Kumpulan Cerita Silat

01/03/2008

Amanat Marga (10)

Filed under: Amanat Marga, Gu Long — ceritasilat @ 11:40 pm

Amanat Marga (10)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Eve1yn, Dragon, Nra, dan Ririn)

Si elang kuning Wi Leng thian dan Wiki entah mulai kapan sudah mengendur gerakannya, agaknya terasa tenaga dalam sendiri sudah kewalahan.

Di tengah kabut tebal wajah Leng Ya-thian tampak kelam dan dingin, kedua kacung masih menggeletak diam di tanah, hanya Yim hong-peng saja yang kelihatan tenang, seperti sudah mempunyai pendirian terhadap segala kejadian ini.

Sebagai kepala Thian-hong-jit-eng, Pek-kui-thian membawa elang merah Ang-hau-thian ke dekat Kwe giok-he dan minta dijaga untuk sementara, lalu ia menuju ke tengah kalangan untuk mengemati-amati gerak langkah Cian Tong-lai yang aneh itu.

Dilihatnya elang biru, elang ungu dan elang hijau bertiga terdesak kacau hingga tidak sanggup balas menyerang lagi. Hanya karena pengalaman mereka dan tenaga dalam yang kuat sehingga masih bertahan sebisanya.

Dengan kening bekernyit elang putih Pek-kui-thian berkata kepada elang hitam, “Lakte, apakah dapat kaulihat ciri gerak langkah pemuda ini?”

“Langkah anak muda ini memang sangat ajaib, tapi sukar kupecahkan di mana letak ciri langkahnya yang hebat ini,” jawab elang hitam Leng Ya-thian.

Mendadak Pek kui-thian berseru, “Berhenti, Lo-ngo!”
Elang kuning terkejut, ia menghantam sekali terus melompat mundur ke samping Pek-kui-thian dengan nafas terengah.
Wiki juga kelihatan tersengal-sengal.
“Wi-heng,” kata Yim hong-peng,”tampaknya tidak sedikit kerepotan yang akan kauhadapi nanti.”
“Ai, ada apa semua ini, sungguh aku tidak mengerti……..” Wiki menghela nafas.
Yim hong-peng mendengus, “Kawanan elang ini datang ke daerah barat sini, tujuan mereka ialah Lamkiong Peng, apabila Lamkiong Peng menghilang, betapapun Wi-heng sukar memberi penjelasan dan mungkin Boh-liong-ceng yang harus menanggung akibatnya.”
Air muka Wiki agak berubah, ia termenung memandang kabut yang mengambang di udara.

Dalam pada itu terdengar si elang putih Pek-kui-thian lagi berkata, “Tampaknya Lo-ji berdua tidak sanggup bertahan lagi, agaknya aku perlu turun tangan sendiri.”

Segera ia melangkah maju, kedua tangan bergerak, serentak ia menghantam dengan dasyat.

Elang putih kelihatan lemah lembut, tapi sekali bergebrak ternyata sangat tangkas.
Dengan sendirinya elang kuning dan elang hitam tidak tinggal diam, segera mereka pun ikut menerjang musuh.
Tapi mendadak Pek-kui-thian memberi tanda sambil membentak, “Pencarkan diri!”

Segera kelima elang lain sama menyingkir, tapi cepat menubruk meju ke arah Cian Tong-lai secara serentak. Dengan kerubutan lima orang, hanya beberapa jurus saja kelihatan mulai kewalahan.

Dengan sinis Yim hong-peng berolok-olok pula, “Thian-hong-jit-eng memang hebat, tampaknya beberapa gebrakan lagi murid Kun-lun-pai ini akan……..”

Mendadak Wiki menghela nafas, ucapnya dengan menunduk, “Sekalipun kumasuk keanggotaan Pang kalian juga tiada gunanya, kenapa kau mendesak orang sedemikan rupa?”

“Siapa yang mendesakmu?” ucap Yim hong-peng dengan menarik muka.

“Apa pun yang akan terjadi, jiwa dan harta bendaku jelas sukar diselamatkan lagi, ai aku…….”
Selagi Wiki berkeluh kesah di sebelah sana Giok he juga sedang bicara dengan Ciok Tim, katanya, “Adik Tim, coba lihat wajah Wiki yang muram durja itu dan sikap Yim hong-peng yang senang itu, dapatkah kau terka apa yang terjadi di antara mereka?”

“Apa yang terjadi di Boh-liong-ceng ini, siapa pun yang akan menang, bagi Wiki tetap sukar terlepas dari tanggung jawab,” ujar Ciok Tim.

“Lantas apa lagi?”

“Ada apa lagi?” Sahut Ciok Tim bingung.

“Keruwetan hari ini ternyata tidak dapat kaulihat,” kata Giok he. “Tadi waktu ita masuk Boh-liong-ceng, sikap Wiki terhadap Yim Hong-peng kelihatan kikuk, tingkah laku Yim hong-peng juga tidak mirip seorang tamu. Kedatangan orang ini ke daerah pedalaman sekali ini pasti membawa intrik yang tersembunyi, dia bahkan memaksa Wiki masuk kedalam kompoltan mereka, padahal usia Wiki sudah lanjut, berkeluarga pula, semangatnya sudah luntur, jelas ia tidak suka kepada kehendak Yim hong-peng itu. Tapi dia juga jeri untuk menolaknya, hanya seluk beluk urusan ini pun tidak jelas kuketahui.”

Ia tersenyum, lalu menyambung, “Cian-Tong-lai ini menguasai kepandaian tinggi, dia baru berkecimpung di dunia kangouw, kecuali ingin mencari Boh-in-jiu, dengan sendirinya juga ingin menggunakan kesempatan ini untuk mencari nama, sebab itulah dia sengaja berlagak congkak dan mencari perkara kepada Thian-hong-jit-eng. Dia memang memandang rendah kaum piasu, apalagi kawanan elang itu pun sudah tua. Siapa tahu apa yang terjadi justru jauh di luar dugaannya, bukan saja ia gagal menonjolkan diri, bahkan bikin serba susah kepada Wiki sebagai tuan rumah, sebaliknya Yim hong-peng yang menarik keuntungan dari kanan-kiri, tentu saja dia sangat senang.”
Baru selesai ucapannya, sekonyong-konyong terdengar di belakang ada orang tertawa pelahan dan berkata, “Cara nyonya memandang orang dan menilai persoalan ternyata sangat jitu, sungguh sangat mengagumkan .”

Suaranya jelas, serupa timbul di tepi telinganya.

Keruan Giokhe terkejut, cepat ia menoleh, dilihatnya asap masih mengembang memenuhi ruangan, si elang merah Ang-hau-thian masih duduk di tempatnya, selain dia tiasda bayangan orang lain lagi.

Tentu saja Giok-he terkesiap, tanpa terasa ia bertanya, “Siapa?”

Dengan bingung Ciok Tim berpaling, “Ada apa?”
“Suara tadi, masa tidak kau dengar?” ujar Giok-he.

“Suara apa?” Ciok Tim tambah bingung.

Berdebar hati Giok he, ia menggeleng dan berpaliang, “jangan-jangan ilmu Toan-im-jip-bit (ilmu mengirimkan gelombang suara) yang digunakan orang tidak kelihatan itu?”

Ia coba melirik sekeliling orang yang hadir, ia heran siapakah diantaranya yang menguasai ilmu gaib itu.

Tiba-tiba suara tadi mendengung pula di telinganya, “Sejak kumasuk ke pedalaman, apa yang kudengar dan kulihat, etrnyata Cuma nyonya saja yang terhitung ksatria sejati, bilaman nyonya mau bekerjasama denganku, tentu segala urusan besar dapat disukseskan. Jika nyonya setuju bekerja sama denganku, harap nyonya mengangguk pelahan tiga kali.”

Saat itu Ciok Tim legi memandang Giok-he menunnduk dengan mata terpejam, seperti lagi mendengarkan sesuatu, lalu manggut-manggut dan tersenyum, kemudai membuka mata dan memancarkan cahaya cemerlang.

Saking herannya Ciok Tim coba bertanya, “Ada……..ada apa, Toaso?”
“Oo, tidak ada apa-apa,” sahut Giok-he dengan tersenyum sambil menuding ke dapan.
Waktu Ciok Tim memandang ke sana , dilihatnya gerak langkah Cian-tong-lai semakin kuat, bahkan kelihatan semakin lesu dan loyo, serupa orang kurang tidur atau terlalu letih.

Kabut semakin tebal, tiba-tiba Ciok Tim merasakan kabut putih itu sangat aneh datangnya, lambat laun sukar membedakan lagi keadaan ruangan, wajah orang yang hadir disitu pun mulai sukar dibedakan.

Segera timbul rasa letih dan mengantuk, Ciok Tim merasa nafasnya juga tambah sesak, kelopak mata melambai, bayangan orang mulai kabur dan akhirnya………

Begitu cepat datangnya rasa letih dan kantuk, sekuatnya ia coba memandang Giok-he yang berdiri di sampingnya dirasakan sperti mendadak berjarak sangat jauh, ia berteriak, “Toaso……..toaso……….”

Sekonyong-konyong dirasakan nafs sendiri juga sedemikian jauh, ia membusungkan dada dan bermaksud lari keluar tapi kabut putih itu serasa menindihnya dengan berat sehingga sukar melangkah, baru saja satu-dua tindak segera ia jatuh tertunduk.

Samar-samar dirasakan bayangan orang dan pepohonan di taman di telan seluruhnya oleh kabut tebal, semua orang tidak terlihat lagi.

Tiba-tiba di dengarnya suara olrang melangkah keluar ruang pendopo itu, ia coba menoleh, tahu-tahu suara langkah itu sudah sampai disampingnya, hanya dapat dilihatnya sepasang sepatu yang mengkilat bergeser pelahan di tengah kabut.

Lalu terdengar suara tertawa mengejek bergema di tepi telinganya, “Huh, thian-hong-jit-eng apa segala, setiba disini juga patah sayapnya. Hm anak murid Kun-lun apa, kedatangannya juga rontok sama sekali……..”

Habis itu lantas bergema suara tertawa senang, rasanya seperti suara Yim hong-peng.
Lalu segalanya kembli menjadi sunyi.
Di tengah kesunyian itulah Ciok Tim terpulas dan ditelan kegelapan.

*********
Kegelapan yang tak berujung, kesunyian yang tak berpangkal.

Pelahan Lamkiong Peng siuman kembali, waktu ia membuka mata, tidak terdengar sesuatu suara, juga tidak terlihat apa-apa, ia menghela nafas dan membatin, “Apakah aku sudah mati?”

Mati ternyata tidak menakutkan sebagai mana dibayangkan, namun jauh lebih kesepian daripada perkiraannya. Ia coba mengucek mata, tapi tidak terlihat telapak tangan sendiri, apa pun tidak terlihat.

Dalam sekejap itu segala kejadian selama hidupnya seolah-olah terbayang kembali, setelah dipikirnya dan ditimbang, ia merasa selama hidupnya begitu-begitu saja, tidak penah timbul pikiran membikin susah orang lain, baik terhadap ayah bunda, guru maupun sahabat, selalu dihadapinya secara jujur tulus, tidak pernah terpikir olehnya perbuatan yang licik dan munafik.

Ia tersenyum sendiri, ia pikir bilamana cerita tentang surga dan neraka benar ada, sesudah mati mungkin dirinya tidak perlu diputus masuk neraka.

Dalam kesepian, sekonyong-konyong di dengarnya sayup-sayup, suara musik berkumandang dari kegelapan sana, lagunya begitu sedih mengharukan, serupa tangisan kawanan setan.

Di tengah suara musik yang sayup-sayup itu mendadak bergema teriakan, “Lam……..kiong……..peng……Hahaha, kau sudah datang?”

Lalu terdengar serentetan suara tertawa tajam mengerikan.

Lamkiong Peng mengusap dahinya yang berkeringat dan membentak, “Siapa kau? Manusia atau setan? Hm, biarpun setan juga aku tidak takut! Tidak perlu kaumain sembunyi!”

“Hahaha,” suara tertawa yang seram itu berubah menjadi tertawa latah yang lantang, “Aku Cuma menghendaki kaurasakan bagaimana orang mati, agar kautahu mati bukan tindakan yang enak, supaya kaukenal berharganya kehidupan.”

Dengan geram Lamkiong Peng menghantam ke arah suara itu, diam-diam ia bersyukur tenaga sendiri belum lenyap. Siapa tahu pukulannya yang keras itu seperti batu tenggelam dalam lautan, menghilang dalam kegelapan.

Suara tertawa latah itu bergema pula, “Haha, meski tempat ini bukan neraka, tapi jaraknya tidak jauh lagi, meski kau tidak jadi mati, bila mau sudah belasan kali dapat kumampuskan kau……….”

“Kenapa tidak kau bunuh diriku? Apakah kau ingin memeras diriku, supaya kutunduk padamu?” Sela Lamkiong Peng sambil tertawa.

“Ya, memang begitulah maksudku,” kata suara itu dalam kegelapan.
“Haha, jika aku sudah pernah mati sekali, apa alangannya mati sekali lagi,” seru Lamkiong Peng dengan terbahak, “Bila kau ingin kutunduk kepadamu, huh, jangan mimpi!”

Lalu ia duduk bersila dan mengheningkan cipta, tiba-tiba pikiran terang dan lapang dada.
Dalam kegelapan, sang waktu dirasakan lalu dengan sanagt lambat, tapi rasa lapar justru datang dengan sangat cepat.

Lamkiong Peng duduk bersila, perut mulai lapar sekali dan sukar ditahan. Segera timbul pula macam-macam pikiran. Ia berdiri dan coba meraba sekitarnya, baru sekarang diketahuinya dirinya berada di dalm sebuah gua yangs eram serupa neraka dan tiada terdapat sesuatu benda apa pun.
Walaupun kelaparan, kesepian dan kegelapan yang mencekam, namun semua itu tak dapat menggoyahkan pendiriannya.

Entah berselang berapa lama lagi, tiba-tiba Lamkiong Peng mencium bau sedap daging dan arak, ia menelan air liur, biji lehernya naik turun, rasa laparnya tambah sukar ditahan.

Sejak kecil baru sekarang untuk pertama kalinya ia rasakan betapa susahnya orang kelaparan.

Ia memejamkan mata dan menggerutu, “Sialan, aku hendak dipancingnya dengan makanan!”

Bau sedap semakin keras, mau tak mau ia harus mengakui pancingan ini mempunyai daya tarik yang amat kuat.

Selagi ia berusaha memancarkan perhatiannya atas bau sedap makanan itu, tiba-tiba terdengar suara orang mendengus di atas, “Hm, lamkiong-kongcu tentu tidak enak bukan kelaparan?”

Dengan gusar Lamkiong Peng menjawab, “Tekadku sudah bulat, betapapun kau imingi diriku juga tiada gunanya, tidak perlu banyak omong.”

“Sekarang juga sudah kukerek dua ekor ayam panggang lezat tepat di depnmu, boleh coba kau cicipi.” Kata suara itu.

Meski teguh pendirian Lamkiong Peng, tapi kebutuhan biologis membuatnya tidak tahan, waktu ia mengendusnya, abu sedap itu tambah merangsang.

Dalam kegelapan suara itu bergema pula, “Di antara kedua ekor ayam panggang ini, seekor di antaranya dilumuri dengan obat bius, bilaman kau makan, akan hilang kesadaranmu yang asli dan seluruhnya engkau akan tunduk kepada perintahku. Sebaliknya seekor ayam panggang yang lain tidak diberi racun apapun, bila kauberani, boleh silakan bertaruh dengan nasibmu!”

Tanpa terasa Lamkiong Peng menjulurkan tangan, betul juga, ujung jarinya lantas menyentuh sesuatu yang kenyal. Sungguh hatinya tergelitik. Akan tetapi segera ia memejamkan mata dan menarik kembali tangannya sambil membentak, “Tidak, mana boleh untuk sekadar makan ini aku harus bertaruh dengan nasibku sendiri.”

Terdengar suara terloroh dalam kegelapan sejenak kemudian mendadak ia menghela nafas dan berucap, “Ai, tokoh semacam anda sungguh sayang tidak suka bekerja sama denganku. Betapapun kuhormati engkau sebagi seorang jantan sejati, aku tidak tega membunuhmu, juga tidak tega membiusmu dan menganiayamu, makanya kuberi hidup sampai sekarang. Tapi bila kubebaskan dirimu, jadinya tiada ubahnya seperti melepaskan harimau kembali ke gunung, pada suatu hari kelak biasa jadi usaha yang telah kupupuk selama bertahun-tahun akan hancur di tanganmu.”

Ia menghela nafas, lalu menyambung, “Kutahan dirimu di sini sesungguhnya karena terpaksa, hendaknya jangan kau sesalkan diriku bila kau mati, aku berjanji akan menguburmu dengan baik-baik.”

Dalam kegelapan ada cahaya mengkilat berkelbat, terdengar suara ‘trang’ jatuh di samping Lamkiong Peng, lalu suara itu berucap lagi, “Sekaranag kulemparkan sebilah belati itu untuk membunuh diri. Apabila pikiranmu berubah cukup kau berteriak dan segera ku datang membebaskanmu.

“Supaya kautahu, tinggi gua ini lebih dari enam tombak, dinding sekeliingnya terbuat dari baja, hanya bagian atas saja dapat keluar masuk, boleh juga kaucoba, jika kurang tenaga, silahkan makan kedua ekor ayam panggang itu, tidak ada yang diberi racun, jangan kuatir mungkin akan menambah tenagamu.”

Dia bicara dengan tulus, serupa sahabatb yang memberi nasehat.

Pada saat itulah sayup-sayup terdengar suara ornag yang ebrucap dengan lirih, suara halus merdu, “Eh cara bicara serupa dua sahabat yang akan berpisah, kau tahu…….” sampai disini tidak terdengar lagi apa yang diucapkannya.

Suara itu bagi Lamkiong Peng sudah sangat dikenal, hatinya tergetar, ia heran siapakah itu?

Didengarnya suara tadi berkata pula,”Bila kita bertemu sepuluh tahun yang lalu, kuyakin kita pasti dapat terikat menjadi sahabat karib, sayang sekarang aajalmu sudah dekat…… sebelum kau mati, jika ada sesuatu permintaanmu, tentu akan kulakukan bagimu.”

Lamkiong Pengsedang memikirkan suara merdu tadi, tanpa pikir ia menjawab, “Siapakah suara orang perempuan tadi? Boleh kau perlihatkan dia kepadaku sekejap saja.”

Suara itu terdiam, sejenak kemudian baru berkata pula, “Hanya ini permintaanmu?”

Lamkiong Peng mengiakan.

“Masa tidak ada pesan akan kau tinggalkan bagi orangtua atau sahabatmu?” tanya suara itu. “Masa sama sekali tidak ada urusanmu yang perlu kuselesaikan bagimu? Tidakkah perlu kaulihat sesungguhnya siapa yang mengakibatkan kematianmu ini?”

Lamkiong Peng melenggong, tiba-tiba timbul rasa duka yang tak terkatakan, kalau dipikir, sesungguhnya teramat banyak urusannya yang belum lagi selesai.

Seketika ia merasa putus asa, ia menunduk dan tidak bicara lagi.

“Bagaimana dengan orang yang ingin kaulihat………”

“Tidak perlu kulihat lagi.” Kata Lamkiong Peng.

“Tapi sudah kusanggupi padamu, maka boleh coba kaupandang ke atas,” kata suara itu.

Mata Lamkiong Peng lantas terbeliak, ia tahu tutup lubang gua itu telah dibuka. Namun di tetap duduk termenung, meski diragukannya perempuan itu pasti seoarang yang ada hubungan erat dengan dirinya, namun dia tidak ingin memandangnya lagi, ia tidak mau meninggalkan rasa penyesalan sesudah mati.

Keadan sunyi sejenak, ‘brak’, tutup lubang dirapatkan lagi. Dalam kegelapan lantas bergema suara musik yang memilukan, suara yang misterius tadi lagi berdendang dan mengucapkan selamat tinggal.

Suara musik itu memepengaruhi juga rasa duka Lamkiong Peng, tanpa terasa air matanya meleleh. Dalam dukanya tiba-tiba timbul semacam keberanian untuk mencari hidup, ia coba meraba belati yang dimaksudkan orang tadi, pelahan ia mendekati dinding, sekuatnya ia tusuk dengan belati itu.

Seketika tangan tergetar kesakitan, dinding sekeliling memang benar terbuat dari baja, ia menghela nafas duka dan bersandar di ujung dinding, ia merasa segalanya sudah tamat, sama seklai tidak ada harapan lagi.

Namun titik akhir kehidupan tetap sangat panjang, ia tidak ingin merusak tubuh pemberian orang tuaaa, tapi juga tidak tahan oleh derita batin selama menunggu ajal ini.

Entah berselang lama lagi, mendadak dirasakan dinding tempatnya bersandar bisa bergerak, ketika cahaya membuat matanya terasa silau, berbareng tubuhnya lantas roboh terjengkang.

Ia terkejut dan cepat melompat bangun.

Waktu ia memandang ke depan, dilihatnya seorang tua telah berdiri di situ dengna wajah prihatin, tangan memegang obor. Ketika si kakek mendorong lagi dengan sebelah tangan, pintu rahasia gua itu lantas menutup kembali.

Lamkiong Peng tercengang, baru sekarang dirasakan dirinya telah terbebas dari bayangan maut. Sungguh tidak kepalang rasa girangnya, seketika ia berdiri melongo dan tidak tahu apa yang mesti diperbuatnya.
Orang tua yang membawa obor ini ternyata bukan lain daripada si gelang terbang Wiki , pemilik Boh-liong-ceng.

Kening si kakek tampak terkerut rapat, jelas menanggung tekanan batin. Ia memberi tanda kepada Lamkiong Peng , lalu mendahului melangkah keluar ke sana.

DI bawah cahaya obor kelihatan lorong di bawah tanah ini penuh sarang laba-laba atau galgasi, setiap langkah selalu menimbulkan debu, jelas jalan ini sangat jarang dilalui orang. Namun lorong itu berliku-liku, bangunannya juga ajaib dan mengagumkan.

Memandangi bayangan orang yang tinggi besar, hatinya penuh rasa terimakasih. Selama hidupnya belum pernah dirangsang perasaan semacam ini,maklumlah, soalnya dia baru saja menghadapi ‘kematian’ yang membuatnya derita batin dan putus asa.

Ia berdehem, tenggorokan serasa tersumbat, ia coba bertanya, “Locianpwe…….”

“Ssst, diam!” desis Wiki tanpa menoleh.
Setelah membelok satu tikungan, mendadak Wiki menekan pada ujung dindidng, terdengar suara ‘kriaat’, dinding di situ lantas menyurut mundur dua-tiga kaki lebarnya.

Cepat Wiki menyelinap masuk ke situ sambil bergumam, “O, jit-eng , jangan menyesal jika tidak dapat kuselamatkan kalian, aku telah berusaha sepenuh tenaga………….”

Selagi Lamkiong Peng merasa bingung, terlihat Wiki sudah melompat keluar lagi dengan mengempit seorang pemuda berbaju perlente dalam keadaan pengsan.

“Gendong dia!” kata Wiki dengan suara tertahan.

Lamkiong Peng menurut, diangkatnya pemuda itu dengan tidak mengerti apa maksud Wiki.

Setelah merepatkan pintu dinding. Wiki mendahului berjalan lagi ke depan dengan langkah berat dan kening bekernyit.

“Loc……..” Lamkiong Peng ingin tanya pula.

Tapi Wiki lantas memotong, “Tidak perlu kauterimakasih padaku.”

“Tapi………. sebenarnya………”

“Dunia persilatan segera akan timbul peristiwa besar, kawanan perusuh dari Kwan gwa sudah masuk ke daerah Tionggoan, aku berada di bawah ancaman mereka, harta bendaku yang kudapatkan dari jerih payahku selama berpuluh tahun tampaknya akan hanyut ludes.”

Tentu saja Lamkiong Peng tidak paham.

Selagi ia hendak tanya, Wiki telah menyambung pula, “Pemuda yang kau gendong ini memiliki kepandaian mengejutkan, dia adalh murid Kun-lun-pai, namanya Cian-tong-lai. Dia terkena semacam kabut bius yang istimewa dan tidak dapat kutolong, harus selang sekian lama baru dia akan siuman dengan sendirinya. Kalian berdua sama pemuda gagah, hari depan kalian tak terbatas, semoga kalian dapat lari meninggalkan temapat ini dan mencari kesempatan untuk bertindak di kemudian hari, janganlah gembong iblis itu berhasil merajai dunia.”

Dia bicara dengan sedih dan penasaran.

Dengan alis menegak Lamkiong Peng bertanya, “Siapa yang kaumaksudkan? Masa dia………”

“Kepandaian orang ini sukar dijajaki, potong Wiki pula. “Dia mahir menggunakan berbagai senjata rahasia yang aneh dan dupa bius yang mujizat, bahkan banyak anak buahnya yang serba pandai sehingga makin menambah kejahatan yang diperbuatnya. Ada anak buahnya yang berjuluk Toat-beng-jiang (tombak pencabut nyawa) dan Tui-hun-kiam (pedang sambar nyawa), kungfu kedua orang ini sungguh sangat mengejutkan, kita sama sekali bukan tandingannya.”

Tergerak pikiran Lamkiong Peng, katanya, “Apakah gembong iblis yang kaumaksudkan itu ialah Swe thiam-beng?”

Melenggak juga Wiki, seperti heran mengapa Lamkiong Peng juga kenal nama itu, sambil menekan lagi pojok dinding ia menjawab, “Ya, Swe thian-beng.”

Baru lenyap ucapannya, tertampaklah cahaya udara. Ternyata mereka sudah berada di pintu keluar lorong.

Terdengar Wiki lagi bergumam dengan pedih, “Di Boh liong-ceng kami sekarang entah terkurung berapa orang, dengan kekuatanku hanya dapat kuselamatkan kalian berdua, hendaklah lekas kalian pergi slekasnya, ingatlah selalu pesanku, ilmu silat orang ini sukar dijajaki, janganlah kalian sembarangan bertindak.
“Locianpwe…….”

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, tahu-tahu Wiki mendorongnya keluar sambil bergumam, “Naga melahirkan sembilan anak, setiap anak berbeda-beda, biarpun sesama saudara seperguruan, terdapat juga serigala dan harimau diantaranya………”

Terdengar suara keriat-keriut, pintu lorong rahasia itu telah rapat kembali.

Lamkiong Peng berdiri termenung dengan terharu.

Waktu ia menengadah, cuaca remang-remang, malam sudah larut, ketika ia periksa keadaan Cian Tong-lai, muka anak muda itu pucat pasi, namun tidak mengurangi wajahnya yang cakap.

Ia coba membedakan arah, lalu membawa Cian Tong-lai berlari ke arah barat daya, teringatnya Bwe kiamsoat yang berjanji menunggu kembalinya itu, seketika bergejolak perasaannya yang tertekan itu. Tapi bila teringat Tik Yang yang sekarat, seketika ia menghentikan langkahnya.

Terjadi lagi pertentangan batin. Jika dia kembali dengan tangan hampa, maka segala langkah usahanya akan berubah juga tdiak ada artinya sama sekali, mana boleh ia menyaksikan Tik Yang yang telah membantunya itu mati keracunan begitu saja?

Selagi bingung dan serba salah, menddak dirasakannya sebuah tangan pelahan menekan Leng-thai-hiat pada punggungnya, Ling-thai-hiat adalah salah satu hiat-to penting yang berhubungan erat dengan jantung, bilamana tergetar dengan keras, seketika binasa.

Akan tetapi Lamkiong Peng hanya terkejut sekejap saja, habis itu lantas tenang malah, ia pikir dalam keadaan serba susah, bila mati akan merupakan pelepasan malah baginya, lepas dari segala siksa derita.
Karena itulah ia tetap berdiri diam saja dan tidak memberi reaksi apa pun, dengan tenang ia menantikan ajal.

Siapa tahu, sampai sekian lamanya tangan itu tetap tidak bergerak lagi.
Bekernyit kening Lamkiong Peng dengusnya, “Kenapa sahabat tidak lekas turun tangan?”

Di bawah kerlip bintang bayangan orang dibelakangnya tampak bergerak mendoyong ke depan, agaknya orang merasa heran terhadap sikap Lamkiong Peng yang tak gentar itu.

Segera terdengarlah suara tertawa ngikik nyaring di belakang, katanya, “Lo-ngo, apakah engkau benar-benar tidak takut mati?”

Suara ini hampir serupa dengan suara yang didengarnya di tempat tahanan yang gelap itu, suara yang sudah dikenalnya.

Tergetar hati Lamkiong Peng, serentak ia membalik tubuh dan berseru, “He, toaso!”
Di tengah remang malam Giok-he kelihatan lagi tersenyum riang.

“Kenapa Toaso juga datang ke sini?” tanya Lamkiong Peng

Giok he tidak menjawab, sebaliknya ia membuka sebelah tangannya dan berseru, “Coba lihat, apa yang kupegang ini?”

Tergerak hati Lamkiong Peng, tanpa terasa ia berseru, “He, obat penawar? Apakah obat penawar?”

“Kau memang cerdik, yang kupegang itu memang obat penawar,” ujar Giok he sambil membuka lebar telapak tangannya sehingga kelihatan sebiji pil merah. “Ku tahu demi untuk mendapatkan obat penawar ini, kau tidak sayang menyerempet bahaya dengan taruhan nyawa sendiri. Tapi obat ini tetap tidak kauperoleh, begitu bukan?”

Lamkiong Peng menghela nafas menyesal sambil menunduk, seperti mau bicara, tapi urung.

“Setiba di Boh-liong-ceng,” demikian Giok he bicara pula, “Hatiku ikut sedih demi mendengar urusanmu. Betapapun kau adalah suteku dan harus kubela.”

Dia bicara dengan tulus penuh perhatian, tapi sinar matanya gemerdep dengan maksud yang sukar diraba, dengan semdirinya hal ini tidak dilihat oleh Lamkiong Peng.

“Sebab itulah aku berusaha memperdayai Yim hongpeng yang munafik itu, akhirnya dapat kutipu obat penawar ini dari dia, ” demikian Giok he bertutur pula.”Tapi ketika kupancing dia membawaku ke tempat tahananmu dan ingin menolongmu keluar, siapa tahu engkau sudah berhasil kabur lebih dulu. Sungguh aku bergirang bagimu dan juga sedih. Tanpa obat penawar, menuruti watakmu yang keras, tidak nanti kau mau pulang ke sana, sebab itulah tanpa menghiraukan bahaya segera kususulmu ke sini.”

Terharu Lamkiong Peng dan juga merasa malu diri, ia pikir betapapun Toaso tetap baik padaku, hampir saja aku salah menilainya.

Ia mengadah, dilihatnya Giok-he sedang memandangnya, tiba-tiba Lamkiong Peng merasa Liong-hui sesungguhnya adalah lelaki yang beruntung.

Dengan tersenyum Giok-he berkata pula, “toako dan Simoay mendampingiku, tapi dia seorang yang kaku dan pendiam, seharian paling bicara dua tiga kata denganku. Entah bagaimana dengan toakomu, ai, sungguh kukuatir………”

“Toaso, kukira Toako sudah pulang ke Ji-hau-san-ceng, bila……..bila urusan disini selesai segera kita pun dapat pulang, ” kata Lamkiong Peng.

Kata Giokhe dengan hampa, “Betapapun aku hanya seorang perempuan. Losam selalu acuh tak acuh, alangkah baiknya jika dapat berada bersamamu, tentu aku tidak perlu repot…..”

“Meski siaute tidak dapat menjaga Toaso sepanjang jalan, tapi………” tiba-tiba ia mengeluarkan sepotong kemala putih dan diberikan kepada Giok he, sambungnya, “dengan, membawa kemala ini, kemana pun dapat Toaso memperoleh bantuan pada setiap cabang perusahaan setempat usaha keluarga kami.”

Ia tidak memandang langsung kepada Giok he sehingga tidak diketahui betapa senang hati nyonya muda itu, hanya dirasakan sebuah tangan halus memegang tangannya, hatinya tergetar dan menyurut mundur setindak, pil merah oleh Giok-he telah ditaruh pada tangannya sambil berkata, “Gote, selesai urusanmu di sini hendaknya segera kaupulang, bila bertemu dengan toako juga membujuknya supaya lekas pulang.”

Dia bicara agak tersendat sehingga Lamkiong Peng tambah rikuh untuk memandangnya, ia cuma mengangguk saja sambil menunduk.

“Toaso telah banyak membelamu, entah kaupun sudi bekerja sesuatu bagiku atau tidak?” kata giok-he pula.

“Orang yang dalam gendonganmu ini adalah murid Kun-lun dan merupakan musuh kita, kungfunya sangat tinggi, mungkin kita bukan tandingannya, demi menghilangkan bahaya di kemudian hari, hendaknya kau tutuk Hiat-to cacat bagian punggungnya.”

Lamkiong Peng mendongak dengan tercengang, jawabnya kemudian, “Apabila orang ini berbuat sesuatu kesalahan kepada Toaso, setelah dia siuman nanti pasti akan kulabrak dia mati-matian. Tapi sekarang di dalam keadaan pingsan, orang menyerahkan dia dalam tanggung jawabku pula, apaun juga tidak dapat kuganggu dia dalam keadaan demikian.”

Giok he tampak kurang senang, jengeknya, “Baru saja kauterima obat penawar dariku dan segera kaubangkang kehendakku, apapula yang dapat kuharapkan darimu kelak?”

“Tapi aku…….aku……….”mendadak Lamkiong Peng mengembalikan pil merah itu kepada Giok he dan menambahkan, “Lebih baik kukembalikan obat ini daripada berbuat pengecut yang melanggar hati nuraniku.”

Selagi ia hendak berpaling dan tiingal pergi, sekonyong-konyong Giok-he mengikik tawa, katanya, “Ah, aku Cuma menguji kejujuranmu saja apakah engkau masih ingat kepada ajaran suhu atau tidak, mengapa kau jadi serius terhadap Toaso?”

Sembari berkata ia serahkan pula pil merah itu kepada Lamkiong Peng .

Hati Lamkiong Peng menjadi lunak lagi, ucapnya, “Asalkan bukan tindakan seperti ini, terjun ke lautan api sekalipun akan kulakukan bagi toaso dan toako.”

“Apa tidak ada perbedaan antara toako dan toaso dalam pandanganmu?” tanya Giok-he.

Kembali Lamkiong Peng melenggong bingung.

Didengarnya Giok he berucap pula, “Asalkan pandanganmu terhadap toako dan toaso tidak ada perbedaan, maka senanglah hatiku.”

Tiba-tiba ia menjulurkan sebelah tangannya dan berkata pula, “Untuk memastikan apa yang kaukatakan barusan ini, sudilah kaujabat tangan toaso.”

Sekilas pandang Lamkiong Peng merasa tangan orang yang putih bersh itu emnimbulkan rasa was-was yang sukar diceritakan.

“Kenapa, apakah tangan Toaso kotor?” kata Giok he melihat anak muda itu ragu-ragu.

Pelahan Lamkiong Peng mengangsurkan tangannya untuk menjabat tangan Giokhe, baru saja ia hendak menarik kembali tangannya, mendadak genggaman Giok-he mengerat, hawa hangat harum tersalur dari telapak tangan ke lubuk hatinya.

“Gote,” terdengar Giok-he berucap dengan lembut, “hendaknya jangan melupakan malam ini………….”

Tergetar hati Lamkiong Peng, sebelum selesai ucapan orang segera ia menarik tangan dan berlari pergi.

Gemerdep sinar mata Giokhe memandang bayangan anak muda yang menghilang dalam kegelapan itu, tersembul senyuman aneh pada ujung bibirnya.

Tiba-tiba dari kegelapan muncul lagi sesosok bayangan dan melayang capat ke arah Giokhe serta memegang tangannya, “Jangan melupakan malam ini apa?”

Setelah merandek, segera ia membentak pula, “Barang apa yang kaupegang ini?”
Suaranya mengandung rasa gusar dan cemburu, tidak perlu ditanya lagi jelas orang ini ialah Ciok Tim.

Dengan ketus Giokhe mengipatkan tangannya dan mendengus, “Hm, kau ini apaku? Kau ingin memerintahku?”

Berubah juga air muka Ciok Tim, Kau…..kau……….Ai, terhadap Toako……….aku……….”

Sambil mendengus Giok membuka telapak tangannya dan berkata, “Kemala ini pemberian Gote padaku, dengan kepingan kemala ini, dalam sehari saja bila perlu dapat kutarik berpuluh laksa tahil perak, apakah kaupun dapat menyediakan?”

Ciok Tim tercenagang, rasa gusar membuat air mukanya berubah menjadi malu, ia meremas tangan sendiri dengan pedih, mendadak ia membentak dan mencengkram pundak Giok-he dengan keras seakan-akan ingin merobek tubuhnya yang bernas itu, seolah-olah ingin mengorek hatinya yang dingin itu.

Berubah juga air muka Giok-he, jari tangan kanan terjulur dan bermaksud menutuk iga anak muda itu, tapi baru menyentuh bajunya, nafsu membunuhnya mendadak berubah lunak, tiba-tiba ia tertawa menggiurkan, “Eh, ada apa kau? Lepaskan, aku kesakitan!”

Suaranya menggetarkan kalbu membuat tangan Ciok Tim agak gemetar, akhirnya ia menghela nafas panjang, melepaskan tangan dan menunduk.

Pelahan Giok he memijat pundak sendiri dan berkata, “Oo, sakit sekali cengkraman mu, lekas urut bagiku.”

Tanpa terasa Ciok Tim menjulurkan tangannya dan meraba bagian yang dimaksud. Giok he memejamkan mata seperti menikmati, rabaan anak muda itu.

Jari Ciok Tim tambah beraksi dengan cepat dan mulai menurun ke bawah…….sorot matanya memancarkan cahaya kerakusan seperti binatang liar yang kelaparan………

Pelahan tubuh Giok he menggeliat, ia berucap seperti orang mengigau, “Sungguh bodoh kau, memang kaukira aku ada berbuat apa terhadap Lo-ngo? Hm, aku kan Cuma……..Cuma ingin memperalat dia saja…….Oo, kau mau apa?”

Mendadak ia berteriak sambil memberosot lepas dari pegangan Ciok Tim.
Keruan anak muda itu melenggong, serupa kucing liar yang sedang berahi mendadak disiram air dingin.

Giok he memandangnya dengan senang, ia tahu anak muda ini seluruhnya telah jatuh dalam cengkramannya, sudah masuk dalam perangkap yang diaturnya, telah menjadi budaknya.

Dengan lembut ia lantas berkata, “Adik Tim, etntunya kau tahu betapa hatiku terhadapmu asalkan kauturut apa yang telah kuatur, segala hasil usahaku kelak adalah milikmu. Cuma kaupun perlu tahu, meski kusuka padamu, namun banyak urusan yang tdiak adapat kutinggalkan hanya lantaran dirimu. Banyak persoalan dunia persilatan yang tidak kaupahami, demi hari depan kita, mau tidak mau harus kukerjakan hal-hal yang sukar kaubayangkan, untuk ini hendaknya kaumaklum.”

Dengan bimbang Ciok Tim mengangguk.

Maka Giok he menyambung lagi, “Maka apapun tindakanku selanjutnya jangan kau ganggu. Jika kau terima permintaanku ini selamanya tentu kaudapat berada bersamaku, kalau tidak…….” sampai disini ia tidak meneruskan lagi melainkan terus membalik tubuh dan melangkah ke sana.

Ciok Tim berdiri melongo di tempatnya,, ia merasa pedih dan juga mendongkol, sungguh ia tidak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Pada saat itulah Giok-he berpaling dan berseru, “He, untuk apa berdiri di situ? Ayolah kemari……..”

Tanpa terasa Ciok Tim ikut melangkah ke sana, dalam kegelapan terdengar pula suara tertawa yang menggiurkan……..

Kegelapan memang telah banyak menyembunyikan berbagai rahasia dan dosa manusia sehingga dunia ini kelihatan terlebih indah.

Dalam pandangan Lamkiong Peng saat itu, dunia ini menag kelihatan indah dan penuh harapan.

Ia merasa dunia ini ada orang jahat, tapi orang baik terlebih banyak lagi. Hasratnya ingin lekas menolong sahabatnya memebutanya lupa letih dan lapar. Dengan penuh semangat ia berlari dalam kegelapan malam.

Dengan hati-hati ia telah menyimpan pil merah itu dalam sebuah kantung sutera kecil, kantung yang serupa dompet itu adalah pintalan sang ibu sebelum dia meninggalkan rumah. Pada waktu kesepian ia suka meraba kantung sutera itu. Dia seorang kastria muda, dia tidak pernah melupakan kasih ibunda.

Ia berlari dengan cepat, tidak lama ia sudah berada di luar kota Se-an, suasana sunyi senyap, ia coba memeriksa keadaan sekeliling, akan tetapi tidak terlihat bayangan Bwe kiam soat.

IA menjadi kuatir, “Apakah dia sudah pergi?”

Ia coba memanggil, “Nona Bwe……nona Bwe …”

Namun suasana tetap sunyi senyap, dimanapun Bwe kiam soat berbunyi seharusnya mendengar suaranya.

Nafas Lamkiong Peng terasa sesak, pikirnya, “Kenapa tidak menunggu disini? Kenapa dia ingkar janji? Tik Yang keracunan, apakah juga dibawanya pergi, kan obat penawar yang kubawa ini menjadi sia-sia………”

Ia menghela nafas dan tidak ingin berpikir lagi, ia melangkah ke sana dengan limbung. Awan tersimak, cahaya bulan menembus langsung menyinari sesosok bayangan manusia di balik semak sana, terlihat mukanya, siapa lagi dia kalau bukan Bwe kiam soat.

Dengan girang Lamkiong Peng berseru, “Hei nona Bwe, kiranya engkau berada disini!”

Selagi dia hendak memburu kesana, dilihatnya muka Bwe kiam soat yang pucat itu kaku dingin, melenggong seperti orang linglung, sorot matanya buram, air mukanya kaku tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, serupa orang yang hiat-tonya tertutuk, seperti juga orang yang tersihir.

Tergetar hati Lamkiong Peng , ia tahu pasti terjadi sesuatu. Cepat ia memburu maju sambil menegur dengan suara gemetar, “Kenapa…….”

Belum lanjut ucapannya, dilihatnya mata Bwe kiam soat melirik ke samping depan sana tanpa bersuara.

Tanpa terasa Lamkiong Peng ikut memandang ke sana, di bawah pohon duduk sesosok bayangan orang lagi, duduk kaku tanpa bergerak seperti patung, hanya sinar matanya kelihatan gemerdep dalam kegelapan.

Waktu diperhatikan, kembali hati Lamkiong Peng berdebar, tanpa terasa ia berseru, “Hei, nona Yap, kenapa engkau pun berada disini?!”

Sungguh tak terpikir olehnya bahwa bayangan yang duduk di bawah pohon itu adalah murid Tan-hong Yap jiu-pek, Yap man-jing yang cantik dan juga pongah itu.

Siapa tahu, meski mendengar seruannya, namun Yap manjing tetap diam saja, seperti tidak mendengar dan juga tidak melihat, ia msih duduk di tempatnya.

Tentu saja Lamkiong Peng terheran-heran, ia menaruh Cin tong-lai di tanah, lalu dihampirinya nona yang jelita dan seperti linglung itu.

“Nona Yap,” tegurnya sesudah dekat, “Apakah terjadi sesuatu disini?”

Terlihat senyuman Yap manjing yang hambar, namun tetap duduk saja tanpa menjawab.
Mengamat-amati lebih teliti, dilihatnya si nona tetap memakai baju hijau, mata alisnya tetap menampilkan sikap angkuh, sama sekali tidak ada tanda hit-to tertutuk dan sebagainya.

Lamkiong Peng tambah heran, ia coba mendekati Bwe kiam soat, dilihatnya Kiam soat melototinya sekejap, seperti tidak senang dia memperhatikan orang lain

“Sesungguhnya apa yang terjadi?” tanya Lamkiong Peng dengan gelisah.

Namun Bwe kiam soat juga tidak bergerak dan juga tidak menjawab, seperti orang bisu dan tuli.

“Bagaimana dengan Tik Yang ? Dimana dia!” serunya pula kuatir sambil memandang kian kemari.

Bwe kiam soat Cuma memandang Yap man-jing tanpa berkedip, sebaliknya Yap manjing juga menatap Bwe kiam soat, kedua nona itu sama sekali tidak memandang lagi kepada Lamkiong Peng, seperti dia tidak hadir di situ.

Seketika Lamkiong Peng celingukan kian kemari dengan bingung.

Sekilas pandang mendadak dilihatnya di semak rumput sana merayap keluar seekor ular hijau sepanjang satu kaki, dengan cepat ular itu merayap ke samping dengkul Yap manjing.

Meski sorot mata Yap manjing menampilkan rasa ngeri, namun tubuhnya tetap tidak bergerak sama sekali.

Biasanya di tengah semak rumput memang banyak ular berbisa.

Tentu saja Lamkiong Peng kuatir, cepat ia melompat maju, sekali raih ekor ular itu segera dipegangnya.

Ular itu lantas melingkar ke atas, lidah ular yang merah terjulur, secepat kilat hendak memagut urat nadi Lamkiong Peng.

Meski mahir ilmu silat, namun Lamkiong Peng sama sekali asing terhadap ular. Ia terkejut dan membuang ulat itu kebelakang, tapi ketika ia berpaling mengikuti temapt jatuhnya ular, kembali ia terkejut, sebab ular itu dengan tepat terlempar ke atas tubuh Bwe kiam soat.

Lekas Lamkiong Peng memburu lagi ke sana. Ular itu pun seperti terkejut, hanya sejenak berhenti di atas tubuh Bwe kiam soat, lalu merayap ke bagian lehernya.

Air muka Bwe kiam soat tampak pucat ketakutan, kulit dagingnya merinding dan berkerut-kerut, dengan cemas ia memandang lidah ular yang sebentar-bentar terjulur itu, butiran keringat dingin merembes keluar di dahinya, namun tubuhnya tetap tidak bergeming.

Orang perempuan pada umumnya takut kepada tikus dan ular, betapa tabah hati seorang perempuan juga akan menjerit kelabakan bila melihat mahluk melata tersebut, apalgi sekarang tubuh Bwe kiam soat dirayapi ular, betapa cemasnya sukar dilukiskan.

Ketika Lamkiong Peng memburu tiba, segera ia hendak mencengkram kepala ular. Karena pengalaman tadi, ia pikir sekali pencet akan membinasakan binatang melatah ini.

Tak terduga belum lagi tangannya bergerak, tiba-tiba seorang membentak di belakangnya, “Jangan!”

Dengan terkejut Lamkiong Peng menoleh, dilihatnya Ban tat berlari datang dari kejauhan sana, dengan nafas tersengal ia menatap ular hijau itu dengan was-was, berbareng ia menarik Lamkiong Peng mundur ke belakangnya.

Dengan heran Lamkiong Peng bertanya, “Apa………..”

Pelahan Ban tat memberi tanda supaya jangan bicara, lalu ia melangkah maju dengan prihatin serupa seorang jago dunia persilatan menghadapi lawan yang paling tangguh.

Melihat ketegangan orang tua ini, Lamkiong Peng tahu ular hiaju ini pasti bukan sembarangan ular berbisa bilamana cengkramannya tadi tidak berhasil sekali pegang, buka mustahil jiwa Bwe kiam soat melayang.

Suasana berubah sunyi mencekam, jantung sama berdebar.

Tubuh ular hijau yang jelek dan bersisik itu sudah mulai merayapi pundak Bwe kiam soat dengan lidahnya yang mersah menjulur dan hampir menjilat wajah Bwe kiam soat yang pucat. Sampai Yap manjing yang duduk di seberangnya juga menampilkan rasa kuatir dan ngeri.

Langkah Bantat sangat pelahan dan sangat hati-hati. Lamkiong Peng mengepal tinju dengan menahan nafas, butiran keringat mengucur dari dahinya.

Mendadak terlihat lidah ular berkelebat lagi. Secepat kilat Ban Tat turun tangan dengan tiga jari ia cengkeram leher ular, beberapa senti dibawah kepala, menyusul dibantingnya dengan keras ke tanah, kontan ular itu mati kaku dan tidak berkutik lagi.

Gerak tangannya cepat lagi jitu, baru sekarang Lamkiong menghela napas lega. Selagi dia hendak mengucapkan terima kasih, dilihatnya Ban Tat masih prihatin, mendadak ia melolos sebilah belati tajam, sekali injak dengan kaki kiri, kontan tubuh ular itu dipotongnya.

“Gret” menyusul belati itu lantas ditancapnya diatas kepala ular, darah segar pun muncrat menyebabkan menyebarkan bau anyir busuk. Sampai disini baru Ban Tat menarik napas lega, tampa terasa juga Lamikiong Peng mengusap keringatnya. Namun Bwe Kim Soat dan Yap Man-jing masih tetap duduk kaku di tempatnya. Kejadian yang mendebarkan tadi seakan – akan terjadi atas diri mereka.

“Sungguh berbahaya….” guman Ban Tat. Sebenarnya apa yang terjadi ini? tanya Lamkiong Peng. “Ular ini tidak terdapat di daerah Tionggoan, tapi jenis ular paling berbisa yang cuma terdapat di daerah gurun. Bisa ular ini sangat jahat, sekali tergigit dalam sekejap korbannya akan mati sesak napas. Sungguh tak terduga ular semacam ini bisa muncul disini.”

Diam – diam Lamkiong Peng bersyukur terhindar dari maut, untung kedatangan penolong yang ahli, kalau tidak urusan ini bisa runyam. “Yang kutanyakan bukan Cuma sola ular, tapi mereka…. sesungguhnya apa yang terjadi?” Katanya pula menunding Bwe dan Yap berdua. “Kenapa mereka begitu? Dan kemana perginya Tik-heng?”

Ban Tat mengeluarkan sepotong kain putih, dengan hati – hati ia membungkus tangkai belati lalu menggali sebuah liang disamping bangkai ular, katanya dengan gegetun. “Aku dan nona Bwe menunggumu disini, lambat laun fajarpun menyingsing, sedangkan kedaan sahabat She Tik itu semakin parah dan menguatirkan, berulang dia mengigau, tubuh pun mengejang. Mestinya nona Bwe hendak menutuk hiat – to untuk mengurangi penderitaannya, tapi kuatir racun sudah masuk darahnya, bila hiat-to ditutuk bisa jadi racun akan mengumpul dan tidak dapat mengalir, hal ini tentu akan tambah bahaya.”

Ia berhenti sejenak sambil melirik Bwe Kim-soat sekejap, lalu bertutur pula, “Waktu itu mestinya ingin kucari suatu tempat yang sejuk untuk bersembunyi dan menunggu kepulanganmu, tapi nona Bwe menolak, ia bilang sudah berjanji menunggumu disini, biarpun langit ambruk dan bumi ambles juga tetap akan menunggumu disini.”

Terharu sekali hati Lamkiong Peng, tampa terasa ia memandang Bwe Kim-soat sekejap, kebetulan Kim-soat juga lagi melirik ke arahnya. Bentrokan pandangan ini membuat jantung anak muda itu berdebur.

“Kemudian lantas bagaimana? ” tanyanya kepada Ban-tat.

Menjelang magrib, kupergi mencari makanan dan air minum, siapa tahu sedikitpun nona Bwe tidak mau makan, dia Cuma minum dua ceguk air dingin sambil memandang ke arah kepergianmu dengan cemas. Meski dia tidak omong juga dapat kuselami betapa rasa kuatirnya bagimu. Setelah hari gelap ingin kucari lagi kayu bakar untuk membuat api unggun…..”

Kembali ia merandek sambil memandang Ke arah Yap manjing, sambungnya, “pada saat itulah nona Yap ini mendengar suara igauan Tik yang dan mencari ke arah suara sini…” mendadak ia memandang kian kemari sambil menahan suaranya, “kedatangan nona Yap ini seprti juga lantaran dirimu, sekali dia melihat nona Bwe, seketika air mukanya berubah dan bertanya, “Apakah Lamkiong Peng juga terluka?………Agaknya dia dapat menerka siapa nona Bwe, juga orang yang berada bersama nona Bwe pasti dirimu.”

Diam-diam Lamkiong Peng menghela nafas, entah merasa hangat atau bingung, sedapatnya ia menahan keinginannya memandang Yap manjing, akan tetapi toh tidak tahan dan akhirnya melirik juga sekejap, kembali keduanya beradu pandang.

Jantung Lamkiong Peng berdebur lagi, cepat ia tanya Ban Tat, “Dan kemudian bagaimana?”

“Kemudian…….” Bantat berdehem dulu, lalu menyambung, “Kemudian nona Bwe menjengek dan menegur siapakah nona Yap? Dan…dan keduanya lantas terlibat dalam pertengkaran……..”

Agaknya ia sungkan menceritakan pertengkaran kedua nona yang berpangkal atas diri Lamkiong Peng itu, ia cuma berkata, “pembicaraan kedua nona itu tentu saja tidak dapat ku ikut campur, namun akhirnya kudengar…..kudengar nona Bwe berkata, “Ya usiaku sudah 40-an, dengna sendirinya memenuhi syarat untuk menjadi angkatan yang lebih tua, maka sekarang hendak kuberi hajaran kepada kaum muda yang tidak sopan seperti kau ini.”

Kening Lamkiong Peng bekernyit, pikirnya,” Jika demikian, jelas Yap Manjing telah menyebut nona Bwe sebagai Locianpwe, mengapa dia menganggap nona Yap tidak sopan?”

Betapa pintarnya Lamkiong Peng tetap tidak dapt memahami perasaaan anak perempuan. Ia tidak tahu bahwa Yap manjing sengaja menyebut usia Bwe kiam soat untuk mengingatkan dia hanya sesuai menjadi ‘Locianpwe’, atau kaum tua Lamkiong Peng, artinya tidak cocok untuk menjadi pacarnya. Dengan sendirinya hal ini membuat Bwe kiam soat menjadi marah.

Didengarnya Ban tat berkata pula, “maka nona Yap lantas marah jugga, pada waktu itu Tik Yang lagi meronta-ronta, kudekati dia untuk merawatnya. Ketika keadaannya agak baikan, kudengar kedua nona ribut mulut lagi, akhirnya nona Yap menjengek, “Hm, orang kangouw sama menyebut dirimu sebagi Leng hiat-huicu, tentu karena tabiatmu yang dingin dan tenang. Maka sekarang juga boleh kita beradu kesabaran berduduk semedi, tidak peduli menghadapi kejadian apapun dilarang bergerak, barangsiapa bergerak lebih dulu dianggap kalah.”

Etrgerak hati Lamkiong Peng , pikirnya nona Yap ini sungguh pintar, dia hidup bersama Yap jiu-pek di puncak Hoa-san yang dingin dan sepi itu selama berpuluh tahun, dalam hal duduk menyepi dengan sabar, tentu jauh lebih tahan daripada orang lain.”

Berpikir demikan, tanpa terasa ia memandang Bwe kiam soat sekejap, lalu bertanya pelahan, “Dan dia menerima tantangan itu?”

“Masa dia menolak?” ujar Ban tat.

Tapi segera teringat oleh Lamkiong Peng , Bwe kiam soat pernah tersekap belasan tahuan di dalam peti mati yang sempit dan gelap itu, penderitaaan selama itu memerlukan kesabaran yang tak terhingga untuk mengatasinya, jika urusan duduk diam saja pasti tidak menajdi soal baginya.

Berpikir demikian, tanpa terasa ia menyapu pandang sekejap kepada Bwe kiam saot dan Yap manjing berdua, ia pikir, pengalaman dan watak kedua orang perempuan ini memang lain daripada yang lain, tampaknya dalam waktu singkat mereka pasti sanggup bertahan untuk tidak bergerak sama sekali.

Melihat perubahan air muka Lamkiong Peng yangs sebentar kuatir dan sebentar girang, lain saat kagum, segera merasa sedih lagi, tentu saja Ban tat juga terheran-heran.

“Pertandingan mereka ini entah akan berakhir kapan,” gumam Lamkiong Peng dengan gegetun. Mendadak ia bertanya, “Dan kemana perginya Tik-heng?”

“Racun yang digunakan Yim hong-peng memang sangat lihai, selain bisa membunuh, juga dapat membuat pikiran sehat orang terbius. Sahabat she Tik itu selama seharian tampak seperti orang sinting, pada waktu malam bahkan kumat gilanya, aku harus mengawasi keadaan nona Bwe, juga perlu menjaga dia, memangnya kau susah kerepotan, kedatangn nona Yap segera pula menantang bertanding lagi kepada nona Bwe, selagi aku agak meleng, sahabat she Tik itu terus melepaskan peganganku dan berlari secepat terbang ke tempat gelap.

“Dan tidak kalian susul?” tanya Lamkiong Peng kuatir.

“Nona Bwe dan nona Yap waktu sudah mulai bertanding berduduk dan tidak dapat bergerak lagi, dengan sendirinya tak dapat menyusulnya, ” tutur Ban tat.

“Dan kau sendiri?” tanya Lamkiong Peng .

“Aku sendiri segera mengejarnya, ujar Ban Tat dengan gegetun, “Siapa tahu, meski sahabat Tik itu keracunan, tapi ginkangnya tetap sangat mengejutkan, meski sudah kusul dengan sekuat tenaga, namu tidak seberapa lama aku kehilangan jejaknya dalam kegelapan.”
“Dan karena tidak dapat kau susul dia, lantas kembali lagi kesini?” tanay Lamkiong Peng dengan mendongkol.

“Ya, aku memang tidak berdaya, setiba kembaliku kesini, kebetulan kulihat ular hijau tadi,” tutur Ban Tat dengan menyesal.

“Dia lari ke arah mana?”

Ban Tat menuding ke arah barat.

“Coba bawaku kesana,” seru Lamkiong Peng sambil menarik tangan Ban Tat dan diajak berlari pergi.

Tanpa kuasa Ban Tat terseret lari secepat terbang, diam-diam ia mebtin, “Berpisah belum ada setahun, tak tersangka kungfunya sudah maju secepat ini……….”

**********

Malam semakin sunyi, Bwe kiam soat dan Yapmanjing hanya sempat melirik ke arah menghilangnya bayangan Lamkiong Peng di kegelapan sana, segera mereka memusatkan perhatian dan saling tatap pula.

Meski diluar kedua orang kelihatan tenang, tapi dalam hati sama bergejolak.

Angin meniup dingin, tanah kosong di tengah kedua orang yang duduk saling pandang itu menggeletak Cian Tong-lai yang sejak tadi tak sadarkan diri. Mendadak anak muda ini mulai bergeliat dan membalik tubuh miring ke samping.

Bwe kiam soat dan Yap manjing sama tidak tahu siapakah pemuda berbaju perlente ini. Apakah orang ini sakit atau terluka. Apakah musuh Lamkiong Peng atau sahabatnya.

Tertampak anak muda itu membalik dua tiga kali, mendadak melompat bangun serupa seekor kelinci yang terkejut terkena panah, dengan tercengang ia kucek-kucek matanya, lalu memandang Bwe kiam soat dan Yap Manjing dengan terbelalak.

“He, tempat apakah ini? Kenapa aku berada di sini?” tanyanya bingung.

Bahwa setelah siuman, mendadak diketahui dirinya berada di tempat sepi dan disampingnya berduduk dua peermpuan maha cantik tanpa bergerak, betapa tabahnya tidak urung juga rada sangsi dan ngeri.

Setelah tercengang sejenak, mendadak ia berpaling, “Giok-ji…..Tanji……..”

Lalu ia mneghadapi lagi ke arah Bwe dan Yap berdua, bentaknya, “Sesungguhnya tempat apakah ini? Mengapa aku sampai di sini?”

Namun kedua perempuan maha cantik ini tetap tidak bergerak sedikitpun, bahkan meliriknya pun tidak.

Timbul juga rasa ngeri Cian tong-lai, pikirnya, “Jangan-jangan aku ketemukan setan? Kalau tidak, mengapa tanpa sebab dari Boh-liong-ceng aku bisa berada di sini?”
Mendadak ia melayang pergi scepat terbang.

Hati Bwe kiam soat dan Yap berdua sama tergetar, diam-diam mereka memuji kehebatan ginkang anak muda itu. Mereka pun geli teringat kepada kelakuan Cian Tong-lai yang bingung tadi.

Siapa tahu, sejenak kemudian, mendadak terdengar suara orang berdehem, pemuda berbaju perlente muncul kembali, dengan langkah santai ia mendekati kedua peermpuan cantik itu, lebih dulu ia mengamat-amati Bwe kiam soat beberapa kejap, lalu mengawasi Yap Manjing dengan cermat, kemudian menuju ke samping Kim soat serta mendekatkan kepalanya ke muka orang dan menegur, “He, he, kau dengar ucapanku tidak?”

Tapi Bwe kiam soat tetap diam saja, tidak bergerak, juga tidak berkedip.

Cian Tong-lai menggeleng kepala, ia coba mendekati Yap manjing dan berjongkok di sampingnya serta menegur, “He…..he…..”

Namun Yap manjing
Juga diam saja tanpa bergeming, malahan sorot mata mereka tampak menampilkan rasa gusar atas tingkah lakunya yang kasar itu.

Mendadak Cian tong-lai membentak, “Hai…”

Bentakan ini keras luar biasa seakan-akan genta yang dibunyikan di tepi telinga, hati Bwe dan Yap tergetar, betapapun tenangnya mereka tidak urung berkedip juga.

“Haha, kiranya kalian bukan orang tuli,” seru Cian tong-lai dengan tertawa. “Semula kusangka kalian orang bisu tuli, eh kiranya kalian juga dengar suaraku. Padahal kalian masih muda jelita, jika benar bisu-tuli kan sayang!”

Mendadak ia berhenti tertawa dan menarik muka, jengeknya, “Hm, jika kalian buka orang bisu-tuli, kenapa kalian tidak menggubris pertanyaanku tadi? Apakah kalian menghina diriku?
Bwe dan Yap merasa selain kungfu anak muda ini sangat tinggi, orangnya juga cakap, Cuma tutur katannya yang kelewat congkak dan menjemukan, namun meski hati mendongkol mereka tetap tidak bergerak.

Cian tong-lai bersimpuh tangan dan berjalan mondar-mandir, dipandangnya Bwe kiam soat, lalu memandang Yap manjing lagi, sejenak kemudian kembali ia menengadah dan bergelak tertawa, “Hahaha, bagus, tahulah aku! Mungkin thian kasihan padaku karan kesepian, maka sengaja memberikan dua teman jelita kepadaku.”

“Betul tidak?” demikian ia pandang Kiam soat dan bertanya, lalu berpaling dan tanya Yap manjing pula, “Betul tidak?”

Lalu ia terbahak-bahak dan menambahkan pula, “Aha, rasanya memang betul begitu, bukankah kalian telah mengaku secara diam-diam?!”

Sedapatnya Bwe kiam soat emnahan rasa gusar, dia berharap Yap manjing tidak tahan oelh godaan anak muda itu dan mendahului bergerak, dengan begitu di akan segera melompat bangun untuk memberi hajaran setimpal kepada pemuda sombong dan bangor ini.

Sebaliknya Yap manjing juga tetap diam saja, ia pun berharap Bwe kiam soat bergeral lebih dahulu.

Jadinya kedua orang tetap saling pandang, dada serasa mau meledak saking gemasnya, namun tetap tidak ada yang bergerak lebih dulu.

Mendadak Cian tong-lai menepuk dahi sendiri dan berhenti tertawa,a lisnya bekernyit, ucapnya dengan masgul, “O, thian, meski engkau memperlakukanku dengan amat baik, tapi rasanya juga keterlaluan. Kedua anak perempuan ini sama cantiknya, lantas cara bagaimana harus kuambil keputusan? Padahal aku cuma ada satu tubuh, terpaksa mereka harus kujadikan istri tua dan istri muda. Lantas siapakah di anatar mereka yang berhak menjadi istri tua dan yang mana istri muda?”

Dia sengaja berlagak seperti seorang yang kebingungan, ia mendekati Yap manjing dan meraba pipinya yang halus itu, katanya dengan menyesal, “Ai, muda jelita seperti ini mana sampai hati kujadikan dirimu sebagai istri muda?”

Lalu dengan lagak kasihan ia pun mendekati Bwe kiam soat dan mencolek dagunya serta berkata, “Dan ini kan juga tidak kalah cantiknya, sungguh sayang bila disuruh antri dari belakang.”

Mata Bwe dan Yap serasa mau menyemburkan api saking gusarnya. Tapi tiada seorang pun memandang Cian tong-lai, keduanya tetap saling pandang dengan melotot dengan harapan semoga pihak lawan mau bergerak lebih dulu.

*************

Kembali tadi, Lamkiong peng yang cemas dan gemas serta kuatir itu sedang berlari menyeret Ban Tat, gerundelnya, “Kenapa dia begitu ceroboh dan membiarkan Tik-heng pergi begitu saja. Padahal dia tahu jelas Tik-heng keracunan parah dan kupergi mencari obat penawar dengan menyerempet bahaya. Ai jika………jika Tik heng tidak dapat kutemukan, bukankah……..bukankah berarti jiwanya melayang akibat perbuatan mereka?”

Dia berlari semakin cepat dan gelisah.

“Lamkiong-kongcu,” kata Ban Tat. “Kedua nona itu berduduk diam di sana, bukan………bukan mustahil akan timbul bahaya.”

Lari Lamkiong-peng agak diperlambat ucapnya dengan mendongkol, “Lantas bagaimana dengan jiwa Tik-heng?”

“Ai, alangkah bahagianya setiap orang yang dapat bersahabat denganmu,” ucap Ban Tat dengan gegetun.

“Tik-heng keracunan lantaran membela diriku, tapi sekarang…….ai, sungguh aku……..”

Lamkiong Peng tidak sanggup melanjutkan karena sejauh itu bayangan Tik Yang tetap tidak kelihatan.

Segera ia berteriak, “Tik-heng, Tik yang…….dapatlah kaudengar suaraku?”

“Dia dalam keadaan tidak sadar, biarpun kau panggil di telinganya juga tidak dipahaminya,” ujar Ban Tat. “Apalagi dalam keadaan gelap begitu, kemana akan kaucari dia? Meski dia keracunan parah, tapi sudah kusalurkan tenaga murniku untuk memperkuat jantungnya, kukira dalam sehari atau setengah hari saja takkan beralangan bagi jiwanya. Akan lebih baik sekarang kita kembali ke sana untuk membujuk kedua nonna itu agar berhenti bertanding. Mereka Sebenarnya tidak bermusuhan, bujukanmu mungkin akan diturut mereka. Besok pagi setelah terang tanah barulah kita berempat mencari sahabat she Tik itu.

Lamkiong Peng menjadi ragu dan mengendurkan langkahnya, “Tapi………tapi……..”

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong jauh dari belakang sana berkumandang suara bentakan orang yang tersiar terbawa angin. Jelas orang yang membentak itu memiliki tenaga dalam yang kuat.

“Siapa itu?” Lamkiong Peng melengak dan saling pandang dengan Ban tat.

Tanpa pikir lagi segera kedua orang berlari kembali ke arah datangnya tadi. Tidak jauh mereka berlari, kembali terdengar suara gelak tertawa orang terbawa angin.

“Ternyata tidak salah dugaanmu, mereka mengalami sesuatu,” kata Lamkiong Peng.

“Kedua nona itu sama menguasai kepandaian tinggi, bila menghadapi kejadian di luar dugaan, mustahil mereka tetap duduk diam saja hanya untuk berebut kemanangan yang tidak ada artinya itu?” ujar Ban Tat.

“Tapi watak kedua orang itu terkadang memang sukar dimengerti………..”

Belum habis ucapan Lamkiong Peng,sekonyong-konyong berkumandang lagi suara tertawa keras orang.

“Biar kupergi dulu!” seru Lamkiong Peng sambilmendahului berlari secepat terbang.

Hanya sekejap saja ia sudah lari sampai di tempat duduk Bwe dan Yap berdua, dilihatnya pemuda perlente Cian Tong-lai yang dibawanya dari Boh-liong-ceng itu sekarang sudah berdiri di depan Bwe kiam soat dan sedang membelai rambutnya dengan tertawa dan berkata, “Ehm, halus dan lemas benar rambutmu, selicin sutera rasanya, sungguh beruntung aku………”

“Dari jauh segera Lamkiong Peng membentak,”Berhenti, cian tong lai!”

Saat itu Cian tong-lai lagi tergiur, dirasakan sorot mata kedua nona yang gusar itu semakin menambah daya pikat mereka. Ia pikir bilamana mereka benar benci kepadanya, mengapa mereka tidak segera melabraknya, tapi tetap duduk diam saja tanpa peduli mereka dicolek dan diraba.

Bentakan Lamkiong Peng membuatnya terkejut, cepat ia berpaling, dilihatnya seorang pemuda tak dikenal sedang memburu tiba dengan cepat. Ia heran dan juga mendongkol, segera ia balas membentak, “Siapa kau?” Dari mana kau kenal namaku?”

Lamkiong Peng berhenti di depannya, dengan sorot mata tajam ia menjawab, “Aku yang membawamu ke sini dari Boh-liong-ceng, dengan sendirinya kutahu namamu.”

Tentu saja Cian Tong-lai melenggak, “Engkau yang memebawaku ke sini?………

“Ya, kau tidak sadar karena terbius, jika tidak ditolong oleh Wiki, saat ini nasibmu pun sukar diramalkan,” tutur Lamkiong Peng.

“Aku tak sadar……..terbius?………..Wiki yang menolongku?…….” demikian Cian tong-lai bergumam dengan terheran-heran.

“Ya, baru saja kau bebas dari bahaya, kenapa lantas berlaku tidak senonoh terhadap kaum wanita?” damprat Lamkiong Peng.

“E-eh, nanti dulu!” ujar Cian tong-lai sambil menggoyangkan tangannya. “Urusan ini rada membingungkan. Tampaknya kedua nona itu seperti kenalanmu?”

“Memang betul,” jawab Lamkiong Peng.

“Haha, pantas kau kelihatan cemas begini,” ujar Cian tong-lai dengan tertawa. “Cuma, jangan kau kuatir. Biasanya aku pun tahu baik dan jelek. Kau bilang telah membantuku, kau pun mengatakan mereka adalah sahabatmu, maka bolehlah kita bagi rata saja seorang dapat satu, urusan lain boleh kita bicarakan nanti.”

Mendongkol hati Lamkiong Peng oleh ucapan orang yang tidak pantas itu, dengan menggereget ia mendamprat, “Kurang ajar! Sungguh tak tersangka kau dapat bicara seperti ini. Tampaknya perlu kuberi hajar adat padamu.”

Cian tong-lai mendelik, jengeknya,”Hajar adat padaku? Haha, bagus…….”

“Bagus apa?” bentak Lamkiong Peng sambil menampar muka orang.
Tamparannya ini tidak pakai jurus serangan melainkan serupa orang tua menghajar anak nakal saja.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: