Kumpulan Cerita Silat

27/02/2008

Amanat Marga (08)

Filed under: Amanat Marga, Gu Long — ceritasilat @ 12:52 am

Amanat Marga (08)
Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Eve1yn, Dragon, Nra, dan Ririn)

Pada saat yang sama sepotong kayu terbakar mendadak jatuh dari atas. Dalam keadaan tergencet, sebisanya Wiki meloncat ke samping.

“Trang” gelang baja menghantam lantai, kayu hangus tadi juga jatuh menerbitkan lelatu.

Ketika Wiki dapat menenangkan diri, dilihatnya Bwe kiam-soat telah berdiri diidepannya dengan tersenyum.

Sementara itu kobaran api tambah besar, bangunan restoran Thian-tiang-lau yang kukuh itu sampai berguncang dan hampir runtuh.

Lamkiong Peng dan Lu thian-an masih berhadapan dan bertempur dengan sengit.

Padahal keduanya sebenarnya dalam keadaan sama-sama payah, sampai akhirnya setiap pukulan dan setiap tendangan hampir serupa permainan anak kecil saja. Namun air muka mereka justru jauh lebih prihatin.

Mendadak Lamkiong peng melancarkan pukulan dengan jurus Thian-liong-ie-dian atau naga meluku di sawah, dengan langkah lamban Lu thian-an mundur mengelak.

Pada saat itulah terdengar suara gemuruh, papan loteng telah runtuh sebagian, lidah api pun menyambar dari bawah ke atas, kebetulan langkah mundur Lu thian-an itu tepat menginjak papan loteng yang runtuh.

Ia menjerit kaget, syukur jarinya masih sempat meraih tepian papan loteng, tapi papan loteng itu lambat laun juga ambrol ke bawah. Tampaknya dia akan ditelan oleh lautan api. Dengan tenaganya sekarang mana dia mampu melompat lagi ke atas.

Tanpa pikir Lamkiong peng memburu maju dan menarik tangan Lu thian-an. Padahal ia sendiri pun kehabisan tenaga, dengan sendirinya tidak mampu menarik naik Lu thian-an.

Kembali terdengar suara “krek” tempat berpijak Lamkiong peng juga akan ambrol, bilamana dia mau melompat mundur, terpakas Lu thian-an harus dilepaskan dan akan terjeblos ke dalam lautan api, tapi kalau dia tidak melompat mundur, ia sendiri pun akan ikut terkubur di tengah amukan api.

Sekujur badan Lu thian-an tampak gemetar, rambut jenggotnya sudah penuh lelatu api, tampaknya mulai terbakar.

Memandangi lawan yang telah bergebrak mati-matian dengan dirinya ini, mendadak timbul rasa kasihannya, pegangannya dipererat dan tak terlepaskan.

Mendadak sepotong kayu hangus jatuh dari atas, untuk menghindar jelas tidak mungkin, terpaksa Lamkiong peng hanya miringkan kepalanya saja sehingga kayu hangus menyerempet jidat dan mengenai pundaknya. Hanya selisih beberapa senti saja mungkin jiwa Lamkiong peng bisa melayang bilamana tepat mengenai kepalanya.

Sungguh tak terkatakan terharu hati Lu thian-an oleh keluhuran budi anak muda ini, dengan suara gemetar ia berteriak, “Lari…. lekas lari…..jangan urus diriku!”…….”

Namun Lamkiong peng tetap memegangi sekuatnya, darah dari kening bercampur dengan air keringat bercucuran menetesi tubuh Lu thian-an.

Di sebelah sana Wiki sedang menubruk ke arah Bwe kiam soat dengan murka, “Hari ini biarlah kuadu jiwa dengan mu”

Gelang di tangan kanan segera mengepruk kepalan kiri juga menghantam.

“Hm memangnya kejadian sepuluh tahun yang lalau itu salahku?” jengek Bwe kiam-soat, dengan lincah ia hindarkan serangan Wiki itu, menyusul ia balas menabas pinggang lawan dengan pedangnya.

Dengan beringas Wiki berteriak, “tidak peduli siapa yang salah, yang jelas engkau lah pangkal bencananya, tanpa dirimu tentu takkan terjadi hal-hal begitu.”

Rada merandek juga daya serangan Bwe kiam-soat, gumamnya, “Tanpa aku takkan terjadi hal begitu…..Memangnyya salahku? Tapi apa kesalahanku?”

Wiki menerjang pula deangan kalap. Teriaknya, “Pokoknya perempuan adalah air bencana, biarlah hari ini kau mampus di tanganku1”

Dalam pada itu keempat tojin berjubah kelabu menubruk maju. Namun sekali pedang Kiam-soat berputar kontan mereka didesak mundur lagi. Tiba-tiba Kiam-soat berteriak kuatir dan melompat ke sebelah sana.

Tercengang juga Wiki ketika berpaling dan melihat keadaan bahaya Lamkiong peng dan Lu thian-an itu. Tiada jalan lain, cepat gelang baja tangan kanan disambitkan ke sana, gelang baja meluncur dengan cepat, tapi setiba di depan Lamkiong peng segera berhenti.

Latihan Wiki selama berpuluh tahun memang tidak percuma, gelang baja berantai itu dapat dilempar dan ditarik sekehendak hatinya.

Ketika mendadak Lamkiong peng melihat gelang baja itu meluncur tiba segera dipegangnya dengan tangan kiri.

Serentak Wiki membentak dan menarik sekuatnya, segera tubuh Lamkiong peng terseret mundur, dan dengan sendirinya Lu thian-an ikut tertarik keatas.

Cepat Bwe kiam soat menambahi tenaga tolakan dengan kebasan lengan bajunya sehingga mereka terlempar ke tempat yang aman.

Segera keempat tojin berjubah kelabu akan menrjang maju lagi, tapi Lu thian-an lantas berteriak menghentikan mereka. Ia memandang Lamkiong peng dengan termangu, akhirnya ia menghela nafas dan menunduk.

“Apakah perlu melanjutkan pertarungan kita?!” kata Lamkiong peng dengan nafas masih terengah.

“Ti……tidak, aku……aku sudah kalah!” jawab Lu thian-an.

Beberapa kata ini seolah-olah diucapkan dengan sepenuuhnya tenaganya. Tentu saja Lamkiong peng melenggak, tak tersangka olehnya tojin ini bisa mengaku kalah begitu saja. Dilihatnya wajah orang pucat pasi dan berdiri dengan lesu, dalam sekejap itu seorang guru besar suatu aliran terkemuka mendadak telah berubah menjadi seorang kakek yang patah semangat.

Memandangi bayangan belakang sang suheng, Wiki juga menggeleng kepala , ucapnya pelahan, “Sisuheng…….”

Tanpa berpaling Lu thian-an menjawab dengan lesu,” Marilah kita pergi!”

Baru habis berkata, mendadak ia roboh terkulai, nyata luka pada badannya tidak lebih parah daripada luka hatinya

Wiki berteriak kuatir, cepat ia mengangkat sang suheng dan dibawa lari menerobos lidah api dan melompat ke bawah loteng. Segera keempat tojin berjubah kelabu juga ikut melompat turun.

Terdengarlah suara gemuruh, loteng restoran itu kembali runtuh sebagian.

Lamkiong peng terkesima, medadak ia menghela nafas dan bergumam, “Giok-jiu-sun-yang betapapun tetap seorang ksatria!”

“Dan kau?” tanya Bwe kiam-soat dengan tertawa.

Kedua orang saling pandang tanpa bicara dan lupa lidah api hampir menjilat baju mereka.

**************

Akhirnya terdengar juga suara ramai pasukan pemerintah. Suara derap kaki kuda bercampur dengan suara teriakan orang banyak, suara orang berusaha memadamkan api, suara gemuruh rubuhnya bangunan dan jerit tangis orang……..

Di tengah kepanikan dua sosok bayangan diam-diam meninggalkan kota kuno itu.

***********

Di suatu tanah berumput Lamkiong peng lagi berbaring dengan santai, bintang bertaburan di langit yang biru kelam, angin meniup dengan sejuk.

Bwe kiam-soat memandangi wajah anak muda yang cakap, terutama bulu matanya yang panjang menaungi kedua matanya yang besar terpejam itu.

“Tentunya tak kaupikir tugas yang diberikan oleh gurumu untuk membela diriku akan sedemikian beratnya bukan?” Katanya tiba-tiba.

Lamkiong peng melenggak dan memandang orang dengan termenung.

Dengan dingin Bwe kiam-soat berkata pula, “Apakah saat ini engkau menyesal karena membela diriku sehingga hampir saja kau sendiri menjadi korban kerubutan orang banyak tadi?”

Akhirnya Lamkiong Peng menjawab, “Sudahlah, jangan kau bicara seprti ini lagi. Bagiku, asalkan hatiku merasa tidak berdosa, tidak berbuat sesuatu yang memalukan, kenapa aku mesti menghiraukan tuduhan orang. Demi kebenaran dan keadilan dunia kangouw, apa artinya pengorbananku ini?”

Bwe Kiam soat memandangnya dengan sorot mata lembut dan aneh, perempuan yang berjuluk “berdarah dingin” ini ternyata tiada ubahnya seperti gadis biasa yang juga bereprasaan.

Seketika mereka saling pandang dengan terkesima melupakan keadaan sekelilingnya.

Pada saat itu juga tidak jauh disebelah sana sesosok bayangan sedang memperhatikan kedua muda-mudi yang tenggelam dalam lamunan ini. Sorot matanya menampilkan rasa kagum dan juga rada cemburu. Tanpa terasa ia menghela nafas pelahan.

Tergetar hati Lamkiong peng dan Bwe kiam-soat, serentak mereka melompat bangun dan membentak, “Siapa?”

Bayangan tadi tertawa panjang sambil melompat maju, hanya dua-tiga kali naik turun ia sudah bediri di depan mereka.

“Eh kiranya kau”, kata Lamkiong peng dengan heran.

“Hm anak murid Thian-san mengapa main-main sembunyi-sembunyi sperti ini jengek Kiam-soat.

Pendatang ini Tik Yang adanya, ia tertawa keras dan menjawab, “Haha, apakah kedatanganku ini kauanggap main sembunyi-sembunyi? Bwe Kim-soat, kaukira untuk apa kudatang kemari?”

“Mungkin kedatanganmu….” Lamkiong Peng merasa ragu.

Dengan serius Tik Yang memotong, “Walaupun kita baru saja kenal, tapi kupercaya penuh atas tindak-tandukmu pasti tidak merugikan kebenaran dunia persilatan, maka kedatanganku ini justru hendak memberi jasa baikku.”

Lamkiong Peng melenggong dan kurang mengerti akan maksud orang.

Dengan tertawa Tik Yang berkata pula, “Apakah saudara tahu bagaimana terjadinya kebakaran tadi?”

Baru sekarang Lamkiong Peng menyadari duduk perkarara, rupanya kebakaran tadi tidak terjadi secara kebetulan, dengan sendirinya ia tidak tahu siapa yang melakukannya, maka ia menggeleng kepala.

“Setelah meninggalkan Hoa-san,” sambung Tik Yang dengan tertawa, “selanjutnya aku pun datang ke Se-an hanya kedatanganku agak terlambat, waktu itu keributan sudah etrjadi.

Dari tempat ktinggian kulihat engkau sedang melabrak ketua Cong-lam-pai itu. Melihat keadaan tempatnya, kutahu sukar untuk melarai, juga sukar membantu. Terpaksa………haha, terpaksa kugunakan bantuan api.”

Lamkiong peng melirik Bwe Kiam soat sekejap.

“Rupanya kita salah menyesali dia tadi,” ucap Kiam soat.

“Ah, sedikit salah mengerti apalah artinya.” Ujar Tik Yang dengan tertawa. “Bangunan Thian-tiang-lau itu sungguh sangat megah, tapi ternyata tidak tahan dibakar. Kusaksikan kalian meninggalkan kota dengan selamat, diam-diam aku pun menyusul kemari.”

“Tamapaknya Tik-siauhiap seorang sahabat yang simpatik, agaknya aku salah sangka…….”

Belum lanjut ucapan Bwe kiam-soat, mendadak seorang mendengus dari kejauahan, “Hm, simpatik apa, main bakar secara diam-diam masakah perbuatan simpatik segala?”

Lamkiong peng bertiga terkejut, serentak mereka berpaling.

Tertampaknya dalam kegelapan sana muncul sesosok bayangan orang berkipas putih. Tanpa bicara Tik Yang mendahului menubruk kesana.

“Cepat amat!” ucap bayangan orang itu sambil mengebaskan lengan bajunya dan bergeser ke samping, habis itu segera melompat ke depan Lamkiong peng.

Sambil membentak Tik Yang lantas menubruk ke sini lagi, tapi segera terdengar Lamkiong peng berseru, “O, kiranya Yim tai-hiap!”

Tergerak hati Tik Yang, ia tahu orang adalah kawan bukan lawan, seketika ia urungkan serangannya.

Pendatang ini memang Ban-li-liu-hiang Yim Hong peng adanya, serunya dengan tertawa, “Haha, tak tersangka yang main bakar itu adalah anak murid Thian san!”

Lamkiong peng juga tidak menyangka orang ini dapat menyusul ke sini, segera ia memperkenalkannya kepada Tik Yang.

Yim hong-peng tertawa dan berkata, “Tik siau-hiap, sesungguhnya Thian-tiang-lau dibangun dengan sangat kukuh, cuma telah kutambahi juga sedikit bahan bakar sehingga dapat terjilat api dengan lebih cepat.”

Baru sekarang Tik Yang tahu, Yim hong-peng juga mengambil bagian dalam pembakaran restoran megah itu. Ia tertawa dan berseru, “Orang bilang Ban-li-liu-hiang adalah pendekar kosen dari perbatasan, setelah bertemu hari ini baru kupercaya Yim tai-hiap memang seorang ksatria yang suka blak-blakan.”

Yim hong-peng memandang Lamkiong peng dan Bwe kiam soat sekejap, lalu berkata, “Setelah peristiwa ini nona Bwe dan Lamkiong-heng tentu tidak leluasa bergerak lagi di dunia kang-ouw, entah bagaimana rencana perjalanan kalian selanjutnya?”

Dia bicara dengan serius, tapi sorot matanya tampak gemerdep menampilkan cahaya yang sukar diraba apa maksudnya.

Lamkiong peng menghela nafas panjang, katanya, “Siaute juga tahu unttuk selanjutnya akan banyak mengalami kesukaran di dunia kangouw, tapi yang penting asalkan kuraba hati sendiri merasa tidak bersalah, tindakanku selanjutnya juga tidak akan berubah, mungkin aku akan pulang dulu ke Ji-hau-san-ceng, lalu pulang ke rumah menjenguk orang tua…..”

“Tempat lain masih mendingan, kedua temapta itu justru tidak boleh kau pergi ke sana,” potong Yim Hong-peng.

Air muka Lamkiong peng berubah.

Tapi Yim hong peng lantas menyambung, “Maaf jika kubicara terus terang, bahwasanya nona Bwe pernah malang melintang di dunia kangouw dahulu, tentu tidak sedikit telah mengikat permusuhan. Apa yang terjadi di Se-an ini, tidak lama tentu juga akan tersiar, tatkala mana bila musuh nona Bwe ingin mencari kalian, tentu mereka akan menunggu dulu di kedua tempat itu. Dalam keadaan demikian, tentu kalian akan serba repot, terutama anggota keluarga Lamkiong-heng………”

Sampai di sinis ia mengehela nafas ketika dilihatnya Lamkiong peng menunduk termenung.

Tapi Bwe kiam-soat lantas menjengek, “Habis lantas bagaimana kalau menurut pendapat Yim tai-hiap?”

Yim hong-peng tampak berpikir, ia tahu di depan perempuan cerdik ini tidak boleh salah omong sedikitpun.

Dengan tersenyum kemudian ia berkata, “Pendapatku mungkin terlalu dangkal, tapi mungkin berguna untuk dipertimbangkan kalian. Pada waktu nona Bwe malang melintang dahulu, meski sampai sekarang musuhmu itu tetap sama orangnya, tapi keadaan sduah berubah, oarang-orang itu tersebar dimana-mana dan satu sama lain tahu mampunyai musuh bersama, yaitu nona Bwe. Pula menurut keadaaan masa itu, tentu tidak ada yang mau mengaku sebagai musuh nona Bwe. Tapi keadaan sekarang sudah berubah, bilamana orang-orang itu tahu nona Bwe masih hidup, tentu mereka akan bangkit dan bersatu untuk menuntut balas padamu.”

Tiba-tiba tersembul senyuman aneh pada wajah Bwe kiam-soat, katanya pelahan,”Apakah benar mereka hanya ingin menuntut balas padaku? Mungkin…..” ia pandang Lamkiong peng sekejap, lalu tidak melanjutkan.

“Apapun juga, menurut pendapatku, hanya dengan kekuatan kalian berdua tentu akan banyak menghadapi kesulitan……….”

“Lantas kalau menurut pendapat Yim tai-hiap, apakah kami…..kami harus minta perlindungan orang?” seru Lamkiong peng, nadanya kurang senang.

Yim hong peng tersenyum, “Ah dengan kedudukan kalian yang terhormat, mana berani kubilang soal minta perlindungan orang segala.”

Mendadak Bwe kiam-soat menjengek, “Yim tai-hiap, ada urusan apa kukira lebih baik kaukatakan terus terang saja daripada berliku-liku.”

Di depan orang pintar, kukira memang tidak perlu banyak omong,” ujar Yim hong-peng, “Yang jelas persoalan kalian ini memang perlu sahabat, kalau tidak, sungguh sukar lagi untuk berkecimpung di dunia kang-ouw, padahal hari depan kalian masih cerah, bila mesti putus harapan begini saja, kan sayang.”

“Apa pun juga, mempunyai dua orang sahabat seprti kalian ini sedikitnya hatiku sudah terhibur.” Ujar Lamkiong peng.

“Ah diriku ini terhitung apa, kata Tik Yang dengan tertawa, “Tapi Yim-heng tentu saja lain, beliau kan pendekar kosen dari perbatasan utara sana.”

“Terima kasih atas pujianmu, “kata Yim hong peng. “Betapa tinggi kepandaianku mana dapat dibandingkan kalian berdua yang masih muda perkasa.”

Ia merandek sambil menyapu pandang ketiga orang itu, lalu menyambung, “Namun ada juga seorang kenalanku, orang ini sungguh berbakat besar, berbudiluhur, serba pintar baik ilmu falak maupun ilmu bumi, baik seni budaya maupaun seni bela diri, lwekangnya bahkan sudah mencapai puncaknya, sehelai daun saja dapat digunakannya untuk melukai orang. Yang paling hebat, kecuali mempunyai kepandaian yang mengejutkan, orang ini juga mempunya cita-cita setinggi langit, bahkan pergaulannya sangat luas, orangnya simpatik.”

Diam-diam Bwe Kiam-soat menjengek, sedangkan Lamkiong peng dan Tik Yang meras tertarik.

Bila orang lain yang bicara demikian mungkin akan diremehkan mereka, tapi semua ini keluar dari mulut Ban-li-liu-hiang Yim hong peng, bobotnya tentu saja lain. Tanpa terasa mereka tanya berbareng, “Siapakah gerangan tokoh yang kau maksudkan itu?”

Yim hong peng tersenyum, tuturnya,”Orang ini sudah lama mengasingkan diri di luar perbatasan utaran sana, namanya sanagt sedikit diketahui orang. Tapi kuyakin nama Swe thian Bang dalam waktu singkat pasti akan tersiar ke segenap pelosok dunia.”

“Swe thian Bang? Sungguh nama yang indah!” kata Tik Yang.

“Jika benar ada seorang tokoh semacam itu, setiba di tionggoan tentu kami ingin berkenalan, Cuma sayang saat ini sukar untuk mememuinya, ” ujar Lamkiong peng.

Tiba-tiba Bwe kiam soat menyela ” APakah maksud Yim tai-hiap , apabila kami dapat mengikat sahabat dengan tokoh kosen semacam ini, lalu segala urusan akan beres?”

Dia tetap bicara dengan nada dingin dan ketus.

Yim hong peng, seprti tidak menghiraukannnya, katanya, “Lamkiong-heng, suasana dunia persilatan skerang boleh dikatakan tercerai berai dan kacau balau. Kun lun pai sudah lama merajai wilayah barat, Siau lim-pai menjagoi daerah tionggoan, Butong pai menguasai daerah Kanglam, selain itu di selatan masih ada Tiam-jong-pai, di timur ada Wi-san-pai, di barat ada Cong-lam-pai. Masing-masing aliran menguasai kungfu andalan sendiri dan menguasai satu wilayah tertentu, meski semuanya juga berhasrat memimpin dunia persilatan dan setiap saat dapat menimbulkan kekacauan dunia persilatan, tapi lantaran pertarungan di Wi-san dahulu kebanyakan aliaran itu sudah mengalami kelumpuhan, ditambah lagi dunia kangouw sudah dipimpin oleh Sin-liong dan Tanhong, maka suasana sepuluh tahun terakhir ini masih dapat dikendalikan.”

Dia berbicara panjang lebar, meski agak bertele-tele, namun tidak dirasakan jemu oleh Tik Yang dan Lamkiong peng.

Maka ia menyambung pula, “Tapi sekarang jago muda dari berbagai perguruan itu sama bermunculan, kekuatan sudah pulih, saking kesepian jadi ingin bergerak lagi. Ditambah lagi Sin-liong telah menghilang, perimbangan kekuatan jadi buyar juga. Kini tiada seorang di dunia persilatan yang mampu mengatasi semua orang, tidak terlalu lama di dunia kangouw pasti akan berbangkit huru-hara, kekuatan muda tersebut tentu juga akan membanjir timbul untuk berebut pengaruh, lantas bagaimana akibatnya tentu dapat dibayangkan.

Nadanya mulai meninggi, ceritanya mulai tenang. Lamkiong peng dan Tik Yang juga terbangkit semangatnya. Tapi demi teringat kepada keadaan sendiri sekarang, tanpa terasa Lamkiong peng merasa gegetun dan dingin lagi hatinya serupa diguyur air.

Sekilas Yim hong-peng dapat melihat perubahan air muka Lamkiong peng, diam-diam ia merasa senga, sambungnya pula, “Sesudah lama tercerai akhirnya tentu akan bergabung lagi, bila terlampau sepi akhirnya pasti ribut lagi. Ini adalah kejadian logis. Tapi dalam keributan ini bila tidak diimbangi oleh suatu kekuatan besar untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, maka pastilah akan terjadi kesewenang-wenangan, yang kuat makan yang lemah, salah benar sukar dibedakan, tentu akan banyak terjadi kerusuhan pula. Dan bilamana susana kacau tak terkendalikan, akibatnya tentu tambah runyam.”

“Ya memang pandangan Yim tai-hiap sungguh sangat tepat,” puji Lamkiong peng.

“Ah, apalah artinya diriku ini, justru Swe thian-bang itulah jeniusnya manusia manusia jaman kini,” ujar Yim hong-peng dengan tersenyum. “Meski kakinya belum pernah melangkah masuk Giok-bun-koan, tapi caranya menganalisa keadaan dunia persilatan dan apa yang akan terjadi sungguh seperti telah terjadi sungguhan. Terus terang kukatakan kedatanganku kepedalaman sini justru mengemban tugasnya, aku diminta mencari beberepa tokoh muda berbakat untuk bersama-sama melaksanakan tugas suci menegakkan keadilan dunia persilatan.”

Alis Tik Yang menegak, tukasnya,”Menegakkan keadilan, sungguh semboyan menarik. Sayang disini tidak arak, kalau tidak sungguh aku ingin menyuguhmu tiga cawan.”

Lamkiong peng tambah resah bila teringat kepada urusan sendiri.

Sedangkan Bwe Kiam-soat lantas mendengus, pikirnya, “Kiranya Yim hong-peng ini tidak lebih cuma seorang pembujuk saja. Dia datang lebih dulu untuk mencari pendukung bagi Swe thian bang. Hm, besar amat ambisi orang She Swe ini, rupanya dia berniat merajai dunia kangouw.”

Setelah berpikir lagi diam-diam ia terkesiap juga, “Lahiriah orang she Yim ini menarik, ilmu silatnya juga tinggi, tutur katanya juga memikat hati orang, jelas orang ini pun seorang tokoh luar biasa. Sampai tokoh seperti Bin-san-ji-yu pun dapat diperalat olehnya, tapi dia toh cuma menjadi seorang pembujuk bagi Swe thian bang, tampaknya kepandaian orang she Swe ini terlebih sukar dijajaki.”

Agaknya Yim hong peng juga sedang mengamati reaksi orang, maka kemudain ia menyambung lagi, “Lamkiong-heng dengan kepandaianmu ditambah lagi kekayaan keluargamu, selanjutnya dunia persilatan mestinya berada dalam genggamanmu. Tapi engkau justru lagi menghadapai persoalan yang tak dapat dimaafkan oleh sesama ornag kangouw bahkan saudara seperguruan sendiri pun tidak dapat memaklumi maksud baikmu, dalam keadaan tejepit, sungguh Lamkiong-heng serba susah. Tapi bila engkau mau bekerja sama dengan Swe thian bang, ditambah lagi tokoh muda serupa Tik-siauhiap ini, urusan apa pula yang tidak dapat diselesaikan”

“Kupikir, bila bekerjasama ini terlaksana, selain dunia persilatan dapat diamankan, juga Lamkiong-heng dapat menggunakan kekuatan ini umtuk mengindang sesama orang Bulim untuk menjelas duduk perkara. Tatkala mana kekuatanmu sudah lain, ucapanmu berbobot, siapa lagi yang tidak percaya kepadamu. Jadinya bahaya yang mengancam Lamkiong-heng akan lenyap, namamu bahkan akan termashur, Ji-hau-san-ceng selanjutnya akan semakin disegani.”

Dengan tersenyum tiba-tiba Bwe Kiam-soat berkata, “Wah, menurut cerita Yim-tai-hiap ini, bukanlah dalam waktu singkat tokoh Swe thian bang yang luar biasa akan dapat merajai dunia persilatan dan menjadi Bulim-bengcu?

“Ya bilamana dibantu oleh tokoh muda seperti kalian ini, tidak sampai beberapa tahun dunia persilatan pasti dapat dikuasai oleh kita,” ujar Yim hong-peng dengan tertawa.

Dia sangat senang disangkanya kedua anak muda ini sudah terpikat oleh ocehannya.

Bola mata Bwe kiam-soat berputar, katanya pula dengan tertawa, “Maksud baik Yim tai-hiap ini sungguh sangat membesarkan hati kami, cuma…….saat ini kami sedang terdesak bahaya mengancam di depan mata, sebaliknya rencana Yim tai-hiap masih jauh daripada tercapai, bahkan jejak Swe thian-bang itu belum lagi menginjak daerah Tionggoan…….”

Mendadak Ban-li-liu-hiang Yim hong peng tertawa dan memotong, “Jika kalian sudah mau menerima ajakanku, dengan sendirinya aku pun tidak perlu merahasiakan urusan ini. Terus terang, meski jejakku baru mulai muncul sebulan terakhir, padahal sudah hampir lima tahun kujelajahi Tionggoan. Selama lima tahun ini sedikit banyak sudah kupupuk juga kekuatan tertentu, hanya karena waktunya belum tiba, maka sejauh ini belum diketahui kawanan Bulim.”

“Wah melulu cara Yim tai-hiap menyembunyikan pekerjaan ini saja sudah lain daripada orang lain, sungguh hebat,” kata Kiam soat.

Yim hong peng tertawa bangga, “Namun caraku memilih orang sangat cermat, tidak sedikit kawan kalangan bawah dan menengah yang telah menggabungkan diri, tapi saudara dari lapisan atas justru masih sangat sedikit, sebab itulah kuminta bantuan kalian bertiga, sebab Swe siansing itu dalam jangka waktu singkat mungkin juga akan masuk ke daerah Tionggoan.”

Meski dia sok pintar, tanpa terasa ia pun lupa daratan oleh senyum manis dan lirikan Bwee kiam-soat yang memabukkan itu dan pelahan tersingkap juga rahasia maksudnya.

Air muka Lamkiong peng dan Tik Yang rada berubah, sebaliknya dengan berseri-seri Yim hong-peng berkata pula, “tidak jauh dari sini terdapat tempat persingghanku, meski sangat sederhana, tapi jauh lebih tenang daripada disini, cuma sayang masih ada sedikit urusanku di Se-an yang harus kuselesaikan, saat ini tidak dapat kuantar sendiri ke sana.”

Bwe Kiam soat sengaja menghela nafas menyesal, “Wah lantas bagaimana?”

“Tidak menjadi soal,” kata Yim hong-peng, meski tidak dapat kuantar sendiri, sepanjang jalan sudah ada orang siap menyambut kedatangan kalian…….”

“Selain itu, ” sambungnya asmbil merogoh saku, “Supaya kalian percaya kepada keteranganku, boleh lihat………”

Ketika tangan terangkat, terlihatlah oleh Kiam saot bertiga tiga kantung sutera berwarna warni terpegang pada tangan Yim hong-peng.

“Bagus sekali, barang apakah ini?” tanya Kiam-soat.

“Sampai saat ini, boleh dikatakan sangat langka orang dunia persilatan yang pernah melihat benda ini,” tutur Yim hong-peng dengan prihatin sambil membuka salah sebuah kantung sutera itu.

Seketika semua orang mencium bau harum ane menusuk hidung.

Yim hong-peng lantas mengeluarkan sepotong kayu kecil persegi berwarna lembayung dari dalam kantung dan diserahkan kepada Bwe kiam-soat.

Waktu Kiam-soat mengamati, potongan kayu kecil yang tidak menarik ini terbuat secara indah, bagian atas ada ukiran pemandangan alam yang permai, terlukis seorang berdiri di bawah cahaya senja sedang memandang puncak gunung di kejauhan, orang ini terlukis samar-samar, tapi bila diteliti kelihatan gagah dengan sikap yang hidup, Cuma sayang garis mukanya hanya terukir dari sisi belakang.

Di balik kepingan kayu ini terukir dua bait syair, sangat kecil hurufnya namun gaya tulisnnya indah kuat, jelas tulisan seniman ternama.

Kepingan kayu ini keras dan berat serta berbau harum.

Setelah mengamati sejenak, kemudian Bwe kiam-soat bertanya, “Apakah orang yang terukir di sini adalah orang yang disebut Swe thian-bang itu?”

Yim hong-peng mengangguk, “Ya, benda ini tanda pengenal Swe thian-bang itu.”

Lalu ia memberikan pula kedua kantung sutera kepada Lamkiong Peng dan Tik Yang, katanya pula dengan tertawa, “Untuk mendapat kepercayaan kalian bertiga, sengaja kulanggar prosedur biasa dan kuberikan benda ini…….”

“Prosedur biasa apa?” ujar Bwe kiam-soat sambil memainkan keping kayu dan kantung sutera yang dipegangnya.

“Setiba kalian di tempatku dengan sendirinya akan tahu,” kata Yim hong-peng.

Mendadak ia bertepuk tangan, baru berjangkit suara keplokannya, dari kejauhan lantas muncul sesosok bayangan secepat terbang.

Hanya sekejap saja orang ini sudah mendekat, ternyata dia adalah Tiangsun Tang, salah seorang jago dari Bin-san-ji-yu.

Ia berdiri dengan sikap hormat di depan Yim hong-peng sambil melirik sekejap ke arah Bwe Kiam soat, ketika diketahui benda yang berada di tangan orang, seketika wajahnya menampilakan rasa heran dan kejut.

“Agaknya antara Tiangsun-heng dan nona Bwe terdapat suatu perselisihan, tapi selanjtnya kita adalah orang sendiri, rasanya Tiangsun-heng perlu melupakan uusan masa lampau,” kata Yim hong-peng dengan tersenyum.

Sejenak Tiangsun Tang melenggong, lalu berkata dingin, “Saat ini juga sudah kulupakan.”

“Cepat benar lupanya,” ujar Bwe kiam-soat dengan tertawa genit.

“Haha, memang harus begitu,” ujar Yim hong-peng. Sekarang harap Tiangsun-heng membawa mereka bertiga ke Liu-hiang-ceng kita, setelah kuselesaikan sedikit urusan di Se-an segera kupulang untuk menemui kalian disana.”

“Dan…….pedang…….”tergegap Tiangsun Tang. “Oya, pedang Lamkiong-heng yang tertinggal di Se-an itu sudah kusuruh bawa kemari,” Yim hong-peng

Selagi Lamkiong Peng melenggong, Tiangsun Tan telah menyodorkan pedang yang dibawanya sambil berkata, “Sarungnya baru saja dibuat, mungkin tidak begitu cocok.”

Yim hong-peng mengambil pedang itu dan dikembalikan kepada Lamkiong Peng, katanya, “Tadi tanpa permisi kumasuk ke kamar Lamkiong-heng, kulihat pedang pusaka ini tertinggal disana, maka secara sembrono kubawakan untuk Lamkiong-heng.”

Sebelum Lamkiong Peng bersuara, pandangannya beralih kepada Tik Yang, katany pula, “Tik-heng, apakh kauthau dimana letak keanehan keping kayu ini?”

Alis Tik Yang menegak, jengeknya, “Betapa anehnya barang ini, jika orang she Tik disuruh menjadi antek seorang yang bernafsu besar ingin menguasai dunia persilatan, hmk……”

Mendadak ia mendongak memandang langit sambil melemparkan kantung sutera yang dipegangnya ke tanah.

Kerua Yim hong-peng terkesiap, air mukanya berubah seketika, katanya, “Tik-heng aku…..”

Tiba-tiba Lamkiong Peng juga berkata, “Terimakasih atas maksud baik Yim tai-hiap, sesungguhnya kamu pun sangat ingin dapat bekerja sama dengan tokog besar semacam Swe tai-hiap itu, cuma……..” ia menghela nafas, lalu mengembalikan kantung sutera kepada Yim hong-peng dan berkata pula, “Siaute orang bodoh, juga sudah terbiasa hidup tidak beraturan, mungkin sukar ikut serta dalam pekerjaan besar yang dirancang Yim tai-hiap. Namun ………apa pun juga budi pertolongan Yim tai-hiap takkan kulupakan.”

Pada dasarnya Lamkiong Peng berwatak jujur, ia dapat meraba maksud tujuan Yim hong-peng, maka tidak sudi di diperalat orang. Tapi ia pun merasa utang budi, maka ia menolak ajakan orang dengan menyesal.

Air muka Yim hong-peng berubah kelam, kantung sutera itu diremasnya dengan mendongkol, pandangannya pelahan beralih kepada Bwe kiam-soat.

“Aku sih tidak menjadi soal,” kata Kiam-soat dengan tertawa, kepingan kayu dimasukkan lagi kedalam kantung.

Lamkiong Peng tercengang, sebaliknya sinar mata Yim hong-peng mencorong terang.

Dengan tertawa Kiam-soat menyambung lagi, “Tapi aku pun tidak mempunyai ambisi sebesar itu, sebab itulah terpaksa aku pun menerima ajakan Yim tai-hiap dengan ucapan terima kasih, hanya…..” pelahan ia masukkan kantung sutera itu ke dalam bajunya, lalu melanjutkan, kantung sutera dan kepingan kayu ini tampaknya sangat menyenangkan, maka berat untuk kukembalikan kepadamu, jika secara sukarela Yim tai-hiap sudah memberikannya kepadaku, kukira engkau pasti takkan memintanya kembali dariku, bukan?”

Seketika air muka Yim hong-peng berubah pucat dan melenggong dengan bingung, pelahan ia lantas menjemput kantung sutera yang dilemparkan Tik Yang tadi.

Lamkiong Peng merasa tidak enak hati, ucapnya, “Maafkan, selanjutnya asalkan Yim tai-hiap ada…..”

Mendadak Yim hong-peng bergelak tertawa pula, “Haha, agaknya orang she Yim bermata lamur, kiranya kalian sengaja hendak mempermainkan diriku……..”

Sampai di sini tiba-tiba sorot matanya berubah mencorong, sambungnya sekata demi sekata, “Hm, setelah kalian mengetahui rahasiaku, memangnya kalian ingin pergi dengan hidup. Hah, apakah kalian sangka orang she Yim seorang tolol?”

Serentak ia melompat mundur sambil berkeplok, segera dari tempat gelap di sekitarnya muncul berpuluh sosok bayangan orang.

Lamkiong Peng bertiga terkesiap.

Pelahan Tiangsun Tang melolos pedang dan siap tempur.

“Hm, bila orang she Yim tidak yakin dapat membuat kalian tutup mulut selamanya mana kumau memberitahukan rahasiaku sendiri kepada kalian?” jengek Yim hong-peng pula, waktu ia angkat tangannya, serentak bayangan orang itu mendesak maju dari sekelilingnya.

Lamkiong Peng menyapu pandang sekejap, jengeknya, “Mesti ada rasa terimakasihku kepada Yim-heng, tapi dengan tindakanmu ini rasa terimakasih jadi hanyut seluruhnya. Jika beratus orang di Se-an saja tidak mampu mengusik seujung rambutku, sekarang cuma berpuluh orang ini dapatkah mengatasi kami bertiga”

Segera Tik Yang juga berteriak, “Siapa yang berani, boleh silakan dia rasakan dulu Thian-san-sin-kiam.”

“Boleh kaubelajar kenal dulu dengan usaha orang she Yim, jawab Yim hong-peng sembari menggeser mundur.

Serentak Tiangsun Tan juga melompat kesana dan berdiri berjajar bersama Yim hong-peng di antara lingkaran orang-orang berbaju hitam.

Dengan sendirinya Lamkiong peng dan Tik Yang juga berdiri berjajar dengan Bwe kiam-soat, barisan musuh kelihatan mendesak maju dengan pelahan.

“Tenang, kata Bwe Kaim soat, “Jangan sembarangan bergerak. Bila keadaan tidak menguntungkan, segera kita terjang keluar saja.”

Tiba-tiba terdengar suara gemerantang nyaring, suara rantai besi, menyusul Yim hong-peng lantas membentak, “Thian (langit)!”

Serentak berpuluh bayangan orang itu mengangkat tangan ke atas, berpuluh jalur cahaya dingin segera terbang tinggi ke langit dari tangan orang-orang berbaju hitam itu.

Terdengar Yim hong-peng membentak pula, “Te(bumi)!”

Sekaligus berpuluh cahaya dingin melayang pula dari gerombolan orang banyak itu dan menyambar ke arah Lamkiong Peng bertiga.

Keruan mereka terkejut, Lamkiong peng membentak sambil melolos pedang, dengan cepat ia memutar pedangnya. Bwe kiam-soat juga lantas mengebaskan lengan bajunya, Tik Yang pun menghantamkan kedua tangannya ke depan sehingga cahaya dingin itu sama rontok sebelum tiba di tempat tujuan.

Tak terduga kembali terdengar suara bentakan, “Hong (angin)!”

Terdengar suara menderu, segulung cahaya perak melesat tinggi ke udara, habis itu secepat kilat gulungan cahaya menyilaukan mata dengan suara menderu keras, ditambah lagi suara nyaring rantai ketika bergerak, tampaknya tidak kepalang lihainya.

Tik Yang bersuit panjang dan melompat ke atas, Bwe kiam soat juga berteriak kaget, “Celaka!”

Belum lenyap suaranya, cahaya perak yang berhamburan itu dalam sekejap saja telah membenam seluruh tubuh Tik Yang.

Lamkong Peng terkesiap, cepat ia putar pedangnya melindungi sekujur badan, ia pun melompat ke atas.

Pada waktu tubuh Tik Yang baru bergerak ke atas, mendadak dirasakan berpuluh buah Liu-sing-tui (bola berantai) menyambar kepalanya. Cepat ia menggeliat sehingga tubuhnya membelok ke samping, siapa tahu cahaya perak kembali menyambar tiba dan membungkus tubuhnya.

Dalam keadaan demikian ia tidak dapat berpikir panjang lagi, sekali meraih, sebuah bola perak ditangkapnya, lalu mengikuti daya tarikan, langsung ia menubruk ke bawah.

Tapi segera dirasakan tangan kesakitan tertusuk, pinggang kiri dan paha kanan juga kesakitan, terdengar suara gedebuk, tahu-tahu ia menumbuk tubuh seorang berbaju hitam, keduanya sama menjerit kaget dan jatuh terguling.

Dalam pada Itu Lamkong Peng sedang melayang ke atas dengan berputar untuk melindungi tubuh sendiri, di tengah gelombang cahaya tampak sedikit kacau, kesempatan itu segera digunakannya untuk menerjang, pedang pusaka Yap-siang-kiu-loh memperlihatkan kesaktiannya, terdengar suara gemerincing nyaring, bola berantai yang merupakan senjata khas kawanan lelaki berbaju hitam itu sama tertabas putus oleh pedangnya. Kemudian terlihat olehnya Tik Yang lagi menjerit kaget dan jatuh terguling.

Terkesiap juga Bwe kiam soat melihat senjata andalan musuh yang khas itu, ia pikir pantas Yim hong peng begitu garang, mentang-mentang mempunyai barisan tempur yang lihai.

Hendaknya diketahui, senjata sebangsa Lui-sing-tui (bola berantai), Lian-cu-jiang (tombak berantai) dan senjata lemas lainnya bukanlah senjata yang langka, namun sangat sukar melatihnya dengan baik. Terlebih di tengah orang banyak, bila latihannya tidak sempurna, bisa jadi akan melukai lawan atau diri sendiri malah. Tapi bila senjata yang lemas itu dapat dikuasai dengan baik, maka daya tempurnya akan berlipat ganda.

Bahwa berpuluh lelaki berseragam hitam ini dapat serentak menggunakan senjata lemas begini, jelas mereka sudah terlatih dengan baik dan dapat bekerja sama dengan rapih sehingga tidak sampai melukai sendiri dan mencederai lawan.

Pengalaman tempur Bwe kiam soat sudah banyak, ia tahu barisan tempur ini sangat lihai dan sulit dihadapi. Tapi saat itu Lamkiong Peng sudah menerjang ke tengah musuh, cepat ia pun ikut melayang maju, sekali lengan bajunya mengebas dengan kuat, kontan ia bikin rontok tujuh-delapan Lui-sing-tui yang lagi menghantam Lamkiong Peng.

Dalam pada itu Lamkiong Peng lantas memburu ke tempat roboh Tik Yang.

Tentu saja Bwe kiam soat berkerut kening melihat kelakuan anak muda itu, ia tahu bila lu-sing-tui musuh menyerang lagi pasti sukar menghindar bagi Lamkiong Peng.

Namun pada saat itu cahaya perak juga sudah kacau, terdengar Yim-hong –peng membentak pula, “Siang (es)”

Segera Bwe kiam soat berputar ke sana dan ikut menubruk maju bersama Lamkiong Peng.

Sekonyong-konyong terdengar angin menderu lagi, berpuluh Lu-sing-tui serentak telah ditarik kembali, berpuluh lelaki berseragam hitam juga melompat mundur.

Rupanya Yim-hong-peng juga terperanjat ketika melihat barisan bola berantai anak buahnya terjadi kekacauan karena diterjang oleh Tik Yang dan Lamkiong Peng. Padahal barisan bola berantai khusus dilatihnya dengan mengumpulkan berbagai jago silat pilihan, barisan ini memakai perhitungan Pat-kua dan berdasarkan perubahan thian (langit), te (bumi), hong (angin), uh (hujan), jit (matahari), goat (bulan), in(mega), soat (salju), dan siang(es).

Dengan sendirinya sangat ruwet perubahan sembilan macam unsur itu, namun bantu membantu satu sama lain, apalagi setiap bola berantai itu berduri pula, dengan sendirinya daya tempurnya luar biasa hebatnya.

Kini dilihatnya Tik yang hanya terluka ringan saja, Yim hong-peng kuatir barisan ciptaannya akan dibobol musuh, maka cepat ia undurkan diri dulu barisannya untuk merapikannya lebih dulu.

Waktu itu Lamkiong Peng sedang memeriksa keadaan Tik Yang, dilihatnya darah mengucur dari pinggang kiri dan paha kanan, namun tangan Tik Yang sekuatnya lagi mencekik leher seorang lelaki berbaju hitam dan ditindihnya dari bawah, dari celah jari juga merembes darah segar.

Pada telapak tangan kiri lelaki berbaju hitam itu memakai sarung tangan kulit dan terikat seutas rantai perak mengkilat, bola perak pada ujung rantai terpegang oleh Tik Yang, mendadak Tik Yang menggeram dan cahaya perak berkelebat, darah pun berhamburan, kiranya sekali hantam dengan bola yang dipegangnya Tik Yang telah menghantam remuk kepala lawan.

Cepat Lamkiong Peng membengunkan Tik Yang, dilihatnya kedua mata orang merah membara, dada penuh berlepotan darah, untuk pertama kalinya anak muda ini terluka, juga untuk pertama kalinya selama hidup anak muda ini membunuh orang. Melihat darah yang berceceran, ia menjadi terkesima memandangi bola perak yang masih terpegang olehnya.

“Hm, ternyata Thian-san-sin-kiam juga Cuma begini saja,” tiba-tiba terdengar Yim hong-peng mengejek dari samping.

“Hanya begini apa? Sedikitnya juga telah mengacaukan barisanmu, untung kauhentikan gerakan barisanmu, kalau tidak, hmk!…….ejek Bwe kiam-soat.

“Huh jangan temberang dulu, “jawab Yim hong-peng. “kedatanganku ke dareah Tionggoan sekali ini sebenarnya juga tidak bermaksud mengikat permusuhan, sebab itulah barisan bola perak ini belum kugunakan secara tuntas. Apabila kalian bisa melihat gelagat, hendaknya turut nasihatku, kalau tidak, terpaksa kalian harus menyaksikan kesaktian barisan bola perak yang sesungguhnya.”

Habis berkata, segera Yim-hong-peng bermaksud melompat mundur ke tengah barisannya.

“Nanti dulu!” bentak Kiam soat mendadak, sekali bergerak, tahu-tahu ia sudah hinggap di depan Yim-hong-peng.

“Hah, memangnya dapat kautahan diriku,” jengek Yim-hong-peng, mendadak ia meloncat lagi.

“Boleh kau coba!” jengek Bwe kiam soat dengan tertawa, tangan kiri terangkat dan lengan baju berkibar, serupa ular saja tahu-tahu hendak membelit betis Yim-hong-peng.

Tergetar juga hati Yim-hong-peng, cepat kedua tangannya menebas ke bawah, kaki kanan pun mendepak.

Namun sedikit Bwe kiam soat menarik lengan bajunya, katanya dengan tertawa, “Lebih baik kauturun saja!”

Belum lenyap suaranya, benar juga Yim-hong-peng sudah jatuh kembali ke tempat semula dan menatap Bwe kiam soat dengan tercengang.

Baru saja Bwe kiam soat telah mengeluarkan gerakan “Liu-in-hui-siu” atau awan mengambang dan lengan baju menyambar, tampaknya tidak ada suatu yang istimewa, tapi ternyata membawa tenaga betotan yang maha kuat, juga ketepatan waktu dan bagian yang di arah terjadi secara tepat dan jitu.

Diam-diam Lamkiong Peng juga terkejut, baru sekarang ia menyaksikan kepandaian asli Bwe Kiam-soat. Di samping terkejut ia pun kagum. Padahal selama sepuluh tahun ini perempuan ini selalu berbaring di dalam sebuah peti mati yang sempit, tersiksa dan bisa membuat gila.

Namun perempuan ini tidak saja tetap tawakal, bahwa lwekangnya yang sudah punah dapat pulih kembali, sungguh suatu pekerjaan yang tidak mudah. Terutama ilmu awet muda yang berhasil juga dikuasainya bahkan kungfunya seperti lebih maju daripada dulu. Sungguh sukar dimengerti resep apa yang membuatnya mencapai mukjizat seperti ini.

Dalam pada itu pelahan Tik Yang telah duduk tegak.

“Hm, sudah saatnya kalian memilih apakah ingin menyerah atau tetap bertempur, apalagi kalian perlu juga bersiap membereskan urusan orang she Tik ini setelah dia mampus,” jengek Yim Hong-peng.

“Apa katamu?” bentak Lamkiong Peng terkesiap.

“Hehe,” Yim Hong-peng tertawa ejek, “pada bola perak berduri itu dilumuri racun, bila masuk darah, sukar lagi tertolong. Maka bila kau ingin menolong jiwa kawanmu, hendaknya kau lekas ambil keputusan.”

Rupanya dia rada keder akan kesaktian Bwe Kim-soat, maka sengaja menggertak dengan racun yang mengenai Tik Yang itu.

Air muka Lamkiong Peng berubah hebat, waktu ia berpaling ke sana, dilihatnya wajah Tik Yang berubah kaku dan mata buram.

“Hm, biarpun kaubicara menakutkan juga takkan mampu menggertak diriku,” jengek Kim-soat.

“Tapi kuyakin dalam hatimu harus mengakui aku tidak main gertak belaka,” ejek Yim Hong Peng. “Kau sendiri sudah terkenal sebagai perempuan berdarah dingin, dengan sendirinya mati hidup kawan tidak perlu kau pikirkan. Tapi kau Lamkiong Peng, apakah kaupun manusia yang berbudi rendah begitu?”

Tegetar juga hati Lamkiong peng, dirasakan tangan Tik Yang dipegangnya panas membara, sinar matanya juga berubah buram.

“Bila kebekuk dirimu, masakah takkan kau serahkan obat penawarnya? Jengek Bwe kiam soat pula.

“Obat penawarnya memang ada, tapi tidak ku bawa, apalagi…..hehe, apakah kau yakin mampu membekuk diriku?”

Alis kiam-soat menegak, medadak ia terbahak-bahak, “Hahaha, sungguh mengegelikan kusangka Ban-li-liu-hiang Yim Hong Peng itu tokoh lihai macam apa, tak tahunya Cuma begini saja.”

Yim Hong Peng meraba janggutnya berlagak tidak mendengar.

Kiamsoat mendengus lagi, “Huh, dengan cara licik ini utnuk menjirat orang masuk ke dalam komplotanmu, apakah tindakan ini tidak teramat bodoh? Umpama berhasil kaubujuk orang dalam komplotanmu, apakh kemudian dapat kaujamin kesetiannya, apakah dia takkan menjual rahasiamu dan berkhianat? Hah, bisa jadi engkau akan menyesal dikemudian hari.”

“Hahahahaha! “Yim Hong Peng terbahak, “Untuk ini nona tidak perlu kuatir bagiku, jika orang she Yim tidak yakin mampu menaklukan harimau, tidak nanti ku berani naik ke gunung.”

Diam-diam Bwe kiam-soat merancang tindakan apa yang akan diambilnya, lahirnya ia berlagak tertawa, ia pikir harus sekali serang merobohkan Yim Hong Peng, bila gagal serentak mereka bertiga lantas menerjang keluar kepungan musuh sebelum barisan bola maut itu bergerak.

Selagi ia termenung, di tengah malam sunyi mendaak ia mendengar suara burung gagak berkaok satu kali, segulung bayangan hitam terbang tiba dengan cepat sekali, dari kecepatan terbangnya lebih menyerupai seekor elang daripada dikatakan seekor gagak.

Selagi Kiam soat terkesiap dilihatnya burung gagak yang aneh ini mendadak menubruk ke muka Yim Hong Peng , tampaknya hendak mematuk biji matanya.

Tentu Yim Hong Peng terkejut, cepat ia menggeser mundur, berbareng sebelah tangannya lantas menghantam.

Pukulan ini sangat kuat, gagak itu juga sedang menyambar ke depan, sepantasnya sukar menghindarkan pukulan dasyat ini.

Siapa duga, kembali terdengar suara gaok yang panjang, secepat kilat gagak itu terbang membalik, kecepatannya terlebih mengejutkan daripada menyambar tiba tadi, hanya sekejap saja lantas menghilang dalam kegelapan.

Yim Hong Peng sendiri jadi melongo, tangan yang hampir menghantam tadi hampir tak dapat diturunkan lagi. Di dunia ini memang banyak hewan yang cerdik, tapi seekor burung gagak dapat terbang mundur, sungguh hal ini tidak pernah terdengar, benar-benar peristiwa yang ajaib.

Selagi merasa bingung, tiba-tiba terdengar suara bentakan aneh dari jauh mendekat, “Minggir!”………minggir!”

Menyusul terjadi kegaduhan diantara kawanan lelaki berseragam hitam dan bersenjata bola berantai, barisan mereka pun menjadi kacau dan sama menyingkir untuk memberi jalan lalu.

Kening Yim Hong Peng berkerut, bentaknya,” Tenang, tetap ditempat, apakah kalian sudah lupa pada disiplin yang diajarkan, sebelum bertempur barisan kacau dulu, dosa ini tak terampunkan!”

Belum habis ucapannya, mendadak seorang tojin kurus kering berjubah biru dan berambut putih melangkah tiba dari balik barisan sana sembari membentak, “Minggir! Minggir !”

Rambut dan jenggot tojin ini sudah putih seluruhnya, panjang jubah birunya Cuma sebatas dengkul, mukanya kurus, tapi sikapnya gagah berwibawa, telapak tangan kiri terangkat di depan dada dan diatas telapak tangan hinggap seekor burung gagak.

Waktu Yim Hong Peng mengamati lebih teliti, kiranya suara teriakan serak aneh tadi justru keluar dari mulut burung gagak itu.

Tentu saja ia melenggong. Bahwa burung gagak dapat terbang mundur sudah merupakan kejadian ajaib. Gagak ini ternyata dapat bicara pula, dengan sendirinya hal ini terlebih mengejutkan, bairpun Yim Hong Peng sudah kenyang makan asam garam dunia kangouw dan luas pengetahuannya juga terheran-heran.

Bwe kiam-soat juga tercengang, dilihatnya si tojin kurus tersenyum simpul, mendadak burung gagak itu berteriak lagi, “Bulan tidak gelap, angin tidak kencang, mengapa kota Se-an yang aman tentram ini tejadi kekabaran dan pembunuhan, apakah kalian sengaja bikin rusuh!”

Meski serak suaranya, tapi lafalnya cukup jelas, hal ini membuat Bwe kiam soat tambah melongo.

Hanya sinar mata Lamkiong Peng tetap gemerdep dan tidak mengunjuk rasa terkejut, tapi setelah melihat si tojin berambut putih itu, tiba-tiba teringat seorang olehnya, baru saja dia berseru, “Kau……..”

Mendadak sorot mata si tojin menyapu pandang ke arahnya dan mengedipinya. Seketika Lamkiong-peng urung bicara dan memandang orang dengan bingung.

Ban-li-liu-hiang berusaha mengatasi rasa bimbangnya, ia memberi hormat dan menyapa, “Totiang tentu orang kosen dari dunia luar, entah ada keperluan dan petunjuk apa datang ke sini?”

Tojin berambut putih itu terbahak, si gagak berteriak lagi, “Mengapa engkau Cuma menghormat padanya, masa tidak melihat kehadiranku disini?”

Yim Hong Peng melenggak dan serba susah, masakah dirinya juga harus memberi hormat kepada seekor burung gagak, sungguh mustahil.

Si tojin tertawa katanya, “Kawanku meski seekor burung namun wataknya angkuh, tingkatannya memang juga sangat tinggi, bila kauberi hormat padanya kan tidak menjadi soal?”

Yim Hong Peng melenggong sejenak, dengan hati tidak rela ia merangkap kepalan di depan dada sebagi tanda hormat. Betapapun dia telah terpengaruh oleh sikap tojin yang berwibawa dan juga keajaiban burung gagak itu sehingga menurut saja apa yang dikatakan si tojin.

Sorot mata Lamkiong Peng menampilkan senyuman geli terhadap apa yang dilihtanya ini. Diam-diam Bwe kiam-soat juga merasa heran, ia tahu pribadi Lamkiong peng yang lugas, tidak nanti ia tinggal diam menghadapi suatu urusan yang ganjil. Maka ia menjadi curiga, namun kecerdasan burung gagak itu memang terbukti nyata, betapapun pintarnya juga tidak paham mengapa bisa begini.

Dilihatnya si tojin sedang mengangguk dan berkata, “Baik anak muda yang sopan, tidak percuma kedatanganku ini.”

Setelah merandek sejenak, lalu ia berkata lagi dengan kereng terhadap Yim Hong Peng, “Tanpa sengaja aku berlalu di sini, kulihat disini hawa pembunuh berkobar, aku tidak sampai hati menyaksikan kawanan ksatria sama tertimpa malapetaka, maka sengaja mengitar ke sini.”

Dengan bingung Yim Hong Peng menjawab “Ucapan Cianpwe sungguh sukar di mengerti………..”

“Jelas dirundung kemalangan, apabila kau berani main senjata, pasti celakalah kau, maka kuanjurkan lebih baik kau loloskan diri sebelum terlambat,” Kata si tojin pula dengan gegetun.

Sama sekali ia tidak memandang Lamkiong peng dan Bwe kiam soat, seperti kedua orang itu membuatnya jemu, lalu dengan nada kereng ia menyambung, “Jika ada orang merintangimu, mengingat sopan santunmu ini, biarlah nanti kutahan mereka.”

“Tapi…..” Yim Hong Peng tambah bingung.

“Tapi apa? Masa kau tidak percaya kepadaku?” bentak si tojin dengan bengis.

Serentak burung gagak itu menyambung, “Kemalangan akan menimpa dan belum lagi kausadari, kasihan!”

Yim Hong Peng berdiri termangu dengan air muka pucat, ia pandang Lamkiong peng bertiga dan memandang pula si tojin dan burung gagaknya, katanya kemudian dengan tergegap, “Bukan Wanpwe tidak percaya kepada ucapan Cianpwe, soalnya urusanku ini tidak dapat diselesaikan dengan sekata dua patah saja, pula……..”

“Pula apa yang kukatakan sukar untuk dipercaya, begitu bukan maksudmu?” potong si tojin.

Yim hong-peng diam saja, biasanya diam berarti membenarkan.

Mendadak si tojin bergelak tertawa, “Haha apa yang kukatakan selama ini hampir tidak pernah disangsikan orang, juga tidak pernah salah menafsirkan suatu peristiwa, ternyata sekarang keteranganku tidak kaupercayai, agaknya kau ini memang ingin mampus.”

Burung gagak itu juga tertawa terkekeh aneh dan berkata, “Hehe, jika benar kauingin mati, itu kan gampang………..”

Bola mata Yim Hong Peng berputar, tiba-tiba teringat seseorang olehnya, serunya, “Hei jangan-jangan Ciapwe ini adalah tokoh serba tahu yang termashur pada beberapa puluh tahun yang lalu, Thian-ah Totiang adanya?”

SI tojin berambut putih tergelak, “Haha, bagus! Ternyata namaku juga kaukenal. Ya, memang betul, aku inilah Thian-ah tojin Cuma memberitahukan kemalangan dan tidak melaporkan kemujuran itu.”

“Tapi…..tapi menurut berita yang tersiar di dunia kangouw, konon….konon sudah lama cianpwe wafat……..”

“Wafat apa? Potong si tojin alias Thian-ah totiang dengan tertawa, “Soalnya beberapa puluh tahun yang lalu aku merasa bosan berkelana lagi di dunia ramai ini, maka sengaja pura-pura mati dan mengasingkan diri. Tak tersangka berita ini dianggap benar oleh orang persilatan.”

Mau tak mau Bwe kiam soat juga terperanjat. Namun tokoh aneh dunia persilatan masa lampau ini sudah lama telah didengarnya, diketahuinya orang ini terkenal sebagi peramal ulung, hampir tidak pernah meleset bilamana dia meramalkan malapetaka seseorang. Asalkan dia memberi peringatan kepada seorang, orang tersebut tentu tertimpa bahaya.

Sebab itulah orang dunia persilatan menyebutnya sebagi Thian-ah tojin, kata “ah” atau gagak biasanya tidak mengenakan pendengaran, namun setiap orang persilatan tidak ada yang berani bersikap kurang hormat kepadanya.

Lalu dengan serius Thian-ah tojin berkata kepada Bwe kiam soat, “nah apa yang telah kukatakan tentu sudah kalian dengar dengan jelas.”

Tergerak hati Bwe kiam soat, dipandangnya Lamkiong peng sekejap, lalu mengngguk pelahan.

“Dan tentunya kalian tidak berlain pendapat bila hendak kulepaskan dia dari malapetaka yang akan menimpanya, bukan?” kata Thian-ah tojin pula.

Bwe kiam soat cukup cerdik, ia tahu meski resminya si tojin menyatakan menolong Yim

Hong Peng terlepas dari malapetaka, tapi sebenarnya pihak sendirilah yang dibantunya.

Maka cepat ia menjawab, “Jika Cianpwe berpendapat demikian, tentu tidak ada persoalan bagi kami.”

“Jika begitu boleh lekas kau pergi saja, kata Thian-ah tojin sambil memberi tanda kepada

Yim Hong Peng .

Agaknya Yim Hong Peng masih sangsi juga, segera si tojin menambahkan, “Lekas pergi, jika terlambat mungkin akan terjadi perubahan.”

Walaupun dalam hati masih penasaran terpaksa Yim Hong Peng menjawab dengan hormat, “Atas budi kebaikan Cianpwe kelak pasti akan kubalas dengan setimpal.”

Habis itu ia memberi tanda dan membentak, “Pergi!”

Begitulah pihaknya sebenrnya berada dalam posisi yang menguntungkan tapi sekarang dia berbalik seperti dilepaskan pergi atas kemurahan hati orang, malahan seperti utang budi terhadap si tojin.

Melihat sikap si tojin ynag berwibawa dengan burung gagaknya yang ajaib, kawanan lelaki berbaju hitam tadi sudah sama kebat-kebit, sekarang mereka diperintahkan pergi, tentu saja serupa mendapat pengampunan besar, berbondong-bondong mereka lantas melangkah pergi dengan cepat.

Yim Hong Peng melototi Bwe kiam-soat sekejap, seperti mau bicara, akhirnya mengentak kaki dan membalik tubuh, hanya dengan beberapa kali lompatan saja sudah menghilang dalam kegelapan.

Sejak tadi Lamkiong peng tidak memberi komentar, sesudah Yim Hong Peng pergi jauh, mendadak ia menghela nafas dan menggerundel, “Ai, kembali kau tipu orang lagi, kalau tidak ada Tik-heng, aku……..” dia seperti sangat menyesalkan diri sendiri.

Tentu saja Bwe kiam-soat merasa heran.

Sedangkan si tojin berambut putih mendadak tertawa dengan keras, katanya, “Ini namanya dengan gigi membayar gigi, terhadap kawanan licik dan jahat itu, apa salahnya menipu beberapa kali.”

“Ai tipu menipu betapapun bukan perbuatan yang baik………”Lamkiong peng menghela nafas menyesal .

Bwe kiam-soat merasa bingung, ia coba bertanya, “Tipu menipu apa?”

Meski dia sangat cerdas, tetap tidak tahu ada tipu menipu apa dalam hal ini.

Si tojin seperti sudah kenal watak Lamkiong peng, ia tidak menghiraukan omelan anak muda itu, pelahan ia mengelus bulu burung gagak, katanya dengan tertawa, “Sahabat burung, hari ini besar bantuanmu padaku.”

Dengan tangan kanan ia seperti memutuskan sesuatu pada kaki gagak, habis itu ia angkat tangan kiri dan berkata,”Nah pergilah!”

Mendadak burng gagak itu berbunyi satu kali terus terbang dan menghilang dalam kegelapan malam.

Bwe kiam soat tercengang dan juga merasa sayang melihat si tojin melepaskan begitu saja burung gagak ajaib itu serunya, “Ai……..apakah dia akan terbang kembali kepadamu?”

Tojin itu bergelak tertawa, “Haha nona tidak perlu merasa sayang, gagak semacam ini, bila mau dapat kutangkap sepuluh ekor sekaligus setiap saat.”

Dengan bingung Bwe kiam soat memandang Lamkiong peng sekejap, lalu berkata dengan gegetun,”Ai, sesungguhnya bagaimna urusannya, sungguh aku tidak mengerti.”

“Hahahaha!” Kembali si tojin terbahak.

“Bila bertemu musuh tangguh, yang utama serang batinnya. Tak tersangka jurus seranganku ini bukan saja dapat mengelabui Ban-li-liu-hian Yim hong peng itu, bahkan Kong-jiok- Huicu yang termashur juga dapat kukelabui.”

Dengan gegetun Lamkiong peng berucap, “Tujuh tahun yang lalu berpisah, tak tersangka sekarang dapat bertemu pula denganmu di sini, juga tak terduga, engkau akan membebaskan kesukaranku, terlebih tidak nyana watakmu ternyata tidak berubah sedikitpun……….”

Tojin itu berhenti tertawa, katanya dengan tergegap, “Terus terang permainanku yang unik ini sudah sekian tahun tidak pernah kugunakan baru sekarang lantaran melihat kongcu terancam bahaya maka sekadar kukeluarkan……..”

“Tentu saja kuterimakasih atas pertolonganmu, cuma permainan semacam ini tetap bukan tindakan lelaki sejati, selama hidupmu bekecimpung di dunia kangouw, masakah engkau tidak ingin berbuat secara gilang gemilang agar namamu selalu diingat.”

Dia bicara dengan suara halus, tapi mengandung semacam wibawa yang tidak dapat dibantah.

Air muka si tojin rada berubah, akhirnya menunduk dan tidak bersuara lagi.

Pelahan Lamkiong peng mendekatinya, katanya sambil menepuk pelahan pundaknya, “Jika kata-kataku terlalu kasar, hendaknya engkau jangan marah. Maklumlah, bila aku tidak merasa bangga karena mempunyai sahabat serupa dirimu, tentu aku takkan bicara terus terang padamu. Apalagi engkau telah membantuku, sungguh aku sangat berterimakasih kepadamu.”

SI tojin mengangkat kepalanya dan tersenyum, sorot matanya penuh rasa persahabatan, kedua orang saling pandang sekejap, mendadak ia genggam tangan Lamkiong peng dengan erat, katanya, “Selama ini apakah……..apakah engkau baik-baik saja?”

“Aku sangat baik, hendaknya engkau demikian pula,” jawab Lamkiong peng.

Bwe kiam soat ternyata sedang termenung, mendadak ia berkeplok dan berseru, “Aha, tahulah aku!”

Habis itu tahu-tahu ia melompat ke samping si tojin berambut putih dan memegang tangannya.

Tentu saja Lamkiong peng kaget, “Hei ada apa?”

Dengan tertawa Kiam soat berkata, “Coba lihat, pada tangnnnya ternyata benar tersembunyi segulung benang hitam. Haha, burung gagak terbang mundur, hal ini ternyata permainan sulap belaka. Rupanya pada kaki gagak terikat benang, lalu ditarik mundur olehnya.”

“Nona ternyata sangat pintar, segala apa sukar mengelabui mata telingamu,” ucap si tojin dengan tertawa.

Lamkiong peng memandang Bwe kiam soat dengan tertawa senang, pikirnya, “lahiriah dia kelihatan dingin dan sukar didekati, yang benar dia juga punya hati yang hangat.

Cuma sayang, orang persilatan hanya kenal sikapnya yang dingin dan tidak ada yang tahu hatinya yang baik.”

Tiba-tiba didengarnya Bwe kiam-soat bergumam dengan alis berkerut, “Hanya mengenai…..mengapa burung gagak itu dapat bicara seperti manusia, hal inilah yang masih membuatku bingung,”

Tojin itu bergelak, mendadak ia berseru dengan suara yang serak aneh tadi, “Nona sudah lama berkecimpung di dunia kangouw, masakah engkau tidak pernah dengar bahwa diantara kaum pengelana itu ada semacam permainan sulap yang ajaib…….”

Suaranya bukan saja aneh, waktu Kiam-soat mengamati, ia tambah tercengang, sebab bibir si tojin tidak bergerak, tapi jelas suara tersiar dari mulutnya.

Kiam soat coba mengamati lebih teliti lagi, suara yang memang timbul dari perut si tojin itu kedengaran mirip bunyi perut yang keruyukan pada waktu perut lapar.

“Sulap apa?” tanyanya kemudian dengan tercengang. Meski sudah lama ia berkecimpung di dunia kangouw, tapi pergaulannya hanya dengan tokoh kalangan atas, dengan sendirinya ia tidak tahu permainan kaum orang kecil ini.

“Kungfu ini disebut “bicara dengan perut” tukas Lamkiong peng, “yaitu menggunakan tenaga otot dalam perut untuk menimbulkan suara, bagi tukang ngamen dunia kangouw, permainan ini tergolong kungfu khas dan sangat sukar dilatih……”

Sampai disini mendadak si tojin memegang perutnya dan berseru dengan tertawa, “Haha hanya permainan rendahan saja, buat apa dibangga-banggakan.”

Dengan serius Lamkiong peng berucap “Setiap ilmu kepandaian pasti tidak mudah dilatih, setiap kepandaian mana boleh diremehkan. Yang penting hanya menggunakan ilmunya itu tepat atau tidak.”

“Tak tersangka di kalangan kangouw terdapat aneka ragam ilmu mujuzat begini, kau bilang ilmu golongan rendah, bagiku justru sangat ajaib, malah sebelum ini belum pernah kudengar, apalagi melihatnya,” ujar Bwe kiam soat.

“Ya dunia seluas ini masih banyak keanehan alam yang belum diketahui, betapa cerdik pandai seorang terkadang juga tercengang menyaksikan hal-hal yang sukar dipecahkan dengan akal sehat,” kata Lamkiong peng.

“Jika demikian jadi totiang ini bukanlah Thian-ah tojin, lantas siapakah engkau sebenarnya?” tanay kiam soat dengan heran.

Wajah Lamkiong peng yang serius tadi mendadak timbul secercah senyuman, agaknya bila teringat kepada nama tojin berambut putih ini, dia lantas merasa geli.

Si tojin berdehem, lalu berucap, “Namaku yang asli ialah Ban Tat, dahulu aku sering ngendon di rumah Lamkiong-kongcu numpang makan dan nunut tidur disana.”

Mendadak ia bergelak tertawa, lalu menyambung, “tapi kawan dunia persilatan justru menganggap aku bu-kong-put-jip (setiap lubang dimasuki) dan Ban-su-tong (segala urusan apa pun tahu), karena itulah lama-lama nama asliku lantas dilupakan orang, dan terpaksa aku hanya dikenal dengan nama Ban-su-tong, begitulah adanya.”

Ia bergelak tertawa, waktu memandang ke arah Bwe kiam soat, dilihatnya orang bersikap prihatin tanpa senyum sedikitpun. Dengan heran ia coba tanya, “Apakah nona merasa namaku ini tidak cocok bagiku?”

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: