Kumpulan Cerita Silat

27/02/2008

Pendekar Empat Alis

Filed under: Gu Long, Pendekar Empat Alis — ceritasilat @ 6:44 am

Pendekar Empat Alis
Buku 5: Keajaiban Pulau Es (01)
Oleh Gu Long

Rahasu, negeri yang hendak dituju oleh Liok Siau-hong terletak di selatan Siang-hoa-kang, sungai bunga cemara. Sungai yang terletak di ujung utara, berbatasan dengan daerah yang kini dikenal sebagai Siberia.

Arti Rahasu adalah Lau-ok atau rumah tua, suatu tempat dingin dan terpencil, setiap tahun bila sudah menginjak bulan kesembilan, sungai itu lantas beku, sampai Jing-beng pada bulan keempat tahun berikutnya barulah air sungai akan cair lagi. Sungai terbeku selama tujuh bulan, jadi selama setahun sungai itu lebih lama dalam keadaan beku daripada cair.

Akan tetapi selama tujuh bulan itu tidaklah menyusahkan. Sesungguhnya, penduduk Lau-ok malahan selalu menantikan masa bekunya sungai selama tujuh bulan itu, sebab dalam jangka waktu selama itu kehidupan mereka justru akan lebih menarik, lebih banyak gaya ragamnya.

“Sesungguhnya di mana letak Rahasu?”

“Di atas Siong-hoa-kang.”

“Masa di atas sungai ada kota?”

“Bicara sesungguhnya, letaknya tidak di atas sungai, tapi di atas es.”

“Di atas es?” Siau-hong tertawa oleh keterangan Jo-jo itu. Meski sudah sangat banyak pengalamannya yang aneh-aneh, tapi kota di atas es belum pernah dilihatnya.

Orang yang tidak pernah berkunjung ke Rahasu memang sulit untuk mempercayai hal ini. Tapi Rahasu memang betul-betul terletak di atas es. Permukaan sungai itu tidak terlalu luas, cuma dua-tiga puluh tombak saju, tapi pada waktu air sungai membeku, tebal esnya belasan kaki.

Orang yang sudah lama berdiam di ‘rumah tua’ itu kebanyakan mempunyai firasat sebelumnya bilamana sungai akan membeku. Seakan ikan dari hembusan angin sudah dapat tercium berita akan terbekunya air sungai, dari alunan air sungai pun dapat diketahui waktunya air sungai akan membeku.

Maka beberapa hari sebelum sungai membeku, penduduk lantas melemparkan kerangka kayu yang sudah disiapkan ke dalam sungai dan diikat erat-erat dengan tali sehingga serupa imigran zaman purba membuat batas wilayah masing-masing di ladang belukar. Setelah air sungai membeku, permukaan sungai lantas berubah menjadi sebuah jalan raya kristal yang panjang lengang dan bercahaya kemilau.

Saat itu kerangka kayu yang semula terapung di permukaan sungai juga terbeku dan seakan-akan tonggak beton yang kuat. Lalu di atas kerangka kayu ditambah dengan belandar, usuk dan diberi alap dan bergeming, dapat juga dibuat dinding dengan pasir diaduk air, cukup semalam saja bangunan baru inipun akan mengeras serupa batu.

Dan begitulah beraneka macam rumah lantas berderet-deret dibangun di atas sungai. Hanya dalam waktu beberapa hari saja tempat ini pun berubah menjadi sebuah kota yang sangat ramai, bahkan kereta besar ditarik delapan kuda juga dapat berlarian di jalan raya

Berbagai toko dengan aneka macam usaha juga mulai buka. Meski di luar rumah suhu sangat dingin, air menetes segera beku menjadi es, namun di dalam rumah terasa hangat seperti pada musim semi.
Tentu saja Siau-hong tidak mengerti dan merasa seperti dongeng saja. Sementara di dalam rumah es itu masa hawa bisa sehangat musim padahal di luar tetesan air saja segera membeku, hidung pun bisa terlepas bila ditarik.

“Sebab dalam rumah dapat dihuni api,” demikian Jo-jo bertutur.

“Membuat api di atas es?”

“Betul”

“Dan esnya bagaimana?”

“Esnya tetap es, sedikit pun tidak cair.”

Maklumlah, kalau di mana-mana es melulu, meski setitik bagian es itu cair, dengan segera akan beku lagi. Dan sungai yang membeku itu baru akan cair pada musim Jing-beng tahun berikutnya, sebelum itu orang sudah pindah ‘rumah” ke daratan.

Yang tersisa cuma kerangka kayu dan barang tak berguna yang ikut terhanyut oleh gumpalan es. Maka kota yang ramai di atas es itu pun lenyap dalam waktu singkat sehingga serupa dalam dongeng atau impian saja.

Dan sekarang adalah waktunya sungai membeku, sesungguhnya saat ini juga merupakan waktu yang paling dingin dalam setahun. Dan pada saat inilah Liok Siau-hong tiba di Rahasu.
Dengan sendirinya dia tidak datang sendirian, sebab kedudukannya sekarang sudah berlainan, bahkan wajahnya juga sudah berubah.

Kecuali kumisnya yang serupa alis itu, di bawah janggutnya bertambah lagi secomot jenggot. Perubahan ini tidak terlalu besar bila terjadi pada orang lain, Tapi bagi Liok Siau-hong tentu saja tidak sama, sebab semula dia adalah orang yang “beralis empat”. sekarang cirinya yang khas itu telah ditutup oleh kelebihan secomot jenggot itu. Dengan demikian kelihatannya dia telah berubah jadi orang lain, berubah menjadi Kah Lok-san, itu hartawan yang paling kaya-raya di daerah Kanglam.

Biasanya lagak Siau-hong memang bukan orang kecil, apalagi sekarang ia membawa serombongan pengiring, membawa mantel kulit yang bernilai tinggi dan berada di dalam kereta besar yang mewah, kelihatannya memang benar seorang maha hartawan. Dan Jo-jo yang cantik, dengan memakai mantel berbulu perak, seperti seekor merpati yang jinak berdekapan di sampingnya.

Anak perempuan ini kadang suka gila-gilaan, angin-anginan, terkadang justru sangat jinak, sangat penurut. Bahkan terkadang seperti setiap saal siap akan naik ranjang bersamamu. Tapi bilamana engkau benar-benar hendak menyentuhnya, seketika dia akan berubah menjadi mawar berduri yang menyakiti jarimu.

Liok Siau-hong juga tidak terkecuali menghadapi nona ini, sebab itulah selama beberapa hari ia selalu masgul. Maklum, Liok Siau-hong adalah seorang lelaki normal dan sehat, jika siang dan malam selalu dirangsang o]eh anak perempuan secantik ini, tapi pada waktu dia membutuhkan, terpaksa dia hanya melongo memandang langit, tentu saja hatinya kesal tak keruan.

Dalam pada itu, Swe-han-sam-yu masih menguntit dari kejauhan dan tidak pernah mengganggu kebebasannya. Satu-satunya tujuan mereka hanya berharap Liok Siau-hong dapat menemukan Lo-sat-pay bagi mereka, untuk itu apakah Liok Siau-hong akan berubah menjadi Kah Lok-san atau berubah menjadi Kau-ce-thian juga masa bodoh, sama sekali mereka tidak peduli.

Dipandang dari kejauhan, jalan raya kristal yang kemilau itu sudah terlihat jelas. Jo-jo menghela napas perlahan, katanya, “Perjalanan ini akhirnya dapatlah kita selesaikan.”

Siau-hong juga menghela napas, ia tahu betapa sulit dan panjangnya perjalanan, pada suatu saat akhirnya pasti akan tercapai. Kini melihat tempat tujuan sudah di depan mata, hatinya terasa gembira sekali.

Pengendara kereta juga lantas bersemangat dan mempercepat lari kudanya, hidung kuda menyemburkan kabut dan buih putih mengucur dari mulut.

Dari jauh kelihatan deretan rumah di sepanjang jalan raya kota es itu.

Tidak lama kemudian, malam pun tiba.

Di negeri yang jauh dan dingin ini, malam seolah-olah datang terlebih cepat dan sangat mendadak. Jelas tadi senja belum lagi tiba, tahu-tahu cuaca sudah gelap dan malam menyelimuti bumi.

Jalan raya kristal yang kemilau itu pun berubah kelam, maka lampu lantas menyala di kanan kiri jalan. Kota yang kelihatan tenggelam dalam kegelapan mendadak berubah menjadi gilang-gemilang lagi.

Cahaya lampu menimpa permukaan es dan menimbulkan sinar pantul yang menyilaukan sehingga tampaknya kota itu penuh istana kristal yang berderet-deret di atas dunia kaca. Barang siapa pertama kali melihat pemandangan seperti ini tentu akan silau dan terpesona. Siau-hong tidak terkecuali.

Sepanjang jalan dia sudah banyak merasakan pahit getir, bahkan beberapa kali nyawanya hampir melayang. Tapi dalam sekejap ini, tiba-tiba ia merasa segala macam penderitaan itu cukup berharga baginya. Kalau sang waktu dapat diputar balik dan mengembalikan dia ke kasino ‘pancing perak, sana dan dia disuruh memilih, maka tanpa sangsi dia bersedia mengulanginya satu kali lagi.

Pengalaman yang pahit dan sulit bukankah dapat menambah bekal kehidupan manusia dan membuatnya lebih masak? Agar dapat menemukan kegembiraan dan kebahagiaan yang sesungguhnya, bukankah harus membayar imbalannya dengan jerih payah?

Liok Siau-hong menghela napas perlahan, katanya kemudian. “Sungguh kota yang ajaib dan indah.”
Jo-jo hanya mengiakan dengan tersenyum.

Pasar malam kota es ini sama ramainya dengan kota-kota di tempat lain. Di bawah cahaya lampu yang gilang-gemilang, biar pun bagian yang paling ramai di kotaraja juga tidak dapat melebihinya.

Jalan raya tidak sempit dengan macam-macam toko di kedua tepi jalan, orang berlalu lalang dengan kereta kuda yang hilir-mudik. Suara hiruk-pikuk berkumandang dan rumah minum dan restoran.

Setiba di jalan ini, yang menarik perhatian Siau-hong pertama-tama adalah sebuah rumah minum (arak) dengan papan merek yang tertulis ‘Thay-pek-ih-hong’ atau warisan Thay-pek (Li Thay-pek penyair besar yang gemar minum arak). Di depan pintu rumah minum itu berdiri seorang nona berbaju kulit dan sedang memandangnya dengan tersenyum-senyum.

Nona ini tidak terlalu cantik, tapi sangat manis senyumannya dan menggiurkan. Mukanya yang bulat dengan dekiknya waktu tersenyum sungguh sangat menarik, nona ini terus menatap Liok Siau-hong dengan lirikan matanya yang memikat.

Tiba-tiba Jo-jo menjengek, “Tampaknya dia tertarik padamu.”

“Hakikatnya aku tidak kenal dia,” ujar Siau-hong.

“Dengan sendirinya tidak kau kenal dia, tapi kukenal dia,” kata Jo-jo.

“Oo?!” Siau-hong ingin tahu.

“Dia she Tong, lengkapnya Tong Ko-king, setiap orang merasa dia sangat menarik dan dapat didekati, tampaknya kau pun tidak terkecuali.

Siau-hong tertawa. “Agaknya tak sedikit pengetahuanmu atas dirinya.”

“Tentu saja.” sahut Jo-jo.

“Tapi dia seperti tidak kenal dirimu?”

Jo-jo berkedip-kedip, katanya, “Coba kau terka, cara bagaimana kukenal dia?”

“Aku tidak dapat menerka, juga malas untuk menerka,” kata Siau-hong

“Cara bekerja Kah Lok-san biasanya sangat cermat,” tutur Jo-jo. “Sebelum kemari, lebih dulu mereka berempat sudah diselidikinya dengan jelas, bahkan minta orang melukiskan wajah mereka.”

Siau-hong berkerut kening, “Memangnya nona ini juga salah seorang dari keempat perempuan yang dibuang oleh si jenggot biru?”

Jo-jo mengangguk, “Ya, dia terhitung bini muda kedua si jenggot biru.”

Tanpa terasa Siau-hong berpaling memandangnya lagi, tetapi ada seorang perempuan lain, yang terlihat olehnya.

Perempuan ini baru saja keluar dari toko obat di seberang sana dan masuk ke rumah minum Tong Ko-king. Berbaju hitam dan berperawakan kurus kecil. Mukanya selalu dingin dan bersungut, serupa setiap orang di dunia ini sama berhutang padanya dan tidak membayar.

Cara bagaimana pun memandangnya jelas perempuan ini bukanlah perempuan yang menimbulkan simpatik. Tapi dia justru sangat menarik perhatian. Dia dan Tong Ko-king jelas dua jenis model perempuan yang berbeda, tapi keduanya justru bersahabat, bahkan tampaknya sangat karib.

“Apakah kau pun menaksir perempuan ini?” tanya Jo-jo.

“Aku kan tidak kenal dia?” Siau-hong menyengir.

“Tapi aku kan kenal dia,” kata Jo-jo. “Memangnya dia juga….”

“Ya, dia juga bini muda si jenggot biru, bini muda ketiga, she Leng dan bernama Hong-ji.”

Siau-hong menghela napas. “Si jenggot biru sungguh seorang aneh, setelah dia mengambil bini muda semanis Tong Ko-king, mengapa menambah lagi bini muda yang bermuka dingin begini?”

“Orang bermuka dingin tentu juga ada baiknya.” ucap Jo-jo dengan hambar. “Jika tidak percaya, kalau ada kesempatan boleh kau coba-coba dia.”

Tanpa terasa Siau-hong menoleh lagi ke sana, tapi yang terlihat olehnya adalah dua orang lelaki menggotong seorang yang patah kakinya ke depan toko obat sana dan sedang berteriak, “Adakah tabib Leng di rumah? Mohon memberi pertolongan, lekas!”

Kiranya Leng Hong-ji itu adalah seorang tabib ahli penyakit luar, juga juragan toko obat itu sendiri.

Siau-hong tertawa, katanya, “”Sungguh tak kusangka, dia ternyata masih mempunyai kepandaian demikian.”

“‘Tidak cuma demikian saja, dia masih mempunyai beberapa kepandaian lain,” jengek Jo-jo.

Siau-hong tak dapat bicara lagi. Ia merasa di dunia ini mungkin ada perempuan yang tidak makan nasi, tapi pasti tidak ada perempuan yang tidak minum cuka (cemburu).

Tapi Jo-jo lantas tertawa, ucapnya sambil berkedip. “Padahal, di antara keempat bini muda si jenggot biru, yang paling cantik tetap bini pertama, Tan Cing-cing.”

“Tan Cing-cing?

Liok Siau-hong pernah mendengar nama ini.

“… Kebanyakan penduduk Rahasu berpikiran sempit, selalu mencurigai setiap pendatang baru. kecuali dua orang, apa yang dikatakan siapa pun jangan kau percaya … yang seorang bernama si Kambing tuat bekas pegawai mendiang ayahku, dan seorang lagi bernama Tan Cing-cing …”

Begitulah ia lantas teringat kepada pesan Ting-hiang-ih tempo hari. Sungguh tak tersangka olehnya bahwa Tan Cing-cing juga bini si Jengot Biru.

Jo-jo meliriknya sekejap, ucapnya pula, “Jika kau ingin melihat dia, dapat juga kubawa kau ke sana.”

“Kau tahu tempat tinggalnynya? tanya Siau-hong tak tahan.

“Dia adalah komplotan Li He, tentu tinggalnya di dalam kasino dan membantu Li He.

“Kasino? Kasino apa?” tanya Siau-hong.

“Kasino Pancing Perak.

“Di sini juga ada sebuah kasino bernama Pancing Perak?

Jo-Jo mengangguk, “Li He telah berjanji dengan kami untuk bertemu di rumah judi Pancing Perak ini.”

Siau-hong tidak bertanya lagi, sebab sudah dilihatnya sebuah kail perak yang mengkilat sedang bergoyang-goyang tertiup angin.

Pintu rumah judi ini tidak lebar, kail perak yang tergantung di bawah papan merek itu bergoyang memantulkan cahaya gilap.

Siau-hong mendorong pintu dan masuk ke dalam rumah yang terasa hangat seperti di musim semi. Ia menanggalkan mantel kulitnya dan dilemparkan di atas kursi di belakang pintu, lalu menarik napas dalam-dalam.

Hawa di dalam rumah terasa menyesakkan napas, ada bau tembakau, bau arakt bau bedak dan bau minyak wangi…

Hawa semacam ini tidak cocok bagi orang yang hendak menarik napas dalam-dalam, bau semacam ini sudah sangat dikenal oleh Liok Siau-hong.

Ucapan Sukong Ti-seng memang tidak salah, Liok Siau-hong memang betul lebih sesuai berada di tempat-tempat demikian.

Dia suka foya-foya. suka rangsangan, suka kenikmatan, meski semua ini adalah kelemahannya, tapi ia sendiri tidak pernah menyangkalnya.

Setiap manusia kan punya titik kelemahan? Kemegahan kasino ini memang tidak dapat menandingi kasino Pancing Perak yang dikelola sendiri oleh si jenggot biru itu, penjudinya juga tidak berjubal seperti di sana, namun meski kecil burung pipit, isi perutnya cukup lengkap. Segala macam ragam alat judi, semuanya tersedia di sini.

Siau-hong tidak menunggu Jo-jo merangkul lengannya, segera ia mendahului masuk ke situ dengan membusungkan dada.

Ia tahu setiap orang sedang memperhatikan dia, melihat pakaiannya, melihat gayanya, melihat gerak-geriknya, siapa pun dapat melihat pendatang ini pasti seorang tamu besar yang berkantung tebal, seorang ‘cukong’.

Dan biasanya mata ‘cukong’ suka memandang ke atas daripada melihat ke bawah, sebab itulah kepala Liok Siau-hong juga menegak dan tidak sudi memandang ke arah lain. Tapi dia justru dapat melihat seorang sedang mendekatinya dengan tersenyum.

Siau-hong tidak khusus memperhatikan seseorang, akan tetapi bentuk orang ini terasa sangat aneh baginya. Dandanannya terlebih aneh, sampai Siau-hong yang sudah berpengalaman juga merasa heran terhadap makhluk aneh ini.

Orang ini memakai jubah satin merah yang sangat longgar, di atas jubah penuh tersulam macam-macam bunga, ada yang berwarna kuning, biru dan ada juga hijau.

Yang paling ajaib adalah topi hijau yang dipakainya itu, topi hijau yang lancip dan tinggi, pada topi itu tersulam pula enam huruf besar berwarna merah dan berbunyi ‘Thian-he-te-it-sin-tong’.

‘Thian-he-te-it-sin-tong atau anak ajaib nomor satu di dunia.

Siau-hong tertawa, dengan sendirinya ia tahu siapa “orang ini, jelas orang inilah adik kesayangan Li He yang bernama Li Sin-tong, si anak ajaib.

Melihat Siau-hong tertawa, Li Sin-tong juga tertawa, tertawa linglung dan seperti orang kurang waras, dengan langkah berlenggang kangkung ia mendekati Siau-hong, dengan gaya seperti orang perempuan dia memberi salam kepada tamunya dan menyapa. “Selamat datang!”

Siau-hong mengangguk dengan menahan rasa geli.

“Siapa she Anda yang mulia?” tanya Li Sin-tong.

“Kah,” jawab Siau-hong,

Li Sin-tong memicingkan mata dan mengamati Siau-hong dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas, lalu bertanya pula, “Kah-heng datang dari daerah lain?”

“Ehhmm,” Siau-hong mengangguk.

“Entah Kah-heng suka bertaruh jenis apa? Apa Lah Pai-kiu? Dadu? Atau main ganjil dan genap?” tanya Li Sin-tong pula.

Bentuknya kelihatan sinting, tapi cara bicaranya ternyata cukup jelas.

Siau-hong tidak sempat buka mulut, sebab dari belakang sudah ada orang mewakilinya menjawab.

“Kedatangan juragan Kah kita ini bukan untuk berjudi melainkan hendak mencari orang.”

Suaranya lembut dan merdu, jelas suara orang perempuan, tapi bukan suara Jo-jo melainkan seorang perempuan yang kelihatan lemah lembut dan berwajah cantik. Jo-jo berdiri di belakang perempuan ini dan sedang mengedipi Liok Siau-hong.

Siau-hong pikir jangan-jangan perempuan inilah Tan Cing-cing?

Tanpa memperlihatkan sesuatu tanda ia berkata, “Jika kau tahu kudatang untuk mencari orang, tentunya kau pun tahu siapa yang hendak kucari?”

Perempuan itu memang betul Tan Cing-cing. Ia mengangguk dan berkata, “Mari ikut padaku!”

ooo000ooo

Di belakang rumah judi itu terdapat pula sebuah rumah kecil yang terpajang sangat indah, tapi tiada kelihatan seorang pun di situ.

Siau-hong duduk di atas kursi bambu besar yang berlapiskan kulit rase. “Di mana Li He?” segera ia bertanya.

“Dia tidak berada di sini,” jawab Tan Cing-cing.

Seketika Siau-hong menarik muka, omelnya, “Jauh-jauh kudatang mencari dia, mengapa dia tidak ada?”

Tan Cing-cing tertawa, lembut sekali tertawanya, ucapnya dengan halus, “Justru lantaran dia tahu akan kedatangan Kah-loaya, makanya dia tidak berada di sini.”

“Memangnya apa artinya ini?” tanya Siau-hong dengan marah.

“Sebab untuk sementara ini dia belum dapat bertemu dengan Kah-toaya.”

“Apa alasannya?”

“Dia minta kusampaikan pada Kah-toaya, asalkan Kah-toaya dapat melakukan sesuatu, maka bukan saja segera dia akan muncul untuk minta maaf kepada Kah-toaya, bahkan datang dengan membawa Lo-sat-pay.”

“Urusan apa yang dimaksudkannya?”

“Dia berharap Kah-toaya menyerahkan dulu uangnya kepadaku setelah kuantarkan uang ini kepadanya dan segera dia akan datang kemari.”

Siau-hong sengaja menggebrak meja dan berteriak, “Hah, apa-apaan, belum lihat barangnya sudah minta bayaran!?”

Tan Cing-cing tetap tertawa lembut, katanya, “Dia juga memberi pesan agar disampaikan kepada Kah-toaya, bahwasanya bilamana Kah-toaya tidak dapat menerima syaratnya, maka bisnis ini dianggap batal.”

Mendadak Siau-hong berbangkit, tapi lantas berduduk pula perlahan.

“Menurut pendapatku, akan lebih baik Kah-toaya menerima syaratnya ini,” ujar Tan Cing-cing dengan tersenyum. “Sebab Lo-sat-pay sudah disembunyikan di suatu tempat yang sangat rahasia dan aman. Kecuali dia sendiri tidak ada orang kedua yang tahu. Jika dia tidak mau mengeluarkannya, orang lain pasti tidak mampu menemukannya.”

Gemerdap sinar mata Liok Siau-hong, “Apakah dia kuatir kupaksa dia menyerahkan Lo-sat-pay, maka begitu kutiba di sini dia lantas bersembunyi?”

Tan Cing-cing hanya tersenyum saja dan tidak menyangkal.

“Memangnya dia tidak takut kutemukan dia?” jengek Siau-hong.

“Engkau tak dapat menemukan dia,” ujar Tan Cing-cing dengan tertawa. “Jika dia tidak suka bertemu dengan orang, siapa pun tidak dapat menemukan dia.”

Meski tertawanya sangat lembut, tapi sorot matanya penuh rasa yakin atas ucapannya itu, tampaknya dia juga seorang perempuan yans berpendirian teguh, bahkan yakin orang lain pasti tidak mampu menemukan tempat sembunyi Li He.

Siau-hong memandangnya lekat-lekat, jengeknya, “Seumpama tidak dapat kutemukan dia, tentu ada caraku untuk menyuruhmu mencari dia bagiku.”

Tan Cing-cing tersenyum dan menggeleng, katanya. “Dengan sendirinya kutahu cara Kah-toaya pasti sangat hebat. Cuma sayang, aku tidak tahu di mana Lo-sat-pay itu disimpan, juga tidak tahu ke mana Li-toaci pergi. Kalau tidak, masakah dia meninggalkan diriku di sini?”

Sikapnya tetap sangat tenang, suaranya juga halus, siapa pun percaya ucapannya itu pasti tidak berdusta.

Siau-hong menghela napas, “Wah, jika demikian, tampaknya kalau ingin kudapatkan Lo-sat-pay, mau tak mau harus kuterima syaratnya ini?”

Cing-cing juga menghela napas, “Ai Li-toaci memang seorang perempuan yang sangat cerdik dan cermat, kami juga…..”

Dia tidak melanjutkan, juga tidak perlu menyambung, sebab dari helaan napasnya sudah dapat diketahui tentu mereka pun banyak merasakan pahit getir atas perlakuan Li He.

Siau-hong berpikir sejenak, katanya kemudian, “Tetapi kalau sudah kubayar dan dia ternyata tidak menyerahkan barangnya?”

“Untuk ini pun tak dapat kuberi jaminan apa-apa,” sahut Cing-cing. “Sebab itulah boleh Kah-toaya mempertimbangkannya lebih masak. Kami sudah menyediakan tempat tinggal bagi Kah-toaya.”

‘Tidak perlu,” mendadak Siau-hong terbangkit. “Aku dapat mencari tempat tinggal sendiri.”

“Tapi Kah-toaya baru pertama kali datang ke sini, belum ada seorang kenalan pun, cara bagaimana akan dapat mencari tempat tinggal?”

Siau-hong melangkah pergi, ucapnya sambil mendongak dengan lagak angkuh, “Meski aku tidak punya kenalan, tapi aku punya uang!”

Jo-jo selalu berada di samping Siau-hong, begitu keduanya keluar dari kasino “Pancing Perak”, segera Jo-jo bertepuk tangan memuji, “Bagus, sungguh hebat sekali !”

“Urusan apa kau bilang bagus?” tanya Siau-hong. “Sikapmu yang pongah itu sungguh sangat bagus,” ujar Jo-jo. “Sungguh mirip benar seorang cukong besar berkantung tebal.”

“Padahal kutahu pribadi Kah Lok-san sangat pendiam dan culas, tidak nanti berlagak OKB (orang kaya baru) seperti diriku tadi.” kata Siau-hong sambil menyengir. “Cuma aku memang tidak dapat berlagak lain.”

“Lagakmu itu sudah cukup bagus,” ujar Jo-jo dengan tertawa. “Jika aku tidak kenal Kah Lok-san, tentu aku pun gentar kau gertak.”

“Akan tetapi Tan Cing-cing tampaknya tidak sederhana, apalagi Li He, pasti terlebih lihai, apakah dapat kugertak dia?”

“Padahal bukan soal apakah dapat menggertak dia atau tidak,” kata Jo-jo. “Toh yang dikenalnya cuma uang dan bukan manusianya.”

Siau-hong tertawa dan tak bicara lagi, ia sedang berpikir, “Tan Cing-cing sudah kulihat, dalam keadaan begini dengan sendirinya tidak dapat kuberitahukan diriku yang sebenarnya kepadanya, lebih-lebih tak dapat kukatakan dia adalah sahabat karib Ting-hiang-ih.” Lantas bagaimana dengan seorang lagi, yaitu si Kambing Tua?

Pada saat dia mulai memikirkan si Kambing Tua, mendadak seorang di depak keluar dari sebuah rumah minum, “bruk”. Orang itu terbanting di atas tanah es dan meluncur dua-tiga tombak jauhnya dan tepat berhenti di depan Liok Siau-hong.

Orang ini memakai jaket kulit kambing dengan terbalik, kepala bertopi kulit kambing, di atas topi bahkan dihiasi dua tanduk kambing, mukanya kurus kering, pucat lagi keriput ditambah lagi jenggotnya ala bandot, maka wujudnya benar-benar serupa seekor kambing tua.

Siau-hong memandangnya tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, bahkan berkedip saja tidak.
Kambing Tua itu terengah-engah dan meronta-ronta, sampai sekian lama baru merangkak bangun sambil mengomel. “Bedebah, biar pun Tuan Besar tidak gablek duit untuk minum arak, kan tidak pantas kawanan tikus semacam kalian ini mendepak orang sesukanya.

Sambil mencaci maki, dengan berincang-incut ia terus melangkah pergi. Dengan suara tertahan Siau-hong lantas berpesan kepada Jo-jo, “Suruh Sin-loji menguntit dia!”

Sin loji yang dimaksud adalah orang yang mahir menggunakan senjata rahasia itu, dia adalah anak murid mendiang Sin-cap-niocu yang dahulu terkenal sebagai ahli senjata rahasia itu.

Sedangkan si baju hitam yang berpedang antik itu she Pek, menurut urutannya dia nomor tiga, Losam. Mereka berdua dan si kakek dari Hoa-san-pay itu adalah saudara angkat. Lantaran dahulu pernah berbuat sesuatu kesalahan, ciri mereka ini terpegang oleh Kah Lok-san, terpaksa mereka rela menjadi anak buah Kah Lok-san, sudah tujuh-delapan tahun mereka merendahkan diri dan belum sempat melepaskan diri.

Cerita ini adalah penuturan mereka sendiri, Liok Siau-hong hanya mendengarkan saja, apakah dia percaya, entahlah!

Liok Siau-hong menyatakan akan mencari tempat tinggal sendiri, baginya persoalan ini memang bukan urusan sulit.

‘Thian-tiang-ciu-lau’, sebuah restoran di jalan raya ini, tidak perlu disangsikan lagi adalah restoran terbesar di kota ini, bangunannya diatur dengan sangat baik.

Sekarang rumah ini sudah menjadi milik Liok Siau-hong, hanya dengan beberapa patah kata saja jual beli sudah terjadi.

“Berapa keuntunganmu sehari?” demikian tanya Siau-hong. “Pada waktu ramai, belasan tahil perak sehari pasti masuk,” sahut si pemilik restoran.
“Nah, kubayar seribu tahil perak, berikan tempatmu ini kepadaku. Bila kupergi, rumah ini tetap menjadi milikmu. Jadi?” Tentu saja jadi, bahkan cepat sekali jadinya. Dan segera papan merek di depan rumah ditanggalkan, restoran pun tutup. Setengah jam kemudian, bahkan tempat tidur juga sudah tersedia.

Orang yang berduit memang serba gampang jika ingin berbuat sesuatu. Fasilitas yang paling menyenangkan adalah di sini memang sudah ada santapan dan arak, bahkan ada seorang koki yang tergolong lumayan.

Sambil berduduk di tepi perapian, beberapa cawan arak ditenggaknya, maka hampirlah Liok Siau-hong melupakan hawa dingin di luar yang dapat membikin hidung orang terlepas.

Setelah satu poci arak dihabiskan, dilihatnya Sin-loji telah kembali meski dia menggigil kedinginan, tapi hanya dapat berdiri jauh di ambang pintu dan tidak berani mendekati perapian.

Ia tahu bila mendadak dirinya mendekati perapian itu, bisa jadi seluruh tubuh bisa cair serupa es lilin kena panas. Bila ia masukkan kedua tangannya ke dalam air panas, waktu ditarik keluar mungkin tangannya akan tertinggal tulang belulang belaka.

Siau-hong menunggu setelah orang berganti napas barulah bertanya, “Bagaimana?”

Dengan gemas Sin-loji bertutur, “Tua bangka itu seharusnya tidak bernama Kambing Tua. tapi lebih tepat si rase tua.”

“Oo, apakah kau dikibuli dia?” tanya Siau-hong.

“Hm, sejak mula dia sudah mengetahui aku sedang menguntitnya, maka dia sengaja membawaku berputar-kayun kian kemari, akhirnya dia menoleh dan bertanya padaku apakah engkau yang menyuruhku menguntitnya?”

“Dan bagaimana jawabanmu?” tanya Siau-hong.

“Jika dia sudah tahu segalanya, apakah aku dapat menyangkal?”

“Sekarang dia berada di mana?”

“Lagi menunggumu di luar,” jawab Sin-loji.

“Dia bilang, peduli siapa dirimu, peduli apa kehendakmu mencari dia, jika engkau yang ingin mencari dia, maka harus kau sendiri yang menemui dia.”

Siau-hong menghela napas, ucapnya sambil menyengir. “Peduli dia Kambing tua atau bukan, peduli dia rase tua segala, tampaknya tulangnya cukup keras.”

Dan hasil penemuan mereka adalah Liok Siau-hong ikut pergi bersama si Kambing tua. Bandot itu berjalan di depan dengan mem busungkan dada dan Siau-hong mengintil di belakang.

Tampaknya bukan cuma tulangnya saja yang keras, kulitnya juga tebal, seperti tidak takut dingin sedikit pun.

Setelah meninggalkan jalan raya yang panjang ini, di depan sana adalah langit es dan bumi salju, lautan es yang keperak-perakan membentang luas ke depan, kedua tepi remang kelabu, apa pun tidak kelihatan.

Dari tempat yang terang benderang mendadak berada di tempat gelap gutita ini, tentu saja rasanya tidak enak.

Sebenarnya Siau-hong ingin tahu permainan apa yang hendak dilakukan si Kambing tua, tapi sekarang ia tidak sabar lagi, segera ia menegur, “Hei, hendak kemana kau bawa diriku?”

Tanpa menoleh si Kambing tua menjawab. “Hendak kubawa pulang ke rumah.”

“Untuk apa ke rumahmu?” tanya Siau-hong.

“Sebab engkau yang mencari diriku dan bukan diriku yang mencari engkau!”

Terpaksa Siau-hong mengaku kalah, tanyanya lagi dengan tersenyum getir, “Dimana letak rumahmu?”

“Di dalam gentong,” jawab si Kambing tua.

“Gentong itu tempat macam apa?”

“Gentong ya gentong, gentong air, masa tidak tahu?”

Liok Siau-hong melenggong.

Gentong yang dimaksud memang betul sebuah gentong tulen sebuah gentong air raksasa.

Hidup Liok Siau-hong sudah dua-tiga puluh tabun, tapi tidak pernah melihat gentong air sebesar ini. Padahal, jika dia tidak datang ke sini, biarpun dia hidup lagi dua-tiga ratus tahun juga takkan pernah melihat gentong air raksasa begini.

Gentong ini lebih dua tombak tingginya, tampaknya menjadi serupa sebuah rumah bulat, juga serupa tenda yang bundar. Tapi itu justru betul-betul sebuah gentong air sebab tidak berpintu tidak berjendela. Hanya bagian atas ada mulutnya yang lebar. Seutas tambang kelihatan terjulur dari atas.

Segera si Kambing tua merambat ke atas dengan tali itu, lalu ia menggapai dari atas, “Kau naik kemari tidak?”

“Untuk apa kunaik ke situ?” omel Siau-hong.

“Aku tidak haus, sekalipun ingin minum air juga tidak perlu kupanjat gentong ini.”

Walaupun di mulut dia menggerundel dia toh merambat juga ke atas.

Di dalam gentong ternyata tidak ada air, setetes pun tidak ada. Yang ada cuma arak. Sebuah kantung kulit kambing yang besar penuh terisi arak, dari baunya dapat diperkirakan arak ini sangat keras.

Si Kambing tua minum seceguk arak itu, matanya lantas bertambah terang malah.

Di dalam gentong penuh tertumpuk macam-macam kulit binatang yang tidak teratur, sambil memeluk sebuah kantung arak, si Kambing tua berduduk dengan santai, setelah menghembuskan napas, lalu ia berkata, “Pernah kau lihat gentong sebesar ini?”

“Tidak,” jawab Siau-hong.

“Pernah kau lihat diriku sebelum ini?”

“Tidak.”

“Tapi rasanya pernah kulihat dirimu.”

“Oo?” heran juga Siau-hong.

“Kau ini Kah Lok-san, Kah-toaya?”

“Ehmm,” Siau-hong mengangguk.

Mendadak si Kambing tua tertawa sambil menggeleng kepala, lalu berkata pula sambil memicingkan mata, “Kau bukan Kah Lok-san?”

“Aku bukan Kah Lok-san?”

Siau-hong menegas. “Ya, bukan, pasti bukan.” “Habis siapa diriku?”

“Peduli kau mengaku sebagai si Amat atau si Badu, yang jelas dan pasti engkau bukan Kah Lok-san, sebab dahulu pernah kulihat si tua bangka itu.”

Maka tertawalah Siau-hong.

Mestinya ia tidak ingin tertawa, tapi ia tidak tahan, sebab mendadak kakek ini dirasakannya sangat menarik. “Aku ingin minta……”

Mendadak si kambing tua memotong ucapannya, “Li He memang seorang aneh. Ting-lotoa terlebih aneh dan nyentrik, hanya lantaran dia suka minum Bu-kin-cui (air non mineral), dia tidak sayang menjual tanah dan menjual rumah serta membuang waktu dua tahun barulah berhasil membuat dua gentong raksasa begini, tujuannya hanya untuk menadahi air hujan untuk persediaan minum pada musim panas.”

“Ting-lotoa’yang kau sebut apakah laki Li He yang dahulu?” tanya Siau-hong.

Si Kambing tua mengangguk, katanya. “Meski sekarang Li He menghilang, tapi pasti tidak meninggalkan tempat ini, dapat kujamin dia pasti bersembunyi di tengah kota. Cuma kalau kau tanya padaku dimana dia bersembunyi, jawabku adalah tidak tahu.”

“Darimana kau tahu kedatanganku ini hendak mencari keterangan hal-hal ini?”

“Memangnya bukan begitu?”

“Jadi kau tahu siapa diriku?”

“Aku tidak perlu tahu, juga tidak ingin tahu. Peduli siapa dirimu kan tidak ada sangkut-paut sedikitpun denganku.”

Lalu si Kambing tua memicingkan mata, sorot matanya membawa semacam senyuman yang misterius, sambungnya kemudian. “Kulihat engkau ini bukan orang yang menjemukan, sebab itulah kubawa kau ke sini dan memberikan keterangan ini kepadamu. Jika ada urusan lain lagi yang hendak kau tanya, lebih baik kau cari orang lain saja.”

“Tadi kau bilang gentong raksasa ini ada dua?” tiba-tiba Siau-hong bertanya pula.

“Ehmm,” si Kambing tua mengangguk.

“Dan dimanakah yang satu lagi?”

“Entah.”

“Urusan lain tidak ada yang kau ketahui?”

Kambing tua menghela napas, “Aku sudah tua. Sudah pikun sampai nama sendiri saja lupa. Banyak anak muda di kota ini, baik cowok maupun cewek, jika kau ingin mencari sesuatu berita, boleh kau tanya kepada mereka.”

Lalu ia memejamkan mata dan minum arak seceguk lagi lalu berbaring dengan santai, seolah-olah sudah mengambil keputusan takkan memandang sekejap lagi kepada Liok Siau-hong. Dan juga takkan bicara pula padanya.

Kembali Siau-hong tertawa, katanya, “Kau tahu aku bukan Kah Lok-san. Kau tahu kukenal putri Ting-lotoa, makanya waktu kusebut namanya sedikit pun tidak mengherankan dirimu, bahkan kau pun tahu Li He tidak pergi dari sini, tapi berulang-ulang kau bilang tidak tahu apa-apa lagi.”

Dia menggeleng, lalu menyambung dengan tertawa, “Tampaknya Sin-loji memang tidak salah, seharusnya engkau tidak bernama Kambing tua, tapi lebih tepat si rase tua.”

Si Kambing tua juga tertawa, mendadak matanya setengah terbuka dan mengedipinya dan berkata, “Mendingan kau temukan rase tua semacam diriku, kuharap jangan lagi kau temukan seekor siluman rase.”

Advertisements

5 Comments »

  1. wahhh… ini baru TOP BGT!! asik bacanya… btw, jilid 2 dst. mana yach :)) Thx bwt yg nge-posting cerita

    Comment by b0nK — 09/03/2008 @ 8:38 am

  2. Lanjutannya menyusul segera, Mas. Masih diedit dengan segala kesulitannya.

    Comment by ceritasilat — 10/03/2008 @ 1:27 am

  3. Mas bab 2 keajaiban pulau es ngak ada yach ? atau saya yg ngak bisa nemu ?

    Btw great job mas.
    Bring back the old memories..hehehe

    Comment by Tusheng — 25/04/2008 @ 7:43 am

  4. Masih berusaha untuk mencari, mas. Semoga bisa ketemu segera

    Comment by ceritasilat — 27/04/2008 @ 10:15 pm

  5. Bab 2.

    Rumah minum yang diusahakan Tong Ko-king itu pakai merek ‘Put-cui-bu-kui’ atau sebelum mabuk tidak pulang.
    Meski hari sudah gelap sejak tadi, malam belum larut, waktu Siau-hong kembali ke pondoknya, lampu di jalan masih cerlang-cemerlang, dan rumah minum ‘sebelum mabuk tidak pulang’ itu pun belum tutup.
    Tampaknya rumah minum ini memang tidak busuk, nyonya pemiliknya juga ayu, tapi entah mengapa, sangat jarang tamunya, suasana rumah minum ini sunyi sepi.
    Sebab itulah yang pertama dilihat oleh Liok Siau-hong tetap si nona manis yang tidak terlalu cantik itu, dia masih berdiri di bawah papan merek dan sedang menunggu kedatangannya.
    Senyumnya itu tidak cuma semacam pikatan, tapi juga serupa semacam undangan. Dan biasanya Liok Siau-hong tidak dapat menolak, undangan demikian, apalagi biasanya ia memandang seorang anak perempuan yang suka tertawa tentu juga pintar bicara, anak perempuan yang pintar bicara pasti juga lebih mudah membocorkan rahasia orang lain.
    Karena itulah ia pun membalas dengan senyuman menantang dan perlahan mendekat ke sana.
    Selagi dia tidak tahu cara bagaimana akan menyapanya, Tong Ko-king ternyata sudah mendahului buka mulut, “Eh, kabarnya Thian-tiang-ciu-lau telah kau beli?” Siau-hong tertawa. “Wah, berita di tempat mi sungguh cepat siarannya.”
    “Tempat sekecil ini, kan jarang terlihat tokoh besar semacam dirimu,” kata Tong Ko-king.
    Tertawanya sungguh teramat manis, benar-benar serupa siluman rase.
    Perlahan Siau-hong berdehem dua kali, ucapnya, “Sebelum mabuk tidak pulang, orang yang minum ke sini apakah harus mabuk?”
    “Betul“ jawab Tong Ko-king dengan tertawa. “Orang yang minum arak ke sini, kalau tidak mabuk tentulah Oh-kui (kura-kura. kiasan bagi germo).”
    “Dan kalau mabuk?” tanya Siau-hong pula. “Kalau mabuk ialah Ong-pat (makian bagi lelaki bejat).” “Wah, jadi orang yang minum arak ke sini, kalau bukan Oh-kui akan menjadi Ongpat, pantas tidak ada orang yang berani berkunjung kemari,” ujar Siau-hong sambil tergelak.
    Tong Ko-king meliriknya sambil tertawa, “Dan sekarang engkau toh berkunjung ke sini.”
    “Aku ..,”
    “Jelas kau sendiri sudah membeli sebuah restoran, tapi masih juga berkunjung dan minum arak ke sini. Nyata engkau tidak takut menjadi Oh-kui. juga tidak gentar dianggap sebagai Ong-pat, memangnya apa sebabnya?”
    Tertawanya bertambah manis, tambah memikat, benar-benar serupa siluman rase.
    Tiba-tiba Siau-hong merasa dirinya terangsang dan bergairah. Ia coba pegang tangan si dia dan berkata, “Coba kau terka apa sebabnya?”
    “Apakah karena diriku?” tanya Tong Ko-king sambil mengerling.
    Siau-hong tidak menyangkal, dia tidak dapat menyangkal, sebab tangan si dia sudah digenggamnya dengan sangat erat.
    Tangannya indah dan lunak, tapi dingin, “Asalkan kau mau menemani aku minum arak. boleh kau bikin aku mabuk atau tidak, terserah kepada kehendakmu,” kata Siau-hong pula.
    Tong Ko-king tersenyum genit, “Makanya dapat kubikin kau jadi Oh-kui atau Ong-pat, semuanya akan kau terima?”
    Mata Siau-hong terpicing, “Bergantung padamu, mau atau tidak?”
    Muka Tong Ko-king menjadi merah. “Mau atau tidak mau kan harus kau lepaskan dulu tanganku, biar kuambilkan arak bagimu.” Jantung Siau-hong sudah mulai berdetak. Dia adalah lelaki yang sehat, apalagi sudah sekian lama dia ‘berpuasa’, maka sekali ini ada alasan baginya untuk memaafkan perbuatannya sendiri. Apalagi, demi mencari info, apa salahnya kalau memakai tipu rayuan?
    Siau-hong melepaskan tangan si dia, pikirannya mulai membayangkan adegan yang mesra bilamana dua orang berada bersama di tengah malam sunyi dan terpengaruh oleh alkohol.
    Siapa tahu pada saat itu juga mendadak Tong Ko-king mengangkat tangannya dan menampar mukanya.
    Tamparan ini dengan sendirinya tidak tepat mengenai muka Liok Siau-hong, tapi cukup membuatnya terkejut. “Hei, apa yang kau lakukan?” teriak Siau-hong.
    “Apa yang kulakukan?” jengek Tong Ko-king dengan muka masam. “Justru ingin kutanya padamu, apa yang kau lakukan? Memangnya kau anggap aku ini orang macam apa? Kau kira dengan beberapa duitmu yang berbau busuk lantas boleh sembarangan mempermainkan kaum wanita? Huh, supaya kau tahu, di tempatku ini hanya menjual arak dan tidak menjual lain.”
    Makin bicara makin gusar dia, sampai akhirnya dia terus berjingkrak dan membentak, “Enyah, lekas enyah dari sini. Bila lain kali berani datang lagi, Pasti kuserampang patah kaki anjingmu!”
    Siau-hong melenggong oleh caci-makinya. Tapi dalam hati ia pun paham apa sebabnya rumah minum ini sunyi sepi, setan pun tidak berani berkunjung kemari.
    Kiranya perempuan ini meski tampaknya semanis madu, tapi sebenarnya sepotong cabai yang pedas, bahkan mengidap semacam penyakit aneh! penyakit yang suka memperlakukan lelaki dengan sadis kalau lelaki kesakitan baru dia merasa senang.
    Sebab itulah dia selalu berdiri di depan pjntu dan pasang aksi untuk memancing lelaki yang berlalu di situ, bilamana lelaki sudah terpikat, lalu lelaki itu akan dipitesnya sampai setengah mati seperti seekor burung pipit yang terpegang tangannya.
    Lelaki yang disiksa dan dianiaya olehnya di sini pasti sudah tidak sedikit. Liok Siau-hong terhitung mujur, dia masih dapat keluar dengan baik tanpa babak belur.
    Untung di luar, tidak ada orang. Maklum, di tempat yang setetes air saja bisa beku menjadi es, tentu jarang ada orang yang mau berjalan-jalan pada waktu larut malam.
    Jika pada waktu masuk ke sana tadi lagak Siau-hong serupa seorang cukong besar yang penuh gairah, sekarang dia keluar dengan setengah ngacir seperti anjing kena gebuk.
    “O, perempuan……” demikian dia mengeluh, “mengapa di dunia ini terdapat perempuan sialan sebanyak ini?”
    Belum lagi sempat ia berpikir bagaimana jadinya dunia ini bilamana tidak ada perempuan, mendadak terdengar suara jeritan.
    Suara jeritan itu berkumandang dari toko obat di seberang sana, suara orang lelaki.
    Waktu Siau-hong memburu ke situ, dilihatnya Leng Hong-ji yang kurus kecil dan masam dingin itu sedang menelikung seorang lelaki di atas kursi, sebelah tangannya mencengkeram urat pundaknya, tangan yang lain menelikung lengannya, dan lagi bertanya dengan dingin,
    “Sesungguhnya bagian mana yang keseleo’ Tempat mana yang salah urat? Bagian mana yang terkilir? Ayo lekas katakan!”
    Tapi lelaki itu cuma meringis kesakitan saja, jawabnya dengan gelagapan, “Aku … aku tidak…..”
    “Habis untuk apa kau datang kemari?” bentak Leng Hong-ji. “Apakah hendak memijat diriku, ingin mengurut badanku?”
    Lelaki itu hanya manggut-manggut saja, tidak berani membenarkan, juga tidak dapat menyangkal.
    Mendadak Leng Hong-ji mendengus sambil mengangkatnya, lelaki besar itu berubah seperti bola keranjang saja terus dilemparkannya keluar. “Bruk“, orang itu jatuh terguling di atas tanah es yang keras dan licin.
    Sekali ini dia benar-benar salah urat dan terkilir, terpaksa ia pulang untuk melampiaskannya atas diri sang bini.
    Diam-diam Siau-hong menyengir, sekali ini sungguh dia tidak dapat membedakannya dengan jelas apakah lelaki itu yang mengidap penyakit atau perempuan ini yang ada penyakit?
    “Bagaimana, apakah kau pun sakit dan minta kuobati?” didengarnya Leng Hong-ji sedang menegurnya sambil memandang dengan dingin.
    Siau-hong tak dapat menjawab, ia cuma menyengir saja dan segera melangkah pergi.
    “Di antara ke-36 tipu, angkat kaki adalah tipu utama.” demikian kata pameo yang paling terkenal, artinya jalan paling selamat adalah kabur saja. Tiba-tiba Siau-hong merasa perempuan di tempat ini sukar direcoki, kalau mau aman harus cepat menjauhinya.
    Siapa tahu, dia tidak mau merecoki orang, sebaliknya orang malah merecoki dia.
    Mendadak Leng Hong-ji mengadang di depannya dan menegur, “Sesungguhnya mau apa kau datang kemari? Mengapa tidak bicara?”
    “Mengapa aku harus bicara?” sahut Siau-hong sambil tersenyum getir.
    Leng Hong-ji menggigit bibir dan melotot padanya, “Padahal tidak kau katakan juga kutahu, tentu dalam hatimu kau anggap aku ini perempuan yang dingin, galak dan sadis.”
    “Aku tidak berpikir demikian“ kata Siau-hong.
    Sekali ini jelas dia bohong, sebab di dalam hati dia memang berpikir begitu.
    Masih juga Hong-ji menggigit bibir dan mendelik, sorot matanya yang dingin itu tiba-tiba mengucur keluar dua titik air mata.
    Perempuan macam begini juga bisa menangis, Siau-hong jadi terkejut pula, “He., ken … kenapa kau?”
    Hong-ji menunduk, ucapnya dengan menangis, “Tidak apa-apa, aku … aku cuma merasa susah.”
    “Susah?” Siau-hong menegas.
    “Busyet! Orang lain kau hajar hingga terguling-guling di tanah dan kau bilang susah? Lantas bagaimana dengan orang yang kau hajar itu?”
    Dengan sendirinya Leng Hong-ji tidak dapat mendengar perkataan di dalam batin Liok Siauhong itu. Ia bertanya pula, “Kau datang dari daerah lain, tidak kau ketahui orang macam apakah lelaki di sini. Mereka melihat kutinggal sendirian di sini, maka dengan segala daya upaya mereka bermaksud menghina dan mengganggu diriku.”
    Waktu menangis, perempuan ini kelihatan seperti berubah terlebih kecil mungil, terlebih lemah, sikapnya yang garang dan galak tadi lenyap sama sekali sehingga benar-benar serupa seorang anak perempuan yang penuh derita.
    Lalu ia menyambung lagi, “Jika aku diganggu sekali oleh mereka, selanjutnya tentu aku tidak mampu hidup dengan baik lagi, sebab orang lain takkan menyalahkan mereka, sebaliknya aku yang dituduh sebagai perempuan pemikat dan pengganggu. Maka terpaksa aku bersikap ketus dan dingin. Akan tetapi bilamana berada sendirinya di tengah malam sunyi, aku … aku menjadi …”
    Ia tidak melanjutkan, dan juga tidak perlu melanjutkan. Tengah malam sunyi, tinggal sendirian dalam kamar, rasa sunyi dan hampa, rasa kesepian itu, tidak perlu dijelaskan lagi juga cukup dimaklumi Siau-hong.
    Mendadak ia merasa anak perempuan kecil mungil yang berdiri di depannya ini bukan saja tidak menakutkan, sebaliknya harus dikasihani.
    Perlahan Hong-ji mengusap air matanya, ia seperti memaksakan diri untuk tertawa, lalu berkata pula, “Sebenarnya, sebelum ini kita tidak pernah bertemu, mestinya tidak pantas kubicara hal-hal ini di depan orang asing.”
    “Tidak apa,” cepat Siau-hong menanggapi. “Aku juga banyak menanggung persoalan, terkadang aku pun ingin bertemu dengan seorang asing untuk kubeberkan isi hatiku.”
    Hong-ji menengadah dan memandangnya seperti anak kecil aleman, tanyanya kemudian dengan lembut, “Dapatkah kau beberkan padaku?”
    Air matanya belum kering, dia bertanya sambil menengadah, sehingga kelihatannya terlebih kecil mungil dan lemah.
    Dalam keadaan demikian Siau-hong jadi tidak sampai hati untuk tinggal pergi. Ajakan yang disertai cucuran air mata bukankah terlebih sukar untuk ditolak daripada undangan dengan tersenyum?
    Maka tidak lama kemudian di atas meja sudah tersedia beberapa macam santapan yang mengepulkan asap, juga arak Tiok-yap-jing yang dihangatkan.
    “Arak ini kubawa dari pedalaman dulu dan sejauh ini kusayang meminumnya “ kata Hong-ji, air matanya sekarang sudah kering, dia sedang mengatur meja makan dan sibuk menuang arak.
    “Setiap malam, sendirian kuminum sedikit arak, kekuatanku minum arak memang kurang, tapi aku baru dapat tidur apabila sudah mabuk.”
    Lalu ia pun mengaku terus terang kepada Siau-hong. “Terkadang biar pun mabuk juga sukar pulas. Dalam keadaan begitu aku lantas berlari keluar dan berduduk di sungai es untuk menantikan datangnya fajar.”
    Siau-hong memandangnya dan ikut menyesal, seorang anak perempuan semuda ini harus duduk kesepian di sungai es untuk menantikan fajar, sungguh kejadian yang mengenaskan.
    Pada saat dia merasa gegetun baginya, kebetulan tangan si dia berada di depannya. Maka ia terus pegang tangannya. Tangan yang kecil, lunak dan halus, malahan terasa agak panas.
    Hawa di dalam rumah cukup hangat, jantung si dia berdetak keras. Sebelum Siau-hong tahu bagaimana jadinya, tahu-tahu si dia sudah jatuh dalam pelukannya. Tubuh yang kecil mungil dan lemah itu serupa segumpal bara. tapi bibirnya terasa dingin. licin dan harum.
    Selagi permainan mulai meningkat, sekonyong-konyong terdengar suara orang bertepuk tangan. Keruan mereka berjingkat kaget sehingga santapan di atas meja tertubruk dan berantakan.
    Waktu mereka memandang ke sana, ternyata Li Sin-tong alias Li si anak ajaib sedang berdiri di depan pintu dan memandangi mereka dengan cengar-cengir, malahan ia terus berseru,
    “Wah, jangan kalian berhenti main, sandiwara menarik begini, sudah lama sekali tidak pernah kulihat. Asalkan kalian mau main lagi sebentar, besok pagi akan kujamu makan kalian.”
    Ucapannya tidak ada kata kotor, akan tetapi bagi pendengarannya Liok Siau-hong hampir saja membuatnya tumpah.
    Hampir saja ia menerjang ke sana untuk memberi hajaran kepada si gila itu bilamana Leng Hong-ji tidak mendahului menubruk ke sana.
    Perempuan kecil mungil itu mendadak berubah serupa serigala betina, ganas lagi buas, keji amal cara turun tangannya.
    Siau-hong tahu perempuan itu mahir ilmu silat, cuma tidak menyangka kungfunya ternyata boleh juga. serangannya cepat dan ganas, gerakannya membawa jurus mencengkeram dan memuntir yang dapat membikin tulang lawan terkilir. Asalkan bagian tubuh Li Sin-tong terpegang, dapat dipastikan dua macam suara akan timbul, suari retaknya tulang dan suara jeritan ngeri seperti babi hendak disembelih.
    Akan tetapi Li Sin-tong tidak menjerit, malahan ujung bajunya saja tidak tersentuh olehnya.
    Lukisan ‘anak ajaib’ ini mungkin sangat indoh mutunya pakaiannya juga jenaka, tapi ilmu silatnya sama sekali tidak Jenaka.
    Bahkan Siau-hong harus mengakui kungfunya sudah tergolong kelas satu.
    Anehnya seorang macam begini mengapa, rela bersembunyi di bawah gaun kakak perempuannya dan bertingkah seperti orang sin ting? Mengapa tidak mau berdikari dan mencari dunianya sendiri? Apakah karena ilmu silat kakak perempuannya jauh lebih lihai daripadanya?
    Waktu Siau-hong memandang lagi ke sana, kebetulan dilihatnya tangan Li Sin-tong baru menggeser dari dada Leng Hong-ji. Lalu Leng Hong-ji berlari keluar, setiba di balik pintu lantas terdengar suara tangisannya.
    Siau-hong menjadi murka, kedua tinjunya terkepal erat, segera ia bermaksud memberi hajaran setimpal kepada orang sinting ini.
    Dilihatnya Li Sin-tong sedang tertawa malah, ucapnya sambil menggoyang tangan, “Eh, jangan kau maju, kutahu bukan tandinganmu, sebab kutahu siapa dirimu.”
    “Kau tahu?” tanya Siau-hong dengan menarik muka.
    “Orang lain dapat kau kelabui, jangan harap akan kau bohongi diriku,” ujar Li Sin-tong dengan tertawa. “Biarpun jenggotmu ditambah lebih tebal juga percuma, tetap dapat kulihat engkau ini bukan lain daripada Liok Siau-hong yang berempat alis itu.”
    Seketika Siau-hong mclenggong dan tidak jadi menubruk maju.
    Kedatangannya ke tempat ini baru dua-tiga jam, yang dijumpainya baru lima orang, dan kelima orang ini ternyata semuanya sudah membuatnya terkejut. Tampaknya orang di sini seluruhnya tidak sederhana, agaknya bukan pekerjaan mudah bila dia ingin membawa pulang Lo-sat-pay.
    Tertawa Li Sin-tong bertambah riang, katanya pula, “Namun jangan kau kuatir, pasti takkan kubongkar rahasiamu ini, sebab kita memang berasal dari satu garis, sudah lama kutunggu kedatanganmu.”
    “Ha, kau tunggu diriku? Kau tahu aku akan datang?” Siau-hong bertambah heran.
    “Ya, sebab si jenggot biru menyatakan dia pasti akan mengirim dirimu ke sini, selama ini kupercaya penuh pada ucapannya.”
    Akhirnya Siau-hong paham juga, teringat olehnya ucapan si jenggot biru, “….. seumpama tak dapat kau temui, tentu juga ada orang akan membawamu kepadanya. Begitu kau tiba di sana, segera ada orang akan menghubungimu.”
    “Tentunya tak kau duga aku dapat mengkhianati kakakku sendiri dan menjadi mata-mata bagi si jenggot biru,” kata Li Sin-tong pula dengan tertawa.
    “Tapi aku pun tidak terlalu heran.” jawab Siau-hong. “Orang semacam dirimu, pekerjaan apa yang tidak dapat kau lakukan?”
    “Tapi setelah kau lihat kakakku sayang nanti, baru kau tahu mengapa aku bertindak demikian,” tiba-tiba Li Sin-tong bisa menghela napas juga.
    “Cara bagaimana supaya dapat kulihat dia?” tanya Siau-hong. “Hanya ada satu jalan,” jawab Li Sin-tong. “Jalan bagaimana?”
    “Lekas antarkan beberapa peti yang kau bawa itu.” “Kau pun tidak tahu dia bersembunyi dimana?” “Ya. aku pun tidak tahu.” sahut Li Sin-tong. Lalu ia menghela napas dan berkata pula, “Kecuali uang perak yang gemilapan dan emas yang bercahaya, boleh dikatakan kakakku tidak mau kenal lagi kepada siapa pun. sekali pun orang tua dan saudara sendiri.”
    Siau-hong menatapnya lekat-lekat hingga sekian lama, tiba-tiba ia tanya, “Kau minta dihajar tidak?”
    Tentu saja Li Sin-tong tidak mau. Ia menggeleng. “Jika tidak mau. lekas kau lalap santapan yang terserak di lantai ini, bila ada yang tersisa, akan kubikin kau menyesal selama hidup,” ancam Siau-hong.
    Setelah santapan di atas meja tertumbuk berantakan, macam-macam makanan yang berserakan di lantai es itu lantas membeku.
    Waktu Li Sin-tong mulai berjongkok dengan menyengir, perlahan Liok Siau-hong lantas melangkah keluar. Baru sampai di ambang pintu segera didengarnya suara Li Sin-tong lagi tumpah ….

    * * *

    Sudah jauh malam, cahaya lampu yang tadinya gilang gemilang sudah mulai jarang-jarang, kota yang semarak kini diliputi kegelapan dan kedinginan.
    Angin meniup kencang, di kejauhan seperti ada lolong serigala yang mengerikan.
    Kemana perginya Leng Hong-ji, apakah dia lagi duduk di sungai es dan menantikan datangnya fajar?
    Siau-hong merasa susah, bukan cuma susah bagi Leng Hong-ji, juga bagi dirinya sendiri.
    Mengapa manusia selalu harus tersiksa oleh gairahnya sendiri.
    Lampu di Thian-tiang-ciu-lau masih menyala, cahaya lampu menerobos keluar melalui celah pintu, tercium pula bau sedap hangat santapan.
    Siau-hong mengernyitkan kening, ia tahu yang sedang menunggunya di dalam kembali adalah seorang anak perempuan yang aneh serta santapan yang lezat.
    Pada saat itulah, sekonyong-konyong dilihatnya sesosok bayangan melayang keluar dan belakang rumah, hanya sekejap saja lantas menghilang dalam kegelapan.
    Gerakannya ringan dan hebat, Ginkang setinggi itu sudah tidak di bawah Liok Siau-hong lagi.
    Di tempat ini siapakah yang memiliki Ginkang sehebat itu?
    Kembali Siau-hong berkerut kening. Sementara pintu sudah terbuka, sepasang mata yang mengandung senyum sedang memandangnya dan menegur, “Mendingan kau ingat untuk pulang, semula kukira engkau sudah mati di atas perut perempuan itu.”
    Di atas meja memang betul tersedia santapan yang mengepul hangat, juga tersedia arak Tiokyap-jing.
    “Arak ini kubawa dari pedalaman …” demikian ucap Jo-jo dengan tersenyum manis.
    Siau-hong hampir tak tahan dan ingin lari saja. Santapan dan perempuan yang serupa sudah hampir membuatnya tidak tahan, apalagi cara bicara mereka juga sama.
    Maka apa yang diucapkan selanjutnya sama sekali tak diperhatikan oleh Liok Siau-hong.
    Mendadak ia berjingkrak dan berteriak, “Lekas suruh orang mengantar kepadanya, lekas!”
    Jo-jo tampak melengak, “Mengantar barang apa? Mengantar ke mana?”
    “Lekas mengantar peti-peti itu ke kasino Pancing Perak!” seru Siau-hong.

    Comment by Frango — 29/05/2008 @ 4:24 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: