Kumpulan Cerita Silat

28/02/2008

Amanat Marga (09)

Filed under: Amanat Marga, Gu Long — ceritasilat @ 11:32 pm

Amanat Marga (09)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Eve1yn, Dragon, Nra, dan Ririn)

Kiam soat menghela nafas, ucapnya dengan sungguh-sungguh, “Jika bukan seorang maha besar, kalau tidak ada hasrat besar untuk mencari pengetahuan, bila tidak berpengalaman luas, mana mungkin seorang disebut serba tahu? Sebab itulah nama ini bagiku hanya menimbulkan rasa kagumku dan tidak ada sedikitpun yang menggelikan.”

Si tojin alias Ban Tat atau Ban-su tong jadi tercengang malah, sungguh ia tidak menyangka orang justru menaruh hormat kepada kepandaiannya itu.

“Ya, kalau bukan seorang yang maha cerdik, mana mungkin berbicara lain daripada orang lain semacam ini,” tukas Lamkiong peng dengan gegetun.

Ban-su-tong lantas berkata, “Sejak kongcu masuk perguruan Sin-liong, kebanyakan orang yang dulu ngendon di temapat kongcu itu lantas bubar juga, aku sendiri terluntang lantung di dunia kangouw tanpa menghasilkan sesuatu. Kedatanganku ke daerah barat laut sini sebenarnya juga lantaran mendengar berita pertandingan antara Sin-liong dan Tan hong, ingin kusaksikan pertarungan yang jarang terjadi ini, sekaligus juga ingin tahu keadaan kongcu akhir-akhir ini, ternyata kedatanganku sudah terlambat, setiba di Se-an lantas kudengar berita muncul kembalinya Kong-jiok Huicu, juga mendengar kabar pertempuran Kongcu dengan pejabat ketua Cong-lam pai di restoran Thian-tiang-lau. Sungguh sangat senang hatiku mengetahui kemajuan pesat kungfu Kongcu, tapi juga kuatir atas keselamatanmu, maka cepat kususul keluar kota, dan………”

“Dan kebetulan telah kaugertak lari Yim hong-peng, kalau tidak mungkin sukar bagi kami untuk lolos dari kepungan musuh, mengingat di antara kami sudah ada yang terluka……”

“Celaka!” seru Lamkiong peng sebelum ucapan Bwe Kiam soat selesai, cepat ia memburu ke samping Tik Yang dan memeriksa keadaannya.

Di bawah cahaya bintang yang remang terlihat Tik Yang tak sadarkan diri, mukany kelihatan bersemu hitam.
Nyata ucapan Yim hong-peng bahwa di atas bola berantai beracun bukanlah gertakan belaka.

Tentu saja Lamkiong peng merasa ngeri melihat keadaan Tik Yang itu, cepat ia tanya dengan kuatir, “bagaimana perasaanmu, Tik-heng?”

Namun kedua mata Tik Yang terpejam rapat seperti tidak mendengarnya.

Ban Tat ikut memeriksa keadaan Tik Yang, tampak ia pun mengerutkan kening.

“Bagaimana, dapatkah tertolong?” tanya Lamkiong Peng.

Sejenak Ban Tat termenung, katanya kemudian, “Racun yang mengenainya jelas bukan racun yang kita kenal di daerah Tionggoan, bahakan sekarang racun sudah menjalar, mungkin……..mungkin………”

“Masa tak tertolong lagi?” tukas Lamkiong Peng.

“Kecuali obat penawar buatan Yim hong-peng sendiri dan obat racikan mendiang “Seng ih” (tabib sakti) yang mustajab, rasanya tidak ada keajaiban lain yang mampu menawarkan racun ini, sekalipun Kiu-beng-long-tiong (si tabib penyelamat jiwa) Poh-leng-sian datanh sendiri juga tidak berdaya mencegah racun yang segera akan menyerang jantung ini. Cuma……”

Belum habis ucapan Ban Tat, mendadak Lmkiong peng melompat bangun. Tapi Bwe kiam soat keburu mengadang di depannya dan menegur, “Kau mau apa?”

“Tik-heng terluka lantaran membela diriku, mana boleh kutinggal diam tanpa menolong menyaksikan ajalnya?” jawab Lamkiong peng.
“Jika maksudmu hendak mencari Yim hong-peng untuk minta obat penawar padanya, tindakan mu ini tiada ubahnya serupa minta kulit kepada sang harimau, “ujar Bwe Kiam soat.

“Biarpun minta kulit pada sang harimau juga harus kuusahakn,” kata Lamkiong Peng.
Kiam soat menghela nafas, katany kemudian, “Baiklah, biar kuikut pergi bersamamu.”

“Saat ini engkau lagi diincar oleh setiap orang persilatan, mana boleh engkau ikut menyerempet bahaya?” ujar Lamkiong Peng.

“Segala hal selalu kau pikirkan orang lain, mengapa tidak kau pikirkan dirimu sendiri juga?”

” Bila setiap urusan selalu berpikir bagi diri sendiri, hidup ini akan berubah menjadi hina tanpa berharga, “kata Lamkiong Peng dengan gegetun melihat “putri berdarah dingin” ini tertnyata penuh menaruh perhatian kepdanya. Segera ia menambahkan lagi, “Hendaknya kautunggu sebentar di sini bersama Ban-heng, apakah urusan akan berhasil atau tidak, tentu selekasnya kukembali ke sini.”

Kiamsoat tersenyum pedih, katanya, “Jika urusan gagal, apakah engkau dapat kembali lagi?”

“Pasti kembali!” jawab Lamkiong Peng tegas.

“Jika engkau berjanji sekali pukul gagal segera akan mundur kembali ke sini, bolehlah aku tidak ikut serta,” ujar Kiamsoat dengan rawan.

Sangat terharu hati Lamkiong Peng, tanpa tetahan ia pun membuka isi hatinya,” Biarpun merangkak pun aku akan merangkak kembali ke sini. Cuma kalian juga harus hati-hati.”

“Jangan kuatir, engakau sendiri yang perlu hati-hati, akan ku tunggu disini sampai kapanpun.” Ucap Kiam soat tegas.

Ban Tat memandangi kedua orang itu mendadak ia menghela nafas, katanya”Apakah nona ini benar Kong-jiok Huicu?”

“Masakah perlu disangsikan?” ujar Lamkiong Peng.

“Sungguh sukar dipercaya Kong-jiok Huicu bisa……..” mendadak Ban Tat tidak melanjutkan ucapannya. Tak diduganya bahwa Kong-jiok-Huicu yang terkenal berdarah dingin itu bisa menaruh perhatian terhadap orang lain.

Lamkiong Peng berdiri termenung sejenak, ia pandang Kimsoat sekejap, lalu berucap dengan rasa berat, “Kupergi saja!”

Segera ia berlari pergi dengan cepat.

DI tengah malam remang hanya sekejap saja bayangnnnya lantas menghilang.

Kiam soat menghela nafas, gumamnya, “Ai bilamana engkau benar Thian-ah tojin tentu dapat kaukatakan padaku baik-buruk akibat kepergiannya ini.”

Seorang maha pintar dan maha cerdik, bilamana menghadapi sesuatu yang merisaukan, biasanya tanpa terasa juga akan mengharapkan bantuan kepada nasib.

Selama hidup Kong-jiok Huicu yang berdarah dingin ini suka meremehkan orang hidup, mentertawakan orang lain, segala apa yang dipercaya orang tidak ada yang dipercayanya, sebeb dia tidak memeprhatikan urusan apa pun, di tidak berperasaan, karena tidak berperasaan menjadi tidak punya rasa takut, karena tidak takut menjadi tidak percaya kepada nasib dan tidak peduli kehidupan ini.
Tapi sekarang justru timbul rasa perhatiannya yang mendalam dan rasa takut, jiwa si dia (Lamkiong Peng) seolah-olah jauh lebih penting daripada kehidupan sendiri. Perasan ini datangnya teramat mendaadak, serupa sekaleng pewarna yang tumpah dan mendadak membikin merah kehidupannya yang putih pucat.

Ban Tat menghela nafas, katanya, “Kesujudan pasti mendatangkan keselamatan, kejahatan tak nanti dapat melawan kebaikan, dalam hal ini kukira nona dapat berbesar hati.”
Dlihatnya Bwe kiam soat sedang menengadah dan seprti tidak mendengar ucapannya, agaknya saat itu orang sedang beranya bagaimana nasib si dia kepada Thian yang maha kuasa…..

***************

Malam berlalu, fajar mulai menyingsing.

Lamkiong Peng, menarik nafas dalam-dalam, menghirup hawa pagi yang sejuk, dengan gagah ia masuk ke kota Se-an.

Meski disadarinya maha sulit usahanya akan mendapat obat penawar dari tangan Yim hong-peng, tapi tekadanya sudah bulat, betapapun pendiriannya takkan berubah.

Keberaniannya yang pantang mundur ini membuatnya sama sekali tidak menghiraukan mati hidup.

Pasar pagi baru mulai, orang berlalu lalang berjubel memenuhi jalan. Melihat Kegagahan Lamkiong Peng, orang lain sama menyingkir memberi jalan padanya, sebab sikap pemuda ini dirasakan membawa semacam keangkeran yang membuat orang tunduk padanya.

Boh-liong-san-ceng, perkampungan tempat bersemayam Wiki masih sepi, tapi di tangah kesunyian itu membawa kesiap siagaan yang luar biasa. Delapan lelaki tegap berbaju ringkas dan bergolok tampak mondar mandir meronda di depan perkampungan. Sorot mata mereka serupa anjing pemburu yang mencari mangsanya, selalu mengintai ke balik kabutt pagi seakan-akan ingin menemukan Leng hiat Huicu yanng telah membikin panik kota tua Se-an itu.

DI tengah kesunyian itu mendadak terdengar suara detak langkah orang, serentak kedelapan penjaga itu berhenti bergerak dan serentak berpaling ke arah datangnya suara.
Tertampaklah seorang pemuda berbaju hijau dengan wajah putih kepucatan dan mata besar bagai bintang kejora muncul dari balik kabut dengan langkah lebar, sorot matanya yang mencorong tajam memandang sekejap sekelilingnya, lalu menegur dengan suara berat, “Adakah Wi-cengcu di rumah?”

Kawanan penjaga berseragam hitam itu saling pandang dengan sangsi, mereka seperti juga terpengaruh oleh sikap pemuda yang berwibawa ini, meski enggan menjawab, tidak urung seorang diantaranya bersuara juga, “Hari masih pagi, dengan sendirinya beliau berada di rumah.”

Hendaknya lekas dipanggil keluar, ada urusan penting yang ingin kutanyai dia,” kata si pemuda dengan suara agak parau.

Kawanan lelaki berseragam hitam itu semua melenggak, seorang diantaranya yang bermuka burik mendadak vbergelak tertawa dan berseru, “Haha, kau ingin kami panggil cencu untuk menemuimu? Hehe, fajar baru menyingsing, cengcu belum tentu bangun, tapi kauminta beliau keluar untuk menemuimu, hahaha, sungguh lucu…….”

Seorang lagi yang behidung besar menjengek, “Memangnya kau ini siapa? Berani minta bertemu dengan cengcu segala? Mendingan jika kau Liong thi-han yang sudah lama termashur itu atau Lamkiong Peng yang menggemparkan baru-baru ini……….”

Mendadak pemuda yang bersikap kereng ini menjawab,” Aku sendirilah Lamkiong Peng adanya!”

Nama Lamkiong Peng sungguh lebih mengguncang daripada bunyi guntur, Kawanan lelaki berseragam hitam itu sama melenggong memandangi Lamkiong Peng. Habis itu segera mereka berlari ke dalam kampung sambil berteriak, “Lamkiong Peng……… Lamkiong Peng datang……….”

Mimpi pun meeka tidak menyangka Lamkiong Peng yang kemarin menempur Giok-jiu-sun-yang dengan gagah berani itu pagi ini datang sendirian ke Boh-liong-san-ceng sini.

Dalam sekejap perkampungan yang semula sunyi sneyap itu menjadi gempar, berita datangnya Lamkiong Peng tersiar dengan cepat, banyak orang datang ingin melihat bagaimana bentuk pemuda yang perkasa ini, ada juga yang mengintip dari balik pintu dan celah jendela.

Lamkiong Peng sendiri tetap berdiri menanti di situ dengan tenang.

Sejenak kemudian, tiba-tiba terdengar gema suara orang membentak dari dalam perkampungan, “DI mana Lamkiong Peng?”

Suaranya berat dan pelahan, tapi menggema hingga jauh, tergetar juga hati Lamkiong Peng, pikirnya, “Siapakah yang memiliki lwekang sehebat ini?”

Hendaklah maklum bahwa baik Wiki maupun suhengnya, Giok-jiu-sun-yang, keduanya mesi sama tokoh kelas satu, tapi tenaga dalam orang yang bersuara ini ternyata sangat mengejutkan dan jelas bukan suara Wiki berdua.

Namun Lamkiong Peng tetap tenang saja waktu ia memandang kedepan, tertampak sesosok bayangann muncul dari balik kabut pagi setelah berdehem, lalu berkata lantang, “Dimana Lamkiong Peng?”
Lamkiong Peng tambah sangsi, bayangan orang ini tinggi besar dan berambut putih, dia inilah Wiki, kepala Boh-liong-san-ceng, tapi suara ini jelas tidak sama dengan suara pertama tadi, ia menjadi heran apakah mungkin di dalam sana ada tokoh Bulim kelas tinggi yang lain?

Sembari mengelus jenggotnya, Wiki menatap Lamkiong Peng dengan tajam, jengeknya, “Untuk apa kau datanh kemari, Lamkiong Peng? Memangnya benar engkau tidak takut mati?”

Mendadak dengan suara bengis ia membentak,”Bwe leng-hiat! Dimana Bwe leng-hiat? Apakah kaupun ikut datang?”

Suaranya lantang juga, tapi kalau dibandingkan suara pertama tadi, jelas bedanya seperti bunyi keleningan dengan suara genta.

Lamkiong Peng menatap sekilas ke belakang Wiki, tertampak di belakangnya penuh bayangan orang, suara tadi entah diucapkan oleh siapa.

Dengan kaku kemudian Lamkiong Peng balas bertanya,”Dimana Yim hong peng?”

Wiki melengak, tapi segera ia berteriak pula,” Mau apa kaucari Yim hong-peng?”

Belum lagi Lamkiong Peng bersuara pula mendadak bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Yim hong-peng sudah berada di depannya, serunya dengan tertawa, “Haha, kau datang kemari, Lamkiong Peng, bagus, bagus sekali………….”

Segera Wiki sebagai tuan rumah buka suara pula, “Baiklah, jika kalian sudah berhadapan, marilah silakan bicara di dalam sana.”

Di dalam perkampungan kabut tampak lebih tebal disertai bau harum yang aneh, entah siapa gerangan tokoh kosen macam apa yang tak kelihatan itu bersembunyi di balik kabut dan bau harum ini.

Namun dengan gagah Lamkiong Peng melangkah masuk di tengan bayangn orang banyak. Orang-orang yang berkerumun itu sama menyingkir memberi jalan.

Kening Wiki bekernyit, seperti mau bicara lagi tapi setelah memandang sekejap ke balik kabut sorot matanya menampilkan rasa jeri sehingga orang urung buka mulut, dengan menunduk ia lantas mengikut di belakang Yim hong-peng dan Lamkiong Peng.

Boh-liong-san-ceng yang megah ini mendadak berubah sunyi senyap pula, yang terdengar hanya suara langkah orang banyak melintasi halaman dan menuju ke ruangan pendopo.

DI ruangan pendopo terpasang beberapa lentera tembaga, tapi di tengah kabut tebal yang tampak aneh ini, tampak serupa api setan (api pospor) yang berkelip di tanah perkuburan sunyi.

Lamkiong Peng menaiki undak-undakan dan menuju ke pintu pendopo, sekonyong-konyong ia membalik tubuh dan memandang sekeliling, perkampungan yang megah ini seperti terbenam di dalam kabut melulu hingga terasa lebih seram dan misterius.

Seketika hati Lamkiong Peng juga timbul semacam perasaan aneh, pada saat itulah tiba-tiba dekat belandar pendopo bergema pula suara aneh tadi, “Lamkiong Peng, apakah kedatanganmu ini hendak mencari Yim hong-peng untuk meminta obat penawar racun?”

Hati Lamkiong Peng tergetar pula, ia berpaling ke atas, di tengah pendopo yang remang itu suara orang tadi masih mendengung. Karena rasa ingin tahunya mendorongnya tanpa pikir terus langsung melompat ke atas belandar sana.
Belandar tengah pendopo sangat tinggi, tapi jarak tiga tombak ini tidak menjadi soal bagi Lamkiong Peng.

Siapa tahu, baru saja tubuhnya meninggalkan permukaan tanah, mendadak terasa tenaga tidak cukup, ia terkejut, sebisanya tangannya meraih keatas dan keburu memegang belandar.

Waktu ia pandang keadaan setempat, debu memenuhi belandar itu, mana ada bayangan orang segala.

Tentu saja ia terkesiap, segera ia melayang turun lagi ke bawah. Dilihatnya Yim hong-peng sedang memandangnya dengan tersenyum, Cuma senyuman yang mengandung rasa misterius.

Air muka Wiki tampak guram, pelahan ia mendekati meja dan mengambil sebatang jarum baja panjang utnuk mengungkit sumbu lampu sehingga cahaya lampu tambah terang namun tetap sukar menembus kabut yang tebal dan mengurangi keseraman suasana.
Lamkiong Peng sendiri lagi menyesali diri sendiri mengapa tenaganya bisa terasa habis setelah lelah semalaman, namu ia tetap tidak gentar, mendadak ia mendongak dan berseru dengan lantang, “Sahabat ini siapa? Kenapa mesti main sembunyi dalam kegelapan? Apakah tidak punya keberanian untuk menemuiku?

“Haha” terdengar Yimhong peng tergelak, “Jika engkau sudah datang kemari, tujuanmu tentulah ingin minta obat penawar padaku. Akan tetapi saat ini tenaga murnimu sudah lemah, biarpun kaumain kekerasan juga takkan terkabul maksud tujuanmu.”

Tiba-tiba Lamkiong Peng merasakan telapak tangan sendiri yang berlepotan debu kotoran belandar itu terasa kaku kejang, seperti dikuasai oleh semacam tenaga yang menggerakkan otot dagingnya.
Pelahan ia menjawab, “Jika kutukar dengan sesuatu, apakah kau dapat berikan obat penawarnya?”

“Itu harus diketahui dahulu barang apa yang hendak kautukarkan?” jengek Yim Hong-peng, “Supaya kautahu biarpun diriku seorang kasar, tapi kalo Cuma benda mestika biasa atau batu permata bisa saja tidak kupandang sebelah mata.”

Dengan tenang Lamkiong Peng menjawab, “barang yang hendak kugunakan untuk menukarkan obat penawarmu adalh jiwa orang she Lamkiong ini”

Tergetar hati Wiki.

Yim hong-peng juga melenggak, “Apa katamu? Coba jelaskan lagi?”

Dengan lantang Lamkiong Peng berkata, “Asalkan kauberikan obat penawarmu, besok kupasti kembli lagi kesini…….”

“Meski ingin kupercaya kepada janjimu, tapi……..”

“Kutahu janjiku tentu takkan dipercaya olehmu,” potong Lamkiong Peng ,”Supaya kalian tidak sangsi, boleh kauberi minum padaku racun yang bekerja sehari kemudian, lalu serahkan obat penawarmu.”

Yim Hong-peng terbahak-bahak, “Haha, bagus, bagus! Tapi ingin kutanya dulu padamu, sesungguhnya apa alasanmu sehingga kau pandang jiwa orang lain terlebih penting daripada nyawa sendiri?”

Tanpa pikir Lamkiong Peng menjawab, “Bila orang lain berbudi luhur bersedia mati bagiku, kenapa aku tidak boleh mati bagi orang lain, kan lebih baik kumati bagi orang, mati cara demikian pun akan mendatangkan ketentraman hati.”
“Haha, betul juga, orang hidup akhirnya pasti mati,” seru Yim Hong-peng dengan tergelak. “Tapi usiamu masih muda belia, di rumah ada ayah-bunda, ada pula sahabat dan kekasih, jika sekarang harus mati begitu saja, apakah engkau tidak merasa menyesal?”

Terkesiap juga Lamkiong Peng, mendadak teringat akan pesan tinggalan sang guru dan rindu ayah-bundanya, hubungan baik sahabat dan cinta kekasih, tapi ia pun tidak dapat melupakan budi kebaikan Tik Yang yang sekarang sedang sekarat itu.

Dengan senyum mengejek Yim Hong-peng memandang anak muda itu, disangkanya perkataannya telah menggoyahkan tekad gugur demi persahabatan anak muda itu.

Tak teduga mendadak Lamkiong Peng menegadah dan berucap tegas, “Mana obat racunnya?”

Air muka Yim hong peng berubah, juga Wiki dan lai-lain sama terkesiap.

Tiba-tiba dari pojok ruang pendopo yang kelam sana bergema pula suara aneh itu, “Racun berada di sini!”

Serentak Lamkiong Peng berpaling ke sana, dari tempat yang kelam sana mendadak melayang tiba sebuah talam. Cara bergerak talam ini sanat aneh, serupa dipegang oleh sebuah tangan yang tidak kelihatan dan disodorkan pelahan ke depan Lamkiong Peng.

Sekali meraih Lamkiong Peng pegang talam itu, diatas talam ada sebuah kotak kemala kecil, tanpa curiga Lamkiong Peng ambil kotak kecil itu, sekali toalk ia dorong talam kembali ke sana. “Barak”, talam kayu membentur dinding dan ternyata tidak di sambut orang.

Sang surya sudah mulai terbit di ufuk timur, namun cahaya matahari pagi tetap tidak dapat membelah kabut tebal yang aneh ini, kembali tercium bau harum sayup-sayup terbawa angin.
Dengan sorot mata acuh tak acuh Yim hong-peng memandang Lamkiong Peng, terlihat anak muda itu sedang mendongak dan menuangkan isi kotak kemala yang berupa bubuk putih kedalam mulutnya.

Begitu kukuh dan tegas sikap Lamkiong Peng seolah-olah yang diminum itu bukan racun segala. Ia angkat secangkir teh yang tersedia di atas meja dan dibuat kumur. Dirasakan telapak tangan berkejang pula, memegang cangkir teh saja rasanya tidak kuat lagi. Ia menjadi sangsi masakah racun dapat bekerja secepat ini?

Setelah menaruh kotak kemala dan cangkir teh di atas meja, dengan suara berat ia berkata, “Sekarang serahkan obat penawarnya.”

“Obat penawar apa?” tanya Yim hong peng.

Seketika Lamkiong Peng menarik muka, bentaknya, “kau…..jadi kau…….”

“Racun yang kauminum kan bukan pemberianku,” jengek Yim hong-peng, habis berkata, lengan bajunya mengebas dan segera ditinggal pergi.

Seketika hati Lamkiong Peng panas seperti dibakar. Ia tidak tahan lagi, segera ia menubruk ke arah Yim hong-peng.

Namun Yim hong peng tetap melangkah ke depan dengan tenang, tampaknya Lamkiong Peng segera akan menerrjang tuubuhnya, siapa tahu mendadak serangkum angin keras meyambar tiba dari balik kabut tebal sana, meski tidak bersuara, tapi kekuatannya sukar untuk ditahan.

Seketika Lamkiong Peng merasa seperti didiorong oleh kekuatan dasyat, tanpa kuasa ia terhuyung-huyung dan akhirnya jatuh terduduk di atas kursi.
Menyaksikan itu, Wiki menghela nafas panjang, mendadak ia bertindak keluar dengan langkah lebar. Sedangkan Yim hong peng lantas membalik tubuh dengan pelahan.
Setelah menenangkan diri, dengan gusar Lamkiong Peng membentak,”Bangsat yang tidak pegang janji, kau………”

Dari balik kabut ada orang yang menjengek, “Hm, memangnya siapa yang pernah berjanji akan memberi obat penawarnya kepadamu?”

Saking gemasnya hingga Lamkiong Peng tidak sanggup bicara lagi.
Terdengar suara aneh di balik kabut berkata pula, “Sekali kau masuk perkampungan ini berarti jiwamu sudah tergenggam di dalam tanganku, masakah ada hak bagimu untuk bicara tentang tukar menukar obat penawar segala?”

Ucapan ini sangat menyakitkan hati Lamkiong Peng, hatinya serasa terkoyak-koyak, rasa murka dan sedih setelah tertipu, rasa cemas dan putus asa membangkitkan sisa tenaganya yang terakhir, mendadak ia menubruk kesana, diterjangnya bayangan di balik kabut yang tebal itu.
Akan tetapi baru saja tubuhnya melompat ke atas, kontan ia tidak tahan dan jatuh menggeletak lagi ke tanah, sayup-sayup didengarnya suara jengekan orang, remang-remang sesosok bayangan orang seperti mendekatinya dari balik kegelapan sana.

Akan tetapi kelopak matanya terasa sedemikian berat sehingga sukar terbuka lagi, samar-samar hanya terlihat sepasang sepatu yang mengkilat pelahan bergeser mendekat………..

**********************

Suara langkah kaki yang berat dari jauh mendekat dari pelahan bertambah keras……..

Sinar sang surya yang baru terbit menembus celah-celah tirai dan menyinari kelambu barsulam bunga, tempat tidur yang menyiarkan bau harum semerbak.

Bersama dengan mendekatnya suara langkah orang, mendadak kelambu tersingka, seorang pemuda cakap segera berbangkit dan duduk ke tepi ranjang, mukanya kelihatan pucat, sinar matanya gemerdep takut seperti orang yang merasa berbuat dosa.

Cahaya sang surya yang menyilaukan itu membuatnya mengalingi mukanya dengan sebelah tangan, ia tidak berani menatap sinar marahari, sebab ia kuatir sinar sang surya akan menerangi kejahatan yang tersembunyi dalam lubuk hatinya.

Suara langkah kaki tadi mendadak berhenti di depan pintu. Muka pemuda itu bertambah pucat, segera ia hendak berdiri, tak terduga dari balik kelambu di belakangnya lantas berjangkit suara tertawa genit, sebuah tangan putih mulus telah memegang pergelangan tangannya sambil menegur, ‘He kaumau apa?”

Dengan rasa gugup pemuda itu memandang ke arah pintu.

Kembali suara tertawa di belakang kelambu bertanya lagi, “boleh kau tanya siapa yang diluar?………Tanyalah, kanapa takut?”

Pemuda itu berdehem terlebih dahulu, lalu bertanya dengna suara berat, “Siapa itu?!”

Meski Cuma satu kata yang sedehana, tyapi baginya serasa telah banyak memakan tenaga.

Di luar lantas bergema juga orang berdehem. Dengan gugup pemuda pucat itu duduk kembali ke tempat tidur. Terdengar suara seorang menjawab dengan rasa takut-takut, “Apakah Tuan tamu ingin meminta sesuatu?”

Pemuda pucat ini mengusap keringat dingin yang membasahi dahinya, sambil menghela nagas lega, lalu berteriak, “Tidak!”

Segera bergema pula suara tertawa nyaring di balik kelambu.
Pemuda pucat itu menghela nafas, katanya, “Ai kukira………kukira Toako yang berada diluar. Semalam aku……….bermimpi buruk sebentar mimpi suhu merangket diriku, lain saat mimpi toako lagi mendamprat diriku dan…………..”

Pemuda pucat itu menunduk, mandadak tangan putih mulus itu menariknya sehingga pemuda itu jatuh kedalam rangkulan yang hangat dan harun sehingga tidak sanggup lagi melepaskan diri lagi serupa seekor kelinci jatuh ke dalam perangkap si pemburu.

Pelahan kelambu tertutup lagi, sejenak kemudian sebelah kaki yang putih bersih pun terjulur ke tepi ranjang yang berguncang pelahan…….

“Adik Tim,” terdengar suara lembut bergema pula di balik kelambu, “andaikan benar Toako datang, lantas bagaimana?”

“Aku….aku……..” Agaknya pemuda itu tidak sanggup menjawab.

Kaki putih tadi tampak terjulur lemas, lalu sampai lama tiada suara lagi di balik kelambu. Kemudian sbeleh kaki yang lain juga menjulur kebawah, lalu seorang perempuan cantik dengan rambut kusut pelahan berdiri, bajunya yang tipis melambai ke bawah sehingga menutupi kakinya yang indah.

IA membetulkan rambutnya sambil mengehela nafas gegetun, katanya, “Adik Tim, kutahu engkau benar masih suka padaku.”
Pemuda pucat itu pun muncul dari balik kelambu dan memandang perempuan menggiurkan itu dengan melenggong, katanya kemudian, “Aku…..aku memang suka padamu, namun toako setiap saat dapat………dapat datang, sungguh aku sangat………sangat takut.”

Perempuan cantik menggiurkan yang habis main pat gulipat dengan pemuda pucat ini ialah Kwe giok-he, mandadak ia berpaling ke sana dan menatap pemuda itu dengan tajam, katanya, “Jika selamanya toako takkan kembali lagi, lantas bagaimana?”
Pemuda bermuka pucat itu bukan lain ialah Ciok Tim, ia melenggak sejenak lalu berucap dengan heran. “Toako takkan kembali lagi?”

Giok he mendengus pelahan ia melangkah ke sana dan duduk di kursi, katanya, ‘Jika dia tidak mati kan seharusnya sudah lama di datang ke Se-an?”

Air muka Ciok Tim tambah pucat, katanya dengan tergagap, “Mak…..maksudmu…….”

Mendadak Giok he memotong, ‘Tempo hari ketika di puncak Hoa san sudah kulihat jurang diluar rumah gubuk itu, setiap saat dapat terjadi malapetaka, bisa jadi di sana tersembunyi sesutau kejahatan yang belum terbongkar. Tentu kaulihat juga wajah mayat itu penuh rasa kejut dan takut, padahal tubuh mayat itu tidak terdapat tanda luka senjata atau pukulan jelas dia mati karena ketakutan.’

‘Mati ketakutan?’ Ciok Tim menegas dengan melongo.
Giok he mengangguk, katanya pula, ‘kemudian ketika kau susul tiba, bukankah kaulihat tiba-tiba aku bersenyum?’
‘Kukira engkau tersenyum kepada…….kepadaku,’ kata Ciok Tim.

‘Biarpun kusenang karena melihatmu, namun senyumanku itu adalah karena kudengar, suara jeritan ngeri di bawah jurang itu.’

‘Jeritan ngeri? Kenapa aku tidak mendengar?”

‘Waktu itu engkau lagi asyik memperhatikan diriku, dengan sendirinya tidak mendengar, namun dapat kudengar dengan jelas jeritan yang keras dan cemas itulah suara Toakomu. Coba kaupikir, menuruti watak Toakomu yang keras, bilamana dia tidak mengalami sesuatu musibah, mana bisa dia mengeluarkan jeritan ngeri tiu.”

Ciok tim terkesima bingung, entah merasa senang, bersyukur, gelisah atau sedih.

Sembari menggulung rambutnya, Giok he berkata pula dengan pelahan, “Semula aku belum berani memastikannya, tapi setelah sekian hari tiada kelihatan bayangan Toakomu, bila dia tidak mati, mustahil sampai sekarang tidak muncul lagi di sini. Dengan nama dan bentuknya, begitu masuk kota Se-an pasti akan dikenal orang dan segera tersiar.”

Bola mata Giok he mengerling dan tersembul senyuman puas yang sukar diraba, lalu berkata pula, “Setelah bertemu dengan perempuan iblis itu, sekalipun semalam Lo-ngo (kelima, maksudnya Lamkiong Peng) dapat menyelamatkan diri, tentu selanjutnya juga tidak berani lagi emnongol di dunia kangouw, bahkan pulang ke rumah saja mungkin juga tidak berani…….”

Ia sengaja menghela nafas, namun senyumnya bertambah cerah, sambungnya lagi, “Tak tersangka Anak murid Ji-hau-san-ceng akhirnya tersisa kita berdua saja, betapa besar perusahaan yang ditinggalkan suhu itu terpaksa harus kuurus sendiri. Ai, selanjutnya engaku harus membentuku adik Tim.”

Ciok Tim tidak menoleh, bahkan melengos ke arah lain, sebab saat itu air matanya berlinang memenuhi kelopak matanya, entah air mata terharu, meyesal atau sedih.

***********************

Menjelang lohor, Giok he dan Ciok Tim tamapak keluar dari hotel. Langkah Ciok Tim diperlamabat sehingga bertahan suatu jarak tertentu di belakang Kwe giok-he. Jarak yang layak seorang sute mengiringi sang suci. Namun sinar matanya tanpa terasa selalu jatuh ke arah pinggang Giok he yang ramping.

Jalan raya di tengah kota Se-an jelas berbeda daripada biasanya, hal ini disebabkan kegemparan yang terjadi semalam, sampai saat ini perasaan penduduk masih belum tentram kembali. Juga lantaran toko-toko yang memasang panji “grup Lamkiong” hari ini sama tutup, jelas disebabkan mengalami suatu kejadian yang luar biasa.
Dengan tenang Giok he melangkah ke arah Boh-liong-ceng, namun segala sesuatu di sekelilingnya tidak terlepas dari pengematannya.

Sebab itulah dia tidak menumpang melainkan lebih suka berjalan.

Jalan raya yang kelihatannya tentram tapi jelas ada kelainan itu akhirnya bergema suara derap kaki kuda dari kejauhan sana. Waktu Giok-he menoleh, dilihatnya tiga ekor kuda tinggi besar dengan pelana yang mengkilat muncul dari belakang.

Kuda belang yang di depan ditunggangi seorang pemuda gagah berbaju satin dan muka cakap, pedang bergantung di pinggangnya, tubuhnya yang jangkung duduk tegak di atas pelana, sorot matanya yang menampilkan sinar kepongahan mengerling kian kemari seperti tiada seorang pun di dunia ini terpandang olehnya.

Tapi ketika melihat lirikan mata Kwe giok-he, mendadak pemuda itu menahan kudanya, “tring”, sarung pedang bersepuh emas menyentuh pelana kuda dan menimbulkan suara nyaring, tanpa menghiraukan sopan santun ia memandang Giok-he dari atas ke bawah dan sebaliknya dengan cengar-cengir.

Air muka Ciok Tim berubah masam, sedapatnya ia manahan rasa gusarnya dan tidak menghiraukan sikap orang yang kurang ajar itu.

Sebaliknya sikap Giok-he meski kelihatan prihatin, tapi lirikannya serupa sengaja dan tak sengaja justru mengerling lagi dua kejap ke arah orang, lalu menunduk.

Karena itu pemuda penunggang kuda itu tambah berani, pelahan ia terus mengintai di belakang Giok-he, sorot matanya tidak pernah meninggalkan pinggang Giok he yang ramping menggiurkan itu.

Kedua penunggang kuda lain yang mengikut dibelakangnya adalah dua kacung yang juga berdandan perlente, keempat mata mereka yang besar juga sedang memandang Giok he dengan penuh minat.

Dandanan kedua anak ini serupa, bahkan wajah dan perawakan juga sama, namun sikap dan gerak-geriknya agak berbeda, kalau yang satu tampak pintar dan lincah, yang lain kalihatan pendiam dan prihatin serupa orang dewasa.

Ciok Tim tidak tahan lagi akan rasa gusarnya, ia menyusul ke dekat Kwe giok-he.

Si pemuda berbaju perlente memandang sekejap, mendadak ia tertawa, lalu ia melrikan kudanya cepat ke depan.

“Hm kurang ajar benar orang ini! jengek Ciok Tim

Kacung sebelah kanan mendadak menahan kudanya dan menegur dengan mata melotot, “Apa katamu?”

Sedangkan kacung yang lain lantas mencambuk pantat kuda kawannya dan mengomel,”sudahlah, lekas berangkat, cari gara-gara apa lagi?”

Setelah kedua kacung itu pun melarikan kudanya ke depan, dengan tersenyum Kwe giok-he tanya Ciok Tim, “Kau kira orang macam apakah pemuda tadi?”

“Hm, besar kemungkinan anak kemarin sore yang baru tamat belajar, mungkin anak keluarga hartawan yang biasa berbuat tidak semena-mena, “jengek Ciok Tim.

Giok-he memandangi bayangan punggung ketiga orang di depan sana, katanya, “Tampaknya tidak rendah ilmu silat mereka, tentu dari perguruan ternama.”

Diantara kerlingan dan kerut keningnya agaknya timbul lagi sesuatu pikirannya, hanya hal ini tidak dilihat oleh Ciok Tim.

Setelah melintasi lagi dua simpang jalan tertampaklah gedung megah dengan halaman luas, itulah Boh-liong-ceng, tempat kediaman Wiki.
Baru saja mereka sampai di depan gerbang perkampungan itu, terdengarlah derap kaki kuda yang ramai, ketiga pemuda penunggang kuda tadi telah menyusul tiba. Seketika air muka Ciok Tim berubah, gumamnya, “Hm, tampaknya mereka sengaja menguntit kita.”

“Jangan cari perkara,” ujar Giok he dengan tersenyum.

Tiba-tiba si pemuda perlente penunggang kuda tadi melompat turun dari kudanya dan tepat berdiri di samping Giok-he.

Dengan mendongkol Ciok Tim lantas memburu maju dan melototi orang dengan sikap bermusuhan.

Selagi pemuda perlente itu hendak menyapa, sekonyong-konyong pintu gerbang perkampungan megah itu terkuak, menyusul terdengarlah gelak tertawa lantang, tertampak Wiki dan Yim-hong peng muncul dari dalam, sembari berseru, “Aha, rupanya ada tamu dari jauh, maaf jika tidak kusambut selayaknya!”

Dengan wajah berseri si pemuda perlente lantas berpaling ke sana dan memberi salam hormat.

Diam-diam Ciok Tim berkerut kening, ia heran orang macam apakah pemuda ini sehingga Wiki merasa perlu menyambut keluar.

Di luar dugaan, Wiki hanya menyapa, sekedarnya saja kepada pemuda perlente itu, lalu langsung menghampiri Kwe giok-he dan berucap, “Liong hujin sungkan bermalam di tempatku ini, tentu semalam telah beristirahat dengan tenang.”

“Terimakasih atas perhatian Wi-locianpwe,” kata giok he, sambil memberi hormat.
Baru sekarang Ciok Tim tahu bahwa yang hendak di sambut oleh Wiki ternyata mereka berdua bukan pemuda perlente tadi.

Sebaliknya pemuda perlente tadi merasa kikuk karena yang disambut tuan rumah ternyata bukan dirinya, dengan tercengang ia pandang Wiki dan Giok he.

Ketika dilihatnya Ciok Tim sedang meliriknya dengan sikap mengejek, seketika dia mendelik, dengan suara dongkol, ia menjengek, “Apakah tempat ini memeng betul Boh-liong-ceng?”

Dengan sinar mata gemerdep Yim hong-peng menanggapi, “Betul, apakah saudara ini bukan serombongan dengan Liong-hujin?”

Pemuda itu menjengek, “Kudatang dari Tong-thian-kiong di puncak Kun-lun-san, siapa Liong-hujin belum pernah kukenal.”

Seketika hati Giok he, ciok Tim, Wiki dan Yim hong-peng sama tergetar.

“Aha, kiranya anda ini murid Kun-lun pai, silakan masuk, kebetulan meja perjamuan sudah siap, marilah kita minum bersama barang satu-dua cawan, seru Wiki.

Hendaknya dimaklumi anak murid Kun-lun pai sangat jarang muncul di dunia kangouw. Biasanya orang kangouw juga sedikit sekali yang berkunjung ke Kun-lun-san, sejak dahulu Put-si-sin-liong mengalahkan Ji-yan Tojin, ketua Kun-lun-pai dipuncak pegunungan itu, berita mengenai murid utama Ji-yan Tojin yaitu Boh-in-jiu Tok put-hoan, sangat menonjol di dunia kengouw dan merupakan salah seorang jago pedang yang disegani.

Bahwa pemuda perlente ini adalah murid Kun-lun-pai, mau tak mau Wiki harus melayaninya dengan cara lain. Ban-li-liu-hiang Yim hong-peng lantas ikut menyambut juga dengan hormat seakan-akan dia adalah tuan rumahnya.
Sikap pemuda perlente itu tampak tambah congkak, tanpa sungkan ia lantas mendahului masuk ke dalam Boh-liong-ceng.

Diam-diam Ciok Tim mendongkol, dengan suara tertahan ia membisiki Kwe giok-he, “Jika orang ini saudara seperguruan Boh-in-jiu itu, artinya dia juga musuh Ji-hau-san-ceng kita, rasanya aku ingin menjajalnya, ingin kutahu betapa lihainya anak murid Kun-lun-pai.”

“Berbuatlah menurut gelagat, jangan sembarangan bertindak,” desis Giok-he sambil menarik ujung bajunya.

Sementara itu sang surya sudah memancarkan cahayanya yang gilang gemilang, kabut tebal tadi sudah tersapu lenyap, suasana misterius yang meliputi ruang pendopo tadi pun lenyap.

Di tengah ruangan memang benar sudah siap meja perjamuan, dengan tertawa Wiki lantas berseru, “Liong-hujin………..”

Belum sempat ia menyilakan duduk orang, sekonyong-konyong si pemuda perlente tanpa sungkan lantas menduduki tempat utama seakan-akan tempat itu memang disediakan untuk dia.

Selaku tuan rumah, tentu saja Wiki berkerut kening dan kurang senang, ia pikir biarpun anak murid Kun-lun-pai seyogyanya juga tidak boleh sesombong ini.

Ciok Tim juga lantas mendengus menyatakan rasa tidak senangnya. Namun pemuda perlente itu sengaja menengadah dan tidak menghiraukan cemooh orang lain.
Giok-he hanya tersenyum saja dan duduk di tempat seadanya, Ciok Tim juga tidak enak untuk bicara, terpaksa ia menahan perasaannya dan duduk di samping Giok-he.
Dengan sendirinya Wiki tidak dapat memperlihatkan rasa marahnya, ia hanya berdehem dan coba menyebutkan nama Kwe giok-he, Ciok-Tim dan Yim hong-peng, maksudnya agar pemuda perlente itu terkejut dan dapat lebih tahu diri.

Siapa tahu nama ketiga orang ternyata tidak membuatnya gentar, ia hanya menyapa pandang mereka sekejap, lalu ia menyebut nama sendiri dengan nama dingin, “Dan namaku Cian Tong-lai.”

Lalu tidak bicara lebih banyak lagi, juga tidak bergerak dari tempat dudukhya, hanya dipandangnya wajah Giok he yang cantik itu dua tiga kejap, entah dia sengaja berlagak angkuh atau memang masih hijau sehingga tidak kenal nama tokoh dunia persilatan yang menonjol ini.

Wiki juga mendongkol melihat sikap orang yang sombong itu, ia pikir biarpun Tok put-hoan juga tidak berani bersikap seangkuh ini.

Setelah menyilakan tetamunya minum, dengan tertawa Wiki berkata, “Agaknya Cian-heng belum lama terjun ke dunia kangouw, tapi kalau dibicarakan sesungguhnya kita pun bukan orang luar. Beberapa tahun yang lalu ketika suhengmu Toh-siauhiap baru turun dari Kun-lun-san, dia juga mampir ke tempatku sini dan saling sebut sebagai saudara denganku haha…..”

Mendadak si pemuda perlente yang mengaku bernama Cian Tong-lai itu memotong, “Toh put-hoan adalah sutitku.”

Tentu saja semua orang melenggak, sungguh sukar dipercaya Toh put-hoan yang lebih tua itu ternyata murid keponakan pemuda she Cian ini.

Sambil tertawa Cian Tong-lai menenggak secawan arak lagi, lalu menuding kedua kacung yang berdiri di pojok ruangan itu dan berkata, “Kedua bocah itulah baru terhitung satu angkatan dengan Toh put-hoan.”
Baru sekarang Yim hong-peng dan Wiki terkejut. Cepat Wiki berkata dengan menyengir, “O, maaf, jika begitu lekas kedua saudara cilik silakan duduk juga untuk minum bersama.”

Anak yang bersikap prihatin itu berucap, “Susiok hadir disini, kami tidak berani ikut duduk.”
Kacung yang lain menambahkan dengan tertawa, “Asalkan lain kali bila kami berkunjung lagi ke sini jangan Wi-cengcu menyuruh kami berdiri di sini.”

Muka Wiki berubah merah, didengarnya kacung tadi berseru pula dengan tertawa, “Wah, tak tersangka nama Toh-suheng sedemikian tersohor di dunia kangouw, bila tahu tentu Toasupek akan sangat senang.”

Cian Tong-lai menyapu pandang sekejap lalu menyambung dengan ketus, “Kedatanganku ini adalah karena nama WI ceng-cu yang termashur bermurah hati dan gemar mengumpulkan orang pandai dan bijaksana……..”

Dengan sorot mata tajam ia memandang Wiki sekejap, seketika air muka Wiki bertambah merah. Maka Cian Tong-lai menyambung lagi. “Selain itu, ingin juga kucari kabar tentang Toa sutitku itu.”

Berubah juga air muka Ciok Tim sambil memandang Giok he sekejap.

Pelahan Cian Tong-lai berkata lagi, ” Sejak meninggalkan Kun-lun-san, hanya beberapa tahun pertama saja masih ada kabar beritanya, tapi akhir-akhir ini tidak terdengar lagi sesuatu beritanya……..”

Sampai di sini sinar matanya berkelebat ke arah Ciok Tim, lalu menyambung dengan nada bertanya, “Jangan-jangan sahabat she Ciok ini mengetahui akan jejak Toasutitku itu?”

Tergetar hati Ciok Tim sehingga arak tercecer dari cawan yang dipegangnya.

Lekas Giok he menyela, “Nama Boh-in-jiu memang sudah lama kami dengar, Cuma sayang tidak pernah bertemu, cara bagaimana kami tahu jejaknya?”

Apa betul begitu?” jengek Cian Tong-lai.

Senyum Giok he tambah menggiurkan, katanya, “Ucapan murid Sin-liong-bun kukira tidak perlu disangsikan.”

Mendadak sebelah tangannya menekan, cawan arak mendadak amblas ke dalam meja, ketika tangannya terangkat, cawan arak ikut mumbul juga, gerakannya cepat dan gesit, apa yang terjadi itu cuma sekejap saja.

Air muka Cian Tong-lai sedikit berubah, ia pandang wajah Giok he yang cantik itu, mendadak ia bergelak tertawa, katanya, “Seumpama Hujin bukan anak murid Sin-liong-bun juga kupercaya penuh kepada keteranganmu.”

Mendadak Ciok Tim mendengus.

Yim hong-peng tertawa, katanya, “Arak dan hidangan sudah dingin, ayolah jangan mengecewakan maksud baik tuan rumah………..”

Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar deru angin keras dari udara, suasana menjadi gelap, berbareng itu terdengar pula suara burung, beberapa ekor elang terbang lewat di depan pendopo, habis itu lantas terbang mengitar di halaman, seluruhnya ada tujuh ekor burung elang.

Berubah air muka Wiki, serentak ia bangkit berdiri.
Si kacung yang lincah lantas berseru dengan tertawa, “Hihi, tak terduga di sini juga ada elang sebesar ini, sungguh menarik.”

Baru habis ucapannya, sekonyong-konyong ia melompat miring ke atas, kedua tangannya terpentang terus menubruk ke tengah kawanan elang yang terbang mengitar itu.

Kacung itu bergerak dengan santai, tapi meluncur secepat kilat, bajunya yang perlente itu berkelebat, tahu-tahu sebelah tangannya sudah berhasil menangkap sayap salah seekor elang itu.

“Bagus!” seru Giok he sambil berkeplok tertawa.

Elang itu bersuara kaget, keenam ekor elang yang lain serentak terbang balik, sekaligus mereka hendak mematuk si kacung.

Tiba-tiba dari kejauhan ada suara jepretan busur dan bentakan orang, “Pukul!”

Berbareng itu selarik sinar hitam menyambar tiba.

Semua itu hanya terjadi dalam sekejap, belum lagi tubuh si kacung turun ke bawah, tahu-tahu cahaya hitam itu sudah menyambar, paruh keenam ekor elang yang tajam itu pun akan mengenai tubuhnya.

Baru saja Giok-he berseru “bagus”, seketika ia menjerit pula, “Celaka!”

Yim hong-peng, Wiki, Cian Tong-lai juga berseru kuatir, si kacung mengendurkan cengkramannya, kedua kaki di tekuk, ia berjumpalitan sekali di udara, lalu turun ke bawah dengan enteng, walaupun begitu ujung bajunya juga telah tertembus oleh cahaya hitam tadi.

Kacung yang lain tidak tinggal diam, ia pun membentak, “Lihat serangan!”
Sekaligus tujuh titik perak terpancar ke depan menyerang ketujuh ekor elang.

Keenam ekor elang berbunyi kaget dan terbang ke udara, seekor sempat tersambit oleh senjata rahasia si kacung dan jatuh ke tanah bersama si kacung pertama tadi.

Cahaya hitam tadi masih menyambar ke depan dengan kencang dan “crat”, menancap di dinding, nyata tenaga pemanah itu sangat kuat.

Dengan muka kelam Cian Tong-lai berbangkit dan berkata, “Wi cengcu, apa cara demikian Boh-liong-ceng meladeni tamunya?”

Belum lenyap suaranya segera terdengar pula orang berteriak lantang di luar, “Tujuh elang menjulang ke udara, gemilang usaha kami malang melintang.

Air muka Wiki berubah seketika, gumamnya, “Jit-eng-tong (Klik tujuh elang)!”

Pada saat itulah seorang lelaki berbaju hitam muncul dengan membawa sehelai kartu merah besar dan dihaturkan kepada Wiki. Waktu Wiki membuka dan membacanya, ternyata kartu merah itu tidak terdapat tulisan apa pun melainkan Cuma terlukis tujuh ekor burung elang yang berwarna berbeda dengan gaya yang berlainan dan kelihatan seperti elang hidup.

“Tamu agung silahkan masuk!” segera Wiki berseru sambil memburu keluar.

Kening Yim hong-peng bekernyit sambil bergumam, “Jit-eng-tong………..Jit-eng-tong!”

Lalu ia pun melangkah keluar.

Cian Tong-lai memandang bayangan punggung kedua orang itu, sinar matanya menampilkan nafsu membunuh, ia coba tanya si kacung yang jatuh tadi, Giok-ji, apakah kau terluka?”
Giok-ji menggeleng pelahan, namun mukanya kelihatan pucat, sikapnya yang lincah dan periang tadi kini tak tertampak lagi.

“Boleh juga anak ini, tampaknya dia Cuma terkejut oleh sambaran anak panah dan tidak menjadi alangan,” ujar Giok-he.

“Hm, anak murid Kun-lun mana boleh………”

Belum lanjut jengekan Cian Tong-lai, sekonyong-konyong berkumandang suara orang ramai dari halaman sana. Tiba-tiba elang yang terluka tadi pentang sayap hendak terbang ke udara, tapi sekali tangan Cian Tong-lai menuding “crit”, kontang elang yang baru melayang setinggi manusia itu jatuh lagi ke lantai.

“Khikang yang hebat!” seru Giok-he memuji sambil melirik Ciok Tim, tertampak air mukanya berubah. Sungguh tak tersangka anak muda yang congkak itu memiliki kungfu selihai ini, agaknya lebih hebat dari pada ketua Kun-lun-pai sendiri.

Pada saat itulah dari balik gunung-gunungan halaman sana bergema bentakan seorang, menyusul sesosok bayangan tinggi besar melayang tiba, ia berjongkok dan menjemput bangkai elang tadi, di bawah sinar sang surya kelihatan rambutnya yang putih dan sorot matanya yang guram, orang tua yang tinggi besar dengan baju perlente ini kelihatan sedih sehingga tangan yang memegang bangkai elang rada gemetar.

Ia berdiri termangu sejenak, lalu bergumam seperti mau menangis, “O, siau-ang……..kau…….kau mati!……”

Dari balik gunung-gunungan sana lantas muncul pula enam kakek berjenggot dan rambut ubanan, semua dengan baju perlente, namun dari gerak geriknya tidak terlihat ketuaan mereka.

Muka keenam kakek ini tidak sama, dandanan mereka serupa, hanya pinggang masing-masing terikat tali sutera berlainan warna.

Seorang diantaranya berwajah putih bermata tajam dan selalu tersenyum, tali pinggangnyya berwarna putih, muncul diapit oleh Wiki dan Yim hong-peng. Ketika melihat si kakek bertali pinggang merah lagi berduka memegangi bangakai elang, segera kakek muka putih bertanya, “Ada pada, Jit-te? Apakah siau-ang terluka?”

“Mati…….bahkan sudah mati……”gumam si kakek tali merah, mendaak ia berteriak murka, “Siapa yang membunuhnya…..siapa………”
Suaranya keras mendengung memekak telinga. Tanpa terasa si kacung yang bernama Giok-ji tergetar mundur setindak.

Mendadak si kakek bertali merah berpaling, sorot matanya terpancar tajam, sambil memegang bangkai elang ia terus menubruk maju, sebelah tangannya segera meraih pundak si kacung.

Giok-ji seperti tertegun oleh keberingasan orang, ingin mengelak, tapi tidak keburu lagi, pundak terasa kencang dicengkram tangan si kakek.

“Siau-ang terbunuh olehmu bukan?” bentak si kakek.

Kacung itu terkesiap, tapi tangan kanan mendadak bekerja, hiat-to bagian iga si kakek hendak ditutuknya.

Terkejut juga si kakek oleh serangan ini, sedikit menggeliat dapatlah ia menghindar, tak tersangka kaki kiri si kacung juga lantas melayang ke depan, mengarah selakangan si kakek.

Dalam keadaan demikian bila si kakek tidak lepas tangan, seketika dia bisa menggeletak binasa.
Terpaksa si kakek menyelamatkan diri lebih dulu, ia melompat mundur.

Tak terduga pundak segera terasa kesemutan, tahu-tahu dicengkram orang, suara orang yang ketus bergema di samping telinganya, “Akulah yang membunuh binatang piaraanmu itu.”

Kejadian ini berlangsung dengan cepat dan membuat semua orang melenggong. Dengan kuatir cepat Wiki berseru, “He, Cian siau-hiap……..Ang jitya, ada urusan apa marilah bicara secara baik-baik!”

Serentak keenam kakek berbaju perlente juga memencarkan diri dan mengepung Cian Tong-lai dan kedua kacungnya di tengah.

Namun Cian Tong-lai menghadapi mereka dengan santai saja, ia tetap mencengkram pundak si kakek bertali merah, dengan tak acuh ia pandang keenam kakek itu satu persatu, sama sekali tidak gentar terhadap ketujuh kakek yang terkenal sebagai Thian-hong-jit-eng (tuju elang menembus langit) Ketujuh piaokiok (perusahaan pengawalan) yang termashur sejak 30 tahun yang lampau.

Si kakek bertali merah tidak dapat berkutik, hanya mata mendelik dan jenggot seakan-akan menegak, bahkan juga tidak berani bersuara. Sebab dirasakan ada arus tenaga kuat tersalur dari Koh-cing-hiat di bagian pundak menembus ke dalam tubuh, bilamana tubuh sendiri sedikit meronta, bukan mustahil tenaga tidak kelihatan itu akan bekerja keras dan menggetar putus urat nadi jantungnya.

Keenam kakek berbaju perlente dari Thian-hong-jit-eng itu sangat gusar, tapi tidak berani sembarang bertindak mengingat kawan sendiri berada dalam cengkraman musuh.

Giok-he mengerling sekejap, dilihatnya wajah Wiki menampilkan rasa cemas dan kuatir, sedangkan Yim hong peng tetap tenang saja. Kedua kacung tadi sedang mengawasi keenam kakek dengan was-was, keenam ekor elang tadi kembali terbang mengitar di udara tepat di atas kepala Cian Tong-lai seakan-akan mengetahui bahaya yang sedang mengancam si kakek bertali merah.

Sekonyong-konyong keenam ekor elang sama berbunyi dan menubruk ke bawah, sekaligus mematuk kepala Cian Tong-lai. Berbareng itu keenam kakek juga membentak dan serentak menerjang maju.

Alis Cian Tong-lai menegak mendadak, sebelah tangannya menampar ke atas, kontan keenam ekor elang terdampar oleh angin pukulan dasyat sehingga tertahan dan tidak mampu menembus angin pukulan.

Kesempatan itu segera digunakan si kakek bertali merah untuk mendak ke bawah terus hendak memberosot ke samping.

“Hm, ingin lari!” jengek Cian Tong-lai.

Saat itu juga seorang kakek bertali pinggang warna putih sempat melompat tiba lebih dulu, segera ia menarik kakek bertali pingggang merah dan tak sempat menyerang Cian Tong-lai.

Kedua kacung tadi tidak tinggal diam, mereka songsong si kakek bertali ungu dan kuning, walaupun usai kedua kacung ini masih muda belia, tapi mereka tidak gentar menghadapi lawan tangguh.

Si kakek bertali ungu dan kuning saling pandang sekejap, lengan baju mereka mengebas dan keduanya sama menyurut mundur, betapapun tokoh Jit-eng-tong yang termashur tidak sudi bergebrak dengan dua anak ingusan.

Dan karena daya tubrukan kawanan elang tadi tertahan oleh angin pukulan Cian Tong-lai, setelah merandek, segera menubruk lagi ke bawah, Saat itu juga Cian Tong-lai sudah terkepung oleh ketiga kakek yang bertali pinggang berwarna hijau, hitam, biru, sekali bergerak, kembali ia desak mundur ketiga kakek itu, lalu mnejengek, “huh, main kerubut, dibantu pula kawanan hewan, kiranya beginilah jago silat daerah Tionggoan.”

Muka si kakek bertali hitam tampak dingin. Mendadak si kakek bertali biru bersuit pelahan sambil menggeser ke samping kawannya, kawanan elang yang sedang menubruk ke bawah mendadak terbang lagi ke atas.

Si kakek bertali hijau berseru, “Lakte, mundur dulu, biar kubelajar kenal dengan orang angkuh ini!”

Segera ia melancarkan beberapa pukulan dasyat, meski perawakannya paling kecil, tapi kekuatannya sangat mengejutkan.

Si kakek bertali putih sempat menarik kakek bertali merah ke pinggir kalangan dan kebetulan di samping Giok-he berdiri. Dengan simpatik Giok he bertanya, “Tampaknya tidak ringan luka Locianpwe ini, kubawa obat luka dalam jika sekiranya perlu pakai.

Si kakek bertali putih tersenyum, katanya, “Terima kasih, cuma saudaraku ini hanya tertutuk Hiat-to kelumpuhannya saja, sebentar lagi dapat bergerak lagi dengan bebas.”

Dalam pada itu si kakek bertali hijau sudah bergebrak beberapa jurus dengan Cian Tong-lai, keduanya sama bergerak dengan cepat, namun tenaga pukulan si kakek bertali hijau ternyata tidak tahan lama, sudah mulai lelah.

Si kakek bertali kuning bergeser ke sisi Giok-he dan bertanya dengan suara tertahan, “Apakah anak muda ini sekomplotan denganmu?”

“Jika kami sekomplotan, tentu dia takkan berbuat sekasar itu kepada para Locianpwe” jawab Giok he dengan menyesal.

Sementara itu si kakek bertali putih sedang menguruti tubuh si kakek bertali merah, tanpa menoleh ia menukas, “Pemuda itu adalah anak murid Kun-lun-san, ilmu silatnya tidak rendah, hendaknya Lak-te disuruh jangan gegabah.”

Si kakek bertali kuning termenung sejenak lalu ia mendekati Wiki.

Saai itu Wiki juga merasa serba susah dan tidak tahu cara bagaimana harus melarai.
Tiba-tiba si kake bertali kuning menghampiri Wiki dan mendengus,”Hm, tak terduga orang Cong-lam-pai bisa ada hubungan dengan murid Kun-lun-pai.”

Selagi Wiki melenggak dan belum sempat menjawab, si kakek bertali kuning berkata pula, “Sebenarnya kedatangan kami tidak berniat jahat melainkan ingin mencari murid seorang sahabat lama dan minta WI cengcu suka membnatu, siapa tahu cara demikianlah sambutan disini………”

Si kakek bertali kuning ini sudah tua, tapi wataknya tetap sangat keras, habis bicara segera melancarkan pukulan.

Di sebelah sana si kakek bertali ungu bernama Tong-jit-thian dan si biru bernama Na Lok-thian sekaligus lantas menerjang juga ke arah Cian Tong-lai.

Kakek bertali hijau yang sedang menempur Cian Tong-lai itu bernama Leng Cin-thian, dahulu di terkenal dengan Tai-li-kim-kong-jiu, pukulan bertenaga raksasa, tapi sekarang dia ternyata bukan tandingan pemuda she Cian yang sombong ini.

Diam-diam Giok he dan Ciok Tim terkesiap menyaksikan ketangkasan Cian Tong-lai.
Begitu pula Yim hong-peng juga menampilkan rasa kagum serupa pertama kalinya melihat Lamkiong Peng dahulu.

Kedua kacung segera bergerak juga hendak mengadang Tong-jit-thian dan Na Lok-thian, tapi mendadak bayangan hitam berkelebat, seorang kakek kurus tinggi dengan muka kaku dingin berdiri di depan mereka, sorot matanya tajam menimbulkan rasa ngeri orang.

Pelahan si kakek bertali hitam mengangkat tangannya, kedua kacung itu terkesiap dan tanpa terasa menyurut mundur setindak, sorot mata mereka sama menatap tangan si kakek kurus kering dan hitam ini.

Tak terduga tangan si kakek hanya terangkat saja dan tidak bergerak lagi. Wajahnya juga tetap kaku tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, hanya sorot matanya yang mencorong tajam tetap menatap kedua kacung itu. Sorot matanya seperti membawa semacam daya gaib yang sukar dilukiskan sekalipun Yim hong-peng juga terkesiap demi beradu pandang dengan sorot mata aneh itu, diam-diam ia heran, “Aneh apakah sorot matanya itu pun mengandung semacam kungfu mujizat?”

Tiba-tiba teringat olehnya ada semacam kungfu istimewa sudah lama menjadi dongeng di dunia kangouw, tanpa terasa ia memendang ke sana, dilihatnya muka kedua kacung itu pucat pasi, keempat biji matanya yang besar terbelalak lebar, tapi kaku tak bergerak melainkan Cuma menatap telapak tangan si kakek yang hitam itu. Setiap kali si kakek melangkah maju setindak, seperti kena sihir, setiap kali pula kedua kacung itu pun menyurut mundur setindak.

Berulang si kakek mendesak maju tiga tindak dan kacung itu pun mundur tiga tindak, dengan suara aneh si kakek berkata pelahan, “Berdiri saja di sini dan jangan bergerak.”
Benar juga, kedua kacung itu lantas berdiri termenung tanpa bergerak, hanya mata melotot dan muka bertambah pucat.
“Hari sudah hampir gelap, tidurlah!” ucap pula si kakek.

Serentak kedua kacung itu berbaring di tanah dan memejamkan mata, seperti tidur benar-benar.
Lalu si kakek bertali hitam membalik tubuh, sorot matanya mendadak tertuju ke muka Yim hong-peng.

Yim hong-peng cukup cerdik, cepat ia menunduk dan berucap, “Lihai benar kungfu Locianpwe.”

“Ah, kan kedua anak kecil ini memang penurut, terhitung kungfu apa?” ujar si kakek ketus. Kedua matanya meram melek dan tidak kelihatan hendak bertindak sesuatu.

Diam-diam Yim hong-peng membatin, “Sudah lama tersiar di dunia kangouw tentang kawanan elang ini, katanya elang hitam dingin, elang hijau sombong, elang biru bicara lembut, elang merah pemarah, elang kuning dan ungu latah dan nyentrik, bila melihat elang putih kawanan elang sama tertawa. Tampaknya elang hitam ini memang betul dingin luar biasa sesuai namanya Leng Ya-thian (malam sedingin)

Dalam pada itu tiba-tiba terlihat asap putih tipis merembes keluar dari permukaan bumi dan melingkar di sekitar kaki semua orang, lambat laun asap putih ini buyar ke berbagai penjuru. Seketika terbeliak matanya, tersembul semacam senyuman aneh pada ujung mulutnya. Waktu ia memandang ke sana, pertarungan di halaman sana telah bertambah sengit.

Kelihatan elang kuning Wi leng-thian bergerak kian kemari dnegan ilmu pukulan yang kuat sehingga si gelang terbang Wiki tampak kewalahan..

Meski ilmu silat Wiki tergolong jago kelas satu dunia kangouw, tapi sekarang dia harus memikirkan akibat lebih lanjut dari pertarungan ini, sebab itulah dia tidak berani menyerang sepenuh tenaga sehingga dia lebih banyak bertahan daripada menyerang.

Dalam sekejap saja belasan jurus sudah berlangsung pula, dia mulai kepayahan, ia membentak, “Sesungguhnya ada urusan apa Boh-liong-ceng dan Jit-eng-tong kalian, kenapa kalian mendesak orang secara keterlaluan?”
Elang kuning mendengus, “Hm, Jit-te kami terluka di tempatmu, Lamkiong Peng diuber-uber kalian, apakah semua ini bukan permusuhan?”

Air muka Wiki berubah, cepat ia berputar menghindarkan sekali pukulan, lalu ia balas menghantam untuk mendesak mundur lawan sambil membentak, “Kau bilang Lamkiong peng?……..Jadi kedatangan kawanan elang ke wilayah berat sekali ini adalah karena Lamkiong Peng?”

“Betul,” jengek elang kuning sambil mengelak, mendadak sebelah kakinya menendang ke perut lawan.

Namun telapak tangan Wiki lantas memotong ke bawah untuk menabas pergelangan kaki musuh, meski dia enggan bermusuhan dengan kawanan elang dari Jit-eng-tong, tapi timbullnya juga rasa gemasnya setelah berulang di desak, gerak serangannya sekarang pun tidak kenal ampun lagi.
Namun elang kuning segera berputar lagi ke samping, telapak tangan lantas menabas iganya. Serangan ini sangat cepat dan tampaknya sukar dihindari, Wiki menjadi nekat, berbareng ia pun menghantam perut elang kuning, pukulan dasyat dan sama cepatnya, tampaknya kedua orang akan sama-sama roboh.

Melihat itu elang hitam Leng Ya-thian terkesiap, cepat ia memburu maju, tapi Yim hong-peng sudah mendahuluinya melompat maju, kedua tangannya bekerja sekaligus sehingga kedua orang tertolak mundur.

Berbareng elang kuning Wi leng-thian dan si gelang terbang Wiki tergetar mundur beberapa langkah. Cara melerai Yim hong-peng ternyata tidak pilih kasih.

Elang hitam Leng Ya-thian melenggong dan tidak jadi turun tangan. Mestinya ia siap menghantam punggung Yim hong-peng, sebab disangkanya cara orang memisah pasti tidak adil. Tapi dia ternyata salah duga, untung di sempat mengurungkan serangannya.
Dilihatnya Yim hong-peng lagi melirik padanya dan berkata, “Cayhe juga Cuma menjadi tamu Boh-liong-ceng saja.”

“Oo!?………Leng ya-thian melenggak, meski air mukanya tetap kaku dingin, namun sikapnya sudah lain.

Sementara itu pertarungan elang kuning dan Wiki tetap berlangsung dengan sengitnya. Keenam ekor elang yang mengitar di udara tadi kini sudah hinggap di pendopo dengan sayap terpentang dan kelihatan gagah sekali.

Giok he berdiri dekat serambi, ia coba melirik elang putih Pek Kui-thian yang asyik mengurut si elang merah, katanya dengan gegetun, “Ai, Ban-li-liu-hiang Yim tai-hiap ini memang seorang tokoh cerdik, dia selalu nongkrong di atas pagar dan mengikuti arah angin, selamanya tidak mau rugi.”

Maski tidak keras suaranya, tapi cukup jelas didengar Pek Kui-thian.

Tiba-tiba Ciok Tim ikut bicara, “Tak tersangka orang she Cian ini memiliki ilmu silat setinggi ini, padahal usianya juga baru 20-an……..Ai, tak terduga di dunia persilatan memang ada jalan cepat untuk mencapai tingkatan yang sempurna.”

Giok he tersenyum, ia melirik lagi ke arah Cian Tong-lai, dilihatnya pemuda yang datang dari puncak tertinggi Kun-lun-san itu sedang berputar di sekitar elang biru Na Lok-thian dan elang ungu Tong jit-thian serta elang hitam Leng Cin-thian, sampai sekarang belum nampak dia akan kalah meski satu melawan tiga.”

Padahal nama Jit-eng-tong menggetarkan dunia kangouw dan disegani baik kalangan pek-to maupun golongan hek-to, kawanan elang sudah tentu mempunyai kungfu andalan yang lain daripada yang lain.

Meski sejak tujuh tahun yang lalu kawanan elang itu sudah cuci tangan dan mengasingkan diri, segenap cabang perusahaan pengawalan yang tersebar di berbagai propinsi itu serentak dikukut kembali ke kantor pusat Jit-eng-tong di Kanglenghu, sejak itu tidak pernah lagi kelihatan kawanan elang itu berkecimpung di dunia kangouw.

Tapi sekarang ketujuh bersaudara elang ini mendadak muncul di sini, kepandaian mereka ternyata belum lapuh mengikuti usia mereka yang tambah lanjut. Bahkan watak berangasan sebagian elang itu pun tidak berubah.

Begitulah Cian Tong-lai sendirian melawan ketiga ekor elang dan tetap tidak kelihatan bakal kecundang, bayang pukulannya menyambar kian kemari, sekilas pandang seolah-olah mempunyai berpuluh tangan. Tampaknya dia menghantam elang biru,tahu-tahu pukulannya berbalik menuju si elang hijau. Dan selagi elang biru merasa longgar, tahu-tahu angin pukulan yang dahsyat menyambar ke arahnya lagi.

Meski ilmu pukulan sakti Kun-lun-pai sudah lama termashur di dunia persilatan, tapi jurus pukulan yang digunakan Cian Tong-lai sekarang jelas bukan ilmu pukulan Kun-lun-pai biarpun yang hadir sekarang rata-rata adalah tokoh Bulim terkemuka, namun tiada seorang pun kenal asal usul ilmu pukulannya.

Tiba-tiba Giok he bersuara terkejut pelahan dengan alis bekernyit. Waktu elang putih Pek Kui-thian meliriknya dan melihat air muka orang yang terkejut itu, seketika timbul rasa curiganya.

Sementara itu diantara pepohonan di dalam halaman entah mulai kapan telah timbul lagi kabut remang putih sehingga cahaya matahari seakan-akan menjadi guram.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: