Kumpulan Cerita Silat

04/03/2008

Amanat Marga (13)

Filed under: Amanat Marga, Gu Long — ceritasilat @ 11:54 pm

Amanat Marga (13)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Eve1yn, Dragon, Nra, dan Ririn)

“Kalau murid Kun-lun pai lantas mau apa?” jawab Cian tong-lai sambil melancarkan pukulan tiga kali di tengah berkelebat sinar pedang lawan.

“bagus serangan hebat!” seru Kiam soat memuji, “apabila ditambah lagi jurus Sam kun ce hoat (tiga pasukan menyerang bersama), tosu brengsek ini pasti akan kelabakan.”

Kiranya dalam waktu beberapa hari yang singkat ini, demi merebut hati si cantik, tanpa pikir Cian tong-lai telah memberitahukan padanya segenap intisari kungfu kun lun pai.

“Hm, boleh coba!” jengek Koh-tong Tojin sambil berputar, secepat kilat pedangnya juga menusuk tiga kali, tapi saking cepatnya seakan-akan hanya satu jurus saja.

“Bu tong kiam hoat yang hebat!” puji Kiam soat. “tapi coba rasakan jurus Sam kun ce hoat orang !”

DI tengah tertawa nyaringnya, dilihatnya Cian tong-lai melompat ke atas, sebelah kaki menendang pergelangan tangan lawan yang memegang pedang.

Ketika Koh-tong tojin menarik peadngnya tahu-tahu tangan Cian tong-lai menerobos masuk di bawah cahaya pedang dan menusuk hiat-to maut pada pelipisnya.

Mendadak Koh-tong tojin tarik pedang ke samping, segera Cian tong-lai menerobos maju dan menutuk Ki-bun dan Ciang-tai-hiat di dadanya.

Cepat Koh-tong putar pedangnya untuk menabas, tapi Cian tong-lai lantas melompat ke samping dan menghantam iga lawan.

Dengan terkejut Koh-tong mengelak, menyusul pedang menusuk lagi. Tak terduga kedua tangan Cian tong-lai lantas mengatup dan tepat menjepit batang pedangnya dengan kuat.

Dalam kaget dan gusarnya koh-tong menarik sekuatnya. Akan tetapi pedang serasa melengket di tangan lawan dan sukar terlepas.

“Hehe, bagaimana, aku tidak berdusta, bukan?” terdengar Bwe kiam soat berucap dengan tertawa.

Cian tong-lai tampak senang, bentaknya mendadak, “Lepas!”

Tahu-tahu pedang Koh tong tojin tergetar mencelat, cepat Koh tong melompat juga ke atas untuk meraih kembali pedangnya.

Pada saat yang sama, Jing-siong Tojin telah memburu maju, kontan pedang menabas pergelangan tangan Cian tong-lai. Tok-go Tojin juga tidak tinggal diam, berbareng ia pun menusuk iga kiri musuh.

“Hm, tidak tahu malu………..” jengek Bwe kiam soat.

Mendadak dirasakan angin tajam menyambar tiba, pedang Koh tong tojin telah menabasnya dengan cepat.

Tapi Bwe kiam soat tidak berkelit atau mengegos, tentu saja Koh-tong bergirang. Tak terduga mendadak Bwe kiam soat menyurut mundur, pedang Koh-tong menyambar lewat dan mengenai dinding karang ‘trang’, lelatu api muncrat dan membuat tangan Koh tong kesemutan sendiri.

Di antara Bu-tong-su-bok meski masing-masing mempunyai kungfu andalan, tapi bicara tentang ginkang dan kiam hoat tiada yang dapat menandingi Koh-tong.

Sekarang dia ternyata tidak sanggup melawan Cian tong-lai, juga tidak mampu, mengalahkan Bwe kiam soat, tentu saja ia malu dan gusar, sedikit bergeser,, sebelah kakinya menendang dada Kiam soat.

“Hm, apakah ini pun jurus serangan seorang tojin?” jengek Kiam soat sambil menghindar ke samping.

Di sebelah sana Jing-siong dan Tok-go berdua telah mengurung Cian tong-lai di tengah sinar pedang mereka, ilmu pedang mereka Liang-gi-kiam-hoat dapat bekerja sama dengan sangat rapat, meski sangat lihai kungfu Cian tong-lai juga rada kerepotan.

Sementara itu Ci-pek Tojin berdiri menghadapi Yap manjing, ia juga ghengsi, asal Manjing tidak bergerak, ia pun tidak mau turun tangan.

“Apa benar kau larang aku pergi?” tanya Manjing.

“Urusan menyangkut nama baik perguruan kami, terpaksa aku bertindak demikian,” jawab Ci-pek.

Manjing menunduk memandang Lamkiong Peng sekejap, muka anak muda itu kelihatan pucat dan mata terpejam, nafas sangat lemah.

Ia kuatir dan mendongkol pula, tapi juga tak berdaya, terpaksa ia berkata, “Bila aku bersumpah takkan menyiarkan kejadian yang kulihat ini, tentu aku boleh pergi bukan?”

Ci-pek tojin berpikir sejenak, tiba-tiba dilihatnya sisutenya sudah diatasi Bwe kiam soat, pikirannya berubah, katanya segera, “Nona berasal dari perguruan ternama, tentu saja dapat kupercayai janjimu.”

Mendadak ia mnyingkir ke samping dan memberi tanda, “Silahkan!”

Manjing jadi melenggak karena urusan berakhir semudah ini, tapi mengingat keselamatan Lamkiong Peng, tanpa bicara lagi segera ia angkat kaki.

Dalam pada itu dengan mengancam Hiat-to maut punggung Koh-tong tojin segera Bwe kiam soat berseru, “nah, ketiga totiang dapat berhenti, barang siapa sembarangan bergeral lagi, terpaksa ku………….”

Sampai di sini sekilas dilihatnya Yap manjing sedang melangkah pergi dan melompat terjun ke bawah tebing. Tapi lantaran keadaannya juga sangat lemah, mendadak terdengar jeritan Manjing yang jatuh di bawah.

Tanpa pikir Kiam soat mendorong Koh-tong dan ikut melayang turun ke bawah.

Cepat Ci-pek bertiga membangunkan Koh-tong yang terluka itu. Sedangkan Cian tong-lai segera menyusul Bwe kiam soat ke bawah tebing, serunya, “Nona Bwe, kita pun dapat pergi saja.”

Rupanya berhubungan selama beberapa hari ini di antara mereka sudah tambah akrab, Cian tong-lai jadi semakin terpikat.

Dilihatnya Bwe kiam soat sudah berada di samping Yap manjing dan ingin menariknya bangun, tapi Manjing sedang mendengus, “Tidak perlu, aku dapat berdiri sendiri.”

Cian tong-lai memburu maju, jengeknya, “Hm, sungguh orang yang tidak tahu budi, baru saja kita membebaskan dia dari kesukaran, sekarang dia tidak tahu terimakasih lagi.”

Meski jatuh terduduk karena lompat dari ketinggian, namun Lamkiong Peng masih tetap dalam rangkulannya, sekarang Manjing lantas melompat bangun dan menjawab, “Hm, memangnya kalian yang membebaskanku dari kepungan musuh?”

“Ya, kau sendiri yang tinggal pergi,” ujar Kiam soat dengan tertawa, “Eh, adik cilik, kau mau kemana?”

“Ku pergi kemana, apa sangkut pautnya denganmu?” jengek Manjing.

“Siapa yang peduli,” sela Cian tong-lai dengan gemas sambil menarik lengan baju Bwe kiam soat, “Jika dia tidak tahu diri, marilah kita pergi saja.”

Tapi Bwe kiam soat tidak menghiraukannya, katanya pula kepada Manjing, “Adik cilik, kau gendong seorang sakit, tenagamu lemah di sekitar sini juga sukar mencari tempat pondokan, hanya seorang diri ke mana kau mau pergi?”

Manjing menjadi ragu juga, tubuh sendiri memang lemah, tidak membawa biaya pula, apalagi tidak kelihatan rumah penduduk di sekitar situ. Jika tidak mendapat pertolongan sungguh keadaan Lamkiong Peng memang menguatirkan.

Sejenak kemudian barulah ia menjawab, “Habis bagaimana?”

“Marilah kita meneruskan perjalanan bersama dan menyembuhkian penyakitnya dahulu,” kata Kiam soat.

“Kau mau pergi bersama mereka?” seru Cian tong-lai, “Bukankah kita akan pergi bersama.”

“Berdasarkan apa kau ikut campur urusanku? Jengek Kiam soat mendadak.

“Bukankah …….segala apa sudah kuberitahukan padamu, mengapa kau………..”

“Semua itu kau lakukan dengan sukarela, apakah pernah kujanjikan sesuatu kepadamu?” jawab Kiam soat dengan ketus.

Cia tong-lai melenggong, mendadak ia berteriak, “Tapi……….tapi engkau tak dapat pergi……..jangan tingggalkan aku………….”

Segera ia menubruk maju dan bermaksud merangkul Bwe kiam soat.

Sambil bekernyit kening Kiam soat membentak, “Lelaki hina!”

Kontan sebelah tangannya menghantam. Sama sekali Cian tong-lai tidak mengelak dan menghindar, ‘plak’, pukulan itu tepat jatuh mengenai dadanya dan mencelat jauh ke sana, roboh dan pingsan seketika.

Kiam soat mencibir, katanya kepada Manjing, “Marilah kita pergi!”

Manjing hanya menoleh sekejap, akhirnya ikut pergi tanpa bicara.

Diam-diam Manjing membatin, “Pantas setiap orang bilang dia berdarah dingin, tingkah lakunya memang keji dan dingin. Tapi……..terhadap Lamkiong Peng tampaknya dia tidak dingin.”

Dalam pada itu terdengar Bwe kiam soat lagi berkata, “Ada sementara lelaki di dunia ini memnag menggemaskan, asalkan kau beri sedikit kebaikan, dia lantas ingin menarik keuntungan darimu. Untung sekarang, bilamana terjadi belasan tahu lalu, hm, jiwa orang she Cian itu tentu sudah melayang.”

***************

Lamkiong Peng berbaring di tempat tidur dan tampak bergulang-guling dengan keringat memenuhi dahinya. Ia sednag bermimpi buruk, seperti beratus senjata lagi menghunjam kepalanya, seperti api hendak membakarnya, serupa setan iblis yang tak terhitung jumlahnya hendak mengerubutnya.

Mendadak ia berteriak dan bangun, waktu ia membuka mata, mana ada api, senjata dan setan segala. DI bawah cahya lampu hanya kelihatan dua raut wajah cantik molek yang sedang memandangnya dengan cemas.

Setelah menenangkan diri, ia pandang Bwe kiam soat dengan tercengang, katanya, “Engkau ………engkau berada di sini?”

Kiam soat tersenyum manis, sebaliknya Manjing menunduk sedih, pelahan ia meninggalkan kamar Lamkiong Peng kembali ke kamar sendiri.

Sungguh kusut pikirannya, sampai jauh malam ia tidak dapat tidur, pikirnya, “Yang dicintainya ialah Bwe kiam soat, untuk apa ku bikin susah sendiri dengan menyelipkan diri di tengah mereka?”

Setelah dipkir lagi pulang pergi, akhirnya ia menghela nafas, ia membuka daun jendela dan bergumam, “Ku pergi saja, semoga kalian hidup bahagia selamanya dan aku pun……..” tak tertahan menitiklah air matanya.

Ia tidak tahu bahwa pada saat yang sama Bwe kiam soat juga sedang termenung-menung di kamarnya, ia pun sedag memikirkan nasibnya dan berkeluh kesah, “Wahai Bwe kiam soat mengepa engkau menjadi lupa daratan seperti ini, masa kau lupa pada usiamu yang sudah tidak muda lagi, dirimu pun berlumuran dosa, mana setimpal dirimu baginya. Dia sudah sembuh, dia juga sudah didampingi seorang gadis jelita yang pantas baginya, untuk apa lagi kau tinggal di sini?”

Ia menghela nafas dan berbangkit, gumamnya, ” Biarlah ku pergi saja, kalau aku tidak pergi sekarang, bisa jadi sebentar lagi aku tidak sanggup pergi.”

Dengan sedih ia membuka daun jendela, dengan perasaan berat ia memandang ke arah kamar Lamkiong Peng, gumamnya pelahan “Ku pergi saja, jangan kau sesalkan diriku, semua ini demi kebaikanmu, padahal……..masa aku tidak ingin mendampingimu selamanya?……….”

Tanpa terasa air matanya berderai, dengan mengeraskan hati akhirnya ia melompat keluar jendela dan meninggalkan kamar hotel.

Tidak ada yang tahu hampir pada saat yang sama, di kamarnya Lamkiong Peng juga sedang bingung memikirkan kedua nona itu, selama dua tiga hari ini ia berbaring sakit di tempat tidur, ia sedih akan malapetaka yang menimpa keluarganya, juga murung bagi persoalan diri sendiri yang terlibat di tengah cinta kasih dua nona itu.

Ia pikir keluarganya sedang menghadapi ujian berat, hari depannya sukar diramalkan, betapapun ia tidak dapat membikin susah kedua nona itu.

Akhirnya ia pun mengambil keputusan akan tinggal pergi saja demi kebahagiaan kedua nona itu. Ia ingin pulang dulu ke Kanglam untuk menjenguk orang tua dan mencari tahu sesungguhnya apa yang terjadi.

***********

Beberapa hari kemudian, di suatu malam yang pekat dengan hujan angin, sebuah pintu gapura megah berdiri tegak dalam kegelapan malam. Dibalik gapura itu adalah jalan yang panjang berliku diapit oleh pepohonan yang bergoyang tertiup angin.

Guntur menggelegar, cahaya kilat berkelebat, sesosok bayangan orang tampak merandek dan agak ragu untuk meneruskan langkahnya. Sekujur badannya basah kuyup, bajunya tak teratur, rambutnya semerawut dan mencucurkan air, entah air hujan atau air keringat.

Kening orang itu bekernyit, ia menyapu pandang sekelilingnya dengan sinar matanya yang tajam.

Nyata dia inilah Lamkiong Peng, malam ini juga dia sudah pulang sampai di rumah disambut oleh hujan angin yang keras. Kepulangannya membawa tanda tanya yang belum terjawab, yang membuatnya gelisah dan cemas.

Sepanjang jalan dari utara sampai ke selatan, segenap cabang perusahaan keluarga Lamkiong ternyata sudah ditutup seluruhnya, hal ini membuatnya bingung dan juga kapiran sepanjang perjalanan.

Maklumlah, selama ini ke mana pun dia pergi tidak pernah kekuarangan sesuatu. Tapi sekarang dia tidak punya segalanya, dia tidak pernah membawa sangu, untuk makan saja harus menjual baju.

Syukurlah sekarang dia sudah tiba di rumah sendiri. Ia membusungkan dada dan mengusap air yang membasahi mukanya , ia melangkah lagi ke depan.

Mendadak dari balik pohon di tepi jalan itu ada orang yang membentak, “Berhenti!”

Di bawah sinar kilat dua sosok bayangan melompat keluar dari kanan kiri jalan. Lamkiong Peng berhenti dengan melenggak.

Dilihatnya dua lelaki berbaju hitam dan memakai kedok, yang seorang bersenjata pedang dan yangn lain memakai sepasang senjata potlot baja, keduanya mengadang di depan dan menegur, “Sahabat berani menerobos ke dalam Lamkiong san ceng di tengah malam buta begini, apakah engkau sudah tidak sayang lagi pada nyawamu?”

Segera orang yang berpedang itu menusuk leher Lamkiong Peng. Serangannya cepat, jurusnya lihai, sekali serang segera hendak merenggut nyawa orang.

Lamkiong Peng melenggong, cepat ia berkelit sambil membentak, “Berhenti dulu! Apakah kalian tidak kenal siapa diriku?……….”

Orang yang bersenjata potlot baja segera menutuk dua hiat- to di dada V sambil membentak, “Tidak peduli siapa pun, selama 30 hari ini dilarang masuk kes ini.”

Lamkiong Peng melompat mundur dan berseru pula, “Berhenti dulu, aku inilah Lamkiong Peng!”

Orang itu merandek sejenak, mendadak ia tertawa keras dan berakata, “Haha, Lamkiong Peng, dari mana datangnya Lamkiong Peng sebanyak ini, termasuk kau sudah ada empat orang memalsukan nama Lamkiong Peng untuk masuk ke sini.”

Sembari bicara pedangnya menyerang pula tiga kali sekaligus.

Mau tak mau gusar juga Lamkiong Peng, teriaknya, “Jika kalian tidak percaya, terpaksa harus kuterobos secara paksa.”

Sekali menghantam ia desak mundur orang berpedang itu.

“Saat ini Lamkiong san ceng sudah berada di bawah lindungan 17 tokoh terkemuka, biarpun setinggi langit kepandaianmu juga jangan harap akan memasuki perkampungan ini!” teriak orang bersenjata potlot.

Berbareng potlot bajanya lantas menutuk.

Serangan orang ini sangat lihai, setiap tempat yang di arah selalu bagian yang mematikan.

Tentu saja hati Lamkiong Peng penuh diliputi tanda tanya, sungguh kalau bisa ia ingin terbang masuk untuk menemui ayahnya. Tapi apa daya, kedua orang ini ngotot merintanginya dan sukar memberi penjelasan. Menghadapi kerubutan mereka, seketika Lamkiong Peng tidak mampu melepaskan diri.

Terdengar angin berkesiur, kembali tiga sosok bayangan melayang tiba.

Sekilas lirik lelaki berpedang lantas berseru, “Ciok-loji, kedatangan musuh lain lagi lekas kau papaki mereka!”

Lelaki berpotlot yang disebut Ciok-loji itu berkerut kening, katanya, “Ketiga pendatang ini tampaknya tidak lemah, lekas kau lepaskan isyarat tanda bahaya saja.”

“Hm, jika malam ini kita tidak mampu mempertahankan pos penjagaan kita ini, selanjutnya apakah kita ada muka utnuk menemui orang?” Jengek lelaki berpedang.

Mendadak tangannya bergerak, tiga larik sinar perak langsung menyambar ketiga sosok bayangan yang melayang tiba di bawah hujan itu.

Ciok-loji tertegun sejenak, segera ia pun menubruk ke sana. Dilihatnya seorang di antaranya mengayun tangannya, kontan ketiga larik sinar perak tergetar balik.

Cepat Ciok-loji memukul, angin pukulan menyambar, ketiga senjata rahasia itu dapat dipukulnya jatuh. “Siapa sahabat yang menerobos Lamkiong san ceng di tengah malam buta ini, lekas mundur kembali!” bentaknya.

Dilihatnya ketiga sosok bayangan itu berseragam sama, baju hitam dan pakai kedok, kedua orang kanan kiri bersenjata golok, yang di tengah bertangan kosong, di bawah kain kedoknya kelihatan jenggotnya yang putih.

Ketiga orang itu mendengus, serentak mereka mengerubut maju.

Kedua potlot baja Ciok-loji bekerja cepat, serentak ia tutuk dada ketiga penyatron.

Si kakek berjenggot memberi tanda berhenti kepada kawannya, lalu berseru, “Apakah sahabat yang mengadang ini kedua saudara keluarga Ciok dari Tiam-jong-pai?”

“Kalau betul mau apa?” jawab Ciok-loji bengis. “lekas mundur, kalau tidak, jangan menyesal jika kami tidak sungkan lagi.”

“Hm, aku justru ingin coba-coba kepandaian jago Tiam-jong, jengek Si kakek.

Kedua orang berkedok dan bergolook itu segera menyurut mundur dan si kakek oun perang tanding dengan ciok-loji.

Senjata si kakek berkedok ini adalah cambuk panjang berwarna hitam, hanya sekali dua serangan saja Ciok-loji sudah terkurung di tengah bayangan cambuk yang dasyat.

“Yim ong-hong!” seru Ciok-loji terkesiap.

“Betul,” kata si kakek berkedok dengan tertawa. “Haha, tak tersangka setelah mengasingkan diri 20 tahun masih ada kawan Bulim yang kenal diriku.”

Lelaki berpedang itu juga terperanjat, ia sudah kerepotan melawan Lamkiong-peng, kini diketahui pula si kakek berkedok ini adalah bandit termashur pada 20 tahun yang lalu, tentu saja ia tambah kuatir. Segera ia merogoh saku dan dilemparkan ke udara, selarik cahaya meluncur dan meletus di atas, seketika tersebarkan bunga api sebagai hujan.

Lamkiong Peng juga curiga karena kedua orang itu merintanginya mati-matian, apabila benra mereka melindungi perkampungannya, mengapa jejak mereka dirahasiakan dan main sembunyi, jelas karena asal usul mereka tidak boleh diketahui orang lain. Jika Yim ong-hong yang sudah menhilang 20 tahun ini, apa maksud tujuan kedatangannya ini?

Dalam pada itu terdengar Ciok-lojj lagi berseru, “Yim ong-hong, kau berani melanggar sumpahmu sendiri, dan kini mengaduk lagi di dunia kangouw, apakah kau tidak takut Hong-tun-sam-yu akan mencarimu?”

“Hahaha, sudah belasan tahun jejak Hong-tun-sam-yu tidak kelihatan di dunia kangouw, mungkin ketiga tua bangka itu sudah mampus semua, maka sumpahku dengan sendirinya juga batal,” jawab Yim ong-hong dengan tertawa. “Baru-baru ini kudengar di sini ada berjuta tahil perak, tanpa terasa hatiku tergelitik. Anehnya Tiam-jong-siang-kiat yang termashur mengapa sudi menjadi penjaga rumah orang, apakah barang kali kalian juga mengincar harta berjuta tahil ini?”

“Hm, jika kaupun mengincar harta benda yang berada disini, sama halnya kau lagi mimpi,” jengek Ciok-loji.

Ia terus berjaga dengan rapat, meski cambuk Yim ong-hong menyerang dengan gencar belum juga mampu merobohkan lawan.

“Menyingkir!” bentak Lamkiong Peng mendadak, sekali hantam ia desak mundur pengadangnya.

Tentu saja kedua ciok bersaudara, tercengang. Juga Yim ong-hong melenggak, teriaknya, “He, anak muda, apa maksudmu ini? jika perkampungan ini berhasil diserbu, tentu engkau akan mendapat bagian yang menarik, lekas bereskan Ciok-lotoa dulu!”

Sesudah menyebarkan bunga api tadi dan sejauh ini belum kelihatan datang bala bantuan, diam-diam Ciok-lotoa yang berepdang itu menjadi gelisah, cepat ia menanggapi ucapan Yim ong-hong,” jangan percaya ocehannya sahabat muda, orang ini adalah bandit yang terkenal kejam, caranya merampok terkenal main sapu bersih tanpa kenal ampun, mana mungkin dia membagi bagian rezeeki padamu. Jika kau bantu kami menggempurnya mundur, mungkin engkau akan mendapat ongkos yang layak.”

Diam-diam Lamkiong Peng mendongkol, sudah dirinya disangka sebagai penjahat, sekarang harta benda keluarganya menjadi incaran pula. Meski dia meragukan tingkah laku kedua Ciok bersaudara, tapi orang memang mempertahankan keselamatan perkampungannya, jelas kawan dan bukan lawan, sebaliknya komplotan Yim ong-hong ini jelas adalah penyatron yang mengincar harta keluarganya.

Segera ia melancarkan pukulan dasyat sehingga cambuk Yim ong-hong sama sekali tidak berdaya menembus pertahanannya.

Tentu saja Yim ong-hong terkejut oleh ketangkasan anak muda itu, hanya dengan bertangan kosong ternyata mampu melawan cambuknya yang lihai ini.

Smentara itu kedua Ciok bersaudara sempat mengalihkan perhatian untuk melayanikedua orang berkedok yang bergolok itu.

“Hm, rupanya kedua saudara Li dari Thay-hing-san,” jengek Ciok-loji.

Salah seorang berbaju hitam dan berkedok itu balsa mendengus. “Hm, tajam amat mata Ciok-loji!”. Mendadak ia menarik kedoknya dan bergelak, “Haha, baiklah biar kuperlihatkan wajah asli tuan besar Li!”

Kakak kedua Li bersaudara ini bernama Li Thi-hai berjuluk Hoa-to atau golok kembangan, adkinya soat-to Li Hui-hai, si golok salju juga membuang kain kedoknya sambil berteriak, “Nah, setelah kalian melihat dengan jelas wajah kami, bolehlah kalian mengadu kepada raja akhirat!”

Kedua Li bersaudara ini sama berkepala besar dan bermata melotot, bercambang dengan perawakan tinggi besa. Namun golok mereka adalah senjata ringan dan gesit.

Keempat golok segera bekerja sama dengan rapat, cahaya perak berhamburan serupa salju, serentak Ciok-loji berdua terserang dengan gencar.

Tanpa bicara kedua Ciok bersaudara melayani lawan dengan sama tangkasnya.

Diam-diam Lamkiong Peng membatin, “Sekaligus tokoh Bulim kelas tinggi ini membanjiri Lamkiong san ceng, jangan-jangan ayah telah mengumpulkan harta benda hasil penjualan berbagai cabang perusahaan ke sini, entah apa maksuda tujuan ayah dengan tindakannya ini?”

Angin meniup semakin kencang, hujan pu tambah lebat, di kegelapan hutan sana mendadak meluncur pula tiga larik cahaya terang, lalu bunga api berteberan di udara.

Menyusul di sekeliling bergema suara teriakan dan bentakan diseling suara nyaring beradunya senjata.

Seketika air muka semua orang sama berubah.

Tampaknya sebelah sana kedatangan penyatron lagi,” desis Ciok-loji kepada saudaranya.

“Antara Yim ong-hong dan Cin Luan-ih biasanya ada satu tentu ada dua, selama ini keduanya hampir tidak pernah berpisah, jika sekarang Yim ong-hong berada disini,. Dengan sendirinya Cian Luan-ih juga sudah ikut datang,” kata Ciok-lotoa.

Yim ong-hong terbahak-bahak, katanya, “Biar kukatakan terus terang, segenap kawan, kalangan hitam dari ke-13 propinsi sudah datang semua ke lamkiong san ceng ini, apa kalian mesti jual nyawa percuma bagi Lamkiong Sian-ju?”

Habis bicara cambuknya bekerja terlebih kencang, ia menyabat kian kemari sehingga kedua Ciok bersaudara agak kerepotan.

Lamkiong Peng tambah gelisah, ia pikir ayah tidak mahir ilmu silat, jika kawanan penyatron ini sampai berhasil menyerbu ke dalam rumah, entah bagaimana akibatnya nanti.”

Karena cemasnya, mendadak ia bersuit dan melompat tinggi ke atas, kedua tangannya meraik, secepat klat ujung cambuk Yim ong-hong terpegang olehnya.

Dengan sendirinya Yim ong-hong menahan cambuknya dengan kuat sambil berseru kaget, “gaya Si-liong, murid Ci-hau!”

Kedua Ciok bersaudara saling pandang sekejap sambil berucap, “Ternyata benar Lamkiong Peng adanya!”

Dalam pada itu Lamkiong Peng juga telah melayang turun ke tanah dan menarik sekuatnya sehingga cambuk Yim ong-hong terbetot lurus. Kedua orang saling tarik dengan kuat, keempat kaki mereka sampai amblas ke dalam tanah.

DI tengah hujan angin yang lebat, suara suitan semakin ramai dan juga tambah dekat di udara muncul bunga api berhamburan.

Pada saat itulah sekonmyong-konyong sesosok bayangan orang mucul dari dalam hutan, dengan dua tiga kali lompatan, langsung bayangan ini menerjang ke sini.

“Aha, bagus!” seru Ciok-lotoa dengan girang.

“Tiam-jong-yan juga datang?!” seru Yim ong-hong kaget sehingga tenaganya mengendur.

Pada saat yang sama Lamkiong Peng terus membentak sambil memebetot sekuatnya sehingga cambuk lawan kena dirampasnya.

Bayangan yang menerjang tiba itu, Tiam Jong Yan, si walet dari Tiam-jong, mendengus, “Hm, Yim ong-hong ternyata benar berada di sini. Dan siapakah sahabat ini?”

“Dia inilah Lamkiong Peng,” kata Ciok-loji.

“Apa betul?” Tim jong yan menegas.

“Gaya Sin-liong, tidak mungkin salah,” ujar Ciok-loji.

Diam-diam Lamkiong Peng merasa lega keran akhirnya identitas dirinya dapat dikenali mereka.

Ia memberi hormat dan berkata, “Atas kebaikan hadirin yang sudi membela Lamkiong san ceng, di sini Lamkiong Peng mengucapkan terimakasih. Harap kalian bertahan sementara di sini, biar kujenguk dulu ayahku.”

Selagi dia hendak tinggal pergi, siapa tahu bayangan orang lantas berkelebat, tahu-tahu Tiam Jong Yan mengadang lagi di depannya.

Lamkiong Peng tercengang, “apakah anda belum percaya bahwa aku inilah Lamkiong peng?”

Dengan dingin Tiam Jong Yan menjawab,”justru lantaran anda Lamkiong Peng, maka terlebih tidak boleh masuk ke sana.”

“Meng………mengapa begitu?” tanya Lamkiong Peng dengan tercengang.

“Tiada gunanya banyak bertanya, lekas mundur ke sana!” seru Tiam jong yan, sebelah tangannya lantas menilak ke depan.

Tentu saja lamkiong peng bertambah curiga, sambil mengelak, mendadak tangan terasa mengencang, kiranya ujung cambuk sebelah sana kena di pegang lagi oleh Yim ong-hong, sekali bentak segera ia menarik cambuk sekuatnya, menyusul lantas diputar dan menyabat kepada Lamkiong Peng. Malahan Tiam Jong Yan juga melancarkan pukulan maut ke dada anak muda itu.

Kedua orang ini terhitung tokoh kelas tinggi, serangannya sangat lihai, cepat Lamkiong Peng mengelak.

Yim ong-hong tergelak, “haha, kukira Tim jong pai kalian juga tidak bermaksud baik…….”

Belu lenyap suaranya, kedua telapak tangan Tiam jonbg pai menghantam sekaligus, yang kiri memukul Lamkiong Peng, yang kanan menghantam Yim ong-hong sekuatnya.

Terpaksa Yim ong-hong menarik kembali serangnnya kepada Lamkiong Peng, cambuknya berganti arah di tengah jalan dan menyabat iga Tiam Jong Yan.

Kesempatan itu digunakan Oelh Lamkiong peng menarik diri, dengan cepat ia hendak melompat ke arah perkampungan. Tak terduga Yim ong-hong dan Tiam Jong Yan kembali merintanginya.

“Tiam Jong Yan” bentak Lamkiong Peng, “percuma engkau dikenal sebagai tokoh perguruan ternama, apakah sekarang kaupun menjadi bandit yang tamak harta?”

“Hm, siapa yang menghendaki hartamu?” jengek Tiam Jong Yan.

“Jika begitu mengapa kau ganggu rezeki kami?” tukas Yim ong hong.

“dan mengapa kau pun merintangi jalanku?” bentak lamkiong Peng murka.

Muka Tiam Jong Yan tampak masam, ia tidak menjawab, tapi serangannya tambah dasyat.

Di sebelah sana kedua Ciok bersaudara yang menandingi kedua Li bersaudara tampak sudah muali unggul, sedangkan suara suitan dan bentakan di tengah hutan sana semkin mendekat, malahan sering diselingi suara jeritan ngeri, jelas ada orang terluka dan binasa.

Hanya di perkampungan yang terletak di kedalaman hutan sana tetap kelam tanpa terdengar seuatu suara.

Sekonyong-konyong terdengar orang menjerit di samping. Permainan golok Li hui-hai menjadi kacau, pedang Ciok-loji telah menusuk bahu kirinya, darah muncrat membasahi baju Ciok-loji.

Li thi-hai terkejut, serunya, “He, jite, apakah parah lukamu?”

Li hui-hai menggertak gigi, ia menerjang maju lagi, serangannya tambah kalap, mendadak kakinya menendang sehingga sebuah potlot baja ciok-lotoa terlepas dari pegangan.

Li Thi-hai meraung sambil menabas sehingga lengan kiri terluka panjang, pedang Ciok-loji juga membalik dan melukai lengan kanan Li thi-hai.

Dalam sekejap keempat orang sama terluka dan berlumuran darah, namun semuanya pantang mundur, tetap bertempur dengan sengit.

“Hm, jika kalian bertiga bukan tamak terhadap harta untuk apa kalian mengadu jiwa bagi Lamkiong siang-ju?” bentak Yim ong-hong.

“Dan bila kalian benar membela lamkiong-san-ceng kami, mengapa kalian merintangiku ke sana?” lamkiong Peng juga berteriak.

Namun Tiam Jong Yan dan kedua ciok bersaudara tetap bertempur tanpa bicara. Air hujan mengguyur air darah dan menggenangi jalan yang becek.

Mendadak terdengar suara bentakan dan jeritan, sesosok bayangan terguling keluar dari kegelapan hutan sana dengan luka di dada.

Sekilas pandang segera Tiam Jong Yan menendang sehingga orang itu terpental.

“Wah, celaka, si harimau gila Tio Kang terjungkal,” teriak Li thi-hai.

“Hm, jika tidak lekas mundur, tiada satupun diantara kalian dapat pergi dengan hidup,” jengek Ciok-loji.

Belum lenyap suaranya kembali seorang bayangan menerjang keluar dari kegelapan hutan sambil menjerit, langsung ia menerjang ke depan Li thi-hai, pedang yang dipegangnya lantas menabas, tapi ia sendiri keburu menyemburkan darah segar, mata mendelik dan segera roboh terjungkal. Agaknya orang ini binasa terkena pukualan kuat.

“Celaka, Go sute terbunuh,” teriak Ciok-lotoa, selagi ia hendak memeriksa kawannya mendadak dua kali tabasan golok Li Hui-hai membuatnya melompat mundur.

“Hm, sahabat Hek-to ke 13 propinsi sudah berkumpul di sini, Tiam jong pai kalian hari ini mungkin akan tertumpas seluruhnya di sini,” jengek Li thi-hai.

“Kentut busuk!” bentak Ciok-loji murka sekaligus ia melancarkan lima kali tusukan.

Tergerak hati Lamkiong Peng, ia tidak mau terlibat lebih lama lagi dalam pertempuran yang tak keruan juntrungannya ini. Mendadak ia mendesak mundur Tiam Jong Yan, kebetulan waktu itu cambuk Yim ong-hong juga menyabat, selagi Tiam Jong Yan kerepotan menghindari serangan dua jurusan, kesempatan ini segera digunakan Lamkiong Peng untuk melompat ke arah perkampungan.

Baru saja tubuh Lamkiong Peng meluncur ke depan, Ciok-lotoa membentak, sebelah potlot bajanya disambitkan.

Ketika mendengar desing angin tajam menyambar dari belakang, tanpa menoleh Lamkiong Peng melompat sekuatnya ke depan sambil mengebaskan sebelah tangan ke belakang, potlot baja lawan jadi ketinggalan dan jatuh di tanah.

Li hui-hai menjadi kalap, selagi Ciok-loji menabas dengan pedangnya, ia tidak menghindar, sebaliknya golok langsung menabas pundak Ciok-lotoa hingga darah muncrat.

Sambil meraung kesakitan, ciok-lotoa, menubruk maju, kontan kedua golok Li hui-hai menikam sehingga menembus perut Ciok-lotoa, tapi kedua tangan Ciok-lotoa yang kuat juga mencekik leher Li hui-hai, sebelum Li hui-hai sempat meronta tahu-tahu mata mendelik dan tulang kerongkongan tercekik patah, darah pun mengucur dari mulutnya dan binasa seketika.

Kejut dan gusar Ciok loji sambil meraung kalap pedangnya juga menusuk iga Li hui-hai hingga menembus ke iga sebelahnya.

Tentu saja Li Thi-hai tidak tinggal diam, goloknya juga membacok sehingga lengan kanan Ciok-loji terpenggal, teriaknya parau, “Serahkan nyawamu!”

Belum lenyap suaranya, pukulan Ciok-loji juga tepat mengenai dada Li Thi-hai. Kontan Li thi-hai tumpah darah dan golok jatuh ke tanah. Lengan kanan Ciok-loji pun buntung sebatas pangkal pundak, namun dia tidak merasakan sakit, seperti lengan kutung itu bukan miliknya, menyusul kakinya menendang pula ke selangkangan Li thi-hai.

Terdengarlah jeritan Li thi-hai, tubuhnya mencelat dan jatuh ke dalam hutan, jelas nyawa pun amblas. Kedua tokoh kalangan hitam semuanya binasa dalam sekejap.

Ciok-loji sempoyongan, tersembul senyuman pedih pada ujung mulutnya, gumamnya, “Lotoa, sudah kubalaskan sakit hatimu……….”

Belum lanjut ucapannya ia pun jatuh kelenger.

Karena tersabat oleh cambuk Yim Ong Hong, Tiam Jong yan juga kesakitan, sekilas pandang dilihatnya kedua Ciok bersaudara telah sama menggeletak, tentu saja ia terkesiap, diam-diam ia berkeluh, “Ai, habislah semuanya!”

Waktu ia memandang ke sana, dilihatnya Yim ong hong lagi berjongkok kesakitan kena tendangannya tadi. Bentaknya,” Kau bilang sahabat kalangan hitam ke 13 propinsi hampir semuanya berkumpul di sini, apakah benar tujuan kalian adalah harta benda keluarga Lamkiong ini?”

Meski kesakitan, Yim ong hong tetap tenang, jawabnya, “Habis untuk apa para kawan berkumpul di sini jika bukan lantaran ada rezeki?”

Tiba-tiba timbul akal keji Tiam jong yan katanya, “Setelah mendapatkan bagian rezeki itu, apakah kalian segera angkat kaki dari sinji?”

“Sesudah berhasil, tentu saja kami akan pergi, untuk apa berdiam di sini? Hah, orang pintar sebagai Tiam jong yan mengapa mengajukan ppertanyaan begini?” sahut Yim ong-hong tertawa.

Mendadak Tiam-jong-yan alias Kongsun Yan meluncurkan tiga larik sinar lagi ke udara, terdengar letusan disertai bunga api yang bertebaran memenuhi angkasa.

Tergerak hati Yim Ong-hong, ia tahu orang sedang memanggil kawannya, segera ia pun bersuit memberi tanda.

Dalam sekejap terdengarlah suara teriakan di dalam hutan yang menyerukan berhenti bertempur.

Segera sesosok bayangan tingggi besar melompat keluar dari kcgelapan hutan sana sambil berseru, “Bagaimana, Yim-lotoa?”

Orang ini berambut ubanan semua, suaranya lantang, namun keadaannya kclihatan runyam, baju tak teratur berlepotan air darah dan air hujan, ia pun bcrsenjata cambuk. Dia inilah Cin Luan-ih, salah seorang dari Hong-ih-siang-pian, kedua cambuk angin dan hujan, dua tokoh bandit yang pernah mengguncangkan dunia kangouw.

“Tiam-jong-yan lopas tangan!” jawab Yim Ong-hong.

Cin Luan-ih tertawa puas, tapi kelika melihat mayat kedua Li bersaudara. ia pun terkejut.

Sementara itu bayangan orang berbondong-bondong melayang keluar pula dari dalam hutan, sebagian besar melompat ke belakang Hong-ih-siang-pian, sebagian kecil, empat orang tojin dan tiga pemuda berpedang, mendekati Kongsun Yan.

Tcrkesiap juga Kongsun Yan melihat sisa kawannya itu, tidak terkecuali kawannya juga kaget melihat keadaan medan tempur, salah seorang tojin berjenggot berseru, “Hah, Ciok toako dan Ciok-jiko . . . .”

Kiranya di antara ke-17 jago Tiam-jong-pai yang datang ini, ada sembilan orang yang terbunuh.

”Sudahlah . . . .” ucap Kongsun Yan dengan menghela napas.

“Sudahlah bagaimana? Apa maksudrnu?’ tanya si tojin jonggot hitam yang bergelar Thian-go Tojin.

“Biarkan mereka lewat ke sana,” ucap Kongsun Yan pelahan.

“Jiko, mana boleh . . . .”

Belum lagi Thian-go bicara lebih lanjut, mendadak Kongsun Yan memberi tanda, “Jangan banyak bicara, biarkan mereka lewat!”

Thian-go Tojin mengepal erat kedua tinju nya, suatu tanda tidak rela atas kebijaksanaan sang Suheng. Serentak bclasan orang sama me-layang ke arah perkampungan sana.

Kongsun Yan lantas mendesis, “Agaknya Samte tidak tahu maksudku. Hari ini kawanan penyatron yang datang tidaklah sedikit, untuk menghemat tenaga, apa salahnya kita biarkan mereka langsung menuju ke sana, tentu mereka akan disambut golongan lain yang sudah menunggu di sana. Kita boleh tunggu saja di sini, apakah mungkin kita akan membiarkan harta benda diboyong mereka begitu saja?”

Thian-go melenggong, ia simpan kembaili pedangnya dan mengangguk, katanya, “Ya, perhitungan Jiko memang harus dipuji.”

Kongsun Yan memandang para anak mu-rid Tiam-jong yang hadir, ucapnya pula dengan mcnyesal, “Kalian tahu, demi memenuhi janji dengan kaum iblis pada berpuluh tahun yang lalu oleh lcluhur kita, bilamana sckarang kita dapat membendung musuh dan mempertahankan diri sudahlah lumayan. Yang kuharap asalkan harta benda itu tidak sampai diangkut pergi, untuk itu biarpun jiwaku barus melayang juga kurela. Ciangbun Suhcng sudah …. Ai, selanjutnya hanya Samsute saja yang harus memikul tugas mengembangkan Tiam-jong-pai kita.”

Thian-go To-jin nununduk tcrharu, anak murid Tiam-jong-pai yang lain pun sama prihatin menghadapi tugas sclanjutnya yang berat

Angin mendesir, hujan masih turun dengan lebatnya membuyarkan darah yang memenuhi tanah di situ.

Malam tambah larut, di bawah hujan Lamkiong Peng terus berlari dengan ccpat. Ha-nya sebentar saja bayangan rumah megah di depan sudah kclihatan.

Terbangkit scmangat Lamkiong Peng, ber-bagai tanda tanya dalarn benaknya sejenak lagi akan menjadi jelas. Namun hatinya tetap diliputi ketegangan.

Secepat terbang Lamkiong Peng melompati undak undakan rurnah yang panjangnya lebih 20 tingkat itu. Tempat ini sudah dikenalnya dengan baik sejak kecil, begitu kaki menyentuh undakan batu yang dingin itu, timbul juga perasaan hangat dalam lubuk hatinya.

Tak terduga pada saat itu juga mendadak dari dalam rumah bergcma suara bcntakan pe-lahan, “Kembali!”

Tiga bintik perak serentak menyambar tiba, dua titik pcrak di depan, satu titik di bclakang. Akan tetapi ketika hampir mendekati sasaran, titik perak terakhir itu mendadak mcluncur terlcbih cepat dan mendahului yang lain.

Keruan Lamkiong Peng tcrkejut, ccpat ia mengegos, terdengar suara desing tajam me -nyambar lewat di samping telinga, berbareng itu ia melompat ke atas schingga kedua titik senjata rahasia yang lain pun Iuput mengenainya.

Waktu ia hinggap kembali di lantai, suasana dalam rumah lantas sunyi senyap sepcrti tidak pcrnah terjadi sesuaiu.

Cemas hati Lamkiong Peng memikirkan kedua orang tua, segera ia bertcriak, ”Siapa yang bcrada di dalam, ini Lamkiong Pmg sudah pulang!”

Belum Ienyap suaranya terdengarlah orang berseru di dalam, “Ah, kiranya anak Peng adanya!”

Sesosok bayangan sccepat terbang me-layang kcluar. Belum lagi Larnkicng Peng scm-pat menghindar, tahu-tahu bayangan orang sudah memegang pundaknya, Sekuatnya Lamkiong Peng mcronta, tapi sukar terlepas.

Sekilas pandang dilihatnya rambut orang semrawut, namun kedua matanya terang dan bcrsinar welas asih, siapa lagi kalau bukan sang ibu.

Sungguh mimpi pun tak terpikir olehnya bahwa sang ibu mempunyai kungfu setinggi itu.

Selagi ia mclcnggong, sang ibu telah me-rangkulnya dengan erat sumbil berseru. ‘ O, anakku, engkau sudah pulang, sungguh sangat kebetulan!”

Kasih sayang ibunda sungguh menghibur hati Lamkiong Peng yang cemas, lapar, lelah dan curiga.

Di tengah ruangan besar yang guram itu hanya diterangi sebuah lentera kecil hampir padam tertiup angin ketika pintu mendadak terbuka.

Waktu Larnkiong Peng masuk ke dalam tertampaklah berpuluh peti besar tertimbun di tengah ruangan, di atas peti penuh menancap berbagai senjata rahasia.

Pada dcrctan kursi di sekitar sana duduk bcrsandar bebcrapa lclaki kckar yang kelihatan lesu, malahan ada yang kelihatan berlepot-an darah, ada yang napasnya terengah dan sebagian memejamkan mata setengah mengantuk, jelas mercka habis mengalami pertempuran sengit dan tcrluka.

Di tengah ruangan yang agak runyam ini berdiri pula dengan tenang seorang tua berbaju perlente, jenggotnya kelihatan bcrgoyang tertiup angin, namun sikapnya tetap tenang dan sinar matanya mencorong.

“Ayah!” seru Lamkiong Peng sambil mem-buru maju dan bcrlutut di depan orang tua ini.

Dia memang ayah Lamkiong Peng, Lamkiong Siang-ju.

Orang tua ini menghela napas pelahan dan membelai kepala anak kesayangannya, sampai sekian lama tidak sanggup berucap apa pun.

Dengan penuh kasih sayang Lamkiong hujin (nyonya Lamkiong) menggunakan saputangan-nya untuk mengusap air hujan dan air keringat di kepala Lamkiong Peng, ucapnya dengan lembut, “Nak selama ini tentu telah bikin su-sah padamu, selanjutnya mungkin engkau akan tambah sengsara lagi.”

Lamkiong Siangju hanya tersenyum getir saja tanpa bersuara.

Melihat wajah sang ayah yang rawan dan muka ibunda yang pucat kurus, keadaan di dalam rumah juga tampak runyam. Lamkiong Peng tahu tentu telah terjadi hal-hal yang luar biasa, capat ia tanya, “Ayah, sebenarnya apa yang terjadi” Kenapa berbagai cabang per-usahaan kita telah kaututup? Tiam-jong-pai yang selamanya tidak ada sangkut-paut apa pun dengan kita mengapa sekarang ikut mcngepung perkampungan kita, seperti menjaga, tapi juga kelihatan tidak bermaksud baik terhadap kita. Kecuali itu, Kun-mo-to yang scring teidengar di dunia kangouw tapi tidak pcrnah terlihat orangnya, mengapa juga memusuhi kita? Ayah, mohon jelaskan semua itu, sungguh anak teramat cemas dan gelisah.”

“Sabar dulu, nak, kenapa kaujadi segopoh ini?” ujar Lamkiong-hujin. “Sebentar ayahmu tentu akan menjclaskan duduknya pcrkara.”

Dengan wajah prihatin Lamkiong Siang-ju naelangkah ke luar pintu, setelah memandang scjenak, mendadak ia membalik tubuh dan mcmberi hormat sambil bcrkata, “Maaf, jika terpaksa kuperlakukan kalian secara kurang hormat!”

Selagi scmua orang yang duduk lesu itu merasa hcran, ada yang bcrdiri dan bcrtanya, “Ada . . ada apa . . . . ”

Tahu-tahu bayangan Lamkiong Siang-ju berkelebat dan mcmcnuhi seluruh ruangan, semua orang yang baru berdiri itu sama roboh terduduk lagi di kursi masing-masing serta tak sadarkan diri, hanya sebentar saja lantas men-dengkur dan tcrtidur dengan nycnyak.

Mclihat ketangkasan sang ayah yang hanya dalam sckejap saja telah menutuk hiat-to tidur semua orang, keruan kcjut dan hcran sekali Lamkiong Peng, scrunya, “Hah, kiranya ayah menguasai kungfu schebat ini?!”

Kiranya di kolong langit ini tidak ada seorang pun yang tahu bahwa bos kcluarga Lamkiong yang kaya raya dan termashur ini ternyata teorang ahli silat maha tinggi yang jarang ada bandingannya, sampai putra kesayangan sandiri juga baru sckarang tahu hal ini.

Dalam pada itu Lamkiong Siang-ju telah berdiri menghadapi dinding dan berucap dengan suara berat, “Anak Peng, sejak kecil kauhidup tidak kekurangan apa pun, hanya kau saja pcrmata hati ayah-bunda, apa pun ke-salahanmu ayah-bunda tidak pernah marah padamu, apakah kautahu scbab apa semua ini?”

Lamkiong Peng tidak dapat melihat wajah sang ayah, tapi dari pundaknya yang bergetar jelas hati orang tua itu sangat dirangsang emosi, tcntu saja ia gugup, sahutnya, “Anak . . . anak tidak tahu, mungkinkah anak berbuat sesuatu kesalahan?”

“Apa yang kukatakan itu adalah karena menyangkut nasibmu selanjutnya.” ucap Lamkiong Sian ju pula. “Soalnya, untuk seterusnya tak dapat lagi kauhidup cnak sopcrti sebelum ini, mungkin malah akan hidup menderita dan harus bcrani menghadapi ujian berat.”

Lamkiong Peng merasa bingung, tanyanya dengan suara gemctar, “Bilamana anak harus menderita bagi ayah-bunda kan pantas juga, hanya . . . hanya mengapa ayah bicara, demi-kian, sesungguhnya ada . . . ada urusan apakah?”

“Keluarga Lamkiong, maha kaya raya, apakah kautahu dari mana datangnya kekayaan sebesar ini?” ucap Lamkiong Siang-ju dengan prihatin.

Lamkiong Peng melongo bingung.

“Kakek-moyangmu berasa! dan keluarga miskin,” demikian tutur Lamkiong Siang-ju. “Scpnti juga orang meskin umumnya, kakek-moyang kita kenyang menjalami penderitaan hidup sengsara. Akhirnya bcliau bersumpah ingin menjadi orang kaya, dengan hemat beliau mengumpulkan sedikit sangu dan ikut berlayar dengan serombongan pclaut.

“Tak tcrduga, di tengah jalan kapal yang di tumpangi mengalami angin badai dan kapal tarbalik, kakek-moyang kita beruntung men-dapatkan sepotong kayu dan terhanyut meng-ikuti arus, untunglah beliau tidak meninggal dan terdampar ke sebuah pulau yang tak dikctahui namanya.

“Dalam keadaan begitu, cita-cita bcliau ingin menjadi kaya kembali buyar serupa mimpi belaka, saking sedihnya dia menangis tergerung-gerung. Tak terduga, pulau karang itu ternyata bukan pulau kosong tanpa peng-huni. pada saat kakek moyang merasa putus asa, tiba tiba dikctahuinya di tengah pulau terdapat banyak orang tua yang bcrpakaian model kuno. Kiranya pulau karang itu adalah pulau misterius yang dalam dongeng dunia persilatan di sebut Cu-sia-ci-tian (istananya para dewa).”

Kembali Lamkiong Peng melenggong.

Didengarnya sang ayah menyambung lagi, “Setelah menemukan kakek moyang, kawanan orang tua itu tanya tcntang asal-usul dan pengalamannya. Beliau diamat-amati dengan teliti, akbirnya kakek moyang- dipcrbolehkan tinggal di situ.

“Dengan cepat sekali tiga tahun sudah lewat, selama tiga tahun itu kakek moyang banyak mengalami kesukaran, bcliau harus be-kerja giat siang malam tanpa kenal lelah, setelah msngalami gemblengan tiga tahun, mendadak kawanan kakek itu membawa kakek-moyang ke tepi laut. . Ternyata di situ sudah berlabuh sebuah kapal besar, dalam kapal ter-timbun harta benda yang tak terhitung jumlah-nya.

“Tentu saja kakek moyang terbelalak heran dan bingung, sama sekali tak tersangka olehnya bahwa kavvanan kakek anch itu dapat memberi hadiah kapal besar dengan isinya. Hanya saja syaratnya kakek moyang diharus-kan bcrsumpah takkan menyiarkan rahasia ke-kayaan Cu-sin-tian. Selain itu kakek moyang diwajibkan mencicil utang yang dibawanya sekapal penuh itu.

“Rupanya isi kapal itu hanya sebagai modal pinjaman kepada kakek moyang bcr-hubung kctcrangannya yang bcrsumpah ingin menjadi orang kaya itu. Kawanan kakek ajaib di pulau itu sengaja mcmbantu memenuhi cita-citanya, cuma untuk itu kakek moyang di-haruskan turun temurun keluarga Lamkiong mesti menugaskan putra sulungnya membawa sejumlah harta kekayaannya ke pulau Cu-sin-tian. Setiap turunan jumlah antaran itu harus bcrtambah sekali lipat, kecuali keluarga Lam-kiong tidak punya keturunan lagi, kalau tidak betapapun janji bayar utang itu tidak boleh diingkari.

“Sampai pada angkatan kakekmu, jumlah utang yang bcrlipat itu telah berjumlah sukar dihitung dan mendadak datang pula utusan Cu-sin-tian mcndcsak antaran upcti yang harus dipenuhi itu. Tcrpaksa kakekmu harus me-ngumpulkan harta kckayaan yang tcrscbar di berbagai tempat dan menugaskan pamanmu mengantarnya kc Cu-sin-tian. Waktu itu, aku sendiri bclum menikah sedangkan pamanmu sudah mempunyai scorang anak bayi . . . . ”

Baru sekarang Larnkiong Peng mengctahui sejarah keluarganya yang diliputi keanchan itu dengan suara rada gemetar ia tanya, “Dan di . . . . di manakah paman sekarang? Di mana pula saudara scpupuku itu?”

Lamkiong Siang-ju mcngcleng, jawabnya, “Sehari sebelum pamanmu berangkat, dengan nckat dia membunuh istri dan anak kesayangannya yang masih bayi itu. Rupanya dia sudah menghitung,satu angkatan lagi, biarpun kcluarga Lcmkiong menjual semua harta benda kekayaannya juga sukar memenuhi utang kepada Cu-sin-tian.

“Rupanya pamanmu tidak sampai hati anak keturunannya akan menderita, juga tidak ingin aku kawin dan beranak yang akibatnya juga cuma akan tertimpa sengsara, maka pamanmu meninggalkan pesan scpucuk surat, lalu berangkat dengan membawa harta benda itu dan bcrlayar kc lautan, scjak itu pun tidak ada kabar beritanya lagi . . . .”

Bcrtutur sampai di sini, ia menjadi ber-duka dan tersendat-sendat.

Pada umumnya orang luar hanya tahu keluarga Lamkiong kaya-raya tiada bandingannya, siapa pula yang tahu keluarga kaya ini tcrnyata penuh dengan darah dan air mata.

“Tidak lama sesudah pamanmu berangkat, kakek juga lantas wafat.” tutur Lamkiong Siang-ju lebih lanjut. “Setclah berkabung selama ti-ga tahun, aku lantai keluar mencari kabar jejak pamanmu. Biasanya setiap kali anggota keluarga kita mengirim upeti, sebelumnya pihak Cu sin tian selalu mengirim utusan dengan membawa surat dan memberi petunjuk ke pelabuhan mana harus dituju. Jadi anggota keluarga kita tidak ada yang tahu di mana letak pulau Cu-sin-tian yang sebenarnya, meski sudah sekian tahun aku berkelana tetap tidak mendapatkan sesuatu petunjuk. Akhirnya aku pun putus asa, tak tersangka pada waktu itulah aku bertemu dengan ibumu.”

Mendadak Lamkiong-hujin mengusap air mata dan memegang tangan sang suami, lalu berucap pelahan, ‘”Biarlah kuteruskan ceritamu Sesudah bertemu dengan ayahmu, kami lantas saling jatuh cinta. Cuma ayahmu senantiasa berusaha menghindariku. Sudah tentu aku heran dan sedih. Dalam gusarku segera kuputuskan juga akan menikah dengan scorang lain.

“Orang itu juga sahabat ayahmu, siapa sangka pada suatu hari ayahmu . . . ayahmu kena disergap orang dan keracunan hebat, dalam kcadaan sakit parah ayahmu menceritakan sejarah keluarganya kepadaku, maka aku baru tahu sebabnya dia selalu menghindari diriku. rupunya dia mempunyai alasannya, yaitu dia menyadari kcluarga Lamkiong yang termashur ini akhirnya akan runtuh, akan bangkrut, ayahmu tidak tega membuatku scngsara di kemu-dian hari, juga tidak tega melahirkan anak yang nasibnya akan menderita, begitu dewasa wajib membayar utang bagi lcluhurnya

“Tapi ibumu tcrnyata tidak gentar meng-hadapi scmua itu,” tiba-tiba Lamkiong Siang-ju menyambung, ‘dia juga tidak takut kepada kehidupan miskin. Dalam semalam dia meng-gendongku ke Thian-san untuk mencari obat penawar. Maka sejak itu kami tidak pernah berpi-sah lagi,” tukas Lamkiong-hujin sambil meng-gelcndot di tubuh sang suami. ‘Kcmudian, se-tclah kaulahir, kami bcrtckad akan mcmbuat bahagia hidupmu, tidak ingin kau belajar ilmu silat, maka kami tidak pcrnah mcngajarkan kungfu padamu. Siapa tahu watak pembawaanmu justru gcmar ilmu silat, kami tidak tega pula melawan kehendakmu, maka kami me-ngirim dirimu kepada Liong Po-si . . . .O, nak, sungguh kami telah mcmbikin susah padamu karena selama ini sclalu kami rahasiakan se-mua ini.”

Habis bertutur, mcnangislah nyonya Lam-kiong tcrscdu.

Sambil membelai rambut putranya, Lamkiong Siang-ju bertutur lagi “Sebenarnya ku-harapkan utusan Cu-sin-tian takkan datang se-cepat ini, sebab itulah kami pun tidak meng-hendaki pernikahanmu. Siapa tahu sekali ini, agaknya mereka sudah mempcrhitungkan keka-yaan keluarga Lamkiong takkan terdapat sisa lagi, maka tanpa menunggu kau kawin dan melahirkan anak segera menyampaikan pcsan agar selekasnya menyelcsaikan pengiriman harta benda kita, untuk itu dirimu ditunjuk yang ha-rus mclaksanakan tugas.

“Nak, kautahu semua ini untuk memenuhi sumpah kakck moyangmu, mcski . . . meski ayah-bunda sangat sayang padamu, tapi . . . tapi apa yang dapat kami lakukan lagi . . . ” sampai di sini. berdcrailah air matanya.

Mendadak Lamkiong Peng membusungkan dada dan berscru tegas, “Ayah dan ibu, urus-an utang keluarga Lamkiong kita dengan sen-dirinya harus kita tuntaskan . . . . ”

“Tapi kau, nak . . . . ” Lamkiong-hujin tidak sanggup meneruskan lagi.

“Anak pasti akan pulang kembali,” scru Lamkiong Peng tegas. “betapa misteriusnya Cu-sin-thian itu, anak bersumpah akan pulang kc sini untuk mendampingi ayah dan ibu. Biarpun di sana ada dinding tcmbaga dan tembok baja juga takkan mampu mengurung anak. Apalagi jika para penghuni di sana berjuluk Para Dewa, masa mcrcka memaksa orang berbuat tidak bakti kepada orang tua?’

“Tapi . . . tapi sekali ini lain daripada biasanya,” ujar Lamkiong Siang-ju dengan sc-dih. “Akhir-akhir ini orang dari Kun-mo-to justru muncul lagi di dunia kangouw, bahkan mcreka bertekad mcrintangi kita mengirim harta ke Cu-sin-tian.”

Baru sckarang Lamkiong Peng menyadari duduknya pcrkara, “Pantas dengan janji rahasia mereka memaksa berbagai golongan orang Bu-lim untuk bersama-sama merampas harta kirim-an keluarga Lamkiong.”

Lamkiong Siang-ju menghela napas, “Se-karang anak murid Tiam-jong yang datang itu masih bcrkumpul di luar perkampungan sana, sebab mereka gagal merampas harta benda yang tidak sedikit ini. Kclihatan mereka seperti berjaga, scbenarnya mereka mengawasi supaya kita tidak dapat mengirim keluar harta benda yang tidak sedikit ini. Selain itu ada lagi ka-wanan bandit besar dunia kangouw yang juga mengincar rejeki nomplok ini.

“Selama beberapa hari ini entah berapa kali telah terjadi pertempuran sengit di perkampungan kita ini dan banyak mcngalirkan darah. Ai, harta, selain membawa sengsara bagi keluarga Lamkiong kita, apa pula yang kita dapatkan? Anakku. jika engkau dilahirkan di keluarga miskin, tentu takkan kaurasakan pen-deritaan seperti sekarang ini.”

Di luar hujan nusih turun dengan lebatnya.

Mcndadak di luar jendcla ada orang meng- hela napas panjang, “Ai, aku salah!”

Lamkiong Peng terkejut, bentaknya, “Siapa itu?”

Segera Lamkiong Siang-ju pun melompat ke depan jendela dan membuka daun jendcla.

Tapi sebelum orang tua itu bcrtindak lebih lanjut, suara orang tadi telah menegur, “Lotoa, apa sudah pangling padaku?’

“Hah, Loh Ih-sian!” scru Lamkiong-hujin sambil memburu maju.

Lamkiong Siangju juga berseru kagct, “He, Jite, kiranya engkau?”

Waktu Lamkiong Peng mengawasi, ter-tampak di luar jendcla berdiri scorang tua bcr-kepala botak, segera dikcnalinya si kakek aneh bernama Ci Ti alias mata duitan itu.

Sungguh tak tersangka olehnya bahwa kakek yang mata duitan ini adalah “Jite” atau saudara kedua sang ayah. Seketika ia jadi melongo.

Dilihatnya kakek botak itu telak melompat masuk dan berhadapan dengan sang ayah.

“Jite,” ucap Lamkiong Siang-ju sambil memegangi pundak Ci Ti, “Sekian lama tidak bertcmu, mcngapa…mengapa engkau bcr-ubah begini?”

Ci Ti termenung-mcnung seperti orang linglung, tiba-tiba ia bcrgumam, “Aku salah, aku salah!”

“Ah, urusan yang sudah lalu, untuk apa kaupikirkan lag!,” ucap Lamkiong-hujin dengan scdih. “Aku dan Toako tidak menyalahkanmu, sebaliknya malah merasa . . . merasa bersalah padamu.”

“Tidak, aku salah,” scru Ci Ti mendadak sambil berlutut di depan Lamkiong Siang-ju dan mencucurkan air mata. “Toako, kuminta maaf . . . . ”

Lekas, bangun, Jitc,” kata Lamkiong Siang-ju sambi! menarik si kakek botak.

“Tidak, Selama urusannya tidak kukatakan, mati pun aku tidak mau berdiri lagi,” kata Ci Ti. “Soal ini sudah 20 tahun menekan hatiku. Pada waktu itu, kusangka Samoay (adik ketiga) silau kepada kckayaan kcluarga Lamkiong, maka aku ditinggalkan untuk menikah dengan-mu. Aku tidak tahu bahwa sebelum berkenal-an denganku dia sudah mencintaimu. Tidak kuduga bahwa dia menikah denganmu, bukan lantaran kemaruk kepada kekayaanmu, dia justru rcla ikut scngsara bersamamu, scbaliknya aku . . . aku malah tinggal pergi tanpa pamit, bahkan kudatangkan serombongan mu-suh untuk merecoki kalian . . . . ”

“Ai, Jite, aku dan Samoay kan tidak ber-alangan apa pun, untuk apa mengangkat lagi urusan lampau dan buat apa engkau menista diri sendiri,” ujar Lamkiong Siang-ju dengan menyesal.

Tidak boleh tidak harus kukutuk diriku sendiri, dengan begitu barulah hatiku bisa agak tcntram,” kata Ci Ti. “Selama puluhan tahun ini siang dan malam kukutuki kalian, seperti orang gila aku mencari harta benda, kecuali merampok dan mencuri. hampir dengan segala jalan aku berusaha mcngumpulkan harta ben-da, aku pun mengasingkan diri, hidup hemat dan melarat, orang sama mcnganggap aku orang gila, tidak ada yang tahu bahwa aku sengaja bersumpah akan mengumpulkan harta benda yang lebih banyak daripada kekayaan keluarga Lamkiong, akan tetapi . . . .”

Mendadak ia melcmparkan karung yang dibawanya dan berteriak pula, “Ini, biarpun kukumpulkan harta benda berjuta-juta tahil, lalu apa gunanya? Baru sekarang kutahu be-ta pa besarnya harta benda tetap tidak dapat membeli cinta yang murni, biarpun kekayaan berlimpah tctap takdapat mcngurangi derita se-orang. Baru sekarang kusadar, Toako aku . . . aku salah padamu, harap engkau sudi mem-beri ampun.”

“Sudah kaudengar ceritaku tadi?” tanya Lamkiong Siang-ju dengan rawan.

Ci Ti mengangguk.

Cepat Lamkiong Siang-ju membangunkan-nya dan bcrkata, “Apa pun juga hari ini kita bertiga telah berkumpul kembali di sini, sung-guh menggembirakan dan bahagia.”

Ia tertawa cerah, lalu berpaling dan bcrkata pula, “Anak Peng, lekas memberi hormat kepada paman. Inilah Loh lh-sian, paman Loh yang dahulu terkenal sebagai Sin-heng-bu-eng-tang-kun-thi-ciang (si pelari cepat tanpa bayangan, kepala tembaga dan pukulan besi).”

Lekas Lamkiong Peng melangkah maju dan memberi hormat.

Loh Ih-sian mengusap air matanya, kata-nya dengan tertawa, “Nak, tentu tak kausangka kakek yang mata duitan ini adalah pamanmu.”

Lamkiong-hujin juga terharu, ucapnya dengan tersendat, “Sungguh tak terduga akhirnya kita berkumpul lagi, tak nyana sekarang engkau suka bcrdandan secara begini. Ai, masa . . . masa engkau begitu miskin sehingga baju pun tidak mampu beli.”

“Aku bukan miskin, tapi terlampau kikir,” ujar Loh Ih-sian dengan tertawa. “Meski da-lam karungku terisi berjuta tahil perak, tapi satu tahil pun kusayang menggunakannya.”

“Kutahu apa yang kaulakukan ini adalah lantaran dia (maksudnya sang istri),” kata Laro-kiong Siang-ju dengan gegctun. “Ai, engkau memang . . . .

“Cis. sudah sama tua, untuk apa bicara ke-jadian dulu di depan anak,” omel Lamkiong-hujin dengan agak jengah.

Meski hati ketiga orang tua ini diliputi rasa sedih dan haru, tapi juga merasa gembira karena dapat berkumpul kembali. Scsaat itu mereka seakan-akan bcrada pada 20 tahun yang lalu. tatkala mereka masih muda dan malang melintang di dunia kangouw bersama.

Pada saat itulah mendadak terdengar orang membentak di luar serentak tiga batang pa-nah bcrsuara menyambar masuk lewat jendela dan “cret”, sama menancap di atas pcti yang bertumpak di tengah ruangan itu.

“Haha, bagus, tak tcrsangka ada kawanan bandit berani menyatroni rumah Toako se-karang.” kata Loh Ih-slan dengan tergelak.

“Tenaga pemanah ini tampaknya tidak lemah, entah orang gagah dari mana?” kata Lamkiong Siang-ju dcngan tcrtawa.

Segera terdengar seorang bcrtcriak di luar, “‘Yim Ong-hong dan Cin Lun-ih bersama para orang gagah dari ke-18 gunung datang untuk mcminta scdikit biaya kepada Lamkiong-cengcu, harap Lamkiong ccngcu mcmbcri ke-bijaksanaan akan menerima dcngan hormat atau menolak secara tcgas?”

“Kenapa Hong-ih-siang-pian muncul kcm-beli?” ucap Lamkiong Siang-ju dengan kening bekernyit.

“Tampaknya Hong-ih-siang-pian bclum ta-hu siapa yang tinggal di sini,” ujar Loh Ih-sian sambil membusungkan dada. sekctika perawakannya seakan-akan tumbuh lebih tegap. Lalu sambungnya, “Siautc belum Iagi tua, ba-gaimana dcngan Toako?’

“Masa kaukira Toako sudah tua?” sahut Lamkiong Siang-ju.

“Haha, bagus!” Loh Ih-sian bergelak ter-tawa sambil mencpuk pinggang sehingga terdengar bunyi genta, “Sekarang juga?”

“Ya, tunggu kapan lagi?” jawab Siang-ju.

Lamkiong-hujin tertawa, “Bagus, Hau-hoa-leng (genta pcmbela bunga) kalian masih leng-kap, sebaliknya bunga macam diriku ini sudah layu!”

Tiba-tiba orang di luar mcnbcntak pula, “Lckas beri jawaban, bila kami mcnghitung ti-ga kali tidak ada kcputusan, segcra kami mc-nyerbu masuk!”

Loh Ih-sian menanggapi ucapan Lamkiong-hujin tadi, “Ah, kami bersaudara belum Iagi tua, masa engkau mcngaku sudah layu? Eh, Lo-toa, perintis jalan kan tctap diriku?”

“Baik,” kata Siang-ju.

Baru saja kata itu tcrucapkan, mcndadak Loh Ih-sian melompat dan hinggap di atas kc-dua tangan Lamkiong Siang-ju yang diangkat ke atas. Begitu Siang-ju membentak, “Pergi!”

Sekali tolak, kontan tub ah Loh Ih-sian ter-lempar ke luar sccepat tcrbang.

Terdengarlah Suara “blang”, daun pintu terpcntang, mcnyusul terdengar gemcrinting,

seutas benang emas terbang masuk dari luar, berbareng ada benang emas lain menyambar keluar dari tangan Lamkiong Siang-ju.

Kembali terdengar bunyi genta, kedua benang emas tcrlibat menjadi satu, menyusul Siang-ju membentak pula, “Masuk!”

Seketika di luar ada orang menjerit dan terdengar suara menderu, tubuh Loh Ih-iian melayang masuk kembali, tangan kiri terbclit oleh benang emas, tangan kanan mencengkeram seorang kakek bertubuh tinggi besar.

Scgera Loh Ih-sian membanting tawanan-nya ke lantai. Ternyata yang dibekuknya ada-lah satu di antara Hong-ih-siang-pian, yaitu Yim Ong-hong.

Lamkiong Peng tcrkesima, entah kejut atau kagum. Waktu ia mengamati lebih lanjut baru diketahuinya bahwa pada ujung kedua utas benang emas itu sama terikat sebuah gen-ta kecil warna emas. ketika Loh Ih-sian melayang keluar atas tenaga lemparan Lamkiong Siang-ju, scgcra ia melemparkan genta emas ke dalam, berbareng itu genta emas Lamkiong Siang-ju juga dilemparkan keluar, kedua utas benang emas saling belit dengan kuat, waktu Siang-ju menarik Iagi dengan kuat, sementara itu Loh Ih-sian sempat menerkam ke bawah dan Yim Ong-hong terccngkeram dan diangkat.

Berkat tenaga tarikan Lamkiong Siang itu Loh Ih-sian dapat melayang keluar secepat terbang dan melayang masuk kembali dengan sama cepatnya. Biar pun Yim Ong-hong juga bukan jago lemah, tapi dalam keadaan terkejut ia mcnjadi kelabakan dan tak tempat mengelak.

Dalam pada itu di luar telah terjadi kekacauan, ada suara orang tua berteriak, “Yang di dalam apakah Hong-tun sam-yu adanya?’

Lamkiong Siang-ju dan Loh Ih-sian sali pandang dcngan tertawa.

Waktu itu Yim Ong-hong sudah merangkak bangun, dengan muka pucat dan ketakutan berseru, “Hah, ternyata bsnar Hong-tun-sam yu adanya!”

“Sudah sekian tahun tidak bertemu, syukur engkau masih kenal kami bersaudara,” ucap Loh Ih-sian.

Yim Ong-hong menghela napas menyesal ucapnya dengan menunduk, “Sekalipun Caihe tidak kenal Iagi kepada kalian bcrtiga, tapi gaya ‘gcnta emas pencabut nyawa’ tadi tidak mungkin kulupakan.”

“Haha, genta pencabut nyawa … . .. Sungguh tidak tcrduga permainan yang kami cipta-kan untuk berscnda gurau telah dipandang orang persilatan sebagai ilmu sakti,” ujar, Loh Ih-sian dengan tcrtawa. Mendadak ia membentak’ dengan wajah kereng, “Jika kauingat juga kcpada kami bcrsaudara, apakah sudah kaulupakan sumpah yang pcrnah kalian ucapkan di dcpan kami?”

Yim Ong-hong menjawab dengan takut, “Bilamana kutahu Lamkiong-cengcu tak-lain-tak-bukan adalah Leng-bin-jing-ih-khek (si ba-ju biru berwajah dingin) dari Hong-tun-sam-yu dahulu, bctapa bcsar nyaliku juga tidak bcrani melanggar Lamkiong-san-ceng satu langkah pun.”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: