Kumpulan Cerita Silat

26/02/2008

Amanat Marga (07)

Filed under: Amanat Marga, Gu Long — ceritasilat @ 12:39 am

Amanat Marga (07)
Oleh
Gu Long

(Terima kasih kepada Eve1yn, Dragon, Nra, dan Ririn)

Karena merasa tidak bersalah, maka dada Lamkiong Peng cukup lapang, ia tidak menghiraukan sikap Wi Ki dan ucapan Kwe Giok-he yang bersifat negatif itu, ia pikir, “Memang ingin kutanya keadaan Liong-toako, kebetulan sekarang orang tua ini telah mendahului bertanya bagiku.”

Melihat kecanggungan di antara anak murid Put-si-sin-liong itu, diam-diam tokoh kosen dari luar perbatasan, Ban-li-liu-hiang (meninggalkan nama harum beribu li) Yim Hong-peng, menaruh perhatian, ia pikir apakah di antara anak murid Sin-liong ini terjadi pertentangan atau persaingan, mengapa ketiganya tidak ada kesatuan ucapan dan perbuatan?

Dalam pada itu Giok-he telah menjawab dengan menghela napas, “Toako bersama Simoay berjalan di belakang, kukira sebentar … sebentar dapat menyusul kemari.”

Sudah tentu apa yang dikatakan Giok-he ini hampir tidak pernah terjadi sebelum ini, dengan sendirinya Lamkiong Peng merasa heran dan sangsi.

Dengan kening bekernyit Wi Ki hendak bertanya lagi, pada saat itulah sebuah kereta kuda kecil bertabir kain putih tampak muncul di tengah kerumunan orang banyak.

Penumpang kereta tidak kelihatan, hanya sebuah tangan putih halus terjulur keluar dari balik tabir memegangi tali kendali.

Air muka Lamkiong Peng agak berubah.

Giok-he memandangnya sekejap, lalu berucap dengan tersenyum, “Eh, adik keluarga manakah penumpang kereta ini, apakah Gote kenal dia?”

Belum habis ucapannya, tabir kereta mendadak tersingkap, tertampaklah seorang perempuan mahacantik berduduk di dalam kereta, ia menyapu pandang sekejap semua orang, lalu menatap Lamkiong Peng dan bertanya, “Hei, sudah selesai belum percakapan kalian?”

Tentu saja semua silau oleh kecantikan perempuan penumpang kereta ini, seketika beratus pasang nyata sama terpusat ke arahnya.

“Ah, tadi kukira Gote pergi ke mana, kiranya ….” Giok-he tersenyum, lalu menyambung lagi, “Wah, alangkah cantiknya adik ini. Sungguh engkau sangat hebat, Gote, baru satu hari saja sudah berkenalan dengan seorang nona secantik bidadari, tampaknya kalian sudah sedemikian mesranya.”

Tiba-tiba Wi Ki mendengus, “Yim-tayhiap, Ciok-siauhiap, hendaknya nanti kalian sudi mampir ke kediamanku untuk sekadar berbincang-bincang lagi, sementara ini kumohon diri lebih dulu.”

Lalu ia pun memberi hormat kepada para hadirin dan berseru lantang, “Atas kesudian para hadirin berkunjung kemari dari jauh, marilah suka mampir juga ke dalam kota untuk minum beberapa cawan sekadar pelepas lelah.”

Habis bicara ia lantas melangkah pergi di tengah berjubelnya orang banyak.

Para hadirin juga lantas ikut bubar dan beramai-ramai masuk ke kota Se-an.

Menghadapi sikap dingin orang, hati Lamkiong Peng rada penasaran, cuma sukar untuk memberi penjelasan.

Giok-he tersenyum senang, setelah Wi Ki pergi jauh, perlahan ia mendekati kereta, sapanya, “Siapakah nama adik yang terhormat ini? Ada keperluan apa kiranya engkau mencari Gote kami?”

Bwe Kim-soat duduk diam saja di tempatnya dan memandangnya dengan tak acuh, sama sekali tidak menghiraukan pertanyaannya.

Cepat Lamkiong Peng mendekati dan memperkenalkan mereka, “Inilah Toaso kami dan nona Bwe ini ….” dengan sendirinya ia tidak dapat menjelaskan asal-usul Bwe Kim-soat.

“O, kiranya nona Bwe, sungguh kami ikat bergembira Gote dapat berkenalan dengan nona Bwe,” kata Giok-he dengan tersenyum.

Tiba-tiba Kim-soat mendengus, “Hm, si kakek pergi begitu saja, tentu kau sangat senang?”

Giok-he jadi melengak.

Betapa pun Lamkiong Peng tetap menghormati sang Toaso, ia pun tahu watak Bwe Kim-soat, maka ia menjadi serbasalah melihat di antara keduanya tidak ada kecocokan, cepat ia menyela dengan urusan lain, tanyanya “Toaso, di mana Toako?”

Mendadak Giok-he melengos dan menjawab ketus, “Tanyakan saja kepada Simoay.”

Lamkiong Peng jadi melenggong, ia heran mengapa orang menjawab cara begitu.

Pada saat itu juga mendadak dua sosok bayangan orang melayang tiba dan berhenti di depan kereta, kiranya kedua jago pedang Kong-tong-pay, Bin-san-ji-yu.

Dengan sorot mata tajam mereka mengawasi Bwe Kim-soat, sampai sekian lama barulah Tiangsun Kong berucap, “Sudah belasan tahun, tak tersangka sekarang dapat melihat lagi seraut wajah ini.”

Tiangsun Tan lantas bertanya, “Apakah nona she Bwe?”

Terkesiap Lamkiong Peng, ia heran mengapa orang dapat mengenal Bwe Kim-soat. Dan ternyata Kim-soat lantas mengangguk.

Air muka kedua saudara Tiangsun berubah masam, dengan jari agak gemetar Tiangsun Kong menuding dan membentak, “Bwe … Bwe Kim-soat …. Turun sini!”

Giok-he terkejut, ia berpaling memandang Lamkiong Peng dan bertanya, “Masa dia Leng-hiat Huicu Bwe Kim-soat?

Dengan sendirinya Lamkiong Peng menjadi gugup, belum lagi dia bersuara, dilihatnya Bwe Kim-soat telah menjawab dengan santai, “Siapa Bwe Kim-soat dan Bwe Kim-soat itu siapa?”

Kedua Tiangsun bersaudara saling pandang sekejap, timbul rasa ragu mereka. Belasan tahun yang lalu mereka berdua pernah dihina dan dipermainkan Leng-hiat Huicu Bwe Kim-soat, dendam itu sampai kini belum lagi lenyap. Tapi setelah belasan tahun, mustahil wajah Bwe Kim-soat sama sekali berubah?

Tiba-tiba Yim Hong-peng menyela dengan tersenyum, “Kong-jiok Huicu sudah termasyhur sejak belasan tahun yang lalu, sedangkan nona ini paling banyak baru berusia 20-an, apakah kedua Tiangsun-heng tidak salah mengenalnya?”

Bekernyit juga kening kedua Tiangsun bersaudara, kata Tiangsun Kong dengan tergegap, “Ya, kami pun mendengar Bwe Kim-soat sudah mati di bawah pedang Put-si-sin-liong, soalnya orang ini … orang ini mengaku she Bwe, wajahnya juga mirip ….”

Tiangsun Tan lantas menegas lagi, “Kau pun she Bwe, apakah tidak ada hubungan dengan Bwe Kim-soat?”

“Di dunia ini ada berjuta orang she Bwe, apakah semua orang she Bwe pasti ada sangkut pautnya dengan dia?” jawab Kim-soat dengan tak acuh.

Melihat kedua Tiangsun bersaudara dalam keadaan salah, cepat Yim Hong-peng menimbrung lagi, “Di dunia ini memang banyak orang yang she sama dan juga bermuka mirip, pantas juga bila kedua Tiangsun-heng salah mengenal nona, harap nona jangan marah.”

“Ah, mana kuberani marah kepada kaum kesatria besar, pendekar pedang ternama seperti kalian ini?” jawab Kim-soat ketus.

Yim Hong-peng jadi melongo kikuk. Dalam pada itu Bwe Kim-soat telah menurunkan tabir kereta.

Diam-diam Giok-he merasa sirik melihat kecantikan Bwe Kim-soat dan ketajaman mulutnya, mendadak ia tanya Lamkiong Peng, “Gote, apakah sekarang engkau akan pulang ke Ci-hau-san-ceng?”

“Tentu saja, bila urusan di sini sudah beres ….” tiba-tiba Lamkiong Peng teringat pada janji tiga bulan lagi masih harus bertemu dengan Yap Man-jing di Hoa-san untuk menunaikan tugas yang belum selesai bagi Suhu, juga segera teringat kepada Bwe Kim-soat yang perlu “perlindungan”, seketika ia menjadi ragu.

“Toako belum kelihatan menyusul tiba, akan lebih baik bila kau ikut dalam perjalanan kita,” ujar Giok-he.

“Tapi … tapi tiga bulan lagi ….”

Belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, tiba-tiba suara Bwe Kim-soat yang ketus menegurnya, “He, lekas kau selesaikan urusan pemakaman orang tua itu, aku masih harus pesiar ke Kanglam ….”

Giok-he mendengus, “Kau mau pergi ke Kanglam boleh silakan ….”

“Tapi mungkin aku pun perlu pergi ke sana,” tukas Lamkiong Peng.

“Apa katamu? Masakah tidak kau turut kataku, Toako tidak di sini, akulah Toasomu,” omel Giok-he dengan kurang senang.

Dia sirik terhadap kecantikan dan kecerdasan Bwe Kim-soat, sungguh ia khawatir Lamkiong Peng didampingi oleh seorang perempuan begini, sebab hal ini tentu akan memengaruhi rencananya, bahkan akan ketahuan rahasia pribadinya, maka sedapatnya ia hendak menahan anak muda itu supaya berada bersamanya.

Lamkiong Peng menjadi serbasusah, “Kehendak Toaso seharusnya kuturut, cuma ….”

Pada saat itulah seorang lelaki berbaju hitam berlari tiba dan minta petunjuk, “Kongcu, apakah kereta jenazah langsung menuju ke makam?”

Lamkiong Peng mengiakan, kesempatan ini lantas digunakannya sebagai alasan, katanya kepada Giok-he, “Siaute perlu mengurus pelayatan lebih dulu, biarlah nanti kita berunding lagi.”

Lalu ia memberi hormat dan mohon diri kepada Yim Hong-peng dan segera berlari pergi bersama si baju hitam.

Yim Hong-peng dan Bin-san-ji-yu juga lantas menuju ke Se-an. Sedangkan kereta kecil yang ditumpangi Bwe Kim-soat lantas mengikut ke arah Lamkiong Peng.

“Toaso, marilah kita mencari … mencari Toaso dulu,” kata Ciok Tim mendadak.

“Hah, barangkali kau rindu kepada Simoay?” jengek Giok-he, “Anak baik, turutlah padaku, Sekarang kita mampir dulu ke tempat Wi-jitya tadi, kukira Gote nanti juga akan pergi ke sana.”

“Tapi ….” Ciok Tim tergegap, tapi akhirnya mereka pun menuju ke Se-an.

Dalam pada itu cuaca telah mendung, hujan gerimis mulai turun.

Sayup-sayup terdengar suara musik yang sendu di kejauhan ….

*****

Se-an, kota kuno yang sekelilingnya cuma gurun tandus belaka memang jarang kejatuhan hujan. Tapi di bawah hujan kota kuno ini pun tidak tampak kesuraman, sebaliknya menimbulkan gairah hidup.

Bekas kota raja memang sudah tinggal bekas-bekasnya saja, terutama bangunan megahnya sudah banyak yang berubah tumpukan puing, hanya kedua menara yang disebut Tai-gan dari Siau-gan (menara belibis besar dan kecil) masih berdiri tegak di bagian barat kota seolah-olah tetap memamerkan kejayaan masa lampaunya.

Tidak jauh dari Tai-gan terdapat perkampungan yang menghijau permai, itulah tempat kediaman Sai-pak-sin-liong Wi-jitya, Wi Ki. Selewatnya perkampungan ini, tidak sampai satu li akan sampailah di jalan raya berbatu yang menembus ke gerbang timur kota.

Di bawah hujan rintik-rintik, tiba-tiba dari luar kota berlari datang sebuah kereta dan lima penunggang kuda. Tabir kereta tertutup. Penunggang kudanya adalah kawanan Tojin (imam agama To) yang rambut disanggul di atas kepala dan diberi tusuk kundai hitam, berjubah kelabu dengan lengan jubah yang longgar.

Keempat penunggang kuda yang mengawal di samping kereta adalah Tojin setengah umur bermuka pucat meski mata bersinar tajam, pedang tergantung di pinggang, kawanan Tojin ini mungkin jarang bertemu dengan sinar matahari, di antara mata alisnya menampilkan rasa keprihatinan.

Seorang lagi yang di depan kereta berwajah kurus kering, rambut ubanan, tidak membawa senjata, baju longgar, tangan yang memegang tali kendali justru putih bersih serupa tangan orang perempuan.

Begitu masuk kota, kelima penunggang kuda dan keretanya langsung lantas menuju ke Bo-liong-ceng, perkampungan naga sakti tempat kediaman Wi Ki. Melihat gelagatnya rombongan orang ini seperti ada keperluan mendesak.

Sementara itu suasana Bo-liong-ceng yang dikelilingi pepohonan itu tampak sangat ramai. Di halaman depan yang biasanya digunakan sebagai lapangan latihan penuh berderet ratusan meja, hampir setiap meja sudah siap beberapa macam santapan lezat sebangsa babi panggang, kambing guling, angsa bakar, itik dan ayam panggang, sudah barang tentu tidak ketinggalan berpuluh guci arak tersedia.

Di atas meja berserakan ratusan pisau belati yang gemilapan di samping mangkuk piring. Sedangkan tetamu sama bergerombol di sana sini asyik mengobrol.

Sai-pak-sin-liong Wi-jitya muncul dari ruangan tengah, ia berdiri di atas undak-undakan dan berseru lantang, “Banyak terima kasih atas kesudian para hadirin mengunjungi tempatku yang bobrok ini, orang she Wi tidak dapat melayani satu per satu, terpaksa sekadar menghidangkan apa yang terdapat di sini, hendaknya hadirin makan minum dengan bebas dan santai, tidak perlu sungkan, anggap saja seperti di rumah saudara sendiri. Ayolah silakan!”

Di tengah sorak gemuruh orang banyak Wi Ki mendahului menghampiri meja, disambarnya sebilah belati mengilat, segera ia merobek paha kambing guling dan diiris sepotong dan ditadah dengan sebuah piring.

Serentak tamu yang lain antre menirukan cara bersantap secara bebas dan santai ini.

Di antara tetamu tampak Ban-li-liu-hiang Yim Hong-peng tetap dengan kipas lempitnya, di depannya berdiri Kwe Giok-he dan Ciok Tim.

Dengan membawa guci arak Wi Ki mendekati Yim Hong-peng, sapanya dengan tertawa, “Yim-tayhiap, agaknya tamu dari jauh yang langka sebagai dirimu ini harus minum sampai mabuk denganku.”

Yim Hong-peng mengucapkan terima kasih, jawabnya sambil mengernyitkan dahi, “Nanti dulu! Tamu dari jauh yang langka kukira bukan cuma diriku saja, agaknya kita harus menunggu sebentar lagi.”

“Memangnya ….” selagi Wi Ki menyatakan keheranannya, mendadak Yim Hong Peng menyurut mundur beberapa tindak.

Pada saat itulah dari luar pagar halaman tiba-tiba melayang turun sesosok bayangan kelabu, muncul seorang Tojin berambut putih dan berwajah kurus, berjubah kelabu longgar.

Serentak Wi Ki berseru kaget, “He, Sisuheng (kakak seperguruan keempat), mengapa engkau datang juga?!”

Dengan sorot matanya yang tajam Tojin ubanan itu menatap Yim Hong-peng, ucapnya “Lihai benar mata-telinga sahabat ini!”

“Haha, bagus sekali atas kedatangan Sisuheng ini, suasana pasti akan tambah meriah,” kata Wi Ki dengan tertawa. “Agaknya Sisuheng belum kenal pendekar dari luar perbatasan kita Ban-li-liu-hiang Yim Hong-peng.”

“O, kiranya Yim-tayhiap,” ucap si Tojin dengan dingin,

Hati Giok-he tergetar juga, ia tahu Tojin ini adalah pejabat ketua Cong-lam-pay.

Dengan tertawa Yim Hong-peng lantas menjura, sapanya, “Ah sungguh beruntung sekali hari ini dapat bertemu dengan Cong-lam-kiam-khek Lu-locianpwe.”

Tojin ini memang betul ketua Cong-lam-pay, namanya Lu Thian-an.

Sejak Cong-lam-sam-gan (ketiga belibis dari Cong-lam-san) gugur dalam pertandingan di Wi-san, murid keempat angkatan ketujuh Cong-lam-pay ini lantas diangkat sebagai pejabat ketua. Wi Ki sendiri adalah murid ketujuh, sebab itulah orang Kangouw suka menyebutnya sebagai Wi-jitya atau tuan ketujuh.

Sudah sekian tahun Thian-an Totiang tidak meninggalkan Cong-lam-san, sekarang dapat berjumpa, tentu saja Wi Ki sangat senang, serunya. “Sisuheng, sungguh sangat kebetulan kedatanganmu ini, di sini saat ini hadir sekian banyak kesatria, inilah dua pendekar muda, nona Kwe dan Ciok-siauhiap, keduanya adalah murid kesayangan Put-si-sin-liong.”

Giok-he dan Ciok Tim memberi hormat, sebaliknya Giok-jiu-sun-yang Thian-an Totiang hanya memberi salam dengan mengangkat sebelah tangannya.

Melihat tangan orang yang putih seperti pualam itu, diam-diam Giok-he membatin, “Pantas dia berjuluk Giok-jiu-sun-yang (si imam sakti bertangan kemala).”

Sedangkan Ciok Tim juga berpikir Tojin ini bersikap terlalu angkuh.

Selagi Giok-he hendak menyapa pula, mendadak Thian-an Tojin membalik ke sana dan menarik tangan Wi Ki yang hendak melangkah keluar, “He, kau mau ke mana?”

“Hendak kupermaklumkan kepada hadirin yang lain bahwa Ciangbun Suheng hadir juga di sini.”

“Nanti dulu,” ujar Thian-an.

“Memangnya ada apa?” tanya Wi Ki heran.

“Apakah kau tahu sebab apa mendadak kutinggalkan Cong-lam-san dan buru-buru menuju ke sini, tanpa memberi tahu pula lantas masuk ke sini dengan melintas tembok belakang?”

Tergerak hati Wi Ki oleh ucapan Thian-an ini, “Ya, karena bergembira atas kedatangan Suheng sehingga tidak kupikirkan hal-hal ini.”

“Ai, usiamu makin tambah tua, tapi sifatmu yang ceroboh tampaknya belum lagi berubah,” ujar Thian-san dengan menghela napas. Mendadak nada bicaranya berubah prihatin, “Apakah kau tahu bahwa saat ini diketahui Leng-hiat Huicu masih hidup di dunia ini dan kini mungkin sudah berada di kota Se-an.”

Terkesiap hati Wi Ki, air mukanya berubah, guci arak yang dipegangnya terlepas dan pecah berantakan dengan arak muncrat mengotori jubahnya.

Hati Ciok Tim dan Giok-he juga terperanjat. Meski Yim Hong-peng kelihatan tenang saja, tidak urung sorot matanya menampilkan rasa kejut juga.

“Dari mana Suheng memperoleh berita ini? Apakah kabar ini dapat dipercaya?” tanya Wi Ki.

Thian-an Tojin berpaling dan tanpa bicara ia menuding ke sana. Waktu semua orang ikut memandang ke arah sana, tertampaklah empat Tojin berjubah kelabu memapah seorang lelaki yang berwajah pucat serupa orang yang habis sakit parah, dibantu oleh dua centeng sedang masuk dengan pelarian.

“Siapa orang ini?” tanya Wi Ki dengan kening bekernyit.

Giok-he dan Ciok Tim sama terkejut melihat orang ini, diam-diam keduanya saling lirik sekejap.

Kiranya orang yang kelihatan sakit parah ini adalah si Tojin misterius yang merampas peti mati kayu cendana di puncak Hoa-san itu.

“Siapa orang ini, masa tidak kau kenal lagi?” kata Thian-an yang aslinya she Lu.

Wi Ki coba mengamati lebih jelas, sesudah dekat, mendadak ia menjerit, “Hei, Yap …Yap Liu-ko! ….”

Memang benar Tojin jubah hijau alias Kiam-khek-kongcu ini asalnya bernama Yap Liu-ko, saudara sepupu Yap Jiu-pek. Dengan langkah terhuyung, ia berlari dan menubruk ke dalam rangkulan Wi Ki sambil berseru, “O, Jitko, sungguh seperti … seperti dalam mimpi saja Siaute dapat bertemu pula denganmu.”

Baru berucap sampai di sini, langsung ia jatuh pingsan.

Seketika para hadirin sama melenggong.

Dengan mata melotot Wi Ki berseru, “Se … sesungguhnya apa yang terjadi? Liu-ko, kenapa kau berubah begini, hampir tidak kukenal lagi.”

Lu Thian-an menghela napas, “Memang sudah ada sepuluh tahun kita tidak bertemu dengan dia. Sampai lohor kemarin, mendadak ia lari ke atas gunung dengan berlumuran darah, dari ceritanya baru kutahu Leng-hiat Huicu belum mati, bahkan dia ….”

Ia melirik Ciok Tim dan Giok-he sekejap, lalu menyambung, “Dia tertusuk oleh pedang murid Put-si-sin-liong, untung diberi pertolongan oleh orang kosen, kalau tidak saat ini mungkin mayatnya sudah membusuk di puncak Hoa-san dan rahasia dunia persilatan ini pun tak diketahui lagi oleh orang,”

Wi Ki tampak bingung, tanyanya sambil memandang tajam ke arah Giok-he, “Mengapa dia dilukai murid Put-si-sin-liong?”

Giok-he berlagak berpikir dengan heran, sejenak kemudian baru ia bergumam, “Apakah mungkin perbuatan Gote? Sungguh tak tersangka dia dapat berbuat seceroboh ini.”

“Gote siapa, sekarang dia berada di mana?” tanya Lu Thian-an.

“Ya, pasti dia, Lamkiong Peng,” ucap Wi Ki dengan gemas. “Ai, tak tersangka murid kesayangan Put-si-sin-liong bisa bertindak demikian.”

“Kami pun tidak tahu seluk-beluknya, cuma kami tahu Gote berada bersama seorang perempuan she Bwe, juga Bin-san-siang-hiap telah ….”

Belum lanjut ucapan Giok-he, segera Wi Ki memotong, “Jadi perempuan di dalam kereta itulah maksudmu? Ah, kenapa tidak sempat kulihat jelas dia ….”

“Menurut pendapatku, mungkin dia memang menguasai ilmu awet muda,” ujar Giok-he.

“Wah, tentu juga Kungfunya telah maju lebih pesat,” tergetar juga hati Wi Ki. Mendadak ia berseru, “Eh, di mana kedua Tiangsun bersaudara? Yim-tayhiap, ke mana Tiangsun-siang-hiap?”

Yim Hong-peng sedang termenung, ia angkat kepala dan menjawab dengan bimbang, “Tadi masih di sini, entah ke mana sekarang?”

Tampaknya dia juga menyembunyikan sesuatu perasaan, dengan sendirinya orang lain sukar mengetahuinya.

Wi Ki menghela napas menyesal, ucapan, “Sungguh sayang, baru saja Sin-liong menghilang, dunia Kangouw lantas kacau lagi.”

“Semoga Sin-liong belum mati ….” seru Lu Thian-an mendadak dengan nada sinis.

Wi Ki tidak merasakan nada sinis ucapan sang Suheng, ia membangunkan Yap Liu-ko dan diajak berdiri di depan hadirin yang sudah berkerumun itu, diumumkannya tentang muncul kembalinya iblis perempuan Leng-hiat Huicu serta murid murtad Put-si-sin-liong yang membantu kejahatan iblis perempuan berdarah dingin itu.

Serentak orang banyak bersorak mendukung usaha penumpasan yang diprakarsai Wi Ki itu.

Kening Yim Hong-peng bekernyit melihat gerakan yang dikobarkan Wi Ki itu. Diam-diam ia pun merancang tindakan apa yang harus dilakukannya, ia pikir kesempatan baik ini akan dipergunakannya untuk mencari pengaruh.

*****

Saat itu Bin-san-ji-yu diam-diam sedang menguntit jejak Lamkiong Peng, dilihatnya sesudah anak muda itu menyelesaikan pemakaman, lalu bersama kereta kuda kecil itu masuk ke kota Se-an dan langsung masuk ke sebuah toko hasil bumi yang besar.

Tiangsun Kong berdua berdiri jauh di bawah emper rumah seberang, diam-diam mereka saling bertanya, “Jika perempuan ini bukan Bwe Kim-soat, untuk apa dia menyuruh, kita berdua menguntitnya?”

Begitulah dengan bimbang mereka menunggu sekian lama di situ, tiba-tiba dari seberang datang seorang membawakan secarik surat dan diangsurkan kepada Tiangsun Tan dengan hormat, lalu tinggal pergi lagi.

Bin-san-ji-yu sama melengak, mereka membuka surat itu dan dibaca, ternyata surat dari Lamkiong Peng yang minta Bin-san-ji-yu suka mampir untuk mengobrol.

Rupanya penguntitan mereka telah diketahui dengan baik oleh Lamkiong Peng. Mereka saling pandang sekejap, waktu memandang lagi ke seberang, Lamkiong Peng terlihat berdiri ke depan pintu sana dan sedang memberi salam dari kejauhan.

Meski kedua orang ini sudah cukup berpengalaman, bingung juga menghadapi adegan demikian, dengan kikuk mereka berseru dari jauh, “Terima kasih atas maksud baikmu, sampai berjumpa lain kali saja!”

Habis itu cepat mereka melangkah pergi dan tidak berani menoleh lagi.

Lamkiong Peng menyaksikan kepergian mereka, senyum yang menghiasi wajahnya mendadak lenyap, ia menghela napas dan masuk ke dalam. Nyata anak muda ini sedang dirundung kemurungan, meski Kungfunya tinggi dan keluarganya kaya, tapi ada juga urusan yang menekan perasaannya tanpa bisa diselesaikannya.

Saat itu Bwe Kim-soat lagi duduk memandangi lampu, di atas meja tersedia macam-macam buah segar sebangsa anggur, apel, jeruk dan lain-lain, tapi tiada satu pun yang menarik perhatiannya, dia tetap termenung memandang lampu, entah apa yang sedang dipikirnya.

Langkah kaki Lamkiang Peng yang berat ternyata tidak mengganggu lamunannya, bahkan dia tidak memandangnya sekejap pun, wajahnya yang agak putih mulus kelihatan serupa batu kemala.

Sampai lama sekali, akhirnya Bwe Kim-soat menghela napas perlahan dan bertanya, “Mereka sudah pergi?”

“Sudah,” jawab Lamkiong Peng, “Entah untuk apa mereka menguntit kemari? Memangnya mereka benar telah mengenali dirimu?”

“Apakah kau khawatir?” tanya Kim-soat.

“Khawatir apa?”

“Mungkin kau pikir bila diriku dikenal orang, tentu akan tidak menguntungkanmu dan bisa jadi engkau takkan … takkan mengurus diriku lagi, sebab aku kan seorang iblis yang dikutuk orang persilatan, jika kau bantu diriku, tentu engkau juga akan dituduh sebagai sampah masyarakat persilatan. Apalagi engkau adalah anak murid guru ternama, murid Put-si-sin-liong mana boleh membantu iblis perempuan yang jahat ini.”

Lamkiong Peng diam saja tanpa memberi komentar.

“Padahal moral dunia persilatan hanya hak khusus bagi beberapa orang tertentu saja, bilamana ada sepuluh orang tokoh Bu-lim menganggap engkau adalah orang jahat, maka engkau sudah dipastikan akan menjadi orang mahajahat, sebab setiap perbuatanmu tetap akan dianggap salah, bahkan anak murid Sin-liong yang terhormat pun tidak berani bicara keadilan, sebab orang lain pun belum tentu mau percaya biarpun kau katakan apa yang kau ketahui sebenarnya.”

Gemerdep sinar mata Lamkiong Peng, tapi tetap diam saja.

Mendadak Bwe Kim-soat tertawa, katanya pula, “Tapi engkau jangan khawatir, di dunia persilatan sekarang, kecuali kita berdua tiada orang ketiga yang berani memastikan aku ….”

Sampai di sini, mendadak ucapannya terputus, sebab di luar telah bergema gelak tertawa seorang dan berkata, “Sekali ini engkau keliru, Kong-jiok Huicu!”

Air muka Lamkiong Peng berubah, bentaknya, “Siapa?”

Segera ia memburu ke depan jendela.

Ketika daun jendela terbuka, dengar enteng melayang masuk seorang, lebih dulu ia menjura, lalu berkata dengan tersenyum “Karena keadaan luar biasa, demi menghindarkan mata-telinga orang, terpaksa masuk dengan menerobos jendela, mohon maaf.”

Suaranya lantang, sikapnya gagah, orang ini ternyata pendekar di luar perbatasan Ban-li-liu-hiang Yim Hong-peng.

Tercengang Lamkiong Peng, muka Bwe Kim-soat yang putih pucat menampilkan semacam perasaan aneh. Dengan gemulai ia berbangkit, katanya, “Kau bilang apa?”

Tapi Yim Hong-peng lantas mengalihkan pembicaraannya terhadap Lamkiong Peng, “Keluarga Lamkiong memang kaya raya merajai kolong langit ini, tak tersangka jauh di kota Se-an ini Lamkiong-heng juga mempunyai tempat tinggal semewah ini.”

Lamkiong Peng cuma tersenyum dan balas menghormat.

“Kau dengar tidak ucapanku?” kembali Bwe Kim-soat menegur.

Yim Hong-peng tertawa, katanya, “Nama Kong-jiok Huicu mengguncangkan dunia Kangouw, mana berani kulewatkan setiap kata nona ….”

“Hm, mungkin agak terlalu banyak apa yang kau dengar ….” mendadak Bwe Kim-soat menarik muka sambil meluncur maju, sebelah tangannya segera terjulur ke depan.

Namun Yim Hong-peng tetap diam saja, dengan tersenyum ditatapnya telapak tangan Bwe Kim-soat, padahal sekali tersentuh oleh tangan putih mulus itu seketika jiwa bisa melayang.

Selagi Lamkiong Peng memburu maju dilihatnya tangan Bwe Kim-soat sudah diturunkan.

Mendadak Yim Hong-peng bergelak tertawa, katanya, “Haha, sungguh hebat, sungguh kagum, Kong jiok Huicu memang benar burung hong di tengah manusia …. Tapi bilamana pukulan nona Bwe tadi dilanjutkan, predikat ini pun tidak tepat kau terima lagi.”

“Sebelum kau bicara lebih jelas, dengan sendirinya tak dapat kubinasakan kau ….”

“O, jadi kala, selesai kubicara, segera nona akan membunuhku?”

“Orang yang tahu terlalu banyak, setiap saat pasti ada kemungkinan tertimpa maut.”

“Ah, jadi aku mengetahui terlalu banyak?!” Yim Hong-peng menegas.

“Betul,” kata Bwe Kim-soat, pandangannya tidak pernah meninggalkan wajah Yim Hong-peng. Ia tidak berani lagi meremehkan orang. Bilamana seorang tidak menghiraukan sebuah tangan yang setiap saat mungkin dapat merenggut nyawanya, maka orang ini jelas lain daripada yang lain.

Tiba-tiba Yim Hong-peng berhenti tertawa dan berkata dengan serius, “Apabila yang kuketahui terlalu sedikit, maka orang yang tahu terlalu banyak di kota Se-an saat ini sedikitnya ada seribu orang.”

Kim-soat melengak, “Apa arti ucapanmu ini?”

Perlahan Yim Hong-peng menggeser ke depan jendela, lalu berkata, “Nona Bwe memang awet muda dan pandai merawat diri, di dunia ini mestinya tiada lagi yang tahu nona Bwe yang kelihatan berusia 20-an ini adalah mendiang Kong-jiok Huicu dahulu. Namun … siapa duga ada arwah gentayangan yang lolos dari bawah pedang Lamkiong-heng justru muncul di tempat Wi Ki ….”

“Arwah gentayangan yang lolos dari pedangku? ….” gumam Lamkiong Peng dengan bingung.

Setelah berpikir sejenak, tiba-tiba Bwe Kim-soat berkata, “Jangan-jangan si Yap … Yap Liu-ko itu belum mati?”

Yim Hong-peng mengangguk, “Ya, dia terluka parah, tapi belum mati.”

“Ah, kiranya dia tidak mati,” tukas Lamkiong Peng dengan melenggong, meski nadanya terkejut, tapi juga membawa rasa bersyukur.

Dengan keheranan Yim Hong-peng memandangnya sekejap dan merasa tidak mengerti akan jalan pikiran anak muda itu.

“Meski Yap Liu-ko cuma terluka parah dan belum mati, sekarang Lu Thian-an telah meninggalkan Cong-lam-san dan berkumpul di tempat Jitsutenya, yaitu Wi Ki. Segenap kekuatan yang berada di Se-an sekarang sedang dikerahkan untuk mencari kalian berdua,” demikian tutur Yim Hong-peng. “Aku merasa tidak mampu memberi bantuan apa-apa, tapi juga tidak tega duduk berpeluk tangan tanpa ikut campur, maka sengaja kususul kemari …. Lamkiong-kongcu, apa pun kalian cuma berdua, dua tangan sukar melawan empat kepalan. Apalagi Suheng dan Susomu juga berada di sana, tampaknya mereka pun tidak dapat membenarkan tindakanmu, maka menurut pendapatku ….”

Ia merandek, dilihatnya Bwe Kim-soat sedang menatapnya dengan tajam.

“Maksudmu agar sementara ini kami menyingkir dulu?” tanya Lamkiong Peng.

Belum lagi Yim Hong-peng menjawab, mendadak Bwe Kim-soat menyela, “Tidak, salah!”

“Sebenarnya memang begitulah maksudku, kenapa nona bilang salah?” tanya Yim Hong-peng.

“Jika aku menjadi dirimu, tentu akan kubujuk dia agar tidak mencari gara-gara,” kata Kim-soat. “Sebab mestinya dia tahu, barang siapa memusuhi Bwe Kim-soat, akibatnya dapat dibayangkan sendiri.”

Mendadak ia berpaling ke arah Lamkiong Peng dan berkata pula, “Dan bila kujadi dirimu, segera aku akan pergi jauh, atau segera kudatangi Wi Ki dan memberitahukan padanya bahwa antara dirimu dan Bwe Kim-soat sama sekali tidak ada sangkut paut apa pun ….”

Sampai di sini mendadak ia tertawa latah sambil berteriak, “Wahai Bwe Kim-soat … engkau sungguh orang yang malang dan juga bodoh. Sudah jelas kau tahu orang persilatan takkan melepaskan dirimu, sebab engkau ini bukan golongan pendekar, bukan orang berbudi luhur, sebab kau jahat …. Tapi semua itu pun cukup dibuat bangga olehmu, hanya untuk menghadapi seorang perempuan seperti dirimu, kawanan manusia yang menamakan dirinya kaum pendekar itu telah mengerahkan segenap tenaga sekota.”

Lamkiong Peng diam saja tanpa memberi komentar.

Yim Hong-peng menjadi heran, pikirnya, “Kedua muda-mudi ini tidak serupa kekasih, juga tidak mirip sahabat, entah ada hubungan apa antara mereka berdua?”

Ia memandang Lamkiong Peng sekejap, lalu bertanya, “Urusan cukup gawat, hendaknya Lamkiong-heng menentukan langkah.”

“Terima kasih atas maksud baik Yim-tayhiap, cuma ….”

“Jumlah lawan terlalu banyak, menghindar untuk sementara adalah cara paling baik,” kata Yim Hong-peng pula.

“Jumlah lawan terlalu banyak …. Tapi Cong-lam-pay terkenal sebagai suatu aliran terpuji, tentunya takkan menuduh orang secara tidak semena dan tidak memberi kesempatan bagi orang lain untuk memberi penjelasan.”

Diam-diam Yim Hong-peng merasa gegetun, ia pikir nama busuk Leng-hiat Huicu diketahui siapa pun, masa perlu penjelasan apa segala.

Belum lagi dia bicara, tiba-tiba Bwe Kim-soat menjengek, “Hm, tampaknya kau ini pemuda pintar, kenyataannya engkau sedemikian bodoh. Bagi orang-orang yang menamakan dirinya pendekar budiman dan penegak keadilan itu, sudah lama aku dibenci hingga merasuk tulang, masa aku akan diberi kesempatan untuk memberi penjelasan segala?”

Yim Hong-peng pikir perempuan berdarah dingin ini ternyata cukup tahu diri juga, dilihatnya Lamkiong Peng tetap tenang saja meski diolok-olok, diam-diam ia pun heran mengapa pemuda yang kelihatan halus di luar dan keras di dalam ini bisa bersabar terhadapnya.

Pada saat itulah tiba-tiba ada orang berdehem di luar, Gui Seng-in tampak muncul. Agaknya ia merasa heran ketika diketahui di dalam rumah mendadak bertambah satu orang. Tapi sebagai orang yang sudah cukup makan asam-garam, rasa heran itu sekilas saja lantas lenyap dari wajahnya.

Dengan tersenyum hormat ia berkata, “Mestinya hamba tidak berani mengganggu Kongcu, soalnya … para saudagar di Se-an mendengar kedatangan Kongcu ini, mereka sama ingin bercengkerama dengan Kongcu serta akan mengadakan perjamuan sekadarnya di Thian-tiang-lau untuk menyambut kedatangan Kongcu dan nona ini, entah bagaimana pendapat Kongcu, apakah sudi hadir tidak?”

Lamkiong Peng berpikir sejenak, dipandangnya Bwe Kim-soat sekejap.

Alis Kim-soat tampak bergerak, tapi tidak bicara. Agaknya tanpa bicara pun sudah jelas maksudnya.

Tak terduga Lamkiong Peng lantas berkata, “Apakah sekarang?”

“Jika Kongcu ada waktu ….”

“Baik, berangkat!” kata Lamkiong Peng.

Tentu saja Gui Seng-in kegirangan, cepat ia mengucapkan terima kasih dan mendahului melangkah keluar sebagai penunjuk jalan.

Yim Hong-peng melenggong atas tindakan anak muda itu, saat ini seluruh kota sedang gempar, para kesatria yang berkumpul di Se-an sibuk mencari mereka berdua, sungguh sukar dimengerti Lamkiong Peng malah menerima undangan perjamuan itu dan sengaja memperlihatkan diri di depan umum.

Agaknya Lamkiong Peng dapat meraba jalan pikiran orang, dengan tersenyum ia berkata, “Apakah Yim-tayhiap juga akan ikut hadir untuk minum secawan?”

“Terima kasih,” jawab Yim Hong-peng sambil memberi hormat. “Sungguh aku tidak mengerti ….”

“Soalnya cukup sederhana,” potong Lamkiong Peng, “Urusan sudah telanjur begini, daripada menghindar akan lebih baik disongsong sekalian. Anak murid Sin-liong selamanya tidak kenal istilah lari.”

Yim Hong-peng mengangguk, katanya, “Murid Sin-liong memang gagah perkasa dan pantas dipuji.”

“Sekali lagi terima kasih atas maksud baik Yim-tayhiap, bila berjumpa pula kelak kita harus bicara lagi lebih asyik,” ujar Lamkiong Peng.

“Sejak kumasuk daerah Tionggoan, hanya Lamkiong-heng saja yang kupandang sebagai pendekar muda yang akan mengembangkan kejayaan dunia persilatan umumnya, sayang kita belum sempat berkumpul lebih lama, sampai berjumpa lagi.”

Habis berkata Yim Hong-peng melayang pergi melalui jendela.

“Lugas juga tampaknya orang ini!” gumam Lamkiong Peng memandangi bayangan orang yang menghilang di luar.

“Hm, apa betul?” jengek Bwe Kim-soat. Lalu ia tanya pula, “Eh, apakah benar kau terima undangan perjamuannya ….”

“Bila engkau tidak ingin ikut ….”

“Jika kau mau pergi, masa aku takut?” sela Bwe Kim-soat, segera ia berbangkit dan ikut melangkah keluar.

*****

Hujan gerimis baru berhenti.

Pasar malam kota Se-an cukup ramai. Akan tetapi malam ini lebih banyak orang berkelompok-kelompok, kebanyakan orang itu pun bersenjata, semuanya orang persilatan dengan wajah prihatin dan sikap tegang.

Ketika mendadak tampak muncul dua muda-mudi, yang pemuda gagah dan cakap, yang perempuan cantik luar biasa, seketika berjangkit suara desas-desis di sana-sini.

“Ssst, itu dia Lamkiong Peng!”

“Ssst, itu dia Leng-hiat Huicu!”

Seketika terjadi kegemparan, tapi segera pula suasana berubah menjadi sunyi. Semuanya tidak bersuara, sama terpukau oleh kegagahan dan kecantikan kedua muda-mudi ini.

Sejenak kemudian, ada yang meraba senjata dan bermaksud turun tangan, tapi ketika terlihat senyuman Bwe Kim-soat yang manis dan lirikan menggiurkan, tanpa terasa tangan yang meraba senjata menjadi lemas.

Dan begitulah berpuluh pasang mata menyaksikan kedua muda-mudi itu berlalu di depan mereka, sesudah lewat agak jauh baru gerombolan orang itu mengikuti mereka dari jauh.

Thian-tiang-lau tergolong restoran terbesar di kota ini, dengan sendirinya segala sesuatunya sudah disiapkan secara semarak, terutama wajah pemilik restoran itu juga bercahaya semarak, sebab hari ini dia mendapat kehormatan dapat menerima kunjungan “tuan muda” keluarga Lamkiong yang mahakaya raya itu.

Lamkiong Peng dan Bwe Kim-soat masak ke restoran Thian-tiang-lau!

Dengan sendirinya berita ini dengan cepat tersiar dan dalam sekejap saja laporan sudah diterima Thian-an Tojin dan Wi Ki.

“Kabarnya Lamkiong Peng ini ahli waris keluarga Lamkiong yang kaya raya dari daerah Kanglam itu?” di tengah jalan Thian-an mencari keterangan kepada Wi Ki.

“Ya, dia masih muda, selain ahli waris keluarga mahakaya itu, dia juga terkenal sebagai murid kesayangan Put-si-sin-liong, tak tersangka dia terbujuk oleh Leng-hiat Huicu sehingga tersesat,” ujar Wi Ki.

“Hm, anak muda yang tidak menuju ke jalan yang benar, biarpun saudara seperguruan sendiri juga malu untuk membelanya,” jengek Lu Thian-an.

“Tapi apa pun juga tindakan kita ini menjadikan Leng-hiat Huicu sebagai sasaran, mengenai Lamkiong Peng, sedikit banyak harus kita ingat akan kehormatan Put-si-sin-liong.”

“Itu bergantung bagaimana hubungannya dengan Bwe Kim-soat,” kata Thian-an.

Hanya sebentar saja rombongan raksasa itu sudah berada di luar Thian-tiang-lau, restoran itu segera terkepung dengan rapat. Dengan sendirinya kejadian ini mengguncangkan segenap penduduk kota, disangkanya terjadi kerusuhan apa. Tapi setelah mengetahui persoalan bunuh-membunuh orang Kangouw, kebanyakan penduduk cepat menutup pintu dan tidak berani keluar.

Menghadapi persoalan orang Kangouw seperti ini, biasanya petugas keamanan pemerintah setempat juga tidak dapat berbuat banyak, yang mereka jaga hanya urusan tidak sampai menjalar menjadi gangguan umum.

Sungguh tidak ada yang menyangka bahwa keonaran yang timbul ini tak lain tak bukan hanya gara-gara munculnya seorang perempuan cantik, yaitu Leng-hiat Huicu.

Akan tetapi di dalam restoran, di bawah cahaya lampu yang terang benderang, Bwe Kin-soat tampak duduk tenang dan anggun.

Sudah barang tentu geger di luar restoran juga membikin panik para saudagar besar yang berkumpul di atas restoran itu. Mereka sama bertanya-tanya ada kejadian apa dan apa yang akan terjadi? Namun di hadapan Lamkiong-kongcu yang terhormat, betapa pun mereka tidak berani sembarangan bergerak, sampai sekarang tiada seorang pun berani melongok ke luar jendela.

Sekonyong-konyong di bawah terdengar suara bentakan, suara menyuruh memberi jalan.

Lamkiong Peng tahu apa artinya itu, perlahan ia berbangkit, ia menuju ke ujung tangga, serupa seorang tuan rumah yang siap menyambut kedatangan tetamunya.

Akhirnya berdetaklah suara tangga, terlihat Lu Thian-an dan Wi Ki berturut-turut, naik ke atas loteng dengan wajah kelam.

Dengan tersenyum Lamkiong Peng menghormat, sapanya, “Terima kasih atas kunjungan kedua Cianpwe, maaf jika tidak kusambut jauh di bawah.”

Lu Thian-an hanya mengangguk perlahan saja, langsung ia mendekati Bwe Kim-soat, ia duduk di depannya, tanpa bicara ia angkat secawan arak dan dikecupnya seceguk.

Sejak awal ia tetap tidak memandang Bwe Kim-soat, hanya menatap tangan sendiri yang putih mulus, lalu berucap, “Malam sudah larut, bilamana hadirin merasa sudah cukup makan minum, sudah saatnya untuk pulang saja sekarang.

Segera terjadi kesibukan, para saudagar itu dapat melihat gelagat tidak enak, beramai-ramai mereka berebut meninggalkan restoran ini, mereka tidak ingat lagi akan sopan santun terhadap Lamkiong-kongcu segala.

Ruang restoran yang semula ramai dan agak berjubel sekarang berubah menjadi lengang.

Mendadak Wi Ki melangkah ke samping Lu Thian-an, ia pun berduduk di situ, diraihnya poci arak terbuat dari timbel, langsung ia menuangkan arak dari corong poci ke mulut dan minum beberapa ceguk.

“Sepuluh tahun tidak bertemu, tampaknya kekuatanmu minum arak telah tambah maju,” ucap Bwe Kim-soat dengan tersenyum.

Mendadak Wi Ki membanting poci itu ke atas meja.

Dengan muka kelam Lu Thian-an berkata, “Nona, sudah hampir 30 tahun engkau malang-melintang di dunia Kangouw dan entah berapa banyak orang telah menjadi korbanmu, kukira saat ini pun sudah lebih dari cukup hidupmu.”

“Totiang sendiri sudah ubanan, tentu lebih-lebih cukup hidup, bila hidup lebih lama lagi, bisa jadi orang akan menyebutmu tua bangka,” jawab Kim-soat dengan tajam. “Hm, tampaknya kedatangan kalian sengaja hendak mencari perkara padaku.”

“Ah, masa perlu dijelaskan lagi, kami hanya berharap nona mau membereskan diri sendiri saja,” jengek Thian-an.

“Membereskan diri sendiri? Kau suruh aku membunuh diri? Haha, memangnya kenapa?”

“Kukira tidak perlu banyak omong, supaya aku tidak perlu melanggar pantangan membunuh.”

“Wah, jika begitu, lekas kau turun tangan saja sebelum kubicara lebih banyak dan mungkin akan membongkar rahasiamu!” kata Kim-soat dengan tersenyum.

Air muka Thian-an Tojin yang kelam itu seketika berubah.

“Kan sudah kukatakan tidak perlu banyak bicara dengan dia,” ujar Wi Ki, “creng”, segera ia mengeluarkan senjata andalannya, Liong-hong-siang-goan, sepasang gelang baja.

“Nanti dulu!” mendadak Lamkiong Peng melompat maju.

“Apakah kau pun ingin mengiringi kematiannya?” jengek Wi Ki sambil mendomplangkan meja. Keruan mangkuk piring berhamburan.

Lamkiong Peng mengebaskan lengan bajunya sehingga meja itu tertahan dan meluncur ke sebelahnya dan menumbuk dinding.

“Tanpa alasan kalian datang kemari dan hendak membunuh orang, berdasarkan apa kalian bertindak demikian?” tanya Lamkiong Peng dengan tidak senang. “Segala urusan harus diselesaikan menurut keadilan, sekarang kalian menghendaki nyawa kami berdua, sedikitnya kalian harus memberi keterangan kepada setiap orang persilatan yang hadir di sini, apa dasarnya?”

Kawanan orang persilatan sebagian sudah ikut menerjang ke atas restoran dari siap bertindak, demi mendengar uraian Lamkiong Peng yang tegas dan jujur ini, diam-diam banyak di antaranya mengangguk dan bersimpati kepadanya.

Lu Thian-an memandang sekejap kepada orang banyak, air mukanya tampak rada berubah.

“Hah, tentunya sekarang engkau merasa menyesal telah banyak bicara denganku, mestinya begitu datang segera kalian membunuhku, begitu bukan?” kata Bwe Kim-soat dengan tertawa merdu.

Suaranya lantang berkumandang sehingga dapat didengar oleh orang yang berkerumun di luar.

“Apakah ucapanmu sengaja diperdengarkan kepada kawan Bu-lim di sekeliling sini?” jengek Thian-an Tojin.

“Betul, kecuali dunia persilatan sudah tidak ada keadilan lagi, kalau tidak, biarpun engkau adalah Bu-lim-bengcu (ketua persekutuan orang persilatan) juga tidak boleh meremehkan nyawa orang lain.”

Gemerdep sinar mata Wi Ki, mendadak ia tergelak, serunya, “Jika orang lain, ucapanmu ini tentu akan menimbulkan rasa curiga orang banyak terhadap tindakan kami ini. Tapi kau, perempuan yang berdarah dingin, biarpun kau omong seribu kali lagi, meski engkau mengoceh panjang lebar, aku Wi Ki tetap akan menumpaskan bencana bagi dunia persilatan.”

Lalu ia memandang Lamkiong Peng dan bertanya, “Jika kau tahu dia ini Leng-hiat Huicu, mengapa kau bela dia? Melulu kesalahanmu ini saja pantas dihukum mati. Tapi mengingat gurumu, lekas kau pergi saja, lekas!”

“Sedemikian keras kau bela dia, memangnya di antara kalian ada hubungan sesuatu yang tidak boleh diketahui orang?” ejek Lu Thian-an.

Mau tak mau Lamkiong Peng menjadi gusar, semula ia percaya ketua Cong-lam-pay dan Wi Ki ini adalah kaum pendekar yang berbudi luhur, siapa tahu tindak dan kata mereka sedemikian kasar, tiba-tiba terpikir olehnya di balik urusan ini pasti ada sesuatu yang janggal.

Kawanan jago persilatan dapat menerima pendirian Wi Ki itu, nama Leng-hiat Huicu sudah terkenal busuk sejak belasan tahun yang lalu, sekarang pemuda ini membelanya mati-matian, tentu anak muda ini juga bukan orang baik-baik.

Padahal tiada seorang pun antara jago persilatan ini yang pernah melihat Bwe Kim-soat sebelum ini, mereka kebanyakan cuma membeo belaka. Tadi mereka menaruh simpati kepada Lamkiong Peng, sekarang berubah pikiran lagi. Memang demikianlah sifat manusia pada umumnya.

Diam-diam Lamkiong Peng menghela napas, ia tahu urusan hari ini tidak mungkin diselesaikan begitu saja, ia coba melirik Bwe Kim-soat, dilihatnya orang tetap tersenyum dengan tenang.

Dalam pada itu orang banyak lantas berteriak-teriak, “Buat apa banyak bicara, bekuk dulu keduanya.”

“Nah, kau minta keadilan dunia persilatan, sekarang bolehlah kita selesaikan mendasarkan pendapat umum,” jengek Lu Thian-an.

Wi Ki juga tidak sabar lagi, segera ia putar kedua gelang baja sambil membentak, “Minggir!”

Bwe Kim-soat tetap tenang saja, ucapnya, “Kau maju sendirian?”

Terkesiap juga Wi Ki, tiba-tiba teringat olehnya Kungfu Leng-hiat Huicu yang menakutkan itu, seketika ia tertegun dan tidak berani bergerak lagi.

“Haha, kiranya orang Kangouw kebanyakan adalah manusia yang suka mengekor belaka ….” belum lanjut ucapan Lamkiong Peng, serentak terdengar suara caci maki di sana sini.

Nyata ucapannya telah menimbulkan kegusaran orang banyak.

“Ikut terjang keluar bersamaku?” bisik Bwe Kim-soat kepada Lamkiong Peng. Diam-diam ia siap bertindak. Meski pihak lawan berjumlah banyak, tapi ia yakin pasti mampu menerjang keluar.

Siapa tahu Lamkiong Peng tetap diam saja di tempatnya dengan pongahnya, mendadak ia membentak, “Diam!”

Bentakan yang menggelegar ini memekakkan anak telinga, seketika semua orang tergetar diam.

Dengan tajam Lamkiong Peng menatap Lu Thian-an, teriaknya, “Segala urusan tentu tidak terlepas dari keadilan dan kebenaran, justru kepada seorang Cianpwe serupa dirimu ingin kuminta keadilan. Sesungguhnya apa dosa Bwe Kim-soat, apa kesalahannya, bilakah dia berbuat kejahatan sehingga memerlukan tindakanmu ini.”

Lu Thian-an jadi melengak, tak tersangka olehnya anak muda ini dapat bertanya demikian.

Dengan kereng Lamkiong Peng berteriak pula, “Jika engkau tidak dapat menjawab, berdasarkan apa pula engkau bertindak atas nama dunia persilatan? Berdasarkan apa pula bicara tentang keadilan dunia persilatan! Bila soalnya cuma mengenai permusuhan pribadimu dengan dia, mengingat kedudukanmu sebagai seorang pemimpin suatu perguruan terkemuka, tentu juga harus kau bereskan urusan ini langsung dengan dia sendiri, andaikan dapat kau cencang dia juga aku takkan ikut campur. Tapi bila engkau mengatasnamakan umum bagi kepentingan pribadi dan membual tentang keadilan, betapa pun aku Lamkiong Peng tidak dapat menerima dan akulah yang pertama-tama ingin minta pengajaran dulu padamu.”

Dia bicara tegas dan berani, mau tak mau semua orang sama melenggong.

Air muka Wi Ki berubah, Lu Thian-an juga tidak tahan, jengeknya, “Rupanya kau menantang, anak muda!”

“Apa boleh buat,” ujar Lamkiong Peng lantang.

Seorang pemuda hijau pelonco berani menantang seorang guru besar dari suatu aliran pedang terkemuka, sungguh hal ini cukup menggemparkan, keruan semua orang sama heran dan juga terkejut.

“Hm, tampaknya sombong benar kau, anak muda, terpaksa aku mesti memberi hajaran padamu,” jengek Lu Thian-an.

Lamkiong Peng hanya mendengus dan tetap berdiri tegak.

Perlahan Lu Thian-an berbangkit, sedangkan Wi Ki menyurut mundur ke samping.

“Aha, menarik, rasanya tempat ini kurang luas, biarlah kusingkirkan lagi meja kursi yang memenuhi tempat ini,” ucap Bwe Kim-soat seperti apa yang akan terjadi ini sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dia.

Lamkiong Peng tahu wataknya memang begitu, maka tidak heran. Sebaliknya orang lain sama terkesiap, diam-diam ada yang menggerutu, “Perempuan ini memang benar berdarah dingin.”

Setelah ruangan dikosongkan, kini Lu Thian-an berdiri berhadapan dengan Lamkiong Peng, katanya, “Silakan mulai!”

Nyata ia menjaga gengsi sebagai orang lebih tua dan memberi kesempatan menyerang lebih dulu.

Namun Lamkiong Peng justru tetap diam saja, jawabnya, “Silakan Locianpwe dulu!”

Wi Ki menjadi gusar, “Siko, untuk apa bicara tentang peraturan dengan sampah masyarakat persilatan seperti ini!”

“Benar!” kata Thian-an, berbareng ia melompat maju dan menghantam batok kepala lawan tanpa kenal ampun.

Melihat serangan Lu Thian-an itu, ada juga di antara penonton yang merasa penasaran, sebagai seorang tokoh terkemuka, menyerang lebih dulu, tapi sekeji ini serangannya.

Namun Lamkiong Peng bukan lawan empuk baginya, sedikit dia menggeser ke samping, berbareng itu sebelah tangannya balas menyodok ke perut Thian-an.

Terkejut juga Lu Thian-an oleh kecepatan lawan, sembari mengelak, tangan lantas memotong ke bawah, tangannya tampak putih mulus seperti tangan orang perempuan, tapi membawa tenaga dalam yang dahsyat ….

Begitulah serang-menyerang terus berlangsung, diam-diam para penonton sama memuji anak murid Put-si-sin-liong memang tidak boleh dipandang enteng.

Namun apa pun juga Lu Thian-an memang lebih ulet, setelah belasan jurus, lambat-laun ia berada lagi di atas angin. Padahal kelihatannya Lamkiong Peng agak terdesak, sebenarnya dia belum mengeluarkan segenap tenaganya.

Saat itu kedua tangan Lu Thian-an bekerja sekaligus dan menghantam, mendadak Lamkiong Peng bersuit panjang sambil melompat ke atas. Terkejut Lu Thian-an, dirasakan angin keras membura dari atas, ke mana pun dia mengelak rasanya tetap akan terserang. Bila dia tetap diam di tempat, sedangkan lawan telah menubruk dari atas, ini berarti dia akan tetap berada di pihak terserang belaka.

Semua orang sama kaget, Wi Ki juga berseru, “Thian-liong-cap-jit-sik!”

Rupanya inilah Thian-liong-cap-jit-sik atau 17 jurus serangan naga terbang, Kungfu andalan Put-si-sin-liong. Serangan ini dilancarkan pada waktu tubuh terapung, setiap jurus serangan pasti memaksa lawan harus menyelamatkan diri lebih dulu, atau membuntu jalan mundur musuh, serangan berantai susul-menyusul, sebab itulah Thian-liong-cap-jit-sik tak dapat dibandingi oleh ilmu pukulan dari aliran lain.

Sekarang yang dilancarkan Lamkiong Peng adalah jurus pertama yang disebut “Tit-siang-kiu-siau” atau langsung menjulang ke langit, selagi tubuh mengapung, tangan dan kaki terus menyerang untuk mengurung segenap jalan mundur Lu Thian-an

Habis itu sambil meluncur turun, kesepuluh jari berubah menjadi cakar untuk mencengkeram muka lawan.

Dia sudah siap serang sejak tadi, sekali turun tangan harus berhasil. Tentu saja semua orang menjerit kaget melihat Lu Thian-an terancam bahaya.

Siapa tahu sebagai seorang ketua suatu aliran terkemuka, dengan sendirinya Giok-jiu-sun-yang juga bukan lawan empuk, dia kelihatan diam saja, tapi ketika serangan Lamkiong Peng sudah dekat mendadak kedua tangannya membalik dan menangkis ke atas.

Terdengar suara “plak” yang keras serupa menghantam kulit kering keempat tangan beradu, kedua puluh jari saling meremas dengan erat.

Adu pukulan ini membikin para penonton sama melongo. Tertampak Lamkiong Peng menjungkir di udara dengan tangan berpegangan tangan lawan, tubuhnya menurun perlahan, namun empat tangan tetap melengket menjadi satu.

Dan begitu kaki Lamkiong Peng menyentuh tanah, segera pula Lu Thian-an menyurut mundur dua langkah, lalu keduanya sama berdiri seperti terpantek di tanah dan saling melotot.

Nyata telah terjadi adu tenaga dalam dengan antara keduanya, ini berarti pertaruhan dengan nyawa masing-masing.

Seketika suasana sunyi senyap, semua orang sama ikut tegang, sama menahan napas. Bukan cuma yang berkerumun di atas loteng sama tegang, yang berada di bawah loteng juga sama tegangnya dan bertanya-tanya apa yang terjadi karena tidak terdengar sesuatu suara.

Di tengah kesunyian tiba-tiba terdengar suara keriat-keriut papan loteng, dahi kedua orang tampak berhias butiran keringat, Betapa hebat jurus serangan Lamkiong Peng tetap tidak dapat membandingi keuletan latihan Lu Thian-an selama berpuluh. Lambat-laun anak muda itu kelihatan tidak tahan lagi.

Diam-diam Wi Ki bergirang, sebaliknya air muka Bwe Kim-soat tampak prihatin.

Selagi suasana semakin mencekam, sekonyong-konyong di bawah loteng berjangkit jeritan kaget, di tengah malam kelam tiba-tiba timbul gelombang hawa panas yang menyengat, bukan saja yang bertempur itu berkeringat, para penonton juga berkeringat kegerahan.

Sejenak kemudian lantas terdengar bunyi bende bertalu-talu, menyusul suara melengking orang menjerit, “Api … api …. Kebakaran … kebakaran!”

Keruan suasana menjadi kacau, orang-orang yang berkerumun di jalan raya pun panik, lidah api tampak menjilat-jilat dan mendadak menyambar ke atas loteng restoran.

Para jago silat itu tidak sempat lagi memikirkan pertarungan maut itu, beramai-ramai sama mencari selamat sendiri, ada yang melompat turun melalui tangga dengan desak-mendesak, ada yang terjun begitu saja.

Meski ada juga orang berusaha memadamkan api, tapi kobaran api ini tampaknya sangat aneh, lidah api yang ganas itu dalam sekejap saja sudah menelan seluruh ciu lau atas restoran itu.

Para penonton sudah kabur mencari selamat, di atas loteng tertinggal Lamkiong Peng yang tetap beradu tenaga dengan Lu Thian-an dan ditunggui oleh Wi Ki dan Bwe Kim-soat.

Api berkobar terlebih hebat, tampaknya sebentar lagi mereka pasti akan terkubur di tengah api.

Napas mereka sudah sesak oleh asap, keringat memenuhi kepala Wi Ki, matanya membara. Mendadak ia angkat gelang bajanya dan segera bermaksud melompat keluar. Tak terduga mendadak bayangan orang berkelebat, tahu-tahu Bwe Kim-soat sudah mengadang di depannya.

Saking cemas dan gugupnya, tanpa pikir ia membentak, gelang naga sebelah kanan segera menghantam muka Bwe Kim-soat, sedangkan gelang hong sebelah kiri terus dilemparkan dengan membawa angin tajam mengancam iga Lamkiong Peng.

Saat itu Lamkiong Peng pun dalam keadaan payah, jangankan diserang oleh gelang baja yang dahsyat ini, sekalipun pukulan orang biasa cukup membuatnya roboh binasa.

Terdengar Bwe Kim-soat mendengus, mendadak ia mendoyongkan kepala ke belakang, berbareng itu sebelah tangan meraih ke depan, dengan tepat gelang baja lawan terpegang olehnya, sekali betot terus dilemparkan ke arah Lu Thian-an.

Selagi Lamkiong Peng terkejut karena sambaran gelang baja musuh yang sukar dielakkan itu, mendadak dilihatnya Lu Thian-an juga terkesiap oleh ancaman yang sama, Lamkiong Peng bergirang, sepenuh sisa tenaga ia mendesak lebih kuat.

Kim-soat tersenyum dan berolok, “Hah, ini namanya senjata makan ….”

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong gelang yang menyambar Lamkiong Peng itu memutar balik dan membentur gelang yang mengancam Lu Thian-an, menyusul bahkan terus menghantam belakang punggung Bwe Kim-soat.

“Bagus, kiranya gelangmu berantai,” seru Kim-soat sambil memutar sebelah tangannya, kontan gelang berantai itu dipegangnya.

Maklumlah, selama sepuluh tahun dia berbaring di dalam peti mati, kesempatan itu digunakannya untuk merenungkan intisari ilmu silat yang paling tinggi, maka ketajaman mata telinganya sekarang hampir tidak ada bandingannya, sekalipun sebiji pasir menyambar dari belakang pun dapat dirasakannya dan juga dapat ditangkapnya.

Tentu saja Wi Ki terkejut, cepat ia mendoyong ke belakang untuk membetot gelangnya agar tidak sampai dirampas musuh.

Rupanya pada gelang bajanya terikat seutas rantai emas hitam yang lembut, namun cukup ulet dan kuat, golok atau pedang biasa pun sukar memotongnya.

Tak tersangka mendadak Bwe Kim-soat menebas dengan telapak tangannya, kontan rantai emas terpotong putus. Karena kehilangan imbangan badan, kontan Wi Ki terhuyung-huyung dan hampir saja jatuh terjengkang.

Sementara itu api sudah membakar kosen jendela sekeliling loteng dan menimbulkan suara gemertak yang riuh, hawa panas membuat Lamkiong Peng, Lu Thian-an dan Wi Ki merasa seperti terpanggang, baju basah kuyup oleh air keringat, tidak terkecuali pula Bwe Kim-soat.

Mendadak daun jendela sebelah selatan terlepas dan jatuh ke atas meja di dekatnya, segera meja kursi di situ ikut terjilat api.

Lambat-laun atap rumah juga mulai terbakar, tiba-tiba sepotong kayu hangus jatuh di samping Bwe Kim-soat, saat itu dia sedang menggeser menghindari tendangan Wi Ki, segera sebelah kakinya menyungkit kayu hangus itu dan meluncur ke arah Wi Ki.

Sambil meraung tangan kiri Wi Ki menyampuk sehingga kayu hangus itu terpental keluar jendela, tapi ia lupa tangannya masih memegangi rantai gelang yang putus tadi, karena sampukan itu, rantai membalik menghantam kuduk sendiri.

Biarpun kecil, rantai emas hitam sangat keras, tambah lagi tenaga sampukan sendiri, keruan ia meringis kesakitan dan kuduknya berdarah.

Dengan meraung murka Wi Ki membuang sisa rantai itu.

“Haha, serangan bagus, itu namanya jurus ‘Kau-bwe-cu-piau’ (ekor anjing menyabat tubuh sendiri)!” ejek Bwe Kim-soat dengan tertawa.

Sembari berolok-olok, segera pula ia menggeser ke samping Lu Thian-an. Saat itu Lamkiong Peng masih saling tolak bersama Lu Thian-an, hatinya terhibur ketika dilihatnya Bwe Kim-soat masih berada di situ. Tapi ketika dilihatnya sebelah tangan Kim-soat menghantam punggung Lu Thian-an cepat ia bersuara mencegah sambil menarik ke samping. Karena tarikan ini, ia dan Lu Thian-an sama jatuh terguling.

Kim-soat berteriak khawatir dan melompat ke samping Lamkiong Peng, cepat Wi Ki jaga memburu tiba untuk menjaga Lu Thian-an. Waktu diperhatikan, ternyata napas kedua orang itu sama terengah, agaknya sama-sama kehabisan tenaga, namun jelas tidak terluka dalam, keduanya sedang saling pandang dengan tercengang.

Rupanya setelah saling mengadu tenaga dalam, keadaan mereka sudah payah, walaupun keempat tangan masih saling genggam, tapi sebenarnya sudah kehabisan tenaga. Dasar Lamkiong Peng memang berjiwa luhur, ia tidak ingin lawan disergap Bwe Kim-soat selagi orang mengadu tenaga dengannya, lekas ia menarik orang ke samping. Tak diduganya keduanya sebenarnya sama payahnya, maka begitu terseret segera keduanya jatuh terguling bersama. Lantaran itulah mereka saling pandang dengan melenggong.

Pada saat itulah tiba-tiba di bawah loteng ada orang berteriak, “Wi-jitya, Lu-totiang ….”

Ada semprotan air dari sebelah selatan, menyusul sinar pedang berkelebat, empat sosok bayangan kelabu menerjang masuk. Kiranya keempat Tojin anak buah Lu Thian-an.

Bwe Kim-soat terkesiap melihat pihak lawan kedatangan bala bantuan, serunya dengar suara tertahan kepada Lamkiong Peng, “Ayo pergi!”

Semangat Lu Thian-an berbangkit karena kedatangan anak buahnya, melihat Bwe Kim-soat bermaksud mengajak lari Lamkiong Peng cepat ia membentak, “Lamkiong Peng, kalah menang belum jelas, bukan lelaki bila lari!”

Tentu saja Lamkiong Peng sangat gusar, ia melompat bangun.

Sementara itu Lu Thian-an sudah menubruk tiba, tanpa bicara lagi ia hantam dada anak muda itu. Cepat Lamkiong Peng mengegos, berbareng telapak tangan menebas iga lawan.

Tiba-tiba beberapa potong kayu hangus jatuh lagi dari atas. Terpaksa mereka harus melompat kian kemari untuk menghindari api.

Dalam pada itu keempat Tojin berjubah kelabu lantas menerjang maju, mereka adalah murid utama ketua Cong-lam-pay, dengan sendirinya ilmu pedangnya tidak lemah, serentak mereka melancarkan serangan kilat.

“Tinggalkan yang lelaki, tangkap dulu yang perempuan,” seru Wi Ki.

Segera sinar pedang berputar dan memburu ke arah Bwe Kim-soat.

Bwe Kim-soat tetap tenang saja, ia hanya melirik sekejap terhadap keempat Tojin itu.

Keempat Tojin ini sejak kecil sudah bertirakat di pegunungan sunyi, mana mereka pernah melihat perempuan secantik ini, mana pernah melihat senyuman semanis ini, keruan gerakan mereka menjadi agak lambat.

Namun dengan gemulai Bwe Kim-soat juga telah mengangkat tangannya, terdengar suara gemerantang nyaring, dalam sekejap tiga pedang Tojin itu telah dipatahkan oleh gelang baja rampasannya dari Wi Ki tadi.

Selagi Tojin keempat melongo kaget, tahu-tahu pandangannya menjadi silau, pergelangan tangan pun kesemutan, pedangnya telah dirampas oleh Bwe Kim-soat.

Menyusul Kim-soat menyambitkan gelang baja ke arah Wi Ki yang sedang menubruk Lamkiong Peng itu, lalu pedang rampasan menebas ke depan, Tojin pertama belum lagi sempat melompat mundur dan tahu-tahu dahi tergores luka dan mencucurkan darah.

Tojin kedua sempat menyurut mundur, tapi rambut yang tersanggul di atas kepala juga tertabas oleh pedang.

Tentu saja Tojin ketiga ketakutan, selagi melenggong, pedang Bwe Kim-soat yang menyambar tiba mendadak berhenti dan mengetuk pedang patah yang masih dipegangnya. “Trang”, pedang patah jatuh ke lantai, cepat ia melompat mundur sambil memegangi pergelangan tangan yang kesakitan.

Hanya dalam sekejap saja ketiga Suhengnya sudah dibikin keok, Tojin keempat tidak berani lagi bertempur, segera ia hendak lari.

“Eh, jangan terburu-buru!” jengek Bwe Kim-soat, baru saja Tojin itu melangkah dua tindak, iga kanan-kiri sudah terkena pedang.

Saat itu Wi Ki telah menubruk ke depan Lamkiong Peng, tapi dari belakang gelang yang dilemparkan Bwe Kim-soat juga menyambar tiba. Dari deru anginnya nyata terlebih kuat daripada lemparannya tadi.

Ia tidak berani gegabah, cepat ia menggeser ke samping sambil membalik tubuh, gelang baja yang masih dipegangnya menangkis ke depan dengan daya melengket, pikirnya bila gelang itu tertahan, segera akan ditangkapnya kembali.

Siapa tahu ketika kedua gelang kebentur, gelang yang dilemparkan Bwe Kim-soat mendadak dapat berputar, serupa bersayap saja tahu-tahu terbang lagi ke belakang Wi Ki.

Advertisements

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: