Kumpulan Cerita Silat

02/03/2008

Amanat Marga (11)

Filed under: Amanat Marga, Gu Long — ceritasilat @ 11:49 pm

Amanat Marga (11)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Eve1yn, Dragon, Nra, dan Ririn)

Namun Cian Tong-lai menghadapinya dengan tertawa, sikapnya pongah, tamparan orang dianggapnya sepele, sekenanya ia hendak mengkis sambil mengejek, “Hm, hanya begini saja…….”

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong dirasakan tenaga tamparan orang sangat kuat, tangan sendiri yang menagkis terasa kaku kesemutan, tanpa kuasa ia tergetar mundur beberapa tindak.

Sesuai dengan pesan si gelang terbang Wiki, mestinya Lamkiong Peng tidak bermaksud melukai Cian tong-lai, tapi sikap orang yang congkak dan ucapannya yang menghina memnuatnya tidak tahan. Sambil membentak segera ia menubruk maju, sekaligus ia menghantam dua-tiga kali, selalu mengincar beberapa hiat-to penting di bagian iga lawan.

Meski lengan Cian tong-lai masih terasa kemeng, namun gerakannya tidak kurang gesitnya, dengan cepat ia mengindar dan balas menyerang beberapa kali.

Keduannya sama terkesiap oleh ketangkasan lawan dan tidak berani lagi saling meremehkan.

Dalam pada itu Ban Tat telahmemburu tiba, ia pun terkejut melihat pertarunagn sengit kedua orang itu. Apalagi dilihatnya air muka Bwe kiam soat dan Yap manjing juga menunjuk rasa cemas, mau-tak mau ia ikut prihatin.

Mendadak terdengar suitan Lamkiong Peng, kedua tangan menghantam susul menyusul dengan jurus ‘Ciam-liong-sing-thian’ atau naga sembunyi melambung ke langit.

Diam-diam Ban Tat bergirang, ia pikir sekali anak muda itu mengeluarkan jurus serangan andalan perguruannya, kemenangan tentu tidak perlu diragukan lagi.

Tak tersangka Bwe kiam soat dan Yap manjing justru sama menjerit kuatir, berbareng mereka pun menubruk maju.

Kiranya selama beberapa hari ini Lamkiong Peng sudah terlampau letih, ia sudah kehabisan tenaga sehingga gerak-geriknya mulai lamban, jurus Ciam-liong-sing-thian itu dilancarkannya dengan terpaksa, tujuannya hanya untuk gugur bersama musuh.

Namun Bwe kiam soat dan Yap manjing yang menyaksikan di samping jauh lebih jelas, mereka tahu tenaga murni Lamkiong Peng sudah habis, dengan melancarkan serangan maut itu keadaan anak muda itu justru lebih celaka daripada selamatnya. Maka mereka terus menubruk maju untuk membantu.

Cian tonng-lai mendengus sembari menggeser ke samping, ketika Lamkiong Peng yang melambung keatas itu mulai turun, segera ia pun bersuit dan bermaksud melompat untuk menyongsong lawan.

Pada saat itulah tiba-tiba dari kanan-kiri menubruk tiba dua sosok bayangn orang dengan angin pukulan dasyat. Ia terkejut, cepat ia berputar melepaskan diri dari gencetan itu.

Sementara Lamkiong Peng sudah melayang turun, karen sasarannya keburu menggeser, cepat gunakan gerakan ‘Sin-liong-hi-in’ atau naga sakti memainkan awan, dengan berjumpalitan ia tancapkan kakinya di tanah dengan enteng.

Sempat dilihatnya Bwe kiam soat dan yap manjing sama meliriknya sekejap, habis itu mereka terus menerjang lagi ke arah Cian tong-lai, dari lirikan mereka itu jelas kelihatan perhatian mereka terhadap keselamatan Lamkiong Peng.

Tergetar hati Lamkiong Peng. Ban Tat juga gegetun dan diam-diam ikut merasa bahagia bagi anak muda itu. Akan tetapi sebagai orang tua yang sudah kenyang asam garam kehidupan, rasanya di balik kebahagiaan itu seperti ada sesuatu yang mengkuatirkan.

“Haha, tampaknya kedua nona benar-benar ingin belajar kenal dengan kepandaianku, baiklah kuperlihatkan sejurus dua jurus istimewa, supaya kalian tahu siapa tahu diriku,” seru Cian tong-lai dengan tertawa, akan tetapi ketika selesai ucapannya, dia tidak sanggup tertawa lagi.

Mendadak Bwe kiam soat menutuk empat kali ke beberapa hiat-to mematikan di tubuh Cian Tong-lai, meski keempat hiat-to itu tersebar di bagian yang berbeda, namun gerak serangan Bwe kiam soat itu seakan-akan dilancarkan secara serentak.

Terpaksa Cian tong-lai melompat mundur dan tergencang oleh serangan maut lawan itu.

Tiba – tiba Bwe kim-soat tersenyum kepadaYap man-jing dan berkata, “yap moaymoay, boleh kau mundur saja, biar kulayani dia sendiri”

Akan tetapi alis Yap Man-jing seolah-olah menegak tanpa bersuara ia pun menubruk maju dan melancarkan beberapa kali serangan kilat sehingga terpaksa Cian tong-lai melayani dengan sama cepatnya.

“Haha, serngan bagus, kungfu lihai!” seru Bwe kiam soat dengan tertawa, “Adik yang baik, bukan maksudku bilang kepandaian mu renadah, Cuma, untuk mengalahkan kungfu Tiau-thian-kiong dari Kun-lun-san ini bagimu masih belum ukurannya, maka lebih baik kauturut kepada ucapanku dan mundur saja.”

Akan tetapi Yap manjing tetap tidak menjawab melainkan melancarkan serangan terlebih cepat.

Diam-diam Cian tong-lai juga terkesiap oleh serangan si nona di samping heran asal usulnya dapat dikenali Bwe kiam soat.

“Adik yang baik, jika tidak mau kauturt perkataanku, biarlah cici saja yang menyingkir?” kata Kiam soat pula sembari menyurut mundur.

“He, apa maksudmu ini?” tanya Lamkiong Peng dengan bingung.

“Dua mengeroyok satu kan tidak pantas, biarlah dia mencoba sendiri, masa kau kuatir?” sahut Kiam soat.

Air muka Lamkiong Peng tampak masam dan tidak menghirukannya lagi, ia coba mengikuti gerakan Cian Tong-lai yang aneh itu. Dilihatnya Yap manjing sekarang berbalik telah terkurung di bawah pukulannya yang lihai.

Namun Yap manjing masih dapat balas menyerang dengan sama gesitnya, meski agak terdesak dibawah angin, tapi belum ada tanda akan kalah.

Dengan tertawa Bwe Kiam soat berolok pula, “Wah rupanya Yap jiu pek memang mengajarkan sejurus kungfu sakti kepada murid kesayanagnnya, Cuma tak diduganya kungfu ini tidak digunakannya untuk menghadapi murid Sin-liong, tapi murid Kun-lun-pai yang justru dilabraknya.”

Lamkiong Peng mendengus saja. Sedang Ban Tat lantas mendekatinya dan berkata, “Tampaknya nona Yap tidak………”

“Meski dua mengerubut satu, terpaksa harus kubantu dia,” kata Lamkiong Peng.

Tiba-tiba terdengar Bwe kiam soat berucap dengan hampa, “Jangan kau kuatir, biar ku………”

Serentak ia melompat maju dan melancarkan pukulan dasyat.

Terpaksa Cian tong-lai menarik serangannya terhadap Yap manjing untuk melayani Bwe kiam soat, dengan demikian Yap manjing jadi bebas tekanan. IA menghela nafas dan menyingkir ke pinggir kalangan.

Ban Tat merasa lega, ucapnya, “Pantas nama Kongjiok Huicu termashur, ternyata benar…..”

Jelas dia sangat kagum terhadap kelihaian kungfu Bwe kiam soat.

Setelah termenung sejenak memandang bayangan Cian Tong-lai, Yap manjing menghela nafas, lalu menunduk dan pelahan membalik tubuh dan melangkah pergi.

“He nona Yap………..” seru Lamkiong Peng sambil melompat ke samping gadis itu, “Masa engkau hendak pergi?”

Manjing tetap menunduk, jawabnya pelahan, “Ya, kupergi………”

“Tapi guruku……….”

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, mendaak terdengar bentakan Bwe kiam soat, “Berhenti dulu!”

Lamkiong Peng dan Yap manjing sama berpaling, dilihatnya Cian tong-lai sedang menyerang, karena bentakan Bwe kiam soat itu ia lantas menahan serangan dan menegur, “Ada apa?”

Dengan lagak menggiurkan Bwe kiam soat berucap dengan tersenyum,”Selamanya kita tidak ada permusuhan apapun, untuk apa kita saling labrak mati-matian?”

Cian tong-lai memandangnya dengan tercengang, sahutnya kemudian dengan ragu, “Ya, memangnya tiada permusuhan apa pun antara kita, buat apa kita mengadu jiwa?”

“Malahan sebenarnya kita dapat saling tukar kepandaian sejurus dua, dengan begitu siapa pula tokoh kangouw jaman ini yang mampu menandingi kita?” kata Kiam soat pula.

Cian tong-lai tertawa senang, “Benar, bilamana kita saling mengajar sejurus dua, haha bagus sekali……..”

“Tutup mulut!” bentak Lamkiong Peng mendadak.

“Kau mau apa?” jengek Kiam soat dengan muka dingin.

“Aku………….” Lamkiong Peng gelagapan.

“Jangan urus dia,” ucap Kiam soat kepada Cian Tong-lai. Lalu ia pandang Lamkiong Peng dengan tajam dan berkata pula, “Aku bukan sanak kandungmu, urusanku tidak perlu kau turut campur. Soal pesan tinggalan Liong po si juga tidak ada sangkut pautnya denganku, boleh silahkan kau bawa nona Yap itu untuk melaksanakan pesan tinggalan gurumu.”

Seketika Lamkiong Peng berdiri terkesima.

Bwe kiam soat tersenyum kepada Cian tong-lai, katanya, “mArilah kita pergi dan mencari tempat bersantap, perutku lapar.”

Dengan tersenyum Cian tong-lai mengangguk, serentak keduanya melayang kesana.

Cian tong lai sempatmenoleh dan berteriak kepada Lamkiong Peng,”jika kau ingin bertanding denganku, silahkan pulang berlatih lagi tiga tahun dan boleh coba mencariku lagi.”

Habis berucap bayangannyya pun sudahh jauh, hanya suara tertawa pongahnya berkumandang dalam kegelapan.

Lamkiong Peng berdiri terpaku, suara tertawa orang terasa menusuk perasaan, sambil mengepal erat tinjunya, ia membatin, “Bwe Kiam soat, Bwe leng hiat, sungguh memnag berdarah dingin….”

Menyaksikan kepregian Bwe kiam soatmendaak Yap manjing mendengus, “Kenapa tidak kau susul dia?”

Lamkiong Peng menghela nafas, jawabnya, “Kenapa harus kususul dia?”

“Hm, dasar tidak punya perasaan,” jengek manjing sambil melengos.

Tentu saja Lamkiong Peng melenggong pikirnya, “Masa aku tidak berperasaan, dia bersikap begitu padaku, masa aku yang tidak berperasaan?…….”

Tiba-tiba Manjing berpaling dan berkata padanya, “Dia sangat baik padamu, masa engkau tidak tahu dan tidak menghiraukannya?”

Lamkiong Peng tambah melenggak, “Masa……….masa dia bermaksud baik padaku?”

“Jika dia tidak baik padamu, mana bisa dia menaruh perhatian terhadap keselamatanmu.”

“Tapi….tapi dia………telah pergi bersama……….”

“Dia berbuat begitu justru lantaran cemburunya ketika ada anak perempuan lain mencarimu, maka dia……….” tiba-tiba Manjing menambahkan dengan serius, “Ia tidak tahu maksudku mencarimu adalah untuk memenuhi janjiku terhadap gurumu.”

Bingung juga Lamkiong Peng memikirkan perasaan anak perempuan yang sukar dimengerti itu. Katanya kemudian, “Meski nnona Bwe telah pergi, hal itu disebabkan rasa gusar yang timbul seketika, nantii dia pasti akan….” sampai disini, mendadak dia teringat sesuatu, teriaknya,” Hei, dimana Yap-siang-jiu-loh?”

“Yap-siang-jiu-loh apa?” tanya Ban Tat dengan bingung.

“Yaitu pedang pusaka tinggalan guruku, senjata itu tadi kutaruh di samping Tik Yang,” seru Lamkiong Peng.

Ban Tat melenggong, “Tapi pada waktu Tik Yang berlari pergi, tampaknya dia tidak membawa sesuatu.”

“Ayo aku harus……..”

“Kau mau kemana?” tanya Manjing, “Apakah engaku tidakingin membaca dulu surat wasiat tinggalan gurumu?”

“O. Apakah surat wasiat guruku berada pada nona? Tanya Lamkiong Peng.

Pelahan Manjing mengeluarkana sepucuk surat sambil melirik sekejap, lalu surat disodorkannya.

Lamkiong Peng menerima surat itu dan berkayta, “Tapi menurut perintah suhu, tiga hari kemudian……….”

“Jika engkau tidak pulang ke ji-hau-san-ceng, apa alangannya bila kau baca saja surat ini. Kalau tiga urusan yang ditentukan oleh gurumu memerlukan bantuanku, maka birlah kita lekas menyelesaikannya, dengan begitu selekasnya aku pun cepat melepaskan dari persoalanmu.”

Pelahan Lamkiong Peng membuka sampul surat, tulisan tangan yang cukup dikenalnya segra terpajang di depan mata.

Isi surat itu berbunyi :

Anak Peng,

Aku sudah tua dan mendahului pergi, Ji-hau-san-ceng buknlah tempat kediamanmu yang abadi, perusahaan orang tuamu juga perlu pimpinan mu. Kau lahir dari keluarga ternama, bakatmu pun tidak terbatas, hari depanmu sungguh gilang gemilang dan tak terbatas.
Seorang lelaki sejati memerlukan pembantu rumah tangga yang bijaksana, untuk ini perlu kau dapatkan istri yang baik.
Nona Yap Manjing pintar lagi cerdas, dia gadis pilihan yang cocok untuk mendampingi hidupmu, inilah pesanku yang pertama.
Sayang sekali Liong-hui tidak punya keturunan, karena itulah kuharap bila anakmu lebih dari satu, hendaknya seorang kauberikan she Liong untuk menyambung keturunan keluarga Liong.
Inilah pesanku yang kedua……..”

Membaca sampai disini, muka Lamkiong Peng menjadi merah. Sungguh tak terduga olehnya pesan tinggalan sang guru justru menyangkut perjodohan dengan Yap manjing.
Ia membaca lagi”

Selain itu selama ini di dunia persilatan tersiar berita misterius bahwa tempat suci dunia persilatan bukanlah Siong-san Siau-lim-si juga bukan Kun-lun atau Bu-tong-san melainkan terletak di suatu istana dan suatu pulau. Pulau itu bernama ‘Cu-sin’ (para dewa). Diaman letak tempatnya sukar ditemukan. Konon Kun-Mo-To adalah pulau kediaman manusia jahat dan keji di dunia ini, sedangkan istana para dewata dihuni oleh manusia bajik dan bijak. Akan tetapi jika tidak menguasai ilmu silat maha tinggi, siapa pun sukar memasuki istana dan pulau itu selangkah pun.

Tergetar juga hati Lamkiong Peng membaca samapi disini, ia merasa urusan ini benar-benar misterius dan penuh teka-teki.

Ia coba membaca lagi :

Pada waktu masih muda sudah kudengar ceruta tentang istana dan pulau misterius ini. Akan tetapi orang yang bercerita selalu memperingatkan padaku agar selama hidup hanya boleh meneruskan kisah ini satu kali dan kepada seorang saja.
Selama hidupku telah berkelana menjelajahui dunia, namun kedua tempat itu tetap tidak dapat kutemukan. Sekarang ku pergi dan cerita ini kusampaikan kepadamu dan Manjing, tentu saja kalian tidak boleh sembarangan diceritakan lagi kepada orang lain, hal ini perlu diperhatikan. Jika kalian ada jodoh, mungkin sekali kalian akan mampu menemukan kedua tempat misterius itu untuk menyelesaikan cita-citaku yang belum terlakasana.”

Sekaligus Lamkiong Peng membaca habis surat ini, lalu ia memejamkan mata dalam benaknya terbayang dua lukisan, yang satu istana megah serupa kediaman malaikat dewata.

Tempat yang lain adalah sebuah pulau dengan gunung di kejauhan diliputi kabut tebal, suasana seram dan mengerikan dengan binatang buas dan mahluk berbisa.

Melihat anak muda itu termangu-mangu dengan air muka berubah tidak menetu, Yap Manjing pun merasa heran, tegurnya, “Sudah selesai kau baca?”

Terkejut Lamkiong Peng dan tersadar dari lamunannya, jawabnya sambil menyembunyikan surat itu di punggung, “O, sudah habis kubaca.”

“Hm, memangnya kaukira aku ingin tahu isi surat gurumu?” jengek Manjing. “Aku Cuma ingin tanya, apakah ketiga pesan gurumu itu ada sangkut pautnya dengan diriku?”

Lamkiong Peng berdehem pelahan, jawabnya dengan tergegap, “O, Tentang ini…….ini………”

Dengan sendirinyua ia rikuh untuk menjelaskan bahwa buka Cuma ada sangkut pautnya tapi justru sangat berkepentingan.

Alis Manjing menegak, katanya pula, “Baiklah, jika tidak ada sangkut pautnya denagn ku, biarlah ku pergi saja.”

“Nona Yap…….”

“Ada apa lagi?”

“Ini….ini……….” Lamkiong Peng menjadi bingung, meski sang guru memberi pesan, tapi urusan ini mana bisa dilakukannya.

Dalam pada itu Yap manjiing telah melangkah lewat disampingnya dan mendadak merampas surat itu sambil mengomel, “Gurumu menyuruh kau baca surat ini bersamaku, kenapa engkau Cuma membaca sendiri, sebaiknya kulaksanakan pesan beliau………”

Sembari bicara ia terus membaca isi surat itu, seketika mukanya yang dingin itu berubah merah sambil mendekap mulut dengan suara agak gemetar, O, kau…….”

Lamkiong Peng juga serba salah dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya.

Tiba-tiba Manjing menjerit terus berlari ke depan.

Tapi baru beberapa langkah, sekonyong-konyong di tengah malam yang sunyi timbul suara yang aneh, suara gemeresak serupa hutan bambu tertiup angin, dari jauh mendekat.

Baik Lamkiong Peng maupun Yap manjing sama terkejut, serentak si nona melompat kembali ke samping Lamkiong Peng sambil bertanya, “Ap……..apakah ini?”

Suara gemeresak itu sungguh sangat mengerikan, Lamkiong Peng juga bingung dan coba memandang ke arah Ban Tat. Orang tua itu kelihatan pucat juga dan sedang menatap ke depan denagn kedua tangan merogoh saku seperti hendak mengambil sesuatu, jarang jago tua ini memperlihatkan rasa prihatin seperti ini.

Lamkiong Peng sendiri juga terkesiap, namun ia coba menghibur Manjing, “Tak apa-apa, jangan kuatir…..”

Belum habis ucapannya, dai depan sudah muncul sesosok bayangan orang yang berjalan mundur ke belakang, agaknya didepannya terjadi sesuatu yang mengerikan sehingga membuatnya tidak berani membalik tubuh dan lari.

Suara gemersak itu semakin keras, sebaliknya langkah mundur orang ini tambah lambat agaknya kaki menjadi lemas saking ketakutan.

“Sahabat………” baru saja Lamkiong Peng hendak menegur, sekonyong-konyong orang ini menjerit kaget sambil membalik tubuh.

Maka tertampaklah wajahnya yang kurus dengan sinar mata buram, kepala botak, pakaiannya juga sangat aneh, serupa sebuah karung dimasukkan pada tubuhnya begitu saja.

Lamkiong Peng melenggong, ia coba menegur lagi, “Sahabat ini……….”

Mendadak orang berteriak pula terus bersembuyi di belakangnya, mungkin saking ngerinya sehingga tidak sanggup bersuara.

Waktu manjing memandang ke sana, tertampaklah dari kegelapan membanjir keluar berpuluh ular hijau berbisa. Kiranya suara gemersak tadi berasal dari kawanan ular ini.

Tanpa terasa ia menjerit kaget dan menubruk ke dalam rangkulan Lamkiong Peng.

Mendadak Ban Tat membentak, kedua tangan bergerak, segera selapis kabut kuning bertebaran dan jatuh lima enam kaki di depan mereka.

Suara gemersik tadi mulai mereda, tertampak di belakang kawanan ular itu mengikut pula serombongan pengemis denagn baju compang camping dan rambut semerawut. Perawakan kawanan pengemis ini juga tidak sama dengan bemtuk yang aneh, namun wajah mereka sama kelihatan kelam seram dan tahu-tahu muncul dari kegelapan sana seperti sekawanan setan yang membanjir keluar dari neraka.

Yap manjing merangkul Lamkiong Peng dengan erat. Mendadak dirasakan tubuh anak muda itu bergemetar. Tentu saja ia heran, sekilas lirik baru diketahuinya orang botak aneh itu juga telah merangkul pinggang Lamkiong Peng dari belakang, karena dia gemetar ketakutan sehingga tubuh Lamkiong Peng ketularan dan ikut berguncang.

Ular hijau yang berbentuk jelek dengan sinar mata gemerdep itu sedang merayap di tanah becek sana, tampaknya lambat, sebenarnya sangat cepat, hanya seekejap saja kawanan ular sudah merayap sampai di depan garis kuning yang ditebarkan oleh Ban tat tadi.

Dengan was-was Ban Tat memandangi kawanana ular yang merayap-rayap itu, ada yang melingkar dan ada yang mendesis dengan menjulurkan lidahnya yang merah, namun tiada seekor pun yang berani mendekati garis kuning.

Sekilas pandang saja Lamkiong Peng dapat menghitung kawanan pengemis ini terdiri dari tujuh belas orang, semuanya berwajah bengis,namun di mulut mereka justru sedang memohon, “Kasihan Tuan, sudilah memberi sedikit sedekah dari isi saku tuan.”

Suara minta-minta itu terus diulang, seorang disusul yang lain dan terus menerus oleh ketujuh belas mulut.

Tentu saja Lamkiong Peng heran dan bingung, ia coba memandang si orang aneh botak tadi, dilihatnya pakaiannya juga compang-camping, jelas tidak membawa sesuatu benda berharga, namun sebuah karung goni justru dirangkulnya dengan erat, tampaknya karung itu pun kosong tanpa sesuatu isi yang berharga untuk di minta.

Lamkiong Peng tidak mengerti apa yang terjadi ini, tapi jiwa ksatria yang mengharuskan dia membela keadilan dan membantu kaum lemah membuatnya menaruh simapatik terhadap orang tua yang rudin di belakangnya ini.

Sekonyong-konyong dilihatnya Ban Tat menggeser kesana, agaknya hendak menyembunyikan ekor ular yang dibunuhnya tadi supaya tidak dilihat oleh kawanan pengemis aneh itu.

Suara mendengus tadi sudah berhenti, sebaliknya suara mohon kasihan bertambah ramai. Jika tidak melihat wajah kawanan pengemis itu, suara minta-minta mereka sungguh menimbulkan rasa iba orang. Tapi wajah mereka yang seram penuh nafsu membunuh itu membuat suara minta-minta mereka terasa seram.

Mendadak Ban Tat membentak, “Apakah kawan-kawan ini datang dari ‘nerakanya neraka’ di kawan gwa?”

Suara minta-minta tadi serentak berhenti, ketujuh belas pasang mata sama menatap Ban Tat.

Seorang pemgemis bertubuh jangkung dan kurus kering, tapi mata bersinar tajam dengan wajah pucat pasi pelahan melangkah maju, langakhnya enteng mengambang, seperti setiap saat bisa kabur tertiup angin. Baju compang-camping yang dipakainya sangat longgar sehingga menggembung tertiup angin.

Serupa badan halus saja ia melayang lewat garis kuning itu, ia tersenyum seram terhadap Ban Tat, lalu berucap, “Kau kenal padaku?”

Biarpun Ban tat sudah berpengalam luas, menghadapi pengemis aneh ini timbul juga rasa seramnya, jawabnya denagn suara agak gemetar, “Apakah sahabat ini adalah Yu-leng-kun-kai (kawanan pengemis badan halus) yang tersiar di dunia kangouw itu?”

Pengemis aneh yang serupa badan halus ini mendengus, “Betul, nerakanya neraka, pengemis badan halus, setan jahat, arwah miskin, minta sedekah denagn paksa…..Hehe, tampaknya belum pernah kau masuk neraka, dari mana kau kenal kawanan setan jahat seperti kami ini?”

Dia bicara seperti bertembang, lalu disusul suara kawanan pengemis aneh yang menirukkan tembangnya sehingga di dengar di tengah malam gelap seakan- akan jeritan setan.

Tanpa terasa Ban Tat mnyurut mundur, katanya pula, “Yu-leng-kun-kai, biasanya tidak mau minta emas di bawah sribu tail atau perak kurang dari selaksa tail, padahal kami tidak membawa sesuatu benda berharga, jangan-jangan sahabat salah alamat minta sedekah pada kami?”

Tergerak juga hati Lamkiong Peng, segera ia teringat kepada asal usul kawanan pengemis aneh ini, pikirnya, “Biasanya kawanan pengemis setan kelaparan ini tidak pernah masuk ke pedalaman sini, apakah mungkin kedatangan mereka ini hanya karena menyusul seorang tua aneh yang serupa pengemis ini?”

Terdengar pengemis jangkung tadi mendengus, “Yang hendak kami cari tentu saja bukan dirimu, memangnya sengaja kau cari gara-gara kepada kawanan setan?”

Mendadak ia melompat ke depan Lamkiong Peng dan menjengek pula,”Anak muda terlebih jangan cari perkara kepada setan, juga jangan merintangi jalan lalu setan, tentu kau tahu.”

“Anda ini Ih pangcu atau Song pangcu Song cing?” jawab Lamkiong Peng denagn lantang dan tenang, tidak kejut juga tidakjeri.

Gemerdep sinar mata pengemis jangkung ini, ia tertawa ngekek, katanya, “Meski setan ganas Song cing tidak hadir, kedatanganku Ih Hong si arwah rudin tetap sanggup mengakhiri riwayat sesorang. Jika kau tahu asal usul kawanan setan di sini, apakh minta dilalap oleh kawanan setan?”

Serentak kawanan pengemis bersorak, “Lalap saja, lalap saja!”

Sementara itu Yap manjing sudah menenangkan diri, jengeknya, “Huh,main setan-setanan untuk menkuti orang, sungguh konyol!”

Ih Hong menyeringai, “Hehe, nona manis 18-19 tahun berangkulan denagn pemuda di depan umum dan berani pula usil mulut di neraka sana juga tidak mau menerima setan perempuan yang tidak tahu malu serupa dirimu.”

Muka Manjing menjadi merah, segera ia membentak, “Keparat!”

Selagi ia hendak melancarkan pukulan, mendadak Lamkiong Peng menrik lengan bajunya dan mendesis, “SSt, tahan dulu!”

“Kawanan jembel ini berlagak setan segala dan minta secara paksa, untuk apa banyak bicara dengan mereka?” ujar Manjing dengan mendongkol.

Tapi Lamkiong Peng bicara dengan serius, “Sebagai pengemis, adalah jamak mereka minta-minta. Orang kangouw umumnya suka pakai nama atau julukan yang aneh, bahwa mereka menamai diri sendiri sebagai setan juga bukan sesuatu kejahatan. Orang tidak bermaksud jahat kepada kita melainkan Cuma minta kita memberi jalan padanya, mana boleh kita sembarangan menyerangnya?”

Si arwah rudin Ih Hong mestinya akan mendamprat demi mendengar komentar Lamkiong Peng itu, ia tercengang. Baru sekarang sejak tampil di dunia kangouw ada orang memberi penilaian demikian padanya?”
Yap manjing juga tercengang dan tidak jadi bertindak. Entah mengapa, anak perempuan yang dingin dan angkuh ini sekarang berubah lembut.

Sedangkan si kakek botak aneh tadi lantas berseru kuatir,”He, masa…..masa akan kaubiarkan kawanan setan kelaparan ini merampas barang seorang kakek rudin seperti diriku ini?”

Lamkiong Peng tersenyum, serunya, “Sudah lama kudengar kawanan pengemis badan halus suka berkeliaran di dunia ramai, bilamana minta-minta juga tidak melampaui separoh milik orang. Malahan juga sering merampas yang kaya untuk menolong yang miskin, hal ini sudah lama kukagumi. Tapi sekarang rombongan kalian justru mengejar dan mendesak terhadap seorang tua lemah begini, sungguh membuatku sangat heran.”

Dia bicara dengan lugas dan terus terang, sedikitpun tidak berlagak.

Ih Hong tertawa, “Haha, tak tersangka annak muda belia seperti kau ini jjuga tahu sejelas ini mengenai kawanan setan lapar kami.”

Tertawanya sekarang seperti timbul dari lubuk hati yang bersih sehingga sama sekali tidak berbau setan lagi.

Diam-diam Ban Tat membatin”Sudah lama kuberitahukan kepadanya tentang kawawan setan lapar ini, tak terduga dia masih ingat sejelas ini.”

Terdengar Ih Hong berhenti tertawa dan berkata,”Dan bila kau tahu sejelas ini mengenai kami, tentu kaupun tahu kawanan setan sekali sudah keluar tentu takkan pulang denagn tangan hampa. Maka sebaiknya engkau jangan ikut campur urusan ini.”

Sekali berkelebat mendadak ia melompat ke belakang Lamkiong Peng.

“tolooong!” cepat si kakek botak berteriak.

Tapi Lamkiong Peng lantas mengadang di depan Ih Hong, ucapnya, “Apabila anda bertindak terhadap seorang kakek rudin seperti ini dan mendesaknya, sungguh aku harus menyatakan rasa kecewa kepada nama baik kalian.”

Ih Hong berhenti di tempatnya, jengeknya mendadak, “Kakek rudin? Hm, kaubilang dia kakek rudin? Jika di tidak kaya raya melebihimu dan tidak berbudi, masa kawanan setan samapai turun tangan padanya?”

Lamkiong Peng melenggong bingung.

Si kakek botak lantas berteriak, “Jangan kau percaya kepada ocehannya, mana bisa aku kaya……..”

“orang she Ih,” sela Manjing mendadak, “Kau bilang dia kaya raya?”

“Ya,”jawab Ih Hong ketus.

“Apa buktinya? Jika salah, lantas bagaimana? Tanya Manjing.

“Kawanan pengemis setan bermata setajam sinar kilat dan tidak pernah salah lihat, apabila salah lihhat, kami rela kelaparan sepuluh tahun dan segera pulang kandang……….”

“Betul?” Manjing menegas.

“Anak perempuan ingusan kau tahu apa?” jengek Ih Hong. “Meski Lo-lo-si itu tampaknya rudin, padahal dia kaya raya, yang kami minta sekarang tidak lebih hanya separoh barang yang berada dalam karungnya itu, yang kami minta kan cukup pantas. Kawanan pengemis setan biasanya tidak suka mengganggu orang miskin, kalau tidak, mana bisa budak ingusan seperti dirimu dibiarkan ikut bicara.”

“Hm, kau tahu siapa dia?” jengek Manjing sambil memandang Lamkiong Peng.

Ih Hong juga memandang anak muda itu dari kaki ke kepala, lalu ia putar ke kanan dan balik lagi ke kiri.
Dengan kening bekernyit Lamkiong Peng ikut berputar ke sana-sini dan tetap mengadang di depannya.

“hm, tampaknya serupa putra keluarga hartawan,” jengek Ih hOng kemudian. Cuma sayang, dalam sakumu jugatidak banyak isinya.”

“Memangnya pada baju orang tua ini banyak isinya?” tanya Manjing.

“Yang kontan memang tidak ada, tapi Gin bio (sejenis cek) tidak sedikit yang dibawanya, namun yang kuminta juga bukan ginbio melainkan……..”

Belum habis ucapan Ih Hong, mendadak si akkae botak membalik tubuh terus berlari.

“Memangnya dapat kau lari?!” jengek Ih Hong.

Ucapannya sangat manjur, emndadak si kakek botak alias Lo-Lo-si berhenti berlari dan menyurut mundur dengan takut. Kiranya di depannya kembali mengadang beberapa ekor ular hijau.

“Nah, nona cilik, tidak perlu banyak omong lagi, kecuali putra keluarga hartawan Lamkiong di daerah Kanglam, di dunia kangouw tidak ada orang lain yang lebih kaya daripada Lo-lo-si ini, kenapa kalian berdua suka ikut campur urusan? Untung aku yang kalian hadapi, jika ketemu setan ganas Song Cing, bisa celaka kalian.”

“Cayhe sendiri ialah Lamkiong Peng,” tiba-tiba Lamkiong Peng memperkenalkan diri.

Keruan Ih Hong melengak, mendadak ia melangkah maju, sebelah tangannya terus menghantam dada Lamkiong Peng.

Serangan ini di luar dugaaan siapa pun, juga dilakukan secepat kilat, terlihat lengan bajuanya yang longgar itu berkibar, tahu-tahu telapak tangannya sudah dekat dada sasarannya.

Lamkiong Peng membentak pelahan, telapak tangan berjaga di depan dada, jari tangan kanan balas menutuk Kik-ti-hiat bagian iga lawan.

Serangan ini sekaligus juga berjaga diri, inilah salah satu jurus andalan pergruannya yang disebut Ciam-liong-su-ciau (empat jurus naga bersembunyi) yang biasanya jarang diperlihatkan jika tidak kepepet.

Tak tersangka belum lagi saling beradu tangan, serentak I hong melompat mundur, katanya dengan gegetun, ternyata benar murid Sin-liong dan putra Lamkiong. Bagus Lo-lo-si, keenakan bagimu hari ini.”

Sekali ia memberi tanda, segera bergema pula suara sempritan, lalu ramailah suara mendesis, kawan ular hijau yang berputar-putar di depan garis kuning itu serentak melejit ke dalam lengan baju kawanan pengemis

“Nanti dulu, Ih Pangcu,” seru Lamkiong Peng.

“Setelah kalah bertarung dengan sendirinya harus angkat kaki,” kata Ih Hong, “meski kawanan setan kelaparan biasanya suka minta-minta secara paksa, tapi selamanya juga pegang janji. Bahkan ular hijau yang dibunuh tua bangka itu juga tidak perlu kutuntut ganti rugi lagi.”
Gerak-gerik Kawanan pengemis badan halus ini benar-benar serupa setan, hanya sekejap saja mereka sudah menghilang.

Yap manjing tertawa, katanya, ‘Meski kawanan pengemis ini suka berlagak setan dan main gertak, tapi kelakuan mereka pun tidak terlalu jahat.”

Lamkiong Peng sendiri sedang berpikir, “Kawanan pengemis ini pasti ada hubungan erat dengan suhu, kalu tidak masakah hanya bergebrak satu kali saja lantas ,mengenali asal-usul perguruanku?” “Meski Go-kui-pang (gerombolan setan lapar) ini tidak menentu baik jahatnya, tapi sasaran yang mereka incar biasanya pasti manusia kaya yang tidak berhati baik, “ujar Ban Tat sambil menatap kakek botak tadi.

Kakek itu ternyata sedang memandang Lamkiong Peng dengan terkesima, tampaknya kagum dan juga iri, mendadak ia menjura kepada anak muda itu.

Cepat Lamkiong Peng memeblas hormat, katanya kemdian. “Ah, hanya urusan kecil begini, buat apa Lotiang (bapak) memberi hormat sebesar ini?”

“Ya memang urusan kecil, mestinya aku tidak perlu banyak adat, penghormatan sekedar saja sudah cukup, “kata kakek botak itu, “Tapi yang kau selamatkan adalah harta bendaku dan bukan menolong jiwaku, sebab itulah penghormatanku harus kuberikan dengann sepenuhnya.”

Yap manjing dan Lamkiong Peng saling pandang dengan bingung.

Si botak lantas menyambung, “Keluarga Lamkiong kaya raya menjagoi dunia, jika engkau benar Lamkiong kongcu, pasti engkau terlebih kaya dari padaku, sebab itulah penghormatanku ini juga harus kulakukan dengan sebesar-besarnya.”

“O, apakah penghormatanmu ini ditujukan kepada uangnya?” ujar Manjing.

“Memang betul, malahan penghormatanku ini juga ditujukan kepada ayahnya yang kaya itu,” ujar si kakek botak.

Lamkiong Peng melongo oleh uraian orang yang luar biasa ini.

“Jadi yang kau hormati adalah kekayaan seorang, bagimu uang di atas segalanya, begitu bukan?” tanya Manjing.

Dengan serius si kakek botak menjawab, “Benda apa pun di dunia ini tidak ada yang lebih penting daripada uang. Di dunia ini tidak ada yang berharga selain sepotong uang perak, dengan sendirinya dua potong uang perak akan lebih berharga lagi, dan yang lebih berharga daripada dua potong uang perak adalah tiga….”
“Tiga potong uang perak, begitu bukan?…..” tukas Mnjing, mendadak ia mendekap di pundak Lamkiong Peng dan tertawa geli.

“Jika begitu, tentu engkau ini sangat kaya, rupanya Yu-leng-kun-kai itu memang tidak salah lihat,” kata Ban Tat dengan tertawa.

Air muka si kakek botak berubah seketika, sahutnya sambil merangkul erat karung goni yang dibawanya, “O, tidak, tidak! Mana aku punya duit………”

Karena gugupnya, tanpa terasa ia bicara dengan logat kampungnya.

Lamkiong Peng menaha rasa gelinya dan berkata, “Lotiang ternyat tahu cara sayang terhadap duit, sungguh aku sangat kagum…….”

“Saat ini orang yang minta duit padamu sudah pergi, tentu kaupun boleh pergi saja,” sela Manjing. Tiba-tiba teringat kepada urusan sendiri, pelahan ia berkata pula, “Dan aku pun akan pergi.”

Ban Tat berdehem, “Setelah bertemu dengan kongcu dan ternyata tidak berkurang suatu apa pun, sungguh aku sangat gembira. Segera aku akan menuju ke Kwangwa, entah kongcu akan pergi kemana?”

“Aku…….” tiba-tiba timbul rasa kesepian dalam hati Lamkiong Peng, “Aku ingin pulang rumah dulu, kemudian…..” ia memandang jauh ke depan dengan hampa.

“Jika begitu….” sela Manjing tidak melanjutkan ucapannya, dia masih memegang surat tinggalan Put-si-si-liong, sesungguhnya di sangat berharap sepatah kata Lamkiong Peng saja dan dia rela mendampingi anak muda itu selamanya.

Akan tetapi hati Lamkiong Peng terasa pedih dan tidak sanggup berucap.

Diam-diam Ban Tat menghela nafas, katanya, “Jika nona Yap tidak ada urusan, apa alangannya berangkat ke Kanglam bersama Lamkiong kongcu, semoga kalian menjaga diri dengan baik, kumohon diri dulu.”

Ia memberi hormat terus melangkah pergi.

“Tik Yang keracunan dan menjadi gila, kemana perginya juga tidak jelas, apakah engkau tidak mau ikut mencarinya bersamaku?” tanya Lamkiong Peng.

Seketika Ban Tat berhenti dan berpaling kembali.

Tiba-tiba si kakek botak berkata, “Tik Yang yang keumaksudkan itu apakah seorang pemuda berpedang dan keracunan parah itu?”
“Betul,” jawab Ban Tat dengan girang.

“Dia sudah ditolong Yan-pek (arwah cantik) Ih Lo dari kawanan setan lapar itu serta dikirim ke Kwan Gwa,” tutur Kakek botak itu.

“Untung mendadak ia muncul mengganggu, kalau tidak mana bisa kulari sampai di sini. Tampaknya Ih-jinio itu rada menaksir padanya dan tentu takkan membikin susah dia, kukira kalian tidak perlu kuatir baginya.”

Lamkiong Peng menghela nafas lega, tanyanya, “Dan entah perempuan macam apakah Ih-jinio yang berjuluk arwah cantik itu?”

“Orang baik tentu akan selamat, setiba di kwangwa nanti tentu akan kucari jejak Tik Kongcu,” kata Ban Tat, “Menurut pandanganku, Ih-jinio pasti bukan orang jahat, apalagi dia menaksir Tik kongcu, kalau tidak mustahil dia mau pulang ke kwan gwa secepat itu. Setiba disana tentu dia akan berdaya sebisanya untuk menolong Tik Kongcu. Kalian tahu, ketulusan hati dan kemurnian cinta terkadang menimbulkan kekuatan yang sukar dibayangkan.”
“Kemurnian cinta terkadang menimbulkan yang sukar dibayangkan,” ucapan ini terus menyelimuti benak Yap manjing. Waktu ia mengangkat kepala, dilihatnya Ban Tat sudah pergi jauh.

Sekian lama Yap manjing berdiri terkesima, dilihatnya muka Lamkiong Peng rada pucat dan diam saja. Mendadak si nona menggentak kaki dan melengos. Ditunggunya sekian lama dan Lamkiong Peng tetap tidak bicara apa pun padanya, akhirnya gadis yang berhati keras ini pun melangkah pergi.

Dengan terkesima Lamkiong Peng memandangi bayangan si nona, ucapan Ban Tat tadi pun berkecamuk dalam benaknya, samar-samar muncul berbagai bayangan orang, tiba-tiba di rasakan sebagai bayangan Bwe Kiam soat, tapi dirasakan pula seperti bayangan sebagai bayangan Bwe Kiam soat, tapi dirasakan pula seperti bayangan Yap manjing.

Kelelahan dan kelaparan selama beberapa hari, pertentangan batin dan kusut memikirkan cinta, semua itu memeras tenaga dan pikiran……….mendadak dirasakan tangan dan kaki lemas, seperti menginjak tempat kosong, terus roboh.

Si kakek botak menjerit kaget.

Yap manjing sedang melangkah ke sana, melangkah lambat, demi mendengar suara jeritan itu, tanpa terasa ia berpaling. Ketika diketahuinya Lamkiong Peng menggeletak di tanah, secepat terbang ia berlari kembali, kekuatan apap pun di dunia ini tidak dapat mencegahnya untuk tidak menghiraukan anak muda itu…..

**********

Di ufuk timur sudah mulai remang-remang terang, hawa sejuk.

Sebuah kereta berkabin tampak dilarikan menuju ke Sun yang dari kota Se-an. Kakek aneh yang berdandan aneh dan botak kelimis itu setengah berebah di depan kabin sambil tetap merangkul erat karung goni yang dibawanya.

Dari dalam kereta terkadang ada suara rintihan dan keluhan sedih dua orang.

Tiba-tiba si kakek botak mengetuk dinding kabin dan berseru, “Hei nona cilik apakah kaubawa uang perak!?”

“Bawa,” jawab suara orang perempuan dengan marah dari dalam kereta.

Dengan sungguh-sungguh si kakek berkata pula, “Kemana pun pergi, duit tidak boleh kekurangan.”

Ia tersenyum puas, lalu memejamkan mata dan mengantuk.

Setiba di Sunyang, hari sudah gelap, lampu sudah dinyalakan sana-sini.

Mendadak si kakek membuka mata dan mengetok dinding kabin lagi sembari bertanya, “Hei nona cilik, banyak tidak uang yang kau bawa?”

“Cukup banyak,” jengek suara di dalam kereta.

Si kakek melirik kusir kereta sekejap dan berpesan,”Carilah sebuah hotel paling besar, sebaiknya hotel merangkap restoran.”

Pasar malam di kota Sunyang sangat ramai.

Setiba di hotel, dengan lagak tuan besar si kakek memerintahkan kusir dibantu pelayan hotel menggotong Lamkiong Peng ke dalam kamar, Manjing turun dari kereta dengan lesu.

“Nona cilik, berikan lima tail perak dulu untuk sewa kereta,” kata kakek botak.

Kusir kereta sangat senang, ia pikir sekali ini tip yang akan diterimanya cukup untuk minum arak sepuasnya.

Siapa tahu setelah si kakek menerima sepotong perak lima tail dari Yap manjing, baru saja disodorkan kepada si kusir, mendadak ditarik kembali lagi sembari berkata,”Berikan kembalinya dua tail dahulu.”

Tentu saja si kusir melenggong, terpaksa ia memberi uang kembalian, lalu tinggal pergi dengan menggerutu.

Dengan berseri-seri si kakek botak masuk ke hotel, dua tail perak uang kembalian tadi diberikan kepada pelayan dan berkata, “Siapkan semeja makan seharga sepuluh tail perak harus disuguhkan sekaligus!”.

Tidak kepalang gembira si pelayan, ia pikir biarpun pakaian tamunya serupa pengemis, tapi persennya ternyata tidak sedikit. Dengan ucapan terimakasih pelayan lantas mengiakan.

Dengan lagak tuan besar si botak masuk ke ruangan restoran, dengan karung goni tetap dirangkulnya ia pilih sebuah meja besar dan duduk di situ.

Pelayan sibuk mengantarkan teh panas dan memberi handuk wangi, tidak lama kemudian santapann semeja penuh pun selesai di siapkan dengan tertawa yang dibuat-buat si pelayan menyapa,” Apakah tuan ingin minum arak?”

Si kakek menarik muka, ucapnya ketus, “Minum arak bisa membikin runyam urusan, kalau mabuk, biarpun badan digeryangi orang juga tidak tahu, kan rugi. Padahal kau tahu, mencari uang tidaklah mudah.”

Si pelayan melenggongg, terpaksa mengiakan.

“Eh dimana uang pemberianku tadi?” tanya si kakek mendadak.

“Masih ada,” cepat si pelayan menjawab.

“Tukarkan mata uang tembaga seluruhnya dan lekas bawa kemari.”

Keruan si pelyan melongo. Dua tail perak itu disangkanya tip, tak tahunya Cuma titipan untuk menukarkan mata uang. Sambil menggerutu terpaksa ia melangkah pergi.

SI kakek memandang santapan lezat yang tersedia di depannya dengan menggosok-gosok tangan serupa orang putus lotre, berbareng ia berseru, “He nona cilik, jika kau perlu menjaga orang sakit, biarlah kumakan sendiri!”

Terdengar suara jawaban Manjing tak acuh di kamar pojok sana.

“Hm, bilamana keluarga Lamkiong bukan orang kaya, biarpun kau pikat dengan segala macam bujuk rayu juga aku tidak mau menempuh perjalanan bersamamu,” demikian si kakek botak bergumam sendiri, lalu ia taruh karung goni di pangkuannya dan menyikat hidangan yang tersedia.

Caranya makan sungguh rakus dan juga besar takarannya, semeja penuh hidangan itu disapu bersih tanpa sisa.

Pada saat itulah pelayan baru kembali dari menukar mata uang. Si kakek menghitung dengan teliti mata uang itu, akhirnya ia comot tiga buah mata uang.

IA ragu sejenak, akhirnya jari mengendur dan dua buah mata uang dijatuhkan kembali, hanya sisa sebuah mata uang saja ditaruh di atas meja dan berkata dengan rasa berat, “ini untukmu!”

Si pelayan melongo, katanya kemudain dengan mendongkol, “Kukira boleh tuan simpan simpan untuk dipakai sendiri saja.”

Si kakek tertawa senang, “Haha, betul juga, biar kupakai sendiri!”

Sebiji mata uang tembaga itu benar-benar diambilnya kembali, lalu angkat karung goninya dan masuk sebuah kamar dan menutup pintu rapat.

Dengan gemas si pelayan menuju ke halaman dan mengomel panjang pendek.

*********

Di dalam kamar Manjing lagi memegangi semangkuk air obat yang baru diseduhnya dan disuapkan ke mulut Lamkiong Peng dengan tangan agak gemetar.

Meski perkenalannya dengan anak muda itu belum lama terjadi, namun aneh, rasanya sudah timbul semacam perasaan yang sukar dilupakan terhadap pemuda yang berjiwa luhur dan berdarah panas ini.

“Persahabatan harus dipupuk dengan pelahan, cinta justru timbul dalam sekejap,” ia jadi teringat kepada ucapan seorang pemikir, pernah dia mencemoohkan filsafah ini, tapi sekarang baru dirasakan kebenaran ucapan tersebut.

Ia teringat kepada Koh-ih-hong, Tik Yang dan juga pendekar muda congkak “Boh-in-jiu” itu, dia pernah berkumpul dengan mereka di puncak Hoasan yang tinggi dan sepi itu, ia kenal watak dan ketahanan mereka.
Tapi terhadap Lamkiong Peng, pada pertemuan pertama itu juga lantas timbul rasa sukanya, tapi kemudian terpaksa ia meninggalkan Hoasan dengan kenangan indah terhadap anak muda itu.

Ia tidak tahu apa yang terjadi di rumah gubuk di puncak Hoasan itu, serupa halnya ia tidak dapat meraba sebenarnya bagaimana perasaan Lamkiong Peng terhadap dia.

Sudah tiga hari dia melayani anak muda yang sakit dan tak sadar itu. Dia enggan bicara dan berdekatan dengan oarng tua itu, tapi ia pun tidak dapat mencegahnya tinggal bersama di sebuah hotel.

Di dengarnya di kamar sebelah kakek botak itu asyik menghitung mata uang tembaga, sudah larut malam dia masih sibuk dengan duit, sungguh kakek yang mata duitan.

Esok paginya, sakit Lamkiong Peng sudah agak sembuh, petangnya dia sudah dapat turun dari pembaringan. Memandangi Manjing yang agak letih dan kurus itu, perasaan Lamkiong Peng menjadi tidak enak, ucapnya dengan menyesal, “Aku sakit, engkau yang repot.”

“Asalkan kau sembuh, apapun kukerjakan dengan senang hati,” ujar si nona.

Terharu hati Lamkiong Peng, tak terduga olehnya selama tiga hari ini telah sebanyak ini perubahan sikap nona itu terhadapnya. Tanpa terasa ia memandangnya lagi sekejap dengan penuh rasa terimakasih.

Ketika melihat Lamkiong Peng muncul dalam kamarnya, segera si kakek botak yang sedang menghitung uang itu menegur dengan tertawa, “Aha, agaknya sakit mu sudah sembuh?!”

“Terimakasih atas perhatian Lotiang,” jawab Lamkiong Peng dengan tersenyum.
“Bila aku menjadi dirimu, aku tentu ingin sakit lebih lama lagi,” kata si kakek dengan tertawa.

Lamkiong Peng melenggong.

Si botak lantas menyambung, “jika bukan lantaran sakitmu, mana anak dara ini mau mentraktirku makan minum di sini, bila bukan karena kau sakit, mana nona ini mau memperlihatkan perhatiannya kepdamu. Maka kalau engkau sakit lebih lama lagi beberapa hari, tentu aku dapat makan enak lebih lama dan kaupun akan mendapat pelyanan lembut, kita jadi sama-sama gembira, kenapa tidak mau?”

Dia mencerocos terus hingga ludahnya berhamburan, namun setiap katanya memang tepat.

Manjing menunduk malu, meski seperti orang sinting, namun ucapan kakek itu memang kena di hatinya.

Dengan tersenyum Lamkiong Peng berkata, “Jika Lotiang ingin makan minum. Setelah kusehat nanti tentu akan kutraktir.”

“Haha, bagus,” seru si kakek. Tapi dengan serius ia menambahkan, “Tapi biarpun kalian telah traktir makan padaku, tidak perlu kuterima kasih padamu. Kutahu, sebabnya kalian memperbolehkan aku berada bersama kalian adalah demi keuntungan kalian, tapi aku…..haha, boleh juga kugunakan kesempatan baik ini untuk makan minum sepuasnya.”

Kata-kata ini kembali kena di hati Lamkiong Peng dan Yap manjing.

“Tapi kalau Lotiang ada keperluan lain, dapat juga kubantu………”

“Hah, memangnya kaukira aku suka menerima sedekah orang?” jawab si kakek dengan kereng.
“Umpama pakaian Lotiang, dapat kubelikan beberapa potong baju………”

“Eh selamanya kita tidak bermusuhan, kenapa sengaja kau bikin sudah padaku?” cepat si kakek menjawab.

Lamkiong Peng jadi melenggong, “Bikin susah padamu?”

“Coba kau lihat,” si kakek berdiri dan menuding bajunya yang serupa karung itu, “betapa enak bajuku ini, sama sekali tidak perlu kurisaukan kemungkinan akan robek………”

Lalu ia menuding kepala sendiri yang botak, “Dan ini kau tahu, demi untuk membuat botak kepalaku ini betapa jerih payahku selama ini. Sekarang aku tidak perlu sibuk merawat rambut, juga tidak perlu keluarkan duit untuk memotong, inilah cara yang paling baik untuk hidup hemat. Tapi sekarang kau mau memberi pakaian baru kepadaku, jika kukenakan baju pemberianmu, tentu setiap saat kuperlu memikirkan baju baru, itu berarti membuang waktu dan mengurangi kesempatan untuk mencari duit. Bukankah semua itu hanya membikin susah padaku?”

Lamkiong Peng dan Yap manjing saling pandang sekejap, logika si kakek botak ini sungguh luar biasa, tapi juga membuat mereka sukar membantah.

Si kakek lantas mendengus dan duduk kembali, sembari makan ia menggerutu pula, “Maka bila kalian ingin kuiringi kalian, selanjutnya jangan bicara lagi tentang hal-hal ini. Hm, jika tidak mengingat keuntungan yang akan kuraih, bisa jadi sudah sejak tadi kutinggal pergi.”

Yap manjing mendengus dan melengos ke arah lain. Sedangkan Lamkiong Peng hanya menghela nafas menyesal, katanya, “Masa urusan duit bagi lotiang sedemikian pentingnya?”

Kakek botak juga menghela nafas, “Ai, rasanya sukar bagiku untuk menjelaskan kepada putra hartawan seperti dirimu ini akan betapa pentingnya duit. Tapi bilamana engkau sekali tempo menghadapi kesulitan, tanpa penjelasanku baru kau tahu pentingnya duit.”

Tiba-tiba timbul juga perasaan hampa dalam hati Lamkiong Peng, pikirnya, “Semoga aku juga dapat mencicipi rasanya miskin, tapi alangkah sulitnya untuk membuat aku miskin.”

Ia tertawa ejek terhadap diri sendiri.

“Setiap kataku cukup beralasan, memangnya apa yang kau tertawakan?” oemel si kakaek.

“Yang kutertawai adalah karena sejauh ini belum lagi kuketahui nama Lotiang,” jawab Lamkiong Peng.

“Ah, apa artinya nama?” ujar si kakek. “Cukup kausebut diriku Ci TI saja.”

“Ci Ti (gila uang)?” Lamkiong Peng menegas dengan heran, “Tapi yang kutertawai bukan soal ini, lotiang…….”

“Siapa pun tidak berhak mengurus jalan pikiran orang lain,” kata si kakek, “Apa yang kau pikirkan tentu juga tidak ada sangkut paut dengan ku. Bagiku, asalkan tingkah laku dan tutur kata orang cuckup baik terhadapku, biarpun dalam hati dia benci kepadaku juga masa bodoh. Apabila setiap hari selalu kupikirkan apa yang dipiikir orang lain terhadapku, bisa jadi aku akan berubah linglung atau sinting.”

Ucapan ini serupa cambuk yang memecut lubuk hati Lamkiong Peng. Ia tertunduk dan melamun hingga lama.

Dalam pada itu si kakek botak alias Ci Ti sudah kenyang makan, ia mengulet kemalasan dan memandang Yap manjing sekejap, lalu berucap hambar, “Nona cilik, kuberi nasehat padamu, janganlah suka mengusut pikiran orang lain, dengan begitu tentu engkau akan jauh dari kekesalan.”

Manjing juga sedang termenung, ketika ia angkat kepala, dilihatnya si kakek telah melangkah ke halaman dalam.

Tiba-tiba dari luar masuk belasan lelaki berbaju ringkas dan bersenjata golok, seorang lelaki kekar lain dengan punggung menyandang sehelai panji warna merah, memanggul sebuah peti kayu masuk ke halaman sana.

Langkah beberapa orang itu tampak gesit dan cekatan, sorot mata orang terakhir itu pun bercahaya tajam, ia melirik sekejap kepada si kakek botak, masuk ke pintu bulat yang membatasi halaman itu.

Sinar mata si kakek mendadak mencorong terang, dengan tersenyum ia bergumam, “Angki-piaukok (perusahaan pengawalan panji merah)……..” lalu ia menguap dan berkata pula, “Ai, makan banyak, suka kantuk, lebih baik tidur saja.”

Ia masuk ke kamarnya dan menutup pintu.

Setelah termenung sekian lama, akhirnya Lamkiong Peng juga berbangkit dan masuk ke kamar.

Manjiing merasa kesepian, dipandangnya pintu kamar Lamkiong Peng dan memandang pintu kamar si kakek, ia menghela nafas, lalu ia melangkah pelahan ke halaman.

Suasana sunyi, cahaya lampu sudah padam. Entah berapa lama Manjing berdiri di halaman, dari kejauhan terdengar suara kentongan menandakan sudah lewat tengah malam.

Selagi perasaannya diliputi rasa kekosongan, tiba-tiba dari balik wuwungan rumah ada orang tertawa pelahan, seorang mendesis, “Untuk apa berdiri termenung di tengah malam?”

Manjing terkejut, “Siapa?!” bentaknya dengan suara tertahan sambil melompat ke atas rumah.

Dilihatnya sesosok bayangan secepat terbang melayang ke kegelapan sana, sungguh sangat mengejutkan kecepatan orang.

“Berhenti!” bentak pula Manjing sembari memburu ke sana.

Akan tetapi meski ginkangnya juga sangat tinggi, ternyata tetap tidak dapat menyusul orang, ia terus memburu dan mencari di sekitar situ, namun bayangan orang sudah menghilang.

Lamkiong Peng lagi duduk terpekur di atas tempat tidur, ia berusaha menenangkan pikiran, tapi rasanya kusut dan sukar diatasi. Ia tidak tahu Yap manjing melamun di halaman dan juga tidak tahu nona itu melompat keluar untuk memburu seorang.

Entah sudah berapa lama, ketika pikiran Lamkiong Peng melayang-layang tak menentu, tiba-tiba di dengarnya suara seperti daun jatuh diluar jendela, cepat ia melompat bangun dan membuka daun jendela.

Di tengah keremangan malam dilihatnya Yap manjing berdiri di luar dengan rambut kusut.

“Engkau belum tidur?” tanya Manjing dengan pandangan sayu.

Lamkiong Peng menggeleng, tanyanya, “Apakah nona Yap melihat sesuatu?”

“Baru saja kulihat seorang Ya-heng-jin (orang pejalan malam), telah kususul dia tapi tidak dapat menemukannya,” tutur si nona.

“Sungguh hebat orang itu, dengan ginkang nona saja tidak sanggup menyusulnya,” kata Lamkiong Peng dengan terkesiap.

Muka Manjing menjadi merah, ucapnya, “ya, tak terduga di tempat ini juga terdapat tokoh selihai ini. Anehnya kedatangan orang seperti tidak bermaksud baik, tapi juga tidak berniat jahat. Sungguh sukar dimengerti dia kawan atau lawan dan apa maksud kedatangannya?”

“Mungkin dia memang tidak bermaksud jahat, kalau tidak, kenapa dia tidak berbuat sesuatu?” ujar Lamkiong Peng.

Walaupun di mulut dia bicara demikian, tapi dalam hati ia menyesal juga. Ia tahu banyak orang kangouw sekarang memusuhinya. Hanya karena membela Bwe kiam soat sehingga mendatangkan banyak persoalan ruwet ini. Ia sendiri tidak sanggup memberikan penjelasan mengapa dia bertindak demikian.

“Fajar hampir tiba, silahkan nona masuk saja ke dalam,” kata Lamkiong Peng kemudian.

Mereka tidak tidur lagi melainkan menuju ke ruangan tengah, keduanya duduk berhadapan, seketika tidak tahu apa yang perlu dibicarakan.

Terdegar suara ayam berkokok di kejauhan, ufuk timur sudah mulai remang-remang dan membangkitkan berbagai berisik di dunia ini.

Mandadak si kakek botak alias Ci Ti yang gila uang itu melongok keluar pintu kamar, dengan matanya yang masih sepat ia menegur, “Eh, kalian sungguh iseng, ternyata mengobrol sepanjang malam, haha, dasar orang muda!”

Tiba-tiba seorang muncul pula dari balik pintu sana dengan mata yang masih belekan, kiranya si pelayan, dengan tertawa ia menyapa, “Selamat pagi!”

Buru-buru ia mengambilkan air teh, lalu berkata,” Maaf rekening tuan tamu……..”

Mendengar urusan rekening hotel, si kakek botak segera menghilang lagi di balik pintu kamarnya.

Lamkiong Peng tersenyum, katanya, “Tidak menjadi soal, boleh hitung saja seluruhnya.”

Dengan tertawa cerah si pelayan menjawab, “Sebenarnya juga tidak banyak, Cuma tuan besar itu makan minum terlalu banyak, maka seluruhnya menjadi 93 tail lebih……..”

Jumlah ini sebenarnya tidak sedikit, tapi bagi pandangan Lamkiong Peng tentu saja tidak berarti. Tapi segera teringat olehnya di atas tubuh sendiri sekarang tidak membawa sepeser pun, cara bagaimana akan mampu membayar rekening hotel dan makan minum sebanyak itu.

Terpaksa ia berpaling dan berkata dengan tertawa kepada Manjing, “Dapatkah nona Yap membayarkan dahulu?”

Tapi Yap manjing lantas tersenyum, jawabnya, “Selamanya aku jarang membawa uang.”

Baru sekarang Lamkiong Peng melenggong, dilihatnya mata si pelayan menatapnya dengan rasa sangsi.

Terpkir pula oleh Lamkiong Peng bahwa dirinya sekarang sudah tidak membawa lagi sesuatu benda berharga, terpaksa ia berkata kepda pelayan, “Coba ambilkan alat tulis, biar kubikin secarik surat dan segera dapat kau pergi ambil uang.”

Meski dengan ogah-ogahan, terpaksa si pelayan ,mengiakan.

Selagi dia hendak melangkah pergi. Sekonyong-konyong pintu si kakek botak terbuka lagi, kelihatan dia melongok keluar sambil berkata, “Jangan kuatir, pelayan, memangnya kau tahu siapa kongcuya ini? Jangankan Cuma sekian puluh tail perak, biarpun sekian ribu laksa tail, cukup dengan secarik bon saja, kongcuya ini dapat menarik dengan kontan.”

Dengan sendirinya si pelayan kurang percaya, ia melirik Lamkiong Peng dengan sangsi.
Si kakek botak alias Ci ti atau gila uang itu terbahak, serunya, “Supaya kau tahu, biar kujelaskan, dia tak lain tak bukan ialah Lamkiong kongcu keluarga hartawan Lamkiong dari kanglam!”

Seketika air muka si pelayan berubah.

Diam-diam Lamkiong Peng menggeleng kepala, pkirnya, “Ai, dasar manusia rendah, asal mendengar nama…….”

Tak terduga, mendadak si pelayan bergelak tertawa, habis itu ia lantas menarik muka dan menjengek, “Hm, meski banyak juga kulihat orang yang menipu makan minum, tapi tidak pernah kulihat perbuatan sebusuk dan sebodoh seperti ini, masa…..”

“kau bilang apa?” bentak Manjing dengan mendelik.

Si pelayan menyurut mundur setindak, tapi lantas menjengek pula, “hm, masa tidak kalian ketahui bahwa berpuluh kota di sekitar daerah ini, dimana terdapat cabang perusahaan keluarga Lamkiong, hanya dalam waktu beberapa hari terakhir ini seluruhnya telah dipindah tangankan kepada orang lain. Segenap bekas pegawai perusahaan Lamkiong itu sudah dibubarkan dan telah mencari jalan hidup sendiri-sendiri, tapi ternyata ada orang berani lagi mengaku sebagai Lamkiong kongcu yang maha kaya raya itu, hmk, hmk……….”

Begitulah pelayan itu mengakhiri ucapannya sambil mendengus berulang dengan tangan bertolak pingggang dan mata mendelik.

Dengan sendirinya keterangann ini membuat Lamkiong Peng melenggak, Yap manjing juga merasa bingung.

Perubahan yang mengejutkan ini sungguh luar biasa, sukar untuk dipercaya hal ini bisa terjadi mendadak begitu, masakah keluarga Lamkiong yang maha kaya raya itu, sampai menjualkan berpuluh cabang perusahaannya dengan tergesa-gesa begitu dan mengapa bisa terjadi pula dalam waktu sesingkat itu?

Sungguuh sukar diduga mengapa sungai yang membeku itu dapat cair dalam sekejap?

Uacapan si pelayan tadi juga di dengar oleh si kakek botak yang berdiri di samping pintu, ia pun melongo heran.

Mungkin baru pertama kali ini selama hidup Lamkiong Peng mengalamai kekikukkan seperti sekarang. Selagi merasa bingung cara bagaimana menghadapi sikap si pelayan yang tidak sungkan itu, sekonyong-konyong dari halaman dalam berkumandang suara ribut-ribut.

“Wah….celaka!……..celaka!………” demikian terdengar teriakan ramai orang banyak.

Pelayan tadi terkejut, cepat ia berlari ke sana dan lupa mengurus Lamkiong Peng lagi.

Mendadak Lamkiong Peng teringat kepada keluhan singkat yang didengarnya serta bayangan yang dikejar Yap manjing itu.

“Jangan-jangan terjadi sesuatu pembunuhan di halaman sebelah semalam? Demikian timbul rasa curiganya.

Karena ingatan itu, serentak ia pun, melangkah ke halaman sana disusul oleh Yap manjing. Dalam demikian mereka tidak memperlihatkan lagi terhadap gerak-gerik si kakek botak.

Di halaman sebelah sudah berkerumun orang banyak, ada orang berteriak kaget dan berlari masuk keluar.

“Sungguh aneh, mengapa semalam tidak terdengar sesuatu suara apapun?” demikian ada orang berkata.

Segera ada yang menanggapi, “Anehnya hal ini bisa terjadi atas orang Angki-piaukiok yang termashur, entah orang lihai macam apa sehingga berani merecoki panji merah yang disegani itu?”

Suara ribut dan komentar oarng yang yang kaget itu membuat hati Lamkiong Peng tidak tentram karena belum tahu duduknya perkara.

Sesudah dekat, dilihatnya di pintu bulat yang membatasi halaman ini terpancang panji merah yang berkibar tertiup angin.

Semula disangkanya panji ini adalah panji pengenal Angki-piaukiok, tapi setelah di perhatikan, kiranya merah panji ini karena lumuran darah, di tengah warna merah darah itu bersemu biru-hitam, sehingga membuat orang merasa ngeri.

Ia masuk ke halaman situ, suasana dalam hiruk-pikuk, tapi ruangan kamar sana sunyi senyap.

Seorang lelaki berbaju panjang, tampaknya seperti kasir atau kuasa hotel berdiri di luar pintu kamar yang tertutup rapat.

Waktu Lamkiong Peng mendekat, segera lelaki itu mengadangnya dengan membentangkan tangan dan berucap, “Tempat ini dilarang…”

Belum lanjut ucapannya, sekali dorong Lamkiong Peng membuatnya sempoyongan dan hampir jatuh terjengkang.

Meski Lamkiong Peng baru smebuh dari sakitnya, namun tenaganya tentu lain dari pada orang bisa, apalgi dalam keadaan mendongkol, tentu saja cukup kuat untuk membuta orang itu jatuh.

Waktu ia menolak daun pintu, begitu terbuka, seketika detak jantungnya hampir berhenti demi mengetahui apa yang terjadi dalam kamar.

Cahaya sang surya pagi menembus masuk melalui celah jendela yang tertutup rapat sehingga remang-remang di lanati kamar kelihatan bergelimpangan belasan mayat. Segera dikenali Lamkiong Peng sebagai kawanan lelaki berbaju hitam yang berdandan ringkas kekar itu, sekarang semuanya sudah menggeletak tak bernyawa.

Kematin kawanan ellaki kekar ini ternyata tidak serrupa. Seorang yang brewok dengan mata melotot mencengkram kusen jendela sehingga jari pun amblas ke dalam kayu, ia mati dengan setengah bersandar di dinding.

Pada dadanya yang bidang tertancap miring sehelai panji merah, tangkai panji yang terbuat dari besi itu hampir ambles seluruhnya ke dalam dada, darah pun membasahi bajuanya yang hitam.

Seorang lagi yang beralis tebal dan bermulut besar rebah terlentang dengan wajah beringas penuh rasa ngeri, tangannya menggenggam cawan arak yang sudah pecah, daanya juga tertancap panji merah.

Dan begitulah beberapa kawannya yang lain, ada yang mati duduk di kursi, ada yang binasa bersandar di kaki meja, ada yang bajunya tidak rapi, bahkan ada yang telanjang kaki, tampaknya ia ngin lari, tapi belum sempat keluar sudah roboh binasa.

Cara kematian orang-orang iu tidak sama. Tapi yang membuat mati mereka ternyata sama yaitu dada tertancap oleh panji merah pengenal yang mereka bawa sendiri, sekali serang membuat mereka binasa.

Dari sikap orang-orang yang mati ini agaknya belum lagi sempat mereka melolos senjata dan balas menyerang, tahu-tahu mereka sudah terbunuh.

Pelahan Lamkiong Peng memandangi mayat itu satu-persatu, aliran darah sendiri serasa mau beku.

Advertisements

1 Comment »

  1. thanks

    http://www.tabukedu.com

    Comment by القلم الجريء — 07/03/2008 @ 11:27 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: