘tek-ih’ (senang), jika lebih sering tidak senang tak mungkin orang kangouw memberi nama julukan Tck-ih Hujin padaku?”

Ia meraba rambut pada pelipisnya, lalu berucap pula dengan tersenyum manis, “Jika saat ini kalian mengaku salah dan mau me nurut kepada perkataanku, bisa jadi akan ku-beri ampun kepada kalian dan menawarkan racun yang kalian isap. Kalau tidak, sclang sctengah jam Iagi, biarpun tabib sakti Hoa To lahir kembali juga tidak mampu menyelamat-kan kalian.”

Muka Lamkiong Siang-ju tampak pucat, dampcratnya, “Huh, ngaco-belo, betapapun kauputar lidah tetap takkan kupercaya.”

Tek-ih Hujin tertawa scnang, “Hihi, meski mulutmu keras, padahal dalam hatimu sudah pcrcaya. betul tidak? Soalnya engkau tentu sudah pcrnah mendengar ccrita orang kangouw bahwa kabut wangi pencabut nyawa Tek-ih Hujin tidak berbau dan tidak berwujud, kalau tidak segera minum obat penawar, dalam jarak scluas tiga tombak baik manusia maupun hewan, asalkan keciprat sctitik saja kabut be-racun itu. tidak ada yang dapat hidup lebih dari satu jam.

“Cuma sayang kabut ini tak dapat men-capai jauh, dengan susah payah aku menyaru scbagai hwesio tua dan menuju ke sini di bawah hujan, tujuanku adalah membuat kalian tidak berjaga-jaga, dcngan begitulah baru dapat kumasuk ke ruangan ini dengan leluasa dan dapat meracun mati kalian dengan mudah.”

Dia bicara dengan berlenggak-lenggok dan main mata dengan genit.

Tiba-tiba pikiran Lamkiong Peng melayang-layang, tanpa terasa teringat olehnya akan diri Kwe giok ge, diam-diam ia membatin,” menagapa perempuan yang berhati keji dan jahat sama berbentuk cantik molek?”

Pada saat itulah terdengar Loh-ih-sian membentak,”perempuan keji, biar aku mengadu jiwa denganmu!”

Serentak Suma Tiong-thian juga jemput kembali tombaknya.

Tapi si kakek kelimis dan tojin jubah biru lantas mengadang di depan mereka.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: